Anda di halaman 1dari 18

Kendala yang dianggap paling besar di kalangan

wirausaha kecil dan pemula di Indonesia adalah


masalah permodalan. Karena begitu seringnya
persoalan ini disorot oleh berbagai pihak, maka isu
ini berkembang menjadi isu nasional.
Penyebab yang umum dianggap sebagai faktor
utama dalam masalah permodalan adalah : tidak
adanya sistem manajemen yang bisa dipakai untuk
mengetahui kinerja usaha, terlalu kecilnya lingkup
usaha yang dijalankan, tidak memiliki jaminan atau
agunan, prospek yang tidak jelas, dll.

Ada 3 (tiga) hal penting yang patut menjadi


perhatian kita tentang masalah modal di
kalangan wirausaha kecil :
Masyarakat

Indonesia rata-rata berpandangan


bahwa untuk memulai usaha, modal uang adalah
persyaratan nomor 1(satu). Tanpa uang, usaha
tidak akan dapat dimulai. Ini akhirnya yang
menyebabkan kebanyakan kita lebih memilih
mencari pekerjaan sebagai pegawai, karyawan
ataupun buruh. Lowongan yang terbatas
mengakibatkan banyak yang tidak tertampung dan
menjadi pengangguran.

Ada 3 (tiga) jenis pengangguran yang ada di


Indonesia :
Pengangguran terbuka (open unemployment)

orang yang secara total tidak mempunyai kegiatan


apapun.
Pengangguran terselubung (disguissed

unemployment)
orang yang bekerja sukarela yang lebih sering tanpa
digaji, tenaga kerja yang tidak produktif.
Semi pengangguran (under unemployment)

orang yang bekerja paroh waktu atau sambilan.

Kenyataan bahwa hampir semua wirausaha kecil

Indonesia berangkat dari keadaan ekonomi yang


benar-benar lemah, sehingga mereka mencari
nafkah hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar
saja. Keadaan yang memaksa mereka menjadi
pengusaha.
Konsekwensi dari keterbatasan baik dari segi

ekonomi maupun dari segi intelektualitas, sehingga


para pengusaha kecil memulai dan menjalankan
aktifitasnya secara apa adanya. Mereka hanya tahu
perlunya modal untuk menjalankan usaha, sehingga
tidak acuh terhadap bantuan dalam segi
manajemen, pendidikan, pelatihan, dll.

Bagi seorang wirausaha sejati, modal tidak hanya


berupa uang, tidak pula cuma yang berbentuk materi
atau fisik.
Ada 2 (dua) jenis modal, yaitu :
Modal Fisik
terdiri dari segala sesuatu yang berbentuk materi atau benda,
seperti : uang, tanah, bangunan, kenderaan, dsb. Modal fisik
biasanya mempunyai nilai komersial (bisa dinilai dengan uang).
Modal Non Fisik
kebalikan dari fisik, tidak dapat diukur secara materi, karena
biasanya terdiri dari nilai-nilai kualitas pribadi si wirausaha, seperti :
motivasi, pengetahuan, keahlian, tenaga, dan juga waktu. Dalam
ilmu kewirausahaan, modal non fisik dianggap jauh lebih penting
daripada modal fisik.

Kebutuhan modal fisik hanya dapat tersedia


apabila wirausaha mempunyai salah satu
dari 3 (tiga) macam pendekatan yang umum
dilakukan untuk mendapatkan modal usaha,
yaitu :
Modal

Milik Sendiri
Modal Pinjaman
Modal Kerjasama

Menggunakan dana milik sendiri sebenarnya


merupakan salah satu pilihan yang baik, karena
wirausahawan terbebas dari beban-beban yang
muncul dari pihak lain.
Bentuk kepemilikannya bermacam-macam, ada
yang memang sengaja menabung selama ia
bekerja menjadi karyawan, ada yang menerima
warisan, pesangon, uang dari hasil penjualan
barang-barang, atau mungkin juga dari orang lain
yang menaruh simpati dan berutang budi kepada
kita.

Pilihan alternatif bagi yang tidak mempunyai


cukup uang untuk berusaha atau karena
pertimbangan lainnya, adalah dengan mencari
dana pinjaman. Cara ini sangat lumrah di dalam
dunia bisnis.
Ada beberapa sumber yang dapat dijadikan
sebagai tempat bagi seorang wirausaha untuk
mendapatkan dana pinjaman, seperti :

Rentenir
Rentenir merupakan orang yang mencari
penghasilan dengan jalan melepas uang kepada
orang-orang yang membutuhkan dengan
membebankan bunga atas si peminjam. Bunga
rentenir pada umumnya sangat tinggi, sehingga
terasa amat mencekik leher para peminjamnya.
Jasa rentenir bisa dipergunakan untuk menutup
transaksi-transaksi berjangka pendek, yang
ordernya sudah pasti diperoleh.

Perbankan
Perbankan merupakan sarana alternatif untuk
mendapatkan pinjaman dana dengan prosedur
standar yang tidak bisa ditawar-tawar. Persyaratan
seperti adanya agunan (jaminan) berupa benda
ataupun hal-hal lainnya membuat seorang wirausaha
harus memang benar-benar yakin akan usaha yang
akan ditekuninya.
Persyaratan lainnya biasanya apabila kita meminjam
dana dari sebuah bank, maka uang yang dipinjamkan
itu harus disimpan di bank itu pula.
Sementara kemudahan yang didapatkan dengan
meminjam di bank adalah jangka waktu peminjaman
yang bisa diatur bersama antara kedua belah pihak
dengan mengikuti aturan main yang berlaku pada
bank tersebut.

Leasing
Cara ini agak berbeda dari jenis pinjaman lainnya,
karena yang umum dilakukan oleh perusahaan leasing
adalah meminjamkan modal investasi dalam bentuk
barang. Untuk dapat meningkatkan efisiensi
penggunaan dana, maka seluruh peralatan yang
diperlukan untuk operasional tersebut tidak dibeli
secara tunai, tapi diserahkan pada perusahaan
leasing. Perusahaan inilah yang menangani
pengadaannya, dan si peminjam lah yang akan
membayar penggantian biaya pembelian berikut bunga
secara angsuran.

Koperasi Simpan Pinjam


Bagi para wirausaha kecil yang baru memulai usaha,
terkadang agak sulit untuk berharap mendapat pinjaman
dari bank. Disinilah peranan dari pemanfaatan jasa
koperasi, khususnya koperasi simpan pinjam.
Untuk mengajukan pinjaman, syaratnya harus terdaftar
menjadi anggota koperasi simpan pinjam tersebut. Uang
yang dipinjamkan berasal dari iuran para anggota ditambah
dari hasil usaha koperasi lainnya.
Bunganya memang agak lebih tinggi, akan tetapi dengan
kemudahan prosedur disertai tidak adanya keharusan
memiliki agunan, hal ini bisa dijadikan alternatif bagi para
pemula bisnis.

Untuk wirausahawan yang mengutamakan


kehati-hatian serta tidak terlalu mementingkan
ambisi perseorangan, tersedia beberapa pilihan
lain yang lebih aman dan lebih efektif, antara
lain : mencari peluang untuk menjadi
Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) dari
sebuah Perusahaan Modal Ventura, atau
mencari mitra usaha, patungan, ataupun
kongsi.

Perusahaan Modal Ventura (PMV) adalah sebuah


perusahaan yang juga mempunyai misi dukungan
finansial terhadap perusahaan lain, sebagai mitra
usahanya.
Perusahaan ini beroperasi dengan cara mencari
perusahaan yang berpotensi untuk maju dan menjadi
besar, dan kemudian menawarkan diri untuk menjadi
mitra usaha. Dalam kemitraan tersebut, PMV akan
menyediakan dana tambahan modal, sehingga
diharapkan terjadi sinergi yang kuat yang
memungkinkan perusahaan dapat berkembang yang
pada gilirannya nanti PMV akan mendapatkan porsi
bagi hasil dari seluruh keuntungan yang diperoleh
dengan komposisi tertentu.

Suatu bentuk kerjasama yang paling sederhana


adalah apabila ada seseorang yang bersepakat
dengan orang lin untuk bersama-sama mendirikan
sebuah usaha, maka kerjasama semacam ini
disebut sebagi kongsi, atau dengan kata lain
kemitraan.
Kongsi ini bisa dibentuk dari 2 atau 3 orang,
tergantung keinginan dan kebutuhan.
Ada beberapa hal yang menyebabkan orang
melakukan kerjasama, antar lain :

Bentuk kerjasama sederajat, yaitu apabila 2 orang


atau lebih bergabung dengan sama-sama
menyatukan sejumlah uang sebagai modal.
Bentuk kerjasama saling mengisi, terjadi apabila
dua pihak yang berlainan sumber daya saling
bersepakat untuk bermitra mendirikan suatu badan
usaha, misalnya si A memiliki modal keuangan,
dan si B memiliki modal keahlian.
Kerjasama dalam bentuk ikatan kepegawaian,
ialah bila dalam satu kondisi tertentu terjadi bahwa
si A menempatkan diri sebagai pegawai atau
karyawan dari si B. Jelas dalam hal ini mereka
berdua mempunyai kedudukan yang berbeda.

Kalaupun usaha menggali sumber-sumber


permodalan masih juga tidak berhasil, tetap saja mulai
usaha dengan fasilitas yang anda miliki.
Sudah menjadi hukum alam bahwa sesuatu pada
awalnya akan terasa berat. Hanya ada satu cara
mengatasi semua perasaan berat itu, yakni bertindak
dan bertindak.
Kalau anda bertindak dan melakukan kesalahan,
setidaknya anda belajar sesuatu entah secara mental,
emosional, atau fisik.
Ingatlah bahwa kegagalan yang sebenarnya adalah
tidak belajar dari kesalahan atau kegagalan
sebelumnya.

Anda mungkin juga menyukai