Anda di halaman 1dari 4

MATERI DISOLUSI

Apakah semua sediaan obat harus dilakukan uji disolusi?

Mengapa proses disolusi penting untuk pengembangan formulasi dan evaluasi


produk?

Bagaimana menentukan uji disolusi dari sediaan obat?

Bagaiman cara penentuan persyaratan laju disolusi dan perhitungan evisiensi disolusi
(ED)?

Apa yang dimaksud kondisi sink dan disolusi intrinsik?

Mengapa uji disolusi dilakukan pada kondisi sink?

Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi laju disolusi obat?

Apa yang dimaksud dengan sistem klasifikasi biofarmasetika pada penetapan


spesifikasi disolusi?

Jawab :
1

Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atau senyawa obat
dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu. Uji disolusi berguna untuk
mengetahui seberapa banyak obat yang melarut dalam medium asam atau basa
(lambung dan usus halus) (Ansel, 1989). Faktor yang menentukan efek terapi yang
diinginkan dari zat aktif adalah jumlah dan kecepatan disolusi dari bentuk sediaan
sesuai dengan tempat absorbsinya. Pada proses pengembangan bentuk sediaan, sangat
penting bagi industri farmasi untuk mengevaluasi efek-efek kombinasi dari formulasi
yang berbeda-beda; seperti : sifat fisika-kimia senyawa aktif, sifat zat tambahan, dan
cara pembuatan yang berbeda-beda; hal-hal tersebut akan mempengaruhi jumlah dan
kecepatan absorpsi obat. Jadi, tidak semua bahan obat harus dilakukan uji disolusi,
karena memiliki sifat-sifat dasar obat yang berbeda-beda. Sifat-sifat ini telah
dijelaskan dalam monografi tiap-tiap bahan di Farmakope.

Disolusi merupakan jumlah obat terlarut per waktu dalam medium tertentu (bukan
dalam kondisi jenuh). Proses disolusi penting untuk pengembangan formulasi dan
evaluasi produk karena digunakan untuk menentukan kadar obat yang dapat
diabsorbsi oleh jaringan darah. Disolusi ini merupakan syarat dari kinetika kelarutan
suatu obat dimana yang diperhatikan terutama pada kecepatan berubahnya obat dalam
bentuk sediaan padat menjadi bentuk larutan molekuler (Farmasi Fisik : 724)

Uji disolusi biasa digunakan pada produksi sediaan secara rutin untuk memeriksa
rata-rata disolusi, apakah sediaan tersebut menghasilkan rata-rata disolusi yang

konsisten selama produksi. Sekalipun laju disolusi pada suatu sediaan tidak
merupakan parameter kritis maka tetap dibutuhkan suatu tes yang tepat untuk
menjaga agar disolusi sediaan tetap konsisten baik selama pembuatan satu batch
maupun pembuatan antar batch-batch. Manfaat lain dari uji disolusi ini adalah untuk
persyaratan farmakope, pengembangan produk pengendalian mutu spesifikasi produk,
jaminan mutu antar bets, kinerja klinik, dan sistem penghantaran obat. Proses disolusi
partikel obat antara lain dari pembasahan, penjenuhan, difusi, dan berubah menjadi
larutan. Dimana proses difusi merupakan suatu proses perpindahan massa molekul
suatu zat yang dibawa oleh gerakan molekular secara acak dan berhubungan dengan
adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui suatu batas. Dalam USP cara
pengujian disolusi tablet dinyatakan dalam masing-masing monografi obat. Pengujian
merupakan alat yang objekif dalam menetapkan sifat disolusi suatu obat yang berada
dalam tubuhsangat besar tergantung pada adanya obat dalam keadaan melarut.
Karakteristik disolusi biasa merupakan sifat yang penting dari produk obat yang
memuaskan Pada pengujian disolusi dan penentuan bioavailabilitas dari obat dengan
bentuk sediaan padat menuju pada pendahuluan dari sistem yang sempurna bagi
analisa dan pengujian disolusi tablet. Uji disolusi memperhatikan fasilitas modern
untuk mengontrol kualitas, digunakan untuk menjaga terjaminnya standar dalam
produksi tablet.
4

Uji disolusi untuk mengetahui terlarutnya zat aktif dalam waktu tertentu
menggunakan alat disolution tester. Kriteria penerimaan menurut FI IV adalah

TINGKAT

JUMLAH

KRITERIA PENERIMAAN

PENGUJIAN
S1
S2

YANG DIUJI
6
6

Tiap unit Q +5%


Rata-rata dari ke 12 unit sediaan (S1+S2) Q dan tidak satu

12

unit pun < Q-15%


Rata-rata dari 24 unit sediaan (S1+S2+S3) Q tidak lebih dari

S3

2 unit sediaan < Q-15% dan tidak satu unit pun <Q-25%
5

Kondisi sink adalah keadaan dimana jumlah obat terlarut dalam keadaan tidak jenuh
(1/3 dari kelarutan jenuh) sudah dapat diabsorbsi. Selama uji disolusi, sink condition
merupakan salah satu parameter percobaan yang harus dikendalikan, yaitu dengan
senantiasa menambah media disolusi yang sama setelah pencuplikan agar kadar zat

terlarut tidak lebih dari 10-15% kelarutan maksimumnya, sehingga tidak ada
perubahan kadar dalam lapisan. Sedangkan disolusi intrinsik merupakan disolusi yang
dilakukan dengan permukaan tetap, maksudnya hal ini tidak dipengaruhi oleh luas
permukaan dari suatu bahan obat.. uji disolusi ini juga merupakan uji disolusi yang
mencerminkan kelarutan obat (untuk partikel obat) atau juga bisa disebut sebagai
jumlah disolusi senyawa padat murni dari padatan dengan porositas minimal.
6

Uji disolusi dilakukan pada kondisi sink karena pada saat keadaan tersebut bahan obat
yang terkandung dapat diabsorbsi dengan cepat oleh
tubuh, sehingga tidak memerlukan waktu yang lama.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju disolusi :


a.

Sifat fisika kimia obat.


Sifat fisika kimia obat berpengaruh besar terhadap kinetika disolusi. Luas
permukaan efektif dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel. Laju
disolusi akan diperbesar karena kelarutan terjadi pada permukaan solut.
Kelarutan obat dalam air juga mempengaruhi laju disolusi. Obat berbentuk
garam, pada umumnya lebih mudah larut dari pada obat berbentuk asam
maupun basa bebas. Obat dapat membentuk suatu polimorfi yaitu terdapatnya
beberapa kinetika pelarutan yang berbeda meskipun memiliki struktur kimia
yang identik. Obat bentuk kristal secara umum lebih keras, kaku dan secara
termodinamik lebih stabil daripada bentuk amorf, kondisi ini menyebabkan
obat bentuk amorf lebih mudah terdisolusi daripada bentuk kristal.

b.

Faktor alat dan kondisi lingkungan. Adanya perbedaan alat yang digunakan
dalam uji disolusi akan menyebabkan perbedaan kecepatan pelarutan obat.
Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi kecepatan pelarutan obat,
semakin cepat pengadukan maka gerakan medium akan semakin cepat
sehingga dapat menaikkan kecepatan pelarutan. Selain itu temperatur,
viskositas dan komposisi dari medium, serta pengambilan sampel juga dapat
mempengaruhi kecepatan pelarutan obat.

c.

Faktor formulasi.
Berbagai macam bahan tambahan yang digunakan pada sediaan obat dapat
mempengaruhi kinetika pelarutan obat dengan mempengaruhi tegangan muka
antara medium tempat obat melarut dengan bahan obat, ataupun bereaksi
secara langsung dengan bahan obat. Penggunaan bahan tambahan yang
bersifat hidrofob seperti magnesium stearat, dapat menaikkan tegangan antar

muka obat dengan medium disolusi. Beberapa bahan tambahan lain dapat
membentuk kompleks dengan bahan obat, misalnya kalsium karbonat dan
kalsium sulfat yang membentuk kompleks tidak larut dengan tetrasiklin. Hal
ini menyebabkan jumlah obat terdisolusi menjadi lebih sedikit dan
berpengaruh pula terhadap jumlah obat yang diabsorpsi.
8

Sistem klasifikasi biofarmasetik (biopharmaceutical Classification System, BCS)


mengelompokkan obat dalam kelompok yang didasarkan pada: kelarutan,
permeabilitas dan kecepatan disolusi in vitro Klasifikasi system ini dapat digunakan
untuk menjustifikasi persyaratan-persyaratan penelitian in vitro (sediaan) obat yang
melarut secara cepat, mengandung bahan aktif yang sangat larut dan sangat
permeable. Jika diterima oleh Badan POM/FDA, ketersediaan hayati dan
bioekivalensi sediaan yang memenuhi persyaratan ini dapat dibuktikan melalui
pengujian kelarutan secara in vitro, permeabilitas dan studi disolusi Sebaiknya obat
dengan permeabilitas buruk, kelarutan buruk dan/atau diformulasikan dalam bentuk
sediaan yang melarut secara lambat sangat mungkin akan menunjukkan masalah
ketersediaan hayati, dan bukan merupakan calon obat untuk diteliti ketersediaan
hayati secara in vivo.