Anda di halaman 1dari 21

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Osilator yaitu suatu rangkaian elektronika yang dapat membangkitkan getaran listrik
dengan frekuensi tertentu dan amplitudonya tetap. Dasar dari sebuah osilator yaitu
sebuah rangkaian penguat dengan sistem feedback, yaitu sebagian sinyal keluaran yang
dikembalikan lagi ke masukan dengan phase dan tegangan yang sama sehingga terjadi
osilasi yang terus menerus.
Adapun beberapa bagian yang menjadi syarat untuk sebuah osilator supaya
terjadi osilasi yaitu adanya rangkaian penguat, rangkaian feedback, dan rangkaian tank
circuit. Rangkaian feedback yaitu suatu rangkaian umpan balik yang sebagian sinyal
keluarannya dikembalikan lagi ke masukan, hal ini salah satu sistem supaya terjadinya
tegangan dan phase yang sama antara input dan output, juga menjadi salah satu syarat
penting terjadinya osilasi pada sebuah rangkaian osilator. Pada umumnya rangkaian
feedback menggunakan komponen pasif R dan C.
Tank circuit yaitu rangkaian yang menentukan frekuensi kerja dari osilator
frekuensi pembawa (carrier), yang digunakan pada aplikasi ini digunakan komponen L
dan C karena semakin tinggi frekuensi yang digunakan maka makin kecil harga
komponen yang digunakan lain halnya menggunakan R dan C karena frekuensi yang
dihasilkan tidak akan bisa mencapai harga yang paling tinggi karena terbatasnya harga
Resistor.
Osilator berdasarkan metode pengoperasiannya menjadi dua kelompok, yaitu
osilator balikan dan osilator relaksasi.Pada Osilator balikan terjadi balikan pada sistemsuara yang digunakan pada suatu pertemuan. Jika mikropon terletak terlalu dekat
dengan speaker, maka sering terjadi proses balikan dimana suara dari speaker terambil
kembali oleh mikropon diteruskan ke amplifier menghasilkan dengung. Kondisi ini
dikenal dengan balikan mekanik.Terjadinya balikan pada sistem ini sangat tidak
diharapkan, namun sistem balikan pada osilator sangat diperlukan.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui prinsip kerja osilator
2. Untuk mengetahui aplikasi osilator dalam elektronika

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


3. Untuk mengetahui cara kerja IC Timer 555
BAB II
DASAR TEORI
Osilator merupakan piranti elektronik yang menghasilkan keluaran bentuk isyarat
tegangan. Bentuk isyarat tegangan terhadap waktu ada bermacam-macam, yaitu bentuk
sinusoida, persedi, segitigam gigi gergaji atau denyut.Osilator berbeda dengan penguat,
oleh karena penguat memerlukan isyarat masukan untuk meghasilkan isyarat keluaran.Pada
osilator taka da isyarat masukan hanya ada isyarat keluaran saja, yang frekuensi dan
amplitude dapat dikendalikan. Seringkali suatu penguat secara tak disengaja menghasilkan
keluaran tanpa masukan dengan frekuensi yang nilainya tak dapat dikendalikan. Dalam hal
ini penguat dikatakan berosilasi.
Osilator digunakan secara luas sebagai sumber isyarat untuk menguji suatu
rangkaian elektronik.Osilator seperti ini disebut pembangkit isyarat, atau pembangkit fungsi
jika isyarat keluarannya mempunyai berbagai bentuk. Osilator juga digunakan pada
pemancar radio dan televise, dan juga dalam komunikasi radio, gelombang mikro, maupun
optic untuk menghasilkan gelombang elektromagnetik yang dapat ditumpangi berbagai
informasi.
Pesawat penerima radio dan televisi juga menggunakan osilator untuk mengolah
isyarat yang datang.Isyarat yang datang ini dicampur dengan isyarat dari osilator local
sehingga menghasikan isyarat pembawa informasi dengan frekuensi lebih rendah. Isyarat
yang terakhir ini dikenal sebagai isyarat if (intermesiete frequency).
Osilator juga digunakan untuk mendeteksi dan menentukan jarak dengan gelombang
mikro (radar) ataupun gelombang ultrasonic (sonar). Selain itu hamper semua alat digital
seperti jam tangan, digital kalkulatr, computer, alat- alat pembanu computer, dan
sebagainya menggunakan osilator. Jelaslah osilator memegang peranan amat penting dalam
dunia elektronik. Pada dasarnya ada tiga macam osilator, yaitu osilator RC, osilator LC, dan
osilator relaksasi.Dua yang pertama menghasilkan isyartat berbentuk sinus sedangkan
osilator relaksasi menghasilkan isyarat persegi segitiga, gigi gergaji atau pulsa.
Osilator RC menggunakan hambatan R dan kapasitansi C untuk mengatur
frekuensi.Isyarat yang dihasilkan dapat diusahakan agar berbentuk sinusoida.Osilator ini
menggunakan balikan positif yang bersifat reaktif, sehingga kondisi osilasi, yaitu

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


v G v ( )=1

hanya berlaku untuk satu nilai frekuensi, yang berakibat isyarat keluaran

berbentuk sinusoida.Ada beberapa macam osilator RC yaitu osilator jembatan RC, osilator
jembatan Wien dan osilator T-kembar.
Osilator jembatan Wien.Suatu perbaikan daripada osilator jembatan RC.Osilator
jembatan Wien dapat dikendalikan dengan menggunakan pengatur penguatan otomatik agar
mempunyai amplitudo yang tetap terhadap waktu.Satu masalah yang timbul pada osilator
RC adalah mengenai kemantapan osilator.Suatu osilator dikatakan tak mantap jika
amplitudo isyarat keluaran terus naik sehingga akhirnya tergunting, atau osilasi tertekan
sehingga tak keluar isyarat.Pembahasan kemantapan osilator memerlukan pengertian teori
kontrol, tetapi di sini dapat disimpulkan hal berikut. Jika penguatan kurang dari 3, osilasi
akan mati dan jika lebih dari 3, isyarat keluaran akan terus menerus membesar sehingga
tergunting. Akibatnya, keluaran tak lagi berbentuk sinusoida.Agar penguatan tetap
mempunyai nilai

K v =3

diperlukan usaha untuk mengatur penguatan secara otomatik.

Osilator RC digunakan untuk menghasilkan isyarat sinusoida frekuensi rendah yaitu


di bawah 500 KHz. Osilator RC tidak menggunakan inductor, dan frekuensi dapat diubah
dengan mengatur hambatan suatu potensiometer. Kita akan membahas osilator LC dengan
osilasi yang diperoleh melalui rangkaian LC parallel. Osiltor LC digunakan untuk
memperoleh isyarat sinusoida dari frekuensi audio hingga frekuensi radio, bahkan sampai
frekuensi gelombang mikro.
Salah satu rangkaian yang merupakan penjelmaan rangkaian dasar osilator dikenal
sebagai osilator Hartley. Osilator Hartley dinyalakan dan dimatikan secara berkala oleh
rangkaian R dan

C1

, sehingga osilator menghasilkan bunyi yang mirip suara anak ayam.

Timbulnya bunyi tersebut dapat kita terangkan sebagai berikut.Sewaktu kapasitor

C1

belum terisi muatan listrik, osilator bekerja sehingga menghasilkan suara.Kapasitor

C1

diisi muatan lewat

VR

dan R sehingga tegangan di basis naik. Suatu saat

VB

transistor melampaui 0,6 volt, transistor akan menjenuhkan sehingga osilasi berhenti. Pada
saat yang sama perubahan arus yang mendadak menghasilkan tegangan imbas pada
yang juga akan mengakibatkan tegangan yang berlawanan pada

L2

L1

. Akibatnya muatan

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


positif kapasitor

C1

akan ditarik melalui

C2

sehingga kosong. Pada saat itu osilator

bekerja lagi sehingga menghasilkan bunyi.Demikian terus terjadi secara berulang-ulang.


Suatu modifikasi lain lagi dari osilator Hartley digunakan untuk mikrofon FM.
Osilator kristal. Agar diperoleh frekuensi yang mantap orang menggunakan kristal
pada rangkaian osilator. Yang dimaksud dengan kristal di sini adalah kristal kuarsa, yaitu
kristal silikondioksida. Kristal ini bersifat piezoelektrik. Sifat piezoelektrik adalah sifat
beberapa macam kristal, jika kristal ini ditekan, antara dua permukaan yang ditekan akan
timbul beda tegangan listrik. Sebaliknya, jika antara dua permukaan kristal diberi beda
potensial listrik terjadilah tekanan mekanis antara kedua permukaan tersebut yang
menyebabkan perubahan bentuk pada kristal.
Sifat piezoelektrik pada kristal kuarsa mengakibatkan kristal ini berperilaku sebagai
suatu sistem resonansi. Lengkung resonansi kristal ini amat tajam, atau mempunyai faktor
Q yang amat tinggi (dalam orde ribuan). Frekuensi resonansi kristal bergantung pada tebal
kristal, dan arah bidang pemotongan kristal menentukan kekuatan osilasi dan perubahan
frekuensi terhadap suhu.
Ch

Kapasitansi C adalah kapasitansi kristal sendiri, dan

adalah kapasitansi

pemegang kristal. C bersama L membentuk rangkaian LC seri, sedangkan

Ch

membentuk rangkaian paralel. Untuk 90 K Hz nilai L = 137 H, C = 0,0235 pF; R = 15 K


Ch

yang berarti Q = 5500. Kapasitansi


kristal ini 30 mm

4 mm

3,5 pF; jadi jauh lebih besar daripada C. Ukuran

1,5 mm. Reaktansi kristal jika R dibaikan, kristal

s
p
bersifat induktif (X 0) untuk daerah frekuensi yang sempit, antara
dan
.
Di luar daerah ini reaktansi kristal adalah kapasitif (X

0). Penggunaan kristal

dalam osilator menjamin kemantapan frekuensi osilasi, artinya frekuensi mempunyai nilai
yang tetap. Keberatan menggunakan kristal ialah karena frekuensi tak dapat dibuat berubah.
Kita hanya bekerja dengan satu nilai frekuensi yang ditetapkan oleh kristal yang digunakan.
(Sutrisno, 1987)
Sebuah osilator pergeseran fase. Penguat mempunyai pergeseran fase 180 0 karena sinyal
mengerakkan input inverting. Output penguat diberikan kembali ke tiga jaringan
mendahului kaskade.Jaringan mendahului menimbulkan pergeseran fase antar 00 dan 900,
tergatung pada frekuensi. Karena itu, pada frekuensi tertentu pergeseran fase total dari tiga

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


jaringan mendahului sama dengan 1800. Hasilnya, pergeseran fase keliling seluruh loop
akan menjadi 3600, ekivalen dengan 00. Jika AB pada frekuensi khusus ini lebih besar
daripada satu, osilasi dapat dimulai.
Analisa yang langsung tetapi rumit dari tiga jaringan lead menuju ke rumus-rumus
ini. Frekuensi osilasi diberikan dengan
f 0=

1
2 RC 6

.........................................................................................................

... (2.1)
Osilator pergeseran fase, dapat juga bekerja dengan tiga jaringan lag. Osilasi terjadi jika
pergeseran fase total dari tiga jaringan lag sama dengan 180o .
Osilator jembatan wien adalah rangkaian osilator standard untuk semua frekuensi
rendah dalam jangkauan dari 5 Hz sampai kira-kira 1 MHz. Ini hampir selalu dipakai dalam
pembangkit audio komersil dan biasanya lebih disukai untuk penggunaan frekuensi rendah
lainnya. Untuk memahami bagaimana osilator jembatan wien bekerja, harus membahas
jaringan lead lag. Dengan rangkain umpan balik, untuk frekuensi rendah sudut fase
mendhului untuk frekuensi tinggi ketinggalan. Yang terutama penting, ada satu frekuensi
dimana pergeseran fase, tepat sama dengan 00, sifat yang penting ini memungkinkan
jaringan lead lag menentukan frekuensi osilasi.
Pada frekuensi yang sangat rendah, kapasitor seri tampak terbuka dan tidak
memperoleh output. Pada frekuensi yang sangat tinggi kapasitor shunt tampak dihubung
singkat dan tidak memperoleh output. Antara kedua hubungan ini tegangan output
mencapai harga maksimum.
Pada frekuensi yang sangat rendah sudut fase adalah positif dan rangkaian bekerja
sebagai jaringan lead. Dipihak lain, pada frekuensi yang sangat tinggi susut fase adalah
negatif dan rangkaian bekerja sebagai jaringan lag frekuensi f0menimbulkan pergeseran fase
00. Karena itu jaringan lead lag bekerja seperti rangkain resonansi; penguatan tegangan
mencapai maksimum pada f0 dan sudut fase menuju ke nol pada f 0.Karena alasan ini, f0
adalah frekuensi resonansi dari jaringan lead lag. Jaringan lead-lag adalah kunci umtuk
bagaimana osilator jembatan wien bekerja.
Jaringan lead lag adalah sisi kiri dari jembatan dan pembati tegangan pada sisi
kanan. Jembatan khusus ini dikenal sebagai jembatan wien dan digunakan dalam berbagai
aplikasi disamping osilator. Tegangan kesalahan adalah output dari jembatan. Jika jembatan
mendekati seimbang, tegangan kesalahan mendekati nol.

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


Jembatan wien adalah contoh dari saringan takik (notch filter), sebuah rangkaian
dengan output nol pada frekuensi tertentu. Untuk jembatan wien frekuensi takik (notch
frequency) sama dengan.
f 0=

1
2 RC ...............................................................................................................

.. (2.2)
Secara ideal kita mendapat osilasi pada f0.Tetapi kenyataannya kita harus mendapat
tegangan kesalahan sedikit, bagaimanapun tingginya penguatan dalam A. dalam osilator
jembatan

Wien

tegangan

kesalahan

adalah

demikian

kecil

sehingga

jembatan

diseimbangkan.
(Albert P. Malvino,1981)
Prinsip osilator.Jika kapasitor C yang dibebankan dibuang melalui kumparan induktansi L
danresistansi R, arusbolak-balik i diperoleh amplitudo yang menurun dengan cepat. Hal ini
sering disebut debit berosilasi. Frekuensi osilasi adalahsekitar 1 / 2LC.Tidak ada osilasi
diamati, namun, ketika sebuah kapasitor bermuatan dibuang melalui resistor; saat kemudian
berkurang sepanjang kurva eksponensial.
Adanya osilasi arus ketika kapasitor C diisi dibuang melalui induktor L dapat
dibuktikan secara matematis di luar cakupan buku ini.Kita dapat memahami dengan
mempertimbangkan analogi mekanik.Jika M dipindahkan sedikit dalam arah horizontal dan
kemudian dilepaskan, sistem berosilasi kesana kemari sepanjang garis horizontal.
Pemeriksaan M dan S, dua komponen menunjukkan bahwa (i) ketika M bergerak tercepat,
melalui posisi terganggu aslinya, S adalah normal dalam panjang, (ii) ketika M adalah
momen saat istirahat musim semi S baik sepenuhnya melingkar, atau sepenuhnya berbaring.
Energi dalam sistem bergantian antara energi kinetik dari M dan energi potensial S. L dan C
dalam sistem mekanik. Energi pada sirkuit listrik disimpan bergantian dalam medan magnet
dari kumparan dan medan listrik dari kapasitor.
Kerugian energi. Amplitudo osilasi listrik berkurang, karena energi yang hilang dari
rangkaian, ini terjadi dalam dua cara: (i) kumparan memiliki beberapa perlawanan, R, yang
menimbulkan kerugian I2R, dan (ii) energy listrik hilang keruang angkasa di luar sirkuit,
terutama ketika arus frekuensi tinggi, fenomena ini dikenal sebagai 'radiasi'. Ini dua
kerugian dapat dijumlahkan, dan jumlah kemudian dapat mempertimbangkan karena
beberapa perlawanan 'efektif', resistansi, R ', di sirkuit.
Variasi amplitudo (ii) dikenal sebagai osilasi teredam, dan diperoleh ketika
gangguan

listrik dimulai dalam L, C sirkuit. Sebaliknya, menunjukkan osilasi terus

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


menerus, yang amplitude konstan, dan untuk mendapatkan mereka energi harus diberikan
terus - menerus untuk L, C sirkuit untuk menebus kerugian yang tak terelakkan terjadi.
Sebagai pengantar untuk osilator LC praktis, mempertimbangkan FET sirkuit
sederhana.Hal ini dikenal sebagai pintu gerbang osilator disetel. Rangkaian menguras berisi
kumparan A digabungkan kekumparan B. Ini memberikan umpan balik postif.
Misalkan rangkaian selesai oleh K. Sebuah gangguan listrik utama kemudian
diproduksi di sirkuit disetel yang mendirikan osilator kecil. Jika kumparan A dengan benar
luka dan posisi relatif terhadap B, energi yang cukup dapat dikembalikan dengan induksi
elektromagnetik ke sirkuit disetel untuk menebus kerugian. Setelah ini osilasi yang telah
dibawa akan teredam, dan mereka akan terus menerus jika energi dari A terus membuat
energy yang hilang disesuaikan di sirkuit. Elektromagnetik penghubung antara A dan B
diwakili oleh panah.
Sejauh ini kita telah memperhatikan kumparan A dan sirkuit yang disetel. Misalkan
kita sekarang mempertimbangkan aksi f.e.t. yang ketika sirkuit dibuat, arus berosilasi
dimulai di sirkuit yang disetel mendirikan sebuah tegangan bolak seluruh kapasitor
tersebut. Ini tegangan antara gerbang dan sumber pada gilirannya membentuk sebuah arus
bolak-balik dalam rangkaian saluran.
Karena B digabungkan ke A tegangan bolak diinduksi dalam B, dan jika hal ini
dalam fase dengan arus berosilasi dalam rangkaian yng disetel osilasi terus terjadi. Dengan
cara ini sirkuit f.e.t. yang bertindak sebagai perangkat yang memasok energi terus menerus
ke sirkuit yang disetel. Sumber energi, perlu dicatat, adalah baterai, yang mempertahankan
arus saat ini.
(M.Nelkon, 1981)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Peralatan dan Komponen
3.1.1. Peralatan dan Fungsi
1. Protoboard
Fungsi : Sebagai tempat merangkai rangkaian sementara
2. Penjepit Buaya
Fungsi : Untuk menghubungkan baterai dengan rangkaian
3. Jumper
Fungsi : Untuk menghubungkan antar komponen dalam rangkaian
4. Multimeter Digital
Fungsi : Untuk mengukur tegangan yang dihasilkan

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


5. Osiloskop
Fungsi : Untuk menghitung waktu terjadinya osilasi
3.1.2. Komponen dan Fungsi
1. IC Timer 555
Fungsi : Sebagai multivibrator dan untuk membuat modulator lebar pulsa
2. Resistor (10 K , 50 K , 100 K )
Fungsi : Sebagai pengatur waktu
3. Kapasitor (10 F)
Fungsi : Sebagai pengatur waktu
4. LED
Fungsi : Sebagai indikator cahaya
5. Baterai 9 Volt
Fungsi : Sebagai sumber tegangan dalam rangkaian osilator
2

Prosedur Percobaan
1 Disediakan komponen dan peralatan yang akan digunakan
2 Diukur komponen menggunakan multimeter untuk melihat baik-buruknya
3

komponen
Dihubungkan kaki 4 dan kaki 8 IC 555 dengan menggunakan jumper pada

protoboard
Dihubungkan kaki 2 dan kaki 6 IC 555 dengan menggunakan jumper

Dihubungkan kaki 8 IC dengan kaki 7 IC dengan menggunakan R1=10 K


Dihubungkan kaki 7 IC dengan kaki 2 IC dengan menggunakan R =10 K

Dihubungkan kaki negatif kapasitor 10

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

positifnya ke kaki 2 atau 6 IC 555


Dihubungkan kaki ground IC 555 ke kaki ground LED
Dihubungkan kaki 3 IC 555 ke kaki positif LED
Dihubungkan osiloskop ke sumber PLN
Dihidupkan osiloskop pada saklar ON
Ditunggu selama 30 detik
Dikalibrasikan osiloskop
Ditekan tombol Autoset
Diatur tegangan dan waktu
Dihubungkan kutub positif dari baterai ke Vcc dengan menggunakan penjepit buaya
Dihubungkan kutub negatif baterai ke kutub negatif osiloskop
Dihubungkan kutub negatif baterai ke kaki ground rangkaian
Dihubungkan kutub positif osiloskop ke kaki 3 IC 555
Dilihat output percobaan pada layar osiloskop yaitu berupa gelombang
Dihitung waktu Ton garis gelombang naik dan waktu Toff garis gelombang turun
Dicatat hasil data percobaan pada kertas data
Digambar grafik pada kertas millimeter
Diulangi percobaan dengan mengganti prosedur nomor 5 dan nomor 6 yaitu dengan

F ke kaki 1 IC 555 (ground) dan

mengganti R1 (20 K ) dan R2 (2 K )

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


25 Dimatikan osiloskop

Skema Rangkaian

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Percobaan

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


No.
1
2

R1
50K
10K

R2
10K
10K

C
10F
10 F

TON
13.4
15.6

TOFF
7.3
10.8

Medan, 29 Maret
2016
Asisten

Praktikan

(Eni Indriani Sinaga)

(Rica Asrosa)

4.2 Analisa Data


1. Menghitung Ton dan Toff Secara Teori
- Menghitung Ton (s) teori :
Ton=0.693 ( R1 + R2 ) C
T1

0.693 ( R1 + R2 ) C

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


T1 0.693 ( 27 k+2 k ) 10 F
T1 0.693 29 . 103 10-5
T 0.20097 s
1

T1 = 200.97 mS
T2

0.693 ( R1 + R2 ) C

T2 0.693 ( 27 k+1 2 k ) 10 F
T2 0.693 39 . 103 10-5
T 0.27027 s
2

T2 = 270.27 mS
-

Menghitung Toff (s) teori :


Toff =0.693 R 2 C
T1

0.693 R2 C

T1 0.693 2 k 10 F
3

T1 0.693 2. 10 10
T1 0.01386 s
T1 = 13.86 mS

T2

0.693 R2 C

T2 0.693 12 k 10 F
T2 0.693 12 . 103 10-5
T2 0.08316 s
T2 = 83.16 mS
2. Menghitung ralat Ton dan Toff (%)
- Menghitung ralat Ton
T teori T praktek
x 100%
% ralat T1 =
T teori
=|

200.97 mS13400
| x 100%
200.97

= 98 %

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


% ralat T2 =

T teori T praktek
x 100%
T teori

270.27 mS1 5600


=|
| x 100%
270.27 mS
= 56,72 %
-

Menghitung ralat Toff


T teori T praktek

x 100%
% ralat T1 =
T teori
=|

13.86 mS7300
| x 100%
13.86 mS

= 52,56 %
T teori T praktek

x 100%
% ralat T2 =
T teori
83.16 mS10800
=|
| x 100%
83.16 mS
= 12,88 %

3.

Menghitung Periode (T)


T = Ton + Toff
a. Secara Teori
T1 = 200.97 mS+13.86 mS
T 1= 214.83 mS
T2= 270.27 mS+ 83.16 mS
T2 = 353.43 mS
b. Secara Praktek
T1 = 13400 mS+7400 mS
T 1= 20800 mS
T2 = 15600 mS+ 10800 mS
T 2= 26400 mS

Menghitung Frekuensi (f)


f=

1
T

a. Secara Teori
1
=0.00465 mHz
f1 = 214.83
1
=0.00289mHz
f2 = 353.43

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


b. Secara Praktek
1
=0.000048 mHz
f1 = 20800
1
=0.000037 mHz
f2 = 26400

4.2 Gambar Percobaan


Osilosko
p

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II

LM 555

Resistor

Kapasit
or

LED

Protoboar
d

Jumper

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Prinsip kerja Osilator adalah sama, perbedaannya hanya pada rangkaian penentu
frekuensi

yang digunakan

untuk masing-masing jenis

pembelajaran untuk topik jenis-jenis

osilator. Kegiatan

osilator feed back membahas tentang:

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


membuat rangkaian osilator RC, menghitung frekuensi osilasi osilator RC, membuat
rangkaian osilator LC, menghitung frekuensi osilasi osilator LC, membuat
rangkaian osilator kristal, menghitung frekuensi osilasi osilator kristal, membuat
rangkaian osilator Colpitts, menghitung frekuensi osilasi osilator Colpitts, membuat
rangkaian Osilator Clapp, menghitung frekuensi osilasi osilator Clapp, membuat
rangkaian Osilator Hartley dan menghitung frekuensi osilasi Osilator Hartley. Pada
dasarnya prinsip kerja semua jenis osilator feed back adalah sama, perbedaannya
hanya pada rangkaian penentu frekuensi yang digunakan untuk masing-masing jenis
osilator.
2. Aplikasi osilator ini diantaranya pada generatorpenyapu horizontal dan vertikal pada
penerima TV. Osilator relaksasi dapat meresponaplikasi frekuensi-rendah dengan
sangat baik.
3. Cara kerja IC Timer 555 adalah bagian pemberi triger, adalah konfigurasi antara
R100K dengan saklar S1 yang berfungsi untuk memberikan triger ke IC 555 sebagai
tanda proses timing dimulai. Bagian penentu waktu timing, merupakan konfigurasi
antara VR 1MOhm dan kapasitor 10 uF yang berfungsi untuk menentukan waktu
atau lamanya timer akan ON atau OF. Dimana lamanya waktu ON atau OFF nya
timer ditentukan oleh waktu proses pengisian kapasitor C 10 uF yang ditentukan
oleh nilai kapasitansi kapasitor 10 uF dan nilai resistansi VR 1 MOhm tersebut.
Bagian beban, adalah relay yang berfungsi untuk menghubungkan antara relay
dengan perangkat yang dikontrol. Relay ini juga berfungsi sebagai isolator antara
kelistrikan timer dengan kelistrikan perangkat yang dikontrol Timer dengan IC 555
ini. Pada relay dipasang dioda yang diparalel secara reverse bias, dioda ini berfungsi
untuk menyerap tegangan induksi dari induktor relay pada saat dihidupkan dan
dimatikan sehingga tidak mempengaruhi sistem kelistrikan rangkaian timer
menggunakan IC 555 ini.
5.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan selanjutnya lebih teliti dalam memasang rangkaian pada
protoboard.
2. Sebaiknya praktikan selanjutnya tepat waktu dalam menghitung kecepatan lampu
pada saat on dan off dengan menggunakan stopwatch.

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


3. Sebaiknya praktikan selanjutnya memahami prinsip kerja osilator dan fungsi
peralatan yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
Sutrisno. 1987. ELEKTRONIKA TEORI DASAR DAN PENERAPANNYA. Bandung :
ITB
Halaman : 153-167

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


Malvino, Albert Paul. 1981. PRINSIP-PRINSIP ELEKTRONIKA. Jakarta : Salemba
Teknika
Halaman : 484-489
Nelkon, M. 1981. ELECTRONICS AND RADIO PRINCIPLES. London : Heinemann
Educational Books.
Pages : 99-101

Medan, 29 Maret
2016
Asisten

Praktikan

( Eni Indriani Sinaga)

(Rica Asrosa)

Nama :

Rica Asrosa

NIM

140801069

Judul :

Osilator

Tugas Persiapan

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


1. Cari teori tentang osilator yang bersesuaian dengan tujuan praktek diatas
2. Siapkan lembaran data IC NE atau LM 555
Jawab
:
1. Teori yang berhubungan dengan tujuan yaitu tentang perakitan osilator, pembuatan
osilator monostable, astable dan menghitung frekuensi, waktu dan duty cycle
Monostable multivibrator merupakan salah satu pengembangan oscliator tipe relaksasi
dengan pemicu (trigerred). Multivibrator monostable memiliki satu kondisi stabil sehingga
sering juga disebut sebagai multibrator one-shot. Saat osilator terpicu untuk berubah ke
suatu kondisi pengoperasian, maka pada waktu singkat akan kembali ke titik awal
pengoperasian. Konstanta waktu dari rangkaian tank circuit RC menentukan periode waktu
perubahan keadaan. Rangkaian memiliki dua kondisi yaitu kondisi stabil dan kondisi tak
stabil. Rangkaian akan rileks pada kondisi stabil saat tidak ada pulsa. Kondisi tak stabil
diawali dengan pulsa pemicu pada masukan. Setelah selang waktu 0,7 R2C1, rangkaian
multivibrator kembali ke kondisi stabil. Rangkaian monostable multivibrator tidak
mengalami perubahan sampai ada pulsa pemicu yang datang pada jalur input oscilator.
Rangkaian Monostable Multivibrator Pada saat pertama kali sumber tegangan DC diberikan
ke rangkaian multivibrator monostable diatas. Awalnya tidak ada pulsa masukan pemicu,
Q2 mendapatkan bias maju dari rangkaian pembagi tegangan R2, D1 dan R5. Harga R2
dipilih agar Q2 mencapai titik jenuh. Resistor R1 dan R3 masing-masing membuat kolektor
Q1 dan Q2 mendapat bias mundur. Dengan basis Q2 mendapat bias maju, maka transistor
menjadi jenuh dengan cepat. Tegangan kolektor Q2 drop kenilai sangat rendah dan
terhubung ke basis Q1 melalui R4. Namun VB tidak cukup besar untuk membuat Q1
berkonduksi. Karenanya rangkaian akan tetap berada pada kondisi ini selama daya masih
diberikan, sehingga rangkaian berada pada kondisi stabil sampai ada sinyal picu (triger)
yang diberikan ke jalur input rangkaian multivibrator monostabil. Untuk mengawali suatu
perubahan, pulsa pemicu harus diberikan pada jalur input rangkaian monostable
multivibrator. C2 dan R5 pada rangkaian masukan membentuk jaringan deferensiator. Tepi
kenaikan (leading edge) dari pulsa pemicu menyebabkan terjadinya aliran arus yang besar
melalui 5 R . Setelah C2 mulai termuati arus lewat R5 mulai menurun. Saat pulsa pemicu
sampai pada tepi penurunan (trailing edge), tegangan C2 jatuh ke nol. Dengan tidak adanya
sumber tegangan yang dikenakan pada C2 , kapasitor akan terkosongkan melalui R5.
Karena pulsa dengan polaritas berkelablikan terjadi pada tepi penurunan pulsa input. Pulsa
input kemudian berubah ke positif dan suatu pulsa negatif tajam (negative spike) muncul
pada R5. D1 hanya berkonduksi selama terjadi negative spike dan diumpankan pada basis

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


Q2. Ini mengawali terjadinya perubahan pada multivibrator. Gambar berikut merupakan
diagram waktu antar pulsa pemicu dan keluaran yang dihasilkan monostable multivibrator.
Sinyal Triger Dan Output Monostable Multivibrator Saat basis Q2 pada rangkaian
multivibrator monostable menerima negative spike, ini akan membawa transistor ke arah
cutoff. Ini akan mengakibatkan tegangan kolektor Q2 naik dengan cepat ke harga +VCC
dan membuat basis Q1 menjadi positif. Saat Q1 berkonduksi, sehingga resistansi
sambungan kolektor-basis menjadi sangat rendah. Arus pengisian mengalir melewati Q1,
C1 dan R2. Kaki R2 bagian bawah menjadi negatif akibat pengisian C1 dan mengakibatkan
basis Q2 negatif. Q2 tetap berada pada keadaan cutoff. Proses ini akan tetap berlangsung
sampai C1 terisi. Arus pengisian lewat R2 kemudian akan menurun dan bagian atas R2
menjadi positif. Q2 secepatnya menjdi berkonduksi dan membawa Q1 cutoff. Rangkaian
multivibrator monostable kembali berubah pada kondisi stabil dan akan terus dipertahankan
sampai

ada

pulsa

masukan

pemicu

berikutnya

datang.

Sirkuit ini merupakan astabil multivibrator , atau osilator . Kedua transistor lintas
digabungkan sedemikian rupa bahwa rangkaian switch bolak-balik antara dua
negara. Dalam satu negara, dasar Q1 adalah sekitar satu tetes dioda di atas tanah,
memungkinkan arus basis mengalir. terus Q1 ini diaktifkan, dalam mode saturasi,
memungkinkan arus mengalir melalui kolektor, menjaga tegangan kolektor Q1 rendah, dan
pemakaian C1. Q2 dimatikan, karena tegangan basisnya tidak cukup tinggi untuk
menyalakannya.
Sebagai kolektor saat ini menjadi Q1 biaya C1, tegangan dasar untuk Q2 naik, sampai
cukup tinggi untuk beralih pada Q2, menyebabkan arus mengalir melalui kolektor, yang
tetes tegangan kolektor (arus menyebabkan penurunan tegangan resistor di atasnya). Sisi
kanan C2 telah menurun, tetapi tegangan itu tidak berubah, jadi ini menyebabkan tegangan
basis Q1 untuk turun di bawah tanah, mematikan itu.
Maka kita mendapatkan bagian lain dari siklus, dengan arus yang mengalir melalui Q2. Ini
terus berlanjut sampai Q1 menyala, dan kemudian siklus berulang.
Frekuensi dari osilator ini ditentukan oleh tahanan R, kapasitor C dan impedansi masukan
dari inverter yang digunakan. Secara umum dapat dikatakan bahwa frekuensi keluaran
adalah :
f=kxRxC

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR II


dimana k adalah konstanta yang harus dicari dengan eksperimen. Gerbang TTL yang dapat
digunakan pada osilator ini antara lain ialah SN7414 (Hex Schmitt Trigger Inverter) dan
SN7413 (Dual 4-input Schmitt Trigger NAND Gate). MC40106 dari keluarga CMOS juga
dapat digunakan untuk osilator ini.
2. Data IC NE atau LM 555
Terlampir