Anda di halaman 1dari 17

Audit Operasional

Di luar kegiatan audit keuangan, auditor internal, auditor pemerintah, dan akuntan
publik juga melakukan audit operasional, yang berhubungan dengan efisiensi dan
efektivitas organisasi. Beberapa auditor lain menggunakan istilah audit manajemen
atau audit kinerja, bukan audit operasional, sementara juga ada yang tidak
memisahkan antara istilah audit kinerja, audit manajemen, dan audit operasional
serta menggunakan istilah tersebut bergantian

Istilah audit operasional digunakan selama tujuan pengujian yang


dilakukan adalah untuk menentukan efektivitas dan efisiensi dari
unit-unit organisasi. Pengujian efektivitas pengendalian internal oleh auditor
internal dapat dianggap sebagai bagian dari audit operasional, jika tujuannya
adalah untuk membantu perusahaan mengoperasikan bisnis secara lebih efektif
atau efisien. Audit operasional bisa saja bertujuan untuk menentukan apakah suatu
perusahaan memiliki personel yang memadai dalam lini perakitan, jika tujuannya
untuk menentukan efektivitas dan efisiensi perusahaan dalam memproduksi
produknya.

Perbedaan Antara Audit Operasional dan Audit Keuangan

Terdapat tiga perbedaan utama antara audit operasional dan audit


keuangan, yaitu:
1.

Tujuan Audit

Audit keuangan menekankan pada ketepatan pencatatan informasi


historis, sedangkan audit operasional menekankan pada efektivitas
dan efisiensi. Audit keuangan berorientasi pada masa lampau,
sementara audit operasional berfokus pada peningkatan kinerja

masa depan. Seorang auditor operasional, misalnya, dapat


mengevaluasi apakah jenis baru bahan baku dibeli pada harga
terendah untuk menghemat uang dalam pembelian bahan baku
berikutnya.
2.

Distribusi Laporan

Laporan audit keuangan biasanya didistribusikan kepada pengguna


laporan keuangan eksternal, misalnya pemegang saham dan pihak
bank, sedangkan laporan audit operasional ditujukan terutama
kepada manajemen. Distribusi laporan audit eksternal yang luas
memerlukan struktur dan penyusunan kata-kata yang sangat baik.
Distribusi terbatas laporan operasional audit dan perbedaan sifat
audit untuk efisiensi dan efektivitas menghasilkan laporan audit
yang berbeda antara suatu audit dan audit lainnya.
3.

Area Non Keuangan

Audit keuangan terbatas hanya pada hal-hal yang langsung


mempengaruhi kewajaran laporan keuangan, sedangkan audit
operasional meliputi aspek efektivitas dan efisiensi dalam
organisasi. Misalnya, audit operasional dapat ditujukan untuk
efektivitas program periklanan atau efisiensi pekerja pabrik
Efektivitas Versus Efisiensi

Sebelum audit operasional dilakukan, auditor harus menentukan kriteria khusus


untuk mengukur efektivitas dan efisiensi. Pada umumnya, efektivitas merujuk pada

terpenuhinya suatu tujuan, misalnya memproduksi suku cadang tanpa kesalahan.


Efisiensi merujuk pada penentuan kecukupan sumber daya yang digunakan untuk
mencapai tujuan tersebut, seperti menentukan apakah suku cadang diproduksi pada
biaya minimum.

Efektivitas. Dalam audit operasional untuk efektivitas, seorang auditor misalnya,


mungkin perlu menilai apakah seorang agen pemerintah memenuhi tujuan
penugasannya untuk menguji keamanan tangga berjalan untuk suatu kota. Untuk
menentukan efektivitas kinerja agen tersebut, auditor harus menentukan kriteria
tertentu untuk keamanan tangga berjalan. Misalnya, apakah tujuan agen untuk
menginspeksi seluruh tangga berjalan dalam kota tersebut harus dilakukan setahun
sekali? Apakah tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada akibat fatal jika
terdapat kerusakan tangga berjalan, atau apakah tidak ada kerusakan sama sekali?

Efisiensi.Misalnya terdapat dua proses produksi dengan kualitas yang sama, maka
proses dengan biaya lebih rendah akan lebih efisien. Audit operasional biasanya
menemukan beberapa jenis inefisiensi tertentu.

Hubungan Antara Audit Operasional dan Pengendalian Internal

Manajemen melakukan pengendalian internal untuk membantu pencapaian


tujuannya. Terdapat tiga hal penting untuk mencapai pengendalian internal yang
efektif, yaitu:

Keandalan pelaporan keuangan


Efektivitas dan efisiensi operasi
Kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku
Hal kedua di atas berkaitan langsung dengan audit operasional, tetapi dua hal
lainnya berkaitan dengan efisiensi dan operasi. Misalnya, manajemen memerlukan
informasi akuntansi biaya yang handal untuk memutuskan jenis dan harga jual

produk yang dilanjutkan produksinya. Sama halnya dengan ketidaktaatan pada


hukum yang berlaku, yang akan mengakibatkan perusahaan dikenakan denda.

Terdapat dua hal yang membedakan evaluasi pengendalian internal dan pengujian
audit keuangan dan operasional, yaitu:

1.

Tujuan

Tujuan audit operasional atas pengendalian internal adalah untuk mengevaluasi


efektivitas dan efisiensi dan membuat rekomendasi kepada manajemen.
Sebaliknya, evaluasi pengendalian internal untuk audit keuangan memiliki dua
tujuan utama yaitu untuk menentukan luasnya pengujian audit substantif yang
diperlukan dan melaporkan efektivitas pengendalian internal atas pelaporan
keuangan untuk perusahaan publik.

Baik dalam audit keuangan dan operasional, auditor dapat mengevaluasi prosedur
pengendalian dengan cara yang sama, tapi dengan tujuan yang berbeda. Auditor
operasional dapat menguji efektivitas prosedur verifikasi internal untuk duplikasi
faktur penjualan guna memastikan bahwa perusahaan tidak merugikan konsumen
dan juga untuk melakukan penagihan atas seluruh piutang. Auditor keuangan juga
melakukan pengujian pengendalian internal yang sama, tetapi tujuan utamanya
adalah mengurangi konfirmasi atas piutang dagang atau pengujian substantif
lainnya (tujuan kedua atas audit keuangan adalah untuk membuat rekomendasi
operasional kepada manajemen)

2.

Ruang Lingkup

Ruang lingkup audit operasional ditujukan pada seluruh


pengendalian yang mempengaruhi efektivitas dan efisiensi, sedangkan
ruang lingkup evaluasi pengendalian internal untuk audit keuangan dibatasi pada
efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan dan dampaknya atas

kewajaran penyajian laporan keuangan. Misalnya, audit operasional dapat berfokus


pada kebijakan dan prosedur yang dilakukan oleh departemen pemasaran untuk
menentukan efektivitas katalog dalam pemasaran produk.

Jenis Audit Operasional

Audit operasional terdiri atas tiga kategori utama, yaitu:

1.

Audit Fungsional

Yang dimaksud dengan fungsional adalah kategori aktivitas dalam suatu bisnis,
misalnya fungsi penagihan atau fungsi produksi. Fungsi dapat dikategorikan dan
dibagi dalam banyak cara. Misalnya, fungsi akuntansi dapat dibagi menjadi fungsi
pengeluaran kas, penerimaan kas, dan penggajian. Fungsi penggajian dapat dibagi
menjadi menjadi fungsi penetapan karyawan, pencatatan waktu, dan pembayaran
gaji. Audit fungsional mengurusi satu atau lebih fungsi dalam suatu

organisasi, misalnya mengenai efektivitas dan efisiensi fungsi


penggajian untuk suatu divisi atau organisasi secara keseluruhan.
Audit fungsional memiliki keuntungan bagi auditor untuk melakukan spesialisasi.
Auditor tertentu berperan sebagai staf audit internal dalam mengembangkan
keahlian tertentu pada suatu area, misalnya rekayasa produksi. Rekayasa produksi
dapat berjalan lebih efektif dan efisien dengan menghabiskan waktu audit dalam
area tersebut. Kerugian dari audit fungsional adalah tidak dilakukannya evaluasi
keterkaitan antarfungsi. Misalnya, fungsi rekayasa produksi berinteraksi dengan
fungsi pabrikan dan fungsi lainnya dalam organisasi.

2.

Audit Organisasional

Audit operasional dalam organisasi mengurusi seluruh unit organisasi seperti


departemen, cabang, atau anak perusahaan. Audit organisasional menekankan pada
efektivitas dan efisiensi dalam interaksi fungsi tersebut. Rencana organisasi dan
metode untuk koordinasi aktivitas merupakan hal penting dalam audit ini.

3.

Penugasan Khusus

Dalam audit operasional, penugasan khusus muncul atas permintaan dari


manajemen dengan bermacam-macam jenis audit, misalnya untuk menentukan
penyebab inefisiensi sistem TI, meneliti kemungkinan kecurangan dalam divisi,
dan membuat rekomendasi untuk mengurangi biaya produksi.

Pelaksana Audit Operasional

Audit operasional biasanya dilakukan oleh salah satu dari tiga kelompok, yaitu:

1.

Auditor Internal

Auditor internal merupakan posisi unik yang melakukan audit operasional dimana
beberapa orang menggunakan istilah audit internal dan audit operasional secara
bergantian. Akan tetapi, tidak semua audit operasional dilakukan oleh auditor
internal atau hanya auditor internal yang melakukan audit operasional. Banyak
departemen audit internal yang melakukan keduanya, yaitu audit operasional dan
keuangan secara bersamaan. Oleh karena mereka menghabiskan waktu kerja
mereka untuk perusahaan yang mereka audit, maka auditor internal diuntungkan
dalam melakukan audit operasional. Mereka dapat mengembangkan pengetahuan
yang cukup tentang perusahaan dan bisnis yang penting bagi efektivitas audit
operasional.

Untuk memaksimalkan efektivitas dalam menjalankan audit keuangan dan


operasional, departemen audit internal harus melapor kepada dewan direksi atau
direktur utama. Auditor internal juga harus memiliki akses dan komunikasi
berkelanjutan dengan komite audit dari dewan direksi. Pelaporan kepada komite
audit membantu auditor internal agar tetap independen. Jika auditor internal
memberi laporan kepada kontroler, maka mereka sulit untuk melakukan evaluasi
independen dan membuat rekomendasi kepada manajemen senior bila terjadi
inefisiensi atas pekerjaan kontroler.

2.

Auditor Pemerintah

Auditor pemerintah regional dan pusat melakukan audit operasional, yang


seringkali menjadi bagian dalam pelaksanaan audit keuangan. Kelompok auditor
pemerintah yang paling dikenal adalah BPK, namun auditor pemerintah lainnya
juga harus melakukan audit keuangan dan operasional.

Buku kuning mendefinisikan dan menetapkan standar untuk audit kinerja, yang
pada dasarnya sama dengan audit operasional. Audit kinerja tersebut meliputi:

Audit ekonomi dan efisiensi


Tujuan dari audit ekonomi dan efisiensi adalah untuk menentukan:

Apakah entitas sudah memperoleh, melindungi, dan menggunakan sumber daya


secara ekonomis dan efisien
Apa penyebab inefisiensi atau ketidakekonomisan tersebut
Apakah entitas telah mematuhi hukum dan peraturan tentang hal-hal ekonomis dan
efisiensi dalam program audit
Program audit
Tujuan dari program audit ini adalah untuk menentukan:

Sejauh mana hasil yang diinginkan atau manfaat yang ditetapkan oleh badan
legislatif atau yang ditetapkan badan otoritas lainnya
Bagaimana efektivitas organisasi, program, kegiatan, atau fungsi tersebut
Apakah entitas telah mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku
Dua tujuan dari masing-masing jenis audit kinerja benar-benar operasional,
sedangkan tujuan utamanya adalah menyangkut kepatuhan.

Untuk mengilustrasikan kegiatan operasional tertentu dalam audit pemerintahan


negara, berikut adalah contoh dari sebuah artikel dalam publikasi Internal Auditor :
sebuah rumah sakit dengan staf administrasi yang terpisah menempati tiga
bangunan di atas tanah milik rumah sakit negara lainnya. Audit kami menunjukkan
bahwa beban kerja terbatas kegiatan administrasi rumah sakit ini dan kedekatannya
dengan kantor rumah sakit utama memungkinkan dilakukannya konsolidasi fungsi
administrasi dari dua rumah sakit dan akan menghemat biaya sebesar Rp
145.000.000 setahun.

3.

KAP

Ketika KAP melakukan audit laporan keuangan historis, seringkali tindakan audit
ini terdiri atas identifikasi masalah operasional dan rekomendasi yang mungkin
bermanfaat bagi klien audit. Rekomendasi dapat dibuat secara lisan, tetapi
biasanya termasuk dalam surat manajemen.

Latar belakang pengetahuan tentang bisnis klien, yang didapatkan auditor eksternal
saat melakukan audit, seringkali memberikan informasi yang berguna dalam
memberikan rekomendasi operasional. Sebagai contoh, misalnya auditor
menetapkan bahwa perputaran persediaan klien selama tahun berjalan lebih lambat
dari sebelumnya. Auditor harus menentukan penyebab kelambatan tersebut untuk
mengevaluasi kemungkinan adanya keusangan persediaan yang dapat
menyebabkan ketidakwajaran dalam penyajian laporan keuangan. Dalam
menentukan penyebab berkurangnya perputaran persediaan, auditor dapat
mengidentifikasi penyebab operasional, seperti kebijakan pembelian persediaan

yang tidak efektif, yang harus diperhatikan oleh manajemen. Auditor yang
memiliki latar belakang bisnis yang luas dan berpengalaman dengan bisnis yang
sama akan memberikan rekomendasi operasional yang lebih efektif dan relevan
dibandingkan dengan auditor lain yang tidak memiliki kualifikasi tersebut.

Klien umumnya melibatkan KAP untuk melakukan audit operasional dalam satu
atau lebih bagian-bagian tertentu dari bisnisnya. Sebagai contoh, perusahaan dapat
meminta KAP untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi sistem komputernya.
Biasanya, manajemen meminta KAP melakukan audit ini bila perusahaan tidak
memiliki staf audit internal atau jika staf audit internal tidak memiliki keahlian di
area tertentu. Dalam beberapa kasus, manajemen atau dewan direksi menyerahkan
seluruh atau sebagian aktivitas audit internalnya kepada sebuah KAP, misalnya
audit operasional untuk aktivitas teknologi informasi, yang harus dilakukan
bersama oleh KAP dan anggota tertentu dari staf audit internal perusahaan.
Biasanya staf konsultan manajemen KAP yang melaksanakan jasa tersebut. Perlu
diperhatikan bahwa KAP tidak boleh menyediakan jasa ini kepada klien audit
perusahaan publik mereka

Independensi dan Kompetensi Auditor Operasional

Dua kualifikasi yang paling penting bagi auditor operasional adalah independensi
dan kompetensi. Auditor harus melapor pada tingkat manajemen yang sesuai
untuk memastikan bahwa investigasi dan rekomendasi yang dibuat tidak bias.
Independensi jarang menjadi masalah bagi auditor KAP karena mereka tidak
menjadi karyawan perusahaan yang di audit. Independensi auditor internal perlu
ditingkatkan dengan adanya laporan departemen audit internal untuk dewan direksi
atau direktur utama. Sama halnya dengan adanya keharusan bagi auditor
pemerintah untuk melapor kepada atasan departemen operasional. BPK, misalnya,
langsung melapor kepada DPR untuk meningkatkan independensi.

Tanggung jawab auditor operasional juga dapat mempengaruhi independensi


mereka. Auditor tidak bertanggung jawab atas fungsi operasional dalam
perusahaan atau untuk memperbaiki kekurangan bila ditemukan inefisiensi atau

ketidakefektifan. Misalnya, independensi auditor akan terpengaruh ketika mereka


mengaudit sistem TI atas pembelian jika mereka yang merancang sistem tersebut
atau menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk memperbaiki kekurangan yang
mereka temukan selama audit.

Meskipun auditor boleh memberikan rekomendasi untuk perubahan dalam operasi,


personel operasional harus memiliki kewenangan untuk menerima atau menolak
rekomendasi tersebut. Jika auditor memiliki kewenangan atas pelaksanaan
rekomendasi mereka, maka independensi mereka akan berkurang.

Kompetensi tentunya diperlukan untuk menentukan penyebab masalah operasional


dan untuk membuat rekomendasi yang tepat. Ketika audit operasional berurusan
dengan masalah operasional yang meluas, maka kompetensi dapat menjadi
hambatan besar. Sebagai contoh, bayangkan betapa sulitnya mencari auditor
internal yang berkualitas, yang dapat mengevaluasi efektivitas program periklanan
dan efisiensi proses produksi. Staf audit internal dalam melakukan jenis
pemeriksaan operasional ini mungkin harus memasukkan beberapa personel
dengan latar belakang bidang pemasaran dan produksi.

Kriteria Evaluasi Efisiensi dan Efektivitas

Tantangan utama dalam audit operasional adalah menentukan kriteria khusus untuk
mengevaluasi apakah efisiensi dan efektivitas telah dicapai. Dalam laporan audit
keuangan historis, PSAK memberikan kriteria yang luas untuk mengevaluasi
penyajian secara wajar, dan tujuan audit dapat memfasilitasi kriteria yang lebih
spesifik dalam memutuskan apakah PSAK sudah dilaksanakan. Dalam audit
operasional tidak ada kriteria yang ditentukan dengan jelas.

Untuk menetapkan kriteria audit operasional, auditor dapat menentukan apakah


beberapa aspek dari entitas dapat dibuat lebih efektif atau efisien dan
merekomendasikan perbaikan. Pendekatan tersebut dapat memadai untuk auditor

yang berpengalaman dan mendapatkan pelatihan memadai, tetapi tidak demikian


bagi auditor pada umumnya.

Kriteria Khusus. Kriteria yang lebih spesifik diperlukan sebelum memulai audit
operasional. Misalnya, Anda sedang melalukan audit operasional mengenai tata
letak peralatan di pabrik untuk sebuah perusahaan. Berikut ini adalah beberapa
kriteria tertentu, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, yang dapat digunakan
untuk mengevaluasi tata letak pabrik :

Apakah tata letak pabrik seluruhnya disetujui oleh perancang kantor pusat di saat
melakukan desain awal?
Apakah unit perancang kantor pusat melakukan studi evaluasi kembali atas tata
letak pabrik dalam 5 tahun terakhir?
Apakah setiap unit peralatan beroperasi pada kapasitas 60% atau lebih untuk
sedikitnya 3 bulan pada setiap tahun?
Apakah tata letak memfasilitasi pergerakan bahan baku baru di lantai produksi?
Apakah tata letak memfasilitasi produksi barang jadi?
Apakah tata letak memfasilitasi pergerakan barang jadi ke bagian distribusi?
Apakah tata letak pabrik menggunakan peralatan yang ada secara efektif?
Apakah keamanan karyawan terancam dengan adanya tata letak pabrik?
Sumber Kriteria. Untuk mengembangkan kriteria evaluasi khusus, auditor
operasional dapat menggunakan berbagai sumber, meliputi:

Kinerja historis
Kriteria dapat ditetapkan berdasarkan hasil aktual dari periode sebelumnya.
Dengan menggunakan kriteria ini, auditor dapat menentukan apakah kondisi
menjadi lebih baik atau lebih buruk. Keuntungan pendekatan tersebut adalah
kriteria ini mudah didapatkan, namun tidak dapat digunakan untuk menentukan
seberapa baik hasilnya dibandingkan dengan yang seharusnya.

Pembandingan
Entitas di dalam atau di luar organisasi klien mungkin akan sama bila hasil
operasinya digunakan sebagai kriteria. Auditor harus berhati-hati dalam memilih
organisasi sebagai pembanding. Pembandingan hampir tidak mungkin dilakukan
dengan organisasi berbeda atau mereka yang tingkat standarnya lebih rendah.
Untuk entitas internal yang sebanding, data dapat tersedia untuk digunakan sebagai
kriteria. Organisasi luar sering juga menyediakan informasi yang diperlukan.
Selain itu, data pembandingan sering disediakan oleh kelompok industri dan badan
peraturan pemerintah.

Standar rekayasa produksi


Dalam beberapa penugasan, dimungkinkan untuk mengembangkan kriteria
berdasarkan standar rekayasa produksi. Sebagai contoh, auditor dapat
menggunakan Time and Motion Study untuk menentukan tingkat output produksi
yang efisien. Kriteria ini biasanya memakan waktu dan biayanya mahal untuk
dikembangkan karena membutuhkan keahlian, tetapi dalam banyak hal patut
dipertimbangkan. Suatu standar dapat dikembangkan oleh kelompok industri untuk
digunakan oleh semua anggota mereka, sehingga biaya dapat ditekan.

Diskusi dan kesepakatan


Kadang-kadang kriteria objektif sulit atau mahal untuk diperoleh, sehingga paling
baik dikembangkan melalui diskusi dan kesepakatan. Pihak-pihak yang terlibat
harus mencakup manajemen entitas yang akan diaudit, auditor operasional, dan
badan atau pihak yang akan diberi laporan tentang penemuan audit.

Tahapan dalam Menjalankan Audit Operasional

Terdapat tiga fase dalam audit operasional, yaitu:

1.

Perencanaan

Perencanaan untuk audit operasional sama dengan perencanaan untuk audit atas
laporan keuangan historis. Seperti auditor laporan keuangan, auditor operasional
harus menentukan ruang lingkup penugasan dan mengkomunikasikannya ke unit
organisasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

Melakukan penugasan dengan benar


Mendapatkan informasi latar belakang mengenai unit organisasi
Memahami pengendalian internal
Memutuskan bukti yang memadai untuk diakumulasi
Perbedaan utama antara perencanaan audit operasional dan audit keuangan adalah
keragaman yang diciptakan oleh luasnya audit operasional, yang sering
membuatnya sulit untuk mengambil keputusan dalam tujuan khusus. Auditor
memilih tujuan berdasarkan kriteria yang dikembangkan dalam penugasan, yang
bergantung pada kondisi yang ada. Misalnya, tujuan audit operasional atas
efektivitas pengendalian internal untuk kas kecil akan sangat berbeda dengan audit
operasional untuk efisiensi penelitian dan pengembangan, namun tujuan yang
beragam dalam audit operasional bisa saja merupakan bagian dari audit
operasional yang sama.

Luasnya audit operasional sering membuat penentuan staf menjadi lebih rumit
daripada dalam audit keuangan. Hal ini terjadi bukan karena bidang yang berbeda,
misalnya pengendalian produksi dan periklanan, tetapi tujuan untuk bidang
tersebut sering memerlukan keahlian teknis khusus. Misalnya, auditor mungkin
membutuhkan latar belakang teknis untuk mengevaluasi kinerja pada sebuah
proyek konstruksi besar.

Pada akhirnya, tidak seperti audit keuangan, audit operasional mengharuskan


auditor menghabiskan lebih banyak waktu dengan pihak yang berkepentingan
untuk mencapai persetujuan atas syarat penugasan dan kriteria evaluasi. Terlepas
dari sumber kriteria evaluasi, dalam hal tujuan dan kriteria yang ditetapkan, maka
perwakilan entitas yang akan di audit, auditor operasional, dan entitas atau kepada

pihak mana temuan akan dilaporkan, harus ditentukan secara jelas dalam
perjanjian.

2.

Akumulasi Bukti dan Evaluasi

Pengendalian internal dan prosedur operasi merupakan bagian penting dari audit
operasional, maka biasanya dilakukan dokumentasi, penyelidikan atas klien,
prosedur analitis, dan observasi secara ekstensif. Konfirmasi, pencapaian kinerja
kembali, dan perhitungan kembali tidak digunakan secara luas dalam audit
operasional dibandingkan pada audit keuangan karena tujuan keberadaan dan
akurasi tidak relevan dengan kebanyakan audit operasional.

Untuk mengilustrasikan akumulasi bukti dalam audit operasional, sebagai contoh


suatu lembaga yang mengevaluasi keamanan tangga berjalan di sebuah kota.
Asumsikan bahwa semua pihak setuju bahwa tujuannya adalah untuk menentukan
apakah seorang pengawas membuat pemeriksaan tahunan secara memadai untuk
seluruh tangga berjalan di kota tersebut. Untuk memenuhi tujuan kelengkapan,
auditor dapat memeriksa cetak biru bangunan kota dan lokasi tangga berjalan dan
menelusurinya ke daftar untuk memastikan bahwa semua tangga berjalan sudah
dimasukkan dalam populasi. Pengujian tambahan dilakukan untuk bangunan yang
baru dibangun untuk menilai ketepatan waktu atas pembaruan daftar yang berada
di pusat.

Dengan asumsi auditor telah menentukan bahwa daftar tersebut lengkap, mereka
dapat memilih sampel lokasi tangga berjalan dan mengumpulkan bukti mengenai
waktu dan frekuensi inspeksi. Auditor mungkin perlu mempertimbangkan risiko
bawaan dengan melakukan pengambilan sampel lebih besar atas tangga berjalan
yang usianya lebih tua atau tangga yang sebelumnya cacat keamanannya. Auditor
mungkin juga perlu memeriksa bukti kompetensi pengawas tangga berjalan dengan
menelaah catatan, program pelatihan, uji kecakapan, dan laporan kinerja. Auditor
juga perlu menjalankan kembali prosedur pengambilan sampel tangga berjalan
untuk mendapatkan bukti bila terjadi ketidakkonsistenan dengan yang dilaporkan
atau pada kondisi sebenarnya.

Sama seperti auditor keuangan, auditor operasional harus mengumpulkan bukti


yang memadai untuk dijadikan dasar suatu kesimpulan dalam pengujian. Untuk
audit keamanan tangga berjalan, auditor harus mengumpulkan bukti yang cukup
tentang inspeksi keamanan tangga berjalan. Setelah bukti dikumpulkan, auditor
harus memutuskan apakah inspeksi atas masing-masing tangga berjalan di kota
dilakukan oleh petugas yang kompeten.

3.

Pelaporan serta Tindak Lanjut

Dua perbedaan utama antara laporan audit keuangan dan operasional yang
mempengaruhi laporan audit operasional adalah:

Dalam audit operasional, laporan biasanya dikirimkan hanya kepada manajemen,


dengan tembusan kepada unit yang diaudit. Pengguna pihak ketiga tidak
memerlukan susunan kata-kata baku untuk pembuatan laporan audit operasional.
Banyaknya jenis audit operasional memerlukan laporan yang berbeda-beda untuk
mencakup ruang lingkup audit, temuan, dan rekomendasi.
Auditor operasional sering menghabiskan waktu untuk mengkomunikasikan
temuan dan rekomendasi audit secara jelas. Pada audit kinerja, saat laporan disusun
sesuai persyaratan Buku Kuning, maka komponen tertentu harus disertakan, tetapi
bentuk laporan harus dibebaskan. Tindak lanjut merupakan hal umum dalam audit
operasional ketika auditor membuat rekomendasi kepada manajemen untuk
menentukan apakah terdapat perubahan yang direkomendasikan, dan jika tidak,
harus dijelaskan mengapa.

Contoh Temuan Audit Operasional

Setiap Internal Auditor tersebut, jurnal yang dipublikasikan dua bulanan oleh IIA,
selalu terdapat beberapa temuan audit operasional yang disampaikan oleh auditor
internal yang berpraktik. Lebih banyak temuan yang mencakup efisiensi daripada

efektivitas. Pembaca lebih tertarik dengan temuan yang berkaitan dengan efisiensi
dari efektivitas. Misalnya, suatu audit operasional di AS yang menghasilkan
penghematan sebesar $68.000 akan lebih menarik pembaca daripada sebuah
laporan mengenai peningkatan akurasi pelaporan keuangan. Contoh dari Internal
Auditor berikut menyertakan contoh-contoh yang berkaitan dengan efektivitas dan
efisiensi di AS.

Dengan Menyewa Perusahaan Kebersihan dari Luar, Dapat Menghemat $160.000

Sebuah auditor internal meninjau efisiensi dan efektivitas layanan kebersihan oleh
karyawan pemerintah untuk bangunan di kompleks gedung legislatif. Dalam audit
terungkap bahwa biaya jasa kebersihan terlalu besar jika dibandingkan dengan jasa
serupa yang dilakukan oleh perusahaan kebersihan dari luar. Selain itu, auditor
menemukan banyak petugas kebersihan yang tidak dilengkapo dengan peralatan
yang dibutuhkan sehingga kualitas kebersihan menjadi buruk. Sebuah studi
mengenai jasa kebersihan alternatif menunjukkan bahwa perusahaan kebersihan
dari luar memberikan jasa yang sama atau lebih baik dan dapat menghemat biaya
sebesar $ 137.000 dalam setahun. Auditor merekomendasikan pemerintah negara
bagian mencari tawaran kompetitif dan menjalin kontrak dengan perusahaan jasa
kebersihan yang memiliki penawaran biaya terendah, tetapi masih memenuhi
spesifikasi. Dalam realisasinya, penghematan mencapai lebih dari $160.000 dan
kualitas kebersihan meningkat.

Gunakan Peralatan yang Tepat

Sebuah perusahaan menyewakan 25 truk berbeban berat yang digunakan oleh


karyawan jasa di AS yang memasang dan memperbaiki sekitar 20.000 vending
machine di daerah metropolitan besar. Semua truk dilengkapi dengan hidrolik
pengangkat pintu untuk melakukan bongkar muat vending machine. Auditor
internal menemukan hanya beberapa truk yang benar-benar mengantar dan
mengambil vending machine tersebut. Sebagian besar truk digunakan untuk jasa
panggilan, yang terdiri atas perbaikan kotak koin atau penyesuaian sederhana
lainnya yang tidak memerlukan hidrolik. Auditor merekomendasikan agar sebagian

besar truk tersebut secara bertahap digantikan oleh kendaraan biasa dan ringan.
Menajemen menyetujuinya sehingga penghematan tarif sewa dan beban usaha
yang terjadi diperkirakan mencapai $ 25.000 per tahun.

Program Komputer Menghemat Tenaga Kerja Manual

ERISA di AS mensyaratkan adanya audit tahunan untuk rencana pembagian laba.


Auditor internal menguji rencana pembagian keuntungan sebagaimana disyaratkan
oleh ERISA, tetapi juga melakukan telaah operasional yang menghasilkan
beberapa rekomendasi berharga bagi manajemen. Aduitor TI dalam tim audit
mengembangkan beberapa program audit terkomputerisasi untuk menguji
pengendalian atas partisipasi dan penghentian rencana perusahaan dalam
melakukan bagi hasil. Bantuan komputer tersebut menghemat tenaga kerja manual
dan dapat mendeteksi beberapa karyawan yang tidak memenuhi syarat atas rencana
tersebut, misalnya karyawan dengan masa kerja kurang dari satu tahun dan
karyawan yang sudah berhenti bekerja. Program audit tersebut juga dapat
mendeteksi data yang berbeda antara berkas penggajian dan berkas utama dalam
rencana bagi hasil. Saat melihat hasil audit, manajemen mengoreksi seluruh
masalah dan menerapkan pengendalian tambahan untuk mencegah terjadinya
masalah yang sama di masa datang. Pengendalian tambahan ini membuat
manajemen memita auditor TI untuk tetap menyimpan program mereka di
komputer. Manajer pada rencana bagi hasil pun menggunakan program tersebut
secara berkala sebagai pengendali untuk mendeteksi kesalahan.

Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar


kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya
dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.

Anda mungkin juga menyukai