Anda di halaman 1dari 47

Laporan Kasus

Februari 2016

MANAJEMEN JALAN
NAPAS
Latifah Husna Zulkafli (C11111871)
Pembimbing: dr. Bambang HS. Suikromo
Supervisor: dr. Alamsyah A. A. Husain, Sp. An.
Bagian Anestesiologi, Terapi Intensif dan
Manajemen Nyeri
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Muhsin

Umur

: 34 tahun

Jenis Kelamin : Laki-Laki

RM

: 730216

BB

: 54 kg

TB

: 160 cm

IMT

: 21.09 m2/kg (gizi cukup)

ANAMNESIS

Laki laki 34 tahun dari BTP dengan traumatic brain injury GCS 8 akibat
kecelakaan lalu lintas

Pasien datang dibawa oleh keluarga dengan luka pada kepala dialami sejak
4 jam sebelum masuk rumah sakit.

riwayat tidak sadarkan diri ada.

Riwayat muntah tidak ada.

Riwayat operasi sebelumnya tidak ada.

Riwayat hipertensi tidak ada.

Riwayat DM tidak ada.

Riwayat asma, alergi obat dan makanan tidak ada.

Riwayat kebiasaan merokok, alkohol, herbal, jamu-jamuan tidak ada.

Saat ini pasien tidak batuk, tidak sesak, tidak demam.

PEMERIKSAAN FISIK

B1 : Airway paten, napas spontan, bunyi pernapasan vesikuler kanan =


kiri, RR 24 x/mnt, Rh (-/-), Wh(-/-), Struma (-), Stiffness (-), Buka mulut
>3
jari, Tyromandibula distance 3 jari, Mallampati score I, pernafasan
cuping
hidung (-), gigi geligi tidak tampak kelainan, gerak leher bebas,
nyeri telan
(-), massa di leher (-), trakea di tengah.

B2 : Nadi 96 x/mnt kuat angkat, TD 100/60 mmHg, Bunyi Jantung I/II


murni regular, gallop (-), murmur(-), suhu: 36,7oC

B3 : GCS 8 (E2M4V2), pupil bulat isokor 2,5mm/2,5mm, Reflek Kornea +/


+ normal, Reflek Cahaya +/+ normal,

B4 : Terpasang kateter, produksi 40cc/jam

B5 : Supel, peristaltik ada kesan normal.

B6 : Mobilitas (+),edema (-), nyeri tekan (-), massa tumor (-), fraktur (-)

PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
(25 Jan 2016)

TEST

RESULT

NORMAL VALUE

WBC

25.2 x 103/uL

4.0 10.0 x 103

RBC

3.72 x 106/uL

4.0 6.0 x 106

HGB

12.3 g/dL

12 18

HCT

37 %

37 48

PLT

392 x 103/uL

150 400 x 103

PT

11.9 detik

10 - 14

INR

1.14

<1,5

APTT

26 detik

22,0 - 30,0

GDS

76 mg/dL

<140

SGOT

23u/L

<38

SGPT

12 u/L

<41

Ureum

42 mg/dL

10-50

Kreatinin

1.33 mg/dL

0,5-1,2

Natrium

142 mmol/L

136 - 145

Kalium

3.9 mmol/L

3,5 - 5,1

Klorida

109 mmol/L

97 - 111

HbSAg

Non Reactive

Non Reactive

CT

7.00

BT

3.00

PEMERIKSAAN FOTO THORAX AP


Tidak

tampak kelainan radiologik


pada foto thorax ini.

Pemeriksaan CT Scan kepala tanpa


kontras iriisan aksial (25 Januari 2016)
Pendarahan

epidural regio frontalis kiri


dan frontotemporalis kanan

Pendarahan
Fraktur
Brain

subarachnoid

os frontalis bilateral

swelling

ASSESSMENT
Kesadaran

menurun ec traumatic brain


injury GCS8 (E2M4V2)

PLANNING
Terapi dari bagian Bedah:

Head up 300

Pasang IV cath 18G dengan Ringer Laktat 30 tpm

Ceftazidime 1 g/8jam/iv

Ketorolac 30mg/8jam/IV

Ranitidin 50mg/8jam/IV

Konsul anestesi manajemen jalan napas

Konsul bedah saraf

Terapi dari bagian Anestesi:

Pasang IV cath 18G dengan Ringer Laktat 30 tpm

Dilakukan intubasi endotrakeal ETT 7.0 ID dengan prosedur sbb:

Pasien posisi supine, IV line RL 30tpm, monitor tekanan darah, denyut nadi, EKG,
dan saturasi oksigen

Pemberian fentanyl 100 mcg/IV

Preoksigenasi dengan oksigen 100% 8 liter per menit via facemask

Pemberian atracurium 25 mg/IV, identifikasi plica vocalis (+),insersi ETT,


kembangkan cuff, bunyi napas simetris kiri sama kanan, fiksasi ETT pada sudut
kanan mulut

Maintenance: fentanyl 30mcg/jam/SP + midazolam 1,5mg/jam/SP


+atracurium 2cc/jam/sp

Head up 300

Follow up
25/01/2016

S: penurunan kesadaran, TBI


GCS 8 (E2M4V2)
B1: RR 20x/i, BP vesikuler, Rh
-/- ,Wh-/-.
B2: TD 100/60mmHg, HR
96x/m
B3: GCS 6x (E2M4Vx), pupil
bulat isokor 2,5mm ODS, RC
+/+
B4: urine perkateter 40-50
cc/jam
B5: supel, peristaltik (+)
kesan normal
B6: edema (-), fraktur (-)
A: kesadaran menurun ec TBI
GCS 6x (E2M4Vx)
P: rencana intubasi
endotrakeal

Dilakukan intubasi endotrakeal


ETT 7,0ID

Berikan O2 via ventilator mode


TV 400 RR 16 VC FiO2 100 SpO2
99%

Pasang IV cath 18G dengan


Ringer Laktat 21 tpm

Head up 30 0

Maintenance:
30mcg/jam/SP

fentanyl
+

1,5mg/jam/SP
-

Atracurium 2cc/jam/sp

midazolam

26/01/201

S: penurunan kesadaran, TBI GCS 6x -

O2 via S/da FiO2 80% SpO2

(E2M4Vx)

99%

B1: RR 30x/i, BP vesikuler, Rh -/- -

IVFD RL 21 tpm

,Wh-/-.

Head up 30 0

B2: TD 77/45mmHg, HR 104x/m

Fentanyl 30mcg/jam/SP

B3: GCS 6x (E2M4V2), pupil bulat -

midazolam 1,5mg/jam/SP

isokor 2,5mm ODS, RC +/+

atracurium 2 cc/jam/sp
Ceftazidime 1g/8jam/iv

B4: urine perkateter 40-50 cc/jam


B5: supel, peristaltik (+) kesan normal
B6: edema (-), fraktur (-)
A: kesadaran menurun ec TBI GCS 6x
(E2M4Vx)

27/01/20

S: penurunan kesadaran, TBI GCS -

16

6 (E2M4Vx)

B1: RR 16x/i, BP vesikuler, Rh -/- ,Wh-/-.


B2: TD 90/60mmHg, HR 103x/m
B3: GCS 5x E4M1Vx, pupil bulat
isokor 2,5mm ODS, RC +/+
B4: urine perkateter 40-50 cc/jam
B5: supel, peristaltik (+) kesan
normal
B6: edema (-), fraktur (-)
A: kesadaran menurun ec TBI GCS
5x (E2M3Vx)

O2 via ventilator
IVFD RL 20 tpm
Head up 30 0
TV 400, RR 20 SpO2 90%,
FiO2 60%

Fentanyl 30mcg/jam/IV

midazolam 2mg/jam/IV

atracurium 2 cc/jam/sp
Ceftazidime 1g/8jam/iv

28/01/201
6

S: penurunan kesadaran, TBI


GCS 5x (E2M3Vx)
B1: RR 30x/i, BP vesikuler, Rh
-/- ,Wh-/-.
B2: TD 130/80mmHg, HR
98x/m, reguler, kuat angkat.
B3: GCS E1M3Vx, pupil bulat
isokor 2,5mm ODS, RC +/+
B4: urine perkateter 40-50
cc/jam
B5: supel, peristaltik (+)
kesan normal
B6: edema (-), fraktur (-)
A: kesadaran menurun ec TBI
GCS 4x (E1M3Vx)

O2 via ventilator FiO2 100%

IVFD RL 20 tpm

Head up 30 0

Fentanyl 30mcg/jam/SP

Ranitidin 50mg/12jam/IV

Ceftazidime 1 gr/8jam/IV
atracurium 2 cc/jam/sp

29/10/201
5

S: kesadaran menurun ec
TBI GCS 4x (E1M3Vx)
B1: RR 30x/i, BP vesikuler,
Rh -/- ,Wh-/-.
B2: TD 110/80mmHg, HR
114x/m, reguler, kuat
angkat.
B3: GCS E1M3Vx, pupil
bulat isokor 2,5mm ODS,
RC +/+
B4: urine perkateter 40-50
cc/jam
B5: supel, peristaltik (+)
kesan normal
B6: edema (-), fraktur (-)
A: TBI (E1M3Vx)

O2 via ventilator FiO2 100%


SpO2 96 %

IVFD RL 20 tpm

Head up 30 0

Fentanyl 30mcg/jam/SP

Ranitidin 50mg/12jam/IV

Ceftazidime 1 gr/8jam/IV
Atracurium 2cc/jam/SP

Tinjauan pustaka
DISKUSI MANAJEMEN JALAN NAPAS

Anatomi dan fisiologi sistem


respirasi

Klasifikasi obstruksi jalan napas

Obstruksi jalan napas adalah : terhalangnya masukan udara


melewati jalan napas dengan atau tanpa gangguan napas
tergantung dari derajat obstruksi

Normal

terasa

meningkat

berkurang

sangat meningka

sangat berkurang

sangat meningkat
Hingga tanpa gerak

tak terasa

Klasifikasi obstruksi jalan napas


Berdasarkan

lokasi obstruksi:

di atas laring lidah, benda asing,


penyakit infeksi, tumor, trauma regio fasialis

Sumbatan

pada laring benda asing, tumor


laring, penyakit infeksi, reaksi alergi, trauma
laring, spasme laring akibat vagal reflex

Sumbatan

Sumbatan

dibawah laringbenda asing,


tumor, trauma langsung, spasme bronkus

Pengelolaan jalan napas

Membuka jalan napas tanpa alat

Membuka jalan napas dengan alat

Membersihkan jalan napas akibat sumbatan benda asing cair

Membersihkan jalan napas akibat sumbatan benda asing padat

Membuka jalan napas tanpa alat


Head-tilt

Cara: letakkan satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah,
sehingga kepala menjadi tengadah sehingga penyangga lidah terangkat ke
depan.

Chin-lift

Cara: gunakan jari tengah dan jari telunjuk untuk memegang tulang dagu
pasien, kemudian angkat dan dorong tulangnya ke depan.

Jaw-thrust

Cara: dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga barisan
gigi bawah berada di depan barisan gigi atas. Atau gunakan ibujari ke dalam
mulut bersama dengan jari-jari lain tarik dagu ke depan. (X)

Membuka jalan napas dengan alat

Pipa orofaring

Pakai sarung tangan

Buka mulut pasien dengan cara chin-lift atau


gunakan ibu jari dan telunjuk

Siapkan pipa orofaring yang tepat ukurannya

Bersihkan dan basahi pipa orofaring agar licin dan


mudah dimasukkan.

Arahkan lengkungan menghadap ke langit-langit


(ke palatal)

Masukkan separuh, putar lengkungan mengarah


ke bawah lidah

Dorong pelan-pelan sampai posisi tepat

Yakinkan lidah sudah tertopang dengan pipa


orofaring dengan melihat pola napas, rasakan dan
dengarkan ssuara napas pasca pemasangan. (x)

Membuka jalan napas dengan alat

Pipa nasofaring

Pakai sarung tangan

Nilai besarnya lubang hidung dengan besarnya pipa


nasofaring yang akan dimasukkan

Nilai adakah kelainan cavum nasi

Pipa nasofaring diolesi dengan jeli, demikian juga


lubang hidung yang akan dimasukkan. Bila perlu dapat
diberikan vasokonstriksi hidung

Pegang pipa nasofaring sedemikian rupa sehingga


ujungnya menghadap ke telinga.

Dorong pelan-pelan hingga seluruhnya masuk, sambil


menilai adakah aliran udara di dalam pipa.

Fiksasi dengan plester. (X)

Membersihkan jalan napas akibat


sumbatan benda asing cair
Sapuan

jari

Pasang sarung tangan

Buka mulut pasien dengan jaw-thrust dan


tekan dagu ke bawah

Gunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah)


yang bersih atau dibungkus dengan sarung
tangan/ kasa untuk membersihkan dan
mengorek semua benda asing dalam mulut

Dengan

alat suction

Membersihkan jalan napas akibat


sumbatan benda asing padat

Back blow/back slap

Rangkul dari belakang. Lengan menahan tubuh, lengan yang lain melakukan memberikan
pukulan/hentakan keras 5 kali, dengan kepalan tangan pada titik silang garis imajinasi tulang
belakang dan garis antar belikat.

Abdominal thrust

Rangkul korban yang sedang sempoyongan dengan kedua lengan dari belakang.Lakukan
hentakan tarikan sebanyak 5 kali dengan menarik kedua lengan penolong bertumpuk pada
kepalan kedua tangannya tepat di titik hentak yang terletak pada pertengahan pusat dan titik
uluhati korban.

Bila korban jatuh tidak sadar, segera bringkan telentang.Penolong mengambil posisi seperti naik
kuda di atas tubuh korban atau disamping korban sebatas pinggul korban.Lakukan hentakan
mendorong 5 kali dengan menggunakan kedua lengan penolong bertumpu tepat di atas titik
hentakan (daerah epigastrium).

Pengelolaan jalan napas tahap


lanjut
Krikotiroidotomi
Intubasi

endotrakeal
Intubasi via LMA (Laryngeal
Mask Airway)

Krikotiroidotomi
Melakukan penusukan kulit pada garis
tengah (midline) di atas membrana
krikotiroidea dengan jarum besar ukuran
12-14 yang telah dipasang pada
semprit. Arahkan jarum dengan sudut
450 ke arah kaudal, kemudian dengan
hati-hati tusukkan jarum sambil
mengisap semprit. Bila teraspirasi udara
atau tampak gelembung udara pada
semprit yang terisi akuades
menunjukkan masuknya jarum ke dalam
lumen trakea.

Intubasi endotrakeal
Indikasi:

Mempermudah pemberian anesthesia.

Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta


mempertahankan kelancaran pernapasan.

Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi lambung


( pada keadaan tidak sadar, lambung penuh dan tidak
ada reflex batuk ).

Mempermudah pengisapan sekret trakeobronkial.

Pemakaian ventilasi mekanis yang lama.

Mengatasi obstruksi laring akut

Teknik intubasi endotrakeal :


Persiapan

Pasien dibaringkan posisi supine di meja operasi

Lakukan pemasangan infus bila belum terpasang

Pasang monitor takaran darah (NIBP), irama jantung (EKG) dan saturasi oksigen (pulse oxymeter)

Lakukan pre-oksigenasi menggunakan masker dan O2 dengan flow >6 liter/menit selama 3-5 menit

Berikan obat-obat premedikasi IV:

Midazolam 0,05-0,1 mg/kgBB atau

Fentanyl 1-2 mcg/kgBB atau

Pethidine 1-2 mg/kgBB

Jika menggunakan succinylcholine dapat diberikan pre-kurarisasi dengan atracurium 0,05 mg/kgBB

Berikan obat-obatan induksi IV:

Pentothal 4-6 mg/kgBB atau

Propofol 2-4 mg/kgBB atau

Ketamine 1-2mg/kgBB

Pastikan dapat dilakukan ventilasi dan oksigenasi

Berikan pelemas otot IV:

Succinylcholine 1-1,5mg/kgBB atau

Atracurium 0,4-0,5mg/kgBB atau

Veruconium 0,08-0,1mg/kgBB atau

Pancuronium 0,08-0,1mg/kgBB

Teknik intubasi endotrakeal :


Intubasi

Mulut pasien dibuka dengan tangan kanan dan gagang laringoskop dipegang
dengan tangan kiri. Daun laringoskop dimasukkan dari sudut kanan dan lapangan
pandang akan terbuka. Daun laringoskop didorong ke dalam rongga mulut. Gagang
diangkat ke atas dengan lengan kiri dan akan terlihat uvula, faring serta epiglotis.

Ekstensi kepala dipertahankan dengan tangan kanan (sniffing position) Epiglotis


diangkat sehingga tampak aritenoid dan pita suara yang tampak keputihan
berbentuk huruf V. Tracheal tube diambil dengan tangan kanan dan ujungnya
dimasukkan melewati pita suara sampai balon pipa tepat melewati pita suara). Bila
perlu, sebelum memasukkan pipa asisten diminta untuk menekan laring ke
posterior sehingga pita suara akan dapat tampak dengan jelas (Sellick Maneuver.

Ventilasi atau oksigenasi diberikan dengan tangan kanan memompa balon dan
tangan kiri memfiksasi. Balon pipa dikembangkan dan daun laringoskop dikeluarkan
selanjutnya pipa difiksasi dengan plester.

Dada dipastikan mengembang saat diberikan ventilasi. Sewaktu ventilasi dilakukan


auskultasi dada dengan steteskop, diharapkan suara nafas kanan dan kiri sama. (X)

Sniffing

position.
leher
dalam
keadaan
fleksi
ringan, sedangkan kepala
dalam keadaan ekstensi.
Ini disebut sebagai Sniffing
in
the
air
position.
Kesalahan yang umum
adalah
mengekstensikan
kepala dan leher.

Pipa endotrakeal

Usia

Diameter

Panjang (cm)

Bayi

dalam (mm)
3,5

12

Anak

4+ usia/4

14 + usia/2

Perempuan

7,0-7,5

24

Laki-laki

7,5-9,0

24

Dewasa

KRITERIA INTUBASI
Pernafasan Ireguler
Frekwensi Nafas < 10 atau > 40 kali / menit
Volume Tidal < 3,5 ml / KgBB
Vital Capacity < 15 ml / KgBB
PaO2 < 70 mmHg
Pa CO2> 50 mmHg
GCS
<8
Tatang Bisri :Dasar dasar Neuroanestesi :2008; 10

KRITERIA EKSTUBASI
NIF
>- 20 cm H2O
Resting min Vent < 10 l/menit
RR < 30 kali / menit
LOC stable or improving
TV > 5 ml / KgBB
TV / RR
> 10
VC > 10 ml / Kg BB
Qs / Qt
< 20 %
PaO2 >65 75 mm (FiO2 < 40%)
Pmep > + 40 cm H2O
PaC02<50 mmHgVd / Vt < 0.6
Mark R Ezekiel :HandBook of Anesthesiology :2003;
105

Komplikasi intubasi endotrakeal


Selama

laringoskopi dan intubasi

Malposisi
Intubas

iesofagus

Intubasi
Posisi
Trauma

endotrakheal

laringeal cuff
jalan nafas

Kerusakan
Laserasi
Sakit

pada tenggorokan

Dislokasi
Diseksi
Refleks

gigi

bibir, lidah, mukosa


mandibula

retrofaring

fisiologis

Hipertensi,

takikardi

Hipertensii

intrakranial

Hipertensi

intraokuler

Laringospasme
Malfungsi

tube

Perforasi

Pada

cuff

saat tube diposisikan

Malposisi
Ekstubasi
Intubasi
Posisi
Trauma

yang tidak disengaja

endobronkial

laringeal cuff
jalan nafas

Inflamasi

dan ulserasi mukosa

Ekskoriasi
Malfungsi

hidung

tube

Ignition
Obstruksi

Mengikuti
Trauma

Edema
Parau

Ekstubasi

jalan nafas
dan stenosis (glottik, sub glottik, trakhea)

(granuloma atau paralisis pita suara)

Malfungsi
Refleks

dan aspirasilaring

fisiologis

Laringospasme.

Laryngeal mask airway


Laryngeal mask Airway adalah sebuah alat untuk mempertahankan
jalan napas paten tanpa intubasi trakea, yang terdiri dari tabung
terhubung ke cuff oval yang berfungsi untuk

laring
LMA ini terdiri dari 3 komponen utama:

Tabung jalan napas (airway tube)

Masker karet dan

Garis inflasi.
Keuntungan
LMA :
Kurang invansif (trauma laringoskopi
berkurang),
pemasangan
mudah,
berguna pada pasien dengan kesulitan
intubasi
dan
ventilasi,
tidak
memerlukan
relaxan,
mengurangi
penggunaan obat analgetik

mengunci

INDIKASI

1)Sebagai alternatif dari ventilasi face mask atau intubasi ET


untukairway management. LMA bukanlah suatu penggantian ET,
ketika pemakaian ETmenjadi suatu indikasi.

2)Pada penatalaksanaandificult airwayyang diketahui atau


yang tidak diperkirakan.

3)Padaairway managementselama resusitasi pada pasien


yang tidak sadarkan diri.

4) Pasien-pasien dengan reflex jalan nafas atas


yangintackkarena insersi dapat memicu terjadinya
laryngospasme.

Kontraindikasi : 7,5

1) Pasien-pasien dengan resiko aspirasi isi lambung


( penggunaan pada emergency adalah pengecualian ).

2) Pasien-pasien dengan penurunan compliance sistem


pernafasan, karenasealyang bertekanan rendah pada cuff LMA
akan mengalami kebocoran padatekanan inspirasi tinggi dan
akan terjadi pengembangan lambung. Tekananinspirasi puncak
harus dijaga kurang dari 20 cm H2O untuk
meminimalisirkebocoron cuff dan pengembangan lambung.

3) Pasien-pasien yang membutuhkan dukungan ventilasi


mekanik jangka waktu lama

Macam-Macam Laryngeal Mask Berdasarkan


Perbedaan Volume Cuff Untuk Beragam Pasien

Mask
Size
1
2
2 1/2
3
4
5

Patient
Weight
Size
(kg)
Infant
<6.5
Child
6.520
Child
2030
Small adult
>30
Normal
<60-70
adult
Larger adult >70-80

Cuff Volume (mL)


24
Up to 10
Up to 15
Up to 20
Up to 30
Up to 30

Teknik Induksi dan Insersi

Insersi cLMA tidak membutuhkan pelumpuh otot dan tidak menggunakan


laringoskop

Propofol merupakan agen induksi yang paling tepat karena propofol dapat
menekan refleks jalan nafas dan mampu melakukan insersi cLMA tanpa batuk
atau terjadinya gerakan. Introduksi LMA ke supraglotis dan inflasi the cuff akan
menstimulasi dinding pharing akan menyebabkan peningkatan tekanan darah dan
nadi. Perubahan kardiovaskuler setelah insersi LMA dapat ditumpulkan dengan
menggunakan dosis besar propofol yang berpengaruh pada tonus simpatis
jantung.

Dokter berdiri dibelakang pasien yang berbaring supine dengan satu tangan menstabilisasi kepala dan leher pasien (Sniffing Position), sementara tangan yang
lain memegang cLMA. Tindakan ini terbaik dilakukan dengan cara menaruh
tangan dibawah occiput pasien dan dilakukan ekstensi ringan pada tulang
belakang leher bagian atas. cLMA yang ujungnya sudah dilubrikasi dipegang
seperti memegang pensil pada perbatasan mask dan tube. Rute insersi cLMA
harus menyerupai rute masuknya makanan. Selama insersi, cLMA dimajukan ke
arah posterior sepanjang palatum durum kemudian dilanjutkan mengikuti aspek
posterior-superior dari jalan nafas. Saat cLMA berhenti selama insersi, ujungnya
telah mencapai cricopharyngeus ( sfingter esofagus bagian atas ) dan harusnya
sudah berada pada posisi yang tepat. Insersi harus dilakukan dengan satu
gerakan yang lembut untuk meyakinkan titik akhir ter-identifikasi. (X)

Laryngeal Mask Airway


dipasang tanpa laringoskopi

PEMBAHASAN
Laki laki 34 tahun dari BTP dengan traumatic brain injury GCS 8 akibat kecelakaan
lalu lintas direncanakan penatalaksanaan manajemen jalan napas. Pasien datang
dibawa oleh keluarga dengan luka pada kepala dialami sejak 4 jam sebelum masuk
rumah sakit akibat terbentur kepala di aspal . Riwayat tidak sadarkan diri ada. Riwayat
muntah tidak ada. Riwayat operasi sebelumnya tidak ada. Riwayat hipertensi tidak
ada. Riwayat DM tidak ada. Riwayat asma, alergi obat dan makanan tidak ada. Riwayat
kebiasaan merokok, alkohol, herbal, jamu-jamuan tidak ada. Saat ini pasien tidak batuk,
tidak sesak, tidak demam.
Pasien dikonsul dari bagian Bedah untuk penanganan jalan napas pada pasien pada
tanggal 25/1/2016. Pada hari pertama, pemeriksaan kesadaran pasien yaitu GCS 8
(E2M4V2) dengan uraian sebagai berikut: pasien nampak sedikit membuka mata dan
mengeluarkan suara tidak jelas mirip mendengkur dengan pemberian rangsangan nyeri
pada sternum, pasien tidak dapat mengangkat tangannya sampai melewati dada untuk
maksud menapis rangsangan nyeri namun pasien memunjukkan reaksi menghindar
saat diberi rangsang nyeri pada kuku jari.

Oleh dokter bedah, pasien diberi antibiotik profilaksis berupa


ceftazidime 1 gr/8 jam/IV, ketorolak 30mg/8jam/IV, dan ranitidin
50mg/8jam/iv. Pada pasien ditemukan indikasi pemasangan
intubasi endotrakeal berupa kesadaran menurun GCS 8, sehingga
dipasang ETT dengan diameter 7,0 dengan flom O2 8 liter per
menit. Pasien juga mendapat terapi cairan dengan ringer laktat 30
tpm.

Dari hasil laboratorium (25/01//2016), terlihat bahwa adanya


Lekositosis dan telah mendapat antibiotik.

Kebutuhan cairan/hari: 40xBB= 40x54= 2160 cc/hari

Tetesan makro= (kebutuhan cairanx20)/24x60


=(2160x20)/24x60= 30 tpm

REFERENSI

1. Mangku G, Senapahi TGA. Buku Ajar Ilmu


Anestesia Dan Reanimasi. Jakarta. Penerbit
Indeks. 2010.
2. Fildes J. Advanced Trauma Life Support Dor
Doctors. American College Of Surgeons
Committee On Trauma. 8th Ed. 2008.
3. Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 22nd Ed. 2010.
4. Vlymen JM, Coloma M, Tongier K, White PF. Use
Of The Intubating Laryngeal Mask Airway; Are
Muscle Relaxants Necessary? Lippincot Williams
& Wilkins, Inc. 2000.
5. Timmermann A. Modern Airway Management
Using Supraglottic Airways. Vol 12. AJAOnline.Com. 2011
6. Grady DM, Mchardy F, Wong J, Jin F, Tong D,
Chung F. Pharungolaryngeal Morbidity With The
Laryngeal Mask Airway In Spontaneously
Breathing Patients; Does Size Matter? Lippincot
Williams & Wilkins, Inc. 2001.
7. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Morgan
& Mikhails Clinical Anesthesiology 5th Ed.
Lange Medical Book. 2013.

TERIMA KASIH