Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PEMBAHASAN PREBIOTIK MELIPUTI FUNGSI,

KELEBIHAN-KEKURANGAN, DAN APLIKASI DALAM DUNIA


PANGAN
Disuusn guna memenuhi tugas mata kuliah Pangan Fungsional

Disusun oleh :
Putri Fitriani
(23020113120001)
Annisa Istiqomah
(23020113120009)
Isna Dlakyatus Suraya (23020113120016)
Fina Fitriana B
(23020113140038)
Prima Dewi N
(23020113130040)
Asyifa Widhi K
(23020113190051)
M. Kresna Bayu
(23020113130079)
Annisa Ulya
(23020113140083)

S1 TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

A. Pengertiaan Prebiotik
Prebiotik dapat didefinisikan sebagai subtrat yang tidak dapat dicerna oleh
makhluk hidup seperti manusia dan hewan, tetapi dapat difermentasi selektif oleh
beberapa mikroflora kolon, dimana ia menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas
bakteri yang bermanfaat untuk kesehatan makhluk hidup tersebut. Prebiotik dapat
menjadi sumber energi atau nutrien terbatas lainnya bagi mukosa usus dan
substrat untuk fermentasi bakteri cecal dalam menghasilkan vitamin dan
antioksidan yang dapat menguntungkan tubuh. Prebiotik secara alami terdapat
pada tanaman, misalnya pada umbi dahlia, bawang merah, bawang putih,
asparagus, kedelai, ubi jalar, dan juga pada susu.
B. Klasifikasi Prebiotik
Suatu substrat dapat diklasifikasikan sebagai prebiotik bila memenuhi
persyaratan bahwa substrat tersebut tidak terhidrolisis atau terserap pada saluran
pencernaan bagian atas, secara selektif dapat menstimulir pertumbuhan bakteri
yang menguntungkan pada kolon, dan dapat menekan pertumbuhan bakteri
patogen, sehingga secara sistemik dapat meningkatkan kesehatan.
Ada beberapa senyawa yang termasuk prebiotik, pada golongan prebiotik
non-digestible karbohidrat termasuk laktulosa, inulin, resistant strarch dan
sejumlah oligosakarida yang dapat menjadi sumber karbohidrat bagi bakteri yang
menguntungkan dalam saluran pencernaan (Crittenden, 1999 dalam Wartazoa
2011). Adapula prebiotik yang telah tersedia secara komersial umumnya yaitu
fructo-oligosaccharides

(FOS),

isomalto-oligosaccharides,

Lactosuccrose,

lactulose, Pyro-dextrins, Soy Oligosaccharides, transgalactooligosaccharides,

xylo-oligosaccharides (Amarowicz, 1999 dalam Azhar, 2009). Tetapi pada tahun


2007 hanya 2 senyawa yang dapat memenuhi kriteria prebiotik yaitu inulin dan
tran-galactosaccharides (TOS) (Roberfroid, 2007). Inulin dan oligosakarida dapat
diisolasi dari sumber alami, seperti umbi-umbian. Umumnya umbi-umbian
mengandung oligosakarida dalam bentuk rafinosa dalam jumlah tinggi.
Berdasarkan penggunaan prebiotik sebagai pangan, terutama pangan
fungsional terdapat beberapa golongan antara lain :
a. Berdasarkan golongan dari pangan tersebut (produk susu dan turunannya,
minuman, produk sereal, produk kembang gula, minyak, dan lemak)
b. Berdasarkan penyakit yang akan dihindari atau dicegah (diabetes, osteoporosis,
kanker kolon).
c. Berdasarkan efek fisiologis (imunologi, ketercernaan, aktivitas anti-tumor)
d. Berdasarkan kategori komponen bioaktif (mineral, antioksidan, lipid, probiotik)
e. Berdasarkan sifat organoleptik dan fisikokimia (warna, kelarutan, tekstur)
f. Berdasarkan proses produksi yang digunakan (kromatografi, enkapsulasi,
pembekuan) Juvan, et al. (2005).
C.

Kelebihan dan Kekurangan Pangan Prebiotik

Prebiotik merupakan komponen yang tidak dapat dicerna yang memberi


keuntungan bagi inangnya sehingga dapat mendorong rangsangan untuk
pertumbuhan dan atau aktivitas dari satu atau jumlah koloni bakteri terbatas yang
dapat meningkatkan kesehatan bagi inangnya. Dengan kata lain, prebiotik sebagai
nutrien bagi bakteri yang meliputi karbohidrat dan serat pangan yang melindungi
penyerapan usus halus, mencapai usus besar ketika sebagian besar bakteri

berkembang. Peran dari prebiotik untuk kesehatan manusia adalah sebagai


berikut:
a. Memperbaiki lemak dalam saluran gastrointestinal
Hal ini disebabkan karena -konfigurasi dari C-2 anomerik dalam
monomer fruktosa mereka, inulin tipe fruktan tahan untuk dicerna pada
bagian atas dari saluran gastrointestinal.
b. Memperbaiki efek pada penyerapan mineral
Karbohidrat yang tak dapat larut (serat pangan) sebagian kecil
melemahkan penyerapan usus halus dari mineral karena serat dapat
mengikat atau melakukan aksi pemisahan. Bagaimanapun mineral ini
mengikat atau memisahkan dan sebagai konsekuensinya tidak dapat
diserap dalam usus halus yang mencapai kolon pada saat serat dilepaskan
dari matriks karbohidrat dan kemudian baru diserap oleh usus. Dalam
penambahan secara terpisah dari pengikatan atau pemisahan mineral,
beberapa karbohidrat yang tidak dicerna (seperti inulis tipe fruktan) dapat
meningkatkan penyerapan mineral dan keseimbangan karena dari suatu
efek permulaan perpindahan air ke usus besar dapat meningkatkan volume
cairan yang dapat menyebabkan terpecahnya mineral.
c. Memperbaiki efek pada metabolisme dari lipid
Terdapat kemungkinan efek dari inulin tipe fruktan pada modulasi
metabolisme triacylglycerol, yaitu modifikasi konsentrasi hormon insulin
atau glukosa dan produksi rantai pendek asam karbon pada usus besar
dengan hasil yang meningkat dua kali lipat lebih dalam.

Sedangkan kekurangan dari pangan prebiotik bagi kesehatan manusia


adalah sebagai berikut:
a. Menimbulkan reaksi pada yang hipersensitif
Gejala yang timbul pada konsumen yang hipersensitif adalah sering buang
angin, kembung dan diare. Sebaiknya penggunaan prebiotik dihentikan
apabila gejala muncul.
b. Masih dalam penelitian tentang diperbolehkannya prebiotik sebagai
suplemen makanan bebas
Sebaiknya prebiotik digunakan dalam pengawasan dokter bila berupa
suplemen, sedangkan bila didapat secara alami maka disarankan hanya
sekitar 1-4 gram untuk konsumsi harian.
c. Tidak dianjurkan dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui

D.

Potensi Peluang Pangan Prebiotik

Pangan atau bagian pangan memiliki keuntungan sebagai obat, untuk


kesehatan yang meliputi pencegahan dan perawatan terhadap penyakit, dengan
adanya aplikasi penambahan probiotik dan prebiotik dalam produk ini dapat
disebut sebagai pangan fungsional (Antarini, 2011). Berdasarkan pada potensi
yang ada, pangan berbasis prebiotik cukup banyak sedang diteliti terutama pangan
prebiotik

dikombinasikan

dengan

probiotik.

Konsep

prebiotik

mulai

dikembangkan mulai tahun 1995 (Gibson and Roberfroid dalam azhar, 2009).
Potensi yang cukup tinggi dikarenakan Indonesia memiliki banyak variasi
makanan yang dapat dijadikan prebiotic contohnya umbi-umbian dan kacang
kacangan. Adapun jenis pangan fungsional probiotik yang telah dikembangkan
adalah susu dan olahan fermentasinya. Disamping pangan probiotik, pendiversifikasian produk susu fermentasi, dapat melalui pengembangan produk
pangan fungsional dengan mengintegrasikan antara probiotik dan prebiotik atau
pangan sumber prebiotik menjadi produk sinbiotik. Prebiotik adalah nondigestible food ingredient (komponen pangan yang tidak dapat dicerna oleh
enzimenzim pencernaan) yang mempunyai pengaruh baik terhadap host dengan
cara menstimulir secara selektif pertumbuhan satu jenis atau lebih bakteri
penghuni kolon. Contoh pangan prebiotik yaitu kedelai, akar dahlia dan ubi jalar.

E.

Penambahan

Prebiotik

pada

Bahan

Pangan

dan

Proses

Pembuatannya
Berikut adalah makanan umum yang dapat di tambahkan prebiotik pada
proses pembuatannya.
1. Es krim probiotik
Es krim probiotik merupakan es krim yang telah ditambahkan
dengan starter berupa bakteri Lactobacillus casei dan Bifidobacterium
bifidum yang terbukti dapat memberikan efek menguntungkan karena
dapat menguraikan laktosa. L. casei meningkatkan aktivitas bakteri normal
dan

bakteri

berguna

lainnya,

menyerap

bahan-bahan

berbahaya

menghambat dan membunuh bakteri pathogen serta memiliki efek anti


tumor yang cukup kuat (Widodo, 2003). B. bifidum dapat meningkatkan
respon kekebalan tubuh serta menghambat enzim yang berbahaya (Brady
et al., 2000), dan mengurangi kadar kolesterol dan memiliki aktivitas
antikarsinogenik (Dinakar dan Mistry, 1994).
Prinsip pembuatannya adalah pasteurisasi adonan es krim yang
terdiri dari whipping cream, susu skim bubuk, kuning telur, gula pasir, air,
dan CMC pada suhu 80oC selama 15 menit, pendinginan 39-41oC,
inokulasi starter L. casei dan B. bifidum dengan perbandingan 1:2
sebanyak 4% dilanjutkan dengan pembekuan dengan ice cream maker
(Mulyani et al., 2006).
2. Teh Kombucha

Teh kombucha merupakan produk minuman tradisional hasil


fermentasi larutan teh dan gula dengan menggunakan starter kultur
kombucha (Acetobacter xylinum dan berbagai jenis khamir) dan memiliki
efek kesehatan antara lain antioksidan, antibakteri, memperbaiki
mikroflora usus, dapat meningkatkan ketahanan tubuh, dan menurunkan
tekanan darah (Aditiwati dan Kusnadi, 2003).
Prinsip pembuatannya adalah menyeduh daun teh dengan air pada
suhu 80oC, penyaringan untuk memisahkan air teh dan daun teh,
penambahan gula dan pelarutan, penyaringan kembali agar air teh bersih,
lalu teh dimasukkan dalam wadah kaca dan didinginkan sampai 25 oC,
penambahan starter kombucha, ditutup kain katun putih, dan diikat dengan
karet. Kemudian fermentasi selama 14 hari dalam suhu ruang tanpa
terpapar cahaya matahari (Wistiana dan Zubaidah, 2015).
3. Dadih
Dadih merupakan produk olahan susu kerbau yang terdapat di
daerah Sumatera Barat yang berwarna putih dan hampir menyerupai tahu,
dapat dipotong, dan dimakan dengan menggunakan sendok (Taufik, 2004).
Prinsip

pembuatan

dadih

menurut

Syahrir

(2002)

adalah

penguapan susu segar dengan evaporator (80-85oC) sampai volumenya


menjadi setengah dari volume awal, inokulasi starter yang dapat berupa L.
plantarum, L. acidophilus, dan B. bifidum, penuangan ke dalam wadah dan
inkubasi pada suhu ruang selama 24 jam

F.

Potensi Modifikasi Produk Pangan Prebiotik berdasarkan

Penelitian yang Telah dilakukan.


1.

PREBIOTIK UBI JALAR KUNING (Ipomea batatas l.) PADA


PEMBUATAN SUSU FERMENTASI SINBIOTIK
Salah satu pangan prebiotik yaitu ubi jalar. Susu fermentasi yang

mengalami penambahan prebiotik ubi jalar akan mendapat tambahan asam amino
esensial. Sehingga dengan kombinasi protein asal susu dengan protein nabati ubi
jalar akan meningkatkkan protein susu fermentasi ini. Kandungan asam amino
esensial ubi jalar relatif tinggi yaitu asam amino valin. Dimana asam amino
esensial perlu dihadirkan melalui bahan makanan karena protein esensial tidak
dapat dihidrolisis oleh tubuh.
Keuntungan dari kombinasi prebiotik dan probiotik dalam bahan pangan
adalah meningkatkan daya tahan hidup bakteri probiotik oleh karena substrat yang
spesifik telah tersedia untuk fermentasi sehingga tubuh mendapat manfaat yang
lebih sempurna dari kombinasi ini. Penurunan kadar air sejalan dengan semakin
bertambahnya konsentrasi prebiotik ubi jalar kuning, diduga karena dengan
penambahan prebiotik ubi jalar kuning berarti peningkatan sumber karbon (C)
dalam substrat susu fermentasi yang mempengaruhi ketersediaan oksigen.
Pemakaian probiotik L. casei terhadap prebiotik ubi jalar kuning, dimana semakin
bertambahnya konsentrasi prebiotik ubi jalar kuning digunakan maka semakin
rendah kadar air yang diperoleh pada susu fermentasi. Hal ini disebabkan oleh
semakin bertambahnya konsentrasi prebiotik dan probiotik berarti total padatan
akan bertambah. Pertambahan total padatan substrat akan menurunkan kadar air

produk. Selain dari pada itu, kondisi asam yang terbentuk akibat fermentasi
karbohidrat yang menghasilkan asam laktat, sehingga ada protein yang dirombak
dan terbentuk koagulan atau denaturasi protein. Koagulan yang terjadi akan
mengakibatkan air dalam jaringan substrat keluar dari sel. Efek lainnya dapat di
perhatikan dari tekstur yang di peroleh, dimana tekstur menjadi lebih kental.
-

Pembuatan susu fermentasi sinbiotik


Susu sapi segar dipasteurisasi pada suhu 63C selama 30 menit sehingga

bakteri patogen mati. Susu didinginkan hingga suhu 37C. Selanjutnya susu
ditambahkan ekstrak ubi jalar sesuai dengan konsentrasi perlakuan. Selanjutnya
dilakukan homogenisasi dengan cara pengadukan dan di inkubasi dengan starter
L. casei sesuai perlakuan. Susu sapi fermentasi diperam 2 hari.
2.

PENGGUNAAN EKSTRAK SUSU KEDELAI TERHADAP KEFIR


SUSU KAMBING
Ekstrak kedelai merupakan sumber prebiotik alami karena mengandung

karbohidrat jenis galactooligosaccharides (GOS) yang tidak dapat dicerna oleh


enzim dalam tubuh manusia tetapi dapat dicerna oleh BAL dengan menggunakan
enzim alpha-galaktosidase. Pati yang terkandung dalam kedelai ini diyakini dapat
meningkatkan viskositas. Susu kedelai mempunyai gizi yang hampir setara
dengan susu sapi, umumnya digunakan sebagai pengganti susu sapi bagi penderita
Lactose intolerance dan penderita alergi terhadap protein susu sapi. Kandungan
asam lemak susu kedelai sebagian besar adalah asam lemak tidak jenuh dengan
kadar asam linolenat 5 10%, asam linoleat 43 -56%,asam oleat 15 33 % dan
asam lemak jenuh 26%.

Ekstrak susu kedelai dapat berfungsi sebagai prebiotik yang dimanfaatkan


oleh BAL sebagai sumber energy dengan menunjukkan peningkatan nilai pH
sejalan dengan penambahan ekstrak susu kedelai. Kedelai merupakan sumber
karbohidrat yang memiliki susunan oligosakarida dan polisakarida. Kenaikan nilai
pH kefir disebabkan tingginya konsentrasi ekstrak kedelai yang terlarut, sehingga
air akan berbalik dari dalam sel mikroorganisme kefir keluar sel, karena tekanan
osmosis yang tinggi dan terjadi proses plasmolisis, hal ini menyebabkan
penghambatan pertumbuhan mikroorganisme kefir. Semakin banyak penggunaan
ekstrak kedelai, jaringan gel yang terbentuk semakin bertambah yang dapat
mengakibatkan terbatasnya ruang gerak BAL dan menyebabkan pertumbuhan
BAL kurang optimal.
3.

PENAMBAHAN UMBI GARUT (Maranta arundinaceae L) DALAM


BENTUK TEPUNG DAN PATI SEBAGAI PREBIOTIK PADA
YOGHURT SEBAGAI PRODUK SINBIOTIK TERHADAP DAYA
HAMBAT BAKTERI Escherichia coli
Karena mampu meningkatkan jumlah bakteri asam laktat serta dapat

menekan pertumbuhan bakteri patogen maka garut digolongkan sebagai prebiotik.


Prebiotik diartikan sebagai komponen makanan yang tidak dicerna melainkan
difermentasi, dapat menstimulasi secara selektif pertumbuhan atau aktivitas
bakteri tertentu di dalam usus besar. Substansi makanan yang diyakini sebagai
prebiotik yaitu oligosakarida dan inulin. Oligosakarida merupakan karbohidrat
berbobot molekul rendah yang terdiri atas polimer dua hingga sepuluh
monosakarida, sedangkan inulin adalah salah satu jenis fruktan atau polimer
fruktosa yang dihubungkan satu sama lain oleh ikatan -2,1 glikosida. Inulin
merupakan bagian dari serat larut air yang banyak terdapat pada tumbuh-

tumbuhan.

Bila dikaitkan dalam fungsinya sebagai prebiotik pada penelitian

terdahulu, maka kemungkinan tepung garut mengandung sejumlah oligosakarida


dan inulin. Kombinasi sinbiotik dari ekstrak gula tepung garut dengan L. casei
Rhamnosus memang terbukti efektif, namun kombinasi tepung garut dengan
bakteri asam laktat belum tentu menunjukkan hasil yang sama. Alasan pemilihan
bakteri asam laktat dikarenakan bakteri probiotik tersebut sudah sering
dikonsumsi masyarakat seperti pada yoghurt misalnya, sehingga manfaat garut
bisa dirasakan langsung oleh konsumen tidak hanya sekedar diteliti atau
dicobakan pada berbagai jenis bakteri yang jarang bersentuhan dengan konsumen.
Sebelum melihat bagaimana pengaruh dari kombinasi garut dengan
yoghurt dalam menekan pertumbuhan bakteri patogen, garut diolah dulu menjadi
tepung dan pati. Hal ini bertujuan untuk melihat perbedaan daya hambat bakteri
diantara tepung dan pati oleh karena perbedaan kandungan seratnya. Daya hambat
bakteri merupakan luasnya diameter zona bening pada cawan agar yang menjadi
parameter aktivitas antibakteri. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa
serat digunakan sebagai ukuran daya hambat sebab di dalam serat terdapat inulin
yang berfungsi sebagai prebiotik. Tepung dan pati merupakan dua produk yang
berbeda cara pembuatan maupun sifat fisikokimia serta pemanfaatannya. Pati
merupakan penyusun utama tepung yang mengandung amilosa dan amilopektin.
Selain amilosa dan amilopektin, di dalam pati juga terdapat komponen lain dalam
jumlah sedikit, yaitu lipid (sekitar 1%), protein, fosfor dan mineral. Pada
pembuatan tepung, seluruh komponen yang terkandung di dalam bahan pangan
dipertahankan keberadaannya, kecuali air sehingga tepung bisa jadi tidak murni

hanya mengandung pati, karena tercampur dengan protein, serat dan sebagainya
sedangkan pada pembuatan pati pada prinsipnya hanya mengekstrak kandungan
patinya saja. Inulin dan oligosakarida yang larut air kemungkinan ikut terbuang
bersama air pada proses pembuatan pati. Oleh karena seluruh komponen yang
terkandung di dalam bahan pangan dipertahankan keberadaannya, kandungan
inulin dalam serat dan oligosakarida yang berfungsi sebagai prebiotik tepung
garut lebih banyak bila dibandingkan dengan pati garut. Pati garut setelah
diekstraksi dari tepung, kandungan inulin dalam serat dan oligosakaridanya tentu
akan berkurang, oleh karena inulin dan oligosakarida bersifat larut air. Diharapkan
dengan adanya kandungan inulin dan oligosakarida yang lebih banyak, maka
tepung garut sebagai prebiotik akan lebih baik dibandingkan pati garut.
pH yoghurt dipengaruhi oleh konsentrasi dan jenis prebiotik. Semakin
besar konsentrasi maka pH akan semakin turun. Hal ini dikarenakan jumlah
substrat spesifik (inulin dan oligosakarida) yang terdapat dalam garut. Inulin dan
oligosakarida pada garut difermentasi oleh bakteri asam laktat melalui proses
glikolisis. Glikolisis adalah pemecahan glukosa menjadi piruvat atau asam laktat.
Asam laktat yang dihasilkan akan menurunkan pH. Semakin banyak jumlah inulin
dan oligosakarida yang terkandung maka semakin banyak asam yang dihasilkan
sehingga pH akan semakin cepat turun. Yoghurt dengan penambahan garut pH
nya lebih rendah dibanding yoghurt tanpa penambahan garut oleh karena adanya
substrat spesifik (inulin dan oligosakarida) yang mempercepat penurunan pH.
Daya hambat bakteri yoghurt dengan penambahan garut lebih tinggi
dibandingkan dengan yoghurt tanpa penambahan garut. Hal ini disebabkan adanya

inulin dan oligosakarida yang terdapat pada garut. Inulin dan oligosakarida pada
garut difermentasi oleh bakteri asam laktat melalui proses glikolisis. Asam laktat
yang dihasilkan akan menurunkan pH. Hal ini juga menjelaskan jika semakin
tinggi konsentrasi penambahan garut maka daya hambat akan semakin meningkat.
4.

INULIN SEBAGAI PREBIOTIK


Inulin termasuk food ingredient yang di klasifikasikan sebagai prebiotik.
Yaitu sumber subtrat yang tidak dapat dicerna host tetapi difermentasi selektif
oleh beberapa mikroflora kolon. Inulin menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas
bakteriyang bermanfaat untuk kesehatan host. Inulin diketahui sebagai prebiotik
yang memiliki manfaat lebih baik dibandingkan dengan senyawa prebiotik
lainnya. Manfaat atau efek yang dihasilkan oleh inulin pada tubuh yaitu sebagai
bifidogenic (mampu menjaga pertumbuhan bifidobacterium di usus besar),
mampu merangsang sistem kekebalan tubuh, dan mengurangi resiko osteoporosis
(Sandiya, et al., 2014). Inulin dapat dikonsumsi melalui produk susu seperti susu
formula untuk bayi dan susu untuk orang dewasa. Selain pada produk susu, inulin
juga diproduksi secara kapsul dimana kapsul tersebut merupakan ekstrak kering
inulin dari akar chicory.

DAFTAR PUSTAKA
Aditiwati, P dan Kusnadi. 2003. Kultur campuran dan faktor lingkungan
mikroorganisme yang berperan dalam fermentasi Tea-Cider. Journal of
Mathematical and Fundamental Sciences 35 (2): 147-162.
Antarini, A. A. N. 2011. Sinbiotik antara Prebiotik dan Probiotik. Jurnal Ilmu Gizi
2 (2) : 148 155.
Azhar, M. 2009. Inulin sebagai Prebiotik. SAINTEK 12 (1) : 1 - 8.
Brady, L., D.D. Gallaher, dan F.F. Busta. 2000. The role of probiotic cultures in
the
prevention of colon cancer. J. Nutr. 130 ; 410S-414S.
Dinakar, P dan V.V. Mistry. 1994. Growth and Viability of Bifidobacterium
bifidum in Cheddar Cheese. J. Dairy Sci. 77 (10): 2854 2864.
Mulyani, S., Nurwantoro, dan Maqfiroh. 2006. Prospek es Krim Fermentasi
Sebagai Makanan Fungsional. Prosiding Seminar Nasional 2006
Pemberdayaan Masyarakat Peternakan Di Bidang Agribisnis untuk
Mendukung Ketahanan Pangan. Fakultas Peternakan Badan Penerbit
Universitas Diponegoro. Semarang
Roberfroid, M. B. 2000. Prebiotics and Probiotics : Are They Functional Food.
The
American Journal of Clinical Nutrition, vol. 71. Pp. 1682S-1687S.
Rosa, N. 2010. Pengaruh Penambahan Umbi Garut (Maranta Arundinaceae L)
dalam Bentuk Tepung dan Pati Sebagai Prebiotik pada Yoghurt Sebagai
Produk Sinbiotik terhadap Daya Hambat Bakteri Escherichia Coli.
Artikel Penelitian Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro.
Sandiya, dkk. 2014. Determinasi Inulin dalam Sampel Ekstrak Umbi Dahlia
(Dahlia spp L.) yang ditanam pada media tanah dan Polybag dengan
Metode
KLT-Densitometri. E- jurnal pustaka kesehatan vol.2 (2).
Saufani, I. A. 2009. Korelasi Berbagai Level Prebiotik Ubi Jalar Kuning (Ipomea
Batatas L.) dan Probiotik Lactobacillus Casei pada Pembuatan Susu
Fermentasi Sinbiotik. Seminar Nasional Teknologi Peternakan Dan
Veteriner Program Studi Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Andalas Padang. 745-751.

Sawitri, M. E. 2011. Kajian Penggunaan Ekstrak Susu Kedelai terhadap Kualitas


Kefir Susu Kambing. Jurnal Ternak Tropika, 12(1): 15-21
Syahrir, I. H. 2002. Karakteristik fisik, kimia dan mikrobiologi dadih susu sapi
dengan kombinasi starter Lactobacillus plantarum, Lactobacillus
bulgaricus
Dan Streptococcus thermophilus. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Taufik, E. 2004. Dadih susu sapi hasil fermentasi berbagai starter bakteri probiotik
yang disimpan pada suhu rendah: karakteristik kimiawi. Media Peternakan
27 (3): 88-100.
Toma, M. M., & Pokrotnieks. J. 2006. Probiotics as Functional Food :
Microbiological and Medical Aspects. Acta Universitatis Latviensis, vol.
710. Pp. 117-129.
Widodo, 2003. Bioteknologi Industri Susu. Lakticia Press, Yogyakarta.
Wistiana, D dan E. Zubaidah. 2015. Karakteristik kimiawi dan mikrobiologis
kombucha dari berbagai daun tinggi fenol selama fermentasi. Jurnal
Pangan
dan Agroindustri 3(4): 1446-1457.