Anda di halaman 1dari 6

BAB II

PEMBAHASAN

Identitas Pasien
Nama

: Ny. Iwat Wati

Umur

: 54 tahun (umumnya presbikusis terjadi pada usia

65 tahun seiring dengan degenerasi dari organ koklea dan persarafannya. Pada
pasien ini proses degenerasi dapat terjadi lebih awal yang mungkin disebabkan
oleh keadaan multifaktorial pada pasien seperti riwayat darah tinggi, gaya hidup,
dan lingkungan).
No Med Rec

: 398978

Tanggal Pemeriksaan

: 30 Oktober 2015

Alamat

: Jl. Pabrik Asri No.4 RT 2/5

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Anamnesis
Keluhan Utama

: Pendengaran menurun pada kedua telinga. (Bilateral,

tanda degenerasi)

10

Anamnesis Khusus

Keluhan pendengaran menurun pada kedua telinga dirasakan sejak kurang


lebih 6 bulan yang lalu dan dirasakan semakin memberat (menunjukkan adanya
perjalanan penyakit yang kronik dan bersifat progresif). Keluhan disertai rasa
gatal, nyeri yang terkadang dirasakan pada kedua telinga (gejala subjektif dari
pasien yang muncul akibat adanya serumen, nyeri timbul karena adanya faktor
kelelahan saraf). Keluhan kedua telinga terasa bergemuruh tidak ada, telinga
berdenging tidak ada. Riwayat keluar cairan dari kedua telinga juga tidak
dikeluhkan oleh pasien. (mencari diagnosis banding yang terjadi pada telinga
luar, tengah dan dalam)
Pasien juga terkadang mengeluhkan adanya pusing. (pada presbikusis
terjadi degenerasi struktur koklea dan N.VIII, terutama terjadi atrofi dan
degenerasi sel-sel rambut penunjang pada organ corti, adanya rangsangan suara
yang masuk organ koklea tersebut akan menimbulkan penurunan ambang
dengar)

Keluhan seperti ini baru pertama kali pasien rasakan. Pasien tidak

memiliki riwayat trauma sebelumnya dan riwayat konsumsi obat-obatan yang


diminum secara rutin juga ada yaitu obat hipertensi. (untuk mengetahui faktor
predisposisi dari penurunan pendengaran). Riwayat hipertesi pada pasien ada,
penyakit gula tidak ada. (terdapat faktor risiko pada pasien yang dapat
menyebabkan penurunan pendengaran). Keluhan ini belum pernah pasien obati
sebelumnya. (mencari tahu riwayat pengobatan sebelumnya).

11

Status Generalis
Dalam batas normal
Status Lokalis

Pada pemeriksaan preaurikular, aurikular maupun retroaurikular tidak

ditemukan adanya kelainan. (tidak terdapat kelainan telinga luar).


Auris dextra & sinistra baik canalis akustikus eksternus, membran timpani

dalam batas normal. (tidak terdapat kelainan telinga tengah).


Pemeriksaan tes suara, uji garpu tala (Rinne, Weber, Scwabach)
didapatkan kesimpulan adanya tuli sensorineural. (terdapat kelainan pada

organ telinga dalam).


Tidak terdapat kelainan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan cavum

nasi, transiluminasi, orofaring, tonsil maupun faring.


Sulit dilakukan penilaian pada pemeriksaan rhinoskopi posterior dan
laringoskopi indirect.

Pemeriksaan Penunjang
1. Tes Suara
Hasil yang didapatkan pada pasien adalah pasien dapat mendengar suara
normal dari jarak satu meter baik telinga kiri ataupun telinga kanan. Pada
pemeriksaan, pasien tidak mampu mendengarkan suara bisikan dari jarak 1 meter
yang pada orang normal dapat mendengar suara ini. Berdasarkan interpretasi hasil
pemeriksaan, didapatkan bahwa pasien memiliki gangguan pendengaran derajat
ringan pada kedua telinga.

12

2. Tes Garpu Tala


Pada pemeriksaan garpu tala dilakukan Uji Rinne, Uji Webber dan Uji
Schwabach. Pada Uji Rinne kedua telinga didapatkan hasil positif dimana
hantaran tulang lebih kecil dibandingkan hantaran udara pada kedua telinga. Pada
Uji Webber tidak didapatkan lateralisasi pada kedua telinga. Pada Uji Schwabach
didapatkan hasil hantaran tulang pasien memendek dibandingkan dengan
pemeriksa.
Berdasarkan hasil pemeriksaan garpu tala dapat disimpulkan bahwa pasien
mengalami gangguan dengar sensorineural dengan derajat ringan pada kedua
telinga.
3. Pemeriksaan Audiometri
Pada pemeriksaan Audiometri didapatkan pada telinga kanan memiliki
rata-rata hantaran udara 50 dB dan rata-rata hantaran tulang 36,25 dB. Sedangkan
pada telinga kiri memiliki hantaran udara 37,8 dB dan rata-rata hantaran tulang
36,25 dB.
Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pasien
mengalami gangguan dengar sensorineural.

Diagnosis Banding

13

1. Presbikusis (pasien mengeluhkan adanya penurunan pendengaran tanpa


disertai kelainan pada telinga luar maupun tengah. Gejala yang ditemukan
adalah tinitus, pusing, nyeri (gejala rekruitmen). Dari hasil pemeriksaan
garpu tala menunjukkan adanya tuli sensorineural dan audiogram
menunjukkan gambaran tuli sensorineural derajat ringan bilateral).
2. Ototoksik (memiliki gejala gangguan pendengaran yang serupa namun
pada pasien tidak terdapat riwayat menggunakan obat-obatan dalam
jangka waktu panjang).
3. Tuli mendadak (pada pasien didapatkan adanya hipertensi yang dapat
berperan sebagai predisposisi yang menyebabkan iskemia koklea namun
dapat dibedakan dari onset).
Diagnosis Kerja
Presbikusis
Penatalaksanaan
Menggunakan alat bantu dengar (ABD), melakukan auditory training maupun
speech reading. (meningkatkan kemampuan pendengaran pada pasien (meskipun
tidak maksimal)).
Prognosis
Quo Ad Vitam

: Ad Bonam (karena tidak mengancam jiwa)

Quo Ad Fungtionam : Ad Malam (karena fungsi pendengaran tidak akan


kembali secara maksimal).
BHP

14

Beneficence: penegakan diagnosis dengan tepat berdasarkan anamnesis,


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Non Maleficence: menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit pasien,
pengobatan yang akan dilakukan.