Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

MITOSIS AKAR BAWANG

Oleh :
Nama

: Muhammad Zulfikar Mahmudin

NIM

: 1147020042

Kelompok

:6

Dosen

: Opik Taufiqurrohman, S.Si

Asisten

: Intan Fatimah

Tanggal Praktikum

: 05 Maret 2016

Tanggal Masuk Laporan

: 14 Maret 2016

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016 H / 1437 M

I. Hasil Pengamatan
I.1.
Tabel Pengamatan
Foto Pengamatan

Literatur

2
1
3

Sumber: (Dokumentasi Pribadi,


2016).

Sumber: (Praga, 2012)

Keterangan:
1. Inti Sel
2. Dinding Sel
3. Sitoplasma
I.2.

Pembahasan
Sebelum mengamati sel-sel akar tersebut dibawah mikroskop, potongan-potongan

akar harus memalui beberapa perlakuan, yaitu harus direndam di dalam alcohol 70%.
Menurut Sastrosumarjo (2006) menjelaskan bahwa perendaman ini bertujuan untuk
menghilangkan sisa-sisa FAA yang masih terdapat di dalam sel-sel akar bawang merah.
Selain itu perendaman dengan alcohol bertujuan untuk menyegarkan kembali sel-sel akar
bawang yang sudah semalaman dimasukkan kedalam botol fial berisi FAA. Kemudian
direndam di dalam asam asetat selama 30 menit. Menurut Crowder (2000) Hal ini
bertujuan untuk memudahkan dalam memotong tudung akar bawang merah (Allium
cepa), karena dengan pemberian asam asetat dapat memperjelas batas tudung akar dengan
sel-sel diatasnya, tudung akar akan terlihat lebih putih dibandingkan bagian lain dari akar
bawang merah (Allium cepa), dan pemberian asam asetat ini juga dapat melunakkan
dinding sel sehingga memudahkan dalam memotong. Perlakuan berikutnya adalah
pemberian acetocarmin, acetocarmin adalah salah satu pewarna yang sering digunakan
karena mudah didapat dan penyerapan warna yang lebih cepat. Menurut Margono (2003)
Menenerangkan bahwa fungsi dari acetocarmin adalah untuk memberi pigmen warna
pada kromosom dan sel-sel akar bawang agar mudah untuk diamati.

Dalam pengamatan, ditemukan proses mitosis yaitu pada tahap profase pada salah
satu sel. Pada tahap itu, terlihat benang-benang kromatin makin menjadi pendek, sehingga
menjadi tebal. Hal ini sesuai dengan peryataan Suryo (2012) yang menyebutkan bahwa pada
fase profase benang-benang kromatin makin menjadi pendek, sehingga menjadi tebal.
Terbentuklah kromosom-kromosom. Tiap kromosom lalu membelah memanjang dan anakan
kromosom ini dinamakan kromatid. Dinding inti mulai menghilang. Sentriol (bentuk seperti
bintang dalam sitoplasma) juga membelah

Tahap profase ini merupakan salah satu tahap mitosis. Adapun tahap-tahap mitosis
yang lainnya adalah interfase, metakinesis, metafase, anafase, dan telofase. Interfase
dalam siklus sel termasuk fase yang berlangsung lama karena pada tahap ini berlangsung
fungsi metabolisme serta pembentukan dan sintesis DNA. Metafase adalah tahap mitosis
setelah fase profase selesai. Metafase terbagi menjadi dua, yaitu prometafase (metafase
awal) dan tahap metafase akhir. Seperti yang dinyatakan Campbell (2008) bahwa pada
tahap metafase, kromosom mulai berkumpul pada bidang ekuator pembelahan. Pada
tahap inisentromer dari setiap kromosom berkumpul pada bagian tengah spindel pada
bidang equator. Pada tempat-tempat ini, sentromer-sentromer diikat oleh benang- benang
spindel yang terpisah, dimana setiap kromatid dilekatkan pada kutub-kutub spindel yang
berbeda.
Pada tahap anafase, Serat-serat gelendong memendek, pada waktu memendek ini,
serat-serat itu menyeret satu kromatid dari tiap kromosom asal ke arah ujung sel yang
berlawanan oleh sentromer yang menjadi dua, yang masih tetap tertaut pada serat-serat.
Seperti yang dinyatakan oleh Nwangburuka dan Oyelana (2011) bahwa kromosom anak
(sister chromatid) yang sudah terbentuk mulai tertarik kearah kutub-kutub yang
berlawanan. Hal tersebut juga dapat dilihat pada gambar pustaka. Pada tahap anafase dua
sister chromatid (kromosom) bergerak ke arah kutub berlawanan. Sentromernya tertarik
karena kontraksi dari benang gelendong.
Pada fase telofase ini pembelahan telah selesai dan fase ini merupakan fase
terakhir dalam pembelahan mitosis, Pada telofase awal terlihat nampak adanya dinding
pemisah yang berupa sekat yang belum sempurna yang memisahkan kromosomkromosom yang telah mencapai kutub. Dan pada telofase akhir dinding sel terlihat jelas
dan kromosom yang tebal nampak berkumpul di tengah.. Seperti yang dinyatakan oleh
Pulate dan Tarar (2014) bahwa pada tahap telofase nampak adanya dinding pemisah yang
berupa sekat yang belum sempurna yang memisahkan kromosom-kromosom yang telah
mencapai kutub. Sekat belum sempurna dan sel belum benar-benar terpisah tetapi tanda

akan terbentuknya dua sel sudah mulai tampak. Penampakan kembali nukleus, merupakan
tanda bahwa mitosis sudah berakhir.
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam
pengamatan, ditemukan proses mitosis yaitu pada tahap profase pada salah satu sel. Pada
tahap itu, terlihat benang-benang kromatin makin menjadi pendek, sehingga menjadi tebal.
Dan adapun tahap-tahap mitosis yang lainnya adalah interfase, metakinesis, metafase,

anafase, dan telofase.


DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N, A. dkk. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Crowder L.V. 2000. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University.
Margono, Hadi. 2003. Pengaruh Acetocarmin Terhadap Pertumbuhan Memanjang Akar
Bawang Merah (Alium cepa). Malang: IKIP.
Nwangburuka, C, C. dan Oyelana, O, A. 2011. Cytological Effects of Chloroquine on
Root Mitosis of Allium cepa L. Jurnal actaSATECH. 4 (1) : 25-35.
Praga.

2012.

Preparat

Wortel

dan

Bawang

Merah.

(http://indonesia-

biologieducation.blogspot.co.id/2012/02/preparat-wortel-dan-bawangmerah.html). [Diakses 11/03/2016, Pukul 13.06 WIB].


Pulate, P, V. dan Tarar, J, L. 2014. Cytogenetic Effects of Tilt On Root Tip Meristem of
Onion Allium Cepa L. International Journal of Plant Animal and Environtmental
Science. 4 (2) : 53-57.
Sastrosumarjo, S. 2006. Panduan Laboratorium .Bogor : IPB Press.
Suryo. 2012. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.