Anda di halaman 1dari 21

Said bin Amir al-Jumahi

Said bin Amir, seorang laki-laki yang membeli akhirat dengan dunia dan mementingkan
Allah dan Rasul-Nya di atas selain keduanya. (Ahli Sejarah)
Anak muda ini, Said bin Amir, adalah satu dari ribuan orang yang keluar ke daerah Tanim
di luar Mekah atas undangan para pemuka Quraisy untuk menyakikan pelaksanaan hukum
mati atas khubaib bin Adi, salah seorang sahabat Muhammad setelah mereka menangkapnya
dengan cara licik.
Sebagai pemuda yang kuat dan tangguh, Said mampu bersaing dengan orang-orang yang
lebih tua umurnya untuk berebut tempat di depan, sehingga dia mampu duduk sejajar di
antara para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan lainlainya yang menyelenggarakan acara tersebut.
Semua ini membuka jalan baginya untuk menyaksikan tawanan Quraisy yang terikat dengan
tambang itu. Sementara tangan anak-anak, para pemuda, dan kaum wanita mendorongnya ke
pelataran kematian dengan kuatnya, mereka ingin melampiaskan dendam kesumat terhadap
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, membalas kematian orang-orang mereka yang
terbunuh di Badar dengan membunuh Khubaib.
Manakala rombongan besar dengan seorang tawanan tersebut telah tiba di tempat yang sudah
disiapkan untuk membunuhnya, si anak muda Said bin Amir al-Jumahi berdiri tegak
memandang Khubaib yang sedang digiring ke tiang salib. Said mendengar suara Khubaib di
antara teriakan kaum wanita dan anak-anak, dia mendengarnya berkata, Bila kalian
berkenan membiarkanku shalat dua rakaat sebelum aku kalian bunuh?
Said melihat Khubaib menghadap kiblat, shalat dua rakaat, dua rakaat yang sangat baik dan
sangat sempurna.
Said melihat Khubaib menghadap para pembesar Quraisy dan berkata, Demi Allah, kalau
aku tidak khawatir kalian menyangka bahwa aku memperlama shalat karena takut mati,
niscaya aku akan memperlama shalatku.
Kemudia Said melihat kaumnya dengan kedua mata kepalanya mencincang jasad Khubaib
sepotong demi sepotong padahal Khubaib masih hidup, sambil berkata, Apakah kamu ingin
Muhammad ada di tempatmu ini sedangkan kamu selamat?[1]
Khubaib menjawab sementara darah menetes dari jasadnya, Demi Allah, aku tidak ingin
berada di antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan aman dan tenang
sementara Muhammad tertusuk oleh sebuah duri.
Maka orang banyak pun mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke udara, teriakan mereka
gegap gempita menggema di langit.
Di saat itu Said bin Amir melihat Khubaib mengangkat pandangannya ke langit dari atas
tiang salib dan berkata, Ya Allah, balaslah mereka satu persatu, bunuhlah mereka sampai
habis, dan jangan biarkan seorang pun dari mereka hidup dengan aman.

Akhirnya Khubaib pun menghembuskan nafas terakhirnya, dan tidak ada seorang pun yang
mampu melindunginya dari tebasan pedang dan tusukan tombak orang-orang kafir.
Orang-orang Quraisy kembali ke Mekah, mereka melupakan Khubaib dan kematiannya
bersama dengan datangya peristiwa demi peristiwa besar yang mereka hadapi.
Namun tiak dengan anak muda yang baru tumbuh ini, Said bin Amir, Khubaib tidak pernah
terbenam dari benaknya sesaat pun.
Said melihatnya dalam mimpinya ketika dia tidur, membayangkannya dalam khayalannya
ketika dia terjaga, berdiri di depannya ketika dia shalat dua rakaat dengan tenang dan
tenteram di depan kayu salib, Said mendengar bisikan suaranya di keua telinganya ketika dia
berdoa atas orang-orang Quraisy, maka dia khawatir sebuah halilintar akan menyambar atau
sebuah batu dari langit akan jatuh menimpanya.
Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan sesuatu kepada Said tentang persoalan besar yang
belum dia ketahui selama ini.
Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bahwa kehidupan sejati adalah jihad di
jalan akidah yang diyakininya sampai mati.
Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bahwa iman yang terpancang kuat bisa
melahirkan dan menciptakan keajaiban-keajaiban.
Khubaib mengajarkan kepadanya perkara lainnya, yaitu seorang laki-laki yang dicintai
sedemikian rupa oleh para sahabatnya adalah seorang nabi yang di dukung oleh kekuatan dan
pertolongan langit.
Pada saat itu Allah Taala membuka dada Said bin Amir kepada Islam, maka dia berdiri di
hadapan sekumpulan orang banyak, mengumumkan bahwa dirinya berlepas diri dari dosadosa dan kejahatan-kejahatan orang Quraisy, menanggalkan berhala-berhala dan patungpatung menyatakan diri sebagai seorang muslim.
Said bin Amir al-Jumahi berhijrah ke Madinah tinggal bersama Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam, ikut bersama beliau dalam perang khaibar dan peperangan lain sesudahnya.
Manakala Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mulia dipanggil menghadap keharibaan
Rabbbnya alam keadaan ridha, Said bin Amir tetap menjadi sebilah pedang yang terhunus di
tangan para khalifah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar. Said bin
Amir hidup sebagai contoh menawan lagi mengagumkan bagi setiap mukmin yang telah
membeli akhirat dengan dunia, mementingkan ridha Allah dan pahalaNya di atas segala
keinginan jiwa dan hawa nafsu.
Dua orang khalifah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenal kejujuran Said dan
ketakwaannya, keduanya mendengar nasihatnya dan mencamkan kata-katanya.
Said datang kepada Umar bin al-Khatthab di awal khilafahnya, dia berkata, Wahai Umar,
aku berpesan kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah dalam bermuamalah dengan
manusiadan jangan takut kepada manusia dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah.
Janganlah kata-katamu menyelisihi perbuatanmu, karena kata-kata yang baik adalah yang

dibenarkan oleh perbuatan. Wahai Umar, perhatikanlah orang-orang yang Allah Taala telah
menyerahkan perkara mereka kepadamu, baik mereka dari kalangan kaum muslimin yang
dekat maupun yang jauh, cintailah sesuatu yang bermanfaat untuk dirimu dan keluargamu,
bencilah sesuatu yang mereka alami, yang kamu pun benci apabila hal itu terjadi kepada
dirimu dan keluargamu, hadapilah kesulitan-kesulitan untuk menuju pada kebenaran dan
jangan takut celaan orang-orang yang mencela ketika engkau berbuat ketaatan kepada Allah.
Maka Umar menjawab, Siapa yang mampu melakukannya wahai Said?
Said berkata, Hal itu bisa dilakukan oleh orang-orang sepertimu yang Allah Taala serahi
perkara umat Muhammad dan di antara dia dengan Allah tidak terdapat seorang pun.
Pada saat itu Umar mengundang Said untuk mendukungnya, Umar berkata, Wahai Said, aku
menyerahkan kota Himsh kepadamu. Maka Said menjawab, Wahai Umar, dengan nama
Allah aku memohon kepadamu agar mencoret namaku.
Maka Umar marah, dia berkata, Celaka kalian, kalian meletakkan perkara ini di pundakku
kemudian kalian berlari dariku. Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu.
Umar mengangkat Said sebagai gubernur Himsh, Umar bertanya kepadanya, Aku akan
mentapkan gaji untukmu.
Said menjawab, Apa yang aku lakukan dengan gaji itu wahai Amirul Mukminin? Pemberian
dari baitul maal kepadaku melebihi kebutuhanku. Said pun berangkat ke Himsh menunaikan
tugasnya.
Tidak lama berselang, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab didatangi oleh orang-orang
yang bisa dipercaya dari penduduk Himsh, Umar berkata kepada mereka, Tulislah nama
penduduk miskin dari Himsh agar aku bisa membantu mereka.
Mereka menulis dalam sebuah lembaran, di dalamnya tercantum nama fulan dan fulan serta
Said bin Amir.
Umar bertanya, Siapa Said bin Amir?
Mereka menjawab, Gubernur kami.
Umar menegaskan, Gubernur kalian miskin?
Mereka menjawab, Benar di rumahnya tidak pernah dinyalakan api dalam waktu yang
cukup lama.
Maka Umar menangis hingga air matanya membasahi janggutnya, kemudia dia mengambil
seribu dinar dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong. Umar berkata, Sampaikan
salamku kepadanya dan katakana kepadanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan harta ini
agar kamu bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu.
Delegasi pun pulang dan mendatangi rumah Said dengan menyerahkan kantong dari Umar
bin Khatthab. Said melihatnya dan ternyata isinya adalah dinar, maka dia menyingkirkannya

seraya berkata, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Seolah-olah Said sedang ditimpa
musibah besar atau perkara berat.
Istrinya datang tergopoh-gopoh dengan penuh kecemasan, dia berkata, Apa yang terjadi
wahai Said? Apakah Amirul Mukimin wafat?
Said menjawab, Lebih besar dari itu.
Istrinya bertanya, Aa yang lebih besar ?
Said menjawab, Dunia datang kepadaku untuk merusak akhiratku, sebuat fitnah telah
menerpa rumahku.
Istrinya berkata, Engkau harus berlepas diri darinya, Dia belum mengerti apa pun terkait
dengan perkara dinar tersebut.
Said bertanya, Kamu bersedia membantuku?
Istrinya menjawab, Ya
Maka Said mengambil dinar itu, memasukkannya ke dalam kantong-kantong dan membagibaginya kepada kaum muslimin yang miskin.
Tidak berselang lama setelah itu, Umar bin al-Khatthab datang ke negeri Syam untuk
mengetahui keadaannya. Ketika Umar tiba di Himsh, kota ini juga dikenal dengan Kuwaifah,
bentuk kecil dari Kufah, kota Himsh disamakan dengan Kufah karena banyaknya keluhan
penduduknya terhadap para gubernurnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang Kufah,
ketika Umar tiba di sana, orang-orang Himsh bertemu dengan Umar untuk memberi salam
kepadanya. Umar bertanya, Bagaimana dengan gubernur kalian?
Maka mereka mengadukannya dan menyebutkan empat hal dari sikapnya, yang satu lebih
besar daripada yang lain.
Umar berkata, Maka aku mengumpulkan mereka dengan pribadi Said sebagai gubernur
mereka dalam sebuah majelis, aku memohon kepada Allah agar dugaanku kepadanya selama
ini tidak salah, aku sangat percaya kepadanya. Ketika mereka dengan gubernur mereka
berada di hadapanku, aku berkata, Apa keluhan kalian terhadap gubernur kalian?
Mereka menjawab, Dia tidak keluar kepada kami kecuali ketika siang sudah naik.
Aku berkata, Apa jawabanmu wahai Said?
Said diam sesaat kemudian berkata, Demi Allah, aku sebenarnya tidak suka mengatakan hal
ini, akan tetapi memang harus dikatakan. Keluargaku tidak mempunyai pembantu. Setiap
pagi aku menyiapkan adonan mereka, kemudian aku menunggunya beberapa saat sampai ia
mengembang, kemudian aku membuat roti untuk mereka, kemudian aku berwudhu dan
keluar untuk masyarakat.
Umar berkata, aku pun berkata kepada mereka, Apa yang kalian keluhkan darinya juga?

Mereka menjawab, Dia tidak menerima seorang pun di malam hari.


Said berkata, Demi Allah, aku juga malu mengatakan hal ini. Aku telah memberikan siang
bagi mereka, sedangkan malam maka aku memberikannya kepada Allah Taala.
Aku bertanya, Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?
Mereka menjawab, Dia tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan.
Aku bertanya, Bagaimana penjelasanmu wahai Said?
Said menjawab, Aku tidak mempunyai wahai Amirul Mukminin, aku pun tidak mempunyai
pakaian selain yang melekat di tubuhku ini. Aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan
menunggu sampai kering, baru kemudian aku keluar di sore hari.
Kemudian aku bertanya, Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?
Mereka menjawab, Terkadang ia jatuh pingsan sehingga tidak ingat terhadap orang-orang di
sekitarnya.
Aku bertanya, Bagaimana penjelasanmu wahai Said?
Said menjawab, Aku menyaksikan kematian Khubaib bin Adi ketika aku masih musyrik,
aku melihat orang-orang Quraisy mencincang jasadnya sambil berkata kepadanya, Apakah
kamu ingin Muhammad ada di tempatmu ini? Lalu dia menjawab, Demi Allah, aku tidak
ingin berada di antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan tenang sedangkan
Muhammad tertusuk oleh sebuah duri. Demi Allah setiap aku teringat hari itu, yakni ketika
aku membiarkannya dan tidak menolongnya sehingga aku senantiasa dikejar ketakutan
bahwa Allah tidak akan mengampuniku, maka aku pun pingsan.
Saat itu Umar berkata, Segala puji bagi Allah yang membenarkan dugaanku kepadamu.
Kemudian Umar memberinya seribu dinar agar dia gunakan untuk memenuhi kebutuhannya.
Istrinya melihatnya, dia pun berkata, Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan kami
dari pelayananmu, belilah kebutuhan kami dan ambillah seorang pelayan.
Said berkata kepadanya, Apakah kamu mau aku tunjukkan kepada yang lebih baik dari itu?
Istrinya balik bertanya, Apa itu?
Said berkata, Kita memberikan hatra tersebut kepada yang memberikannya kepada kita, kita
lebih memerlukan hal (amalan) itu.
Istrinya bertanya, Apa maksudmu?
Said menjawab, Kita berikan kepada Allah dengan cara yang baik.
Istrinya berkata, Setuju dan semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.

Said tidak meninggalkan majelisnya hingga dia membagi dinar tersebut di beberapa kantong,
lalu dia berkata kepada salah seorang anggota keluarganya, Berikanlah ini kepada janda
fulan, berikanlah ini kepada anak-anak yatim fulan, berikanlah ini kepada keluarga fulan,
berikanlah ini kepada orang-orang miskin dari keluarga fulan.
Semoga Allah meridhai Said bin Amir al-Jumahi, dia termasuk orang-orang yang
mementingkan saudaranya sekalipun dia sendiri memerlukan.[2]
Diketik ulang oleh Abu Abdillah Ridwansyah As-Slemani
Artikel www.KisahMuslim.com

[1] Ada yang berkata bahwa pertanyaan ini diarahkan kepada Zaid bin ad-Ditsinnah. Lihat
Syarh al-Mawahib karya Allamah az-Zarqani, (II/72) dan Syarh Bahjah al-Mahafil wa
Bughyah al-Amatsil, (I/220).
[2] Untuk menambah wawasan tentang Said bin Amir al-Jumahi silahkan merujuk:
Tahdzib at-Tahdzib, (IV/51); Ibnu Asakir, (VI/145-147); Shifah ash-Shafwah, (I/273); Hilyah
al-Auliya, (I/244); Tarikh al-Islam, (II/35); Al-Ishabah, (II/48) atau (at-Tarjamah), 327;
Nasab Quraisy, (399).

Said bin Amir adalah orang yang membeli akhirat dengan dunia, dan ia lebih mementingkan
Allah dan Rasul-Nya atas selain-Nya. (Ahli sejarah).
Adalah seorang anak muda Said bin Amir Al-Jumahi salah satu dari beribu-ribu orang yang
tertarik untuk pergi menuju daerah Tanim di luar kota Makkah, dalam rangka menghadiri
panggilan pembesar-pembesar Quraisy, untuk menyaksikan hukuman mati yang akan
ditimpakan kepada Khubaib bin Adiy, salah seorang sahabat Muhammad yang diculik oleh
mereka.
Kepiawaian dan postur tubuhnya yang gagah, ia mendapatkan kedudukan yang lebih dari
pada orang-orang, sehingga ia dapat duduk berdampingan dengan pembesar-pembesar
Quraisy, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan orang-orang yang
mempunyai wibawa lainnya.
Dengan demikian ia dapat melihat dengan jelas tawanan Quraisy yang terikat dengan tali,
suara gemuruh perempuan, anak-anak dan remaja senantiasa mendorong tawanan itu menuju
arena kematian, karena kaum Quraisy ingin membalas Muhammad atas kematian orangorangnya ketika perang Badar dengan cara membunuhnya.
Ketika rombongan yang garang ini dengan tawanannya, sampai di tempat yang telah
disediakan, anak muda Said bin Amir Al-Jumahi berdiri tegak memandangi Khubaib yang
sedang diarak menuju kayu penyaliban, dan ia mendengar suaranya yang teguh dan tenang di
antara teriakan wanita-wanita dan anak-anak, Khubaib berkata, Izinkan saya untuk shalat
dua rakaat sebelum pembunuhanku ini jika kalian berkenan.
Kemudian ia memandanginya, sedangkan Khubaib menghadap kiblat dan shalat dua rakaat,
alangkah bagusnya dan indahnya shalatnya itu
Kemudia ia melihat, Khubaib seandainya menghadap pembesar-pembesar kaum dan berkata,
Demi Allah! Jjika kalian tidak menyangka bahwa saya memperpanjang shalat karena takut
mati, tentu saya telah memperbanyak shalat
Kemudian ia melihat kaumnya dengan mata kepalanya, mereka memotong-motong Khubaib
dalam keadaan hidup, mereka memotongnya sepotong demi sepotong, sambil berkata,
Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu dan kamu selamat?, maka ia
menjawab- sementara darah mengucur dari badannya, Demi Allah! Saya tidak suka
bersenang-senang dan berkumpul bersama istri dan anak sedangkan Muhammad tertusuk
duri . Maka orang-orang melambaikan tangannya ke atas, dan teriakan mereka semakin
keras, Bunuh!-bunuh!.
Kemudian Said bin Amir melihat Khubaib mengarahkan pandangannya ke langit dari atas
kayu salib, dan berkata, Ya Allah ya Tuhan kami! Hitunglah mereka dan bunuhlah mereka
satu persatu serta janganlah Engkau tinggalkan satupun dari mereka, kemudian ia
menghembuskan nafas terakhirnya, dan di badannya tidak terhitung lagi bekas tebasan
pedang dan tusukan tombak.
Orang-orang Quraisy telah kembali ke Makkah, dan mereka telah melupakan kejadian
Khubaib dan pembunuhannya karena banyak kejadian-kejadian setelahnya.
Akan tetapi anak muda Said bin Amir Al-Jumahi tidak bisa menghilangkan bayangan
Khubaib dari pandangannya walau sekejap mata.

Ia memimpikannya ketika sedang tidur, dan melihatnya dengan khayalan ketika matanya
terbuka, Khubaib senantiasa terbayang di hadapannya sedang melakukan shalat dua rakaat
dengan tenang di depan kayu salib, dan ia mendengar rintihan suaranya di telinganya, ketika
Khubaib berdoa untuk kebinasaan orang-orang Quraisy, maka ia takut kalau ia tersambar
petir atau ketiban batu dari langit.
Khubaib telah mengajari Said sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Ia
mengajarinya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah aqidah dan jihad di jalan aqidah itu
hingga akhir hayat.
Ia mengajarinya juga bahwa iman yang kokoh akan membuat keajaiban dan kemujizatan.
Dan ia mengajarinya sesuatu yang lain, yaitu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki yang
dicintai oleh para sahabatnya dengan kecintaan yang sedemikian rupa, tidak lain adalah nabi
yang mendapat mandat dari langit.
Semenjak itu Allah membukakan dada Said bin Amir untuk Islam, lalu ia berdiri di hadapan
orang banyak dan memproklamirkan kebebasannya dari dosa-dosa Quraisy, berhala-berhala
dan patung-patung mereka, dan menyatakan ikrarnya terhadap agama Allah.
Said bin Amir berhijrah ke Madinah, dan mengabdikan diri kepada Rasulullah , dan ia ikut
serta dalam perang Khaibar dan peperangan-peperangan setelahnya.
Dan ketika Nabi yang mulia dipanggil menghadap Tuhannya, -saat itu beliau sudah
meridhainya- ia mengabdikan diri dengan pedang terhunus di zaman dua khalifah Abu Bakar
dan Umar, dan hidup bagaikan contoh satu-satunya bagi orang mumin yang membeli akhirat
dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atas segala keinginan
hawa nafsu dan syahwat badannya.
Kedua khalifah Rasulullah telah mengetahui tentang kejujuran dan ketakwaan Said bin
Amir, keduanya mendengar nasihat-nasihatnya dan memperhatikan pendapatnya.
Pada awal kekhilafahan Umar, ia menemuinya dan berkata, Wahai Umar, aku berwasiat
kepadamu, agar kamu takut kepada Allah dalam urusan manusia, dan janganlah kamu takut
kepada manusia dalam urusan Allah, dan janganlah ucapanmu bertentangan dengan
perbuatanmu, karena sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah yang sesuai dengan
perbuatan
Wahai Umar, hadapkanlah wajahmu untuk orang yang Allah serahkan urusannya kepadamu,
baik orang-orang muslim yang jauh atau yang dekat, cintailah mereka sebagaimana kamu
mencintai dirimu dan keluargamu, dan bencilah untuk mereka sesuatu yang kamu benci bagi
dirimu dan keluargamu, dan tundukkanlah beban menjadi kebenaran dan janganlah kamu
takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah.
Maka Umar berkata, Siapakah yang mampu menjalankan itu wahai Said?!.
Ia menjawab, Orang laki-laki sepertimu mampu melakukannya, yaitu di antara orang-orang
yang Allah serahkan urusan umat Muhammad kepadanya, dan tidak ada seorangpun
perantara antara ia dan Allah.
Setelah itu Umar mengajak Said untuk membantunya dan berkata, Wahai Said; Kami
menugaskan kamu sebagai gubernur atas penduduk Himsh. maka ia berkata, Hai Umar!:
Aku ingatkan dirimu terhadap Allah; Janganlah kamu menjerumuskanku ke dalam fitnah.
Maka Umar marah dan berkata, Celaka kalian, kalian menaruh urusan ini di atas pundakku,

lalu kalian berlepas diri dariku!!. Demi Allah aku tidak akan melepasmu. Kemudian ia
mengangkatnya menjadi gubernur di Himsh, dan beliau berkata, Kami akan memberi kamu
gaji. Said berkata, Untuk apa gaji itu wahai Amirul muminin? karena pemberian untukku
dari baitul mal telah melebihi kebutuhanku. Kemudian ia berangkat ke Himsh.
Tidak lama kemudian datanglah beberapa utusan dari penduduk Himsh kepada Amirul
muminin, maka beliau berkata kepada mereka, Tuliskan nama-nama orang fakir kalian,
supaya aku dapat menutup kebutuhan mereka. Maka mereka menyodorkan selembar tulisan,
yang di dalamnya ada Fulan, fulan dan Said bin Amir. Umar bertanya: Siapakah Said bin
Amir ini?. Mereka menjawab, Gubernur kami. Umar berkata, Gubernurmu fakir?
Mereka berkata, Benar, dan demi Allah sudah beberapa hari di rumahnya tidak ada api.
Maka Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata, kemudian beliau mengambil
seribu dinar dan menaruhnya dalam kantong kecil dan berkata, Sampaikan salamku, dan
katakan kepadanya Amirul muminin memberi anda harta ini, supaya anda dapat menutup
kebutuhan anda.
Saat para utusan itu mendatangi Said dengan membawa kantong, lalu Said membukanya
ternyata di dalamnya ada uang dinar, lalu ia meletakkannya jauh dari dirinya dan berkata:
(Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan dikembalikan kepadaNya)- seolah-olah ia tertimpa musibah dari langit atau ada suatu bahaya di hadapannya,
hingga keluarlah istrinya dengan wajah kebingungan dan berkata, Ada apa wahai Said?!,
Apakah Amirul muminin meninggal dunia?. Ia berkata, Bahkan lebih besar dari itu.
Istrinya berkata, Apakah orang-orang muslim dalam bahaya? Ia menjawab, Bahkan lebih
besar dari itu. Istrinya berkata, Apa yang lebih besar dari itu? Ia menjawab, Dunia telah
memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah datang ke rumahku. Istrinya
berkata, Bebaskanlah dirimu darinya. -saat itu istrinya tidak mengetahui tentang uang-uang
dinar itu sama sekali-. Ia berkata, Apakah kamu mau membantu aku untuk itu? Istrinya
menjawab, Ya! Lalu ia mengambil uang-uang dinar dan memasukkannya ke dalam
kantong-kantong kecil kemudian ia membagikannya kepada orang-orang muslim yang fakir.
Tidak lama kemudian Umar bin al-Khattab ? datang ke negeri Syam untuk melihat keadaan,
dan ketika beliau singgah di Himsh -waktu itu disebut dengan Al-Kuwaifah yaitu bentuk
kecil dari kalimat Al-Kufah-, karena memang Himsh menyerupainya baik dalam bentuknya
atau banyaknya keluhan dari penduduk akan pejabat-pejabat dan penguasa-penguasanya.
Ketika beliau singgah di negeri itu, penduduknya menyambut dan menyalaminya, maka
beliau berkata kepada mereka, Bagaimana pendapat kalian tentang gubernur kalian?
Maka mereka mengadukan kepadanya tentang empat hal, yang masing-masing lebih besar
dari yang lainnya. Umar berkata, Maka aku kumpulkan dia dengan mereka, dan aku berdoa
kepada Allah supaya Dia tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya, karena aku
sebenarnya menaruh kepercayaan yang sangat besar kepadanya. Dan ketika mereka dan
gubernurnya telah berkumpul di hadapanku, aku berkata, Apa yang kalian keluhkan dari
gubernur kalian?
Mereka menjawab, Beliau tidak keluar kepada kami kecuali jika hari telah siang. Maka aku
berkata, Apa jawabmu tentang hal itu wahai Said?. Maka ia terdiam sebentar, kemudian
berkata, Demi Allah sesungguhnya aku tidak ingin mengucapkan hal itu, namun kalau
memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak mempunyai pembantu, maka aku
setiap pagi membuat adonan, kemudian aku tunggu sebentar sehingga adonan itu menjadi
mengembang, kemudian aku buat adonan itu menjadi roti untuk mereka, kemudian aku

berwudlu dan keluar menemui orang-orang. Umar berkata, Lalu aku berkata kepada
mereka, Apa lagi yang anda keluhkan darinya? Mereka menjawab, Sesungguhnya beliau
tidak menerima tamu pada malam hari. Aku berkata, Apa jawabmu tentang hal itu wahai
Said? Ia menjawab, Sesungguhnya Demi Allah aku tidak suka untuk mengumumkan ini
juga, aku telah menjadikan siang hari untuk mereka dan malam hari untuk Allah Azza wa
Jalla. Aku berkata, Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?
Mereka menjawab, Sesungguhnya beliau tidak keluar menemui kami satu hari dalam
sebulan. Aku berkata, Dan apa ini wahai Said? Ia menjawab, Aku tidak mempunyai
pembantu wahai Amirul muminin, dan aku tidak mempunyai baju kecuali yang aku pakai
ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan aku menunggunya hingga baju itu kering,
kemudian aku keluar menemui mereka pada sore hari. Kemudian aku berkata: Apa lagi
yang kalian keluhkan darinya? Mereka menjawab, Beliau sering pingsan, hingga ia tidak
tahu orang-orang yang duduk dimajlisnya. Lalu aku berkata, Dan apa ini wahai Said?
Maka ia menjawab, Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku
masih musyrik, dan aku melihat orang-orang Quraisy memotong-motong badannya sambil
berkata, Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu? maka ia berkata,
Demi Allah aku tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak, sementara Muhammad
tertusuk duriDan demi Allah, aku tidak mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak
menolongnya, kecuali aku menyangka bahwa Allah tidak mengampuni aku maka akupun
jatuh pingsan.
Seketika itu Umar berkata, Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan dugaanku
terhadapnya. Kemudian beliau memberikan seribu dinar kepadanya, dan ketika istrinya
melihatnya ia berkata kepadanya, Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kami dari
pekerjaan berat untukmu, belilah bahan makanan dan sewalah seorang pembantu untuk
kami, Maka ia berkata kepada istrinya, Apakah kamu menginginkan sesuatu yang lebih
baik dari itu? Istrinya menjawab, Apa itu? Ia berkata, Kita berikan dinar itu kepada yang
mendatangkannya kepada kita, pada saat kita lebih membutuhkannya. Istrinya berkata, Apa
itu?, Ia menjawab, Kita pinjamkan dinar itu kepada Allah dengan pinjaman yang baik.
Istrinya berkata, Benar, dan semoga kamu dibalas dengan kebaikan. Maka sebelum ia
meninggalkan tempat duduknya dinar-dinar itu telah berada dalam kantong-kantong kecil,
dan ia berkata kepada salah seorang keluarganya, Berikanlah ini kepada jandanya fulan. dan
kepada anak-anak yatimnya fulan, dan kepada orang-orang miskin keluarga fulan, dan
kepada fakirnya keluarga fulan.
Mudah-mudahan Allah meridhai Said bin Amir al-Jumahi, karena ia adalah termasuk orangorang yang mendahulukan(orang lain) atas dirinya walaupun dirinya sangat membutuhkan.(1)
(1). Untuk tambahan tentang biografi Said bin Amr al-Jumahi, lihatlah: Al-Tahdzib:4/51,
Ibnu Asakir:6/145-147, Shifat al-Shafwah:1/273, Hilyatul auliya:1/244, Tarih al-Islam:2/35,
Al-Ishabah:3/326, Nasab Quraisy:399.

Sa'id bin Amir RA


Sa'id bin Amir RA adalah seorang sahabat Muhajirin, yang memeluk Islam beberapa waktu
sebelum terjadinya perang Khaibar. Sejak keislamannya, ia tidak pernah tertinggal dalam mengikuti
peperangan bersama Rasulullah SAW. Ia bukan sosok yang menonjol walaupun memang memiliki
keutamaan dan kesalehan, seperti halnya kebanyakan sahabat-sahabat Nabi SAW yang tidak
terekspose keutamaannya. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak dikenali secara umum, nama
dan ketinggian akhlak serta sikap kepahlawanannya. Termasuk Said bin Amir ini, apalagi ia hanyalah
dari golongan miskin. Tetapi seperti yang pernah dikatakan Umar bin Khaththab, "Kalian tidak
mengenalinya, tetapi Allah dan para malaikat mengenali mereka.."
Pada masa khalifah Umar-lah namanya mulai dikenal, karena Umar selalu memilih orangorang saleh, suka beribadah, zuhud dari dunia untuk memegang jabatan-jabatan di wilayah baru Islam
yang mulai meluas. Ketika Umar memecat Muawiyah sebagai amir (gubernur) kota Homs, kota kedua
terbesar di Syam (Syiria) setelah Kufah, karena tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh Umar,
pilihannya jatuh kepada Sa'id bin Amir. Sebagian riwayat menyebutkan bukan kota Homs, tetapi kota
Damsyik.
Sa'id bin Amir didatangkan menghadap khalifah Umar. Tetapi ketika jabatan ini ditawarkan
kepadanya, Sa'id berkata, "Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah, ya Amirul Mukminin..!!"
Mendengar jawaban tersebut, dengan tegas Umar menjawab, "Tidak, demi Allah saya tidak
akan melepaskan anda! Apakah kalian hendak meninggalkan saya, setelah kalian memba'iat dan
membebani saya dengan amanat dan kekhalifahan ini.!!"
Walaupun sebenarnya ingin tetap menolak, Sa'id bisa diyakinkan untuk memegang jabatan
tersebut, dan memang tidak ada pilihan lain seperti apa yang disampaikan Umar. Sa'id berangkat ke
Homs bersama istrinya, yang sebenarnya mereka masih pengantin baru. Istrinya adalah seorang
wanita yang cantik dan wajahnya selalu berseri-seri. Umar memberikan perbekalan secukupnya
kepada mereka berdua, karena mereka memang tidak memiliki uang dan bekal sendiri yang cukup
untuk bisa sampai ke Homs.
Setelah beberapa bulan berlalu menduduki jabatan gubernur (Amir), dan secara ekonomi
keluarga mereka mulai mantap, istrinya mengusulkan kepada Sa'id untuk membeli pakaian dan
perlengkapan rumah tangga yang lebih baik, dan menyimpan sisanya sebagai tabungan. Mendengar
saran istrinya tersebut, Sa'id berkata, "Maukah aku tunjukkan yang lebih baik daripada rencanamu
itu!!"
Setelah istrinya mengiyakan, Said berkata, "Kita berada di suatu negeri yang perdagangan
dan jual belinya amat pesat berkembang. Sebaiknya kita minta seseorang menggunakannya sebagai
modal, tentu keuntungannya lebih besar."
"Bagaimana kalau perdagangannya rugi?" Tanya istrinya
"Aku akan menyediakan borg atau jaminan untuk itu, bahwa kita tidak akan pernah merugi!!"
"Baiklah kalau begitu!" Kata istrinya, menyetujui usul suaminya tersebut.
Sa'id pergi sambil membawa uang tersebut ke pasar, kemudian membeli persediaan dan
keperluan hidup keluarganya untuk beberapa waktu lamanya. Ia memilih dari jenis yang paling
sederhana dan murah. Sisa uangnya yang masih banyak, dibagi-bagikan fakir miskin dan orang-orang
yang membutuhkan. Beberapa bulan berlalu, sering sekali istrinya menanyakan tentang perdagangan

dan keuntungannya. Sa'id mengatakan kalau semuanya lancar-lancar saja, dan keuntungannya makin
banyak, hanya saja belum bisa segera diambil atau dicairkan.
Pada suatu ketika, istrinya menanyakan hal yang sama, sementara saat itu ada kerabatnya
yang tahu bahwa Sa'id tidak mempunyai usaha perdagangan yang dijalankan orang lain. Ia tampak
tidak mengerti dan bingung, dan istrinya menangkap isyarat itu. Akhirnya istrinya itu bertanya lagi dan
mendesak Sa'id untuk menjelaskannya. Sa'id pun tertawa, kemudian menjelaskan apa adanya, bahwa
harta tersebut memang dibelanjakan atau diperniagakan di jalan Allah. Ia tidak berdusta,
keuntungannya akan jauh lebih besar dan bermanfaat bagi mereka berdua di akhirat kelak.
Istrinya menangis penuh sesal, dan air mata yang membasahi wajahnya makin menambah
kecantikannya saja. Sa'id menyadari godaan kecantikan istrinya tersebut, dan ia tidak mengelak
bahwa ia sangat mencintai dan takut kehilangan istrinya itu. Tetapi mata batinnya jauh menerawang,
dan akhirnya menemukan sosok Rasulullah SAW dan para sahabat beliau yang telah mendahuluinya.
Ia berkata tegas, "Aku mempunyai kawan-kawan yang telah terlebih dahulu menemui Allah, dan aku
tidak ingin menyimpang dari jalan mereka walau ditebus dengan dunia dan segala isinya"
Kemudian untuk menegaskan sikap dan pendiriannya, ia berkata kepada istrinya, "Wahai
istriku yang cantik, bukankah engkau tahu bahwa di surga itu banyak gadis-gadis yang cantik dengan
matanya yang jeli memikat, seandainya satu orang saja menampakkan wajahnya di bumi, niscaya
terang benderang-lah seluruh bumi, mengalahkan sinar matahari dan bulan.Maka, jika memang
terpaksa, tidak mengapa aku mengorbankan dirimu (meninggalkanmu) untuk mendapatkan mereka,
dan itu lebih logis dan utama, daripada harus mengorbankan mereka hanya untuk mempertahankan
dirimu menjadi istriku!!
Sa'id telah memasrahkan segalanya kepada Allah, tetapi memang berkah Allah telah meliputi
keluarga mereka, sehingga istrinya bisa menerima kenyataan ini. Ia sadar tidak ada jalan yang lebih
utama daripada mengikuti jalan yang dipilih suaminya, mengendalikan diri dengan sifat zuhud dan
ketakwaan.
Suatu ketika Umar melakukan kunjungan ke Homs untuk mendengar pendapat warganya.
Sebagian besar mereka memuji kepemimpinan Sa'id, hanya saja mereka mempunyai empat keluhan,
yakni : Pertama, Sa'id hanya menemui warganya untuk melayani jika matahari sudah tinggi. Ke dua, ia
tidak mau melayani pada waktu malam hari. Ke tiga, setiap bulannya, dalam dua hari ia tidak mau
menemui warganya sama sekali. Ke empat, terkadang tiba-tiba ia jatuh pingsan tanpa tahu sebabnya.
Sebenarnya Umar telah mengetahui atau mendapat firasat tentang jawaban Sa'id, karena
pada dasarnya, sikap dan perilaku Sa'id dalam menghadapi dunia dan seluk-beluknya, tidak jauh
berbeda dengan sikapnya sendiri. Namun demikian, untuk menguatkan dan membenarkan firasatnya,
sekaligus menunjukkan kepada masyarakat Homs, tipikal seperti apa sahabat Nabi SAW yang
memimpin mereka itu, ia mempersilahkan Sa'id untuk menjelaskan langsung tentang keluhan
masyarakat tersebut.
Sa'id berdiri di depan mereka dan berkata, "Sesungguhnya saya tidak ingin dan tidak suka
menyebutkan alasan-alasannya, mengapa hal tersebut terjadi? Tetapi karena kalian telah memaksa
saya, saya akan menjelaskannya, semoga Allah SWT mengampuni dan memaafkan saya."
Mulailah Sa'id menjelaskan, mengenai ia tidak mau keluar sebelum matahari telah tinggi,
karena keluarganya tidak memiliki dan memang tidak ingin memiliki pelayan, Sa'id sendiri yang
mengaduk tepung, mengeramnya beberapa saat sebelum akhirnya membuat roti untuk sarapan

mereka sekeluarga. Baru setelah itu ia shalat dhuha dan keluar menemui masyarakat yang
membutuhkannya.
Mengenai ia tidak mau melayani di malam hari, karena waktu malam hari tersebut ia
mengkhususkan diri untuk beribadah kepada Allah. Bukankah sudah cukup adil (dalam penafsiran dan
ijtihad Sa'id), siang harinya disediakan untuk melayani masyarakat dan malam harinya khusus untuk
mengabdi kepada Allah.
Mengenai dua hari dalam satu bulan ia tidak keluar, lagi-lagi masalahnya karena ia tidak
mempunyai dan tidak menginginkan adanya pelayan dalam rumahnya. Dalam dua hari tersebut
digunakannya untuk mencuci pakaian-pakaiannya yang sebenarnya tidak terlalu banyak. Tetapi justru
karena itu ia tidak punya pengganti jika dicuci, dan harus menungguinya sampai kering. Kalaupun bisa
keluar, sudah saat senja hari atau bahkan tidak keluar sama sekali dalam dua hari tersebut.
Mengenai ia tiba-tiba pingsan, tidak lain adalah pengalamannya di masa jahiliah ketika ia
belum memeluk Islam. Saat itu sahabat Nabi SAW, Khubaib bin Adi al Anshari dianiaya dan akan
dibunuh oleh orang Quraisy. Ia melihat bagaimana tubuhnya dibawa dengan tandu, sementara
dagingnya diiris dan dipotong. Kemudian tubuhnya disalib dan dibunuh. Setiap ingat peristiwa
tersebut dan ia hanya berpangku tangan saja, sama sekali tidak ada tersirat keinginan untuk
memberikan pertolongan kepada Khubaib, ia jadi gemetar karena takut akan diazab Allah karena sikap
diamnya itu, dan tanpa sadar ia telah jatuh pingsan.
Setelah memberikan penjelasan tersebut, ia berurai air mata hingga membasahi wajah dan
janggutnya. Umar tidak bisa menahan diri, ia memeluk dan mencium kening Sa'id, sambil berseru
gembira bercampur haru, "Alhamdulillah, karena taufiq Allah, benarlah firasatku, dan benarlah
pilihanku kepadamu.!"
Beberapa orang sahabat dan kerabatnya menasehatinya untuk memberikan kelapangan
belanja untuk keluarganya dan juga kerabat istrinya, karena penghasilannya memang memungkinkan
untuk merealisasikannya. Atas saran seperti ini, Sa'id menjawab dengan mengutip sabda Nabi SAW,
"Saya tidak ingin ketinggalan dari rombongan pertama, yakni setelah Rasulullah SAW bersabda : Allah
SWT akan menghimpun manusia untuk dihadapkan ke pengadilan. Maka datanglah orang-orang
miskin yang beriman, mereka maju berdesak-desakan menuju surga tak ubahnya kawanan burung
merpati. Lalu ada Malaikat yang berseru kepada mereka, 'Berhentilah kalian untuk menghadapi
perhitungan (hisab)!!' Mereka menjawab, 'Kami tidak punya apa-apa untuk dihisab.' Maka Allah
berfirman, 'Benarlah hamba-hambaKu itu.' Maka masuklah mereka ke dalam surga sebelum orang
lain memasukinya, tanpa dihisab."

Seorang pakar sejarah pernah berkata, "Said bin Amir adalah orang yang membeli akhirat dengan
dunia, dan ia lebih mementingkan Allah dan Rasul-Nya atas selain-Nya."
Said bin Amir Al-Jumahi adalah seorang anak muda, satu di antara ribuan orang yang tertarik untuk
pergi menuju daerah Tanim di luar kota Makkah, dalam rangka menghadiri panggilan pembesarpembesar Quraisy.
Panggilan ini adalah untuk menyaksikan hukuman mati yang akan ditimpakan kepada Khubaib bin
Adiy, salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang diculik oleh mereka.
Susuk tubuhnya yang gagah membuat Sa'id mendapatkan kedudukan yang lebih daripada orangorang. Sehingga ia dapat duduk berdampingan dengan pembesar-pembesar Quraisy seperti Abu
Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan orang-orang yang mempunyai wibawa lainnya.
Ketika rombongan yang garang ini datang dengan tawanannya di tempat yang telah disediakan, Said
bin Amir berdiri tegak memandang Khubaib yang sedang diarak menuju kayu penyaliban. Dan ia
mendengar suaranya yang teguh dan tenang di antara teriakan wanita-wanita dan anak-anak.
Khubaib berkata, Izinkan aku untuk solat dua rakaat sebelum pembunuhanku ini, jika kalian
berkenan.
Kemudian Sa'id memandangnya, sedangkan Khubaib menghadap kiblat dan solat dua rakaat.
Alangkah bagusnya dan indahnya solatnya itu. Kemudian ia melihat Khubaib menghadap pembesarpembesar kaum dan berkata, Demi Allah, jika kalian tidak menyangka bahwa aku memperpanjang
solat kerana takut mati, tentu aku telah memperbanyakkan solat.
Kemudian ia melihat kaumnya dengan mata kepalanya, memotong-motong Khubaib dalam keadaan
hidup.
Kemudian Said bin Amir melihat Khubaib mengarahkan pandangannya ke langit dari atas kayu salib,
dan berkata, Ya Allah ya Tuhan kami, hitunglah mereka dan bunuhlah mereka satu persatu serta
janganlah Engkau tinggalkan satu pun dari mereka."
Kemudian Khubaib bin Adiy menghembuskan nafas terakhirnya, dan di badannya tidak terhitung lagi
bekas tebasan pedang dan tusukan tombak.
Orang-orang Quraisy kembali ke Makkah, dan mereka telah melupakan kejadian Khubaib dan
pembunuhannya kerana banyak kejadian-kejadian setelahnya. Namun, Said bin Amir Al-Jumahi
tidak boleh menghilangkan bayangan Khubaib dari pandangannya walau sekejap.
Ia memimpikannya ketika sedang tidur, dan melihatnya dengan khayalan ketika matanya terbuka.
Khubaib senantiasa terbayang di hadapannya sedang melakukan solat dua rakaat dengan tenang di
depan kayu salib. Dan ia mendengar rintihan suaranya di telinganya, ketika Khubaib berdoa untuk
kebinasaan orang-orang Quraisy, maka ia takut kalau tersambar petir atau ditimpa batu dari langit.
Khubaib telah mengajar Said sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Ia mengajarnya
bahwa hidup yang sesungguhnya adalah akidah dan jihad di Allah hingga akhir hayat. Ia mengajarnya
juga bahwa iman yang kukuh akan membuat keajaiban dan kemukjizatan.

Dan Khubaib mengajarnya sesuatu yang lain, bahwa sesungguhnya seorang laki-laki yang dicintai
oleh para sahabatnya dengan kecintaan yang sedemikian rupa, tidak lain adalah nabi yang mendapat
mandat dari langit.
Semenjak itu, Allah membukakan dada Said bin Amir untuk Islam. Ia lalu berdiri di hadapan orang
ramai dan mengisytiharkan kebebasannya dari dosa-dosa Quraisy, berhala-berhala dan patungpatung mereka, dan menyatakan ikrarnya terhadap agama Allah.
Said bin Amir berhijrah ke Madinah, dan mengabdikan diri kepada Rasulullah, dan ikut serta dalam
Perang Khaibar dan peperangan-peperangan setelahnya. Dan ketika Nabi yang mulia dipanggil
menghadap Tuhannya, Sa'id mengabdikan diri dengan pedang terhunus di zaman dua khalifah Abu
Bakar dan Umar.
Ia hidup bagaikan contoh satu-satunya bagi orang Mukmin yang membeli akhirat dengan dunia, dan
mementingkan keredhaan Allah dan pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu dan syahwat
badannya. Kedua khalifah itu telah mengetahui tentang kejujuran dan ketakwaan Said bin Amir.
Keduanya mendengar nasihat-nasihatnya dan memerhatikan pendapatnya.
Pada awal kekhilafahan Umar, Sa'id menemuinya dan berkata, Wahai Umar, aku berwasiat
kepadamu, agar kamu takut kepada Allah dalam urusan manusia. Dan janganlah kamu takut kepada
manusia dalam urusan Allah. Dan janganlah ucapanmu bertentangan dengan perbuatanmu, kerana
sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah yang sesuai dengan perbuatan."
Maka Umar berkata, "Siapakah yang mampu menjalankan itu, wahai Said?
Ia menjawab, Orang laki-laki sepertimu mampu melakukannya, iaitu di antara orang-orang yang
Allah serahkan urusan umat Muhammad kepadanya. Dan tidak ada seorang pun perantara antara ia
dan Allah.
Setelah itu Umar mengajak Said untuk membantunya. Wahai Said, kami menugaskan kau sebagai
gabenor Himsh, kata Umar.
Sa'id menjawab, "Wahai Umar, aku ingatkan dirimu terhadap Allah. Janganlah kau
menjerumuskanku ke dalam fitnah."
Maka Umar pun marah dan berkata, "Celaka kalian! Kalian menaruh urusan ini di atasku, lalu kalian
berlepas diri dariku. Demi Allah, aku tidak akan melepasmu.
Kemudian Umar mengangkat Sa'id bin Amir menjadi gabenor di Himsh. Kami akan memberimu
gaji, kata Umar.
Untuk apa gaji itu, wahai Amirul Mukminin? Kerana pemberian untukku dari Baitul Mal telah
melebihi keperluanku, jawab Sa'id. Ia pun berangkat ke Himsh.
Tidak lama kemudian datanglah beberapa utusan dari penduduk Himsh kepada Amirul Mukminin
Umar bin Khathab.
Umar berkata kepada mereka, Tuliskan nama-nama orang fakir kalian, supaya aku dapat menutup

keperluan mereka!
Maka mereka menulis selembar tulisan, yang di dalamnya ada Fulan, Fulan dan Said bin Amir. Umar
bertanya, Siapakah Said bin Amir ini?
Mereka menjawab, Gabenor kami.
Gabenormu fakir?
Benar, dan demi Allah sudah beberapa hari di rumahnya tidak ada api.
Maka Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata. Kemudian ia mengambil 1.000 dinar
dan menaruhnya dalam kantung kecil dan berkata, "Sampaikan salamku, dan katakan kepadanya,
Amirul Mukminin memberi anda harta ini, supaya anda dapat menutup keperluan anda!
Saat para utusan itu mendatangi Said dengan membawa kantong. Said membukanya, ternyata di
dalamnya ada wang dinar. Ia lalu meletakkannya jauh dari dirinya dan berkata, "Inna lillahi wa inna
ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan dikembalikan
kepada-Nya)," seolah-olah ia tertimpa musibah dari langit atau ada suatu bahaya di hadapannya.
Hingga keluarlah isterinya dengan wajah kebingungan dan berkata, Ada apa, wahai Said? Apakah
Amirul Mukminin meninggal dunia?"
Bahkan lebih besar dari itu, timpal Sa'id.
Apakah orang-orang Muslim dalam bahaya?
Bahkan lebih besar dari itu.
Apa yang lebih besar dari itu?
Dunia telah memasuki diriku untuk merosakkan akhiratku, dan fitnah telah datang ke rumahku.
Isterinya berkata, Bebaskanlah dirimu darinya. Saat itu isterinya tidak mengetahui tentang wangwang dinar itu sama sekali.
Apakah kamu mau membantu aku untuk itu? tanya Sa'id.
Ya, kata sang isteri . Sa'id lalu mengambil wang-wang dinar dan memasukkannya ke dalam
kantong-kantong kecil, kemudian menyuruh istrinya untuk membagikannya kepada orang-orang
Muslim yang fakir.
Tak lama kemudian Umar bin Khathab datang ke negeri Syam untuk melihat keadaan. Dan ketika
singgah di Himsh, penduduk menyambut dan menyalaminya. Umar bertanya kepada mereka,
Bagaimana pendapat kalian tentang gabenor kalian?
Maka mereka mengadukan kepadanya tentang empat hal, yang masing-masing lebih besar dari yang
lainnya. Umar kemudian memanggil Sa'id dan 'mengadilinya' di hadapan penduduk.

Apa yang kalian keluhkan dari gabenor kalian? tanya Umar.


Mereka menjawab, Ia tidak keluar kepada kami kecuali jika hari telah siang.
Apa jawabmu tentang hal itu, wahai Said? kata Umar.
Sa'id terdiam sebentar, kemudian berkata, Demi Allah, sesungguhnya aku tidak ingin mengucapkan
hal itu. Namun, kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak mempunyai
pembantu. Maka setiap pagi aku membuat adunan, kemudian menunggu sebentar sehingga adunan
itu mengembang. Kemudian aku buat adunan itu menjadi roti untuk mereka, kemudian aku
berwudhu dan keluar menemui orang-orang.
"Apa lagi yang kalian keluhkan darinya? tanya Umar.
Mereka menjawab, Sesungguhnya, ia tidak menerima tamu pada malam hari.
Apa jawabmu tentang hal itu, wahai Said?
Sesungguhnya, Demi Allah, aku tidak suka untuk mengumumkan ini juga. Aku telah menjadikan
siang hari untuk mereka dan malam hari untuk Allah Azza wa Jalla, jawab Sa'id.
Apa lagi yang kalian keluhkan darinya? tanya Umar lagi.
Mereka menjawab, Sesungguhnya ia tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan.
Dan apa ini, wahai Said?
Sa'id menjawab, Aku tidak mempunyai pembantu, wahai Amirul Mukminin. Dan aku tidak
mempunyai baju kecuali yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan. Dan aku
menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada esok hari.
Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?
Mereka menjawab, Ia sering pengsan, hingga ia tidak tahu orang-orang yang duduk di majlisnya.
Dan apa ini, wahai Said?
Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku masih musyrik. Dan aku melihat
orang-orang Quraisy memotong-motong badannya sambil berkata, 'Apakah kamu ingin kalau
Muhammad menjadi penggantimu?' Maka Khubaib berkata, 'Demi Allah, aku tidak ingin merasa
tenang dengan isteri dan anak, sementara Muhammad tertusuk duri.' Dan demi Allah, aku tidak
mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak menolongnya, kecuali aku menyangka bahwa Allah tidak
mengampuni aku, maka aku pun jatuh pengsan, tutur Sa'id.
Seketika itu Umar berkata, Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan dugaanku
terhadapnya.

Kemudian Umar memberikan 1.000 dinar kepada Sa'id. Dan ketika istrinya melihat wang itu, ia
berkata kepada Sa'id, Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kami dari pekerjaan berat
untukmu. Belilah bahan makanan dan sewalah seorang pembantu."
Apakah kamu menginginkan sesuatu yang lebih baik dari itu? tanya Sa'id pada isterinya.
Apa itu?
Kita berikan dinar itu kepada yang mendatangkannya kepada kita, pada saat kita lebih
memerlukannya.
Bagaimana maksudnya?
Kita pinjamkan dinar itu kepada Allah dengan pinjaman yang baik, kata Sa'id.
Isterinya berkata, Benar, dan semoga kau mendapat balasan kebaikan.
Berikanlah ini kepada jandanya fulan, kepada anak-anak yatimnya fulan, kepada orang-orang miskin
keluarga fulan, dan kepada fakirnya keluarga fulan," kata Sa'id.
Mudah-mudahan Allah meredhai Said bin Amir Al-Jumahi, kerana ia termasuk orang-orang yang
mendahulukan orang lain atas dirinya, walaupun dirinya sangat memerlukannya.

Dan orang-orang yang terdahulu; yang mula-mula dari orang-orang Muhajirin dan Ansar
(berhijrah dan memberi bantuan), dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka
dengan kebaikan (iman dan taat), Allah reda kepada mereka dan mereka pula reda kepada
Nya, serta Dia menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya
beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar.
(Surah At-Taubah, Ayat 100)

Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w telah bersabda: "Tidaklah kalian
masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling menyayangi
antara satu sama lain. Mahukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan
niscaya kalian akan saling menyayangi antara satu sama lain? Sebarkanlah salam sebanyakbanyaknya diantara kalian" - (Muslim)

Kisah Sa'id bin Amir bin Huzaim Al-Jumahy


Abu Nu'aim mengeluarkan dari Khalid bin Ma'dan, dia berkata, "Umar bin Al-Kbaththab ra.
mengangkat Sa'id bin Amir bin Huzaim ra. sebagai amir kami di Himsh. Ketika Umar datang ke sana,
dia bertanya, "Wahai penduduk Himsh, apa pendapat kalian tentang Sa'id bin Amir, amir kalian?"
Maka banyak orang yang mengadu kepada Umar ra. Mereka berkata, "Kami mengadukan empat
perkara. Yang pertama karena dia selalu keluar rumah untuk menemui kami setelah hari sudah
siang.' Umar ra. berkomentar, "Itu yang paling besar. Lalu apa lagi?' Mereka menjawab, "Dia tidak
mau menemui seseorang jika malam hari." "Itu urusan yang cukup besar," komentar Umar ra. Lalu
dia bertanya, "Lalu apa lagi?" Mereka menjawab, "Sehari dalam satu bulan dia tidak keluar dari
rumahnya untuk menemui kami." "Itu urusan yang cukup besar," komentar Umar ra. Lalu dia
bertanya, "Lain apa lagi?" Mereka menjawab, "Beberapa hari ini dia seperti orang yang akan
meninggal dunia."
Kemudian Umar bin Al-Khaththab ra. mengkonfirmasi di antara Sa'id bin Amir ra. dan orang-orang
yang mengadukan beberapa masalah tersebut. Saat itu Umar ra. berkata kepada dirinya sendiri, "Ya
Allah, jangan sampai anggapanku tentang dirinya keliru pada hari ini." Lalu dia bertanya kepada
orang-orang yang mengadu, "Sekarang sampaikan apa yang kalian keluhkan tentang diri Sa'id bin
Amir ra.!'
"Dia selalu keluar rumah untuk menemui kami setelah hari sudah siang,' kata mereka. Sa'id
menanggapi, "Demi Allah, sebenamya aku tidak suka untuk mengungkapkan hal ini. Harap diketahui,
keluargaku tidak mempunyai pembantu, sehingga aku sendiri yang harus menggiling adonan roti.
Aku duduk sebentar hingga adonan itu menjadi lumat, lalu membuat roti, mengambil wudhu', baru
kemudian aku keluar rumah untuk menemui mereka."
Umar bertanya kepada mereka, "Apa keluhan kalian yang lain?" Mereka menjawab, 'Dia tidak mau
menemui seorangpun pada malam hari." 'Lalu apa alibimu?' tanya Umar ra. kepada Sa'id bin Amir ra.
"Sebenarnya aku tidak suka untuk mengungkapkan hal ini. Aku menjadikan siang hari bagi mereka,
dan menjadikan malam hari bagi Allah."
"Apa keluhan kalian yang lain?" tanya Umar kepada mereka. Mereka menjawab, "Sehari dalam satu
bulan dia tidak mau keluar dari rumahnya untuk menemui kami." "Apa alibimu? tanya Umar ra.
kepada Said ra. "Aku tidak mempunyai seorang pembantu yang mencuci pakaianku, di samping itu,
aku pun tidak mempunyai pakaian pengganti yang lain." Maksudnya, hari itu dia mencuci pakaian
satu-satunya.

"Apa keluhan kalian yang lain?" tanya Umar kepada mereka. Mereka menjawab, "Beberapa hari ini
dia seperti orang yang akan meninggal dunia." "Apa alibimu?" tanya Umar ra. kepada Sa'id ra. Sa'id
ra. menjawab,
"Dulu aku menyaksikan terbunuhnya Hubaib Al-Anshary di Makkah. Aku lihat bagaimana orangorang Quraish mengiris-iris kulit dan daging Hubaib ra. lalu mereka membawa tubuhnya ke tiang
gantungan. Orang-orang Quraisy itu bertanya kepada Hubaib, 'Sukakah engkau jika Muhammad
menggantikan dirimu saat ini?' Hubaib menjawab, 'Demi Allah, sekalipun aku berada di tengah
keluarga dan anak-anakku, aku tidak ingin Muhamrnad Shallallahu Alaihi wa Sallam terkena duri
sekalipun'. Kemudian dia berseru, 'Hai Muhammad, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi pada hari
itu'.
Sementara saat itu aku yang masih musyrik dan belum beriman kepada Allah Yang Maha Agung,
tidak berusaha untuk menolongnya, sehingga aku beranggapan bahwa Allah ta'ala sama sekali tidak
akan mengampuni dosaku. Karena itulah barangkali keadaanku akhir-akhir ini seperti orang yang
akan meninggal dunia."
Umar bin Al-Khaththab ra. berkata, "Segala puji bagi Allah, karena firasatku tentang dirinya tidak
meleset." Setelah itu Umar memberinya seribu dinar, seraya berkata, "Pergunakanlah uang ini untak
menunjang tugas-tugasmu." Istri Sa'id ra. berkata kegirangan setelah menerima uang itu, 'Segala puji
bagi Allah yang telah memberikan kecukupan kepada kita atas tugas yang engkau emban ini." Sa'id
bertanya kepada istrinya, "Apakah engkau mau yang lebih baik lagi? Kita akan memberikan uang ini
kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada kita. "Boleh," jawab istrinya. Lalu Sa'id
memanggil salah seorang anggota keluarganya yang dapat dipercaya, dan dia memasukkan uang ke
dalam beberapa bungkusan, seraya berkata, "Bawalah bungkusan ini dan berikan kepada janda
keluarga Fulan, orang miskin keluarga Fulan, orang yang terkena musibah keluarga Fulan. Selebihnya
disimpan, Istrinya bertanya, "Mengapa engkau tidak membeli seorang pembantu? Lalu untuk apa
sisa uang itu?" Sa'id ra. menjawab, "Sewaktu-waktu tentu akan datang orang yang lebih
membutuhkan uang itu.