Anda di halaman 1dari 3

NOTULEN PERSIAPAN AKREDITASI PERMATA MADINA

PANYABUNGAN
A. Waktu Pelakasanaan
Hari/Tanggal : Senin, 09 Maret 2015
Waktu
: Pukul 10.00 12.30 WIB
Tempat
: Aula RSU Permata Madina Panyabungan
B. Pemimpin Rapat: Bapak Abdul Rahman BB, SH
C. Notulen Rapat

: Ibu Malika Hasnah Harahap, A.Md

D. Peserta Rapat

: Daftar Hadir Terlampir

E. Susunan Rapat

: 1. Persentase dari Bapak Abdul Rahman BB, SH ( Ketua Tim )

2. Persentase dari Bapak Kasmaruddin, A.Md


3. Sharing
4. Penutup
F. Risalah Rapat
1. Pembukaan
Rapat dibuka pukul 10.00 oleh Abdul Rahman BB, SH selaku Pimpinan Rapat.
2. Persentase Bpk Abdul Rahman BB, SH
Abdul Rahman BB, SH selaku Pimpinan Rapat menjelaskan sebenarnya
pengertian dari Akreditasi. Akreditasi adalah suatu pengakuan yang diberikan
pada Rumah Sakit karena telah memenuhi standar yang ditentukan. Tujuan
Akreditasi RS Umumnya meningkatkan mutu pelayanan RS Khususnya adalah
memberi jaminan, kepuasan dan perlindungan masyarakat, member pengakuan
bagi RS yang telah menerapkan standar, Menciptakan lingkungan internal RS
yang kondusif untuk penyembuhan dan pengobatan pasien sesuai standar
struktur, proses dan hasil (outcome) dan Adapun manfaat akreditasi RS ini
sebagai alat bagi pemilik dan pengelola RS mengukur kinerja RS, Melindungi
masyarakat dari pelayanan sub standar/malpraktek dan meningkatkan citra RS
dan kepercayaan masyarakat. Pimpinan rapat juga menyampaikan yang
dimaksud dengan dokumen akreditasi adalah semua dokumen yang harus
disiapkan RS dalam pelaksanaan akreditasi RS. Dalam hal ini dokumen
dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu dokumen yang merupakan regulasi dan
dokumen sebagai bukti pelaksaana kegiatan. Kebijakan, pedoman/panduan, dan
prosedur merupakan kelompok dokumen regulasi sebagai acuan untuk
melaksanakan kegiatan, dimana kebijakan merupakan regulasi yang tertinggal di
RS, kemudian diikuti dengan pedoman/panduan dan kemudian prosedur (SPO).
Karena itu untuk menyusun pedoman/panduan harus mengacu pada kebijakankebijakan yang sudah dikeluarkan oleh RS, Sedangkan untuk menyusun SPO
harus berdasarkan kebijakan dan pedoman/panduan. Dan kesimpulan yang
disampaikan ketua tim adalah Pada prinsipnya dokumen akreditasi adalah Tulis
yang dikerjakan dan kerjakan yang ditulis dan bisa dibuktikan namun pada
penerapannya tidaklah semudah itu. Penyusunan kebijakan, pedoman/panduan,
standar prosedur operasional dan program selain diperlukan komitmen

Direktur/Pimpinan RS juga perlu staf yang mampu dan mau menyusun dokumen
akreditasi tersebut.
3.

Pak Kasmaruddin selaku team akreditasi menjelaskan pengertian dari SPO.


SPO merupakan gambaran umum dan merupakan satu ketetapan dan tolak ukur
yang dipergunakan oleh manajemen untuk menilai efektivitas kerja dalam satu
system kerja dan jadi pedoman utnuk karyawan tentang cara kerja yang haru
dilakukan bila terjadi perubahan staff serta perubahan struktur organisasi dalam
satu system kerja, melalui penerapan prosedur secara konsisten & dilakukan
penilaian secara berkesinambungan akan dapat dideteksi kelemahan system
apakan karena factor manuasia atau perubahan dalam system pelayanan.
Adapun tujuan umum dari SPO tersebut adalah agar berbagai proses kerja rutin
terlaksana dengan efisien, efektif dan aman, serta senantiasa meningkatkan
mutu pelayanan melalui pemenuhan pencapaian standar profesi dan standar
pelayanan RS. Beliau juga memaparkan teknis penyusunan SPO yang
sebenarnya bagaimana.

4. Sharing
a. Ali Hasan : Memaparkan kalau refrensi yang dibuatkan oleh team sudah cukup
baik dan telah disepakati oleh forum bahwa format SPO yang akan dipakai
dalam persiapan akreditasi yang akan dilaksanakan adalah format yang telah
dibuatkan oleh team akreditasi dan yang berhak mengerjakan SPO adalah unit
terkait. Sebelum SPO diserahkan ke tim akreditasi sebaiknya diperiksa terlebih
dahulu oleh petugas yang berwenang apakah sudah sesuai dengan standar
akreditasi. Dan di unit SDM sendiri sudah diterapkan ke masing-masing
anggota supaya membuatkan 5 SPO perhari. Dan masing-masing anggota
akan diasistensi oleh kabidnya sendiri.
b. Imelda : Menanyakan apakah SPO yang dibuatkan oleh masing-masing kanit
dan kabid dalam bentuk ketikan dan sudah jadi atau dalam bentuk tulis
tangan dan diketikkan oleh team akreditasi. Pak Kasmaruddin selaku team
akreditasi menjawab bahwa hasil SPO yang diberikan kanit dan kabid adalah
dalam bentuk SPO yang sudah jadi.
c. Siti Aisyah Hasibuan : Menanyakan apakah kebijakan harus dibuat sendiri, dan
Pak Abdul Rahman menjawab bahwa orang yang berhak membuat kebijakan
adalah orang yang berhak dibidangnya dan orang yang lebih kompeten dan
sebelum membuat kebijakan semestinya dikoordinasikan dulu dengan unit
terkait.
5. Kesimpulan
a. Format yang ditetapkan untuk penyusunan SPO adalah format yang sudah
dibuatkan oleh tim akreditasi
b. SPO yang nanti di serahkan ke unit Akreditasi adalah bentuk SPO yang
sudah jadi
c. Sebelum kanit dan kabid menyerahkan SPO nya masing-masing
sebelumnya harus diteliti apakah SPO yang dibuatkan sudah memenuhi
standar akreditasi atau tidak.
G. PENUTUP
Rapat ditutup oleh Abdul Rahman BB, SH pada pukul 12.30 Wib

Panyabungan, 09 Maret 2015


Pemimpin Rapat,

Notulen,

Abdul Rahman BB, SH

Malika Hasnah Harahap,A.Md