Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

KLIEN
DENGAN CA PARU
A. Pengertian
Tumor paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price,
Patofisiologi,
1995).
Kanker paru merupakan abnormalitas dari selsel yang mengalami
proliferasi dalam paru (Underwood, Patologi, 2000).
B. Etiologi
Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi
ada beberapa faktor yang agaknya bertanggung jawab dalam
peningkatan insiden kanker paru :
1. Merokok
Tidak diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan
statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih
dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma
bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh
kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang
perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan
kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam
waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan
dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit
hewan, menimbulkan tumor.
2. Radiasi
Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di
Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50
% meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan
radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan agen
etiologi operatif.
3. Polusi udara

ASKEP PADA KANKER PARU

Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang


lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun
telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap diesel
dalam
atmosfer
di
kota.
( Thomson, Catatan Kuliah Patologi,1997).
C. Patofisiologi
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus
menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi
pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen
maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi
perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia
menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti
invasi
langsung
pada
kosta
dan
korpus
vertebra.
Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang
terbesar. Lesi ini menyebabkan obstruksi dan ulserasi bronkus dengan
diikuti dengan supurasi di bagian distal.

ASKEP PADA KANKER PARU

D. Tanda dan Gejala


Gejala gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu,
demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengar pada
auskultasi.
Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan
adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat
bermetastase ke struktur struktur terdekat seperti kelenjar limfe,
dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.
E. Manifestasi Klinis
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukan gejalagejala klinis. Bila sudah menampakan gejala berarti Klien dalam
stadium lanjut. Gejala-gejala dapat bersifat:
1. Lokal (tumor tumbuh setempat):
a.
Batuk baru atau batuk lebih hebat daripada batuk kronis
b. Hemoptisis
c.
Wheezing
d. Kadang terdapat abses paru
2. Invasi lokal:
a.
Nyeri dada
b. Dispnea
c.
Terjadi aritmia
d. Sindrom vena cava superior
e. Suara serak
3. Sindrom paraneoplastik
a.
Penurunan berat badan, anoreksia dan demam
b. Leukositosis, anemia dan hiperkoagulasi
c.
Demensia, ataksia, dan tremor
d. Neuromiopati
e. Sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
F. Klasifikasi
Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru paru
(1977) :
1. Karsinoma epidermoid (skuamosa)
Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel
termasuk metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka
panjang, secara khas mendahului timbulnya tumor. Terletak sentral
sekitar hilus, dan menonjol kedalam bronki besar. Diameter tumor
jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar
ASKEP PADA KANKER PARU

2.

3.

4.

5.

langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada dan


mediastinum.
Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat)
Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama
bronki.Tumor ini timbul dari sel sel Kulchitsky, komponen normal
dari epitel bronkus. Terbentuk dari selsel kecil dengan inti
hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. Metastasis dini ke
mediastinum dan kelenjar limfe hilus, demikian pula dengan
penyebaran hematogen ke organ organ distal.
Adenokarsinoma (termasuk karsinoma sel alveolar)
Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat
mengandung mukus. Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen
bronkus dan kadang kadang dapat dikaitkan dengan jaringan
parut local pada paru paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi
seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium
dini, dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala gejala
sampai terjadinya metastasis yang jauh.
Karsinoma sel besar
Merupakan sel sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat
buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam
macam. Sel sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan
cepat ke tempat tempat yang jauh.
Gabungan adenokarsinoma dan epidermoid

G. Tes Diagnostik
Pemeriksaan diadnortik yang perlu dilakukan:
1. Foto rontgen dada
2. Pencitraan (MRI dan CT-Scan)
3. Pemeriksaan sitologi
4. Pemeriksaan histopatologi
a.
Bronkoskopi
b. Torakoskopi
c.
Mediastinoskopi
d. Torakotomi
H. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan kanker dapat berupa :
1. Kuratif
Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka
harapan hidup klien.
2. Paliatif

ASKEP PADA KANKER PARU

Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.


3. Rawat rumah
Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada
pasien maupun keluarga.
4. Supotif
Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia
pemberian nutrisi, tranfusi darah dan komponen darah, obat anti
nyeri
dan
anti
infeksi.
(Ilmu Penyakit Dalam, 2001 dan Doenges, rencana Asuhan
Keperawatan, 2000)
Pengobatan dapat berupa:
1. Pembedahan
Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru
lain, untuk mengankat semua jaringan yang sakit sementara
mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paruparu yang tidak
terkena kanker.
a.
Toraktomi eksplorasi
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau
toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
b. Pneumonektomi pengangkatan paru)
Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua
lesi bisa diangkat.
c.
Lobektomi (pengangkatan lobus paru)
Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus,
bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi
jamur; tumor jinak tuberkulois.
d. Resesi segmental
Merupakan pengangkatan satu atau lebih segmen paru.
e. Resesi baji
Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau
penyakit
peradangan
yang
terlokalisir.
Merupakan
pengangkatan dari permukaan paru paru berbentuk baji
(potongan es).
f.
Dekortikasi
Merupakan pengangkatan bahan bahan fibrin dari pleura
viscelaris
2. Radiasi
Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan
kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor
dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/ penekanan
terhadap pembuluh darah/ bronkus.
ASKEP PADA KANKER PARU

3. Kemoterapi
Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan
tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau
dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi
radiasi.
I. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian pernafasan
a.
Data subyektif
1) Stidor
2) Batuk
3) Nyeri dada
4) Nyeri abdomen
5) Perubahan suara (serak)
6) Whezzing
7) Sesak nafas
8) Bernafas cepat
9) Mudah lelah
b. Data obyektif
1) Wajah cemas
2) Sianosis pada bagian perifer
3) Kacau mental dan gelisah
4) Anoreksia
5) Penurunan berat badan
6) Hemoptisis
7) Aritmia
8) Mengi
2. Pengkajian
a. Praoperasi
1) Aktivitas/ istirahat.
Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan
kebiasaan rutin, dispnea karena aktivitas.
Tanda : Kelesuan (biasanya tahap lanjut).
2) Sirkulasi.
Gejala : JVD (obstruksi vena kava).
Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi).
Takikardi/ disritmia. Jari tabuh.
3) Integritas ego.
Gejala : Perasaan takut. Takut hasil pembedahan. Menolak
kondisi yang berat/potensi keganasan.

ASKEP PADA KANKER PARU

4)

5)

6)

7)

8)

9)

Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang


ulang.
Eliminasi.
Gejala : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil).
Peningkatan frekuensi/jumlah urine (ketidakseimbangan
hormonal, tumor epidermoid).
Makanan dan cairan.
Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk,
penurunan masukanmakanan. Kesulitan menelan. Haus/
peningkatan masukan cairan.
Tanda : Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap
lanjut)
Edema wajah/ leher, dada punggung (obstruksi vena kava),
edema wajah/ periorbital (ketidakseimbangan hormonal,
karsinoma sel kecil). Glukosa dalam urine
(ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid).
Nyeri/ kenyamanan.
Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan
tidak selalu pada tahap lanjut) dimana dapat/ tidak dapat
dipengaruhi oleh perubahan posisi. Nyeri bahu/ tangan
(khususnya pada sel besar atau adenokarsinoma). Nyeri
abdomen hilang timbul.
Pernafasan.
Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari
biasanya dan produksi sputum. Nafas pendek. Pekerja yang
terpajan polutan, debu industry. Serak, paralysis pita suara.
Riwayat merokok
Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerja
Peningkatan fremitus taktil (menunjukkan konsolidasi)
Krekels/ mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran
udara), krekels/ mengi menetap; pentimpangan trakea ( area
yang mengalami lesi). Hemoptisis.
Keamanan.
Tanda : Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma)
Kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal,
karsinoma sel kecil)
Seksualitas.
Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik,
karsinoma sel besar). Amenorea/ impotent
(ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)

ASKEP PADA KANKER PARU

10) Penyuluhan.
Gejala : Faktor resiko keluarga, kanker(khususnya paru),
tuberculosis. Kegagalan untuk membaik.
b. Post operasi
1) Aktivitas atau istirahat.
Gejala : Perubahan aktivitas, frekuensi tidur berkurang.
2) Sirkulasi.
Tanda : denyut nadi cepat, tekanan darah tinggi.
3) Eliminasi.
Gejala : menurunnya frekuensi eliminasi BAB
Tanda : Kateter urinarius terpasang/ tidak, karakteristik
urine
Bisng usus, samara atau jelas.
4) Makanan dan cairan.
Gejala : Mual atau muntah
5) Neurosensori.
Gejala : Gangguan gerakan dan sensasi di bawah tingkat
anastesi.
6) Nyeri dan ketidaknyamanan.
Gejala : Keluhan nyeri, karakteristik nyeri
3. Diagnosa keperawatan dan intervensi
a. Praoperasi
1) Kerusakan pertukaran gas
Dapat dihubungkan dengan hipoventilasi.
Kriteria hasil:
a) Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisi adekuat
dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala
distress pernafasan.
b) Berpartisipasi dalam program pengobatan, dalam
kemampuan/ situasi.
Intervensi:
a) Kaji status pernafasan dengan sering, catat peningkatan
frekuensi atau upaya pernafasan atau perubahan pola
nafas.
Rasional : Dispnea merupakan mekanisme kompensasi
adanya tahanan jalan nafas.
b) Catat ada atau tidak adanya bunyi tambahan dan adanya
bunyi tambahan, misalnya krekels, mengi.

ASKEP PADA KANKER PARU

Rasional : Bunyi nafas dapat menurun, tidak sama atau


tak ada pada area yang sakit.Krekels adalah bukti
peningkatan cairan dalam area jaringan sebagai akibat
peningkatan permeabilitas membrane alveolar-kapiler.
Mengi adalah bukti adanya tahanan atau penyempitan
jalan nafas sehubungan dengan mukus/ edema serta
tumor.
c)
Kaji adanmya sianosis
Rasional : Penurunan oksigenasi bermakna terjadi
sebelum sianosis. Sianosis sentral dari organ hangat
contoh, lidah, bibir dan daun telinga adalah paling
indikatif.
d) Kolaborasi pemberian oksigen lembab sesuai indikasi
Rasional : Memaksimalkan sediaan oksigen untuk
pertukaran.
2) Bersihan jalan nafas tidak efektif
Dapat dihubungkan dengan:
a) Kehilangan fungsi silia jalan nafas
b) Peningkatan jumlah/ viskositas sekret paru.
c)
Meningkatnya tahanan jalan nafas
Kriteria hasil:
a) Menyatakan/ menunjukkan hilangnya dispnea.
b) Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas
bersih
c)
Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan.
d) Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/
mempertahankan bersiahn jalan nafas.
Intervensi
a) Catat perubahan upaya dan pola bernafas.
Rasional : Penggunaan otot interkostal/ abdominal dan
pelebaran nasal menunjukkan peningkatan upaya
bernafas.
b) Observasi penurunan ekspensi dinding dada dan adanya.
Rasional : Ekspansi dad terbatas atau tidak sama
sehubungan dengan akumulasi cairan, edema, dan
sekret dalam seksi lobus.
c) Catat karakteristik batuk (misalnya, menetap, efektif, tak
efektif), juga produksi dan karakteristik sputum.
Rasional : Karakteristik batuk dapat berubah tergantung
pada penyebab/ etiologi gagal perbafasan. Sputum bila

ASKEP PADA KANKER PARU

ada mungkin banyak, kental, berdarah, adan/ atau


puulen.
d) Pertahankan posisi tubuh/ kepala tepat dan gunakan alat
jalan nafas sesuai kebutuhan.
Rasional : Memudahkan memelihara jalan nafas atas
paten bila jalan nafas pasein dipengaruhi.
e) Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh aminofilin,
albuterol dll. Awasi untuk efek samping merugikan dari
obat, contoh takikardi, hipertensi, tremor, insomnia.
Rasional : Obat diberikan untuk menghilangkan spasme
bronkus, menurunkan viskositas sekret, memperbaiki
ventilasi, dan memudahkan pembuangan sekret.
Memerlukan perubahan dosis/ pilihan obat.
3) Ketakutan
Dapat dihubungkan dengan:
a) Krisis situasi
b) Ancaman untuk/ perubahan status kesehatan, takut mati.
c)
Faktor psikologis.
Kriteria hasil
a) Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat
untuk mengatasinya.
b) Mengakui dan mendiskusikan takut.
c)
Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun
sampai tingkat dapat diatangani.
d) Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan
sumber efektif.
Intervensi
a) Observasi peningkatan gelisah, emosi labil.
Rasional : Memburuknya penyakit dapat menyebabkan
atau meningkatkan ansietas.
b) Pertahankan
lingkungan
tenang
dengan
sedikit
rangsangan.
Rasional : Menurunkan ansietas dengan meningkatkan
relaksasi dan penghematan energi.
c)
Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi,
bimbingan imajinasi.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk pasien
menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.
d) Identifikasi persepsi klien terhadap ancaman yang ada
oleh situasi.

ASKEP PADA KANKER PARU

Rasional : Membantu pengenalan ansietas/ takut dan


mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk
individu.
e) Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan
perasaan.
Rasional : Langkah awal dalam mengatasi perasaan
adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong
penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk
mengatasi.
4) Kurangnya pengetahuan
Dapat dihubungkan dengan:
a) Kurang informasi.
b) Kesalahan interpretasi informasi.
c)
Kurang mengingat
Kriteria hasil
a) Menjelaskan hubungan antara proses penyakit dan terapi.
b) Menggambarkan/ menyatakan diet, obat, dan program
aktivitas.
c)
Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang
memerlukan perhatian medik.
d) Membuat perencanaan untuk perawatan lanjut.
Intervensi
a) Dorong belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien.
Beriak informasi dalam cara yang jelas dan ringkas.
Rasional : Sembuh dari gangguan gagal paru dapat
sangat
menghambat
lingkup
perhatian
pasien,
konsentrasi dan energi untuk penerimaan informasi/ atau
tugas baru.
b) Berikan informasi verbal dan tertulis tentang obat
Rasional : Pemberian instruksi penggunaan obat yang
aman memmampukan pasien untuk mengikuti dengan
tepat program pengobatan.
c)
Kaji konseling nutrisi tentang rencana makan;
kebutuhan makanan kalori tinggi.
Rasional : Pasien dengan masalah pernafasan berat
biasanya mengalami penurunan berat badan dan
anoreksia sehingga memerlukan peningkatan nutrisi
untuk menyembuhan.
d) Berikan pedoman untuk aktivitas.

ASKEP PADA KANKER PARU

Rasional : Pasien harus menghindari untuk terlalu lelah


dan mengimbangi periode istirahatdan aktivitas untuk
meningkatkan stamina dan mencegah konsumsi oksigen
berlebihan.
b. Post operasi
1) Kerusakan pertukaran gas
Dapat dihubungkan dengan:
a) Pengangkatan jaringan paru
b) Gangguan suplai oksigen
c) Penurunan kapasitas pembawa oksigen darah
(kehilangan darah).
Kriteria hasil
a) Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi
jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.
b) Bebas gejala distress pernafasan.
Intervensi
a) Catat frekuensi, kedalaman dan kemudahan pernafasan.
Observasi penggunaan otot bantu, nafas bibir,
perubahan kulit/ membran mukosa.
Rasional : Pernafasan meningkat sebagai akibat nyeri
atau sebagai mekanisme kompensasi awal terhadap
hilangnya jaringan paru.
b) Auskultasi paru untuk gerakan udara dan bunyi nafas
tak normal.
Rasional : Konsolidasi dan kurangnya gerakan udara
pada sisi yang dioperasi normal pada pasien
pneumonoktomi. Namun, pasien lubektomi harus
menunjukkan aliran udara normal pada lobus yang
masih ada.
c) Pertahankan kepatenan jalan nafas pasien dengan
memberikan posisi, penghisapan, dan penggunaan alat.
Rasional : Obstruksi jalan nafas mempengaruhi
ventilasi, menggangu pertukaran gas.
d) Ubah posisi dengan sering, letakkan pasien pada posisi
duduk juga telentang sampai posisi miring.
Rasional : Memaksimalkan ekspansi paru dan drainase
sekret.
e) Dorong/ bantu dengan latihan nafas dalam dan nafas
bibir dengan tepat.

ASKEP PADA KANKER PARU

Rasional : Meningkatkan ventilasi maksimal dan


oksigenasi dan menurunkan/ mencegah atelektasis
2) Bersihan jalan nafas tidak efektif
Dapat di hubungkan dengan:
a) Peningkatan jumlah/ viskositas secret
b) Keterbatasan gerakan dada/ nyeri.
c) Kelemahan/ kelelahan.
Kriteria hasil
Menunjukkan potensi jalan nafas, dengan cairan sekret
mudah dikeluarkan, bunyi nafas jelas, dan pernafasan tak
bising.
Intervensi
a) Auskultasi dada untuk karakteristik bunyi nafas dan
adanya sekret.
Rasional : Pernafasan bising, ronki, dan mengi
menunjukkan tertahannya sekret dan/ atau obstruiksi
jalan nafas.
b) Bantu pasien dengan/ instruksikan untuk nafas dalam
efektif dan batuk dengan posisi duduk tinggi dan
menekan daerah insisi.
Rasional : Posisi duduk memungkinkan ekspansi paru
maksimal dan penekanan menmguatkan upaya batuk
untuk memobilisasi dan membuang sekret.
c) Observasi jumlah dan karakter sputum/ aspirasi sekret.
Rasional : Peningkatan jumlah sekret tak berwarna /
berair awalnya normal dan harus menurun sesuai
kemajuan penyembuhan.
d) Dorong masukan cairan per oral (sedikitnya 2500
ml/hari) dalam toleransi jantung.
Rasional : Hidrasi adekuat untuk mempertahankan
sekret hilang/ peningkatan pengeluaran.
e) Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, dan/
atau analgetik sesuai indikasi.
Rasional : Menghilangkan spasme bronkus untuk
memperbaiki
aliran
udara,
mengencerkan
dan
menurunkan viskositas sekret.
3) Nyeri
Dapat dihubungkan dengan:
a) Insisi bedah, trauma jaringan, dan gangguan saraf
internal.

ASKEP PADA KANKER PARU

b) Adanya selang dada.


c) Invasi kanker ke pleura, dinding dada
Kriteria hasil
a) Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol.
b) Tampak rileks dan istirahat dengan baik.
Intervensi
a) Tanyakan pasien tentang nyeri. Tentukan karakteristik
nyeri.
b) Catat kemungkinan penyebab nyeri patofisologi dan
psikologi.
c) Dorong menyatakan perasaan tentang nyeri.
d) Berikan tindakan kenyamanan. Dorong dan ajarkan
penggunaan teknik relaksasi
4) Ketakutan
Dapat dihubungkan dengan:
a) Krisis situasi
b) Ancaman/ perubahan status kesehatan
c) Adanya ancaman kematian.
Kriteria hasil
a) Mengakui dan mendiskusikan takut/ masalah
b) Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan
penampilan wajah tampak rileks/ istirahat
c) Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.
Intervensi
a) Evaluasi tingkat pemahaman pasien/ orang terdekat
tentang diagnosa.
b) Terima penyangkalan pasien tetapi jangan dikuatkan.
c) Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan
jujur. Yakinkan bahwa pasien dan pemberi perawatan
mempunyai pemahaman yang sama.
d) Libatkan pasien/ orang terdekat dalam perencanaan
perawatan. Berikan waktu untuk menyiapkan peristiwa/
pengobatan.

ASKEP PADA KANKER PARU

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan.EGC:Jakarta.
FKUI.2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 2. FKUI : Jakarta.
Price,Sylvia
Anderson.Patofisiologi:konsep-konsep
penyakit.Jakarta:EGC,2005.
Smelttzer,Suzanne C.Buju
Suddarth.Jakarta:EGC,2001.

Ajar

keperawatan

klinis

medical-bedah

proses

Brunner-

harnawatiaj.wordpress.com

askep.blogspot.com
asuhan-keperawatan.blogspot.com

ASKEP PADA KANKER PARU