Anda di halaman 1dari 15

PENGEMBANGAN PRODUK

SIKLUS HIDUP PRODUK MINUMAN ISOTONIK

OLEH :

ANNIDA RANI CHAIRUNISAH


DEDI STIAWAN
IKA PUTRI SULISTIANA
JOHAN P.

J1A113055
J1A1130
J1A1130

TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..........................................................................................................................
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar
Belakang
............................................................................................................
3

1.2.

Rumusan
Masalah
............................................................................................................
3

1.3.

Tujuan
Penulisan
............................................................................................................
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1

Minuman
Isotonik
............................................................................................................
4

Siklus
Hidup
Produk
............................................................................................................
5

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

............................................................................................................
4

3.2

............................................................................................................
5

3.3

............................................................................................................
5

3.4

............................................................................................................
7

3.5

............................................................................................................
8

3.6

............................................................................................................
8

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan ....................................................................................................

10

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................
1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Minuman isotonik didefinisikan juga sebagai minuman yang mengandung

karbohidrat (monosakarida, disakarida dan terkadang maltodekstrin) dengan


konsentrasi 6-9% (berat/volume) dan mengandung sejumlah kecil mineral
(eklektrolit), seperti natrium, kalium, klorida, posfat serta perisa buah /fruit
flavors (Murray dan Stofan, 2001). Komponen utama dari minuman isotonik ini
adalah air sebagai pengganti cairan tubuh, karbohidrat sebagai penyuplai energi
siap saji dan mineral sebagai pengganti elektrolit tubuh yang hilang. Tambahan

pula, kehadiran flavor sangat penting dalam menstimulus konsumen untuk


mengkonsumsi minuman isotonik (Koswara, 2009).
Minuman isotonik dibuat untuk menggantikan energi, cairan tubuh dan
elektrolit yang hilang selama dan setelah kita melakukan aktivitas fisik, seperti
bekerja dan olahraga. Aktivitas fisik yang berat, pada umumnya akan menekan
selera makan. Bila hal ini tidak diatasi maka akan tercipta deficit energi yang
ditandai dengan penurunan cadangan energi dalam bentuk glikogen. Keadaan ini
merugikan karena dapat menyebabkan penurunan masa tubuh, kehilangan
jaringak aktif, kelelahan kronis, dan suplai, makanan (glukosa) ke sel otak
terganggu. Oleh karena itu, kehadiran minuman isotonic diharapkan dapat
mengatasi permasalahan kehilangan energi, cairan tubuh dan elektrolit (Koswara,
2009).
Setiap produk akan selalu memiliki masa hidup yang berbeda-beda. Masa
hidup suatu produk mulai saat dikeluarkan oleh perusahaan ke masyarakat luar
sampai dengan menjadi tidak disenanginya produk tersebut merupakan siklus
kehidupan produk.
Siklus hidup produk menggambarkan tahap-tahap yang berbeda dalam
sejarah penjualan suatu produk. Tahap-tahap ini berhubungan dengan kesempatan
dan masalah yang berbeda mengenai strategi pemasaran dan laba potensial.
Dengan mengidentifikasitahap-tahap yang berbeda dengan tantangan yang
berbeda tahap suatu produk berada, atau tahap yang akan dicapai , perusahaan
dapat memformulasikan encana pemasaran dengan lebih baik (Kotlar, ).
Minuman isotonik berpeluang besar untuk semakin banyak dikonsumsi
diluar. Hal ini didasarkan pada proses pembuatannya mengacu pada ilmu
pengetahuan, sehingga produknya aman dikonsumdi dan dapat memenuhi
kebutuhan tubuh terutama dalam hal cairan, energi dan elektrolit. Pada makalah
ini akan dijelaskan siklus hidup beberapa merk dagang produk minuman isotonik
yang telah beredar di pasaran.
1.2.

Rumusan Masalah
Bagaimana siklus hidup beberapa merk produk minuman isotonik
yang telah beredar di pasaran?

1.3.

Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui siklus hidup beberapa merk produk minuman
isotonik yang telah beredar di pasaran.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Minuman Isotonik
Menurut BSN (1998), minuman Isotonik merupakan salah satu produk
minuman ringan karbonasi atau nonkarbonasi untuk meningkatkan kebugaran,
yang mengandung gula, asam sitrat, dan mineral. Istilah isotonic seringkali
digunakan untuk larutan minuman yang memiliki nilai osmolalitas yang mirip
dengan cairan tubuh (darah), sekitar 280 mosm/kg H2O. Minuman Isotonik juga
dikenal dengan sport drink yaitu minuman yang berfungsi untuk mempertahankan
cairan dan garam tubuh serta memberikan energi karbohidrat ketika melakukan
aktivitas.
Minuman isotonik didefinisikan juga sebagai minuman yang mengandung
karbohidrat (monosakarida, disakarida dan terkadang maltodekstrin) dengan
konsentrasi 6-9% (berat/volume) dan mengandung sejumlah kecil mineral

(eklektrolit), seperti natrium, kalium, klorida, posfat serta perisa buah /fruit
flavors (Murray dan Stofan, 2001). Komponen utama dari minuman isotonik ini
adalah air sebagai pengganti cairan tubuh, karbohidrat sebagai penyuplai energi
siap saji dan mineral sebagai pengganti elektrolit tubuh yang hilang. Tambahan
pula, kehadiran flavor sangat penting dalam menstimulus konsumen untuk
mengkonsumsi minuman isotonik (Koswara, 2009).
Minuman isotonik dibuat untuk menggantikan energi, cairan tubuh dan
elektrolit yang hilang selama dan setelah kita melakukan aktivitas fisik, seperti
bekerja dan olahraga. Aktivitas fisik yang berat, pada umumnya akan menekan
selera makan. Bila hal ini tidak diatasi maka akan tercipta deficit energi yang
ditandai dengan penurunan cadangan energi dalam bentuk glikogen. Keadaan ini
merugikan karena dapat menyebabkan penurunan masa tubuh, kehilangan
jaringak aktif, kelelahan kronis, dan suplai, makanan (glukosa) ke sel otak
terganggu. Oleh karena itu, kehadiran minuman isotonic diharapkan dapat
mengatasi permasalahan kehilangan energi, cairan tubuh dan elektrolit (Koswara,
2009).
Minuman isotonic atau sport drink diformulasi untuk memberikan manfaat
berguna bagi tubuh, diantaranya: 1) mendorong konsumsi cairan secara sukarela,
2) menstimulir penyerapan cairan secara cepat, 3) menyediakan karnohidrat untuk
meningkatkan performance, 4) menambah respon fisiologis, dan 5) untuk
rehidrasi yang cepat. Minuman isotonik diyakini sebagai minuman ideal bagi atlit
olah raga. Perannya tidak hanya sebagai minuman biasa yang menggantikan
cairan tubuh, tapi juga sekaligus sebagai pengganti elektrolit yang hilang bersama
keringat dan penyuplai energi bagi aktivitas tubuh saat berolahraga (Koswara,
2009).
Dewasa ini, di Indonesia telah banyak beredar beberapa merk dagang
minuman isotonik. Hal ini tidak terlepas dari cara pandang masyarakat yang tidak
hanya memandang minuman hanya sebagai pelepas dahaga atau rasa haus, tetapi
juga memiliki fungsi kesehatan tertentu. Minuman isotonik selain mengandung air
sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang, juga mengandung mineral sebagai
pengganti mineral yang hilang bersama keringat dan gula sebagai energi yang
digunakan saat beraktivitas (Koswara, 2009).

2.2. Siklus Hidup Produk


Setiap produk akan selalu memiliki masa hidup yang berbeda-beda. Masa
hidup suatu produk mulai saat dikeluarkan oleh perusahaan ke masyarakat luar
sampai dengan menjadi tidak disenanginya produk tersebut merupakan siklus
kehidupan produk. Tahap-tahap daur hidup produk yaitu (Harsono, 2005) :
1. Tahap Perkenalan (introduction)
Dalam tahap ini produk belum dikenal oleh konsumen sehingga harus
dipromosikan. Pertumbuhan hasil penjualannya akan sangat lambat.
2. Tahap pertumbuhan (growth)
Dalam tahap ini produk mulai dikenal konsumen dan mengalami kenaikan
volume penjualan.
3. Tahap kedewasaan (maturity)
Dalam tahap ini, penjualan mencapai titik tertinggi dan persaingan juga
meningkat.
4. Tahap penurunan (decline)
Pada tahap ini penjualan mengalami penurunan karena produk tersebut
sampai pada titik kejenuhan. Konsumen akn meninggalkan dan tidak lagi mau
menggunakan produk tersebut. Dalam kondisi ini pengusaha harus sudah
mengantisipasi dan menyiapkan produk pengganti yang diharapkan akan
menggantikan posisi produk yang sudah akan mati itu.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperpanjang daur hidup
produk antara lain adalah (Harsono, 2005) :
1. Meningkatkan frekuensi penggunaan dengan menawarkan manfaat tambahan
yang bisa dirasakan oleh konsumen.
2. Mengidetifikasi konsumen baru dengan memperluas target konsumennya.
3. Menemukan penggunaan manfaat lain dari suatu produk.
4. Modifikasi produk, bisa dilakukan dengan meningkatkan kualitas produk,
memperbaiki kemasan, dsb.

Di samping pelaku usaha memperhatikan usia dari daur hidup produk, hal
yang tak kalah penting adalah pengembangan produk baru, khususnya bagi pelaku
usaha yang akan merintis usaha baru atau akan memproduksi produk baru.
Produk-produk baru yang diluncurkan perusahaan dapat berupa produk yang
benar-benar baru maupun hasil dari modifikasi produk terdahulu. Produk baru
tersebut akan diterima konsumen apabila konsumen merasakan manfaat lebih
besar dari produk yang telah ada (Harsono, 2005).
Sepanjang umur suatu produk, perusahaan biasanya memformulasikan
kembali strategi pemasarannya beberapa kali. Tidak hanya kondisi ekonomi
berubah, dan pesaing melancarkan serangan baru namun, tambahan lagi produk
itu melewati tahap baru dari minat dan persyaratan pembeli. Kosekuensinya,
perusahaan harus merencanakan strategi pengganti yang tepat untuk tiap tahap
dalam siklus hidup produk tersebut. Perusahaan berharap memperpanjang umur
dan profitabilitas produk walaupun tahu bahwa produk tersebut tidak akan
bertahan selamanya. PLC (Product life Cycle) atau siklus hidup produk
merupakan konsep penting dalam pemasaran yang memberikan pemahaman
tentang dinamika suatu produk yang kompetitif (Kotler, ).
Siklus hidup produk menggambarkan tahap-tahap yang berbeda dalam
sejarah penjualan suatu produk. Tahap-tahap ini berhubungan dengan kesempatan
dan masalah yang berbeda mengenai strategi pemasaran dan laba potensial.
Dengan mengidentifikasitahap-tahap yang berbeda dengan tantangan yang
berbeda tahap suatu produk berada, atau tahap yang akan dicapai , perusahaan
dapat memformulasikan encana pemasaran dengan lebih baik. Mengatakan suatu
produk memiliki siklus hidup adalah menegaskan empat hal (Kotler, ) :
1. Produk memiliki umur terbatas
2. Penjualan produk melewati tahap-tahap yang berbeda, dengan tantangan
yang berbeda bagi penjual.
3. Laba naik turun pada tahap yang berbeda dalam siklus hidup produk
4. Produk membutuhkan strategi pemasaran, keuangan, produksi, pembelian
dan personel yang berbeda dalam tiap tahap siklus hidup mereka.

Tahap-tahap siklus produk (Kotler, ) :


1) Perkenalan : Suatu periode pertumbuhan penjualan yang lambat saat
produk itu diperkenalkan ke pasar. Pada tahap ini tidak ada laba karena
banyaknya biaya-biaya untuk memperkenalkan produk.
2) Pertumbuhan :

Suatu periode penerimaan pasar yang cepat dan

peningkatan laba yang mengesankan.


3) Kemapanan : Suatu periode penurunan dalam pertumbuhan penjualan
karena produk itu telah mencapai penerimaan sebagian besar pembeli
potensial. Laba stabil atau menurun karena peningkatan pengeluaran
pemasaran untuk mempertahankan produk dalam persaingan.
4) Kemunduran : Periode saat penjualan menunjukkan arah menurun dan
laba menipis. Menandakan dimana tiap tahap awal dan berakhir bersifat
Arbitrer. Biasanya tahap-tahap ini ditandai dimana kecepatan pertumbuhan
penjualan atau penurunannya menjadi nyata.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Persaingan Produsen
Pada tahap perkembangan produk untuk menarik minat konsumen dalam
mengkonsumsi minuman isotonik, beberapa perusahan mencoba bersaing dalam produk
ini diantaranya adalah PT Amerta Indah Otsuka (AIO) yang memproduksi Pocari Sweat,
PT Mayora Indah Tbk memprosuksi Vitazone, PT Tirta Investama (Grup Danone)
memproduksi Mizone dan Kalbe Farma memproduksi Hydro Coco.
3.2 Pengembangan Inovasi dan Siklus Hidup Produk
Pada tahap siklus hidup produk yang diproduksi setiap perusahaan ada yang
masih berada di tahap Perkenalan (introduction), tahap pertumbuhan (growth), tahap
kedewasaan (maturity), dan tahap penurunan (decline). Pada pembahasan ini akan
dikelompokkan minuman isotonik dari setiap perusahan yang sedang bersaing dalam
pasar di tahap siklus hidup produk.

Pada Tahap siklus hidup produk Hydro coco berada pada tahap Perkenalan
(introduction), Mizone pada tahap pertumbuhan (growth), Pocari sweat tahap kedewasaan
(maturity), dan Vitazone tahap penurunan (decline).

a. Hydro coco (Tahap Pengenalan)


Hydro Coco berada pada tahap perkenalan dikarenakan minuman
isotonik dari perusahaan Kalbe Farma ini terbuat dari air kelapa alami yang
dipercaya memiliki ion alami yang penyerapan oleh tubuh lebih cepat daripada
menggunakan ion sintetik. Pada keadaan ini masyarakat yang sulit menerima
produk tersebut dikarenakan masyarakat berpikir produk ini terbuat dari air
kelapa yang dapat dikonsumsi langsung dari lingkungan sekitar mereka.

Masyarakat jadi berpikir ulang membeli produk ini. Tapi pada tahap produksi nya
Hydro Coco masih mengenalkan kepada konsumen bahwa produk mereka lebih
baik dari minuman isotonik lainnya karena dari air kelapa alami yang proses
penyerapan oleh tubuh lebih cepat.
1. Inovasi Produk
- Perubahan Nama
Produk Hydro Coco dulunya bernama Fatigon Hydro, pada
masyarakat bahwa image

Fatigon adalah pengembali atau penguat

stamina sehingga masyarakat bepikir Fatigon Hydro adalah minuman


penguat stamina dan bukan minuman isotonik. Pada perubahan nama ini,
produsen Kalbe Farma masih berupaya mengenalkan produk mereka
kemasyarakat bahwa Hydro Coco (yang dulunya Fatigon Hydro) adalah
-

minuman isotonik yang dapat mempercapet rehidrasi oleh tubuh.


Varian Rasa
Pada awalnya Hydro Coco hanya mengeluarkan rasa original.
Untuk meningkatkan daya beli masyarakat, Kalbe Farma mengeluarkan

Hydro Coco dengan Rasa Jeruk.


Kemasan
Awal kemasan Fatigon Hydro adalah kemasan tetra pack yang
kemasan luarnya terbuat dari lapisan metalized yang terlihat mengkilau
dan elegan. Setelah berganti nama menjadi Hydro Coco, kemasan tetra
packnya bagian luar hanya menggunakan lapisan kertas biasa untuk

mengurangi biaya produksi


2. Keberhasilan Inovasi
Keberhasilan yang terjadi pada inovasi Hydro coco adalah pada
pengubahan nama merk yang dilakukan dari Fatigon Hydro menjadi Hydro
coco, sehingga masyarakat mengetahui bahwa Hydro Coco adalah minuman
isotonik. Sedangkan divarian rasa, rasa original lebih diterima dibandingakn
dengan rasa jeruk. Dikarenakan rasa jeruk dan airkelapa yang dianggap
konsumen tidak menyatu.
3. Saran Kepada Produsen
Saran yang diberikan kepada produsen adalah pada bagian kemasan,
sebaiknya produsen membuat produknya pada kemasan botol plastik atau
kaleng. Karena konsumen di Indonesi tidak terbiasa dengan minuman
isotonik pada kemasan tetra pack.
b. Mizone (Tahap Pertumbuhan)
Diluncurkan pertama kali pada 27 September 2005 di Surabaya dengan
rasa orange lime yang menyegarkan, rasa passion fruit yang memanjakan selera.

Mizone berhasil melewati tahap perkenalan dimasyarakat, lalu masuk pada tahap
Pertumbuhan adalah pada saat Mizone diterima masyarakat Sebagai minuman
Isotonik yang dapat dikonsumsi bukan hanya untuk rehidrasi oleh tubuh juga
dapat diminum saat santai karena banyak nya varian rasa yang disukai oleh
konsumen.
Tetapi pada tahap ingin menyamai Pocari Sweat sebagai saingan dalam
minuman isotonik, PT Tirta Investama Sebagai Produsen Mizone tersandung oleh
BPOM yang menyatakan bahwa Mizone kekuranglengkapan informasi pada label
kemasan dan produknya harus ditarik. Mizone hanya mencantumkan satu nama
bahan pengawet, yakni Kalium Sorbat dengan konsentrasi 100 mg/liter.
Sedangkan bahan pengawet lainnya, Natrium Benzoat (100 mg/liter), tidak
terdapat pada label kemasan. Dengan adanya kekuranglengkapan informasi pada
bahan pengawet yang digunakan maka isu yang beredar luas di masyarakat
bahwa produk Mizone ditarik karena berbahaya bagi kesehatan dan dapat
menyebabkan penyakit lupus. Inilah alasan jatuhnya penerimaan konsumen pada
Produk Mizone.
Pada Tahap untuk mengembalikan kepercayaan konsumen, PT Tirta
Ivestama sebagai produsen Mizone langsung mengubah label kemasannya
dengan mencantumkan kedua bahan pengawet yang digunakan lalu pada Juni
2008 Mizone meluncurkan varian baru dengan rasa lychee lemon yang
sensasional.
Sehingga dapat dikatakan Mizone Masih berada Pada tahap pertumbuhan
karna masih harus mengulang dari awal untuk membangun rasa kepercayaan
konsumen pada produknya.
1. Inovasi Produk
- Label Kemasan
Pengubahan label pada kemasan dengan menambahkan kedua jenis
-

pengawet yang digunakan


Varian Rasa
Varian rasa yang dibuat oleh produk Mizone adalah rasa passion fruit,

orange lime, lychee lemon, apple crispy juicy strawberry dan guava.
Kemasan
Kemasan yang telah dibuat oleh PT Tirta Ivestama pada produk Mizone
adalah kemasan botol plastik yang berwarna biru dengan ukuran 500 mL dan

ukuran 1,5 L
2. Keberhasilan Inovasi
Keberhasilan

terjadi

pada

pengubahan

label

kemasan,

untuk

memperbaiki penjualan mizone yang ditarik karena tidak mencantumkan


kedua bahan pengawet, maka PT Tirta Ivestama mengubah label pada

kemasan Mizone dengan mencantumkan kedua bahan pengawet yang


digunakan. Sehingga mengembalikan kepercayaan konsumen pada Mizone.
Keberhasilan juga berada pada inovasi varian rasa, semua rasa yang
diberikan oleh Produk Mizone disukai dan diterima dengan baik oleh
konsumen.
Pada kemasan botol plastik dengan ukuran 500 ml disukai masyarakat
dan dianggap inovasi yang berhasil, sedangkan pada kemasan dengan ukuran
1,5 L dianggap kurang berhasil karena ukuran yang terlalu besar. Biasa nya
konsumen hanya meminum yang ukuruan 500 ml karena bisa dibawa-bawa
untuk bersantai untuk perorangan.
3. Saran Kepada Produsen
Saran yang diberikan kepada produsen adalah pada kemasannya,
sebaiknya produsen memperkecil ukuran kemasannya menjadi 250 ml.
Dikarenakan banyak konsumen pada kalangan anak-anak yang menginginkan
Mizone tetapi dikarenakan ukuran yang terlalu besar sehingga harga nyapun juga
sedikit lebih mahal dan sulit terjangkau oleh kalangan anak-anak.
c. Pocari Sweat (Tahap Kedewasaan)
Dapat dikatakan Pocari sweat berada pada tahap kedewasaan karena
pocari sudah lama masuk ke pasar Idonesia oleh PT Otsuka Pharmaceutical
sejak tahun1990 dan pada tahun 1991 PT Otsuka Pharmaceutical
mengiinvestasi di Indonesia dan salah satu perusahaannya
adalah PT Amerta Indah Otsuka (AIO) sebagai produsen Pocari Sweat.
Pada awalny konsumen masih bingung dengan Pocari Sweat sebagai
minuman isotonik yang disejajarkan dengan minuman Coca-Cola sebagai
minuman berkarbonat, pada tahap perkenalan Poccari sangat sulit mengenalkan
produknya pada konsumen dikarenakan Pocari minuman isotonik pertama yang
masuk indonesia. Namun pada munculnya kasus penyakit deman berdarah dan
pada musim panas banyak para medis yang menganjurkan supaya masyarakat
meminum Pocari Sweat supaya dapat mengembalikan ion yang hilang sehingga
konsumen banyak membeli Pocari Sweat. Dari sini awalnya produk Pocari Sweat
menuju pasar konsumen yang sangat besar sehingga Pocari Sweat berada pada
tahap Pertumbuhan.
Karna Pocari Sweat adalah minuman isotonik yang cukup lama dan
paling bertahan di Indonesia, maka konsumen menggunakan Pocari Sweat
sebagai tolak ukur minuman isotonik di Indonesia. Pada produk Pocari Sweat
produsen hanya melakukan pengembangan pada kemasan, dari segi rasa produsen
tidak ada mengembakan varian rasa di pasar indonesia. Dikarenakan Poccari

Sweat yakin pada kualitas rasa produknya dan sudah memegang pasar minuman
isotonik serta sudah berada pada puncak tahap kedewasaan pada siklus hidup
produk, Pocari Sweat juga dianggap sabagai satu-satunya minuman yang dapat
mengembalikan ion yang hilang dari tubuh oleh konsumen. Minuman isotonik
dari berbagai merk seperti Mizone, Vitazone dan Hydro Coco berdatangan
menjadi saingan tetapi tidak dapat mengimbangi penjualan Pocari Sweat.
1. Inovasi Produk
- Kemasan
Kaleng ukuran330 ml, botol plastik 350 ml, botol plastik 500 ml, botol
plastik 2 L dan Sachet.

Label Kemasan
Pada tahun 1997, label kemasan menggunakan nama PT
Kapal Indah Otsuka berubah nama menjadi menggunakan

nama PT Amerta Indah Otsuka tahun 1999.


2. Keberhasilan Inovasi
Pada inovasi kemasan baik kemasan kaleng dan botol plastik sangat
berhasil, tetapi pada kemasan sachet tidak terlalu berhasil seperti kemasan botol
dan kaleng. Dikarenakan pada kemasan sachet konsumen harus menambbahkan
air kedalm bubuk Pocari Sweatnya. Padahal konsumen inginmminum dengan
simple. Tetapi karne harga Pocari Sweat schet lebih murah, maka beberapa
konsumen juga membeli kemasan sachet
Pada inovasi label pada kemasan perubahan nama dari PT Kapal Indah
Otsuka menjadi PT Amerta Indah Otsuka tahun ini dikarenakan agar
tidak ada perkiraan konsumen untuk menciplak nama PT Kapal Api sebagai
perusahan yang bekerjasama dan memiliki pengalaman bagus. Pada inovasi
pengubahan nama perusahaan pada label tidak mempengaruhi daya jual Poccari
Sweat sehingga dianggap tidak berhasil.
3. Saran Kepada Produsen
Tidak ada saran kepada produsen Pocari Sweat
d. Vitazone (Tahap Penurunan)
Vitazone yang mengklaim dirinya sebagai minuman isotonik bervitamin
ternyata tidak begitu banyak diterima konsumen. Varian rasa seperti anggur,
jeruk, sirsak dan cool ice yang mencolok serta kurang cocok untuk minuman
isotonik di pandangan konsumen, Vitazone malah dianggap sebagian konsumen

sebagai minuman rasa-rasa dan bukan sebagai minuman isotonik. Ini hal yang
menyebabkan konsumen meninggalkan produk Vitazone.
1. Inovasi Produk
- Varian Rasa
Vitazone membuat varian rasa anggur, jeruk, sirsak dan cool ice.
- Kemasan
Kemasan yang telah dibuat oleh Vitazone adalah ukuran botol plastik 500
ml dan 350 ml
2. Keberhasilan Produk
Untuk Inovasi pada varian rasa dianggap tidak berhasil karna rasanya
yang terlalu mencolok untuk golongan minuman isotonik di pandangan
konsumen. Pada inovasi dibagian kemasan ukuran 350 ml kurang berhasil.
Dikarenakan minuman Vitazone yang murah untuk ukuran 500 ml, konsumen
lebih memilih ukuran 500 ml dari pada 350 ml.
3. Saran Kepada produsen
Saran yang diberikan kepada produsen adalah mengubah varian rasa
yang lebih ringan dan lebih lembut untuk dikombinasikan ke minuman isotonik.