Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Prolaps tali pusat adalah suatu keadaan emergensi dalam bidang
obstetrik yang mengancam jiwa janin.1 Kejadian prolapsus tali pusat dilaporkan 1
dalam 160 714 kelahiran. Penanganan yang lambat akan menyebabkan
kematian perinatal antara 36 sampai 162 per 1000 kelahiran yang diperburuk
oleh kondisi prematur, asfiksia lahir, dan kelainan kongenital.2
Beberapa faktor resiko menyebabkan terjadinya prolapsus tali pusat
seperti malpresentasi, kehamilan multiple, prematuritas, multiparitas, ketuban
pecah dini, polihidramnions dan janin yang kecil. Angka kejadian prolaps tali
pusat berkisar antara 0.1-0.6 % dari seluruh persalinan. Keadaan prolaps tali lebih
mungkin terjadi pada malpresentasi atau malposisi janin, antara lain presentasi
kepala (0.5 %), letak sungsang (5%), presentasi kaki (15%), dan letak lintang
(20%). Prolaps tali pusat juga sering terjadi jika tali pusat panjang atau plasenta
letak rendah. Mortalitas terjadinya tali pusat menumbung pada janin sekitar 11-17
%.3
Prolaps tali pusat secara langsung tidak mempegaruhi keadaan ibu,
sebaliknya sangat membahayakan janin. Tali pusat menumbung, dimana ketuban
sudah pecah dan tali pusat berada di bawah bagian terendah janin, keadaan
tersebut membuat tali pusat dapat tertekan antara bagian terendah janin dan
dinding panggul yang akhirnya menimbulkan asfiksia pada janin. Bahaya terbesar
adalah pada presentasi kepala, karena setiap saat tali pusat dapat terjept antara
bagian terendah janin sehingga mengakibatkan gangguan oksigenase janin.4

I.2. Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari prolapse tali pusat ?
2. Bagaimana epidemiologi prolapse tali pusat?
3. Apa etiologi prolaps tali pusat?

4.
5.
6.
7.

Bagaimana patofisiologi prolapse tali pusat ?


Bagaimana cara mendiagnosa prolapse tali pusat ?
Apa saja komplikasi dan prognosis dari prolaps tali pusat ?
Bagaimana penatalaksanaan prolaps tali pusat?

I.3. Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.

Mengetahui dan memahami definisi prolaps tali pusat.


Mengetahui dan memahami etiologi prolaps tali pusat.
Mengetahui dan memahami patofisiologi prolaps tali pusat.
Mengetahui dan memahami komplikasi prolaps tali pusat.
Mengetahui dan memahami penatalaksanaan prolaps tali pusat.

I.4. Manfaat
Dengan laporan kasus ini diharapkan dapat menjelaskan, menambah
wawasan, serta pengetahuan tentang bagaimana cara mendiagnosis kasus prolaps
tali pusat, dan mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi prolaps tali pusat
serta penatalaksanaan yang sebaik mungkin untuk prolaps tali pusat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Definisi Prolaps Tali Pusat


Prolapsus tali pusat adalah penurunan tali pusat ke dalam vagina
mendahului bagian terendah janin yang mengakibatkan kompresi tali pusat.
Prolaps tali pusat biasa terjadi setelah ketuban pecah dini, ketika bagian
terendah janin (kepala, bokong atau bahu) belum masuk ke pintu atas panggul
sehingga tidak dapat mencegah tali pusat terbawa ke luar pada saat cairan
amnion memancar dengan tiba-tiba.5
II.2. Epidemiologi
Angka kejadian prolaps tali pusat berkisar antara 0.1-0.6 % dari
seluruh persalinan. Keadaan prolaps tali lebih mungkin terjadi pada
malpresentasi atau malposisi janin, antara lain presentasi kepala (0.5 %), letak
sungsang (5%), presentasi kaki (15%), dan letak lintang (20%). Prolaps tali
pusat juga sering terjadi jika tali pusat panjang atau plasenta letak rendah.
Mortalitas terjadinya tali pusat menumbung pada janin sekitar 11-17 %.3
II.3. Etiologi
Faktor dasar yang merupakan faktor predisposisi prolaps tali pusat adalah
tidak terisinya secara penuh pintu atas panggul dan serviks oleh bagian terendah
janin. Faktor-faktor etiologi prolaps tali pusat meliputi beberapa faktor yang
sering berhubungan dengan ibu, janin, plasenta, tali pusat, dan iatrogenik :

Presentasi yang abnormal seperti letak lintang atau letak


sungsang terutama presentasi kaki

Prematuritas

Kehamilan ganda

Polihidramnion sering dihubungkan dengan bagian terndah


janin yang tidak engage

Multiparitas predisposisi terjadinya malpresentasi

Disproporsi janin-panggul

Tumor di panggul yang mengganggu masuknya bagian


terendah janin

Tali pusat abnormal panjang (>75cm)

Plasenta letak rendah

Soluso [plasenta

Ketuban pecah dini

Amniotomi

II.4. Klasifikasi prolaps tali pusat


Prolaps tali pusat dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Tali pusat menumbung disebut juga prolapsus funikuli adalah jika
tali pusat teraba keluar atau berada di samping dan melewati bagian
terendah janin di dalam jalan lahir, tali pusat dapat prolaps ke dalam

vagina atau bahkan di luar vagina setelah ketuban pecah.


Tali pusat terdepan disebut juga tali pusat terkemuka yaitu jika tali
pusat berada di samping bagian besar janin dapat teraba pada kanalis
servikalis, atau lebih rendah dari bagian bawah janin sedang ketuban

masih intak atau belum pecah.


Occult prolapse adalah keadaan dimana tali pusat terletak di samping
kepala atau di dekat pelvis tapi tidak dalam jangkauan jari pada

pemeriksaan vagina.
Tali pusat menumbung (prolapsus funikuli) secara langsung tidak
mempengaruhi keadaan ibu, sebaliknya sangat membahayakan janin karena
tali pusat dapat tertekan antara bagian depan janin dan dinding panggul yang
akhirnya menimbulkan asfiksia pada janin.
Bahaya terbesar pada presentasi kepala, karena setiap saat tali pusat
dapat terjepit antara bagian terendah janin dengan jalan lahir dapat
mengakibatkan gangguan oksigenasi janin. Pada tali pusat terdepan, sebelum
ketuban pecah, ancaman terhadap janin tidak seberapa besar, tetapi setelah
ketuban pecah, bahaya kematian janin sangat besar.

II.5 Patofisiologi Hiperemesis Gravidarum


Tekanan pada tali pusat oleh bagian terendah janin dan jalan lahir akan
mengurangi atau menghilangkan sirkulasi plasenta. Bila tidak dikoreksi,
komplikasi ini dapat mengakibatkan kematian janin.
Obstruksi yang lengkap dari tali pusat menyebabkan dengan segera
berkurangnya detak jantung janin ( deselerasi varibel ). Bila obstruksinya hilang
dengan cepat, detak jantung janin akan kembali normal. Akan tetapi, bila
obstruksinya menetap terjadilah deselerasi yang dilanjutkan dengan hipoksia
langsung terhadap miokard sehingga mengakibatkan deselerasi yang lama. Bila
dibiarkan terjadi kematian janin.
Seandainya obstruksinya sebagian, akan menyebabkan akselerasi detak
jantung. Penutupan vena umbilikalis mendahului penutupan arteri yang
menghasilkan hipovalemi janin dan mengakibatkan akselerasi jantung janin.
Gangguan aliran darah yang lama melalui tali pusat menghasilkan asidosis
respiratoir dan metabolik yang berat, berkurangnya oksigenisasi janin,
bradikardia yang menetap, dan akhirnya kematian janin prolaps tali pusat tidak
berpengaruh langsung pada kehamilan atau jalannya persalinan.

II.6 Diagnosis
Diagnosis prolaps tali pusat dapat melibatkan beberapa cara.

Melihat tali pusat dari introitus vagina

Teraba secara kebetulan tali pusat pada waktu pemeriksaan dalam.

Auskultasi terdengar jantung janin yang irregular, sering dengan


bradikardia yang jelas, terutama berhubungan dengan kontraksi uterus.

Monitoring denyut jantung janin yang berkesinambungan memperlihatkan


adanya deselerasi variabel.

Tekanan pada bagian terendah janin oleh manipulasi eksterna terhadap


pintu atas panggul menyebabkan menurunnya detak jantung secara tibatiba yang menandakan kompresi tali pusat.

Diagnosis dini sangat penting untuk kehidupan janin. Meskipun demikian,


keterlambatan diagnosis adalah biasa. Pada setiap gawat janin harus segera dilakukan
pemeriksaan dalam.
Penderita yang mempunyai resiko tinggi terjadinya prolaps tali pusat harus
dipantau FHR yang berkesinambungan yang memberi peringatan dini adanya
kompresi tali pusat lebih dari 80 % kasus.
Pemeriksaan cardiotocography selalu memperlihatkan gambaran gawat janin
dalam bentuk deselerasi lambat yang sangat dalam atau deselerasi berkepanjangan
tunggal seperti terlihat pada gambar dibawah:

Gambaran CTG seperti ini merupakan indikasi untuk melakukan vaginal


toucher untuk melihat kemungkinan adanya prolapsus talipusat

II.7. komplikasi dan Prognosis


Komplikasi ibu seperti laserasi jalan lahir, ruptura uteri, atonia uteri akibat
anesthesia, anemia dan infeksi dapat terjadi sebagai akibat dari usaha
menyelamatkan bayi. Kematian perinatal sekitar 20-30 %. Prognosis janin
membaik dengan sesarea secara liberal untuk terapi prolaps tali pusat.
Prognosis janin bergantung pada beberapa faktor berikut:

Angka kematian untuk bayi prematur untuk bayi prematur dengan prolaps tali
pusat hamper 4 kali lebih tinggi dari pada bayi aterm.

Bila gawat janin dibuktikan oleh detak jantung yang abnormal, adanya cairan
amnion yang terwarnai oleh mekonium, atau tali pusat pulsasinya lemah, maka
prognosis janin buruk.

Jarak antara terjadinya prolaps dan persalinan merupakan faktor yang paling kritis
untuk janin hidup.

Dikenalnya segera prolaps memperbaiki kemungkinan janin hidup

Angka kematian janin pada prolaps tali pusat yang letaknya sungsang atau lintang
sama tingginya dengan presentasi kepala. Hal ini menghapuskan perkiraan bahwa
pada kedua letak janin yang abnormal tekanan pada tali pusatnya tidak kuat.

II.8. Penatalaksanaan
Ditemukanya prolaps tali pusat diperlukan tindakan yang cepat. Terapi
definitif adalah melahirkan janin dengan segera. Penilaian yang cepat sangat
penting untuk menentukan sikap terbaik yang akan diambil. Persalinan
pervaginam segera hanya mungkin bila pembukaan lengkap, bagian terendah
janin telah msu panggul, dan tidak ada CPD.
Bahaya terhadap ibu dan janin akan berkurang bila dilakukan seksio
sesarea dari pada persalinan pervaginam yang dipaksakan pada pembukaan yang
belum lengkap. Sambil menunggu persiapan seksio sesarea, tekanan pada tali
pusat oleh bagian terendah janin dapat diminimalisasi dengan posisi knee chest,
Trendelenbrurg, atau posisi sim.
Bila sebelumnya diberi oksitosin, obat ini harus dihentikan. Sebaiknya
jenis apa pun dari prolaps tali pusat, bila syarat-syarat untuk melakukan
persalinan pervaginam belum terpenuhi, sebaiknya dilakukan seksio sesarea
untuk menyelamatkan janin.

Algoritma penatalaksanaan prolaps tali pusat pada kehilan > 23 minggu :

BAB III
TELAAH KASUS
Identitas Pasien
Nama
: Ny. P
Umur
: 39 Tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Pekerjaan
: IRT
gama
: Islam
Alamat
: Blitar
Status Perkawinan
: Menikah
Suku
: Jawa
Tanggal Periksa/MRS : 03 Mei 2015, pkl :21.30
Anamnesa (Auto-Anamnesa)
1. Keluhan Utama

Keluar darah dari jalan lahir


2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengeluh keluar darah sedikit dari jalan lahir, darah yang
keluar bercampur dengan lendir sejak jam 18.00 WIB. Pasien juga
mengeluh perut terasa kencang-kencang sejak siang sebelum ke rumah
sakit, namun kencang-kencang dirasakan masih jarang.
3. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Pengobatan/MRS
Riwayat Diabetes Melitus
Riwayat Penyakit Jantung
Riwayat Hipertensi
Riwayat Sakit Kejang
Riwayat Alergi Obat
Riwayat Alergi Makanan
Riwayat infeksi saluran kemih
4. Riwayat Penyakit Keluarga
:
Riwayat Hipertensi
Riwayat Diabetes Melitus
Riwayat Jantung
Riwayat Sakit Kejang
5. Riwayat Kebiasaan
:

: Tidak pernah MRS


: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal

10

Riwayat Merokok
: Tidak merokok
Riwayat Minum Alkohol
: Tidak pernah
Riwayat Olahraga
: Jarang olah raga
Riwayat Pengisisan Waktu Luang: Semenjak pasien hamil, badan
terasa lemas sehingga aktivitas
sehari-hari
luang hanya

berkurang,

waktu

digunakan untuk

tidur dan menonton TV.


: Pasien hanya tidur 8 jam
Perhari

Riwayat tidur

6. Riwayat Menstruasi
:
Menarche : 13 tahun
Siklus
: 28 hari, teratur
Lama
: 7 hari, banyak
Keluhan penyerta saat menstruasi : Nyeri perut selama haid
Tanda menopause : tidak ada
7. Riwayat KB
:Pasien tidak pernah menggunakan
KB apapun.
8. Riwayat perkawinan
:Pasien menikah saat usia 20 tahun,
9. Riwayat Sosial Ekonomi :
Ny. P dikenal sebagai warga yang cukup aktif dan banyak dikenal oleh
tetangga sekitar. Kesehariannya lebih sering dirumah, terkadang
berkumpul dengan tetangga sekitar rumah. Pasien termasuk keluarga
menengah ke bawah.
10. Riwayat gizi dan pola makan

Saat sebelum sakit, pasien mengaku makan dan minumnya banyak dan
teratur. Pasien makan rata-rata 3x sehari. Pasien juga tidak memilih-milih
makanan yang akan dimakannya. Pasien jarang makan buah-buahan.
Pasien minum 5-6 gelas perhari dengan air putih, teh manis, dan kadang
susu.
11. Riwayat Pengobatan

Sebelumnya pasien memeriksakan dirinya untuk kontrol rutin rutin


kehamilan.
Anamnesa Sistem

11

1. Kulit
2. Kepala
3. Mata
4. Hidung
5. Telinga

: Tidak ada gatal, tidak kering, tidak ada keluhan


: Tidak pusing, rambut kepala tidak rontok,
tidak ada luka maupun benjolan
: Pandangan mata normal, penglihatan normal
: Tidak ada kelainan bentuk, tidak ada sekret
: Pendengaran baik, tidak berdengung dan tidak ada

cairan yang keluar


6. Mulut
: Tidak ada sariawan
7. Tenggorokan
: Tidak ada nyeri menelan maupun suara serak
8. Pernafasan
: Tidak ada sesak, tidak ada batuk
9. Kardiovaskuler : Tidak ada nyeri, tidak berdebar-debar
10. Gastrointestinal : Mual dan muntah, tidak diare, tidak ada
nyeri perut
11. Genitourinaria
: Tidak ada keluhan, dalam batas normal
12. Neurologik
: Tidak lumpuh, tidak ada rasa tebal pada kaki maupun
kesemutan
13. Psikiatri
: Emosi stabil, tidak mudah marah, perawatan diri
cukup
14. Muskuloskeletal : Tidak ada kaku sendi, tetapi ada nyeri otot
15. Ekstremitas
:
Atas kanan
: Tidak ada keluhan
Atas kiri
: Tidak ada keluhan
Bawah kanan
: Tidak ada keluhan
Bawah kiri
: Tidak ada keluhan
Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
2. Kesadaran
3. Tanda Vital
BB
TB
Tensi
Nadi
RR
Suhu
4. Kulit
5. Kepala

6. Mata

: pasien tampak lemah


: compos mentis, GCS 456
:
: 52 kg
: 157 cm
: 110/80 mmHg
: 90x/menit
: 22x/menit
: 36,3 C
: Berwarna sawo matang, pucat, tidak ada
gatal, kulit tidak kering, turgor cukup.
: Bentuk kepala normal, rambut kepala tidak
rontok, tidak ada luka maupun benjolan,
rambut sedikit beruban.
: Anemi -/-, Ikterik -/-, pupil isokor, refleks
cahaya +/+, mata tidak cowong.

12

7. Hidung

: Tidak ada deformitas, tidak ada atrofi konka,


mukosa intake, tidak ada sekret dan krusta,
tidak ada obstruksi.
: Bibir kering, Tidak bau mulut, tidak ada
stomatitis, gigi normal, kelainan lidah tidak
ada, mukosa faring tidak hiperemi, tidak ada
pembesaran tonsil.
: Tidak ada sekret, tidak ada serumen, tidak ada
benda asing, membran timpani intake,
pendengaran normal.
: Simetris, tidak ada pembesaran kel.tiroid
: Tidak ada kaku, JVP tidak dievaluasi, tidak
ada pembesaran KGB
:

8. Mulut

9. Telinga
10. Tenggorokan
11. Leher
12. Thoraks
Pulmo :

Statis (depan dan belakang)

Inspeksi

: bentuk normal, pengembangan dada kanan sama


dengan dada kiri.

Palpasi

: fremitus raba kiri sama dengan kanan

Perkusi

: sonor/sonor

Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan :


wheezing (-/-), ronkhi (-/-). Dinamis (depan dan
belakang)

Inspeksi

: pergerakan dada kanan sama dengan dada kiri, irama


regular, otot bantu nafas (-), pola nafas abnormal (-),
usaha bernafas normal.

Palpasi

: fremitus raba kiri sama dengan kanan

Perkusi

: sonor/sonor

Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan :


wheezing (-/-), ronkhi (-/-).

Cor

Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis kuat angkat

13

Perkusi

o Batas kiri atas

: ICS II para sternal line sinistra

o Batas kanan atas : ICS II para sternal line dekstra


o Batas kiri bawah : ICS V midclavicular line sinistra
o Batas kanan bawah: ICS IV para sternal linea dekstra

Auskultasi

: bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, Suara

tambahan jantung : gallop (-), murmur (-)


13. Abdomen
:
Inspeksi : Tidak ada massa, simetris, perut sedikit membesar
Auskultasi : Bising usus normal
Perkusi : Timpani
Palpasi
: Shuffle, tidak ada asites, tidak ada defans muskuler,
tidak ada pembesaran hepar maupun lien, tidak ada pulsasi
abnormal,

terjadi

pembesaran

kehamilan.
14. Sistem Collumna Vertebralis

pada

abdomen

sesuai

usia

: tidak ada skoliosis, lordosis maupun

kifosis, tidak ada luka maupun benjolan


15. Ekstremitas : palmar eritem (-)
Akral

Oedem

hangat

16. Pemeriksaan Neurologik


kesadaran

: composmentis

fungsi luhur

: dalam batas normal

fungsi vegetatif

: dalam batas normal

fungsi sensorik

N
14

fungsi motorik

Kekuatan

Tonus

Ref.Fisiologis

Ref.Patologis

Status Obstetrik
Keluhan Utama

Pasien mengeluh keluar darah sedikit dari jalan lahir, darah yang keluar
bercampur dengan lendir sejak jam 18.00 WIB. Pasien juga mengeluh
perut terasa kencang-kencang sejak siang sebelum ke rumah sakit, namun
kencang-kencang dirasakan masih jarang.

Hari Pertama Haid Terakhir

: 08 08 2014

Hari Perkiraan Lahir

: 15 05 2015

Usia Kehamilan

: 38 39 minggu

ANC

: dokter spesialis kandungan 3x

Tabel 3.1 Riwayat Persalinan Yang Lalu :


No
1
2

Usia
Kehamilan
9 bulan
Hamil ini

Palpasi

Cara
Lahir
spontan

BBL
3000

Jenis
Kelamin
perempuan

Keterangan
4 thn

o R/ abdominal :
Tinggi Fundus Uteri: 32 cm
o R/ genital

15

v/vfluxus sedikit, portio menutup, uterus membesar, slinger pain(-)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Lengkap
o Hb

: 13,1 g/dL

(n: L 13,5-18 g/dl; P 11,5-16,0 g/dl)

o Leukosit

: 17.000/cmm

(n: 4000-11000 cmm)

o Eritrosit

: 5.080.000 jt/cmm

(n: L 4,5-6,5 jt/mm3; P 3-6 jt/cmm)

o Trombosit : 265.000/cmm

(n: 150.000-450.000 cmm)

o Ht

: 38 %

(n: L 40-54 %; P 35-47 %)

o LED

: 48 95

(n:L 0-15/jam; P 0-20/jam)

o Hitung Jenis: 1 / - / 2 / 80 / 10 / 7 (n: 1-2/0-1/3-5/54-62/25-33/3-7)


o MCV/MCH/MCHC: 74.9/25.8/34.4
o HbsAg

: Non reaktif

(n: non reaktif)

o HIV

: Non reaktif

(n: non reaktif)

Hasil USG tgl 18-04-2015


Kehamilan intrauterine, sekitar 15-16 minggu, kehamilan tunggal, hidup, letak masih
berubah. Saat ini letak kepala, punggung di anterior kanan dengan placenta di anterio
letak rendah. Tak ada kelainan di adnexa kanan dan kiri.

Diagnosa :
GI P0000 Ab000 grav 15 16 minggu dengan Hiperemesis gravidarum + Abortus
Imminens + Primi Tua Primer
Terapi :
- Infus RL : D5% 2 : 1 drip neurobion 1 ampul / 24 jam
- Inj. Odancetron 2 x 1
- Inj. Ranitidine 2 x 1
- Diet Hiperemesis
-Utregeston 200 mg/vaginam

Follow-up
Tgl
S

17-04-2015

18-04-2015

Mual (+), muntah (+) > 5x sejak


semalam setelah pemberian obat, perut

Perut terasa mual (-), muntah (-) makan (+) dan

16

terasa kembung dan tidak enak.


O

KU: pasien tampak lemah


Kesadaran: composmentis,GCS 456
BB: 52 kg
BB awal 52,5 kg
TB: 157 cm
-Tanda Vital:
Tensi: 110/80 mmHg
Nadi: 90x/menit
RR: 23x/menit
Suhu: 36,7 C
Edema: -/-

minum (+), keluar darah dari jalan lahir (-)


KU : cukup
Tensi: 100/60 mmHg
Nadi: 80x/menit
RR: 20x/menit
Suhu: 36,5 C
- Kulit pucat, turgor
Normal.
- Mata: anemis -/-

- Turgor
kulit normal
-Palpasi abdomen:
Tinggi Fundus Uteri: belum teraba
A

GI P0000 Ab000 grav 15 16


minggu dengan Hiperemesis
Gravidarum + Abortus Imminens

GI P0000 Ab000 grav 15 16 minggu


dengan Hiperemesis gravidarum + Abortus
Imminens

Infus RL : D5% 2: 1 drip neurobion 1 -Infus RL : D5% 2: 1 drip neurobion 1 amp


amp
- Injeksi ranitidin 2x1
- Injeksi ranitidin 2x1
-Injeksi Ondancentron 2x1
-Injeksi Ondancentron 2x1
- Diet Hiperemesis
- Diet Hiperemesis
- Utregeston 200 mg/vaginam
-Utregeston 200/vag
- Observasi keluhan
- Observasi keluhan
- BLPL

17

BAB IV
PEMBAHASAN

Ny. F datang ke Rumah Sakit Mardi Waluyo kiriman poli kandungan,


kemudian pasien didiagnosis dengan Hiperemesis Gravidarum + Abortus Imminens.
Diagnosis ini ditegakkan dari hasil anamnesis yang menyebutkan bahwa pasien
mengeluh mual dan muntah sejak 1 minggu yang lalu. Mual dan muntah dirasakan
paling sering pada pagi hari dan sejak 5 hari ini terasa lebih sering dan bertambah
berat sehingga badan pasien terasa lemas. Dalam tiap hari, perhari rata-rata pasien
dapat muntah > 5 kali, setiap kali makan pasien selalu memuntahkannya. Selain itu
darah mrongkol keluar dari jalan lahir tadi pagi pukul 09.00 wib. Pasien merasa hamil
4 bulan dan sebelumnya pernah periksa ke dokter spesialis kandungan untuk periksa
kehamilan dan muuntahnya.
Dari Anamnesa sistem, terkadang pasien merasa pusing dan bibir kering.
pemeriksaan fisik tidak didapatkan temuan yang bermakna. Hari pertama haid
terakhir 01-01-2015 dengan HPL 08-10-2015, usia kehamilan 15 16 minggu. Dan
dari pemeriksaan vital sign didapatkan tekanan darah 120/70, nadi 86x/menit, RR:

18

23x /menit serta suhu 36,30C, serta didapatkan penurunan berat badan dari berat
badan awal pasien. Pada pemeriksaan abdomen TFU teraba tiga jari diatas symphysis.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka pasien ini dapat didiagnosis GI P0000
Ab000 1516 minggu dengan hiperemesis gravidarum + abortus imminens. Pasien
mengeluhkan gejala mual, muntah sejak pasien hamil (sebelum hamil, tidak ada
keluhan) dan mual muntah sering dirasakan pada pagi hari. Mual dan muntah yang
dirasakan pasien sejak pasien hamil dan didapatkan kondisi pasien yang lemah, dan
bibir kering yang merupakan tanda dari dehidrasi ringan. Gejala mual dan muntah
pada pasien tersebut disebabkan karena pada trimester pertama kehamilan terjadi
peningkatan kadar hormon chorionic gonadotropin (HCG). Pada pasien ini diberikan
terapi cairan secara intravena karena pasien kehilangan banyak cairan dan mengalami
dehidrasi ringan. Dan pemberian obat-obatan antiemetik secara intravena ditujukan
untuk mengurangi gejala mual dan muntah.

19

BAB V
PENUTUP

V.I Kesimpulan
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah selama kehamilan
yang terjadi antara 4 dan 8 minggu kehamilan dan terus berlanjut hingga 14-16
minggu kehamilan. Mual dan muntah terjadi dalam 50-90% kehamilan.
Diagnosa hiperemesis gravidarum dapat diperoleh dari anamnesa berdasarkan
keluhan seperti mual, muntah, pusing dan badan terasa lemas, dan pada
pemeriksaan fisik seperti kulit pucat, turgor menurun, mata cowong, dan bibir
kering serta beberapa pemeriksaan penunjang. Hiperemesis gravidarum
menyebabkan tidak seimbangnya cairan, elektrolit, asam-basa, defisiensi nutrisi
dan kehilangan berat badan yang cukup berat. Pada hiperemesis gravidarum
dapat terjadi dehidrasi, asidosis akibat kelaparan, alkalosis akibat hilangnya asam
hidroklorida

pada saat muntah,

hipokalemia

dan ketonuria, sehingga

mengharuskan pasien masuk dan dirawat di rumah sakit. Penatalaksanaan dari


hiperemesis dapat didasarkan atas beberapa tingkatan dari sedang hingga berat.
V.I Saran

20

Adanya peran serta aktif yang baik dan benar dari seluruh pihak yang
terkait mulai dari pasien, keluarga dan tenaga kesehatan sangat diperlukan dalam
upaya penanganan pada kasus hiperemesis gravidarum supaya tidak terjadi
komplikasi yang membahayakan pasien seprti asidosis, dehidrasi, hipokalemi dan
ketonuria. Dengan melakukan ante natal care (ANC) secara rutin, keluhan mual
dan muntah pada kehamilan dapat terdiagnosis secara dini sehingga dapat
dilakukan penanganan secara adekuat demi tercapainya kondisi ibu dan bayi yang
lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. ACOG (American College of Obstetrics and Gynecology): Practice Bulletin No.


52: Nausea and Vomiting of Pregnancy. Obstet Gynecol. 2004;103:803-14.
2. Bsat FA, Hoffman DE, Seubert DE. Comparison of three out patient regimens in
the management of nausea and vomiting in pregnancy. J Perinatol.2003;23:531-5.
3. Cunningham FG, dkk. Williams Obstetric, ed. 22. McGraw-Hill; 2007:512-505.
4. Duggar CR, Carlan SJ: The efficacy of methylprednisolone in the treatment of
hyperemesis gravidarum: A randomized double-blind controlled study [abstract].
Obstet Gynecol. 2001;97:45S.
5. Hansen WF, Yankowitz J: Pharmacologic therapy for medical disorders during
pregnancy. Clin Obstet Gynecol. 2002; 45:136.
6. Heazell AE, Langford N, Judge JK . The use of levomepromazine in Hyperemesis
Gravidarum resistant to drug therapy a case series. Reprod Toxicol.
2005;20:569-72.
7. Jewell D, Young G. Interventions for nausea and vomiting in early pregnancy.
The

Cochrane

Database

of

Systematic

Reviews

2003,

Issue

4.Art.

No.:CD000145. doi:10.1002/14651858.CD000145

21

8. Koren G, Maltepe C. Pre-emptive therapy for severe nausea and vomiting of


pregnancy and hyperemesis gravidarum. J Obstet Gynaecol. 2004;24:530-3.
9. Magee LA, Mazzotta P, Koren G: Evidence-based view of safety and
effectiveness of pharmacologic therapy for nausea and vomiting of pregnancy
(NVP). Obstet Gynecol. 2002;186:S256.
10. Miller AWF, Hanretty KP. Vomiting in pregnancy. Dalam: Miller AWF, Hanretty
KP, eds. Obstetrics Illustrated, 5th ed. London:Churchill Livingstone;1998:102-3.
11. Mylonas, Loanis.Nausea and Vomiting in Pregnancy: Review article. Dtsch
Arztebl 2007; 104(25): A 18216.
12. Niebyl, Jennifer R. Nausea and Vomiting in Pregnancy. New England Journal 0f
Medicine. Massachusetts Medical Society.2010:1550-1544.
13. Ogunyemi DA, Fong A. Hyperemesis Gravidarum. Diperbarui 19 Juni 2009.
Dikutip

November

2010.

Medscape;

2010.

Diunduh

dari:

http://

emedicine.medscape.com/article/254751-overview.
14. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2009: 828-814.
15. Quinlan JD, Hill DA. Nausea and vomiting of pregnancy. Am Fam Physician
(serial online) 2003 (dikutip 2010 Nov 6); 68(1): 121-8. Diunduh dar::
http://www.aafp.org/afp/2003/0701/p121.html.
16. Sonkusare S. Hyperemesis Gravidarum: A Review. Med J Malaysia. 2008;63:3
17. Sorenson HT, Nielsen GL,Christensen K et al. Birth outcome following maternal
use of metoclopramide. Br J Clin Pharmacol. 2000;49:264-8.
18. Vaisman N, Kaidar R, Levin I, et al: Nasojejunal feeding in hyperemesis
gravidaruma preliminary study. Clin Nutr 23:53, 2004.

22

23