Anda di halaman 1dari 7

Widiyanty Novita Wildam (A31113329)

Ambo Tuwo S. Rivai


(A31110124)
BAB VIII
PAJAK PENGHASILAN PASAL 24
Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan PPh Pasal
24, dasar perhitungan, tarif, cara menghitung dan akuntansi PPh Pasal 24.

8.1 Pengertian PPh Pasal 24


Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 24 merupakan pajak yang dibayar atau terutang di
luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak dalam negeri dan boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang dalam tahun
pajak yang sama.
Pada dasarnya Wajib Pajak dalam negeri terutang pajak atas seluruh penghasilan,
termasuk penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri. Untuk
meringankan beban pajak ganda yang dapat terjadi karena pengenaan pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri, ketentuan ini mengatur
tentang perhitungan besarnya pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di
luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang atas seluruh
penghasilan Wajib Pajak dalam negeri. Pajak atas penghasilan yang dibayar atau
terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang di
Indonesia hanyalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima
atau diperoleh Wajib Pajak.
Contoh:
PT A di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Z Inc. di Negara X. Z
Inc. tersebut dalam tahun 1995 memperoleh keuntungan sebesar US$ 100,000.00.
Pajak Penghasilan yang berlaku di negara Z adalah 48% dan Pajak Dividen adalah
38%. Penghitungan pajak atas dividen tersebut adalah sebagai berikut:
Keuntungan Z Inc
US$ 100,000.00
Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc. (48%) US$ 48,000.00 (-)
US$ 52,000.00
Pajak atas dividen (38%)
US$ 19,760.00 (-)
Dividen yang dikirim ke Indonesia
US$ 32,240.00
Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap seluruh Pajak Penghasilan yang
terutang atas PT A adalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh di luar negeri, dalam contoh di atas yaitu jumlah sebesar US$
19,760.00. Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc. sebesar US$
48,000.00 tidak dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang atas PT
A, karena pajak sebesar US$ 48,000.00 tersebut tidak dikenakan langsung atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh PT A dari luar negeri, melainkan pajak
yang dikenakan atas keuntungan Z Inc. di negara X.

8.2 Penghitungan Kredit Pajak Luar Negeri


Besarnya kredit pajak adalah sebesar pajak penghasilan yang dibayar atau terutang
di luar negeri tetapi tidak boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang
berdasarkan Undang-undang ini. Untuk memberikan perlakuan pemajakan yang
sama antara penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri dengan
penghasilan yang diterima atau diperoleh di Indonesia, maka besarnya pajak yang
dibayar atau terutang di luar negeri dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang di
Indonesia tetapi tidak boleh melebihi besarnya pajak yang dihitung berdasarkan
Undang-undang ini.
Cara penghitungan besarnya pajak yang dapat dikreditkan:
a. Apabila dalam Penghasilan Kena Pajak terdapat penghasilan yang berasal
dari luar negeri, maka Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar
negeri atas penghasilan tersebut dapat dikreditkan terhadap Pajak
Penghasilan yang terutang di Indonesia.
b. Pengkreditan pajak dilakukan dalam tahun pajak digabungkannya
penghasilan dari luar negeri tersebut dengan penghasilan di Indonesia.
c. Jumlah kredit pajak paling tinggi sama dengan jumlah pajak yang dibayar
atau terutang di luar negeri, tetapi tidak boleh melebihi jumlah tertentu.
d. Jumlah tertentu dihitung menurut perbandingan antara penghasilan dari luar
negeri terhadap Penghasilan Kena Pajak dikalikan dengan pajak yang
terutang atas Penghasilan Kena Pajak, paling tinggi sama dengan pajak
yang terutang atas Penghasilan Kena Pajak dalam hal Penghasilan Kena
Pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri.
e. Apabila Penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara, maka
penghitungan Kredit pajak dilakukan untuk masing-masing negara.
f. Penghasilan Kena Pajak tidak termasuk Penghasilan yang dikenakan Pajak
yang bersifat final dan atau penghasilan yang dikenakan pajak tersendiri
menurut Undang-undang Pajak Penghasilan.
Dalam hal jumlah PPh yang dibayar atau terutang di luar negeri melebihi jumlah
kredit pajak yang diperkenankan, maka kelebihan tersebut tidak dapat
diperhitungkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang tahun berikutnya, tidak
boleh dibebankan sebagai biaya atau pengurang penghasilan, dan tidak dapat
dimintakan restitusi.
Dalam hal terjadi perubahan besarnya penghasilan yang berasal dari luar negeri,
Wajib Pajak harus melakukan pembetulan SPT untuk tahun pajak yang
bersangkutan dengan melampirkan dokumen yang berkenaan dengan perubahan
tersebut. Dalam hal pembetulan menyebabkan Pajak Penghasilan kurang dibayar,
maka atas kekurangan tersebut tidak dikenakan bunga sesuai Undang-undang
Ketentuan Umum Perpajakan. Dalam hal pembetulan menyebabkan Pajak
Penghasilan lebih dibayar, maka atas kelebihan tersebut dapat dikembalikan kepada
Wajib Pajak setelah diperhitungkan dengan utang pajak lainnya.
Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan, sumber penghasilan
ditentukan sebagai berikut:
a. penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari pengalihan
saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang menerbitkan
saham atau sekuritas tersebut didirikan atau bertempat kedudukan;

b.

penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehubungan dengan penggunaan


harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga,
royalti, atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada;
c. penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak
adalah negara tempat harta tersebut terletak;
d. penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan
adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut
bertempat kedudukan atau berada;
e. penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap
tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan;
f. penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau
tanda turut serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan
pertambangan adalah negara tempat lokasi penambangan berada;
g. keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap
berada;
h. keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk
usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap berada.
Dalam perhitungan kredit pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar
negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang menurut UndangUndang ini, penentuan sumber penghasilan menjadi sangat penting. Selanjutnya,
ketentuan ini mengatur tentang penentuan sumber penghasilan untuk
memperhitungkan kredit pajak luar negeri tersebut.
Mengingat Undang-Undang ini menganut pengertian penghasilan yang luas, maka
penentuan sumber dari penghasilan dipergunakan prinsip yang sama dengan prinsip
tersebut, misalnya A sebagai Wajib Pajak dalam negeri memiliki sebuah rumah di
Singapura dan dalam tahun 1995 rumah tersebut dijual. Keuntungan yang diperoleh
dari penjualan rumah tersebut merupakan penghasilan yang bersumber di Singapura
karena rumah tersebut terletak di Singapura.
Apabila pajak atas penghasilan dari luar negeri yang dikreditkan ternyata kemudian
dikurangkan atau dikembalikan, maka pajak yang terutang menurut Undang-undang
ini harus ditambah dengan jumlah tersebut pada tahun pengurangan atau
pengembalian itu dilakukan. Apabila terjadi pengurangan atau pengembalian pajak
atas penghasilan yang dibayar di luar negeri, sehingga besarnya pajak yang dapat
dikreditkan di Indonesia menjadi lebih kecil dari besarnya perhitungan semula, maka
selisihnya ditambahkan pada Pajak Penghasilan yang terutang menurut Undangundang ini.
Misalnya dalam tahun 1996, Wajib Pajak mendapat pengurangan pajak atas
penghasilan luar negeri tahun pajak 1995 sebesar Rp 5.000.000,00 yang semula
telah termasuk dalam jumlah pajak yang dikreditkan terhadap pajak yang terutang
untuk tahun pajak 1995, maka jumlah sebesar Rp5.000.000,00 tersebut ditambahkan
pada Pajak Penghasilan yang terutang dalam tahun pajak 1996.
Permohonan Kredit Pajak Luar Negeri
Untuk melaksanakan pengkreditan pajak luar negeri, Wajib Pajak wajib
menyampaikan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan
melampirkan:
1. Laporan Keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri;
2. Fotocopy Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri;
3. Dokumen pembayaran pajak di luar negeri.

Permohonan kredit pajak luar negeri tersebut harus disampaikan bersamaan


dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. Namun,
atas permohonan Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat memperpanjang
jangka waktu penyampaian lampiran-lampiran permohonan tersebut karena
alasan-alasan di luar kemampuan Wajib Pajak (force majeur).
8.3 Kredit Pajak Luar Negeri (LAMPIRAN KHUSUS 7A/7B DALAM SPT
TAHUNAN)
-

Diisi dengan rincian bukti pemotongan/pembayaran PPh yang terutang di


luar negeri dengan didukung laporan keuangan penghasilan dari luar
negeri, fotokopi Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar
negeri, dan fotokopi dokumen pembayaran pajak di luar negeri. Tata cara
penghitungan agar mengacu pada Pasal 24 UU PPh jo. Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 164/KMK.03/2002 tanggal 19 April 2002.

Pengkreditan PPh yang terutang/dibayar di luar negeri terhadap PPh yang


terutang di Indonesia adalah mana yang lebih kecil antara jumlah yang
sebenarnya atau jumlah tertentu yang dihitung berdasarkan formula
sebagai berikut:

Jumlah Penghasilan dari LN


----------------------------------

Total PPh Terutang

Penghasilan Kena Pajak

- Dalam hal penghasilan yang diterima/diperoleh di luar negeri berasal dari

beberapa negara, maka penghitungan kredit pajak berdasarkan formula


tersebut dilakukan untuk masing-masing negara (ordinary credit per country
basis). Penghasilan kena pajak dalam formula tersebut tidak termasuk
Pajak yang bersifat final sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (2), Pasal 8
ayat (1) dan ayat (4) UU PPh.
PENGHITUNGAN KREDIT PAJAK LUAR NEGERI WAJIB PAJAK BADAN
PT Abadi di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam thn 2013 sbb:
Penghasilan dalam negeri
Rp 1.000.000.000
Penghasilan luar negeri
Rp 1.000.000.000
(dengan tarif pajak 20 %)
Penghitungan jumlah maksimum kredit pajak luar negeri adalah:
1. Penghasilan dalam negeri
Rp 1.000.000.000
Penghasilan luar negeri
Rp 1.000.000.000
Jumlah penghasilan neto

Rp.2.000.000.000

2. Apabila jumlah penghasilan neto sama dengan Penghasilan Kena Pajak,


maka sesuai dengan tarif Pasal 17, pajak Penghasilan yang terutang
adalah:

25 % x Rp

2.000.000.000 =

Rp

500.000.000

3. Batas maksimum kredit pajak luar negeri adalah:

Rp 1.000.000.000,00
x Rp 500.000.000 Rp 250.000.000
Rp 2.000.000.000,00
Oleh karena itu batas maksimum kredit pajak luar negeri sebesar Rp
250.000.000,00 lebih besar dari jumlah pajak luar negeri yang terutang atau
dibayar di luar negeri yaitu sebesar Rp 200.000.000,00 (20 % x Rp
1.000.000.000,00), maka jumlah kredit pajak luar negeri yang diperkenankan
adalah Rp 200.000.000,00.
Penghitungan Kredit Pajak Luar Negeri WP Orang Pribadi
Seperti pada contoh diatas, apabila penghasilan dari dalam negeri
diperoleh oleh Wajib Pajak orang pribadi, untuk menghitung penghasilan kena
pajak harus dikurangi terlebih dahulu dengan penghasilan tidak kena pajak
(PTKP). Oleh karena itu, penghasilan PPh pasal 24 menjadi sebagai berikut:
1. Penghasilan neto
PTKP (K/3)
Penghasilan Kena Pajak

Rp 2.000.000.000,00
(Rp. 48.000.000,00) +
Rp. 1.952.000.000,00

2. Pajak penghasilan terutang sesuai tarif Pasal 17


5 % x Rp
50.000.000,00 =
Rp
2.500.000,00
15 % x Rp 200.000.000,00 =
Rp 30.000.000,00
25 % x Rp 250.000.000,00 =
Rp 62.500.000,00
30 % x Rp 1.467.000.000,00 =
Rp 440.100.000,00
Jumlah Pajak Terutang
Rp 535.100.000,00
3. Batas maksimum kredit pajak luar negeri adalah:

Rp 1.000.000.000, 00
x Rp 535.1000.000, 00 Rp2 74.129.098, 00
Rp 1.952.000.000, 00
Pajak yang terutang atau dibayar di luar negeri Rp 200.000.000,00 ternyata
masih lebih kecil dibanding batas maksimumnya (Rp274.129.098.,00). Oleh
karena itu, jumlah kredit pajak luar negeri (Pasal 24) yang diperkenankan adalah
Rp 200.000.000,00.

8.4 Soal Latihan


1. PT Agung Sakti di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Zinc, di
Amerika Serikat. Zinc tersebut dalam tahun 2013 memperoleh keuntungan
sebesar US$ 200.000,00. Pajak Penghasilan yang berlaku di Amerika Serikat
sebesar 48% dan Pajak Dividen adalah 38%. Berapa Pajak Penghasilan yang
dapat dikreditkan.
Keuntungan Zinc
Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Zinc (48%)
Pajak atas dividen (38%)
Dividen yang dikirim ke Indonesia

US$ 200,000.00
US$ 96,000,00 (-)
US$ 104,000.00
US$ 39,520.00 (-)
US$ 64,480.00

Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap seluruh Pajak Penghasilan yang
terutang atas PT Agung Sakti adalah pajak yang langsung dikenakan atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri, dalam soal di atas yaitu
jumlah sebesar US$ 39,520.00. Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Zinc.
sebesar US$ 96,000.00 tidak dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang
terutang atas PT Agung Sakti, karena pajak sebesar US$ 96,000.00 tersebut tidak
dikenakan langsung atas penghasilan yang diterima atau diperoleh PT Agung Sakti
dari luar negeri, melainkan pajak yang dikenakan atas keuntungan Zinc di negara
Amerika Serikat.
2. PT Abadi di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2013 sebagai
berikut:
Penghasilan dalam negeri
Rp 200.000.000,00
Penghasilan luar negeri
Rp 400.000.000,00
(dengan tarif pajak 30 %)
Penghitungan jumlah maksimum kredit pajak luar negeri adalah:
1. Penghasilan dalam negeri
Rp 200.000.000,00
Penghasilan luar negeri
Rp 400.000.000,00
Jumlah penghasilan neto

Rp 600.000.000,00

2. Apabila jumlah penghasilan neto sama dengan Penghasilan Kena Pajak,


maka sesuai dengan tarif Pasal 17, pajak Penghasilan yang terutang
adalah:
25% x Rp
600.000.000,00 =
Rp
150.000.000,00
3. Batas maksimum kredit pajak luar negeri adalah:

Rp 400.000.000, 00
x Rp150.000.000, 00 Rp100.000.000, 00
Rp 600.000.000, 00
Oleh karena itu batas maksimum kredit pajak luar negeri sebesar Rp
100.000.000 lebih besar dari jumlah pajak luar negeri yang terutang atau
dibayar di luar negeri yaitu sebesar Rp 120.000.000,00 (30 % x Rp

400.000.000,00), maka jumlah kredit pajak luar negeri yang diperkenankan


adalah Rp 100.000.000,00.

3. Bapak Adi dengan PTKP K/0 di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam
tahun 2013 sebagai berikut:
Penghasilan dalam negeri
Rp 100.000.000,00
Penghasilan luar negeri
Rp 200.000.000,00
(dengan tarif pajak 40 %)
1. Penghasilan neto
PTKP (K/0)
Penghasilan Kena Pajak

Rp 300.000.000,00
(Rp. 39.000.000,00) +
Rp. 261.000.000,00

2. Pajak penghasilan terutang sesuai tarif Pasal 17


5 % x Rp
50.000.000,00 =
Rp
15 % x Rp 200.000.000,00 =
Rp
25 % x Rp
11.000.000,00 =
Rp
Jumlah Pajak Terutang

Rp

5.000.000,00
30.000.000,00
2.750.000,00
37.750.000,00

3. Batas maksimum kredit pajak luar negeri adalah:

Rp 200.000.000, 00
x Rp 37.750.000, 00 Rp28.927.203, 00
Rp 261.000.000, 00
Pajak yang terutang atau dibayar di luar negeri Rp 80.000.000,00 (40% x Rp.
200.000.000,00) ternyata lebih besar dibanding batas maksimumnya (Rp.
28.927.203,00). Oleh karena itu, jumlah kredit pajak luar negeri (Pasal 24) yang
diperkenankan adalah Rp 28.927.203,00.