Anda di halaman 1dari 7

Proses Peritoneal dialisis dan CAPD

Dahlia Lara Sikumalay 13113120012


Putri Ramadhani 1311312008
Tria Wulandari 1311312006
Fakultas Keperawatan
Universitas Andalas
2016

Prosedur peritoneal dialisis


Definisi
Dialisis peritoneal merupakan alternative dari hemodialisis pada penanganan gagal ginjal
akut dan kronik, pada teknik ini peritoneum berfungsi sebagai membrane semi
permeabel.
Tujuan
Tujuan terapi ini adalah untuk mengeluarkan zat zat toksik serta limbah metabolik,
mengembalikan keseimbangan cairanyang normal dengan mengeluarkan keseimbangan
cairan yang berlebihan, dan memulihkan keseimbangan elektrolit
Indikasi
Dialisis merupakan terapi pilihan bagi pasien gagal ginjal yang tidak mampu menjalani
hemodialis. Pasien yang rentan terhadap perubahan cairan, elektrolit, dan metabolik yang
cepat terjadi pada hemodialisis akan sedikit mengalami hal ini karena dialisis peritoneal
kecepatan kerjanya lebih lambat.
Kontraindikasi

Hipotensi dapat terjadi selama terapi dialysis ketika cairan dikeluarkan.

Emboli udara merupakan komplikasi yang jarang tetapi dapat saja terjadi jika udara
memasuki sistem vaskuler pasien.

Nyeri dada dapat terjadi karena pCO2 menurun bersamaan dengan terjadinya sirkulasi
darah diluar tubuh.

Pruritus dapat terjadi selama terapi dialysis ketika produk-akhir metabolisme


meninggalkan kulit.

Gangguan keseimbangan dialysis terjadi karena perpindahan cairan serebral dan muncul
sebagai serangan kejang. Komplikasi ini kemungkinan terjadinya lebih besar jika terdapat
gejala uremia yang berat.

Kram otot yang nyeri terjadi ketika cairan dan elektrolit dengan cepat meninggalkan
ruang ekstrasel.

Mual dan muntah merupakan peristiwa yang serius terjadi.

Persiapan Alat

Ultrabag / twinbag sistem : Kateter, Konektor titanium, Short transfer set, Cairan
dialysis (ultra bag / twin bag system), Minicap, Outlet port clamps (untuk twin bag
system).

Sistem Ultraset
set, Cairan

/ Easi-Y_system

: Kateter, Konektor titanium, Short transfer

dialysis, Minicap, Outlet

port

Clamps

(untuk

sistem

kantung

kembar), Ultra set / Easi-Y set, Kantong drainase untuk Easi-Y system.
Prosedur
Cairan dialysis 2 L dimasukkan dalam rongga peritoneum melalui catheter tunchoff, didiamkan
untuk waktu tertentu (6 8 jam) dan peritoneum bekerja sebagai membrane semi permeable
untuk mengambil sisa-sisa metabolisme dan kelebihan air dari darah.
Osmosis, difusi dan konveksi akan terjadi dalam rongga peritoneum. Setelah dwell time selesai
cairan akan dikeluarkan dari rongga peritoneum melalui catheter yang sama, proses ini
berlangsung 3 4 kali dalam sehari selama 7 hari dalam seminggu.

Difusi

Membrane peritoneum menyaring solute dan air dari darah ke rongga peritoneum dan sebaliknya
melalui difusi.
Difusi adalah proses perpindahan solute dari daerah yang berkonsentrasi tinggi ke daerah yang
berkonsentrasi rendah, dimana proses ini berlangsung ketika cairan dialisat dimasukkan ke dalam
rongga peritoneum.
Konsentrasi cairan CAPD lebih rendah dari plasma darah, karena cairan plasma banyak
mengandung toksin uremik. Toksin uremik berpindah dari plasma ke cairan CAPD.

Osmosis

Osmosis adalah perpindahan air melewati membrane semi permeable dari daerah solute yang
berkonsentrasi rendah (kadar air tinggi) ke daerah solute berkonsentrasi tinggi (kadar air rendah).
Osmosis dipengaruhi oleh tekanan osmotic dan hidrostatik antara darah dan cairan dialisat.
Osmosis pada peritoneum terjadi karena glukosa pada cairan CAPD menyebabkan tekanan
osmotic cairan CAPD lebih tinggi (hipertonik) dibanding plasma, sehingga air akan berpindah
dari kapiler pembuluh darah ke cairan dialisat (ultrafiltrasi)
Kandungan glucose yang lebih tinggi akan mengambil air lebih banyak. Cairan melewati
membrane lebih cepat dari pada solute. Untuk itu diperlukan dwell time yang lebih panjang
untuk menarik solute.
Untuk membantu mengeluarkan kelebihan air dalam darah, maka cairan dialisat menyediakan
beberapa jenis konsentrasi yang berbeda :
Baxter : 1,5%, 2,5%, 4,25%
Frescenius

: 1,3%, 2,3%, 4,25%

Evaluasi

Pasien dapat mengetahui batasan intake cairan dan mengontrol cairan

Pasien dapat mengatasi nyeri

Pasien dapat memaksimalkan dalam bernafas dan melakukan aktivitaa

Prosedur CAPD
Definisi
Continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) adalah teknik dialisis mandiri dengan
menggunakan 2 liter dialisat penukar 4 kali sehari, dimana pertukaran terakir pada jam
tidur, sehingga cairan dibiarkan di dalam rongga peritoneal semalam.
Tujuan

CAPD Sebagai terapi pengganti, kegiatan CAPD mempunyai tujuan :

Membuang produk metabolisme protein seperti urea, kreatinin dan asam urat

Mempertahankan atau mengembalikan system buffer tubuh.

Mempertahankan atau mengembalikan kadar elektrolit tubuh

Memperbaiki status kesehatan penderita

Indikasi
CAPD merupakan terapi pilihan bagi pasien yang ingin melaksanakan dialysis sendiri
dirumah, indikasi CAPD adalah pasien-pasien yang

menjalani HD rumatan

(maintenence) atau HD kronis yang mempunyai masalah dengan

caraterapi yang

sekarang, seperti gangguan fungsi atau kegagalan alat untuk akses vaskuler, rasa haus
yang berlebihan, hipertensi berat, sakit kepala pasca dialisisdan anemia berat
yang memerlukan transfusi. Penyakit ginjal stadium terminal yang terjadi akibat
diabetes

sering dipertimbangkan sebagai indikasi untuk dilakukan CAPD karena

hipertensi,uremia dan hiperglikemia lebih mudah diatasi dengan cara ini dari pada HD.
Pasien lansia dapat memanfaatkan teknik CAPD dengan baik jika keluarga
atau masyarakat memberikan dukungan. Pasien yang aktif dalam penanganan
penyakitnya,menginginkan lebih banyak kebebasan dan memiliki motivasi

serta

keinginan untuk melaksanakan penanganan yang diperlukan sangat sesuai dengan terapi
CAPD. Selain kemampuan

pasien

dukungan

dari

keluarga

untuk melasanakan

CAPD harus dipertimbangkan ketika memilih terapi ini.Pasien memilih CAPD agar
bebas dari ketergantungannya pada mesin, mengontrol sendiri aktifitasnya seharihari menghindari pembatasan makanan meningkatkan asupancairan, menaikkan nilai
hematokrit serum, memperbaiki kontrol tekananan darah, bebasdari keharusan
pemasangan jarum infuse (venipuncture) dan merasa sehat secara umummeskipun
CAPD

memberi kesan

pasien tampak bebas,

terapinya

berlangsung

secara

kontinyu sehingga pasien harus menjalani dialisis selama 24 jam /hari setiap
hari

Kontraindikasi

Perlekatan akibat pembedahan atau penyakit inflamasi sistemik sebelumnya.

Perlekatan akan mengurangi klirens solut. Nyeri punggung kronis yang rekuren
di

sertai

riwayat

kelainan

pada

diskus intervertebralis dapat diperburuk oleh

tekanan cairan dialisat dalam abdomen yang kontinyu

Adanya riwayat kolostomi, ileostomi, nefrostomi atau ileal conduit dapat meningkatkan
resiko peritonitis walaupun tindakan operasi tersebut bukan kontraindikasi absolut untuk
CAPD

Pasien dengan pengobatan imunosupresif akan mengalami komplikasi akibat


kesembuhan luka yang buruk pada lokasi pemasangan kateter.

Diverkulitis mengingat CAPD pernah disertai adanya ruptur divertikulum.

Pasien dengan artritis atau kekuatan tangan menurun karena akan memerlukan
bantuandalam melaksanakan pertukaran cairan

Persiapan Alat
1.

Ultrabag / twinbag sistem : Kateter, Konektor titanium, Short transfer set, Cairan dialysis

(ultra bag / twin bag system), Minicap, Outlet port clamps (untuk twin bag system).
2.

Sistem Ultraset / Easi-Y_system : Kateter, Konektor titanium, Short transfer set, Cairan

dialysis, Minicap, Outlet port Clamps (untuk sistem kantung kembar), Ultra set / Easi-Y set,
Kantong drainase untuk Easi-Y system.
Prosedur
Cairan dialisa dimasukkan melalui sebuah kateter atau selang kecil yang menembus dinding
perut sampai ke dalam rongga perut. Cairan harus dibiarkan selama tiga hingga lima jam
sehingga limbah metabolik dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut.
Setelah itu, cairan tersebut dikeluarkan, dibuang, dan diganti dengan cairan dialisa yang baru.
Kemudian, darah dibersihkan melalui pembuluh darah kecil peritoneum.
Evaluasi

Pasien menunjukan berat badan stabil atau peningkatan mencapai tujuan dalam nilai
laboratorium normal dan tidak ada tanda mallnutrisi.

Pasien dapat mempertahankan

mobilitas atau fungsi yang optimal;menunjukan

peningkatan kekuatan otot;dan bebas dari komplikasi.

Pasien dapat berpartisipasi pada aktifitas sehari-hari dalam tingkat kemampuan yang
diperbolehkan

Daftar Pustaka
Suharyanto,Madjid. 2009. Asuhan keperawatan pada kliem dengan gangguan sistem
perkemihan.Jakarta: CV.TRANS INFO MEDIA.
Saputra.L. 2014. Organ System:visual nursing, genitourinaria. Tangerang Selatan: BINARUPA
AKSARA Publisher.