Anda di halaman 1dari 48

PENGELOLAAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN PASCA

ERUPSI GUNUNGAPI MERAPI 2010 DI KABUPATEN


SLEMAN
USULAN PENELITIAN
Sebagai syarat untuk persiapan menyusun Skripsi S-1 pada
Program Studi Pembangunan Wilayah,
Fakultas Geografi,
Universitas Gadjah Mada

Oleh:
Ululazmi Husna R
12/331035/GE/07345

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS GEOGRAFI
YOGYAKARTA
2015

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap warga negara di Indonesia memiliki hak untuk mendapatkan
kenyamanan dan keamanan untuk hidup. Salah satu hak tersebut menurut
Undang-Undang Dasar Tahun 1945 pasal 28 adalah hak untuk bertempat tinggal.
Kodrat manusia sebagai makhluk sosial menjadikan masyarakat cenderung
menginginkan untuk hidup berdampingan. Perwujudan dari keinginan manusia
tersebut adalah terciptanya suatu permukiman. Secara umum, Yunus (1986; 1987;
2007) mengartikan permukiman sebagai bentukan artificial maupun natural
dengan segala kelengkapannya yang dipergunakan oleh manusia, baik secara
individual maupun kelompok, untuk bertempat tinggal baik sementara maupun
menetap dalam rangka menyelenggarakan kehidupannya. Oleh sebab itu, menurut
Kondoatie (2003) permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia
yang harus terpenuhi.
Permukiman merupakan bagian penting dari semua cabang geografi
manusia (human geography). Kajian mengenai permukiman erat kaitanya dengan
adaptasi masyarakat terhadap lingkungan untuk menyesuaikan kebutuhan
hidupanya (Ritohardoyo, 2000). Kemampuan manusia dalam mempertahankan
kehidupannya dikenal dengan istilah penghidupan manusia. Bentuk dari upaya
manusia untuk dapat mempertahankan kehidupannya adalah dengan kemampuan
untuk beradaptasi terhadap ancaman bahaya dan perubahan lingkungan

(Ritohardoyo, 2013). Salah satu dari ancaman bahaya dan perubahan lingkungan
tersebut adalah bencana.
Bencana sering diartikan sebagai suatu kejadian yang mengakibatkan
kerusakan maupun kerugian. Mutaali (2014) menjelaskan apabila bencana dapat
dikelompokkan menjadi 3 jenis meliputi: bencana alam, bencana nonalam dan
bencana sosial. Kondisi morfologi Indonesia yang sangat bervariasi menyebabkan
Indonesia tidak terlepas dari ancaman bencana khusunya bencana alam. Bencana
alam terbesar yang terjadi di Indonesia salah satunya adalah bencana erupsi
gunungapi Merapi yang terjadi pada tahun 2010. Kepala Balai Penyelidikan dan
Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menyatakan
apabila berdasarkan indeks letusan, maka letusan pada tahun 2010 lebih besar
dibanding letusan gunungapi Merapi yang pernah tercatat dalam sejarah, yaitu
pada tahun 1872 (kompas.com, 9/11/2010).
Hasil publikasi rekapitulasi kerugian akibat erupsi gunungapi merapi oleh
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menunjukan kerugian terbesar
dialami oleh Kabupaten Sleman dengan korban jiwa meninggal mencapai 277
orang. Kerugian materiil khusunya rumah rusak berat mencapai 2.346 rumah yang
tersebar di sekitar lereng gunungapi merapi serta ratusan sarana dan prasaran yang
rusak dan tidak dapat digunakan lagi ( BNPB,2011). Banyaknya korban jiwa dan
kerugian materiil yang dirasakan masyarakat pasca erupsi Merapi di tahun 2010,
menyebabkan perlu adanya kegiatan manajemen bencana. Manajemen bencana
memiliki fokus utama sebagai suatu langkah konkrit dalam mengendalikan
bencana sehingga korban yang tidak diharapkan dapat terselamatkan dan upaya

untuk pemulihan pasca bencana dapat dilakukan dengan cepat (Mutaali, 2014).
Salah tahapan yang dilakukan dalam manajemen bencana adalah fase pemulihan
pasca bencana melalui kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana-prasarana
pasca bencana.
Kegiatan rekonstruksi dan rehabilitas yang dilakukan pasca erupsi
gunungapi

Merapi

adalah

REKOMPAK

(Rehabilitasi

dan

Rekontruksi

Masyarakat dan Permukiman Berbasis Komunitas) yang digagas oleh dinas


pekerjaan umum (PU). Kegiatan ini merupakan bentuk rehabilitasi dan
rekonstruksi terhadap korban pasca erupsi gunungapi Merapi berupa pengadaan
tempat tinggal bagi para korban hingga membentuk suatu permukiman baru atau
dikenal dengan hunian tetap (Huntap). Kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi
permukiman baru pasca bencana diharapkan dapat menciptakan lingkungan
permukiman baru yang berkelanjutan untuk kehidupan masyarakat nantinya ( Wet,
2002).
Salah satu aspek yang mendukung keberlanjutan dari permukiman sendiri
adalah ketersediaan infrastruktur yang ada. Menurut Kondoatie (2003)
infrastruktur yang kurang (bahkan tidak) berfungsi akan memberikan dampak
yang besar bagi manusia. Sejalan dengan pernyataan kondoatie, Palliyaguru dan
Amaratunga (2008) juga menyebutkan apabila kualitas infrastruktur merupakan
hal yang paling penting dan lebih banyak memberikan manfaat dalam
keberlanjutan permukiman, karena permukiman yang berkualitas berpengaruh
terhadap kualitas dari penghuninya (Yunus,2007). Usamah & Haynes (2012) juga
menyebutkan apabila keberhasilan suatu permukiman sangat mempertimbangkan

aspek keamanan penghidupan, desain rumah, ketersedian sarana umum dan


fasilitas penunjang (infrastuktur).
Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian mengenai infrastruktur
permukiman menjadi kajian yang menarik untuk di teliti. Oleh sebab itu, untuk
mengetahui keberlanjutan dari kegiatan REKOMPAK berdasarkan maka
dilakukan kajian mengenai Pengelolaan Infrastruktur Permukiman Pasca Erupsi
Gunungap Merapi Tahun 2010 di Kabupaten Sleman. Kajian ini menitikberatkan
kepada analisis terhadap pengelolaan infrastruktur yang dilakukan oleh
masyarakat yang ada di hunian tetap. Kajian mengenai pengelolaan tersebut
dikaitkan dengan pola permukiman dan ketersedian infrastruktur permukiman.
1.2 Perumusan Masalah
Hunian tetap (Huntap) di sekitar lereng gunungapi Merapi merupakan
produk dari kegiatan pemerintah dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca
bencana erupsi gunungapi Merapi tahun 2010 yang dikenal dengan nama
REKOMPAK (Rehabilitasi dan Rekontruksi Masyarakat dan Permukiman
Berbasis Komunitas). Kegiatan REKOMPAK diperuntukan kepada masyarakat
yang menjadi korban erupsi gunungapi Merapi yang berada di Kawasan Rawan
Bencana III sesuai RTRW kabupaten Sleman serta yang mengalami kerusakan
hunian fisik yang parah. Kegiatan rehabilitasi yang digarap oleh pemerintah ini
merupakan upaya relokasi ke tempat yang lebih baik untuk menghindari ancaman
bencana erupsi gunungapi merapi dan memulihkan penghidupan masyarakat
dengan membuatkan kembali permukiman baru.

Lokasi

huntap tersebar di Kecamatan Cangkringan dan Kecamatan

Ngemplak. Huntap di lereng Gunungapi Merapi memiliki karakteristik


permukiman yang berbeda-beda. Terdapat huntap yang berpenghuni dari satu desa
yang sama (bedol desa) ada pula yang merupakan gabungan dari berbagai wilayah
yang di kumpulkan dalam satu huntap. Pembangunan huntap sendiri disesuaikan
dengan luas lahan dan morfologi lahan sehingga menyebabkan adanya perbedaan
bentuk huntap yang ada di Lereng Gunungapi Merapi.
Keberadaan dari hunian tetap yang ada di lereng Gunungapi Merapi
merupakan hasil dari produk terencana dari pemerintah. Pembangunan hunian
beserta infrastruktur seharusnya disesuaikan dengan site plan yang telah
ditentukan. Site Plan merupakan rencana tapak, suatu lingkungan dengan fungsi
tertentu yang memuat rencana tata bangunan, jaringan sarana dan prasarana fisik
dan fasilitas lingkungan. Pemerintah sebagai fasilitator tentunya tidak hanya
menyediakan permukiman sebatas bangunan saja namun juga perlu adanya
rencana bangunan yang harus disesuaikan dengan siteplan. Setiap daerah memiliki
aturan siteplan masing-masing yang harus dipatuhi sebagai dasar pendirian
bangunan. Lokasi huntap yang ada di Kabupaten Sleman seharusnya disesuaikan
dengan aturan siteplan dari Kabupaten Sleman dalam hal ini ketersediaan
infrastruktur menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam setiap
rencana tata bangunan khususnya permukiman.
Kegiatan REKOMPAK dititikberatkan pada partisipasi masyarakat.
Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat langsung dalam
pembangunan pemukiman tidak hanya dalam segi perencanaan saja, namun juga
6

dalam pembangunan, desain, dan pengelolaan permukiman sehingga dapat


tercapai pemukiman yang berkelanjutan. Berkaitan karakteristik huntap yang ada
di lereng gunungapi merapi dengan siteplan dari kabupaten Sleman

muncul

pertanyaan penelitian berkaitan dengan keberlanjutan huntap meliputi:


1. Bagaimana pola permukiman huntap di lereng Gunungapi Merapi
pasca erupsi Tahun 2010 di Kabupaten Sleman ?
2. Bagaimana kondisi infrastruktur huntap di lereng Gunungapi Merapi
pasca erupsi Tahun 2010 di Kabupaten Sleman ?
3. Bagaimana pengaruh pola permukiman dan

ketersediaan

infrastruktur terhadap pengelolaan infrastruktur permukiman oleh


masyarakat lereng Gunungapi Merapi pasca erupsi Tahun 2010 di
Kabupaten Sleman ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan penlitian ini adalah:
1. mengidentifikasi pola permukiman huntap di lereng Gunungapi
Merapi pasca erupsi Tahun 2010 di Kabupaten Sleman
2. mengidentifikasi kondisi infrastruktur huntap di lereng Gunungapi
Merapi pasca erupsi Tahun 2010 di Kabupaten Sleman
3. menganalisis pengaruh pola permukiman dan ketersediaan kondisi
terhadap pengelolaan infrastruktur permukiman oleh masyarakat
lereng Gunungapi Merapi pasca erupsi Tahun 2010 di Kabupaten
Sleman ?
1.4 Manfaat penelitian
1.4.1. Kegunaan Penelitian ini adalah
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan
ilmu pengetahuan dalam hal (a) identifikasi pola permukiman
masyarakat pasca erupsi Merapi 2010 (b) identifikasi kondisi

infrastruktur permukiman terhadap peraturan yang berlaku di suatu


daerah (c) menganalisis pegelolaan infrastruktur permukiman baru
oleh masyarakat lereng gunungapi Merapi pasca erupsi Tahun 2010
dan (d) menjadi pedoman bagi penelitian dimasa yang akan datang.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan
kepada

pihak

pengelola

dan

pemerintah

dalam

melakukan

reehabilitasi pasca bencana dan menemukenali keberlanjutan dari


pegelolaan infrastruktur permukiman baru oleh masyarakat lereng
Merapi di Kabupaten Sleman
1.5 Tinjauan Pustaka
Pembahasan tinjauan pustaka terdiri dari beberapa subbab, yang terdiri
dari (1) bencana erupsi gunungapi merapi tahun 2010 meliputi (a) bencana, (b)
bencana erupsi gunungapi merapi tahun 2010 dan (c) manajemen bencana; (2)
permukiman meliputi (a) relevansi permukiman dan (b) pola permukiman (3)
infrastruktur permukiman dan (4) pengelolaan infrastruktur permukiman.
1.5.1. Bencana eruspi Gunungapi merapi tahun 2010
1.5.1.1. Bencana
Bencana (disaster) memiliki banyak definisi, istilah bencana menurut
United Nations Department of Humanitarian Affairs (UNDHA 1992).
didefinisikan sebagai
a serious disruption of the functioning of society,
causing widespread human, material or environmental
losses, which exceed the ability of affected society to cope
using only its own resources. Disasters are often classified
according to their cause (natural or manmade)" (UNDHA,
1992)

Definisi tersebut dijelaskan kembali oleh The United Nations


International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR 2009) bahwa bencana
merupakan gangguan serius dari fungsi masyarakat, yang menyebabkan manusia,
materi atau lingkungan mengalami kerugian yang meluas, melebihi kemampuan
masyarakat yang untuk mengatasi menggunakan sumber daya sendiri.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan
Bencana mendefinisikan Bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Bencana dapat terjadi melalui suatu proses yang panjang atau situasi
tertentu dalam waktu yang sangat cepat dengan tanpa adanya tanda-tanda
(Mutaali, 2014). Bencana selalu datang sekonyong-konyong, mendadak dan
terjadi pada saat yang tidak diinginkan oleh siapapun, bencana sering terjadi di
saat sebagian besar manusia belum melakukan persiapan menghadapinya
(Maulana,2013).
Bencana menurut kementerian PU dapat dikelompokan menjadi 3 jenis
meliputi (1) bencana alam (natural disasater), bencana alam merupakan
fenomena yang dipengaruhi oleh geofisik seperti; gempa bumi, letusan
gunungapi, tsunami, longsor, dan sebgainya (2) bencana akibat ulah manusia,
disebabkan karena interkasi manusia terhadap lingkungan, terhadap dirinya
senditri dan teknologi seperti; kerusuhan, kebakaran, kecelakaan dan sebagainya
dan (3) bencana kombinasi yang merupakan gabungan keduanya.
1.5.1.2. Bencana Erupsi Gunungapi Merapi Tahun 2010

Erupsi gunungapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disamaartikan


dengan istilah letusan gunungapi. Erupsi gunungapi adalah suatu bencana alam
yang disebabkan letusan atau kegiatan gunungapi berupa benda padat, cair dan
gas serta campuran diantaranya (Putro, 2012). Erupsi gunungapi merupakan
bagian dari bencana alam yang memiliki ancaman baik primer mapun sekunder.
Ancaman primer merupakan ancaman langsung akibat letusan gunungapi seperti
awan panas, hujan abu lebat ,eleran lava, lontaran batu (pijar) dan gas beracun,
sedangkan ancaman sekunder adalah bahaya dari penumpukan material di puncak
maupun lereng yang dapat menyebabkan banjir lahar (BAKORNAS PB, 2007)
Indonesia sebagai negara yang di kelilingi oleh rangkaian cincin
gunungapi (ring of fire) tidak terlepas dari ancaman erupsi gunungapi merapi.
Salah satu bencana erupsi gunungapi di Indonesia adalah erupsi gunungapi merapi
yang terjadi pada tahun 2010. Kepala BPPTK menyatakan apabila letusan yang
tejadi pada 2010 merupakan letusan yang paling besar sepanjang sejarah sejak
1872 (kompas.com, 9/11/2010). BNPB tahun 2010 mencatat ada 386 korban
meninggal yang tersebar di Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten
Boyolali dan Kabupaten Klaten dengan jumlah korban paling banyak berada di
Kabupaten sleman yang mencapai 277 jiwa. Erupsi Merapi yang terjadi tahun
2010 tidak hanya mengakibatakan banyaknya korban jiwa. BNPB telah
memetakan Kerugian materiil di Provinsi DIY dan Jawa tengah. Berdasarkan
gambar rekapitulasi (Gambar 1.1) kerugian terbesar dialami oleh Kabupaten
Sleman yang meliputi rusaknya2.346 rumah, 366 sekolah, 7 pasar, 10 puskesmas
dan 5 puskesmas pembantu (BNPB, 2010) dirujuk pada tabel. 1.1.

10

Tabel 1.1. Data Korban Erupsi Gunungapi Merapi di provinsi DIY dan Jawa
Tengah

(Sumber: BNPB, 12 Desember 2010)


Banyaknya korban dan rusaknya berbagai sarana dan prasarana di sekitar
lereng merapi menyebabkan lumpuhnya berbagai aktivitas masyarakat baik fisik,
sosial maupun ekonomi. Lumpuhnya aktivitas masyarakat pasca bencana erupsi
merapi memerlukan penanganan secepatnya, Agar dapat mengembalikan
kehidupan masyarakat dilereng merapi secepatnya maka perlu adanya manajemen
bencana.
1.5.1.3. Manajemen bencana
Manajemen (management) sering disama-artikan dengan istilah
pengelolaan. Sadyohutomo (2008) mengartikan manajemen adalah suatu proses
pengaturan atau ketatalaksanaan untuk mencapai suatu tujuan dengan melibatkan
orang lain. Menurut Putro (2012), manajemen bencana berarti mengidentifikasi
apa yang mungkin terjadi, menganalisis kemungkinan hasil akhir, menilai
dampak, menindak risiko (pencegahan atau mitigasi, mempersiapkan, merespon,
dan pemulihan) dan memonitor proses.

11

Mutaali (2014) mengartikan manajemen bencana adalah sekumpulan


kebijakan

dan

keputusan-keputusan

administratif

dan

aktivitas-aktivitas

operasional yang berhubungan dengan berbagai tahapan dari semua tingkat


bencana. Mutaali juga menyebutkan apabila fokus utama dalam manajemen
bencana adalah adanya suatu langkah konkret dalam mengendalikan bencana,
sehingga korban yang tidak diharapkan dapat terselamatkan dan upaya pemulihan
pasca bencana dapat dilakukan dengan cepat.
Pemulihan (Recovery) merupakan solusi tepat untuk memperbaiki
infrastruktur, ekonomi, lingkungan dan kualitas pasca bencana (Putro, 2012). Pada
fase pemulihan, kegiatan yang paling penting untuk dilakukan adalah rekonstruksi
dan rehabilitasi. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Nomor 11 Tahun 2008 menjelaskan rehabilitasi sebagai perbaikan dan pemulihan
semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai
pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau
berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat
pada wilayah pascabencana.
Rehabilitasi dilakukan melalui kegiatan (a) perbaikan lingkungan
daerah bencana; (b) perbaikan prasarana dan sarana umum; (c) pemberian bantuan
perbaikan rumah masyarakat; (d) pemulihan sosial psikologis; (e) pelayanan
kesehatan; (f) rekonsiliasi dan resolusi konflik; (g) pemulihan sosial ekonomi
budaya; (h) pemulihan keamanan dan ketertiban; (i) pemulihan fungsi
pemerintahan; dan (j) pemulihan fungsi pelayanan publik.

12

Rekonstruksi adalah perumusan kebijakan dan usaha serta langkahlangkah nyata yang terencana baik, konsisten dan berkelanjutan untuk
membangun kembali secara permanen semua prasarana, sarana dan sistem
kelembagaan, baik di tingkat pemerintahan maupun masyarakat, dengan sasaran
utama tumbuh berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya,
tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran dan partisipasi masyarakat
sipil dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat di wilayah pasca bencana (PP
No 21 Tahun 2008).
Berdasarkan pada kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan apabila
rehabilitasi

merupakan

suatu

tindakan

dalam

bentuk

kegiatan

untuk

membangkitkan kembali kehidupan pasca bencana sedangkan rekonstruksi


merupaan kegiatan konstruksi permanen maupun penggantian akibat dari
kerusakan fisik yang disebabkan bencana. Oleh sebab itu, Menurut Putro (2012),
saat ini pemerintah DIY memiliki kebijakan Two Step Policy. Kebijikan ini
merupakan kegiatan yang terdiri atas Recovery dan Relocation. Recovery atau
pemulihan dapat diwujudkan dalam kegiatan rehabilitasi dan relocation berupa
kegiatan rekonstruksi.
Menurut Clinton (2006) prinsip rehabilitasi pasca bencana berpedoman
pada build back better (membangun kembali dengan lebih baik). Kegiatan yang
disusun dalam rehabilitasi meliputi (a) perbaikan lingkungan daerah bencana; (b)
perbaikan prasarana dan sarana umum; (c) pemberian bantuan perbaikan rumah
masyarakat; (d) pemulihan sosial psikologis; (e) pelayanan kesehatan; (f)
rekonsiliasi dan resolusi konflik; (g) pemulihan sosial ekonomi budaya; (h)

13

pemulihan keamanan dan ketertiban; (i) pemulihan fungsi pemerintahan; dan (j)
pemulihan fungsi pelayanan publik.
Prinsip rehabiltasi yang dikemukakan oleh Clinton (2006) saat ini telah
diadopsi dalam pelaksanaan rehabilitasi pasca bencana erupsi Merapi di
Yogyakarta. Berlandaskan pada pedoman build back better terbentuk suatu
program rehabilitasi dan rekonstruksi dengan nama REKOMPAK (Rehabilitasi
dan Rekontruksi Masyarakat dan Permukiman Berbasis Komunitas). Program ini
dibuat untuk mewujudkan penataan pemukiman yang lebih baik sebagai
implementasi aksi penanggulangan bencana erupsi Merapi yang disusun oleh
BNPB dan Bappenas (PU,2012).
Tujuan awal dari program REKOMPAK adalah untuk menyediakan
rumah baru di luar area risiko bahaya, di lokasi yang didapatkan dan diakuisisi
oleh warga sendiri (Maly dan Nareswari, 2015). Penentuan lokasi yang berada di
luar area risiko bencana didasarkan pada zonasi kawasan rawan bencana yang
dibuat oleh Kementerian ESDM bagian BPPTK seperti yang terdapat pada
gambar 1. 1.
Gambar. 1. 1. Peta Kawasan Rawan Bencana G. Merapi Tahun
2010

14

Sumber: (ESDM BPPTK, 2010)


Sesuai pada peta tersebut, semakin tinggi tingkatan
kawasan bencana maka semakin tinggi pula dampak dari
pengaruh erupsi gunungapi merapi. Berdasarkan zonasi tersebut,
masyarakat yang ada di KRB III yang merupakan

kawasan

berpotensi bencana paling besar perlu direlokasi ke kawasan


dibawahnya.
Menurut International Recovery Platform (IRP) Semakin cepat
rehabilitasi maka akan semakin cepat proses recovery masyarakat pasca bencana.
Proses pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah daerah pasca bencana erupsi
merapi terbilang cukup cepat. Pada dasarnya, proses pemulihan terkait

15

permukiman, Ikaputra (2009) memnetukan suatu metamorfosis ketentuan proses


pemulihan dari suatu hunian yang juga digunakan dalam proses pemulihan pasca
bencana gempabumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah (IRP,2009). Berikut
gambaran dari proces pemulihan hunian pasca bencana gambar 1.2
Gambar 1.2. Metamorfosis Ketentuan Proses Pemulihan Dari Suatu Permukiman

Sumber : Ikaputra (2009 dalam (IRP,2009)


Proses tersebut telah dinilai sebagai proses pemulihan hunian yang
paling cepat dibandingkan proses yang telah ditentukan oleh Shelter Centre,
namun pemerintah daerah menilai apabila akan lebih baik apabila proses
rekonstruksi pasca bencana menjadi hunian permanen lebih cepat, sehingga tidak
perlu melewati proses hunian transisi. Tujuannya agar pemulihan kehidupan
masyarakat pasca bencana erupsi gunungapi dapat lebih cepat dilakukan. Proses
mobilitas korban bencana erupsi gunungapi oleh (Putro, 2012) digambarkan
dalam bentuk diagram sebagai berikut diagram berikut, mengacu pada gambar
1.3.

16

Gambar 1.3. Mobilitas Korban Bencana Dan Penyediaan Huntara


Bencana
Rumah Rusak

Rumah Tetangga

Pengungsian

Rumah keluaraga

Transmigrasi Huntara Mandiri


Huntara Komunal PemerintahRumah ACT
Sumber: (Putro, 2012)
Secara keruangan dampak dari pengaruh erupsi gunungapi merapi
terhadap permukiman adalah mengakibatkan kerusakan pada permukiman
Huntara Tetap
Hunian Tetap (Relokasi)
Kembali ke Rumah Asal
tersebut dan korban jiwa, sehingga kemudian implikasi secara keruangan
permukiman mengalami relokasi dan membentuk permukiman baru (Syafrudin,
2011)
1.5.2. Permukiman
1.5.2.1. Relevansi Permukiman
Ritohardoyo (2000) mendefinisikan Permukiman memiliki dua makna,
makna pertama bahwa permukiman memiliki kedudukan penting dalam
memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping kebutuhan pangan,
pakaian atau sandang dan kebutuhan dasar lainnya. Kedua didalam permenuhan
kebutuha kebutuhan permukiman secara tersirat terkandung banyak permasalahn
yang terkait dengan keragaman wilayah maupun keragaman dinamika
penghuninya. Permukiman oleh Syafrudin (2011) didefininsikan sebagai sejumlah
besar rumah pada kawasan tertentu yang dapat berkembag atau diadakan atau

17

dikembangkan untuk dapat mengakomodasi sejumlah besar keluarga yang


membutuhkan.
Permukiman secara umum merupakan bagian penting dari semua
cabang geografi manusia (human geography). Keberadaan permukiman
merupakan interkasi yang terjadi antara manusia dan lingkungan. Doxiodis (1970)
memaparkan apabila permukiman memilik sistem yang kompleks dari lima
elemen meliputi alam, manusia, masyarakat, bangunan, dan jaringan. Penejelasan
tersebut seperti yang telah tercantum pada gambar 1.4.
Gambar 1.4. elemen dari sistem permukiman manusia

Sumber : Doxiodis (1970)


Menurut Affan (2014), kelima elemen tersebut dapat dijabarkan sebagai
berikut: (1) alam yang meliputi: topografi, geologi, tanah, air, tumbuh-tumbuhan,
hewan, dan iklim; (2) manusia yang meliputi: kebutuhan biologi (ruang,udara,
temperatur, dsb), perasaan dan persepsi, kebutuhan emosional, dan nilai moral; (3)
masyarakat yang meliputi: kepadatan dan komposisi penduduk, kelompok sosial,
kebudayaan, pengembangan ekonomi, pendidikan, hukum dan administrasi; (4)
fisik bangunan yang meliputi: rumah, pelayanan masyarakat (sekolah, rumah
sakit, dsb), fasilitas rekreasi, pusat perbelanjaan dan pemerintahan, industri,
kesehatan, hukum dan administrasi; dan (5) jaringan (network) yang meliputi:
sistem jaringan air bersih, sistem jaringan listrik, sistem transportasi, sistem

18

komunikasi, sistem manajemen kepemilikan, drainase dan air kotor, dan tata letak
fisik.
Kajian mengenai hunian tetap (huntap) di sekitar lereng gunungapi
merapi dalam kerangka berpikir Geografi Permukiman. Menurut Yunus (2007),
kajian mengenai huntap termasuk dalam kajian permukiman skala meso, dimana
permukiman perkotaan atau perdesaan merupakan suatu area. sehingga dalam
sistem pendekatannya menggunakan pendekatan regional spatial. Permukiman
dalam skala meso menurut Yunus (2007) dapat dianalisis melalui pendekatan
fisikal (phisical approach) dan pendekatan administratif (administratif approach).
Terdapat beberapa upaya dalam mengenali tipe perukiman kota skala meso
meliputi etnis, religi, tingkatan penghasilan, kepadatan bangunan,legalitas atau
status tanah dimana bangunan berada. Standar pembangunan rumah yang
dibakukan, kualitasfisik perumahan, keteraturan bangunannya, pendidikan
penghuni dan struktur permukimannya.
Secara Etimologis, pola permukiman berasal dari dua kata meliputi pola
dan permukiman. Ritohardoyo (2000) juga mengartikan permukiman sebagai
benda yang tersusun menurut sistem mengikuti kecenderungan bentuk tertentu.
Bahasan mengenai pola permukiman dapat ditinjau dari individul permukiman
dan kelompok permukiman. Beberapa faktor yang mempengaruhi pola
permukiman antara lain: kemiringan lahan, ketinggian tempat, kedalaman air
sumur, curah hujan, kepadatan penduduk, tekanan penduduk terhadap lahan
pertanian dan presentase luas lahan sawah dari seluruh luas lahan petanian. Selain
itu, penyakapan tanah prasarana transportasi dan komunikasi, lokasi mineral dan
industri, sistem pembagian waris, keamanan dan politik agama atau ideologi.
1.5.3. Infrastruktur Permukiman

19

1.5.3.1. Infrastrukutur
Komponen dasar

dalam

pembangunan

permukiman

adalah

pembangunan prasarana dan sarana permukiman (Bappenas, 2002). Menurut


Keputusan Presiden Nomor 37 Tahun 1994 tentang Badan kebijaksanaan dan
pengendalian pembangunan perumahan dan permukiman nasional, pembangunan
perumahan dan permukiman merupakan kegiatan yang bersifat lintas sektoral,
yang pelaksanaannya perlu memperhatikan aspek-aspek sarana dan prasarana
lingkungan, rencana tata ruang, pertanahan, industri bahan, jasa konstruksi dan
rancang bangun, pembiayaan, sumber daya manusia, kemitraan antar pelaku, dan
aspek penunjang lainnya. Sesuai dengan pengertian tersebut, dalam pembangunan
pemukiman keberadaan sarana prasarana menjadi hal yang penting untuk
diperhatikan.
Sarana dan prasarana sering disebut dengan infrastruktur. Infrastruktur
menurut Mardiana (2004) adalah sistem fisik atau fasilitas yang menyediakan
layanan umum yang penting. Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama
fungsi-fungsi sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat (Kondoatie, 2003)
Infrastruktur dasar yang harus tersedia dalam permukiman meliputi air
bersih, drainase, persampahan, pengelolaan air limbah, jalan dan reviitalisasi
(Kondoatie, 2003). Infrastruktur dasar dari suatu permukiman tertuang dalam
rencana tapak bangunan (siteplan) di setiap daerah. Site Plan adalah rencana
tapak, suatu lingkungan dengan fungsi tertentu yang memuat rencana tata
bangunan, jaringan sarana dan prasarana fisik dan fasilitas lingkungan. Materi
utama Siteplan terdiri dari rencana Prasarana Lingkungan yang terdiri dari :
jaringan jalan, saluran pembuangan dan peresapan air hujan (lingkungan dan

20

kapling), SAH, peresapan air limbah, penempatan bak sampah, alat pemadam
kebakaran,

jaringan listrik/lampu penerangan jalan dan jaringan telephon.

Fasilitas lingkungan meliputi: fasilitas fisik penunjang yang berfungsi untuk


penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya,
dapat berupa bangunan perniagaan atau perbelanjaan, pendidikan, kesehatan,
peribadatan, fasilitas pemerintahan, lapangan terbuka/taman bermain, tempat
parkir dan pelayanan umum serta pemakaman (Perbup sleman No 12 Tahun
2006).
Kajian mengenai infrastruktur tidak semata-mata berhubungan dengan
pengadaan saja, namun juga kesesuaian dengan kebutuhan setiap permukiman.
Standar pelayanan infrastruktur di setiap permukiman tertuang dalam pedoman
penentuan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang, perumahan dan
permukiman dan pekerjaan umum dan beberapa kebijakan yang digunakan oleh
masing-masih daerah sesuai dengan penataan keruang di wilayah masing-masing.
1.5.4.

Pengelolaan Infrastruktur Permukiman


Infrastruktur lebih terfokus pada masalah manajemen daripada rekayasa

karena begitu luasnya definisi dari infrastruktur yang boleh dikatakan sama
dengan istilah pekerjaan umum (Kondoatie, 2003). Agar permukiman baru yang
terbentuk pasca bencana (huntap) berkualiatas tentunya perlu mepertimbangakan
keberlanjutan dari program rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah dibuat
sedemikian rupa. Hal yang perlu diperhatikan agar keberlanjutan dari permukiman
ini adalah pengelolaan yang baik.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan pengelolaan sebagai
proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain.

21

Selain itu, pengelolaan juga didefinisikan sebagai proses yangg memberikan


pengawasan pada semua hal yg terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan
pencapaian tujuan. Kaitannya dengan permukiman, Undang-undang republik
Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan permukiman
menyebutkan pengelolaan dilakukan untuk mepertahankan dan menjaga kualiatas
perumahan dan permukiman secara berkelanjutan yaang dilakukan oleh
masyarakat secara swadaya oleh masyarakat yang difasilitasi oleh pemerintah,
sehingga dalam peran pengelolaan terhadap permukiman masyarakat merupakan
subjek dari keberlanjutan permukiman itu sendiri.
Menurut Hudson et al, (1997 dalam Mardiana, 2004) sistem manajemen
infrastruktur terdiri dari paket operasi (metode, prosedur, data, software,
keputusan dan seterusnya ) yang menghubungkan dan memungkinkan pekerjaan
terkait dalam pelaksanaan infrastruktur. Oleh sebab itu, manajemen dalam sistem
permukiman menjadi penting untuk menilai keberlanjutan dari keberadaan
permukiman.
Pengelolaan infrastuktur yang baik akan lebih banyak membawa manfaat
seperti mengurangi risiko bencana, meningkatkan perawatan kesehatan,
meningkatkan produktivitas di bidang manufaktur dan produktivitas dalam
pemberian layanan, mendistribusikan kekayaan nasional yang lebih merata
(Palliyaguru dan Amaratunga, 2008)
1.6.

Penelitian Sebelumnya
Penelitian mengenai tema infrastruktur dan permukiman memang

bukanlah tema baru yang dalam penelitian. Akan tetapi penelitian dengan judul

22

Pengelolaan Infrastruktur Permukiman Pasca Erupsi Gunungapi Merapi 2010 Di


Kabupaten Sleman merupakan penelitian yang belum pernah dilakukan. Terdapat
tiga penelitian yang memiliki kemiripan tema, kajian, objek, metode maupun
lokasi, akan tetapi secara utuh terdapat beberapa perbedaan dari penelitian ini
dengan penelitian sebelumnya.
Roshani Palliyaguru dan Dilanthi Amaratunga dalam penelitiannya
mengenai Managing disaster risks infrastructure reconstruction practices through
quality infrastructure and vice versa: Post-disaster (Pengelolaan Infrastruktur
Rekonstruksi Resiko Bencana Melalui Kualitas Infrastruktur dan Sebaliknya:
Pasca-Bencana) bertujuan untuk Mengeksplorasi hubungan dua arah yang antara
konsep pengurangan risiko bencana dan kualitas Infrastruktur (Sri Lanka). Metode
yang dilakukan adalah penyelidikan (investigating) dan ekplorasi (exploring)
hubungan antara pengurangan risiko bencana dan kualitas infrastruktur. Hasil
yang diketahui apabila keberhasilan dari proyek rekonstruksi pascabencana adaah
dengan memyediakan infrastruktur yang memiliki konsep pengurangan resiko
bencana. Persamaan dari penelitian ini adalah sama-sama ingin mengetahui
pengelolaan infrastruktur pasca bencana namun apabila penelitian ini hanya
mengekplorasi hubungan antara konsep infrastruktur dengan resiko bencana
penelitian yang dilakukan penulis lebih digunakan untuk mengetahui bagaimana
mengelola infrastruktur pascabencana yang dilakukan oleh masyarakat sebagai
pengguna infrastruktur, sehingga jelas berbeda antara penelitian ini dengan
penelitian yang akan dilakukan.

23

Penelitian oleh Hibatullah Hindami N A, Tazkia Agung Fuadi, Dimas


Rahmatullah, Muhammad Kholif L W P dengan judul Kriteria Desain Alih
Fungsi Huntara Menjadi Hunian Permanen Korban Bencana Merapi Studi Kasus :
Desa Umbulharjo, Cangkringan, Yogyakarta bertujuan untuk mengetahui tingkat
kepuasan mereka terhadap kondisi HUNTARA saat ini dan ketika kelak dijadikan
hunian permanen. Penelitian ini menjadikan kondisi eksisting tapak dan
kebutuhan sarana prasarana serta fasilitas umum sebagai salah satu aspek yang
dinilai dalam mengetahui kepuasan terhadap kondisi huntara. Penelitian ini
menggunakan metode pengumpulan data melalui pendekatan kualitatif, dengan
melakukan wawancara langsung kepada 10 keluarga di beberapa titik HUNTARA
di Dusun Pangukrejo, Desa Umbulharjo. Metode analisis data yang digunakan
dalam pene-litian ini dilakukan melalui survey dan wawancara kepada masyarakat
penghuni HUNTARA, setelah itu kemudian dilakukan interpretasi berdasarkan
SNI dan ilmu arsitektur. Hasil dari penelitian ini adalah suatu rekomendasi terkait
sarana-prasarana yang harus tersedia ketika nantinya menjadi hunian permanen
berdasarkan data teknis kependudukan dan rekomendasi kondisi fisik dan
lingkungan sesuai dengan standar hunian permanen. Perbedaan penelitian ini
dengan penelitan yang akan dilakukan adalah peneliti sudah memasuki
tranformasi hunian sementara menjadi hunian permanen. Penelitian ini hanya
meneliti mengenai ketersediaan sarana-prasarana yang harus tersedia nantinya
setelah menjadi hunian tetap. Perbedaan yang jelas terjadi adalah dari segi tujuan
penelitian dan kriteria infrastruktur yang akan digunakan.

24

Penelitian yang memiliki kemiripan dengan penelitian ini adalah penelitian


yang dilakukan oleh Gardyas Bidari Adninda dengan judul Kemenduaan Warga
terhadap Sarana dan Prasarana Hunian Tetap Pagerjurang, Kabupaten Sleman.
Tujuan dari penelitian ini adalah penerimaan masyarakat terhadap sarana
prasarana yang ada di hunian tetap. Infrastruktur yang diteliti terdiri masjid,
lokakarya, desa ruang publik, gedung serbaguna, kelompok yang stabil, limbah
terpadu Tempat pembuangan, dan jaringan distribusi listrik yang cenderung
digunakan secara bersama. Lokasi yang dipilih dari penelitian ini lebh sempit dari
lokasi penelitian yang akan digunakan. penelitian ini hanya menggunakan satu
huntap yang berada di huntap Pagerjurang di Kepuharjo, Cangkringan, Sleman.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian induktif-kualitatif. Pengumpulan
data dilakukan oleh observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumen
analisis. Informan

utama

adalah

orang-orang yang

mengetahui proses

pengembangan infrastruktur dan pengguna utama dari setiap infrastruktur yang


dipilih secara proporsional dari tiga blok tempat tinggal.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa ada dualisme pada penerimaan
infrastruktur di Pagerjurang permanen Penampungan. Beberapa anggota
masyarakat memanfaatkan infrastruktur dan beberapa lainnya tidak. Kondisi fisik
yang baik dari infrastruktur, infrastruktur yang dibangun di blok tempat tinggal
mereka sendiri, daan kecukupan infrastruktur adalah alasan mengapa beberapa
anggota masyarakat rela memanfaatkan infrastruktur. Sebaliknya, yang lain yang
menyangkal menggunakan infrastruktur karena lokasi infrastruktur adalah
dianggap cukup jauh dari blok mereka, mereka tidak tahu adanya beberapa

25

infrastruktur, kepemilikan infrastruktur tidak jelas, dan mereka kecewa dalam


perubahan site plan. Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang
akan dilakukan terletak pada luasan lokasi penelitian, metode, tujuan dari
penelitian.
Keaslian penelitian dari penelitian ditunjukan pada

tabel 1.2. yang

disajikan sebagai berikut:

26

1.2.Tabel Penelitian Sebelumnya


No
1

Nama
Roshani
Palliyaguru
Dilanthi
Amaratunga
(2008)

dan

Hibatullah
Hindami N A,
Tazkia
Agung
Fuadi,
Dimas
Rahmatullah,
Muhammad
Kholif L W P
(2014)
Gardyas
Bidari
Adninda
(2014)

Judul

Tujuan

Metode

Managing disaster risks


infrastructure
reconstruction
practices
through
quality infrastructure
and vice versa: Postdisaster
Kriteria Desain Alih
Fungsi Huntara Menjadi
Hunian
Permanen
Korban
Bencana
Merapi Studi Kasus :
Desa
Umbulharjo,
Cangkringan,
Yogyakarta
Kemenduaan
Warga
terhadap Sarana dan
Prasarana Hunian Tetap
Pagerjurang, Kabupaten
Sleman

Mengeksplore hubungan dua arah yang antara konsep


pengurangan risiko bencana dan kualitas Infrastruktur.
(Sri Lanka)

penyelidik
an
dan
eksplorasi

pengurang
mempenga
konstruksi
hubungan
bencana da

mengetahui tingkat kepuasan mereka terhadap kondisi


HUNTARA saat ini dan ketika kelak dijadikan hunian
permanen

Kualitaitf

Beberapa
Permanen
Kependud
sesuai S
Lingkunga
Nasional: J

penerimaan masyarakat terhadap sarana prasarana yang


ada di hunian tetap

induktifkualitatif

terdapat
prasarana
warga ma
lagi tidak
ada di m
prasarana
mengguna
yang tidak
jauh men
prasarana,
dan kekece

Ululazmi Husna
Rahmawati

Pengelolaan
1. mengidentifikasi pola permukiman baru masyarakat Survei
infrastruktur
lereng Gunungapi Merapi pasca erupsi Tahun 2010 di
Permukiman
Pasca Kabupaten Sleman
Erupsi
2010
di 2.mengidentifikasi kondisi infrastruktur permukiman
Kabupaten Sleman
baru masyarakat lereng Gunungapi Merapi pasca
erupsi Tahun 2010 di Kabupaten Sleman
3.menganalisis pengelolaan infrastruktur permukiman
baru oleh masyarakat lereng Gunungapi Merapi pasca
erupsi Tahun 2010 di Kabupaten Sleman
Sumber : 1) Palliyaguru dan Amaratunga (2008); 2) Usamah and Haynes (2012); 3) Hindami. Tazkia. Dkk
(2014); 4) Adninda (2014) .

1.3.Kerangka Pemikiran
Bencana Erupsi Gunungapi Merapi Tahun 2010 menyebabkan terjadi
kerusakan fisik terutama hunian. Kerusakan terparah dirasakan oleh masyarakat
yang berdomisili di di Kabupaten Sleman. Rusaknya berbagai bangunan
menyebabkan terjadi kehidupan masyarakat menjadi lumpuh. Agar dapat segera

27

mengembalikan kehidupan masyarakat maka diperlukan suatu pemulihan


(recovery) pasca bencana. Pemulihan pasca erupsi gunungapi merapi dilakukan
dengan melakukan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi permukiman bagi
masyarakat yang mengalami kerusakan yang parah maupun hunian sebelumnya
berada pada kawasan yang berbahaya, sehingga pada kegiatan rekonstruksi dan
rehabilitasi perlu dilakukan relokasi dari permukiman lama ke permukiman baru.
Permukiman baru yang disediakan untuk masyarakat baru dikenal dengan
nama hunian tetap (Huntap). Pendekatan dalam kajian pola permukiman
dilakukan melalui pendekatan fisikal (phisical approach) dan pendekatan
administratif (administratif approach) (Yunus, 2007). Secara fisik, dibedakan atas
pola permukiman memanjang, melingkar, sejajar, bujur sangkar dan kubus
sedangkan pola permukiman secaraadministratif

dibedakan menjadi huntap

madiri dan huntap komunal. Baik huntap mandiri maupun huntap komunal
memiliki bentuk fisik permukiman yang berbeda-beda,
Selain pola permukiman, kajian terhadap permukiman dilakukan dengan
mengidentifikasi mengenai ketersediaan dan kondisi infrastruktur yang telah
sesuai dengan peraturan. Berdasarkan pada Perbup Sleman No 18 Tahun 2005 dan
Perbup Sleman No 12 Tahun 2006 tentang siteplan infrastruktur yang harus
tersedia di setiap perumahan meliputi prasarana fisik, fasilitas lingkungan dan
fasilitas ruang, namun tidak semua aspek dalam peraturan ini digunakan.
Infrastruktur yang akan di amati meliputi jaringan jalan, saluran pembuangan air
hujan dan peresapan air hujan, peresapan air hujan, perletakan tengki septictank,

28

air limbah komunal, bak sampah, sumur air bersih, alat pemadam kebakaran,
lampu penerangan dan jaringan listrik, peribadatan, dan ruang terbuka.
Pola permukiman huntap dan kondisi infrastruktur kemudian dihubungkan
dengan pengelolaan infrastruktur yang ada di huntap. Pegelolaan dititikberatkan
pada masyarakat sebagai subjek, sehingga analisis mengenai pegelolaan
infrastruktur dapat diperhatikan melalui koordinasi dan keterlibatan masyarakat
dalam mengelola permukiman, sehingga nantinya akan diketahui adaha hubugan
antara pengelolaan infrastruktur permukiman huntap di Kabupaten Sleman
terhadap Pola permukiman huntap dan kondisi infrastruktur. Kerangka pemikiran
dirujuk pada gambar 1.5.

29

Gambar 1.5. Kerangka Pemikiran

Faktor yang memperngaruhi


berkaitan

30

1.4.Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan yang diangkat dari tujuan penelitian,


maka untuk menjawab dan menguraikan permasalahan tersebut dapat disusun
pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1.

Tujuan pertama penelitiaan ini adalah Bagaimana pola permukiman


huntap di lereng Gunungapi Merapi pasca erupsi Tahun 2010 di
Kabupaten Sleman ? untuk mejawab tujuan tersebut maka dapat
diuraikan beberapa perttanyaan penelitian:
a. Bagaimana pola permukiman berdasarkan adminsitrasi huntap lereng
gunung Merapi di kabupaten Sleman?
b. Bagaimana bentuk permukiman huntap lereng gunung

2.

Merapi di

kabupaten Sleman?
Tujuan Kedua penelitiaan ini adalah Mengidentifikasi kondisi
infrastrukutur huntap di lereng Gunungapi Merapi pasca erupsi Tahun
2010 di Kabupaten Sleman ? untuk mejawab tujuan tersebut maka

3.

dapat diuraikan beberapa perttanyaan penelitian:


a. apakah infrastruktur yang ada sudah sesuai dengan siteplan ?
b. bagaimana kondisi infrastruktur tersebut saat ini?
Tujuan ketiga penelitian ini adalah Bagaimana pengaruh pola
permukiman dan ketersediaan infrastruktur terhadap pengelolaan
infrastruktur permukiman oleh masyarakat lereng Gunungapi Merapi
pasca erupsi Tahun 2010 di Kabupaten Sleman ? untuk mejawab
tujuan tersebut maka dapat diuraikan beberapa perttanyaan penelitian:
a. Bagaimana koordinasi yang terjadi dalam pengelolaan permukiman?
b. Bagaimana keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan permukiman?
31

c. Apakah ada pengaruh pola permukiman dan kondisi infrastruktur


terhadap pengelolaan infrastruktur permukiman?

32

BAB II
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini adalah metode survei. Metode survei menurut
Nazir (1983, dalam Yunus, 2010) dilakukan untuk memperoleh fakta-fakta dari
gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok
ataupun daerah, dan hal ini dapat dilakukan secara sensus ataupun menggunakan
sampel. Pengambilan data yang akan digunakan adalah metode sampling acak
berimbang (proporsional random sampling). Metode ini dipilih berdasarkan
keseragaman (homogenity) sifat atau karakter suatu kenampakan berupa
masyarakat yang direlokasi ke hunian tetap di Kabupaten Sleman. Sifat dari
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan mendasarkan pada data kualitatif
(Yunus, 2010), Langkah-langkah dalam metode penelitian ini, meliputi (1) lokasi
(2) Variabel dan data penelitian (3) cara pengumulan data (4) analisis data dan (5)
batasan operasional
2.1.

Pemilihan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini berada di Kecamatan Cangkringan


dan Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman. Kedua kecamatan

33

ini merupakan dua kecamatan yang dijadikan sebagai wilayah


yang digunakan untuk lokasi hunian tetap sebagai wilayah
kajian.

Terdapat

12

lokasi

hunian

tetap

yang

berada

di

kecamatan cangkringan dan kecamatan ngemplak. Berikut tebel


humian tetap yang berada

di kedua kecamatan tersebut yang

dirujuk pada tebel 2.1.

Tabel 2.1. Tabel hunian Tetap di Kabupaten Sleman

Nama
Batur
Pagerjurang
Karangkendal
Plosokerep
Gondang 2
dan 3
Dongkelsari
Kuwang
Rndusari
Gading
Jetisumur
Banjarsari
Koripan

Desa
Kepuharjo
Kepuharjo
Umbulharjo
Umbulharjo
Wukirsari

Kecamatan
Cangkringaan
Cangkringaan
Cangkringaan
Cangkringaan
Cangkringaan

Wukirsari
Argomulyo
Argomulyo
Glagaharjo
Glagaharjo
Glagaharjo
Sindumartani

Cangkringaan
Cangkringaan
Cangkringaan
Cangkringaan
Cangkringaan
Cangkringaan
Ngemplak

Jumlah KK
204
301
81
84
124
147
138
109
62
81
178
38

Sumber : Rekompak, 2013

2.2.

Data dan variabel penelitian

34

2.2.1. Jenis data dan sumber data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a)

Data Primer

Data primer didapatakan dari sumber langsung melalui


observasi, wawancara , dan kuisioner.. Penelitian ini menjadikan
data primer sebagai data analisis utama untuk menjawab tujuan
penelitian. Pengumpulan data menggunakan kuisinoner yang
akan digunakan adalah kuisioner yang bersifat terbuka, tertutup
dan semi terbuka. Kuisioner tertutup dan semi terbuka digunakan
untuk menganalisis kondisi infrastruktur permukiman sedangkan
wawancara terhadap pengguna infrasruktur digunakan untuk
mengamati dan menemukenali pengelolaan infrastruktur di
hunian tetap

b)

Data sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai


literatur, data spatial dan data dari beberapa instansi. Data

35

spatial yang digunakaan untuk mengamati pola permukiman


khususnya

bentuk

permukiman

yang

diamatai

melalui

interpretasi foto udara. Data-data ini nantinya digunakan sebagai


data yang memperkuat data primer. Data sekunder berasal dari
Badan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan
Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA).

Dinas

pekerjaan umum (PU) dan Rekompak.

2.2.2. Data peneliltian


Variabel dan sumber data yang akan digunakan dalam
penelitian ini tercantum pada tabel 2.2.

Tabel 2.2. Tabel data dan variabel

No

Tujuan

Konsep

Vriabel

Data

Sumber Data

mengidentifikasi
pola permukiman

Pola

adminstras

Data jumlah

Data Instansi

36

penduduk hunian
tetap.
Data hunian tetap
yang ada di
Kabupaten Sleman
baru masyarakat
lereng Gunungapi
Merapi pasca erupsi
Tahun 2010 di
Kabupaten Sleman

i
permuki
man

Data jenis huntap


berdasarkan
adminsitrasi

(Bappeda)
Data Instansi
(Bappeda,
Rekompak,
PU,BPBD)
Data instansi (PU,
Bappeda,
Rekompak)
atau kuisioner

Bentuk
permukima
n

Pengamatan
menggunakan
citra/foto udara
(data spatial)

Data spatial

Jaringan Jalan

Kuisisoner dan
pengamatan
langsung

peresapan air hujan


SAH
perletakan tengki
septictank

mengidentifikasi
kondisi infrastruktur
permukiman baru
masyarakat lereng
Gunungapi Merapi
pasca erupsi Tahun
2010 di Kabupaten
Sleman

air limbah komunal


In
frastruk
tur

Kondisi
Infrastrukt
ur
permukima
n

bak sampah
sumur air bersih
alat pemadam
kebakaran
lampu penerangan
dan jaringan listrik

Menganalisis
pengelolaan
infrastruktur
permukiman baru
oleh masyarakat
lereng Gunungapi
Merapi pasca erupsi

pengelo
aan

Pengelolaa
n
permukima
n

Kuisisoner dan
pengamatan langsung
Kuisisoner dan
pengamatan langsung
Kuisisoner dan
pengamatan langsung
Kuisisoner dan
pengamatan langsung
Kuisisoner dan
pengamatan langsung
Kuisisoner dan
pengamatan langsung
Kuisisoner dan
pengamatan langsung

peribadatan

Kuisisoner dan
pengamatan langsung

ruang terbuka

Kuisisoner dan
pengamatan langsung

Karakteristik
responden
Sistem Koordinasi

Wawancara
wawancara

37

Tahun 2010 di
Kabupaten Sleman

Sistem partisipasi

Wawancara

2.3.Cara Pengumpulan Data


1

Pengumpulan Data Primer


1

Observasi
Observasi merupakan kegiatan pengamatan langsung pada suatu objek

penelitian di lapangan, dengan tujuan mendapatkan informasi tentang keadaan


yang jelas dan tampak di lokasi penelitian. Kegiatan observasi dilakukan dengan
melibatkan masyarakat sehingga observasi yang akan dilakukan disebut observasi
semi partisipasi. Kegiatan observasi dalam penelitian ini sangat penting dalam
menentukan lokasi pengambilan sampel,. Selain itu Observasi dilakukan untuk
mendapatkan informasi terkait karakteristik permukiman huntap dan kondisi
infrastruktur

permukiman

huntap.

Observasi

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan alat-alat seperti catatan maupun alat dokumentasi lainnya.


2

Wawancara
Pengambilan data primer dilakukan wawancara dibantu dengan alat bantu

berupa kuesioner Wawancara merupakan teknik penyerapan informasi dari

38

responden dengan menanyakan informasi secara lebih mendalam. Wawancara


dilakukan dengan responden yang menjadi sampel, akan tetapi pemilihan jumlah
sampel ini juga harus mampu memberikan gambaran terhadap keseluruhan
populasi. Wawancara yang dilakukan nantinya akan dijadikan sebagai data yang
akan dianalisis untuk mengetahui pengelolaan infrastruktur permukiman di
huntap.
3

Teknik Pemilihan Sampel


Responden dalam penelitian ini adalah penduduk di seluruh huntap di

Kecamatan Sleman. Metode sampling yang digunakan adalah proportional


random sampling. Sampling ini dipilih berdasarkan pada sifat homogenitas dari
masyarakat yang ada di hunian tetap tanpa membedakan antara satu huntap
dengan huntap lainnya. Pengambilan sample dilakukan dengan prinsip
keterwakilan informasi keseluruhan populasi. Jumlah sampel dalam penelitian ini
telah ditentukan dengan kuota tertentu yakni sejumlah 60 responden. Kuota
jumlah responden ini dianggap telah mewakili informasi dari keseluruhan warga
yang tinggal di huntap Penentuan jumlah responden dengan kuota sebanyak 60
responden juga dianggap mampu memenuhi syarat data akan terdistribusi normal.
2

Pengumpulan Data Sekunder


Teknik pengumpulan data sekunder adalah cara pengumpulan data yang

diperoleh melalui studi literatur. Data yang digunakan dalam penelitian ini
bersumber dari BAPPEDA Kabupaten Sleman, BPS, BNPB, REKOMPAK,
Kantor Kecamatan, maupun Kantor Desa. Pengumpulan data sekunder juga

39

didapatkan dari jurnal, buku dan mengunduh data dari internetyang berasal dari
web-web pemerintah.
2

Unit Analisa Data


Lokasi penelitian ini terdiri dari 12 huntap yang ada berada di dua
kecamtan yaitu Cangkringan dan Ngemplak, meliputi huntap Batur, Pegerjurang,
Karangkendal, Plosokerep, Gondang 1 Dan 2, Dongkelsari, Kuwang, Randusari,
Gading,Jetis Sumur, Banjarsari dan Koripan. Dua belas huntap ini memiliki
karakteristik yang sama antara satu dengan lainnya, namun dari segi bangunan
dan tata rung dari huntap memiliki perbedaan satu dengan lainnya.
Unit analisa yang digunakan dalam penelitian ini ada dua. Pertama adalah
unit permukiman dan yang kedua adalah unit analisa rumah tangga yang tinggal
di huntap.
Unit analisa yang pertama yakni unit permukiman. Analisis dilakukan
untuk mendapatkan informasi mengenai pola permukiman yang ada disetiap
huntap. Data spasial berupa foto udara digunakan untuk mengintepretasi bentuk
pola permukiman yang ada disetiap huntap, yang digunakan sebagai salah satu
informasi yang akan digunakan dalam penelitian. Selain pola permukiman,
penataan ruang huntap juga dapat di interpretasi melalui foto udara dengan
mebandingkan siteplan dengan tataruang huntap, yang kemudian ditinjau kembali
kesesuaian

siteplan

tersebut

khususnya

berkenaan

dengan

infrastruktur

permukiman

40

Unit analisa yang kedua adalah unit rumah tangga masyarakat yang tinggal
di huntap. Responden yang digunakan adalah kepala keluarga yang tinggal di
huntap. Informasi yang didapat dari responden digunakan untuk mengetahui
infrastruktur yang tersedia dan pengelolaan infrastruktur yang tersedia. Melalui
hasil wawancara tersebut akan dicari tahu bagaimana keterlibatan dan koordinasi
yang selama ini dilakukan oleh masyarakat dalam mengelola infrastruktur
permukiman
2.5. Teknik Analisa Data
Analisis

data

dilakukan

secara

kualitatif.

Hasil

dari

identifikasi mengenai infrastruktur dilakukan diseluruh hunian


tetap berdasarkan ketersediaan infrastruktur yang disesuaikan
dengan peraturan bupati 18 Tahun 2005 dan peraturan bupati
12 Tahun 2006 mengenai siteplan di Kbupaten Sleman. Peraturan
ini

dugunakan

karena

lokasi

huntap

yang

berada

pada

administrasi kabupaten Sleman. Pengumpulan data mengenai


pola permukiman dan infratruktur dilakukan melalui wawancara,
interpretasi foto udara, pengamatan langsung dan pencatatan
ketersediaan dan kondisi infrastruktur di 12 Huntap. Hasil dari
analisis pola permukiman dan kondisi infrastruktur ini di input
kedalamn excel, dan arcmap 10.1 kemudian diolah dan dianalisis
guna menjawa tujuan satu dan dua.

41

Data
pengelolaan

yang

didapatkan

infrastruktur

kemudian

permukiman

dikaitkan
oleh

dengan

masyarakat.

Pengelolan didasarkan pada sitem koordinasi dan keterlibatan


masyarakat. Melalui analisis tersebut kemudian dihubungkan
dengan pola permukiman dan ketersedian infrastruktur untuk
mengetahui

apakah

keduanya

mempengaruhi

pengelolaan

infrastruktur di tiap-tiap huntap lereng gunungapi merapi.


Wawancara dilakukan dengan alat kuisioner. Melalui alat tersebut
akan di dapatkan beberapa data tabulan yang dapat di wujudkan
dalam bentuk grafik, Batasan Opersional

2.6.Batasan Operasional
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prngelolaan infrastruktur
permukiman pasca erupsi Merapi 2010 lereng Merapi Bagian Selatan. Setiap
Kajian pastilah memiliki beberapa batasan operasional dalam pelaksanaan dan
beberapa hal yang mempengaruhi keefektifitasan penelitian. beberapa batasan
operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

42

a) Pola permukiman yang dimaksud adalah pola permukiman berdarkan


pendekatan

fisikal

(phisical

approach)

dan

pendekatan

administratif

(administratif approach) (Yunus, 2007).


b) Infrastruktur adalah sistem fisik atau fasilitas yang menyediakan layanan
umum yang penting. (Mardiana, 2004). infrastruktur yang akan digunakan
dalan penelitian ini berdasarkan peraturan bupati no 18 Tahun 2005 tentang
siteplan yang di batasi hanya pada jaringan jalan, saluran pembuangan air
hujan dan peresapan air hujan, peresapan air hujan, perletakan tengki
septictank, air limbah komunal, bak sampah, sumur air bersih, alat pemadam
kebakaran, lampu penerangan dan jaringan listrik, peribadatan, dan ruang
terbuka.
c) Pengelolaan permukiman dalam penelitian ini didasarkan pada sistem
koordinasi dan keterlibatan masyarakat dalam mengelola infrastruktur
permukiman.

43

Rencana Daftar Isi Sekripsi


DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PERSEMBAHAN
INTISARI
ABSTRACT
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
1 Latar Belakang
2 Perumusan Masalah
3 Tujuan Penelitian
4 Manfaat Penelitian
5 Tinjauan Pustaka
6 Telaah Penelitian
7 Kerangka Pemikiran
8 Pertanyaan Penelitian
BAB II METODE PENELITIAN
2.1
Lokasi Penelitian
2.2
Data dan Variabel Penelitian
2.3
Cara Pengumpulan Data
2.4
Unit Analisis Data
2.5
Teknik Analisis Data
2.6
Batasan Penenlitian
BAB III DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN
3.1.
Kondisi Geografis
3.2.
Kondisi Demografis
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

44

Daftar Pustaka
Adninda. 2014. Kemenduaan Warga terhadap Sarana dan Prasarana Hunian Tetap
Pagerjurang, Kabupaten Sleman. Skripsi. Yogyakarta: S1 Perencanaan
Wilayah dan Kota. UGM
Affan.F.M. 2014. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Untuk Permukiman Dan
Industri Dengan Menggunakan Sistem Informasi

Geografis (Sig).

Jurnal Ilmiah Pendidikan Geografi. Vol. 2. Hlm 49-60.


Akhmad, Abdul, G,. 2007. Indentifikasi Perumahan dan Permukiman di
Kecamatan Palu Selatan Kota Palu. METEK. No. Tahun IX. Hlm 4663
Bakornas PB. 2007. Pengenalan Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya
Di Indonesia. Edisi II. Pelaksana Harian Badan Koordinasi Nasional
Penanganan Bencana (Bakornas PB)

Bappenas. 2002.

Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur dan Permukiman.

Materi Kuliah Disampaikan Pada Studium General Institut Teknologi


Bandung
BNPB. 2011. Rencana Aksi Rehabiliasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Erupsi
Gunung Merapi Provinsi DIY dan Provinsi Jawa Tengan Taun 200112013. Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Clinton, William J.2006. Key Propositions for Building Back Better: Lessons
Learned from Tsunami Recovery. A Report by the UN SecretaryGenerals Special Envoy for Tsunami Recovery
Doxiadis, Constantinos. 1970. Ekistics, the Science of Human Settlements.
Science, v.170, no.3956, October 1970, p. 393-404: 21 fig.
Hindami. Tazkia. Dimas dan M. Kholif 2014. Kriteria Desain Alih Fungsi Huntara
Menjadi Hunian Permanen Korban Bencana Merapi Studi Kasus :
Desa Umbulharjo, Cangkringan, Yogyakarta. Prosiding Temu Ilmiah
IPLBI 2014 35-40

45

IRP. 2009. Recovery Status Report 1 The Yogyakarta and Central Java
Earthquake 2009. International Recovery Platform
Kondoatie, Robert, J. 2003. Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur.Semarang:
Pustaka Pelajar
Maly, E., dan Nareswari, A,. Housing Relocation after the 2010 Eruption of Mt.
Merapi, Indonesia Conference 2015: Reconstruction and Recovery in
Urban Contexts.
Mardiana,. 2004 Sistem manajemen/pemeliharaan gedung dan infrastruktur rumah
sakit : Studi kasus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Tesis. tidak
diterbitkan. Yogyakarta: S2 Teknik Sipil (Magister Pengelolaan Sarana
Prasa UGM)
Maulana, Taufik Ilham. 2013. Penaggulangan Bencana Penanggulangan Bencana
Demam Berdarah Dengue Dengan Cara Reka Ulang Bak Air
Bangunan. Jurnal Penanggulangan Bencana Vol. 4, No. 2 Tahun 2013
Hal. 47-57
Mutaali,

Lutfi.

2014.

Perencanaan

Pengembangan

Wilayah

Berbasis

Pengurangan Resiko Bencana. Yogyakarta. UGM


Palliyaguru, Roshani dan Dilanthi Amaratunga, 2008,Managing disaster risks
through quality infrastructure and vice versa, Structural Survey, Vol.
26 Iss 5 pp. 426 434
PU, 2012. Buid Back Better: Menuju Penataan Permukiman Yang Lebih Baik.
Rekompak. Kementerian Pekerjaan Umum
Putro, Harry, P,. 2012. Pembangunan Huntara Pasca Bencana Merapi di
Kabupaten Sleman. Tesis. tidak diterbitkan. Yogyakarta: S2 Magister
Perencanaan Kota dan Derah UGM.
Ritohardoyo, Su. 2000. Handout Geografi Permukiman: Pengertian, kasikasi,
perumahan dan pola permukiman. Yogyakarta: UGM

46

Ritohardoyo, Su. 2013. Keberlanjutan Permukiman dan Strategi Penghidupan


Mayrakat Korban Letusan Gunungapi Merapi. Patrawidya.Vol. 14 No.
1. Hal 1-30.
Roshani Palliyaguru Dilanthi Amaratunga, (2008). Managing disaster risks
through quality infrastructure and vice versa. Structural Survey, Vol.
26 Iss 5 pp. 426 434
Sadyohutomo. Mulyono. 2008. Manajemen Kota dan Wilayah Realita dan
Tantangan. Bandung: Bumi Aksara
Syafrudin,. 2011. Pola Kerusakan Permukiman Lereng Merapi Pasca Erupsi
Merapi 5 Nopember 2010 Di Kecamatan Cangkringan. Tesis. tidak
diterbitkan. Yogyakarta: S2 Magister Perencanaan Kota dan Derah
UGM.
UNDHA. 1992. Internationally Agreed Glossary of Basic Terms Related to
Disaster Management. United Nations Department of Humanitarian
Affairs,
Geneva,Switzerland.http://reliefweb.int/sites/reliefweb.int/files/resour
ces/004DFD3E15B69A67C1256C4C006225C2-dha-glossary1992.pdf (di akses pada 30 September 2015 oleh Ululazmi Husna R)
UNISDR. 2009. Terminology on Disaater Risk. United Strategy for Reduction.
http://www.unisdr.org/files/7817_UNISDRTerminologyEnglish.pdf.
(di akses pada 30 September 2015 oleh Ululazmi Husna R)
Usamah,M dan Hayne, K 2012. An examination of the resettlement program at
Mayon Volcano: what can we learn for sustainable volcanic risk
reduction?. Bull Volcanol (2012) 74:839859 DOI 10.1007/s00445011-0567-8
Wet, Chris. 2002. The Experience with Dams and Resettlement in Africa. Cape
Town.: World Commission on Dams.
Yunus, Hadi sabari. 1986. Klasifikasi Permukiman Kota: Tinjauan Makro.
Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
47

Yunus, Hadi sabari. 1987. Geografi Permukiman dan Beberapa Permasalahn


Permukiman di Indonesia. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
Yunus, Hadi sabari. 2007. Metodologi Penelitian Wilayah Kontemporer
Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
Yunus, Hadi sabari. 2007. Subject Matter dan Metode Penelitian Geografi
Permukiman Kota. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.

Pustaka Perundang-undangan
Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana. Lembaran Negara RI Tahun 2007. No
4723. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2008.

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008

Penyelenggaraan Penanggulanagn Bencana Lembaran Negara RI


Tahun 2008. No 4828. Sekretariat Negara. Jakarta.
Pustaka online
Kompas.com.

2010.

Erupsi

Merapi

2010

Lebih

Besar

dari

1872.

http://megapolitan.kompas.com/read/2010/11/09/15573541/erupsi.Me
rapi.2010.lebih.besar.dari.1872. (di akses pada 23 Maret 2015 oleh
Ululazmi Husna R)

48