Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebutuhan dasar manusia (KDM) merupakan kebutuhan yanng sangat
dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan ini menyangkut fisiologi dan psikologis yang
mempertahankan kehidupan dan kesehatan.
Kebutuhan seksual merupakan kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi
perasaan dua orang individu secara pribadi yang saling menghargai, memerhatikan,
dan menyayangi sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik antara dua individu
tersebut. Seks pada hakekatnya merupakan dorongan naluri alamiah tentang kepuasan
syahwat. Tetapi banyak kalangan yang secara ringkas mengatakan bahwa seks itu
adalah istilah lain dari Jenis kelamin yang membedakan antara pria dan wanita. Jika
kedua jenis seks ini bersatu, maka disebut perilaku seks. Sedangkan perilaku seks
dapat diartikan sebagai suatu perbuatan untuk menyatakan cinta dan menyatukan
kehidupan secara intim.
Teori Hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow
menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar, yaitu :
1. Kebutuhan Fisiologis, yang merupakan kebutuhan paling dasar pada manusia.
Antara lain ; pemenuhan kebutuhan oksigen dan pertukaran gas, cairan
(minuman),

nutrisi (makanan),

eliminasi,

istirahat

dan tidur, aktivitas,

keseimbangan suhu tubuh, serta seksual.


2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan, dibagi menjadi perlindungan fisik dan
perlindungan psikologis. Perlindungan fisik, meliputi perlindungan dari ancaman
terhadap tubuh dan kehidupan seperti kecelakaan, penyakit, bahaya lingkungan,
dll. Perlindungan psikologis, perlindungan dari ancaman peristiwa atau
pengalaman baru atau asing yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan
seseorang.
3. Kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, memberi dan
menerima kasih sayang, kehangatan, persahabatan, dan kekeluargaan.
4. Kebutuhan akan harga diri dan perasaan dihargai oleh orang lain serta pengakuan
dari orang lain.
5. Kebutuhan aktualisasi diri, ini merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki
Maslow, yang berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain atau
lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya.
B. Tujuan Penulisan
1

1. Tujuan umum
a. Untuk mengetahui kebutuhan seksual
b. Untuk memenuhi salah satu tugas pernaikan mata kuliah Ilmu Dasar
Keperawatan II
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui definisi kebutuha seksual
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mmempengaruhi kebutuhan seksualitas
c. Untuk mengetahui perkembangan seksual
d. Untuk mnegetahui perilaku seksual
e. Untuk mnegetahui tahapan respon seksual
f. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi masalah sekual
g. Untuk mengetahui tindakan perawat terhadap kebutuhan seksual
C. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Tujuan penulisan
C. Sistematika penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan seksual
C. Perkembangan seksual
D. Perilaku seksual
E. Tahapan respon seksual
F. Faktor-faktor yang mempengaruhi masalah seksual
G. Tindakan perawat
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Istilah seks secara etimologis, berasal dari bahasa Latin sexus kemudian
diturunkan menjadi bahasa Perancis Kuno sexe. Istilah ini merupakan teks bahasa
Inggris pertengahan yang bisa dilacak pada periode 1150-1500 M. Seks secara
leksikal bisa berkedudukan sebagai kata benda (noun), kata sifat (adjective), maupun
kata kerja transitif (verb of transitive).
Kebutuhan seksual adalah kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan
dua orang individu secara pribadi yang saling menghargai, memerhatikan, dan
menyayangi sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik antara dua individu
tersebut.
Seksualitas dan seks merupakan hal yang berbeda :
1. Seksualitas adalah bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka dan
bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain
melalui tindakan yang dilakukannya seperti sentuhan, pelukan, ataupun perilaku
yang lebih halus seperti isyarat gerak tubuh, cara berpakaian, dan perbendaharaan
kata, termasuk pikiran, pengalaman, nilai, fantasi, emosi.
2. Seks adalah menjelaskan ciri jenis kelamin secara anatomi dan fisiologi pada lakilaki dan perempuan, hubungan fisik antar individu (aktivitas seksual genital).
B. Factor factor yang mempengaruhi kebutuhan seksualitas
1. Pertimbangan Perkembangan
a. Proses perkembangan manusia mempengaruhi aspek psikososial, emosional
dan biologik kehidupan yang selanjutnya akan mempengaruhi seksualitas
individu
b. Hanya aspek seksualitas yang telah dibedakan sejak fase konsepsi
2. Kebiasaan Hidup Sehat dan Kondisi Kesehatan
a. Tubuh, jiwa dan emosi yang sehat merupakan persyaratan utama untuk dapat
mencapai kepuasan seksual
b. Trauma atau stress dapat mempengaruhi kemampuan individu untuk
melakukan kegiatan atau fungsi kehidupan sehari-hari yang tentunya juga
mempengaruhi ekspresi seksualitasnya, termasuk penyakit
c. Kebiasaan tidur, istirahat, gizi yang adekuat dan pandangan hidup yang positif
mengkontribusi pada kehidupan seksual yang membahagiakan
3. Peran dan Hubungan

a. Kualitas

hubungan

seseorang

dengan

pasangan

hidupnya

sangat

mempengaruhi kualitas hubungan seksualnya


b. Cinta dan rasa percaya merupakan kunci utama yang memfasilitasi rasa
nyaman seseorang terhadap seksualitas dan hubungan seksualnya dengan
seseorang yang dicintai dan dipercayainya
c. Pengalaman dalam berhubungan seksual seringkali ditentukan oleg dengan
siapa individu tersebut berhubungan seksual
4. Konsep Diri
Pandangan individu terhadap dirinya sendiri mempunyai dampak langsung
terhadap seksualitas
5. Budaya, Nilai dan Keyakinan
a. Faktor budaya, termasuk pandangan masyarakat tentang seksualitas dapat
mempengaruhi individu
b. Tiap budaya mempunyai norma-norma tertentu tentang identitas dan perilaku
seksual
c. Budaya turut menentukan lama hubungan seksual, cara stimulasi seksual dan
hal lain terkait dengan kegiatan seksual
6. Agama
a. Pandangan agama tertenmtu yang diajarkan, ternyata berpengaruh terhadap
ekspresi seksualitas seseorang
b. Berbagai bentuk ekspresi seksual yang diluar kebiasaan, dianggap tidak wajar
c. Konsep tentang keperawanan dapat diartikan sebagai kesucian dan kegiatan
seksual dianggap dosa, untuk agama tertentu
7. Etik
a. Seksualitas yang sehat menurut Taylor, Lilis & Le Mone (1997) tergantung
pada terbebasnya individu dari rasa berssalah dan ansietas
b. Apa yang diyakini salah oleh seseorang, bisa saja wajar bagi orang lain

C. Perkembangan seksual
1. Masa prenatal dan bayi.
Pada masa ini komponen fisik atau biologis sudah mulai berkembang.
Berkembangnya organ seksual mampu merespon rangsangan, seperti adanya
ereksi penis pada laki-laki dan adanya pelumas vagina pada wanita. Perilaku ini
terjadi ketika mandi, bayi merasakan adanya perasaan senang. Menurut Sigmund
Freud, tahap perkembangan psikoseksual pada masa ini adalah :
a. Tahap Oral, terjadi pada umur 0-1 tahun. Kepuasan, kesenangan atau
kenikmatan dapat dicapai dengan cara menghisap, menggigit, mengunyah,
atau bersuara. Anak memiliki ketergantungan yang sangat tinggi dan selalu
minta dilindungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang di peroleh pada
masa ini adalah masalah menyapih dan makan.
b. Tahap Anal, terjadi pada umur 1-3 tahun. Kepuasan pada tahap ini terjadi pada
saat pengeluaran feses. Anak mulai menunjukan keakuannya, sikapnya sangat
narsistik (cinta terhadap diri sendiri), dan egois. Anak juga mulai mempelajari
struktur tubuhnya. Pada tahap ini anak sudah dapat di latih dalam hal
kebersihan.
2. Masa Kanak-kanak
Masa ini di bagi dalam usia prasekolah, dan sekolah. Perkembangan seksual pada
masa ini di awali secara biologis atau fisik, sedangkan perkembangan
psikoseksual pada masa ini adalah :
a. Tahap oedipal/phalik, terjadi pada umur 3-5 tahun. Kepuasan anak terletak
pada rangsangan otoerotis, yaitu meraba-raba, merasakan kenikmatan dari
beberapa erogennya. Anak juga mulai menyukai lain jenis. Anak laki-laki
cenderung lebih suka sama ibunya dari pada ayahnya, sebaliknya anak
perempuan lebih suka ayahnya. Anak mulai dapat mengidentifikasi jenis
kelamin dirinya, apakah laki-laki atau perempuan, belajar melalui interaksi
dengan figur orang tua, serta mulai mengembangkan peran sesuai dengan jenis
kelaminnya.
b. Tahap Laten, terjadi pada umur 5-12 tahun. Kepuasan anak mulai terintegrasi,
mereka memasuki masa pubertas dan berhadapan langsung pada tuntutan
sosial, seperti suka berhubungan dengan kelompoknya atau teman sebaya,
dorongan libido mulai berbeda. Pada masa sekolah ini, anak sudah banyak
bertanya tentang hal seksual melalui interaksi dengan orang dewasa, membaca
atau berfantasi.
3. Masa Pubertas / Remaja

Pada masa ini sudah terjadi kematangan fisik dari aspek seksual dan akan terjadi
kematangan secara psikososial. Terjadinya perubahan secara psikologis ini
ditandai dengan adanya perubahan dalam citra tubuh (body image) , perhatian
yang cukup besar terhadap fungsi tubuh, pembelajaran tentang perilaku, kondisi
sosial, dan perubahan lain, seperti perubahan berat badan, tinggi badan,
perkembangan otot, bulu di pubis, buah dada atau mentruasi bagi wanita. Tahap
yang di sebut oleh Freud sebagai tahap genital ini terjadi pada umur 12 - 18 tahun.
Kepuasan anak pada tahap ini akan kembali bangkit dan mengarah pada perasaan
cinta yang matang terhadap lawan jenis.
4. Masa Dewasa Muda dan Pertengahan Umur.
Pada tahap ini perkembangan secara fisik sudah cukup dan ciri seks sekunder
mencapai puncaknya, yaitu antara umur 18-30 tahun. Pada masa pertengahan
umur terjadi perubahan hormonal; pada wanita di tandai dengan penurunan
estrogen, pengecilan payudara dan jaringan vagina, penurunan cairan vagina,
selanjutnya akan terjadi penurunan reaksi ereksi; pada pria di tandai dengan
penurunan ukuran penis serta penurunan semen. Dari perkembangan psikososial,
sudah mulai terjadi hubungan intim antara lawan jenis, proses pernikahan dan
memiliki anak, sehingga terjadi perubahan peran.
5. Masa Dewasa Tua
Perubahan yang terjadi pada tahap ini pada wanita di antaranya adalah atrofi pada
vagina dan dan jaringan payudara, penurunan cairan vagina, dan penurunan
intensitas orgasme pada wanita; sedangkan pada pria akan mengalami penurunan
produksi sperma, berkurangnya intensitas orgasme, terlambatnya pencapaian
ereksi, dan pembesaran kelenjar prostat.
D. Perilaku Seksual
Perilaku seksual menurut Sarwono (2010:174) adalah segala tingkah laku
yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis.
Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik
hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan senggama. Objek seksualnya bisa
berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri.
Nevid, dkk., 1995 (dalam Amalia, 2007:28) mendefinisikan perilaku seks
sebagai semua jenis aktifitas fisik yang menggunakan tubuh untuk mengekspresikan
perasaan erotis atau perasaan afeksi. Sedangkan perilaku seks pra nikah sendiri adalah
aktifitas seksual dengan pasangan sebelum menikah pada usia remaja (Cavendish,
2009:663).
6

Beberapa tahapan-tahapan dari perilaku seksual yang biasanya dilakukan,


yang selanjutnya adalah lebih berat sifatnya dan semakin mengarah pada perilaku
seksual. Tahapan-tahapan tersebut adalah (London; 1978 dalam Amalia, 2007:29):
1. Awakening and eksploration
Rangsangan terhadap diri sendiri dengan cara berfantasi, menonton film, dan
membaca buku-buku porno.
2. Autosexuality:Masturbation
Perilaku merangsang diri sendiri dengan melakukan masturbasi

untuk

mendapatkan kepuasan seksual.


3. Heterosexuality:kissing and necking
Saling merangsang dengan pasangannya, tetapi tidak mengarah ke daerah sensitif
pasangannya, hanya sebatas cium bibir dan leher pasangannya
4. Heterosexuality
a. Light petting : perilaku saling menempelkan anggota tubuh dan masih dalam
keadaan memakai pakaian.
b. Heavy petting : perilaku saling menggesek-gesekkan alat kelamin dan dalam
keadaan tidak memakai pakaian untuk mencapai kepuasan. Tahap ini adalah
awal terjadinya hubungan seks.
5. Heterosexuality : Copulaation
Perilaku melakukan hubungan seksual dengan melibatkan organ seksual masingmasing.
E. Tahapan Respon Seksual
1. Fase 1: Perangsangan
a. Meningkatnya tekanan otot-otot
b. Denyut jantung yang semakin cepat dan nafas yang memburu
c. Kulit yang menjadi memerah (terkadang timbul semburat merah di sekitar
dada dan punggung)
d. Puting yang mengeras
e. Aliran darah menuju organ genital yang meningkat, yang berakibat klitoris
dan labia minora (bibir vagina dalam) pada wanita menjadi basah serta penis
pria menegang.
f. Organ intim (vagina) wanita secara umum menjadi basah.
g. Payudara menjadi tegang dan seakan-akan penuh serta organ intim wanita
merekah.
h. Testis pria akan mengembang dan scrotum akan penuh cairan yang siap
dikeluarkan.
2. Fase 2: Dataran tinggi (plateau)
a. Organ intim wanita yang semakin mengembang karena meningkatnya aliran
darah serta perubahan kulit sekitar organ intim menjadi ke-ungu-an dan
menjadi lebih gelap.
7

b. Klitoris yang menjadi semakin sensitif (bahkan terkadang nyeri bila disentuh)
dan

terkadang

kembali

masuk

tertutup

klitoris

untuk

menghindari

perangsangan oleh penis.


c. Napas, denyut jantung dan tekanan darah yang terus meningkat
d. Otot mengejang di kaki, muka dan tangan
e. Tekanan otot meningkat
3. Fase 3: Orgasme
a. Kontraksi otot yang tak beraturan dan tidak terkontrol
b. Teakanan darah, denyut jantung dan nafas berada dalam kondisi puncak
c.
d.
e.
f.

dengan kebutuhan oksigen yang masimal


Otot sekitar kaki yang mengejang penuh.
Pelepasan yang tiba-tiba dari tekanan seksual
Pada wanita organ intim akan berkontraksi, rahim akan terus berkontraksi.
Pada pria, kontraksi ritmis otot pada pangkal penis akan mengakibatkan

ejakulasi dan pengeluaran semen.


g. Gerakan tubuh tak beraturan akan berlanjut dan keringat akan cenderung
keluar dari pori-pori tubuh.
4. Fase 4: Resolusi
Selama fase ini, tubuh akan kembali pada kondisi normal. Bagian-bagian
tubuh yang mengembang dan pmeregang lambat laun akan kembali normal pada
ukuran dan warna semula. Tahap ini juga ditandai dengan perasaan puas oleh
pasutri, keintiman dan bahkan kelelahan.
Beberapa wanita mampu melanjutkan fase orgasme tersebut dengan sedikit
rangsangan dan inilah yang disebut sebagai multiple orgasm. Sebaliknya pri
memerlukan waktu setelah orgasme yang disebut dengan periode refraksi, dimana
pada waktu ini pria tidak akan mampu orgasme lagi. Periode refraksi ini
berlangsung berbeda-beda pada pria, biasanya semakin tua umur maka periode
refraksi ini akan berlangsung makin lama.
F. Faktor-faktor yang mempengaruhi masalah seksual.
1. Perkembangan manusia berpengaruh terhadap psiko-sosial, emosional, dan
biologis
2. Kultur / budaya : berpakaian,tata cara pernikahan, perilaku yang diharapkan sesuai
norma. Peran laki-laki dan perempuan mungkin juga akan dipengaruhi budaya
3. Nilai-nilai Realigi :Aturan atau batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan
terkait seksualitas. Misalnya larangan aborsi, hubungan seks tanpa nikah
4. Status Kesehatan : Klien dapat mengalami penurunan keinginan seksual karena
alasan fisik. Medikasi dapat mempengaruhi keinginan seksual. Citra tubuh yang
buruk, terutama ketika diperburuk oleh perasaan penolakan atau pembedahan

yang mengubah bentuk tubuh, dapat menyebabkan klien kehilangan perasaannya


secara seksual.
5. Hospitalisasi :
a. Kesepian, tidak lagi memiliki privasi, merasa tidak berguna.
b. Beberapa klien di rumah sakit mungkin dapat berperilaku secara seksual
melalui pengucapan kata-kata kotor, mencubit,dll
c. Klien yang mengalami pembedahan dapat merasa kehilangan harga diri dan
perasaan kehilangan yang mencakup maskulinitas dan femininitas.
G. Tindakan Perawat
Untuk memenuhi kebutuhan seksual, perawat dapat melakukan tindakan berikut:
1. Melakukan cara-cara / teknik untuk menciptakan lingkungan privasi
2. Mengajarkan pola seksualitas yang sehat
3. Mengajarkan perubahan fisiologis kehamilan
4. Mengajarkan pendidikan seks pada usia remaja, dewasa, dan usia lanjut.
5. Mengajarkan cara pemilihan kontrasepsi
6. Menciptakan hubungan teurapetik dalam mendiskusikan masalah seks
7. Memperkenalkan alat-alat bantu pemenuhan dalam kebutuhan seks
8. Melaksananakan rujukan masalah seksualitas
9. Menerima konseling maslaah seksual

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebutuhan seksual adalah kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan
dua orang individu secara pribadi yang saling menghargai, memerhatikan, dan
menyayangi sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik antara dua individu
tersebut.
B. Saran
Kebutuhan seksual merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Untuk
memenuhi kebutuhan seksual dengan baik, maka tindakan sebagai perawat/ tenaga
kesehatan tentunya :
1. Mengajarkan pola seksualitas yang sehat
2. Mengajarkan pendidikan seks pada usia remaja, dewasa, dan usia lanjut.
3. Menciptakan hubungan teurapetik dalam mendiskusikan masalah seks
4. Memperkenalkan alat-alat bantu pemenuhan dalam kebutuhan seks
5. Melaksananakan rujukan masalah seksualitas
6. Menerima konseling maslaah seksual

10

DAFTAR PUSTAKA
Ebook: Kusnanto tentang Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan. Penerbit: Buku
kedokteran EGC.
Ebook: Nursalam dan Ferry Efendi tentang Pendidikan dalam Keperawatan. Penerbit:
Salemba Medika.
Blog

Kapevi

Hatake

tentang

Askep

Kebutuhan

Seksual

(http://macrofag.blogspot.co.id/2013/02/askep-kebutuhan-seksual_19.html diakses tanggal 4


Maret 2016).
Blog Aswan si Arseven tentang

makalah

pemenuhan kebutuhan seksual

(http://pemenuhankebutuhanseksual.blogspot.co.id/2012/05/makalah-pemenuhan-kebutuhanseksual.html diakses tanggal 4 Maret 2016).


Nurse

blog

tentang

pemenuhan

kebutuhan

seksual

(https://atinurse.wordpress.com/2013/11/09/pemenuhan-kebutuhan-seksualitas/

diakses

tanggal 4 Maret 2016).

11