Anda di halaman 1dari 3

BAKTI YANG TERSEMBUNYI

Oleh : Alvia Irwansah


Ku kibarkan sang merah putih pada tiang bambu yang sehari sebelumnya ku ambil
bersama Kakaku.
Apa pedulimu terhadap bendera ini Nak ? tanya Ayahku dari belakang
Bangsa kita ini sudah merdeka satu bulaN tapi nyatanya apa ? Belanda masih
merajalela, merdeka hanya kata-kata, apa guna sang saka berkibar tapi

rakyat masih

menderita
Aku dan kakaku hanya bisa terdiam. Terlahir di zaman seperti ini bukanlah pilihan
kenyataan takdir yang di berikan Tuhan di besarkan dalam kekerasan yang harus berjuang
dan terus berjuang untuk menghindari kematian, masa kecilku harus menderita melawan
penjajah di negara yang sudah merdeka.
Ayahku adalah seorang pejuang biasa namun dia selalu ambil bagian dalam
memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Bandung, disinlah aku di lahirkan bersama kakaku,
sebulan sebelumnya kami merasakan kebahagiaan yang teramat sangat setelah pak soekarno
membacakan naskah teks proklamasi Indonesia merdeka, namun kenyataannya kebahagiaan
itu hanyalah sesaat setelah kenyataannya Indonesia masih berada di bawah kekuasaan
Belanda, kesedihanku semakin berlarut ketika Ayahku kembali ikut ambil bagian bersama
tentara ke Jakarta sana, dan kakaku pun menjalani pendidikan di Kota Surabaya. Kini aku
hanya punya Ibu, bulan demi bulan pun berlalu, tiba saatnya Ayahanda pulang sungguh luar
biasa kerinduan kami akan sosok yang begitu kami hormati, dengan rasa rindu seorang anak
kepada Ayahnnya langsung ku peluk dia ku pandangi sosok yang berdiri ini dengan linangan
air mata bahagia.
Pada awal november aku di izinkan ikut tugas bersama Ayahku ke kota Semarang.
Namun disana suasana tidak seenak yang di bayangkan setelah kedatangan tentara sekutu
pada tanggal 24 oktober 1945. Awalnya ayahku disana hanya akan ikut mengurusi para
tawanan perang saja. Akan tetapi ternyata para tawanan di boncengi oleh NICA yang
kemudian mempersenjatai para tawanan. Sesuatu yang tidak di duga benar-benar terjadi tibatiba para tawanan perang itu memberikan perlawanan yang sangat mengejutkan setelah di
ketahui mereka di persenjatai oleh pihak sekutu yang kembali ingin menguasai nusantara.
Ayahku langsung menyuruhku bersembunyi di dalam gubuk melihat situasi sudah mulai
genting.
PASUKAAAN MAJUUUUU........ JANGAN LENGAAAH !!! teriak seorang jendral
kepada anak buahnya, pikiranku kacau takut terjadi sesuatu pada Ayahku, kulihat Ayahku
terus berlari sambil memegang senapannya itu, aku tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa

bersembunyi melihat ayahku dan pasukan lainnya melawan para tawanan, aku tetap
bersembunyi dalam gubuk itu seraya memanjatka doa untuk keselamatan Ayahku beserta
pasukan lainya dan sepertinya tempat ini akan tetap aman bagiku. Aku mulai mencemaskan
ayahku, dia maju dengan menahan rasa sakit di tangannya setelah terkena tembakan. Dengan
bersenjatakan pistol peluru tembakannya dapat mengenai kepala musuh aku merasa sedikit
ngeri tapi aku merasa bangga akan Ayahku, tiba-tiba ada musuh yang membidik Ayahku dari
belakang aku bisa saja berteriak tapi jika ku lakukan maka posisiku akan di ketahui lawan.
Doooooorrrrr......
Arrrrrrggghhh teriak ayahku
Aku sempat menangis disana melihat Ayahku terluka parah aku sudah tak tahan lagi
menahan air mataku, sebagai anak remaja biasa aku tak bisa berbuat apa-apa.
Beberapa jam kemudian pasukan yang tersisa membawa Ayahku ke dekatku setelah
pasuka Indonesia di pukul mundur oleh pihak sekutu dan mereka bilang Ayahku telah wafat.
Tak ku percaya Ayahku akan pergi secepat ini, ini semua terasa mimpi bagiku mimpi buruk
yang belum pernah ada.
Selang satu hari setelah kejadian itu Ayahku pun di makamkan disana beserta para
tentara yang gugur di medan perang dan aku pun memutuskan untuk kembali ke bandung
untuk memberitahu ibu bahwa ayah telah tiada, setelah sampai di halaman rumah ku panggil
ibuku
Ibuuuuuuu.........
Iya Nak, kenapa sayang ? Mana ayahmu ? tanya Ibuku
Ayah buuu ....
Iya ayah kenapa ? Ayah gak kenapa kenapa kan ? dengan nada panik
Ayah telah meninggal di ambarawa
Haaaahh .... Ibuku tak percaya dengan apa yang ku ceritakan
Ibu menangis dan terduduk lemas mendengar kabar buruk itu
Apa ini nyata ? atau hanya mimpi? Tidaaaaak.. teriak Ibuku
Ini bukan mimpi, ini kenyataan Bu, aku pun tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa
menangis dan terus menangis, iya.. hati ibuku hancur berkeping-keping sama halnya dengan
hatiku
Lima hari kemudian ku dengar berita bahwa di ambarawa kini kembali terjadi
peperangan, ku tanyakan pada ibu kabar kakaku, entah kenapa ibuku malah menangis
sehari sebelum kamu pulang kakakmu di beri tugas kesana menyusul Ayahmu, jawab
Ibuku, aku sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, rasa sakit
yang pernah terjadi sungguh takut terulang kembali cukup ayahku jangan
kakaku

Waktu terus bergulir kakaku sempat berpesan mimpiku membela


tanah ini walau nyawa yang menjadi ganti. Ku dengar sorak gemuruh di
luar, setelah kulihat dan ternyata mereka menyambut kedatangan kakaku
yang berhasil mengalahkan para tawanan bersenjata itu. Bukan cuma
kebahagiaan, duka pun datang dari salah satu pimpinan pasukan kakaku
yang tewas di medan perang. Dan kemudian pasukan di ambil alih oleh
Kakaku Letnal Kolonel Sudirman.
Bukan emas permata dan harta berlimpah yang aku kejar, namun
pengabdian dan memberikan manfaat untuk negriku itu adalah hal
terindah untuku Ucap kakaku
Sehari selanjutnya setelah kedatangan kakaku kita memutuskan
untuk ziarah ke makam ayah di Semarang sana, meski jarak yang
lumayan jauh tapi setidaknya bisa mengobati rasa kerinduan ini.
Beberapa jam kemudian kami telah tiba di makam ayahku. Ayah, meski
baktimu hanya sebatas rakyat biasa namun tanpa adanya engkau banyak
hal yang pasti takan terlewati dengan penuh makna, bukan hanya untuk
keluarga semoga ayah juga menjadi panutan untuk generas selanjutnya,
Selamat ulang tahun Ayahanda tercinta semoga tempat ini menjadi
kenangan yang ku persembahkan untuk ayah dan semoga ayah senang di
alam sana di sisi yang maha kuasa, ayah engkaulah komandan terhebat
yang akan aku hormati sepanjang masa
Setelah ziarah dari makam Ayah aku dan Ibuku pun pulang kembali
ke Kota Bandung. namun kakaku tidak ikut dengan kami dia masih ada
tugas di Semarang sana, akhirnya aku dan Ibuku pun sampai di kota
Bandung, Kini aku ibuku tinggal menetap di kota kembang ini. Aku bangga
pada tempat ini disinilah aku di lahirkan dan di besarkan tempat yang
begitu elok nan indah, memang tuhan menciptakan bumi pasundan ini
ketika ia tersenyum