Anda di halaman 1dari 18

Pengelolaan Infrastruktur Permukiman Pasca Erupsi Merapi 2010 di Lereng Merapi

Bagian Selatan

USULAN PENELITIAN
Sebagai syarat untuk persiapan menyusun Skripsi S-1 dalam
Program Studi Pembangunan Wilayah, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Disusun Oleh:
Ululazmi Husna R
12/331035/GE/07345

UNIVERSITAS GADJAH MADA


FAKULTAS GEOGRAFI
YOGYAKARTA
2015

Pengelolaan Infrastruktur Permukiman Pasca Erupsi Merapi 2010 di Lereng Merapi


Bagian Selatan

I.

LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak gunung Api yang tersebar
di berbagai wilayah. Jumlah yang tercatat sampai saat ini diketahui terdapat 129
gunungapi aktif. Banyaknya jumlah Gunungapi di Indonesia menyebabkan
Indonesia tidak terlepas dari ancaman bencana erupsi gunungapi. Balai
Penyelidikan

dan

Pengembangan

Teknologi

Kegunungapian

(BPPTK)

menyebutkan salah satu gunungapi yang sampai saat ini masih aktif adalah
Gunung Merapi. Gunung Merapi secara geografis terletak pada 7 o 32 5" S dan
110o 265" E yang secara adminstratif berada di antara provinsi DIY dan propinsi
Jawa Tengah. Berdasarkan sejarah sejak tahun 1600-an, Gunung Merapi telah
meletus lebih dari 80 kali atau rata-rata meletus sekali dalam kurun waktu 4 tahun
dengan masa istirahat berkisar 1-18 Tahun.
Erupsi gunung Merapi terbesar terjadi pada tahun 2010. Seperti yang dilansir
pada kompas.com (2010) Kepala BPPTK menyatakan apabila letusan yang tejadi
pada 2010 merupakan letusan yang paling besar sepanjang sejarah sejak 1872.
Data dari BNPB tahun 2010 mencatat ada 341 korban meninggal yang tersebar di
Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten
Klaten dengan jumlah korban paling banyak berada di Kabupaten sleman yang
mencapai 243 jiwa. Erupsi Merapi yang terjadi tahun 2010 tidak hanya
mengakibatakan banyaknya korban jiwa, namun juga mengakibatkan kerugian
materiil. Kerugian materiil paling besar dialami oleh Kabupaten Sleman yang
meliputi rusaknya 2.346 rumah, 366 sekolah, 7 pasar, 10 puskesmas dan 5
puskesmas pembantu.
Hilangnya banyak jiwa dan kerugian materiil sekitar lereng Merapi
memberikan trauma tersendiri bagi masyarakat. Agar dapat mengembalikan
kehidupan masyarakat pasca erupsi Merapi Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2007 tentang penanggulangan bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 21
Tahun 2008 tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana menjelaskan perlu
adanya rehabilitasi masyarakat pascabencana. Rehabilitasi dilakukan agar dapat
memperbaiki dan memulihkan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat
sampai tingkat yang memadai sehingga dapat mengembalikan penghidupan

masyarakat pasca Erupsi Merapi. Konsep penghidupan sendiri oleh Ellis (2000,
dalam Baiquni, 2007) termasuk dalam gabungan dari aset, aktifitas dan akses yang
ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Konsep penghidupan ini yang
kemudian menjadikan rehabilitasi menjadi hal yang sangat penting dilakukan
pasca bencana.
Sesuai dengan Pedoman Nasional Pengkaji Risiko Bencana, Gunung Merapi
telah di bagi mejadi 3 kawasan berdasarkan indeks Ancaman yang disebabkan
erupsi Merapi. Kawasan Rawan Bencana (KRB) I termasuk dalam kelas Indeks
Rendah Ancaman. Kawasan Rawan Bencana (KRB) II termasuk dalam kelas
Indeks Sedang Ancaman dan Kawasan Rawan Bencana (KRB) III yang termasuk
dalam Kelas Indeks Tinggi. Pedoman ini masih tetap digunakan sampai saat ini
karena tidak ada zonasi maupun peta yang memiliki akurasi yang baik dalam
memetakan kawasan yang termasuk rawan dalam bencana (Lavigne,1999).
Berdasarkan zonasi yang dikeluarkan BNPB ini, kegiatan rehabilitasi diutamakan
bagi masyarakat yang berada di KRB III.
Kegiatan rehabilitasi pasca bencana salah satunya terkait hunian masyarakat.
Banyaknya kerusakan pada hunian masyarakat di sekitar lereng Merapi
meyebabkan penghidupan masyarakat pasca erupsi Merapi tahun 2010 menjadi
terhambat. ). Rehabilitasi dibidang permukiman ini dinilai sangat penting karena
menurut Budiharjo (1984) dalam Istiqomah (2013) dalam pembangunan
permukiman, tempat tinggal manusia merupakan komponen penting dalam
pembangunan manusia seutuhnya. Sehingga untuk dapat merehabilitasi dan
merekontruksi hunian masyarakat pasca merapi pembangunan permukiman
menjadi sesuatu yang urgent untuk diperhatikan.Oleh sebab itu, relokasi perlu
dilakukan khususnya bagi masyarakat di sekitar lereng Merapi yang termasuk
dalam KRB III dengan mewujudkan permukiman baru bagi masyarakat agar dapat
melanjutkan penghidupannya.
Pada dasarnya, relokasi tidak hanya bertujuan untuk memindahkan
permukiman

dari satu lokasi ke lokasi lainnya, namun diharapkan mampu

memberikan perubahan untuk kondisi yang lebih baik. Kondisi yang lebih baik
tersebut dapat berupa kondisi fisik permukiman, sosial dan ekonomi masyarakat
saja, tetapi juga terciptanya lingkungan permukiman baru yang berkelanjutan (De
Wet,2002). Agar dapat mencipatkan pemukiman yang baru, tentunya ada kriteriakriteria lokasi yang layak tinggal agar dapat mengembangkan kehidupuan
masyarakat menjadi lebih baik atau minimal sama dengan kondisi sebelumnya

(BPUI,2010) dalam (Hindami,dkk,2014). Salah satu aspek yang mendukung


keberlanjutan dari permukiman sendiri Palliyaguru dan Amaratunga (2008)
menyebutkan apabila kualitas infrastruktur merupakan hal yang paling penting
dan lebih banyak memberi manfaat dalam keberlanjutan permukiman. Berhasilnya
kegiatan relokasi sangat mempertimbangkan aspek keamanan penghidupan,
desain rumah, ketersedian sarana umum dan fasilitas penunjang. (Usamah dan
Hayne, 2011).
II.

RUMUSAN MASALAH
Hunian tetap di sekitar lereng Merapi merupakan produk dari program
pemerintah dalam rehabilitasi pasca bencana Merapi tahun 2010 yang di kenal
dengan nama REKOMPAK (Rehabilitasi dan Rekontruksi Masyarakat dan
Permukiman Berbasis Komunitas). Program rehabilitasi yang dilaksanakan
dilakukan untuk masyarakat yang mengalami kerugian khusunya asset yang
berupa tempat tinggal. Hunian ini diperuntukan bagi masyarakat yang berada di
KRB III yang dinilai mengalami kerugian materiil akibat erupsi Merapi. Kegiatan
rehabilitasi yang digarap oleh pemerintah ini dititkberatkan pada partisipasi
masyarakat untuk bersama menciptakan pemukiman baru yang berkelanjutan.
Pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat langsung dalam
pembangunan pemukiman tidak hanya dalam segi perencanaan saja, namun juga
dalam pembangunan, desain, dan

pengelolaan permukiman sehingga dapat

tercapai pemukiman yang berkelanjutan. Keberhasilan dalam program rehabilitasi


dan rekontruksi akan sangat di pengaruhi oleh masyarakat sebagai pelaku utama
dalam pembangunan. Salah satu aspek yang dapat disoroti dalam keterlibatan
masyarakat dalam mencapai pemukiman yang berkelanjutan adalah pengelolaan
infrastruktur.
Berlandaskan

pada

latar

belakang

dan

uraian

tersebut

pokok

permasalahan dari penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:


1. Bagaimana pola persebaran permukiman masyarakat lereng Merapi bagian
selatan pasca erupsi Tahun 2010?
2. Bagaimana kondisi infrastruktur permukiman baru masyarakat lereng
Merapi bagian selatan pasca erupsi Tahun 2010?
3. Bagaimana pengelolaan infrastruktur permukiman baru oleh masyarakat
lereng Merapi bagian selatan pasca erupsi Tahun 2010?

III.

TUJUAN PENELITIAN
3.1 Tujuan penlitian ini adalah:
1. mengidentifikasi pola persebaran permukiman masyarakat lereng Merapi
bagian selatan pasca erupsi Tahun 2010
2. mengidentifikasi kondisi infrastruktur permukiman baru masyarakat lereng
Merapi bagian selatan pasca erupsi Tahun 2010?
3. menganalisis pengelolaan infrastruktur permukiman baru oleh masyarakat
lereng Merapi bagian selatan pasca erupsi Tahun 2010?
3.2 Kegunaan Penelitian ini adalah
1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi penelitian dalam (a)
menuangkan gagasan, ide dan pikiran dalam bentuk tulisan dan (b) melatih
dan mendorong untuk berpikir logis dan kritis, serta meningkatkan daya
serap informasi khususunya mengenai topik yang akan di teliti.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dalam hal (a) identifikasi pola persebaran permukiman
masyarakat pasca erupsi Merapi 2010 (b) identifikasi adaptasi masyarakat
dalam pegelolaan infrastruktur permukiman baru oleh masyarakat lereng
Merapi bagian selatan pasca erupsi Tahun 2010 dan (c) menjadi pedoman
bagi penelitian dimasa yang akan datang.
3. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat meberi masukan
kepada pihak pengelola dan pemerintah dalam melakukan reehabilitasi
pasca bencana dan menemukenali adaptasi masyarakat dalam pegelolaan
infrastruktur permukiman baru oleh masyarakat lereng Merapi bagian
selatan pasca erupsi Tahun 2010.

IV.
IV.1.

TINJAUAN PUSTAKA
penghidupan masyarakat
Penghidupan (livelihood) merupakan suatu kemampuan, aset (termasuk

sumberdaya material dan sosial), dan kegiatan yang diperlukan untuk menjalani
kehidupan (Chambers dan Conway, 1992, dalam Ritohardoyo, 2013). Definisi ini

menjelaskan apabila penghidupan merupakan gabungan dari kemampuan, aset dan


berbagai kegiatan untuk menunjang kehidupan. Ellis (2000, dalam Baiquni, 2007)
mendefinisikan Penghidupan (livelihood)

terdiri atas aset (natural, fisik, human,

finansial dan sosial kapital), aktivitas dan akses di dalamnya (diantara instiusi dan
hubungan sosial) yang secara bersama menentukan pencapaian kehidupan oleh
individu atau rumahtangga. Pengertian yang di kemukakan tersebut menjelaskan
apabila penghidupan merupakan gabungan dari tiga konsep yang terdiri atas aset,
aktifitas dan akses. Aset terkait dengan penguasaan atas sumberdaya, aset merupakan
suatu yang dimiliki oleh seseorang baik secara individu maupun rumah tangga. Aset
dapat dibedakan menjadi aset yang tampak seperti lahan, bangunan, alat, mesin dan
berbagai benda lainnya. sedangkan aset yang tak tampak dapat berupa pengetahuan,
kesehatan, ketrampilan, dan status sosial.
Departement for International Development atau DFID (1999) merumuskan
aset penghidupan (pentagon assets) meliputi modal (manusia, sosial, finansial, fisik,
dan alam) dan pengaruh serta akses yang dikuasai dan dimiliki tiap rumah tangga.
1. Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia atau human asset mencakup keterampilan, pengetahuan,
kemampuan untuk bekerja keras, serta kesehatan jasmani yang seluruhnya
memungkinkan untuk menerapkan berbagai macam strategi mata pencaharian
untuk mencapai sasaran kahidupannya. ,odal manusia merupakan jenis modal
yang paling terpengaruh oleh kebijakan program pemerintah dan investasi
sumberdaya manusia melalui pendidikan, pelatihan, dan pelayanan kesehatan.
2. Finansial (Keuangan)
Modal finansial merupakan sumberdaya keuangan yang digunakan untuk
mencapai tujuan penghidupan (DFID, 1999). Finansial juga berbicara
mengenai aliran atau peredaran uang yang dimiliki oleh seseorang atau
sekelompok orang. Finansial berkontribusi terhadap konsumsi serta produksi
sehingga mendorong setiap orang untuk memiliki strategi tersendiri dalam
pengelolaannya. Pada dasarnya, terdapat dua sumber utama modal keuangan
menurut DFID (1999):
Ketersediaan stok: umumnya berbentuk tabungan (uang tunai maupun
deposito bank), ternak, perhiasan.
Arus masuk uang secara reguler: umumnya berbentuk pensiunan, transfer
3.

dari luar negeri, dan remitan.


Fisik

Modal fisik terdiri dari infrastruktur dan produsen barang-barang dasar yang
dibutuhkan untuk mendukung dan menunjang penghidupan (DFID, 1999).
Infrastruktur terdiri dari perubahan lingkungan fisik yang membantuorang
untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka untuk menjadi lebih produktif.
Infrastruktur umumnya merupakan barang publik yang dapat digunakan tanpa
membayar secara langsung, namun tidak menutup kemungkinan juga adanya
pembayaran secara langsung seperti jalan tol dan pasokan energi. Menurut
DFID (1999), komponen-komponen infrastruktur yang bersifat penting demi
penghidupan

berkelanjutan

diantaranya

transportasi

yang

terjangkau,

bangunan yang baik dan aman, sanitasi, drainase, pasokan air yang memadai,
ketersediaan pasokan energi, komunikasi, dan lain-lain.
Selain infrastruktur, modal fisik juga dapat berupa barang atau alat dan
perlengkapan yang juga digunakan untuk membantu kegiatan menjadi lebih
produktif. Barang tersebut dapat dimiliki secara individu ataupun kelompok,
dimana umumnya bersifat canggih.
4. Sumberdaya Alam
Modal alam merupakan sumberdaya alam yang ada di sekitar masyarakat dan
berguna bagi kehidupan, misalnya tanah, pohon, air. Dalam kerangka
penghidupan yang berkelanjutan, hubungan antara modal alam dan konteks
kerentanan

sangat

dekat

karena

sumberdaya

alam

rentan

terhadap

pengrusakan. Salah tindakan terhadap pemanfaatan sumberdaya alam bisa


5.

memengaruhi kehidupan masyarakat.


Modal Sosial
Pada dasarnya terdapat banyak perdebatan mengenai apa yang dimaksud
dengan istilah modal sosial. Menurut DFID (1999), dalam konteks kerangka
penghidupan yang berkelanjutan, modal sosial dapat diartikan sebagai
sumberdaya sosial yang mana orang-orang ingin mencapai tujuan mereka
dengan cara membentuk jaringan, baik secara vertikal (dengan atasan) maupun
horizontal (antar individu dengan kepentingan bersama) yang meningkatkan
kepercayaan dan kemampuan untuk bekerja sama dan memperluas akses
masyarakat ke lembaga yang lebih luas, seperti badan politik atau sipil; dan
keanggotaan kelompok-kelompok yang lebih formal
Aktivitas merupakan suatu bentuk kegiatan oleh masyarakat dalam

mencapai strategi penghidupan. Sedangkan akses merupakan kemampuan


manusia untuk dapat memanfaatkan fasilitas yang ada disekitarnya (Baiquni,

2007). Kharismawanti (2014) berpendapat bahwa akses dalam setiap wilayah


akan berbeda satu sama lain yang diakibatkan oleh perbedaan akses terhadap
pasar. Adanya status sosial, aset keuangan, dan aset manusia yang rendah akan
menyebabkan tidak adanya akses terhadap pasar. Akses umumnya ditentukan dari
beberapa faktor, sepeti jarak terhadap pasar, akses terhadap infrastruktur fisik,
telekomunikasi, informasi, dan pelayanan.
Berhubungan dengan konsep penghidupan terdapat konteks kerentanan
yang terdiri atas shocks, seasonality, trends, dan institutions. Shock merupakan
suatu kerentanan atas kejadian yang tiba-tiba yang tidak dapat diprediksi.
Seasonality merupakan kerentanan akan pola kejadian yang datang sesuai dengan
waktu. Trend merupakan kerentanan akan munculnya hal-hal yng sedang
berkembang dimasyarakat sedangkan insttution terkait dengan peraturan baik
formal maupun non formal.
Berdasarkan kerentanan tersebut bencana erupsi merapi tahun 2010
memberikan pengaruh yang besar terhadap penghidupan masyarakat lereng
merapi. Terutama terkait hilangnya aset yang dimiliki oleh masyarakat salah
satunya adalah tempat tinggal.
IV.2.

Rehabilitasi Pasca Bencana


Peraturan kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 11 Tahun

2008

tentang

pedoman

Rehabilitasi

dan

rekontruksi

Pasca

Bencana

mendefinisikan) rehabilitasi sebagai kegiatan perbaikan dan pemulihan semua


aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada
wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya
secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah
pascabencana. Menurut Clinton (2006) prinsip rehabilitasi pasca bencana
berpedoman pada build back better (membangun kembali dengan lebih baik).
Kegiatan yang disusun dalam rehabilitasi meliputi : (a) perbaikan lingkungan
daerah bencana; (b) perbaikan prasarana dan sarana umum; (c) pemberian
bantuan perbaikan rumah masyarakat; (d) pemulihan sosial psikologis; (e)
pelayanan kesehatan; (f) rekonsiliasi dan resolusi konflik; (g) pemulihan sosial
ekonomi budaya; (h) pemulihan keamanan dan ketertiban; (i) pemulihan fungsi
pemerintahan; dan (j) pemulihan fungsi pelayanan publik.

Prinsip rehabiltasi yang dikemukakan oleh clinton (2006) saat ini telah
diadopsi dalam pelaksanaan rehablitasi pasca bencana erupsi Merapi di
Yogyakarta.

berlandaskan pada pedoman build back better terbentuk suatu

program rehabilitasi untuk mewujudkan penataan pemukiman yang lebih baik


sebagai implementasi aksi penanggulangan bencana erupsi merapi yang di susun
oleh BNPB dan Bappenas. Sesuai dengan aturan yang dibuat oleh BNPB
pelaksanaan rehabilitasi ini dilakukan oleh kementrian Pekerjaan Umum yang
diwujudkan dalam program REKOMPAK (Rehabilitasi dan Rekontruksi
Masyarakat dan Permukiman Berbasis Komunitas).
IV.3.

Perumahan dan Permukiman Masayarakat Pasca Erupsi


Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman menyebutkan bahwa Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai
bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi
dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan
rumah yang layak huni. Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan
hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun
perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan
hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
Perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang terdiri
atas

pembinaan, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan

kawasan

permukiman, pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan peningkatan


kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh, penyediaan tanah,
pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat.
Kamus Tata Ruang Tahun 1997 Permukiman adalah kawasan yang didominasi
oleh lingkungan yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan dan
tempat kerja yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja yang terbatas
untuk mendukung perikehidupan dan penghidupan, sehingga fungsinya dapat
berdaya guna dan berhasil guna. Permukiman ini dapat berupa permukiman
perkotaan maupun permukiman perdesaan. Sedangkan berdasar Kamus Tata
Ruang Tahun 1997 Permukiman adalah kawasan yang didominasi oleh
lingkungan yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan dan tempat
kerja yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja yang terbatas untuk
mendukung perikehidupan dan penghidupan, sehingga fungsinya dapat berdaya

guna dan berhasil guna. Permukiman ini dapat berupa permukiman perkotaan
maupun permukiman perdesaan.
Menurut (Parwata, 2004 dalam Affan 2014) permukiman terdiri dari: (1) isi,
yaitu manusia sendiri maupun masyarakat; dan (2) wadah, yaitu fisik hunian yang
terdiri dari alam dan elemen-elemen buatan manusia. Dua elemen permukiman
tersebut, selanjutnya dapat dibagi ke dalam lima elemen yaitu: (1) alam yang
meliputi: topografi, geologi, tanah, air, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan iklim; (2)
manusia yang meliputi: kebutuhan biologi (ruang,udara, temperatur, dsb),
perasaan dan persepsi, kebutuhan emosional, dan nilai moral; (3) masyarakat
yang

meliputi:

kepadatan dan komposisi

penduduk, kelompok

sosial,

kebudayaan, pengembangan ekonomi, pendidikan, hukum dan administrasi; (4)


fisik bangunan yang meliputi: rumah, pelayanan masyarakat (sekolah, rumah
sakit, dsb), fasilitas rekreasi, pusat perbelanjaan dan pemerintahan, industri,
kesehatan, hukum dan administrasi; dan (5) jaringan (network) yang meliputi:
sistem jaringan air bersih, sistem jaringan listrik, sistem transportasi, sistem
komunikasi, sistem manajemen kepemilikan, drainase dan air kotor, dan tata letak
fisik. Pembangunan Menurut Nurtina
Salah satu komponen dasar dalam pembangunan permukiman adalah
pembangunan prasarana dan sarana permukiman (Bappenas, 2002). Menurut
Keputusan Presiden Nomor 37 Tahun 1994 tentang Badan kebijaksanaan dan
pengendalian pembangunan perumahan dan permukiman nasional, pembangunan
perumahan dan permukiman merupakan kegiatan yang bersifat lintas sektoral,
yang pelaksanaannya perlu memperhatikan aspekaspek sarana dan prasarana
lingkungan, rencana tata ruang, pertanahan, industri bahan, jasa konstruksi dan
rancang bangun, pembiayaan, sumber daya manusia, kemitraan antar pelaku, dan
aspek penunjang lainnya. Oleh sebab itu, dalam pembangunan pemukiman
keberadaan sarana prasarana menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.
IV.4.

Infrastruktur Pemukimam Sebagai Penujang Penghidupan


Suatu pemukiman tidak akan terlepas dengan aspek aspek yag mendukungnya
seperti sarana dan prasarana. Penyediaan sarana dan prasarana pemukiman oleh
Yudhohusodo (1991) dijelaskan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
perkembangan permukiman yang dapat dilihat dari 9 aspek, antara lain: letak
geografis, kependudukan, sarana dan prasarana, ekonomi dan keterjangkauan

daya beli, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, kelembagaan, dan
peran serta masyarakat. Siwono menjelaskan aspek kelengkapan sarana dan
prasarana dari suatu perumahan dan permukiman dapat mempengaruhi
perkembangan permukiman di suatu wilayah. Dengan adanya sarana dan
prasarana yang memadai dapat memudahkan penduduknya untuk beraktivitas
sehari-hari.
Menurut Grigg dalam Kondoatie, (2003) dalam Prasetyo dan firdaus (2009)
infrastruktur sebagai pendukung utama sistem sosial dan sistem ekonomi
dilaksanakan dalam konteks keterpaduan dan menyeluruh. Infrastruktur yang
merupakan fasilitas yang dikembangkan untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam
hal pelayanan publik tidak dapat berfungsi sendiri-sendiri dan terpisah.
Keterpaduan tersebut menentukan nilai optimasi pelayanan infrastruktur itu
sendiri. Berdasarkan jenisnya, infrastruktur dibagi dalam 13 kategori (Grigg,
1988) sebagai berikut :
1. Sistem penyediaan air : waduk, penampungan air, transmisi dan distribusi,
dan fasilitas pengolahan air (treatment plant),
2. Sistem pengelolaan air limbah : pengumpul, pengolahan, pembuangan,
3.
4.
5.
6.

dan daur ulang,


Fasilitas pengelolaan limbah (padat),
Fasilitas pengendalian banjir, drainase, dan irigasi,
Fasilitas lintas air dan navigasi,
Fasilitas transportasi : jalan, rel, bandar udara, serta utilitas pelengkap

lainnya,
7. Sistem transit publik,
8. Sistem kelistrikan : produksi dan distribusi,
9. Fasilitas gas alam,
10. Gedung publik : sekolah, rumah sakit, gedung pemerintahan, dll,
11. Fasilitas perumahan publik,
12. Taman kota: taman terbuka, plaza, dll, serta
13. Fasilitas komunikasi.
Pengertian Infrastruktur menurut Grigg (1988) merupakan sistem fisik yang
menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan gedung dan fasilitas
publik lainnya, yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia baik
kebutuhan sosial maupun kebutuhan ekonomi Tiga belas jenis infrastruktur
tersebut kemudian dikelompokkan dalam 7 kelompok besar (Grigg dan Fontane,
2000) sebagai berikut:
1. Transportasi (jalan, jalan raya, jembatan),
2. Pelayanan transportasi (transit, bandara, pelabuhan),

3. Komunikasi,
4. Keairan (air, air buangan, sistem keairan, termasuk jalan air yaitu sungai,
saluran terbuka, pipa, dll),
5. Pengelolaan limbah (sistem pengelolaan limbah padat),
6. Bangunan, serta
7. Distribusi dan produksi energi. yang tersedia maka semakin banyak pula
orang yang berkeinginan bertempat tinggal di daerah tersebut.
Agar dapat menunjang keberadaan infrastruktur dalam permukiman maka
terdapat pedoman standar yang dibuat oleh menteri Permukiman dan Prasaran
Wilayah dalam pedoman penetuan standar pelayana

minimal bidang penataan

ruang, perumahan dan permukiman dan pekerjaan umun yang didalamnya


terdapat berbagai aturan yang harus dipenuhi dalam penyediaan sarana prasaran
permukiman.

Nama

Judul

Tujuan Penelitian

Metode

Peneliti

Peneliti

(Tahun

an

Terbit)
Hibatullah
Hindami
A,

Kriteria
N Alih

Hasil Penelitian

Desain kepuasan penghuni Peneliti

Transformasi

Fungsi HUNTARA

HUNTARA di Desa

Tazkia Huntara Menjadi terhadap

an

hunian kualitati Umbulharjo

Agung

Hunian

yang mereka tem f

Standar

Fuadi,

Permanen

pati saat ini, serta

Permanen

Dimas

Korban Bencana kelayakan

Rahmatullah

Merapi

(3),

Desain
Sesuai
Hunian

fasilitas

dan sarana umum di


lokasi tersebut.

Muhammad
Kholif L W
(2014)
Harry

Pembangunan

Priyanto
Putra (2012)

mengeksplorasi

metode

Penyelesaian

Huntara Pasca

proses

dedukti

pembangunan huntara

Bencana Merapi

perencanaan dan f

yang dikerjakan oleh

di

pelaksanaan

dengan

ACT

lebih

cepat

Kabupaten

pembangunan

pendek

dibandingkan

dengan

Sleman

huntara

1.

pasca atan

yang dikerjaan

bencana Merapi kualitati Pemerintah.


di

Kabupaten f-

Sleman,
2. mengidentifikasi
faktor-faktor
yang

Adapun

faktor-faktor

yang

eksplor

mempengaruhi proses

atif

perencanaan

huntara,

yaitu

sasaran

pembangunan huntara,

mempengaruhi
proses
perencananaan
dan pelaksanaan
pembangunan
huntara

pasca

bencana Merapi
di

oleh

Kabupaten

Sleman

pendataan, penentuan
lokasi,

partisipasi

publik,

dan

kesiapsiagaan.
Sementara,

faktor-

faktor

yang

mempengaruhi proses
pelaksanannya,

yaitu

partisipasi

dalam

pendanaan,

kondisi

site,
bahan
metode
pekerjaan

ketersediaan
baku,

dan

pelaksanaan

IV.5.

Kerangka Pemikiran
Erupsi Merapi 2010

Terganggunya penghidupan
masyarakat

Akses

Asset

Fisik permukiman
(Tempat tinggal )

Analisis kondisi infrastruktur

Air bersih
Jalan pemukiman
Drainase
MCK
pembuangan limbah
pembuangan sampah

Pengelolaan infrastuktur
permukiman

Aktifitas

V.

METODE PENELITIAN

VI.

PUSTAKA
Affan.F.M. 2014. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Untuk Permukiman Dan
Industri Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Sig). Jurnal
Ilmiah Pendidikan Geografi. Vol. 2. Hlm 49-60.
Badan Pekerjaan Umum Indonesia, 2010.
Baiquni, M. 2007. Strategi Penghidupan di Masa Krisis. Yogyakarta: Ideas Media.
Bappenas. 2002. Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur dan Permukiman. Materi
Kuliah Disampaikan Pada Studium General Institut Teknologi Bandung
Clinton, William J.2006. Key Propositions for Building Back Better: Lessons Learned
from Tsunami Recovery,

De Wet, Chris. 2002. The Experience with Dams and Resettlement in Africa, World
Commission on Dams, Cape Town, South Africa.
Departement for International Development (DFID). 1999. Sustainable Livelihood
Guidance Sheet
Grigg, Neil S., Infrastructure Engineering and Management, John Wiley & Sons, 1988
Hindami. Tazkia. Dimas dan M. Kholif 2014. Kriteria Desain Alih Fungsi Huntara
Menjadi Hunian Permanen Korban Bencana Merapi Studi Kasus : Desa
Umbulharjo, Cangkringan, Yogyakarta. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2014
35-40
Istiqomah dan Setyawati. 2013. Kualitas Lingkungan Permukiman Masyarakat
Hunian Tetap Korban Erupsi Gunung Merapi Tahun 2010 Di Desa
Kepuharjo Dan Wukirsari Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman.
GEO EDUCASIA. Tahun II, Vol IV, Tahun 2013
Kompas.2010.

Erupsi

Merapi

2010

Lebih

Besar

dari

1872.http://megapolitan.kompas.com/read/2010/11/09/15573541/erupsi.me
rapi.2010.lebih.besar.dari.1872. (di akses pada 23 Maret 2015)
Lavigne, Franck. 1999. Lahar Hazard Micro-zoation and Risk Assessment in
Yogyakarta City, Indonesia. GeoJournal; 1999; 49, 2; ProQuestpg. 173
Palliyaguru, Roshani dan Dilanthi Amaratunga, 2008,"Managing disaster risks
through quality infrastructure and vice versa", Structural Survey, Vol. 26 Iss
5 pp. 426 434
Prasetyo.R.B dan Firdaus.M .2009. Pengaruh Infrastruktur Pada Pertumbuhan
Ekonomi Wilayah Di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan
Pembangunan, Vol.2(2): hlm 222-236
Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana. Lembaran Negara RI Tahun 2007. No 4723.
Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2008.

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008

Penyelenggaraan Penanggulanagn Bencana Lembaran Negara RI Tahun


2008. No 4828. Sekretariat Negara. Jakarta.
Ritohardoyo, Su. 2013. Materi Kuliah Strategi Pemberdayaan Penghidupan
(Pendahuluan, Pengertian, Kerangka Umum). Powerpoint.

Usamah,M dan Hayne, K 2012. An examination of the resettlement program at Mayon


Volcano: what can we learn for sustainable volcanic risk reduction?. Bull
Volcanol (2012) 74:839859 DOI 10.1007/s00445-011-0567-8
Yudohusodo, Siswono, dkk. 1991, Rumah untuk Seluruh Rakyat, INKOPPOL, Jakarta,