Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama: An. MI
Jenis Kelamin: Laki-laki
Umur: 7 tahun
Agama: Islam
Suku/Bangsa: Makassar/Indonesia
Nomor RM : 750974
Alamat: Parapa Desa Pakkabba, takalar
Tanggal Pemeriksaan: 24 Maret 2016
Tempat Pemeriksaan: IRD RSWS
II. ANAMNESIS
Keluhan Utama

: Keluar darah dari mata kiri

Anamnesis Terpimpin

Dialami sejak kurang lebih 8 jam sebelum masuk rumah sakit. Riwayat
kecelakaan lalu lintas dengan mekanisme mata kiri terbentur stang motor.
Riwayat keluar darah dari mata ada, riwayat keluar cairan seperti gel dari
bola mata ada, mata merah ada, air mata berlebih ada, kotoran mata
berlebih ada. Riwayat berobat di RS Sungguminasa kemudian dirujuk ke
RS Wahidin Makassar. Riwayat muntah 1 kali, di rumah sakit, tidak
menyemprot, isi air dan sisa makanan. Riwayat pingsan / tidak sadarkan
diri tidak ada. Sakit kepala ada. Demam tidak ada. Riwayat penggunaan
kacamata sebelumnya tidak ada.
III. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum : sakit sedang/gizi cukup/composmentis
Tanda vital : Tekanan Darah : 90/60 mmHg
Nadi: 88 kali/menit
1

Pernapasan: 20 kali/menit
Suhu : 36,80C
Foto klinis

OS

IV. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI


1. Inspeksi
Pemeriksaan
Palpebra

OD

OS

edema (-)

edema (+) superior et


inferior, hematoma (+),
tampak laserasi pada
palpebra superior ukuran
+ 1 cm x 0,2 cm dan
laserasi pada palpebra
inferior ukuran + 3 cm x
0,5 cm partial thickness

Apparatus

hiperlakrimasi (-)

hiperlakrimasi (+)

hipersekresi (-)

hipersekresi (+)

hiperemis (-)

hiperemis (+), mixed

lakrimalis
Silia
Konjungtiva

injeksio (+), kemosis (+)


o
o

o
o
o Bola mata
o
o
Sklera
o

di inferior
normal

tampak laserasi sklera


dari arah jam 12 menuju
sklera posterior

Mekanisme
muskular

sulit dievaluasi
Kornea

jernih

laserasi arah jam 7


kearah jam 12, tampak
koroid dan fibrin di bibir
luka

Bilik mata depan

normal

dangkal, hifema (+) 1/2


BMD

Iris

coklat, kripte (+)

sulit dinilai

Pupil

bulat, sentral, RC (+)

sulit dinilai

Lensa

jernih

sulit dinilai

2. Palpasi
Palpasi

OD

OS

Tensi okuler

Tn

Tn - 2

Nyeri tekan

(-)

(-)

Massa tumor

(-)

(-)

pembesaran (-)

pembesaran (-)

Glandula preaurikuler
3. Tonometri

Tidak dilakukan pemeriksaan (pasien tidak kooperatif)


3

4. Visus
VOD: 6/60 (anak belum hafal huruf & angka)
VOS: 0
5. Lapang Pandang
Tidak dilakukan pemeriksaan
6. Penyinaran Oblik
Pemeriksaan
Konjungtiva

OD

OS

hiperemis (-)

hiperemis (+), mixed


injeksio (+), kemosis (+)

Sklera

normal

laserasi dari arah jam 12


menuju sklera posterior

Kornea

jernih

laserasi arah jam 7 kearah


jam 12, tampak koroid
dan fibrin di bibir luka

Bilik mata depan

normal

kesan dangkal, hifema (+)


1/2 BMD

Iris

coklat, kripte (+)

sulit dinilai

Pupil

bulat, sentral, RC (+)

sulit dinilai

Lensa

jernih

sulit dinilai

7. Color Sense
Tidak dilakukan pemeriksaan
8. Diafanoskopi
Tidak dilakukan pemeriksaan
9. Slit Lamp
Tidak dilakukan pemeriksaan
10. Funduskopi
Tidak dilakukan pemeriksaan
11. Hasil Laboratorium
WBC

: 13.2 [10^3/uL]

RBC

: 4.73 [10^6/uL]
4

HGB

: 11.9 [g/dl]

PLT

: 392 [10^3/uL]

GDS

: 125 [mg/dl]

Ur / Cr

: 14 / 0.32 [mg/dl]

GOT / GPT

: 33 / 18 [u/L]

PT / APTT

: 10.9 / 27.0 [detik]

CT / BT

: 7 / 3 [menit]

Na / K / Cl

: 143 / 4.0 / 113 [mmol/l]

HBsAg

: non reactive

Anti HCV

: non reactive

12. Hasil CT Scan

Oculi sinistra: bentuk ireguler, ukuran kesan mengecil, dengan lesi


heterogen. Struktur lensa, corpus vitreus sulit dinilai
Oculi dextra: bentuk, posisi dan ukuran dalam batas normal.
Lensa, corpus vitreus dextra baik, kedua muskulus rectus medialis,
lateralis, dan N. opticus dalam batas normal.
Tampak densitas udara bebas pada soft tissue pada regio anterior occuli
sinistra
Tulang-tulang kesan intak
Kesan : - Sesuai gambaran ruptur oculi sinistra
- Emfisema subcutis regio anterior oculi sinistra
V. RESUME
yang dialami sejak kurang lebih 8 jam sebelum masuk rumah sakit setelah
mengalami kecelakaan lalu lintas. Mekanisme kecelakaan, mata kiri pasien
terbentur stang motor saat jatuh. Riwayat keluar darah dari kelopak mata ada,
visus menurun, hiperemis ada, hiperlakrimasi ada, hipersekresi tidak ada,
5

riwayat keluar cairan seperti gel tidak ada. Riwayat keluar darah dari mata ada,
riwayat keluar cairan seperti gel dari bola mata ada, hiperemis ada,
hiperlakrimasi ada, hipersekresi ada. Riwayat berobat di RS Sungguminasa
kemudian dirujuk ke RS Wahidin Makassar. Riwayat muntah 1 kali, di rumah
sakit, tidak menyemprot, isi air dan sisa makanan. Riwayat pingsan tidak ada.
Cephalgia ada. Demam tidak ada.
Dari pemeriksaan inspeksi OD dalam batas normal. Pada OS didapatkan
palpebra superior et inferior edema (+); hematom (+); laserasi pada palpebra
superior ukuran + 1 cm x 0,2 cm dan laserasi pada palpebra inferior ukuran + 3
cm x 0,5 cm partial thickness; hiperlakrimasi (+); konjungtiva hiperemis (+),
mixed injeksio konjungtiva (+), kemosis (+) di inferior; tampak laserasi sklera
dari arah jam 12 menuju sklera posterior; BMD kesan dangkal, hifema (+) 1/2
BMD; pada kornea tampak laserasi arah jam 7 kearah jam 12, tampak koroid
dan fibrin di bibir luka; iris, pupil serta lensa sulit dinilai. Dari palpasi di
dapatkan OS Tn -2. Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan VOD: 6/60
sedangkan VOS 0.
VI. DIAGNOSIS KERJA
-

Okulus Sinistra Trauma Okulus Perforans

Laserasi Palpebra Superior et Inferior Partial Thickness

VII. PENATALAKSANAAN
-

IVFD Ringer Laktat 10 tetes/menit/intravena

Injeksi Ceftazidim 500 mg/12 jam/intravena (skin test)

Injeksi Ketorolac 15 mg/8 jam/intravena

Injeksi Ranitidin 25 mg/12 jam/intravena

Injeksi Tetanus Toxoid 0,5cc/intramuskular

Loadind dose: Lev EPMD 1 tetes/5 menit dalam 30 menit

Rencana operasi : OS eksplorasi + jahit kornea sklera dengan


kemungkinan eviserasi/enukleasi + rekonstruksi palpebra

VIII.

PROGNOSIS

Quo ad Vitam: Bonam


6

Quo ad Visam

Quo as Sanationam

Quo ad Comesticam: Dubia et malam

Oculus Trauma Score:

: Malam
: Bonam

o Initial vision: NLP (No Light perception) :

60

o Rupture

-23

o Perforating injury

-14

23

Jumlah
Range (0-44): OTS: 1 74% NLP

IX.

DISKUSI
Berdasarkan hasil anamnesis pada pasien ini, didapatkan keluhan keluar
darah dari mata kiri yang dialami sejak sekitar 8 jam sebelum masuk rumah
sakit setelah kecelakaan lalu lintas, dengan mata kiri terbentur stang motor.
Keluar darah dari mata ada, hiperemis ada, hiperlakrimasi ada, hipersekresi
ada, riwayat keluar cairan seperti gel tidak ada. Adanya riwayat keluar darah
dari mata dan riwayat keluar cairan seperti gel membuat pemeriksa
mencurigai bahwa pasien ini mengalami trauma perforasi.
Dari pemeriksaan inspeksi OD dalam batas normal. Pada OS
didapatkan palpebra superior et inferior edema (+); hematom (+); laserasi pada
palpebra superior ukuran + 1 cm x 0,2 cm dan laserasi pada palpebra inferior
ukuran + 3 cm x 0,5 cm partial thickness; hiperlakrimasi (+); konjungtiva
hiperemis (+), mixed injeksio konjungtiva (+), kemosis (+) di inferior; tampak
laserasi sklera dari arah jam 12 menuju sklera posterior; BMD kesan dangkal,
hifema (+) 1/2 BMD; pada kornea tampak laserasi arah jam 7 kearah jam 12,
tampak koroid dan fibrin di bibir luka; iris, pupil serta lensa sulit dinilai.
Laserasi pada kornea dan sklera menunjukkan bahwa trauma yang dialami
pasien sudah melibatkan seluruh dinding bola mata, sehingga dapat dkatakan
bahwa mata kiri pasien mengalami trauma okuli perforans.
Dari palpasi di dapatkan OS Tn - 2. Tn - 2 menunjukkan berkurang
drastisnya tekanan palpasi bola mata, dicurigai akibat dari keluarnya cairan
bola mata melalui perforasi dinding mata.
Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan VOD: 6/60 sedangkan VOS
0. Ketajaman penglihatan pada mata kiri berkurang banyak, bahkan tidak ada.

I. PENDAHULUAN
Trauma okuli merupakan trauma atau cedera yang terjadi pada mata yang
dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata dan
rongga orbita. Kerusakan ini akan memberikan penyulit sehingga mengganggu
fungsi mata sebagai indra penglihat. Trauma okuli merupakan salah satu penyebab
yang sering menyebabkan kebutaan unilateral pada anak dan dewasa muda,
karena kelompok usia inilah yang sering mengalami trauma okuli yang parah.
Dewasa muda (terutama laki-laki) merupakan kelompok yang paling sering
mengalami trauma okuli. Penyebabnya dapat bermacam-macam, diantaranya
kecelakaan di rumah, kekerasan, ledakan, cedera olahraga, dan kecelakaan lalu
lintas.1
Data WHO menyebutkan bahwa trauma okuli berakibat kebutaan unilateral
sebanyak 19 juta orang, 2,3 juta mengalami penurunan visus bilateral dan 1,6 juta
mengalami kebutaan bilateral akibat cedera mata. Menurut United States Eye
Injury Registry (USEJR), frekuensi di Amerika Serikat mencapai 16% dan
meningkat di lokasi kerja dibandingkan dengan di rumah. Lebih banyak pada lakilaki (93%) dengan umur rata-rata 31 tahun. Prevalensi kebutaan akibat trauma
okuli secara nasional belum diketahui dengan pasti, namun pada Survey
Kesehatan Indra Penglihatan dan Pendengaran pada tahun 1993-1995 didapatkan
bahwa trauma okuli dimasukkan ke dalam penyebab kebutaan lain-lain sebesar
0,15% dari jumlah total kebutaan nasional yang berkisar 1,5%. Trauma okuli juga
tidak termasuk ke dalam 10 besar penyakit mata yang menyebabkan kebutaan.2
Walaupun mata mempunyai sistem pelindung yang cukup baik seperti rongga
orbita, kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapatnya refleks
memejam atau mengedip, mata masih sering mendapat trauma dari dunia luar.
Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata dan kelopak, saraf mata
dan rongga orbita. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan atau memberi
penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan.1
Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah
terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan kebutaan. Secara
umum trauma okuli dibagi menjadi dua yaitu trauma okuli perforans dan trauma
okuli non perforans. Sedangkan klasifikasi trauma okuli berdasarkan mekanisme

trauma terbagi atas trauma mekanik (truma tumpul dan truma tajam), trauma
radiasi (sinar inframerah, sinar ultraviolet dan sinar-x) dan trauma kimia (bahan
asan dan basa).3
Perforasi bola mata merupakan keaadaan yang gawat untuk bola mata karena
pada keadaan ini kuman mudah masuk ke dalam bola mata, selain dapat
mengakibatkan kerusakan susunan anatomi dan fungsional jaringan intraokuler.
Trauma tembus dapat berbentuk perforasi sklera, prolaps badan kaca maupun
prolaps badan siliar.4
II. ANATOMI BOLA MATA
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di
bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga
terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda.3

Gambar 1
Gambar anatomi bola mata.

10

Bola mata dibungkus oleh tiga lapis jaringan:3


1. Lapisan luar, yaitu lapisan fibrosa, terdiri dari kornea dan sklera.
merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada
mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian
terdepan sklera disebut kornea yang bersifat transparan yang
memudahkan sinar masuk ke bola mata. Kelengkungan kornea lebih
besar di banding sklera. Lapisan fibrosa merupakan dinding padat kuat
yang memproteksi komponen-komponen intraokular. 1/6 anterior
lapisan ini transparan dan disebut sebagai kornea. 5/6 posterior lapisan
ini merupakan bagian yang opak yang disebut sebagai sklera.Batas
antara kornea dan sklera disebut sebagai limbus.

11

2.

Lapis
an

Gambar 2
Potongan sagital bola mata.

vaskulosa (jaringan uvea). Jaringan uvea dan sklera dibatasi oleh ruang
yang potensial mudah dimasuki darah jika terjadi perdarahan pada
ruda paksa yang disebut perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea ini
terdiri atas iris, badan siliar dan koroid. Pada iris didapatkan pupil
yang oleh tiga susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke
dalam bola mata. Badan siliar yang terletak di belakang iris
menghasilkan cairan bilik mata (aquos humor) yang dikeluarkan
melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris dibatas kornea dan
sklera.
3. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan
mempunyai susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis
membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan
ke saraf optik dan diteruskan ke otak.
Badan kaca mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelatin yang
hanya menempel papil saraf optik, makula dan pars plana. Lensa terletak di
belakang pupil yang di pegang di daerah ekuatornya pada badan siliar melalui

12

zonula zinni. Lensa mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat
sehingga sinar dapat difokuskan di daerah makula lutea.3
Konjungtiva merupakan membran mukosa transparan yang menutupi sklera
dan kelopak bagian belakang. Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui
konjungtiva ini. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel
goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.3
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian yaitu :3
a. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar
digerakkan dari tarsus.
b. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera
dibawahnya.
c. Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat
peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.
Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan
jaringan dibawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.3

Gambar 3

13

Gambar 4

III.DEFENISI
Salah satu bentuk dari trauma mata adalah trauma tembus. Menurut
Birmingham Eye Trauma Terminology System definisi dari trauma tembus
merupakan trauma mata yang menyebabkan kerusakan pada keseluruhan
ketebalan dinding bola mata (full-thickness wound of the eyewall). Trauma tembus
merupakan trauma mata terbuka (open globe injury) yang mengenai bola mata,
sedangkan trauma mata tertutup merupakan luka penetrasi yang mengenai kornea.
Trauma mata terbuka dapat berupa ruptur (diakibatkan benda tumpul) atau laserasi
(luka penetrasi/tembus, perforasi, benda asing intraokular). Luka laserasi
merupakan luka yang memiliki jalur masuk sedangkan luka perforasi merupakan
luka dengan jalur masuk dan jalur keluar. Trauma tembus merupakan trauma
laserasi tunggal akibat benda tajam.1
IV. EPIDEMIOLOGI
Trauma okular merupakan penyebab tersering kebutaan monokular pada
anak-anak dan dewasa muda (< 40 tahun). Prevalensi tertinggi didapatkan pada
remaja laki-laki. Di AS, lebih dari 2 juta trauma mata terjadi setiap tahun, dengan
lebih dari 40000 kasus mengakibatkan berbagai derajat gangguan penglihatan
permanen. Di Amerika Serikat trauma mata menjadi penyebab terbanyak kebutaan
monokular dan memegang peranan dalam 7 persen kebutaan bilateral pada
kelompok usia 20-64 tahun. Pada tahun 2001, di Amerika Serikat diperkirakan

14

1.990.872 (6.98 per 1000 populasi) mengalami trauma mata dan memerlukan
terapi di ruang gawat darurat, poliklinik atau praktek dokter umum.2
Trauma tembus mata lebih sering terjadi pada pria daripada wanita dan lebih
sering mengenai golongan usia yang lebih muda. Penyebabnya antara lain adalah
serangan, kecelakaan domestik dan olah raga.
V. KLASIFIKASI
Klasifikasi trauma okular berdasarkan mekanisme trauma :
1

Mekanik
a

Trauma tumpul, misalnya terpukul, terkena bola, penutup botol

Trauma tajam, misalnya pisau dapur, gunting, garpu, dan peralatan


pertukangan.

Kimia
a

Trauma kimia basa, misalnya sabun cuci, sampo, bahan pembersih


lantai, kapur, atau lem.

Trauma kimia asam, misalnya cuka, bahan asam-asam di


laboratorium.

Radiasi
a

Trauma termal, misalnya panas api, listrik, sinar las, sinar matahari.

Trauma bahan radioaktif, misalnya sinar radiasi.

Sedangkan, klasifikasi berdasarkan Birminghamm Eye Terminology System


(BETTS), trauma okuli dibagi atas 2 yaitu:4
1. Close Globe Injury
Keadaan dimana dinding mata (sklera dan kornea) tidak memiliki cedera
pada keseluruhan dindingnya tetapi ada kerusakan intraokuler. Terbagi
menjadi 2 yaitu:
a. Kontusio
Mengarah pada trauma non-perforans yang diakibatkan dari trauma
benda tumpul. Kerusakan yang timbul dapat ditemukan pada lokasi
benturan atau pada lokasi yang lebih jauh dari benturan.
b. Laserasi lamellar
Mengarah pada trauma non-perforans yang dicirikan dengan luka

15

yang tidak sepenuhnya menembus lapisan sklera dan kornea (partial


thickness wound) yang disebabkan oleh benda tajam maupun benda
tumpul.3
2. Open Globe Injury
Keadaan dimana terdapat perlukaan yang mengenai seluruh lapisan pada
sklera atau kornea atau keduanya. Terdiri atas:
a Ruptur merujuk pada luka pada dinding bola mata dengan ketebalan
penuh sebagai dampak dari trauma tumpul. Luka yang timbul
disebabkan oleh peningkatan tekanan intraokuler secara tiba-tiba
melalui mekanisme trauma inside-out.
b

Laserasi dimana merujuk pada luka pada dinding mata dengan


ketebalan penuh yang disebabkan oleh benda tajam. Luka yang
dihasilkan merupakan akibat mekanisme luar ke dalam (outside-in).
Terdiri atas :
1) Trauma penetrans, mempunyai satu laserasi di bola mata yang
disebabkan oleh benda tajam.
2) Trauma perforans, mempunyai dua laserasi pada dinding mata
dengan ketebalan penuh (luka masuk dan keluar) pada bola mata
yang disebabkan oleh benda tajam. Kedua luka ini harus
disebabkan oleh benda yang sama.
3) Trauma benda asing intraokular merupakan luka penetrasi yang
ditambah dengan tertinggalnya benda asing intraokular.

Gambar 4. Klasifikasi Trauma Okuli Berdasarkan Sistem BETTS.


16

VI. PATOMEKANISE
Terdapat empat mekanisme yang menyebabkan terjadi trauma okuli yaitu:5

coup,

countercoup,

equatorial, dan

global reposititioning.

Coup adalah kekuatan yang disebabkan langsung oleh trauma. Countercoup


merupakan gelombang getaran yang diberikan oleh cuop, dan diteruskan melalui
okuler dan struktur orbita. Akibat dari trauma ini, bagian equator dari bola mata
cenderung mengambang dan merubah arsitektur dari okuli normal. Pada akhirnya,
bola mata akan kembali ke bentuk normalnya, akan tetapi hal ini tidak selalu
seperti yang diharapkan.5
Trauma mata yang sering adalah yang mengenai kornea dan permukaan luar
bola mata (konjungtiva) yang disebabkan oleh benda asing. Meskipun demikian
kebanyakan trauma ini adalah kecil, seperti penetrasi pada kornea dan
pembetukan infeksi yang berasal dari terputusnya atau perlengketan pada kornea
yang mana hal ini dapat menjadi serius. Benda asing dan abrasi di kornea
menyebabkan nyeri dan iritasi yang dapat dirasakan sewaktu mata dan kelopak
mata digerakkan. Defek epitel kornea dapat menimbulkan keruhan serupa.
Fluoresens akan mewarnai membran basal epitel yang terpajan dan dapat
memperjelas kebocoran cairan akibat luka tembus (uji Seidel positif).1
Trauma tembus bola mata dapat dengan atau tanpa masuknya benda asing
intraokular. Trauma tembus dapat berbentuk perforasi sklera dengan prolaps
badan kaca disertai dengan perdarahan badan kaca. Dapat juga perforasi sklera ini
disertai dengan prolaps badan siliar.6

Gambar 5. Mekanisme injuri pada mata

17

VII. GEJALA DAN TANDA


Gejala yang dapat ditemukan pada kejadian trauma okuli adalah sebagai
berikut:1
1 Perdarahan atau keluar cairan dari mata atau sekitarnya
Pada trauma mata perdarahan dapat terjadi akibat luka atau robeknya
kelopak mata atau perdarahan yang berasal dari bola mata. Pada trauma
tembus, carian humor akueus dapat keluar dari mata.
2 Memar pada sekitar mata
Memar pada sekitar mata dapat terjadi akibat hematoma pada palpebra.
Hematoma pada palpebra juga dapat terjadi pada pasien yang mengalami
fraktur basis kranii.
3 Penurunan visus dalam waktu yang mendadak
Penurunan visus pada trauma mata dapat disebabkan oleh dua hal, yang
pertama terhalangnya jalur refraksi akibat komplikasi trauma baik di
segmen anterior maupun segmen posterior bola mata, yang kedua akibat
terlepasnya lensa atau retina dan avulsi nervus optikus.
4 Penglihatan ganda
Penglihatan ganda atau diplopia pada trauma mata dapat terjadi karena
robeknya pangkal iris. Karena iris robek maka bentuk pupil menjadi tidak
bulat. Hal ini dapat menyebabkan penglihatan ganda pada pasien.
5 Mata bewarna merah
Pada trauma mata yang disertai dengan erosi kornea dapat ditemukan
pericorneal injection (PCI) sehingga mata terlihat merah pada daerah
sentral. Hal ini dapat pula ditemui pada trauma mata dengan perdarahan
subkonjungtiva.
6 Nyeri dan rasa menyengat pada mata
Pada trauma mata dapat terjadi nyeri yang disebabkan edema pada
palpebra. Peningkatan tekanan bola mata juga dapat menyebabkan nyeri
pada mata.
7 Sakit kepala

18

Pada trauma mata sering disertai dengan trauma kepala. Sehingga


menimbulkan nyeri kepala. Pandangan yang kabur dan ganda pun dapat
menyebabkan sakit kepala.
8 Mata terasa gatal, terasa ada yang mengganjal pada mata
Pada trauma mata dengan benda asing baik pada konjungtiva ataupun
segmen anterior mata dapat menyebabkan mata terasa gatal dan
mengganjal. Jika terdapat benda asing hal ini dapat menyebabkan
peningkatan produksi air mata sebagai salah satu mekanisme perlindungan
pada mata.
9 Fotopobia
Fotopobia pada trauma mata dapat terjadi karena dua penyebab. Pertama
adanya benda asing pada jalur refraksi, contohnya hifema, erosi kornea,
benda asing pada segmen anterior bola mata menyebabkan jalur sinar yang
masuk ke dalam mata menjadi tidak teratur, hal ini menimbulkan silau
pada pasien. Penyebab lain fotopobia pada pasien trauma mata adalah
lumpuhnya iris. Lumpuhnya iris menyebabkan pupil tidak dapat mengecil
dan cenderung melebar sehingga banyak sinar yang masuk ke dalam mata.
Trauma pada mata dapat menyebabkan munculnya beberapa tanda klinis yaitu :
1.Hematom palpebra
Merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit
kelopak akibat pecahnya pembuluh darah palpebra. Hematoma palpebra
merupakan kelainan yang sering terlihat pada trauma tumpul kelopak.
Trauma dapat akibat pukulan tinju, atau benda-benda keras lainnya.
Adanya hematom pada satu mata merupakan keadaan yang ringan, tetapi
bila terjadi pada kedua mata, hati-hati kemungkinan adanya fraktur basis
kranii.1
2.Luka Laserasi di Palpebra
Trauma tumpul dapat pula menimbulkan luka laserasi pada palpebra.
Bila luka ini hebat dan disertai dengan edema yang hebat pula, jangan
segera dijahit, tapi bersihkanlah lukanya dan tutup dengan pembalut basah
yang steril. Bila bengkaknya berkurang, baru dijahit.7
3.Edema kornea
19

Trauma tumpul yang keras atau cepat mengenai mata dapat


mengakibatkan edema kornea hingga ruptur membran descemet. Edema
kornea akan memberikan keluhan penglihatan kabur dan terlihatnya
pelangi sekitar bola lampu atau cahaya yang dilihat. Kornea akan terlihat
keruh, dengan uji plasido yang positif. Pengobatan yang diberikan adalah
larutan hipertonik seperti NaCl 5%, jika TIO meningkat makan diberikan
asetazolamid.1
4.Erosi kornea
Merupakan

keadaan

terkelupasnya

epitel

kornea

yang

dapat

diakibatkan oleh gesekan keras pada epitel kornea. Erosi dapat terjadi
tanpa cedera pada membran basal. Dalam waktu yang singkat, epitel
sekitarnya dapat bermigrasi dengan cepat dan menutupi defek epitel
tersebut. Pada erosi pasien akan merasa sakit akibat erosi merusak kornea
yang mempunyai serat saraf peka yang banyak, mata berair, dengan
blefarospasme, lakrimasi, fotofobia, dan penglihatan akan terganggu oleh
media kornea yang keruh. Pada kornea akan terlihat suatu defek epitel
kornea yang bila diberi pewarnaan fluorosein akan berwarna hijau.1
Pengobatan dengan memberikan antibiotik spektrum luas untuk
mencegah infeksi. Akibat rangsangan yang mengakibatkan spasme siliar
dapat diberikan siklopegik. Pasien akan merasa lebih nyaman bila mata
dibebat tekan selama 24 jam. Bila erosi terjadi cukup luas, dapat
digunakan lensa kontak.1
5.Hifema
Hifema adalah darah di dalam bilik mata depan (camera okuli
anterior/COA) yang dapat terjadi akibat trauma tumpul sehingga merobek
pembuluh darah iris atau badan siliar. Trauma tumpul sering merobek
pembuluh-pembuluh darah iris atau badan siliar dan merusak sudut
kamera okuli anterior. Darah di dalam cairan dapat membentuk suatu
lapisan yang dapat terlihat (hifema). Glaukoma akut terjadi apabila
jaringan trabekular tersumbat oleh fibrin dan sel atau apabila pembentukan
bekuan darah menyebabkan sumbatan pupil.1,3,4
Hifema dibagi dalam 4 grade berdasarkan tampilan klinisnya:4

20

grade I: menutupi < 1/3 COA (Camera Okuli Anterior)

grade II: menutupi 1/3-1/2 COA

grade III: menutupi 1/2-3/4 COA

grade IV: menutupi 3/4-seluruh COA


Pasien akan mengeluh sakit disertai dengan epifora dan blefarospasme.

Penglihatan pasien akan sangat menurun dan bila pasien duduk hifema
akan terlihat terkumpul dibagian bawah bilik mata depan dan dapat
memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang-kadang terlihat
iridoplegia dan iridodialisis. Tanda-tanda klinis lain berupa tekanan
intraokuli

(TIO)

normal/meningkat/menurun,

bentuk

pupil

normal/midriasis/lonjong, pelebaran pembuluh darah perikornea, kadang


diikuti erosi kornea.4,7
6.

Iridoplegia
Kelumpuhan otot sfingter pupil yang bisa diakibatkan karena trauma
tumpul pada uvea sehingga menyebabkan pupil menjadi lebar atau midriasis.
Pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi dan merasakan
silau karena gangguan pengaturan masuknya cahaya ke pupil. Pupil terlihat
tidak sama besar atau anisokoria dan bentuk pupil dapat menjadi ireguler.
Pupil biasanya tidak bereaksi terhadap sinar.

7.

Iridodialisis
Iridodialisis adalah keadaan dimana iris terlepas dari pangkalnya sehingga
bentuk pupil tidak bulat dan pada pangkal iris terdapat lubang. Trauma tumpul
dapat mengakibatkan robekan pada pangkal iris sehingga bentuk pupil
menjadi berubah. Perubahan bentuk pupil maupun perubahan ukuran pupil
akibat trauma tumpul tidak banyak mengganggu tajam penglihatan penderita.
Pasien akan melihat ganda dengan satu matanya. Pada iridodialisis akan
terlihat pupil lonjong. Biasanya iridodialisis terjadi bersama-sama dengan
terbentuknya hifema. Bila keluhan demikian maka pada pasien sebaiknya
dilakukan pembedahan dengan melakukan reposisi pangkal iris yang terlepas.

8.

Subluksasi Lensa

21

Subluksasi Lensa adalah lensa yang berpindah tempat akibat putusnya


sebagian zonula zinii ataupun dapat terjadi spontan karena trauma atau zonula
zinii yang rapuh (sindrom Marphan). Pasien pasca trauma akan mengeluh
penglihatan berkurang. Akibat pegangan lensa pada zonula tidak ada, maka
lensa akan menjadi cembung dan mata akan menjadi lebih miopi. Lensa yang
cembung akan membuat iris terdorong ke depan sehingga bisa mengakibatkan
terjadinya glaukoma sekunder. 1
9.

Luksasi Lensa Anterior


Yaitu bila seluruh zonula zinii di sekitar ekuator putus akibat trauma
sehingga lensa masuk ke dalam bilik mata depan. Pasien akan mengeluh
penglihatan menurun mendadak. Muncul gejala-gejala glaukoma kongestif
akut yang disebabkan karena lensa terletak di bilik mata depan yang
mengakibatkan terjadinya gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata.
Terdapat injeksi siliar yang berat, edema kornea, lensa di dalam bilik mata
depan. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar. 3,7

10. Luksasi Lensa Posterior


Yaitu bila seluruh zonula zinii di sekitar ekuator putus akibat trauma
sehingga lensa jatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah
fundus okuli. Pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapang pandangnya
karena lensa mengganggu kampus. Mata menunjukan gejala afakia, bilik mata
depan dalam dan iris tremulans.4,7
11. Perdarahan pada korpus vitreum
Perdarahan yang terjadi berasal dari korpus siliar, karena banyak terdapat
eritrosit pada korpus siliar, visus akan sangat menurun.
12. Glaukoma
Disebabkan oleh karena robekan trabekulum pada sudut kamera okuli
anterior, yang disebut traumatic angle yang menyebabkan gangguan aliran
aquos humour.
13. Ruptur sklera
Menimbulkan penurunan tekanan intra okuler. Perlu adanya tindakan operatif
segera.
14. Ruptur retina

22

Menyebabkan timbulnya ablasio retina sehingga menyebabkan kebutaan dan


harus dilakukan operasi.
Trauma tembus yaitu luka akibat benda tajam dapat mengakibatkan beberapa
klinis sebagai berikut:7
1. Luka pada palpebra
Saat pinggiran palpebra luka dan tak dapat diperbaiki, dapat menimbulkan
koloboma palpebra akuisita (lubang pada palpebra). Bila besar dapat
mengakibatkan kerusakan kornea oleh karena mata tak dapat menutup dengan
sempurna.
2. Luka pada orbita
Luka tajam yang mengenai orbita dapat merusak bola mata, merusak saraf
optik, menyebabkan kebutaan atau merobek otot luar mata sehingga timbul
paralisis dari otot dan diplopia. Mudah terkena infeksi, menimbulkan selulitis
orbita (orbital phlegmon), karena adanya benda asing atau adanya hubungan
terbuka dengan rongga-rongga di sekitar orbita.
3. Luka mengenai bola mata
Kalau ada perforasi di bagian depan (kornea): bilik mata depan dangkal,
kadang-kadang iris melekat atau menonjol pada luka perforasi di kornea, tensi
intra okuler merendah, tes fistel positif. Bila perforasinya mengenai bagian
posterior (sklera) : bilik mata depan dalam, perdarahan di dalam sklera,
koroid, retina, mungkin ada ablasi retina, tensi intra okuler rendah.
a. Luka mengenai konjungtiva
Bila kecil dapat sembuh dengan spontan sedangkan bila besar perlu
dijahit, disertai pemberian antibiotik lokal dan sistemik untuk mencegah
infeksi sekunder.
b. Luka di kornea
Bila tanpa perforasi : erosi atau benda asing tersangkut di kornea. Tes
fluoresin (+). Jaga jangan sampai terkena infeksi, sehingga dapat timbul
ulkus serpens akut atau herpes kornea, dengan pemberian antibiotika atau
kemoterapeutika yang berspektrum luas, lokal dan sistemik. Benda asing
di kornea di angkat, setelah diberi anastesi lokal dengan pantokain 1 %.

23

Kalau mulai ada neovaskularisasi dari limbus, berikanlah kortison lokal


atau subkonjungtiva. Tetapi jangan diberikan kortison pada luka yang baru
atau bila ada herpes kornea.
Bila ada perforasi : bila luka kecil, lepaskan konjungtiva di limbus yang
berdekatan, kemudian di tarik supaya menutupi luka kornea tersebut (flap
konjungtiva). Bila luka di kornea luas, maka luka itu harus dijahit.
Kemudian ditutup dengan flap konjungtiva. Jika luka di kornea itu disertai
dengan prolaps iris, iris yang keluar harus dipotong dan sisanya di reposisi,
robekan di kornea dijahit dan ditutup denganh flap konjungtiva. Kalau
luka telah berlangsung beberapa jam, sebaiknya bilik mata depan dibilas
terlebih dahulu dengan larutan penisilin 10.000 U/cc, sebelum kornea
dijahit. Sesudah selesai seluruhnya, berikan antibiotika dengan spektrum
luas lokal dan sistemik, juga subkonjungtiva.
c. Luka di sklera
Luka yang mengenai sklera berbahaya karena dapat mengakibatkan
perdarahan badan kaca, keluarnya isi bola mata, infeksi dari bagian dalam
bola mata, ablasi retina. Luka kecil, tanpa infeksi sekunder pada waktu
terkena trauma, dibersihkan, tutup dengan konjungtiva, beri antibiotik
lokal dan sistemik, mata ditutup. Luka dapat sembuh. Luka yang besar,
sering disertai dengan perdarahan badan kaca, prolaps badan kaca, koroid
atau badan siliar, mungkin terdapat di dalam luka tersebut. Bila masih ada
kemungkinan, bahwa mata itu masih dapat melihat, maka luka
dibersihkan, jaringan yang keluar dipotong, luka sklera dijahit,
konjungtiva dijahit, beri atropin, kedua mata ditutup. Sekitar luka
didiatermi. Bila luka cukup besar dan diragukan bahwa mata tersebut
masih dapat melihat, maka sebaiknya di enukleasi, untuk menghindarkan
timbulnya optalmia simpatika pada mata yang sehat.
d. Luka pada corpus siliar
Luka disini mempunyai prognosis yang buruk, karena kemungkinan besar
dapat menimbulkan endoftalmitis, panoftalmitis yang dapat berakhir
dengan ptisis bulbi pada mata yang terkena trauma, sedang pada mata yang
sehat dapat timbul oftalmia simpatika. Karena itu bila lukanya besar,

24

disertai prolaps dari isi bola mata, sehingga mata mungkin tak dapat
melihat lagi, sebaiknya di enukleasi bulbi, supaya mata yang sehat tetap
baik.
Bila trauma disebabkan benda tajam atau benda asing masuk ke dalam
bola mata , maka akan terlihat tanda-tanda bola mata tembus, seperti mata
merah, nyeri, fotofobia, blepharospasme, lakrimasi, tajam penglihatan
yang menurun akibat terdapatnya kekeruhan media refrakta, tekanan bola
mata rendah akibat keluarnya cairan bola mata, bilik mata dangkal akibat
perforasi kornea, bentuk dan letak pupil berubah, terlihatnya ruptur pada
kornea atau sclera, adanya hifema, terdapat jaringan yang di prolaps
seperti cairan mata, iris, lensa, badan kaca atau retina.

Gambar 6. Gambaran klinis trauma okuli

VIII. DIAGNOSIS
Penegakan diagnosis trauma okuli sama dengan penegakan diagnosis pada
umumnya, yaitu dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
Anamnesis
Menanyakan mengenai mekanisme trauma:

Tentukan jenis trauma : tumpul, penetrasi atau perforasi.

Tanyakan benda penyebab : bentuk dan ukuran benda.

25

Tanyakan kemungkinan adanya benda asing pada bola mata karena dapat
menimbulkan komplikasi nantinya seperti infeksi oleh benda organik.

Keadaan saat terjadinya trauma:

Waktu dan lokasi terjadinya trauma.

Penggunaan kacamata koreksi atau pelindung mata lainnya karena bendabenda tersebut dapat melindungi atau malah berkontribusi pada trauma
akut.

Tanyakan apakah pasien mempunyai miopia berat karena mata miopia


lebih rentan terhadap trauma kompresi anterior-posterior.

Riwayat medis:

Tanyakan riwayat trauma mata atau operasi mata sebelumnya karena dapat
membuat jaringan lebih rentan ruptur.

Tanyakan visus dan fungsi penglihatan sebelum trauma pada kedua mata.

Tanyakan penyakit mata yang ada pada pasien saat ini.

Tanyakan penggunaan obat saat initermasuk obat tetes mata dan alergi.

Tanyakan mengenai gejala-gejala yang dialami pasien:

Nyeri : dapat tersamar oleh trauma lain dan dapat tidak berat pada awalnya
pada trauma tajam, baik dengan atau tanpa benda asing.

Tajam penglihatan biasanya berkurang jauh

Diplopia : akibat terjepitnya otot ekstraokular, akibat truma saraf kranial,


monokular diplopia akibat dari dislokasi atau subluksasi lensa.

Gambar 7. Diagnosis Trauma Okuli Berdasarkan Sistem BETTS.


26

Pada setiap trauma mata, perlu dilakukan sistem scoring. Hal ini
diperlukan untuk dapat mendeskripsikan beratnya trauma / luka, memberikan
pelayanan triage yang efektif, membantu dalam hal kesiapan operasi, serta untuk
memprediksikan prognosis penglihatan. Berikut merupakann tabel untuk
menghitung skor pada trauma mata sesuai dengan BETT (Birmingham Eye
Trauma Terminology), dengan memperhatikan enam aspek, meliputi ketajaman
penglihatan awal, ada tidaknya rupture, ada tidaknya endoftalmitis, ada tidaknya
perforasi, ada tidaknya retinal detachment, serta ada tidaknya RAPD (tabel 1).

Tabel 1. Perhitungan Ocular Trauma Score (OTS)


Pemeriksaan Fisik

Trauma tembus mungkin dapat tampak dengan mudah atau tertutupi oleh
luka yang lebih superficial sehingga sebaiknya dicari dengan teliti.

Hindari memberikan tekanan pada bola mata yang mengalami trauma


tembus untuk mencegah mengalir keluarnya cairan bola mata.

Pemeriksaan segmen posterior mungkin sulit dilakukan karena trauma


yang terjadi dapat menghalangi pemeriksaan segmen posterior.

Pemeriksaan

harus

dilakukan

dengan

sistematis

dengan

tujuan

mengidentifikasi dan melindungi mata.


27

Hindari manipulasi mata yang berlebihan untuk pemeriksaan untuk


menghindari kerusakan lebih lanjut dan minimalisasi kemungkinan
ekstrusi intraokular.
a. Tajam penglihatan dan gerak bola mata:

Periksa tajam penglihatan kedua mata.

Tajam penglihatan dapat turun banyak.

Periksa gerak bola mata kedua mata, jika terganggu harus


dievaluasi kemungkinan adanya fraktur orbita.

b. Bola Mata

Harus dievaluasi apakah ada deformitas tulang, benda asing dan


gangguan kedudukan bola mata.

Benda asing yang menembus bola mata harus dibiarkan sampai


tindakan bedah.

Apabila terdapat trauma tembus bola mata dapat timbul


enoftalmus.

c. Kelopak mata

Trauma

kecil

pada

kelopak

mata

tidak

menyingkirkan

kemungkinan adanya trauma tembus bola mata.

Perbaikan kelopak harus ditunda sampai kemungkinan adanya


trauma tembus bola mata dapat disingkirkan.

d. Konjungtiva

Perdarahan konjungtiva yang berat dapat mengindikasikan adanya


ruptur bola mata.

Laserasi konjungtiva bisa terjadi bersamaan dengan trauma sklera


yang serius.

e. Kornea dan sklera.

Luka tembus kornea atau sklera merupakan suatu trauma tembus


bola mata, dapat diperiksa dengan Seidels Test.

Pada luka tembus kornea dapat terjadi prolaps iris. Laserasi pada
kornea dan sklera bisa menunjukkan adanya perforasi bola mata
dan harus dipersiapkan untuk ditatalaksana di ruang operasi.

28

Prolaps iris dengan laserasi kornea bisa terlihat diskolorasi gelap


pada daerah trauma

Penonjolan sklera merupakan indikasi ruptur dengan ekstrusi isi


okular

Tekanan intraokular biasanya rendah akan tetapi pemeriksaan


tekanan bola mata dikontraindikasikan untuk mencegah penekanan
bola mata.

f. Pupil

Periksa bentuk, ukuran, refleks cahaya, dan RAPD.

Adanya deformitas bentuk pupil dapat menjadi tanda adanya


trauma tembus bola mata.

Pupil biasanya midriasis.

g. Lensa

Dapat timbul dislokasi lensa.


h. Bilik Mata Depan

Pemeriksaan slit lamp pada pasien yang kooperatif bisa


menunjukkan kelainan yang berhubungan dengan seperti defek
transiluminasi iris (red reflex gelap karena perdarahan vitreous),
laserasi kornea, prolaps iris, hifema dari disrupsi siliar dan
kerusakan lensa termasuk dislokasi atau subluksasi

Bilik mata yang dangkal bisa jadi merupakan satu-satunya tanda


adanya ruptur bola mata dan merupakan petanda prognosis buruk.
Ruptur posterior bisa terjadi dan ditunjukkan dengan bilik mata
depan yang dalam karena adanya ekstrusi vitreous ke segmen
posterior

i. Temuan lain

Adanya reflex fundus negatif akibat perdarahan vitreus dapat


menjadi tanda adanya trauma tembus bola mata.

Ditemukannya prolaps uvea pada permukaan bola mata merupakan


tanda trauma tembus bola mata.

Pada trauma tembus dapat juga ditemukan hifema.

29

Perdarahan vitreous setelah trauma menunjukkan adanya robekan


retina atau khoroid avulsi nervus optikus atau benda asing.

Robekan retina, edema, pelepasan retina dan perdarahan bisa


mengikuti ruptur bola mata.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium
o Pemeriksaan koagulasi dan darah perifer lengkap dilakukan pada pasien
yang memiliki kelainan perdarahan.
o Pemeriksaan laboratorium diindikasikan untuk kasus dengan trauma yang
koeksis dan gangguan medikal lain

CT-Scan
CT-Scan adalah pemeriksaan penunjang yang paling sensitif untuk

mendeteksi ruptur bola mata, kerusakan saraf optic, mendeteksi benda


asing dan memberi gambaran bola mata dan orbita.
Kurang dapat mendeteksi adanya benda asing non-logam.

Foto Rontgen
Foto polos tiga posisi Waters, Caldwell dan lateral lebih

bermanfaat untuk mengetahui kondisi tulang dan sinus daripada keadaan


bola mata.

MRI
o

MRI berguna untuk mendeteksi kerusakan jaringan lunak.

MRI juga berguna untuk mendeteksi benda asing non-logam.

MRI dikontraindikasikan bagi kecurigaan benda asing logam.

Ultrasonografi
Ultrasonografi memiliki resiko untuk memberikan tekanan pada

bola mata apabila terjadi trauma tembus.


Dapat berguna untuk menentukan lokasi rupture dan untuk

menyingkirkan kemungkinan adanya benda asing


.
IX. PENATALAKSANAAN

30

Dokter umum tidak dapat memberikan terapi definitif pada kasus trauma
yang berat sehingga diperlukan pengetahuan tentang kasus-kasus yang harus
dirujuk dan pengetahuan tentang penanganan pertama pada setiap kasus.
True Emergency
Kondisi ini memerlukan terapi dalam hitungan menit. Contoh kasusnya yaitu
trauma bakar oleh bahan kimia pada konjungtiva dan kornea. Semua trauma kimia
memerlukan terapi secepatnya dan irigasi yang banyak dan langsung dirujuk ke
spesialis mata.
Urgent Situation
Situasi urgensi memerlukan terapi dalam hitungan jam. Contoh kasus urgensi
antara lain
1

Trauma tembus bola mata, walaupun masih berupa kecurigaan langsung


dipakaikan pelindung mata. Tidak diperbolehkan untuk memerban ataupun
memberikan salep pada mata. Perlu dilakukan pemeriksaan imaging berupa
foto x-ray atau CT scan. Ini merupakan kasus rujukan

Benda asing di kornea atau konjungtiva. Adanya benda asing pada kornea dan
konjungtiva memerlukan anestesi topikal yang diikuti dengan pengambilan
benda asing baik dengan irigasi atau dengan aplikator berujung kapas.

Abrasi kornea. Langkah yang dapat dilakukan adalah pemberian anestesi


topikal, lakukan pemeriksaan secara menyeluruh termasuk pewarnaan dengan
florescen, berikan antibiotik tetes dan siklopegik tetes untuk mengurangi sakit,
tutup mata dengan peban yang lunak namun ketat untuk menjaga agar mata
tetap tertutup, dan ujuk ke spesialis mata.

Hifema. Perlu dirujuk secepatnya ke spesialis mata. Adanya peningkatan


tekanan bola mata akan memerlukan tindakan medis atau bedah. Selain itu,
hifema dapat juga merupakan tanda dari ruptur bola mata atau cedera serius
lainnya sepeti dislokasi lensa atau ablasio retina.

Laserasi kelopak mata. Dapat dijahit sendiri jika tidak dalam dan luka tidak
mengenai margo palpebra atau kanalikuli. Jika luka dalam dan mengenai
margo palpebra atau kanalikuli, maka harus dirujuk ke spesialis mata.

Semiurgent Situation

31

Merujuk pasien pada kondisi ini dapat dilakukan dalam 1-2 hari. Kasus yang
termasuk dalam kondisi ini antara lain fraktur orbita dan perdarahan konjungtiva
kecuali terdapat suspek ruptur bola mata atau perdarahan intraokuler.
Tatalaksana Trauma Perforans
Penilaian Awal
Langkah awal yang harus segera dilakukan adalah menerapkan prinsip umum
bantuan hidup lanjut pada kasus trauma, evaluasi untuk visual dilakukan sembari
pertolongan bantuan hidup lanjut dilaksanakan. Pada trauma mata yang lebih berat
dapat diperiksa fungsi aferen dan eferennya, ketajaman penglihatan, pergerakan
bola mata, deformitas, perforasi, darah, kemosis, distopia, enoftalmus,
eksoftalmus dan telekantus. Apabila terdapat ruptur dari bola mata, sebaiknya
dihindari untuk memanipulasi yang lebih lanjut hingga pembedahan dalam
keadaan steril bisa dilaksanakan, yang biasanya dilakukan dengan anestesi umum.
Tidak perlu diberikan siklopegik maupun antibiotik topikal sebelum operasi
dilakukan, karena adanya toksisitas potensil terhadap jaringan yang terpapar. Mata
diberi perlindungan, dengan Fox shield atau dengan gelas berbahan kertas yang
dipotong pada sepertiga bawah yang ditutupkan ke mata, dan bisa diberikan
antibiotik oral, seperti ciprofloxacin 2x500 mg. Analgesik, antiemetik, maupun
anti tetanus dapat diberikan selama diperlukan. Anestetik topikal, pewarna, dan
pengobatan topikal lain yang digunakan pada mata yang terkena trauma harus
steril. Untuk tetrakain dan fluoresin terdapat juga yang steril, dengan unit dose.
Agen neuromuscular blocking dapat meningkatkan tekanan intraokuler dan dapat
menyebabkan herniasi. Pada trauma yang berat, perlu diperhatikan untuk dokter
selain dokter mata, untuk tidak melakukan pemeriksaan mata yang dapat
menambah derajat keparahan penyakit.
Pengobatan
1. Tanpa Operasi
Pada luka tembus yang minimal, tanpa kerusakan intraokuler, tidak ada
prolap, diberikan terapi antibiotik sistemik dengan atau topical, dengan observasi
yang ketat
2. Operasi

32

a. Repair korneosklera
Tujuan primer repair korneosklera adalah untuk memperbaiki integritas
bola mata. Tujuan sekunder adalah untuk memperbaiki visus. Bila prognosis visus
kurang baik dan mempunyai resiko oftalmia simpatis maka sebaiknya dilakukan
enukleasi.
Enukleasi primer lebih baik, bila perlu ditunda tidak lebih dari 14 hari
untuk mencegah oftalmia simpatis. Kemudian diikuti dengan pemeriksaan fungsi
visus, vitroretina atau konsultasi ke subbagian plastic rekonstruksi.
b. Anastesi
Anastesi umum dipergunakan untuk repair bola mata, sebab anastesi
retrobulber atau peribulber akan meningkatkan tekanan bola mata. Diberikan
pelumpuh otot yang cukup untuk menghindari prolapsnya isi bola mata.
c. Langkah-langkah repair korneosklera
- Anastesi umum
- Eksisi prolap vitreous, fragmen lensa, benda asing transkornea
- Reposisi prolap iris
Jika prolaps berlangsung dalam 24-36 jam dan iris masih viabel, iris
dapat direposisi. Jika iris tidak lagi viabel, maka iris di eksisi.7
- Tutup laserasi kornea dengan limbus sebagai patokan
- Selesaikan repair kornea secara watertight dengan nilon 10-0
- Peritomi konjungtiva untuk memaparkan sklera
- Eksisi prolap vitreous bagian posterior secara perlahan
- Reposisi prolap uvea dan retina bagian posterior secara perlahan
- Selesaikan penutupan sklera dengan nilon 9-0 atau silk 8-0
- Selesaikan penutupan konjungtiva
- Tutup konjungtiva
- Antibiotik dan steroid subkonjungtiva

33

Gambar 8. Mengembalikan hubungan anatomi pada laserasi


korneoskleral
d. Yang perlu diperhatikan
Tidak dipasang fiksasi rektus karena repair palpebra akan menekan
permukaan mata, maka selesaikan dulu repair kornea. Bila vitreous atau massa
lensa prolap melalui bibir luka, maka potong diatas kornea, tidak dengan
menariknya keluar. Bila uvea atau retina menonjol keluar lakukan reposisi
dengan bantuan vikoelastik secara hati-hati. Reposisi iris segera dilakukan setiap
selesai jahitan untuk mencegah iris terjepit dibibir luka. Jahitan yang dikerjakan
sebaiknya mendekati full thickness.
Pada akhir operasi diberikan antibiotik subkonjungtiva (tobramisin 20 mg
atau vankomisin 25 mg) dan kortikosteroid (deksametason 2 mg). Antibiotik
intravitreal (vankomisin 1 mg atau amikacin 200 mcg) diberikan pada luka yang
terkontaminasi menutupi vitreous. Diberikan antibiotik salep mata (kombinasi
bacitasin-polimyxin) dan kemudian mata ditutup.
e. Repair sekunder
34

- Pengangkatan benda asing intraokuler, rekonstruksi iris, ekstraksi katarak,


vitrektomi, insersi lensa intraokuler dan krioterapi pada robekan retina.
- Bila kekeruhan lensa bertambah inflamasi intraokuler akan bertambah parah
sehingga kesempatan untuk meletakkan lensa intraokuler akan hilang.
- Bila benda asing terlihat di segmen anterior sebaiknya diangkat melalui lubang
atau insisi limbal.
- Bila pengangkatan lensa diperlukan perlu diketahui apakah kapsula posterior
masih utuh atau tidak.
- Perbaikan ruptur iris tidak hanya memperbaiki fungsi iris dan visus tapi juga
mengembalikan iris pada tempatnya untuk menghindarkan sinekia. Bila terjadi
iridodialis akan menyebabkan diplopia dan eksentrik pupil sehingga perlu
reposisi.
f. Pengobatan pasca operasi
- Terapi untuk cegah infeksi, supresi inflamasi, kontrol TIO dan hilangkan rasa
sakit.
- Antibiotik intravena sampai 3-5 hari. Antibiotik topikal sampai 7 hari
sedangkan kortikosteroid dan sikloplegia dikurangi berdasarkan tingkat
inflamasinya.
- Jahitan kornea bila tak longgar dapat diletakkan sampai 3 bulan lalu diangkat
bertahap
- Karena risiko ablatio retina maka pemeriksaan segmen posterior harus sering
dilakukan, bila tak terlihat dapat dengan menggunakan USG.
- Koreksi penglihatan sesegera mungkin karena pada anak-anak resiko
ambliopia meningkat apabila rehabilitasi visus ditunda
- profilaksis sistemik untuk cegah traumatik endoftalmitis :
* gram positif : vankomisin 1g IV tiap 12 jam selama hari
* gram negatif : Gentamisin 1-2 mg/kg BB IV pada kali pertama, dilanjutkan
1 mg/kg BB tiap 8 jam selama 3 hari atau ceftazidim 1 g IV
tiap 12 jam selama 3 hari.
* Fungus

: tidak rutin diberikan

X. KOMPLIKASI

35

Komplikasi setelah trauma okuli perforans:3

Infeksi : endoftalmitis, panoftalmitis

Katarak traumatik

Glaukoma sekunder

Oftalmika simpatika

XI. PROGNOSIS
Prognosis trauma okuli perforans bergantung pada banyak faktor, seperti:3

Besarnya luka tembus, makin kecil makin baik

Tempat luka pada bola mata

Bentuk trauma apakah dengan atau tanpa benda asing

Benda asing megnetik atau non megnetik

Dalamnya luka tembus, apakah tumpul atau luka ganda

Sudah terdapat penyulit akibat luka tembus

Mata sembuh dengan baik setelah trauma minor dan jarang terjadi sekuele
jangka panjang karena munculnya sindrom erosi berulang. Namun trauma tembus
mata seringkali dikaitkan dengan kerusakan penglihatan berat dan mungkin
membutuhkan pembedahan ekstensif.
Dengan diberlakukannya Ocular Trauma Score (OTS), maka diharapkan
dapat dengan mudah memprediksi untuk prognosis pasien, dan hal ini akan sangat
membantu pasien, dokter, dokter mata, dan tenaga paramedis lain. Dengan OTS
diharapkan dokter mata dapat memprediksi prognosis pasien, dan pada penelitian
didapatkan hasil hingga 77% kesempatan dokter mata untuk hasil fungsional final
pasien.

36

DAFTAR PUSTAKA
1. Asbury T, Sanitato JI. Trauma. Dalam : Vaughan D. Oftalmologi Umum,
Edisi 14; Jakarta : Widya Medika ; 2000. hal: 382-83
2. Depkes RI, Ditjen Binkenmas. Hasil Survey Kesehatan Indera Penglihatan
dan Pendengaran. Jakarta. 1998.
3. Ilyas S. Trauma Mata. Dalam : Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata edisi 3; 2004.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. hal: 259-76
4. Lang GK. Ophtalmology : a short text book. Ocular Trauma. Thieme
Stuttgart. New York. 2000. p.507-535
5. Rapon JM. Ocular Trauma Management For The Primary Care Provider.
Avilable

from

http://.opt.pacificu.edu//cc/catalog/10310-SD/triage.htm.

Accessed; 25 Maret 2016.


6. Khurana AK. Comprehensive Ophtalmology. Fourth Edition. 2007. New
Delhi: New Age International (P) Limited. p
7. James B, Chew C, Bron A. Trauma. In: Lecture Notes on Ophthalmology. 9th
Edition. Oxford: Blackwell Publishing. 2005.
8. Liesegang TJ, Skuata GL.Cantor LB: Fundamental and principle of
ophthalmology Section 2. American Academy of ophthalmology. San
Fransisco. 2008 2009. p. 55-6.

37