Anda di halaman 1dari 16

PEDOMAN PELAYANAN UNIT KERJA

RUANGAN KIA
UPTD PUSKESMAS SEMEN
TAHUN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem Kesehatan Nasional merumuskan bahwa pembangunan nasional bidang
kesehatan bertujuan tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi
tingginya.Pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh semua komponen bangsa, baik
pemerintah, pemerintah daerah, dan atau masyarakat secara sinergis, berhasil guna dan
berdaya guna, sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya me
lalui prinsip prinsip perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian masyarakat, adil
dan merata, serta pengutamaan manfaat.
.Pelayanan kesehatan adalah upaya yang di berikan kepada masyarakat, mencakup
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pencatatan dan pelaporan, yang dituangkan dalam
suatu system.
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai
tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung
terwujudnya kecamatan sehat.
AKI dan AKB di Indonesia yang masih cukup tinggi membutuhkanpelayanan
kesehatan yang sesuai standar dan tenaga kesehatan yang memiliki muatan
pengetahuan,ketrampilan dan skill yang berkualitas.
Untuk terlaksananya pelayanan di Puskesmas yang sesuai dengan standar,
diperlukan pedoman pelayanan. Pedoman pelayanan di ruang KIA dibuat sesuai acuan
pelaksanaan pelayanan KIA
B. Tujuan Pedoman Pelayanan Ruang KIA KB.
.
Dokter , Bidan ,Perawat dan petugas kesehatan yang lain sebagai pelaksana pelayanan di
ruangan KIA dapat memberikan
pelayanan sesuai standar dan bisa mencegah terjadinya
resiko kecelakaan kerja baik kepada pasien maupun kepada petugas .
C. Sasaran Pedoman
1.

Dokter,bidan,perawat

2.

Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan

3.

Masyarakat dan organisasi profesi terkait


1

D. Ruang Lingkup Pedoman


Ruangan KIA UPTD Puskesmas Semen kabupaten Kediri
E. Batasan Operasional
Pelayanan KIA di Puskesmas memberikanpelayanan kesehatangerak dan fungsi
tubuh kepada individu dan/atau kelompok, yangbersifatumumdengan pengutamaan
pelayanan pengembangan dan pemeliharaan melalui pendekatan promotif dan preventif
tanpa mengesampingkan pemulihan dengan pendekatan kuratif dan rehabilitatif.
Kegiatanpromotifdanpreventif termasukskrining, memberikan
pengurangan
nyeri, dan program untuk meningkatkanfleksibilitas,daya tahan,dankeselarasan postur
dalam

aktifitas

sehari-hari.Selain

upaya

promotif

jugamemberikan layananpemeriksaan, pengobatan, dan


memulihkan

dan

preventif,

fisioterapis

membantuindividu

dalam

kesehatan, mengurangi rasasakit (kuratif dan rehabilitatif). Fisioterapis

memainkan peran dalam

masa

akut,

kronis,

pencegahan, intervensidiniuntuk

muskuloskeletalyangberhubungan dengan pekerjaan cedera, mendesain ulang pekerjaan


individu, serta rehabilitasi,dan diperlukan untuk memastikan layanan/intervensi diberikan
secara komprehensif dan tepat berfokus pada individu, masyarakat dan lingkungan.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan KIA paling sedikit harus
memilikI 5 (lima) orang tenaga paramedis (bidan/perawat) dengan kualifikasi profesi
minimal ahli madya yang memiliki kemampuan dalam melaksanakan tindakan asuhan
kebidanan/asuhan keperawatan serta mampu berkomunikasi dengan masyarakat dan
profesi lain dan memiliki kompetensi dalam upaya promotif dan preventif.
B. Distribusi Ketenagaan
Keberhasilan program pelayanan kesehatan tergantung berbagai faktor baik
sosial,lingkungan, maupun penyediaan kelengkapan pelayanan/perawatan Kesehatan Ibu
dan Anak memiliki peran yang penting dalam program pelayanan kesehatan baik di
tingkat dasar maupun rujukan.
Dalam pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer),
dapat terlibat sebagai anggota utama dalam tim,berperan dalam pelayanan
kesehatandengan pengutamaan pelayanan pengembangan dan pemeliharaanmelalui
pendekatan promotif dan preventif tanpa mengesampingkan pemulihan dengan
pendekatan kuratif dan rehabilitatif.
Padapelayanankesehatantingkat lanjutan, fisioterapis berperan dalam perawatan pasien
dengan berbagai gangguan neuromuskuler, musculoskeletal, kardiovaskular, paru, serta
gangguan gerak dan fungsi tubuh lainnya. Fisioterapis juga berperan dalampelayanan
khusus dan kompleks, sertatidak terbatas pada area rawat inap, rawat jalan, rawat intensif,
klinik tumbuh kembang anak, klinik geriatri, unit stroke, klinik olahraga, dan/atau
rehabilitasi..

C. Jadwal Kegiatan
Hari Senin Kamis, jam 7. 00 jam 12.00
Hari Jumat
jam 7.00 jam 11.00
Hari Sabtu
jam 7.00 - jam 11.30

BAB III
4

STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang
Terlampir
B. Standar Fasilitas
Setiap
penyelenggaraan

pelayanan

fisioterapi

di

fasilitas

pelayanankesehatandan/atau praktikmandiriharusdidukung peralatan yang memenuhi 2


(dua) jenis peralatan yaitu peralatan pemeriksaan uji/pengukuran, danjenis peralatan
itervensi dalam jumlah yang cukup.
Peralatan intervensi elektroterapeutis dan peralatan lain yang perlu diuji dan
kalibrasi harus dilakukan uji fungsi dan kalibrasi secara
terkait/yang

berwenang,

berkala

oleh

pihak

serta dibuatkanprosedurpenghapusan (recall)sehinggatidak

mengganggu pelayanan.
Peralatan yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pelayanan fisioterapi di
Puskesmas paling sedikit terdiri atas:
a) Stetoskop
b) Tensimeter
c) Meteran gulung
d) goniometer
C.

e) Plumb Line
f) Alat pengukur waktu
g) Cermin
h) Projector
i)

Laptop

j)

Infrared radiation

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
A. Lingkup Kegiatan
5

Keberhasilan program pelayanan kesehatan tergantung berbagai faktorbaik


sosial,lingkungan,

maupun

pelayanan/perawatandimanafisioterapi

penyediaan

kelengkapan

memilikiperanyangpenting

dalam

program

pelayanan kesehatan baik di tingkat dasar maupun rujukan.


Dalampelayanan kesehatantingkatpertama (primer),fisioterapis dapat terlibat
sebagai anggota utama dalam tim,berperan dalam pelayanan kesehatandengan
pengutamaan pelayanan pengembangan dan pemeliharaanmelalui pendekatan promotif
dan preventif tanpa mengesampingkan pemulihan dengan pendekatan kuratif dan
rehabilitatif.
Padapelayanankesehatantingkat lanjutan, fisioterapis berperan dalam perawatan pasien
dengan berbagai gangguan neuromuskuler, musculoskeletal, kardiovaskular, paru, serta
gangguan gerak dan fungsi tubuh lainnya. Fisioterapis juga berperan dalampelayanan
khusus dan kompleks, sertatidak terbatas pada area rawat inap, rawat jalan, rawat intensif,
klinik tumbuh kembang anak, klinik geriatri, unit stroke, klinik olahraga, dan/atau
rehabilitasi.
B. Metode
Pelayanan

fisioterapi

berfokus

pada

pasien

melalui

diaksessecaralangsungataupunmelaluirujukantenagakesehatan

lain

alur

yangdapat

maupun

sesama

fisioterapis. Selainitu perlu adanyaalur rujukan fisioterapi ke fasilitas pelayanan


kesehatan/rumah sakit lain apabila pasien/klien menolak pelayanan fisioterapi dan/atau
fasilitas pelayanan kesehatan tersebut tidak memilikikemampuan pelayanan fisioterapi
yang

diinginkan/dibutuhkan.

Rujukan

tersebut

harus disertai dengan surat

keterangan/catatanklinis fisioterapi yang ditandatangani oleh fisioterapis bersangkutan.


Setelah pelayanan fisioterapi selesai diberikan, fisioterapis merujuk kembali
pasien/klien kepada tenaga kesehatanlain atau fisioterapis perujuk sebelumnya.
Alur

pelayanan

fisioterapi

tertuang

dalam

operasional(SPO)yangditetapkanolehpimpinanfasilitas

standar

pelayanan

prosedur

kesehatandan

diimplementasikan dalam diagram alur yang mudah dilihat/diakses oleh pengguna


dan/atau masyarakat.
1.

Rawat Jalan
a) Pasien yang mengalami/berpotensi mengalami gangguan gerak dan fungsi
tubuh dapat melakukan pendaftaran secara langsung, atau melalui rujukan
dari tenaga medis di poliklinik
setempat/ Dokter

pada

fasilitas

pelayanan

kesehatan

Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP), atau dari

praktikmandiri(denganmembawasuratrujukanfisioterapi)Pelayanan fisioterapi
di

puskesmas

dilakukan

sesuai

dengan

alurpelayanan

berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.


6

dipuskesmas,

b) Setelahpendaftaran,petugasmengarahkanpasienkebagian pelayanan fisioterapi


(sesuai dengan tingkat fasilitas pelayanan kesehatan) untuk mendapatkan
proses fisioterapi yang dilakukan oleh fisioterapis.Asesmen awal diperlukan
untuk menemukan indikasi atau tidaknya program fisioterapi atau untuk
mengarahkan

kebutuhan

kekhususannya.Apabila

fisioterapi
tidak

yang

ditemukan

tepat

sesuai

indikasi,

dengan

fisioterapis

mengarahkan/merujuk pada tenaga kesehatan yang tepat/mengembalikan


kepada perujuk secara tertulis. Apabila ditemukan indikasi awal maka
selanjutnya dilakukan proses sesuai prosedur fisioterapi.
c) Setelah pasien menjalani rangkaian proses fisioterapi dan penyelesaian
administrasinya, pasien dapat pulang atau kembali kepada

dokter/dokter

gigi/DPJP/pengirim sebelumnya disertai pengantar catatan klinis/resume dari


fisioterapis yang bertanggung jawab (dapat disertai rekomendasi).

d)
Poliklinik/Praktek
dokter/Dokter
Spesialis/drg./drg.
Spesialis/DPJP

e)
f)

Mulai

g)
h)
i)

Loket pendaftaran
umum

j)
k)

Asesmen fisioterapis

l)
m)
n)

Indikasi fisioterapi

o)
p)
q)
r)
s)
t)
Administrasi/
u)
penjadwalan
v)
w)
x)
y)
z)
aa)
ab)
ac)
ad)
ae)
af)
ag)
ah)
ai)
aj)
ak)
al)
am)
an)
ao)

Ya

Proses fisioterapi
selanjutnya sesuai
indikasi

Selesai / pulang

2. Rawat Inap
a) DPJPmembuatrujukan/permintaansecaratertuliskepada
fisioterapi/fisioterapis.Selanjutnya petugas ruangan menyampaikan
8

bagian
informasi

rujukan

kepada

fisioterapis bersangkutan/bagian pelayanan fisioterapi untuk

diregistrasi dan ditindaklanjuti.


b) Selanjutnya fisioterapisdapat melakukan asesmen awal untuk menemukan
indikasi.

Apabila

tidak

ditemukan

indikasi,fisioterapissecara

tertulismenyampaikan kepada DPJP.Apabila ditemukan indikasi, maka dapat


langsung

dilakukan

proses

fisioterapiselanjutnya

sesuai

fisioterapi,termasukmenentukan tujuan/target,intervensi maupun


pelayanan fisioterapinya, serta rencana evaluasinya.
secara

Dalam

prosedur
episode

proses

tersebut,

berkala fisioterapis menyampaikan informasi perkembangan secara

tertulis dalam rekam medik.


c) Setelah program fisioterapi selesai, fisioterapis merujuk kembali kepada
Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) dengan

disertai

catatan

klinis

fisioterapi termasuk rekomendasi apabila diperlukan dengan mempertimbangkan


keberlanjutan program fisioterapi pasien setelah selesai perawatan di rumah
sakit.
d) Seluruhprosesfisioterapidicatatdalamrekammedikyang telah disediakan, termasuk
administrasi keuangan.

e)

f)
g)
h)
i)
C. DokterPenanggung
D. JawabPasien (DPJP)

F. Pasien/Klien

E.
G.
H.
I.
J.
K.
L.
M.
N.

O.

P. Bagian
Q. Fisioterapi/fsioterapis

R.
S.
T.
U.
V.
W.
X.

Y. asesmenfisioterapis

Z.
AA.
AB.
AC.
AD.
AE.
AF.

AG.

AH.

Tidak

AJ.

AI. indikasifisiote
rapi

AK.
AL.
AM.
AN.
AO.

AP. Ya
AQ.
AR.

AS.
AT.

AU.
prosesfisioterapi selanjutnya administrasi dan
AV. sesuaiindikasi
Penjadwalan
AW.
AX.
AY.
AZ.
BA.
BB.
Selesai
BC.
BD.
BE.

BF.

Gambar 2.Diagram Alur Pasien Rawat Inap


BG.
BH.
BI.
BJ.
BK.
BL.
BM.
10

D. LANGKAH KEGIATAN
BN.
BO.
Asuhan fisioterapipada pasien merupakan proses siklus kontinyu dan
bersifat dinamis yang dilakukan oleh fisioterapis yang memiliki kompetensi yang
dibutuhkan, diintergrasikan dan dikoordinasikan denganpelayananlainyangterkait
melaluirekammedik,sistem informasi dan sistem komunikasi yang efektif.
BQ.

BP.

1. Assesmen pasien
BR.

Assesmenfisioterapidiarahkanpada diagnosisfisioterapi, terdiri

dari pemeriksaan dan evaluasiyang sekurang-kurangnya memuat data anamnesa


yang meliputi identitas umum,telaah sistemik,riwayat keluhan, dan pemeriksaan
(uji

dan

pengukuran)

impairment,activities

limitation,

pasticipation

restrictions,termasuk pemeriksaannyeri,resikojatuh,pemeriksaanpenunjang (jika


diperlukan), serta evaluasi. Assesmen fisioterapi dilakukan oleh fisioterapisyang
memilikikewenangan

berdasarkan

hasil

fisioterapis

ditetapkan

oleh

yang

kredensial/penilaian

kompetensi

pimpinanfisioterapi.Beberapauji

danpengukuran dalam pemeriksaan fisioterapi:


BS. a) Kapasitas

aerobik

dan

ketahanan(aerobic

capacity/endurance)
BU.

BX.
BZ.

BT.

b) Karakteristik antropometri

BV. c) Kesadaran, perhatiandan kognisi (arousal, attention, and cognition)


BW.

d) Alat bantu dan alat adaptasi(assistiveandadaptive devices)

BY.

e) Circulation (arterial,venous, lymphatic)

CA. f) Integritassarafkranialdansaraftepi(cranialandperipheral
nerveintegrity)
CB. g) Hambatan lingkungan, rumah, pekerjaan, sekolah dan
rekreasi(environmental, home,andwork barriers)
CC. h) Ergonomi dan mekanika tubuh (ergonomics and body mechanics)
CD. i) Berjalan,lokomosidankeseimbangan(gait,locomotion,and balance)
CF.
CH.
CJ.

CM.

CE.

j)

Integritas integument(integumentary integrity)

CG.

k) Integritas dan mobilitas sendi(joint;integrityandmobility)

CI.

l)

Motorfunction(motor control & motor learning)

CK. m) Kinerja otot, antara lain strength, power, tension dan endurance
CL.

n) Perkembangan neuromotor dan integritas sensoris

CN. o) Kebutuhan, penggunaan, keselamatan, alignmen, dan pengepasan


peralatan ortotik, protektif dan suportif.

CR.

CO.

p) Nyeri

CP.

q)

Postur

CQ.

r)

Kebutuhan prostetik
11

CS.
s) Lingkup gerak sendi (ROM), termasuk panjang otot
CT.
t)

Integritas refleks

CU.

CV.

u) Pemeliharaan diri dan penatalaksanaan rumah tangga


CW.

CZ.

(termasuk ADL dan IADL).

CX.

v) Integritas sensoris

CY.

w) Ventilasi dan respirasi

DA. x) Pekerjaan, sekolah, rekreasi dan kegiatan kemasyaraka- tan serta


integrasi atau reintegrasileisure(termasuk IADL).
DB.

Hasil assesmen dituliskan pada lembar rekam medik pasien/klien baik

pada lembar rekam medik terintegrasi dan/atau pada lembarkajiankhusus fisioterapi.


DC.
DD.2. Penegakan Diagnosis
DE.
DF.
Diagnosis fisioterapi adalah suatu pernyataan yang mengambarkan
keadaan

multidimensipasien/klien

dihasilkanmelaluianalisisdansintesisdarihasilpemeriksaan

yang
danpertimbangan

klinisfisioterapi,yangdapatmenunjukkan adanya disfungsi gerak/potensi disfungsi


gerak

mencakup

aktifitas

dan

gangguan/kelemahan

hambatan

fungsitubuh,strukturtubuh,keterbatasan

bermasyarakat.

Diagnosis fisioterapi berupa adanya

gangguan dan/atau potensi gangguan gerak dan fungsi tubuh, gangguan struktur
dan

fungsi,

keterbatasan aktifitas fungsional dan hambatanpartisipasi, kendala

lingkungan dan faktor personal, berdasarkanInternational Classification of


Functioning, Disability and Health (ICF) atau berkaitan denganmasalah kesehatan
sebagaimana tertuang padaInternational Statistical Classification ofDiseasesand
Related Health Problem (ICD-10).
DG.

Diagnosis fisioterapi dituliskan pada lembar rekam medik pasien baik

pada lembar rekam medik terintegrasi dan/atau pada lembar kajian khusus
fisioterapi.
DH.
DI. 3. Perencanaan intervensi
DJ.
DK. Fisioterapis melakukan perencanaanintervensi fisioterapi berdasarkan
hasil assesmen dan diagnosis fisioterapi, prognosis dan indikasi-kontra indikasi,
setidaknya mengandung tujuan, rencanapenggunaanmodalitasintervensi,dandosis,
serta

diinformasikan/dikomunikasikan

kepada

pasien/klienatau

keluarganya.Intervensi berupa programlatihan atau program lain yang spesifik,


dibuat secara tertulisserta melibatkan pasien dan/atau keluarga sesuai dengan
tingkat pemahamannya. Program perencanaan intervensi dituliskan pada lembar
12

rekam medik pasien baik pada lembar rekam medik terintegrasi dan/atau
padalembarkajiankhusus fisioterapi,dapatdievaluasi kembali jika diperlukan dengan
melibatkan pasien/klien atau keluarganya.
DL.
4. Intervensi

DM.
DN.

DO.

Intervensi fisioterapi berbasis bukti mengutamakan keselamatan

pasien/klien,

dilakukan

berdasarkan

program

perencanaan

intevensidandapatdimodifikasisetelahdilakukan evaluasi serta pertimbanganteknis


dengan melaluipersetujuan pasien/klien dan/atau keluarganya terlebih dahulu.
Semua

bentukintervensitermasukdantidak

terbataspadateknologi

fisioterapidibuatkan kebijakan dalambentuk prosedur baku yang ditandatangani dan


disahkan oleh pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan atau fisioterapissendiriuntuk
praktik mandiri. Intervensi khusus berupamanipulasi/massage mempertimbangkan
hak dan kenyamanan pasien/klien dan keluarganya, dilakukan secara etik dengan
fasilitas

dan

ruangan

yang

memadai.Ukuran

keberhasilan

intervensifisioterapimemiliki bahasa yang sama sehingga memberikan dasaruntuk


membandingkan

hasil

yang

berkaitan

dengan

pendekatanintervensi

yangberbeda. Komponen ukuran keberhasilan intervensi berupakemampuan fungsi


termasuk fungsi tubuh dan struktur, aktivitas, dan partisipasi,mengacu pada
diagnosis fisioterapi.
DP.
DQ.5. Evaluasi/Re-Evaluasi
DR.
DS. Dilakukanolehfisioterapissesuai tujuanperencanaan intervensi, dapat
berupa kesimpulan, termasuk dan tidak terbatas pada rencana penghentian program
atau

merujuk

pada

dokter/profesional

lain

terkait.Kewenanganmelakukan

evaluasi/re-evaluasi diberikan berdasarkan hasil kredensial fisioterapi yang


ditetapkan oleh pimpinan fisioterapis.
DT.
DU.6. Komunikasi dan Edukasi
DV.
DW. Fisioterapi menjadikan komunikasi dan edukasi kepada pasien dan
keluarganya,tenaga kesehatan lain terkait, serta masyarakat, sebagai bagian dari
proses pelayanan fisioterapi berkualitas yang berfokus pada pasien.Fisioterapis
memiliki dan menggunakan identitas resmi yang mudah dilihat dan dipahami oleh
pasien dan/atau keluarganyaserta parapemangku kepentingan sebagai bagian dari
identitasprofesi.Fisioterapis memperkenalkan diri dan memberikan informasi
mengenai kondisi pasien/klien serta rencana tindakan/intervensi, termasuk
komunikasi terapeutik pada pasien dan/atau keluarganya.
DX.

Bila ditemukan hal-hal di luar kompetensi, pengetahuan, pengalaman

atau keahlian, fisioterapis merujuk pasien/klien kepada tenaga kesehatan lain yang
tepat dengan disertai resume fisioterapi.Penyelenggaraan pelayanan fisioterapidi
13

fasilitas pelayanan kesehatan, didukung mediakomunikasi dan edukasi agar


prosespelayanan berlangsung sesuai dengan tujuan, termasuk media edukasi berupa
leaflet/brosur yang diperlukan.
DY.
DZ. 7. Dokumentasi
EA. Penyelenggara pelayanan fisioterapi memperhatikan pentingnya dokumentasi
sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalampelayanan fisioterapiyang bermutu
dandapat dipertanggungjawabkan.
EB.
EC.
ED.
EE.
EF.
EG.
EH.
EI.
EJ.
EK.
EL.
EM.
EN.
EO.
EP.
EQ.
ER.
ES.
ET.
EU.
EV.
EW.
EX.
EY.
EZ.
FA.
FB.
FC.
FD.
FE.
FF.
FG.
FH.
FI.
FJ.
FK.
FL.
FM.
FN.
FO.
14

FP.
FQ.
FR.
FS.
FT.
FU.
FV.
FW.

FZ.
GA.
GB.
GC.
GD.
GE.
GF.
GG.
GH.
TEMPAT
GI.
GJ.
GK.
GL.
GM.
GN.
GO.
GP.
GQ.
GR.
GS.
GT.
GU.
GV.
GW.
GX.
GY.
GZ.
HA.
HB.
HC.
HD.
HE.
HF.
HG.
HH.
HI.
HJ.
HK.
HL.

LAMPIRAN :
FX.
FY.DENAH RUANGAN FISIOTERAPI

WASTAFEL

MATRAS

RAK

TIDUR

LEMARI
ALKES
PINTU

15

KACA

HM.
HN.
HO.
HP.
HQ.
HR.
HS.
HT.
HU.

KATA PENGANTAR

HV.
HW.

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Alloh SWT, karena berkat limpahan

rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun pedoman pelayanan ruangan
fisioterapi tahun 2016 dengan baik dan tepat pada waktunya.
HX.

Pedoman ini dibuat dengan berbagai observasi dan bantuan dari berbagai pihak

untuk mmembantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama penyusunan pedoman


pelayanan ini.Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan pedoman pelayanan ini.
HY.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada pedoman pelayanan

ini.Oleh karena itu kami mengharapkan semua pihak yang terkait untuk memberikan saran
dan kritik yang membangun demi penyempurnaan pedoman pelayanan ini.
HZ.

Akhir kata semoga pedoman pelayanan ruangan fisioterapi dapat memberikan

manfaat bagi kita semua.


IA.

ID.
IE.
IF.
IG.
IH.
II.
IJ.
IK.
IL.
IM.
IN.
IO.
IP.
IQ.
IR.
IS.
IT.

16

IB.

Kediri,

IC.

Penulis