Anda di halaman 1dari 18

REVIEW TOKSIKOLOGI LINGKUNGAN

Disusun oleh:
Kelompok VI
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tiara Yulianty
Dwi Rizki
Bayu Sastra
Fajar Kurniawan
Yohanes Karem
Zul Heryanto

(031521037)
(031521012)
(031521007)
(031521015)
(031521038)
(031521040)

Penulis Utama
Kontributor (Penulis)
Editor
Penulis
Penulis
Penulis

Dosen Pengajar

: Dr. Syukri Sahab, MM

Mata Kuliah

: Toksikologi Industri

BINAWAN INSTITUTE OF HEALTH SCIENCES


PROGRAM STUDI K3 / B
2015

DAFTAR ISI
1

COVER .......................................................................................................................... 1
DAFTAR ISI .................................................................................................................. 2
I.PENDAHULUAN ......................................................................................................... 3
II.
SUMBER TOKSIKOLOGI DI LINGKUNGAN ................................................. 4
III.
ECO TOKSIKOLOGI .......................................................................................... 4
IV.
KETAHANAN LINGKUNGAN ......................................................................... 6
V.
FASE TOKSIKOLOGI ......................................................................................... 7
VI.
PRINSIP UMUM ................................................................................................. 9
VII. TOKSISITAS ........................................................................................................ 12
VIII. PENGARUH TOKSISITAS TERHADAP MAKHLUK HIDUP ........................ 14
IX.
IDENTIFIKASI SENYAWA BERACUN ............................................................ 16
KESIMPULAN .............................................................................................................. 17

I. PENDAHULUAN
Manusia, sebagai makhluk hidup tertinggi di dunia ini hidupnya sangat tergantung
pada sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Sebagai kebutuhan dasar, misalnya, ia
memerlukan udara setiap saat, air untuk minum, mandi, cuci,dll. Ia juga memerlukan
makanan yang terdiri atas fauna dan flora, juga tempat tinggal yang dimulai pohon, gua, dan
2

sekarang berbentuk rumah dan pemukiman. Selama hidupnya pula manusia perlu membuang
kotoran yang tidak diperlukannya kembali ke lingkungan. Limbah udara kembali ke udara,
limbah cair kembali ke hidrosfir, juga limbah padat kembali ke tanah/litosfir. Manusia
memang merupakan sebagian dari alam, dan berinteraksi dengan alam sepanjang hayatnya.
Sewaktu manusia jumlahnya masih sangat sedikit, maka alam masih mampu membersihkan
dirinya dari segala macam buangan/kotoran dengan mekanisme yang berada di alam
(ekosistem), yang dikenal sebagai self purification proses melalui siklus
hidrobiogeokimianya.
Telah menjadi sifat manusia, untuk selalu berusaha meningkatkan taraf hidupnya,
sehingga ia melakukan berbagai inovasi peralatan yang dapat mempermudah dan
meningkatkan kehidupannya. Sewaktu jaman batu maka peralatannya terbuat dari batu,
kemudian berkembang menjadi semakin cangiih, menggunakan berbagai logam. Penemuan
mesin uap (alat) oleh James Watt, mengakibatkan mekanisasi dalam proses produksi,
kemudian dengan ditemukannya listrik, terjadi elektrifikasi, dan elektronifikasi, dan akhirnya
saat ini orang menggunakan peralatan sitem informasi. Peralatan ini dibutuhkan untuk
menunjang kegiatan manusia yang semakin tinggi, mulai dari alat untuk berburu, bercocok
tanam (agraris), dan kemudian dengan ditemukannya mesin uap dimulailah proses
industrialisasi lewat mekanisasi. Proses produksi dimulai di rumah, dikenal sebagai produksi
domestik, diikuti oleh produksi di luar rumah, tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan di
sekitarnya, dan kemudian menjadi sistem produksi yang modern yakni, pabrik yang
memenuhi kebutuhan negara ataupun dunia. Industrialisasi ini diperlukan untuk mempercepat
produksi bahan dan jasa yang meningkatkan taraf hidup manusia. Sistem sedemikian akan
memerlukan banyak tenaga kerja, suplai energi, dan bahan baku. Dengan demikian terjadi
diplisi bahan baku dan energy yang perlu dicari atau diimpor dari negara lain, ataupun dibuat
secara sintetis. Bahan-bahan sintetis ini banyak sekali yang tergolong racun bagi organisme
dan lingkungan. Seiring dengan proses ini buangan industri menjadi semakin banyak dalam
jumlah maupun kualitasnya. Oleh karena itu, pada tahap awal industrialisasi terjadi kerusakan
sumber daya alam dan lingkungan, baik karena ekspliotasibahan baku alami maupun buangan
industri.
Toksikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari efek merugikan dari bahan
kimia terhadap organisme hidup. Potensi efek merugikan yang ditimbulkan oleh bahan kimia
di lingkungan sangat beragam dan bervariasi sehingga ahli toksikologi mempunyai spesialis
kerja bidang tertentu. Toksikologi lingkungan adalah suatu studi yang mempelajari efek dari
bahan polutan terhadap kehidupan dan pengaruhnya terhadap ekosistem yang digunakan
untuk mengevaluasi kaitan antara manusia dengan polutan yang ada di lingkungan.

II.

SUMBER TOKSIKOLOGI DI LINGKUNGAN


1. Udara
Senyawa toksik di udara atau polusi udara diakibatkan bertambahnya zat-zat
berbahaya ke dalam atmosfer yang menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan,
gangguan kesehatan pada manusia dan penurunan kualitas hidup. Zat-zat berbahaya
3

tersebut tidak hanya berupa zat asing yang tidak seharusnya terdapat di dalam
udara, tetapi juga dapat berupa komponen-komponen udara yang kadarnya melebihi
Nilai Batas Ambang (NBA).
2. Air
Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur atau komponen
lainnya ke dalam air, sehingga kualitas air terganggu yang ditandai dengan
perubahan warna, bau dan rasa. Beberapa contoh polutan antara lain: Fosfat yang
berasal dari penggunaan pupuk buatan dan detergen, Poliklorin Bifenil (PCB)
senyawa ini berasal dari pemanfaatan bahan- bahan peluma dan plastic, Minyak dan
Hidrokarbon dapat berasal dari kebocoran pada roda dan kapal pengangkut minyak,
logam- logam berat berasal dari industri bahan kimia dan bensin, Limbah Pertanian
berasal dari kotoran hewana dan tempat penyimpanan makanan ternak, Kotoran
Manusia berasal dari saluran pembuangan tinja manusia.
3. Tanah
Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan
merubah lingkungan tanah alami. Tanah merupakan bagian penting dalam
menunjang kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Seperti kita ketahui rantai
makanan bermula dari tumbuhan. Manusia, hewan hidup dari tumbuhan. Memang
ada tumbuhan dan hewan yang hidup di laut, tetapi sebagian besar dari makanan
kita berasal dari permukaan tanah.
Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia
industri atau fasilitas komersial, penggunaan pestisida, masuknya air permukaan
tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan, zat kimia, atau limbah. air limbah
dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke
tanah secara tidak memenuhi syarat.
Jika suatu zat berbahaya telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat
menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang
masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat
beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika
bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.
III.

ECO TOKSIKOLOGI

Ekotoksikologi adalah ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik pada mahluk
hidup, khususnya populasi dan komunitas termasuk ekosistem, termasuk jalan masuknya
agen dan interaksi dengan lingkungan (Butler, 1978). Dengan demikian ekotoksikologi
merupakan bagian dari toksikologi lingkungan. Indikator biologis dari pencemaran dapat
melibatkan pengukuran indikator-indikator biokimiawi, fisiologis dan morfologis dari suatu
individu, atau dapat saja melibatkan tingkatan yang lebih tinggi seperti populasi atau levellevel di atasnya. Polutan adalah suatu zat yang menjadi sebab pencemaran terhadap lingkungan.
Efek suatu pollutant terhapap lingkungan tergantung jumlah nya (dosis) dan sifat fisik dan
kimianya. Polutan disebut juga sebagai zat pencemar. Suatu zat atau bahan dapat disebut sebagai zat
pencemar atau polutan apabila zat atau bahan tersebut mengalami hal-hal sebagai berikut.
1. Jumlahnya melebihi jumlah normal/ambang batas.
2. Berada pada tempat yang tidak semestinya.
3. Berada pada waktu yang tidak tepat.
4

Macam-macam Polutan berdasarkan sifatnya, polutan dapat dibedakan menjadi 2 (dua),


yaitu:
1. Polutan biodegredable adalah polutan yang dapat diuraikan oleh proses alam. Contoh:
kayu, kertas, bahan, sisa makanan, sampah, dedaunan, dan Iain-Iain.
2. Polutan non biodegredable adalah polutan yang tidak dapat diuraikan oleh proses alam
sehingga akan tetap berada pada lingkungan tersebut untuk jangka waktu yang sangat
lama. Contoh: gelas, kaleng, pestisida, residu radioaktif, dan logam toksik.
Berdasarkan wujudnya, polutan dapat dibedakan menjadi3 (tiga), yaitu:
1. Polutan padat, misalnya kertas, kaleng, besi, logam, plastik, dan Iain-Iain.
2. Polutan cair, misalnya tumpahan minyak, pestisida, detergen, dan sebagainya.
3. Polutan gas, misalnya CFC, karbon dioksida, karbon monoksida, metana, dan lain-lain.
Menurut tingkat pencemarannya, pencemaran dibedakan menjadi sebagai berikut :
1. Pencemaran ringan, yaitu pencemaran yang dimulai menimbulkan gangguan ekosistem
lain. Contohnya pencemaran gas kendaraan bermotor.
2. Pencemaran kronis, yaitu pencemaran yang mengakibatkan penyakit kronis. Contohnya
pencemaran Minamata, Jepang.
3. Pencemaran akut, yaitu pencemaran yang dapat mematikan seketika. Contohnya
pencemaran gas CO dari knalpot yang mematikan orang di dalam mobil tertutup, dan
pencemaran radioaktif.

Dampak Pencemaran Lingkungan


1. Punahnya Spesies
Polutan berbahaya bagi biota air dan darat. Berbagai jenis hewan mengelami
keracunan, kemudian mati. Berbagai spesies hewan memiliki kekebalan yang tidak
sama. Ada yang peka, ada pula yang tahan. Hewan muda, larva merupakan hewan yang
peka terhadap bahan pencemar. Ada hewan yang dapat beradaptasi sehingga kebal
terhadap bahan pencemar., adpula yang tidak. Meskipun hewan beradaptasi, harus
diketahui bahwa tingkat adaptasi hewan ada batasnya. Bila batas tersebut terlampui,
hewan tersebut akan mati.
2. Peledakan Hama
Penggunaan insektisida dapat pula mematikan predator. Karena predator punah, maka
serangga hama akan berkembang tanpa kendali.
3. Gangguan Keseimbangan Lingkungan
Punahnya spasies tertentu dapat mengibah pola interaksi di dalam suatu ekosistem.
Rantai makanan, jaring-jaring makanan dan lairan energi menjadiberubah. Akibatnya,
5

4.

5.

6.
7.

IV.

keseimbangan lingkngan terganggu. Daur materi dan daur biogeokimia menjadi


terganggu.
Kesuburan Tanah Berkurang
Penggunaan insektisida mematikan fauna tanah. Hal ini dapat menurunkan kesuburan
tanah. Penggunaan pupuk terus menerus dapat menyebabkan tanah menjadi asam. Hal
ini juga dapat menurunkan kesuburan tanah. Demikian juga dengan terjadinya hujan
asam.
Keracunan dan Penyakit
Orang yang mengkonsumsi sayur, ikan, dan bahan makanan tercemar dapat mengalami
keracunan. ada yang meninggal dunia, ada yang mengalami kerusakan hati, ginjal,
menderita kanker, kerusakan susunan saraf, dan bahkan ada yang menyebabkan cacat
pada keturunanketurunannya.
Pemekatan Hayati
Proses peningkatan kadar bahan pencemar melewati tubuh makluk dikenal sebagai
pemekatan hayati (dalam bahasa Inggrisnya dikenal sebagai biomagnificition).
Terbentuknya Lubang Ozon dan Efek Rumah Kaca
Terbentuknya Lubang ozon dan terjadinya efek rumah kaca merupakan permasalahan
global yang dirasakan oleh semua umat manusia. Hal ini disebabkan karena bahan
pencemar dapat tersebar dan menimbulkan dampak di tempat lain.
KETAHANAN LINGKUNGAN

Banyak proses abiotik dan biotik ada di alam yang berfungsi untuk menghilangkan
atau menurunkan bahan kimia beracun. Namun banyaknya bahan kimia yang dilepaskan ke
lingkungan bisa menimbulkan bahaya karena rentang hidup yang terbatas dalam lingkungan.
Bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan (seperti, DDT, PCB, TCDD)
menolak
proses
degradatif
dan
berada
di
lingkungan
dalam
jangka waktu yang lama. Pembuangan bahan kimia terus menerus ke dalam
lingkungan dapat mengakibatkan akumulasi mereka ke tingkat lingkungan yang cukup untuk
menimbulkan toksisitas. Xenobiotik di dalam lingkungan dapat mengalami degradasi akibat
dua kekuatan yaitu energy fisis seperti sinar UV dan degradasi secara mikrobiologis. Proses
degradasi bisa disebut juga transformasi.
1. Degradasi Abiotik
Perubahan struktur atau transformasi yang Xenobiotik secara abiotic terbagi menjadi
2 bagian besar yaitu yang melibatkan radiasi ultraviolet dan tanpa ultraviolet.
a. Pengaruh cahaya (Photolysis) atau Fotokimia
Reaksi fotokimia biasanya berawal dari adanya radiasi matahari atau radiasi
buatan, sehingga terjadi eksitasi zat, yang pada keadaan sedemikian dapat
bereaksi. Fotolisis juga dapat terjadi akibat adanya uap air di dalam udara. Reaksi
akibat adanya radiasi yang cukup besar sebagai sumber energy dan reaksi-reaksi
terjadi secara simultan. Transformasi Xenobiotik secara fotokimia melibatkan
reaksi xenobiotic dengan ozon, oxygen aktif ataupun oxygen molekuler.
Unsaturated aromatic compounds seperti polycyclic aromatic hydrocarbons lebih
mudah mengalami photolysis karena banyak menyerab energi cahaya.
b. Pengaruh Air (Hidrolisis)
Hidrolisis adalah proses bereaksinya suatu zat kimia dengan air. Hidrolisis dapat
terjadi di air atau di dalam tanah. Hidrolisis dalam air dapat dikatalisa oleh asam
6

ataupun basa. Hidrolisis juga tegantung pada suhu dan pH. Stabilitas suatu zat
akan menurun dengan meningkatnya suhu. Stabilitas zat juga menurun dengan
kondisi pH ekstrim (Kotre in Butler 1978). Apabila suatu racun dapat dihidrolisis
maka dampak terhadap lingkungan menjadi tidak luas. Tetapi apabila produk
hidrolisis tadi lebih toksik daripada asalnya maka kondisi sebaliknya yang akan
terjadi. Xenobiotic dilingkungan yang banyak dipengaruhi proses hidrolisis
contohnya adalah pestisida.
2. Degradasi Biotik
Degradasi secara mikrobiologis terjadi karena terdapat banyak sekali mikroba dalam
lingkungan. Kemampuan mikroorganisme untuk mentransformasi xenobiotic
memegang peranan penting dalam perkembangan teknologi pengolahan limbah
karena biodegraasi sering menawarkan mineralisasi limbah/xenobiotic sehingga lebih
aman untuk dikeluarkan ke lingkungan. Mikroorganisme yang berperan dapat berupa
bakteri ataupun jamur.
V.

FASE TOKSIKOLOGI

1. Toksikokinetik
Fase toksikologi dimulai dari paparan kemudian toksikokinetik yaitu mempelajari
perjalanan toksikan dalam tubuh seperti absorbsi, distribusi, metabolisme, ekskresi,
dilanjutkan toksikodinamik.
a. Absorpsi
Bahan toksik akan diserap oleh tubuh melalui paru-paru, kulit dan saluran
pencernaan kemudian masuk ke dalam aliran darah dan sistem kelenjar getah
bening. Bahan toksik tersebut kemudian diangkut ke seluruh tubuh. Absorbsi
tergantung dari sifat kelarutan dan sifat membran. Efeknya bisa seperti sel atau tidak

1) Melalui paru-paru
Faktor yang berpengaruh pada absorpsi bahan toksik dalam sistem pernapasan
adalah bentuk bahan misalnya gas dan uap; aeroso; dan ukuran partikel; zat
yang terlarut dalam lemak dan air. Paru-paru dapat mengabsorbsi bahan toksik
dalam jumlah besar karena area permukaan yang luas dan aliran darah yang
cepat.
2) Melalui kulit
Kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu epidermis (lapisan terluar), dermis (lapisan
tengah) dan hypodermis (lapisan paling dalam). Epidermis dan dermis berisi
keringat, kantung minyak dan akar rambut. Bahan toksik paling banyak
terabsorbsi melalui lapisan epidermis. Absorbsi bahan toksik melalui
epidermis tergantung pada kondisi kulit, ketipisan kulit, kelarutannya dalam
air dan aliran darah. Akibat bahan toksik antara lain pengikisan atau
pertukaran lemak pada kulit yang terekspos dengan bahan alkali atau asam dan
pengurangan pertahanan epidermis.
7

3) Melalui saluran pencernaan


Absorbsi bahan toksik dapat terjadi di sepanjang saluran pencernaan (gastrointestinal tract). Faktor yang mempengaruhi terjadinya absorbsi adalah sifak
kimia dan fisik bahan tersebut serta karakteristiknya seperti tingkat keasaman
atau kebasaan.
b. Distribusi
Setelah absorbsi bahan toksik terjadi, maka bahan tersebut didistribusikan ke seluruh
tubuh melalui darah, kelanjar getah bening atau cairan tubuh yang lain oleh darah.
Distribusi bahan beracun tersebut pertama disimpan dalam tubuh pada hati, tulang
dan lemak lalu dikeluarkan melalui feses, urine atau pernapasan.
c. Metabolisme
Pada dasarnya tujuan dari metabolisme itu adalah untuk menghasilkan metabolit
yang lebih polar, meningkatkan ukuran dan berat molekular, serta memfasilitasi
proses ekskresi dan eliminasi pada organisme. Adapun hal-hal yang ditimbulkan
dari metabolisme senyawa asing dalam tubuh yaitu menurunkan waktu paruh dari
senyawa, waktu peruraian menurun, kemungkinan akumulasi senyawa dalam tubuh
juga menurun, dan terjadinya perubahan aktivitas dan durasi pada sistem biologi
tubuh. Tetapi, kadang-kadang metabolisme menyebabkan kalarutan senyawa
terhadap air berkurang sehingga ekskresi pun ikut berkurang.
Proses metabolisme atau biotransformasi terbagi atas dua fase, fase pertama terdiri
atas reaksi oksidasi, reduksi, hidrolisis, hidrasi, dan halogenasi. Sedangkan fase
kedua terdiri atas tahap sulfasi, glukoranidasi, konyugasi glukotathione, asetilasi,
dan kunyugasi assam amino.
d. Ekskresi
Ekskresi bahan toksik dapat terjadi melalui hembusan udara atau pernapasan, dan
dari sekresi melalui keringat, air susu, feses dan urine.
1) Ekskresi urin
Ginjal membuang toksikan dari tubuh dengan mekanisme yang serupa dengan
mekanisme yang digunakan untuk membuang hasil akhir metabolisme, yaitu
dengan filtrasi glomerulus, difusi tubuler dan sekresi tubuler.
2) Ekskresi empedu
Hati juga merupakan alat tubuh yang penting untuk ekskresi toksikan,
terutama untuk senyawa yang polaritasnya tinggi (anion dan kation), konjugat
yang terikat pada protein plasma, dan senyawa yang BM-nya lebih besar dari
300. Pada umumnya begitu senyawa ini berada dalam empedu, senyawa ini
tidak akan diserap kembali ke dalam darah dan dikeluarkan lewat feses.
3) Paru-paru
Zat yang berbentuk gas pada suhu badan terutama diekskresikan lewat paruparu. Cairan yang mudah menguap juga dengan mudah keluar lewat udara
ekspirasi. Cairan yang mudah larut misalnya kloroform dan halotan mungkin
diekskresikan sangat lambat karena ditimbun dalam jaringan lemak dan karena
terbatasnya volume ventilasi. Ekskresi toksikan melalui paru-paru terjadi
karena difusi sederhana lewat membran sel.
8

4) Jalur lain
Saluran cerna bukan jalur utama ekskresi toksikan. Oleh karena lambung dan
usus manusia masing-masing mesekresi kurang lebih tiga liter cairan setiap
hari, maka beberapa toksikan dikeluarkan bersama cairan tersebut. Hal ini
terjadi terutama lewat difusi sehingga lajunya bergantung pada pKa toksikan
dan pH lambung dan usus. Ekskresi toksikan lewat air susu ibu (ASI), ditinjau
dari sudut toksikologi amat penting karena lewat air susu ibu ini racun terbawa
dari ibu kepada bayi yang disusuinya. Ekskresi ini terjadi melalui difusi
sederhana. Oleh karena itu seorang ibu yang sedang menyusui harus berhatihati dalam hal makanan terutama kalau sedang mengkonsumsi obat.

2. Toksikodinamik
Mempelajari efek fisiopatologik dan biokimia toksikan terhadap berbagai organ
tubuh dan mekanisme kerjanya.

VI.

PRINSIP UMUM
1. Bioaccumulation
Adalah penumpukkan dari zat-zat kimia seperti pestisida, metilmerkuri, dan kimia
organik lainnya di dalam atau sebagian tubuh organisme, bahan kimia tersebut akan
menetap dan tidak diekskresi. Bioakumulasi adalah jumlah dari dua proses:
biokonstentrasi dan biomagnifikasi.
a. Biokonstentrasi adalah perpindahan senyawa kimia xenobiotik dari berbagai
sumber dari lingkungan hidup sekitar ke dalam organisme yang menghasilkan
suatu kepekatan yang umumnya lebih tinggi dalam organisme tersebut
dibanding pada sumbernya. Jadi biokonsentrasi adalah banyaknya konsentrasi
9

polutan yang ada dilingkungan sekitar yang kemudian akan diserap oleh suatu
organisme. Sehingga meningkatkan kadar bioakumulasi dalam suatu organisme.
Salah satu konsekuensi dari pelepasan dan penyebaran substansi pencemar di
lingkungan adalah penangkapan (uptake) dan penimbunan (accumulation) oleh
makhluk hidup mengikuti alur rantai makanan (food chain).
b. Biomagnification adalah pengumpulan kontaminan dari organism di atasnya .
Banyak kontaminan sintetis lebih larut dalam lemak daripada dalam air.
Poliklorinasi bifenil (PCB), misalnya, yang dapat hadir dalam danau atau air
sungai, cenderung baik untuk menjerap partikel atau untuk berdifusi ke dalam selsel organisme. Jadi, PCB terbiokonstentrasi di tingkat rendah, misalnya, dalam
fitoplankton dengan faktor sekitar 250. Ikan yang aktif menyaring sejumlah besar
air melalui insang mereka tunduk pada biokonsentrasi yang jauh lebih tinggi.
Selain itu, biomagnification terjadi dalam organisme pemangsa. PCB beban
mangsa ditransfer ke pemangsa. Ikan seperti mencium bau yang mengkonsumsi
sejumlah besar mysids danmemperbesar zooplankton konsentrasi PCB. Ini
mengarah pada faktor bioakumulasi sebanyak 2,8 juta pada spesies ikan
pemangsa seperti danau bass trout dan bergaris. Mamalia-termasuk manusia yang
makan ikan, reptil, dan burung-PCB terakumulasi lebih lanjut.
Penyebab Bioakumulasi
Bioakumulasi dalam tubuh makhluk hidup, akan berbahaya tergantung beberapa
faktor, antara lain:
1. Cara penerimaan xenobiotic
Bioakumulasi xenobiotik dalam makhluk hidup masuk ke dalam tubuh melalui 3
cara, yaitu: sentuhan kulit, inhalasi, dan oral. Xenobiotik masuk ke dalam sel dan
mempengaruhi kinerja sel tersebut.

Gambar 1, Cara masuknya xenobiotik (Newman, 2008)


2. Distribusi xenobiotic
Xenobiotik yang masuk ke dalam tubuh, terdistribusi dan bertumpuk pada
jaringan yang rentan diserangnya. Sifat reaktif zat xenobiotik dan dan jumlah

10

xenobiotik yang terkumpul mempengaruhi lamanya zat tersebut akan


berpengaruh pada makhluk hidup.
Dampak Bioakumulasi
Dampak dari Bioakumulasi diantaranya rusaknya sistem kesehatan makhluk hidup,
baik pada manusia atau hewan, dan rusaknya keseimbangan ekosistem karena dampak
panjang yang diberikan pada rantai makanan.
a. Dampak Kesehatan
Dampak pada kesehatan yang diterima dalam proses bioakumulasi lebih pada
sifat kronis jangka panjang. Biasanya zat-zat xenobiotik ini bersifat karsinogenik.
Penimbunan xenobiotik merugikan pada tubuh akan menyebabkan penyakitpenyakit kronis seperti kanker, dan gangguan organ syaraf, gangguan hormon.
Selain dampak karsinogenik, bioakmulasi juga berdampak adanya proses
mutagenik dan teratogenik. Misalnya, dampak yang diberikan oleh senjata kimia
mengakibatkan gangguan kehamilan dan cacat janin.

Gambar 2, Dampak karsinogenik dalam makhluk hidup (Beek, 2000)


b. Dampak Ekosistem
Keseimbangan ekosistem akan terganggu dengan adanya bioakumulasi di tubuh
mahkluk hidup. Timbunan zat di lingkungan secara cepat dan lambat akan
mempengaruhi daya dukung lingkungannya. Gangguan dalam kesehatan makhluk
hidup dapat berpengaruh pada mutasi gen dan teratogenik makhluk hidup yang
akan berujung pada kepunahan suatu spesies. Dengan hilangnya suatu spesies
tertentu, maka rantai makanan akan kacau dan lingkungan menjadi tidak
seimbang. Ketidakseimbangan lingkungan akan berdampak pada kepunahan
spesies lain.
2. Dose-Response Curves (Hubungan Dosis Respon)

11

Digunakan Untuk Memprediksi Efek Kontaminan Terhadap Individu. Pengertian dose


respons dalam toksikologi adalah proporsi dari sebuah populasi yang terpapar dengan
suatu bahan dan akan mengalami respon spesifik pada dosis,interval,waktu dan
pemaparan tertentu

VII.

TOKSISITAS

Untuk menyatakan ukuran daya racun suatu zat kimia, maka perlu diketahui ukuranukuran toksisitas untuk zat kimia. Saecara internasional, ukuran toksisita zat kimia dapat
dinyatakan dalam berbagai cara seperti lethal dose 50 % (LOD 50), fatal dose, letal oral dose
50% (LOD50) , dan threshold limit values (TLV). Untuk memberi gambaran tentang
pengukuran toksisitas zat kimia maka berikut ini dijelaskan secara singkat ukuran toksisitas
zat kimia dan cara penentuannya.
1. Lethal Dose 50% (LD50)
Lethal dose 50% (LD50) yaitu dosis zat kimia yang akan membunuh sebanyak 50% dari
populasi yang dapat kontak langsung dengan zatb kimia yang dicobakan. Ukuran LD50
adalah berdasarkan berat tubuh dan dinyatakan dalm bentuk unit mg/kg (milligram
racun per kilogram berat badan makhluk hidup). Beberapa kelemahan dari ukuran LD50
adalah ditemukan kenyataan bahwa besar LD50 masih tergantung pada jenis species
makhluk hidup yang menjadi objek percobaan. Dengan demikian ukuran LD50 untuk
tikus akan berbeda dari ukuran LD50 untuk kelinci atau binatang pengerat yang lainnya.
Namun demikian ukuran LD50 digunakan sebagai perbandingan umum tentang potensi
racun yang dimiliki oleh zat kimia terhadap makhluk hidup sehingga manusia dapat
menghindarkan bahaya yang disebabkan oleh daya racun yang dimiliki oleh zat kimia.
Ukuran LD50 dapat juga disebut sebagai LD50 rendah atau LD50 tinggi, yaitu berbagai
untuk menggambarkan potensi rendah dan tingginya daya racun suatu zat kimia di
dalam tubuh makhluk hidup, sehingga informasi LD50 yang dimiliki zat kimia tersebut.
Beberapa contoh LD50 dari beberapa senyawa kimia yang sering ditemukan di dalam
lingkungan diperlihatkan pada tabel berikut :
Tabel. Besaran LD50 beberapa senyawa kimia terhadap makhluk hidup
12

LD50 (mg/kg)
>10.000.000
1000

Nama senyawa alamiah


Gula pasir
Garam, etanol, phyretrin

Nama senyawa sintetik


Malathion, glyphospate,
aspirin
100
Kafein
DDT, codeine, paracetamol
1
Nikotin
Strychnine
10-2
Bisa ular
10-5
Tetanus
Penentuan LD50 dapat dilakukan dengan membuat perlakuan terhadap sekelompok
hewan percobaan seperti tikus, kelinci dan hewan lain dengan memberikan dosis zat
kimia bervariasi (perkalian) misalnya 1x, 2x, 4x, 8x dan seterusnya 9mg zat kimia per
kg berat badan), dan sebagai control dibuat sekelompok hewan yang tidak diberikan
zat kimia.
2. Dosis Fatal
Dosis fatal (fatal dose) adalah jumlah zat kimia (mg) yang diperkirkirakan akan dapat
membunuh satu species,misalnya tikus, kelinci, hewan atau manusia. Dosis fatal
dibuat berdasarkan jenis species dan individu makhluk hidup dengan melihat
kenyataan bahwa masing-masing makhluk hidup akan memiliki system fisiologi yang
berbeda terhadap racun zat kimia, sehingga penentuan ukuran toksisitas zat kimia juga
sulit dibuat akurat. Kenyataan menunjukkan bahwa beberapa species makhluk hidup
akan memberikan respon bervariasi terhadap zat kimia, yaitu ada makhluk hidup yang
sensitive terhadap zat kimia tertentu dan ada juga makhluk hidup yang memiliki
kekebalan terhadap zat kimia yang sama, bahkan zat kimia tersebut tidak memberikan
efek pada system fisiologi tubuhnya.
3. Lethal Oral Dose (LOD50)
LOD50 adalah toksisitas zat kimia dapat juga diukur dengan cara memberikan zat
kimia melalui oral kepada makhluk hidup. Pengukuran toksisitas secara LOD50 hampir
sama dengan LD50, bedanya adalah dalam hal masuknya zat kimia tersebut kedalam
tubuh makhluk hidup melalui mulut. Besarnya LD 50 dan LOD50 pada species makhluk
hidup dapat dibandingkan sehingga ukuran LOD50 yang diperoleh pada makhluk hidup
tertentu langsung dianggap sebagai LD50, dan berlaku sebaliknya. Ukuran LD50 dan
LOD50 zat kimia tertentu terhadap makhluk hidup juga dapat bervariasi dalam species
yang sama atau species yang berbeda.
Tabel. Ukuran toksisitas beberapa senyawa kimia berdasarkan LD50 dan dosis fatal
Tingkat toksisitas
LDD50
Dosis Fatal
Contoh Senyawa
6 (super beracun)
<5 mg/kg
Few drops
Sianida
5 (sangat sangat
5-50 mg/kg
0.3 3.0 g
Timbale
beracun)
4 (sangat bercun)
50-500 mg/kg
3 30 g
Phenol
3 (beracun)
500-5000 mg/kg
30 300 g
Methanol
2 (sedikit beracun)
5-15 g/kg
>300 g
Ethanol
13

>15 g/kg

>1 kg

Foods

1 (tidak beracun)
4. Threshold Limit Values (TLV)
TLV adalah ukuran rata-rata maksimum kadar (ppm) senyawa kimia yang aman dari
keracunan zat kimia di atmosfer yang dapat masuk kedalam tubuh manusia selama 8
jam berturut-turut dalam satu hari kerja. Dalam hal ini diperoleh kepastian bahwa
dengan harga TLV zat kimia tertentu bahwa setiap orang yang bekerja selam 8 jam
dalam sehari dan berhubungan dengan zat kimia tersebut diharapkan tidak akan
menderita suatu penyakit, dengan kata lain pekerja kesehatannya akan aman bila
berhubungan dengan zat kimia tersebut. Pengukuran TLV biasanya dilakukan di
lingkungan kerja industry, akan tetapi pengukuran ini juga dapat diterapkan terhadap
kondisi lingkungan.

VIII. PENGARUH TOKSISITAS TERHADAP MAKHLUK HIDUP


Racun yang berasal dari zat kimia umumnya mempunyai pengaruh local dan sistematik.
1.
Local
Pengaruh local adalah pengaruh zat kimia secara local (daerah tertentu) yang
diakibatkan oleh adanya kontak langsung zat kimia dengan objek (bagian tubuh
makhluk hidup),misalnya kebakaran kulit oleh kehadiran asam kuat atau basa kuat.
2.
Sistemik
Pengaruh sistematik adalah pengaruh yang diakibatkan oleh zat kimia yang
menyebar ke berbagai bagian tubuh makhluk hidup yang disebabkan oleh absorbsi
zat kimia ke dalam bagian tubuh, misalnya pengaruh keracunan yang disebabkan
oleh masuknya merkuri atau timbale ke dalam tubuh yang dapat mempengaruhi
berbagai jenis target di dalam tubuh makhluk hidup dan manusia. Pengaruh
sistematik dapat berupa pengaruh akut dan pengaruh kronik.
a. Pengaruh akut adalah keracunan yng berlangsung sangat cepat oleh kehadiran
zat kimia di dalam tubuh makhluk hidup. Pengaruh akut sangat mudah mudah
dikenali karena kehadiran zat kima ke dalam tubuh akan langsung memberikan
dampak negative berupa luka, terbakar, sakit, atau gejala lainnya yang
berlangsung sangat cepat.
b. Pengaruh kronik adalah keracunan yang berlangsung sangat lambat oleh
kehadiran zat kimia di dalam tubuh makhluk hidup dan pengaruh ini baru
diketahui setelah dalam jangka waktu yang cukup lama. Pengaruh kronik sangat
sulit untuk dikenali karena berlangsungnya lambat, yaitu membutuhkan waktu
yang lama mulai dari masuknya zat kedalam tubuh sampai terjadinya gejala
penyakit dan sakit yang diakibatkan oleh racun tersebut. Misalnya beberapa
tahun setelah kontak atau mengkonsumsi zat kimia tersebut, sehingga sering
kali dalam diagnosisnya nama zat kimia yang menjadi penyebabnya sulit
14

ditelusuri. Beberapa senyawa yang mempunyai efek kronik digolongkan sebagai


senyawa karsinogenik, mutagenic, teratogenik dan sensitisers.
1) Karsinogenik
Karsinogenik adalah senyawa kimia yang dapat mengakibatkan penyakit kanker.
Senyawa karsinogenik diklasifikasikan sebagai berikut :
Karsinogenik Tipe I : Senyawa kimia yang sudah pasti diketahui menyebabkan
kanker pada manusia, misalnya asbestos, senyawa aromatis.
Karsinogenik Tipe II : Senyawa kimia yang diketahui sudah pasti menyebabkan
kanker kepada hewan dan diduga akan mengakibatkan kanker pada manusia,
misalnya formaldehida.
Karsinogenik Tipe III : Senyawa kimia yang perlu dipertimbangkan dan diduga
memiliki potensi akan mengakibatkan kanker akan tetapi belum cukup data
untuk meyakinkannya,misalnya kloroform.
2) Mutagenic
Mutagenic adalah senyawa kimia yang dapat mengakibatkan perubahan kimia
bahan genetic (DNA) di dalaminti sel (nucleus). Efek mutagenic mungkin tidak
atau belum nyata terlihat kepada individu yang terkena senyawa mutagenic
tersebut, akan tetapi perubahan DNA (mutasi) akan dapat mengakibatkan pengaruh
terhadap generasi berikutnya, misalnya terjadinya cacat lahir atau penyakit genetic
lainnya pada keturunan pertama atau generasi berikutnya.
3) Terotogenik
Terotogenik adalah senyawa kimia yang dapat merusak janin yang mengakibatkan
kelainan (cacat lahir). Beberapa senyawa yang diduga memiliki efek teratogenik di
dalam lingkungan diantaranya adalah senyawa dioksin yang dihasilkan dari
pembakaran sampah, senyawa organic merkuri yang terbentuk dari limbah
merkuri, dan karbon monoksida yang dihasilkan dari mesin industry dan
kenderaan bermotor.
4) Sensitizer
Sensitizer adalah senyawa kimia yang dapat mengakibatkan alergi terhadap
individu tertentu namun keberadaan senyawa itu ditoleransi oleh sebagian besar
populasi di dalamlingkungannya. Contoh dari efek sensitizer adalah terjadinya
gejala berupa gatal-gatal, asma, sakit kepala, atau bahkan ada yang pingsanoleh
kehadiran senyawa penisilin atau racun di dalam tubuh. Beberapa senyawa lain
yang dapat dikategorikan sebagai senyawa sensitizer adalah formaldehida (HCHO)
yang terdapat di dalam plastic, kertas dan lem. Senyawa lain seperti isosianat yang
terdapat di dalam cat, pelingkut dan produk busa plastic juga dikategorikan sebagai
senyawa sensitizer.
Beberapa senyawa kimia beracun alamiah dan pengaruh toksiknya terhadap makhluk
hidup yang sudah diidentifikasi seperti pada tabeldi bawah ini :
NO

Jen
1
2

Logam Pb, Hg, As, Sb, Cu, Cr, Mn, Se, Ni.
Gas CO, NO2, SO2, SO3.
15

3
4
5
6

IX.

Alkaloid, peptide, protein sterol.


Bakteri toksin
Jamur toksin
Radioaktif (bukan senyawa)

IDENTIFIKASI SENYAWA BERACUN

Beberapa cara yang dilakukan untuk mengidentifikasi zat beracun dan karsinogenik
adalah melalui struktur kimia. Harus diakui bahwa sangat sulit untuk memastikan apakah
suatu senyawa kimia bersifat racun, karsinogenik atau bahkan tidak memberika efek. Ada
pedoman umum yang dibuat melalui pengelompokan zat kimia sebagai berikut :
1. Senyawa Beracun Akut
Yaitu hampir semua senyawa halogen beracun seperti brom,klor, flor dan iodium.
Senyawa sianida dan nitril (golongan CN) bersifat racun aktif seperti hydrogen
sianida, hydrogen sulfide, dan nitrogen dioksida bersifat racun akut.
2. Senyawa Beracun Kronis
Yaitu hampir semua logam berat seperti arsen, cadmium, merkuri diketahui bersifat
racun kronis. Golongan senyawa lain seperti vynil klorida, dan asbestos bersifat racun
kronis.
3. Senyawa Karsinogen
Yaitu hampir semua senyawa alkil seperti alfa-halo-eter, sulfonat, epoksida, elektrofil
alkena dan alkuna, semua senyawa organohalogen, hidrazin, N-nitroso, amina aromatic,
hidrokarbon aromatic, dan banyak senyawa alamiah.

16

KESIMPULAN
Manusia, sebagai makhluk hidup tertinggi di dunia ini hidupnya sangat tergantung pada
sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Sewaktu manusia jumlahnya masih sangat sedikit,
maka alam masih mampu membersihkan dirinya dari segala macam buangan/kotoran dengan
mekanisme yang berada di alam (ekosistem). Namun semakin dengan berkembangnya
tekhnologi dan industry untuk memenuhi kebutuhan manusia, pencemaran dan kerusakan
lingkungan menjadi masalah baru yang harus menjadi perhatian.
Toksikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari efek merugikan dari bahan
kimia terhadap organisme hidup sedangkan toksikologi lingkungan adalah suatu studi yang
mempelajari efek dari bahan polutan terhadap kehidupan dan pengaruhnya terhadap
ekosistem yang digunakan untuk mengevaluasi kaitan antara manusia dengan polutan yang
ada di lingkungan. Sumber toksikologi di lingkungan bisa berasal dari udara air tanah.
Ekotoksikologi adalah ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik pada mahluk
hidup, khususnya populasi dan komunitas termasuk ekosistem, termasuk jalan masuknya
agen dan interaksi dengan lingkungan. Polutan adalah suatu zat yang menjadi sebab
pencemaran terhadap lingkungan. Efek suatu polutan terhapap lingkungan tergantung jumlah
nya (dosis) dan sifat fisik dan kimianya. Dampak polutan terhadap lingkungan adalah
punahnya spesies, peledakan hama, gangguan keseimbangan lingkungan, kesuburan tanah
berkurang, keracunan dan penyakit, pemekatan hayati, terbentuknya lubang ozon dan efek
rumah kaca.
Xenobiotik di dalam lingkungan dapat mengalami degradasi akibat dua kekuatan yaitu
Abiotik dengan energy fisis seperti sinar UV dan degradasi biotik secara mikrobiologis.
Proses degradasi bisa disebut juga transformasi.
Fase toksikologi terhadap makhluk hidup dimulai dari paparan kemudian toksikokinetik
yaitu perjalanan toksikan dalam tubuh seperti absorbsi, distribusi, metabolisme, ekskresi,
dilanjutkan toksikodinamik. Bahan kimia didalam tubuh makhluk hidup bisa terjadi
bioakumulasi yaitu penumpukkan dari zat-zat kimia seperti pestisida, metilmerkuri, dan
kimia organik lainnya di dalam atau sebagian tubuh organisme dimana bahan kimia tersebut
akan menetap dan tidak diekskresi
Untuk menyatakan ukuran daya racun suatu zat kimia, maka perlu diketahui ukuranukuran toksisitas untuk zat kimia. Saecara internasional, ukuran toksisitas zat kimia dapat
dinyatakan dalam berbagai cara seperti lethal dose 50 % (LOD 50), fatal dose, letal oral dose
50% (LOD50) , dan threshold limit values (TLV).
Racun yang berasal dari zat kimia umumnya mempunyai pengaruh local dan sistematik.
Pengaruh sistematik dapat berupa pengaruh akut dan pengaruh kronik. Pengaruh akut adalah
keracunan yng berlangsung sangat cepat oleh kehadiran zat kimia di dalam tubuh makhluk
17

hidup Pengaruh kronik adalah keracunan yang berlangsung sangat lambat oleh kehadiran zat
kimia di dalam tubuh makhluk hidup dan pengaruh ini baru diketahui setelah dalam jangka
waktu yang cukup lama. Beberapa senyawa yang mempunyai efek kronik digolongkan
sebagai senyawa karsinogenik, mutagenic, teratogenik dan sensitisers. Sulit mengidentifikasi
senyawa beracun karena beberapa senyawa tidak menimbulkan efek namun ada pedoman
umum yang dibuat melalui pengelompokan zat kimia menjadi senyawa beracun akut, kronik,
karsinogen.

18