Anda di halaman 1dari 35

ASKEP GANGGUAN POLA

URINARI
YOSI OKTARINA, M.KEP

Miksi
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang
stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih
dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang
berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek
kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama
terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi
spinter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan
kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi
kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan
melalui serabut serabut para simpatis. Kontraksi sfinger
eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau
menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi
bila saraf saraf yang menangani kandung kemih uretra
medula spinalis dan otak masih utuh. Bila terjadi kerusakan
pada saraf saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia
urin (kencing keluar terus menerus tanpa disadari) dan
retensi urine (kencing tertahan).

Retensi Urine
Retensi urine adalah ketidakmampuan

untuk mengosongkan isi kandung kemih


sepenuhnya selama proses pengeluaran
urine. (Brunner and Suddarth. (2010).
Retensi urine adalah suatu keadaan
penumpukan urine di kandung kemih dan
tidak mempunyai kemampuan untuk
mengosongkannya secara
sempurna.Retensio urine adalah kesulitan
miksi karena kegagalan urine dari fesika
urinaria.(Kapita SelektaKedokteran).

Etiologi
Supravesikel

Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama


teregang, atoni pada pasien DM ataupenyakit
neurologist, divertikel yang besar.
Intravesikal berupa pembesaran prostate, kekakuan
leher vesika, striktur, batu kecil,tumor pada leher
vesika, atau fimosis.
Dapat disebabkan oleh kecemasan, kelainan patologi
urethra(infeksi, tumor, kalkulus), trauma, disfungsi
neurogenik kandung kemih.
Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik
antispasmotik (atropine), preparatantidepressant
antipsikotik (Fenotiazin), preparat antihistamin
(Pseudoefedrin hidroklorida= Sudafed), preparat
penyekat adrenergic (Propanolol), preparat
antihipertensi(hidralasin)

Patofisiologi
Pada retensio urine, penderita tidak dapat miksi, buli-

buli penuh disertai rasa sakit yanghebat di daerah


suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai
mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi,
faktor obat dan faktor lainnya seperti ansietas,
kelainanpatologi urethra, trauma dan lain sebagainya.
Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi supravesikal
berupa kerusakan pusat miksi di medulla spinalis
menyebabkan keruskaan simpatis dan parasimpatis
sebagian atau seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi
dengan otot detrusor yang mengakibatkan tidak adanya
atau menurunnya relaksasi otot spinkter internal,vesikal
berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang,
intravesikal berupa hipertrofiprostate, tumor atau
kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil menyebabkan
obstruksi urethra sehingga urine sisa meningkat dan
terjadi dilatasi bladder kemudian distensia abdomen.

Faktor obat dapat mempengaruhi proses BAK,

menurunkan tekanan darah, menurunkan filtrasi


glumerolus sehingga menyebabkan produksi urine
menurun.
Faktor lainberupa kecemasan, kelainan patologi urethra,
trauma dan lain sebagainya yang dapat meningkatkan
tensi otot perut, peri anal, spinkter anal eksterna tidak
dapat relaksasi denganbaik.
Dari semua faktor di atas menyebabkan urine mengalir
lambat kemudian terjadi poliuria karenapengosongan
kandungkemih tidakefisien.
Selanjutnyaterjadidistensi bladderdan distensi
abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah satunya
berupa kateterisasi urethra.

Tanda dan gejala


Diawali dengan urine mengalir lambat.
Kemudian terjadi poliuria yang makin lama

menjadi parah karena pengosongan


kandungkemih tidak efisien.
Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi
kandung kemih.
Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri
danmerasa ingin BAK.
Pada retensi berat bisamencapai 2000
-3000 cc.

Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan specimen urine (Pengambilan:

steril, random, midstream.


Pemerikaan umum: pH, BJ, Kultur, Protein,
Glukosa, Hb, Keton, Nitrit.
Sistoscopi
IVP.

Penatalaksanaan
Kateterisasi urethra.
Drainage suprapubic

Komplikasi
Urolitiasis atau nefrolitiasis
Pielonefritis
Hydronefrosis
Pendarahan
Ekstravasasi urine

PENGKAJIAN
Kaji kapan klien terakhir kali buang air kecil

dan berapa banyak urin yang keluar.


Kaji adanya nyeri pada daerah abdomen.
Perkusi pada area supra pubik, apakah
menghasilkan bunyi pekak yang
menunjukkan distensi kandung kemih.
Kaji pola nutrisi dan cairan.

Diagnosa dan Intervensi


Gangguan pola eliminasi urin (Retensi urin) berhubungan dengan
ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan
adekuat, infeksi bladder, gangguan neurology, hilangnya tonus
jaringan perianal, efek terapi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam
masalah retensi urine dapat teratasi.
Kriteria hasil : - Berkemih dengan jumlah yang cukup
- Tidak teraba distensi kandung kemih
Intervensi :
1) Dorong pasien utnuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba
dirasakan.
R : Meminimalkan retensi urin dan distensi berlebihan pada kandung
kemih.
2) Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih.
R : Retensi urin meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan
atas.
3) Perkusi/palpasi area suprapubik
R: Distensi kandung kemih dapat dirasakan diarea suprapubik.

nyeri berhubungan dengan distensi pada kandung kemih.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah
nyeri dapat teratasi.
Kriteria hasil : - Menyatakan nyeri hilang / terkontrol
- Menunjukkan rileks, istirahat dan peningkatan aktivitas dengan tepat
Intervensi :
1) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas nyeri.
R : Memberikan informasi untuk membantu dalam menetukan
intervensi.
2) Pertahankan tirah baring bila diindikasikan nyeri.
R : Tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama fase retensi akut.
3) Pasang kateter
R : untuk kelancaran drainase.
4) Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdomen.
R : Mencegah penarikan kandung kemih dan erosi pertemuan penisskrotal.
5) Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi, contoh eperidin.

INKONTINENSIA URINE

Inkontinensia urin merupakan eliminasi urin

dari kandung kemih yang tidak terkendali


atau terjadi diluar keinginan.(Brunner &
Suddart. 2002)
Inkontinensia urin merupakan urin yang
keluar tidak terkendali dan tidak diduga.
(Mary Baradero,dkk. 2009)
Inkontinensia urin ialah kehilangan kontrol
berkemih yang dapat bersifat sementara
atau menetap. (Potter & Perry. 2006)

KLASIFIKASI
Inkontinensia stress
Merupakan eliminasi urin diluar keinginan melalui uretra
sebagai akibat dari peningkatan mendadak pada tekanan
intra-abdomen. Tipe inkontinensia ini paling sering
ditemukan pada wanita dan dapat disebabkan oleh cedera
obstetric, lesi kolum vesika urinaria, kelainan ekstrinsik
pelvis, fistula, disfungsi detrusor dan sejumlah keadaan
lainnya. Disamping itu, gangguan ini dapat terjadi karena
kelainan congenital (ekstrofi vesika urinaria, ureter ektopik).
Inkontinensia urgensi
Terjadi bila pasien merasakan dorongan atau keinginan
untuk urinasi tetapi tidak mampu menahannya cukup lama
sebelum mencapai toilet. Pada banyak kasus, kontraksi
kandung kemih yang tidak dihambat merupakan factor yang
menyertai; keadaan ini dapat terjadi pada pasien disfungsi
neurologi yang mengganggu penghambatan kontraksi
kandung kemih atau pada pasien dengan gejala local iritasi
akibat infeksi saluran kemih atau tumor kandung kemih.

Inkontinensia overflow

Ditandai oleh eliminasi urin yang sering dan


kadang-kadang terjadi hampir terus-menerus dari
kandung kemih. Kandung kemih tidak dapat
mengosongkan isinya secara normal dan
mengalami distensi yang berlebihan. Meskipun
eliminasi urin terjadi dengan sering,kandung kemih
tidak pernah kosong. Inkontinensia overflow dapat
disebabkan oleh kelainan neurologi (yaitu, lesi
medulla spinalis) atau oleh faktor-faktor yang
menyumbat saluran keluar urin (yaitu penggunaan
obat-obatan, tumor, struktur dan hyperplasia
prostat).

Inkontinensia fungsional

Merupakan inkontinensia dengan fungsi saluran


kemih bagian bawah yang utuh tetapi ada faktor
lain, seperti gangguan kognitif berat yang membuat
sulit untuk mengidentifikasi perlunya urinasi
(misalnya demensia Alzheimer) atau gangguan fisik
yang menyebabkan pasien sulit atau tidak mungkin
menjangkau toilet untuk melakukan urinasi.
Inkontinensia reflex
Merupakan kehilangan urin yang tidak disadari bila
volume tertentu telah tercapai, terjadi pada Interval
yang dapat diperkirakan. Gangguan neurologic
seperti pada lesi sum-sum tulang belakang.

ETIOLOGI
Cerebral clouding

Merupakan gangguan pengendalian serebral berupa


status mental yang disifatkan dengan bingung,
penurunan persepsi, kurang perhatian dan
mengakibatkan disorientasi terhadap waktu, tempat,
dan lain-lain.
Hilangnya kemampuan di luar kesadaran pembukaan
spinchter eksterna
Infeksi
Infeksi di mana saja akan berdampak inkontine, karena
bakteri pada saluran kemih akan menyebabkan iritasi
pada lapiasan mukosa kandung kemih dan menstimlir
rehrovesicaurinaria. Inkontinensia dapat terjadi
sebagai dampak dari ketidakmampuan untuk menahan
refleks urethrovesica urinaria dengan sempurna oleh
pusat-pusat yang lenih tinggi

Gangguan jalur dari saraf pusat (lesi korteks)


Lesi neuron atas

kandung kencing otomatis . Kandung kemih menjadi


hipertosis dan hanya mempunyai sedikit kapasitas
(kurang dari 150 ml). Peningkatan tonus destrusor
dan peningkatan sensitifitas terhadap jumlah urine
yang sedikit di dalam kandung kemih berdampak
mendahului refleks berkemih
Lesi motor neuron bawah
Akan menyebabkan kandung kemih hipotonis
Kerusakan jaringan
Kerusakan jaringan dari spinchter kandung kemih
oleh instrumen, bedah, kecelakaan, parut yang
ditinggalkan infeksi,lesi yang mengenai spinchter
akan menyebabkan inkontinensi

Manifestasi Klinis
1. Inkontinensia stress : Keluarnya urin selama

batuk, mengedan, dan sebagainya. Gejala-gejala


ini sangat spesifik untuk inkontinensia stress.
2. Inkontinensia urgensi : ketidak mampuan
menahan keluarnya urin dengan gambaran
seringnya terburu-buru untuk berkemih.
3. Enuresis nocturnal : 10% anak usian 5 tahun
dan 5% anak usia 10 tahun mengompol selama
tidur. Mengompol pada anak yang lebih tua
merupakan sesuatu yang abnormal dan
menunjukan adanya kandung kemih yang tidak
stabil.

Contd..
4. Gejala infeksi urine (frekuensi, disuria,
nokturia), obstruksi(pancara lemah,
menetes), trauma (termasuk pembedahan,
misalnya reseksi abdominoperineal), fistula
(menetes terus menerus), penyakit
neurologis (disfungsi seksual atau usus
besar) atau penyakit sistemik (misalnya
diabetes) dapat menunjukan penyakit yang
mendasari.
5. Ketidak nyamanan daerah pubis.
6. Distensi vesika urinaria.

Contd...
7. Ketidak sanggupan untuk berkemih.
8.Sering berkemih saat vesika urinaria berisi
sedikit urine (20-50 ml).
9. Ketidak seimbangan jumlah urine yang
dikeluarkan dengan asupannya.
10. Meningkatnya keresahan dan keinginan
berkemih

Penatalaksnaan
Kateterisasi

Ada tiga macam kateterisasi pada inkontinensia urine :


a. Kateterisasi luar
Terutama pada pria yang memakai system kateter kondom. Efek
samping yang utama adalah iritasipad kulit dan sering lepas.
b. Katerisasi intermiten
Katerisasi secara intermiten dapat dicoba, terutam pada wanita
lanjut usia yang menderita inkontinensia urine. Frekuensi
pemasangan 2-4x sehari dengan sangat memperhatikan
sterilisasi dan tehnik prosedurnya.
c. Kateterisasi secar menetap
Pemasangan kateter secara menetap harus benar-benar
dibatasi pada indikasi yang tepat. Misalnya untuk ulkus
dekubitus yang terganggu penyembuhannya karena ada
inkontinensia urine ini. Komplikasi dari kateterisasi secara terusmenerus ini disamping infeksi. Juga menyebabkan batu kandung
kemih, abses ginjal dan bahkan proses keganasan dari saluran
kemih.

Medikasi
Estrogen, untuk mengurangi atropik vanigitis
uretra dan memulihkan uretra yang supel
Antikolinergik, untuk mengurangi spastisitas
kandung kemih, relaksasi otot.
Kolinergik, untuk memperbaiki kandung kemih
yang flaksid dengan menstimulasi kontraksi
kandung kemih.
Penyekat alfa-adrenergik, untuk mengurangi
spastisitas leher kandung kemih
Simpatomimetik, untuk meningkatkan tonus
leher kandung kemih dan uretra
Penyekat saluran kalsium, untuk mengurangi
kontraksi otot detrusor.

Diet
Modifikasi diet terdiri dari penjadwalan
asupan cairan. Asupan cairan setelah
makan malam perlu dikurangi.makanan
yang dapat menstimulasi kandung kemih
perlu dihindari, misalnya kopi, teh, alkohol,
dan cokelat.

Pemeriksaan Penunjang
1. Mengukur sisa urine setelah berkemih

Dilakukan dengan cara : Setelah buang air kecil,


pasang kateter, urin yang keluar melalui kateter
diukur atau menggunakan pemeriksaan ultrasonik
pelvis, bila sisa urin > 100 cc berarti pengosongan
kandung kemih tidak adekuat. Urinalisis, dilakukan
terhadap spesimen urine yang bersih untuk
mendeteksi adanya factor yang berperan terhadap
terjadinya inkontinensia urin seperti hematuri,
piouri, bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria. Tes
diagnostik lanjutan perlu dilanjutkan bila evaluasi
awal didiagnosis belum jelas.

2. Tes laboratorium : kultur urin, blood urea nitrogen,


creatinin, kalsium glukosa sitologi
3. Imaging
4. Catatan berkemih
Catatan berkemih dilakukan untuk mengetahui pola
berkemih. Catatan ini digunakan untuk mencatat
waktu dan jumlah urin saat mengalami inkontinensia
urin dan tidak inkontinensia urin, dan gejala berkaitan
dengan inkontinensia urin. Pencatatan pola berkemih
tersebut dilakukan selama 1-3 hari. Catatan tersebut
dapat digunakan untuk memantau respon terapi dan
juga dapat dipakai sebagai intervensi terapeutik
karena dapat menyadarkan pasien faktor-faktor yang
memicu terjadinya inkontinensia urin pada dirinya.
5. Urinalisis
6. Uroflowmeter

7. Usg Kandng kemih, sistoskopi, IVP


8. Sistometrogram dan elektromiogram

Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian

Identitas klien
Riwayat kesehatan

-Riwayat kesehatan sekarang


Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah
ada sesuatu yang mendahului inkonteninsia
(stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan
cairan, usia/kondisi fisik, kekuatan
dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan
dengan waktu miksi. Apakah ada penggunaan
diuretik, terasa ingin berkemih sebelum terjadi
inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan.

- Riwayat kesehatan dahulu.


Apakah klien pernah mengalami penyakit serupa
sebelumnya, riwayat urinasi dan catatan eliminasi
klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera
genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi saluran
kemih dan apakah dirawat dirumah sakit.
- Riwayat kesehatan keluarga.
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang
menderita penyakit serupa dengan klien dan
apakah ada riwayat penyakit bawaan atau
keturunan, penyakit ginjal bawaan/bukan bawaan.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum dan pemeriksaan sistem

Diagnosa dan INtervensi


1. Gangguan eliminasi urine b/d gangguan

sensori motor.
2. Gangguan citra tubuh b/d kehilangan
fungsi tubuh, perubahan keterlibatan
sosial.
3. Ansietas b/d perubahan dalam status
kesehatan.

Dx 1
Kriteria hasil :Kandung kemih kosong secara penuh.,
Tidak ada residu urine >100-200 cc, Intake cairan
dalam rentang normal, Balance cairan seimbang.
1. Lakukan penilaian kemih yang komprehensif
berfokus pada inkontinensia(misalnya, output urin,
pola berkemih, fungsikognitif)
2. Pantau penggunaan obat dengan sifat
antikolinergik
3. Memantau intake dan output
4. Memantau tingkat distensi kandung kemih dengan
palpasi atau perkusi
5. Bantu dengan toilet secara berkala
6. Kateterisasi

Dx 2
Kriteria hasil : Body image positif, Mampu
mengidentifikasi kekuatan personal, Mendeskripsikan
secara factual perubahan fungsi tubuh,
Mempertahankan interaksi sosial
Intervensi :
1.kaji secara verbal dan non verbal respon klien terhadap
tubuhnya
2.jelaskan tentang pengobatan dan perawatan penyakit
3.identifikasi arti pengurangan melalui pemakaian alat
bantu.
4.Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam kelompok
lain