Anda di halaman 1dari 2

Arti harfiah dari agoraphobia adalah takut akan keramaian atau tempat terbuka.

Secara lebih khusus


agoraphobia menunjukkan ketakutan akan terperangkap, tanpa cara yang mudah untuk terlepas bila
kecemasan menyerang. Disertai ansietas umum, serangan panik perasaan dizzisness danunsteadiness serta
sering ada depresi atau depersonalisasi.

Keadaan-keadaan yang sulit bagi penderita agoraphobia adalah antri di bank atau pasar swalayan, duduk
di tengah-tengah bioskop atau ruang kelas dan mengendarai bis atau pesawat terbang. Beberapa orang
menderita agoraphobia setelah mengalami serangan panik pada salah satu keadaan tersebut, yang lainnya
hanya merasakan tidak nyaman dan tidak pernah mengalami serangan panik. Agoraphobia sering
mempengaruhi kegiatan sehari-hari, kadang sangat berat sehingga penderita hanya diam di dalam rumah.

Pengobatan terbaik untuk agoraphobia adalah terapi pemaparan, dengan bantuan seorang ahli, penderita
mencari, mengendalikan dan tetap berhubungan dengan suatu hal yang ditakutinya sampai kecemasannya
secara perlahan berkurang karena sudah terbiasa dengan keadaan tersebut (proses ini disebut habituasi).
Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan psikis yang melatarbelakangi
terjadinya kecemasan.

Etiologi agorafobia belum diketahui secara pasti tapi pathogenesis fobia berhubungan dengan faktor
biologis, genetik, dan psikososial.
1.

Faktor Biologi

Sistem neurotransmiter utama yang terlibat adalah neuroepinefrin, serotonin, dan gamma-aminobutyric
acid (GABA). Keseluruhan data biologis telah menyebabkan suatu perhatian kepada batang otak
(khususnya neuron noradrenergik di lokus sereleus dan neuron seretonergik di nucleus raphe medialis),
system limbic (kemungkinan bertanggung jawab untuk terjadinya kecemasan yang terjadi lebih dahulu
(anticipatory anxiety) dan korteks prafrontalis (kemungkinan bertanggung jawab untuk terjadinya
penghindaran fobik).
1.

Faktor genetik

Agorafobia diperkirakan dipicu oleh gangguan panik. Data penelitian menyimpulkan bahwa gangguan ini
memiliki komponen genetik yang jelas, juga menyatakan bahwa gangguan panik dengan agorafobia
adalah bentuk parah dari gangguan panik dan lebih mungkin diturunkan. Beberapa penelitian menemukan
bahwa adanya peningkatan resiko gangguan panik empat hingga delapan kali lipat pada sanak keluarga
derajat pertama pasien dengan gangguan psikiatrik lainnya.
1.

Faktor Psikososial

Fobia menggambarkan interaksi antara diatesis genetika-konstitusional dan stressor lingkungan.


Penelitian menyimpulkan bahwa anak-anak tertentu yang ada predisposisi konstitusional terhadap fobia
memiliki temperamen inhibisi perilaku terhadap yang tak dikenal dengan stres lingkungan yang kronis
akan mencetuskan timbulnya fobia, misalnya perpisahan dengan orang tua, kekerasan dalam rumah
tangga dapat mengaktivasi diathesis laten pada anak-anak yang kemudian akan menjadi gejala yang
nyata.
Keberhasilan farmakoterapi dalam mengobati fobia sosial dan penelitian yang lain yang menunjukkan

adanya disfungsi dopaminergik pada fobia sosial mendukung adanya faktor biologis. Agorafobia
diperkirakan dipicu oleh gangguan panik. Data penelitian menyimpulkan bahwa gangguan panik
memiliki komponen genetik yang jelas, juga menyatakan bahwa gangguan panik dengan agorafobia
adalah bentuk parah dari gangguan panik dan lebih mungkin menurun melalui genetik.