Anda di halaman 1dari 96

ISSN 1907 - 3046

Volume 9, Nomor 1
Mei - Agustus 2014

Pengaruh Senam Nifas Terhadap Involusi Uterus pada Ibu Post Partum Primipara Pervaginam di Klinik Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa
Tahun 2013
Nurlama Siregar
Perilaku Remaja dalam Hal Perubahan Fisiologis pada Masa Pubertas di SMP Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun
2013
Dina Indarsita, Mariaty S, Ravina Primursanti
Ketepatan Pemeriksaan BTA Apusan Langsung dan Metode Konsentrasi dengan Kultur dalam Mendiagnosis Tuberkulosis Paru di Medan
Lestari Rahmah, Amira Permatasari Tarigan,Bintang Yinke M. Sinaga
Rendahnya Pemberian Asi Eksklusif pada Ibu yang Bekerja Lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor Tahun 2013
Elisabeth Surbakti
Hubungan Perawatan Payudara Terhadap Produksi Asi pada Ibu Post Partum di Rumah Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa 2013
Masnila
Efektivitas Kumur dengan Seduhan Teh Hijau dan Larutan Listerine Terhadap Ohi-S pada Siswa/i Kelas VIII BSMP Swastacerdas Bangsa Jl.
Titi Kuning Namorambe Link. Visidorejo Delitua Tahun 2014
Rosdiana T. Simaremare, Hasny, Yetti Lusiani
Efektifitas Menyikat Gigi Menggunakan Siwak dalam Menurunkan Indeks Plak pada Siswa MTs Swasta Alwasliyah Desa Lama Kecamatan
Pancur Batu Deli Serdang Tahun 2014
Adriana Hamsar, Cut Aja Nuraskin, Manta Rosma
Skrining Fitokimia dan Uji Kemampuan Sebagai Antioksidan dari Daun Jambu Biji (Psidium guajava. L)
Tri Bintarti
Peranan Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap Peningkatan Kebersihan Gigi dan Mulut Siswa-Siswi Kelas VII-1 SMP N 31 Medan
Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2014
Nelly Katharina Manurung
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Sikap Remaja Kelas XI Terhadap Hubungan Seksual Pranikah (Intercourse) di SMA Dharma Bakti
Medan Tahun 2014
Hanna Sriyanti Saragih, Rika Dinata Sianturi, Jujuren Sitepu
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Bidan dengan Tindakan Induksi dan Akselerasi dalam Persalinan di Kota Pematangsiantar Tahun 2013
Tumiar Simanjuntak, Tiamin Simbolon, Kandace Sianipar
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Ketidakikutsertaan Menjadi Akseptor KB pada Ibu Bersalin Peserta Jampersal di RSUD
Dr.Djasamen Saragih Pematangsiantar Tahun 2013
Juliani Purba, Tengku Sri Wahyuni, Sri Hernawati Sirait
Evaluasi Kepuasan Mahasiswa dalam Problem Based Learning
Padangsidimpua
Irwan Batubara, Djaswadi Dasuki, Mubasysyir Hasanbasri

Asuhan Kebidanan

Kehamilan

di Program Studi Kebidanan

Sosial, Budaya Serta Pengetahuan Ibu Hamil yang Tidak Mendukung Kehamilan Sehat
Rina Doriana Pasaribu, Tria Feni Setia, Lusiana Gultom
Status Gizi Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai Tahun 2013
Yulina Dwi Hastuty, Dewi Meliasari, Suswati
Hubungan Karakteristik Ibu dengan Sectio Caesarea di Rumah Sakit TK IV 01.07.001 KESDAM I/BB Pematangsiantar
Dodoh Khodijah, Yessika Rouli Siburian, Renny Sinaga

ISSN 1907-3046

JURNAL ILMIAH

PANNMED

(Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwifery, Environment, Dentist)


VOL. 9, NO. 1, MEI AGUSTUS 2014
TERBIT TIGA KALI SETAHUN (PERIODE JANUARI, MEI, SEPTEMBER)

Penanggung Jawab:
Dra. Ida Nurhayati, M.Kes.
Redaktur:
Drg. Herlinawati, M.Kes.
Penyunting Editor:
Soep, SKp., M.Kes.
Nelson Tanjung, SKM., M.Kes.
Desain Grafis & Fotografer:
Ir. Zuraidah, M.Kes.
Dra. Ernawaty, M.Si., Apt.
Yusrawati Hasibuan, SKM., M.Kes.
Sekretariat:
Sri Utami, SST, M.Kes.
Elizawardah, SKM., M.Kes.
Rina Doriana, SKM., M.Kes.
Sumarni, SST.
Hafniati
Alamat Redaksi:
Jl. Let Jend Jamin Ginting KM 13.5
Kelurahan Laucih Kec. Medan Tuntungan
Telp: 061-8368633
Fax: 061-8368644

DAFTAR ISI
Editorial
Pengaruh Senam Nifas Terhadap Involusi Uterus pada
Ibu Post Partum Primipara Pervaginam di Klinik
Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa Tahun 2013
oleh Nurlama Siregar...................................................1-7
Perilaku Remaja dalam Hal Perubahan Fisiologis pada
Masa Pubertas di SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013 oleh Dina
Indarsita, Mariaty S, Ravina Primursanti.................8-13
Ketepatan Pemeriksaan BTA Apusan Langsung dan
Metode Konsentrasi dengan Kultur dalam
Mendiagnosis Tuberkulosis Paru di Medan oleh Lestari
Rahmah, Amira Permatasari Tarigan,Bintang Yinke M.
Sinaga........................................................................14-19
Rendahnya Pemberian Asi Eksklusif pada Ibu yang
Bekerja Lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala
Kecamatan Medan Johor Tahun 2013 oleh Elisabeth
Surbakti.....................................................................20-25
Hubungan Perawatan Payudara Terhadap Produksi
Asi pada Ibu Post Partum di Rumah Bersalin Tutun
Sehati Tanjung Morawa 2013 oleh Masnila.........26-31
Efektivitas Kumur dengan Seduhan Teh Hijau dan
Larutan Listerine Terhadap Ohi-S pada Siswa/i Kelas
VIII BSMP Swastacerdas Bangsa Jl. Titi Kuning
Namorambe Link. Visidorejo Delitua Tahun 2014 oleh
Rosdiana T. Simaremare, Hasny, Yetti Lusiani.....32-35
Efektifitas Menyikat Gigi Menggunakan Siwak dalam
Menurunkan Indeks Plak pada Siswa MTs Swasta
Alwasliyah Desa Lama Kecamatan Pancur Batu Deli
Serdang Tahun 2014 oleh Adriana Hamsar, Cut Aja
Nuraskin, Manta Rosma.................................36-39
Skrining Fitokimia dan Uji Kemampuan Sebagai
Antioksidan dari Daun Jambu Biji (Psidium guajava.
L) oleh Tri Bintarti...............................................40-44

Peranan Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut


Terhadap Peningkatan Kebersihan Gigi dan Mulut
Siswa-Siswi Kelas VII-1 SMP N 31 Medan
Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2014 oleh Nelly
Katharina Manurung................................................45-48
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Sikap
Remaja Kelas XI Terhadap Hubungan Seksual
Pranikah (Intercourse) di SMA Dharma Bakti Medan
Tahun 2014 oleh Hanna Sriyanti Saragih, Rika Dinata
Sianturi, Jujuren Sitepu............................................49-55
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Bidan dengan
Tindakan Induksi dan Akselerasi dalam Persalinan di
Kota Pematangsiantar Tahun 2013 oleh Tumiar
Simanjuntak,
Tiamin
Simbolon,
Kandace
Sianipar.....................................................................56-60
Faktor-Faktor
yang
Berhubungan
dengan
Ketidakikutsertaan Menjadi Akseptor KB pada Ibu
Bersalin Peserta Jampersal di RSUD Dr.Djasamen
Saragih Pematangsiantar Tahun 2013 oleh Juliani
Purba, Tengku Sri Wahyuni, Sri Hernawati
Sirait..........................................................................61-66
Evaluasi Kepuasan Mahasiswa dalam Problem Based
Learning Asuhan Kebidanan Kehamilan di Program
Studi Kebidanan Padangsidimpua oleh Irwan Batubara,
Djaswadi Dasuki, Mubasysyir Hasanbasri.............67-71
Sosial, Budaya Serta Pengetahuan Ibu Hamil yang
Tidak Mendukung Kehamilan Sehat oleh Rina Doriana
Pasaribu, Tria Feni Setia, Lusiana Gultom.............72-78
Status Gizi Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada
Balita di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai Tahun 2013
oleh Yulina Dwi Hastuty, Dewi Meliasari,
Suswati......................................................................79-83
Hubungan Karakteristik Ibu dengan Sectio Caesarea di
Rumah Sakit TK IV 01.07.001 KESDAM I/BB
Pematangsiantar oleh Dodoh Khodijah, Yessika Rouli
Siburian, Renny Sinaga...........................................84-89

Diterbitkan oleh : POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MEDAN


Jl. Jamin Ginting KM. 13,5 Kel. Lau Cih Medan Tuntungan Kode Pos : 20136

PENGANTAR REDAKSI
Jurnal PANNMED merupakan salah satu wadah untuk menampung hasil penelitian Dosen Politeknik
Kesehatan Kemenkes Medan.
Jurnal PANNMED Edisi Mei Agustus 2014 Vol. 9 No.1 yang terbit kali ini menerbitkan sebanyak 16
Judul Penelitian.
Redaksi mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Direktur atas supportnya sehingga Jurnal ini dapat terbit
2. Dosen-dosen yang telah mengirimkan tulisan hasil penelitiannya dan semoga dengan terbitnya jurnal
ini dapat memberi semangat kepada dosen yang lain untuk berkreasi menulis hasil penelitian sehingga
bisa diterbitkan ke Jurnal Pannmed ini.
Akhir kata, kami mengharapkan kritik serta saran yang membangun agar jurnal ini dapat menjadi jurnal yang
berkualitas seperti harapan kita bersama.

Redaksi

PENGARUH SENAM NIFAS TERHADAP INVOLUSI UTERUS PADA IBU


POST PARTUM PRIMIPARA PERVAGINAM DI KLINIK BERSALIN
TUTUN SEHATI TANJUNG MORAWA TAHUN 2013

Nurlama Siregar
Jurusan Keperawatan Medan

Abstrak
Senam nifas merupakan latihan jasmani yang berfungsi untuk mengembalikan kondisi kesehatan, untuk
mempercepat penyembuhan, mencegah timbulnya komplikasi, memulihkan dan memperbaiki regangan
pada otot-otot setelah kehamilan, terutama pada otot-otot bagian punggung, dasar panggul, dan perut. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh senam nifas terhadap involusi uterus pada
ibu post partum pervaginam hari 1-3 di Klinik Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa. Jenis penelitian yang
digunakan adalah quasi experimental dengan metode one group pre test and post test design. Teknik
pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu cara untuk mendapatkan
besar sampel dengan memilih diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti, jumlah
sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 orang dimana terbagi alas 2 kelompok yaitu 15 orang sebagal
kelompok intervensi dan 15 orang sebagai kelompok kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan berupa
Kuesioner Data Demografi (KDD) dan lembar pemeriksaan. Dari hasil penelitian ini, setelah ibu post partum
melakukan senam nifas selama 3 hari dengan gerakan yang benar, rata-rata penurunan tinggi fundus uterus
yaitu 5 cm per hari. Sedangkan penurunan tinggi fundus, uterus pada ibu post partum yang tidak melakukan
senam nifas rata-rata 2 cm per hari. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan uji-t yaitu Independent
sampel T-Test didapatkan hasil t hitung 11,02 > t tabel 1,70. Ini berarti bahwa Ho ditolak yang menunjukkan
bahwa ada pengaruh senam nifas terhadap involusi uterus pada ibu post partum primipara pervaginam hari
1-3 di Klinik Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa. Diharapkan hasil penelitian ini dapat diterapkan oleh
Klinik Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa dengan memberikan motivasi kepada ibu-ibu post partum
untuk melaksanakan senam nifas yang bermanfaat dalam proses pemulihan diri pasca partus.
Kata kunci : Senam Nifas, Involusi Uterus, Ibu Post Partum Pervaginam

PENDAHULUAN
Dalam
perhitungan
statistik
populasi
penduduk dunia PBB, bayi yang lahir pada hari Senin,
31 Oktober 2011 adalah warga dunia yang ke tujuh
miliar. Hal itu terungkap dari sebuah laporan Kondisi
Populasi Dunia 2011 yang dikeluarkan PBB. Laporan
tersebut memandang tonggak populasi tujuh miliar
sebagai tanda kelangsungan hidup lebih lama dan
peningkatan tingkat kelahiran bayi yang hidup. Negaranegara penyumbang penduduk bumi terbesar dan
tercepat ada di Negara-negara berkembang kawasan
Asia dan Afrika seperti India, Pakistan, Tiongkok,
Bangladesh, Nigeria, Ethiophia. Dari 7 miliar manusia
dunia, didominasi penduduk Asia, dengan jumlah yang
mencapai 4,2 miliar (The Children Indonesia, 2011).
Disamping angka pertumbuhan penduduk
yang makin tinggi, angka kematian, khususnya angka
kematian ibu bersalin juga masih tinggi. Berdasarkan
penelitian Woman Research Institute, angka kematian
ibu melahirkan saat ini 307 per 100.000 kelahiran
hidup. Menurut Menteri Koordinator Kesejahteraan
Rakyat Agung Laksono, angka kematian ibu di

Indonesia yang mencapai 128 dari 100.000 kelahiran


hidup, dinilai masih terlalu tinggi khususnya di
kalangan negara-negara ASEAN.
Disamping masalah di atas, rendahnya
kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu nifas juga
menjadi faktor tertentu angka kematian, meskipun
masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk
menangani masalah ini. Penyebab kematian ibu adalah
perdarahan, eklampsia atau gangguan akibat tekanan
darah tinggi saat kehamilan, partus lama, komplikasi
aborsi, dan infeksi. perdarahan biasanya tidak bisa
diperkirakan dan terjadi secara mendadak bertanggung
jawab atas 28% kematian ibu. Sebagian besar kasus
perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio
plasenta dan atonia uteri (Departemen Kesehatan RI,
2003).
Menurut Dr. Firansisca dari Fakultas
Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya,
banyak faktor potensial yang dapat menyebabkan
hemorrhage post partum (perdarahan post partum).
Faktor-faktor
yang
menyebabkan
hemorrhage
postpartum adalah atonia uteri, perlukaan jalan lahir,
retensio plasenta, atau kelainan pembekuan darah.
1

Jurnal Ilmiah PANNMED

Menurut Bobak (2004) penyebab perdarahan


setelah melahirkan yang paling sering ialah atonia uteri
yaitu kegagalan otot rahim untuk berkontraksi dengan
kuat. Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana uterus
gagal untuk berkontraksi dan mengecil sesudah janin
keluar dari rahim. Atonia uteri terjadi ketika
myometrium. tidak berkontraksi. Salah satu cara yang
dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya perdarahan
pasca persalinan adalah dengan merangsang kontraksi
miometrium maka salah satu upava yang dilakukan
adalah senam nifas (Depkes, RI, 2003).
Namun faktanya, para ibu pasca melahirkan
takut melakukan banyak gerakan, sang ibu khawatir
gerakan-gerakan yang akan dilakukannya akan
menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Padahal,
apabila ibu bersalin melakukan ambulasi dini, itu bisa
memperlancar terjadinya involusi uterus. Dan pada
umumnya wanita yang telah melahirkan sering
mengeluh bagian tubuhnya melar, bahkan kondisi
tubuhnya kurang prima akibat letih dan tegang.
Sementara peredaran darah dan pernafasan belum
kembali
normal,
sehingga
untuk
membantu
mengembalikan tubuh ke bentuk dan kondisi semula
harus melakukan senam nifas yang teratur (Jurnal
Kesehatan FORIKES, 2011).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
involusi uterus. Faktor-faktor tersebut meliputi senam
nifas, mobilisasi dini post partum, menyusui dini, gizi,
psikologis, faktor usia dan paritas (Widianti, 2010).
Menurut Huliana (2005) salah satu faktor yang
mempercepat involusi adalah senam nifas yaitu bentuk
ambulansi dini pada ibu-ibu nifas yang salah satu
tujuannya untuk memperlancar proses involusi,
sedangkan ketidaklancaran proses involusi dapat
berakibat buruk pada ibu nifas seperti terjadi
perdarahan yang bersifat lanjut dan kelancaran proses
involusi. Manfaat senam nifas diantaranya adalah
membantu penyembuhan rahim, perut, dan otot pinggul
yang mengalami trauma serta mempercepat kembalinya
bagian-bagian tersebut ke bentuk normal, membantu
menormalkan sendi-sendi yang menjadi longgar akibat
kehamilan dan persalinan, serta mencegah pelemahan
dan peregangan lebih lanjut. Latihan senam nifas dapat
segera dimulai dalam waktu 24 jam setelah melahirkan
lalu secara teratur setiap hari (Bobak, 2004).
Namun perlu diketahui bentuk latihan senam
nifas ibu pasta melahirkan normal dengan yang
melahirkan dengan sesar tidak sama. Pada ibu yang
melahirkan dengan cara sesar beberapa jam setelah
keluar kamar operasi, latihan pernafasan dilakukan
untuk mempercepat penyembuhan luka. Sementara
latihan untuk mengencangkan otot perut dan
melancarkan sirkulasi darah dibagian tungkai dapat
dilakukan 2-3 hari setelah ibu dapat bangun dari tempat
tidur. Sedangkan pada persalinan normal, bila keadaan
ibu sudah cukup baik, maka semua gerakan senam
nifas dapat dilakukan (Widianti, 2010).
Penurunan ukuran uterus yang cepat itu
dicerminkan oleh perubahan lokasi uterus ketika turun
keluar dari abdomen dan kembah menjadi organ

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

pelviks. Segera setelah proses persalinan puncak


fundus kira-kira dua pertiga hingga tiga perempat dari
jalan atas diantara simfisis pubis dan umbilikus.
Kemudian naik ke tingkat umbilikus dalam beberapa
jam dan bertahan hingga dua atau dua hari dan
kemudian secara berangsur-angsur turun ke pelviks
yang secara abdominal tidak dapat terpalpasi di atas
simfisis setelah sepuluh hari (Widianti, 2010).
Namun adakalanya dijumpai kegagalan uterus
untuk kembali pada keadaan tidak hamil atau disebut
dengan subinvolusi. Penyebab subinvolusi yang paling
sering ialah tertahannya fragmen plansenta dan infeksi
(Bobak, 2004).
Hasil berupa survei secara acak tentang efek
senam nifas pada 1003 wanita Amerika mengaku
setelah mengikuti program senam nifas dengan latihan
yang teratur mengalami pengerutan pada rahim yang
lebih kuat, selain itu juga mengalami penurunan pada
berat badan selama enam minggu setelah melahirkan.
Dan dalam studi dari 1432 ibu nifas di Swedia yang
melakukan senam nifas ditemukan bahwa mayoritas
71% wanita tersebut mengalami metabolisme tubuh
yang lancar, dan pemulihan fisik yang lebih cepat
(Larson, 2002).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuniasih
Purwaningrum (2011) tentang Pengaruh Senam Nifas
Kecepatan Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu
Post Partuni Primipara Hari 1-5 di Puskesmas
Mergangsan Malang didapatkan hasil pada kelompok
intervensi sebelum dilakukan senam nifas rata-rata
TFU adalah 11,75 cm dengan standar deviasi 0,67 cm.
setelah dilakukan senam nifas diperoleh rata-rata TFU
adalah 7,35 cm dengan standar deviasi 0,67 cm. Nilai
rata-rata perbedaan antara pengukuran pertama dan
pengukuran kedua adalah 4,4 cm dengan standar,
deviasi 10,67 cm. Maka dapat disimpulkan ada
pengaruh senam nifas terhadap invulusi uterus, yaitu
perbedaan yang signifikan pada TFU sebelum dan
setelah dilakukan senam nifas.
Berdasarkan survei pendahuluan yang
dilakukan peneliti di Klinik Bersalin Tutun Sehati
Tanjung Morawa pada bulan Februari 2013 belum
pernah diadakan senam nifas. Pada umumnya
masyarakat/ibu nifas tidak melaksanakan senam nifas,
hal ini dikarenakan ibu nifas belum mengetahui tentang
senam nifas dan tidak menyadari bahwa dengan senam
nifas (aktifitas fisik) akan mempengaruhi kebutuhan.
otot akan oksigen, aliran darah menjadi lancar sehigga
dapat membantu proses pemulihan kesehatan setelah
melahirkan. Menurut Bidan yang bekerja di Klinik
tersebut, para ibu nifas tidak sempat melakukan senam
nifas karena kesibukan sehari-hari sehingga ibu nifas
melupakan kesehatannya.
Hal tersebut di ataslah yang membuat penulis
tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh
Senam Nifas terhadap Involusi Uterus pada Ibu Post
Partum Primipara Pervaginam di Klinik Bersalin Tutun
Sehati Tanjung Morawa Medan Tahun 2013.

Nurlama Siregar

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka
rumusan masalah penelitian ini adalah apakah ada
Pengaruh Senam Nifas terhadap Involusi Uterus pada
Ibu Post Partum Primipara Pervaginam di Klinik
Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa?
Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh senam nifas terhadap involusi
uterus pada ibu post partum primipara pervaginam hari
1-3 di Klinik Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa
Medan.
Tujuan Khusus
1. Untuk mengidentifikasi involusi uterus sebelum
melaksanakan senam nifas pada ibu post partum
primipara pervaginam hari 1-3 di Klinik Bersalin
Tutun Sehati Tanjung Morawa Medan.
2. Untuk mengidentifikasi involusi uterus sesudah
melaksanakan senam nifas pada ibu post partum
primipara pervaginam hari 1-3 di Klinik Bersalin
Tutun Sehati Tanjung Morawa Medan.
3. Untuk menguji pengaruh senam nifas terhadap
involusi uterus pada ibu post partum primipara
pervaginam hari 1-3 di Klinik Bersalin Tutun
Sehati Tanjung Morawa Medan.
Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti. Manfaat penelitian ini bagi peneliti
adalah untuk menambah pengetahuan dan
pengalaman tentang Pengaruh Senam Nifas
Terhadap Involusi Uterus
2. Bagi Ibu-Ibu Post Partum. Manfaat penelitian ini
bagi responden adalah dapat meningkatkan
pengetahuannya pentingnya senam nifas selama
masa nifas untuk mempercepat pemulihan
uterusnya ke kondisi sebelum hamil
3. Bagi Institusi Pendidikan. Sebagai bahan masukan
dan informasi dalam mengembangkan pendidikan
keperawatan maternitas
4. Bagi Peneliti Selanjutnya. Manfaat penelitian ini
bagi peneliti selanjutnya dapat dijadikan sebagai
data awal ataupun data tambahan untuk
mengembangkan penelitian selanjutnya.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah ada pengaruh
senam nifas terhadap involusi uterus pada ibu post
primipara partum pervaginam hari 1-3 di Klinik Bersalin
Tutun Sehati Tanjung Morawa Medan.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif dengan menggunakan desain quasi
experimental menggunakan satu kelompok kontrol dengan
metode two group pre test and post test design.
Peneliti menggunakan dua kelompok, dimana
satu kelompok sebagai kelompok intervensi dan satu
kelompok sebagai kelompok kontrol atau pembanding.

Pengaruh Senam Nifas Terhadap

Peneliti membuat perlakuan terhadap kelompok


intervensi dan melakukan pengukuran sebelum dan
sesudah dilaksanakannya intervensi.
Penelitian ini telah dilaksanakan di Klinik
Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa Medan.
Penelitian ini telah dilaksanakan selama tiga
bulan yakni April sampai Juni 2013.
Populasi penelitian adalah sekumpulan unit
penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
ibu-ibu post partum primipara pervaginam di Klinik
Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa Medan, dimana
rata-rata jumlah ibu bersalin sebanyak 30 orang setiap
bulan.
Sampel terdiri dari ibu-ibu post partum yang bersalin di
Klinik Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa Medan
selama penelitian dilakukan yang dibagi dua menjadi
kelompok intervensi (ibu yang melakukan senam nifas)
sebanyak 15 orang dan kelompok kontrol (ibu yang tidak
melakukan senam nifas) sebanyak 15 orang.
Teknik pengambilan sampel menggunakan
purposive saniphng. Kriteria sampel untuk kelompok
intervensi sama dengan kriteria sampel untuk kelompok
kontrol. Jumlah masing-masing didapatkan pada saat
penelitian dilakukan.
Aspek Pengukuran
Aspek pengukuran pada involusi uterus
dilakukan dengan mengukur penurunan tinggi fundus
uterus menggunakan pita meter. Hasil pengukuran
ditulis dalam lembar pemeriksaan menggunakan Skala
ratio.
Pengukuran dilakukan sebanyak 4 kali,
pengukuran pertama sebelum dilakukan senam nifas,
selanjutnya pengukuran kedua dilakukan setelah
melakukan senam nifas pada hari pertama, pengukuran
ketiga dilakukan setelah melakukan senam nifas pada
hari pengukuran keempat dilakukan setelah melakukan
senam nifas pada hari ketiga. Lalu hasil pengukuran
kelompok intcrvcnsi dibandingkan dengan kelompok
kontrol yaitu dengan membandingkan hasil rata-rata
tinggi fundus uterus pretest andposttest masing-masing
kelompok untuk mengetahui pengaruh senam nifas
terhadap involusi uterus pada ibu post partum
pervaginam hari 1-3.
Teknik Pengolahan Data
1. Editing : melakukan pemeriksaan atau pengeeekan
data yang sudah dikumpulkan.
2. Coding : memberi kode (angka/tanda) pada setiap
pernyataan dari jawaban
3. Tabulating : mempermudah pengolahan dan
analisa data serta pengambilan kesimpulan, maka
data dimasukkan ke dalam tabel.
Teknik Analisa Data
Setelah semua data dalam kuesioner
dikumpulkan, data dianalisa dengan menggunakan
teknik analisa kuantitatif. Data diolah dan disajikan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi yang
memberikan gambaran tentang data demografi

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

responden.
Untuk melihat pengaruh senam nifas terhadap
involusi uterus pada ibu post partum pervaginam hari
1-3,
peneliti
melakukan
pengujian
dengan
menggunakan uji-t yaitu Independent Sampel T-Test
sebelum intervensi dan sesudah intervensi, dimana,
peneliti membandingkan involusi uterus sebelum
intervensi, involusi uterus sesudah intervensi, dan
perbedaan kecepatan involusi uterus pada kelompok
intervensi dengan kelompok kontrol atau pembanding.
Menurut Arikunto (2010) secara umum, pola penelitian
dilakukan terhadap dua kelompok, yang satu
merupakan kelompok intervensi dan kelompok kontrol
atau kelompok pembanding yang tidak dikenai
perlakuan. Setelah selesai dilaksanakan intervensi maka
hasil kedua kelompok diolah dengan membandingkan
kedua mean. Untuk sampel random bebas, pengujian
perbedaan mean dihitung dengan rumus t-test sebagi
berikut:
thitung =

Mx My

x2 + y2 1
1

N + N 2 N
y
x Ny
x

Keterangan :
= nilai rata-rata hasil kelompok 1
Mx
= nilai rata-rata hasil kelompok 2
My
x
= deviasi setiap nilai x2 dan x1
y
= deviasi setiap nilai y2 dan yang
N
= jumlah sampel
Dimana :

(x) 2
dan
N
(xy ) 2
2
2
y dapat diperoleh dari y N

x2 dapat diperoleh dari x2 -

Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan


statistik digunakan derajat kemaknaan = 0,05 (95%
confidence level). Jika hasil perhitungan t hitung lebih
besar daripada t tabel, maka secara statistik H0 ditolak
berarti ada pengaruh senam nifas terhadap involusi
uterus pada ibu post partum pervaginam hari 1-3
sebaliknya jika t tabel lebih besar daripada t hitung
maka HO diterima atau tidak ada pengaruh, senam
nifas terhadap involusi uterus pada ibu post partum
pervaginam hari 1-3.

HASIL PENELITIAN
Karakteristik Responden
Tabel 1. Distribusi
Frekuensi
Umur,
Suku,
Pendidikan dan Pekerjaan Ibu Post Partum
Primipara Pervaginam yang Senam Nifas di
Klinik Bersalin Tutun Sehati Tanjung
Morawa Medan Tahun 2013
No Umur
20-25 tahun
26-30 tahun
Jumlah
No
Suku
1
Melayu
2
Jawa
Jumlah
No
Pendidikan
1
SMP
2
SMA
Jumlah
No
Pekerjaan
1
Tidak bekerja
2
Wiraswasta
3
Petani
Jumlah
1
2

f
12
3
15
f
4
11
15
f
6
9
15
f
9
3
3
15

%
80
20
100
%
25,0
75,0
100
%
37,5
62,5
100
%
56,0
17,0
17,0
100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui


bahwa responden terbesar berada pada kelompok umur
20-25 tahun sebanyak 13 orang (80,0%), umur 2630
tahun sebanyak 2 orang (20,0%). Suku responden
terbesar pada kelompok ibu yang senam nifas yaitu
suku Jawa sebanyak 11 orang (75,0%), suku Melayu
sebanyak 4 orang (25,0%). Pendidikan responden
terbesar berlatar belakang pendidikan SMA sebanyak 9
orang (62,5%), kemudian pendidikan SMP sebanyak 6
orang (37,5%) dan pekerjaan responden terbesar
merupakan ibu rumah tangga atau tidak bekerja
sebanyak 9 orang (56,0%), kemudian bekerja sebagai
wiraswasta sebanyak 3 orang (17,0%), bekerja sebagai
petani sebanyak 3 orang (17,0%).
Pengaruh Senam Nifas terhadap Involusi Uterus pada
Ibu Post Partum Primipara Pervaginam di Klinik
Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa Tahun 2013
Kelompok Intervensi (Tinggi Fundus Uterus (cm)
Responden Pre-test (x1) Post-test Beda (x)
x2
(x2)
Ki 1
11,5
5,5
6
36
Ki 2
11,5
6,5
5
25
Ki 3
9.5
4.5
5
25
Ki 4
10,5
4,5
6
36
Ki 5
10,5
5,5
5
25
Ki 6
9,5
4,5
5
25
Ki 7
9,5
5
4,5
20,25
Ki 8
11,5
7,5
4
16
Ki 9
11,5
4,5
7
49
Ki 10
9.5
5
4,5
20.25
Ki 11
9,5
4,5
5
25
Ki 12
10,5
5,5
5
25
Ki 13
10,5
4,5
6
36
Ki 14
9,5
4,5
5
25
Ki 15
11,5
6,5
5
25
N=15
x1 = 156,5 x2 = 78,5 x = 78 x2 = 413,5
T hitung
11,02
db
28
T Tabel
1,70

Nurlama Siregar

Untuk melihat pengaruh senam nifas terhadap


involusi uterus pada kedua kelompok pembanding,
hasil pengukuran dianalisa dengan menggunakan
rumus t-test. Dimana derjat = 0,05 (95% confidence
level). Jika hasil t hitung > t tabel, maka Ho ditolak
yang artinya ada pengaruh senam nifas terhadap
involusi uterus pada ibu post partum primipara
pervaginam hari pertama sampai hari ketiga. Dan
sebaliknya, jika t hitung < t tabel maka Ho diterima
yang berarti tidak ada pengaruh senam nifas terhadap
involusi uterus pada ibu post partum pervaginam hari
pertarna sampai hari ketiga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa involusi
uterus pada kelompok ibu yang senam nifas lebih cepat
daripada kelompok ibu yang tidak senam nifas. Dengan
hasil yang diperoleh t hitung = 11,02 dan d.b = 28 ;
maka t tabel 0,95 = 1,70. Karena t hitung > dari t tabel
(11,02 > 1,70), maka dapat maka dapat disimpulkan
bahwa Ho ditolak yang artinva ada pengaruh senam
nifas terhadap involusi uterus pada ibu post partum
primipara pervaginam hari pertama sampai hari ketiga
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai
pengaruh senam nifas terhadap involusi uterus pada ibu
postpart pervaginam hari 1-3 di Klinik Bersalin Tutun
Sehati Tanjung Morawa, didapat adanya perbedaan
penurunan tinggi fundus uterus antara kelompok
kontrol dan kelompok intervensi. Hal ini sesuai dengan
penelitian dan teori yang mengatakan bahwa senam
nifas bermanfaat untuk ibu post dibuktikan dari hasil
penelitian yang diperoleh dari uji-t yaitu t hitung 11,02
> t tabel 1,70 yang artinya ada pengaruh senam nifas
terhadap involusi uterus pada ibu post paitun, primipara
pervaginam hari 1-3 di
Morawa.
Menurut Dewi (2011), senam nifas merupakan
latihan jasmani yang berfungsi untuk mengembalikan
kondisi kesehatan, umuk mempercepat penyembuhan,
mencegah timbulnya komplikasi, memulihkan dan
memperbaiki regangan pada otot-otot setelah
kehamilan, terutama pada otot-otot bagian punggung,
dasar panggul, dan perut.
Senam nifas mempunyai pengaruh yang
bermakna terhadap penurunan tinggi fundus uteri,
kontraksi uterus dan pengeluaran lochea pada ibu pasca
salin hari I-III, dengan nilai masing-masing p=0,00.
Hal ini terjadi karena dengan melakukan senam nifas
akan memperlancar aliran darah dan meningkatkan
tonus otot-otot uterus, akibatnya proses autolysis
menjadi lancar, kontraksi uterus menjadi lebih kuat dan
pengeluaran lochea semakin cepat (Jurnal Kesehatan
FORIKES, 2011).
Hasil penelitian ini juga didukung oleh Larson
berupa survei secara acak tentang efek senam nifas
pada 1003 wanita Amerika mengaku setelah mengikuti
program senam nifas dengan latihan yang teratur
mengalami pengerutan pada rahim yang lebih kuat,
selain itu juga mengalami penurunan pada berat badan
selama enam minggu setelah melahirkan. Dan dalam

Pengaruh Senam Nifas Terhadap

studi dari 1432 ibu nifas di Swedia yang melakukan


senam nifas ditemukan bahwa mayoritas 71% wanita
tersebut mengalami metabolisme tubuh yang lancar,
dan pemulihan fisik yang lebih cepat (Larson, 2002).
Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai
kurang lebih 1 cm di atas umbilicus. Dalam beberapa
hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan
cepat. Tinggi fundus uterus turun kia-kira 1-2 cm,
setiap 24 jam. Pada hari keenam pascapartum fundus
normal akan berada di pertengahan antara umbilicus
dan simfisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada hari
ke-9 pascapartum (Bobak, 2004).
Dari hasil penelitian ini, setelah ibu post
partum melakukan senam nifas selama 3 hari dengan
gerakan yang benar, rata-rata penurunan tinggi fundus
uterus yaitu 5 cm per hari. Sedangkan penurunan tinggi
fundus uterus pada ibu post partum yang tidak
melakukan senam nifas rata-rata 2 cm per hari.
Dari data demografi diperoleh rata-rata umur
responden pada kelompok intervensi dan kelompok
kontrol mayoritas berumur 20-30 tahun yang berarti
mayoritas, responden pada penelitian ini berada dalam
usia reproduksi sehat.
Menurut WHO, usia reproduksi sehat dikenal
dengan usia aman untuk kehamilan dan persalinan
adalah umur 20-30 tahun, dimana kehamilan ibu
dengan usia di bawah 20 tahun berpengaruh kepada
kematangan fisik dan mental dalam menghadapi
persalinan. Rahim dan panggul ibu seringkali belum
tumbuh mencapai ukuran dewasa. Akibatnya diragukan
kesehatan dan keselamatan janin dalam kandungan.
Selain itu mental ibu belum cukup dewasa sehingga,
sangat meragukan pada keterampilan perawatan diri ibu
dan bayinya.
Usia hamil yang ideal bagi seorang wanita
adalah antara umur 20-35 tahun, karena pada usia
tersebut rahim sudah siap menerima kehamilan, mental
juga sudah matang dan sudah mampu merawat sendiri
bagi dan dirinya (Draper, 2001).
Dari segi paritas, keseluruhan responden
berada pada kelompok ibu dengan paritas pertama atau
golongan pertama (100,0%). paritas adalah jumlah anak
yang dilahirkan oleh seorang ibu baik yang hidup
maupun
mati.
Jumlah
anak
mempengaruhi involusi rahim. Otot-otot yang terlalu,
sering teregang maka keadaan semula setelah teregang
mernerlukan waktu yang sangat lama. Involusi uterus
bervariasi pada ibu pasca persalinan dan biasanya ibu
yang paritasnya tinggi, proses involusinya menjadi
lebih lambat. Hal inni dipengaruhi oleh keadaan
uterusnya. Karena semakin sering hamil akan sering
kali mengalami regangan (Ambarwati, 2009).
Dari segi suku, responden terbesar berada
pada kelompok suku Jawa (75%). Menurut Philip
Kotler, banyak faktor yang mempongaruhi perilaku
sesorang, salah satunya adalah faktor sosial dan
kebudayaan. Suku termasuk bagian dari budaya yang
tentunya akan mempengaruhi perilaku dalam
menggunakan pelayanan kesehatan. Pada penelitian ini,
responden terbesar merupakan suku Jawa. Suku Jawa

Jurnal Ilmiah PANNMED

dikenal sebagai salah satu suku yang masih memegang


teguh adat istiadatnya namun tidak ada kebiasaan atau
tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kesehatan
selama penelitian berlangsung.
Dari segi pendidikan, responden terbesar
berada pada kelompok pendidikan SMA (62,5%).
Tingkat pendidikan merupakan jenjang dalam
penyelesaian proses pembelajaran secara formal. Makin
tinggi tingkat pendidikan seseorang diharapkan
pengetahuan dan perilakunya juga semakin baik.
Karena dengan pendidikan yang makin tinggi, maka
informasi dan pengetahuan yang diperoleh juga
semakin banyak, sehingga perubahan perilaku ke arah
yang lebih baik diharapkan dapat terjadi (Suryani,
2007).
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh sejak
proses kehamilan sampai dengan proses persalinan. Ibu
yang berpendidikan tinggi cenderung untuk menikah
pada usia yang matur di atas 20 tahun, pendidikan yang
semakin tinggi menyebabkan kemampuan ibu dalam
mengatur jarak kehamilan, jumlah anak, dan
persalinan. Pada penelitian ini, responden terbesar
merupakan tamatan SMA (62,5%) sehingga
pengetahuan tentang kehamilan dan melahirkan sudah
cukup memadai walaupun masih kurang bila ditinjau
dari paritas yang rata-rata merupakan kelahiran anak
pertama (primipara).
Sedangkan bila ditinjau dari segi pekerjaan,
responden terbesar berada pada ibu yang tidak bekerja
atau ibu rumah tangga (56,25%). Pekerjaan seorang ibu
bisa mempengaruhi kondisi dari kehamilan. Ibu dengan
pekerjaan yang berat dapat mempengaruhi kondisi
janin, uterus dan organ reproduksi lainnya. Hal ini
dapat menyebabkan perubahan letak daripada janin
dalam kandungan dan juga bahaya lainnya yang
merupakan komplikasi dari kehamilan. Namun pada
penelitian ini, responden rata-rata merupakan ibu
rumah tangga sehingga tidak ditemukan komplikasi
selama hamil dan melahirkan.
Pada penelitian ini banyak keterbatasan
peneliti, secara teori penurunan tinggi fundus uterus
tidak hanya dipengavuhi oleh senam nifas saja akan
tetapi banyak faktor lain yang sangat memegang
peranan penting dalam penurunan tinggi fundus uterus.
Faktor-faktor lain tersebut yaitu status gizi/nutrisi,
menyusui (Hulu, 2012). Yang mana faktor tersebut
tidak diteliti/tidak dilakukan analisa, selain itu gerakan
nifas tidak disederhanakan sehingga peneliti harus
mengulang 2-3 kali pada saat mengajarkan senam.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. lbu post partum pervaginam yang tidak senam
nifas pada hari 1-3 mengalami penuranan tinggi
fundus uterus rata-rata 2 cm.Ibu post partum yang
senam nifas dengan gerakan yang tepat pada hari
1-3 mengalami penurunan 5 cm.
2. Pengaruh senam nifas terhadap involusi uterus
didapat hasil t hitung 11,02 > t tabel 1,70 yang

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

menunjukkan bahwa adanya pengaruh senair,


nafas terhadap involusi uterus
Saran
1. Agar Klinik Bersalin Tutun Sehati Tanjung
Morawa dapat menerapkan dan memberikan
motivasi kepada ibu-ibu post partum untuk
melaksanakan senam nifas yang bermanfaat bagi
ibu sendiri di dalam proses pemulihan diri pasca
partum.
2. Agar hasil penelitian ini dapat menjadi informasi
dan bahan masukan bagi institusi pendidikan dan
profesi keperawatan khususnya mata kuliah
keperawatan maturnitas dimana dengan senam
nifas dapat mempercepat involusi uterus pada ibu
post partum.
3. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan
penelitian tentang pengaruh senam. nifas terhadap
involusi uterus pada ibu post partum pervaginam,
menambah jumlah sampel penelitian dan waktu
penelitian yang lebih lama.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, R. &. (2009). Asuhan Kebidanan Nifas.
Yogyakarta: Mitra Cendekia Press
Anggraini, Y. (2010). Asuhan Kebidanan Masa Nifas.
Yogyakarta: Pustaka ID Rihama.
Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka
Cipta.
Biro Pusat Statistik. 2003. Survei Demografi dan
Kesehatan 2003. Jakarta: Depkes RI.
Bobak. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maernitas.
Jakarta: EGC.
Cunningham, F. G. (2005). Obstetri Williams. Jakarta:
EGC.
Dewi, V. N. (2011). Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas.
Jakarta: Salemba Medika.
Huliana, M. (2003). Perawatan Ibu Pasca Melahirkan.
Jakarta: Puspa Swara.
Hulu, R. (2012). Pengaruh Menyusui terhadap
Percepatan Penurunan Tinggi Fundus Uteri
pada Ibu Post Partum Hari Pertama dan
Kedua di Klinik Ernawati Pancur Batu Medan
Tahun 2012. Skripsi. Medan: Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Sumatura Utara.
Indonesia, T. C. (2011). Penduduk Dunia 7 Milyar,
Sebuah Krisis yang Mengancam. [Online].
Dari
https://mediaanakIndonesia.wordpress.com/20
11/20 12/penduduk-dunia-7- milyar-sebuahkrisis-yang-mengancam/.
[Diakses
pada
tanggal 7 November 2011
Kasjono, H. S., & Yasril. (2009). Teknik Sampling
untuk Penelitian Kesehatan. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Notoatmodjo, S. (2002). Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. (2003). Konsep Dan Penerapan Metodologi
Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta:

Nurlama Siregar

Salemba Medika.
Prawirohardjo, S. (2006). Ilmu Kebidanan. Jakarta:
Yayasan
Bina
Pustaka
Sarwono
Prawirohardjo.
Pusdiknakes-WHO-JHPIEGO.
2003.
Asuhan
Kebidanan Post Partum. Buku 4. Jakarta
Purwaningrum, Y. (2011). Pengaruh senam Nifas
terhadap Kecepatan Penurunan Tinggi
Fundus Uteri padaA Ibu Post Partum
Primipara Hari Pertarna sampai Hari Ke
Lima di Puskesmas Mergangsan. Jurnal
Penelitian Kesehatan Suara Forikes 20863098.
Dari:http://suaraforikes.webs.com/volum2/no
morkhusus-HKN.pdt [Diakses: 7 Desember
2012].
Roito, J. (2010). Asuhan Kebidanan Thu Nifas. Jakarta:
2010. Rustam. (1998). Sinopsis Obstetri.
Jakarta: EGC.
Saleha. (2009). Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas.
Jakarta: EGC.
Suherni, W.d. (2009). Perawatan Masa Nifas. Jakarta.
EGC
Sulistyawati, A. (2009). Baku Ajar Asuhan Kebidanan
pada Ibu Nifas. Jakarta: Andi.
Sunarsih, V. d. (2011). Asuhan Kebidanan pada Ibu
Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Toyibah, A. 2003. Pengaruh Senam Nifas Terhadap

Pengaruh Senam Nifas Terhadap

Percepatan Turunnya Fundus Uteri Pada


Hari PeRTama Pasca Salin di Ruang BerSalin
II Dr. Soetomo Surabaya. Skripsi. Surabaya,
Dari://http:www.googlescholars.com.
[Diakses: 11 Januari 20131.
Varney, H. (2004). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi
4 Volume 2. Jakarta: EGC.
Widianti. (2010). Asuhan Kebidanan Masa Nifas.
Jakarta: EGC.
Wiknjosastro, H. (2005). Ilmu Bedah Kebidanan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Sarwono Prawiroharjo. Yustanto, T. J. (2008). Senam
Nifas terhadap Involusi Uteri. Jurnal Kesehatan,
113-118.
Darihttp://publikasi.umy.ac.id/index.php/psik/articic
/vicwfiles/113-118 [Diakses: 6 November 2012]S.
Sibuea, 2008. Hubungan Pemanfaatan Bidan
dengan Cakupan Program, Jakarta
Notoatmodjo Soekidjo, 2002, Metode Penelitian
Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta
-----------------------------, 2010, Metode Penelitian Untuk
Kedokteran dan Kesehatan, Jakarta
Wiknjosastro Hanafi, 2005, Ilmu Kebidanan, Yayasan
Bina Pustaka, YogyakartA
________________, 2009, Ilmu Kebidanan,
Yayasan Bina Pustaka, Yogyakarta

PERILAKU REMAJA DALAM HAL PERUBAHAN FISIOLOGIS


PADA MASA PUBERTAS DI SMP YAYASAN PENDIDIKAN
SHAFIYYATUL AMALIYYAH MEDAN TAHUN 2013

Dina Indarsita1, Mariaty S2, Ravina Primursanti1


1

Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Medan


Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Medan

Abstrak
Latar belakang: Masa pubertas adalah terjadinya perubahan biologis yang meliputi morfologi dan fisiologi
yang terjadi dengan pesat dari masa anak kemasa dewasa, terutama kapasitas reproduksi yaitu perubahan alat
kelamin dari tahap anak kedewasa. berdasarkan persentase terkecil aspek fisik pada perilaku remaja mengenai
keadaan fisik diperoleh 48,4%. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak siswa yang memiliki
pengetahuan, penilaian serta pengharapan yang belum baik tentang perubahan fisik. Hasil penelitian lain
menunjukkan Remaja pada masa pubertas memiliki penerimaan yang positif terhadap perubahan fisik, yaitu
sebanyak 78,63% dan penerimaan negatif terhadap perubahan fisik, yaitu sebanyak 21,37%. Tujuan
penelitian : ini adalah untuk mengetahui perilaku remaja dalam hal perubahan fisiologis pada masa pubertas
di SMP Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013. Metodologi : Desain penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel
dalam penelitian ini adalah 173 orang dengan tehnik pengambilan sampel adalah secara proporsi bertingkat
(proportional stratified sampling) dan acak sederhana (simple random sampling). Penelitian ini dilakukan
pada bulan April 2013. Hasil : Hasil penelitian diperoleh pengetahuan remaja berpengetahuan baik sebanyak
134 orang (77,5 %), berpengetahuan cukup sebanyak 36 orang (20,8 %), dan berpengetahuan kurang
sebanyak 3 orang (1,7 %), sikap remaja mayoritas memiliki sikap positif sebanyak 162 orang (93,6 %) dan
minoritas memiliki sikap negatif sebanyak 11 orang (6,4 %), tindakan remaja diperoleh tindakan baik
sebanyak 157 orang ( 90,8 %) dan tindakan kurang sebanyak 16 orang ( 9,2 %). Dari hasil penelitian ini
diketahui bahwa perilaku remaja awal dalam hal perubahan fisiologis di SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013 baik.
Kata kunci : perilaku, remaja, fisiologis

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masa pubertas adalah terjadinya perubahan biologis
yang meliputi morfologi dan fisiologi yang terjadi dengan
pesat dari masa anak kemasa dewasa, terutama kapasitas
reproduksi yaitu perubahan alat kelamin dari tahap anak
kedewasa. (Soetjiningsih, 2004).
Dalam usahanya mencari identitas dirinya sendiri,
seorang remaja sering membantah orang tuanya karena ia
mulai punya pendapat-pendapat sendiri, cita-cita serta
nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan orangtuanya.
Perubahan-perubahan sekunder juga terjadi, badan
bertambah tinggi dengan cepat. Hal ini disebabkan masa
remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak
dan masa dewasa. Masa transisi ini seringkali
menghadapkan individu yang bersangkutan kepada situasi
yang membingungkan, disatu pihak ia masih kanak-kanak,
tetapi dilain pihak ia harus bertingkah laku seperti orang
dewasa.
Di Asia Pasifik dimana penduduknya merupakan
60% dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja
umur 10-19 tahun. Di Indonesia menurut Biro Pusat
8

Statistik (1999) kelompok umur 10-19 tahun adalah sekitar


225, yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1%
remaja perempuan (dikutip dari Nancy P,2002).
Para ahli merumuskan bahwa pubertas digunakan
untuk menyatakan perubahan biologis baik bentuk maupun
fisiologis yang terjadi dengan cepat dari masa anak-anak
ke masa dewasa, terutama perubahan alat reproduksi,
sedangkan istilah adolescence lebih ditekankan pada
perubahan psikososial atau kematangan yang menyertai
masa pubertas (Poltekkes Depkes Jakarta, 2010)
Dalam rentang waktu ini terjadi pertumbuhan
fisik yang cepat, termasuk pertumbuhan serta kematangan
dari fungsi organ reproduksi. Seiring dengan pertumbuhan
fisik, remaja juga mengalami perubahan kejiwaan. Remaja
menjadi individu yang sensitive, mudah menangis, mudah
cemas, frustasi, tetapi juga mudah
tertawa. Perubahan emosi menjadikan remaja sebagai
individu yang agresif dan mudah bereaksi terhadap
rangsangan. Remaja mulai mampu berfikir abstrak, senang
mengkritik, dan ingin mengetahui hal yang baru.
Salah satu Perguruan Tinggi Negeri Surabaya
melakukan penelitian di Jawa Timur terkait dengan usia
pubertas yang hasilnya masa pubertas pada perempuan

Jurnal Ilmiah PANNMED

dimulai usia 12,5 tahun dengan puncak pubertas pada usia


15 tahun. Sedangkan masa pubertas laki-laki lebih lambat,
yaitu dimulai pada usia 13 tahun dengan puncak pubertas
16 tahun (Rahmawati, 2010).
Perubahan fisik pubertas dimulai sekitar usia 10
atau 11 tahun pada remaja putri, kira-kira 2 tahun sebelum
perubahan pubertas pada remaja laki-laki. Kematangan
seksual dan terjadinya perubahan bentuk tubuh sangat
berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja, sementara
itu perhatian remaja sangat besar terhadap penampilan
dirinya sehingga mereka sering merisaukan bentuk
tubuhnya yang kurang proporsional tersebut. Apabila
mereka sudah dipersiapkan dan mendapatkan informasi
tentang perubahan tersebut maka mereka tidak akan
mengalami kecemasan dan reaksi negatif lainnya, tetapi
bila mereka kurang memperoleh informasi, maka akan
merasakan pengalaman yang negatif (Soetjiningsih, 2004).
Tumbuh kembang merupakan proses yang
berkesinambungan yang terjadi sejak intrauterin dan terus
berlangsung sampai dewasa. Dalam proses mencapai
dewasa inilah anak harus melalui berbagai tahap tumbuh
kembang, termasuk tahap remaja. Tahap remaja adalah
masa transisi antara masa anak dan dewasa, dimana terjadi
pacu tumbuh (growth spurt), timbul ciri seks sekunder,
tercapai fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan
psikologik serta kognitif. Untuk tercapainya tumbuh
kembang yang optimal tergantung pada potensi
biologiknya (Santrock, JW. 2003).
Pada masa ini seorang anak tidak lagi hanya
bersifat reaktif, tetapi juga anak mulai aktif mencapai
kegiatan dalam rangka menemukan dirinya, serta mencari
pedoman hidup, untuk bekal kehidupan mendatang. Pada
kegiatan anak dalam rangka penemuan akunya itu anak
mulai menyadari akan keberadaan dirinya, yang lebih
dalam dibanding pada sebelumnya. Oleh karena itu anak
menjadi agak bersikap tertutup (introvert), dan lebih
senang mengungkap pengalamannya itu pada buku harian,
senang termenung, dan lain-lain.
Solihah (2007 : 144) menyatakan bahwa
permasalahan yang paling banyak dikonsultasikan remaja
pada MCR (Mitra Citra Remaja) Jawa Barat saat masa
pubertas, yaitu permasalahan yang berkaitan dengan
perubahan fisik 27%, kekhawatiran pada masa puber 16%,
pubertas sebagai awal masa remaja 10,1%, dan keadaan
emosi 7,6%.
Yulianto (2012) menjelaskan, berdasarkan
persentase terkecil aspek fisik pada perilaku remaja
mengenai keadaan fisik diperoleh 48,4%. Hal ini
mengindikasikan bahwa masih banyak siswa yang
memiliki pengetahuan, penilaian serta pengharapan yang
belum baik tentang perubahan fisik.
Berdasarkan penelitian Yulianto, H (2012) dengan
menggunakan Daftar Cek Masalah (DCM) yang telah
dilakukan di SMA Negeri 24 Bandung Tahun Ajaran
2010-2011, menunjukkan adanya konsep diri negatif pada
siswa. Hal ini dapat dilihat pada perilaku siswa X Tahun
Ajaran 2010-2011 yang merasa tidak percaya diri dengan
fisik yang dimiliki, timbullah ejekan antar teman mengenai
bentuk fisik yang menyebabkan siswa menjadi tidak
percaya diri dalam bergaul, serta adanya perilaku yang

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

tidak sesuai dengan etika dan nilai-nilai yang berlaku di


sekolah ataupun di masyarakat. Dilihat dari fenomenafenomena yang dipaparkan diatas, banyak siswa yang
mengkhawatirkan, memiliki penilaian yang rendah
terhadap diri sendiri, berperilaku salah serta tidak merasa
puas terhadap perubahan fisik yang terjadi.
Berdasarkan penelitian Dewi, P. (2010) mengenai
perilaku remaja dalam menghadapi pubertas. Penelitian ini
melibatkan siswa SMPN 1 Sungai Sarik Kecamatan VII
Koto Kabupaten Padang Pariaman dengan jumlah sampel
124 responden. Desain yang digunakan pada penelitian ini
adalah crosssectional. Instrument yang digunakan adalah
kuesioner. Terdapat hubungan yang bermakna antara
kecemasan dan perubahan perilaku remaja dalam
menghadapi perubahan fisik pubertas (p 0,003).
Berdasarkan penelitian Fatwiany (2010) mengenai
perubahan fisik remaja pada masa pubertas. Penelitian ini
melibatkan siswa SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan
dengan jumlah sampel 117 orang. Penelitian ini bersifat
deskriptif korelasi. Hasil penelitian menunjukkan Remaja
putri pada masa pubertas memiliki penerimaan yang positif
terhadap perubahan fisik, yaitu sebanyak 78,63%, dan
penerimaan negatif terhadap perubahan fisik, yaitu
sebanyak 21,37%. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
nilai p=0,002, ini menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara konsep diri terhadap penerimaan
perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas.
Berdasarkan literatur diatas, maka peneliti tertarik
meneliti tentang perilaku remaja awal dalam hal perubahan
fisiologis pada masa pubertas.
RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah Bagaimana perilaku remaja
dalam hal perubahan fisiologis pada masa pubertas di
SMP Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah
Medan Tahun 2013.
TUJUAN PENELITIAN
1.

2.

3.

4.

Untuk mengetahui perilaku remaja dalam hal


perubahan fisiologis pada masa pubertas di
SMP Yayasan Pendidikan Shafiyyatul
Amaliyyah Medan Tahun 2013.
Untuk mengetahui pengetahuan remaja dalam
menghadapi perubahan fisiologis pada masa
pubertas di SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013.
Untuk mengetahui sikap remaja dalam
menghadapi perubahan fisiologis pada masa
pubertas di SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013.
Untuk mengetahui tindakan remaja dalam
menghadapi perubahan fisiologis pada masa
pubertas di SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013.

Dina Indarsita, dkk.

Perilaku Remaja dalam Hal

b)

MANFAAT PENELITIAN
1.

2.

Sebagai sumber informasi dan bahan masukan


bagi remaja yang terdiri dari pengetahuan, sikap,
dan tindakan dalam menghadapi perubahan
fisiologis
Sebagai bahan masukan bagi instansi dalam
memberikan informasi yang jelas kepada remaja
di SMP Yayasan Pendidikan Shafiyyatul
Amaliyyah Medan untuk berperilaku yang sesuai
dalam menghadapi perubahan fisiologis pada
masa pubertas.

METODOLOGI PENELITIAN
Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah bersifat deskriptif, dengan
pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk
mengetahui perilaku remaja terhadap perubahan
fisiologis pada masa pubertas di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013.
Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian
atau objek yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh remaja yang berusia 12 sampai 15 tahun
di SMP Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah
Medan tahun ajaran 2012/2013, dengan jumlah siswa
sebanyak 304 siswa.
Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek
penelitian yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh
populasi.
a)

Besaran sampel
Besaran sampel ditentukan dengan menggunakan
rumus :
n

1 + N (d )

Keterangan :
N = Besar Populasi
n = Besar Sampel
d = Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,1)
Didapat jumlah sampel :

304
1 + 304(0,1) 2
304
=
= 172,73 (dibulatkan menjadi
1,76

n =

173 siswa)
Jadi, sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 173
responden.

10

Tekhnik pengambilan sampel


Sampel dalam penelitian ini diambil secara
proporsi bertingkat (proportional stratified sampling) dan
acak sederhana (simple random sampling).
LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan dengan
pertimbangan bahwa di Sekolah ini belum pernah
dilakukan penelitian mengenai perilaku remaja dalam
hal perubahan fisiologis pada masa pubertas dan
populasi remaja cukup untuk memenuhi target
populasi.
HASIL PENELITIAN
1. Distribusi Pengetahuan remaja dalam hal
perubahan fisiologis di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan
Tahun 2013.
a. Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan
Pengetahuan Remaja dalam hal perubahan fisiologis
adalah sebagai berikut :
Berdasarkan hasil penelitian, distribusi jawaban
responden tentang pengetahuan, mayoritas menjawab
Benar adalah pernyataan No. 1 tentang pengertian
perubahan yang normal (fisiologis) pada remaja yaitu 171
orang (98,8 %), sedangkan mayoritas responden yang
menjawab Salah adalah pernyataan No. 8 tentang salah
satu ciri tahap pubertas yaitu 49 orang (28, 3 %). Secara
rinci dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan
Pengetahuan Remaja dalam hal perubahan
fisiologis di SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013
No

1
2
3

4
5
6
7
8
9
10

Pilihan Jawaban
Benar
Salah
f
%
F
%
Pengertian perubahan yang 171 98,8
2
1,2
normal (fisiologis) pada remaja.
Yang termasuk perubahan fisik 152 87,9 21 12,1
yang normal pada remaja
Bagian manakah dari tubuh 155 89,6 18 10,4
remaja yang terlebih dahulu
mengalami perubahan
Perubahan proporsi tubuh
157 90,8 16
9,2
Ciri-ciri seks primer
127 73,4 46 26,6
Ciri-ciri seks sekunder
131 75,7 42 24,3
Salah satu ciri seks sekunder
146 84,4 27 15,6
Yang merupakan salah satu ciri- 124 71,7 49 28,3
ciri tahap pubertas
Yang merupakan salah satu ciri- 148 85,5 25 14,5
ciri seks sekunder
Perubahan kematangan fisik 148 85,5 25 14,5
yang meliputi perubahan tubuh
dan
hormonal
termasuk
pengertian
Pernyataan

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

b.

Distribusi Pengetahuan Remaja dalam hal


perubahan fisiologis adalah sebagai berikut :
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa
pengetahuan remaja berpengetahuan baik sebanyak
134 orang (77,5 %), berpengetahuan cukup sebanyak
36 orang (20,8 %), dan berpengetahuan kurang
sebanyak 3 orang (1,7 %). Hal ini dapat dilihat pada
tabel 2.

4.

Tabel 2. Distribusi Pengetahuan Remaja dalam hal


perubahan fisiologis di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan
Tahun 2013
Pengetahuan
Frekuensi (f) Persentasi (%)
Baik
134
77,5
Cukup
36
20,8
Kurang
3
1,7
Total
173
100

Tabel 5. Distribusi Perilaku Remaja dalam hal perubahan


fisiologis di SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013
Perilaku
Frekuensi (f) Persentasi (%)
Baik
88
50,9
Kurang
85
49,1
Total
173
100

2. Distribusi sikap remaja dalam hal perubahan


fisiologis di SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013
a. Distribusi Sikap Remaja dalam hal perubahan
fisiologis adalah sebagai berikut:
Distribusi frekuensi berdasarkan sikap remaja dari
173 responden mayoritas memiliki sikap positif sebanyak
162 orang (93,6 %) dan minoritas memiliki sikap negatif
sebanyak 11 orang (6,4 %). Hal ini dapat dilihat pada tabel
3.
Tabel 3.

Distribusi Sikap Remaja dalam hal perubahan


fisiologis di SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013
Sikap
Frekuensi (f)
Persentasi (%)
Negatif
11
6,4
Positif
162
93,6
Total
173
100

3.

Distribusi tindakan remaja dalam hal


perubahan fisiologis di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan
Tahun 2013.

a.

Distribusi Tindakan Remaja dalam hal perubahan


fisiologis adalah sebagai berikut :
Distribusi frekuensi berdasarkan tindakan remaja
remaja diperoleh tindakan baik sebanyak 157 orang
(90,8%) dan tindakan kurang sebanyak 16 orang
(9,2%). Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4.

Distribusi Tindakan Remaja


dalam hal
perubahan fisiologis di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan
Tahun 2013
Tindakan
Frekuensi (f)
Persentasi (%)
Baik
157
90,8
Kurang
16
9,2
Total
173
100

Distribusi perilaku remaja


dalam hal
perubahan fisiologis di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan
Tahun 2013.
Distribusi frekuensi berdasarkan perilaku remaja
remaja diperoleh perilaku baik sebanyak 88 orang (50,9 %)
dan perilaku kurang sebanyak 85 orang ( 49,1 %). Hal ini
dapat dilihat pada table 5.

PEMBAHASAN
1.

Pengetahuan Remaja dalam hal perubahan


fisiologis pada masa pubertas di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan
Tahun 2013
Pada tabel 2. dapat diamati bahwa pengetahuan
remaja sebagian besar berpengetahuan baik sebanyak 136
orang (78,6 %), dan sebagian kecil berpengetahuan kurang
sebanyak 3 orang (1,7 %).
Hal ini menyatakan bahwa responden yang
memiliki tingkat pengetahuan tinggi karena responden
telah memasuki sekolah pada tingkat menengah pertama
dan telah terpapar dengan pengetahuan tentang perubahan
fisiologis dari pendidikan di sekolah.
Pernyataan ini juga didukung oleh penelitian
Dewi, P (2010) diperoleh pengetahuan remaja sebagian
besar baik yaitu sebanyak 20 orang (55,6 %),
berpengetahuan cukup sebanyak 9 orang (25 %) dan
berpengetahuan kurang sebanyak 7 orang (19,4 %)
Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan
merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan,
pengalaman diri sendiri, media dan lingkungan.
Pengetahuan baik dan cukup dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti: sumber informasi, faktor
pendidikan. Semakin banyak seseorang mendapatkan
informasi akan mempengaruhi tingkat pengetahuan
seseorang.
Dengan mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang kesehatan reproduksi diharapkan remaja dapat
mengambil keputusan yang lebih bijak tentang apa yang
seharusnya boleh mereka lakukan dan apa yang seharusnya
belum boleh mereka lakukan
2. Sikap Remaja dalam hal perubahan fisiologis
pada masa pubertas di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan
Tahun 2013
Pada tabel 3. dapat diamati bahwa sikap
remaja sebagian besar bersikap positif sebanyak 162

11

Dina Indarsita, dkk.

orang (93,6 %) dan sebagian kecil yang bersikap


negatif sebanyak 11 orang (6,4 %).
Hal ini menunjukkan bahwa remaja yang
memiliki sikap positif telah meyakini bahwa telah siap
menghadapi perubahan fisiologis secara baik. Sikap positif
dan negatif dapat dipengaruhi oleh pengalaman langsung
yang dialami individu terhadap sesuatu hal dan sikap tidak
dibawa sejak lahir tetapi dipelajari dan dibentuk
berdasarkan
pengalaman
individu
sepanjang
perkembangan selama hidupnya, sikap ini tidak lepas dari
pengaruh interaksi manusia satu dengan yang lain.
Sedangkan remaja yang memiliki sikap negatif disebabkan
belum siap menghadapi perubahan fisiologis yang
dialaminya dan juga kurang mendapat informasi mengenai
perubahan fisiologis. Remaja yang kurang akan
pengetahuan tersebut menjadi rendah diri pada saat
suaranya mulai membesar, ditambah perubahan fisik dan
wajahnya yang berjerawat, sehingga perubahan tersebut
membuat remaja menarik diri. Menghadapi perubahan
yang cukup pesat ini remaja seringkali tidak pernah cukup
untuk mengenal tubuh.
Pernyataan ini juga didukung dengan hasil
penelitian Fatwiany (2010), diperoleh responden yang
bersikap positif terhadap perubahan fisiologis sebanyak
78,63 % dan yang bersikap negatif terhadap perubahan
fisiologis sebanyak 21,37 %.
Menurut Sunaryo (2004) sikap adalah
kecenderungan bertindak dari individu, berupa respons
tertutup terhadap stimulus ataupun objek tertentu. Secara
nyata sikap menunjukkan adanya keyakinan seseorang
mengenai objek atau situasi yang disertai adanya perasaan
tertentu dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk
membuat respons atau berperilaku dalam cara tertentu
yang dipilihnya.
Sikap yang positif akan menjadi salah satu tolok
ukur kematangan seseorang, ditandai dengan konsep diri
yang memiliki kemampuan untuk melihat gambaran diri
yang pada akhirnya akan membentuk rasa percaya diri.
3. Tindakan Remaja dalam hal perubahan
fisiologis pada masa pubertas di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan
Tahun 2013
Pada tabel 4. diperoleh sebagian besar remaja
memiliki tindakan baik yaitu sebanyak 157 orang (90,8
%) dan tindakan kurang sebanyak 16 orang (9,2 %).
Hal ini menunjukkan bahwa remaja remaja yang
memiliki tindakan baik melakukan tindakan sesuai
dengan perubahan fisiologis yang dialaminya dan
remaja yang memiliki tindakan kurang tidak melakukan
hal hal yang sesuai dengan perubahan fisiologis yang
dialaminya.
Pernyataan ini juga sesuai dengan penelitian
Dewi, P (2010) yaitu sebagian besar remaja memiliki
tindakan positif sebanyak 24 orang (72,7 %) dan yang
memiliki tindakan negatif sebanyak negatif sebanyak 9
orang (27,3 %).
Menurut Notoatmodjo (2007), tindakan atau
praktek dilaksanakan setelah seseorang mengetahui
stimulus atau objek kemudian mengadakan penilaian

12

Perilaku Remaja dalam Hal

terhadap apa yang diketahui. Dengan kata lain tindakan


atau praktek dilaksanakan karena dinilai baik dan diyakini.
Kecerdasan pengetahuan, individu lebih mudah
mengendalikan perilaku dan dorongan dorongan dari
dalam individu tersebut dalam melakukan suatu tindakan.
Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan
pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan
datang. Dengan demikian, remaja mampu memperkirakan
konsekuensi dari tindakannya. Perkembangan kognitif
yang dimiliki remaja dapat dikembangkan dan di
aplikasikan dalam kehidupannya sehingga mereka
mempunyai pola berfikir dan mampu menentukan tindakan
dari apa yang telah mereka ketahui.
4. Perilaku Remaja dalam hal perubahan fisiologis
pada masa pubertas di SMP Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan
Tahun 2013
Pada hasil penelitian diketahui bahwa
sebagian besar remaja memiliki perilaku baik yaitu
sebanyak 88 orang (50,9 %) dan sebagian kecil
memiliki perilaku kurang yaitu sebanyak 85 orang (
49,1 %). Hal ini menunjukkan bahwa remaja yang
memiliki perilaku baik telah melakukan sesuai dengan
perubahan fisiologis yang dialami berdasarkan
pengetahuan yang dimiliki sedangkan remaja yang
masih kurang memperhatikan perubahan fisiologis
yang dialaminya masih mempunyai perilaku kurang.
Pernyataan ini juga sesuai dengan penelitian
Dewi, P (2010) yaitu sebagian besar remaja memiliki
perilaku baik sebanyak 28 orang (77,7%) dan sebagian
kecil memiliki perilaku kurang yaitu sebanyak 8 orang
22,3(%).
Sesuai dengan pendapat (Notoatmodjo, 2007)
dimana perilaku merupakan respons seseorang atau
tindakan seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari
luar) yang merupakan kumpulan berbagai faktor saling
berinteraksi. Sehingga dapat dilaksanakan jika tindakan
tersebut di nilai baik dan diyakini.
Faktor faktor yang dapat mempengaruhi
perilaku individu dapat memberikan pengaruh yang
baik sehingga individu memiliki perilaku yang baik.
Dalam hal ini sekolah hendaknya memberikan bantuan
agar setiap individu dapat memiliki perilaku yang baik
dan terhindar dari timbulnya gejala ketidak sesuaian,
sehingga sekolah hendaknya berfungsi sebagai suatu
lingkungan yang memberikan kemudahan dan
mendukung terciptanya perilaku yang baik. Remaja
yang sedang memasuki masa transisi memerlukan
bantuan dan bimbingan dalam pemenuhan tugas
tugas perkembangan yang harus dikuasai. Oleh karena
itu, pendidikan tidak hanya mampu mengantarkan
siswa pada standar kemampuan profesional dan
akademis tetapi juga mampu membuat perkembangan
diri sebagai remaja yang sehat dan produktif.
KESIMPULAN
1.

Perilaku remaja di SMP Yayasan Pendidikan


Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013

Jurnal Ilmiah PANNMED

2.

3.

4.
5.

sebagian besar memiliki perilaku baik sebanyak


88 orang (50,9 %).
Pengetahuan remaja di SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013
sebagian besar berpengetahuan baik sebanyak 136
orang (78,6 %).
Sikap remaja di
SMP Yayasan Pendidikan
Shafiyyatul Amaliyyah Medan Tahun 2013
sebagian besar memiliki sikap positif sebanyak
116 orang (67,1 %).
Tindakan remaja
di di SMP Yayasan Pendidikan Shafiyyatul
Amaliyyah Medan Tahun 2013 sebagian besar
memiliki tindakan baik sebanyak 157 orang
(90,8%).

SARAN
1.

2.

Agar tenaga kesehatan sebagai pelaksana


pelayanan kesehatan reproduksi remaja lebih
aktif mengadakan penyuluhan tentang
kesehatan reproduksi bagi remaja dan orang
tua.
Agar remaja lebih banyak menggali informasi
baik melalui media cetak maupun media
elektronik sehingga lebih memahami dampak
negatif perilaku remaja terhadap perubahan
fisiologis.

DAFTAR PUSTAKA
Agustiani, H. 2006. Psikologi perkembangan. Rafika
aditama: Bandung
Ali, M. 2004. Psikologi remaja. Bumi aksara: Jakarta
Azwar, R. 2007. Sikap manusia teori dan pengukurannya.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Dariyo, A. 2004. Psikologi perkembangan remaja. Ghalia
Indonesia: Bogor
Depkes. RI. (2010). Visi misi Indonesia sehat. Diambil 22
November 2012, dari http://www.depkes.go.id
Dewi, P. 2010. Perilaku remaja dalam menghadapi
pubertas. Diambil 22 November 2012.
http://www.repository.unand.ac.id

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Fatwiany. 2010. Perubahan fisik remaja pada masa


pubertas si SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan.
Medan : Universitas Sumatera Utara
Gunarsa, S. 2000. Psikologi praktis : anak, remaja dan
keluarga. Gunung
mulia : Jakarta
...., 2003. Psikologi remaja.Gunung mulia: Jakarta
Hidayat, AA. 2011. Metode penelitian kebidanan dan
teknik analisa data. Jakarta : Salemba Medika
Hurlock, E. 1980. Psikologi perkembangan. Erlangga:
Jakarta
Jahja, Y. 2011. Psikologi perkembangan. Prenada media:
Jakarta
Mahmud, DM.2002. Psikologi suatu pengantar.
BEFE.Yogyakarta
Maramis, W. 2006. Ilmu perilaku dalam pelayanan
kesehatan. Airlangga: Surabaya
Notoatmojo, S. 2002. Pengantar Pendidikan Kesehatan
dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Penerbit Andi off
seat. Yogyakarta
Pinem, S. 2009. Kesehatan reproduksi dan kontrasepsi.
Trans info media: Jakarta
Purwanto, H. 1998. Pengantar Perilaku Manusia untuk
keperawatan. EGC. Jakarta
Sanjaya, W. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran.
Kencana: Jakarta
Santrock, J. 2003. Adolescence perkembangan remaja.
Erlangga: Jakarta
Santrock, JW. 1996. Adolescence Perkembangan Remaja.
Erlangga. Jakarta
Soetjiningsih. 2004. Tumbuh kembang remaja dan
permasalahannya. Sagung seto: Jakarta
Somantri, A. 2011. Aplikasi statistika dalam penelitian.
Bandung : Pustaka Setia
Sujanto, A. 1986. Psikologi perkembangan. Aksara baru:
Jakarta
Suyanto dan Salamah, U. 2009. Riset kebidanan
metodologi dan aplikasi. Yogyakarta : Mitra
cendikia pres
Yulianto, H. 2012. Program bimbingan pribadi-sosial
untuk mengembangkan konsep diri siswa (studi
deskriptif terhadap siswa kelas X SMA Negeri 24
Bandung Tahun Ajaran 2011-2012. Diambil 24
November 2012. http://www.repository.upi.edu
Widayatun, T. 1999. Ilmu perilaku. Sagung seto: Jakarta

13

KETEPATAN PEMERIKSAAN BTA APUSAN LANGSUNG DAN METODE


KONSENTRASI DENGAN KULTUR DALAM MENDIAGNOSIS
TUBERKULOSIS PARU DI MEDAN

Lestari Rahmah1, Amira Permatasari Tarigan2, Bintang Yinke M. Sinaga3


1

Jurusan Analis Kesehatan Kemenkes Medan


Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Medan
3
Dosen FK USU Medan

Abstract

Introduction: Tuberculosis diagnostic, using microscopic examination of direct smear of acid-fast bacili
(AFB) from the spectrum of lung tuberculosis suspect is still important criteria today, but the sensitivity of
this method is low enough, especially in the samples which contain a small number of bacteria. Culture is
stronger, but it takes long time, high cost, and it is not conducted in all laboratories. BTA microscopic
examination can use direct smear and concentration method. Staining technique which is usually used in
microscopic examination is Ziehl Neelsen. The sensitivity of direct smear method tends to be low and can be
increased by using concentration method because bacteria can be easily found. Objective of the research:
The objective of the research was to find out the effectiveness of direct smear examination of AFB , and
concentration method was compared with culture. Materials and Method: The samples consisted of 60
sputum samples from the patients of lung tuberculosis suspects who visited BP4 Medan and from private
practices of tuberculosis specialists, and the samples had fulfilled inclusive criteria. Microscopic
examination of acid-fast bacilli using direct smear and concentration method with Petroff method, using
Ziehl Neelsen staining and culture with Lowenstein Jensen was conducted. Then we performed diagnostic
test for direct smear and concentration method to compare it with culture. Result of the research: AFB
examination with concentration method had sensitivity of 68.75%, specificity of 82.14%, the value of positive
prediction of 81,48%, the value of negative prediction of 69.70%, ratio of positive likelihood of 3.85, and
ratio of negative likelihood of 0.38, compared with culture method examination in finding BTA in sputum of
lung tuberculosis suspects. The result of microscopic examination of direct smear method had the sensitivity
of 59.38%, specificity of 92.68%, the value of positive prediction of 90.48%, the value of negative prediction
of 66.67%, ratio of positive likelihood of 8.31, and ratio of negative likelihood of 0.44, compared with
culture method examination in finding BTA in sputum of lung tuberculosis suspects. Conclusion: The ability
of acid-fast bacilli examination of concentration methodsin diagnosis oflung tuberculosisis 9.37% higher
thanthe directsmear but direct smear method gives bigger clinical benefit in diagnosing lung tuberculosis,
compared with concentration method
Keywords: BTA, direct smear, concentration, culture
PENDAHULUAN
Penyakit tuberkulosis paru merupakan penyebab
kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler
dan penyakit saluran pernapasan dan merupakan nomor
satu terbesar penyebab kematian dalam kelompok penyakit
infeksi.
Jumlah penderita tuberkulosis paru di dunia
berdasarkan Global Report WHO(2010)1 sebanyak 14,4
juta kasus. Penderita tuberkulosis paru terbanyak terdapat
pada lima negara yaitu: India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria
dan Indonesia. Pada negara-negara miskin, tingkat
kematian akibat penyakit tuberkulosis atau case fatality
rate (CFR) sebesar 25% dari seluruh kematian.
Penderita TB di Indonesia adalah sekitar 5,8% dari
total jumlah penderita TB dunia. Pada tahun 2009 di
Indonesia tercatat sejumlah 294.732 kasus TB telah
ditemukan dan diobati (data awal Mei 2010)2 dan lebih
14

dari 169.213 diantaranya terdeteksi basil tahan asam positif


(BTA+). Prevalensi penderita tuberkulosis paru di
Indonesia sebesar 102 per 100.000 penduduk atau sekitar
236.029 kasus tuberkulosis paru BTA positif.2
Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2008
ditemukan sebanyak 14.158 orang penderita TB Paru dan
264 orang diantaranya meninggal dunia. Sebagian besar
penderita TB Paru tersebut berusia 1754 tahun (kelompok
usia produktif) dengan persentase jumlah mencapai 70%.
Seorang penderita dengan Basil Tahan Asam (BTA) positif
dapat menularkan kepada 1015 orang setiap tahunnya.3,4
Diagnosis laboratorik penyakit tuberkulosis masih
merupakan masalah penting di Indonesia karena bertujuan
untuk menekan penularan TB di masyarakat adalah dengan
melakukan diagnosis dini yang defenitif. Diagnosis TB
paru secara laboratorium dapat ditegakkan dengan
ditemukannya Basil Tahan Asam (BTA) baik melalui
pemeriksaan mikroskopis, kultur atau molekuler.5

Jurnal Ilmiah PANNMED

Kriteria untuk menetapkan dugaan diagnosis TB


berdasarkan pewarnaan tahan asam.Namun metode ini
kurang sensitif karena baru memberikan hasil positif bila
terdapat >103 organisme/ml sputum6. Metode pemeriksaan
kultur membutuhkan sekitar 50100 kuman/ml
sputum5dan memerlukan waktu cukup lama untuk
memperoleh hasil, yaitu sekitar 8 minggu.7
Secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna
antara sensitivitas metode langsung (34%) dan metode
konsentrasi (58%) pada spesimen kultur positif.8
Pemeriksaan mikroskopis metode langsung hanya mampu
menjaring separuh dari penderita tuberkulosis paru aktif.
Sensitifitas pemeriksaan langsung dapat ditingkatkan
dengan tehnik konsentrasi dimana dengan tehnik tersebut
kuman akan lebih mudah ditemukan. Namun metode
konsentrasi belum banyak digunakan untuk pemeriksaan
mikroskopis BTA.9
Teknik diagnosis TB yang lebih cepat dan lebih
akurat saat ini sangat diperlukan untuk meningkatkan
cakupan TB di Indonesia, maka perlu dilakukan kajian dan
penelitian untuk menguji perbedaan sensitivitas,
spesifisitas, nilai ramal positif, nilai ramal negatif, rasio
kemungkinan positif dan rasio kemungkinan negatif dari
metode pemeriksaan BTA apusan langsung dan metode
konsentrasi terhadap metode kultur
Tuberkulosis (TB) Paru
Struktur dan morfologi
Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis)
adalah kuman yang termasuk genus Mycobacterium,
family Mycobacterium dan ordo Actinomycetales.
Mycobacterium tuberculosis merupakan basil gram positif
dan mengandung asam mikolik (waxes) di dinding selnya
yang menyebabkan kuman bersifat tahan asam dan dapat
menimbulkan infeksi kronis.11Basil tuberkulosis berukuran
sangat kecil berbentuk batang lurus atau agak bengkok,
panjang 1-4 mikron dan lebar antara 0,3-0,6 mikron,
obligat, tidak membentuk spora, tidak motil, tidak
berkapsul dan bersifat tahan terhadap penghilangan zat
warna dengan asam alkohol.10,11
Gejala klinik dan pemeriksaan fisik
TB disebut juga The great immitator oleh karena
gejalanya banyak mirip dengan penyakit lain antara lain:
demam, batuk/batuk darah, sesak nafas, nyeri dada,
malaise: tidak ada nafsu makan, berat badan menurun,
sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam dan tidak
menunjukkan suatu kelainan pun terutama pada kasuskasus dini.10
Metode pemeriksaan BTA
Metode apusan langsung
Sensitivitas pemeriksaan BTA secara langsung
masih rendah, sekitar 20-30% dari pasien yang dicurigai
secara klinis dan radiologis menderita TB paru.
Pemeriksaan mikroskopis BTA metoda langsung
memerlukan sputum yang sedikit sehingga kemungkinan
untuk menemukan kuman dalam sputum dengan BTA
positif menjadi lebih kecil.12 Sampai sekarang pemeriksaan
mikroskopis BTA metoda langsung masih banyak

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

digunakan karena lebih murah, mudah, cepat dan


sederhana meskipun banyak kelemahannya.
Metode konsentrasi
Metode konsentrasi yang biasa digunakan adalah
metode Petroff yaitu dengan mencampur 1 bagian NaOH
4% dengan 1 bagian sputum kemudian dikocok dengan
shaker selama 10 menit dan sentrifugasi 3000 RPM
selama 15 menit. Cairan supernatant dibuang dan
endapannya dinetralkan dengan HCl 1 N. Pemeriksaan
mikroskopis BTA metode konsentrasi memerlukan
volume spesimen cukup banyak yaitu sekitar 2-4 ml
sehingga untuk menemukan kuman BTA dalam sputum
menjadi lebih mudah, hal ini berguna untuk kasus
tuberkulosis dengan jumlah kuman sedikit. Namun hal ini
menjadi sulit dikerjakan bila jumlah spesimen sputum
yang didapat sedikit atau kurang dari 2 ml.13
Metode Kultur
Kultur kuman merupakan cara pemeriksaan yang
akurat karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi
(89.9%) dan 100% sehingga dipakai sebagai diagnosis
pasti tuberkulosis paru. Jika hasil pemeriksaan mikroskopis
BTA positif, maka diagnosa tuberkulosis dapat ditegakkan,
tetapi pemeriksaan mikroskopis ini tidak dapat
membedakan antara Mycobakcerium tuberculosis dengan
Mycobacteriumlain sehingga perlu dilakukan pemeriksaan
kultur BTA
untuk identifikasi kuman. Bila hasil
pemeriksaan mikroskopis BTA negatif,
penyakit
tuberkulosis belum dapat disingkirkan sehingga perlu
dilanjutkan dengan metode kultur.14
Desain penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif
dengan menggunakan uji diagnostik yaitu uji sensitifitas
dan spesifisitas.
Tempat dan waktu penelitian
Rumah Sakit BP4 Medan, Praktek Dr.Zainuddin,
dan Laboratorium Mikrobiologi Terpadu Fakultas
Kedokteran USU selama 4 bulan mulai Juli-Oktober 2013.
Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui ketepatan pemeriksaan BTA secara
apusan langsung, metode konsentrasi dibandingkan
dengan kultur.
2.

Tujuan Khusus
a. Mengetahui
ketepatan
pemeriksaan
mikroskopis BTA metode apusan langsung.
b. Mengetahui
ketepatan
pemeriksaan
mikroskopis BTA metoda konsentrasi.
c. Mengetahui ketepatan pemeriksaan kultur.
d. Mengetahui perbandingan nilai sensitivitas,
spesifisitas, nilai ramal positif dan nilai ramal
negatif, rasio kemungkinan positif dan rasio
kemungkinan
negatif
dari
pemeriksaan
mikroskopis BTA apusan langsung dan
konsentrasi dengan kultur terhadap diagnosis
tuberkulosis paru.

15

Lestari Rahmah, dkk.

Populasi dan Sampel


Populasi adalah seluruh pasien suspek tuberkulosis
pada bulan Juli-Oktober 2013 di Kota Medan dengan
jumlah sampel sebanyak 60 orang berdasarkan rumus uji
hipotesis satu sampel menurut Lemeshow.15
Kriteria Sampel
a. Kriteria Inklusi : suspek >30 tahun, pasien TB paru
yang belum pernah diobati dan sputum tidak
bercampur darah.
b. Kriteria Eksklusi : penderita tidak dapat mengeluarkan
dahak.
BAHAN & CARA KERJA
1. Apusan langsung
Pembuatan preparat
Ose dipanaskan sampai merah.selanjutnya
didinginkan. Kemudian dimasukkan ke dalam botol berisi
pasir alkohol 70% dan digoyang-goyangkan untuk
melepaskan partikel yang melekat.Kembali ose dibakar
sampai merah. Sedian fiksasi jangan terlalu lama di
dilewatkan di atas api lampu spritus.
Pewarnaan dengan Metode Ziehl Neelsen
Sedian digenangi dengan larutan carbol fuchsin
0,3% dan dipanaskan. Kemudian didinginkan dan
dicuci.Sedian kemudian digenangi dengan asam alkohol
(HCL alkohol 3%) sampai warna carbol fuchsin hilang dan
dicuci kembali. Kemudian sedian kembali digenangi
dengan methylene blue 0,3% sampai terbentuk latar
belakang biru. kemudian diperiksa di bawah mikroskop
perbesaran 1000 kali.
Pembacaan hasil
Hasil
pemeriksaan
berdasarkan
standart
International Union Against Tuberculosis and Lung
Diseases (IUATLD) sesuai dengan standart WHO.3
2.

Metode Konsentrasi
Sputum 1 bagian tambahkan dengan 2 bagian
NaOH 4%.Vortex sampai homogeny, selanjutnya
centrifuse 3000g selama 15 menit.Buang supernatant,
tambahkan aquadest sampai tanda tertinggi.Centrifuse lagi
3000g selama 15 menit dan buang supernatant.Media
apusan
tersebut yang diletakkan di kaca obyek
dikeringkan di udara terbuka selama 15-30 menit dan
Kaca objek dilewatkan di atas lampu spiritus sebanyak 3
kali selama 3-5 detik. Melakukan pewarnaan dengan
pengecatatan Ziehl Nielsen.
3.

Pemeriksaan Kultur
Sputum 1 bagian tambahkan dengan 2 bagian
NaOH 4%.Vortex sampai homogeny, selanjutnya
centrifuse 3000g selama 15 menit.Buang supernatant,
tambahkan aquadest sampai tanda tertinggi.Centrifuse lagi
3000g selama 15 menit dan buang supernatant.Inokulasi
secukupnya (100l) pada 2 media Lowensten-Jensen (LJ),
kemudian ratakan pada permukaan media tutup botol Mac
Cartney dan longgarkan (jangan rapat-rapat).Selanjutnya

16

Ketepatan Pemeriksaan BTA Apusan

Selanjutnya disimpan dalam inkubator 37C.Mengamati


pertumbuhan setiap minggu apakah sedian negatif atau
positif.
Analisis Data
Analisa data secara deskriptif untuk melihat
distribusi frekuensi dari variabel. Uji diagnostik dengan
tabel 2x2, kemudian dihitung nilai sensitivitas, spesifitas,
nilai ramal positif dan nilai ramal negatif, rasio
kemungkinan positif dan rasio kemungkinan negatif.
HASIL PENELITIAN
Objek penelitian adalah sputum dari 60 responden
dilakukan pemeriksaan mikroskopis BTA apusan langsung
dan konsentrasi (Sewaktu, Pagi, Sewaktu) dengan jumlah
sputum masing-masing 180, dan pemeriksaan metode
kultur (pagi) dengan jumlah sputum 60 sputum.
Karakteristik demografi
Respondenmayoritas berumur 15-55 tahun
sebanyak 43 orang (71,7%), kemudian kelompok umur >
55 tahun sebanyak 17 orang(28,3%). Responden mayoritas
yang diperiksa berjenis kelamin laki-laki sebanyak 43
orang (71,7%), dan perempuan sebanyak 17 orang
(28,3%). Responden mayoritas bersuku Batak sebanyak 32
orang (53,3%), Suku Jawa sebanyak 23 orang (38,3%),
suku Aceh sebanyak 2 orang (3,3%) dan minoritas suku
Melayu, Minang dan Nias dimana frekuensi masingmasing sebanyak 1 orang (1,7%).
Responden mayoritas memiliki pekerjaan sebagai
wiraswasta sebanyak 24 orang (40,0%), IRT sebanyak 13
orang (21,7%), pensiunan sebanyak 7 orang (11,7%),
karyawan/pegawai swasta sebanyak 5 orang (8,2%),
PNS/POLRI dan Pelajar/Mahasiswa masing-masing
sebanyak 4 orang (6,7%), dan yang bekerja sebagai
buruh/petani sebanyak 3 orang (5,0%).
Responden mayoritas berpenghasilan Rp.
1.000.0003.000.000,- sebanyak 41 orang (68,9%),
berpenghasilan lebih kecil Rp. 1.000.000,- sebanyak 10
orang (16,7%), dan responden minoritas berpenghasilan
lebih besar Rp. 3.000.000,- sebanyak 9 orang (15%).
Deskriptif pemeriksaan BTAmetode apusan langsung
Hasil pemeriksaan BTA apusan langsung diperoleh
bahwa BTA (+) paling banyak ditemukan dari sampel
sputum pagi yakni sebanyak 21 sampel (35,0%), kemudian
sampel sputum sewaktu pertama yakni sebanyak 19
sampel (31,7%) dan yang paling sedikit adalah sampel
sputum sewaktu kedua yakni sebanyak 17 sampel (28,3%).
Dengan kondisi diatas diperoleh gambaran bahwa
pengambilan sputum pada pagi lebih banyak ditemukan
BTA positif dibandingkan dengan sewaktu pertama, dan
sewaktu kedua.

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Tabel 1.

Hasil Pemeriksaan BTA Metode Apusan


Langsung (Sewaktu, Pagi, Sewaktu)
Hasil BTA
Metode Apusan Langsung
Sewaktu
Pagi
Sewaktu
n (%)
n (%)
n (%)
Positif
19 (31,7) 21 (35,0) 17 (28,3)
Negatif
41 (68,3) 39 (65,0) 43 (71,7)
Total

60
(100,0)

60
(100,0)

60
(100,0)

Deskriptif pemeriksaan BTA metode konsentrasi


Hasil pemeriksaan BTA metode konsentrasi bahwa
sputum pagi merupakan sputum yang paling banyak
menunjukkan hasil positif yakni sebanyak 27 sampel
(45%). Sputum pada sewaktu yang pertama menunjukkan
hasil BTA positif sebanyak 26 orang (43,3%) dan sputum
sewaktu yang kedua menunjukkan hasil yang paling
sedikit sebanyak 25 orang (41,7%).
Tabel 2

Hasil Pemeriksaan BTA Metode Konsentrasi


(Sewaktu, Pagi, Sewaktu)
Metode Konsentrasi
Hasil BTA
Sewaktu
Pagi
Sewaktu

Positif
Negatif
Total

n (%)
26 (43,3)
34 (56,7)

n (%)
27 (45,0)
33 (55,0)

n (%)
25 (41,7)
35 (58,3)

60 (100,0) 60 (100,0) 60 (100,0)

Deskriptif pemeriksaan BTA metode kultur


Hasil pemeriksaan metode kultur menggunakan
sputum pagi lebih banyak ditemukan BTA positif yaitu 32
sampel (53,3%)dan BTA negatif yaitu 28 sampel (46,7%).
Tabel 3

Pemeriksaan dengan Metode Kultur


Menggunakan Sputum Pagi
Metode Kultur
Hasil BTA
n
%
Positif
32
53,3
Negatif
28
46,7
Total
60
100.0

Metode pemeriksaan BTA metode apusan langsung


dengan metode kultur
Hasil pemeriksaan BTA positif dengan metode
apusan langsung adalah 21 sampel sputum dan negatif
secara apusan langsung berjumlah 39 sampel. Sedangkan
dengan pemeriksaan kultur diperoleh BTA posistif
sebanyak 32 sampel dan yang negatif sebanyak 28
sampel.Dari hasil diatas ditemukan 9,5% sampel yang
positif secara apusan langsung namun negatif secara kultur.
Sedangkan dari sampel yang negatif secara apusan
langsung ditemukan sebesar 33,3% positif secara kultur.

Tabel 4.

Perbandingan Metode Apusan Langsung


dan Kultur
Kultur
Total
Apusan
+
Langsung
n (%)
n (%)
n (%)
+
19 (90,5)
2 (9,5)
21 (100)
13 (33,3)
26 (66,7)
39 (100)
Total
32 (53,3)
28 (46,7)
60 (100)

Metode pemeriksaan metode konsentrasi dengan kultur


Hasil pemeriksaan BTA positif dengan metode
konsentrasi adalah 27 sampel sputum dan negatif secara
konsentrasi berjumlah 33 sampel. Sedangkan dengan
pemeriksaan kultur diperoleh BTA positif sebanyak 32
sampel dan yang negatif sebanyak 28 sampel.
Dari 27 sampel yang positif secara konsentrasi
diperoleh sebanyak 81,5% (22 sampel) positif secara kultur
dan 18,5% (5 sampel) negatif secara kultur. Sedangkan
dari 33 sampel yang negatif secara konsentrasi ditemukan
sebesar 30,3% (10 sampel) positif secara kultur, dan yang
benar-benar negatif secara konsentrasi dan negatif pula
secara kultur sebesar 69,7% (23 sampel).
Tabel 5.

Perbandingan Metode Konsentrasi dengan


Kultur
Kultur
Total
Konsentrasi
+
n (%)
n (%)
n (%)
+
22 (81,5)
5 (18,5)
27 (100)
10 (30,3)
23 (69,7)
33 (100)
Total
32 (53.3)
28 (46.7)
60 (100)

Perbandingan efektifitas antara metode apusan langsung


dan konsentrasi terhadap kultur
Hasil uji diagnostik untuk metode apusan langsung
terhadap kultur mempunyai sensitifitas sebesar 59,38%,
spesifisitas sebesar 92,86%, nilai ramal positif sebesar
90,48% nilai ramal negatif sebesar 66,67%,
ratio
likelihood positif sebesar 8,31 dan rasio likelihood negatif
sebesar 0,44.
Demikian juga uji diagnostik metode konsentrasi
terhadap kultur mempunyai sensitifitas sebesar 68,75%,
spesifisitas sebesar 82,14%, prevalensi sebesar 53,33%,
nilai ramal positif sebesar 81,48%, nilai ramal negatif
sebesar 69,70%, rasio kemungkinan positif sebesar 3,85.
Tabel 6.

Hasil Uji Diagnostik Metode Apusan


Langsung dan Konsentrasi terhadap Kultur
Metode
Metode
Apusan
Konsentrasi
Pemeriksaan
Langsung(%)
(%)
Sensitifitas
59,38 %
68,75 %
Spesifisitas
92,86 %
82,14 %
Nilai ramal positif
90,48 %
81,48 %
Nilai ramal negatif
66,67 %
69,7 %
Rasiokemungkinan
8,31
3,85
positif
Rasiokemungkinan
0,44
0,38
negatif

17

Lestari Rahmah, dkk.

DISKUSI
Karakteristik responden
Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa
mayoritas responden berumur 15-55 tahun sebanyak 43
orang (71,7%), kemudian kelompok umur >55 tahun
sebanyak 17 orang(28,3%). Data tersebut sesuai dengan
laporan Sub Direktorat TB Depkes RI tahun 2006, bahwa
infeksi TB mayoritas diderita pada kelompok umur
produktif (15-55 tahun). Data yang dikeluarkan Depkes RI
tahun 2001 juga menunjukkan bahwa 75% penderita TB
paru berada pada kelompok usia produktif. Diperkirakan
seorang pasien TB dewasa akan kehilangan rata-rata waktu
kerjanya 3-4 bulan. Tingginya angka TB paru pada usia
produktif akan sangat berdampak pada perekonomian
keluarga, masyarakat dan Negara. Selain merugikan secara
ekonomis, TB paru juga berdampak pada hubungan sosial,
karena penderita TB paru akan dikucilkan oleh
masyarakat.16
Jika dikaitkan lebih lanjut, berdasarkan data
diperoleh mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki
yakni sebanyak 43 orang (71,7%). Tingginya kasus TB
paru pada laki-laki dipengaruhi oleh kebiasaan hidup
misalnya kebiasaan merokok. Kebiasaan merokok dapat
meningkatkan risiko infeksi TB paru sebanyak 2,2 kali.16
Tingginya kasus TB paru pada laki-laki juga disebabkan
laki-laki mempunyai kecendrungan lebih rentan terhadap
faktor risiko. TB paru, hal ini dimungkinkan karena lakilaki lebih banyak melakukan aktifitas sehingga lebih sering
terpajan oleh penyebab penyakit ini.17 Berdasarkan suku
bangsa diperoleh Batak sebanyak 32 orang (53,3%) karena
mayoritas responden yang datang ke BP4 dan Klinik
Tuberkulosis Swasta adalah bersuku Batak. Hal ini
didukung oleh data statistik dari Badan Pusat Statistik Kota
Medan bahwa suku Batak presentasi penduduknya di Kota
Medan menempati urutan kedua yaitu sebesar 21%.
Pada penelitian ini diperoleh proporsi tertinggi
responden adalah dengan pekerjaan wirawasta sebesar 24
orang (40,0%) dan terendah pada jenis pekerjaan
buruh/petani sebesar 3 orang (5,0%). Hal ini dapat
diasumsikan bahwa seseorang yang terinfeksi TB Paru
bukan karena dipengaruhi aktifitas pekerjaan tatapi dapat
juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal seperti
kelembaban rumah, keadaan ventilasi rumah, keadaan
jendela rumah serta pencahayaan alami yang masuk ke
dalam rumah.
Perbandingan efektifitas antara metode apusan langsung
dan konsentrasi terhadap kultur
`
Kemampuan
pemeriksaan
BTA
metode
konsentrasi dalam mendiagnosis tuberkulosis paru 9,37%
lebih tinggi dibandingkan apusan langsung. Penelitian ini
mempunyai sensitivitas yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan penelitian Erma Lestari8 yang
membandingkan pemeriksaan mikroskopis BTA apusan
langsung dan konsentrasi pada sputum dengan kultur
dimana sensitivitas apusan langsung sebesar 27% dan
konsentrasi sebesar 63,41%.
Sama halnya dengan penelitian Ellena
M.
Peterson18 membandingkan pemeriksaan BTA metode

18

Ketepatan Pemeriksaan BTA Apusan

langsung dan konsentrasi pada sputum dengan kultur


dimana didapati sensitivitas sebesar 34% dan konsentrasi
sebesar 58%. Penelitian lainnya, yang dilakukan oleh
Wang X, et al19 di Beijing, China, tahun 2010
menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode apusan
langsung pewarnaan Ziehl Nielsen diperoleh sensitifitas
40%, kemudian pada sampel yang sama dilakukan metode
konsentrasi maka nilai sensitivitas akan meningkat 65%.
Hal ini juga sesuai dengan pustaka yang mengatakan
bahwa sensitivitas pemeriksaan BTA apusan langsung
dapat ditingkatkan dengan metode konsentrasi.9
Penggunaan metode konsentrasi dari dahak dengan
sentrifugasi sebelum dilihat dengan mikroskop akan lebih
cepat meningkatkan penemuan kasus dibandingkan dengan
pemeriksaan BTA apusan langsung.20
Spesifisitas pemeriksaan mikroskopis BTA metode
konsentrasi lebih rendah 10,72% dibandingkan apusan
langsung. Hal ini menunjukkan kemampuan pemeriksaan
BTA metode konsentrasi untuk menyingkirkan subjek
yang tidak menderita tuberkulosis paru 10,72% lebih
rendah dari apusan langsung.
Sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan BTA
metode konsentrasi tidak terlalu tinggi kemungkinan
karena metode konsentrasi mendeteksi adanya kuman pada
slide dimana sediaan yang diambil terlalu sedikit sehingga
kemungkinan mendapatkan kuman lebih kecil.
Nilai ramal positif menunjukkan besar peluang
subjek menderita tuberkulosis paru bila hasil pemeriksaan
positif. Dalam penelitian ini pemeriksaan BTA apusan
langsung mempunyai kemampuan memberikan manfaat
klinis dalam tuberkulosis paru 9,0% lebih besar
dibandingkan metode konsentrasi. Penelitian ini didukung
oleh penelitian Elisabeth21yang menunjukkan nilai ramal
positif yang diperoleh lebih besar pada metode apusan
langsung (80%) daripada konsentrasi (63,6%).
Nilai ramal negatif menunjukkan besarnya peluang
subjek tidak menderita TB paru bila hasil BTA
(negatif).Dalam penelitian ini diperoleh bahwa nilai ramal
negatif metode apusan langsung lebih rendah 3%
dibanding metode konsentrasi. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kemampuan untuk menentukan subjek
negatif dan tidak sakit dari total subjek yang negatif lebih
baik pada metode konsentrasi dibandingkan metode
apusan langsung.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Erma Lestari8
menunjukkan bahwa dalam memberikan manfaat klinis
lebih besar pada metode konsentrasi dibandingkan dengan
metode apusan langsung.Hal ini berbeda dengan hasil yang
diperoleh dalam penelitian ini, dimana metode apusan
langsung lebih besar manfaat klinis dibandingkan
konsentrasi. Ini dimungkinkan karena, dalam proses
pembuatan sediaan dan pembacaan memerlukan proses
yang lebih lama dan perlakuan yang lebih teliti. Faktor
manusia yaitu analis/petugas laboratorium memegang
peranan penting dalam memberikan hasil pemeriksaan.
Pada penelitian ini pembuatan sediaan dan pembacaan
dilakukan oleh analis yang sama untuk ketiga metode
pemeriksaan.
Rasio kemungkinan merupakan cara lain untuk
menunjukkan akurasi dari suatu pemeriksaan. Pada

Jurnal Ilmiah PANNMED

penelitian ini nilai rasio kemungkinan positif lebih besar


pada metode apusan langsung sebesar 4,46 dibandingkan
dengan metode konsentrasi. Sehingga metode apusan
langsung lebih kuat menunjukan hubungan antara hasil test
positif dengan keadaaan seseorang yang benar-benar sakit
dibandingkan dengan metode konsentrasi.Nilai rasio
kemungkinan negatif pada metode apusan langsung
sebesar 0,44 dan pada metode konsentrasi sebesar 0,38
artinya kemungkinan seseorang untuk tidak sakit jika hasil
ujinya negatif adalah tinggi (LR - 1).
KESIMPULAN
1.

2.

3.

4.

5.

Kelompok umur paling banyak ditemukan BTA


positif 15-55 tahun 71,7% (43 responden), lakilaki 71,7% (43 responden), suku Batak 53,3% (32
responden), bekerja sebagai wiraswasta 40,0% (24
responden) dan memiliki penghasilan Rp
1.000.000-3.000.000 yaitu 68,3% (41 responden).
Kemampuan
pemeriksaan
BTA
metode
konsentrasi dalam mendiagnosis tuberkulosis paru
9,37% lebih tinggi dibandingkan apusan langsung
(sensitivitas).
Kemampuan pemeriksaan BTA metode konsentrasi
untuk menyingkirkan subjek yang tidak menderita
tuberkulosis paru 10,72% lebih rendah dari apusan
langsung (spesifisitas).
Pemeriksaan BTA apusan langsung mempunyai
kemampuan memberikan manfaat klinis dalam
tuberkulosis paru 9,0% lebih besar dibandingkan
metode konsentrasi (nilai ramal positif).
Kemampuan untuk menentukan subjek negatif dan
tidak sakit dari total subjek yang negatif lebih baik
pada metode konsentrasi dibandingkan metode
apusan langsung (nilai ramal negatif).

DAFTAR PUSTAKA
Global Report WHO, Global Tuberculosis Report. 2010.
Menteri Kesehatan RI. Rencana Aksi Nasional: Informasi
Strategi Nasional Pengendalian TB Indonesia
2011-2014. Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta;
2011.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan
Menteri Kesehatan Republik IndonesiaNo.
364/MENKES/SK/V/2009 Tentang Pedoman
Penanggulangan
Tuberkulosis
(TB)Menteri
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: Depkes RI;
2009.
Raunak P, Gita N, Swapna K, Vijay K, Preeti. Time to
Sputum Conversion in Smear Positive Pulmonary
TB Patients on Category I DOTS and Factors
Delaying it. 2012: Vol. 60: 22-26.

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Grange JM. Micobacterium in : Greenwood David, Slack


RC, Peutheres JF, Medical Microbiology, 16 ed,
Chruchill Livingstone2002.
Muzaffar R, Batool S, Azis A, Naqvi A, Rizvi A.
Evaluation of the fastplaquetb Assay for Direct
Infection of Mycobacterium tuberculosis in Sputum
Specimens. Int J Tuberc Lung Dis. 2002; 6(7): 63540.
Levinson W, Jawetz E. Medical Microbiology 2
Immunilogy. 7th ed. Singapore; 2008.
Erma, L. Nilai Diagnostik Pemeriksaan Mikroskopis Basil
Tahan Asam Metoda Konsentrasi dibandingkan
dengan Kultur pada Sputum Tersangka
Tuberkulosis Paru. 2005.
Ninik, S.. Perkembangan Diagnostik Tuberkulosis Paru.
Indonesian Journal of Clinical Pathology 1998;
Volume 5 No. 1.
Zulfikri A. Buku Ajar Penyakit Dalam. Edisi V, Jilid III,
Jakarta: Internapublishing 2009.
Crofton, J. Horen N, Miller, F. Tuberkulosis Klinis,
Cetakan I.Jakarta: Widya Media; 2002.
Greenwood, et al. Mycobacterium in: Medical
Microbiology, sixteenth ed, Crurchill Livingstone
2002.
Wilks, D. Mycobacterium in: The Infection Disease,
Blackwell Science Ltd, Oxford; 1995.
Yoga, TA. Masalah Tuberkulosis Paru dan
Penanggulangannya,
Jakarta:
Universitas
Indonesia; 2005.
Lemeshow S, et al. Besar Sampel dalam Penelitian,
Yogyakarta: Gajah Mada University Press; 1997.
Leli S, Mardiastuti, Anis K. Evaluasi Metode Fastplaque
TB untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis
pada sputum di Beberapa Unit Pelayanan
Kesehatan
di
Jakarta-Indonesia.
Jurnal
Tuberkulosis Indonesia 2013; Vol 8 Maret 2012.
Ratnasari Y. Dukungan Sosial Dengan Kualitas Hodup
Pada Penderita Tuberkulosis Paru (TB Paru) di
Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4) Yogyakarta
Unit Minggiran, Jurnal Tuberkulosis Indonesia
2012; Vol.8.
Ellena MP. Comparation of Direck and Concentrated
Acid-Fast Smear to Identify Spesimens Cultur
Positive for Mycobacterium spp. In Journal of
Clinical of Microbiology 1999; Volume 73 No. 11:
3564-8.
Liu J, et al. Increased Case Finding of Tuberculosis From
Sputum and Sputum Deposits After Magnetic Bead
Concentration Of Mycobacteria; 2013.
Elisabeth F, Ibrahim S, Hardjoeno. Analisis Temuan Basil
Tahan Asam pada Sputum Cara Langsung dan
Sediaan Konsentrasi pada Suspek Tuberkulosis.
Indonesian Journal of Clinical Pathology and
Medical Laboratory 2006; Vol. 12, No. 2:62-64.
.

19

RENDAHNYA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU YANG BEKERJA


LINGKUNGAN XX KELURAHAN KWALA BEKALA
KECAMATAN MEDAN JOHOR TAHUN 2013
Elisabeth Surbakti
Kebidanan Poltekkes Medan

Abstrak
Setiap tahunnya terdapat 1-2 juta bayi didunia yang meninggal karena tidak diberi ASI eksklusif. Hal ini
dapat dilihat dari tingginya kasus kematian bayi yang berdampak dari ibu yang tidak memberikan ASI secara
eksklusif seperti kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) 15 20% atau sekitar 40 ribu per kelahiran
hidup, diare sekitar 42 %, dan infeksi 10%.Sebagian besar ibu tetap tidak peduli dengan ASI eksklusif.
Sesuai dengan data yang diperoleh menurut kabupaten/kota propinsi Sumatera Utara tahun 2007 yang terdiri
dari 459 puskesmas dengan jumlah bayi 294.648 jiwa ternyata hanya 83.958 jiwa atau 28,49% bayi yang
diberi ASI Eklusif. Sedangkan di kota Medan yang terdiri 39 puskesmas dengan jumlah bayi 41.346 jiwa,
ternyata hanya 623 jiwa atau 1,51 bayi yang diberi ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja di lingkungan XX
Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor tahun 2013. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan
rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan ibu bekerja di Lingkungan XX
Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor yang tidak menerapkan ASI Eksklusif, teknik
pengambilan sampel dengan total sampling, seluruh populasi dijadikan sampel yaitu sebanyak 60 orang.
Analisis data dengan univariat dan bivariat. Hasil penelitian yang diperoleh pengetahuan baik 18,3%, cukup
31,7%, kurang 50%. Sikap ibu positif 45%, negatif 55%. Hasil uji statistik diperoleh p = 0,000 < 0,05,
artinya artinya terdapat hubungan yang signifikan antara tindakan dengan pemberian ASI eksklusif. Untuk
itu agar ibu menambah pengetahuan dan wawasan tentang cara pemberian dan manfaat ASI eksklusif.
Kata kunci : Asi Eksklusif, Ibu Bekerja

Latar Belakang
Pemberian ASI (Air Susu Ibu) secara eksklusif
adalah pemberian ASI saja tanpa ada makanan tambahan
yang lain dari usia 0-6 bulan. Seiring dengan
perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat, ironisnya
pengetahuan lama yang mendasar seperti menyusui justru
kadang terlupakan. Padahal kehilangan pengetahuan
tentang menyusui berarti kehilangan hal yang besar, karena
menyusui adalah suatu pengetahuan yang selama berjutajuta tahun mempunyai peranan penting dalam
mempertahankan kehidupan manusia.
Untuk mengetahui atau memenuhi kebutuhan
nutrisi bayi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
merekomendasikan agar bayi baru lahir mendapat ASI
eksklusif selama 6 bulan (WHO, 2003).
Ternyata berdasarkan penelitian WHO, setiap
tahunnya terdapat 1-2 juta bayi didunia yang meninggal
karena tidak diberi ASI eksklusif. Hal ini dapat dilihat dari
tingginya kasus kematian bayi yang berdampak dari ibu
yang tidak memberikan ASI secara eksklusif seperti kasus
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) 15 20% atau
sekitar 40 ribu per kelahiran hidup, diare sekitar 42%, dan
infeksi 10%. Sebagian besar ibu tetap tidak peduli dengan
ASI eksklusif. Hal ini disebabkan sebagian kaum ibu
berpendapat bahwa, seorang wanita akan lebih cantik dan
awet muda bila tidak menyusui.Hal ini dikaitkan juga

20

dengan status sosial keluarga, ibu-ibu beranggapan bila


tidak menyusui status sosialnya akan naik dan termasuk
kelompok yang modern, disamping itu juga banyaknya
ibu-ibu yang bekerja baik sebagai wanita karir maupun
yang bekerja dipabrik-pabrik yang jarak tempat tinggal dan
tempat bekerjanya lumayan cukup jauh sehingga waktu
yang dimiliki ibu lebih banyak terbuang pada saat berada
diperjalanan ke tempat bekerja. Karena alasan pekerjaan
juga banyak ibu yang bekerja yang hanya mendapatkan
cuti melahirkan selama 3 bulan sehingga ibu yang
memiliki bayi mengaku terpaksa harus memberikan susu
formula karena harus kembali bekerja. Padahal pemberian
susu formula mengakibatkan bayi mudah terkena ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Akut), 14,2 kali kemungkinan
diare, mengalami kejang, infeksi telinga, flu dan penyakit
alergi (Wahyu, 2007).
Setiap ibu selalu menginginkan agar bayinya
sehat dan cerdas. Tidak banyak yang mengetahui bahwa
ada cara yang mudah dan murah agar bayi sehat dan
cerdas. Menyusui ASI eksklusif dapat meningkatkan
kesehatan dan kecerdasan anak. Sayangnya para ibu di
Indonesia banyak yang tidak memberikan ASI kepada
bayinya. Padahal dengan memberikan ASI, kesehatan dan
kecerdasan sang bayi pun terjamin. ASI mengandung
nutrient yang mempunyai fungsi spesifik untuk
pertumbuhan otak antara lain long chain polyunsaturated
fatty acid (DHA dan AA) untuk pertumbuhan otak dan

Jurnal Ilmiah PANNMED

retina, kolesterol untuk myelinisasi jaringan syaraf, taurin


untuk neurontransmitter inhibitor dan stabilisator
membran, laktosa untuk pertumbuhan otak, koline yang
mungkin meningkatkan memori. Bayi yang mendapat ASI
eksklusif memiliki rata-rata IQ 14,2 poin lebih meningkat
artinya semakin banyak bayi yang mendapat ASI, anak
tersebut semakin sehat dan cerdas ( Roesli, 2007).
Di Malaysia angka kematian hanya 41 per 100
ribu, Singapura 6 per 100 ribu, Thailand 44 per 100 ribu,
dan Filiphina 170 per 100 ribu (Swamurti, 2007). Menurut
Survei Demografi Kesehatan Indonesia 20022003, angka
kematian bayi (AKB) tercatat 35 per 1.000 kelahiran
hidup.
Data di badan pusat statistik menunjukan angka
kematian bayi diIndonesia tertinggi di Asia Tenggara,
mendominasi lebih dari 75 % total kematian anak dibawah
5 tahun. Hal itu menjadi kegiatan prioritas Departemen
Kesehatan (Depkes) pada periode 2005 - 2009. Depkes
menargetkan penurunan angka kematian bayi berkurang
dari 248 menjadi 206 per 100.000 kelahiran yang dicapai
pada tahun 2009. Sementara angka harapan hidup berkisar
rata-rata 70,6 % per tahun (Moedjiono, 2007).
Di Jakarta, durasi rata-rata pemberian ASI
eksklusif hanya berlangsung selama 18 hari. Di Jakarta
Utara hanya sekitar 17,9 % bayi baru lahir yang diberi
IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dalam 1 jam pertama
persalinan dan hanya sekitar 28% bayi dibawah 6 bulan
yang diberi ASI eksklusif (Wahana, 2007). Angka
kematian bayi (AKB) di Jawa Tengah tercatat 10,9 per
1000 kelahiran hidup dari angka kematian bayi (AKB)
secara nasional sebesar 26,9 per 1000 kelahiran hidup
(Ena, 2008).Angka kematian bayi (AKB) di Sragen pada
tahun 2008 sebesar 9,28 per 1.000 kelahiran hidup
(Dinkes, 2008).
Pemberian ASI secara eksklusif dapat menekan
angka kematian bayi hingga 13 % sehingga dengan dasar
asumsi jumlah penduduk 219 juta, angka kelahiran total 22
per 1000 kelahiran hidup, angka kematian balita 46 per
1000 kelahiran hidup maka jumlah bayi yang akan
terselamatkan sebanyak 30 ribu. Untuk itu ASI patut
menjadi prioritas (Sitopeng, 2008).
Sesuai dengan data yang diperoleh menurut
kabupaten/kota propinsi Sumatera Utara tahun 2007 yang
terdiri dari 459 puskesmas dengan jumlah bayi 294.648
jiwa ternyata hanya 83.958 jiwa atau 28,49% bayi yang
diberi ASI Eklusif. Sedangkan di kota Medan yang terdiri
39 puskesmas dengan jumlah bayi 41.346 jiwa, ternyata
hanya 623 jiwa atau 1,51 bayi yang diberi ASI eksklusif
(profil DINKES Kab/Kota, 2007)
Sedangkan berdasarkan survey awal di
lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan
Medan Johor tahun 2013 masih banyak ibu yang bekerja
yang tidak memberikan ASI secara eksklusif.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis
tertarik untuk meneliti mengenai faktor-faktor yang
berhubungan dengan rendahnya pemberian ASI eksklusif
pada ibu yang bekerja di Kelurahan Kwala Bekala
Kecamatan Medan Johor tahun 2013.

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Pernyataan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka
pernyataan masalah dalam penelitian ini adalah faktorfaktor apa saja yang berhubungan dengan rendahnya
pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja
Lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan
Medan Johor tahun 2013.
Tujuan Umum
Untuk
mengetahui
faktor-faktor
yang
berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu
yang bekerja di lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala
Kecamatan Medan Johor Tahun 2013.
Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu yang
bekerja dengan penerapan ASI eksklusif di
Lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala
Kecamatan Medan Johor.
b. Untuk mengetahui hubungan jarak tempat tinggal
dengan tempat bekerja ibu yang bekerja dengan
penerapan ASI eksklusif di Lingkungan XX
Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor.
c. Untuk mengetahui hubungan sikap ibu yang bekerja
dengan penerapan ASI eksklusif di Lingkungan XX
Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor.
d. Untuk mengetahui hubungan tindakan ibu yang
bekerja dengan penerapan ASI eksklusif di
lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan
Medan Johor.
Hipotesis
Ada hubungan yang signifikan antara Faktor-faktor
(Pengetahuan, sikap, tindakan dan jarak tempat bekerja)
dengan rendahnya pemberian ASI Eksklusif pada Ibu
bekerja di Lingkungan XX kelurahan Kwala Bekala
Medan
Kerangka Konsep
Adapun kerangka konsep dalam penelitian yang
berjudul tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan
rendahnya pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja
di lingkungan XX kelurahan Kwala Bekala Kecamatan
Medan Johor dapat dilihat pada bagan dibawah ini :
Deskripsi daerah penelitian
Penelitian akan dilakukan di Lingkungan XX
Kelurahan Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor.
Karena banyak didaerah tersebut ditemukan ibu-ibu yang
bekerja yang tidak menerapkan ASI eksklusif. Waktu
penelitian direncanakan dimulai pada bulan Pebruari
sampai Mei 2013.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif
dengan rancangan cross sectional.
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan
ibu bekerja di Lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala

21

Elisabeth Surbakti

Kecamatan Medan Johor yang tidak menerapkan ASI


Eksklusif.
Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah ibu yang
bekerja dilingkungan XX kelurahan Kwala Bekala dengan
menggunakan teknik total sampling seluruh populasi
dijadikan sampel yaitu sebanyak 60 orang.
Cara Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer, tentang
pengetahuan sebanyak 20 pertanyaan, dan kuesioner untuk
wawancara sebanyak 5 pertanyaan dari sikap dan tindakan.
Sebelum responden mengisi kuesioner, terlebih dahulu
peneliti menjelaskan cara mengisi kuesioner kemudian
peneliti memberikan kesempatan kepada respoden untuk
mengisi kuesioner sendiri.
Alat Pengumpulan Data
Data yang terkumpul diolah dengan langkahlangkah sebagai berikut :
1. Editing
Proses editing dilakukan dengan memeriksakan
seluruh kelengkapan data yang telah terkumpul
agar data yang masuk dapat diolah secara benar
sehingga pengolahan data dapat memberikan hasil
yang baik, kemudian data dikelompokkan sesuai
dengan variabel yang akan diteliti. Setelah
dilakukan
pemeriksaan,
apabila
terdapat
kekurangan segera diperbaiki dan dilengkapi.
2. Coding
Dengan membuat
kode dalam rangka
mempermudah perhitungan
3. Tabulating
Kegiatan yang dilakukan dalam tabulasi adalah
menyusun dan menghitung data yang diperoleh,
kemudian dijadikan dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi.
Data
yang
diperoleh
dan
diklasifikasikan menurut variabel yang diteliti.
Rencana Analisis Data
Teknik analisis data adalah cara untuk
memudahkan atau menyederhanakan data kedalam bentuk
yang lebih mudan dibaca dan dimengerti. Untuk
mengetahui bagaimana hubungan variebel bebas dan
variabel terikat dapat di analisa dengan Chi-Square.
Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul Faktorfaktor yang berhubungan dengan rendahnya pemberian
ASI eksklusif pada ibu bekerja di lingkungan XX
Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor Tahun
2013 sebanyak 60 orang dan didapat hasil distribusi
responden berdasarkan pengetahuan, jarak tempat tinggal,
sikap ibu, tindakan ibu dan pemberian ASI ekslusif yang
diuraikan sebagai berikut :
Pengetahuan Ibu
Pengetahuan ibu yang dijadikan responden
bervariasi, mulai dari pengetahuan baik, sedang dan
kurang, yang dapat dilihat pada tabel berikut:
22

Faktor-Faktor yang Berhubungan

Tabel 4.1.
Distribusi Rendahnya Pemberian Asi Eksklusif Pada
Ibu Bekerja Berdasarkan Pengetahuan Di Lingkungan
XX Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan
Johor Tahun 2013
No.
Pengetahuan
Jumlah
Persentase
1.
2.
3.

Baik
Cukup
Kurang
Jumlah

11
19
30
60

18,3
31,7
50,0
100

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa pengetahuan


ibu bekerja dalam kategori kurang yaitu 30 orang (50%),
dan paling sedikit dalam kategori baik yaitu 11 orang
(18,3%).
Jarak Tempat Tinggal
Jarak tempat tinggal ibu dari tempat bekerja
bervariasi, mulai dari jarak dekat (< 10 m), jarak sedang
(10-15 km) dan jarak jauh (> 15 km), dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 4.2.
Distribusi Rendahnya Pemberian Asi Eksklusif Pada
Ibu Bekerja Berdasarkan Jarak Tempat Tinggal Di
Lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan
Medan Johor Tahun 2013
Jarak Tempat
Jumlah Persentase
No.
Tinggal
1. Dekat ( < 10 m)
14
23,3
2. Sedang (10 15 km)
9
15,0
3. Jauh ( > 15 km )
37
61,7
Jumlah
60
100
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa paling
banyak ibu bekerja menempuh jarak yang jauh (> 15 km)
dari tempat kerja yaitu 37 orang (61,7%) dan paling sedikit
menempuh jarak yang sedang (10-15 km) dari tempat
bekerja yaitu 9 orang (15%).
Sikap Ibu
Sikap ibu dalam pemberian ASI eksklusif di
kategorikan dalam sikap negatif dan sikap positif, dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.3.
Distribusi Rendahnya Pemberian Asi Eksklusif Pada
Ibu Bekerja Berdasarkan Sikap Di Lingkungan XX
Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor
Tahun 2013
No.
Sikap
Jumlah
Persentase
1. Negatif
2. Positif
Jumlah

33
27
60

55,0
45,0
100

Berdasarkan tabel diatas sikap ibu bekerja dalam


pemberian ASI eksklusif paling banyak bersikap negatif
yaitu 33 orang (55%), dan paling sedikit bersikap positif
yaitu 27 orang (45%).

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Tindakan Ibu
Tindakan ibu dalam pemberian ASI eksklusif dapat
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.4.
Distribusi Rendahnya Pemberian Asi Eksklusif Pada
Ibu Bekerja Berdasarkan Tindakan Di Lingkungan
XX Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan
Johor Tahun 2013
No.
Tindakan
Jumlah
Persentase
1. Negatif
2. Positif
Jumlah

32
28
60

53,3
46,7
100

Berdasarkan tabel diatas tindakan ibu bekerja


dalam pemberian ASI eksklusif paling banyak bersikap
negatif yaitu 32 orang (53,7%), dan paling sedikit bersikap
positif yaitu 28 orang (46,7%).
4.1.1.5. Pemberian ASI Ekslusif
Pemberian ASI eksklusif bagi ibu bekerja di
kategorikan atas memberikan ASI eksklusif dan tidak
memberikan ASI Eksklusif, dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 4.5.
Distribusi Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu Bekerja
Berdasarkan Tindakan Di Lingkungan XX Kelurahan
Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor Tahun 2013
No. Pemberian
ASI Jumlah
Persentase
Ekslusif
1. Tidak diberikan
39
65,0
2. Diberikan
21
35,0
Jumlah
60
100
Berdasarkan tabel diatas paling banyak ibu
bekerja tidak memberikan ASI eksklusif yaitu 39 orang
(65%), dan paling sedikit ibu bekerja memberikan ASI
eksklusif yaitu 21 orang (35%).
Analisa Bivariat
Analisa bivariat untuk mengetahui hubungan
pengetahuan, jarak tempat tinggal, sikap ibu, tindakan ibu
dengan pemberian asi ekslusif dapat dilihat pada tabel
berikut :
Hubungan Pengetahuan Dengan Pemberian ASI
Eksklusif Pada Ibu Bekerja
Distribusi hubungan pengetahuan dengan
pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja dapat dilihat
pada tabel berikut ini :
Tabel 4.6.
Hubungan Pengetahuan Dengan Pemberian ASI
Ekslusif Di Lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala
Kecamatan Medan Johor Tahun 2013
Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah

Pemberian ASI
Tidak
Diberikan
diberikan
n
%
n
%
2
3,3
9
15,0
9
15,0 10 16,7
28 46,7
2
3,3
39 65,0 21 35,0

Jumlah
n
11
19
30
62

Berdasarkan tabel diatas dari 30 orang ibu yang


berpengetahuan kurang (50,0%), paling banyak yang tidak
memberikan ASI eksklusif yaitu 28 orang (46,7%), dan
paling sedikit yang memberikan ASI eksklusif yaitu 2
orang (3,3%).
Hasil uji chi-square menyatakan Ho ditolak jika
probabilitas < 0,05. Hasil analisa dengan uji Chi-square
diperoleh X2 hitung 23,781 dan nilai probabilitas (p =
0,000 < 0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya
terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu
dengan pemberian ASI eksklusif .
Hubungan Jarak Tempat Tinggal Dengan Pemberian
ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja
Distribusi hubungan jarak tempat tinggal dengan
pemberian ASI eksklusif dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
Tabel 4.7.
Hubungan Jarak Tempat Tinggal Dengan Pemberian
ASI Ekslusif Di Lingkungan XX Kelurahan Kwala
Bekala Kecamatan Medan Johor Tahun 2013
Pemberian ASI Eksklusif
Jarak
Tempat
Tinggal
Jauh

Diberikan

Jumlah

n
2

%
3,3

n
37

%
61,7

X2hit

Prob

Sedang
Dekat

2
2

3,3
3,3

7
12

11,7
20,0

9
14

15,0
23,3 37,311 0,000

Jumlah

39

65,0

21

35,0

60

100

Berdasarkan tabel tersebut dari 37 orang ibu


yang jarak tempat tinggalnya jauh dari tempat bekerja yaitu
37 orang (61,7%), paling banyak yang tidak memberikan
ASI eksklusif yaitu 35 orang (58,3%) dan paling sedikit
ibu yang memberikan ASI eksklusif yaitu 2 orang (3,3%)
Hasil uji chi-square menyatakan Ho ditolak jika
probabilitas < 0,05. Hasil analisa dengan uji Chi-square
diperoleh X2 hitung 37,311 dan nilai probabilitas (p =
0,000 < 0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya
terdapat hubungan yang signifikan antara jarak tempat
tinggal ibu yang bekerja dengan pemberian ASI eksklusif.
Hubungan Sikap Ibu Dengan Pemberian ASI
Eksklusif Pada Ibu Bekerja
Distribusi hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI
eksklusif dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.8.
Hubungan Sikap Dengan Pemberian ASI Ekslusif Di
Di Lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala
Kecamatan Medan Johor Tahun 2013
Sikap

X2hit Prob

%
18,3
31,7
23,781 0.000
50,0
100

Tidak
diberikan
n
%
35 58,3

Negatif

Pemberian ASI
Eksklusif
Tidak
Diberikan
diberikan
n
%
n
%
30 50,0
3
5,0

Jumlah
n
33

%
55,0

Positif

15,0

18

30,0

27

45,0

Jumlah

39

65,0

21

35,0

60

100

X2hit

Prob

19,182

0,000

23

Elisabeth Surbakti

Faktor-Faktor yang Berhubungan

Berdasarkan tabel tersebut dari 33 orang ibu


bekerja (55%) yang bersikap negatif, paling banyak ibu
yang tidak memberikan ASI eksklusif yaitu 30 orang
(50%), dan paling sedikit yang memberikan ASI eksklusif
yaitu 3 orang (5,0%).
Hasil uji chi-square menyatakan Ho ditolak jika
probabilitas < 0,05. Hasil analisa dengan uji Chi-square
diperoleh X2 hitung 19,182 dan nilai probabilitas (p =
0,000 < 0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya
terdapat hubungan yang signifikan antara sikap ibu bekerja
dengan pemberian ASI eksklusif.
Hubungan Tindakan Ibu Dengan Pemberian ASI
Eksklusif Pada Ibu Bekerja
Distribusi hubungan tindakan ibu dengan pemberian
ASI eksklusif pada ibu bekerja dilihat pada tabel berikut
ini:
Tabel 4.9.
Hubungan Tindakan Ibu Dengan Pemberian ASI
Ekslusif Di Di Lingkungan XX Kelurahan Kwala
Bekala Kecamatan Medan Johor Tahun 2013
Pemberian ASI
Eksklusif
Tindakan
Tidak
Diberikan
Diberikan
n
%
n
%
Negatif
30 50,0 2
3,3
Positif
9 15,0 19 31,7
Jumlah 39 65,0 21 35,0

Jumlah
n
32
28
60

%
53,3
46,7
100

X2hit

Prob

22,279

0,000

Berdasarkan tabel tersebut dari 32 orang


(53,3%) ibu bekerja yang bertindak negatif, paling banyak
yang tidak memberikan ASI Eksklusif yaitu 30 orang
(50,0%) dan paling sedikit yang memberikan ASI eksklusif
yaitu 2 orang (3,3%).
Hasil uji chi-square menyatakan Ho ditolak jika
probabilitas < 0,05. Hasil analisa dengan uji Chi-square
diperoleh X2 hitung 22,279 dan nilai probabilitas (p =
0,000 < 0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya
terdapat hubungan yang signifikan antara tindakan dengan
pemberian ASI eksklusif.
Hubungan Pengetahuan Dengan Pemberian ASI
Eksklusif Pada Ibu Bekerja
Pengetahuan merupakan komponen terpenting
serta sebagai stimulus untuk membentuk tindakan ibu
dalam penerapan ASI eksklusif (Mudjiono, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian Pengetahuan ibu
bekerja banyak dalam kategori kurang yaitu 30 orang
(50%), dan paling sedikit dalam kategori baik yaitu 11
orang (18,3%). Hasil uji chi-square diperoleh nilai
probabilitas (p = 0,000 < 0,05) artinya terdapat hubungan
yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan pemberian
ASI eksklusif .
Menurut hasil penelitain ibu bekerja belum
mengetahui manfaat ASI eksklusif dan nilai-nilai gizi
yang terkandung di dalam ASI eksklusif sehingga
pemberian ASI eksklusif tidak maksimal dan secara
kontinu di berikan pada anaknya. Ibu tidak mengetahui
bahwa di dalam ASI mengandung anti infeksi terhadap
berbagai macam penyakit, seperti ISPA (Infeksi

24

Saluran Pernapasan Atas) , diare, dan penyakit saluran


pencernaan.
Hubungan Jarak Tempat Tinggal Dengan Pemberian
ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja
Jarak merupakan panjang lintasan yang ditempuh
oleh ibu yang bekerja mulai dari awal ibu dirumah sampai
ibu berada ditempat bekerja. Jarak rumah dari tempat
bekerja mempengaruhi pemberian ASI bagi bayi. Paling
banyak ibu bekerja menempuh jarak yang jauh (> 15 km)
dari tempat kerja yaitu 37 orang (61,7%) dan paling sedikit
menempuh jarak yang sedang (10-15 km) dari tempat
bekerja yaitu 9 orang (15%). Hasil uji chi-square
menyatakan nilai probabilitas (p = 0,000 < 0,05), artinya
terdapat hubungan yang signifikan antara jarak tempat
tinggal ibu yang bekerja dengan pemberian ASI eksklusif.
Menurut Maryuni (2009) bahwa lokasi atau
tempat bekerja ibu yang jauh dari lingkunagn tempat
tinggal sehingga ibu tidak sempat memberikan ASInya.
Menurut peneliti ibu yang jarak tempuh dari
tempat bekerjanya dekat dan sedang, akan berupaya
memberikan ASInya pada waktu jam istirahat,
sedangkan bagi ibu yang jarak tempat kerjanya yang
jauh tidak memungkinkan untuk memberikan ASI. Hal
ini disebabkan karena bila jarak tempuh ibu jauh, akan
memakan waktu yang lama untuk kembali ketempat
kerja, dan hal ini akan membuat ibu merasa tidak
mentaati peraturan dan jam kerja yang sudah ditetapkan
kepadanya.
Hubungan Sikap Ibu Dengan Pemberian ASI
Eksklusif Pada Ibu Bekerja
Sikap adalah penilaian atau berupa pendapat
seseorang terhadap stimulus atau objek (dalam hal ini
adalah pemberian ASI eksklusif). Setelah seseorang
mengetahui stimulus atau objek, proses selanjutnya akan
menilai atau bersikap terhadap stimulus atau objek
tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian sikap ibu bekerja
dalam pemberian ASI eksklusif paling banyak bersikap
negatif yaitu 33 orang (55%), dan paling sedikit bersikap
positif yaitu 27 orang (45%). Hasil uji chi-square diperoleh
nilai probabilitas (p = 0,000 < 0,05) artinya terdapat
hubungan yang signifikan antara sikap ibu bekerja dengan
pemberian ASI eksklusif.
Sikap merupakan cara-cara ibu memelihara dan
cara-cara berprilaku hidup sehat dalam hal ini juga yaitu
penerapan ASI eksklusif. Menurut hasil penelitian sikap
ibu dalam menanggapi secara positif makna dari
pemberian ASI kepada balita selain melambangkan rasa
keterikatan dan jalinan kasih sayang ibu terhadap anaknya,
juga dapat meningkatkan kekebalan tubuhnya, sehingga
nantinya balita tersebut tidak mudah sakit.
Hubungan Tindakan Ibu Dengan Pemberian ASI
Eksklusif Pada Ibu Bekerja
Sikap merupakan suatu perbuatan nyata yang
memerlukan faktor pendukung yang berupa fasilitas,

Jurnal Ilmiah PANNMED

disamping itu faktor dukungan (support) dari pihak lain


didalam praktek atau tindakan.
Berdasarkan tabel diatas tindakan ibu bekerja
dalam pemberian ASI eksklusif paling banyak bersikap
negatif yaitu 32 orang (53,7%), dan paling sedikit bersikap
positif yaitu 28 orang (46,7%). Hasil uji chi-square
diperoleh nilai probabilitas (p = 0,000 < 0,05) artinya
terdapat hubungan yang signifikan antara tindakan dengan
pemberian ASI eksklusif.
Sering kali alasan pekerjaan membuat seorang ibu
merasa kesulitan untuk memberikan ASI secara eksklusif.
Banyak diantaranya disebabkan karena ketidak tahuan.
Selain itu Ibu terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga
tidak ada waktu untuk menyusui bayinya serta kurangnya
minat untuk menyusui bayinya (Anik Maryuni, 2009).
Menurut hasil penelitian sikap ibu yang negatif
disebabkan karena ibu menganggap bahwa susu botol yang
selama ini diberikan sudah dapat memenuhi rasa lapar
bayi, sehingga ibu yang tempat pekerjaannya berjarak
antara 10-15 km merasa tidak perlu pulang untuk
menyusui bayinya.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
mengenai Faktor-faktor yang berhubungan dengan
rendahnya pemberian asi eksklusif pada ibu bekerja di
lingkungan XX Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan
Medan Johor Tahun 2013 dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Ibu berpengetahuan kurang paling banyak yang
tidak memberikan ASI eksklusif yaitu 28 orang
(46,7%). Hasil uji chi-square diperoleh nilai
probabilitas (p = 0,000 < 0,05), artinya terdapat
hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu
dengan pemberian ASI eksklusif.
2. Ibu yang jarak tempat tinggalnya jauh dari tempat
bekerja paling banyak yang tidak memberikan ASI
eksklusif yaitu 35 orang (58,3%). Hasil uji chisquare nilai probabilitas (p = 0,000 < 0,05) maka,
artinya terdapat hubungan yang signifikan antara
jarak tempat tinggal ibu yang bekerja dengan
pemberian ASI eksklusif.
3. Ibu yang bersikap negatif, paling banyak ibu yang
tidak memberikan ASI eksklusif yaitu 30 orang
(50%). Hasil uji chi-square diperoleh nilai
probabilitas (p = 0,000 < 0,05) artinya terdapat
hubungan yang signifikan antara sikap ibu bekerja
dengan pemberian ASI eksklusif.
Saran
1. Bagi Ibu
Agar menambah pengetahuan dan wawasan tentang
cara pemberian dan manfaat ASI eksklusif

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

2.

3.

4.

Bagi Masyarakat
Menambah informasi bagi masyarakat untuk
meningkatan kualitas anak yang sehat.
Bagi Penelitian Lanjutan
Sebagai bahan masukan untuk dapat melakukan
penelitian lanjutan dengan memperbanyak sampel dan
menggali faktor lain yang berpengaruh.
Bagi Institusi Pendidikan
Agar melengkapi perpustakaan dengan buku-buku
yang berkaitan dengan ASI eksklusif.

DAFTAR PUSTAKA
Abah, 2003, The World Health Organitation (WHO),
www.abah jack.com, Surabaya
Andi, 2007, Pengertian Jarak, http//Wikipedia
Azwar S, 2005, Pengukuran Sikap dalam Opini Public,
http//Aipoel, word press.com. Jakarta
Anik maryuni, 2009, Buku Pintar Ibu Menyusui, Arcan,
Jakarta
Dania aprilia, 2009, Promosi ASI eksklusif,
http//blogspot.com Jakarta
Departemen Kesehatan, 2007, Profil Kesehatan Sumatera
Utara, Depkes, Medan
Dinkes Propsu, Profil Kesehatan Propinsi Sumatera
Utara, 2008.
Enje, 2007, Hak Menyusui pada Perempuan Bekerja,
http//blogspot.com, Jakarta
FK USU, 2005, Pengertian ASI Eksklusif,
http//www.usu.com/kliping
Indiarti, MT, 2007, Panduan Lengkap Kehamilan,
Persalinan dan Perawatan Bayi, Diglossia Media,
Yogyakarta
Muhammad S, 2008, Air Susu Ibu (ASI),
http//Baitijanati.wordpress.com, Jakarta
Moedjiono, 2007, Pengantar Ilmu Keperawatan Anak,
Buku 1, Edisi Pertama, Salemba Medika, Jakarta
Notoatmodjo, 2003, Metodologi Penelitian Kesehatan,
Rineka Cipta, Jakarta
Politeknik Kesehatan, 2006, Panduan Penyusunan Karya
Tulis Ilmiah (KTI), Politeknik Kesehatan, Medan
Sitopeng, 2008, Pengaruh Asi Terhadap Emosional Pada
Anak, http//Aipoel, word press.com. Jakarta
Sri Kun, 2008, Handbook Ibu Menyusui, Bandung, PT.
Karya Kita.
Utami Ningsih, 2000, Air Susu ibu (ASI),
http//blogspot.com, Jakarta
Utami roesli, 2007, Rekomendasi tentang Pemberian
Makanan Pendamping ASI
Wahyu WB. 2007. ASI, Anugerah Terindah yang
Kadang Terlupakan.

25

HUBUNGAN PERAWATAN PAYUDARA TERHADAP PRODUKSI ASI


PADA IBU POST PARTUM DI RUMAH BERSALIN TUTUN SEHATI
TANJUNG MORAWA 2013

Masnila
Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Medan

Abstrak
Perawatan payudara adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk merawat payudara dalam upaya
memperlancar pengeluaran ASI. Perawatan payudara sebaiknya dilakukan selama masa kehamilan trimester
ketiga karena akan berhubungan terhadap produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan perawatan payudara terhadap produksi ASI pada ibu post partum di Rumah Bersalin Tutun Sehati
Tanjung Morawa 2013. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik dengan metode pengumpulan data
dengan cara mewawancarai langsung responden yang diteliti dengan instrumen penelitian checklist. Desain
rancangan penelitian adalah cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi
antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus
pada suatu saat. Adapun populasi dari penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester ketiga yang
dilakukan perawatan payudara di Rumah Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa dengan jumlah sampel
adalah sebanyak 20 orang dengan tehnik pengambilan sampel purposive sampling, yaitu pengambilan
sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang telah ditentukan oleh peneliti sendiri. Dari 20 responden
yang melakukan perawatan payudara, terdapat 14 orang (70%) yang melakukan perawatan payudara dengan
baik dan sebanyak 11 orang (55%) yang menghasilkan produksi ASI yang tidak baik ada 3 orang (15%),
dan 6 orang (30%) yang tidak melakukan perawatan payudara mengahasilkan produksi ASI yang tidak
baik. Berdasarkan analisa data statistik dengan uji chi square didapatkan nilai p value 0,001 yang berarti ada
hubungan perawatan payudara terhadap produksi ASI. Kepada pimpinan RB Tutun Sehati Tanjung Morawa
disarankan agar lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas dari penyuluhan tentang perawatan payudara
kepada ibu hami, agar ibu hamil lebih memahaminya dan melakukannya. Kepada petugas di RB Tutun
Sehati Tanjung Morawa agar melaksanakan perawatan payudara mulai dari kehamilan trimester ketiga
hingga masa nifas dan memberikan penyuluhan dan penjelasan yang maksimal tentang perawatan payudara
sehingga ibu-ibu tahu bagaimana merawat payudara yang baik dan benar demi menjaga kelancaran ASI.
Kepada ibu-ibu yang melakukan pemeriksaan kehamilan serta ibu-ibu post partum untuk meningkatkan
wawasan dan pengetahuan tentang perawatan payudara dengan rutin serta rajin bertanya khususnya dalam
masalah perawatan payudara.
Kata kunci : Perawatan payudara, Produksi ASI
PENDAHULUAN
ASI (air susu ibu) adalah susu yang diproduksi oleh
manusia untuk dikonsumsi bayi dan merupakan sumber
gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan
padat (Maryunani A, 2012).
Bayi yang sehat, lahir dengan membawa cukup
cairan di dalam tubuhnya. Kondisi ini akan tetap terjaga
bahkan dalam cuaca panas sekalipun, bila bayi diberi ASI
secara eksklusif (ASI saja) siang dan malam. Namun
sayangnya kebiasaan memberi cairan pada bayi selama 6
bulan, yaitu pemberian ASI eksklusif, masih
belum
banyak dilakukan, yang berakibat buruk pada gizi dan
kesehatan bayi (Linkagesproject, 2002).
Rendahnya pemberian air susu ibu (ASI)
merupakan ancaman bagi tumbuh kembang anak. Seperti

26

diketahui, bayi yang tidak diberi ASI setidaknya 6 bulan,


lebih rentan mengalami kekurangan nutrisi.
Pemberian ASI secara eksklusif dapat menekan
kematian bayi hingga 13%. Namun tingkat pemberian ASI
eksklusif di Indonesia masih rendah , yaitu dari 40% pada
tahun 2002 menjadi 32% pada tahun 2007. Sedangkan
tingkat pemberian ASI secara eksklusif di tanah air
khususnya Sumatera Utara pada tahun 2005 mencapai
32% dan pada tahun 2010 hanya 34%.
Sedangkan berdasarkan data Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) 2010 juga menunjukkan pemberian
ASI di Indonesia juga masih memprihatikan.
Persentase bayi yang menyusu eksklusif sampai dengan
6 bulan hanya 15,3%. Hal ini disebabkan karena
kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan
ASI masih lebih rendah (Maryunani A, 2012)

Jurnal Ilmiah PANNMED

Bayi yang mendapat ASI lebih jarang menderita


penyakit, seperti leukimia dan tiga kali lebih jarang resiko
dirawat dengan sakit saluran pernapasan di bandingkan
anak susu formula, sekitar 16,7 kali lebih jarang
pneumonia, sekitar 47% lebih jarang menderita diare,
menghindarkan kurang gizi dan vitamin, lebih jarang
obesitas atau kegemukan, mengurangi resiko diabetes
mellitus.
Berdasarkan penelitian Richards dalam Maryunani
A (2012) dilakukan penelitian di Inggris, dari 1736 anak di
tes, ditemukan anak ASI secara bermakna menunjukkan
hasil pendidikan lebih tinggi. Penelitian di Jerman juga
ditemukan masa lamanya menyusui mempengaruhi IQ
seorang anak. Anak yang menyusu ASI lebih dari 6 bulan
memiliki IQ lebih tinggi di bandingkan anak yang
menyusu ASI kurang dari dari 1 bulan, karena ASI
meningkatkan kepandaian.
Pentingnya ASI atau air susu ibu merupakan satusatunya makanan terbaik bagi bayi. Sebagai seorang ibu
harus menyadari betapa pentingnya ASI terhadap tumbuh
kembang dan kesehatan bayi. Banyak sekali kandungan
gizi yang terdapat didalam ASI, salah satunya adalah
mengandung protein yang cukup tinggi dibanding susu
formula yang banyak dijual di pasaran yang mana ASI
mengandung whey (protein utama dari susu yan berbentuk
cair) lebih banyak daripada casein (protein utama dari susu
yang berbentuk gumpalan) dengan perbandingan 65:35).
Komposisi ini yang menyebabkan protein ASI lebih
mudah diserap oleh tubuh bayi.
Disamping itu juga, ASI memiliki kandungan
sebagai zat pelindung antara lain, yaitu: Laktobacilus
bifidus yang berfungsi untuk menghambat dan melindungi
usus bayi dari peradangan atau penyakit yang ditimbulkan
oleh infeksi beberapa jenis bakteri merugikan, seperti
bakteri E.coli. Laktoferin yang berfungsi untuk
menghambat perkembangan jamur kandida dan bakteri
stafilokokus yang merugikan kesehatan bayi. Lisozom
bermanfaat untuk mengurangi karies dentis serta dapat
memecah dinding bakteri yang merugikan. Serta
Immunoglobulin A (Ig A) yang berfungsi sebagai antibodi
yang dapat melumpuhkan bakteri patogen E.coli dan
berbagai virus pada saluran pencernaan.
Suriviana mengatakan bahwa pada ibu post partum
yang berusia (19-23 tahun) pada umumnya lebih banyak
menghasilkan ASI dibandingkan dengan wanita yang
berusia 30an. Banyak ASI yang dihasilkan oleh seorang
ibu tidak tergantung pada besarnya payudara, tetapi
terlebih pada gizi ibu hamil dan menyusui. Faktor lain
yang mempengaruhi produksi ASI juga adalah perawatan
payudara. Perawatan payudara yang dilakukan dengan
benar dan teratur akan melancarkan produksi ASI dan akan
memudahkan sikecil dalam mengkonsumsi ASI serta dapat
mengurangi resiko luka saat menyusui. Banyak ibu yang
mengeluhkan bayinya tak mau menyusu, hal ini karena
disebabkan oleh faktor teknis seperti puting susu yang
masuk atau posisi yang salah. Keberhasilan ibu dalam
melakukan perawatan payudara tidak hanya dipengaruhi
atau tergantung pada petugas kesehatan. Hasil dari
perawatan payudara adalah kelancaran ASI maka
pengetahuan ibu terhadap perawatan payudara merupakan

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

keadaan yang perlu diperhatikan secara serius. Jika ibu


tidak mengetahui manfaat perawatan payudara selama
hamil dan setelah melahirkan maka dapat menimbulkan
keraguan ibu dalam melakukan perawatan payudara .
Perawatan payudara sangat penting dilakukan
selama hamil sampai masa menyusui. Hal ini karena
payudara merupakan satu-satunya penghasil ASI yang
merupakan makanan pokok bayi yang baru lahir sehingga
dilakukan sedini mungkin. Bila seorang ibu hamil tidak
melakukan perawatan payudara selama masa kehamilan
dan hanya melakukan perawatan payudara pada pasca
persalinan maka akan menimbulkan beberapa
permasalahanan seperti: ASI tidak keluar, air susu akan
keluar setelah beberapa hari kemudian, puting susu tidak
menonjol, produksi ASI sedikit dan tidak lancar, infeksi
pada payudara, serta muncul benjolan pada payudara.
Berkaitan dengan pemberian ASI, salah satu hal
yang penting dilakukan dalam upaya persiapan pemberian
ASI yaitu melakukan perawatan payudara yang dilakukan
pada selama kehamilan trimester ketiga maupun setelah
selesai masa persalinan. Selama kehamilan payudara akan
membengkak dan daerah sekitar puting warnanya akan
lebih gelap. Dengan adanya pembengkakan tersebut,
payudara menjadi mudah teriritasi dan mudah luka. Oleh
karena itu perlu dilakukan perawatan payudara selama
hamil (Saryono, 2009). Akan tetapi pada kenyataannya
banyak ibu hamil yang mengabaikan perawatan payudara.
Hal ini dikarenakan ibu malas dan belum mengetahui
manfaat dari perawatan payudara tersebut (Dedek, 2008)
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di
klinik Tutun Sehati Tanjung Morawa pada tanggal 5-6
maret 2013, terdapat 10 orang ibu hamil trimester ketiga
yang melakukan pemeriksaan ANC, yang mana 7 dari ibu
hamil tersebut mengatakan tidak pernah melakukan
perawatan payudara, dan tiga wanita lainnya mengatakan
telah melakukan perawatan payudara, tetapi tidak rutin.
Sedangkan pada ibu post partum yang sedang rawat inap di
klinik tersebut ada 5 orang, dari kelima ibu post partum
tersebut hanya 2 orang yang mengatakan sudah melakukan
perawatan payudara. Dengan volume produksi ASI yang
dihasilkan sebanyak 150cc. Dan ketiga ibu post partum
lainnya tidak melakukan perawatan payudara.
Dari uraian diatas , penulis tertarik untuk meneliti
Hubungan Perawatan Payudara terhadap Produksi ASI
pada Ibu Post Partum di Rumah Bersalin Tutun Sehati
Tanjung Morawa tahun 2013.
Dari uraian latar belakang diatas, maka peneliti
membuat
rumusan
masalah
sebagai
berikut:
Bagaimanakah Hubungan Perawatan Payudara terhadap
Produksi ASI pada Ibu Post Partum di Rumah Bersalin
Tutun Sehati Tanjung Morawa Tahun 2013.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan perawatan payudara
terhadap produksi ASI pada ibu post partum di rumah
bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa 2013.

27

Masnila

Hubungan Perawatan Payudara...

Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui gambaran perawatan payudara
pada ibu post
partum
di Rumah Bersalin
Tutun Sehati Tanjung Morawa.
2. Untuk mengetahui gambaran produksi ASI setelah
dilakukaperawatan payudara pada ibu post partum
di Rumah Bersalin Tutun
Sehati Tanjung
Morawa.
3. Untuk mengetahui hubungan perawatan payudara
terhadap produksi
ASI di Rumah Bersalin Tutun
Sehati Tanjung Morawa.
Manfaat penelitian
1. Bagi Masyarakat/Ibu
Dapat
memberikan
informasi/menambah
pengetahuan ibu tentang perawatan payudara pada
masa post partum.
2. Bagi peneliti
Dengan diadakan penelitian secara tepat maka dapat
diketahui hasil yang secara relevan sehingga dapat
dijadikan masukan penelitian selanjutnya dan untuk
menambah pengetahuan serta wawasan dalam
perawatan payudara khususnya pada ibu post
partum.
3. Bagi Ibu
Untuk menambah pengetahuan ibu dalam perawatan
payudara.
4. Bagi Rumah bersalin
Sebagai masukan bagi RB Tutun Sehati untuk
menatapkan sop
perawatan payudara pada ibu
post partum di RB Tutun Sehati
dalam
meningkatkan produktifitas ASI.
Hipotesa Penelitian
1. Ho : Tidak ada hubungan perawatan
terhadap produksi ASI pada
partum.
2. Ha : Ada hubungan perawatan
terhadap produksi ASI pada
partum.

payudara
ibu post
payudara
ibu post

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik
dengan metode pengumpulan data dengan cara
mewawancarai langsung responden yang diteliti dengan
instrumen penelitian checklist. Desain rancangan penelitian
adalah cross sectional yaitu suatu penelitian untuk
mepelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko
dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat
(Notoadmodjo, 2010).
Penelitian dilaksanakan di Rumah Bersalin Tutun
Sehati Tanjung Morawa dan waktu pelaksanaan penelitian
ini dimulai dari bulan November 2012 sampai Juli 2013.
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil
trimester ketiga yang melakukan perawatan payudara di
Rumah Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa tahun
2013, dengan jumlah populasi 20 orang.

28

Sampel merupakan bagian populasi atau bagian


dari karakteristik yang dimiliki populasi (Alimul, 2007).
Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah
purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan
berdasarkan petimbangan tertentu yang telah ditentukan
oleh peneliti sendiri. Kriteria inklusi sampel penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Ibu hamil dengan usia kehamilan trimester ketiga
2. Bersedia menjadi responden.
3. Bersedia melakukan perawatan payudara.
4. Mampu berbahasa indonesia.
5. Sehat jasmani dan rohani.
Jenis pengumpulan yang dipergunakan adalah
data primer yang diperoleh secara langsung dari hasil
pengamatan, subjek penelitian dilakukan pengamatan
secara langsung. Setelah itu peneliti melakukan perawatan
payudara dengan tiga tahapan:
a. Tahap persiapan
Meliputi persiapan penelitian, persiapan pasien
sebagai subjek penelitian (tetap menjaga
kenyamanan dan privasi klien) .
b. Tahap Pelaksanaan
Proses pengajaran dimulai dengan memberi salam
dan perkenalan dari peneliti, melakukan
pendekatan dengan responden supaya klien merasa
nyaman dalam mengemukakan masalah, membina
hubungan saling percaya, menjelasakan prosedur
dan tujuan penelitia, mengajarkan perawatan
payudara selama 5-20 menit dengan mengikuti
panduan penelitian.
c. Tahap Penutup
Peneliti menevaluasi kembali tentang apa yang
sudah diajarkan dan merangkum semua hasil
diskusi dengan klien dan memberikan dukungan
bahwa klien mampu melakukan perawatan
payudara.
Pengukuran Variabel
1. Perawatan payudara
a. Dilakukan dengan baik, bila responden
melakukan perawatan payudara 2x sehari,
pada waktu mandi pagi dan sore hari.
b. Tidak dilakukan dengan baik, bila responden
hanya melakukan perawatan payudara
sebanyak 1xsehari atau tidak tentu.
2. Produksi ASI
a. Produksi ASI baik, bila: ASI ada pada hari (24),Lancar dengan
jumlah ASI 150300ml/hari.
b. Produksi ASI tidak baik, bila: produksi ASI
pada ada pada hari
(2-4),tetapi tidak
lancar,dengan jumlah ASI 150ml/hari.
Pengolahan Data
a. Editing
Yaitu dilakukan pengecekan kelengkapan pada
yang telah terkumpul, bila terdapat kesalahan dan
kekurangan dalam pengumpulan data, akan
diperbaiki dengan memeriksanya dan dilakukan
pendataan ulang.

Jurnal Ilmiah PANNMED

b.

c.

d.

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Coding
Yaitu pemberian kode atau tanda pada setiap data
yang telah terkumpul untuk mempermudah
memasukkan ke dalam tabel.
Entry Data
Data yang telah diedit akan dimasukkan ke
mdalam komputer untuk diolah dengan bantuan
komputer.
Tabulating
Yaitu untuk mempermudah analisa data,
pengolahan data serta pengambilan kesimpulan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

Analisa Data
Analisa data yaitu pengukuran terhadap
masing-masing variabel kemudian ditampilkan dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi sehingga dicari
besarnya persentasi untuk masing-masing hasil
pengamatan dengan menggunakan uji hipotesis Chi
Square dan data disajikan dalam bentuk tabel.
HASIL PENELITIAN
Gambaran Lokasi Penelitian
Adapun tempat penelitian di Rumah bersalin
Tutun Sehati yang
berada di Jl.Medan-Tanjung
Morawa.KM 17.Gg.Serasi. Klinik Tutun Sehati berdiri
sejak tahun 1994, dengan nomor surat izin berdiri:
1049/440/RB/DS/2010. Luas Rumah bersalin Tutun
Sehati Berkisar 520m2 dengan fasilitas 3 kamar rawat
inap,1 klinik gigi, 1 kamar bangsal, 1 ruang PK,1
Ruang IGD,1 ruang tempat pendaftaran pasien
jampersal. Klinik Tutun sehati melayani pemeriksaan
kehamilan, pemeriksaan USG, imunisasi, KB, dan
pemeriksaan gigi. Dengan ketenagakerjaan 1 dokter
obgyn, 1 dokter umum, 7 bidan sebagai pegawai tetap.
Kunjungan pasien yang bersalin di bulan Januari
sampai dengan Juni 2013 sebanyak 155 orang dan yang
dirujuk ke rumah sakit Grand Medistra sebanyak 56
orang, pasien umum/berobat jalan sekitar 200 orang
dan yang imunisasi mulai bulan januari - Juni 2013
sebanyak 493 balita. Klinik bersalin yang sering
dijadikan
sebagai sarana
pendidikan
bagian
mahasiswa/mahasiswi. Adapun jumlah ibu yang
melakukan pemeriksaan ANC trimester ketiga mulai
dari April Juni 2013 adalah sebanyak 85 orang.
Tabel 1
Distribusi frekuensi responden berdasarkan
perawatan payudara yang dilakukan di Rumah
Bersalin Tutun Sehati Tanjung Morawa 2013
Perawatan Payudara

Perawatan payudara
dilakukan dengan baik

14

70

Perawatan payudara tidak


dilakukan dengan baik
Total

6
20

30
100

Dari tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa


mayoritas
responden
melaksanakan
perawatan
payudara dengan baik sebanyak 14 orang (70%).
Tabel 2
Distribusi frekuensi responden berdasarkan
produksi ASI setelah dilakukan perawatan
payudara di Rumah bersalin Tutun Sehati Tanjung
Morawa 2013
Produksi ASI

Baik

11

55

Tidak Baik
Total

9
20

45
100

Dari tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa


mayoritas responden yang menghasilkan produksi ASI
yang baik sebanyak 11 orang (55%).
Tabel 3
Distribusi frekuensi hubungan perawatan payudara
terhadap produksi ASI di Rumah Bersalin Tutun
Sehati Tanjung Morawa 2013
Produksi ASI
Baik
Jumlah
%
Perawatan
Tidak Baik
p.value
Payudara
F
%
F
%
Dilakukan dengan baik
11 55
3
15
14
70
Dilakukan dengan tidak baik
0
0
6
0,01
30
6
30
Jumlah
11 55
9
45
20
100
Dari tabel 3 hasil penyilangan perawatan
payudara dengan produksi ASI diatas dapat disimpulkan
bahwa responden yang dilakukan perawatan payudara
dengan baik menghasilkan produksi ASI yang baik
sebanyak 11 orang (55%), dan tidak mendapatkan
produksi ASI yang baik sebanyak 3 orang (15%).
Sedangkan responden yang tidak dilakukan perawatan
payudara dengan baik tidak mendapatkan produksi ASI
yang baik sebanyak 6 orang (30%) dan yang mendapatkan
produksi ASI yang baik tidak ada.
Melihat hasil penyilangan dua variabel antara
perawatan payudara dengan produksi tersebut ASI bahwa
ada hubungan perawatan payudara terhadap produksi ASI
yaitu sebanyak 11 orang (55%). Dari hasil analisis chi
square didapatkan nilai p value sebesar 0,01 <=0,05 yang
berarti ada hubungan perawatan payudara terhadap
produksi ASI.

29

Masnila

Hubungan Perawatan Payudara...

PEMBAHASAN
1.

2.

30

Perawatan Payudara
Berdasarkan tabel 1 dari 20 responden yang
dilakukan perawatan payudara, terdapat 14 (70%)
orang yang dilakukan perawatan payudara dengan
baik dan 6 (30%) yang dilakukan perawatan
payudara dengan tidak baik. Yang mana jika
dikatakan perawatan payudara dilakukan dengan
baik apabila perawatan payudara tersebut
dilakukan pada trimester ketiga, dilakukan 2x
sehari pada saat mandi pagi dan sore. Dan
perawatan payudara yang dilakukan dengan tidak
baik yaitu jika perawatan payudara hanya
dilakukan 1x sehari, tidak tentu dan hanya
dilakukan pada masa pasca persalinan saja.
Hal ini sesuai dengan teori Kristiyanasari W
(2010), bahwa jika perawatan payudara rutin
dilakukan 2x sehari selama usia kehamilan
trimester ketiga dan setelah pasca persalinan maka
akan membantu memperlancar pengeluaran ASI,
menjaga kebersihan payudara, melenturkan dan
menguatkan puting susu. Dan apabila seorang ibu
Hamil tidak melakukan perawatan payudara
selama masa hamilnya dan perawatan payudara
tersebut hanya dilakukan pada masa pasca
persalinan saja ,maka akan dapat menimbulkan
berbagai permasalahan seperti: ASI tidak keluar,
asi keluar setelah beberapa hari kemudian,
produksi ASI sedikit dan tidak lancar,sehingga
tidak cukup untuk dikonsumsi bayi, serta infeksi.
Produksi ASI
Berdasarkan pada tabel 2 dari 20 orang yang
melakukan perawatan payudara dengan baik ada
sebanyak 14 orang (70%) setelah dilakukan
perawatan payudara yang baik yang menghasilkan
produksi ASI yang baik ada 11 orang (55%)
dengan jumlah prosuksi ASI yang dihasilkan yaitu
sebanyak 6-12,5cc/jam. Cara pengukuran ASI
yang dilakukan adalah yaitu dengan cara
menanyakan kepada ibu sudah berapa lama tidak
menyusui kemudian dilakukan penyedotan ASI
lalu jumlah produksi ASInya dihitung lalu dibagi
24. Produksi ASI adalah proses terjadinya
pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh
isapan mulut bayi padang puting susu ibu.
Menyusui yang terbaik bagi ASI mudah dicerna
dan memberikan gizi dalam jumlah yang cukup
untuk kebutuhan bayi. Air susu ibu membantu
melindungi bayi dari berbagai penyakit dan
infeksi,membantu mencegah alergi makanan.
Produksi air susu tidak bergantung pada ukuran
payudara,tidak ada hubungannya dengan volume
air susu yang di produksi. Meskipun payudara
yang sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak
berubah selama masa kehamilan hanya memrlukan
sejumlah kecil ASI. Pengeluaran ASI apabila bayi
disusui maka gerakan menghisapm yang berirama
akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat

pada glandula pituitaria posterior, sehingga keluar


hormon oksitosin.
3.

Hubungan
Perawatan payudara terhadap
produksi ASI
Berdasarkan tabel 3 distribusi frekuensi
hubungan perawatan payudara terhadap produksi
ASI, ditemukan hasil bahwa setelah dilakukan
perawatan payudara dengan baik sebanyak 14
orang (70%) terdapat 11 orang (55%)
menghasilkan produksi ASI yang baik dan 3 orang
(15%) tidak menghasilkan produksi ASI yang
baik. Sedangkan pada perawatan payudara yang
dilakukan tidak baik terhadap 6 orang(30%) tidak
menghasilkan produksi ASI yang baik. Perawatan
payudara memang berhubungan terhadap produksi
ASI,
Namun ada beberapa faktor-faktor yang
mempengaruhi hubungan produksi ASI menurut
kristiyanasari 2010, yaitu: Makanan, produksi ASI
dapat juga mempengaruhi produksi ASI, apabila
makanan ibu secara teratur dan cukup mengandung
gizi yang diperlukan akan mempengaruhi produksi
ASI, hal ini disebabkan karena kelenjar ASI yang
tidak bisa bekerja dengan sempurna tanpa
makanan yang cukup dan ketenangan jiwa.
Sedangkan menurut Proverawati A (2010) faktorfaktor yang mempengaruhi produksi ASI adalah
seperti: Frekuensi penyusuan, berat badan lahir,
umur kehamilan, stress, konsumsi rokok, konsumsi
alkohol, serta penggunaan pil kontrasepsi.
Berkaitan dengan pemberian ASI, salah satu hal
yang penting dilakukan dalam upaya persiapan
pemberian ASI yaitu melakukan perawatan payudara
yang dilakukan pada selama kehamilan trimester
ketiga maupun setelah selesai masa persalinan.
Selama kehamilan payudara akan membengkak dan
daerah sekitar puting warnanya akan lebih gelap.
Dengan adanya pembengkakan tersebut, payudara
menjadi mudah teriritasi dan mudah luka. Oleh karena
itu perlu dilakukan perawatan payudara selama hamil
(Saryono, 2009). Akan tetapi pada kenyataannya
banyak ibu hamil yang mengabaikan perawatan
payudara. Hal ini dikarenakan ibu malas dan belum
mengetahui manfaat dari perawatan payudara tersebut
(Dedek, 2008).

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
1. Dari 20 responden yang sudah melakukan
perawatan payudara dengan baik ada 14 orang
(70%).
2. Dari 20 responden yang memilki produksi ASI
yang baik ada 11 orang (55%).
3. Berdasarkan analisa data statistik dengan uji chi
square didapatkan nilai p value 0,001 yang berarti
ada hubungan perawatan payudara terhadap
produksi ASI.

Jurnal Ilmiah PANNMED

Saran
1. Kepada pimpinan RB Tutun Sehati Tanjung
Morawa agar lebih meningkatkan kualitas dan
kuantitas dari penyuluhan tentang perawatan
payudara kepada ibu hami, agar ibu hamil lebih
memahaminya dan melakukannya.
2. Kepada petugas di RB Tutun Sehati Tanjung
Morawa agar melaksanakan perawatan payudara
mulai dari kehamilan trimester ketiga hingga masa
nifas dan memberikan penyuluhan dan penjelasan
yang maksimal tentang perawatan payudara
sehingga ibu-ibu tahu bagaimana merawat
payudara yang baik dan benar demi menjaga
kelancaran ASI.
3. Kepada ibu-ibu yang melakukan pemeriksaan
kehamilan serta ibu-ibu post partum untuk
meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang
perawatan payudara dengan rutin serta rajin
bertanya khususnya dalam masalah perawatan
payudara.

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Anggraini, Y, 2010. Asuhan Kebidanan Masa Nifas:


Jakarta Pustaka: Rihama.
Deswani, K, 2010. Panduan Praktik Klinik dan
Laboratorium Keperawatan Maternitas. Jakarta
Salemba: Medika.
Kristiyanasari, W, 2009. ASI, Menyusui & Sadari.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Marimbi, H, 2010. Tumbuh Kembang, Status gizi, dan
Imunisasi dasar Pada Balita. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Maryunani, A, 2012. Inisiasi Menyusui Dini, ASI eksklusif,
dan Manajemen Laktasi. Jakarta Timur: CV.
Trans Info Media.
Notoatmodjo, S, 2010. Metodologi Penelitian. Jakarta:
Rineka Cipta.
Proverawati, A, 2012. Kapita Selekta ASI dan Menyusui.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Saryono, 2009. Perawatan Payudara. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Yuliarti, N, 2010. Keajaiban ASI. Yogyakarta: CV. Andi
Offset.

DAFTAR PUSTAKA
Alimul, A, 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan
Teknik Analisis Data.
Jakarta Selatan:
Salemba Medika.

31

EFEKTIVITAS KUMUR DENGAN SEDUHAN TEH HIJAU DAN LARUTAN


LISTERINE TERHADAP OHI-S PADA SISWA/I KELAS VIII BSMP
SWASTA CERDAS BANGSA JL. TITI KUNING NAMORAMBE
LINK. VISIDOREJO DELITUA TAHUN 2014

Rosdiana T. Simaremare, Hasny, Yetti Lusiani


Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Medan

Abstrak
Obat kumur saat ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk membantu kita dalam menjaga
kesehatan gigi dan mulut. Teh hijau dapat membantu meningkatkan kesehatan jaringan pendukung gigi dan
membantu mencegah terjadinya debris dan karies gigi. Selain itu, teh hijau terdapat kandungan Katekin
(Cateckin) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri pathogen yang dapat merusak jaringan gigi (
Ajisaka, 2012). Menurut American Dental Assosiation (ADA) pada tahun 2003, listerine adalah obat yang
aman karena efektif untuk mencegah radang gusi dan menghilangkan plak gigi serta efektif membunuh
bakteri di mulut sebagai antiseptik. Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah Pre
Experimental dengan rancangan One Shot Case Study untuk membandingkan pengaruh berkumur antara
seduhan teh hijau dan larutan listerine terhadap OHI-S pada siswa/i Kelas VIII B SMP Swasta Cerdas
Bangsa JL. Titi Kuning Namorambe Link. VI Sidorejo Delitua Tahun 2014. Berkumur dengan seduhan teh
hijau dan larutan listerine efektif dalam menurunkan OHI-S, hal ini dapat dilihat dari hasil persentase setelah
berkumur dengan seduhan teh hijau dan larutan listerine. Setelah berkumur dengan seduhan teh hijau
terdapat 13 siswa/i yang mempunyai kategori OHI-S baik (65%), 7 siswa/i yang mempunyai kategori sedang
(35%), dan kategori OHI-S buruk tidak ada. Sedangkan persentase setelah berkumur dengan larutan listerine
terdapat 18 siswa/i yang mempunyai kategori OHI-S baik (90%), 2 siswa/i yang mempunyai kategori OHI-S
sedang (10%), dan kategori OHI-S buruk tidak ada. Maka dapat disimpulkan berkumur dengan
menggunakan larutan listerine lebih efektif dbandingkan dengan seduhan teh hijau. Karena larutan listerine
lebih efisien dalam penggunaannya tanpa harus membutuhkan waktu yang lama.
Kata kunci : Teh Hijau, Listerine
PENDAHULUAN
Menurut WHO, sehat adalah suatu keadaan
sejahtera, sempurna fisik, mental, dan sosial serta tidak
hanya terbatas pada bebas dari penyakit atau
kelemahan saja.
Adapun menurut Undang-Undang Kesehatan
No. 23 Tahun 1992, sehat adalah suatu keadaan
sejahtera badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi
(Bastiansyah, 2008).
Kesehatan gigi adalah bagian integral dari
kesehatan umum, sehingga perlu bagi kesehatan gigi
untuk senantiasa meningkatkan kemampuan sesuai
dengan perkembangan kesehatan pada umumnya.
Dalam pembangunan kesehatan pemerintah tentunya
membutuhkan orang-orang yang dapat memberikan
penjelasan mengenai kesehatan gigi kepada masyarakat
tentang arti atau cara hidup sehat menurut aturan aturan
yang ada dalam bidang kesehatan, terutama kesehatan
gigi, contoh dari aturan-aturan tersebut misalnya: cara
menggosok gigi yang benar dan efisien, cara
pengobatan sederhana, cara penyediaan makanan
32

bergizi seimbang dan bermanfaat bagi kesehatan gigi


dan mulut.
Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga 2004
menyebutkan 39% penduduk Indonesia menderita
penyakit gigi dan mulut. Angka tersebut bukan
merupakan angka yang dapat diabaikan, karena telah
terbukti bahwa penyakit gigi dan mulut dapat secara
signifikan mempengaruhi produktivitas masyarakat.
Karena itu, perlu dilakukan suatu kampanye yang terus
menerus untuk menurunkan angka penderita penyakit
gigi dan mulut.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi penduduk yang
mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut adalah 23%
dan 1,6% penduduk telah kehilangan seluruh gigi aslinya.
Dari jumlah yang menerima perawatan, data pengobatan
dari tenaga kesehatan adalah 29,6%. Kesehatan gigi dapat
mendukung percepatan tujuan Millennium Development
Goals ( MDGS ) pada tahun 2015 dengan melakukan
upaya UKGM. UKGM adalah suatu usaha kesehatan gigi
dan mulut yang dibentuk di masyarakat untuk menunjang
derajat kesehatan gigi dan mulut yang optimal.

Jurnal Ilmiah PANNMED

Plak adalah suatu lapisan lengket yang


merupakan kumpulan dari bakteri. Plak ini akan mengubah
karbohidrat atau gula yang berasal dari makanan menjadi
asam cukup kuat yang cukup merusak gigi (Rahmadhan,
2010). Plak merupakan salah satu faktor terbentuknya
debris dan kalkulus. Debris adalah endapan berwarna putih
di sekitar gigi, terdiri dari sisa-sisa makanan dan jaringan
mati akibat peradangan. Debris yang tidak dibersihkan
dapat berubah menjadi karang gigi. Karang gigi ialah suatu
endapan keras yang menempel di permukaan gigi
berwarna mulai dari kuning sampai cokelat kehitamhitaman, permukaan kasar, plak yang tidak dibersihkan dan
dari endapan bahan-bahan kasar, air ludah, dan serum
darah serta sisa makanan.
Obat kumur saat ini dapat digunakan sebagai
salah satu alternatif untuk membantu kita dalam menjaga
kesehatan gigi dan mulut. Salah satunya dengan cara
berkumur-kumur dengan seduhan teh hijau dan larutan
listerine. Teh hijau dapat membantu meningkatkan
kesehatan jaringan pendukung gigi dan membantu
mencegah terjadinya debris dan karies gigi. Dalam Jurnal
Of Periodontology, tim peneliti dari Kyushu University di
Fukuoka Jepang telah berhasil menganalisis dan
mengevaluasi secara komprehensif 940 pasien pria yang
berusia antara 49-59 tahun. Keseluruhan pasien setidaknya
masih memiliki 20 gigi dan memiliki penyakit gigi yang
lazim ditemukan pada usia tersebut seperti radang gusi dan
kerusakan jaringan gigi. Selain itu pada teh hijau terdapat
kandungan Katekin (Cateckin) yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri pathogen yang dapat merusak
jaringan gigi ( Ajisaka, 2012).
Penggunaan listerine sebagai larutan kumur
untuk pembersih mulut saat ini banyak digunakan oleh
masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa produk
yang menggunakan alkohol seperti Listerine mungkin
efektif untuk mencegah kondisi seperti radang gusi,
mereka tidak membunuh bakteri di mulut. Bau mulut
merupakan hasil senyawa sulfur yang dilepaskan oleh
bakteri. Seseorang dengan gigi berlubang atau gusi
bengkak memiliki lebih banyak bakteri yang berkembang
biak di mulut. Penelitian telah menunjukkan bahwa obat
kumur yang memiliki bahan aktif klorin dioksida dan zink
efektif menetralisir bau mulut.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti ingin
mengetahui bagaimana Efektivitas kumur dengan seduhan
teh hijau dan larutan listerine terhadap OHI-S pada siswa/i
kelas VIII B SMP Swasta Cerdas Bangsa JL. Titi Kuning
Namorambe Link. VI Sidorejo Delitua Tahun 2014
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Efektivitas kumur dengan seduhan teh hijau dan larutan
listerine terhadap OHI-S pada siswa/i kelas VIII B SMP
Swasta Cerdas Bangsa JL. Titi Kuning Namorambe Link.
VI Sidorejo Delitua Tahun 2014.
Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah
wawasan dan ilmu pengetahuan bagi siswa/i SMP
Swasta Cerdas Bangsa.

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

1. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan


informasi bagi pihak sekolah dalam merencanakan
upaya meningkatkan kesehatan gigi pada siswa/i
SMP Swasta Cerdas Bangsa.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan
informasi untuk penelitian lebih lanjut.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
masukan bagi peneliti lain dan sebagai bahan
referensi di perpustakaan Politeknik Kesehatan
Kementerian
Kesehatan
Medan
Jurusan
Keperawatan Gigi Medan.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang
digunakan adalah Pre Experimental dengan rancangan One
Shot Case Study untuk membandingkan pengaruh
berkumur antara seduhan teh hijau dan larutan listerine
terhadap OHI-S pada siswa/i Kelas VIII B SMP Swasta
Cerdas Bangsa JL. Titi Kuning Namorambe Link. VI
Sidorejo Delitua Tahun 2014.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Data yang dikumpulkan adalah hasil penelitian
yang dilakukan terhadap siswa/i SMP Swasta Cerdas
Bangsa.
Pengumpulan
data
dilakukan
dengan
pemerikasaan langsung ke mulut siswa/i yang menjadi
sampel. Setelah seluruh data terkumpul , membuat analisa
data dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi untuk
masing-masing kelompok sampel. Kemudian dilakukan
pengolahan data secara deskriptif.
Tabel A.1
Distribusi Frekuensi OHI-S Rata-Rata Sebelum dan
Sesudah Berkumur Dengan Seduhan Teh Hijau Pada
Siswa/I SMP Swasta Cerdas Bangsa
No. Kriteria
OHI-S

OHI-S Sebelum
OHI-S Sesudah
Berkumur
Berkumur
Jumlah Jumlah OHI-S Jumlah Jumlah OHI-S
Siswa OHI-S Rata-Rata Siswa OHI-S RataRata
1. Baik
5
3,81
0,76
13
11,69
0,89
2. Sedang
9
17,95
1,99
7
12,37
1,76
3. Buruk

19,06

3,17

Jumlah

20

40,82

5,92

20

24,06

2,65

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari seluruh


siswa/i mempunyai kriteria OHI-S buruk dengan OHI-S
rata-rata 5,92 sebelum berkumur seduhan teh hijau, namun
setelah berkumur dengan seduhan teh hijau ditemukan 13
siswa/i dengan rata-rata 0,89 yang memiliki OHI-S
kategori baik, 7 siswa/i dengan rata-rata 1,76 memiliki
OHI-S kategori sedang, sedangkan siswa/i yang memiliki
kriteria buruk tidak ada. Maka rata-rata OHI-S adalah
sebesar 2,65 yang berarti dalam kategori sedang.

33

Rosdiana T. Simaremare, dkk.

Efektivitas Kumur dengan Seduhan...

Tabel A.2
Distribusi Frekuensi OHI-S Rata-Rata Sebelum dan
Sesudah Berkumur Dengan Larutan Listerine Pada
Siswa/I SMP Swasta Cerdas Bangsa
No. Kriteria
OHI-S

OHI-S Sebelum
OHI-S Sesudah
Berkumur
Berkumur
Jumlah Jumlah OHI-S Jumlah Jumlah OHI-S
Siswa OHI-S Rata-Rata Siswa OHI-S RataRata
1. Baik
9
5,88
0,65
18
7,16
0,39
2. Sedang
10
19,42
1,94
2
3,56
1,78
3. Buruk
1
3,6
3,6
0
0
0
Jumlah
20
28,9
6,19
20
24,06
2,17

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari seluruh


siswa/i mempunyai kriteria OHI-S buruk dengan OHI-S
rata-rata 6,19 sebelum berkumur larutan listerine, namun
setelah berkumur dengan larutan listerine ditemukan 18
siswa/i dengan rata-rata 0,39 yang memiliki OHI-S
kategori baik, 2 siswa/i dengan rata-rata 1,78 memiliki
OHI-S kategori sedang, sedangkan siswa/i yang memiliki
kriteria buruk tidak ada. Maka rata-rata OHI-S adalah
sebesar 2,17 yang berarti dalam kategori sedang.
Tabel A.3
Distribusi Frekuensi OHI-S Rata-Rata Sebelum dan
Sesudah Berkumur Dengan Seduhan Teh Hijau Pada
Siswa/I SMP Swasta Cerdas Bangsa
No.

Kriteria Sebelum Berkumur Sesudah Berkumur


OHI-S Jumlah Siswa %
Jumlah
%
Siswa
1. Baik
5
25
13
65
2. Sedang
9
45
7
35
3. Buruk
6
30
0
0
Jumlah
20
100
20
100

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa sebelum


berkumur dengan seduhan teh hijau 5 siswa/i (25%)
mempunyai kriteria baik, 9 siswa/i (45%) mempunyai
kriteria sedang, dan 6 siswa/i (30%) mempunyai kriteria
buruk, dan setelah berkumur dengan seduhan teh hijau
terdapat 13 siswa/i (65%) memiliki OHI-S dengan kriteria
baik, 7 siswa/i (35%) memiliki OHI-S dengan kriteria
sedang, dan tidak ditemukan siswa/i (0%) yang memiliki
OHI-S dengan kriteria buruk.
Tabel A.4
Distribusi Frekuensi OHI-S Rata-Rata Sebelum dan
Sesudah Berkumur DenganLarutan Listerine Pada
Siswa/I SMP Swasta Cerdas Bangsa
No.

Kriteria Sebelum Berkumur Sesudah Berkumur


OHI-S Jumlah Siswa %
Jumlah
%
Siswa
1. Baik
9
45
18
90
2. Sedang
3. Buruk
Jumlah

10
1
20

50
5
100

2
0
20

10
0
100

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa sebelum


berkumur dengan larutan listerine 9 siswa/i (45%)
mempunyai kriteria baik, 10 siswa/i (50%) mempunyai
34

kriteria sedang, dan 1 siswa/i (5%) mempunyai kriteria


buruk, dan setelah berkumur dengan larutan listerine
terdapat 18 siswa/i (90%) memiliki OHI-S dengan kriteria
baik, 2 siswa/i (10%) memiliki OHI-S dengan kriteria
sedang, dan tidak ditemukan siswa/i (0%) yang memiliki
OHI-S dengan kriteria buruk.
Pembahasan
Seperti yang diketahui, menurut Ajisaka (2012),
teh hijau dapat membantu mengurangi kerusakan gigi. Teh
hijau mengandung fluoride yang diperlukan untuk menjaga
kesehatan gigi tetap kuat dan sehat. Teh hijau juga
mengandung Katekin yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri pathogen yang dapat merusak
jaringan gigi. Menurut American Dental Assosiation
(ADA) pada tahun 2003, listerine adalah obat yang aman
karena efektif untuk mencegah radang gusi dan
menghilangkan plak gigi serta efektif membunuh bakteri di
mulut sebagai antiseptik.
Dari hasil penelitian yang telah didapat, maka
diketahui dari 20 siswa/i memiliki OHI-S buruk dengan
OHI-S rata-rata 5,92 sebelum berkumur seduhan teh hijau,
setelah berkumur dengan seduhan teh hijau ditemukan 13
siswa/i dengan rata-rata 0,89 yang memiliki OHI-S
kategori baik, 7 siswa/i dengan rata-rata 1,76 memiliki
OHI-S kategori sedang, dan 0 siswa/i yang memiliki
kriteria buruk tidak ada. Rata-rata OHI-S setelah berkumur
seduhan teh hijau adalah sebesar 2,65 yang berarti dalam
kategori sedang. Dengan demikian dapat diketahui bahwa
seduhan teh hijau dapat membantu menurunkan OHI-S
karena kandungan katekin efektif untuk menghambat
pertumbuhan bakteri di mulut.
Sedangkan dari 20 siswa/i sebelum berkumur dengan
larutan listerine diketahui bahwa mempunyai kriteria OHIS buruk dengan OHI-S rata-rata 6,19. Namun, setelah
berkumur dengan larutan listerine ditemukan 18 siswa/i
dengan rata-rata 0,39 yang memiliki OHI-S kategori baik,
2 siswa/i dengan rata-rata 1,78 memiliki OHI-S kategori
sedang, dan 0 siswa/i yang memiliki kriteria buruk tidak
ada. Rata-rata OHI-S setelah berkumur larutan listerine
adalah sebesar 2,17 yang berarti dalam kategori sedang.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa larutan listerine
efektif untuk mencegah radang gusi dan menghilangkan
plak gigi serta efektif membunuh bakteri di mulut sebagai
antiseptik.
Dengan hasil penelitian ini dapat dijelaskan
bahwa larutan apa saja dapat digunakan untuk menurunkan
angka OHI-S. Hal ini berarti faktor lain yang juga harus
diperhatikan yang dapat mempengaruhi kebersihan gigi
dan mulut atau OHI-S adalah lamanya waktu berkumur,
cara berkumur, serta banyaknya jumlah larutan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
peneliti maka didapatkan kesimpulan bahwa :
1. Kriteria OHI-S sesudah berkumur dengan seduhan
teh hijau dan larutan listerine yaitu 2,65 dan 2,17
yang berarti dalam kategori sedang.

Jurnal Ilmiah PANNMED

2. Berkumur dengan seduhan teh hijau dan larutan


listerine efektif dalam menurunkan OHI-S, hal ini
dapat dilihat dari hasil persentase setelah berkumur
dengan seduhan teh hijau dan larutan listerine.
Setelah berkumur dengan seduhan teh hijau terdapat
13 siswa/i yang mempunyai kategori OHI-S baik
(65%), 7 siswa/i yang mempunyai kategori sedang
(35%), dan kategori OHI-S buruk tidak ada (0%).
Sedangkan persentase setelah berkumur dengan
larutan listerine terdapat 18 siswa/i yang
mempunyai kategori OHI-S baik (90%), 2 siswa/i
yang mempunyai kategori OHI-S sedang (10%),
dan kategori OHI-S buruk tidak ada (0%).
3. Ada perbedaan antara berkumur dengan seduhan
teh hijau dan larutan listerine terhadap penurunan
OHI-S sebesar 0,48.
Saran
1. Diharapkan kepada pihak sekolah agar lebih
memperhatikan kebersihan gigi dan mulut siswa/i
SMP Swasta Cerdas Bangsa.
2. Diharapkan kepada siswa/i SMP Swasta Cerdas
Bangsa supaya berkumur agar dapat meningkatkan
kebersihan gigi dan mulut, seperti berkumur dengan
seduhan teh hijau atau larutan listerine, terutama

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

setelah makan siang yang tidak memungkinkan bagi


anak sekolah untuk menyikat gigi.
DAFTAR PUSTAKA
Ajisaka, 2012. Teh KhasiatnyaDasyat, Stomata. Surabaya.
Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian, Rineka Cipta.
Jakarta.
Boedihardjo, 1985. Pemeliharaan Kesehatan Gigi
Keluarga, Airlangga University Press. Surabaya.
Bastiansyah E., 2008. Panduan Lengkap: Membaca Hasil
Tes Kesehatan, Penebar Plus. Jakarta.
Herijulianti, E., Tati S. Indriani., Sri A., 2002. Pendidikan
Kesehatan Gigi, EGC. Jakarta.
Kristin Ningrum, E. dan Mey Murti, 2012. Dasyatnya
Khasiat Herbal untuk Hidup Sehat, Dunia Sehat.
Jakarta.
Notoatmodjo, S., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan,
Rineka Cipta. Jakarta.
Putri H., Eliza H., dan Neneng N, 2010. Ilmu Pencegahan
Penyakit Jaringan Keras Dan Jaringan
Pendukung Gigi, EGC. Jakarta.
Rahmadhan, A. G., 2010. Serba Serbi Kesehatan Gigi dan
Mulut, Bukune.Jakarta.
Zaluchu, 2011. Praktis Penelitian Kesehatan, Perdana
Publishing. Medan..

35

EFEKTIFITAS MENYIKAT GIGI MENGGUNAKAN SIWAK DALAM


MENURUNKAN INDEKS PLAK PADA SISWA MTs SWASTA
ALWASLIYAH DESA LAMA KECAMATAN PANCUR BATU
DELI SERDANG TAHUN 2014

Adriana Hamsar, Cut Aja Nuraskin, Manta Rosma


Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Medan

Abstrak
Siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting tanaman arak (salvadora persica) yang
berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon arak adalah pohon yang kecil seperti belukar dengan
batang yang bercabang-cabang, berdiameter lebih dari 1 kaki, jika kulitnya dikelupas berwarna agak
keputihan dan memilki jutaan serat, yang berguna membersihkan gigi. Jenis penelitian adalah eksperimen
semu (quasi eksperiment) dengan rancangan pre-test dan post-test only group design. Penelitian ini
dilakukan pada Siswa/i MTs Al-Wasliyah Pancur Batu Deli Serdang dengan jumlah populasi 214 orang
dengan pengambilan sampel dilakukan secara acak yaitu berjumlah 40 orang. Hasil yang didapat dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa menyikat gigi dengan siwak lebih efektif dalam menurunkan Indeks plak
dibandingkan dengan sikat gigi biasa. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan penurunan plak indeks,
penggunaan siwak penurunannya sebesar 1.39. sedangkan sikat gigi penurunan plak indeksnya sebesar 1.31.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada perbedaan menyikat gigi dengan siwak dan sikat gigi terhadap
penurunan indeks plak. Menyikat gigi dengan siwak lebih efektif dari pada sikat gigi. Hal ini menunjukkan
bahan tradisional dapat digunakan untuk membersihkan gigi dan mulut.
Kata kunci : Siwak, sikat gigi, Indeks Plak

PENDAHULUAN
Dalam UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992 Pasal
10 dinyatakan bahwa: Untuk mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan
upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan,
peningkatan pencegahan, pengobatan dan pemulihan yang
dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan.
Masa anak sekolah merupakan masa untuk
meletakkan landasan yang kokoh bagi terwujudnya
manusia yang berkualitas dan kesehatan merupakan faktor
penting yang menentukan kualitas sumber daya manusia.
Dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan siswa di
sekolah, kesehatan gigi dan mulut merupakan suatu bagian
dari kesehatan umum yang mempunyai peran penting
dalam fungsi pengunyahan dan kecantikan.
Siwak atau Miswak merupakan bagian dari
batang akar atau ranting tumbuhan salvadora persica
yang kebanyakan tumbuh di daerah Timur Tengah Asia
dan Afrika. Siwak berbentuk batang yang diambil dari
akar dan ranting tanaman arak (salvadora persica)
yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm.
Pohon arak adalah pohon yang kecil seperti belukar
dengan batang yang bercabang-cabang, berdiameter
lebih dari 1 kaki, jika kulitnya dikelupas berwana agak
keputihan dan memilki banyak jutaan serat. Akarnya
berwarna cokelat dan bagian dalamnya berwarna putih.

36

Aromanya seperti seledri dan rasanya agak pedas.


(Bastomi Ali. 2011).
Sikat gigi adalah alat untuk membersihkan gigi
yang berbentuk sikat kecil dengan pegangan. Pasta gigi
biasanya ditambah kesikat gigi sebelum menggosok gigi.
Sikat gigi banyak jenisnya, dari yang bulunya halus sampai
kasar, bentuknya kecil sampai besar dan berbagai desain
pegangan. Kebanyakan dokter gigi menganjurkan
penggunaan sikat gigi yang lembut meskipun sikat gigi
berbulu lembut kurang efektif membersihkan sela-sela
gigi.Sikat gigi berbulu keras dapat merusak lapisan enamel
dan melukai gusi. (Wikipedia.2007).
Menurut para dokter gigi menyikat gigi
dilakukan minimal dua kali sehari yaitu pagi sesudah
makan malam sebelum tidur. Menyikat gigi juga
dianjurkan menggunakan pasta gigi yang membantu
membersihkan gigi lebih bersih dan wangi. Akibat dari
jarangnya menyikat gigi adalah timbulnya plak gigi yang
diakibatkan dari penumpukan kotoran di gigi. Plak gigi
juga dapat menyebabkan gigi berlubang yang jika
dibiarkan bisa membuat gigi ngilu dan bau napas yang
tidak sedap.
Survei awal telah dilakukan pemeriksaan
terhadap indeks plak di MTs Al-Wasliyah pada siswa/i
kelas II menunjukkan bahwa kriteria plak siswa/i tersebut
rata-rata dikategorikan buruk. Faktor yang mempengaruhi
hal tersebut rata-rata adalah kurangnya pengetahuan

Jurnal Ilmiah PANNMED

siswa/i MTs Al-Wasliyah Pancur Batu tentang kebersihan


gigi dan mulut.
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
efektifitas penggunaan
siwak dan sikat gigi dalam
menurunkan indeks plak pada siswa MTs Alwasliyah
Pancur Batu Medan Tahun 2014.
Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Indeks Plak rata-rata
sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan
siwak pada MTs Alwasliyah Pancur Batu
Medan Tahun 2014.
2. Untuk mengetahui Indeks Plak rata-rata
sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan
sikat gigi pada MTs Alwasliyah Pancur Batu
Medan Tahun 2014.
3.

Untuk mengetahui persentase kriteria indeks


plak pada MTs Alwasliyah .

Manfaat Penelitian
1. Hasil Penelitian diharapkan dapat menambah
wawasan dan ilmu pengetahuan bagi MTs
Alwasliyah Pancur Batu Medan Tahun 2014
tentang Siwak dan sikat gigi
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
bahan masukan bagi penelitian lain.
Hipotesis
1. Hipotessi Nol (Ho)
Tidak ada perbedaan menyikat gigi dengan sikat gigi
dan siwak terhadap penurunan indeks plak.
2. Hipotesis Alternatif (Ha)
Ada perbedaan menyikat gigi dengan sikat gigi dan
siwak terhadap penurunan indeks plak
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian
eksperimen semu (quasi eksperiment) dengan rancangan
pre-test dan post-test only group design untuk melihat
keefektifan menyikat gigi dengan sikat gigi dan siwak pada
Siswa/i MTs Al- Wasliyaah Pancur Batu Medan, sehingga
dapat ditulis dengan rumus:

Keterangan :
R
= Randomization
O1 = Observasi 1 perlakuan mengukur indeks
plak sebelum menggunakan siwak
O2 = Observasi 1 perlakuan mengukur indeks
plak sesudah menggunakan siwak
O3 = Observasi 1 perlakuan mengukur indeks
plak sebelum menggunakan sikat gigi

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

O4
X1
X2

= Observasi 1 perlakuan mengukur indeks


plak sesudah menggunakan sikat gigi
= perlakuan menggunakan siwak
= perlakuan menggunakan sikat gigi

Populasi dan sampel


Populasi
Populasi adalah keseluruhan Siswa/i Kelas II
MTs Al-Wasliyah Pancur batu Desa Lama Kecamatan
Pancur batu Medan 214
Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah
yang
berjumlah 40 orang, dibagi menjadi 2 kelompok, masingmasing kelompok terdiri dari 20 orang. Kelompok pertama
menggunakan siwak, dan kelompok kedua menggunakan
sikat gigi biasa.
Jenis dan cara Pengumpulan Data
Data yang diambil dalam penelitian ini adalah
data primer dan data sekunder dengan melakukan
pemeriksaan langsung pada Siswa/i Kelas II MTs. AlWasliyah Pancur batu Desa Lama Kecamatan
Pancur batu. Data primer adalah data yang
diambil langsung peneliti dari pemeriksaan langsung ke
mulut siswa/i yang menjadi sampel dengan mencatat hasil
pemeriksaan plak siswa/i. Sedangkan data skunder adalah
data yang diperoleh dari pihak sekolah tentang data jumlah
siswa/i Kelas II MTs. Al-Wasliyah Pancur Batu Desa
Lama Kecamatan Pancur batu.
Analisa Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teknik kuantitatif data yang telah dikumpulkan dan
dianalisis secara analitik kemudian disajikan dalam bentuk
tabel distribusi frekuensi dengan tabel silang 2x3. Analisa
data menggunakan Uji Mann-whitney untuk dapat
menyimpulkan adanya hubungan 3 (tiga) variabel
(independent, dependent dan confounding) bermakna atau
tidak untuk mengetahui pengaruh menyikat gigi dengan
siwak dan sikat gigi terhadap indeks plak.
Hasil Penelitian
Data yang dikumpulkan adalah hasil penelitian
yang dilakukan terhadap siswa/i kelas II MTs Alwasliayah
Pancur Batu Medan. Pengumpulan data dilakukan dengan
pemeriksaan langsung kemulut siswa/i yang menjadi
sampel. Setelah seluruh data terkumpul, membuat analisa
data dengan membuat tabel distribusi frekuensi untuk
masing-masing. Kemudian dilakukan pengolahan data
secara statistik yaitu menggunakan uji Man-Whitney.
Tabel 1.

Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis


Kelamin Pada Siswa-Siswi Kelas II MTs
Al-Wasliyah Pancur Batu Medan
Jenis Kelamin
Jumlah
Persentase
Laki-laki
17
42.5
Perempuan
23
57.5
Total
40
100

37

Adriana Hamsar, dkk.

Efektivitas Menyikat Gigi...

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Rata-Rata Plak Indeks


Pada Siswa-Siswi Kelas II MTs Al-Wasliyah
Pancur Batu Medan
Rata-rata Plak Indakes
Jenis
Penggunaan
Sebelum
Sesudah
Siwak
1.90
0.51
Sikat Gigi
1.95
0.64
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Persentase Kriteria Plak
Indeks Sebelum dan Sesudah Menggunakan
Siwak Pada Siswa-Siswi MTs Al Wasliyah
Pancur Batu Medan
Sesudah Menyikat
Sebelum Menyikat
Kriteria
Gigi Dengan
Gigi Dengan Siwak
Plak
Siwak
Indeks
N
%
N
%
Baik
3
15
17
85
Sedang
6
30
3
15
Buruk
11
55
0
0
Jumlah
20
100
20
100
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Persentase Kriteria
Plak Indeks Sebelum dan Sesudah
Menggunakan Sikat Gigi Pada Siswa-Siswi
MTs Al-Wasliyah Pancur Batu Medan
Sebelum Menyikat Sesudah Menyikat
Kriteria
Gigi Dengan Sikat Gigi Dengan Sikat
Plak
gigi
gigi
Indeks
N
%
N
%
Baik
2
10
15
75
Sedang
7
35
5
25
Buruk
11
55
0
0
Jumlah
20
100
20
100
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Persentase Kriteria Plak
Indeks Sebelum dan Sesudah menyikat Gigi
Pada Siswa-Siswi MTs Al-Wasliyah Pancur
Batu Medan
Sebelum Menyikat Sesudah Menyikat
Kriteria
Gigi
Gigi
Plak
Indeks
N
%
N
%
Baik
5
12.5
32
80
Sedang
13
32.5
8
20
Buruk
22
55
0
0
Jumlah
40
100
40
100
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Persentase Perbandingan
Penurunan Rata-Rata Plak Indeks Pada
Siswa-Siswi MTs Al-Wasliyah Pancur Batu
Medan
Jenis
Penggunaan
Siwak
Sikat Gigi

38

Rata-rata Plak
Indakes
Sebelum Sesudah
1.90
0.51
1.95
0.64

Penurunan
Plak
indeks
1.39
1.31

Persentase
%
73
67

Tabel 7. Uji Mann-Whitney


INDEKS
PLAK
AWAL
SIWAK
SIKAT
GIGI
AKHIR
SIWAK
SIKAT
GIGI

Std.
deviasi

MANNWHITNE
Y
U

MEAN
RANK

20

19.83
21.18

.709

186.500

0.685

20

20.00
21.00

.385

190.000

0.681

PEMBAHASAN
Penelitian ini mengambil sampel 40 siswa/i MTs
Al-Wasliyah Pancur Batu Deli Serdang yang dipilih secara
acak untuk seluruh kelas II yang dibagi menjadi 2
kelompok. Kelompok satu menyikat gigi dengan siwak
dan kelompok dua menyikat gigi dengan sikat gigi. Dari
hasil penelitian yang telah dilakukan maka diketahui
bahwa banyak siswa/i yang memiliki angka indeks plak
yang tinggi yang berarti rendahnya tingkat kebersihan gigi
dan mulut siswa. Hal ini disebabkan karena kurangnya
pengetahuan cara menjaga kebersihan gigi dan mulut.
Setelah dilakukan penelitian dapat dilihat bahwa
rata-rata plak indeks pada sampel sebelum menggunakan
siwak sebesar 1.90 dan menggunakan sikat gigi sebesar
1.95. pada sampel sesudah menggunakan siwak sebesar
0.51 dan menggunakan sikat gigi sebesar 0.64.
Dari hasil uji Mann-whitney tidak ada perbedaan
pengaruh menyikat gigi dengan siwak dan sikat gigi dalam
menurunkan indeks plak, jadi Hipotesis tidak ditolak, akan
tetapi siwak lebih efektif dalam menghilangkan indeks
plak melihat perhitungan yang didapat penurunan plak
indeks pada siwak sebesar 1.39 sedangkan sikat gigi
sebesar 1.31.
Sikat gigi lebih banyak dan mudah ditemukan di
pasaran dibandingkan dengan siwak. Sikat gigi biasa
bervariasi dan harganya relatif murah dan kebanyakan
orang yang menggunakan sikat gigi biasa. Siwak biasanya
digunakan oleh bangsa Arab dan orang-orang yang
beragama Muslim, karena selain pembersih gigi siwak juga
sebagai sunnah Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari
Bukhori dan Muslim. Menurut laporan Lewis (1982) ,
siwak sangat efektif sebagai alat pembersih mulut,
ditemukan sejumlah besar klorida, flour ,trimetilamin dan
resin. Kemudian dari hasil penelitian Farooqi dan
Srivastava (1990) ditemukan silika, sulfur dan vitamin c.
Kandungan tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan gigi
dan mulut dimana trimetilamin dan vitamin c membantu
penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi. Klorida
bermanfaat menghilangkan noda pada gigi, sedangkan
silika dapat bereaksi sebagai penggosok, kemudian
keberadaan sulfur dikenal dengan rasa hangat dan bau
yang khas. Penggunaan siwak dan sikat gigi bila digunakan
dengan teknik yang benar, maka kedua-duanya dapat
digunakan untuk membersihkan plak dengan efektif.
Banyak orang tidak menggunakan siwak dikarenakan bau
dan rasanya yang khas dan juga sebagian besar tidak
mengerti dan tidak mengetahui manfaat siwak, oleh sebab

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

itu banyak orang lebih memilih menggunakan sikat gigi


biasa.

4.

SIMPULAN

5.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh


peneliti maka didapatkan kesimpulan bahwa :
1. Plak Indeks pada sampel sebelum menyikat
gigi dengan menggunakan siwak sebesar 38.1
dengan rata-rata 1.90 dan sesudah menyikat
gigi dengan menggunakan siwak sebesar 10.3
dengan rata-rata 0.51.
2. Plak Indeks pada sampel sebelum menyikat
gigi dengan menggunakan sikat gigi sebesar
37.1 dengan rata-rata 1.95 dan sesudah
menyikat gigi dengan menggunakan sikat gigi
sebesar 12.2 dengan rata-rata 0.54.
3. Persentase kriteria plak indeks sebelum
menyikat dengan kriteria baik didapat 5 orang
siswa dengan persentase 12.5%, 13 orang
siswa dengan kriteria sedang 32.5%, 22 orang
siswa dengan kriteria buruk 55%. Dan sesudah
menyikat gigi dengan kriteria baik didapat 32
orang siswa dengan persentase 80%, 8 orang
siswa dengan kriteria sedang 20%, tidak ada
siswa dengan kriteria buruk 0%.
4. Siwak lebih efektif dalam menghilangkan plak
dibandingkan dengan sikat gigi biasa. Hal ini
dapat dilihat dari perbedaan penurunan plak
indeks setelah melakukan penggunaan siwak
lebih besar penurunannya sebesar 1.39.
sedangkan penurunan plak indeks sebesar
1.31.
SARAN

1.

2.

3.

Dengan selesainya penelitian ini, diharapkan :


Kepada siswa/i MTs Al-Wasliyah Pancur Batu
Medan supaya menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan dalam menjaga kesehatan gigi
dan mulut.
Kepada orang tua dan guru murid agar
memberikan perhatian lebih dan mendidik
anak dalam memelihara kesehatan gigi dan
mulut serta meningkatkan penyuluhan tentang
kesehatan gigi dan mulut melalui program
UKGS.
Untuk tetap menjaga kebersihan gigi dan
mulut dengan cara menyikat gigi minimal 2x
sehari, pagi setelah makan dan malam
sebelum tidur serta perhatikan juga teknik,
frekuensi dan waktu menyikat gigi.

Penelitian ini dapat memotivasi kita semua


dalam menggunakan siwak dan sikat gigi
dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Kepada peneliti yang lain untuk lebih dalam
mengkaji ilmu tentang siwak dan sikat gigi
dalam penelitian selanjutnya

DAFTAR PUSTAKA
Admin,.
2009.
Gusi
merah.
<http://gusimerah.blogspot.com/2009/06/kenalimanfaat-sehat-siwak-atau-miswak.html].
Bastomi A., 2011. Selalu belajar untuk bersabar.
<http://abusalma.wordpress.com/2007/01/24/siwakkeajaiban-dalam-sunnah-nabi/
Depkes,. 1995. Pedoman Pelayanan Kesehatan Gigi dan
Mulut Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Balita dan Anak
Prasekolah Secara Terpadu di RS dan Puskesmas.
Jakarta.
Margareta., 2012. 101 Tips Dan terapi alami agar Gigi
Putih dan Sehat. Yogyakarta: pustaka cerdas.
Notoatmodjo., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan.
Rineka Cipta. Jakarta.
Pintauli., Hamada., 2008. Menuju Gigi dan Mulut Sehat
Pencegahan dan Pemeliharaan. USU press Medan.
Panjaitan M,. 1996. Ilmu Pencegahan Karies Gigi.
Sumatera Utara : IKJ press.
Prama PoolExpert,. 2009. 7 Khasiat Penting Menyikat Gigi
dengan
Siwak
atau
Miswak
.
<http://sunahsiwak.blogspot.com/2009/09/7khasiat-penting-menyikat-gigi-dengan.html].
Roeslan, B.O., 2002. Imunologi Oral Kelainan di dalam
Rongga Mulut. FKUI. Jakarta.
Salma A,. 2005. Keajaiban Dalam Sunnah Nabi.
<http://abusalma.wordpress.com/2007/01/24/siwakatau-miswak-merupakan.html].
Sofyan Ali,. 2010. Keutamaan Menggunakan Siwak
Dibanding Sikat Gigi. <mujahiddinSalma A,. 2005. Keajaiban Dalam Sunnah Nabi.
<http://abusalma.wordpress.com/2007/01/24/siwakatau-miswak-merupakan.html]
Wikipedia,.
2009.
Siwak.
<http://id.wikipedia.org/wiki/Siwak].
Wikipedia,.
2007.
Sikat
Gigi.
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sikat_gigi
Wikipedia,.
2009.
Siwak.
<http://id.wikipedia.org/wiki/Siwak].
Wikipedia,.
2007.
Sikat
Gigi.
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sikat_gigi

39

SKRINING FITOKIMIA DAN UJI KEMAMPUAN SEBAGAI


ANTIOKSIDAN DARI DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava. L)

Tri Bintarti
Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Medan
Abstrak
Radikal bebas merupakan molekul yang mempunyai elektron bebas, sangat mengganggu kesehatan. Salah
satu upaya penanggulangannya dengan antioksidan. Berbagai antioksidan sintetis telah digunakan misalnya
butilhidroksi toluen dan butilhidroksi anisol, namun menimbulkan efek samping yang merugikan kesehatan.
Secara alamiah di dalam tubuh terdapat antioksidan yaitu superoksida dismutase, glutatin dan katalase,
tetapi tergantung pada asupan makanan terutama mengandung fenolik dan flavonoid. Secara trdisional daun
jambu biji digunakan untuk mengobati diare, disentri, menurunkan kolesterol, haid tidak teratur, luka, dan
sariawan. Dilihat dari berbagai khasiat ini kemungkinan daun jambu biji mengandung senyawa kimia yang
berpotensial sebagai antioksidan, terutama senyawa fenolik, maka penulis menguji kemampuan daun jambu
biji sebagai antioksidan. Daun jambu biji disiapkan menjadi ekstrak etanol, difraksinasi dengan n-heksan, etil
asetat dan air, dilakukan skrining fitokimia terhadap ekstrak etanol dan masing-masing fraksi. Pengujian
antioksidan dilakukan dengan metode Radical Scavenger menggunakan 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl. Hasil
pengujian menunjukkan ekstrak etanol mengandung alkaloid, tannin, flavonoi, steroid, saponin, dan
glikosida. fraksi n-heksan mengandung alkaloid dan glikosida. fraksi etil asetat mengandung tanin. fraksi air
mengandung tannin dan glikosida. Sebagai antioksidan ekstrak etanol dan fraksi air berkategori kuat dengan
IC50 etanol =42,06g/ml, fraksi air = 49,41g/ml, fraksi n-heksan dan etil asetat berkategori sedang dengan
IC50 fraksi n-heksan = 58,15g/ml, fraksi etil asetat =51,60g/ml.
Kata kunci: Daun jambu biji, antioksidan, Radical Scavenger, 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl
1.

PENDAHULUAN

Di berbagai media massa, telah banyak diungkapkan


bahaya-bahaya yang timbul akibat asupan makanan dan
lingkungan yang tidak sehat karena adanya pembentukan
radikal bebas. Hal ini terutama dialami oleh masyarakat di
perkotaan yang mempunyai banyak kesibukan cenderung
memilih makanan instant yang mudah persiapannya
banyak mengandung bahan tambahan makanan yang
mengandung radikal bebas, dan polusi udara yang juga
mengandung radikal bebas (Safitri, 2002).
Radikal bebas merupakan suatu molekul, atom, atau
grup beberapa atom yang memiliki elektron yang tidak
berpasangan akan menarik elektron dari senyawa lain di
sekitarnya, misalnya dari protein, lipid, karbohidrat, dan
DNA (deoxyribo nucleat acid), yaitu senyawa yang
terdapat dalam inti sel, sehingga sel-sel ini akan mengalami
kerusakan yang akhirnya akan menyebabkan berbagai
macam penyakit, di antaranya penyakit kanker, katarak,
diabetes mellitus, ginjal, asma, gangguan paru, hati dan
radang usus (Kumalaningsih, 2006).
Salah satu upaya penaggulangan bahaya radikal
bebas adalah dengan cara pemberian antioksidan.
Antioksidan merupakan suatu atom, molekul, atau
senyawa kimia yang dapat memberikan elektron kepada
molekul radikal bebas sehingga memutuskan reaksi
berantai dari radikal bebas, sehingga menghambat laju
reaksi oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas

40

reaktif lalu membentuk suatu senyawa tidak reaktif dan


relatif stabil (Sofia, 2005).
Senyawa antioksidan sintesis yang cukup dikenal
adalah butilhidroksitoluen (BHT) dan butilhidroksianisol
(BHA). Kedua senyawa antioksidan ini banyak
dimanfaatkan dalam industri makanan dan minuman.
Namun, beberapa hasil penelitian telah membuktikan
bahwa ke dua antioksidan tersebut mempunyai efek
samping yang tidak diinginkan, yaitu berpotensi sebagai
karsinogenik terhadap reproduksi dan metabolisme.
Berdasarkan uji toksisitas akut dan kronik pada hewan
percobaan, pemakaian zat antioksidan ini maksimal dalam
campuran makanan adalah 200 ppm (Hernani, 2004).
Secara alamiah di dalam tubuh kita terdapat senyawa
bersifat antioksidan yang
berperan aktif dalam
menanggulangi masalah radikal bebas yaitu adanya enzim
superoksida dismutase atau SOD, glutatin dan katalase
dapat melindungi sel-sel dari serangan radikal bebas.
Namun hal ini tergantung pada pola hidup dan pola makan
atau asupan makanan yang banyak mengandung vitamin
C, vitamin E, senyawa betakaroten, fenolik dan flavonoid.
Tumbuh-tumbuhan merupakan sumber utama antioksidan
karena di dalam daun, bunga, buah, biji-bijian banyak
mengandung senyawa kimia yang mempunyai aktifitas
sebaga antioksidan yaitu tokoferol, asam askorbat,
karotenid, senyawa polifenol dan flavonoid. (Anonim,
2001), contohnya adalah daun jambu biji (Psidium guajava
L.) karena secara tradisional telah terbukti dapat mengobati

Jurnal Ilmiah PANNMED

berbagai penyakit yaitu diare akut dan kronis, disentri,


perut kembung pada bayi dan anak, kadar kolesterol darah
meninggi, haid tidak teratur, sering buang air kecil
(anyang-anyangan), luka, dan sariawan. Dilihat dari
berbagai khasiat ini besar kemungkinan daun jambu biji
mengandung berbagai bahan kimia terutama yang
mempunyai gugus fenolik yang sangat berpotensial
sebagai antioksidan (Dalimartha 2006).
Sebuah metode yang cepat, sederhana dan mudah
untuk mengukur aktifitas antioksidan adalah dengan
metode peredaman radikal bebas (Radical Scavenger)
menggunakan 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH)
sebagai radikal bebas. Metode ini telah digunakan luas
untuk menguji kemampuan sebagai antioksidan dari suatu
senyawa atau komponen dari berbagai sampel berbentuk
padat atau cair (Darmawan, 2004).
Berdasarkan hal di atas maka peneliti tertarik untuk
melakukan skrining fitokimia dan pengujian aktivitas
antioksidan dari ekstrak etanol dan fraksi n-heksan, etil
asetat, dan air dari daun jambu biji (Psidium guajava L.).
Pengujian antioksidan dilakukan dengan metode
peredaman radikal bebas (Radical Scavenger)
menggunakan 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH).
2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Antioksidan
Jika di suatu tempat terjadi reaksi oksidasi dan
reaksi tersebut menghasilkan hasil samping berupa radikal
bebas, selanjutnya radikal bebas yang terbentuk ini akan
menyerang molekul-molekul lain di sekitarnya. Hasil
reaksi ini akan dapat menghasilkan radikal bebas lain yang
siap menyerang molekul yang lainnya lagi. Akhirnya akan
terbentuk reaksi berantai yang sangat membahayakan.
Tetapi bila terdapat antioksidan, radikal bebas akan segera
bereaksi dengan antioksidan membentuk molekul yang
stabil dan reaksinya terhenti.
Setiap sel mempunyai sistem defensif antioksidan
enzimatis berupa perangkat yang dapat menagkal radikal
bebas secara alami seperti glutation perokside (GSH.Prx),
ubikuinol, katalase, superokside dismutase (SOD),
hydroperokside dan lain sebagainya. Enzim SOD akan
menjinakkan senyawa oksigen reaktif seperti superokside
anion (O-2) akan merubah radikal menjadi H2O2,
selanjutnya GSH.Prx mengubahnya menjadi air (H2O) dan
dikeluarkan dari tubuh. Namun dengan meningkatnya usia
terjadilah penurunan enzim ini dalam tubuh sehinga radikal
bebas tidak sepenuhnya dapat dimusnahkan, apalagi
dengan banyaknya pemasukan radikal bebas dari luar
tubuh, semakin sulit tubuh menghancurkan radikal bebas
ini.
Selain jenis antioksidan enzimatis, juga dikenal
jenis antioksidan non enzimatis. Jenis ini dapat berupa
golongan vitamin seperti vitamin C, A, dan E, golongan
mineral seperti selenium dan seng serta golongan senyawa
senyawa fenolik, flavonoid dan karotenoid (betakaroten,
likopen, lutein) dan yang khusus dari hewan yaitu
astaxanthin. (Saurisari, 2006).
Antioksidan sintetik yaitu yang dibuat dari
bahan-bahan kimia secara sintetis, antara lain: butyl

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

hidroksi anisol (BHA), butyl hidroksi toluene (BHT),


terbutil hidroksi quinon (TBHQ), propil galat (PG) dan
nordihidroguairatic acid (NDGA).
2.1.1 Penentuan aktifitas antioksidan
Bermacam-macam metode telah digunakan
untuk memantau dan membandingkan aktifitas antioksidan
pada makanan. Pada beberapa tahun belakangan ini,
pengujian absorbansi oksigen radikal telah digunakan
untuk mengevaluasi aktifitas antioksidan pada makanan,
serum dan cairan biologi lain. Metode analisa ini
mengukur aktifitas dari antioksidan dalam melawan radikal
bebas seperti 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH)
radikal, anion superoksida radikal (O2), hidroksiradikal
(OH) atau peroksiradikal (ROO). (Darmawan, 2004).
Sebuah metode yang cepat, sederhana dan mudah
untuk mengukur kapasitas antioksidan dari makanan
menggunakan radikal bebas 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl
(DPPH). DPPH berwarna ungu menyerap kuat pada
panjang gelombang 515 nm. digunakan luas untuk menguji
kemampuan aktifitas antioksidan dari makanan, dapat
digunakan untuk sampel padat atau cair (Darmawan,
2004).
2.2 Radikal Bebas
Radikal bebas merupakan atom atau molekul
yang sifatnya sangat tidak stabil. Ketidakstabilan ini
disebabkan karena atom tersebut memiliki satu atau lebih
elektron yang tidak berpasangan. Atom tersebut berusaha
untuk memiliki pasangan elektron, sehingga sifatnya
sangat reaktif. Atom ini cenderung mencari partikel dari
molekul lain dan kemudian membuat senyawa baru yan
tidak normal. Partikel atau elektron yang dijadikan
pasangan baru itu bisa diambil dari DNA,
membran/selaput sel, membran lisosom (bagian sel yang
mengandung enzim hidrolitik), mitokondria (tempat
produksi energi sel), enzim-enzim, lemak, protein serta
komponen jaringan lain (Kosasih, 2005).
Pembentukan radikal bebas dan reaksi oksidasi
pada biomolekul akan berlangsung sepanjang hidup. Inilah
peyebab utama dari proses penuaan sel dan berbagai
penyakit degenerative seperti strok, asma, gangguan paru,
hati, ginjal, diabetes militus, radang usus, penyumbatan
kronis pembuluh darah jantung (jantung koroner),
nerogeneratif seperti parkinson dan dementia/pikun,
bahkan radikal bebas dapat juga menyebabkan AIDS.
Radikal bebas yang sangat berbahaya antara lain adalah
golongan hidroksil (OH), superoksida (O2), nitrogen
monoksida peroksida (NO) dan peroksil (RO2).
Sedangkan golongan yang bukan radikal tetapi dengan
mudah dapat menjurus ke reaksi-reaksi radikal bebas
antara lain adalah peroksinitrit (ONOO), asam hipoklorit
(HOCl) dan hidrogenperoksida (H2O2) (Silalahi, 2006).
Radikal bebas bisa berasal dari dalam tubuh kita
sendiri maupun lingkungan. Di dalam tubuh, setiap proses
sel normal yang melibatkan oksigen misalnya pernafasan
atau pencernaan akan menghasilkan radikal bebas, maka
radikal bebas dapat berasal dari endogen maupun eksogen
yang terjadi melalui sederetan mekanisme reaksi, yaitu
pertama pembentukan awal radikal bebas (inisiasi), lalu

41

Tri Bintarti

perambatan atau terbentuknya radikal baru (propagasi) dan


tahap terakhir (terminasi) adalah pemusnahan atau
pengubahan menjadi senyawa stabil dan tak reaktif
(Saurisari, 2006).
Radikal bebas ini dapat diatasi dengan cara
mencegah masukknya radikal
bebas ke dalam tubuh misalnya menghindari paparan
dengan sinar UVB berlebihan yaitu menggunakan tabir
surya, mengatur pola makan yang baik (tidak
berlebihan), menghindari komsumsi bahan tambahan
makanan seperti bahan pengawet, pewarna, pemanis
buatan, menghindari dari stres, rokok, minum
beralkohol, polusi udara dan juga menjaga agar tidak
melakukan olahraga berlebihan. Disamping itu dengan
menggunakan antioksidan (Kosasih, 2005).
3.

METODE PENELITIAN

3.1 Bahan bahan dan Alat-alat


3.1.1 Bahan bahan
Bahan kimia yang digunakan berkualitas
proanalisa (p.a) kecuali dinyatakan lain adalah produksi EMerck yaitu : asam sulfat pekat, asam klorida pekat, etil
asetat, besi (III) klorida, metanol, natrium hidroksida,
serbuk magnesium, serbuk seng, netanol, n-heksana, etil
asetat, dan berkualitas pro analisa produksi Sigma: 1.1diphenyl-2-pycrylhydrazyl
(DPPH),
air
suling
(Laboratorium Kesehatan Daerah Medan).
3.1.2 Alat-alat
Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat gelas
laboratorium, blender (National), freeze dryer (Modulyo,
Edward, serial No.398), neraca kasar (Ohaus), neraca
listrik (Vibra), spektrofotometer visibel (Shimadzu).
3.2 Tahapan kerja :
Tahapan kerja yang dilakukan : pengumpulan, dan
pengolahan sampel, pembuatan ekstrak dengan cara
perkolasi diikuti dengan fraksinasi menggunakan n-heksan
+ air dan etil asetat, identifikasi senyawa kimia golongan
alkaloid, flavanoid, glikosida, tannin, saponin,
steroid/triterpenoid dari ekstrak etanol, fraksi n-heksan,
fraksi rtil asetat, dan fraksi air, serta pengujian aktifitas
antioksidan dengan metode Radical Scavenger,
3.3 Pengujian Aktifitas Antioksidan
3.3.1
Penetapan panjang gelombang
Disiapkan larutan konsentrasi 40 g/ml, lalu
diukur absorbansinya pada panjang gelombang 400-800
nm, sehingga diperoleh absorbansi maksimum sebagai
panjang gelombang.
3.3.2 Pengukuran absorbansi DPPH tanpa sampel
(blanko)
Larutan DPPH konsentrasi 40 g/ml, diukur
absorbansinya dengan spektrofotometer visible pada
panjang gelombang 516 nm dengan selang waktu 5 menit
sampai 30 menit sehingga diperoleh berbagai harga
absorbansi.

42

Skrining Fitokimia dan Uji...

3.3.3

Pengukuran absorbansi DPPH setelah


penambahan sampel
Disiapkan larutan uji (ekstrak etanol daun jambu
biji dan hasil fraksinya dengan berbagai bahan penyari)
masing-masing konsentrasi 4 g/ml, 8 g/ml, 12 g/ml
dan 16 g/ml di labu tentukur 25 ml. ditambahkan 4 ml
larutan DPPH (1.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) 40 g/ml,
lalu volumenya dicukupkan dengan metanol hingga garis
tanda. Kemudian diukur absorbansinya dengan
spektrofotometer visible pada panjang gelombang 516 nm
mulai dari 5 menit setelah penambahan DPPH dengan
interval waktu 5 menit sampai 30 menit. Kemampuan
bahan uji sebagai antioksidan dihitung berdasakan
penurunan serapan larutan DPPH akibat adanya
penambahan bahan uji. Nilai serapan larutan DPPH
sebelum dan sesudah penambahan bahan uji dihitung
sebagi persen inhibisi (% inhibisi) dengan rumus sebagai
berikut : % inhibisi =

Akontrol Asampel
Akontrol

100

Keterangan :
Akontrol = Absorbansi DPPH tidak mengandung sampel.
Asampel = Absorbansi DPPH mengandung sampel.
Selanjutnya dilakukan perhitungan persamaan
garis regresi dengan konsentrasi sampel (g/ml) sebagai
absis (sumbu X) dan nilai inhibisi sebagai ordinatnya
(sumbu Y). selanjutnya kemampuan bahan uji sebagai
antioksidan dengan diperhitungkan dengan harga Inhibitor
Concentration 50% (IC50) menggunakan rumus :
50 = ax + b
Keterangan : a = Absortifitas
b = Tebal kuvet
x = Konsentrasi
4. HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Skrining Fitokimia
Hasil Skrining fitokimia ditunjukkan pada Tabel 1:
Tabel 1 : Hasil skrining fitokimia kimia
Alkaloi
Flavonoi Steroida/
Glikos i
Tanin
Saponin
da
da Triterpenoid
da
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)

Daun segar

Simplisia kering

(+)

(+)

(+)

(+)

(+)

(+)

Ekstrak Etanol

(+)

(+)

(+)

(+)

(+)

(+)

Fraksin-Heksan

(+)

(-)

(-)

(+)

(-)

(+)

Fraksi Etil Asetat

(+)

(+)

(-)

(+)

(-)

(-)

Fraksi Air

(-)

(+)

(-)

(-)

(-)

(+)

4.2 Hasil Uji Aktifitas Antioksidan


Hasil pengukuran absorbansi rata-rata dari ekstrak
etanol dan fraksinasi dengan berbagai penyari daun jambu
biji ditunjukkan pada Tabel 2 dan Gambar 1:

Jurnal Ilmiah PANNMED

Tabel 2. Absorbansi dari ekstrak etanol dan berbagai fraksi


daun jambu biji
No
1

2
3

5.

Ekstrak/ Konsentrasi Absorbansi blanko dan bahan uji dengan berbagai konsentrasi
fraksi
(g/ml) 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit 30 menit
Blanko 0.7294 0.7325 0.7339 0.7357 0.7377 0.74
Ekstrak
4
0.6326 0.6316 0.6306 0.6295 0.6285 0.6274
etanol
8
0.618 0.6167 0.6157 0.6147 0.6139 0.6129
12
0.6095 0.6088 0.6081 0.6073 0.6065 0.6055
16
0.7294 0.7325 0.7339 0.7357 0.7377 0.74
Fraksi
4
0.6626 0.6616 0.6606 0.6595 0.6585 0.6574
n-heksan
8
0.648 0.6467 0.6457 0.6447 0.6439 0.6429
12
0.6395 0.6388 0.6381 0.6373 0.6365 0.6355
16
0.6285 0.6278 0.6271 0.6264 0.6255 0.6247
Fraksi
4
0.6576 0.6566 0.6556 0.6545 0.6535 0.6524
etil asetat
8
0.643 0.6417 0.6407 0.6397 0.6389 0.6379
12
0.6345 0.6338 0.6331 0.6323 0.6315 0.6305
16
0.6235 0.6228 0.6221 0.6214 0.6205 0.6197
Fraksi air
4
0.6526 0.6516 0.6506 0.6495 0.6485 0.6474
8
0.638 0.6367 0.6357 0.6347 0.6339 0.6329
12
0.6295 0.6288 0.6281 0.6273 0.6265 0.6255
16
0.6185 0.6178 0.6171 0.6164 0.6155 0.6147

PEMBAHASAN

Hasil skrining fitokimia menunjukkan


bahwa
ekstrak etanol, mengandung alkaloid, tannin, flavonoida,
steroida, saponin, dan glikosida, berarti sangat berpotensial
sebagai antioksidan Fraksi n-heksan tidak positif adanya
tanin dan flvonoid, namun masih ada kemungkinan
mempunyai aktifitas sebagai antioksidan karena
kemungkinan pada golongan alkaloid dan glikosida
mempunyai gugus fenol walaupun tidak sebesar senyawa
polifenol seperti tannin dan flavonoid. Fraksi etil asetat,
dan fraksi air mengandung
senyawa tanin, yang
berpotensial sebagai antioksidan, selain itu pada fraksi air
terlihat adanya glikosida, juga kemungkinan mempunyai
aktifitas antioksidan

Gambar1. Grafik Absorbansi ekstrak etanol, n-heksana,


etil asetat, dan air daun jambu biji.

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Tabel 2 dan Gambar1 menunjukkan terjadinya


penurunan absorbansi dari DPPH yang telah ditambah
bahan uji, semakin besar konsentrasi bahan uji yang
ditambahkan dan semakin lama waktu waktu pengukuran,
penurunan absorbansi-nya semakin besar, sedangkan pada
DPPH sendiri tanpa penambahan bahan uji sampai 30
menit pengukuran absorbansi-nya semakin bertambah,
terlihat perbedaan laju penurunan absorbansi pada setiap
bahan uji. Ini dapat dihubungkan dengan hasil pengujian
skrining fitokimia terdapat perbedaan golongan senyawa
yang terkandung di dalam masing-masing ekstrak dan
fraksi, walaupun secara pasti jenis senyawa kimia apa saja
yang mempunyai aktifitas sebagai antioksidan yang
terkaandung di dalam daun jambu biji ini belum diketahui
secara pasti. Selanjutnya untuk mengetahui berapa besar
kemampuan aktifitas dari setiap bahan uji sebagai
antioksidan dapat dilakukan dengan perhitungan harga IC50 Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 2.
Tabel 3. Persen inhibisi dan hasil perhitungan harga IC50
Ekstrak/
fraksi
Ekstrak
etanol
Fraksi
n-heksan

Fraksi
etil asetat

Fraksi air

Konsen
Persen inhibisi dari bahan uji dengan berbagai konsentrasi
trasi
(g/ml) 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit 30 menit
4 13.27 13.77 14.08 14.44 14.81 15.21
8 15.27 15.81 16.11 16.79 16.79 17.17
12 16.44 16.89 17.15 17.46 17.8
18.18
16 17.95 18.38 18.64 18.94 19.28 19.63
4 8.06
8.58
8.9
9.27
9.66
10.08
8 10.06 10.62 10.93 11.64 11.64 12.04
12 11.23 11.7
11.97 12.29 12.64 13.04
16 12.74 13.2
13.47 13.77 14.13 14.5
4 9.84
10.36 10.67 11.04 11.42 11.83
8 11.84 12.4
12.7
13.4
13.4
13.79
12 13.01 13.47 13.74 14.06 14.41 14.8
16 14.52 14.97 15.24 15.54 15.89 16.25
4 10.53 11.04 11.35 11.72 12.1
12.51
8 12.53 13.08 13.38 14.08 14.08 14.47
12 13.7
14.15 14.42 14.74 15.08 15.48
16 15.2
15.65 15.92 16.22 16.57 16.93

IC 50
42,06

58,15

51,60

49,41

Gambar 2. Histogram harga IC 50 dari ekstrak etanol dan


berbagai fraksi daun jambu biji

43

Tri Bintarti

Secara spesifik, suatu senyawa dikatakan


sebagai antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 kurang
dari 50 g/ml, kuat jika IC50 bernilai 50-100 g/ml,
sedang jika IC50 bernilai 100-150 g/ml dan lemah
jika IC50 151-200 g/ml (Anonim, 2005) Tabel 4.5
dan Gambar 11 menunjukkan bahwa pada pengukuran
sampai dengan waktu 30 menit kemampuan
antioksidan ekstrak etanol berkategori kuat memiliki
nilai IC50 = 42,06g/ml, fraksi n-heksan berkategori
sedang memiliki IC50 = 58,15g/ml, fraksi etil asetat
berkategori sedang memiliki 51,60g/ml, dan fraksi air
berkategori kuat memiliki IC50 = 49,41g/ml. Ini
menunjukkan bahwa daun jambu biji mempunyai
kemampuan yang baik sebagai antioksidan, dan yang
paling kuat adalah ekstrak etanol.
6.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian pengujian skrining


fitokimia terhadap ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi
etil asetat, dai fraksi air dari daun jambu biji (Psidium
guajava L.) dan uji kemampuannya sebagai antioksidan
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak etanol
mengandung alkaloid, tannin, flavonoid, steroid,
saponin, dan glikosida. Fraksi n-heksan mengandung
golongan alkaloida dan glikosida. Fraksi etil asetat
mengandung senyawa tanin. Fraksi air mengandung
tannin dan glikosida.
3.
Ekstrak etanol dan fraksi air daun jambu biji
mempunyai aktifitas antioksidan berkategori kuat,
pada fraksi n-heksan dan etil asetat mempunyai
antioksidan berkategori sedang.
7.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Antioxidan Activity of Five Vegetable


Traditioinally Consumed by South-Asian Migrants in
Bradford,
Yorkshire.
UK.
Online
2001.

44

Skrining Fitokimia dan Uji...

http://www.interscience.wiley.co.uk/health/chartshtml
Day, R.A. dan Underwood, A.L. (1986). Analisis Kimia
Kuantitatif, Edisi Ke-6. Terjemahan Iis Sopyan.
Jakarta. Erlangga. Hal 382.
Departemen Kesehatan RI. (1989). Materia Medika
Indonesia, Jilid V. Jakarta: Depkes RI. Hal 513, 526,
536, 540, 549.
Departemen Kesehatan RI. (1995). Materia Medika
Indonesia, Jilid IV. Jakarta: Depkes RI. Hal 308, 310,
313.
Departemen Kesehatan RI. (2000). Parameter Standar
Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Cetakan I. Jakarta:
Depkes RI. Hal 1, 10-13.
Geissman, T.A. (1962). The Chemistry of Flavonoids
Compounds, New York: The Macmillan Company. P.
366.
Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia, Terjemahan
Padamawinata dan Soediro. Bandung. Hal 13, 147.
Hernani, Monoraharjo. (2002). Tanaman Berkhasiat
Antioksidan, Cetakan I. Penerbit Penebar Swadaya.
http://www.pikiranHal.
9-11.
rakyat.com/cetak/0604/17/cakrawala/penelitian.htm
Safitri, R. (2002). Sayuran dan Buah-buahan Pencegah
Penyakit Jantung. Pikiran Rakyat Cyber Media.
Sauriasari. Mengenal dan Menangkal Radikal Bebas,
Online 2006. http://www.beritaiptek.com/zberitaberitaiptek-2006-01-22-Mengenal-dan-MenangkalRadikal-Bebas.shtml
Silalahi, J. (2006). Makanan Fungsional, Kanisius. Hal 4149, 54-55
Sofia, D. Antioksidan dan Radikal Bebas, Online 2002.
http://www.chemis-try.org/?sect=artikel&ext=81

PERANAN PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT


TERHADAP PENINGKATAN KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT
SISWA-SISWI KELAS VII-1 SMP N 31 MEDAN
KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN TAHUN 2014

Nelly Katharina Manurung


Jurusan Keperawatan Gigi

Abstrak
Anak usia sekolah merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut, seperti masalah gigi
berlubang, bau mulut, karang gigi dan pola makan yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut.
Oleh karena itu anak sekolah perlu mendapat perhatian khusus dalam hal peningkatan derajat kesehatan gigi
dan mulut yang optimal. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi salah
satunya adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan gigi melalui penyuluhan. Penelitian ini bersifat
diskriptif dengan menggunakan pretest-posttest design dengan memberikan perlakuan berupa penyuluhan
kesehatan gigi dan mulut dengan metode ceramah dan demonstrasi yang bertujuan untuk mengetahui
peranan penyuluhan kesehatan gigi terhadap peningkatan kebersihan gigi dan mulut siswa. Penelitian ini
merupakan penelitian populasi yang dilakukan pada siswa-siswi kelas VII-1 SMP N 31 Medan Kecamatan
Medan Tuntungan dengan jumlah responden 40 orang. Penelitian dilakukan dengan cara pemeriksaan
langsung dan diperoleh hasil bahwa penyuluhan sangat berperan penting dalam meningkatkan kebersihan
gigi dan mulut. Hal ini dapat dilihat dari adanya perbedaan yang nyata pada rata-rata OHI-S siswa sebelum
dan sesudah penyuluhan. Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) siswa-siswi sebelum penyuluhan 3.37
dengan kriteria buruk dan setelah penyuluhan menjadi 2.05 dengan kriteria sedang. Persentase OHI-S
sebelum penyuluhan dengan kriteria buruk yaitu 60% sesudah penyuluhan menjadi 7,5%, dengan kriteria
sedang yaitu 30% menjadi 75% dan tidak dijumpai (0%) siswa dengan angka OHI-S dalam kriteria baik
sebelum penyuluhan, namun setelah penyuluhan meningkat menjadi 17,5%. Dari hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan gigi dan mulut sangat berperan penting dalam meningkatkan
kebersihan gigi dan mulut.
Kata kunci : Penyuluhan, Kebersihan Gigi dan Mulut
PENDAHULUAN
Masalah gigi dan mulut yang banyak diderita
masyarakat pada umumnya meliputi gigi berlubang
(karies), radang gusi, karang gigi (Calculus) yang
seharusnya dapat dicegah sejak dini. Menurut Survei
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2003, dalam
satu bulan terdapat 62% masyarakat pernah sakit gigi dan
hasil Survei Habit and Attitude tahun 2004 di Indonesia
dinyatakan bahwa tingginya angka penyakit gigi dan mulut
disebabkan kurangnya perhatian masyarakat dalam upaya
membersihkan gigi dan mulut.
Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut adalah
upaya-upaya yang dilakukan untuk merubah perilaku
seseorang, sekelompok orang atau masyarakat sehingga
mempunyai kemampuan dan kebiasaan untuk berperilaku
hidup sehat di bidang kesehatan gigi dan mulut (Depkes,
1995).
Karies atau gigi berlubang serta masalah gusi
adalah penyakit gigi dan mulut yang paling banyak ditemui
pada anak. Sebanyak 89% anak di Indonesia dibawah usia
12 tahun menderita penyakit gigi dan mulut. Kondisi ini

akan berpengaruh pada derajat kesehatan mereka. Maka


untuk menurunkan jumlah tersebut selain tindakan
pengobatan bagi anak usia sekolah perlu juga dilakukan
tindakan promotif (penyuluhan) bagi sekolah dasar untuk
menumbuhkan kesadaran dalam membersihkan gigi dan
mulut, karena masa ini merupakan masa tumbuh dan
berkembang (Astoeti, 2007).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik
melakukan penelitian tentang bagaimana Peranan
Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap
Peningkatan Kebersihan Gigi dan Mulut pada Siswa-siswi
Kelas VII-1 SMP N 31 Medan Kecamatan Medan
Tuntungan Tahun 2014.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana Peranan
Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap
Peningkatan Kebersihan Gigi dan Mulut pada Siswasiswi Kelas VII-1 SMP N 31 Medan Kecamatan Medan
Tuntungan Tahun 2014.

45

Jurnal Ilmiah PANNMED

Manfaat Penelitian
1. Menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan
bagi penulis tentang bagaimana motivasi anak
dalam meningkatkan kebersihan gigi dan mulut.
2. Memberikan
masukan
bagi
penyelenggara
pelayanan
kesehatan
dalam
meningkatkan
pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
3. Sebagai masukan bagi peneliti lain dalam
melakukan penelitian selanjutnya.
METODE PENELITIAN
Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif
dengan menggunakan pretest-posttest design. Pada
siswa-siswi kelas VII-1 SMP N 31 sebelum dilakukan
penyuluhan terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan
terhadap kebersihan gigi dan mulut siswa. Selanjutnya
setelah dilakukan penyuluhan, peneliti melakukan
pemeriksaan ulang terhadap kebersihan gigi dan mulut
untuk mengetahui akibat dari perlakuan (penyuluhan).
Hasilnya dilihat dengan cara membandingkan angka
kebersihan gigi dan mulut anak sebelum dan sesudah
penyuluhan dilakukan.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah SMP Negeri 31
Kecamatan Medan Tuntungan. Penelitian ini dilakukan
selama 5 bulan dari bulan Maret sampai Juli 2014
terhadap siswa-siswi kelas VII-1 SMP N 31 Medan
Kecamatan Medan Tuntungan. Sekolah ini dipilih
karena pada sekolah tersebut belum pernah dilakukan
penyuluhan kesehatan gigi dan mulut khususnya cara
menyikat gigi yang baik dan benar.
Populasi dan Sampel Penelitian
Mengacu kepada pendapat Arikunto (2002). Jika
sampel kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga
penelitiannya merupakan penelitian populasi. Maka sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah populasi total
dari siswa-siswi Kelas VII-1 SMP N 31 Medan Kecamatan
Medan Tuntungan 2014 yang berjumlah 40 orang.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang digunakan
adalah data primer dan data sekunder. Data primer
dalam penelitian ini berupa data tingkat kebersihan gigi
dan mulut siswa siswi yang diperoleh melalui
pemeriksaan langsung ke rongga mulut siswa siswi.
Data sekunder diperoleh dari pihak sekolah yang
berupa data tentang nama, alamat dan jumlah siswa
siswi.
Hal pertama yang dilakukan oleh peneliti
adalah melakukan pemeriksaan langsung terhadap
sampel untuk mendapatkan data awal mengenai
kebersihan gigi dan mulut dari sampel yang akan
diteliti, kemudian melakukan penyuluhan dengan
metode ceramah dan demonstrasi. Setelah penyuluhan
dilakukan satu minggu kemudian peneliti melakukan
kembali pemeriksaan langsung ke mulut pasien yang

46

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

menjadi sampel untuk mendapatkan data akhir


mengenai kebersihan gigi dan mulut. Sehingga dari
data awal dan data akhir yang diperoleh, terlihat
adanya perubahan tingkat kebersihan gigi dan mulut
siswa siswi.
Pengumpulan data dilakukan oleh tim yang terdiri dari
3 orang.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1. Orang pertama memanggil nama-nama yang
menjadi sampel dan mendudukkannya di kursi yang
telah disediakan.
2. Orang kedua melakukan pemeriksaan gigi pada
sampel dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
kebersihan gigi dan mulutnya (OHI-S) dengan
menggunakan alat oral diagnostic dan peralatan
lain yang dibutuhkan.
3. Untuk mengetahui tingkat kebersihan gigi dan
mulut maka cara yang digunakan adalah cara Green
dan Vermilion yaitu hasil dari penjumlahan debris
Index dan Calculus Index. Cara pemeriksaannya
adalah sebagai berikut :
Untuk rahang atas yang diperiksa adalah :

Gigi M1 kanan atas pada permukaan bukal

Gigi I1 kanan atas pada permukaan labial

Gigi M1 kiri atas pada permukaan bukal


Untuk rahang bawah yang diperiksa adalah :

Gigi M1 bawah pada permukaan lingual

Gigi I1 kiri bawah pada permukaan labial

Gigi M1 kanan bawah pada permukaan lingual


4. Kemudian hasil pemeriksaan dicatat oleh orang
ketiga pada formulir pemeriksaan yang telah
disiapkan.
5. Setelah itu, formulir pemeriksaan dikumpulkan dan
dihitung serta diperiksa kelengkapannya agar
terhindar dari kekurangan data dan mempermudah
dalam pengolahan data. Jika data tersebut belum
lengkap, maka harus dilengkapi terlebih dahulu.
6. Menghitung debris Index dan Calculus Index.
Kemudian debris Index dan Calculus Index
dijumlahkan sehingga hasil penjumlahan tersebut
merupakan angka untuk menentukan tingkat
kebersihan gigi dan mulut (OHI-S).
7. Menghitung jumlah sampel yang memiliki OHI-S
baik, sedang dan buruk.
8. Selanjutnya dilakukan penghitungan persentase
kebersihan gigi dan mulut siswa yang menjadi
sampel menurut kriteria baik, sedang dan buruk.
Kemudian data-data tersebut dimasukkan kedalam
tabel distribusi frekuensi.
Pengolahan dan Analisis Data
Data yang telah terkumpul diolah secara
manual dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel
distribusi
frekuensi
untuk
mengetahui
perbandingan tingkat kebersihan gigi dan mulut
siswa sebelum dilakukan penyuluhan dan sesudah
penyuluhan.

Nelly Katharina Manurung

Peranan Penyuluhan Kesehatan...

Data yang telah terkumpul dianalisa dengan


langkah menghitung rata-rata OHI-S sebelum dan
sesudah penyuluhan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Untuk debris Index rata-rata:

1.

Sebelum penyuluhan

Debris Index Rata-Rata

2.

3.

Jumlah Anak yang Diperiksa

Untuk Calculus Index rata-rata:


Calculus Index Rata-Rata
Jumlah Calculus Index Total
=
Jumlah Anak yang Diperiksa

Total

Jumlah Anak yang Diperiksa

Sehingga untuk mengetahui hasil akhir atau peningkatan


kebersihan gigi dan mulut (P) yaitu:
P = OHI-S rata-rata awal OHI-S rata-rata akhir
P = Peningkatan kebersihan gigi dan mulut.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Penelitian yang dilakukan pada 40 orang siswasiswa kelas VII-1 SMP N 31 Medan Kecamatan Medan
Tuntungan Tahun 2014 menunjukkan hasil sebagai
berikut:

Baik
Sedang
Buruk
Total

umlah CIRata-rata
DI
3
1,50
0,50
30
35,4
1,18
7
14,33
2,04
40
51,2
1,28

Tabel A.1
Distribusi Frekuensi Debris Index (DI) Rata-rata
Sebelum dan Sesudah Penyuluhan pada Siswa-siswi
Kelas VII-1 SMP N 31 Medan Kecamatan Medan
Tuntungan Tahun 2014
Sebelum Penyuluhan

Sesudah penyuluhan

n Jumlah Rata-rata DI %
DI
0
0
0
0
14 23,95
1,71
35
26 58,73
2,25
65
40 82,48
2,06
100

N Jumlah DIRata-rata %
DI
8
2,48
0,31
20
31
33,8
1,09 77,5
1
2,50
2,50
2,5
40
38,78
0,96 100

Kriteria

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah


siswa dengan Debris Index (DI) kriteria buruk sebelum
penyuluhan berjumlah 26 siswa (65%), setelah penyuluhan
berkurang menjadi menjadi 1 siswa (2,5%). Siswa dengan
Debris Index kriteria sedang sebelum penyuluhan
berjumlah 14 orang (35%) dan sesudah penyuluhan
menjadi 31 siswa (77,5%). Sebelum penyuluhan tidak ada
siswa yang memiliki Debris Index dengan kriteria baik,
namum setelah penyuluhan meningkat mejadi 8 orang
(20%). Debris Index rata-rata sebelum penyuluhan adalah
2,06 dan sesudah penyuluhan menurun menjadi 0,96.

%
7,5
75
17,5
100

N
8
27
5
40

Jumlah Rata-rata
CI
DI
1,50
0,18
31,92
1,18
10
2,00
43,42
1,08

%
20
67,5
12,5
100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah


siswa dengan Calculus Index (CI) kriteria buruk sebelum
penyuluhan berjumlah 7 siswa (17,5%), setelah
penyuluhan berkurang menjadi menjadi 5 siswa (12,5%).
Siswa dengan Calculus Index kriteria sedang sebelum
penyuluhan berjumlah 30 orang (75%) dan sesudah
penyuluhan menjadi 27 siswa (67,5%). Sebelum
penyuluhan terdapat 3 siswa (7,5%) yang memiliki
Calculus Index dengan kriteria baik, namum setelah
penyuluhan meningkat mejadi 8 orang (20%). Calculus
Index rata-rata sebelum penyuluhan adalah 1,28 dan
sesudah penyuluhan menurun menjadi 1,08.
Tabel A.3
Distribusi Frekuensi OHI-S Rata-rata Sebelum dan
Sesudah Penyuluhan pada Siswa-siswi Kelas VII-1
SMP N 31 Medan Kecamatan Medan Tuntungan
Tahun 2014
Sebelum Penyuluhan

Sesudah Penyuluhan

Kriteria
N

Baik
Sedang
Buruk
Total

Sesudah Penyuluhan

Kriteria

Jumlah Debris Index Total

Untuk OHI-S rata-rata:


OHI-S Rata-Rata
Jumlah OHI S
=

Tabel A.2
Distribusi Frekuensi Calculus Index (CI) Rata-rata
Sebelum dan Sesudah Penyuluhan pada Siswa-siswa
Kelas VII-1 SMP N 31 Medan Kecamatan Medan
Tuntungan Tahun 2014

Baik
Sedang
Buruk
Total

0
16
24
40

Jumlah Rata-rata
Jumlah Raa-rata
% N
OHI-S OHI-S
OHI-S OHIS
0
0
0
7
5,8
0,82
41,38
2,58
40 30 66,08
2,20
93,53
3,89
60 3
10,29
3,43
134,91
3,37 100 40 82,17
2,05

%
17,5
75
7,5
100

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa OHI-S


siswa sebelum penyuluhan pada 24 siswa (60%) dengan
kriteria buruk sesudah penyuluhan menjadi 3 siswa (7,5%),
16 siswa (40%) dengan kriteria sedang sesudah
penyuluhan menjadi 30 (75%). Sebelum penyuluhan
dilakukan tidak ada siswa yang tingkat kebersihan
mulutnya dalam kriteria baik, namun sesudah penyuluhan
meningkat menjadi 7 siswa (17,5%). Rata-rata OHI-S
sebelum penyuluhan yaitu 3.37 dengan kriteria buruk dan
sesudah penyuluhan menjadi 2.05 dengan kriteria sedang
dan terjadi penurunan angka OHI-S sebesar 1,32.
Pembahasan
Dari hasil pemeriksaan langsung yang dilakukan
terhadap kebersihan gigi dan mulut siswa-siswi sebelum
dan sesudah penyuluhan terlihat adanya peningkatan.
Debris Index rata-rata sebelum penyuluhan yaitu
sebesar 2,06 dengan kriteria buruk, sesudah penyuluhan
menjadi 0,96 dengan kriteria sedang. Menurut Ali
Thanthawi (2010) kesehatan mulut berkaitan dengan
kebersihan gigi, banyaknya kuman dan bakteri penyakit
yang berada di dalam sisa makanan dan menempel di sela47

Jurnal Ilmiah PANNMED

sela gigi. Sisa makanan akan membusuk dan berubah


menjadi sarang kuman sehingga bila mengabaikan
kebersihan gigi dan mulut pada akhirnya akan membuat
gigi mudah berlubang dan keropos.
Calculus Index rata-rata sebelum penyuluhan
yaitu sebesar 1,28 dengan kriteria sedang dan sesudah
penyuluhan menjadi 1,08. Ini disebabkan karena sisa
makanan dan bakteri mudah menempel dan berkembang
biak pada permukaan yang kasar karena adanya calculus,
sehingga apabila calculus tidak dibersihkan akan
menimbulkan penyakit gigi dan mulut. Menurut Nio
(1989), karang gigi juga tempat yang baik untuk
pertumbuhan plak. Karang gigi yang tidak dibersihkan
akan mengakibatkan gingivitis, bau mulut, karies gigi dan
gigi goyang. Wahit,dkk, 2006, menyatakan pendidikan
kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis
dan perubahan tersebut bukan sekedar proses transfer
materi/teori dari seseorang ke orang lain dan bukan pula
seperangkat prosedur, akan tetapi perubahan tersebut
terjadi karena adanya kesadaran dari dalam diri individu,
kelompok atau masyarakat.
OHI-S rata-rata sebelum penyuluhan sebesar 3,37
dengan kriteria buruk, sesudah penyuluhan menjadi 2,05
dengan kriteria sedang. Hal ini disebabkan karena
penyuluhan yang diberikan hanya pada saat penelitian
berlangsung. Apabila penyuluhan diberikan secara
berkesinambungan dan pihak sekolah juga mendukung
tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa,
diharapkan rata-rata OHI-S dengan kriteria baik akan lebih
meningkat. Kurangnya perhatian siswa untuk menjaga
kesehatan gigi dan mulutnya dapat menyebabkan tingkat
kebersihan gigi dan mulut semakin buruk dan dapat
merusak gigi. Menurut Lena (2011), pemeliharaan
kesehatan gigi dan mulut dengan cara menyikat gigi
berperan sangat besar, karena dapat mencegah
penumpukan plak dan menimbulkan kerusakan jaringan
penyangga gigi.
Herijulianti, E, 2001, menyatakan bahwa tujuan
penyuluhan dalam jangka pendek adalah tercapainya
perubahan pengetahuan masyarakat. Tujuan jangka
menengah adalah untuk meningkatkan pengertian sikap
dan keterampilan yang akan mengubah perilaku seseorang
kearah perilaku sehat. Tujuan jangka panjang adalah agar
masyarakat dapat menjalankan perilaku sehat dalam
kehidupannya sehari-hari.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Peranan
Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap
Peningkatan Kebersihan Gigi dan Mulut Siswa-siswi Kelas
VII-1 SMP N 31 Medan Kecamatan Medan Tuntungan
Tahun 2014, dapat disimpulkan bahwa penyuluhan sangat
berperan penting dalam meningkatkan kebersihan gigi dan
mulut siswa kelas VII-1. Hal tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. OHI-S menjadi lebih baik yang dapat dilihat dari
tidak adanya siswa yang memiliki tingkat
kebersihan gigi dan mulut yang baik sebelum
penyuluhan, namun setelah penyuluhan siswa

48

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

dengan tingkat kebersihan mulut yang baik


meningkat menjadi 7 orang (17,5%).
2. Rata-rata OHI-S menjadi lebih baik dilihat dari
angka OHI-S rata-rata sebelum penyuluhan 3.37
dan sesudah penyuluhan menjadi 2.05.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan
diharapkan kepada:
1. Pihak SMP N 31 Medan Kecamatan Medan
Tuntungan bekerja sama dengan puskesmas
setempat untuk dapat memberikan penyuluhan
kesehatan gigi dan mulut secara berkala sehingga
siswa mampu memelihara kebersihan gigi dan
mulut secara optimal.
2. Siswa-siswi SMP N 31 Medan Kecamatan Medan
Tuntungan untuk meningkatkan kesehatan gigi dan
mulut yaitu dengan cara menyikat gigi minimal 2
kali sehari yaitu pagi sesudah makan dan malam
sebelum tidur dan melakukan pemeriksaan
kesehatan gigi secara berkala minimal 6 bulan
sekali.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S., 2002. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta,
Jakarta.
Astoeti, 2006. Pendidikan Kesehatan Gigi di Sekolah.
EGC. Jakarta.
Boediharto, 1998. Pendidikan Kesehatan Gigi. FKG, UI.
Jakarta.
,1985. Pemeliharaan Kesehatan Bagi Keluarga.
Airlangga University Press. Jakarta.
Effendy, Nasrul, 1998. Dasar-Dasar Keperawatan
Kesehatan Masyarakat. EGC. Jakarta.
Gent, B. Van, 2000. Andragologie En Voorlichting.
Proefschrift, Boom. Meppel.
Herijulianti, S., Tati Svasti Indriani, Sri Artini. Pendidikan
Kesehatan Gigi. EGC,
Jakarta. 2001
Green, Lawrence, 1980. Health Education Planning, A
Diagnostic Approach. The John Hopkins Univercity,
Mayfielt Publishing Co.
PDK Direktorat PLS, Pemuda dan OR. Balai
Pengembangan
Kegiatan, Lembang, Metode
Ceramah. Bandung. 1988.
Nasution, S. Berbagi Pendekatan Dalam Proses Belajar
Mengajar, Bandung. Bina Aksara.
Notoatmodjo, Soekidjo. Promosi Kesehatan dan Ilmu
Perilaku, Rineka Cipta, Jakarta. 2007.
Putri, H. M.,E. Herijulianti dan N Nurjanah, 2010. Ilmu
Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan Jaringan
Pendukung Gigi, EGC. Jakarta.
Ramadhan, A.G., 2010, Serba-Serbi Kesehatan Gigi dan
Mulut, Bukune. Jakarta.
Rouwenhorst, W. Leren Gezond Te Ujn, 2002, Proefchrift,
Walters Nuordhoof, B. V, Bronifigen.
Setiana, L., 2005. Teknik Penyusunan Pemberdayaan
Masyarakat.
Wahit, dkk, 2007. Promosi Kesehatan, Graha Ilmu.
Yogyakarta.

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SIKAP REMAJA


KELAS XI TERHADAP HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH
(INTERCOURSE) DI SMA DHARMA BAKTI MEDAN TAHUN 2014

Hanna Sriyanti Saragih, Rika Dinata Sianturi, Jujuren Sitepu


Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Medan

Abstract
The lack of information received by adolescents about reproductive health and lack of knowledge causes an
effect on adolescent attitudes toward sexual behavior. Destination of the research for factors associated with
adolescent attitudes toward class xi premarital sexual relations (intercourse) Medan of Dharma Bakti Senior
High School year 2014. The role of parents also influence adolescent attitudes toward premarital sexual
relations. Additionally teenagers often receive information about sex instead of one source, even misleading,
for example, of the mass media that actually abused by teens. This research is analytic approach to crosssectional design with a sample size of 60 respondents. Data were analyzed using univariate and bivariate
Chi-Square test. The analysis showed that factors associated with adolescent attitudes toward premarital
sexual intercourse in high school is Dharma Bakti field of reproductive health knowledge p value = 0,005
(<0,05), the role of parents p value = 0,001 (<0,05), the role of the mass media p value = 0,010 (<0,05). It is
expected that the school can make this research as a guide to improve the provision of information or
education about reproductive health especially about sex education for adolescent in school.
Keywords : Attitude, intercourse
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
Remaja merupakan populasi yang terbesar
dunia. Menurut World Health
dari
penduduk
Organization (WHO)
sekitar
seperlima
dari
dunia
adalah
remaja berusia 10-19
penduduk
tahun. Sekitar 900 juta berada
di
negara
berkembang. Di Indonesia pada tahun 2007
jumlah remaja usia 10-24 tahun terdapat sekitar
64 juta atau 28,64% dari jumlah penduduk
Indonesia (Muadz, dkk, 2008).
Menurut Depkes tahun 2007 menunjukkan
bahwa kegiatan seks bebas menempatkan remaja pada
tantangan risiko yang berat terhadap berbagai masalah
kesehatan reproduksi. Setiap tahun kira-kira 15 juta
remaja berusia 15-19 tahun melahirkan anak, 4 juta
melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi
Penyakit Menular Seksual (PMS) yang masih dapat
disembuhkan (Dwi Novita, 2011).
Perilaku seks pranikah dapat mengakibatkan
risiko, seperti terjadinya kehamilan yang tidak
diinginkan (KTD), putus sekolah (drop out), jika
remaja tersebut masih sekolah dapat melakukan
pengguguran kandungan (aborsi), terkena penyakit
menular seksual (PMS), dan tekanan psikososial yang
timbul karena perasaan bersalah telah melanggar aturan
agama dan takut diketahui oleh orangtua dan
masyarakat (Sri Handayani, 2009).

Secara global, 40% dari semua kasus


HIV/AIDS terjadi pada kaum muda 15-24 tahun.
Perkiraan terakhir adalah setiap hari ada 7000 remaja
yang terinfeksi HIV Jumlah kasus HIV di Indonesia
yang dilaporkan hingga Maret 2007 mencapai 14.628
orang. Sedangkan kasus AIDS sudah mencapai 8.914
orang, separuh atau 57,4 % dari kasus ini adalah kaum
muda yang umurnya 15-29 tahun (Dwi Novita, 2011).
Hasil survei terakhir di 33 provinsi pada tahun
2008 yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga
Berencana (BKKBN) dilaporkan 63% remaja di
Indonesia pada usia antara SMP dan SMA sudah
melakukan hubungan seksual pranikah, ironisnya 21%
diantaranya dilaporkan melakukan aborsi. Persentasi
remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah
tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun
sebelumnya (Rahayu, 2013).
Sedangkan hasil Survei Komnas Perlindungan
Anak yang dilakukan di 33 provinsi pada 2008,
sebanyak 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton
film porno. Mereka yang pernah berciuman, melakukan
masturbasi, dan oral seks mencapai 93,7%. Dan remaja
SMP yang tidak perawan sebanyak 62,7%, serta yang
remaja melakukan pernah aborsi sebesar 21,2%
(Adhitya, 2012).
Minimnya informasi yang diterima remaja
tentang kesehatan reproduksi dan seksual,
menyebabkan
rendahnya pengetahuan dan
berpengaruh terhadap sikap remaja yang negatif
terhadap masalah kesehatan reproduksi dan perilaku

49

Jurnal Ilmiah PANNMED

seksual. Faktor lingkungan juga memengaruhi sikap remaja


dalam melakukan hubungan seks pranikah. Informasi
yang semakin mudah diakses dari media massa cetak
dan elektronik serta kondisi yang semakin permisif
untuk melakukan seks pranikah seiring dengan norma
yang semakin lemah pada masyarakat (Sri Handayani,
2009).
Hal ini juga dipengaruhi oleh anggapan
masyarakat, khususnya orang tua yang masih
menganggap tabu untuk membicarakan masalah
seksualitas. Ironisnya di sisi lain remaja tidak
menerima pendidikan kesehatan seksual yang benar dan
bertanggung jawab. Mereka menerima informasi tentang
seks justru dari sumber yang salah, bahkan menyesatkan,
misalnya dari cerita teman, video porno, tayangan
televisi dan film. Remaja dengan permasalahannya justru
menghadapi masalah ketika membutuhkan informasi
dan pelayanan tentang kesehatan reproduksi (Rahayu,
2013).
Data dari BKKBN Indonesia tahun 2009
didapatkan 22,6% remaja termasuk penganut seks
bebas. Hal tersebut diakibatkan oleh kurangnya
pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi
remaja, kurangnya pengawasan dari orang tua terhadap
remaja dan adanya pergaulan bebas dikalangan remaja
(Rahayu, 2013).
Berdasarkan penelitian Simanjorang tahun
2010 mengenai perilaku seksual remaja diberbagai kota
besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen
remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks
pranikah. Sebanyak 62,7 % anak SMP mengaku sudah
tidak perawan. Sebanyak 21,2 % remaja SMA
mengaku pernah melakukan aborsi. Dari 2 juta wanita
Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta
adalah remaja perempuan. Lebih lanjut Simanjorang
menjelaskan, tingginya angka hubungan seks
pranikah di kalangan remaja tersebut erat kaitannya
dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta
kurangnya pengetahuan remaja akan reproduksi
sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta,
dan 15-20 persen di antaranya dilakukan remaja. Hal
ini pula yang
menjadikan
tingginya
angka
kematian ibu di Indonesia, dan menjadikan
Indonesia sebagai negara yang angka kematian
ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.
Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan
peneliti melalui observasi, peneliti sering melihat siswa
berpacaran bahkan datang ke sebuah klinik untuk tes
kehamilan. Selain itu penulis melakukan wawancara
kepada 10 siswa SMA Dharma Bakti Medan pada
tanggal 7 Februari 2014, 7 orang yang tidak
mengetahui tentang kesehatan reproduksi dan seks
panikah. Mereka memperoleh informasi tentang
kesehatan reproduksi dari orang tua, dan ada juga yang
melalui buku porno, film porno, dan situs internet.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti
terdorong untuk melakukan penelitian tentang faktorfaktor yang behubungan dengan sikap remaja kelas XI
terhadap hubungan seksual pranikah (Intercourse) di
SMA Dharma Bakti Medan tahun 2014.

50

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

2. Rumusan Masalah
Uraian dalam latar belakang memberi dasar
bagi peneliti untuk merumuskan masalah dalam
penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang
behubungan dengan sikap remaja kelas XI SMA
Dharma Bakti Medan terhadap hubungan seksual
pranikah (Intercourse)?
3. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui faktor- faktor yang
behubungan dengan sikap remaja kelas XI terhadap
hubungan seksual pranikah (Intercourse) di SMA
Dharma Bakti Medan tahun 2014.
Hipotesis
Hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang
sesuatu yang diduga atau hubungan yang diharapkan
antara dua variabel atau lebih yang dapat diuji secara
empiris. Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
1. Ada hubungan pengetahuan kesehatan
reproduksi dengan sikap remaja SMA
terhadap
hubungan
seksual
pranikah
(Intercourse).
2. Ada hubungan peran orang tua dengan sikap
remaja SMA terhadap hubungan seksual
pranikah (Intercourse).
3. Ada hubungan peran media massa dengan
sikap remaja SMA terhadap hubungan seksual
pranikah (Intercourse).
METODE PENELITIAN
1. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah analitik dengan
pendekatan desain cross sectional untuk mengetahui
adanya hubungan antara dua variabel, sebab
(independent) dan akibat (dependent). Dengan tujuan
untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan sikap remaja terhadap hubungan seksual
pranikah (intercourse) di SMA Dharma Bakti Medan
2014.
2. Lokasi dan Waktu Penelitian
2.1.Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Dharma
Bakti Medan tahun 2014 dengan alasan:
1. Dari hasil observasi, peneliti melihat banyak
siswa setiap pulang sekolah bersama
pasangannya masing-masing.
2. Adanya sepasang siswa SMA datang ke
sebuah klinik untuk tes kehamilan.
3. Dari segi usia, remaja rentan terhadap perilaku
seks pranikah.
2.2.Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai dari studi
literatur dan pencarian judul pada bulan Desember
2013, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan
proposal, seminar proposal, penelitian dan seminar
hasil penelitian hingga di bulan Juli 2014.

Hanna Sriyanti Saragih, dkk.

3. Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi dalam penelitian ini adalah remaja
SMA Dharma Bakti Medan kelas XI tahun 2014 yakni
sebanyak 60 orang.
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh
dari populasi kelas XI SMA Dharma Bakti Medan
2014 atau total sampling yaitu sebanyak 60 orang.
4. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data
primer dan data sekuder. Pengumpulan data dengan
menggunakan kuesioner untuk mengetahui faktorfaktor yang berhubungan dengan sikap remaja SMA
terhadap hubungan seksual pranikah (intercourse).
Pengumpulan data primer dilakukan langsung
oleh peneliti dengan menggunakan kuesioner lembar
checklist dan pertanyaan terbuka sesuai dengan
variabel. Peneliti datang ke sekolah responden.
Sebelumnya peneliti memperkenalkan diri dan
menjelaskan tujuan dari peneliti kepada responden.
Sebelum responden mengisi kuesioner, terlebih dahulu
peneliti menjelaskan cara mengisi kuesioner, kemudian
memberikan kesempatan kepada responden untuk
bertanya. Kemudian responden mengisi informat
consent, dan mengisi sendiri kuesioner penelitian.
Setelah selesai diisi, kuesioner dikumpulkan oleh
peneliti dan diperiksa kembali.
5.Pengolahan dan Analisis Data
Data yang telah terkumpul diolah dengan cara
komputer dengan langkah-langkah editing, coding,
entering, cleaning dan tabulating. Analisis data
dilakukan dengan analisis data univariate dan bivariate.
Analisis bivariate melihat beberapa faktor
yang berhubungan dengan sikap remaja terhadap
hubungan seks (intercourse) pranikah dengan
menggunakan uji Chi-Square dan tingkat kemaknaan
0,05 atau = 0,05 dengan derajat kepercayaan 95%.
Adapun rumus Chi-Square yang digunakan adalah:
0 2
)

X2 = (

dimana:
X2 : Chi-Square
O : Nilai hasil observasi
E : Nilai yang diharapkan

HASIL DAN PEMBAHASAN


1.Analisa Data Univariat
Analisa data univariat digunakan untuk melihat
distribusi frekuensi dari variabel dependent dan
variabel independent, yaitu:

Faktor-Faktor yang Berhubungan...

Tabel 4.1.
Distribusi Frekuensi Sikap Remaja Terhadap
Hubungan Seksual Pranikah (Intercourse) di SMA
Dharma Bakti Medan Tahun 2014
Pengetahuan
Frekuensi Persentase
(%)
Baik
43
71,67
Kurang
17
28,33
Jumlah
60
100%
Peran Orang Tua
Mendukung
47
78,33
Tidak mendukung
13
21,67
Jumlah
60
100%
Peran Media Massa
Berpengaruh
Tidak Berpengaruh
Jumlah
Sikap
Positif
Negatif
Jumlah

2
40

33,33
66,67

60

100%

56
4
60

93,3
6,7
100%

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa


responden yang memiliki
pengetahuan kurang
sebanyak 17 responden (28,33%).
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa peran
orang tua responden yang tidak mendukung terhadap
pemberian informasi tentang seksual pranikah
sebanyak 13 responden (21,67%).
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa peran
media massa yang berpengaruh terhadap perilaku
seksual pranikah terhadap responden sebanyak 20
responden (33,33%).
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa
responden yang memiliki sikap negatif sebanyak 4
responden (6,7%).
2.Analisis Data Bivariat
Analisis data bivariat bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna
antara faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap
remaja terhadap hubungan seksual pranikah
(intercourse) seperti pengetahuan, peran orang tua, dan
peran media massa di SMA Dharma Bakti Medan
Tahun 2014.
Pengujian analisis menggunakan uji chi-square
dengan = 0,05. Analisis ini dikatakan bermakna bila
hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang
bermakna secara statistik antara variabel, yaitu dengan
nilai p value < 0,05.

51

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Tabel 4.2.
Rekapitulasi Hasil Uji Chi-Square Faktor-Faktor
yang Berhubungan dengan Sikap Remaja Kelas XI
terhadap Hubungan Seksual Pranikah (Intercourse)
2.1 Pengetahuan
Sikap Remaja
terhadap
Hubungan
Seksual Pranikah
(intercourse)
Positif Negatif
Pengetahuan F % F %
Baik
43 71,67 0 0
Kurang
13 21,67 4 6,66
Total
56 93,34 4 6,66

Total

p Value

F %
43 71,67 0,005
17 28,33
60 100

Berdasarkan tabel 4.5, dapat diketahui bahwa


pengetahuan responden yang baik dan memiliki sikap
positif sebanyak 43 responden (71,67%), sedangkan
yang memiliki pengetahuan kurang dan memiliki sikap
positif sebanyak 13 responden (21,67%). Responden
yang memiliki pengetahuan baik dan sikap negatif
tidak ada, memiliki pengetahuan kurang dengan sikap
negatif sebanyak 4 responden (6,67%).
Berdasarkan hasil uji chi-square menunjukkan
bahwa nilai p value = 0,005 (<0,05), yang artinya
terdapat hubungan pengetahuan dengan sikap remaja
terhadap hubungan seksual pranikah (intercourse) di
SMA Dharma Bakti Medan.
2.2. Peran Orangtua

Peran Orang Tua


Mendukung
Tidak Mendukung
Total

Sikap Remaja
terhadap
p
Hubungan
Total
Value
Seksual
Pranikah
(Intercourse)
Positif Negatif
F % F % F %
47 78,34 0 0 47 78,34
0,001
9 15
4 6,66 13 21,66
56 93,34 4 6,66 60 100

Berdasarkan hasil uji chi-square peran orang


tua dengan sikap remaja terhadap hubungan seksual
pranikah menunjukkan bahwa nilai p value = 0,001
(<0,05), yang artinya terdapat hubungan peran orang
tua dengan sikap remaja terhadap hubungan seksual
pranikah (intercourse) di SMA Dharma Bakti Medan.

52

2.3. Peran Media Massa


Sikap Remaja
Terhadap
Total
Hubungan Seksual
Pranikah
(Intercourse)
Positif Negatif
Peran Media F
% F % F
%
Massa
Berpengaruh 16 26,67 4 6,66 20 33,33
Tidak
40 66,67 0
0 40 66,67
Berpengaruh
Total
56 93,34 4 6,66 60 100

p
Value

0,010

Berdasarkan hasil uji chi-square peran media


massa dengan sikap remaja terhadap hubungan seksual
pranikah menunjukkan bahwa nilai p value = 0,010
(<0,05), yang artinya terdapat hubungan peran media
massa dengan sikap remaja terhadap hubungan seksual
pranikah (intercourse) di SMA Dharma Bakti Medan.
Pembahasan
1.

Hubungan
Pengetahuan
Kesehatan
Reproduksi Dengan Sikap Remaja Terhadap
Hubungan Seksual Pranikah (Intercourse)
Dari hasil analisa menunjukkan bahwa
responden yang berpengetahuan baik sebanyak 43
responden (71,67%) dan memiliki pengetahuan kurang
sebanyak 17 responden (28,33%).
Hasil uji statistik chi-square menunjukkan
bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan
reproduksi pada angka p value = 0,005 (<0,05), artinya
ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan
remaja tentang kesehatan reproduksi terhadap sikap
remaja terhadap hubungan seksual pranikah
(intercourse).
Dengan demikian hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian Tut Wuri Prihatin (2007) bahwa
semakin rendah pengetahuan remaja tentang kesehatan
reproduksi maka semakin cenderung sikap remaja
terhadap hubungan seksual pranikah (intercourse). Hal
ini disebabkan tingkat pengetahuan siswa SMA yang
masih kurang menjadikan mereka berada ketidaktahuan
akan perkembangan dirinya. Sehingga dengan
keterbatasan pengetahuan itulah, kadang membuat
remaja mengambil sikap yang salah atas rangsang yang
di terima. Pengetahuan remaja tentang kesehatan
reproduksi sangat memengaruhi perilaku remaja untuk
hidup sehat, khususnya yang terkait dengan kesehatan
reproduksi.
Hal ini sesuai dengan pendapat Notoadmodjo
(2010) bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (covert behaviour). Covert
behaviour yang dimaksud adalah suatu respon
seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tertutup.
Misalnya, seorang remaja tidak akan memutuskan
melakukan hubungan seksual pranikah (intercourse),

Hanna Sriyanti Saragih, dkk.

karena ia tahu bahwa berhubungan seksual pranikah


(intercourse) dapat menyebabkan kehamilan yang tidak
di inginkan dan penyakit seksual termasuk HIV/AIDS.
Menurut asumsi penulis berdasarkan hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan
sangat berpengaruh dalam penentuan sikap remaja
terhadap hubungan seksual pranikah (intercourse). Hal
ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan remaja
mengenai kesehatan reproduksi menyebabkan remaja
tidak mengetahui dampak dari hubungan seksual
pranikah. Maka itu diperlukan pembekalan mengenai
pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksual,
yang merupakan dasar bagi remaja agar perilaku remaja
tidak menyimpang, khususnya terhadap perilaku
hubungan seksual pranikah (intercourse).

2.

Hubungan Peran Orang Tua Dengan Sikap


Remaja Terhadap Hubungan Seksual Pranikah
(Intercourse)
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa peran
orang tua responden yang mendukung terhadap
pemberian informasi tentang seksual pranikah
sebanyak 43 responden (71,67%), sedangkan yang
tidak mendukung sebanyak 17 responden (28,33%).
Berdasarkan hasil dari analisis statistik uji chisquare bahwa peran orang tua pada angka signifikan p
value = 0,001 (<0,05). Hal ini menunjukkan adanya
hubungan peran orang tua dengan sikap remaja
terhadap hubungan seksual pranikah (intercourse).
Dengan demikian hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian Tut Wuri Prihatin (2007) ada
kecenderungan bahwa siswa yang tidak mendapat
dukungan atau perhatian tentang kesehatan reproduksi
dari orang tua akan cenderung bersikap mendukung
terhadap hubungan seksual pranikah (intercourse).
Penelitian lain yang dilakukan oleh
Soetjiningsih (2008) yang meneliti tentang faktorfaktor yang memengaruhi perilaku seksual pranikah
pada remaja menunjukkan bahwa hubungan orang tua
dan remaja mempunyai pengaruh besar terhadap
perilaku remaja. Makin baik hubungan orang tua
dengan remaja makin rendah perilaku seksual pranikah
remaja.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono
(2012) bahwa seks pranikah terakhir ini disebabkan
karena orang tua tabu membicarakan seks dengan
anaknya dan hubungan antara orang tua dengan anak
sudah terlanjur jauh sehingga anak berpaling sumbersumber lain yang tidak akurat.
Idealnya pendidikan seks merupakan bagian
proses belajar keseluruhan. Orang tua sebaiknya tidak
menjelaskan seks sebagai topik formal yang dibahas
saat seorang anak menginjak usia tertentu, tetapi
sebaiknya menjadi bagian keseharian. Beberapa orang
tua merasa bahwa mereka bukan orang yang tepat
untuk memberikan pendidikan seks dengan sejumlah
alasan. Beberapa diantara mereka merasa malu dan
menganggap mereka kurang mampu dan tidak memiliki

Faktor-Faktor yang Berhubungan...

cukup informasi untuk menjawab berbagai pertanyaan


seputar seks (Gilli, 2010).
Menurut asumsi penulis berdasarkan hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa peran orang tua
sangat penting dan berpengaruh dalam penentuan sikap
remaja terhadap hubungan seksual pranikah
(intercourse). Peran orang tua dalam memberikan
pengetahuan tentang seksual dan perhatian orang tua
terhadap pergaulan remaja sangat dibutuhkan agar
perilaku seksual remaja tidak terjadi. Peran orang tua
dalam mendidik anak sangat menentukan pembentukan
karakter dan perkembangan kepribadian anak.
Selanjutnya hubungan komunikasi yang baik antara
orang tua dan anak akan menciptakan saling
memahami. Maka itu diperlukan komunikasi yang
sesering mungkin antara orang tua dan anak terutama
dalam
membahas
masalah-masalah
kesehatan
reproduksi saat anak memasuki usia remaja.
3.

Hubungan Media Massa Dengan Sikap Remaja


Terhadap
Hubungan
Seksual
Pranikah
(Intercourse)
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa peran
media massa yang memengaruhi responden terhadap
hubungan seksual pranikah (intercourse) sebanyak 20
responden (33,33%) dan yang tidak berpengaruh
sebanyak 40 responden (66,67%).
Hasil uji statistik chi-square menunjukkan
bahwa peran media massa pada angka p value = 0,010
(<0,05), yang artinya ada hubungan yang signifikan
antara peran media massa dengan sikap remaja
terhadap hubungan seksual pranikah (intercourse).
Dengan demikian penelitian ini sesuai dengan
yang dilakukan oleh Sarma Eko Natalia (2012) bahwa
ada hubungan antara media massa dengan seks
pranikah. Hal ini disebabkan oleh pengaruh media
massa yang sering diadopsi remaja dalam kehidupan
sehari-hari. Media yang dapat berperan dalam
mentransformasikan perubahan nilai seksualitas yaitu
dari hiburan program televisi yang menampilkan
tayangan pornografi dan pendidikan seks yang yang
kurang tepat. Dari hasil observasi yang dilakukannya,
remaja yang menonton film berkebudayaan barat
membuat mereka menjadikan seks itu menyenangkan.
Penelitian ini juga mendukung dalam
Penelitian Tut Wuri (2007) bahwa ada hubungan yang
signifikan antara peran media massa yang disampaikan
secara terbuka dalam bentuk pesan sederhana sampai
yang sangat kompleks akan menambah pengetahuan
seseorang, serta akan memengaruhi seseorang dalam
bersikap untuk mengambil keputusan dan bertindak
dengan cara positif. Hal tersebut berhubungan dengan
sikap remaja terhadap hubungan seksual pranikah
(intercourse).
Seks pranikah dipengaruhi oleh informasi yang
semakin mudah diakses dari media massa cetak dan
elektronik serta kondisi yang semakin permisif untuk
melakukan seks pranikah seiring dengan norma yang
semakin lemah pada masyarakat (Sri Handayani, 2009).

53

Jurnal Ilmiah PANNMED

Hal ini juga dipengaruhi oleh anggapan


masyarakat, khususnya orang tua yang masih
menganggap tabu untuk membicarakan masalah
seksualitas. Ironisnya di sisi lain remaja tidak
menerima pendidikan kesehatan seksual yang benar dan
bertanggung jawab. Mereka menerima informasi tentang
seks justru dari sumber yang salah, bahkan menyesatkan,
misalnya dari cerita teman, video porno, tayangan
televisi dan film. Remaja dengan permasalahannya justru
menghadapi masalah ketika membutuhkan informasi
dan pelayanan tentang kesehatan reproduksi (Rahayu,
2013).
Menurut asumsi penulis berdasarkan hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa peran media massa
sangat berpengaruh terhadap sikap remaja terhadap
hubungan seksual pranikah (intercourse). Dari hasil
penelitian menunjukkan bahwa semakin sering remaja
berhubungan dengan media massa atau mencari
informasi tentang seksual melalui media, semakin
cenderung remaja melakukan hubungan seksual
pranikah (intercourse). Keterpaparan remaja terhadap
pornografi dalam bentuk bacaan berupa buku porno,
melalui film porno semakin meningkat. Sementara
konsultasi seks yang diberikan melalui media cetak dan
elektronik yang disebut sebagai pendidikan seks,
penayangan film tertentu di televisi sering
menyebabkan salah persepsi/ pemahaman yang kurang
tepat terhadap kesehatan reproduksi sehingga remaja
mencontoh perilaku seksual dari media yang mereka
terima.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai faktorfaktor yang berhubungan dengan sikap remaja terhadap
hubungan seksual pranikah (intercourse) di SMA
Dharma Bakti Medan tahun 2014 dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
a. Ada hubungan pengetahuan kesehatan
repsoduksi dengan sikap remaja terhadap
hubungan seksual pranikah (intercourse). Hal
ini disimpulkan bardasarkan hasil uji statistik
chi-square menunjukkan bahwa pengetahuan
remaja tentang kesehatan reproduksi pada
angka signifikan p value = 0,005 (<0,05),
dengan demikian tidak terdapat kesenjangan
antara hasil penelitian dengan teori.
b. Ada hubungan peran orang tua dengan sikap
remaja terhadap hubungan seksual pranikah
(intercourse). Hal ini disimpulkan bardasarkan
hasil uji statistik chi-square menunjukkan
peran orang tua pada angka signifikan p value
= 0,001 (<0,05), dengan demikian tidak
terdapat kesenjangan antara hasil penelitian
dengan teori.
c. Ada hubungan peran media massa dengan
sikap remaja terhadap hubungan seksual
pranikah (intercourse). Hal ini disimpulkan
bardasarkan hasil uji statistik chi-square

54

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

menunjukkan bahwa peran media massa pada


angka signifikan p value = 0,010 (<0,05),
dengan demikian tidak terdapat kesenjangan
antara hasil penelitian dengan teori.
2. Saran
Bardasarkan hasil dan kesimpulan dari data
yang diperoleh, saran yang dapat penulis sampaikan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Diharapkan kepada pihak sekolah dapat
menjadikan penelitian ini sebagai pedoman untuk
meningkatkan pemberian ataupun pendidikan
mengenai
informasi
kesehatan
reproduksi
khususnya tentang sex education bagi remaja di
sekolah. Misalnya melalui metode peer education
yang bersifat youth freendly (ramah terhadap
remaja), artinya tidak hanya memberi materi
melalui proses belajar mengajar di kelas, tetapi
dikembangkan dengan metode lain seperti
pemasangan mading, kesenian sekolah atau drama
teater, dan lain lain, yang memuat materi dasar
kesehatan reproduksi yang proporsional yang
mencangkup
pemahaman
remaja
tentang
perubahan fisik anak laki laki dan perempuan
saat menjadi remaja, mengenal masa subur,
terjadinya proses kehamilan, metode kontrasepsi
KB, pencegahan penyakit menular seksual,
perilaku seksual yang sehat dan bertanggung
jawab, serta akibat dari kehamilan tak dikehendaki.
b. Diharapkan kepada remaja khususnya siswa kelas
XI SMA Dharma Bakti Meda tahun 2014 agar
lebih memperdalam ilmu kesehatan reproduksi
terutama tentang dampak dari perilaku seksual
pranikah melalui sumber informasi yang
terpercaya dan meningkatkan komunikasi dengan
orang tua terutama dalam membahas masalah
kesehatan reproduksi agar remaja dapat memiliki
pengetahuan yang baik tentang kesehatan
reproduksi khususnya tentang seksual.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S., 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka
Cipta.
Boyke., 2013. Problema Seks dan Solusinya. Jakarta:
Bumi Aksara.
Gilli., 2010. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita.
Jakarta: EGC.
Irianto, K., 2013. Permasalahan Seksual. Bandung: Yrama
Widya.
Kholid, A., 2012. Promosi Kesehatan.
Jakarta:
Rajagrafindo Persada.
Manuaba, dkk., 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi
Wanita. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Notoadmodjo, S., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: SalembaMedika.
______________ 2010. Promosi Kesehatan Teori dan
Aplikasi. Jakarta: Rineka
Cipta.
Nugroho, T., 2010. Buku Ajar Ginekologi. Yogyakarta:
Nuha Medika.

Hanna Sriyanti Saragih, dkk.

Pieter, H.Z. dan Lubis, N., 2010. Pengantar Psikologi


dalam Keperawatan. Edisi 1. Jakarta: Kencana.
Pinem, S., 2009. Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi.
Jakarta: Trans Info Media.
Politeknik Kesehatan Depkes Jakarta I. 2010. Kesehatan
Remaja: Problem dan Solusinya. Jakarta:
Salemba Medika.
Politeknik Kesehatan Kemenkes Medan. 2012. Panduan
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
Sarwono, S., 2012. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Suryani, E. dan Widyasih, H., 2010. Psikologi Ibu dan
Anak. Yogyakarta: Fitramaya.
Wawan, A. dan Dewi., 2011. Teori dan Pengukuran
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Widyastuti, dkk., 2009. Kesehatan Reproduksi.
Yogyakarta: Fitramaya.
Wuryani, S.E., 2008. Pendidikan Seks untuk Keluarga.
Jakarta: Indeks.
Yusrawati., 2011. Diktat Biostatistika. Medan: Politeknik
Kesehatan Medan Jurusan Kebidanan.
BKKBN. 2011. Kajian Profil Penduduk Remaja.
Available
at:
www.bkkbn.go.id/.../Hasil%20Penelitian/.../Kaji
an%20Profil%20Penduduk%20Remaja%20(10
%20-%2024%20t. [ Accessed 27 Desember
2013].
Handayani. S., 2009. Efektivitas Metode Diskusi Kelompok
dengan dan tanpa Fasilitator pada Peningkatan
Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Remaja
tentang Perilaku Seks Pranikah. Available at:
http://berita-kedokteranmasyarakat.org/index.php/BKM/article/view/172.
[Accessed 5 Januari 2014].

Faktor-Faktor yang Berhubungan...

Prasetya. 2011. Dampak Seks Pranikah bagi Kesehatan.


Available
at:
http://www.lensaindonesia.com/2013/02/11/dam
pak-seks-pra-nikah-bagi-kesehatan.html.
[Accessed 12 Januari 2014].
Rahayu. N., et al., 2013. Pengaruh Kegiatan Penyuluhan
dalam Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
(PKPR) terhadap Pengetahuan dan Sikap
Remaja tentang Seks Pranikah di SMA N 1 Lubuk
Pakam Kabupaten Siak Sri Indrapura Tahun
2013.
Available
at:
jurnal.usu.ac.id/index.php/gkre/article/download
/3633/1907 [Accessed 23 Desember 2013].
SDKI. 2012. Kesehatan Reproduksi Remaja. Available at
www.bkkbn.go.id/.../Hasil%20Penelitian/SDKI
%202012/. [Accessed at 27 Desember 203].
Soetjiningsih., 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja.
Available
at:
http://lib.ugm.ac.id/digitasi/upload/824_RD09060
04.pdf. [Accessed 5 Januari 2014].
Tut Wuri., 2007. Analisis Faktor-faktor yang berhubungan
dengan Sikap Siswa SMA terhadap Hubungan
seksual (Intercouse) Pranikah di Kota Sukoharjo
Tahun
2007.
Available
at:
eprints.undip.ac.id/18061/1/Tut_Wuri_Prihatin.p
df. [Accessed at 23 Desember 2013].
Yuliantini. H., 2012. Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS dan
Sikap Remaja terhadap Perilaku Seksual
Pranikah di SMA X Jakarta Timur. Available
lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20312663at:
S%2043157...full%20text.pdf
[Accessed 23 Desember 2013].

55

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN DENGAN TINDAKAN


INDUKSI DAN AKSELERASI DALAM PERSALINAN DI KOTA
PEMATANGSIANTAR TAHUN 2013

Tumiar Simanjuntak, Tiamin Simbolon, Kandace Sianipar


Prodi Kebidanan Pematangsiantar Poltekkes Kemenkes Medan

Abstrak
Hasil survei demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan terdapat 258 kasus dari 1046
ibu bersalin yang dilakukan induksi pada saat persalinan yang dilakukan di sejumlah rumah sakit umum di
Indonesia. Hasil survey yang dilakukan oleh Depkes Sumatera Utara ditemukan sebanyak 250 ibu hamil
perbulan dilakukan induksi saat persalinan. Tindakan induksi persalinan berhubungan dengan kenaikan
angka kejadian tindakan Sectio Caesar. Pada beberapa induksi persalinan ditemukan adanya tanda-tanda
fetal distress, anoksia dan cedera pada bayi, sedangkan pada ibu dapat terjadi ruptur uteri, atonia uteri,
laserasi serviks. Sesuai dengan Kepmenkes RI No. 369/Menkes/SK/III/2007 tentang standar profesi bidan
Akselerasi dan induksi persalinan merupakan bagian dari pengetahuan dan keterampilan tambahan yang
harus dimiliki oleh seorang bidan. Hasil survey di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar diketahui
pada tahun 2011 terdapat 63 (20,13%) ibu bersalin yang diinduksi dan akselerasi dari 313 persalinan dan
pada tahun 2012 terdapat 49 (13,4%) dari 366 persalinan. Sekitar 3045 % pasien yang diinduksi dan
akselerasi di RSUD Dr.Djasamen Saragih rumah sakit tersebut merupakan rujukan dari bidan dan berakhir
dengan Secsio Sesarea terutama disebabkan karena kegagalan dari induksi dan akselerasi tersebut. Tujuan
penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap bidan tentang induksi/akselerasi
persalinan dengan tindakan induksi dan akselerasi dalam persalinan di Kota Pematangsiantar tahun 2013.
Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis Explanatory Research (penelitian penjelasan) yaitu
penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat melalui pengujian
hypothesis yang dirumuskan dan pendekatan yang digunakan adalah cross sectional, yaitu subyek hanya
diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap karakter atau variabel subyek pada saat
pemeriksaan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang memiliki praktek mandiri dan
berdomisili di Kota Pematangsiantar dan pada 6 bulan terakhir ada melakukan induksi dan akselerasi
persalinan sebanyak 45 orang dan 31 menjadi subjek penelitian. Pengumpulan data dengan cara wawancara
menggunakan kuesioner dan lembar kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah Chi Square dan regresi
logistik.
Kata kunci : Induksi dan Akselerasi, Jampersal, akseptor KB
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Selama beberapa dekade terakhir, semakin
banyak ibu hamil diseluruh dunia mengalami induksi
persalinan. Di negara maju induksi persalinan mencapai
25% dari seluruh persalinan dan beberapa Negara
berkembang didapatkan angka yang sama. Survey World
Health Organization (WHO) tentang kesehatan ibu dan
perinatal di 373 fasilitas kesehatan di 24 negara didapatkan
9,6% dari 300.000 kelahiran mendapatkan induksi
persalinan. Secara keseluruhan ditemukan pelaksanaan
induksi persalinan lebih rendah di Afrika dibandingkan
dengan negara-negara Asia dan Amerika Latin (WHO,
2011).
Hasil survei demografi kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2007 menunjukkan terdapat 258 kasus dari
1046 ibu bersalin yang dilakukan induksi dan akselerasi

56

pada saat persalinan yang dilakukan di sejumlah rumah


sakit umum di Indonesia. Hasil survey yang dilakukan oleh
Depkes Sumatera Utara ditemukan sebanyak 250 ibu hamil
perbulan dilakukan induksi saat persalinan akan dilakukan
(Badan Pusat Statistik, 2009).
Tindakan induksi persalinan berhubungan dengan
kenaikan angka kejadian tindakan Sectio Caesar. Induksi
persalinan elektif menyebabkan peningkatan kejadian
Sectio Caesar 2 3 kali lipat. Menurut data dari WHO,
bahwa di negara berkembang banyak terjadi induksi
persalinan elektif. Pada kehamilan aterm sebaiknya tidak
dilakukan secara rutin mengingat bahwa tindakan Sectio
Caesar dapat meningkatkan risiko yang berat sekalipun
jarang dari pemburukan out come maternal termasuk
kematian. Induksi persalinan elektif yang dirasa perlu
dilakukan saat aterm ( 38 minggu) perlu pembahasan
secara mendalam antara dokter dengan pasien dan
keluarganya (Hoffman dan Sciscione, 2003).

Jurnal Ilmiah PANNMED

Pada banyak kasus terlihat bahwa tanda-tanda


fetal distress lebih sering dijumpai di antara pasien-pasien
yang menerima tetesan oxytocin dibanding dengan mereka
yang persalinannya tanpa stimulasi. Kontraksi yang terlalu
kuat, terlalu sering dan berlangsung terlalu lama dapat
mengakibatkan anoksia pada bayi, karena uterus tidak
sempat
mengadakan
cukup
relaksasi
untuk
mempertahankan sirkulasi darah yang memadai. Cedera
pada bayi dapat juga ditimbulkan oleh dorongan yang
terlampau cepat lewat rongga panggul yang diakibatkan
dari pengaruh tetesan oxytocin (Oxorn, 2010).
Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 369/Menkes/SK/III/2007 tentang
standar profesi bidan dikatakan bahwa untuk kompetensi
ke-4 (asuhan selama persalinan dan kelahiran) bidan harus
memiliki 21 item pengetahuan dasar, 3 item pengetahuan
tambahan, 28 keterampilan dasar dan 8 keterampilan
tambahan. Akselerasi dan induksi persalinan merupakan
bagian dari pengetahuan dan keterampilan tambahan yang
harus dimiliki oleh seorang bidan.
Survei awal yang dilakukan pada bulan Maret 2013
jumlah anggota IBI kota Pematangsiantar ada 260 orang,
yang memiliki Praktek Mandiri 165 orang dan 45 orang
diantaranya ada melaksanakan induksi dan akselerasi
dalam 6 bulan terakhir. Usia rata-rata 40-50 tahun, dan
masih ada sekitar 30% dengan latar belakang pendidikan
Diploma I. Hasil survey di RSUD Dr. Djasamen Saragih
Pematangsiantar diketahui pada tahun 2011 terdapat 63
(20,13%) ibu bersalin yang diinduksi dan akselerasi dari
313 persalinan dan pada tahun 2012 terdapat 49 (13,4%)
dari 366 persalinan. Sekitar 3045 % pasien yang diinduksi
dan akselerasi di RSUD Dr.Djasamen Saragih rumah sakit
tersebut merupakan rujukan dari bidan dan berakhir
dengan Secsio Sesarea terutama disebabkan karena
kegagalan dari induksi dan akselerasi tersebut.
Metode
Penelitian ini dengan Explanatory Research (penelitian
penjelasan) dan pendekatan cross sectional, sampel sebesar
40 orang bidan yang memiliki praktek mandiri dan
berdomisili di Kota Pematangsiantar yang dalam 6 bulan
terakhir ada melakukan induksi dan akselerasi dalam
persalinan. Pengukuran pengetahuan dan sikap, dengan
wawancara, sedangkan tindakan dengan observasi dan
lembar checklist. Analisis data meliputi tahapan analisis
univariat, analisis bivariat dengan uji chi square 2, dengan
tingkat kemaknaan p<0,05 dan Confidence Interval 95%.
analisis multivariat dengan uji statistik yang digunakan
adalah analisis multiple logistic regression (regresi logistik
ganda).
HASIL

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Tabel 1 Distribusi Tindakan Responden dalam


Melaksanakan Induksi dan Akselerasi
dalam Persalinan di Pematangsiantar
tahun 2013.
Menjadi
Frekuensi
Persentase (%)
akseptor KB
Sesuai standar
24
60,0
Tidak sesuai
16
40,0
standar
Total
30
100,0
Tabel 2. Distribusi Karakteristik, Pengetahuan
dan Sikap Bidan yang Melaksanakan
Tindakan Induksi dan Akselerasi dalam
Persalinan di Pematangsiantar Tahun
2013.
No
Variabel
Frekuensi
Persentase
(%)
1.
Umur
35 tahun
16
40,0
< 35 tahun
24
60,0
2.
Pendidikan
D.III D.IV
26
65,0
D. I
14
35,0
3.
Lama bekerja
5 tahun
23
57,5
< 5 tahun
17
42,5
4.
Pelatihan
Pernah
18
45,0
Tidak pernah
22
55,0
5.
Pengetahuan
Baik
25
62,5
Kurang
15
37,5
6.
Sikap
Baik
24
64,5
Kurang
16
35,5
Analisis Bivariat
Analisi bivariat Hasil uji dinyatakan umur
bidan berhubungan dengan tindakan melakukan induksi
dan akselerasi persalinan (p=0,041). pendidikan
berhubungan dengan tindakan melakukan induksi dan
akselerasi persalinan ( p=0,001). lama bekerja tidak
berhubungan dengan tindakan melakukan induksi dan
akselerasi persalinan (p=0,001). pelatihan
bidan
berhubungan dengan tindakan melakukan induksi dan
akselerasi persalinan (p = 0,016).
pengetahuan
berhubungan dengan tindakan melakukan induksi dan
akselerasi persalinan (p=0,001). sikap berhubungan
dengan tindakan melakukan induksi dan akselerasi
persalinan (p=0,001).

Analisis Univariat
Analisis univariat pada penelitian ini bertujuan
untuk melihat gambaran distribusi frekuensi variabel yang
diteliti yaitu variabel dependen dan variabel independen
yang meliputi pengetahuan dan sikap dengan perilaku
bidan dalam melakukan induksi dan akselerasi persalinan.

57

Tumiar Simanjuntak, dkk.

Hubungan Pengetahuan dan...

Tabel 2 Hasil Uji Bivariat.


Tindakan induksi dan
No Karakteristi akselerasi persalinan
Nilai
RP
k,
p
95% CI
Sesuai Tidak Tota
pengetahua standar sesuai
l
n dan sikap
standar
responden n % n % n
%
1. Umur
35 tahun
6 25,0 10 62,5 16 100,0 0,041 0,50 (0,250,98)
< 35 tahun
18 75,0 6 37,5 24 100,0
2. Pendidikan
D.III D.IV 22 91,7 4 25,0 26 100,0 0,001 5,92 (1,6321,59)
D. I
2 8,3 12 75,0 14 100,0
3. Lama
bekerja
5 tahun
12 50,0 11 68,8 23 100,0 0,396 0,74 (0,451,22)
< 5 tahun
12 50,0 5 31,2 17 100,0
4. Pelatihan
Pernah
15 62,5 3 18,8 18 100,0 0,016 2,04 (1,183,51)
Tidak pernah 9 37,5 13 81,2 22 100,0
5. Pengetahua
n
Baik
22 91,7 3 18,8 25 100,0 0,001 6,60 (1,8024,18)
Kurang
2 8,3 13 81,2 15 100,0
6. Sikap
Baik
22 91,7 4 25,0 26 100,0
Kurang
2 8,3 12 75,0 14 100,0 0,001 5,92 (1,7321,60)

Analisis Multivariat
Pada penelitian ini, variabel independen yang
memenuhi kriteria p < 0,25 pada analisis bivariat
dimasukkan ke dalam analisis multivariat dengan
menggunakan uji regresi logistik ganda yaitu variabel
umur, pendidikan, pelatihan, pengetahuan dan sikap.
Untuk mendapatkan faktor yang paling dominan, semua
kandidat diuji secara bersama-sama dengan menggunakan
metode enter. Faktor yang terbaik akan dipertimbangkan
dengan melihat nilai p. Pada setiap tahapan seleksi
variabel yang tidak signifikan (p > 0,05) dikeluarkan satu
persatu mulai dari p yang terbesar. Setiap tahapan seleksi
selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama hingga
seleksi terakhir diperoleh variabel yang seluruhnya
berhubungan signifikan (p < 0,05), yang dapat dilihat pada
tabel berikut ini:
Tabel 3 : Hasil seleksi akhir analisis multivariat
No
1.
2.
3.
4.
5.

Variabel
Pengetahuan
Sikap
Umur
Pendidikan
Pelatihan
Konstanta

SE()
17,336
70,554
-53,267
53,021
17,640
-35,345

Nilai p Rasio Prevalen 95% CI


0,997
6,60
1,80-24,18
0,995
5,92
1,73-21,60
0,995
0,50
0,25-0,98
0,995
5,92
1,63-21,59
0,997
2,04
1,18-3,51

Dari hasil seleksi diperoleh seluruh variabel tidak


ada yang dominan berhubungan dengan tindakan
melakukan induksi dan akselerasi persalinan , hal ini dapat
terlihat dari nilai p masing-masing variabel > 0,005.
Pembahasan
Hasil penelitian ini dari 40 responden ada 24
responden (60,0%) yang melaksanakan tindakan
induksi dan akselerasi persalinan sesuai dengan
standar.
58

Antara tahun 1990 dan 2005 terjadi peningkatan


angka induksi dua kali lipat, hingga mencapai 22%.
Peningkatan ini tidak hanya mencerminkan kenaikan
induksi untuk indikasi ibu dan janin tetapi juga
penggunaan yang lebih luas dari induksi elektif. Alasan
ingin induksi elektif termasuk karena ketidaknyamanan
yang dialami ibu hamil secara fisik, masalah waktu yang
diinginkan, atau kepedulian terhadap perkembangan
persalinan yang akan berlangsung dengan cepat sementara
berada jauh dari tenaga kerja kesehatan atau Rumah Sakit.
Induksi elektif
juga direkomendasikan karena
kekhawatiran tentang komplikasi yang akan terjadi.
Namun, manfaat dan bahaya induksi elektif tidak dipahami
dengan baik (AHRQ, 2009).
Tidak cukup bukti untuk menentukan apakah
induksi persalinan elektif menyebabkan tingkat yang lebih
tinggi atau lebih rendah pada kelahiran seksio sesarea
dibandingkan dengan pengelolaan kehamilan normal. Di
antara wanita yang menjalani induksi, wanita dengan
kehamilan pertama memiliki prediksi yang lebih tinggi
untuk mengakhiri persalinannya secara sesar daripada
wanita dengan persalinan pervaginam sebelumnya.
Status serviks memiliki efek penting pada kejadian
persalinan seksio sesarea dengan induksi. Jika status
serviks lebih menguntungkan, maka semakin rendah
tingkat persalinan seksio sesarea. Induksi elektif juga
dikatakan tidak menyebabkan peningkatkan hasil neonatal
yang merugikan namun, data yang ada relatif terbatas
(AHRQ, 2009; WHO, 2011)
Faktor pengetahuan
dan
sikap Bidan
diperkirakan berhubungan dengan tindakan induksi dan
akselerasi persalinan. Pengetahuan merupakan hasil dari
tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sikap sosial
terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh
individu. Interaksi sosial meliputi hubungan antara
individu dengan lingkungan fisik maupun lingkungan
psikologis di sekelilingnya. Hasil penelitian ini sesuai
dengan pernyataan yang mengatakan bahwa pengetahuan
merupakan salah satu faktor internal yang berpotensi kuat
untuk meningkatkan kepatuhan, sehingga akhirnya dapat
berpengaruh positif terhadap peningkatan kinerja bidan
(Mangkunegara, 2006; Robbins SP, 2003).
Menurut Lawrence Green faktor yang mendorong
terbentuknya perilaku adalah pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan persepsi seseorang
yang menjadi dasar motivasi individu atau kelompok untuk
bertindak. Seorang bidan untuk berperilaku harus ditunjang
oleh pengetahuan, yang mana sebelum mendapat
pengetahuan seseorang harus melalui tahap belajar.
Berdasarkan pengalaman dan penelitian, ternyata perilaku
yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng
daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Mangkunegara, 2006;. Notoatmodjo, 2003).
Berkaitan dengan hasil penelitian yang
menunjukkan bahwa pengetahuan bidan tentang induksi
dan akselerasi persalinan sebahagian besar termasuk dalam
kategori baik, hal ini bisa terjadi karena tingkat pendidikan,
masa kerja dan pelatihan yang berhubungan dengan
induksi dan akselerasi yang juga ikut mendukung.

Jurnal Ilmiah PANNMED

Terdapatnya hubungan yang bermakna antara pengetahuan


dengan tindakan bidan dalam penelitian ini mengandung
arti bahwa terdapat perbedaan antara tindakan bidan dalam
melakukan induksi dan akselerasi persalinan yang
memiliki pengetahuan baik dan kurang.
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih
tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulasi atau objek
tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat atau emosi
yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak
setuju, baik-tidak baik dan sebagainya). Suatu sikap belum
otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior).
Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata
diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang
memungkinkan, antara lain adalah fasilitas yang memadai
dan diperlukan juga faktor pendukung (support) dari
atasan.
Sikap bidan haruslah memiliki sikap mental yang
siap sedia secara psikofisik (siap secara mental, fisik,
situasi dan tujuan) dalam memberikan pelayanan agar
tuntutan masyarakat tentang pelayanan yang berkualitas
dapat terlaksana dengan baik dan mutunya dapat terus
ditingkatkan (Basri, Rivai, 2004).
Terdapatnya hubungan yang bermakna antara
sikap dengan tindakan bidan dalam penelitian ini
mengandung arti bahwa terdapat perbedaan antara
tindakan bidan dalam melakukan induksi dan akselerasi
persalinan yang memiliki sikap baik dan kurang.
umur bidan berhubungan dengan tindakan
melakukan induksi dan akselerasi persalinan (p = 0,041).
Umur harus mendapat perhatian karena akan
mempengaruhi kondisi fisik, mental, kemampuan kerja
dan tanggung jawab seseorang. Pada umumnya tenaga
kerja yang berumur tua, mempunyai tenaga fisik yang
lemah dan terbatas, sebaliknya tenaga kerja yang berumur
muda mempunyai kemampuan fisik yang kuat. Umur
seseorang cukup menentukan keberhasilan dalam
melakukan suatu pekerjaan, baik sifatnya fisik maupun non
fisik. Pekerjaan yang banyak mengandalkan fisik
umumnya menggunakan tenaga kerja yang berumur muda,
tetapi ada juga yang tidak, dan sangat tergantung dari jenis
pekerjaan tersebut (Robbins SP, 2003).
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang
menentukan keberhasilan seseorang dalam bekerja. Makin
tinggi pendidikan, umumnya produktivitas juga semakin
tinggi. Hal tersebut berhubungan dengan cara
menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi dalam
bekerja dengan solusi yang tepat, efektif dan efisien
(Notoatmodjo, 2003).
Dalam penelitian ini sebagian besar responden
bidan (97,1%) berpendidikan D III- D. IV kebidanan. Hal
ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang izin
dan penyelenggaraan praktik bidan yang menyatakan
bahwa bidan yang menjalankan praktik mandiri harus
berpendidikan minimal Diploma III (D III) kebidanan,
walaupun masih ada 12 bidan yang masih berpendidikan D
I dan diharapkan kedepannya dapat meningkatkan
pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan
lebih rasional dan kreatif serta terbuka dalam menerima

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

adanya bermacam usaha pembaharuan dan dapat


menyesuaikan diri terhadap berbagai pembaharuan.
Tingkat pendidikan seseorang berpengaruh dalam
memberikan respon terhadap sesuatu yang datang dari luar
(Surani, 2007).
Pernyataan-pernyataan diatas sesuai dengan hasil
penelitian, bahwa prosentase tertinggi yang menghasilkan
tindakan induksi dan akselerasi persalinan yang sesuai
dengan standar adalah bidan dengan pendidikan D.III-D.IV
yaitu sebesar 88,2%. Terdapatnya hubungan yang
bermakna antara tingkat pendidikan dengan tindakan bidan
dalam penelitian ini mengandung arti bahwa terdapat
perbedaan antara tindakan bidan dalam melakukan induksi
dan akselerasi persalinan yang memiliki pendidikan D.IIID.IV dan D.I.
Masa kerja seseorang mencerminkan pengalaman
seseorang dalam bekerja. Semakin lama seseorang bekerja
akan semakin terlatih dan terampil dalam melaksanakan
pekerjaan. Masa kerja berkaitan erat dengan pengalamanpengalaman yang didapat selama dalam menjalankan
tugas, karyawan yang berpengalaman dipandang lebih
mampu dalam melaksanakan tugas. Makin lama kerja
seseorang kecakapan mereka akan lebih baik karena sudah
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan
(Mangkunegara, 2006).
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori, tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara lama bekerja
dengan tindakan bidan dalam penelitian ini mengandung
arti bahwa tidak terdapat perbedaan antara tindakan bidan
dalam melakukan induksi dan akselerasi persalinan yang
memiliki lama bekerja 5 tahun dan < 5 tahun
Sesuai dengan teori bahwa pelatihan adalah
kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja
individu dalam pekerjaannya atau yang berhubungan
dengan pekerjaannya. Pelatihan dilakukan agar peserta
pelatihan mempunyai motivasi dalam belajar. Motivasi
ini bisa dalam bentuk yang nyata seperti aktualisasi diri
dan inisiatif. Reaksi peserta terhadap suatu pelajaran
akan dikondisikan dan dimodifikasikan dalam
pengalaman bekerjanya. Pelatihan diselenggarakan
dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap
dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kerjanya
sehingga mampu mencapai kinerja secara maksimal.
Pelatihan merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk
meningkatkan keahlian, pengetahuan, sikap dan
perilaku anggota organisasi dengan tujuan untuk
meningkatkan efisiensi, kualitas kerja dan kepuasan
kerja (Mangkunegara, 2006).
Terdapatnya hubungan yang bermakna antara
pelatihan yang pernah diikuti dengan induksi dan
akselerasi persalinan dengan tindakan bidan dalam
penelitian ini mengandung arti bahwa terdapat perbedaan
antara tindakan bidan dalam melakukan induksi dan
akselerasi persalinan yang telah mengikuti pelatihan
dengan yang tidak.
Kesimpulan
Karakteristik bidan untuk umur, pendidikan dan pelatihan
berhubungan dengan tindakan induksi dan akselerasi
dalam persalinan. Pengetahuan dan sikap berhubungan

59

Tumiar Simanjuntak, dkk.

dengan tindakan induksi dan akselerasi dalam


persalinan.Tidak ada variabel yang paling dominan
berhubungan dengan tindakan induksi dan akselerasi
dalam persalinan
Saran
Mengingat induksi dan akselerasi dalam persalinan
memiliki risiko bagi ibu maupun janin yang dilahirkan
maka diharapkan bidan dapat memahami dengan baik
manfaat dan kerugiaan induksi daan akselerasi persalinan
sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan tersebut.
Kepada pihak dinas kesehatan kota Pematangsiantar
diharapkan dapat melaksanakan suatu pelatihan tentang
induksi dan akselerasi persalinan karena dengan pelatihan
tersebut bidan-bidan yang ada di Kota Pematangsiantar
dapat melakukan induksi dan akselerasi persalinan sesuai
dengan standar.
Varibel dalam penelitian ini dibatasi dengan jumlah
responden yang kecil (40 bidan) dan tidak menilai hasil
dari tindakan induksi dan akselerasi persalinan secara
seksama sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan
dengan jumlah sampel yang lebih besar atau variabel
penelitian yang lebih luas.
Daftar Pustaka
AHRQ, 2009. Elective Induction of Labor: Safety and
Harms. US Department of Health and Human
Services.
Badan Pusat Statistik (BPS) dan Macro International,
2007. Survei demografi dan kesehatan Indonesia,
Calverton, Maryland, USA: BPS dan Macro
International.
Basri, Rivai, 2004. Performance appraisal. PT Raja
Grafindo Persada; Jakarta.
Cunningham FG,dkk, 2010. Williams Obstetrics 23 RD
Edition. MC Grow Hill Medical, Dallas, Texas.
Depkes, 2007. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 369/Menkes/SK/III/2007 Tentang
Standar Profesi Bidan, Jakarta, Depkes.
Handoko R. Statistik Kesehatan, 2007, Yogyakarta:
Penerbit Mitra Cendekia Press.
Hoffman MK, Sciscione AC, 2003, Elective induction with
cervical replanning increase the risk of
caesarean delivery in multiparous women. Obstet
Gynecol 101:7S.

60

Hubungan Pengetahuan dan...

Kasjono HS, Yasril, 2009. Teknik Sampling Untuk


Penelitian Kesehatan.Yogyakarta: Graha Ilmu.
Lemeshow, S., Hosmer, Jr, D, W., Klar, J. & Lwanga, S.
K. 1997. Besar Sampel Dalam Penelitian
Kesehatan. Penerjemahan: Pramono, D.
Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Mangkunegara AAAP, 2006. Evaluasi kinerja sumber
daya manusia. PT.Refika Aditama; Bandung.
Notoatmodjo S, 2003. Pendidikan dan perilaku kesehatan.
Rineka Cipta Jakarta
--------------------- 2006. Metodologi Penelitian Kesehatan
(Edisi Revisi). Rineka Cipta, Jakarta.
, 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu
Perilaku. Jakarta, Rineka Cipta.
Oxorn, 2003. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi
Persalinan. Yogyakarta : Yayasan Essentia
Medica.
Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia, 2006. Standar
profesi bidan Indonesia. PP IBI; Jakarta.
Robbins SP, 2003. Perilaku organisasi. Edisi Lengkap.
Alih Bahasa Benyamin Molan. PT Indeks
Kelompok Gramedia; Jakarta.
Saifuddin AB, dkk, 2002. Buku panduan praktis Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal. Ed I. Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; Jakarta.
Sudigdo S, Ismail S, 2008. Dasar-dasar Metodologi
Penelitian Klinis. Ed.3. Sagung Seto; Jakarta.
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif
dan R & D. CV Alfabeta; Bandung.
Surani, 2007. Analisis karakteristik individu dan faktor
intrinsik yang berhubungan dengan kinerja bidan
pelaksana poliklinik kesehatan desa dalam
pelayanan kesehatan di kabupaten Kendal,
[diunduh tanggal 13 Oktober 2013]. Tersedia
dari:
http://eprints.undip.ac.id/17401/1/Endang_Surani.
pdf
Varney H, 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4
Volume 2. EBG; Jakarta.
WHO, 2011. WHO Recommendations for Induction of
Labour. WHO
Winkel WS, 2007. Psikologi pengajaran. Media Abadi;
Yogyakarta.

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KETIDAKIKUTSERTAAN MENJADI AKSEPTOR KB PADA IBU
BERSALIN PESERTA JAMPERSAL DI RSUD DR.DJASAMEN SARAGIH
PEMATANGSIANTAR TAHUN 2013

Juliani Purba, Tengku Sri Wahyuni, Sri Hernawati Sirait


Prodi Kebidanan Pematangsiantar Poltekkes Kemenkes Medan

Abstrak
Sumatera Utara dengan angka fertilitas 3,8 merupakan provinsi keempat terbesar jumlah penduduknya di
Indonesia. Sebagai upaya untuk pengendalian jumlah penduduk dan keterkaitannya dengan Jaminan
Persalinan (Jampersal), maka pelayanan KB pada masa nifas perlu mendapatkan perhatian. Tatalaksana
pelayanan KB mengacu kepada pedoman pelayanan KB dan KIA yang diarahkan pada Metode Kontrasepsi
Jangka Panjang (MKJP) atau Kontrasepsi Mantap (Kontap). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB pada ibu bersalin peserta
Jampersal di RSUD Dr.Djasamen Saragih Pematangsiantar. Penelitian ini merupakan Explanatory Research
dengan pendekatan cross sectional. Sampel adalah 41 ibu bersalin peserta jampersal di RSUD Dr. Djasamen
Saragih Pematangsiantar ditentukan dengan cara consecutive sampling. Pengumpulan data dengan cara
wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data meliputi tahapan analisis univariat, analisis bivariat
dengan uji chi square, analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda dengan kemaknaan p<0,05 dan
rasio prevalen dengan CI 95%. Hasil penelitian ini mendapatkan proporsi ibu bersalin peserta Jampersal di
RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar tahun 2013 ada 22 (53,7%) yang tidakikut menjadi akseptor
KB. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor predisposisi yaitu umur dan paritas berhubungan
dengan ketidakikutsertaannya menjadi akseptor KB dengan nilai p= 0,032; RP 0,50 dan CI 0,28-0,88 dan p=
0,003; RP 3,19; CI (1,31-7,74). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa paritas merupakan variabel
yang paling dominan dari ibu bersalin peserta Jampersal dengan ketidakikutsertaannya menjadi akseptor
KB. Diharapkan kepada kepada petugas kesehatan yang memberikan pelayanan pemeriksaan kehamilan,
persalinan dan nifas hendaknya memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu agar menggunakan
alokontrasepsi tanpa harus menunggu selesai masa nifas dan bagi ibu dengan paritas 2 diharapkan teta
p
menggunakan MKJP dengan tujuan untuk mengatur waktu yang tepat untuk hamil, mengatur jarak
kehamilan dan menentukan jumlah anak.
Kata kunci : ibu bersalin, Jampersal, akseptor KB
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu
(AKI) dan bayi baru lahir di Indonesia masih harus
membutuhkan berbagai inovasi. Terlebih, bila dikaitkan
dengan target Millenium Development Goals (MDGs)
2015, yakni menurunkan AKI menjadi 102 per 100.000
kelahiran hidup, dan angka kematian bayi (AKB) menjadi
23 per 100.000 kelahiran hidup yang harus dicapai. Tahun
2010 Indonesia telah memberikan komitmen pada global
strategy for woman and children health. Pada tahun 2011
setidaknya ada 1,5 juta ibu hamil dan bayi yang dibiayai
pemerintah melalui Jaminan Persalinan (Jampersal) (Pusat
Komunikasi Publik, Sekjen Kemkes RI, 2012; Pusat
Komunikasi Publik, Sekjen Kemenkes RI, 2013).
Program
Jampersal
diharapkan
dapat
mengakselerasi goal dari
MDGs 4 dan 5 yakni
menurunkan AKI dan AKB sehingga jumlah ibu dan bayi

yang selamat akan bertambah. Bertambahnya jumlah ibu


dan bayi yang selamat sama artinya dengan jumlah
penduduk Indonesia yang juga semakin bertambah
(Prabhaswari, 2012). Hal ini bukanlah suatu masalah jika
pelaksanaan program Jampersal tidak terhenti hanya pada
tahap persalinan saja tetapi harus sampai mendapatkan
pelayanan KB.
Beberapa faktor yang diperkirakan berpengaruh terhadap
ketidakikutsertaan pasangan dalam menentukan metode
kontrasepsi apa yang akan dipakai dan keinginan untuk
mengakses metode kontrasepsi (DeRose, 2004; Prihastuti,
2004).
Sumatera Utara dengan angka fertilitas 3,8
merupakan provinsi keempat terbesar jumlah penduduknya
di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa
Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus
Penduduk pada tahun 2010 jumlah penduduk Sumatera
Utara 12,98 juta jiwa dan telah meningkat menjadi

61

Jurnal Ilmiah PANNMED

13.215.401 jiwa pada tahun 2012 (Sembiring, 2010; BPS


Sumut, 2012).
RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar
merupakan RSUD satu-satunya yang menerima pelayanan
Jampersal. Hasil survei pendahuluan yang dilakukan
Jampersal di RSUD Dr. Djasamen Saragih
Pematangsiantar pada bulan Maret 2013 diketahui jumlah
ibu bersalin peserta Jampersal tahun 2012 ada 305 kasus
(83,3%) dan hanya 79 kasus (25,9%) dilakukan tindakan
kontap, sedangkan untuk IUD/implant tidak ada.

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Tabel 1 : Distribusi
Responden Berdasarkan
Faktor Predisposisi (Umur, Pendidikan,
Pekerjaan, Pendapatan, Paritas, Paparan
informasi, Pengetahuan dan Sikap) dan
Berdasarkan Faktor Penguat (Dukungan
Suami) di RSUD Dr. Djasamen Saragih
Pematangsiantar tahun 2013
No

1.

Metode
Penelitian ini merupakan Explanatory
Research dengan pendekatan cross sectional. Sampel
adalah 41 ibu bersalin peserta jampersal di RSUD Dr.
Djasamen Saragih Pematangsiantar ditentukan dengan
cara consecutive sampling. Pengumpulan data dengan
cara wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data
meliputi tahapan analisis univariat, analisis bivariat
dengan uji chi square, analisis multivariat dengan uji
regresi logistik ganda dengan kemaknaan p<0,05 dan
rasio prevalen dengan CI 95%.

2.

3.

Ketidakikutsertaan
Tidak ikut
Ikut
Umur
> 35 tahun
< 35 tahun
Pendidikan
Pendidikan dasar
Pendidikan lanjutan
Pekerjaan
Tidak bekerja

Frekuensi

Persentase
(%)

22
19

53,7
46,3

24
17

58,5
41,5

2
39

4,9
95,1

41
100,0

4.

HASIL
5.

Analisis Univariat
Analisis univariat pada penelitian ini bertujuan
untuk melihat gambaran distribusi frekuensi variabel
yang diteliti yaitu variabel independen meliputi : faktor
predisposisi (umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan
dan paritas, paparan informasi KB, pengetahuan
tentang KB dan sikap tentang KB) dan faktor penguat
(dukungan suami). Dan variabel dependen yaitu
ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB.

Variabel

6.

7.

8.

9.

Bekerja
Pendapatan
Rp.1,2 jt
> Rp.1,2 jt
Paritas
2 orang
> 2 orang
Paparan
informasi
tentang KB
Pernah
Tidak pernah
Pengetahuan tentang
KB
Kurang baik (skor 1-6)
Baik (skor 7-13)
Sikap ibu untuk berKB
Kurang baik (skor 1019)
Baik (skor 20-40)
Dukungan suami
Kurang baik (skor 1019)
Baik (skor 20-40)

0,0

40
1

97,6
2,4

24
17

58,5
41,5

2
39

4,9
95,1

8
33

19,5
80,5

2,4

40

97,6

22,0

32

78,0

Analisis Bivariat
Analisis bivariat menunjukkan bahwa umur ibu
dan
paritas
mempunyai
hubungan
dengan
ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB (p<0,005),
sedangkan untuk variabel pendidikan, pekerjaan,
pendapatan, paparan informasi
tentang
KB,
pengetahuan tentang KB, sikap tentang KB dan
dukungan suami tidak memiliki hubungan dengan
ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB (p > 0,005).

62

Juliani Purba, dkk.

Faktor-Faktor yang Berhubungan...

Tabel 2 : Hasil uji bivariat


Ketidakikutsertaan menjadi akseptor
KB
Tidak ikut
Ikut
Total
n
%
n
%
n

No Faktor
Predisposisi
1. Umur
> 35 tahun
< 35 tahun
2. Pendidikan
Dasar
Lanjutan
3. Pekerjaan
Tidak bekerja
Bekerja
4. Pendapatan
Rp.1,2 jt
> Rp.1,2 jt
5. Paritas
2 orang
> 2 orang
6. Paparan info ttg KB
Tidak pernah
Pernah
7. Pengetahuan ttg KB
Kurang baik
Baik
8. Sikap
Kurang baik
Baik
9. Dukungan suami
Kurang baik
Baik

1.

37,5
76,5

15
4

62,5
23,5

24
17

100,0
100,0

0,032

0,50 (0,28-0,88)

2
20

100,0
51,3

0
19

0,0
48,7

2
39

100,0
100,0

0,490

1,95 (1,44-2,65)

22
0

53,7
0,0

19
0

46,3
0,0

41
0

100,0
100,0

21
1

52,5
100,0

19
0

47,5
0,0

40
1

100,0
100,0

1,000

0,53 (0,40-0,71)

18
4

75
23,5

6
13

25,0
76,5

17
24

100,0
100,0

0,003

3,19 (1,31-7,74)

2
20

100
51,3

0
19

0,0
48,7

2
39

100,0
100,0

0,490

0,95 (1,44-2,65)

5
17

62,5
51,5

3
16

37,5
48,5

8
33

100,0
100,0

0,703

1,21 (0,65-2,28)

1
21

100
52,5

0
19

100
46,3

1
40

100,0
100,0

1,000

1,91 (1,42-2,56)

6
16

66,7
50,0

3
16

33,3
50,0

32
9

100,0
100,0

0,466

1,34 (0,75-2,38)

Tabel 3 : Hasil seleksi akhir analisis multivariat


Variabel

RP
95% CI

9
13

Analisis Multivariat
Pada penelitian ini, variabel independen yang
memenuhi kriteria p < 0,25 pada analisis bivariat
dimasukkan ke dalam analisis multivariat dengan
menggunakan uji regresi logistik regresi yaitu variabel
umur dan paritas. Untuk mendapatkan faktor yang paling
dominan, semua kandidat diuji secara bersama-sama
dengan menggunakan metode Backward. Faktor yang
terbaik akan dipertimbangkan dengan melihat nilai p.
Pada setiap tahapan seleksi variabel yang tidak signifikan
(p > 0,05) dikeluarkan satu persatu mulai dari p yang
terbesar. Setiap tahapan seleksi selanjutnya dilakukan
dengan cara yang sama hingga seleksi terakhir diperoleh
variabel yang seluruhnya berhubungan signifikan (p <
0,05), yang dapat dilihat pada tabel berikut ini:

No

Nilai
p

SE() Nilai p

Paritas

0,741

0,002

Konstanta

-1,099 0,471

Rasio
Prevalen
3,19

95%
CI
1,31 7,74

Dari hasil seleksi diperoleh variabel paritas


merupakan variabel yang paling dominan berhubungan
dengan ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB. Besar
hubungan variabel tersebut dapat dilihat dari rasio prevalen
sebesar 3,19 dengan 95% CI : 1,31 - 7,74, artinya peluang
ibu bersalin peserta Jampersal yang memiliki paritas 2
untuk tidakikutserta menjadi akseptor KB 3,19 kali lebih
besar dibandingkan ibu bersalin peserta Jampersal yang
memiliki paritas > 2.
Pembahasan
Pada penelitian ini dari 17 responden yang
belum menjadi akseptor KB ada 12 responden yang
berencana akan menggunakan alokon KB tetapi setelah
selesai masa nifas, 5 responden tidak berencana
menggunakan alokon KB karena masih menginginkan
punya anak lagi.
Dari faktor umur ibu diperoleh data bahwa ibu
bersalin yang menggunakan Jampersal pada kelompok
umur < 35 tahun ada 13 responden (76,5%) tidakikutserta
menjadi akseptor KB dan ada 9 responden (37,5%) yang
tidakikutserta menjadi akseptor KB pada kelompok umur
63

Jurnal Ilmiah PANNMED

>35 tahun. Hasil uji chi-square di dapat nilai p = 0,032


artinya
ada
hubungan
antara
umur
dengan
ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan di Pati yang menyatakan bahwa umur ibu
bersalin pengguna Jampersal berhubungan dengan
ketidakikutsertaan KB dengan nilai p= 0,003.
Umur menentukan preferensi fertilitas dari
setiap wanita. Wanita dengan umur yang lebih tua
merasa bahwa tidak perlu menggunakan kontrasepsi
karena berpikir tidak akan hamil lagi dan sudah jarang
berhubungan seksual. Wanita usia muda cenderung
ber-KB dengan tujuan menjarangkan kehamilan,
sedangkan disisi lain wanita pada kelompok umur tua
cenderung untuk tidak memiliki anak lagi karena
jumlah anak yang dimiliki kemungkinanan telah cukup
(Bhushan, 1997; Ojaaka, 2008).
Pendidikan ibu pada penelitian ini tidak
mempunyai hubungan dengan ketidakikutsertaan menjadi
akseptor KB dengan uji chi-square di dapat nilai p = 0,491.
Pada responden yang memiliki tingkat pendidikan lanjutan
didapatkan 20 responden (51,3%) yang tidakikutserta
menjadi akseptor KB dan ada 2 responden (100,0%) yang
memiliki tingkat pendidikan dasar tidakikutserta menjadi
akseptor KB.
Meningkatnya pendidikan seorang individu
secara ekonomi berkorelasi positif dengan selera (taste),
artinya semakin tinggi tingkat pendidikan maka selera atau
keinginannya meningkat baik kuantitas maupun kualitas.
Melalui pendekatan fungsi utilitas, selera tentang anak
dalam suatu unit keluarga mengarahkan pilihannya kepada
kualitas bukan kuantitas (jumlah anak yang dilahirkan)
(Cleland, 2003).
Pada penelitian ini seluruh responden tidak
bekerja 41 responden (100,0%) sehingga tidak
dilakukan lagi uji untuk melihat hubungannya dengan
ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB. Meskipun
responden tidak bekerja mereka berhak mendapatkan
Jampersal selama mereka tidak memilki jaminan
kesehatan lainnya. Hal ini memungkinkan para
responden untuk memperoleh semua pelayanan yang
tersedia dalam Jampersal termasuk pelayanan KB.
Jampersal merupakan upaya untuk menjamin dan
melindungi proses kehamilan, persalinan, paska persalinan,
dan pelayanan KB paska salin serta komplikasi yang
terkait dengan kehamilan, persalinan, nifas, KB paska
salin, sehingga manfaatnya terbatas dan tidak dimaksudkan
untuk melindungi semua masalah kesehatan individu
(Kemenkes, 2012).
Pada penelitian ini hubungan pendapatan tidak
menunjukkan
hasil
yang
signifikan
dengan
ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB dengan uji
chi-square di dapat nilai p = 1,000. Responden dengan
pendapatan < 1,2 juta rupiah ada 21 responden (52,5%)
tidakikutserta menjadi akseptor KB sedangkan dengan
pendapatan > 1,2 juta rupiah ada 1 responden (100%)
tidakikutserta menjadi akseptor KB.
Pendapatan keluarga dapat memengaruhi
kemampuan keluarga untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan yang memadai. Hal yang terjadi pada keluarga

64

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

dengan penghasilan rendah, mengingat prioritas


pendapatan keluarga untuk membeli makanan, maka
penyediaan biaya untuk pelayanan kesehatan kurang
mendapatkan prioritas (Saini dkk, 2007).
Diperoleh data pada kelompok paritas 2 ada
18 responden (75,0%) yang tidakikutserta menjadi
akseptor KB dan pada kelompok paritas > 2 ada 4
responden (18,2%)
yang tidakikutserta menjadi
akseptor KB. Hasil uji chi-square di dapat nilai p =
0,003 maka, ada hubungan yang antara paritas dengan
ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB.
Hasil penelitian Dang (1995) menemukan ada
hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan
pemakaian kontrasepsi. Wanita dengan jumlah anak 4
orang atau lebih memiliki kemampuan untuk
menggunakan alat kontrasepsi sebesar 1,73 kali lebih
besar dibandingkan dengan wanita yang memilki 2
orang anak atau kurang.
Paritas seorang perempuan tentunya selalu
berhubungan dengan jumlah anak yang dimiliki. Anak
mempunyai nilai tertentu bagi orang tua, dan memiliki
anak menuntut beberapa konsekuensi yang harus
dipenuhi karenanya. Latar belakang sosial (tingkat
pendidikan, kesehatan, adat/budaya, pekerjaan, tingkat
penghasilan) yang berbeda menyebabkan pandangan
yang berbeda mengenai anak. Di daerah pedesaan anak
mempunyai nilai yang tinggi bagi keluarga. Anak dapat
memberikan kebahagiaan kepada orangtuanya selain
itu merupakan jaminan di hari tua dan dapat membantu
ekonomi keluarga (Siregar, 2003).
Pada responden yang sudah pernah
mendapatkan informasi tentang KB ada 20 responden
(51,3%) tidakikutserta menjadi akseptor KB. Pada
responden yang belum pernah mendapatkan informasi
tentang KB ada 2 responden (100%) tidakikutserta
menjadi akseptor KB. Informasi tentang KB yang
diperoleh responden pada penelitian ini tidak
mempunyai
hubungan dengan ketidakikutsertaan
menjadi akseptor KB dengan uji chi-square di dapat
nilai p = 0,490
Media massa secara langsung dapat memengaruhi
pemirsa/pendengar dengan meningkatkan pengetahuan
atau mengoreksi kesalahan informasi, misalnya cerita radio
dapat memberikan informasi baru mengenai manfaat
kesehatan dan risiko kontrasepsi. Media massa dapat
menghasilkan sikap positif terhadap objek stimulus,
misalnya seseorang yang terpapar program televisi yang
menggambarkan metode kontrasepsi atau keluarga kecil,
program yang ditampilkan dapat berupa jenis program
yang bersifat pendidikan, promosi, atau hiburan (Hernik,
2001).
Dari faktor pengetahuan dalam penelitian ini
diperoleh data pada kelompok dengan pengetahuan baik
ada 17 responden (77,3 %) yang tidakikutserta menjadi
akseptor KB, dan pada kelompok dengan pengetahuan
kurang ada 5 responden (22,7 %) yang tidakikutserta
menjadi akseptor KB. Hasil uji chi-square di dapat nilai p
= 0,703 artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan
dengan ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB.

Juliani Purba, dkk.

Pengetahuan merupakan domain yang sangat


penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt
behavior), sebab dari pengalaman dan dari hasil
penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh
pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting)
daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Gerungan, 1986).
Seorang wanita dapat lebih mudah memilih
kontrasepsi yang sesuai untuk tahap siklus hidupnyadan
dapat diterima pasangannya dengan memiliki
pengetahuan tentang berbagai alat kontrasepsi yang
lebih luas. Memiliki pengetahuan tentang berbagai alat
kontrasepsi juga memudahkan wanita jika ingin beralih
ke metode lain jika ia tidak puas terhadap metode yang
digunakan saat ini (Prayoga, 2007; Bhushan, 1997).
Pemberian informasi yang baik tentang alat
kontrasepsi dan konseling yang sesuai akan membantu
merekrut pengguna kontrasepsi baru dan mencegah
drop out. Berdasarkan beberapa studi yang telah
dilakukan, memberikan konseling dan memperluas
pengetahuan pasien tentang KB secara konsisten,
berhubungan dengan tingginya penggunaan alat
kontrasepsi dan keberlangsungan penggunaan alat
kontrasepsi (WHO, 2006).
Dalam penelitian ini diperoleh data pada
responden yang memiliki sikap yang baik tentang
penggunaan KB ada 21 responden (52,5%) yang
tidakikutserta menjadi akseptor KB, yang memiliki
sikap yang kurang baik tentang penggunaan KB ada 1
responden (100%) yang tidakikutserta menjadi akseptor
KB. Hasil uji chi-square di dapat nilai p = 1,000
artinya tidak ada hubungan antara sikap dengan
ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB.
Wanita dengan tidakikutserta menjadi akseptor
KB mungkin juga memiliki kekhawatiran terhadap efek
samping kontrasepsi, dan kekhawatiran tersebut bukan
karena wanita tersebut benar-benar mengalami efek
samping sebelumnya. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh DHS di 8 negara yaitu Ghana,
Madagascar, Malawi, Zambia, Indonesia, Filipina,
Maroko dan Republik Dominica menunjukkan bahwa
kira-kira setengah atau lebih wanita dengan yang tidak
pernah menggunakan alat kontrasepsi menyatakan
takut karena alasan efek samping. Ketakutan mereka
jelas didasarkan pada informasi tentang pengalaman
orang lain baik pengalaman yang aktual atau hanya issu
(Hermawan, 2006).
Pada responden yang mendapatkan dukungan yang
baik dari suaminya untuk ber-KB ada 16 responden
(50,0%) tidakikutserta menjadi akseptor KB
dan
responden yang tidak mendapatkan dukungan yang baik
dari suaminya untuk ber-KB ada 6 responden (66,7%)
tidakikutserta menjadi akseptor KB. Dukungan suami
responden untuk ber-KB pada penelitian ini mempunyai
hubungan dengan ketidakikutsertaan menjadi akseptor KB
dengan uji chi-square di dapat nilai p = 0,466.
Keterlibatan suami merupakan hal penting
dalam segala hal yang berkaitan dengan penggunaan
alat kontrasepsi, seperti kepuasan untuk membeli alat
kontrasepsi, jenis kontrasepsi yang digunakan, dan

Faktor-Faktor yang Berhubungan...

jangka waktu penggunaan kontrasepsi. (BPS, 2007;


Bhushan, 1997). Berdasarkan beberapa penelitian
alasan mengapa suami tidak menyetujui pasangannya
untuk menggunakan alat kontrasepsi adalah berkaitan
dengan biaya yang harus dikeluarkan, keberatan jika
pasangannya harus diperiksa oleh petugas kesehatan
laki-laki, dan takut terhadap efek samping yang
mungkin akan diderita oleh pasangannya (Islam, 2009).
Banyak pasangan suami istri yang jarang
mendiskusikan mengenai fertilitas dan KB. Beberapa
studi menunjukkan bahwa komunikasi mengenai KB
biasanya dilakukan hanya ketika pasangan tersebut
sudah memiliki satu atau dua anak (Bhushan, 1997).
Komunikasi memainkan peran penting dalam
pengambilan keputusan, perencanaan keluarga dan
perilaku kesehatan reproduksi. Komunikasi efektif
dengan memberdayakan pasangan untuk tujuan
pengambilan keputusan akan menghasilkan keputusan
yang terbaik bagi setiap pasangan baik keputusan untuk
kesehatan mereka secara pribadi maupun keputusan
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang
berkualitas, termasuk untuk memutuskan membatasi
jumlah anak, menggunakan alat kontrasepsi, maupun
rencana untuk menggunakan metode kontrasepsi
(Machfoedz dkk, 2007).
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, 2012. Penduduk
Sumatera Utara tahun 2012. sumut.bps.go.id
[diunduh 9 Mei 2013]
Bhunsan,I. 1997. Understanding unmet need. The Johns
Hopkins School of Public Health Center
Publication. [online serial]. Di unduh 1 Mei 2012.
Tersedia
dari
URL:
www.jhuccp.org/pubs/wp/4/4.pdf
Cleland J, 2002. Education and future fertility trends, with
special reference to mid-transitional countries.UN.
[online serial]. [Diunduh 5 Oktober 2012]:[5
halaman].
Tersedia
dari:http://www.angelinvest.us/esa/population/pub
lication/completingfertility/RevisedCLELANDpap
er.PDF
Dang, Anh, 1995. Differentials in Contraceptive Use and
Method Choice in Vietnam. International Family
Planning Perspectives, 21 (1): 2-5
DeRose LF, Dodoo NA, Ezeh Ac, Owuor TO, 2004. Does
discussion of family planning inmprove
knowledge of partners attitude toward
contraceptives?. Guttmacher Pub. [online serial],
[diunduh 9 Mei
2013];30(2):[5 halaman].
Tersedia
dari:
URL:
http//www.guttmacher.org/pubs/journals/300870
4.html
Gerungan, W.A., 1986. Psikologi Sosial, Bandung, Eresco.
Hermawan Y, 2006. Hubungan antara tingkat pendidikan
dan persepsi dengan perilaku ibu ibu rumah tangga
dalam pemeliharaan kebersihan lingkungan.
[online serial]. [Diunduh 5 Oktober 2012]:[16
halaman].
Tersedia
dari:

65

Jurnal Ilmiah PANNMED

ejournal.unud.ac.id/abstrak/hubungan%20antara.p
df
Hernik R, Mc Anany, 2001.Theories and evidence:
mass media effect and fertility change. [online
serial]. [diunduh 30 April 2011]; [sekitar 8
halaman]. Tersedia dari: National Academy
Press.www.unm.edu//reading 23.pdf
Islam TM, 2009. Influence of socio-demographic variables
on fertility in Bangladesh: application of path
model analysis. Medicine Jurnal ;6(5):313-320
Kemenkes RI, 2012. Petunjuk teknis Jaminan Persalinan.
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Machfoedz I, Suryani E, 2007. Pendidikan kesehatan
bagian dari promosi kesehatan. Fitramaya,
Yogyakarta.
Ojaaka D, 2008. Trends and determinants of unmet need
for family planning in Kenya. [online serial]. [Di
unduh 1 Oktober 2012]; 56 [sekitar 32 halaman].
Tersedia
dari:
DHS
publication.
www.measuredhs.com/pubs/pdf/WP56/WP56.pdf
Prayoga AD, 2007. Dasar-dasar demografi, Jakarta:
Lembaga Pener bit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Prihastuti D, Djutaharta T, 2004. Analisis lanjut SDKI
2002-2003 kecenderungan preferensi fertilitas,
unmet need, dan kehamilan tidak diharapkan di
Indonesia. Jakarta: BKKBN.
Saini N.K, Bhasin S.K, Sharma R, Yadav G, 2007. Study
of unmet need for family planning in a
resettlement colony of East Delhi. IndMed.
[diunduh 28 April 2011]; 30 (2): 124-133.
Tersedia
dari:
http://medind.nic.in/imvw/habaa.html
Siregar, F. 2013. Pengaruh nilai anak dan jumlah anak
pada Keluarga terhadap Norma Keluarga Kecil
Bahagia
dan
sejahtera
(NKKBS).
http://library.usu.ac.id/doenload/fkm/fkmfazidah2.pdf. Diakses tanggal 23 Oktober 2013.
WHO, 2006. Ragam Metode Kontrasepsi. EGC: Jakarta.

66

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Kesimpulan
Faktor predisposisi yaitu umur dan paritas ibu bersalin
peserta Jampersal berhubungan dengan ketidakikutsertaan
menjadi akseptor KB. Paritas merupakan variabel dominan
berhubungan dengan ketidakikutsertaan menjadi akseptor
KB dengan rasio prevalen sebesar 3,19 dengan 95% CI :
1,31-7,74, artinya peluang ibu bersalin peserta Jampersal
yang memiliki paritas 2 untuk tidak menjadi akseptor
KB 3,19 kali lebih besar dibandingkan ibu bersalin peserta
Jampersal yang memiliki paritas > 2.
Saran
Mengingat tingginya ibu bersalin peserta jampersal
yang belum menjadi akseptor KB ketika pulang dari RS
diharapkan pihak RSUD dr, Djasamen Saragih dapat
menjalin kerjasama dengan pihak Badan Pemberdayaan
Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota
Pematangsiantar sehingga alokon KB apapun yang
dibutuhkan dapat tersedia.
Kepada petugas kesehatan yang memberikan pelayanan
pemeriksaan kehamilan, persalinan dan nifas hendaknya
memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu agar
menggunakan alokon tanpa harus menunggu selesai masa
nifas.
Bagi ibu dengan paritas
2 diharapkan tetap
menggunakan MKJP dengan tujuan untuk mengatur waktu
yang tepat untuk hamil, mengatur jarak kehamilan dan
menentukan jumlah anak.
Bagi peneliti yang tertarik dalam bidang yang sama
perlu mempertimbangkan faktor
penguat yang
berhubungan dengan ketidakikutsertaan menjadi akseptor
KB, seperti dukungan tokoh agama dan dukungan petugas
kesehatan serta perubahan sistem jaminan kesehatan pada
tahun 2014 yang akan datang. Begitu juga dengan faktor
pemungkin yang berhubungan dengan ketidakikutsertaan
menjadi akseptor KB, seperti jarak ke pelayanan kesehatan
dan biaya ke pelayanan kesehatan.

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

EVALUASI KEPUASAN MAHASISWA DALAM PROBLEM BASED


LEARNING ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN DI PROGRAM STUDI
KEBIDANAN PADANGSIDIMPUAN

Irwan Batubara, Djaswadi Dasuki, Mubasysyir Hasanbasri


Prodi Kebidanan Padang Sidimpuan Poltekkes Kemenkes Medan

Abstrak
Lulusan pendidikan bidan yang ditempatkan di fasilitas kesehatan dan desa belum memberikan konstribusi
efektif terahadap percepatan penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Pendidikan D III
kebidanan dengan kurikulum berbasis kompetensi berupaya melakukan perubahan sistem pembelajaran
konvensional menuju pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning). Salah satu ciri problembased learning (PBL) self-directed learning, diintegrasikan dalam diskusi kelompok, diaplikasikan di
laboratorium dan praktek klinik pada objek nyata mewujudkan sikap profesi bidan mandiri yang mampu
memberi pelayanan dalam siklus kehidupan wanita berdasarkan bukti. Untuk mengetahui hubungan kegiatan
pembelajaran yang diterapkan dosen/tutor di kelas, laboratorium, praktek klinik dan kelengkapan alat-bahan
pembelajaran dengan kepuasan mahasiswa dalam asuhan kebidanan diagnosa kehamilan di Program Studi
Kebidanan Padangsidimpuan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan
pendekatan cross-sectional study. Populasi mahasiswa tingkat II reguler Program Studi Kebidanan
Padangsidimpuan berjumlah 50 orang ditambah 3 orang fasilitator, seluruhnya dijadikan subjek penelitian
(purposive sampling). Analisis data menggunakan chi-square, regresi logistik dengan pemodelan dan analisa
kualitatif. Hubungan kegiatan pembelajaran yang diterapkan dosen/tutor dengan kepuasan mahasiswa dalam
pembelajaran asuhan kebidanan diagnosa kehamilan bermakna dengan nilai p= 0,0001; RP sebesar 9,5
(CI95%=3,75-24.01) menjelaskan kegiatan pembelajaran memiliki risiko 9,5 kali mempengaruhi kepuasan
mahasiswa dalam pembelajaran asuhan kebidanan diagnosa kehamilan. Kegiatan pembelajaran sesuai
kriteria seven jump signifikan meningkan kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran asuhan kebidanan
diagnosa kehamilan.
Kata kunci : Kegiatan pembelajaran, kepuasan mahasiswa
PENDAHULUAN
Bidan salah satu tenaga kesehatan yang
memiliki posisi penting dan strategis terutama dalam
penurunan angka kematian ibu dan kematian bayi.
Bidan memberikan pelayanan kebidanan yang
berkesinambungan dan paripurna, fokus pada upaya
pencegahan,
promosi
dengan
pemberdayaan
masyarakat, kemitraan bersama-sama dengan tenaga
kesehatan lainnya untuk senantiasa siap melayanai
siapa saja yang membutuhkan dimanapun berada1.
Pendidikan kebidanan harus mengedepankan kualitas
lulusan
berbasis
kemandirian
pada
praktek,
mengembangkan kreativitas kinerja yang dapat
dibuktikan dengan budaya kompetensi dan terampil
dalam perawatan siklus kehidupan wanita2. Pendidikan
kebidanan perlu mensikapi perubahan metode
pembelajaran yang diterapkan inovasi berbasis
masalah, fokus pada mahasiswa intensif pada sumber
belajar dengan bimbingan tutor sebagai fasilitator. Ciri
problem-based learning (PBL) self-directed learning,
diintegrasikan dalam diskusi kelompok, diaplikasikan
di laboratorium dan praktek klinik pada objek nyata

mewujudkan sikap profesi bidan mandiri yang mampu


memberi pelayanan dalam siklus kehidupan wanita
berdasarkan bukti3.
Program Studi Kebidanan Padangsidimpuan
dalam proses pembelajaran berpedoman pada
kurikulum pendidikan bidan (2000) berbasis
kompetensi, metode pembelajaran diskusi kelompok,
tanya jawab, presentase, penugasan terstruktur dan
ceramah4. Pembelajaran dilaksanakan di kelas,
laboratorium, praktek klinik rumah sakit, puskesmas
dan masyarakat. Mhasiswa semester III-VI diterapkan
sistem blok (2008), satu bulan pembelajaran kelas,
laboratorium dan bulan berikutnya praktek klinik di
fasilitas kesehatan yang aktif memberikan pelayanan
KIA. Berdasarkan kegiatan pembelajaran yang
diterapkan dosen/tutor ciri pembelajaran berbasis
masalah,
peneliti
ingin
mengetahui
metode
pemebelajaran berbasis lengkap atau belum untuk
perbaikan dimasa yang akan datang, jika metode ini
mendapat respon positif dari mahasiswa untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini fokus
pada evaluasi kepuasan mahasiswa dalam kegiatan
pembelajaran yang diterapkan dosen/tutor di kelas,

67

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

laboratorium, praktek klinik dan sumber belajar asuhan


kebidanan kehamilan di Politeknik Kesehatan
Kementerian Kesehatan Medan Program Studi
Kebidanan Padangsidimpuan.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian kuantitatif dan kualitatif, dengan
pendekatan cross-sectional study, bertujuan untuk
memperoleh gambaran kegiatan pembelajaran yang
diterapkan dosen/tutor dengan kepuasan mahasiswa dalam
asuhan kebidanan kehamilan. Populasi, mahasiswa tingkat
II Program Studi Kebidanan Padangsidimpuan berjumlah
50 orang di tambah fasilitator 3 orang. Sampel dalam
penelitian purposive sampling.
Variabel independen dalam penelitian ini terdiri
dari kegiatan pembelajaran dikelas, laboratorium, praktek
klinik di rumah sakit dan sumber belajar. Variabel
dependen kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran
asuhan kebidanan kehamilan. Variabel luar yang
mempengaruhi pembelajaran dan kepuasaan mahasiswa
adalah pendidikan mahasiswa sebelumnya dan peran
dosen/tutor dalam pembelajaran asuhan kebidanan
kehamilan.
Analisis data
univariabel, bivariabel,
multivariabel dengan menggunakan uji statistik chi-square
dan logistic regression dengan tingkat confidence interval
(CI95%).
HASIL PENELITIAN
Uji statistik yang digunakan adalah chi-square
dengan nilai p <0.05 menunjukkan hubungan yang
bermakna secara statistik. Nilai RP (risiko relatif) sama
dengan 1 diartikan sebagai variabel yang diduga
sebagai faktor risiko yang tidak berpengaruh terhadap
kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran asuhan

kebidanan kehamilan. Nilai RP kurang dari 1 (CI 95%


tidak mencakup angka 1) maka faktor risiko bersifat
protektif dan selanjutnya bila nilai RP
1 maka
variabel tersebut merupakan faktor risiko yang
dianggap
mempengaruhi
rendahnya
kepuasan
mahasiswa dalam pembelajaran asuhan kebidanan
diagnosa kehamilan.
Hubungan
Kegiatan
Pembelajaran
dengan
Kepuasan Mahasiswa dalam Asuhan Kebidanan
Kehamilan
Metode
Pembelajaran

Kepuasan
Tidak 2
Puas
puas
n % n %

PBL
PBL lengkap
PBL tidak
lengkap

12 100 0 0 33,5 0,0001* 9,5 3.75 4 10,5 34 89,5


24.01

RP CI 95%

Keterangan :
n = Jumlah mahasiswa
= p Value
RP = Rasio Prevalensi
2 = Chi-Square
CI95% = Confidence Interval* = Signifikansi (p<0.05)
95%

Terdapat hubungan yang bermakna antara


kegiatan pembelajaran dengan kepuasan mahasiswa
dalam pembelajaran asuhan kebidanan kehamilan
dengan nilai p = 0,0001. Nilai RP sebesar 9,5
(CI95%=3,75-24.01),
menjelaskan
kegiatan
pembelajaran yang diterapkan dosen/tutor memiliki
risiko 9,5 kali untuk mempengaruhi ketidak kepuasan
mahasiswa dalam pembelajaran asuhan kebidanan
kehamilan.

Hasil Analisis Chi square Kegiatan Pembelajaran dengan Kepuasan Mahasiswa dalam Asuhan Kebidanan
Kehamilan
Pembelajaran

Puas
n

Pembelajaran kelas
- Lengkap
- Tidak lengkap
Pembelajaran labor
Lengkap
- Tidak lengkap
Pembelajaran klinik
- Lengkap
- Tidak lengkap
Kelengkapan alat
- Lengkap
- Tidak lengkap
Pendidikan mahasiswa
- SMA
- SMK
Peran dosen
- Baik
- Kurang baik

Keterangan:
n = Jumlah responden
2 = Chi-Square
CI95% = Confidence Interval 95%

68

Kepuasan
Tidak puas
%
n
%

14
2

60,9
7,4

9
25

39,1
92,6

16,3

21
13

56,7
100

16
0

43,2

8,2

15
1

78,9
3,2

4
30

21,1
96,8

31,1

15
1

57.7
4,2

11
23

42,3
95,8

16,4

12
4

24,6
33,3

26
8

64,5
66,7

0,13

16
0

35,5
0

29
5

64,5
100

2,64

RP

0,0001

CI 95%

8,2

2,1-32,4

0,0002
24,5
0,0026

3,5-170.6
13,8
1,8-97,0

= p Value
RP = Rasio Prevalensi

0,0001
0,586
0,13

0,95
0,37-2,39

Irwan Batubara, dkk.

Evaluasi Kepuasan...

Analisis multivariabel
Hasil Analisis Regresi Logistik hubungan Kegiatan Pembelajarandengan Kepuasan Mahasiswa dalam
Asuhan Kebidanan Kehamilan
Model 1
Model 2
Model 3
Model 4
Pembelajaran
RP
RP
RP
RP
(CI 95%)
(CI 95%)
(CI 95%)
(CI 95%)
Pembelajaran kelas
5,41
6,01
3,15
- Lengkap
(1,47-19,90)*
(1,59-22,60)*
(0,99-10,05)
- Tidak Lengkap
Sumber pembelajaran
- Lengkap
- Tidak Lengkap
Pembelajaran klinik
- Lengkap
- Tidak Lengkap
N
R
Deviance
Keterangan:
N = Jumlah responden
RP = Rasio Prevalensi
R = Koefisien determinasi

9,32
(1,39-62,33)*

50
0,30
28,91

3,69
(0,60-22,54)

13,53
(1,82-100,29)*
50
0,36
23,43

2,09
(0,49-8,27)

3,29
(1,38-7,91)*
50
0,26
33,47

11.81
(1,56-89,01)*
50
0,40
14,42

CI = Confident Interval
* = bermakna/signifikan

Model 1 untuk mengetahui hubungan kegiatan


pembelajaran di kelas dan kelengkapan sumber belajar
dengan kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran
asuhan kebidanan kehamilan tanpa mengikut sertakan
variabel lain. Hasil analisis menunjukkan RP 5,41; CI
95%= 1,47-19,90. Nila R2, model 1 dapat memprediksi
kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran asuhan
kebidanan kehamilan 30%. Model 2 melihat hubungan
sumber pembelajaran dan praktek klinik dengan
kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran asuhan
kebidanan kehamilan. Hasil analisis membuktikan nilai
R2, mengalami peningkatan kepuasan mahasiswa 36%
dan tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan
nilai RP = 3,69; CI 95%= 0,60-22,54. Kepuasan
mahasiswa memiliki proporsi 3,69 kali lebih puas
dalam pembelajaran asuhan kebidanan. Model 3
melihat hubungan kegiatan pembelajaran di kelas dan
praktek klinik dengan kepuasan mahasiswa dalam
pembelajaran asuhan kebidanan kehamilan. Hasil
analisis mempunyai hubungan yang bermakna dengan
nilai RP = 6,01; CI 95%= 1,59-22,60. Kepuasan
mahasiswa memiliki proporsi 6,01 kali lebih puas
dalam pembelajaran asuhan kebidanan. Model 4
melihat hubungan kegiatan pembelajaran di kelas,
praktek klinik, dan sumber pembelajaran dengan
kepuasan mahasiswa dalam asuhan kebidanan
kehamilan. Hasil analisis membuktikan nila R2,
mengalami peningkatan kepuasan mahasiswa 40%, dan
mempunyai hubungan bermakna dengan nilai RP
1,56-89,01. Artinya kepuasan
11,81; CI 95%=
mahasiswa memiliki proporsi 11,81 kali lebih puas
dalam pembelajaran. Berdasarkan analisis pemodelan,
peneliti cenderung untuk memilih model 4, atas dasar

pertimbangan logis, statistik dan praktis lebih efektif


meningkatkan
kepuasan
mahasiswa
dalam
pembelajaran
asuhan
kebidanan
kehamilan.
Pembelajaran berbasis masalah (PBL) efektif
dilaksanakan pada pembelajaran praktek klinik.

Hubungan kegiatan pembelajaran dengan kepuasan


mahasiswa dalam asuhan kebidanan diagnosa
kehamilan.
Hasil penelitian
tabel 1 menunjukkan rerata
ketidakpuasan mahasiswa 68% dalam pembelajaran yang
diterapkan dosen/tutor di kelas, laboratorium dan praktek
klinik. Secara deskriptif membuktikan kurangnya
pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh
dosen/tutor dalam manajemen pengelolaan kelas dan
pemanfaatan sumber pembelajaran untuk memotivasi
mahasiswa intensif pada sumber belajar. Bukti statistik
pada Tabel 4 terdapat hubungan yang bermakna antara
kegiatan pembelajaran dengan kepuasan mahasiswa dalam
asuhan kebidanan kehamilan, nilai p = 0,0001; RP sebesar
9,5; CI 95%= 3,75-24,01. Hal ini menjelaskan kegiatan
pembelajaran yang diterapkan dosen/tutor memiliki risiko
9,5 kali mempengaruhi ketidakpuasan mahasiswa dalam
pembelajaran asuhan kebidanan kehamilan. Kegiatan
pembelajaran yang diterapkan/dosen mayoritas PBL tidak
lengkap 38 (76%) dan mahasiswa tidak puas. Nilai X =
33,5 artinya nilai peubah kegiatan pembelajaran yang
diterapkan dosen (observasi) tidak sesuai dengan harapan
mahasiswa, semakin kecil nilai X observasi dengan
harapan semakin baik mewujudkan tujuan pembelajaran
(mahasiswa puas).

69

Jurnal Ilmiah PANNMED

Problem based learning dilaksanakan lengkap


mahsiswa merasa puas signifikan dengan hasil penelitian;
Kepuasan mahasiswa lebih baik pada sesi PBL
dibandingkan dengan duduk dalam kuliah karena dapat
medorong aktivasi dan elaborasi pengetahuan sebelumnya
dan memungkinkan proses pengembangan kognitif1,5.
Pendidik pada dasarnya harus menyadari
standar
kurikulum yang dibutuhkan, kompetensi inti dari bidang
studi, kemudian menyusun rencana pembelajaran dengan
pertimbangan kecukupan waktu, mahasiswa, metode dan
sumber daya. Proses pembelajaran akan berlangsung
efektif jika mahasiswa terlibat secara aktif dalam tugastugas yang bermakna, dan berinteraksi dengan materi
pembelajaran secara intensif. Penugasan belajar mandiri
meningkatkan kemampuan mengaplikasikan pengetahuan
dalam aktivitas nyata, dan intraksi yang berkesinambungan
sesama teman sejawat memungkinkan mahasiswa untuk
melakukan konfirmasi terhadap pengetahuan
dan
keterampilan pembelajaran6,7. Probem-based learning
inovasi dalam metode pembelajaran, dosen/tutor sebagai
fasilitator kreatif mengembangkan kemampuan dan
keahlian yang berhubungan dengan bidang tugasnya.
Kualitas dan atribut fasilitator memberikan dampak yang
signifikan pada proses pembelajaran, agar belajar terasa
nyaman dan tercipta diskusi yang terbuka dibutuhkan
fasilitator kreatif, terbuka, fleksibel, berpikir positif,
inovatif dan penuh motivasi dalam kelompok
diskusi2,8.Tantangan pembelajaran di Program Studi
Kebidanan
Padangsidimpuan;
kurangnya
jumlah
fasilitator jika dibandingkan dengan kelompok mahasiswa,
kualifikasi pengetahuan belum memadai sehingga
mahasiswa tidak terfasilitasi optimal dalam pembelajaran.
Fasilitator berupaya meningkatkan kemampuan melalui
pendidikan formal dan pelatihan yang relevan dengan
tugasnya, kemampuan teknologi dan psikologi pendidikan
untuk mendisain kegiatan pembalajaran berbasis masalah
yang efektif dan efisien.
Problem based learning efektif dilaksanakan
dalam pembelajaran praktek klinik, hal ini sependapat
dengan hasil penelitian Aari, PBL lebih efektif
meningkatkan
keterampilan
mahasiswa
pada
pembelajaran klinik dibandingkan dengan metode
konvensional1,9. Pembelajaran klinik peluang bagi
mahasiswa untuk memperoleh norma, prilaku bidan
sebagai bagian dari komunitas praktek, sosialisasi
profesional sebagai proses belajar budaya profesi,
kemampuan, nilai, sikap dan keterampilan yang
membuat mahasiswa semakin percaya diri. PBL
memiliki kelebihan seperti menyediakan pengalaman
belajar yang jauh lebih menyenangka, keterampilan
profesional dan praktek ilmu dasar dilaksanakan
dengan pendekatan berbasis kompetensi dan
pembimbing mengambil peran pembinaan bekerja
sampai
mencapai tingkat kompetensi. Keputusan
kelinik asuhan kebidanan kehamilan lebih akurat
karena mereka lebih cendrung menggunakan konsepkonsep sains, mengembangkan kemampuan dalam
pemecahan masalah secara akurat dan menerapkannya
pada siatuasi masalah baru. Peranan tutor dalam
praktek klinik adalah mengintegrasikan pembelajaran

70

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

klinik efisien dengan tugas perawatan pasien, sehingga


beban kerja tidak menimbulkan konflik dan saling
mendapat perhatian. Peningkatan beban kerja tutor
untuk satu orang mahasiswa dan satu pasien sekitar 45
menit setiap harinya9.. Tutor belajar dari pengalaman
kegagalan atau ketidak puasan untuk memodifikasi
strategi metode pembelajaran efektif, seperti membuat
jadwal harian, koordinasi dengan pendidikan untuk
membatasi jumlah bimbingan, meningkatkan kinerja
tim dan melibatkan staf dengan pengawasan dan
bimbingan.
Sumber pembelajaran dengan kepuasan mahasiswa
dalam asuhan kebidanan kehamilan.
Hasil penelitian membuktikan sumber belajar
(alat-bahan) pembelajaran tidak lengkap 23 (46%)
mahasiswa tidak puas dan mahasiswa tidak puas
walaupun alat lengkap 11 (22%). Secara deskriptif alatbahan adalah sumber belajar, jika tidak lengkap atau
jumlahnya kurang menghambat tansformasi materi
pembelajaran dan membutuhkan waktu lebih lama
dalam penyelesaian tugas. Secara statistik terdapat
hubungan yang bermakna antara kepuasan mahasiswa
dengan kelengkapan alat-bahan pembelajaran dan dapat
meningkatkan kepuasan mahasiswa 13,8 kali jika
ketersedian alat-bahan pembelajaran lengkap. Aktivitas
pembelajaran mahasiswa berinteraksi dengan sumber
belajar;
mendemontrasikan,
mempraktekkan,
mensimulasikan,
mengadakan
eksprimen,
menganalisis,
mengaplikasikan,
menemukan,
mengamati, meneliti, efektivitas dan efisien proses
dipengaruhi kelengkapan alat-bahan sebagai sumber
belajar. menjelaskan hambatan dalam pembelajaran,
kurangnya alat-bahan mahasiswa tidak dapat
menyelesaikan pembelajaran kelompok tepat waktu
dan tutor mengalami kesulitan mengoptimalkan
bimbingan,
harapan
peningkatan
pencapaian
kompetensi pembelajaran fokus pada mahasiswa tidak
tercapai10,16. Alat dan bahan adalah sub-komponen
dalam simtem pembelajaran.
Sumber pembelajaran sesuai kebutuhan topik
pembelajaran,
mahasiswa
diberi
kesempatan
mengerjakan langsung, dan menemukan sendiri materi
pembelajaran dengan bimbingan dosen/tutor sebagai
fasilitator mahasiswa mampu mandiri melaksanakan
asuhan kebidanan tanpa tergantung sepenuhnya pada
dokter ahli. Sumber pembelajaran asuhan kebidanan
terdiri dari media pembelajaran (audiovisual),
kebutuhan praktek laboratorium/klinik (pemeriksaan
ibu hamil), sumber pustaka dan alat transpormasi
informasi untuk mengintegrasikan dan membanding
hasil pengumpulan data ibu hamil sehingga keputusan
klinik atau diagnosa tepat berdasarkan bukti.
Dosen/tutor
merencanakan
pembelajaran
mempertimbangkan: 1) ketersediaan sumber belajar
baik dari jumlah maupun kualitasnya, 2) ketersediaan
dana, tenaga dan fasilitas, 3) keluesan, kepraktisan
penggunaan sumber belajar, serta
4) efektifitas
sumber belajar dengan waktu10. Fasilitator memiliki
keterampilan
menggunakan
alat-bahan
dalam

Irwan Batubara, dkk.

pengumpulan data ibu hamil, mengusai konstektual


menentukan diagnosa beradasarkan evidance base dan
pemodelan jika memungkinkan menyerupai bentuk,
fungsi aslinya10,17. Berbagai upaya yang dapat
dilaksanakan untuk meminimalisir dampak kekurangan
alat-bahan dalam pembelajaran:
1) distribusi
merata pada setiap kelompok dan terjadwad, 2)
pemodelan jika memungkinkan menyerupai bentuk
aslinya, 3) penambahan waktu atas kesepakatan tutor
dengan kelompok diluar jam terjadwa, dan
4)
memberdayakan lembaga atau institusi tempat
praktek10,18. Inventarisasi alat-bahan dilaksanakan
setiap
akhir
semester
untuk
mengetahui
kelengkapannya, kualitasnya, penataannya, dilaporkan
ke Jurusan Kebidanan dilanjutkan ke Direktorat
Politeknik Kesehatan Medan, pengadaannya oleh
Poltekkes dan didistribusi kependidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Aari RL, Elomaa L, Ylonen M, Saarikoski M. Problembased learning in clinical practice: employment
and education as development partners. Nurse
Educ Pract.2008; 8 (6): 420-427.
Ali GM, Sebai NAM. Effect of problem-based
learning on nursing student approaches to learning
and their self directed learning abilities.
International Journal of Academic Research.2010;
2 (4): 188-195.
Botti J. PBL Scenario Essential. Published in the
proceedings of
the PBL International
Conference, Cancun, Mexico, June 2004.
Departemen Kesehatan RI Kurikulum Pendidikan
Diploma III Kebidan, Jakarta; 2004.
Gurpinar E, Alimoglu MK, Mamakli S, Aktekin M.
Can learning style predict student satisfactin with
different instruction methods and academic
achievement in medical education?. Advances in
Pshysikology Education.2010; 34 (4): 192-196

Evaluasi Kepuasan...

Dochy ., Seger, M, Bossc PVd, Gijbels D. Effects of


problem-based learning: a metaanalysis. Learning
and Instruction. 2003; 13: 533-568.
Hmelo-Silver CE. Problem-based learning: What and
how do students learn? Educational Psychology
Review. 2004; 16 (3): 235-266.
Wood DF. ABC of learning teaching in medicine:
Problem based learning. BMJ.2003; 326.
Raisler J, O'Grady M, Lori J. Clinical teaching and
learning in midwifery and women's health. J
Midwifery Womens Health. 2003; 48 (6): 398-406.
Spinello E, Fischbach R. Problem-based learning in
public health instruction: a pilot study of an online
simulation as a problem-based learning approach.
Educ Health (Abingdon). 2004; 17 (3): 365-373.
Kokom K. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan
Aplikasi. Rafika Aditama, Bandung ;2010.
Thomas GB. An evidance-based strategy for midwifery
education. The Royal College of Midwives Based
Midwifery. 2007; 5 (2): 47-53.
Gordon J. ABC of learning and teaching in medicine:
one to one teaching and feedback. BMJ. 2003; 326
(7388): 543-5.
Morrison J. ABC of learning and teaching in medicine:
Evaluation. BMJ. 2003; 326 (7385): 385-387.
Prideaux D. ABC of learning and teaching in medicine.
Curriculum design. BMJ.2003; 326 (7383): 268270.
Savin-Baden, M. Problem-based Learning In Higher
Education: Untold Stories, Philadelphia, PA: Open
University Press; 2000.
Vahidi R, Azemian A, Zadeh S. Feasibility of PBL
implementation in clinical courses of nursing and
midwifery from the view points of faculty
members of Tabriz University of Medical
Sciences. Journal of Medical Education. 2004; 4
(2): 71-76.
Wood DF. ABC of learning teachin in medicine:
Problem based learning. BMJ.2003; 326

71

Nurlama Siregar.

Hubungan Karakteristik...

SOSIAL, BUDAYA SERTA PENGETAHUAN IBU HAMIL YANG TIDAK


MENDUKUNG KEHAMILAN SEHAT

Rina Doriana Pasaribu, Tria Feni Setia, Lusiana Gultom


Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Medan

Abstrak
Sosial dan budaya kehamilan merupakan faktor tidak langsung penyumbang angka kematian ibu.Tingkat
kurangnya pengetahuan ibu hamil juga menjadi faktor lainnya.Dalam Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2012 AKI di Indonesia yaitu mencapai 359 per 100 ribu kelahiran.Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui gambaran sosial dan budaya serta pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan di
Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Tahun 2014. Penelitian bersifat deskriptif
dengan data primer.Populasi penelitian adalah semua ibu hamil di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang Tahun 2014 pada bulan Mei sampai Juni 54 ibu hamil.Pengambilan sampelnya
dengan teknik total populasi. Dari hasil penelitian dari segi sosial umumnya ibu hamil berinteraksi dengan
suami dan tetangga (100%), orang tua (27,77%),mertua (12,96%),bidan (11,11%),sesama ibu hamil
(9,25%).Interaksi Ibu hamil saat ada keluhan memiliki persentase dengan suami(100%),orang tua
(18,51%),mertua dan tetangga (9,25%) bidan (12,96%),interaksi terdekat ibu hamil dengan suami
(100%),orang tua (22,22%) mertua dan bidan (5,55%). sumber nasehat saat hamil bersumber dari mertua
(62,96%),orang tua (53,70%) tetangga (37,30%).dari segi budaya umumnya ibu hamil memiliki kepercayaan
berpantang makan, perilaku, mengikuti nasehat saat hamil,melaksanakan upacara kehamilan.Berdasarkan
pengetahuan ibu hamil berpengetahuan kurang (68,51%),berpengetahuan baik (7,41%) dan cukup (24,08%).
Disarankan bagi kepala desa agar meningkatkan kesehatan ibu hamil dengan bekerjasama dengan bidan dan
melakukan pendekatan melalui orang terdekat ibu hamil.
Kata kunci : Sosial, Budaya, Pengetahuan, Ibu Hamil
PENDAHULUAN
Indonesia sehat adalah suatu gambaran kondisi
Indonesia di masa depan, yakni masyarakat, bangsa, dan
negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam
lingkungan dengan perilaku hidup sehat, memiliki
kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu secara adil dan merata, serta mencapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Visi Depkes
2010-2014 yaitu masyarakatsehat yang mandiri dan
berkeadilan (Depkes, 2010).Setiap negara memiliki tolak
ukur dalam pencapaian derajat kesehatan, diIndonesia
salah satu indikator dalam pencapaian
derajat
kesehatan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan
sesuai dengan visi Depkes 2010 2014 adalah dengan
target menurunkan kematian Ibu (AKI) dan angka
kematian bayi (AKB) yang masih tinggi (Ronald, 2011).
World Health Organization (WHO) memperkirakan
angka kematian maternal di Indonesia diperkirakan
mencapai 100 sampai 1.000 lebih per 100.000 dari
kelahiran hidup.Hasil laporan kemajuan pencapaian
Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2007
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih mencapai
307 per 100.000 kelahiran hidup, tertinggi di Asia
Tenggara (Sukowati, 2008). Dan berdasarkan Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun

72

2012 jumlah AKI di Indonesia yaitu 359 per 100 ribu


kelahiran hidup (Depkes, 2012). Berdasarkan laporan dari
profil kab/kota AKI maternal yang dilaporkan di Sumatera
Utara tahun 2012 yaitu 106/100.000 kelahiran hidup.(Profil
Kesehatan Sumatera Utara Tahun 2012)
Diperkirakan 50.000.000 ibu setiap tahunnya
mengalami masalah kesehatan yang berhubungan dengan
komplikasi komplikasi kehamilan , persalinan dan
nifas.komplikasi yang ada kaitannya dengan kehamilan
berjumlah sekitar 18 % dari jumlah global penyakit yang di
derita wanita pada usia reproduksi. Dan diperkirakan 40 %
wanita hamil akan mengalami komplikasi sepanjang
kehamilannya (Ronald, 2011). Menurut Ronald (2010)
diperkirakan dari setiap ibu yang meninggal dalam
kehamilan, karena menderita komplikasi, diakibatkan
karena adanya penyebab langsung dan tidak langsung dari
kematian ibu tersebut. Penyebab utama kematian ibu yaitu
adanya perdarahan (25 %), sepsis (15%), hipertensi dalam
kehamilan (12%), partus macet (8 %), komplikasi aborsi
tidak aman (13%), dan penyebab lain (8%) maka penyebab
tidak langsung dari kematian ibu seperti anemia. Sebab
kematian ibu , mulai dari kehamilan itu sendiri terdapat
banyak masalah yang salah satunya kehamilan dengan
mitos mitos yang baik sadar atau tidak disadari selalu
hidup secara turun temurun dalam masyarakat. Mitosmitos kehamilan ini dapat memberikan pengaruh bagi
perilaku ibu hamil baik itu positif maupun negatif hingga

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

mempengaruhi kunjungan pemeriksaan kehamilan.


Berdasarkan Profil Kesehatan Sumatera Utara
Tahun 2012 Cakupan pemeriksaan kehamilan ibu hamil di
Sumatera Utara sejak tahun 2007 mengalami kenaikan dari
77,95% menjadi 85,92% ditahun 2012, yaitu untuk
cakupan KI sebesar 92,74 % dan untuk cakupan K4
sebesar 85,92 % dari 25 kabupaten dan 8 kota yang ada di
Sumatera Utara namun peningkatan ini terkesan lambat
karena peningkatkannya hanya sekitar 2% setiap tahun.
Dengan peningkatan seperti ini dikhawatirkan Sumatera
Utara tidak mampu mencapai target SPM bidang kesehatan
yaitu 95% di tahun 2015.
Dari penyebab kematian ibu tersebut masalah
kematian maupun kesakitan dan kunjungan pemeriksaan
kehamilan pada ibu tidak terlepas dari faktor sosial budaya
dan lingkungan di dalam masyarakat.Disadari atau
tidak,faktor kebudayaan, kepercayaan dan pengetahuan
budaya seperti berbagai pantangan, hubungan sebab akibat,
antara makanan dan kondisi sehat sakit, kebiasaan, dan
ketidaktahuan, seringkali membawa dampak positif
maupun negatif terhadap kesehatan ibu.
Pengetahuan, sosial dan budaya ibu yang sedang
hamil akan memengaruhi kesehatan ibu saat hamil.
Berdasrkan latar belakang tersebut penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sosial dan
budaya ibu hamil di Desa Percut Kecamatan Percut Sei
Tuan Kabupaten deli Serdang.
Perumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini yaitu
Bagaimanakah gambaran sosial, budaya serta pengetahuan
ibu hamil tentang kehamilan di desa Percut Kecamatan
Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang tahun 2014
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
sosial dan budaya serta pengetahuan ibu hamil tentang
kehamilan di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang tahun 2014
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriftif yaitu suatu metode
penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk
membuat gambaran tentang suatu keadaan untuk
mengetahui Gambaran Sosial Budaya dan Pengetahuan Ibu
1.

Hamil Tentang Kehamilan Di Desa Percut Kecamatan


Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Tahun 2014.
Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Percut Kecamatan
Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang pada bualan
Januari Mei 2014.
Populasi Dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu
hamil yang ada di Desa Percut Kabupaten Deli Serdang
sebanyak 54 orang ibu hamil pada bulan Januari sampai
April tahun 2014 dan seluruh populasi dijadikan sebagai
sampel.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dengan cara mengambil
data secara primer yaitu data yang langsung di peroleh
peneliti sendiri melalui kuesioner. Tipe kuesioner yang
digunanakan dengan kuesioner semi terbuka untuk sosial
dan budaya ibu hamil serta kuesioner tertutup untuk
pengetahuan ibu hamil Pengambilan data di lakukan
dengan melakukan kunjungan rumah.
Pengolahan Data dan analisa Data
Data yang terkumpul selanjutnya diediting dan
ditabulating. Data dianalisis dengan melihat persentase
(distribusi frekuensi) dari masing-masing variabel yang
diteliti, kemudian dibahas dengan menggunakan teori dan
kepustakaan yang ada
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Wilayah Penelitian
Wilayah penelitian berada di Desa Percut Kecamatan
Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang yang terbagi 18
dusun dalam satu dusun Desa Percut, terletak di sebelah
barat dari wilayah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten
Deli Serdang dengan mayoritas 90 %penduduk bersuku
Melayu tersebar di dalam 18 dusun,dan memiliki 1
puskesmas pembantu terletak di depan kantor kepala Desa
Percut sementara untuk wilayah kerja puskesmas induk
yang menaungi Desa Percut terletak di Desa Tanjung
Rejo,yang memiliki jarak tempuh 15 menit dari Desa
Percut.

Karasteristik Responden

Gravida
Primigravida
Secundygravida
Multigravida
Total
Usia Kehamilan
Trimester I
Trimester II
Trimester III
Total

Tabel 1. Distribusi Karasteristik Responden


Jumlah
Persen (%)
28
51,85
15
27,77
11
20,37
54
100
20
14
20
54

37,03
25,92
37,03
100
73

Rina Doriana Pasaribu. dkk.

Sosial, Budaya Serta...

Jumlah Kunjungan ANC


Pemeriksaan 1 x
Pemeriksaan 2 x
Pemeriksaan 3 x
Pemeriksaan 4 x atau
lebih
Tidak ANC

8
8
4
2

14,81
14,81
7,40
3,70

32

59,25

Total

54

100

2.

LingkunganSosial Ibu Hamil di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Tahun
2014

Tabel 2. Distribusi Interaksi Sosial Sehari hari Ibu Hamil Saat Hamil di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang Tahun 2014
No Interaksi Sosial
Jumlah
N
Persen ( % )
1 Suami
54
54
100
2 Orang Tua
15
54
27,77
3 Mertua
7
54
12,96
4 Tetangga
54
54
100
5 Bidan
6
54
11,11
6 Sesama Ibu Hamil
5
54
9,25
Tabel 3. Distribusi Interaksi Ibu Hamil Jika ada Keluhan Saat Hamil di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten
Deli Serdang Tahun 2014
No
Interaksi Ibu Saat Ada Keluhan
Jumlah
N
Persen (%)
1
Suami
54
54
100
2
Orang Tua
10
54
18,51
3
Mertua
5
54
9,25
4
Tetangga
5
54
9,25
5
Bidan
7
54
12,96
Tabel 4. Distribusi Sumber Nasehat Pantangan /Anjuran ke Ibu Hamil di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang Tahun 2014
No Sumber Nasehat
Jumlah
N
Persen ( % )
1
2
3

3.

Orang Tua
Mertua
Tetangga

29
34
20

54
54
54

53,70
62,96
37,30

Budaya Berpantang Makan Ibu Hamil Di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli
Serdang Tahun 2014
Tabel 5. Distribusi Berpantang Makan Ibu Hamil Di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
Tahun 2014
No Budaya Berpantang Makan
Jumlah (f)
N
Persen (%)
1
2
3
4
5
6
7
8
9

74

Makan Ketan
Makan Kerak Nasi
Makan Cabai Rawit
Makan Ikan di Usia > 7
Bulan
Makan Tape
Makan Durian
Makan Nenas
Makan Jantung Pisang
Makan Banyak Di Usia >7
Bulan

13
16
16
21

54
54
54
54

24,07
29,62
29,62
38,88

14
11
11
17
12

54
54
54
54
54

25,92
20,37
20,37
31,48
22,22

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

Tabel 6. Distribusi Berpantang Perilaku Ibu Hamil Di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
Tahun 2014
No
Jumlah
N
%
Budaya Berpantang Perilaku
1
Tidak boleh Melilitkan handuk dileher
23
54
42,59
2
Tidak boleh gerai rambut selama
17
54
31,48
3
hamil
4
Tidak boleh duduk di akar
15
54
27,77
5
Tidak boleh mandi di atas jam 5 sore
12
54
22,22
6
Tidak boleh makan di baskom
6
54
11,11
7
Tidak keramas sore hari
4
54
7,40
8
Tidak boleh keluar rumah malam hari
26
54
48,14

Tabel 7. Distribusi Nasehat Perilaku Ibu Hamil Di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Tahun
2014
No
Budaya Berpantang Perilaku
Jumlah (f)
N
Persen (%)
1
2
3
4
5
6
7

Sering berjalan pagi


Pakai paku saat keluar rumah
Memakai gunting di pakaian ibu
Minum minyak sayur waktu hamil tua
Minum air kelapa
Mandi sebelum jam 5 sore
Tidak boleh tidur di lantai

7
26
17
25
14
9
10

54
54
54
54
54
54
54

12,96
48,14
31,48
46,29
25,92
16,66
18,51

Tabel 8. Distribusi Upacara Adat Ibu Hamil Di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Tahun
2014
No
Upacara Hamil
Jumlah (f)
N
Persen (%)
1 Upacara hamil usia 4 bulan
20
54
37,03
2 Upacara hamil usia 7 bulan
27
54
50
3 Upacara kehamilan ganjil
23
54
42,59
Pengetahuan Ibu Hamil Tentang kehamilan Di Desa Percut kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
Tahun 2014.
Tabel 9. Distribusi Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kehamilan di Desa Percut Kecamatn Percut Sei Tuan Kabupaten Deli
Serdang Tahun 2014
No
Pengetahuan
Jumlah (f)
Persen (%)
1
Baik
4
7,41
2
Cukup
13
24,08
3
Kurang
37
68,51
Total
54
100
Pembahasan
1.

Interaksi Sosial Ibu Hamil


Dari hasil penelitian tentang interaksi sosial ibu hamil
mayoritas ibu hamil memiliki interaksi sosial dengan
suami dan tetangga (100%), sementara itu interaksi dengan
orang tua (27,77 %) dengan mertua (12,96%) dengan
bidan (11,11%) dengan sesama ibu hamil (9,25%).
Menurut Ana (2010) dukungan suami dalam kehamilan
sangat penting dengan memberikan perwujudan dalam hal
perhatian, dalam hal mendampingi ,merawat,menemani
dan menjadi pihak yang membantu ibu dalam membuat
keputusan bersama dan disebutkan juga bahwa dalam
kehamilan di butuhkan orang lain seperti keluarga terdekat
ataupun pihak lainnya yang sekiranya untuk turut
membantu.
Hal ini sejalan dalam penelitian Fauziah tentang

mitos kehamilan di Kecamatan Meurebo Kabupaten Aceh


Barat Nanggroe Aceh Darussalam yang mengatakan
bahwa interaksi sosial perempuan hamil sangat di perlukan
dalam kesehariannya,baik berupa dukungan dukungan
psikologis,perhatian,kasih sayang,pengorbanan dan empati
terutama dari pihak suami dan pihak keluarga keluarga
terdekat pada perempuan hamil tersebut.Hal ini di tinjau
dari segi psikologis, karena jika perempuan hamil akan
mengalami perubahan kondisi fisik dan emosional yang
cukup kompleks yang di sebabkan adanya perubahan
hormon dan proses adaptasi terhadap penyesuaian pola
hidup dengan proses kehamilan yang terjadi sehingga
memerlukan dukungan dan perhatian orang orang
terdekatnya yaitu seperti dengan pihak suami dan pihak
keluarga terdekat.
Menurut Wahit (2012) Interaksi sosial
berlandaskan antara kelompok manusia dengan antara
75

Rina Doriana Pasaribu. dkk.

kelompok sebagai kesatuan dan yang sifatnya tidak


menyangkut pribadi. Interaksi sosial antara kelompok
kelompok manusia dapat terjadi di keluarga dan di
masyarakat yang di dasarkan pada berbagai faktor yaitu
adanya faktor imitasi,faktor sugesti,faktor identifikasi dan
faktor simpati.
Saat ada keluhan tentang kehamilannya, ibu-ibu
hamil berdasarkan hasil penelitian hanya 7 orang (12,96%)
yang berinteraksi dengan bidan. Ibu hamil malah lebih
seang berinteraksi atau meminta nasehat dari orang tua
ataupun mertuanya, padahal sumber informasi yang lebih
baik di dapat dari Bidan (petugas Kesehatan). Kebiasaan
berinteraksi dengan tetangga juga kemungkinan penyebab
semakin berkembangnya mitos-mitos ataupun budaya
yang tidak sesuai dengan kesehatan ibu hamil diyakini oleh
ibu hamil itu sendiri. Rendahnya kunjungan antenatal
(59,25) yaitu persentase ibu hamil yang tidak pernah
melakukan ANC kemungkinan juga dipengaruhi sistem
interaksi di masyarakat yang menyakini informasi ataupun
budaya yang dianut oleh teman/tetangga.
Dari hasil penelitian tentang orang terdekat ibu di
ketahui bahwa dari 54 mayoritas ibu hamil memiliki
interaksi terdekat dengan suami yaitu dengan persentase
100 %,dan selain itu terdekat ibu hamil lainnya dengan
orang tua 22,22% dengan mertua dan bidan 5,55 %. Dalam
penelitian Shrimartini tahun 2011 tentang Perawatan
Kehamilan dalam Prespektif Budaya Madura di Desa
Tambak dan Desa Rapalaok Kecamatan Omben
Kabupaten Sampang di katakan bahwa ibu hamil di Desa
Tambak dan Desa Rapaloak saat hamil memiliki hubungan
terdekat dengan pihak keluarga (suami,orang tua
,mertua,bibi ataupun saudara) ,tetangga.bahkan dalam
mempersepsikan tindakan yang akan di ambil dalam
memutuskan sesuatu hal seperti terkait dalam pemeriksaan
kehamilan,ibu hamil menyatakan akan berembuk atau
berdiskusi dulu dengan orang-orang terdekatnya. Selain itu
dalam penelitian Chriswardani tahun 2007 tentang Faktor
Sosial
Budaya
dalam
Praktik
Perawatan
Kehamilan,Persalinan dan Pasca Persalinan di Kecamatan
Bangsri Kabupaten Jepara menyatakan bahwa dalam
kehamilan di masyarakat jawa faktor kekerabatan(
suami,orang tua,nenek) menjadi orang terdekat ibu hamil
yang memegang peranan penting dalam tindakan
tindakan si ibu yang berkaitan dengan kehamilan sampai
pasca persalinan baik dalam memberika nasehat maupun
dalam mengambil keputusan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sumber
nasehat pantangan/anjuran ibu hamil 62,96% bersumber
lainnya dari orang tua 53,70 % dan bersumber dari
tetangga 37,30 %. Dalam teori wahit (2012) ada
mengungkapkan
bahwa
dalam
aspek
seorang
individu,keluarga,masyarakat dan kebubudayaan adalah
aspek yang tidak dapat di pisahkan,lingkungan sosial
merupakan lingkungan yang pertama kali dijumpai dalam
hidup
keluarga,dan
dalam
keluarga
individu
mengembangkan kapasitas pribadinya yang salah satunya
mengenai
kebudayaan,dan
individu
akan
mengejawantahkan apa yang sudah di pelajari dan di
sampaikan keluarganya begitu halnya dengan keadaan
dalam masa kehamilan kebudayaan saat hamil yang

76

Sosial, Budaya Serta...

bersumber oleh pihak keluarga akan teraplikasi di


masyarakat.
Dalam penelitian Fauziah tentang Mitos Kehamilan
mengungkapkan bahwa pantangan dan anjuran yang di
peruntukkan ibu hamil banyak di sampaikan oleh orang tua
,mertua,tetangga ataupun kerabat bahkan ada ketakutan
dari perempuan hamil jika tidak mempercayai pantangan
dan anjuran yang telah di sampaikan.Dan dalam penelitian
menyebutkan bahwa pesan pesan selama hamil banyak
di sampaikan oleh orang tua ataupun keluarga yang wajib
dilaksanakan,seperti halnya pantangan-pantangan ataupun
anjuran saat hamil,jika pantangan maupun anjuran tersebut
tidak dilakukan masyarakat meyakini bahwa akan
mendapat balsan yang buruk.
2.

Budaya Berpantang Makan dan Berperilaku


Saat Hamil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas
ibu hamil berpantang makan ikan di usia > 7 bulan 38,88
%,di ikuti dengan pantangan lainnya seperti berpantang
makan jantung pisang 31,48 %,berpantang makan kerak
nasi dan cabai rawit 29,62 %,makan tape 25,92 %,makan
ketan 24,07 %,makan banyak di usia kehamilan tua 22,22
% dan berpantang makan durian dan nenas 20,37 %. Dari
wawancara dengan ibu hamil, mereka menyatakan bahwa
berpantang makan ikan di usia > 7 bulan dikhawatirkan
jika bersalin atau nifas nanti darah yang keluar akan berbau
amis,sementara dalam teori bahwa bau amis pada masa
nifas itu di akibatkan dari masa transisi perubahan lochea
yang terjadi karena adanya perubahan pada bagian desidua
di rahim.dan alam teori Almatsier (2009) mengenai konsep
dasar ilmu gizi mengungkapkan bahwa jika dilakukan
pembatasan mengenai konsumsi ikan saat kehamilan yang
merupakan sumber protein dapat mengakibatkan terjadi
masalah pada pembentukan dan perkembangan janin saat
kehamilan,sebenarnya kandungan protein itu dalam ikan
memiliki kandungan nilai protein 16,0 dan ikan juga
disebutkan memiliki sumber protein hewani yang
mempunyai susunan asam amino yang paling sesuai
dengan kebutuhan manusia.
Mengenai berpantang makanan durian dan tape
ibu hamil mengatakan dapat membahayakan kehamilan
dan hal ini sejalan dalam teori Rafi (2009) mengungkapkan
durian dan tape memiliki kandungan alkohol yang
menghasilkan panas tubuh sehingga berpotensi
menimbulkan bahaya pada janin diantaranya dapat
menyebabkan perdarahan atau keguguran.sementara untuk
pantangan makan nanas yang di katakan dapat
menyebabkan keguguran tidak sesuai dengan teori Rafi
(2009) yang menyebutkan bahwa sebaiknya selama hamil
sebenarnya bukan tidak boleh mengkonsumsi nanas tapi
harus ada pembatasan konsumsi nanas yang dalam nanas
itu mengandung asam yang berlebihan sehingga dapat
memacu peningkatan kadar asam lambung.
Dalam penelitian lainnya Fauziah tentang mitos
kehamilan ada mengungkapkan pantangan makanan bagi
ibu hamil meliputi larangan makan makanan tajam seperti
nenas ,di khawatirkan mengalami keguguran.tidak boleh
meminum es bagi ibu hamil agar bayinya tidak besar
,larangan makan nasi kerak di khawatirkan akan

Jurnal Ilmiah PANNMED

berdampak tidak keluarnya plasenta atau ari ari.


Selain pantangan terhadap makanan tertentu ada
juga pantangan terhadap jumlah porsi makanan yang di
konsumsi dalam penelitian Afiyah tahun 2008 di salah satu
daerah di Jawa Barat ibu yang kehamilannya memasuki
usia 8-9 bulan harus mengurangi makan agar bayi yang di
kandung mudah di lahirkan.Hal yang sama juga di
ungkapkan Nurpuji Utami tahun 2003 dalam penelitian
Mulyaningrumdi di Sulawesi Selatan menemukan ada
kepercyaan tentang makanan yang berlebih di usia hamil
tua dapat menyebabkan anak menjadi lebih besar dan dapat
memperlambat persalinan sehingga ibu hamil harus
membatasi makanannya untuk menghindari kesulitan
proses persalinan.
Dalam Wahit (2012) mengungkapkan bahwa
pembatasan asupan gizi pada kehamilan memiliki dampak
yang begitu besar,di masyarakat pembatasan mengenai gizi
disebabkan adanya kepercayaan pantangan terhadap
beberapa makanan yang sebenarnya sangat dibutuhkan
wanita hamil. Hal ini juga menjadi salah satu faktor
predisposisi terjadinya kasus anemia dan kasus kurang gizi
pada ibu hamil terutama di pedesaan.
Hasil penelitian juga menunjukkan ibu hamil
yang berpantang perilaku seperti ibu hamil dilarang keluar
rumah pada malam hari 48,14 %,sementara ada juga itu
berpantang perilaku melilitkan handuk di leher 42,59
%,gerai rambut selama hamil 31,48 %,duduk di akar 27,77
%,mandi di atas jam 5 sore 22,22 %,duduk di dapan pintu
18,51 %,membunuh binatang 12,96 % dan makan dari
baskom 11,11 % serta keramas di sore hari 7,40 %. Ibu
hamil juga menyakini larangan melilitkan handuk di leher
karena dapat menyebabkan lilitan tali pusat,pada hal dalam
teori Rafi (2009) menjelaskan bahwa penyebab terjadinya
lilitan tali pusat sebenarnya bukan karena melilitkan
handuk di leher tetapi penyebab terjadi lilitan tali pusat
diduga disebabkan oleh aktivitas yang berlebih sehingga
mengakibatkan hiperaktivitas gerakan bayi.
Begitu juga dengan pantangan perilaku mengenai
pantang duduk di depan pintu karena dapat mempersulit
persalinan hal ini tidak sesuai dengan Mochtar (2010) dan
Rafi (2009) yang mengungkapkan bahwa mudah atau
sulitnya persalinan ditentukan dari beberapa hal yaitu
sebagai berikut: dari segi power,passage,passanger,psikis
dan penolong serta keterampilan dalam proses persalinan
bukan karena duduk di depan pintu bisa mempersulit
persalinan.
Mayoritas ibu hamil mengikuti nasehat berperilaku
pakai paku selama hamil saat keluar rumah 48,14 % selain
itu ada juga nasehat untuk minum minyak sayur waktu
hamil tua 46,29 %,memakai gunting di pakaian ibu 31,48
% ,minum air kelapa 25,94 %,tidak boleh tidur di lantai
18,51 %,dan nasehat untuk serimg berjalan pagi sebanyak
12,96 % ,mandi sebelum jam 5 sore 16,66 %.
Dilihat dari penelitian Fauzia tentang Mitos
kehamilan mengungkapkan dari narasumber ibu
hamil/yang pernah hamil memberikan jawaban mengenai
anjuran yang harus di lakukan meliputi anjuran perbanyak
jalan di pagi hari,menyapu mengepel dan di usia
kandungan 7 bulan di anjurkan untuk melakukan hubungan
seksual sesering mungkun untuk memudahkan proses

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

persalinan nanti.Fauzia juga mengungkapkan ada anjuran


untuk memakai penangkal (seunangkai) di pinggang
seperti tali atau gunting di pakaian yang di yakini sebagai
penangkalmakhluk halus yang ingin menganggu.dan
anjuran lain yakni bila hendak berpergian harus
menyelipkan paku kecil di dalam rambut agar tidak di
ganggu mahkluk halu. Menurut Supardan tahun 2008 suatu
tradisi yang ada di masyarakat akan merujuk kepada pola
perilaku atau kepercayaan yang telah menjadi bagian dari
suatu budaya yang telah lama di kenal kepercayaan secara
turun menurun yang secara sosial diwariskan dari atu
generasi ke generasi berikutnya.
3. Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kehamilan
Pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan pada
umumnya masih kurang (68,51%) dan yang
berpengetahuan baik hanya 4 orang (7,41%). Pengetahuan
ibu hamil yang kurang inilah kemungkinan masih
dipercayainya berbagai hal yang menyangkut tentang
larangan/pantangan makanan ataupun melakukan suatu
tindakan/ aktivitas (pantangan perilaku).
Fauzia dalam penelitiannya tentang mitos
kehamilan mengungkapkan bahwa pengetahuan bersumber
dari dua bagian yaitu pertama dari kesehatan modern yang
berupa konsultasi atau anjuran dari dokter dan bidan.
Sedangkan penge tahuan tradisional berupa kepercayaan
terhadap berbagai pantangan dan anjuran selama
kehamilan. Hal ini dipengaruhi oleh semakin
berkembangnya pengetahuan dan informasi dari
masyarakat yang semakin hari semakin modern. Meskipun
demikian, pengetahuan tradisional tidak sepenuhnya
ditinggalkan masyarakat dengan alasan terjalin hubungan
yang erat dalam komunitas sosial sehingga kebiasaan yang
melingkupi
tempat
tinggal
masyarakat
akan
mempengaruhu sikap dan perilakunya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Interaksi Berdasarkan hasil penelitian di tinjau dari
segi sosial ibu hamil pada umumnya ibu hamil
berinteraksi
dengan
suami
dan
tetangga
(100%),dengan orang tua (27,77%),dengan mertua
(12,96%),dengan bidan (11,11%)dan sesama ibu
hamil (9,25%).Interaksi Ibu hamil saat ada keluhan
memiliki persentase dengan suami(100%),orang
tua(18,51%),mertua dan tetangga (9,25%) dan bidan
(12,96%),interaksi terdekat ibu hamil dengan
suami(100%),orang tua (22,22%),dengan mertua dan
bidan (5,55%).Untuk sumber nasehat saat hamil
bersumber dari mertua (62,96%),orag tua ( 53,70%)
dan tetangga (37,03%).
2. Dlihat dari segi budaya bahwa pada umumnya ibu
hamil masih memiliki kepercayaan tentang
berpantang makan, perilaku, mengikuti nasehat
pantangan ataupun anjuran saat hamil dan masih
melaksanakan upacara kehamilan.
3. Berdasarkan pengetahuan ibu hamil, ibu hamil
berpengetahuan baik sebanyak 4 orang (7,41%), ibu
hamil berpengetahuan cukup 13 (24,08%) dan ibu

77

Rina Doriana Pasaribu. dkk.

hamil berpengetahuan kurang 37 (68,51%).


Saran
1. Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk melihat faktor
yang mempengaruhi sosial budaya tentang kehamilan
dimasyarakat.
2. Dalam penelitian ini data/kuesioner hanya diperoleh
dari ibu hamil. Data dari lingkungan sekitar ibu
seperti suami, mertua ataupun orang tua perlu dikaji
lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier S, 2009, Konsep Dasar Ilmu Gizi, PT Gramedia
Utama, Jakarta
Ana,S.2010,Trimester
Pertama
Kehamilan
Anda,Bukubiru, Yogyakarta
Dinas Kesehatan Kota Binjai, 2012, Buku Kesehatan Ibu
dan Anak. Departemen Kesehatan RI , Jakarta.
Eva dkk, 2010 , Kesehatan Reproduksi Wanita ,Trans Info
Media, Jakarta.
Fauziah,2008, Mitos - mitos Tentang Kehamilan,Jurnal
Kesehatan
Indonesia,2729072009_20.pdf(SECURED), di
akses tanggal 5 Mei 2014
Hesty dkk, Konsep Perawatan Kehamilan Etnis Bugis
Pada Ibu Hamil Di Desa Buareng Kecamatan
Kajuara Kabupaten Bone, 2013, jurnal penelitian
, di akses tanggal 20 januari 2014
Wahit dkk, 2012 , Ilmu Sosial Budaya Dasar kebidanan ,
EGC ,Jakarta.
Notoadmojo, S, 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan,
Rieneke Puspita,Jakarta
Maryunani,A dkk ,2012,Asuhan Kegawatdaruratan
Dalam Kebidanan,Trans Info Media,Jakarta
Profil Kesehatan Indonesia, 2011, Cakupan Kunjungan Ibu
Hamil K1, K4 Sumatera Utara ,Kementerian
Kesehatan RI Tahun 2012, Jakarta.

78

Sosial, Budaya Serta...

Rahim Muarifah dkk,Gambaran Perilaku Ibu Hamil


Terhadap Pantangan Makan Suku Toraja Di
Kota Makassar, 2013, Jurnal penelitian,
repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/.../jurnal.p
df di akses tanggal 15.januari 2014
Rafael, 2007, Manusia dan kebudayaan Dalam Perspektif
Ilmu Budaya Dasar,Rineka Cipta,Jakarta
Rafie, 2009, Menjawab Mitos Mitos Kehamilan Dan
Menyusui , Media Pressindo,Yogyakarta
Ronald, 2010,Pedoman dan Perawatan kehamilan Yang
Sehat dan Menyenangkan, Nuansa Aulia,
Bandung
Suryawati,C ,2007,Faktor Sosial Budaya dalam Praktik
Perawatan Kehamilan,Persalinan dan Pasca
Persalinan(Studi di Kecamatan Bangsari
Jepara), Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia
Vol 2 Mei 2014.
Shrimarti,R,2011,Perawatan Kehamilan dalam Perspektif
Budaya Madura di Desa Tambak dan Desa
Rapalaok Kecamatan Omben Kabupaten
Sampang ,di akses tanggal 2 mei 2014
Tari Romana, 2012, Mengenal Tradisi Nusantara Seputar
Kehamilan,
http://health.kompas.com/read/2012/09/10/151455
33/Mengenal.Tradisi.
N
usantara.Seputar.Kehamilan) di akses tanggal 15
januari 2014
Wahyuna,F,2013 ,Gambaran Sosial Budaya Dengan Pola
Makan Ibu Hamil Di Kemukiman Jangka Buya
Kecamatan Jangka Buya Kabupaten Pidie Jaya
Tahun
2013.Jurnal
Karya
Tulis
ilmiah.Fitri_Wahyuna-Jurnal .pdf.di akses tanggal
26 Maret 2014.
Wahit dkk, 2012 , Ilmu Sosial Budaya Dasar kebidanan,
EGC, Jakarta.

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

STATUS GIZI BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA


DI PUSKESMAS TANAH TINGGI BINJAI TAHUN 2013

Yulina Dwi Hastuty, Dewi Meliasari, Suswati


Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Medan

Abstrak
ISPA adalah penyakit saluran pernafasan yang bersifat akut dengan berbagai macam gejala (sindrom) yang
disebabkan oleh berbagai sebab, yang terutama mengenai struktur saluran pernapasan diatas laring. Menurut
WHO tahun 2012, sebesar 78% balita yang berkunjung ke pelayanan kesehatan adalah akibat ISPA,
khususnya pneumonia. Kematian balita akibat ISPA di Asia Tenggara sebanyak 2.1 juta balita pada tahun
2004. India, Bangladesh, Indonesia, dan Myanmar merupakan negara dengan kasus kematian balita akibat
ISPA terbanyak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan dengan tingkat
kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai tahun 2013. Penelitian ini adalah penelitian
analitik dengan rancangan cross sectional. Dengan menggunakan data sekunder dan primer yang diperoleh
melalui catatan rekam medik dan mengukur berat badan balita, yang dilakukan terhadap 53 responden.
Teknik pengambian sampel yang digunakan adalah accidental sampling. Data dianalisis menggunakan uji
Chi-square. Dari 35 orang balita dengan status gizi tidak baik, mayoritas kejadian ISPA pada balita dengan
kategori berat yaitu 23 orang (65,7%) dan minoritas dengan ISPA ringan yaitu 2 orang (5,7%). Dari 18 orang
balita dengan status gizi baik, mayoritas dengan ISPA ringan yaitu 11 orang (61,1%) dan minoritas dengan
ISPA berat yaitu 2 orang (11,1%). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa p value = 0,000 < 0,05, artinya
terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi balita dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas
Tanah Tinggi Binjai.
Kata kunci : Status Gizi, ISPA, Balita
Pendahuluan
Salah satu target dalam pembangunan milenium
atau Millenium Develomment Goals (MDGs) tujuan yang
ke 4 yaitu menurunkan angka kematian balita. Target yang
ingin dicapai adalah menurunkan angka kematian balita
2/3 dari tahun 1990-2015, sehingga angka kematian bayi
menjadi 17/1000 kelahiran hidup dan balita 23/1000
kelahiran hidup pada tahun 2015 (MDGS,2010).
Penyebab kematian balita umumnya disebabkan
seperti penyakit Diare 25,2%, Pneumonia 15,5%,
Enterokolitis 10,7%, Meningitis 8,8%, DBD 6,8%,
Campak 5,8%, Tenggelam 4,9%, TB 3,9%, Malaria 2,9%,
Leukimia 2,9% (Riskesdas,2007).
Menurut WHO tahun 2012, sebesar 78% balita
yang berkunjung ke pelayanan kesehatan adalah akibat
ISPA, khususnya pneumonia. ISPA lebih banyak terjadi di
negara berkembang dibandingkan negara maju dengan
persentase masing-masing sebesar 25%-30% dan 10%15%. Kematian balita akibat ISPA di Asia Tenggara
sebanyak 2.1 juta balita pada tahun 2004. India,
Bangladesh, Indonesia, dan Myanmar merupakan negara
dengan kasus kematian balita akibat ISPA terbanyak
(Usman, 2012).
Kasus pneumonia di negara Amerika, terutama
pada bayi menempati urutan ke 6 dari semua penyebab
kematian dan peringkat pertama dari seluruh penyakit
infeksi. Di Spanyol angka kematian akibat pneumonia

mencapai 25% atau 25-30 per 100.000 penduduk


(Permatasari,2008).
Insiden ISPA dilaporkan sebanyak 3,6 - 6,0% di
Nikaragua, setelah terjadinya letusan gunung berapi
kejadian ISPA meningkat sebanyak 2,0 - 3,6% pada bayi
<12 bulan, 2,6 - 6,1% antara anak 12 bulan -59 bulan, 6,0 7,4% antara anak-anak 5-14 tahun, 5,2 - 10,0% antara
orang-orang 15-49 tahun, dan 7,7 - 10,0% antara orangorang 50 tahun (WHO,2010).
Kasus ISPA di Indonesia selalu menempati
urutan pertama penyebab kematian bayi sebanyak 32,1%
kematian bayi pada tahun 2009, serta penyebab kematian
pada balita 38,8% tahun 2011. ISPA juga sering berada
pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit.
Berdasarkan data dari pemberantasan penyakit (P2)
program ISPA tahun 2009 cakupan penderita ISPA
melampaui target, target yang ditetapkan hanya 16.534
kasus tetapi hasil yang di dapat sebanyak 18.749 (13,4%).
Survey mortalitas yang dilakukan di subdit ISPA tahun
2010 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab
kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase
22,30% dari seluruh kematian balita (Depkes RI,2012).
Anak dengan gejala ISPA yang dibawa ke
petugas kesehatan, sekitar 82,6% pada usia < 6 bulan,
88,8% pada usia 6 11 bulan, 79,1% pada usia 12-23
bulan, 69,2% pada usia 24-35 bulan, 75,3% pada usia 36
47 bulan, dan 67,0% pada usia 48-90 tahun (SDKI,2012) .

79

Jurnal Ilmiah PANNMED

Kejadian ISPA pada balita di Sumatera Utara


pada tahun 2008 yaitu 29,124 kasus. Pada tahun 2009
provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi urutan ke
empat terbanyak kasus pneumonia pada balita (21,56%),
setelah provinsi Nusa Tenggara Barat (71,45%), Jawa
Barat ( 46,16%) dan kepulauan Banka Belitung (41,41%)
(Safei,dkk, 2008).
Tingginya angka kejadian ISPA pada balita
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
keadaan gizi yang buruk pada bayi dan balita. Balita
dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA
dibandingkan balita dengan gizi normal, hal ini disebabkan
tentang penurunan daya tahan tubuh. Penyakit infeksi
sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu
makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan
gizi kurang, balita akan lebih mudah terserang ISPA berat
bahkan serangan lebih lama (Nuryanto,2009).
Menurut hasil penelitian Nuryanto pada tahun 2010
di wilayah kerja Puskesma Sosial Palembang. Peneliti
mengatakan faktor yang berhubungan dengan penyakit
ISPA pada bayi adalah status gizi balita, status imunisasi,
kepadatan tempat tinggal, keadaan ventilasi rumah, status
merokok orang tua, tingkat pendidikan orang tua, tingkat
pengetahuan ibu dan sosial ekonomi.
Untuk puskesmas Tanah Tinggi Binjai kasus ISPA
cukup banyak dijumpai, rentang waktu antara SeptemberNovember 2013 dijumpai sebanyak 110 kasus.
Berdasarkan
data tersebut maka
penulis tertarik
melakukan penelitian tentang hubungan status gizi dengan
tingkat kejadian ISPA pada bayi dan balita di puskesmas
Tanah Tinggi Binjai tahun 2013.
Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini adalah
Adakah Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian ISPA
Pada Balita Di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara status gizi dengan dengan tingkat
kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Tanah Tinggi
Binjai tahun 2013
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan
cross sectional . Penelitian ini mempelajari dinamika
korelasi antara faktor-faktor resiko dan efek dengan cara
pendekatan, observasi dimana setiap subjek penelitian
diobservasi hanya satu kali saja dan pengukuran dilakukan
terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat
pemeriksaan.
Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Tanah
Tinggi Binjai pada bulan September-Desember 2013.
Populasi Dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah balita yang
terdaftar terkena ISPA di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai

80

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

periode bulan September -Nopember 2013 yaitu


sebanyak 110 orang. Sedangkan besar sampel penelitian
ini ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin
(Nursalam,2003) dan didapat sampel sebanyak 53 balita
dengan Tehnik pengambilan sampel secara accidental
sampling yaitu dengan mengambil responden balita yang
datang
berobat dan terdiagnosa terkena ISPA di
Puskesmas Tanah TinggI Binjai.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara
mengambil data sekunder dan primer. Data sekunder
diperoleh dari catatan rekam medik pasien yang terdaftar
terkena ISPA dan data primer diperoleh peneliti dengan
mengukur berat badan balita yang datang ke Puskesmas
Tanah Tinggi Binjai dengan penyakit ISPA dan
dimasukkan ke dummy tabel.
Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh diedit dan ditabulasi untuk
selanjutnya dianalisis secara univariat dan bivariat.
Pengujian data dilakukan dengan menggunakan uji statistik
Chi Square dengan nilai kemaknaan ( = 0,05).
Hasil Penelitian
Analisa Univariat
Berdasarkan hasil yang diperoleh distribusi
karakteristik balita yang meliputi umur, jenis kelamin,
status gizi dan kejadian ISPA dapat dilihat pada tabel
berikut ini :
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Balita Di Puskesmas
Tanah Tinggi Binjai Tahun 2013
Karakteristik Balita
Frekuensi (F) Persentase (%)
Umur
8
15,1
1 tahun
21
39,6
2 tahun
18
34,0
3 tahun
6
11,3
4 tahun
53
100,0
Jumlah
Jenis Kelamin
25
47,2
Perempuan
28
52,8
Laki-laki
53
100,0
Jumlah
Status Gizi
35
66,0
Tidak Baik
18
34,0
Baik
53
100,0
Jumlah
Kejadian Ispa
25
47,2
Berat
15
28,3
Sedang
13
24,5
Ringan
53
100,0
Jumlah
Analisa Bivariat
Hubungan status gizi dengan tingkat kejadian
ISPA pada balita dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Yulina Dwi Hastuty. dkk.

Tabel 2. Distribusi Hubungan Status Gizi dengan


Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas
Tanah Tinggi Binjai Tahun 2013
Kejadian ISPA Pada Balita
Total
Status ISPA
P
ISPA
ISPA
Gizi
value
Berat Sedang Ringan
f % f % f % F %
Tidak 23 65,7 10 28,6 2 5,7 35 100
Baik
0,000
2
11,1
5
27,8
11
61,1
18
100
Baik
Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa p value
= 0,000 < 0,05, artinya terdapat hubungan yang signifikan
antara status gizi balita dengan kejadian ISPA pada balita
di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai Tahun 2013.
Pembahasan
Status Gizi Balita di Puskesmas Tanah Tinggi
Binjai Tahun 2013
Status gizi merupakan faktor yang dapat
mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung
pada anak. Berdasarkan hasil penelitian diketahui dengan
status gizi tidak baik yaitu 35 orang (66,0%) dan minoritas
dengan kategori baik yaitu 18 orang (34,0%). Status gizi
yang tidak baik mayoritas disebabkan karena gizi kurang
atau tidak sesuainya umur balita sesuai dengan kondisi
berat badannya.
Gizi tidak baik yaitu gizi buruk dan gizi lebih.
Gizi buruk sederhana akibat KEP (Kurang energi Protein)
menyebabkan kelainan seperti Marasmus, Kwasiokor. Gizi
lebih yaitu obesitas digolongkan sebagai orang yang
mengalami gizi tidak baik. Obesitas adalah kelebihan
kalori dan lemak berlebihan. Gizi buruk adalahkekurangan
nutrisi berupa protein, karbohidrat, dan kalori.
Terdapatnya kasus malnutrisi pada semua
golongan umur balita menunjukkan bahwa malnutrisi pada
anak mungkin tidak dapat diatasi sehingga terus
berlangsung. Hal ini kemungkin disebabkan karena
keadaan sosial ekonomi masyarakat yang kurang baik,
ketidaktahuan masyarakat tentang gizi, dan kurangnya
peran petugas kesehatan dalam usaha perbaikan status gizi
masyarakat. Penanganan gizi buruk sebaiknya tidak hanya
difokuskan di pelayanan kesehatan pemerintah saja, namun
juga harus disebarluaskan di pelayanan kesehatan swasta
karena biasanya tenaga kesehatan yang bekerja di
pelayanan kesehatan swasta tidak melaporkan atau bahkan
menyadari adanya pasien gizi buruk yang berobat ke
tempat mereka. Petugas biasanya hanya terfokus pada
penyakit yang dikeluhkan saja. Dengan penyebarluasan
informasi mengenai gizi buruk di pelayanan kesehatan
swasta akan membuat tenaga medis yang bekerja di tempat
tersebut lebih peduli sehingga dapat membantu mengatasi
masalah gizi buruk di masyarakat. Tenaga kesehatan harus
sering turun ke lapangan untuk memberikan penyuluhan
langsung kepada masyarakat terutama pada kaum ibu
tentang masalah gizi sehingga meningkatkan pengetahuan
dan kesadaran masyarakat akan pentingnya zat gizi untuk
anak-anak mereka.

Status Gizi Berhubungan...

Berdasarkan hasil penelitian umur balita yang


banyak terkena yaitu umur 2 tahun. Hal ini
membuktikan bahwa pada usia 2 tahun daya tahan
tubuh belum terlalu kuat sehingga mudah terkena
ISPA. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
Kartasasmita di Cikutra (1993) bahwa insieden dan
lamanya anak menderita ispa menurun dengan
bertambahnya umur. Dari hasil penelitian juga didapat
lebih banyak jenis kelamin laki-laki yang terkena ISPA.
Ada sebagian sumber mengatakan bahwa ada
kecenderungan anak laki-laki lebih sering terserang
infeksi dari pada anak perempuan, tetapi belum dapat
dijelaskan secara pasti antara faktor genetik atau dalam
pemberian makanan.
Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas Tanah
Tinggi Binjai Tahun 2013
Penyakit infeksi mudah menyerang pada balita
dengan keadaan gizi kurang. Berdasarkan hasil penelitian
diketahui mayoritas kejadian ISPA pada balita dengan
kategori berat yaitu 25 orang (47,2%) dan minoritas balita
dengan ISPA ringan yaitu 13 orang (24,5%).Banyaknya
kejadian ISPA berat yang dialami balita disebabkan karena
adanya gangguan metabolisme tubuh akibat kekurangan
energi dan protein, sehingga menyebabkan daya tahan
tubuh semakin berkurang. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian Putri (2012) bahwa kejadian ISPA pada balita
akan memberikan gambaran klinik yang lebih berat dan
buruk. Hal ini disebabkan karena ISPA pada anak balita
umumnya merupakan kejadian infeksi pertama serta belum
terbentuknya secara optimal proses kekebalan secara
alamiah. Pada orang dewasa sudah banyak terjadi
kekebalan alamiah yang lebih optimal akibat pengalaman
infeksi sebelumnya.
Menurut penelitian Muluki (2003), diketahui
bahwa status gizi merupakan faktor resiko yang sangat
berpengaruh terhadap kejadian ISPA dibandingkan faktor
resiko status imunisasi, status ASI eksklusif dan berat
badan lahir rendah. Balita yang mengalami gizi buruk lebih
mudah terserang penyakit.
Berdasarkan penelitian Susie (2001), infeksi
saluran pernapasan akut merupakan penyakit yang paling
banyak diderita oleh balita yang menderita gizi buruk
dibandingkan penyakit lainnya
Gizi yang buruk akan mempermudah balita
terserang ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan
tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi
paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering
mendapat pneumonia.
Balita yang terkena ISPA memiliki faktor-faktor
resiko antara lain faktor usia dan status gizi. Faktor usia
kejadian ISPA banyak terjadi pada usia
2 tahun
mempunyai resiko mendapat ISPA lebih besar dari pada
anak yang lebih tua, karena pada usia tersebut kekebalan
tubuh anak belum optimal. Balita yang terkena ISPA akan
mengalami penurunan nafsu makan dan mengakibatkan
kekurangan gizi. Pada saat gizi kurang balita lebih mudah
terkena penyakit ISPA berat.
Hubungan Status gizi dengan Kejadian ISPA Pada
Balita di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai Tahun 2013

81

Jurnal Ilmiah PANNMED

Berdasarkan hasil penelitian pada uji bivariat


diketahui dari 35 orang balita dengan status gizi tidak baik,
mayoritas kejadian ISPA pada balita dengan kategori berat
yaitu 23 orang (65,7%) dan minoritas dengan ISPA ringan
yaitu 2 orang (5,7%). Dari 18 orang balita dengan status
gizi baik, mayoritas dengan ISPA ringan yaitu 11 orang
(61,1%) dan minoritas dengan ISPA berat yaitu 2 orang
(11,1%). Maka semakin tinggi status gizi balita yang tidak
baik semakin banyak yang terkena ispa berat.
Pada balita dengan kategori gizi tidak baik tetapi
mengalami ISPA ringan, disebabkan gizi tidak baik pada
balita bukan disebabkan karena gizi kurang, tetapi karena
gizi lebih sehingga ISPA yang terjadi pada balita bukan
hanya disebabkan karena faktor konsumsi energi saja tetapi
karena pengaruh faktor lingkungan rumah dan sekitarnya
yang tidak sehat. Sedangkan balita dengan status gizi baik
tetapi masih ada balita dengan ISPA berat disebabkan
karena adanya anggota keluarga yang terkena pilek,
sehingga tertular pada balita. Hal ini sesuai dengan
pendapat Putri (2012) bahwa apabila dalam satu rumah
anggota keluarga terkena pilek, balita akan lebih mudah
tertular. Dengan kondisi anak yang lemah, proses
penyebaran penyakit menjadi lebih cepat.
Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa p value
sebesar = 0,000 artinya terdapat hubungan yang signifikan
antara status gizi balita dengan kejadian ISPA pada balita
di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai Tahun 2013. Adanya
interaksi sinergistik antara malnutrisi dan infeksi. Infeksi
yang berat dapat memperburuk status gizi melalui
gangguan masukan/konsumsi makanan dan meningkatkan
kehilangan zat-zat essensial tubuh. Sebaliknya malnutrisi
meskipun ringan berpengaruh buruk pada daya tahan tubuh
terhadap infeksi.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Nugroho
(2006) yang menyatakan bahwa salah satu faktor resiko
yang menyebabkan ISPA adalah balita dengan kurang gizi,
balita yang tidak mendapat ASI memadai dan defisiensi
vitamin A. Sebagai faktor yang meningkatkan angka
mortalitas adanya gizi kurang. Hal yang sama juga
dikemukakan dari hasil penelitian Sulistyoningsih dan
Rustandi (2010) bahwa ada hubungan antara gizi buruk
dengan infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi
buruk sering mendapat ISPA. Balita dengan gizi yang
kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan
balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh
yang kurang. Penyakit infeksi akan menyebabkan balita
tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan
kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita lebih
mudah terserang ISPA berat bahkan serangannya lebih
lama.
Keadaan gizi yang tidak baik muncul sebagai
faktor resiko untuk terjadinya ISPA. Beberapa penelitian
telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi
tidak baik dengan infeksi sehingga anak-anak yang bergizi
buruk sering terkena ISPA. Daya tahan tubuh anak yang
kurang gizi menurun sehingga mudah terkena penyakit
infeksi, anak yang menderita infeksi akan mengalami
gangguan nafsu makan dan penyerapan zat gizi sehingga
menyebabkan kurang gizi. Penurunan status gizi yang
terjadi terkait dengan penurunan asupan makanan akibat

82

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

gangguan kesulitan makan. Anak dengan pneumonia berat


dapat mengalami kesulitan makan karena adanya
pernafasan cepat dan sulit bernafas. Jika pemberian suplai
makanan yang dikonsumsi oleh anak balita baik maka
status gizi anak balita itu juga ikut membaik. Namun
menkonsumsi makanan yang baik tidak cukup untuk
membuat status gizi anak balita menjadi baik, tetapi anak
balita itu harus selalu sehat dan tehindar dari penyakit
infeksi (ISPA). Oleh sebab itu penyakit infeksi dapat
mempengaruhi status gizi anak balita dan status gizi juga
dapat menyebabkan timbulnya penyakit
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
penelitian
mengenai
Hubungan Antara Status Gizi Dengan Dengan Tingkat
Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas Tanah Tinggi
Binjai Tahun 2013, maka disimpulkan sebagai berikut :
1. Status gizi balita mayoritas dengan status gizi tidak
baik yaitu 35 orang (66,0%) dan minoritas dengan
status gizi baik yaitu 18 orang (34,0%).
2. Balita mayoritas menderita ISPA berat yaitu 25 orang
(47,2%) dan minoritas menderita ISPA ringan yaitu
13 orang (24,5%).
3. Hasil analisa Chi-square diketahui terdapat hubungan
antara status gizi dengan dengan tingkat kejadian
ISPA pada balita dengan nilai p value sebesar 0,000 <
0,05
Saran
- Diharapkan kepada instansi terkait untuk dapat
meningkatkan pelayanan pada balita terutama
meningkatkan informasi tentang penyakit infeksi
pada balita dan cara hidup sehat, agar dapat
mengurangi resiko balita terkena infeksi seperti
ISPA yang dapat mempengaruhi status gizi balita.
- Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk melihat
factor-faktor lin yang juga memiliki peran
terhadap peningkatan kejadian ISPA pada balita.
DAFTAR PUSTAKA
Agustanti,
2012
Dinkes
Sulawesi
Selatan
http://dinkesSulsel.go.id/new/index.php?option=c
om_content&task=view&id=932&Itemid=1
{accessed 31 maret 2013]
Badan Pusat Statistik : Laporan Pendahuluan Survei
Demografi dan kesehatan Indonesia 2012,
Kementrian kesehatan
Behrman dkk, 2000 Nelson Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta
: Penerbit Buku Kedokteran EGC
DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman
Pemberantasan
Penyakit
InfeksiSaluran
Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 2012
Hartono, R dan Rahmawati D, 2012. ISPA Gangguan
Pernafasan Pada Anak. Yogyakarta: Nuha
Medika
Manurung, S. et al., 2009. Gangguan Sistem Pernafasan
Akibat Infeksi. Jakarta : Trans Info Medica

Yulina Dwi Hastuty. dkk.

Marimbi, H, 2010 Tumbuh Kembang, Status Gizi, dan


Imunisasi Dasar Pada Balita, Nuha Medika,
Yogyakarta
Maryunani,A.2010. ilmu kesehatan anak dalam kebidanan
TIM, Jakarta
MDGs,2010. The Millennium Development Goals Report
http://www.un.org
/millenniumgoals/pdf/MDGReport2010Enr15lowres201006152.pdf [accesed 07-07-2013]
Mukono, H, 2008. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya
Terhadap Gangguan Saluran pernafasan,
Airlangga Universitas Press, Surabaya
Muluki (2003) Analisis faktor risiko yang berhubungan
dengan terjadinya penyakit ISPA di Puskesmas
Palanro Kecamatan Mallusetasi Kabupaten
Barru Tahun 2002-2003. 2003. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan.
Notoatmodjo, S, 2010 Metode Penelitian Kesehatan ,
Rineka Cipta, Jakarta
Nugroho, S. 2006. Hubungan Antara Status Gizi Balita
Dengan Kejadian Ispa Di Desa Wonoboyo
Wilayah Kerja Puskesmas Wonoboyo
Kabupaten Temangun. www.unimus.ac.id
[accesed 23-07-2013]
Nuryanto,A, 2012. Hubungan Status Gizi Terjadap
Terjadinya Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan
Akut
[online]
balitbangnovda.sumselprov.go.id/data/download/
20121227173330.pdf [accesed 31-03-2013]
Nursalam. 2003. Konsep dan penerapan metodologi
penelitian keperawatan.
Jakarta
Putri,2012. Faktor lingkungan yang berhubungan dengan
kejadian ISPA pada balita dan perbedaan kondisi
lingkungan pada balita yang mengalami ISPA
www.eprint.uny.ac.id.
Permatasari,C., 2008. Faktor Resiko Kejadian Gejala ISPA
Ringan Pada Balita Di Rangkapan Jaya Baru
Kota Depok Tahun 2008 [online] Available at <
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126838-S5827-Faktor%20risiko-HA.pdf> [accesed 31-032013]

Status Gizi Berhubungan...

Penerbit IDAI. Jakarta


Riwu, D, 2012, ISPA menduduki peringkat pertama
penyakit terbesar tahun 2011. Times Online,
[online] 29 February t,Available At :
http://www.dinkes-kotakupang.web.id/wartadinkes/175-ispa-duduki-peringkat-pertamapenyakit-terbesar-tahun-2011.html
RISKESDA,2007.
Buletin
Jendela
Epidemiologi
Pneumonia Balita Volume 3, September 2010
http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/bul
etin/BULETINPNEUMONIA.pdf >[accesed 1207-2013]
Safei,dkk, 2008 profil kesehatan propinsi Sumatera Utara
Dinkes SUMUT Medan
Simarmata, D., 2009. Kajian Ketersediaan Pangan Rumah
Tangga, Status Ekonomi Keluarga, Pengetahuan
Gizi Ibu dengan Status Gizi Anak Balita di
Wilayah Kerja Puskesmas Melati Kecamatan
Perbaungan Tahun 2009.Skripsi, Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Soekirman. 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk
Keluarga dan Masyarakat Ditjen Dikti. Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional.
Sulistioningsih dan Rustandi Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Kejadian Ispa Pada Balita
Di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Jamasin
Kabupaten
Tasikmalaya
Tahun
2010.
http://Sulistioningsih 2010_Journal. unsil.ac.id
[accesed 23-07-2013]
Supariasa, I, dkk 2008, Penilaian Status Gizi, Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran ECG
Usman,
Iskandar.
2012.
Penderita
ISPA.
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123
456789/4279/RIBKARERUNGLAYUK(K1110
9326).pdf?sequence=1 (Accesed 12-07- 2013)
Widoyono, 2011 Penyakit Tropis, edisi kedua
Erlangga, Jakarta
WHO. 2010, conflict and health [online] Available at
:http://www.who.int/entity
/diseasecontrolemergencies/publications/Burdeno
facuterespiratoryinfections.pdf

Rahajoe, N. 2008. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi


Pertama. Badan

83

Jurnal Ilmiah PANNMED

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU DENGAN SECTIO CAESAREA


DI RUMAH SAKIT TK IV 01.07.001 KESDAM I/BB PEMATANGSIANTAR

Dodoh Khodijah, Yessika Rouli Siburian, Renny Sinaga


Prodi Kebidanan Kemenkes Pematangsiantar

Abstrak
Latar belakang :Sekalipun terdapat kesan tindakan operasi persalinan makin liberal tetapi bukan tanpa alasan
medis atau indikasi yang tepat. Data yang diperoleh di Rumah Sakit Tk IV 01.07.001 Kesdam I/BB
Pematangsiantar bahwa kejadian Sectio Caesarea meningkat mulai tahun 2011-2012 sebesar 2 %. Tujuan
penelitian ini akan menghubungkan faktor karakteristik ibu dengan Sectio Caesarea di Rumah Sakit Tk IV
01.07.001 Kesdam I/BB Pematangsiantar. Metode penelitian ini bersifat analitik menggunakan data
Sekunder. Populasi penelitian adalah seluruh ibu bersalin di Rumah Sakit Tk IV 01.07.001 Kesdam I/BB
Pematangsiantar tahun 2013 sebanyak 535 orang. Pengambilan sample menggunakan rumus Slovin dengan
sistem Random Sampling berjumlah 230 orang. Kemudian dibuat tabulasi frekuensi dan tabulasi silang
dengan taraf signifikan =0,05. Hasil penelitian tentang hubungan karakteristik Ibu dengan Sectio Caesarea
terdapat hubungan faktor Umur dan Indikasi dengan kejadian persalinan SC. Tingginya angka kejadian SC
perlu dilakukan penyuluhan tentang pentingnya kesehatan reproduksi dalam kehamilan dan deteksi dini
untuk mengatasi terjadinya komplikasi sehingga perlu adanya pemeriksaan kehamilan secara teratur.
Kata kunci : Umur, Paritas, Jarak Kehamilan, Pendidikan, Pekerjaan, indikasi Sectio Caesarea
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kesehatan Ibu dan Anak menjadi target dalam
Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs), tepatnya pada
tujuan 4 dan 5 yaitu menurunkan Angka Kematian Anak
dan Meningkatkan Kesehatan Ibu. Program Kesehatan Ibu
dan Anak (KIA) menjadi sangat penting karena merupakan
unsur penting pembangunan, hal ini mengandung
pengertian bahwa dari seorang Ibu akan dilahirkan caloncalon penerus bangsa yaitu anak, yang dapat memberikan
manfaat bagi bangsa, maka harus diupayakan kondisi ibu
dan anak yang sehat (Prasetyawati, 2012).
Bidan sebagai tenaga terlatih, berperanan penting
dalam mata rantai sistem kesehatan nasional sehingga
masyarakat mendapat pelayanan dan pengayoman medis
lebih menyeluruh dan lebih bermutu. Perkiraan di
Indonesia, jumlah persalinan sebanyak 5.000.000 per
tahun, maka jumlah kematian ibu sebanyak 20.000 sampai
22.000 orang sedangkan angka kematian perinatal 28.000
sampai 30.000 orang setiap tahun. Kematian Ibu dan
perinatal ini tertinggi di negara ASEAN (Manuaba, 2010).
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, angka kematian ibu
mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup. Dalam survei
yang sama lima tahun lalu, angka kematian ibu hanya 228
per 100 ribu kelahiran hidup (Tempo, 2012).
Menurut WHO (World Health Organization),
standar operasi SC di sebuah negara adalah 5-15 persen. Di
Indonesia sendiri, presentase SC sekitar 5 persen. Di rumah
sakit pemerintah rata-rata 11 persen, sementara di Rumah

84

Sakit Swasta rata rata 30 persen, angka ini terus


berkembang (Aini, 2009).
Berbagai survei menemukan bahwa presentasi
persalinan SC pada rumah sakit-rumah sakit dikota besar
seperti Jakarta dan Bali berada jauh diatas angka tersebut.
Secara umum, jumlah persalinan SC di rumah sakit
pemerintah adalah sekitar 30-35 % dari total persalinan
sedangkan di rumah sakit swasta jumlahnya sangat tinggi
yaitu sekitar 30-80% dari total persalinan (Rasyid, 2009).
Sekalipun terdapat kesan tindakan operasi
persalinan makin liberal tetapi bukan tanpa alasan medis
atau indikasi yang tepat . Indikasi pada Ibu, indikasi
profilaksis seperti ibu dengan penyakit jantung, paru,
ginjal, tekanan darah tinggi, atau pre-eklampsi/eklampsi.
Indikasi vital seperti, rupture uteri, kehamilan dengan
perdarahan, panggul sempit, kelainan letak janin,
persalinan lama. Indikasi pada janin seperti gawat janin,
kematian janin dalam kandungan, tali pusat menumbung,
walaupun jarang tetapi fatal adalah komplikasi emboli air
ketuban yang dapat terjadi selama tindakan operasi
(Manuaba, 2010).
Sebuah penelitian menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara umur ibu, paritas dan komplikasi obstetrik
terhadap tindakan SC. Sedangkan faktor resiko terbesar
tindakan SC adalah usia ibu yang terlalu muda atau terlalu
tua. Selain itu, terdapat hubungan antara riwayat SC
terhadap tindakan SC berikutnya (Sinaga, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit
Umum Daerah Dr.Pringadi Medan pada tahun 2012
diketahui jumlah ibu bersalin dengan SC pada tahun 2011
yaitu sekitar 58,1% dan tahun 2012 sekitar 60,1% (Siti,
2013). Survei pendahuluan di Rumah Sakit Tk IV 01.07.01

Jurnal Ilmiah PANNMED

Kesdam l/BB Pematangiantar tahun 2012 ditemukan dari


696 persalinan terdapat 512 orang yang bersalin dengan
SC atau sekitar 73,6%.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik
untuk mengadakan penelitian dengan judul : Hubungan
Karakteristik Ibu dengan Sectio Caesarea di Rumah Sakit
Tk IV 01.07.01 Kesdam l/BB Pematangsiantar .
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : Hubungan
Karakteristik Ibu dengan Sectio Caesarea di Rumah Sakit
TK IV.01.07.01 Kesdam I/BB Pematangsiantar.
Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui prevalen SC di Rumah Sakit
Tk IV.01.07.01 Kesdam I/BB Pematangsiantar.
b. Untuk mengetahui prevalen SC berdasarkan
karakteristik umur, paritas, jarak kehamilan,
pendidikan, pekerjaan, dan faktor indikasi SC di
Rumah Sakit Tk IV.01.07.01 Kesdam I/BB
Pematangsiantar.
c. Untuk mengetahui hubungan karakteristik ibu
dengan Sectio Caesarea di Rumah Sakit Tk
IV.01.07.01 Kesdam I/BB Pematangsiantar.
MANFAAT PENELITIAN
Manfaat Teoritis
Sebagai sarana informasi tentang hubungan
karakteristik ibu dengan Sectio Caesarea, sehingga dapat
dijadikan langkah awal dalam membuat kebijakan
pelayanan kebidanan.
Manfaat Praktis
Sebagai masukan dan informasi bagi petugas
kesehatan terutama para bidan untuk mendeteksi dini
terjadinya komplikasi kehamilan dan persalinan serta
mencegah terjadinya peningkatan persalinan dengan SC.

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

METODOLOGI PENELITIAN
Desain Penelitian
Jenis Penelitian ini adalah penelitian observasional
dengan desain crossectional dengan menggunakan data
sekunder untuk mengetahui hubungan karakteristik ibu
dengan Sectio Caesarea di Rumah Sakit Tk IV
01.07.001 Kesdam I/BB Pematangsiantar.
Populasi
Populasi dalam penelitian ini semua ibu yang bersalin di
Rumah Sakit Tk IV 01.07.001 Kesdam I/BB
Pematangsiantar pada tahun 2013 yaitu sebanyak 535
orang
Sampel
Besar sampel dihitung dengan menggunakan Rumus
Slovin :
N
n=
1 + N(d)2
=

535

1+535(0,05)2
535

1+1,33

= 229,6
= 230

535

1+535(0,0025)
535

2,33

Sampel diambil dengan teknik Random


Sampling. Data penelitian ini menggunakan data sekunder
yang diperoleh dari rekam medik di Rumah Sakit
TK.IV.01.07.01 Kesdam I/BB Pematangsiantar pada tahun
2013 dengan menggunakan lembar checklist.
ANALISA DATA
Analisa data penelitian ini dengan bantuan
software Stata versi 16. Dilakukan analisis univariabel,
analisis bivariabel dengan menggunkan Chi square (X2)
pada tingkat kemaknaan p <0,05 dengan Confidence
Interval (CI) 95 persen.

HASIL PENELITIAN
Analisa Univariabel
Tabel 1. Distribusi Ibu bersalin di Rumah Sakit Tk IV.01.07.001 Kesdam I/BB Pematangsiantar
No
Kategori
F
(%)
1
SC
215
93,5
2
Tidak SC
15
6,5
Jumlah
230
100%
Data : Rekam Medik 2013
Tabel 2. Distribusi ibu bersalin berdasarkan Karakteristik di Rumah Sakit Tk IV.01.07.001 Kesdam I/BB
Pematangsiantar
No
Karakteristik
F
(%)
Umur
1
<20 tahun
13
5,7
2
20-35 tahun
184
80
3
>35 tahun
33
14,3
Jumlah
230
100%
Paritas
85

Dodoh Khodijah. dkk.

1
2
3

Primi gravida
Multi gravida
Grande multi gravida
Jumlah
Jarak Kehamilan
1
<2 tahun
2
2-3 tahun
3
>3 tahun
Jumlah
Pendidikan
1
SD
2
SMP
3
SMA
4
PT
Jumlah
Pekerjaan
1
IRT
2
Petani
3
Wiraswasta
4
PNS
Jumlah
Indikasi
1
CPD
2
Riwayat SC
3
PE
4
Plasenta Previa
5
Solusio Plasenta
6
PTM
7
KPD
8
Gawat Janin
9
Malpresentasi
10
Permintaan SC
Jumlah
Data : Rekam Medik 2013

Hubungan Karakteristik Ibu...

68
140
22
230

29,6
60,9
9,6
100%

78
81
71
230

33,9
35,2
30,9
100 %

24
52
105
49
230

10,4
22,6
45,7
21,3
100%

49
50
102
29
230

21,4
21,7
44,3
12,6
100%

30
39
14
16
11
35
21
13
17
34
230

13,0
17,0
6,1
7,0
4,8
15,2
9,1
5,7
7,4
14,8
100

Tabel 3. Tabel Kontingensi Karakteristik Ibu bersalin dengan Sectio Caesarea di Rumah Sakit Tk
IV.01.07.001 Kesdam I/BB Pematangsiantar
Karakteristik
SC
Total
x2
P
Ya
Tidak
Umur
F
%
F
%
f
%
1
< 20 tahun
10
76,9
3
23,1
13
100
2
20-35 tahun
176
95,7
8
4,3
184
100
3
>35 tahun
29
12,6
4
1,7
33
14,3
8,96
0,01
Paritas
1
Primi gravida
65
95,6
3
4,4
68
100
2
Sekundi gravida
73
94,8
4
5,2
77
100
3
Multi gravida
58
92,0
5
8,0
63
100
2,75
0,43
4
Grandemulti gravida
19
86,3
3
13,7
22
100
Jarak Kehamilan
1
<2 tahun
75
96,1
3
3,9
78
100
2
2-3 tahun
74
91,3
7
8,7
81
100
1,54
0,46
3
>3 tahun
66
93,0
5
7,0
71
100
Pendidikan
1
SD
22
91,6
2
8,4
24
100
2
SMP
50
96,1
2
3,9
52
100
1,94
0,585
3
SMA
99
94,2
6
5,8
105
100
4
PT
44
89,7
5
10,2
49
100
Pekerjaan
1
IRT
46
93,8
3
6,2
49
100

86

Jurnal Ilmiah PANNMED

2
3
4

Petani
Wiraswasta
PNS
Indikasi
1
CPD
2
Riwayat SC
3
PE
4
Plasenta Previa
5
Solusio Plasenta
6
PTM
7
KPD
8
Gawat Janin
9
Malpresentasi
10 Permintaan SC
Jumlah
Data : Rekam Medik 2013

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

45
96
28

90
94,1
96,5

5
6
1

10
5,9
3,5

50
102
29

100
100
100

28
39
10
16
11
32
20
13
12
34
230

93,3
100
71,4
100
100
91,5
95,2
100
70,6
100

2
0
4
0
0
3
1
0
5
0
15

6,6
0
28,6
0
0
8,5
4,8
0
29,4
0

30
39
14
16
0
35
21
13
17
34
230

100
100
100
100
100
100
100
100
100
100

Analisa data :
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa
(95,7%) ibu bersalin berusia 20-35 tahun bersalin dengan
SC. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara
umur dengan kejadian SC dengan nilai P= 0,01.
Berdasarkan Indikasi SC bahwa ibu yang mempunyai
riwayat SC 100% bersalin dengan SC juga. Analisis
menunjukkan ada hubungan riwayat SC dengan kejadian
SC (P= <0,01).
PEMBAHASAN
a. Distribusi ibu terhadap Sectio Caesarea
Data rekam medik persalinan di Rumah Sakit
Tk IV 01.07.001 Kesdam I/BB Pematangsiantar pada
bulan Januari Desember 2013 menunjukkan dari 535
persalinan didapatkan 497 kasus persalinan Sectio
Caesarea (92,9%) dan 38 persalinan normal (7,1%).
Penelitian yang sama diungkapkan oleh Aulia (2011) di
RSUD Dr. Adjidarmo tahun 2010 kasus persalinan
Sectio Caesarea (63,4%). Namun, hasil penelitian ini
tidak sesuai dengan penelitian Sadiman (dalam Silvia
Aulia 2011) dan M Ridwan di RSUD A. Yani Metro
(2008) yang memproleh persalinan Sectio Caesarea
lebih kecil angka kejadiannya (29,7%). Hal ini terjadi
karena Rumah Sakit Tk IV 01.07.001 Kesdam I/BB
Pematangsiantar merupakan salah satu Rumah sakit
rujukan milik pemerintah. Mayoritas semua golongan
ekonomi masyarakat menjadikan Rumah sakit ini
sebagai pusat rujukan dengan alasan selain biaya yang
masih terjangkau juga pelayanannya masih tergolong
baik.
Sebagian besar persalinan yang dibawa ke
Rumah Sakit Tk IV 01.07.001 Kesdam I/BB
Pematangsiantar adalah kasus rujukan dengan
persalinan penyulit dari fasilitas kesehatan lain,
sehingga harus segera mendapat pertolongan, terutama
melalui persalinan Sectio Caesarea. Fakta ini
menguatkan bahwa kasus persalinan di Rumah Sakit ini
hampir keseluruhan dilakukan tindakan SC. Saat ini SC
menjadi trend di masyarakat. Persalinan SC banyak
dilakukan atas permintaan pasien itu sendiri, hal ini
menyebabkan peningkatan angka kejadian persalinan

1,523

230,00

0,677

0,00

SC. Kenyataan tersebut turut menguatkan alasan


mengapa persalinan SC dalam penelitian ini lebih
banyak dari persalinan normal.
b. Distribusi Karakteristik Ibu
1. Umur
Umur mempengaruhi kejadian SC. Pada
penelitian ini mayoritas berusia 20-35 tahun sebanyak
184 ibu (80%). Menurut Saifuddin 2009 (dalam
Trivoni, 2012) dikatakan bahwa usia 20-35 tahun
merupakan usia reproduksi wanita, dimana diusia
tersebut seorang ibu mampu hamil dalam kondisi yang
sehat baik fisik maupun psikologis. Pada ibu hamil usia
ini dianggap ideal untuk menjalani kehamilan dan
proses persalinan. Kemampuan rahim untuk
mempertahankan kehamilan sangat ditentukan oleh
usia ibu. Meningkatnya usia ibu juga membuat kondisi
dan fungsi rahim menurun dan salah satu akibatnya
adalah jaringan rahim yang tidak subur lagi. Jaringan
rongga panggul dan otot-ototnya pun melemah sejalan
dengan bertambahnya usia. Hal ini membuat rongga
panggul tidak mudah lagi menghadapi dan mengatasi
komplikasi berat.
Hal ini senada dengan penelitian Ezra Marisi, 2007
(dalam Aulia, 2011) di RSUD Sidikalang yang
menyatakan (78,7 %) adalah ibu melahirkan dengan umur
20-35 tahun. Komplikasi yang mungkin timbul saat
kehamilan juga dapat mempengaruhi jalannya persalinan
sehingga SC dapat dianggap sebagai cara terbaik untuk
melahirkan janin. Penelitian Nurhasannah 2010 (dalam
Trivonia, 2012) pada tahun 2010 di RSU Bhakti Yudha
Depok didapatkan sebanyak 78% kasus terjadi pada usia
20-35 tahun. Hal ini disebabkan oleh perkembangan
indikasi baik dari indikasi medis yaitu faktor ibu dan janin
maupun indikasi sosial.
Selain itu, hal ini juga dikarenakan jumlah ibu
hamil yang melahirkan di usia >35 dan <20 tahun
memiliki jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan
dengan ibu yang melahirkan di usia kelompok 20-35
tahun.
Sedangkan berdasarkan analisis bivariat dalam
penelitian ini dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan
antara umur ibu dengan kejadian SC. Ibu yang berumur
87

Dodoh Khodijah. dkk.

dibawah 20 tahun atau diatas 35 tahun sangat berisiko


untuk persalinan patologis sebagai indikasi SC. Kehamilan
ibu dengan usia dibawah 20 tahun berpengaruh pada
kematangan fisik dan mental dalam menghadapi
kehamilan dan persalinan. Rahim dan panggul ibu sering
kali belum tumbuh matang mencapai ukuran dewasa.
Selain itu mental ibu juga berpengaruh terhadap pada
ketrampilan ibu dalam merawat diri ibu dan bayinya.
Sehingga pada usia ini ibu cenderung mengalami
persalinan SC walaupun tanpa indikasi dengan
pertimbangan kekhawatiran ibu pada dirinya dalam
menghadapi proses persalinan dan keselamatan janin
dalam kandungannya (Hutabalian, 2011).
2. Paritas
Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas
merupakan Sekundi gravida sebanyak 77 ibu (33,5%)
dan minoritas pada ibu Grandemulti gravida sebanyak
22 ibu (9,6%). Menurut Saifuddin, 2009 (dalam
Trivonia, 2012), paritas yang paling aman adalah multi
gravida. Primi gravida dan Grande multi gravida
mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Hal
ini dipengaruhi oleh kematangan dan penurunan fungsi
organ-organ persalinan.
Secara umum paritas multi
gravida
merupakan paritas paling aman bagi seorang ibu untuk
melahirkan dan masih digolongkan dalam kehamilan
resiko rendah. Meskipun demikian tetap ada faktor
resiko yang menyebabkan kemungkinan resiko atau
bahaya terjadinya komplikasi pada persalinan yang
dapat menyebabkan kematian atau kesakitan pada ibu
dan bayinya. Misalnya pada ibu multi gravida yang
pernah gagal kehamilan, pernah melahirkan dengan
vakum, transfusi darah atau uri dirogoh, serta riwayat
bedah sesar pada persalinan sebelumnya (Trivonia,
dkk, 2011).
Persalinan yang pertama sekali biasanya mempunyai
resiko yang relatif tinggi terhadap ibu dan anak, akan tetapi
resiko ini akan menurun pada paritas kedua dan ketiga, dan
akan meningkat lagi pada paritas keempat dan seterusnya.
Paritas yang paling aman jika ditinjau dari sudut kematian
maternal adalah paritas 2 dan 3 (Prawirohardjo, 2011).
Hasil analisis bivariabel menunjukkan tidak ada hubungan
paritas dengan kejadian SC. Pendapat yang sama
diungkapkan oleh Yuli K, (2006) di Rs Dr. Moewardi
Surakarta.
3. Jarak Kehamilan
Seorang wanita setelah melahirkan membutuhkan
2 sampai 3 tahun untuk memulihkan tubuhnya dan
mempersiapkan dirinya pada persalinan berikutnya dan
memberi kesempatan pada luka untuk sembuh dengan
baik. Jarak persalinan yang pendek akan meningkatkan
resiko terhadap ibu dan anak (Marisi, 2009).
Hasil penelitian ini mayoritas pada persalinan SC
berjarak kehamilan <2 tahun sebanyak 75 ibu (32,6 %)
dari 215 ibu. Pada penelitian ini menunjukkan tidak ada
hubungan jarak kehamilan dengan tindakan persalinan SC.
Hal ini sesuai dengan penelitian Anita V tahun 2007 di
Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar bahwa proporsi

88

Hubungan Karakteristik Ibu...

ibu yang mengalami persalinan dengan SC tertinggi 43,4%


dengan jarak persalinan 0. Dalam penelitian tersebut juga
mengungkapkan tidak ada hubungan antara jarak
kehamilan dengan kejadian persalinan SC,
4. Pendidikan
Hasil penelitian yang dilakukan di di Rumah
Sakit Tk IV 01.07.001 Kesdam I/BB Pematangsiantar pada
bulan Januari Desember 2013 menunjukkan dari 230 ibu
bersalin, mayoritas berada pada jenjang pendidikan SMA
yaitu sebanyak 105 ibu (45,7%) dan minoritas pada jenjang
pendidikan SD sebanyak 24 Ibu (10,4%).
Pendidikan berasal dari kata didik. Menurut
KBBI (2003) didik adalah memberikan pengetahuan, ini
berarti makin tinggi pendidikan seseorang maka makin
tinggi pula pengetahuan yang dimilikinya. Pernyataan ini
sesuai dengan teori dari Notoadmodjo (2003) mengatakan
bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, makan
semakin luas pengetahuan tentang suatu hal dan semakin
luas pula wawasan berfikirnya. Ibu yang memiliki tingkat
pengetahuan tinggi cenderung lebih memperhatikan
kesehatan, dan juga kehamilannya. Ibu juga cenderung
mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait kehamilan
dan persalinan. Namun pada zaman sekarang ini,
kebanyakan justru ibu yang berpendidikan tinggi yang
meminta persalinan dengan SC (Jovany, 2012). Hasil
analisis bivariabel menunjukkan tidak ada hubungan secara
statistik.
5. Pekerjaan
Hasil penelitian ini menemukan mayoritas
responden bekerja sebagai Wiraswasta (44,3%) paling
rendah pada PNS (12,2). SC merupakan jenis
persalinan dimana ibu dapat menentukan tanggal dan
waktu persalinan. Dengan dilakukan SC, ibu yang
bekerja dapat lebih mudah mengatur jadwal kelahiran
yang dapat disesuaikan dengan pekerjaan (Jovany,
2012). Pada penelitian ini terlihat tidak terdapat
hubungan yang signifikan.
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil
penelitian Ginting tahun 2002 di Rumah Sakit Umum
Herna bahwa proporsi ibu yang mengalami persalinan
dengan SC tertinggi 57,7% dengan pekerjaan Ibu Rumah
Tangga. Namun juga bukan berperan penting dalam faktor
penyebab persalinan SC, tetapi karena ada faktor lain yang
cukup kuat untuk dilakukannya tindak persalinan SC
(Trivonia, dkk 2011).
6. Indikasi
Penelitian yang dilakukan di di Rumah Sakit Tk
IV 01.07.001 Kesdam I/BB Pematangsiantar pada bulan
Januari Desember 2013 menunjukkan dari 230 ibu
bersalin, 215 ibu (93,5%) bersalin dengan Sectio Caesarea
dan 15 ibu (6,5%) bersalin dengan Tidak SC (Pervaginam).
Dari 215 ibu yang bersalin dengan SC mayoritas atas
indikasi Riwayat SC sebanyak 39 ibu (17,0%) dan
minoritas atas indikasi PE sebanyak 10 ibu (4,3%).
Sedangkan pada Ibu yang bersalin dengan tidak SC,
mayoritas atas Indikasi Malpresentasi sebanyak 5 ibu
(2,2%).

Jurnal Ilmiah PANNMED

Faktor indikasi dalam penelitian ini yaitu


CPD,Riwayat SC, PE, Plasenta Previa, Solusio Plasenta,
PTM, KPD, Gawat Janin, Malpresentasi, Permintaan SC.
Faktor Permintaan dilakukan karena kemungkinan si ibu
takut pada persalinan normal, dan karena mitos-mitos yang
berkembang dimasyarakat seputar persalinan normal.
Contoh mitos tersebut adalah bahwa persalinan normal
akan merusak vagina, dan bayi yang akan dilahirkan
dengan SC akan lebih pintar karena kepalanya tidak
terjepit jalan lahir (Jovany, 2012).
Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara faktor Indikasi dengan dilakukannya
persalinan SC. Mayoritas oleh indikasi Riwayat SC yaitu
sebanyak 39 ibu (17,0 %) dari 215 ibu yang bersalin
dengan SC (93,5%) dan minoritas oleh indikasi Preeklampsi sebanyak 10 ibu (4,3%).
Menurut Kaufmann, 2006 dalam (Jovany, 2012)
bahwa terdapat berbagai macam alasan medis untuk
dilakukan SC, lebih dari 85 % alasan ini sesuai dengan
salah satu diantara empat kelompok umum yaitu riwayat
SC sebelumnya (37,4%) dari seluruh SC, distosia (23,3%),
bayi sungsang (14,7%) , dan gawat janin (10,3%). Pernah
dilakukan SC sebelumnya merupakan salah satu faktor ibu
dilakukan SC berikutnya. Padahal ibu yang baru pertama
kali dilakukan SC memiliki kesempatan besar untuk
melahirkan secara pervaginam.
Menurut Sudirman, 2009 faktor-faktor medis
dilakukan SC adalah karena faktor ibu dan faktor janin.
Faktor medis ibu dilakukannya SC adalah plasenta previa
(5,3%), riwayat persalinan ibu yang lalu mengalami SC
(5,7%), disproporsi sefalopelvic (3,3%), Pre-eklampsi
Berat (25,6%), Ketuban Pecah Dini (31,7%). Faktor medis
Janin dilakukan tindakan SC yaitu letak sungsang (11%),
letak lintang (5,3%), gawat janin (7,7%) dan gemelli
(7,7%) (Jovany, 2012).
Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa ada juga
faktor indikasi SC dengan Permintaan pasien itu sendiri,
sebanyak 34 ibu (14,8%). Menurut Andriana 2007 (dalam
Jovany 2012) bahwa tidak sedikit pula ibu melahirkan
dengan SC karena permintaan ibu yang tidak ingin
menjalani persalinan normal karena adanya rasa takut.
KESIMPULAN
1.

2.

3.
4.

Dari 230 ibu bersalin, mayoritas dengan


tindakan persalinan Sectio Caesarea sebanyak
215 ibu (93,5%).
Distribusi variabel karakteristik berdasarkan
umur mayoritas berumur 20-35 tahun (80,0%),
multigravida (60,9%), Jarak Kehamilan jarak
kehamilan 2-3 tahun sebanyak (35,2%),
pendidikan SMA (45,7), Wiraswasta (44,3%)
dengan Indikasi SC terbesar (17,0%).
Terdapat hubungan faktor Umur dan indikasi
dengan kejadian SC
Tidak ada hubungan faktor paritas, jarak
kehamilan, pendidikan, pekerjaan dengan SC.

Vol. 9 No.1 Mei - Agustus 2014

SARAN
1.

2.

Disarankan bagi petugas kesehatan/bidan


diharapkan untuk melakukan deteksi dini
adanya penyulit selama ANC dan persalinan
agar frekuensi ibu bersalin dengan SC
berkurang.
Melakukan pendidikan kesehatan tentang
konsep persalinan normal pada ibu hamil.

DAFTAR PUSTAKA
Aini, H. 2009. Buku Pintar Menjalani 9 Bulan Kehamilan.
Tora Book. Yogyakarta.
Aulia, S. 2011. Faktor-faktor Resiko Persalinan Seksio
Sesarea. UINSyah. Jakarta.
Jovany, M. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Keputusan Ibu Dilakukan Seksio Sesarea yang
Kedua. FIK UI. Depok.
Kompas,2012.https://www.facebook.com/notes/komunitas
-sehat-cantik-langsing/selamatkan-ibu-dari-bahayaoperasicaesar/10151014391551612
Kusumawati, Yuli. Faktor-faktor Risiko yang Berpengaruh
Terhadap Persalinan dengan Tindakan. UNDIP.
Semarang.
Latin.Y.L. 2014. Instant Access Ilmu Kebidanan. Binarupa
Aksara. Jakarta.
Lukas.E.2010.http//med.unhas.ac.id/
obgin/index.php?
option=com_content
&
task=view&id=89&Itemid=1, [diakses tanggal 0503-2014,jam 10:50 Wib]
Manuaba, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit
Kandungan, dan KB. Buku Kedokteran. Jakarta.
Marisi. 2009. Karakteristik Ibu Yang Mengalami
Persalinan Dengan Seksio Sesarea Yang Dirawat
Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang
Tahun 2007: USU Repository 2009. Medan.
Oxorn, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan: Patologi & Fisiologi
Persalinan. ANDI. Yogyakarta.
Prasetyawati, A, E. 2012. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Nuha Medika. Yogyakarta.
Prawirohardjo.S. 2011. Ilmu Kebidanan. Bina Pustaka.
Jakarta.
Rasyid. 2009. Pengaruh Hipnotherapi Terhadap Tingkat
Kecemesan Ibu yang Akan Menjalani Seksio
Sesarea. UNSemar. Semarang
Saifuddin.A. 2009. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirodihardjo. Jakarta.
Siti,dkk.
2013.
https://www.google.com/#q=jurnal+persalinan+ses
ar+pdf [diakses 03 Maret 2014 pukul 21:14 Wib].
Trivonia, dkk. 2011. Indikasi Persalinan Sektio Caesarea
berdasarkan umur dan paritas, librarygriyahusada.com, [diakses 03 Maret 2014 pukul
20:20 Wib].

89

UNDANGAN MENULIS DI JURNAL POLTEKKES MEDAN


Redaktur Jurnal Poltekkes Medan mengundang para pembaca untuk menulis di jurnal ini. Tulisan ilmiah yang
dimuat adalah berupa hasil penelitian atau pemikiran konseptual dalam lingkup kesehatan.
Persyaratan yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Tulisan adalah naskah asli yang belum pernah dipublikasikan.
2. Tulisan disertai abstrak, ditulis satu spasi dengan bahasa Indonesia atau Inggris, maksimal 200 kata.
3. Kata kunci (keywords) minimal dua kata, ditulis di bawah abstrak.
4. Setiap naskah memiliki sistematika sub judul pendahuluan, diikuti oleh beberapa sub judul lain dan
berakhir dengan sub judul penutup atau simpulan.
5. Naskah diketik rapi dua spasi dalam bahasa Indonesia atau Inggris, font: Times New Roman, size: 11,
format: A4 justify.
6. Panjang naskah minimal empat dan maksimal 18 halaman, termasuk rujukan.
7. Sistem rujukan adalah yang lazim digunakan dalam tulisan ilmiah, dengan konsistensinya.
8. Sumber rujukan/kutipan dimasukkan dalam tulisan (tanpa footnote)
9. Tulisan dikirim dalam CD, disertai print out-nya satu eksemplar, atau dikirim lewat E-mail.
10. Redaktur berhak mengedit dengan tidak merubah isi dan maksud tulisan.
11. Redaksi memberikan hasil cetak sebanyak satu eksemplar bagi penulis.
12. Naskah yang tidak dimuat akan dikembalikan bila dalam pengirimannya disertakan perangko
pengembalian, atau diambil langsung dari redaktur.

90