Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS

Penetapan Kadar Vitamin C


Secara Potensiometri

Asisten :
Catherine Caroline, S.Si., M.Si., Apt.
Golongan :
Q/3
Anggota:
Helsa Septiana (2443011082)
Cynthia Devina (2443012023)
Septin Putri A.

(2443012061)

Seraviani C.

(2443012243)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA
SURABAYA
2014

I.

DASAR TEORI
Potensial sel galvanik tergantung pada aktivitas zat-zat ionik tertentu di dalam
larutan sel, maka pengukuran potensial sel merupakan hal yang sangat penting dalam
kimia analitik. Dalam banyak hal suatu sel dapat disusun yang potensialnya tergantung
pada aktivitas suatu macam zat ionik tunggal dalam larutan. Salah satu elektroda sel
harus sedemikian rupa hingga potensialnya tergantung pada aktivitas ion yang akan
ditentukan; ini disebut elektroda indikator. Elektroda yang lainnya merupakan sebuah
pembanding, seperti kalomel, yang potensialnya diketahui dan tetap selama pengukuran
(Underwood, 1986).
Suatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode yaitu, pertama
(potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadap potensial dari suatu aktivitas
ion yang diamati, hal ini terutama diterapkan dalam pengukuran pH larutan air. Kedua
(titrasi langsung), ion dapat dititrasi dan potensialnya diukur sebagai fungsi volume
titran. Potensial sel, diukur sehingga dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen.
Suatu petensial sel galvani bergantung pada aktifitas spesies ion tertentu dalam larutan
sel, pengukuran potensial sel menjadi penting dalam banyak analisis kimia (Basset, J.
dkk., 1994).
Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan
elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh
dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan,
mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat
diperkirakan titik akhir titrasi. Elektroda indikator adalah elektroda yang potensialnya
bergantung pada konsentrasi ion yang akan ditetapkan dan dipilih berdasarkan jenis
senyawa yang hendak ditentukan. Sedangkan elektroda pembanding adalah elektroda
yang potensialnya diketahui dan selama pengukuran tetap konstan. Elektroda
pembanding yang banyak digunakan adalah elektroda kalomel karena konstannya
potensial yang dihasilkan. Antara elekroda pengukur (elektroda indikator) dan elektroda
pembanding terdapat jembatan arus atau garam dengan larutan elektrolit yang di
dalamnya terdapat transport ion arus (Widjaja dkk., 2008). Cara potensiometri ini
bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi,
misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak
cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).
Keuntungan dari metode potensiometri adalah biayanya yang relatif murah dan
sederhana. Voltameter dan elektroda jauh lebih murah daripada instrumen saintifik yang
2

paling modern. Selain itu kelebihan dari metode potensiometri yaitu pada saat potensial
sel dibaca tidak ada arus yang mengalir dalam larutan (arus residual tatanan sel dan efek
polarisasi dapat diabaikan). Manfaat potensiometri juga untuk menetapkan tetapan
kesetimbangan. Potensial-potensial yang stabil sering diperoleh dengan cukup cepat dan
tegangan yang mudah dicatat sebagai fungsi waktu, sehingga potensiometri kadang juga
bermanfaat untuk pemantauan yang kontinyu dan tidak diawasi (Skoog dkk., 1998).
Potensiometri pada dasarnya bersifat nondestruktif terhadap sampel, dalam
pengertian bahwa penyisipan elektroda tidak megubah komposisi larutan uji (kecuali
untuk sedikit kebocoran elektrolit dari elektroda acuan) (Khopkar, 1990). Metode
potensiometri merupakan salah satu metode yang banyak digunakan untuk menentukan
kandungan ion-ion tertentu dalam suatu larutan, titrasi terhadap vitamin c (bersifat asam)
mungkin juga bersifat basa. Selain itu, metode potensiometri dapat juga digunakan dalam
penetapan nikel dan kobal dengan pengkomlekskan denga sianida, penetapan flourida
dengan metode titik nol, penetapan besi (III) dengan EDTA dan standarisasi larutan
kalium permanganate dengan kalium iodide (Vogel, 1994).
Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume
pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran.
Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara berurutan,
dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk
diperoleh suatu kurva titrasi. Dalam banyak hal, suatu potensiometer sederhana dapat
digunakan, namun jika tersangkut elektroda gelas, maka akan digunakan pH meter
khusus. Karena pH meter ini telah menjadi demikian biasa, maka pH meter ini
dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya tidak diwajibkan
(Basset, J. dkk., 1994).
Bermacam reaksi titrasi dapat diikuti dengan pengukuran potensiometri. Reaksinya
harus meliputi penambahan atau pengurangan beberapa ion yang sesuai dengan jenis
elektrodanya. Potensial diukur sesudah penambahan sejumlah kecil volume titran secara
berturut-turut atau secara kontinyu dengan perangkat automatik. Presisi dapat dipertinggi
dengan sel konsentrasi (Khopkar, 2003).
a)

Reaksi netralisasi: Titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda

indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8.


b)

Reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan: Pembentukan endapan atau

kompleks akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Biasanya digunakan elektroda
Ag dan Hg. Berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA.
3

c)

Reaksi redoks: Elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi

redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7, Co(NH3)3) membentuk lapisan logam-oksida


yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar,
2003).
Semua potensial elektroda dikutip relatif terhadap potensial elektroda hidrogen
standar. Jadi, elektroda hidrogen haruslah dianggap sebagai elektroda rujukan primer.
Elektroda yang paling meluas penggunaannya adalah elektroda kalomel, disebabkan oleh
mudahnya pembuatan dan konstan potensial. Sebuah sel-paruh kalomel adalah sel paruh
dalam mana merkurium dan kalomel (merkurium(I) klorida) ditutup dengan konsentrasi
tertentu; dapat 0,1 N; 1,0 N; 3,5 N; atau jenuh. Larutan kalium klorida haruslah dijenuhi
oleh kalomel. Potensial elektroda kalomel pada 25 OC relatif terhadap elektroda hidrogen
normal untuk 0,1 N; 1,0 N dan jenuh masing-masing adalah 0,3371; 0,2846; dan 0,2458
volt (Bassett, J. dkk., 1994).
Elektroda indikator suatu sel adalah elektroda yang potensialnya bergantung pada
aktivitas (dan karena itu pada konsentrasi) spesi ion tertentu yang konsentrasinya akan
ditentukan. Dalam potensiometri langsung atau titrasi potensiometri suatu ion logam,
sebuah elektroda indikator sederhana biasanya akan terdiri dari batang atau kawat yang
dibersihkan dengan seksama yang terbuat dari logam yang tepat; paling penting adalah
permukaan logam yang akan dicelupkan ke dalam larutan itu bebas dari lapisan tipis
oksida atau hasil korosi apa saja. Dalam beberapa kasus elektroda yang lebih memuaskan
dapat disiapkan dengan menggunakan kawat platinum yang telah disalut dengan lapisan
tipis logam yang tepat dengan cara pengendapan secara listrik (Bassett, J. dkk., 1994).
Bila dilibatkan ion hidrogen, sebuah elektroda hidrogen dapat jelas digunakan
sebagai elektroda indikator, namun peran itu dapat juga dilakukan oleh elektroda lain,
yang terkemuka adalah elektroda kaca. Inilah contoh elektroda membran dalam mana
potensial yang dikembangkan antara suatu selaput kaca dan larutan merupakan suatu
fungsi linier pH larutan, dan karena itu dapat untuk mengukur konsentrasi ion hidrogen
dari larutan itu. Karena selaput kaca itu mengandung ion logam alkali, juga mungkin
untuk mengembangkan elektroda kaca yang dapat digunakan untuk menetapkan
konsentrasi ion-ion ini dalam larutan, dan dari pengembangan ini (yang didasarkan pada
mekanisme pertukaran ion), sederetan lengkap elektoda membran telah dikembangkan
berdasarkan baik pada bahan pertukaran ion zat padat maupun cairan: elektroda-elektroda
ini merupakan bagian deret yang penting dari elektroda peka-ion yang sekarang tersedia
untuk banyak macam ion (Bassett, J. dkk., 1994).
4

Persamaan Nernst memberikan hubungan antara potensial relatif suatu elektroda


dan konsentrasi spesies ioniknya yang sesuai dalam larutan. Potensiometri merupakan
aplikasi langsung dari persaman Nernst dengan cara pengukuran potensial dua elektroda
tidak terpolarisasi pada kondisi arus nol. Dengan pengukuran pengukuran potensial
reversibel suatu elektroda, maka perhitungan aktivitas atau konsentrasi suatu komponen
dapat dilakukan (Rivai, 1995).
Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur sesudah penambahan sejumlah
kecil volume titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan perangkat automatik.
Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda indikator yang digunakan
dalam titrasi potensiometri tentu saja akan bergantung pada macam reaksi yang sedang
diselidiki. Jadi untuk suatu titrasi asam basa, elektroda indikator dapat berupa elektroda
hidrogen atau sesuatu elektroda lain yang peka akan ion hidrogen, untuk titrasi
pengendapan halida dengan perak nitrat, atau perak dengan klorida akan digunakan
elektroda perak, dan untuk titrasi redoks (misalnya, besi(II)) dengan dikromat digunakan
kawat platinum semata-mata sebagai elektroda redoks (Khopkar, 1990).
Pada praktikum kali ini metode yang akan kita gunakan adalah titrasi potensiometri
tepatnya titrasi asam basa, ketetapan untuk dapat menemukan titik akhir pada titrasi asam
basa secara potensiometri tergantung dari konsentrasi dan kekuatan asam serta basa. Agar
metode ini berhasil baik, kedua asam atau basa hendaknya kekuatannya berbanding
sekurangnya 10-5: 1. Metode ini dapat digunakan untuk titrasi asam atau basa bervalensi
banyak, tetapi hanya dapat dilakukan untuk masing-masing senyawa jika harga pKa atau
pKb berbeda minimal 2 satuan (Widjaja dkk., 2008).
Pada titrasi asam basa, elektroda indikator yang digunakan adalah elektroda
membran gelas yang sensitif terhadap perubahan jumlah ion hidrogen (H +)dan elektroda
pembanding yang digunakan adalah Elektroda Kalomel, (Khopkar, 2003) seperti yang
terlihat pada gambar dibawah. Untuk titrasi asam basa, setiap perubahan ion hidrogen
tersebut diamati. Pada elektrode membran gelas, tidak ada elektron yang diberikan
kepada membran. Justru sebuah membran membiarkan ion H+ untuk menembusnya,
tetapi menahan ion yang lain. Dengan demikian akan timbul beda potensial yang cukup
besar untuk mencegah terjadinya migrasi lebih lanjut. Kelebihan dari elektroda membran
gelas adalah tidak terjadinya kontaminasi sehingga tidak ada permukaan katalis yang
kehilangan aktivitasnya. Nilai-nilai pH dari suatu larutan yang kurang tersangga bisa
diukur secara akurat dan akhirnya elektroda jenis ini sangat cocok digunakan untuk
memonitor pH secara kontinu pada rentang waktu yang lama (Day dan Underwood,
1981). Melalui kurva hubungan antara volume pentiter vs pH dapat ditentukan titik akhir
5

titrasinya. Titik akhir titrasi dideteksi dengan menetapkan volume di mana terjadi
perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan peniter (Widjaja dan
Laksmiani, 2009).
II. TUJUAN
Memahami prosedur penetapan kadar secara Potensiometri
III.

SIFAT BAHAN
Sampel
Vitamin C / Asam Askorbat (BM 176,13)

Pemerian
Hablur atau serbuk putih atau agak kuning. Oleh pengaruh cahaya lambat laun
menjadi berwarna gelap. Dalam keadaan kering stabil di udara, dalam larutan
cepat teroksidasi. Melebur pada suhu lebih kurang 1900
Kelarutan
Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform,
dalam eter dan dalam benzena.
Penetapan Kadar
Timbang seksama lebih kurang 400 mg, larutkan dalam campuran 100 ml air dan
25 ml asam sulfat 2 N, tambahkan 3 ml kanji LP. Titrasi segera dengan Iodium 0,1
N LV.
1 mL NaOH 0,1 N setara dengan 17,61 mg C6H8O6
IV.

ALAT DAN BAHAN


Alat:
1. Botol timbang
2. Labu takar
3. Beaker glass
4. Erlenmeyer
5. Gelas ukur
6. Potensiometer
7. Batang pengaduk
8. Pipet volume
9. Filler
10. Sendok tanduk
Bahan:
1. Sampel yang mengandung Vitamin C
2. NaOH 0,1 N
3. Asam oksalat
6

4. Aquadest
V.

DASAR REAKSI

VI.

CARA KERJA
Pembakuan asam oksalat dengan NaOH
1. Memipet 3 mL larutan baku asam oksalat
2. Memasukkan ke dalam beaker glass
3. Menambahkan akuades sampai elektroda tercelup
4. Memasukkan NaOH ke potensiometer
5. Melakukan titrasi
Preparasi sampel (3x replikasi)
1. Menghomogenkan sampel terlebih dahulu
2. Menimbang sampel sebanyak 400 mg
3. Memasukkan ke dalam beaker glass
4. Menambahkan 50 mL akuades
5. Melakukan titrasi dengan NaOH 0,1 N

VII.

PERHITUNGAN
Teoritis
Larutan Baku asam oksalat 0,1 N 25 mL

N = 0,1576 gram
Cara :
1. Menimbang 0,1576 gram asam oksalat dengan botol timbang
2. Memasukkan dalam labu takar 25 mL
3. Menambahkan akuadest sampai 25 mL
4. Mengocok sampai homogen

Larutan baku sekunder NaOH 0,1 N 100 mL

N = 0,4 gram
Cara :
1. Menimbang 0,4 gram NaOH dengan kaca arloji
2. Memasukkan dalam beaker glass
3. Menambahkan akuadest sampai 100 mL
4. Mengocok sampai homogen

Praktik

N = 0,1 N

End Point
Sampel

Sampel

Sampel

7,532

7,755

7,827

7,802

3,2282

4,9284

4,9561

4,9013

Baku 1

Baku 2

Baku 3

pH

7,493

7,532

V (ml)

3,2216

3,2318

Baku 1
V (ml)

PH

3,1000

6,070

PH

PH / V

2PH / V2

0,1
3,2000

+ 118,6
21,45
-165,1
0,494

4,94

9,668

-21,8
0,1

3,5000

2,145

9,174
0,1

3,4000

9,59

7,029
0,1

3,3000

0,959

0,276

2,76

9,944

V TE = 3,24180 mL

Baku II

V (ml)

PH

3,1000

5,980

3,2000

PH

PH / V

0,1

0,835

8,35

6,815

+ 141,9
0,1

3,3000

2,254

22,54

9,069

-168,6
0,1

3,4000

9,637

2PH / V2

0,568

5,68
-27,1
9

0,1
3,5000

0,297

2,97

9,935

V TE = 3,2457 mL

10

Baku III

V (ml)

PH

3,1000

6,013

3,2000

PH

PH / V

0,1

0,884

8,84

6,896

+ 137,1
0,1

3,3000

22,55
-170,7

0,548

5,48

9,699

-24,6
0,1

3,5000

2,255

9,151
0,1

3,4000

2PH / V2

0,302

3,02

10,001

V TE = 3,2445 mL

V1 (ml)

N1

V2 (ml)

N2

3,0

0,1

3,2418

0,0925

3,0

0,1

3,2457

0,0924

3,0

0,1

3,2445

0,0925

Rata - rata

0,09248

11

Sampel I

V (ml)

PH

4,800

6,613

4,900

PH

PH / V

0,1

0,783

7,83

7,396

+47,9
0,1

5,000

12,62
-71,9

0,543

5,43

9,201

-23,7
0,1

5,200

1,262

8,658
0,1

5,100

2PH / V2

0,306

3,06

9,507

V TE = 4,9399 mL

12

Sampel II

V (ml)

PH

4,800

6,518

4,900

PH

PH / V

0,1

0,638

6,38

7,157

+ 55,7
0,1

5,000

11,95
-49,9

0,696

6,96

9,048

-33.2
0,1

5,200

1,195

8,352
0,1

5,100

2PH / V2

0,364

3,64

9,411

V TE = 4,9527 mL

13

Sampel III

V (ml)

PH

4,700

6,290

4,800

PH

PH / V

0,1

0,492

4,92

6,781

+ 51,6
0,1

4,900

10,08
+ 5,3

1,061

10,61

8,850

-60,2
0,1

5,100

1,008

7,789
0,1

5,000

2PH / V2

0,459

4,59

9,309

V TE = 4,9080 mL

14

Sampel

VTE (mL)

W (gram)

NT

Kadar

4,9399

0,4009

0,09248

20,067 %

4,9527

0,4022

0,09248

20,054 %

4,9080

0,4003

0,09248

19,968 %

Perhitungan kadar :

Penolakan hasil pengukuran (4d):

Data

Rata-rata tanpa * (y)

Selisih data dengan y

4d

19,968 *

20,06

0,0065

0,026

20,054

0,0065

20,067

0,0065

d* = 20,06 19,968 = 0,092


4d

d*

0,0,26

< 0,092

Data yang dicurigai dibuang.


Jadi kadar yang diperoleh 20,06 %

15

= 1,27 %

VIII. PEMBAHASAN
Praktikum potensiometri ini dilakukan dengan tujuan untuk untuk membuat
kurva hubungan antara pH dan volume pentiter, menentukan titik akhir titrasi, dan
menentukan kadar sampel yang dianalisis. Potensiometri adalah salah satu metode
penentuan konsentrasi zat melalui pengukuran nilai potensial. Nilai potensial yang
diukur setiap penambahan volume titran tertentu akan diplotkan menjadi kurva titrasi
dan akan didapatkan titik ekuivalen titrasinya. Volume pada titik ekuivalen titrasi
tersebut adalah volume titran yang akan digunakan dalam perhitungan selanjutnya.
Dalam potensiometri ini, tidak digunakan indikator karena dengan pengukuran
potensial larutan sudah bisa didapatkan titik ekuivalennya dari kurva. Titik akhir
titrasi diharapkan mendekati titik ekivalen sehingga data yang dihasilkan dianggap
memiliki kesalahan yang kecil.
Metode yang akan kita gunakan adalah titrasi potensiometri tepatnya titrasi
asam basa, ketetapan untuk dapat menemukan titik akhir pada titrasi asam basa secara
potensiometri tergantung dari konsentrasi dan kekuatan asam serta basa. Elektroda
indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah elektroda membran gelas yang
sensitif terhadap perubahan jumlah ion hidrogen (H+) dan elektroda pembandingnya
adalah Elektroda Kalomel. Dalam titrasi asam basa, diamati setiap perubahan ion H+
atau perubahan pH yang ditunjukkan pada alat pengukur pH. Melalui kurva hubungan
antara volume pentiter vs pH dapat ditentukan titik akhir titrasinya dari sampel.
Selanjutnya titik akhir titrasi dideteksi dengan menetapkan volume di mana terjadi
perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan volume pentiter yang
sedikit.
Pada titrasi potensiometri ini, digunakan NaOH 0,1 N sebagai titran. Sebanyak
400 mg sampel dilarutkan dalam 50 ml akuades dimasukkan ke dalam beaker glass
100 ml. Magnetic stire dimasukkan ke dalam beaker glass, yang berfungsi untuk
mengaduk larutan yang akan dititrasi.

Titrasi kemudian dimulai dengan

menambahkan sejumlah volume NaOH, dengan alat stire yang terus berputar saat
titrasi dilakukan. Setiap penambahan sejumlah larutan titran, pH larutan kemudian
16

diukur menggunakan potensiometer, yang di dalamnya terdapat elektrode membran


gelas yang sangat sensitif terhadap perubahan jumlah H+.
Saat elektrode membrane gelas dicelupkan ke dalam campuran larutan, terjadi
kesetimbangan antara ion-ion hidrogen yang terdapat di bagian tipis bola gelas dan
ion hidrogen yang terletak dalam larutan yang diuji. Elektrode gelas akan membiarkan
ion H+ untuk menembusnya, tetapi menahan ion yang lain. Semakin besar konsentrasi
ion hidrogen dalam larutan sampel, semakin banyak ion hidrogen yang masuk ke
dalam lapisan gelas tadi. Hal ini menyebabkan pada saat awal-awal titrasi, nilai pH
kecil. Semakin banyak pentiter yang ditambahkan, semakin sedikit ion hidrogen yang
terdapat dalam larutan, karena ion hidrogen akan bereaksi dengan ion hidronium (OH)
dan membentuk air. Hal ini akan menyebabkan ion hidrogen yang memasuki lapisan
gelas juga semakin sedikit sehingga muatan elektrode gelas berkurang, maka nilai pH
pun meningkat. Hal ini dapat dilihat pada kurva hubungan antara pH dan volume
pentiter.
Semakin banyak volume larutan pentiter (NaOH) yang ditambahkan ke dalam
larutan titrat, pH larutan menjadi semakin turun (basa). Lonjakan pH secara drastis
terjadi yaitu dari pH 7 menjadi 8 yaitu saat volume titran 4,900 ml. Lonjakan pH
yang terjadi secara drastis dengan penambahan sedikit volume titran ini menunjukkan
titik akhir titrasi telah terjadi, di mana perubahan pH ini terjadi ketika adanya
penambahan 0,1 ml larutan pentiter NaOH dari volume 4,900 ml menjadi 5,000 ml.
Lonjakan pH terjadi disebabkan terjadinya titik akhir titrasi dimana ion hidrogen (H +)
dari sampel telah habis bereaksi dengan ion hidronium (OH-) dari NaOH.
Sebelum titrasi dilakukan, larutan titrat bersifat asam yang mengandung
banyak ion hidrogen dalam larutan tersebut. Namun setelah titrasi dilakukan, jumlah
ion hidrogen perlahan-lahan berkurang karena telah bereaksi dengan ion hidronium
membentuk air, dan saat terjadi lonjakan pH secara drastis tersebut ion hidrogen (H +)
dari sampel telah habis bereaksi dengan ion hidronium (OH-) dari NaOH. Dengan
demikian, tidak terdapat lagi ion hidrogen dalam bentuk bebas dalam larutan titrat.
Penambahan larutan titrat setelah titik akhir titrasi terjadi menyebabkan jumlah ion
hidronium akan semakin meningkat dan menyebabkan naiknya pH larutan (pH larutan
basa). Tidak adanya ion hidrogen di dalam elektrode gelas secara tiba-tiba akan
membuat arus yang dihasilkan oleh elektrode gelas menjadi meningkat secara tibatiba dan kemudian turun secara tiba-tiba pula. Hal inilah yang memberi sinyal pada
pH meter mengenai adanya peningkatan harga pH secara tiba-tiba dari larutan HCl
yang dititrasi oleh pentiter (larutan NaOH 0,1N).
17

Setelah diperoleh titik akhir titrasi kemudian dilakukan perhitungan kadar


sampel dan praktikan memperoleh kadar vitamin C dalam sampel sebanyak 20,06 %.

IX.

KESIMPULAN
1.

Dari kurva hubungan antara volume pentiter dan pH terlihat adanya lonjakan pH
yang drastis yaitu dari 7 menjadi 8 ketika terjadi penambahan 0,1 ml larutan
NaOH 0,1 N dari volume NaOH 4,900 ml menjadi volume NaOH 5,000 ml.
Lonjakan pH titrat ini mengindikasikan tercapainya titik akhir titrasi.

2.

Kadar sesungguhnya vitamin C dalam sampel sebanyak 20,32 % namun kadar


yang kami dapat hanya 20,06 % sehingga persen kesalahan yang terjadi 1,27 %.
Hal tersebut terjadi karena sampel kurang homogen, proses pengerjaan yang
kurang teliti.

18