Anda di halaman 1dari 100

BUKU-7

MAKALAH
PANDUAN TATA CARA
PEMERIKSAAN dan PENGUJIAN
LIF dan ESKALATOR

Ditulis oleh:
Ir. SARWONO KUSASI

100

PRAKATA

Kita tidak mau terkecoh pada asumsi bahwa operasi semua pesawat lif itu aman, dengan
alasan komponen-komponennya telah dijamin dengan sertifikat uji keteknikan dari pabrik
pembuat. Pemeriksaan atas instalasi pesawat yang baru selesai dipasang mutlak harus
dilaksanakan oleh seorang yang ahli dan kompeten, apakah sesuai dengan persyaratan
teknis yang dituntut dalam SNI dan apakah lengkap sesuai dengan spesifikasi dokumen
tender.
Demikian pula pengujian kinerja atas alat-alat pengamannya, mutlak harus dilaksanakan
dan hasil-uji harus diukur, dan diverifikasi dengan ketentuan-ketentuan parameter yang
tercantum dalam SNI. Pengujian tersebut harus diulang tiap-tiap tahun, untuk
memastikan apakah alat-alat pengamannya masih berfungsi sebagaimana mestinya.
Pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian peralatan-peralatan pesawat lif harus
dilaksanakan oleh seorang petugas yang ahli dan kompeten dari perusahaan jasa K3
(instalasi lif) yang bertanggung jawab atas nama pengelola/pemilik bangunan gedung.
Tujuan pemeriksaan dan pengujian lif adalah untuk mencegah kemungkinan kecelakaan
maupun insiden, serta mengeliminasi sumber-sumber bahaya yang mungkin ada pada
peralatan/komponen lif dengan memenuhi ketentuan-ketentuan yang terdapat pada SNI.
SNI pemeriksaan dan pengujian lif traksi adalah sumber segala persyaratan dan rujukan
teknis yang seharusnya sama-sama kita patuhi untuk diterapkan pada tiap-tiap satuan
inslatasi lif baik yang baru maupun yang lama. Memang sudah waktunya kita sama-sama
menyadari pentingnya memanfaatkan SNI dalam kehidupan kita sehari-hari.

i
97

DAFTAR ISI
Prakata

Daftar isi

Pendahuluan
.
1. Ruang lingkup

2. Acuan
.
3. Istilah dan definisi
..
4. Persiapan dan tindakan hati-hati

5. Kualifikasi dan kategori Pemeriksa dan Penguji

6. Tatacara pelaksanaan dan kewajiban pelaksana


.
7. Jenis pemeriksaan dan pengujian
. ..
8. Objek pemeriksaan dan pengujian
.
9. Ketentuan instalasi tua
.
10. Operasi kebakaran
.
11. Persyaratan lif untuk penyandang cacat
..

i
ii
iii
1
1
2
5
7
8
10
12
12
13
14

Lampiran :
L-1 Contoh surat pemberitahuan dan permohonan pemasangan,
. 15
pengujian dan perubahan teknis
L-2 Contoh label tanda uji keselamatan kerja dan plakat peringatan
17
L-3 Contoh formulir hasil pemeriksaan awal (serah terima)
. 20
L-4 Contoh formulir pemeriksaan rutin berkala tahunan.
.. 24
L-5 Contoh formulir hasil pengujian awal (serah terima).
. 32
L-6 Contoh formulir pengujian ulangan.
. 38
L-7 Contoh formulir pemeriksaan dan pengujian perubahan teknis.
43
L-8 Contoh formulir pemeriksaan penyidikan kecelakaan
. 45
L-9 Panduan persyaratan minimal kualifikasi kompetensi
51
keterampilan dan keahlian.

Daftar Singkatan
AK3
SIP
SIPTB
SNI
PUIL
APPLE
PJIL
PJPL
PJPP
LPJK
PerMen
HAPBI

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Surat Izin Operasi
Surat Izin Pelaku Teknik Bangunan
Standar Nasional Indonesia
Persyaratan Umum Instalasi Listrik
Assosiasi Produsen dan Pemborong Lif dan Eskalator
Perusahaan Jasa Instalasi Lift
Perusahaan Jasa Perawatan Lift
Perusahaan Jasa Pemeriksa Pesawat
Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi
Peraturan Menteri
Himpunan Ahli Perawatan Bangunan

ii
99

PENDAHULUAN

Instalasi pesawat lift dan eskalator yang dimaksud dalam tulisan ini ialah lif-penumpang,
lif-barang, lif hidrolik, lif-perumahan dan lift rumah sakit (bed elevators), serta segala
jenis eskalator termasuk lantai jalan (moving walks atau passenger conveyors).
Petugas Pemeriksa dan Penguji instalasi pesawat harus memenuhi persyaratan minimum
yang ditetapkan oleh instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan peraturan yang
berlaku, serta menyandang tanggung jawab atas semua fungsi dan kinerja peralatan
keselamatan. Dengan demikian maka resiko kecelakaan atau sumber bahaya yang
mungkin ada dapat ditekan seminimal mungkin, atau dieliminer, sebagai bentuk
aktualisasi Undang-undang No.28 tahun 2002 tentang Bangunan gedung, dan Peraturan
Menteri Nakertrans no.03/MEN/1999 dan Perda DKI no.132 tahun 2007.
Pemeriksaan dan pengujian adalah suatu proses yang sangat penting dalam rangkaian
kepastian keamanan dan keandalan pesawat. Pada dasarnya pengelola bangunan gedung
adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas semua peralatan yang dipasang di
dalam gedungnya. Oleh karena itu petunjuk-petunjuk dalam standar ini harus
diperhatikan dengan seksama, baik dalam hal rincian pemeriksaan dan pengujian alat-alat
utama dan alat-alat pengaman terhadap sumber bahaya, maupun dalam hal kejelasan
program penjadwalan perawatan oleh perusahaan perawatan instalasi lift (PJPL) serta
kualifikasi keterampilan petugas teknisinya.

iii
98

PANDUAN TATA CARA PEMERIKSAAN dan


PENGUJIAN LIFT dan ESKALATOR
BAB I

RUANG LINGKUP

1.1. Tulisan ini merupakan petunjuk dan panduan bagi Pemeriksa dan Penguji yang
diterapkan pada pesawat lif traksi listrik, lif hidrolik dan tangga jalan (eskalator),
ataupun lantai jalan (moving walks, passenger conveyors).
Tulisan ini berlaku atas semua instalasi pesawat yang dipasang dimanapun
sepanjang menyangkut pemeriksaan dan pengujian peralatan pengaman demi
keselamatan umum, tetapi tidak mencakup pemeriksaan dan pengujian atas pesawat
yang digunakan mengangkut barang-barang berbahaya termasuk yang dipasang
dalam pabrik bahan peledak atau sejenisnya.
1.2. Tulisan ini tidak dimaksud untuk memeriksa dan menguji daya guna sistem, serta
ketentuan-ketentuan yang terkait, diantaranya efisiensi motor, jenis transmisi, daya
angkut gabungan (group handling capacity) waktu tunggu dilantai utama (lobby),
percepatan dan/atau perlambatan, perataan pada muka lantai (floor leveling),
getaran, ambang suara, dan kemampuan frekuensi jalan henti per-jam (start stop
per-hour).
1.3. Tulisan ini juga mengatur petunjuk umum atas pemeriksaan operasi kebakaran dan
pemeriksaan terhadap lif yang digunakan oleh penyandang cacat, sepanjang sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
BAB II

ACUAN

Penerapan tulisan ini dapat lebih dipertegas dengan menelusuri secara langsung dokumen
acuan berikut ini :
SNI.03-2190-1999

Syarat-syarat umum konstruksi lif penumpang yang dijalankan


dengan motor traksi.

SNI.03-2190.1-2000 Syarat-syarat umum konstruksi lif yang dijalankan dengan


transmisi hidrolik.
SNI.03-2190.2-2000 Syarat-syarat umum konstruksi lif pelayan (dumbwaiter) yang
dijalankan dengan tenaga listrik.
SNI.03-6247.1-2000 Syarat-syarat umum konstruksi lif pasien.
SNI.03-6247.2-2000 Syarat-syarat umum konstruksi lif penumpang khusus untuk
perumahan.
SNI.03-6248-2000

Syarat-syarat umum konstruksi eskalator yang dijalankan dengan


tenaga listrik.

SNI.05-7052-2004 * Syarat-syarat umum konstruksi lif penumpang yang dijalankan


dengan motor traksi tanpa kamar mesin.
SNI-03-6573-2001

Tatacara rancangan sistem transportasi vertikal dalam gedung.

SNI-03-7017-2004

Pemeriksaan dan Pengujian Lift traksi listrik pada bangunan


gedung.

BAB III

ISTILAH dan DEFINISI

3.1. Perawatan (pemerliharaan)


Upaya yang dilaksanakan dengan cara teratur dan berkala, merawat, memeriksa,
dan menguji kinerja peralatan pesawat, agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
Catatan : termasuk dalam pekerjaan pemeliharaan adalah membersihkan, melumasi, reparasi dan
menyetel peralatan.

3.2. Pemeriksaan (inspeksi)


Tindakan secara sistimatis mencari fakta daya kerja peralatan pesawat dibandingkan
dengan kinerja yang dipersyaratkan dan diikuti dengan laporan dan rekomendasi.
Catatan : petugas pemeriksa disebut juga inspektur, adalah seorang atau badan independen yang
telah memenuhi persyaratan tertentu.

3.3. Reparasi
Tindakan mengembalikan fungsi peralatan pesawat yang rusak, termasuk
penggantian suku cadang.
3.4. Penyetelan (adjustment)
Usaha melaksanakan pekerjaan teknis memverifikasi peralatan pesawat agar dapat
berfungsi secara maksimal sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
Catatan : teknisi penyetel disebut juga adjuster, dan bertindak sebagai penguji.

3.5. Pesawat (mechanical device)


Suatu sistem rangkaian konstruksi mekanis yang dapat menghasilkan suatu kerja
tertentu sesuai rancangan, jika diumpan dengan sumber tenaga.
Catatan : yang dimaksud pesawat dalam lingkup tulisan ini, adalah satuan lif dan eskalator,
disamping satuan peralatan mekanis.

3.6. Perubahan teknis (technical alterations)


Segala tindakan teknis menambah atau merubah bagian-bagian peralatan pesawat
dengan maksud meningkatkan daya kerja dan daya guna yang lebih baik.
3.7. Modernisasi
Bentuk dari perubahan teknis instalasi pesawat yang menyangkut seluruh sistem
peralatan pesawat untuk meningkatkan kinerja dan daya guna (efisiensi).
Catatan : modernisasi disebut juga peremajaan.

3.8. Pengujian
3.8.1. Pengujian awal (serah terima)
Usaha uji coba teknis menjalankan suatu instalasi pesawat yang baru selesai
terpasang dan melaksanakan penyetelan agar peralatan pesawat berfungsi
sebagaimana mestinya sesuai standar dan peraturan yang berlaku.
Catatan : pengujian serah terima disebut juga pengujian awal.
2

3.8.2. Pengujian ulang


Pengujian yang harus dilakukan berulang-ulang tiap-tiap tahun atas suatu instalasi
pesawat, untuk memastikan alat-alat pengamannya bekerja sebagaimana
mestinya.
3.8.3. Pengujian berkala
Pengujian ulang yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, atau tiap-tiap
lima (5) tahun sekali, menyangkut semua fungsi dan kondisi peralatan dengan
maksud mencegah kerusakan dan mengeliminer sumber-sumber bahaya.
Catatan : 1.

2.

Penguji adalah seorang teknisi yang memenuhi persyaratan kompetensi kecakapan


sesuai dengan peraturan yang berlaku dan merupakan pegawai dari perusahaan
jasa pemasangan.
Pelaksanaan pengujian harus diikuti dengan laporan hasil penemuan gejala-gejala
dan rekomendasi.

3.9. Kajian teknis


Pemeriksaan menyeluruh suatu instalasi pesawat oleh pihak ketiga (independen)
untuk menilai (assessment) kinerja sistem dan menilai fungsi tiap-tiap peralatan
dibandingkan dengan kinerja yang dipersyaratkan.
Catatan : laporan kajian teknis disertai rekomendasi atas kemungkinan reparasi, perubahan
dan/atau modernisasi (peremajaan).

3.10. (a). Kajian perawatan (maintenance audit)


Penilaian (assessment) oleh pihak ketiga atas suatu hasil kerja perawatan yang
dilakukan oleh perusahaan jasa perawatan, untuk menetapkan suatu nilai
tingkat (derajat) efektivitas kinerjanya dibandingkan dengan persyaratan atau
standard yang berlaku.
(b). Kajian teknis (technical assessment)
3.11. Teknisi lif

Seorang yang memiliki sertifikat kualifikasi ketrampilan bidang tertentu dan


memperoleh izin bekerja profesi (SIBP) atau surat izin operasi (SIO) dari instansi
resmi yang terkait.
3.12. Pejabat pengawas
Pegawai dari instansi pemerintah terkait yang ditunjuk oleh Menteri, untuk
menjalankan tugas-tugas pengawasan atas dilaksanakannya peraturan Menteri.
3.13. Bimbingan teknis
Pelatihan keterampilan teknis untuk menguasai ilmu teori dan praktek lapangan
oleh asosiasi atau organisasi terakreditasi yang minimal dibutuhkan oleh teknisi lif
agar memperoleh sertifikat kualifikasi (kecakapan).
3.14. Surat izin operasi (SIO)
Surat keterangan yang dikeluarkan oleh instansi resmi yang berwenang sebagai
tanda bahwa teknisi memiliki kecapakan melaksanakan pekerjaan tertentu dengan
syarat-syarat yang ditetapkan.

3.15. Sumber bahaya (hazard)


Suatu kondisi rawan dari suatu peralatan yang berpotensi penyebab terjadinya
kecelakaan.
3.16. Kecakapan
Persyaratan peringkat yang ditetapkan oleh organisasi terakreditasi atau badan
resmi dengan sertifikat peringkat keterampilan tertentu, mampu melaksanakan tugas
yang dibebankan.
3.17. Kompetensi (kemampuan)
Status keahlian atau ketrampilan atas dasar pengetahuan pengalaman kerja dan
sikap tugas dalam pelaksanaan tugas di bidangnya ditetapkan oleh instansi atau
lembaga resmi, dengan merujuk standar kriteria unjuk kerja (kuk).
3.18. Persyaratan teknis (engineering requirements)
Suatu batas-batas kriteria fungsi dan kinerja yang ditetapkan oleh organisasi atau
badan resmi terhadap alat tertentu sesuai dengan fungsinya melalui uji teknis
dilaboratorium (engineering test).
3.19. Kemampuan teknis (engineering type test)
Kinerja komponen (atau alat) yang diterima dan diakui oleh para ahli dan ilmuwan
melalui test laboratorium, dan diresmikan dalam lembaran-lembaran ilmiah
dan/atau standar nasional.
3.20. Akreditasi (accreditation)
Pengakuan secara resmi dari suatu badan yang berwenang kepada organisasi yang
terbukti mampu untuk melaksanakan tugas pendidikan atau pelatihan atau tugas
tertentu lainnya, untuk maksud pemberian sertifikat kompetensi.
3.21. Sertifikasi (certification)
Tanda lulus uji seseorang dengan persyaratan tertentu untuk dapat melaksanakan
tugas dan mengemban tanggung jawab atas tugasnya.
3.22. Kualifikasi (qualification)
Istilah lain kecakapan, adalah peringkat status seseorang yang ditetapkan oleh
organisasi terakreditasi mampu melaksanakan tugas-tugas tertentu yang dibebankan
padanya.
3.23. Ahli, keahlian (expertness)
Istilah lain pakar atau mahir adalah karakteristik seseorang yang menguasai
ilmu pengetahuan, dan penerapannya atas bidang pekerjaan tertentu yang harus
dilaksanakan sesuai dengan standar kinerja yang dipersyaratkan.
3.24. Organisasi (organisation)
Suatu proses atau tindakan pengaturan secara sistematis, atau suatu badan yang
melaksanakan organisasi.
3.25. Asosiasi (association)
Perkumpulan orang-orang yang mempunyai kepentingan dan tujuan yang sama, dan
berkarya dengan kepengurusan, untuk kemaslahatan.
4

3.26. Terampil, keterampilan (skillfulness)


Kemampuan khusus melaksanakan pekerjaan bidang tertentu untuk mewujudkan
karya terapan praktis yang diperoleh dari pembelajaran dan latihan terus menerus.
3.27. Tatalaku (aptitude)
Sikap seseorang yang secara wajar dapat tanggap atas penyesesuainnya dengan
kondisi lingkungan dan merasa bertanggung jawab.
3.28. Penilaian mutu (quality assessment)
Upaya yang dilakukan untuk memastikan taraf atau kadar atau derajat fungsi dan
keandalan suatu sistem pesawat dibandingkan dengan kriteria unjuk kerja yang
telah dipersyaratkan.
BAB IV

PERSIAPAN dan TINDAKAN HATI-HATI

Pelaksana pemeriksa (inspektur) dan seorang teknisi penguji instalasi pesawat lift harus
menyadari adanya potensi bahaya selama melakukan pekerjaan. Oleh karena itu
pelaksana harus secara profesional membekali diri dengan pengetahuan sumber-sumber
bahaya dan menunjukan tatalaku bertanggung jawab. Pelaksana dianjurkan memakai alatalat pelindung diri dimana diperlukan, selama melaksanakan tugasnya.
4.1. Pelaksana harus memakai pakaian kerja berlengan pendek tidak berdasi, celana
tidak longgar (gombrong), memakai sepatu yang bersol tidak licin, dan siap
melengkapi diri dengan lampu senter, buku catatan dan pensil, serta alat dan
instrumen yang diperlukan.
4.2. Pelaksana tidak boleh memakai jam tangan, cincin ataupun gelang.
4.3. Pelaksana dianjurkan memakai sarung tangan.
4.4. Waktu bertugas diatas atap kereta, diusahakan berpegangan pada bagian rangka
kereta yang aman atau pada pagar (railing) yang terdapat diatap kereta.
4.5. Sebelum bagian-bagian alat listrik diperiksa, aliran listrik ke bagian yang diperiksa
harus dimatikan dan pada sakelarnya harus diberi tanda peringatan bahwa lif atau
eskalator sedang diperiksa. Terutama pemeriksaan terhadap eskalator, sumber
tenaga listrik utama terlebih dulu harus diputus dan gagang sakelarnya dikunci atau
diikat dengan gembok.
4.6. Harus tersedia sarana kendali operasi diatas atap kereta antara lain :
a) tombol untuk menggerakkan kereta (ke atas dan ke bawah) dengan kecepatan
manual inspeksi (inspection speed) kurang lebih 0,63 m/s.
b) Sakelar henti darurat (emergency stop switch) yang dapat memberhentikan
kereta sewaktu-waktu dalam keadaan darurat, dan
c) lampu pencahayaan yang terlindung. Pelaksana harus senantiasa waspada atas
bagian-bagian lif yang bergerak, atau benda-benda yang menonjol atau mencuat
dari dinding ruang luncur.

4.7. Pemasangan barikade sangat dianjurkan untuk menghindari orang-orang awam


mendekat, terutama selama pemeriksaan eskalator dan pintu-pintu lantai.
4.8. Peralatan berikut ini perlu dipersiapkan untuk pemeriksaan :
1. Lampu senter (sorot), jenis non konduktif
2. Mistar gulung 2 m dari bahan non konduktif
3. Satu set alat tera (feeler gauge, dsb)
4. Palu kecil (0.2 kg) yang berkepala
5. Kapur tulis, untuk menggores tanda
6. Kaca cermin kecil dan kaca pembesar
7. Kunci gembok, sesuai untuk mengunci gagang saklar
8. Kaliper / sikmat, dan alat-alat ukur lain
9. Satu salinan persyaratan teknis pemeriksaan
10. Satu salinan peraturan yang berlaku dan yang terkait
11. Satu set salinan daftar simak
12. Buku catatan dan pinsil
4.8.2. Peralatan berikut ini perlu disiapkan untuk pengujian :
1. Stop watch (pengukur selang waktu)
2. Tachometer (pengukur kecepatan)
3. Megger (ohm meter), multitester dan ammeter
4. Waterpas (leveling gauge)
5. Dynamometer (instrumen untuk mengukur gaya pintu menutup)
6. Alat tera beban (test weight) bermacam-macam satuan (5 kg s/d 50 kg).
7. Lain-lain alat bantu yang dianggap perlu dalam pelaksanaan pengujian yang
harus dipersiapkan oleh perusahaan jasa pemasangan instalasi lif (PJIL) atau
oleh perusahaan jasa perawatan lif (PJPL).
4.9. Pelaksana berhak menolak pemeriksaan peralatan dalam pit, jika pit tergenang air,
atau kotor berlumpur dengan maksud menghindari kecelakaan atau sengatan listrik.
4.10. Pelaksana dianjurkan mengikuti prosedur masuk-turun ke pit sebagai berikut :
a. Seorang teknisi pembantu didalam kereta atau diatas atap kereta menjalankan
kereta keatas dari lantai 1 (lobi) ke lantai 2 dan lif dimatikan, atau dirubah ke
operasi manual inspeksi (inspection mode).
b. Seorang teknisi atau inspektur membuka pintu lantai-1 (terminal terbawah)
dengan menggunakan kunci darurat pembuka pintu.
c. Setelah pintu terbuka, perlu diganjal agar pintu tetap terbuka jika perlu matikan
saklar henti darurat yang ada di pit.
d. Aktifkan saklar untuk menyalakan lampu pencahayaan dalam pit.
e. Turun melalui tangga monyet (cat ladder) yang tersedia didekat/samping pintu.
Pastikan tangga tidak licin berminyak (jika dalamnya pit hanya 0.90 m, atau
lebih dangkal, kemungkinan tidak terdapat tangga).
f. Perhatikan batas-batas daerah aman dan daerah bebas bergerak didalam pit.
g. Teknisi pembantu boleh menjalankan kereta hanya atas perintah teknisi atau inspektur
yang berada dalam pit.

4.11. Pelaksana dianjurkan mengikuti prosedur naik keatap kereta, sebagai berikut :
a. Seorang operator didalam kereta menjalankan lif turun dari lantai-2 ke lantai-1
dan hentikan lift diantara kedua lantai tersebut (kira-kira bergerak selama 4
detik), dengan cara mengaktifkan saklar henti daurat.
b. Seorang teknisi atau inspektur membuka pintu lantai-2 (dari mana lif tersebut
mulai bergerak). Setelah pintu terbuka, terdapat atap kereta telah hampir sama
rata dengan lantai-2. Yakinkan pintu lantai diganjal jika ingin lebih lama pintu
dibuka.
c. Perhatikan lebih dulu dimana posisi saklar henti darurat, saklar-saklar operasi
inspeksi, saklar lampu pencahayaan dan bagian-bagian aman tempat berpegang,
termasuk pagar (railing) sekeliling atap kereta.
d. Melangkah naik keatap kereta dan segera operasi lif dirubah dari normal ke
manual inspeksi (inspection mode). Perintahkan operator dalam kereta, untuk
aktifkan kembali lif, agar dapat dioperasikan (secara manual inpeksi) dengan
kecepatan kira-kira 0.60 m/s dan maksimal 0.75 m/s.
e. Selama pelaksanaan pemeriksaan diatas kereta, operasi lift tetap harus manual
inspeksi.
f. Saklar pemindah normal ke inspeksi harus terlindung agar tidak kembali ke
operasi normal secara tidak sengaja.
g. Selama beridiri diatap kereta yang bergerak, selalu perhatikan tonjolan-tonjolan
pada dinding ruang luncur yang dapat membahayakan, dan perhatikan
pertemuan kereta dengan bobot imbang pada lokasi kira-kira ditengah-tengah
ruang luncur.
BAB V

KUALIFIKASI dan KATEGORI PEMERIKSA dan PENGUJI

5.1. Pemeriksa dan Penguji masing-masing harus memenuhi persyaratan kualifikasi


kompetensi untuk bidang keahlian tertentu yang ditetapkan (sertifikasi) oleh badan
atau organisasi resmi yang telah diakreditasi oleh Lembaga Pengembangan Jasa
Konstruksi (LPJK) atau oleh instansi pemerintah terkait. Sertifikat tersebut
kemudian diakui oleh instansi terkait untuk jangka waktu tertentu.
Panduan persyaratan kualifikasi Pemeriksa dan Penguji tidak harus mengambil
basis peraturan pemerintah yang mungkin ada, tetapi merupakan suatu petunjuk
persyaratan minimal yang harus dipenuhi. Lihat lampiran No. L-9 mengenai
panduan persyaratan minimal kualifikasi kompetensi keterampilan dan keahlian.
5.2. Pemeriksa instalasi pesawat lif dan eskalator dibagi menjadi tiga kategori/tingkat
kualifikasi, yaitu :
a. Pemeriksa Utama, berwenang memeriksa pesawat lif dan eskalator dalam
bangunan gedung atau bangunan lain apapun jenisnya, terutama bangunan
bertingkat 20 atau lebih dan kecepatan lif mulai dari 180 m/m.

b. Pemeriksa Madya, berwenang memeriksa pesawat lif dan eskalator dalam


bangunan gedung bertingkat sampai dengan maksimal 20 lantai (21 lapis), dan
kecepatan lif maksimal 150 m/m.
c. Pemeriksa Muda atau teknisi pemeriksa berwenang memeriksa pesawat lif dan
eskalator dalam bangunan gedung bertingkat sampai dengan 10 lantai (11 lapis)
dan kecepatan lif maksimal 90 m/m.
5.3. Penguji instalasi pesawat lif dan eskalator dibagi menjadi tiga kategori/tingkatan
kualifikasi, yaitu :
a. Penguji Utama berwenang menguji pesawat lif dan eskalator seperti tersebut
pada butir 5.2a, minimal telah berpengalaman selama 10 tahun, termasuk 5
tahun terakhir melaksanakan pengujian pesawat lif dan eskalator secara terusmenerus.
b. Penguji Madya berwenang menguji pesawat lif dan eskalator seperti tersebut
pada butir 5.2b, minimal telah berpengalaman selama 10 tahun, termasuk 3
tahun terakhir melaksanakan pengujian pesawat secara terus-menerus.
c. Penguji Muda berwenang menguji pesawat lif dan eskalator seperti tersebut
pada butir 5.2.c minimal telah berpengalaman 5 tahun, termasuk 3 tahun
terakhir melaksanakan atau membantu melaksanakan pengujian pesawat lif dan
eskalator secara terus-menerus.
BAB VI
6.1.

TATA CARA PELAKSANAAN dan KEWAJIBAN PELAKSANA

Tata cara pelaksanaan pemeriksaan serta kewajiban Pemeriksa merujuk pada


Apendiks A1 sampai dengan A5, dan diatur sebagai berikut :

6.1.1. Pemeriksa sebagai seorang atau badan independen harus membuat rancana dan
prosedur urutan kerja pemeriksaan untuk tiap-tiap satuan (unit) instalasi tertentu
dan mengawasi pelaksanaan pemeriksaan jika pelaksanaan dilimpahkan kepada
Pemeriksa Muda atau seorang teknisi pemeriksa.
6.1.2. Pemeriksa dapat dibantu oleh seorang Pemeriksa Muda atau seorang teknisi
pelaksana, dengan tanggung jawab tetap pada Pemeriksa.
Catatan : Teknisi pelaksana dan Pemeriksa Muda ke dua-duanya harus memperoleh sertifikat
dari badan atau organisasi resmi yang diakui (diakreditasi). Lihat butir 5.1 dan 5.2.

6.1.3. Pemeriksa harus mampu membuat kesimpulan atas dasar seluruh pengetahuan
dan pengalamannya bahwa tiap-tiap komponen atau peralatan yang baru
terpasang atau mengalami perubahan teknis memenuhi semua persyaratan dan
ketentuan standar dan peraturan yang berlaku, dan apakah komponen atau
peralatan berfungsi sebagaimana mestinya dalam satu sistem operasi kerja
pesawat.
6.1.4. Pemeriksa harus membuat laporan disertai rekomendasi atas dasar kemampuan
pengetahuan dan pengalamannya terhadap kelainan peralatan dan penyimpangan
fungsi terhadap persyaratan dan ketentuan yang berlaku, dan dapat membedakan

dengan pasti bahwa penyimpangan tersebut adalah atas tanggung jawab


kontraktor perawatan ataukah atas tanggung jawab pengelola bangunan.
Rekomendasi dapat berupa anjuran reparasi atau penggantian suku cadang atau
komponen, atau perubahan sistem tertentu atau rekomendasi pengujian ulang.
Lihat contoh formulir isian pada lampiran L-3 dan L-4.
6.1.5. Pemeriksa wajib mengevaluasi dan memverifikasi sertifikat kemampuan teknis
komponen, terutama menyangkut keselamatan umum, diantaranya :
a. Sertifikat tali baja traksi, atau rantai traksi, atau ban traksi, atau tali serat
sintetis traksi, hubungannya dengan batas patah dan faktor keamanan yang
sesuai dengan penerapannya.
b. Sertifikat kinerja peredam hidrolik (buffer) sesuai dengan kecepatan lif.
c. Sertifikat governor pengindra kecepatan
d. Sertifikat katup-katup pengaman lif hidrolik.
e. Setifikat pintu lantai tahan api, sesuai dengan peraturan bangunan yang
berlaku.
f. Sertifikasi anak tangga (step) eskalator.
6.1.6. Hal-hal berikut bukan tanggung jawab dan kewajiban Pemeriksa :
a. melaksanakan reparasi, penggantian suku cadang dan melaksanakan
perubahan-perubahan apapun.
b. membuat rekomendasi cara-cara pelaksanaan atau metoda reparasi,
penggantian suku cadang dan/atau perubahan.
c. memberikan rekomendasi sumber-sumber material/bahan untuk maksudmaksud tersebut diatas.
6.2.

Tata cara pelaksanaan pengujian serta kewajiban Penguji diatur sebagai berikut :

6.2.1. Siapapun yang melaksanakan pemasangan instalasi pesawat atau perubahan


sistem pesawat harus melakukan pengujian awal (serah terima) secara menyeluruh
atas fungsi dan kinerja peralatan atau komponen dan/atau sistem pesawat.
Pengujian ulang dapat dilakukan oleh siapapun yang memenuhi persyaratan
tersebut pada butir 6.2.3.
6.2.2. Penguji atas nama perusahaan jasa pemasangan pesawat harus menyampaikan
permohonan atau pemberitahuan kepada instansi pemerintah yang terkait, bahwa
Penguji akan melakukan pengujian. (Lihat lampiran L-1). Dianjurkan surat
permohonan atau pemberitahuan tersebut disampaikan paling lambat 10
hari sebelum pelaksanaan dimulai.
Dalam hal khusus termasuk pengujian ulang tiap-tiap tahun atau pengujian
berkala (5 tahun), Penguji harus menerima surat perintah kerja lebih dulu dari
pihak pemilik atau pengelola bangunan.
6.2.3. Penguji harus seorang yang dipekerjakan oleh/dan atas tanggung jawab
perusahaan jasa instalasi pemasangan lif (PJIL). Penguji harus memiliki sertifikat
dari badan atau organisasi resmi yang diakui (diakreditasi) dan memperoleh SIO
atau SIBP dari instansi pemerintah terkait.

6.2.4. Setiap pelaksanaan pengujian instalasi pesawat, baik yang baru terpasang maupun
ulangan, harus disaksikan oleh Pemeriksa independen atau wakilnya, seorang
teknisi pemeriksa atau oleh Pejabat pengawas dari instansi pemerintah terkait.
Catatan :

adalah kewajiban Penguji menyertakan Pemeriksa untuk menyaksikan pengujian dan


hasil-hasil data dari pengujian.

6.2.5. Penguji harus mencatat hasil fakta dan data pengujian, dan melaporkannya kepada
instansi resmi terkait untuk memperoleh surat izin penggunaan awal (serah
terima) dan perpanjangan izin tiap-tiap tahun. Contoh formulir hasil pengujian
pada lampiran L-5, bentuk A untuk lif traksi, bentuk B untuk lif hidolik, dan
bentuk C untuk eskalator, dan lampiran L-6 (juga dengan bentuk-bentuk A, B dan
C) untuk pengujian ulang.
6.2.6. Penguji bertanggung jawab atas penerapan batas-batas kriteria yang ditetapkan
oleh standar yang berlaku, terhadap alat-alat pengaman pesawat. Jika fungsi dan
kinerja alat-alat pengaman tersebut menyimpang diluar batas-batas wajar atau
batas kriteria yang ditentukan, maka pengujian harus ditunda sampai selesai
dilakukan perbaikan dan/atau penyetelan. Jika ternyata dilakukan subsitusi
komponen atau peralatan dengan tujuan mencapai batas-batas kriteria, maka
pengujian harus diulang dari awal.
6.2.7. Penguji berhak menolak melakukan atau melanjutkan pengujian pesawat, jika
ternyata menurut pendapatnya, pelaksanaan pemasangan instalasi masih belum
sempurna, demi menghindari kemungkinan kecelakaan.
BAB VII

JENIS PEMERIKSAAN dan PENGUJIAN

Pemeriksaan dan pengujian pesawat lif atau eskalator diklasifikasikan menjadi 4 jenis
seperti tercantum pada tabel halaman berikut ini, sesuai dengan tahapan operasi
penggunaan dan kondisi peralatan, yaitu sebagai berikut:
7.1. Pemeriksaan dan pengujian awal, atau serah terima terhadap instalasi pesawat
lif atau eskalator yang baru selesai terpasang dan akan diserah terimakan kepada
pemilik.
(a) Pengujian awal tersebut diatas harus dilaksanakan oleh seorang Penguji dari/dan
atas tanggung jawab perusahaan jasa instalasi lif (PJIL), untuk memperoleh
surat izin penggunaan. Pengujian harus disaksikan oleh seorang Pejabat
pengawas atau seorang Pemeriksa yang kompeten (butir 5.1).
(b) Penguji harus memberitahukan kepada instansi pemerintah terkait paling lambat
10 hari dimuka atas rencana pelaksanaan pengujian dengan surat.
Lihat contoh pada lampiran L-1, juga lihat contoh formulir isian pada lampiran
L-3 untuk pemeriksaan, dan lampiran L-5 untuk pengujian.
7.2. Pemeriksaan rutin dan pengujian ulang, sewaktu-waktu dapat dilakukan, dan paling
lambat dalam waktu satu tahun. Pengujian ulang harus dilaksanakan untuk
memperoleh perpanjangan surat izin penggunaan. Lihat contoh formulir isian pada
lampiran L-4 untuk pemeriksaan rutin, dan L-6 untuk pengujian ulang.

10

7.3. Pengujian berkala lima (5) tahun sekali dengan menggunakan formulir isian,
lampiran L-5, yang sama digunakan untuk pengujian awal. Tujuannya adalah untuk
memastikan tidak terjadi kelainan terhadap alat pengaman dan operasi sistem,
setelah pesawat beroperasi selama 5 (lima) tahun.
7.4. (a). Pemeriksaan dan pengujian khusus terhadap instalasi tua yang mengalami

perubahan teknis atau modernisasi (peremajaan), untuk memperoleh surat izin


baru penggunaan pesawat. Contoh formulir isian pada lampiran L-7.
(b). Pemeriksaan khusus yang bersifat penyidikan terhadap pesawat yang
mengalami kecelakaan, untuk menetapkan akar sebab kecelakaan. Pemeriksaan
mengikut sertakan saksi seorang Pejabat pengawas dari instansi pemerintah
terkait, atau seorang ahli K3 bidang lif dan eskalator. Lihat contoh formulir
isian pada lampiran L-8.
Ringkasan penerapan contoh-contoh formulir atas tahapan dan
pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian.
Tahapan dan jenis

1. Serah terima atas instalasi pesawat


yang baru terpasang (izin
penggunaan)

2. Berkala rutin, ulangan tahunan


mulai tahun ke-2 dan seterusnya
tiap-tiap tahun (perpanjangan izin
penggunaan)

3. Berkala, lima (5) tahun


(perpanjangan izin penggunaan)

Pelaksanaan

a. Pemeriksaan awal

b. Pengujian awal

a. Pemeriksaan ulang

b. Pengujian ulang

a. Pemeriksaan berkala 5 tahun

b. Pengujian berkala 5 tahun

4. a. Khusus serah terima atas


perubahan teknis atau
modernisasi pesawat (izin baru
penggunaan).

a. Pemeriksaan perubahan teknis

b. Pengujian perubahan teknis

b. Khusus Penyidikan oleh sebab


Pemeriksaan disertai beberapa
terjadi kecelakaan, mencari akar
saksi.
sebab

Contoh bentuk formulir


dalam lampiran
L-3, Bentuk A : Lif traksi,
Bentuk B : Lif hidrolik,
Bentuk C : Eskalator
L-5, Bentuk A : Lif traksi,
Bentuk B : Lif hidrolik,
Bentuk C : Eskalator
L-4, Bentuk A : Lif traksi,
Bentuk B : Lif hidrolik,
Bentuk C : Eskalator
L-6, Bentuk A : Lif traksi,
Bentuk B : Lif hidrolik,
Bentuk C : Eskalator
L-4, Bentuk A : Lif traksi,
Bentuk B : Lif hidrolik,
Bentuk C : Eskalator
L-5, Bentuk A : Lif traksi,
Bentuk B : Lif hidrolik,
Bentuk C : Eskalator
L-7
L-5, Bentuk A : Lif traksi,
Bentuk B : Lif hidrolik,
Bentuk C : Eskalator

L-8

11

BAB VIII
8.1.

OBJEK PEMERIKSAAN dan PENGUJIAN

Lif traksi listrik


Pemeriksaan dan pengujian lif traksi listrik merujuk pada SNI.03-7017-2004
mengenai Pemeriksaan dan Pengujian lif traksi listrik. Rincian ruang lingkup
pemeriksaan peralatan dan komponen terdapat pada lampiran L-4, bentuk A.
Objek pemeriksaan diklasifikasikan berdasar lokasinya, yaitu : 1. didalam kereta,
2. dikamar mesin, 3. diatas atap kereta, 4. diluar ruang luncur, dan 5. dilekuk
dasar (pit). Sedangkan rincian ruang lingkup pengujian alat-alat pengaman
terdapat pada lampiran L-5, bentuk A.

8.2.

Lif hidrolik
Pemeriksaan dan pengujian lif hidrolik merujuk pada SNI.03-2190-1-2000
mengenai Syarat-syarat umum konstruksi lif yang dijalankan dengan transmisi
hidrolik, dan SNI.03-7017-2004 untuk peralatan dan komponen mekanik diluar
sistem hidrolik. Rincian ruang lingkup pemeriksaan peralatan dan komponen,
terdapat pada lampiran L-4, bentuk B. Objek pemeriksaan diklasifikasikan
berdasar lokasinya, yaitu 1. didalam kereta, 2. dikamar mesin, 3. diatas atap
kereta, 4. diluar ruang luncur, dan 5. dilekuk dasar (pit). Sedangkan rincian ruang
lingkup pengujian alat-alat pengaman terdapat pada lampiran L-5, bentuk B.

8.3.

Eskalator
Pemeriksaan dan pengujian eskalator dan lantai jalan (moving walks/passenger
conveyors) merujuk pada SNI.03-6248-2000 mengenai Syarat-syarat umum
konstruksi eskalator yang dijalankan dengan tenaga listrik. Rincian ruang
lingkup pemeriksaan peralatan dan komponen terdapat pada lampiran L-4, bentuk
C. Objek pemeriksaan diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, yaitu : 1. peralatan
penggerak, 2. komponen bergerak, 3. komponen diam (idle), dan 4. alat-alat
pengaman. Sedangkan rincian ruang lingkup pengujian terdapat pada lampiran L5 bentuk C.

BAB IX

KETENTUAN INSTALASI TUA

9.1. Apabila instalasi lif yang digunakan oleh umum dalam bangunan gedung
mengalami salah satu ataupun kombinasi dari 3 jenis gejala kemunduran kinerja
operasi tersebut dibawah ini maka dapat digolongkan sebagai instalasi pesawat
yang telah tua, yaitu :
a. Mengalami jumlah kemacetan lebih dari 10 kali rata-rata pertahun, dan terjadi
dalam jangka waktu 3 tahun terakhir.
b. Mengalami waktu tempo jeda lebih dari 10% dari jam operasinya rata-rata
dalam satu tahun, dan terjadi dalam jangka waktu 3 tahun terakhir.
c. Mengalami penggantian suku-suku cadang dan reparasi dengan biaya 10% dari
nilai atau harganya, dalam setahun terakhir.
Catatan : tempo jeda dalam satu tahun adalah jumlah jangka waktu yang digunakan untuk
pelayanan perawatan rutin, dan tempo akibat lif macet dan tempo karena lif harus
mengalami pemeriksaan, reparasi dan pengujian.

12

9.2. a) Instalasi tua harus dikaji secara teknis oleh Pemeriksa Utama untuk memastikan
apakah lif perlu diganti baru secara lengkap, atau cukup diper-modern
(diremajakan), demi menjaga keselamatan umum pengguna dan penghuni
bangunan.
b) Pemeriksa harus menyiapkan laporan hasil kajian teknis (technical assessment)
atas permintaan pihak pengelola bangunan, disertai rekomendasi, dan
tembusan/salinan laporan disampaikan kepada instansi pemerintah yang terkait.
BAB X OPERASI KEBAKARAN
10.1. Pelayanan operasi lif saat terjadi kebakaran dalam bangunan gedung adalah
tanggung jawab pengelola bangunan dan harus mengikuti ketentuan sebagai
berikut:
a. Semua instalasi pesawat dalam bangunan gedung bertingkat 4 (tinggi 14.0 m)
atau lebih harus dilengkapi dengan operasi kebakaran. Semua unit lif akan turun
langsung ke lantai lobi utama, dimana terdapat sarana penyelamatan (pelarian).
Operasi tersebut dapat berlangsung secara otomatis maupun dengan cara
mengaktifkan saklar kebakaran yang terdapat pada lantai lobi utama, pada sisi
dekat pintu lif.
b. Semua instalasi pesawat dalam bangunan gedung bertingkat 8 (tinggi 21.6 m)
atau lebih harus dilengkapi dengan operasi kebakaran tersebut pada butir a
diatas dan salah satu lif dari tiap-tiap kelompok operasi (group operation) dapat
digunakan oleh pasukan pemadam kebakaran (disebut lif kebakaran). Lif
kebakaran harus memenuhi persyaratan dalam SNI.03-6573-2001 tentang Tata
cara perancangan sistem Transportasi Vertikal dalam gedung butir 6.2.1 dan
6.2.2
10.2.

Pemeriksaan dan pengujian terhadap operasi kebakaran dan lif kebakaran harus
dilakukan paling lambat enam (6) bulan sekali atas inisiatif pengelola atau
pemilik bangunan gedung, setelah pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian awal.
Pengelola atau pemilik bangunan gedung harus menerima surat pernyataan dari
pihak Pemeriksa atau Penguji bahwa pemeriksaan dan/atau pengujian operasi
kebakaran dan lif kebakaran telah dilaksanakan dengan hasil memuaskan.

10.2.1. Persyaratan teknis terhadap saklar kebakaran dan lokasinya merujuk pada PUIL
2000 butir 4.11. Pemeriksa harus memverifikasi apakah saklar kebakaran
memenuhi persyaratan PUIL 2000 atau ketentuan peraturan bangunan yang
berlaku.
10.2.2. Lif dan eskalator dapat digunakan sebagai sarana penyelamatan atau pelarian
selama phase ke-1 (mula-mula terjadi kebakaran dan api belum menjalar). Segera
setelah diberlakukan phase ke-2 kebakaran, semua lif turun ke lobi dan dilarang
digunakan. Ketentuan saat dimulainya phase ke-2 kebakaran sesuai dengan
peraturan bangunan yang berlaku dan atas keputusan seorang petugas ahli
kebakaran pengelola bangunan.

13

BAB XI

PERSYARATAN LIF UNTUK PENYANDANG CACAT

11.1.

Ukuran kereta dan pintu


Kereta lif bagi penyandang cacat fisik yang memakai kursi dorong harus sesuai
dengan ketentuan peraturan Menteri P.U No.30/PRT/2006 tanggal 01 Desember
2006, luas minimal 1.96 m2, dan lebar minimal 1.40. Ukuran pintu kereta lebar
minimal 1.10 m x tinggi 2.0 m.

11.2.

a. Posisi kursi dorong didalam kereta minimal menghadap ke dinding belakang


kereta, yang dilengkapi dengan cermin dan membelakangi pintu kereta. Panel
operasi harus dipasang pada dinding kereta samping kiri, setinggi maksimal 1.0
m dari lantai, diukur pada garis tengah panel operasi, dan letaknya sesuai agar
mudah terjangkau.
b. Indikator posisi kereta harus terlihat dari bayangan cermin, dan dilengkapi
dengan suara sintesa elektronik yang memberi tahu nomor lantai ketibaan
kereta, tiap-tiap kali kereta berhenti.
c. Tombol panggil pada lantai hentian dan tombol dikereta harus dari jenis tekan,
dilengkapi suara bip-bip saat ditekan, dan iluminasi secukupnya, sebagai
tanda pesanan atau panggilan diterima dan diproses oleh pusat kendali operasi
lif.
d. Panel operasi harus dilengkapi dengan tombol buka pintu atau DO untuk
memperpanjang tenggang waktu pintu membuka sebelum waktunya menutup
kembali secara otomatis.
e. Pada sisi-sisi dekat dengan tiap-tiap tombol harus dilengkapi dengan huruf
Braille yang timbul pada permukaan face-plate dari panel operasi.
f. Ruang lobi dimuka pintu pada tiap-tiap lantai hentian harus cukup luas untuk
memudahkan kursi dorong berputar atau leluasa bergerak, jika dikehendaki
penyandang cacat masuk ke kereta dengan cara mundur.

11.3.

Pemeriksa harus memverifikasi persyaratan lif penyandang cacat terutama pada


tempat-tempat umum, diantaranya bandar udara, stasiun kereta api, pertokoan,
rumah sakit, apartemen, gedung pertunjukan, dan stadion. Pemeriksa harus
membuat rekomendasi, jika diminta oleh pengelola bangunan atau oleh pihak
yang berwenang, atas kemungkinan peningkatan kemudahan penggunaan lif bagi
penyandang cacat fisik.

14

Halaman 1 dari 2
Lampiran L-1
SURAT PEMBERITAHUAN
dan
SURAT PERMOHONAN
IZIN PEMASANGAN
IZIN PEMAKAIAN
IZIN PERUBAHAN
No. : berlaku hanya untuk satu unit pesawat, atau :
satuan lif sejenis dalam satu kelompok

Sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER/MEN/1999 yang
bertanda tangan dibawah ini :
Nama Lengkap dan Jabatan
Nama perusahaan
Alamat/telepon/fax

: ..
: ..
: ..

Dengan ini memberitahukan akan dimulainya


ini diberikan:

pemasangan

pengujian, dan mohon dengan

Izin pemasangan pesawat lif / eskalator dengan gambar rencana pemasnagan terlampir dan
pelaksanaan pemasangannya akan dimulai tgl... dan dilakukan oleh:
Instalatir lif (PJIL)
:
Alamat/telepon/fax
:
Izin Instalatir lif No.. berlaku hingga tanggal .
Izin Pemakaian/pengujian pesawat lif/eskalator awal (baru) / ulangan sesuai dengan izin
pemasangan No. : . tanggal . dan gambar pengesahan No. tanggal ..
Rencana pengujian pesawat akan/sudah dilaksanakan pada tanggal ..
Izin Perubahan teknis pesawat lif/eskalator dengan izin pemasangan No..... tanggal..
Izin Pemakaian yang telah dikeluarkan No. tanggal .
sementara, resmi
Gambar rencana pemasangan terlampir dengan penjelasan sebagai berikut :
Gambar tata letak (plan layout), gambar potongan vertikal, gambar kamar mesin.
Izin Instalatir lif
Sertifikat tali baja
peredam/penyangga
pintu tahan api
step anak tangga
Diagram instalasi sumber tenaga listrik, merujuk pada PUIL 2000.
Diagram pengawatan kendali
diagram pengawatan ruang luncur

15

Halaman 2 dari 2
Penjelasan selanjutnya data mengenai lift/eskalator tersebut sesuai dengan aplikasinya:
1. Dibuat oleh pabrikan/produsen/merk : ... negeri asal . tahun
pembuatan .. No. seri atau nomor kontrak : ..
2. a. Lift jenis penumpang service
barang kapsul kaca hidrolis pelayan
b. Eskalator 1000 mm 800 mm 600 mm lebar step, tinggi kerja vertikal . m
3. Kapasitas nominal : . orang; kg; kapasitas eskalator ... orang/jam
tinggi kerja vertikal (rise) : . m, dari lantai ke Jumlah lantai/pintu ...
4. Kecepatan nominal lift/eskalator : meter/menit, atau .. meter/detik.
5. Pengendalian : otomatis DC, AC Resistance, AC VVVF, Star delta (esk).
2
6. Kereta : berat kg; luas lantai . m ; tinggi sampai atap ... m.
7. Bobot imbang; berat ...kg; terdiri dari besi tuang beton,jumlah .... batang.
8. Mesin jenis: tarikan langsung tidak langsung : hidrolik ; lokasi mesin
9. Diameter puli traksi ... mm, diameter puli penyimpang; . mm,
Jenis alur ...., atau-U
alur-V
undercut
derajat .....
10. Jarak antara sepasang rel kereta ... mm; berat rel .. kg/m; jarak braket .. mm
11. Jarak sepasang rel bobot imbang .. mm; berat rel .. kg/m; jarak braket .
mm
12. Jenis peredam/penyangga yang digunakan : minyak/hidrolis pegas masif kenyal
13. Jenis alat pengaman kereta, jumlah dan tipe : . lokasi .
14. Tali baja traksi : jumlah lembar ; diameter : .. mm, konstruksi ..
batas patah ..N; buatan (merk dagang) : .. Sertifikat .. tanggal
15. Governor : diameter tali baja : mm ; konstruksi :. batas patah : . N; kecepatan
nominal : m/menit; kecepatan kerja (lebih) : .. % (persen)
16. Motor AC/DC kW. Volt A: arus mula gerak (beban penuh keatas) : .. A
Sumber tenaga: PLN/listrik sendiri. Diagram instalasi listrik terlampir, merujuk PUIL 2000.
17. Tekanan kerja hidrolis . atm (bar). Tekanan hidrolis batas maksimal .. atm (bar)
Alamat proyek pemasangan : ....
Penanggung jawab dan no. telepon : ....
Pelaksanaan akan dimulai pada tanggal ..... dan diperkirakan selesai pada tanggal
.
Tgl ..
Pemohon
Disampaikan kepada Yth :

..
..

16

Lampiran L-2A.

Contoh label tanda uji keselamatan kerja

TANDA UJI KESELAMATAN KERJA


UU No. 1/1970.Jo.Permenakertrans : 03/MEN/1999

No. Registrasi
Jenis Pesawat Lift
Merk/Buatan
No. serie
Mulai awal diuji tanggal

: .
: .....
: .....
: .....
: .

Kapasitas nominal (kg)


Kelajuan nominal (m/m)
Peredam, jarak langkah (m/m)
Tali baja traksi, konstruksi
Diuji oleh (nama teknisi)
Perusahaan Jasa Instalasi
No. telpon / fax
Alamat

: ....
: .
: Jenis : .. mm
: jumlah, diamter..
: .
: .
: .
: .

Catatan : Label terbuat dari plat metal harus dipasang didalam kereta dan mudah dibaca
oleh umum, minimal 13 cm x 18 cm. Alternatif pemasangan (jika didalam kereta
tidak memungkinkan), dipasang pada rangka kereta bagian atas depan dan mudah
dibaca oleh Pemeriksa, dengan ukuran minimal 10 cm x 15 cm.

17

Lampiran L-2B.
Contoh label/plakat peringatan dipasang dilobi utama perhentian lif.
Lokasi dekat dengan pintu atau diantara 2 pintu

PERHATIAN
BAGI
PENUMPANG LIF

1.

JANGAN MENGGUNAKAN LIF, JIKA GEDUNG DALAM KEADAAN


DARURAT.

2.

JANGAN BERLONCAT-LONCATAN DALAM KERETA. JAGA TATA


TERTIB

3.

JANGAN MENEKAN TOMBOL YANG TIDAK DIKEHENDAKI.


CUKUP TEKAN SATU TOMBOL LANTAI YANG DITUJU.

4.

JIKA LIF MACET, TEKAN TOMBOL BEL DARURAT (ALARM), ATAU


GUNAKAN INTERPHONE DAN MINTA PERTOLONGAN.

5.

JIKA KERETA TIBA, BERI KESEMPATAN PENUMPANG KELUAR


DULU, BARU ANDA BOLEH MASUK KERETA.

6.

JANGAN BIARKAN ANAK KECIL SENDIRIAN MENGGUNAKAN LIF.

7.

JANGAN MEROKOK
BERSAMA.

DIDALAM

KERETA,

DEMI

KESEHATAN

Ukuran plakat minimal lebar 16 cm x tinggi 20 cm.


Tinggi huruf minimal 6 mm

18

Lampiran L-2C.
1.

Contoh label/plakat peringatan dipasang didalam kereta

PETUNJUK JIKA
TERJADI KEMACETAN LIF

1. ANDA JANGAN PANIK. PADA DASARNYA LIF INI


AMAN.
2. TEKAN TOMBOL INTERPHONE DAN LANGSUNG
BICARA PADA OPERATOR UNTUK MINTA TOLONG.
3. TEKAN TOMBOL BEL DARURAT (ALARM) BERKALIKALI SAMPAI PERTOLONGAN DATANG.
4. TINDAKAN AKHIR: MATIKAN SAKLAR DARURAT (JIKA
ADA), BUKA PINTU KERETA DENGAN PAKSA DAN
BERTERIAK MINTA TOLONG.

Ukuran plakat minimal lebar 15 cm x tinggi 15 cm


Tinggi huruf minimal 6 mm

2.

Contoh plakat peringatan dipasang pada pintu ruang mesin

BERBAHAYA !

RUANG MESIN LIF

DILARANG MASUK BAGI SIAPAPUN


YANG TIDAK BERKEPENTINGAN.

Ukuran plakat minimal lebar 20 cm x panjang horizontal minimal 35 cm


Tinggi huruf 30 mm

19

Halaman 1 dari 2
Lampiran L-3, bentuk A
HASIL PEMERIKSAAN AWAL (serah terima)
LIFT TRAKSI LISTRIK
Daftar ini hanya mencakup satu unit lift saja
Nama Gedung
: ....
Alamat
: ....
Jenis Lift
:
penumpang;
barang;
pelayan; No.Seri ...
Kapasitas angkut
: kg; . orang ; kecepatan ...m/m
Jarak tempuh (lintas) . m; jumlah perhentian ; jumlah pintu . bukaan
sisi muka
sisi belakang
sisi samping

1.
2.
3.

Tenaga listrik yang dipakai DC ...V; AC ... V ; Phase.... ; ..... Hz


Sekering Utama
: A. batas maksimal sekering .. A
Mesin (jenis) . ; puli penggerak, dia .mm; RPM;
letak lokasi mesin
:
atas,
bawah,
samping

4.

Tali baja tarik,jumlah,lembar : ..diamm,roping 1:1; 2:1; lain-lain....


konstruksi tali
: .. x .. keterangan konstruksi tali : ..
pabrik pembuat
: Sertifikat No. pengikatan ......
Tali kompensasi (ukuran & jumlah) ..; Pengikatan ....
Pesawat pengaman kecepatan lebih, jenis
Pintu; lebar buka x tinggi x. mm; Pengaman pintu (jenis)
11.4. Jarak antara atap kereta dengan langit-langit ruang luncur .. ....mm
jarak antara penyangga dengan dasar bobot imbang (runby)..mm, saat kereta
rata dengan lantai terminal atas.
Jarak antara bagian atas bobot imbang dengan langit-langit ruang luncur mm
Sakelar pengaman batas (final limit switch) arah keatas membuka pada ... mm
Jarak antara rangka bawah kereta dengan penyangga (runby).. mm.
Sakelar pengaman batas arah turun membuka pada . mm. Saat kereta rata
dengan lantai terminal bawah ... mm
Kedalaman lekuk dasar (pit) mm. Ruang aman, jarak terdekat antara bagian
bawah kereta dengan dasar lantai lekuk dasar, saat penyangga ditekan
penuh mm, luas ruang aman bebas pada dasar pit .. m2
Keseimbangan kereta terhadap bobot imbang, beban dalam kereta ...kg
Waktu yang diperlukan agar pintu menutup rapat . detik. Lama
pintu membuka . detik
Suara-suara tidak wajar (terangkan) kenaikan suhu tidak wajar (pada
motor/mesin . (terangkan).
Motor lift, seri No. (jenis) ; Tegangan saat balance ... Volt;
Frequency Hz; .. A; . kW; . Rpm

5.
6.
7.

9.
10.
11.
12.
13.

14.
15.
16.
17.

20

Lampiran L-3, bentuk A

Halaman 2 dari 2

18. Motor generator (jika ada) . (jenis); . kW; .. rpm; Volt; (A per
phase); motor penggerak (jenis) ;. (kW); (Volt); .
(A); .(kW); Exciter (jenis); (rpm); (kW); .(Volt).
19. Pencahayaan darurat : Sumber DC.; tahan menyala Ampere jam
20. Interkom, sumberDC/AC....
21. Peralatan tanda bahaya (alarm bell): Sumber DC , lokasi pada lantai .

..
Yang melaksanakan pemeriksaan
Pelaksana
Nama Petugas
Tanggal
Alamat/telpon/fex
Tanda tangan

: .
: .
: .
: .
: .

SAKSI PELAKSANAAN PEMERIKSAAN

1. Pejabat Pengawas Keselamatan Kerja


Nama Pengawas
:
NIP :
Tanggal
: ....
Tanda tangan
: ....
2. Perusahaan Jasa Pemeriksaan Pesawat
(PJPP) Teknisi Pemeriksa
: ...
Nama Tenaga Ahli K3 Lift : ..
Perusahaan/No.izin Inspeksi : ..
Tanggal
: ..
Tanda tangan
: ..

21

Lampiran L-3, bentuk B


HASIL PEMERIKSAAN AWAL (serah terima)
LIF HIDROLIK
Daftar ini hanya mencakup satu unit pesawat lift saja

Nama gedung/bangunan
Jenis bangunan
Alamat dan nomor telpon
Pengelola bangunan
Alamat dan nomor telpon
Sumber tenaga listrik

:
:
:
:
:
: PLN /tegangan : V,phase : .freq : Hz

1.

Jenis lift hidrolis : a) direct, torak ditengah disamping


dibelakang
b) indirect dengan tali & puli, atau rantai dan sproket
2. Kapasitas nominal
: orang/kg .. maksimal kg
Kecepatan naik
: . m/m, kecepatan turun m/m
Tinggi kerja (lintas) : . m/m,l antai perhentian
3. Mesin penggerak, lokasi/letak : dibawah disamping diatas jarak
terhadap silinder (remote) .. m
Jenis pompa hidrolis diluar tangki
direndam katup control (check valve)
solenoid motorised electro
4. Motor (jenis)
: AC induksi , sinkron , asinkron
Koneksi gulungan motor : star , delta , star delta
Daya motor
: . kW, Hz, putaran ... rpm
Temperatur naik
: C, operasi rating : . jam
5. Sekering utama (NFB) : .. A, trafo . . kVA
: ukuran kabel tenaga 4 x . . mm2
6. Kereta ukuran dalam
: lebar .. m x dalam .m, tinggi sampai atap ... m
Pintu kereta jenis
: manual otomatis berat kereta ... kg
7. Pesawat pengaman (jenis indirect)
: Jenis.governor over speed %,lokasi
8. Pintu lantai, jenis
: ukuran lebar x tinggi x . mm
Bahan pintu
: .... tahan api . jam
Pengaman pintu, mekanis : .. elektris
9. Silinder hidrolis
: pemasangan ditanam diatas pit
lokasi ditengah disamping dibelakang kereta
10. Torak (piston rod)
: toleransi permukaan + . mili micron
terdiri dari satu tahap dua tahap tiga tahap
11. Roda puli / sproket
: diameter mm,jumlah/jenis alur tali ./
Tali baja / rantai
: diameter mm, jumlah .. konstruksi
Cara pengikatan
: ..
Diperiksa oleh,
Jakarta,.. tgl ..

22

Lampiran L-3, bentuk C


HASIL PEMERIKSAAN AWAL (serah terima) ESKALATOR
Daftar ini hanya mencakup satu unit eskalator/lantai jalan

Nama gedung/bangunan
Jenis bangunan
Alamat dan nomor telpon
Pengelola bangunan
Alamat dan nomor telpon
Sumber tenaga listrik

:
:
:
:
:
: PLN /tegangan : V,phase : .freq : Hz

1. Jenis eskalator/lebar step


: Standar , khusus / 600 800 1000
Sudut miring/ban pegangan : .. derajat / bahan.. warna
Kecepatan/kelengkapan lain : m/detik
Tinggi kerja vertikal : . mm/tiang pendukung tambahan tidak
2. Mesin penarik
: Letak : .... Jenis : ..
Transmisi
: Rantai Ban (V-belt)
: Gigi reduksi ulir Gigi reduksi helikal
3. Motor (jenis)
: AC induksi ,Variable Frequency ,Lain jenis
: Penyambungan Star , Delta , Star delta
Tenaga motor/sekering utama
: .kW/ . A ..
Temperatur naik
: C, Operasi rating : . jam
4. Tombol darurat dipasang diatas , dan dibawah
5. Saklar kunci (pengubah arah) dipasang diatas , dan dibawah
6. Jumlah anak tangga keseluruhan : ....
7. Jml anak tangga datar (flat step) : diatas , .dibawah
8. Lebar anak tangga > 41mm .. mm, lebar < 41 mm mm
9. Ruang bebas aman dimuka landas pendaratan : lebar . m x panjang . m
10. Tanda peringatan operasi naik/turun , saklar tombol , saklar kunci
11. Eskalator bekas dipasang ulang : Bulan : ..Tahun : ...
Penyimpangan : a. tinggi kerja : mm, b. sudut miring :
12. Jenis rem bantu
: pasak (Wedge) , cakram tromol
13. Governor pengindra kecepatan lebih : terpasang , tidak terpasang

Yang melaksanakan pemeriksaan


Pelaksana
Nama Petugas
Tanggal
Alamat/telpon/fex
Tanda tangan

: .
: .
: .
: .
: .

23

Lampiran L-4, bentuk A

Halaman 1 dari 3

PEMERIKSAAN ULANG dan BERKALA 5 TAHUN


LIFT TRAKSI LISTRIK
SPK dari : ------------------------Rujukan : -------------------------

No. ----------- Tgl. ---------------Pesawat yang diperiksa :

-----------------

1. Jumlah pesawat dalam bangunan Lift traksi/hidrolis : -----/


(unit) Eskalator : -------- (unit)
Lift traksi yang diperiksa No. : -----------Kapasitas :------orang/kg. Kecepatan : ----m/m
2. Nama bangunan
: --------------------------------------------------------------------------Lokasi
: -------------------------------------------------------------------------Yang bertanggung jawab : --------------------------------------------------------------------------Alamat & no. telepon/fax : -------------------------------------------------------------------------3. Pemeriksaan dimulai
: ----------------------------Pemeriksaan selesai : ------------Penanggung jawab pemeriksa, nama ------Alamat & no. telepon/fax : --------------------------------------------------------------------------Harap gunakan huruf-huruf kode sesuai dengan hasil penemuan kondisi peralatan :
= Peralatan perlu disetel ulang (readjustment )
S/U
= Peralatan perlu dilumasi ulang kembali (relubrication )
L/U
= Peralatan perlu perbaikan dan reparasi (malfunction )
P/R
G/B = Peralatan perlu diganti baru (replacement )
= Fungsi tidak wajar (ada kelainan) perlu periksa ulang (further inspection )
P/U
= Peralatan diperiksa kedapatan normal/baik (normal function )
P/N
U/U = Peralatan harus diuji ulang (need testing )
OKN = Fungsi operasi kinerja normal/baik (performance is normal )
TAK = Peralatan ini tak ada kaitan (non applicable )

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Pemeriksaan didalam kereta

Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan
Keterangan atas penemuan

Fungsi pintu kereta


Gaya buka tutup
Kontak listrik pengaman pintu
Panel operasi (C.O.P)
Kelengkapan interior
Sinyal dan indikator
Saklar darurat/saklar henti
Pintu akses darurat
Luas lantai vs kapasitas nominal
Sinyal darurat
Kerataan lantai
Operasi daya listrik darurat
Bukaan pintu terbatas (re-opening)
Plakat/label/penandaan

24

Lampiran L-4, bentuk A

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Pemeriksaan dikamar Mesin

Halaman 2 dari 3

Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan
Keterangan atas penemuan

Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan
Keterangan atas penemuan

Pintu akses masuk


Keadaan fisik ruang/pencahayaan
Alat pemadam kebakaran
Kabel dan kendali operasi
Sekering utama, pemutus arus
Pentanahan (arde)
Mesin traksi dan rem
Motor dan MG set
Roda gigi, kopling dan bantalan
Inverter dan rectifier
Pengikatan tali baja
Alat pengaman/governor
Kecepatan nominal
Penyerapan daya sisa
Balok angkat (hoisting beam)

Pemeriksaan diatap kereta

Roda penyimpang
Saklar batas lintas
Saklar inspeksi (manual)
Saklar SOS kecepatan lebih
Saklar pemutus arus lain
Pencahayaan dan saklar
Pintu akses darurat
Rel Pemandu
Ruang bebas aman 60 cm
Tali baja dan soket tirus
Junction box kabel lari
Label uji keselamatan
Motor penggerak pintu
Saklar batas lintas normal,gamb 5
Saklar batas lintas akhir, gamb 5
Saklar henti darurat
Pagar railing pengaman

25

Lampiran L-4, bentuk A

Pemeriksaan diluar
ruang luncur

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
15
16
17
18
19
20

Pelat pelindung kaki (toeguard)


Sepatu pintu lantai dan sill
Panel pintu lantai
Kunci kai dan kontak listrik
Tekanan pintu menutup
Penggantung pintu
Kunci kontak parking
Saklar operasi kebakaran
Sinyal dan indikator
Bel darurat dan aki (cel)
Telecom/interphone
Tombol panggil
Gong ketibaan
Lampu panah ketibaan
Pencahayaan lobi
Pintu akses darurat
Saklar daya darurat

E
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Pemeriksaan di lekuk dasar


Kebersihan/rendaman air
Pencahayaan dan saklar
Luang lari (runby), gambar 3
Peredam/penyangga
Saklar batas lintas normal
Saklar batas lintas akhir
Rangka & landas kereta
Roller guide
Safety block/rem baji pengaman
Pengaman dan pagar pemisah
Ukuran dalam pit
Saklar henti darurat
Panel pelindung bobot imbang
Tinggi bebas 60 cm, gambar 3
Ruang bebas aman gerak
Kabel lari
Tali kompensasi
Roda (tromol) penegang & saklar

Halaman 3 dari 3

Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan atau
Keterangan atas penemuan

26

Lampiran L-4, bentuk B

Halaman 1 dari 3

PEMERIKSAAN ULANG dan BERKALA 5 TAHUN


LIFT HIDROLIK
SPK dari : ------------------------Rujukan : -------------------------

No. ----------- Tgl. ---------------Pesawat yang diperiksa :

-----------------

1. Jumlah pesawat dalam bangunan Lift traksi/hidrolis : -----/


(unit) Eskalator : -------- (unit)
Lift hidrolik yang diperiksa No. : -----------Kapasitas :------orang/kg. Kecepatan : ----- m/m
2. Nama bangunan
: --------------------------------------------------------------------------------Lokasi
: -------------------------------------------------------------------------------Yang bertanggung jawab
: --------------------------------------------------------------------------------Alamat & no. telepon/fax
: -------------------------------------------------------------------------------3. Pemeriksaan dimulai
: -----------------------------Pemeriksaan selesai : ---------------Penanggung jawab pemeriksa, nama ------Alamat & no. telepon/fax
: -------------------------------------------------------------------------------Harap gunakan huruf-huruf kode sesuai dengan hasil penemuan kondisi peralatan :
= Peralatan perlu disetel ulang (readjustment )
S/U
= Peralatan perlu dilumasi ulang kembali (relubrication )
L/U
= Peralatan perlu perbaikan dan reparasi (malfunction )
P/R
= Peralatan perlu diganti baru (replacement )
G/B
= Fungsi tidak wajar (ada kelainan) perlu periksa ulang (further inspection )
P/U
= Peralatan diperiksa kedapatan normal/baik (normal function )
P/N
= Peralatan harus diuji ulang (need testing )
U/U
= Fungsi operasi kinerja normal/baik (performance is normal )
OKN
= Peralatan ini tak ada kaitan (non applicable )
TAK

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
13
14
15
16

Pemeriksaan didalam kereta

Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan
Keterangan atas penemuan

Fungsi pintu kereta


Gaya buka tutup
Kontak listrik pengaman pintu
Panel operasi (C.O.P)
Kelengkapan interior
Sinyal dan indikator
Saklar darurat/saklar henti
Pintu akses darurat
Luas lantai vs kapasitas nominal
Sinyal darurat
Kerataan lantai
Bukaan pintu terbatas (re-opening)
Plakat/label/penandaan

27

Lampiran L-4, bentuk B

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Pemeriksaan dikamar mesin

Halaman 2 dari 3

Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan
Keterangan atas penemuan

Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan
Keterangan atas penemuan

Keadaan fisik ruang/kebersihan


Alat pemadam kebakaran
Kabel dan kendali operasi
Sekering utama dan sakelar
Pentanahan (arde)
Silinder/torak
Motor dan pompa hidrolis
Katup kontrol/check valve
Katup pembuangan angin
Katup pengaman (rapture valve )
Tangki (bejana) hidrolis
Saringan cairan hidrolis
Permukaan cairan hidrolis
Label tekanan kerja (bar)
Bejana tekan (jika ada)
Pipa dan slang (hose )
Operasi anti creep
Pintu akses darurat/akses masuk
Peredam suara pompa
Saklar tekanan lebih

Pemeriksaan diatas atap kereta

Saklar batas lintas atas


Saklar inspeksi operasi manual
Saluran kabel dan penghubung
Rel pemandu dan braket
Pencahayaan dan pintu darurat
Saklar henti darurat
Pagar railing
Governor (jika ada)
Roda Puli pendorong
Tali baja traksi/rantai
Ruang bebas aman
Penggerak pintu dan saklar
Saklar anti creep

minimum 60 cm, lihat gambar - 2

28

Lampiran L-4, bentuk B

Pemeriksaan diluar
ruang luncur

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
15
16
17
18
19
20

Pelat pelindung kaki (toeguard )


Sepatu pintu lantai dan sill
Panel pintu lantai
Kunci kait dan kontak listrik
Tekanan pintu menutup
Penggantung pintu
Kunci kontak parking
Saklar operasi kebakaran
Sinyal dan indikator
Bel darurat dan aki (cel)
Telecom/interphone
Tombol panggil
Gong ketibaan
Lampu panah ketibaan
Pencahayaan lobi
Pintu akses darurat
Saklar daya darurat/cadangan

E
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pemeriksaan di lekuk dasar


Kebersihan/rendaman air
Pencahayaan dan saklar
Luang lari (runby)
Peredam/penyangga
Rangka & landas kereta
Roller guide
Pengaman dan pagar pemisah
Ukuran dalam pit
Saklar henti darurat
Tinggi bebas dan aman (min 60 cm

11
12
13
14
15

Ruang bebas aman gerak (min 42 m2)


Kabel lari
Pintu akses pelarian

Halaman 3 dari 3

Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan
Keterangan atas penemuan

29

Lampiran L-4, bentuk C

Halaman 1 dari 2

PEMERIKSAAN ULANG dan BERKALA 5 TAHUN


ESKALATOR
SPK dari : ------------------------Rujukan : -------------------------

No. ----------- Tgl. ---------------Pesawat yang diperiksa :

-----------------

1. Jumlah pesawat dalam bangunan : --------- Lift traksi/hidrolis : ------/


(unit) Eskalator : -------- (unit)
Eskalator yang diperiksa No. : -----------Kapasitas : ------orang/kg. Kecepatan : ----- m/m
2. Nama bangunan
: -----------------------------------------------------------------------------------------Lokasi
: ----------------------------------------------------------------------------------------Yang bertanggung jawab
: ------------------------------------------------------------------------------------------Alamat & no. telepon/fax
: -----------------------------------------------------------------------------------------3. Pemeriksaan dimulai
: -----------------------------Pemeriksaan selesai : ---------------------Penanggung jawab pemeriksa, nama ------Alamat & no. telepon/fax
: -----------------------------------------------------------------------------------------Harap gunakan huruf-huruf kode sesuai dengan hasil penemuan kondisi peralatan :
= Peralatan perlu disetel ulang (readjustment )
S/U
= Peralatan perlu dilumasi ulang kembali (relubrication )
L/U
= Peralatan perlu perbaikan dan reparasi (malfunction )
P/R
= Peralatan perlu diganti baru (replacement )
G/B
= Fungsi tidak wajar (ada kelainan) perlu periksa ulang (further inspection )
P/U
= Peralatan diperiksa kedapatan normal/baik (normal function )
P/N
= Peralatan harus diuji ulang (need testing )
U/U
=
Fungsi operasi kinerja normal/baik (performance is normal )
OKN
TAK = Peralatan ini tak ada kaitan (non applicable )
A

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Pemeriksaan penggerak
mesin dan motor

Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan
Keterangan atas penemuan

Pelumasan Mesin
Transmisi gigi/rantai/ban (belt )
Roda Sproket & rantai penggerak
Rem motor
Rem bantu (jika ada)
Sekering utama
Kendali operasi
Relay fase terbalik
Governor kecepatan (jika ada)
Pentanahan (arde)
Saklar henti darurat
Pencahayaan
Ventilasi

30

Lampiran L-4, bentuk C


B

Bagian-bagian bergerak

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Anak tangga (step)


Roda (step roller & chain roller)
Rantai penarik anak tangga (step)
Sproket penarik rantai
Sproket penegang rantai
Ban pegangan
Penegang sproket (rakitan pegas)
Puli penarik ban pegangan
Toleransi anak tangga dan skirt
Toleransi antara 2 step

C
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Bagian-bagian tidak bergerak


Balustrade & pengaman langit-langit
Plat dan gigi sisir (comb)
Plat landas atas
Plat landas bawah
Pagar pengaman
Bendera pengaman
Sistem pelumasan
Deck dan panel penutup (skirt)
Kunci kontak start, tombol stop
Tanda peringatan bagi penumpang

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Alat-alat pengaman
saklar-saklar pemutus arus

Halaman 2 dari 2
Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan
Keterangan atas penemuan

Hasil
sekarang

Hasil
yang lalu

Penjelasan
Keterangan atas penemuan

Ban pegangan kendor/putus


Lubang masuk ban terganggu
Plat sisir terganggu oleh anasir
Rantai penarik step patah
Phase sumber tenaga terbalik
Roda anak tangga pecah
Benda terjepit oleh anak tangga
Kecepatan lebih/rem bantu
Bahaya kebakaran/ditektor/alarm
Akses masuk/keluar : leluasa
Governor (jika ada)

31

Lampiran L-5, bentuk A

Halaman 1 dari 2

LAPORAN HASIL PENGUJIAN PESAWAT LIFT TRAKSI


Awal (serah terima)

berkala 5 tahun

perubahan teknis (peremajaan)

Daftar ini hanya berlaku untuk satu unit pesawat lift saja
Nama gedung
: .
Alamat
: .
Jenis pesawat lift
: No. Seri ....
Kapasitas angkut
: .. kg; Kecepatan ..m/menit
Jenis dan motor mesin : . Pabrik pembuat :
Jenis pengontrol (kendali gerak) : ..... Pabrik pembuat :

1. Jenis alat pengaman


: Roll; Wedge clamp; Flexible guide clamp.
2. Jenis governor, pengindra kecepatan : ..
3. Governor bekerja pada kecepatanm/m, ..% Alat ukur yang digunakan,..
Keterangan: .
4. Jenis penjepit pada governor : Bahan.dia alur.mm (dgn pegas ya,tidak,)
5. Kinerja governor
: % overspeed,% saat putus arus ..
6. Muatan diluar bobot kereta
: (marmer, granit, lain-lain) ... (kg)
7. Pengujian perimbangan : engkol, tachometer, . lain-lain
Amperemeter .. (keterangan)
Perimbangan yang ditentukan dalam pengujian ini% overbalance bobot imbang
Perimbangan yang ditentukan oleh pabrik pembuat...% overbalance bobot imbang
8. Berat keseluruhan bobot imbang : . kg, berat kereta kosong ..... kg
9. Pembetulan beban pengimbang ..(jumlah) batang pengimbang @.kg =.kg
ditambah / dikurangi (coret yang tidak perlu), jumlah batang beban pengimbang
interior kereta kg, berat bobot imbang sekarang .... kg
10. Kondisi pada rel
: (Rel kiri) (Rel kanan)
11. Ukuran rel utama dan rel bobot imbang : kg/m ( .... kg/m)
jarak braket utama : m ; jarak braket bobot imbang : ..m)
12. Kondisi tali governor setelah diuji . : pabrik pembuatnegara asal ....
13. Kondisi tromol penegang tali governor :
14. Pengujian alat pengaman
dengan tangan (manual),
dengan kecepatan lebih,
beban didalam kereta kg, kereta berhenti dengan (rata/atau tidak), kemiringan :
..%, jarak kemerosotan kereta saat pengaman bekerja : ...mm
15. Alat pengaman bekerja baik/atau tidak. Kemerosotan kereta rata-rata : . m
16. Penyangga kereta jenis ; jarak langkah penyangga ... mm
penyangga bobot imbang jenis ; jarak langkah penyangga.mm
17. Pengaman arus lebih .. (waktu dalam detik); .(A)
18. Kecepatan kereta, manual inspection (inspection speed) m/menit.
19. Rem mesin disetel dengan 125% beban muatan dalam kereta . kg,
rangkaian kontrol dimatikan (jarak kemerosotan kereta) ..mm Sakelar induk
dimatikan.mm (jarak kemerosotan keatas saat beban kosong) (jarak
luncur arah kebawah saat beban penuh).

32

Lampiran L-5, bentuk A


dalam
kereta (kg)

Halaman 2 dari 2
Kecepatan
nominal
(m/m)

Kondisi beban
dan gerak (kg)

Arus (A)
mula
gerak

jalan
normal

Tegangan (V)
berhenti

jalan

Keatas tanpa
beban
Kebawah tanpa
beban
Keatas dengan
beban seimbang
Kebawah dengan
beban seimbang
Keatas dengan
beban penuh
Kebawah dengan
beban penuh
KESIMPULAN
Alat pengaman disegel . Governor
baik
cukup
disegel (label)
Sakelar pengaman pd kec.lebih %Tali baja governor
Sakelar governor pd kec. lebih % Beban tambahan kereta
nihil ..kg
Pengaman dicoba dengan beban penuh kosong; Bobot kereta kosong ...kg
Jarak kereta merosot saat pengaman bekerja ,cukup
kurang
berlebih.

19..
Yang melaksanakan pengujian
Instalatir
Nama petugas
Tanggal
Tanda tangan

:
:
:
:

Nama pegawai pengawas Keselamatan Kerja :


.
Tanggal
: ..
Tanda tangan : .

33

Lampiran L-5, bentuk B

Halaman 1 dari 2

LAPORAN HASIL PENGUJIAN LIFT HIDROLIK

awal (serah terima)


berkala 5 tahun
perubahan teknis
(peremajaan)

Daftar ini hanya mencakup satu unit lift saja.

Nama gedung/bangunan
Jenis bangunan
Alamat dan nomor telpon
Pengelola bangunan
Alamat dan nomor telpon
Sumber tenaga listrik

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

:
:
:
:
:
: PLN /tegangan : V,phase : .freq : Hz

Katup pelapasan (reliefe valve) diset pada kecepatan turun m/m (% dari
kecepatan nominal).
Katup kontrol (check valve), bekerja dengan motor atau solenoid
Katup darurat manual, penandaan dengan cat berwarna label .
Kecepatan pada saat katup dioperasikan .. m/menit
Katup pengaman (main shut off), gunakan pressure gauge, untuk memastikan
bekerjanya katup pada tekanan hidrolis sebesar .. bar atau atm
Katup pembuangan angin dengan cara manual atau dengan cara lain
Minyak (cairan) hidrolis : sintetik lain .
Buatan
: jenis, viskositas pada temperatur C
Tekanan hidrolis saat operasi : bar (atm)
Tekanan hidrolis maksimal diizinkan .. bar (atm)
Saklar pemutus arus tekanan lebih : .
Operasi re-leveling (anti kreep ) dengan saklar otomatis .mm terhadap
permukaan lantai
Operasi lain (creeping) dengan cara .. atau otomatis
Katup pembuangan angin Pompa tangan cara lain
Katup darurat (lift macet) silinder pecah (rapture)
Ruang luncur : tinggi overhead .. mm, ruang aman .. mm
Penyangga
: pegas oil buffer jarak langkah .... mm
Pintu darurat lokasi atas bawah ukuran x mm
Data hasil pengujian operasi halaman berikut.

34

Lampiran L-5, bentuk B


Arah
gerak

Beban kereta
(kg)

Naik

Penuh (nominal)
kg
Lebih (125%
nominal)
. Kg
Kosong
(O kg)
Kosong
(O kg)
Lebih (125%
nominal)
. kg
Penuh (nominal)
. Kg

Naik
Naik
Turun

Turun
Turun

Halaman 2 dari 2
Kecepatan
(m/m)

Tekanan
hidrolis
(atm atau bar)

Arus listrik
motor
(A)

16. Katup pengaman disegel oleh : Pabrik oleh PJIL


17. Pencahayaan darurat
: . Ah . Watt
18. Interkom
: dua arah tiga arah cell battery
19. Bel darurat, cell battery DC, Volt . Ah
Nama penguji
PJIL
Teknisi penguji
Tanggal mulai diuji
Alamat/telepon/fax

:SIO pengujian
:.
:.
:selesai tanggal .
: .

Tanda tangan, penganggung jawab

SAKSI PELAKSANAAN PENGUJIAN


1. Pejabat Pengawas Keselamatan Kerja
Nama Pengawas
: ..
NIP
: ...
Tanggal
: ...
Tanda tangan
: ...
2. Perusahaan Jasa Pemeriksaan Pesawat
(PJPP) Teknisi Pemeriksa :.. .....
Nama Tenaga Ahli K3 Lift :..
Perusahaan/No.izin Inspeksi :..
Tanggal
:.
Tanda tangan
:.

35

Lampiran L-5, bentuk C

Halaman 1 dari 2

HASIL PENGUJIAN ESKALATOR dan LANTAI JALAN


Awal (serah terima)
berkala 5 tahun
perubahan teknis (peremajaan)
Daftar ini hanya mencakup satu unit eskalator/lantai jalan

Nama gedung/bangunan
Jenis bangunan
Alamat dan nomor telpon
Pengelola bangunan
Alamat dan nomor telpon
Sumber tenaga listrik

:
:
:
:
:
: PLN /tegangan : V,phase : .freq : Hz

1. Keadaan ban pegangan

: Tegang , Kendor , Ragu-ragu


: Kotor , Bersih , Catat
Kecepatan ban
: . m/detik (gunakan tachometer) . %
terhadap kecepatan step, slip, ya , tidak
2. Keadaan balustrade
: baik , retak , pecah bahan kaca baja
(panel pelindung)
3. Keadaan anak tangga (step)
: baik , goyang , miring kiri kanan ,
: tidak datar , penemuan lain :
: jarak-jarak longgar . mm
Keadaan plat sisir (comb plate) : bagian atas : patah , hilang , retah dan sisir
: bagian bawah : patah , hilang , retak
tidak ada sama sekali
4. Landas keluar atas/bawah
: baik , rusak/goyang , licin/kotor
Landas masuk atas/bawah
: baik , rusak/goyang licin/kotor
5. Keadaan roda-roda
: step roller : baik , jelek harap penjelasan
: chain roller: baik ,jelek harap penjelasan
penjelasan lebih lanjut gunakan lembar tersendiri.
6. Panel penutup (skirt panel)
: baik , rusak , skrup hilang, bengkok
7. Toleransi skirt-step
: maksimal 4 mm , lebih dari 4 mm
8. Toleransi sisir-step
: maksimal 2 mm , lebih dari 2 mm ,
gunakan feeler gauge terhadap dasar alur step,
maksimal 3 mm lebih dari 3 mm
9. Kecepatan anak tangga
: beban 50% naik
beban kosong

10. Pengujian alat pengaman


:
a. Saklar pengaman ban kendor : (optional), Ada . tidak ada
b. Saklar pengaman lubang ban : atas : bawah : .
c. Saklar pengaman plat sisir : atas : bawah : tidak ada

36

Halaman 2 dari 2
d.
e.
f.
g.

Saklar pengaman ban/rantai penarik


Pengaman fase (reverse phase relay)
Saklar pengaman roda (roller)
Saklar pengaman rantai tarik (step)

:
:
:
:

12. Pengujian rem motor saat putus arus: baik


lembar tersendiri.

, tidak

, harap penjelasan pada

13. Pemeriksaan & penemuan peralatan lain :


13.1 Sekering utama MCB

14. Pengukuran (gunakan instrumen) : getaran : Hz miligravity


: suara : dBA ..
15. Pengukuran ampere sumber tenaga :
a. Saat turun kosong
: Amp
b. Saat naik kosong
: Amp
c. Saat turun 50% kapasitas : Amp
d. Saat naik 50% kapasitas : Amp
16. Kesimpulan dan Pendapat
:
. .
Nama penguji
: SIO pengujian
PJIL
: ...
Teknisi penguji
: ...
Tanggal mulai diuji
: selesai tanggal ..
Alamat/telepon/fax
: ...
Tanda tangan, penganggung jawab.

SAKSI PELAKSANAAN PENGUJIAN


2. Pejabat Pengawas Keselamatan Kerja
Nama Pengawas
:
NIP
:
Tanggal
: ....
Tanda tangan
: ....
2. Perusahaan Jasa Pemeriksaan Pesawat
(PJPP) Teknisi Pemeriksa
: .. .....
Nama Tenaga Ahli K3 Lift : ...
Perusahaan/No.izin Inspeksi :
Tanggal
:
Tanda tangan
: ....

37

Lampiran L-6, bentuk A

Halaman 1 dari 3

Pengujian ulang lift traksi listrik


Lift No. Jumlah unit dalam bangunan : traksi .hidrolik . esc ..
Kapasitas nominal : .. kg. Jumlah stop/pintu : tinggi lintas ... m
Kecepatan nominal : ..m/s (.. m/m)
Peralatan yang diuji
Pencatatan hasil pengujian,
Rujukan SNI
Tahapan/Jenis pengujian
Hasil ujian awal
Tahapan/ulangan
Tahun yang
(sebagai
ke
pembanding)
1. Peredam minyak (oil buffer)
a. Jarak luang lari
.mm
mm
b. Jarak langkah peredam (kereta tanpa
beban)
mm
mm
c. Ruang aman saat peredam tertekan
penuh
mm
mm
d. Kereta dengan beban nominal
dijatuhkan membantur peredam pada
kecepatan 1.15% nominal.
mm
mm
e. Proses penyerapan energi bantur
sampai piston berhenti.
detik
.. detik
f. Proses kembalinya piston keposisi
semula setelah kereta kembali detik
.. detik
diangkat keatas.
2. Pesawat (alat) pengaman
a. Pengujian kereta tanpa beban pada
kecepatan nominal, secara manual.
Jarak kemerosotan kereta.
mm
b. Pengujian kereta dengan beban
nominal pada kecepatan lebih 115%.
Jarak kemerosotan kereta diukur rata. mm
rata pada goresan sepasang rel.
c. Kemiringan landas kereta (gunakan
waterpas)
%
.. %
3. Governor kecepatan
Gunakan tachometer untuk mengukur
kecepatan governor, yaitu pada saat :
a. Saklar governor (OS Switch) terlepas . m/s (.. %)
. m/s (..%)
b. Saat
governor
jatuh
tersentak
(tripped)
..m/s (.. %)
. kg
c. Tegangan tali baja saat governor jatuh
tersentak
.. mm
d. Jarak gelincir tali baja setelah
governor jatuh tersentak.
.. mm
4. Sistem pengereman mesin traksi
a. Kemerosotan kereta saat
proses pengereman dengan
beban 125% nominal.
b. Kemerosotan kereta setelah
kereta terhenti penuh dengan

mm

mm

38

beban 12% nominal dan satu


orang (68 kg) masuk kedalam
kereta.

mm

mm

5.Alat (saklar) henti batas lintas


(terminal)
Ukur jarak landas kereta
terhadap permukaan lantai-lantai
terminal
a. Saat saklar henti normal aktif
mm
(terlepas)
b. Saat saklar henti akhir aktif
mm
(terlepas)
c. Bandingkan (selisih) dengan jarak
mm
luang lari. Ambil selisihnya.

mm

6. Daya operasi pintu


a. Pembukaan kembali (re-opening)
Kerenggangan antara dua daun pintu
atau pintu terhadap sisi kusen (jika
jenis pintu buka-samping), saat mana
pintu tidak dapat membuka kembali,
walaupun ditahan.
b. Kerenggangan antara dua daun pintu
atau pintu terhadap sisi kusen (jika
jenis pintu buka-samping), jika pintu
telah dianggap menutup dan kontak
listrik telah masuk
7. Zona Pendaratan
a.Ukur
jarak
maksimum
zona
pendaratan dari permukaan lantai
mana saja, sampai landas
kereta
(keatas dan kebawah), dimana jika
pintu lantai dibuka, pintu kereta ikut
terbuka (secara manual). (maksimal
450 mm).
b. Ukur jarak maksimal zona perataanlantai, dimana saat kereta mau
mendarat pintu telah mulai membuka.
(maksimal 300 mm).
c. Ukur kecepatan kereta pada jarak
mencapai maksimal tersebut diatas
pada b (maksimal 300 mm untuk
jenis kontrol static)
8. Keseimbangan (overbalance)
pengukuran besaran arus listrik pada
motor penggerak, dengan :
a. kereta dengan beban penuh, naik dan
turun
b. kereta tanpa beban, naik dan turun
c. beban seimbang (overbalance %
dari beban nominal), naik dan turun.
Cantumkan % overbalance, yaitu :
42,5%. 45%, 47,5%, 50% atau % lain.

mm
mm

mm

mm

... mm

. mm

mm

mm

mm

.. mm

mm

... mm

naik : Amp

naik : . A
turun : . A

turun : Amp

naik : . A
turun : .... A

Amp
naik : . A
turun : A

39

Lampiran L-6, bentuk B

Halaman 1 dari 2
Pengujian ulang lift hidrolik

Lift No.. Jumlah unit dalam bangunan : traksi ..hidrolik . esc ..


Kapasitas nominal : ... kg. Jumlah stop/pintu : tinggi lintas .... m
Kecepatan nominal : ..m/s (.. m/m)
Pencatatan hasil pengujian,
Rujukan SNI
Tahapan/Jenis pengujian

Peralatan yang diuji

Tahapan/ulangan
Tahun yang
ke

Hasil ujian awal


(sebagai pembanding)

1. Alat pengaman
Bekerja pada kecepatan lebih .. %

.m/m

m/m

Pengujian dilakukan pada kecepatan rendah.

m/m

m/m

m/m

. m/m

m/m

. mm

.. m/m
.. detik

. m/m
. detik

.. m/m
.. detik

.. m/m
.... detik

Lift ini tidak dilengkapi dengan alat


Pengaman
2. Governor
Diuji dengan kecepatan rendah
Diuji dengan kecepatan nominal
Lift ini tidak dilengkapi
dengan governor
3. Peredam hidrolik (oil buffer)
a. Pengujian dengan beban dan kecepatan
nominal
Langkah torak masuk silinder
Tempo torak kembali naik keposisi normal
b. Pengujian tanpa beban
Langkah torak masuk silinder
Tempo torak kembali naik keposisi
normal
4. Kebocoran silinder hidrolik
a. Pengujian dengan 100%
tekanan kerja
b. Pengujian dengan 120%
tekanan kerja
Kedapatan semua sistem baik
Kedapatan terjadi masalah kebocoran
Keterangan atau ulasan : .

40

Lampiran L-6, bentuk B


5. Katup pelepas (relief valve)
Diuji pada tekanan lebih . % atm (bar)
dari tekanan kerja
Saklar pemutus arus listrik, atas atm (bar)
tekanan lebih
Diuji pada tekanan lebih % atm (bar)
dari tekanan kerja
Bekerja dengan baik

Halaman 2 dari 2

... atm (bar)

... atm (bar)


... atm (bar)

Tidak terpasang
6. Operasi anti creep
Diuji dengan beban muatan 115%
nominal, berhenti dilantai manapun
Kemerosotan kereta maksimal
mm
7. Alat (saklar) henti batas lintas
(terminal)
Ukur jarak landas kereta terhadap
permukaan lantai-lantai terminal
mm
a. Saat saklar henti normal aktif
mm
(terlepas)
mm
b. Saat saklar henti akhir aktif
(terlepas)
c. Bandingkan (selisih) dengan
jarak luang lari.
8. Daya operasi pintu
a. Pembukaan kembali (re-opening)
Kerenggangan antara dua daun
pintu atau pintu terhadap sisi kusen
(jika jenis pintu buka-samping),
saat mana pintu tidak dapat . mm
membuka kembali, walaupun
ditahan.
b. Kerenggangan antara dua daun
pintu atau pintu terhadap sisi kusen
(jika jenis pintu buka-samping),
jika pintu telah dianggap menutup
dan kontak listrik telah masuk
mm

mm

mm
mm
mm

.. mm

.. mm

41

Lampiran L-6, bentuk C

Halaman 1 dari 2
Pengujian ulang Eskalator

Lift No.Jumlah unit dalam bangunan : traksi .hidrolik ..esc


Kapasitas nominal : .. kg. Jumlah stop/pintu : tinggi lintas ... m
Kecepatan nominal : ..m/s (.. m/m)
Pencatatan hasil pengujian,
Rujukan SNI
Tahapan/Jenis pengujian
Tahapan/ulangan
Hasil ujian awal
Tahun yang
(sebagai pembanding)
Peralatan yang diuji
ke
1. Ban pegangan (handrail)
a. Ban ditahan gerakannya secara
manual dengan gaya kira-kira 30 kgf
terjadi slip kiri/kanan
kedapatan baik (tidak slip)
b. Kecepatan ban diukur dengan
tachometer sesuai dengan kecepatan
step
lebih cepat
lebih lambat
2. Anak tangga (step)
Diuji secara acak terhadap beberapa
step goyang kiri/kanan, toleransi
main kedapatan baik

mm
.mm

%
.. %
( m/m)
( m/m)

. mm

. mm

m/m

.. m/m

.. mm

... mm

.. unit

.. unit

3. Saklar-saklar pengaman pemutus


arus
a. terhadap ban kendor
b. terhadap lubang masuk ban
c. terhadap plat sisir
d. terhadap V-belt dan/atau rantai
tenaga
e. terhadap perubahan phase listrik
f. terhadap roda-roda roller yang
pecah/lepas
4. Rem motor dan rem bantu
a. Eskalator ini dilengkapi dengan rem
bantu dan governor, bekerja
pada kecepatan
b. Eskalator ini tidak dilengkapi rem
bantu dan atau governor
c. Pengujian kemampuan rem dengan
beban 100% atau 50% arah turun
sumber arus listrik diputus.
Jarak kemerosotan step
Dalam jumlah satuan step

42

Lampiran L-7

Halaman 1 dari 2

Pemeriksaan dan pengujian terhadap perubahan teknis


Llif traksi

Lif Hidrolik

Daftar ini hanya mencakup satu unit lif

Nama gedung/bangunan
:
Jenis bangunan
:
Alamat dan nomor telpon
:
Pengelola bangunan
:
Alamat dan nomor telpon
:
Sumber tenaga listrik
: PLN /genset : V,phase :.freq : Hz
Surat permohonan perubaha : tgl..

A. Perubahan sistem
1. Peningkatan daya angkat kapasitas dari ... kg, menjadi . kg
2. Peningkatan kecepatan dari . m/m, menjadi ... m/m
3. Perubahan jumlah pintu/lantai dari : ../, menjadi .../.
4. Perubahan tinggi kerja (lintas) dari . m, menjadi . m
Catatan (jika perlu)
5. Penggantian mesin baru :

traksi

gearless

geared

hidrolik

6. Penggantian motor baru AC/DC/ACVVVF atau lain ..


7. Peningkatan daya motor dari : kW, menjadi .. kW
8. Penggantian jenis alat pengaman baru, jenis : ..
9. Perubahan sistem hidrolik baru : tekanan kerja hidrolik .. bar (atm)
Tekanan batas maksimal bar (atm)
Catatan (jika perlu) ..
B. Perubahan peralatan lain
1. Motor penggerak pintu : daya baru, dari . kW, menjadi .... kW
a. sistem baru .....
b. pengaman baru pintu buka kembali ..
2. a. Perubahan berat kereta dari .. kg, menjadi .. kg
b. Perubahan berat bobot imbang dari .. kg, menjadi . kg

tetap
tetap

3. Perubahan jumlah dan ukuran tali baja traksi konstruksi tali diameter .. mm,
jumlah .
4. Penggantian baru penyangga/peredam, jenis jarak langkah .. mm

43

Halaman 2 dari 2
5. Perubahan operasi dan/atau kendali operasi : .
a. operasi kebakaran : tambahan/baru .....
b. operasi tenaga listrik darurat/cadangan ...
c. operasi khusus ..
Uraian : ..
6. Tambahan (perubahan) sinyal, indicator, pencahayaan, dan bel darurat/interphone
Uraian, bila perlu .....

C. Prosedure pelaksana pengujian gunakan lampiran

L-5A

L-5B

Pelaksanaan perubahan teknis oleh : ..


Penanggung jawab perubahan teknis
Alamat dan telpon

: ..

Jakarta, tanggal

: .. ttd .

Diperiksa oleh

: .

Disetujui oleh

Catatan
: Plat data, label dan plakat uji keselamatan telah diganti baru dan
mencantumkan pelaksana penanggung jawab, dan tanggal pelaksanaan perubahan teknis.
Jakarta, . tgl

Ttd
Diperiksa/disaksikan oleh :

44

Lampiran 8
Halaman 1 dari 6
Daftar pertanyaan penyidikan atas kecelakaan pada pesawat lif/eskalator
I. Penyidikan terhadap pemgelola atau penyelia bangunan gedung.
Ya

Tidak

TAK

Pertanyaan

Keterangan dan
ungkapan

1. Apakah pengelola lalai


mengantisipasi / mengenali /
melaporkan suatu kondisi
berbahaya.

2. Apakah pengelola lalai


mencermati adanya
penyimpangan prosedur kerja
yang baku.

3. Apakah pengelola atau


bawahannya ikut serta dalam
rapat-rapat rutin pembahasan
kinerja alat-alat sarana
bangunan.

4. Apakah pengelola/penyelia
menyadari masing-masing
tanggung jawabnya atas
daerah-daerah (zona)
pengawasannya.

5. Apakah pengelola/penyelia
pernah ikut pelatihan
pencegahan kecelakaan.

6. Apakah pengelola lalai atau


gagal ambil inisiatif
melaksanakan reparasi/koreksi
atas peralatan yang kinerjanya
menyimpang sehingga
merupakan sumber bahaya.

7. Apakah pernah ada konflik


intern diantara pegawaipegawai atau antara pengelola/
penyelia dengan bawahannya.

45

Halaman 2 dari 6
Lanjutan -I

Ya

Tidak

TAK

Pertanyaan

Keterangan dan
ungkapan

8. Apakah pengelola
mengadakan rapat-rapat
keselamatan kerja dan
mencatat notulen rapat
mengenai topik masalah
dan solusi masalah.

9. Apakah pengelola yakin


peralatan yang mengandung
sumber bahaya harus
dirawat oleh ahlinya (pihak
yang kompeten).

10. Apakah pengelola yakin


bahwa teknisi bawahannya
telah dilatih dan cakap
sebelum diberi tugas.

11. Apakah pengelola sudah


menyelidiki secara
sungguh-sungguh bahwa
teknisi bawahannya
mempunyai latar belakang
dan pengalaman teknik
peringkat tertentu sesuai
dengan tugas yang akan
diembannya.

Catatan : TAK adalah tidak ada kaitan (non applicable)

46

Halaman 3 dari 6
II. Penyidikan terhadap teknisi pelaksana (TP)
Ya

Tidak

TAK

Pertanyaan

Keterangan dan
ungkapan

1. Apakah TP telah menerima


dan memahami prosedur
baku yang harus diikuti

2. Apakah prosedur baku


tersebut menyatakan
adanya sumber-sumber
bahaya yang harus dikenali
(identify) oleh TP selama
menjalankan tugas.

3. Apakah TP memahami
prosedur kerja

4. Apakah terjadi
penyimpangan prosedur
dalam pelaksanaan tugas.

5. Apakah TP mengalami
kondisi surut pada mental
dan phisiknya dari sebab
menjalankan tugasnya.

6. Apakah tugas TP terasa


sangat berat karena kondisi
sulit atau ada unsur
paksaan, dan sebagainya.

7. Apakah perlengkapan
pelindung diri (topi
helmet, dsb) memang
mencukupi untuk
tugasnya.

47

Halaman 4 dari 6
Lanjutan -II
Ya

Tidak

TAK

Pertanyaan

Keterangan dan
ungkapan

8. Apakah TP diberi
pelatihan menggunakan
perlengkapan pelindung

9. Apakah TP pernah
menolak meggunakan
perlengkapan pelindung
karena mengganggu dalam
melaksanakan tugasnya.

10. Apakah TP telah dilatih


dan paham menghadapi
situasi darurat termasuk
menggunakan alat-alat
khusus.

11. Apakah ada tanda-tanda


terjadi paksaan atau salah
pakai terhadap peralatan
pada tempat kejadian
kecelakaan.

12. Apakah telah terjadi pada


diri TP siapapun suatu
tindakan tercela atau
kinerja yang buruk dalam
menjalankan tugas yang
menyangkut kecelakaan.

13. Apakah TP mempunyai


sertifikat kecakapan
dan/atau memegang SIO
dalam segi keselamatan.

14. Apakah terjadi kekurangan


petugas pada saat
melaksanakan pekerjaan
disaat terjadi kecelakaan.

Catatan : TAK adalah tidak ada kaitan (non applicable)

48

Halaman 5 dari 6
III. Penyidikan terhadap peralatan
Ya

Tidak

TAK

Pertanyaan

Keterangan dan
ungkapan

1. Apakah terdapat cacat atau


kelainan pada peralatan
(termasuk bahan dan perkakas)
yang memberi andil penyebab
keadaan tidak aman atau
menimbulkan kondisi bahaya.

2. Apakah kondisi tidak aman atas


peralatan tersebut diketahui oleh
pihak pengelola/penyelia
ataupun salah satu bawahannya.

3. Apakah kondisi peralatan


berbahaya tersebut dilaporkan
secara benar kepada petugas
yang bertanggung jawab untuk
ditangani

4. Apakah prosedur pemeriksaan


terhadap peralatan cukup
menjamin dapat dikenali adanya
kondisi bahaya.

5. Apakah telah digunakan


perkakas dan alat sesuai untuk
pelaksanaan tugas.

6. Apakah perkakas/alat yang


sesuai tersebut memang ada dan
tersedia untuk dipakai.

7. Apakah petugas mengetahui


bagaimana memperoleh
perkakas / alat tersebut ditempat
kerja.

49

Halaman 6 dari 6
Lanjutan III
Ya

Tidak

TAK

Pertanyaan

Keterangan dan
ungkapan

8. Apakah ada suatu rancangan


teknis yang kurang tepat pada
peralatan penyebab kesalahan
pekerja.

9. Apakah diperlukan alat-alat


khusus untuk peralatan
tersebut, (termasuk
penanganan kesalahan
petugas.

10. Apakah perkakas/alat untuk


menangani keadaaan darurat
dapat diperoleh dengan
mudah dan apakah masih
berfungsi dengan baik.

11. Apakah terdapat catatan


riwayat peralatan atau
komponen (pada log-book)
yang menyangkut kejadian
kecelakaan.

12. Apakah terdapat catatan


riwayat peralatan lain (yang
pernah menjadi penyebab
kecelakaan) dalam kasus yang
serupa.

13. Apakah pengelola atau


perusahaan jasa perawat
memasang plakat/label
peringatan khusus pada
peralatan yang mengandung
potensi bahaya.

Catatan : TAK adalah tidak ada kaitan (non applicable)

50

Lampiran L-9
Panduan persyaratan minimal kualifikasi kompetensi keterampilan dan keahlian bagi
Pemeriksa dan Penguji pesawat lif dan eskalator.
a.

Peringkat kompetensi keterampilan Pemeriksa dan Penguji adalah sebagai berikut :


1. Peringkat Utama, harus memiliki n.u.p-700, minimal 500
2. Peringkat Madya, harus memiliki n.u.p-500 minimal 350
3. Peringkat Muda, harus memiliki n.u.p-350, minimal 250
Catatan : n.u.p adalah nilai unit pembelajaran.

b.

Kesetaraan n.u.p untuk ijasah pendidikan formal, pengalaman kerja dan pelatihan
tercantum pada tabel berikut ini.
Pendidikan formal
kesetaraan n.u.p

Ranah
kognetif

Pengalaman
dalam
bidangnya
per tahun

Pelatihan khusus
1 jam pelajaran
setara
dengan 3 n.u.p

Evaluasi
penilaian
assessment
sintesa

Sarjana S2 = 260
Sarjana S1 = 220

40
40

20JP = 60
30JP = 90

analisa
penerapan
aplikasi

Akademi D4 = 200
Akademi D3 = 140
Akademi D2 = 100

30
20
20

40JP = 120
40JP = 120
40JP = 120

10
10

50JP = 150
50JP = 150

ingatan
pemahama Kejuruan D1 = 80
n kebiasaan Kejuruan SMK = 60

c.

Beberapa contoh kombinasi pendidikan formal, pengalaman dan pelatihan untuk


mencapai n.u.p minimal yang dipersyaratkan :
Contoh -1. Peringkat Pemeriksa/Penguji Utama : (ahli)
Pendidikan Sarjana S1
Pengalaman 4 tahun :

= 220
4 x 40

Pelatihan 40 JP x 3
Jumlah penilaian n.u.p

= 160
= 120
= 500

51

Contoh -2. Peringkat Pemeriksa/Penguji Madya : (ahli)


Pendidikan Akademi D2
Pengalaman 7 tahun :

= 100
7 x 20

= 140

Pelatihan 40 JP x 3

= 120

Jumlah penilaian n.u.p

= 360 > 350

Contoh -3. Peringkat Pemeriksa/Penguji Muda : (terampil)


Pendidikan kejuruan STM

= 60

Pengalaman 7 tahun : 7 x 10

= 70

Pelatihan 40 JP x 3

= 120

Jumlah penilaian n.u.p

= 250

Rujukan : Standar kompetensi keahlian dan keterampilan bidang perawatan


bangunan, oleh Jimmy S. Juwana, Universitas Trisakti, Fakultas Teknik
Sipil.

52

Apendiks - A
Persyaratan Teknis
A.1. Persyaratan teknis alat pengaman kecepatan lebih.
1.

Setiap lif harus dilengkapi dengan alat pengaman kecepatan lebih kereta yang dapat
memberhentikan kereta dari kelajuan melampaui kecepatan nominal arah turun.

2.

Alat pengaman kereta harus dari jenis yang aman efektip sesuai dengan
kecepatannya tanpa menimbulkan kejutan. Oleh karena itu kemerosotan kereta saat
alat pengaman bekerja harus dalam batas-batas tercantum dalam tabel halaman
berikut.

3.

Kerja alat pengaman dipicu oleh governor pengindera kecepatan lebih. Governor
harus disetel, diuji dan disegel untuk memastikan kinerjanya sesuai dengan
ketentuan kecepatan lebih dalam tabel halaman berikut.

4.

Lif-lif dengan kecepatan mulai 60 m/m keatas, governornya harus dilengkapi


dengan saklar pengaman pemutus arus listrik ke motor, yang bekerja saat terjadi
kecepatan lebih tertentu, sebelum governor jatuh tersentak dan menggigit tali
pengaman.

5.

Mekanisme alat pengaman harus dilengkapi dengan saklar pemutus arus listrik ke
motor yang bekerja saat governor jatuh tersentak, sebagai kelengkapan disamping
saklar governor.

6.

Cara bekerja alat pengaman dan governor pembatas kecepatan tidak terkait dengan
kerja motor penggerak atau kendali operasi. Lihat diagram.
1. adalah governor dengan roda puli yang diputar oleh tali baja pengaman.
2. adalah dua pasang rem baji pengaman (safety block) yang dipasang langsung
pada rangka kereta bagian bawah (pada produk tertentu dipasang pada rangka
kereta bagian atas, atau dipasang pada kedua bagian rangka kereta tersebut).
3. adalah tali baja pengaman (safety rope)
4. adalah roda penegang tali pengaman yang dipasang dipit.
5. adalah tuas-tuas pada rangka yang diikat tali pengaman sehingga tali berfungsi
memutar roda governor.
6. saat tali digigit atau dijepit oleh rahang governor yang jatuh tersentak, tuas akan
bertindak menarik sepasang batang (lifting rods) dan rem baji terangkat masuk
kedalam rumah tirus dan menjepit rel.
7. tuas-tuas mekanisme dipasang untuk menggerakkan lifting rods dan rem baji
pada sisi lain dari rangka kereta secara bersamaan.

53

Gambar -1

Kecepatan
nominal kereta
(m/m)

Sampai 45 m/m
45 s/d 60
60 s/d 90
90 s/d 105
105 s/d 150
150 s/d 210
210 s/d 300
300 s/d 360
diatas 360

Persentase (%) maksimal


kecepatan lebih terhadap
kecepatan nominal
Saat saklar
Saat
pengaman
governor
terbuka
bekerja
40
50
30
40
35
40
25
35
22
30
20
25
15
20
15
20
15
20

Jarak kemerosotan
kereta (m)
minimum

maksimum

0.05
0.10
0.20
0.22
0.50
1.00
2.00
2.70
3.70

0.40
0.70
1.00
1.13
1.80
3.00
5.60
8.00
9.40

54

A.2. Persyaratan teknis penyangga/peredam

1.

Setiap instalasi lif harus dilengkapi dengan penyangga/peredam, yaitu satu atau dua
(sepasang) untuk menahan kereta yang turun merosot diluar batas, dan satu lagi
(sepasang) untuk menahan bobot imbang yang mungkin merosot diluar batas
lintasannya.

2.

Jenis penyangga/peredam harus sesuai dengan kelajuan nominal kereta, menurut


ketentuan tersebut pada tabel berikut ini.
Kelajuan nominal
kereta dalam m/m
Sampai dengan 30
Sampai dengan 45
45 s/d 60
75 s/d 90
120 s/d 180
210 s/d 360
diatas 360

3.

Jenis penyangga atau peredam


yang digunakan
Bumper dari bahan kenyal
Penyangga pegas
Penyangga pegas
Peredam hidrolik
Peredam hidrolik dilengkapi dengan pegas
Peredam hidrolik dilengkapi dengan pegas dan karet bentur
Peredam hidrolik dilengkapi dengan gas nitrogen

Penyangga/peredam harus memampu menahan gaya tumbuk akibat kereta dengan


beban nominal jatuh bebas pada kecepatan 115% dari kecepatan nominalnya.
Ketentuan jarak langkah penyangga/peredam tercantum pada tabel berikut ini :

Jarak minimal langkah penyangga/peredam


a. untuk penyangga pegas/bahan kenyal.
Kelajuan nominal kereta
s/d 30 m/m
s/d 45 m/m
s/d 50 m/m
s/d 60 m/m

Langkah minimal
3.8 cm
4.0 cm
6.0 cm
10.2 cm

b. untuk peredam minyak hidrolik


Kelajuan nominal kereta
s/d 60 m/m
s/d 76 m/m
s/d 90 m/m
s/d 105 m/m
s/d 120 m/m
s/d 150 m/m
s/d 180 m/m
s/d 210 m/m
s/d 240 m/m
s/d 300 m/m
s/d 360 m/m

Langkah minimal
6.9 cm
10.8 cm
15.8 cm
21.0 cm
28.0 cm
43.2 cm
63.0 cm
84.5 cm
110 cm
250 cm
340 cm

55

4.

Pelaksanaan pengujian dari segi praktis adalah sebagai berikut :


Mula-mula kereta lif ditempatkan pada lantai 1 (satu lantai diatas lantai
lobi/terminal bawah). Kereta dimuati beban penuh dengan test weight. Sementara
saklar-saklar pengaman batas lintas, saklar pelamban, dan saklar floor stop dilepas
atau dijumper. Rem mesin dibuka dan jalankan motor secara manual agar lif turun
dan membentur peredam.
Lif-lif dengan peredam hidrolik berkecepatan medium (120 s/d 210 m/m), dan
kecepatan tinggi, mula-mula kereta ditempatkan pada lantai-2, dengan tujuan saat
membentur peredam kecepatannya telah mencapai 115% kecepatan nominal.
Setelah kereta membentur dan terhenti, ukur jarak langkah torak peredam.
Kemudian kereta diangkat kembali keatas, dan ukur tempo piston atau torak
kembali keatas seperti posisi aslinya, maksimal dalam tempo 90 detik.

A.3. Persyaratan teknis tali baja traksi


1.

Tali baja traksi harus dari jenis lues yaitu jumlah pilinan minimal 8. Dalam praktek
diguankan tali berkonstruksi 8 x 19 FC (FC adalah fibre core yang mengandung
minyak anti karat).

2.

Seluruh tali dalam satu sistem lif traksi harus seragam, yaitu diameter sama,
konstruksi sama dan dari satu produsen, dan terakhir harus satu batch (satu
gulungan/reel). Pengiriman stock gulungan tali harus disertai sertifikat uji kekuatan
tali menyatakan diamater, konstruksi tali, dan batas patah dalam N (Newton).

3.

Tali harus disetel tegangannya menekan dengan seragam pada permukaan roda puli.
Penyetelan harus dilakukan 2 kali, yaitu mula-mula saat selesai terpasang,
dibolehkan selisih 10%. Kemudian distel ulang setelah kereta beroperasi beberapa
hari dengan selisih tegangan kurang dari 10%.

4.

Jumlah tali yang digunakan harus memenuhi perhitungan dengan rumus sebagai
berikut:
n = g (P + Q + R) f ,
dimana
Bp.i
n adalah jumlah lembar tali, dibulatkan keatas. Jumlah minimal adalah 3 tiga lembar.
P adalah berat kereta kosong, (kg)
Q adalah kapasitas nominal, (kg)
R adalah berat sendiri tali (diasumsikan), (kg)
f adalah faktor keamanan sesuai dengan kecepatan tali, bukan kecepatan kereta lihat
tabel pada halaman berikut.
Bp adalah batas patah maksimal tali sesuai dengan sertifikat uji dalam satuan N
i adalah angka sistem pentalian (roping), yaitu 2 :1 roping, i =2 dan 1:1 roping, i =1.
g adalah aselerasi gravitasi bumi = 9.8 m/s2.

5.

Tali baja traksi (dan juga tali baja pengaman governor) harus diganti baru jika
kedapatan phenomena salah satu dari hal-hal berikut ini (lihat SNI-03-7017.1-2004)
butir A11.3 halaman 33.

56

a.
b.

c.

Kedapatan seluruh tali kering dan berkarat mengeluarkan debu merah.


kedapatan diameter tali seluruhnya atau salah satunya susut maksimal 10%
(umpama diamater semula 13 mm, menjadi 11.9 mm, dan yang semula 16 mm
menjadi 14.8 mm).
kedapatan beberapa elemen kawat patah dengan 3 kriteria patahan dalam satu
puntiran (in one lay) dari lilitan, yaitu :
1). Kriteria 1 : Patahan merata diantara seluruh 8 pilinan (strand) dan dalam
satu puntiran (lay) terdapat 32 sampai 40 elemen kawat telah patah.
2). Kriteria 2 : Patahan didominasi oleh satu atau dua pilinan (strand) dan
dalam satu puntiran (lay) terdapat 10 sampai 16 elemen kawat yang patah.
3). Kriteria 3 : Patahan 4 atau lima kawat bersebelahan pada daerah gunungan
tali dari satu pilinan, dan jumlah patahan dalam satu puntiran (lay)
melebihi 16 sampai 24 kawat.
Catatan :
1.
Salah satu kriteria tersebut diatas telah cukup sebagai alasan untuk mengganti baru tali
baja.
2.
Batas angka patahan terendah untuk maksud dilakukannya pemeriksaan tiap-tiap bulan
atas perkembangan jumlah patahan. Batas angka patahan tertinggi adalah keputusan final
mengganti baru tali baja.
3.
Batas angka tertinggi tersebut diperketat 50%nya jika dikombinasi dengan phenomena
diamater tali susut dan/atau berkarat.

Faktor keamanan tali baja traksi


Kecepatan
Tali baja traksi
S/d 45
60
90
105
120
150
180
210
240
300
360
420 dan keatas

f, faktor
keamanan
Lif penumpang
8.00
8.80
9.20
9.50
9.75
10.20
10.70
11.00
11.25
11.55
11.80
12.00

f, faktor
keamanan
Lif barang
7.00
7.60
8.20
8.50
8.75
9.20
9.50
9.80
10.00
10.30
10.30
10.50

57

Gambar -2
Ruang aman atas kereta lift hidrolis
Ruang aman min 60 cm

58

Gambar -3
Lekuk dasar atau pit. Dalamnya pit harus mengakomodasi
tinggi (rangka dasar kereta), luang lari, langkah torak (peredam),
tinggi silinder dan tinggi pendukung silinder (buffer stand)

59

Gambar-4
Jarak luang lari bobot imbang normal = 23 cm
Jika tali baja mulur, maka luang lari harus diperhatikan minimal 7 cm
Saat mana tali harus dipotong (diperpendek)

60

Gambar-5
Posisi tuas 5 cm dari limit switch yang pertama saat kereta rata lantai atas
Pada saat itu posisi bobot imbang 23 cm (runby)
Diatas dari ujung torak (piston)

61

A.4.
a.

Persyaratan teknis pengaman lift hidrolik


Tekanan Puncak
Katup pelepasan (system reliefe valve) sebagai pengaman terhadap tekanan lebih
atau tekanan puncak hidrolis (working pressure at full load up) atas tekanan kerja
hidrolis harus dicoba pada awal operasi.
Alternatif pertama dengan cara menutup katup utama penutup (shut off valve), dan
jalankan motor pompa dengan menggunakan saklar jarak jauh (remote switches)
sampai tekanan hidrolis yang terbaca pada manometer (pressure gauge) mencapai
batas tekanan maksimal tertera pada label, dan katup pelepasan (system relief valve)
seharusnya terbuka dengan sendirinya melepaskan minyak hidrolis kembali ke
tangki persediaan. Katup pelepasan biasa disetel dipabrik 1,25 kali tekanan kerja
(full load up). Jika perlu katup disetel ulang dengan menggunakan skrup penyetel
yang tersedia. Alternatif kedua dengan menjalankan kereta kelantai terminal atas
dan motor pompa tetap bekerja. Saklar batas lintas atas dilepas atau tidak
difungsikan. Tekanan hidrolis akan naik mencapai batas tekanan puncak yang diset
untuk katup pelepasan karena torak (piston rod) terhenti tertahan oleh metal stop di
ujung silinder. Percobaan dapat dilakukan dengan atau tanpa beban didalam kereta.
Peringatan setelah selesai uji coba, jangan lupa fungsikan kembali saklar batas lintas
atas, dan juga katup manometer ditutup kembali.

b.

Katup pengaman silinder (rapture valve)


Kereta dengan beban maksimal diusahakan meluncur dari lantai terminal atas
melebihi kecepatan normal dengan cara simulasi seolah-olah katup-katup tidak
bekerja atau terjadi kebocoran. Kereta akan terhenti setelah bergerak turun kira-kira
3 meter, oleh kerja katup pengaman (rapture valve), kemudian setel atau diset mur
pada katup pengaman tersebut dimana perlu, dan ulangi pengujian tersebut diatas.

A.5.

Panduan bagi inspektur pemeriksa dan penguji

Item 1:

Di dalam kereta

Item 1.1

Alat pembuka kembali pintu

(a)

Alat mekanikal atau safety edge.

(b)

Alat elektronik (medan elektrostatik,)

(c)

Alat photoelectric (berkas sinar lurus melintang bukaan)

Ketiga alat tersebut berfungsi menghentikan dan membuka kembali pintu yang sedang
menutup, jika diganggu oleh obyek yang menghalanginya.
Alat (c) biasanya sebagai pelengkap untuk alat (a) dan/atau (b). Lokasi berkas sinar
terhadap lantai kereta perlu dipastikan.
Item 1.2

Sakelar stop (henti)

Sakelar sebagai tindakan darurat; aktifkan dan perhatikan apakah kereta berhenti secara
semestinya. Sakelar stop dapat dipasang didalam kereta berupa kunci kontak, atau sakelar

62

biasa yang dipasang di dalam kotak kabinet. Masukkan sakelar/kunci ke posisi normal, lif
akan beroperasi lagi.

63

Item 1.3

Alat kendali operasi

(a)

Sakelar operasi dengan jenis tekan terus

(b)

Operasi otomatis dan sinyal

(c)

Operasi oleh operator

Semua tombol dan sakelar dicoba, apakah macet/lengket, atau menempel. Apakah
bertanda yang sesuai dan apakah operasi lif berjalan baik.
Jika lif dilengkapi dengan alat perataan otomatis, perhatikan ketepatan henti pada
permukaan lantai. Alat perataan lantai secara manual dengan tombol hanya dapat
beroperasi dalam zona yang diizinkan (leveling zone 0.305 m), gambar 1.10.
Item 1.4

Ambang dan lantai kereta

(a)

Ambang berengsel pada kereta (umumnya pada lift barang)

(b)

Ambang berengsel pada lantai bangunan (umumnya pada lift barang)

Perhatikan kondisi lantai, luang lari antara ambang lantai dan ambang kereta. Periksa
apakah ada las yang patah, aus dan sebagainya yang menyebabkan operasi tidak betul.
Periksa baut-baut, engsel, titik tumpu, bandul, tali atau rantai yang menghubungkan
ambang dengan bandul.
Item 1.5

Pencahayaan kereta dan stop kontak

Periksa lampu-lampu pencahayaan terpasang dengan kokoh. Paling tidak harus ada 2
lampu dan terlindungi untuk menghindari kecelakaan (SNI 03-2190-1999 : intensitas
cahaya minimal 54 lux pada lantai kereta atau kira-kira sama dengan 5 fc).
Untuk tiap-tiap lif penumpang harus terpasang lampu darurat. Fungsi harus dicoba
dengan memutus sumber arus listrik: Periksa sumber listrik batere, apakah dirawat dan
kondisi baik.
Item 1.6

Sinyal darurat kereta

Sinyal darurat berupa bel atau sejenisnya yang terdengar dari kereta dan dibangunan.
Tombol sakelar darurat bertanda ALARM harus menyala (iluminasi) jika diaktifkan. Lif
yang tinggi lintasannya melebihi 30,0 m harus ada satu sinyal duplikasi (ganda) pada
lantai-lantai tertentu yang ditetapkan. Matikan sumber tenaga listrik, apakah sinyal dapat
beroperasi dan komunikasi 2 arah tetap bekerja.
Lif dengan tinggi lintasan lebih dari 18,0 m atau jarak lantai ke lantai lebih dari 4.5 m
harus dilengkapi dengan alat komunikasi 2 arah. Lif dalam bangunan di mana tidak ada
orang yang mengawasi (biasanya bangunan apartemen sederhana), periksa apakah ada
alat penghubung sinyal atau komunikasi 2 arah, ke luar bangunan.
Item 1.7
(a)

Pintu kereta

Periksa kondisi fisik pintu terhadap kemungkinan patahan, bengkok dan bagian
yang tertekuk. Gerakkan pintu dan perhatikan apakah cukup leluasa. Sepatu pintu
bergerak mengikuti alur dan dipasang dengan kencang tidak goyang. Pintu
harmonika/jeruji (collapsible gate) tidak dibolehkan untuk lif penumpang.
64

(b)

Periksa posisi pintu saat menutup, dianggap rapat jika jarak dengan tiang kusen
kereta tidak lebih dari 10 mm, atau jika terdiri dari 2 panil pintu, kerapatannya
mempunyai jarak maksimal 10 mm antara sisi-sisi yang bertemu. [(lihat item
4.2.(d)]

(c)

Perhatikan posisi bidang pintu kereta terhadap bidang pintu lantai, celah antara
keduanya tidak boleh melebihi ketentuan. Jika terlalu longgar harus dipasang plat
pelindung (sight guard).

Item 1.8

Gaya menutup pintu

Hentikan kereta pada lantai, dan biarkan pintu kereta menutup, sampai pada jarak antara
sepertiga dan dua pertiga menutup, lalu pintu ditahan. Gaya pintu yang ditahan diukur
kekuatannya, seharusnya berkisar 133 N (maksimal 150 N). Alat ukur (gunakan
dynamometer) yang menahan pintu dilonggarkan sedikit, sampai pintu mau bergerak
menutup, maka pada saat itu terjadi keseimbangan dan dicatat besaran gaya yang terjadi.
Item 1.9

Daya penutupan pintu

Di mana lif dilengkapi dengan tombol buka pintu, maka jika tombol ditekan, pintu yang
sedang menutup akan berhenti ; atau berhenti dan membuka kembali. Apabila terdapat
cara urutan penutupan pintu jenis sorong vertikal, periksa cara kerjanya.(lihat item 4.7)
Item 1.10 Daya pembukaan pintu
Periksa bahwa daya pembukaan pintu pada lif otomatis (kendali statik) dapat terjadi jika
kereta telah mencapai zona pendaratan 457 mm dari permukaan lantai. Orang atau
perusahaan pemasang atau perawat harus mendemonstrasikan bahwa daya belum aktif
sampai kereta mencapai 305 mm dari lantai. Kecepatan pada saat itu maksimum 45
m/menit (0.76 m/detik) harus dibuktikan (gambar 1.10).
Item 1.11 Panil kaca dan pintu kereta dari kaca
Periksa kaca dari jenis yang betul yaitu dengan penguat kawat (wired glass) atau kaca
lapis (laminated glass), maksimal 0.093 m2. Periksa terhadap retakan atau pecahan. Jika
kaca pada pintu luasnya kurang 80% dari luas pintu, maka dianggap sama dengan panil
kaca dengan syarat-syarat seperti tersebut di atas.

65

Gambar Item B.1 Daya pembukaan pintu

Item 1.12

Dinding kereta

Periksa apakah ada perubahan atau tambahan pada dinding kereta yang menyebabkan
perubahan bobot kereta (termasuk perubahan dekoratif).
Periksa apakah penandaan terpasang pada dinding termasuk tanda kelas-muatan pada lif
barang.
Peralatan yang dibolehkan ada dikereta selain alat-alat untuk operasi, ialah: lampu
pencahayaan, pemanas, ventilasi, dan pendingin udara, dan dibolehkan adanya rel,
pegangan alat transport (conveyor track), kait gantungan, rangka pendukung dilangitlangit.
66

Periksa nomor lif dipasang pada panel operasi jika ada beberapa unit dalam bangunan.
Item 1.13

Eksit darurat

Periksa panil eksit darurat di atap tidak ada penghalang, dapat dibuka tanpa kunci dan
pastikan eksit darurat dinding samping kereta selalu tertutup dan terkunci (dengan kunci
khusus) dan dilengkapi dengan kontak listrik, sebagai persyaratan pada eksit samping
kereta.
Item 1.14

Ventilasi

Jika fan ventilasi listrik dipasang, harus terlindung dan di pasang dengan kuat dan tidak
mengganggu/menghalangi eksit darurat di atap. Kapasitas fan ialah penggantian total
volume udara di kereta tiap-tiap menit .
Item 1.15

Simbol dan tanda pada panel operasi

Periksa bahwa simbol telah sesuai dengan kebutuhan alat operasi atau sesuai
penggunaannya. .
Item 1.16

Beban nominal, luas landas dan plakat data

Ukur luas kereta pada posisi 0.9 m diatas lantai, dimensi bersih diukur diluar panel
apapun yang terpasang pada dinding, tetapi termasuk rel pegangan. Bandingkan luas
dengan kapasitas maksimalnya. Persyaratan juga berlaku untuk lif barang dengan tiga
macam kelas muatan, termasuk persyaratan lif barang untuk truk industri.
Item 1.17

Pengoperasian dengan tenaga listrik siaga

Periksa sakelar pemindah (standby switching gear) terhadap kemungkinan rusak atau
tidak berfungsi.
(a)

Kategori-1. Tempatkan semua lif di lobi atau di mana dipasang sakelar pemindah
dan gunakan daya siaga, aktifkan sakelar siaga. Jalankan lif tanpa beban. Ukur
kecepatan lif tidak boleh lebih dari 125% kecepatan nominalnya.

(b)

Kategori-5. Jika hanya satu unit lif yang ditunjuk memakai daya siaga, lakukan uji
tersebut di atas dengan beban 125% dan jalankan lif serta perhatikan (ukur)
kecepatannya tidak melebihi dari 125% kecepatan nominalnya. Jika terdapat
beberapa unit lif dalam bangunan maka lakukan uji di atas dengan beban nominal,
dan jalankan semua lif bersamaan. Ukur kecepatan lif tidak boleh lebih dari 125%
kecepatan nominalnya.

Item 1.18

Bukaan terbatas pintu kereta atau pintu lantai

Pada daerah pendaratan (landing zone = 0.45 m di atas dan di bawah permukaan lantai)
pintu-pintu (lantai dan kereta) dapat dibuka sekaligus dengan kunci khusus (unlocking
device). Daerah atau zona pendaratan disebut unlocking zone. Di luar daerah tersebut
pintu-pintu kereta tidak dapat dibuka, kecuali terbatas maksimal 100 mm. Bukaan dengan
(paksa) dari dalam kereta dibatasi tidak boleh lebih dari 100 mm. Penguncian dapat
dilakukan terpadu di dalam motor penggerak pintu atau cara-cara lain dengan
mekanisme plat bendera pada pintu (oleh beberapa merk dagang). Lakukan uji berikut
67

ini: kereta berhenti dil uar zona pendaratan. Matikan lif (dengan in car stopping switch)
agar motor pintu tidak berfungsi. Buka pintu kereta melebihi 100 mm, dan coba buka
pintu lantai dari dalam kereta, maka tidak boleh terbuka melebihi 100 mm.
Item 1.19

Jalannya kereta ( car ride)

Jalankan lif dari terminal bawah ke terminal teratas dan kembali. Perhatikan mana-mana
yang tidak wajar, getaran, goyangan yang berlebihan sebagai tanda rel pemandu tidak
dipasang dengan benar, atau roda (roller) pemandu yang longgar atau aus (semua gejala
tidak wajar termasuk untuk bobot imbang).

68

Item 2:

Kamar mesin

Item 2.1

Akses keruang mesin

(a)

Periksa apakah jalan masuk ke kamar mesin dan ke ruang peralatan cukup aman,
mudah dan permanen dan terpelihara. Periksa tangga dan bordes apakah kuat dan
stabil (penggunaan tangga monyet dilarang).

(b)

Periksa apakah pintu terawat dan dapat dikunci, dapat dibuka dari dalam tanpa
menggunakan kunci.

Item 2.2

Ruang bebas di atas mesin

Periksa dan perkirakan apakah tinggi ruang cukup longgar. Ukur mulai dari lantai kamar
mesin sampai ke bagaian terbawah dari peralatan yang menggantung di langit-langit.
Item 2.3

Pencahayaan dan stop kontak

Periksa apakah iluminasi cukup memenuhi persyaratan dan apakah stop kontak ganda
terpasang serta berfungsi (minimal 200 lux atau kira-kira 18 fc).
Item 2.4

Ruang mesin

Periksa kondisi peralatan, luas ruangan, tinggi overhead. Ruang mesin di dalam ruang
luncur, perlu diperiksa kisi-kisi, landas dan pendukungnya, harus kuat. Periksa ruang
mesin ke dua (langsung ada di atas ruang luncur). Periksa atap dan jendela dari kebocoran
dan terlindung dari anasir. Periksa dan coba komunikasi antara kamar mesin dengan tiaptiap kereta lif.
Item 2.5

Kebersihan.

Periksa kamar mesin tidak digunakan untuk menyimpan barang apapun, terlebih yang
mudah terbakar kecuali untuk keperluan perawatan. Periksa kebersihan lantai dan
kemungkinan adanya ceceran minyak pelumas atau gemuk pada lantai di bawah mesin.
Item 2.6
Ventilasi
Periksa apakah ventilasi mekanik dan tata udara (Air Conditioning) berfungsi. Periksa
ventilasi jendela atau jalusi dapat terbuka untuk menjamin kondisi peralatan.
Item 2.7

Alat pemadam api

Periksa apakah alat pemadam api jenis kering kelas ABC terpasang dan mudah
dijangkau dekat dengan pintu akses. Alat tersebut harus dirawat tiap-tiap tahun dan
diperiksa tiap-tiap bulan, dengan penandaan atau catatan (kapasitas pemadam 5 kg).
Item 2.8

Pipa, pengawatan, dan saluran

Hanya pipa, pengawatan dan saluran yang ada hubungannya dengan lif, dibolehkan
dipasang di kamar mesin. Periksa pipa sprinkler sedapat mungkin dipasang di luar kamar
mesin. Sprinkler tidak boleh bekerja sebelum lif mati; gunakan pendeteksi panas guna
memutuskan arus daya tenaga listrik lif, kemudian sprinkler aktif. Pendeteksi asap
dilarang.

69

Item 2.9

Pelindung peralatan bantu yang terbuka

Periksa semua kurungan pelindung terpasang pada tempatnya dengan kokoh, untuk
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan.
Item 2.10

Penomoran lif , mesin dan sakelar penutup

Jika terdapat beberapa unit lif dalam bangunan, maka tiap-tiap unit lif : kendali utama
mesin sakelar utama, dan pemutus arus harus ditandai dengan satu nomor yang sama,
dengan cat. Tinggi nomor minimal 38 mm. Periksa keabsahannya dengan peraturan
bangunan yang berlaku.
Item 2.11
(a)

Sakelar pemutus arus

Periksa apakah alat pemutus arus sumber listrik utama dalam keadaan bekerja
dengan baik, dan terpasang dengan kencang pada lokasi yang mudah terjangkau.
Jika lif memperoleh sumber daya listrik lebih dari satu, periksa apakah alat
pemutus arus terpisah untuk masing-masing sumber daya dan apakah dapat terlihat
dari lokasi peralatan lif. Periksa apakah tanda-tanda peringatan dipasang dekat
dengan alat pemutus arus.

(b)

Alat pemutus arus lampu pencahayaan kereta.


Periksa apakah alat pemutus arus untuk tiap-tiap kereta telah terpasang di ruang
mesin. Alat tersebut harus diberi nomor sesuai dengan nomor-nomor lif.

Item 2.12
Pengawatan kendali, pengaman lebur, pembumian, dan sebagainya
(a)
Pemeriksaan dilaksanakan tanpa daya listrik. Periksa reli (relay), sakelarsakelar ,
kontaktor, rectifier, transformer, kapasitor, resistor, tabung vakum, pc board, dan
sebagainya, atas kemungkinan :
(1) Aus, terbakar (pada kontak), patah, retak

(b)

(2)

Besaran pengaman lebur tidak sesuai

(3)

Kawat Jumper, atau pasangan kawat sementara.

(4)

Penumpukan sisa pembakaran pada resistor atau kawat

(5)

Reli phase tidak berfungsi/tidak terpasang

Pemeriksaan dengan daya listrik.


Awasi kerja kendali selama lif dijalankan naik-turun. Apakah ada percikan api
pada kontaktor, panas berlebihan pada resistor dan kontak yang meleset atau
miring pada reli dan sakelar.

Item 2.13

Kendali statik

Pemeriksaan kategori-1 (ulang tahunan) : Orang atau perusahaan pemasang atau


pemelihara harus membuktikan dan mendemonstrasikan kesesuaian persyaratan dengan
cara berikut (kendali static tanpa MG set ) :
(a)

Jalankan lif dan tunjukkan bahwa ada dua sakelar henti akan memutus tenaga
listrik, masing-masing secara sendiri-sendiri, menghentikan motor penggerak dan

70

kereta. Paling tidak satu sakelar dari jenis elektro mekanikal yang juga dapat
mengaktifkan sirkit rem mesin.
(b)

Cegah (hindari) sakelar elektro mekanikal tadi agar jangan aktif bekerja dan
lakukan panggilan kereta. Perlihatkan bahwa rem mesin tidak terangkat dan kereta
tidak bergerak, walaupun pintu telah ditutup.

(c)

Perlihatkan salah satu kontaktor pada sirkit rem mesin akan mencegah rem
terangkat (bekerja)

(d)

Perlihatkan bahwa kerja alat-alat proteksi listrik yang manapun akan menyebabkan
hubungan tenaga listrik untuk mesin dan rem menjadi putus.

71

Item 2.14

Balok angkat dan pemasangannya

Periksa balok angkat (hoisting beam) pada langit-langit dan pastikan apakah telah
kencang terpasang pada pendukungnya dan terbenam pada dinding. Periksa kedudukan
pendukung. Periksa baut pengencang dari peralatan pendukung dan roda (trolley).
Item 2.15
(a)

Rem mesin

Pemeriksaan dengan daya listrik terpakai.


Jalankan lif dan amati kerja rem. Rem harus bekerja otomatis, terangkat saat mesin
bekerja dan mengerem saat penghentian atau setelah berhenti total. Periksa penapena titik tumpu dan pelumasannya.

(b)

Pemeriksaan tanpa daya listrik .


Periksa sepatu dan lapisan rem dan tabung apakah berminyak atau ada goresan
pada tabung.

Item 2.16
(a)

Mesin penggerak

Pemeriksaan dengan daya listrik terpakai.


Jalankan lif, beberapa kali berhenti, naik dan turun dan amati kerja motor. Periksa
sikat karbon komutator apakah terjadi percikan bunga api (spark), atau suara atau
keausan yang berlebihan pada motor.

(b)

Pemeriksaan tanpa daya listrik.


(1)
(2)
(3)

Item 2.17
(a)

Roda gigi, bantalan dan kopling fleksibel

Pemeriksaan dengan daya listrik terpakai.


(1)

(2)

(b)

kondisi pemegang sikat dan sikat karbon.


Kondisi kumutator harus kering dan bersih bebas dari goresan.
Sambungan terminal cukup kencang dan insulator tidak retak.

Jalankan lif , beberapa kali berhenti, naik dan turun dan perhatikan apakah
terjadi main (maju mundur, backlash) pada poros roda gigi dan bantalan.
Suara yang tidak wajar menunjukkan pada bantalan ada masalah.
Perhatikan melalui tutup rumah gigi apakah minyak terangkat ke atas, dan
apakah pelumasan berfungsi semestinya.

Pemeriksaan tanpa daya listrik


Periksa minyak pelumas dalam rumah gigi apakah mengandung partikel metal
(metallic particles). Periksa permukaan minyak sesuai dengan petunjuk pada
tongkat uji. Periksa kemungkinan adanya kebocoran minyak pelumas penyebab
rusaknya kopling fleksibel.

Item 2.18
(a)

Mesin tabung gulung

Matikan sumber daya listrik dan periksa ikatan tali baja pada sisi dalam tabung.
Perhatikan bahwa label menunjukkan ikatan tali telah dikencangkan ulang dalam
12 bulan terakhir (mesin di atas) dan dalam 24 bulan untuk mesin di bawah atau di
samping ruang luncur.
72

(b)

Periksa alat proteksi tali kendor. Pastikan tidak ada gangguan pada alat-alat lain
jika tali menjadi kendor. Pastikan alat proteksi atau sakelar terletak dekat dengan
mesin agar jika tali kendor walaupun sedikitpun sakelar telah putus. Pengujian
secara manual pada kereta yang bergerak kemudian sakelar dilepas. Sakelar harus
tetap terbuka sampai di set kembali secara manual.

Item 2.19

Mesin penggerak dengan sabuk atau rantai

Penggunaan sabuk atau rantai pada mesin penggerak hanya diperkenaankan untuk lif
barang yang berkecepatan maksimal 0.3 m/detik. Periksa jumlah sabuk atau rantai.
Periksa sabuk atas kemungkinan tergores, sobek, terbakar. Periksa rantai terhadap
keausan yang berlebihan. Sabuk dan rantai perlu diganti dengan set yang seragam.
Periksa pelindung sabuk dan rantai terpasang dengan kencang.
Item 2.20

Motor generator

Motor generator sebagai bagian dari kendali lif harus bekerja dengan halus tanpa suara
dan getaran. Periksa sikat karbon dan kumutator.
Item 2.21

Penyerapan daya yang terbangkitkan


(ikuti SNI 03-7017-2004 butir A18.8)

Item 2.22

Penggerak Abb (Arus bolak balik) dari sumber As


(Arus searah)

Item 2.23

Roda traksi

(a)

Pemeriksaan tanpa daya listrik.


Periksa baut pengikat antara rim dan hub. Perhatikan apakah posisi roda terhadap
roda lain sentries. Cermati apakah ada keausan pada alur dan pastikan semua tali
duduk pada alur secara seragam. Butiran-butiran metal di bawah mesin
menunjukkan ada keausan roda atau tali baja. Cermati apakah ada keretakan atau
cacat lain.

(b)

Pemeriksaan dengan daya listrik.


Perhatikan terjadinya slip tali terhadap roda oleh sebab terlalu banyak minyak
pelumas. Uji dengan kereta beban kosong melaju ke atas dan hentikan tiba-tiba
dengan cara membuka sakelar darurat. Kelemahan yang nyata dari daya traksi akan
terlihat terjadinya gelincir antara tali dengan roda traksi.

Item 2.24

Roda kedua dan roda penyimpang

Periksa dan uji roda kedua dan roda penyimpang dengan cara memukulnya dengan palu
kecil. Jika suara yang timbul tidak nyaring seperti biasanya baja yang dipukul, ada
kemungkinan terdapat retak. Periksa atas kemungkinan alur yang aus dan pastikan tali
duduk pada alur secara seragam. Periksa kelurusan sentries dengan roda traksi. Periksa
pelumasan pada bantalan cukup, dan baut-baut dalam kondisi kencang.

73

Item 2.25

Pengikatan tali baja (lihat juga item 3.28)

Pemeriksaan pengikatan tali baja pada lif dengan system multiroping atau two to one
roping pada dead end hitches di kamar mesin. Periksa plat pendukung pengikatan cukup
kuat dan kencang duduk pada pendukungnya. Periksa pada baut soket pengikat tali
dipasang mur kunci (counter/pengaman) dan pena belah. Periksa dan cocokkan data tali
pada label.
Item 2.26
(a)

Alat henti terminal

Pengujian kategori-1 (ulang tahunan) :


Uji sakelar batas lintas normal sebagai berikut :
(1) sakelar henti normal dilepas (tidak berfungsi).
(2) sakelar batas lintas darurat dilepas
(3) sakelar pembatas kecepatan terminal darurat tetap difungsikan
(4) Jalankan lif dengan kecepatan nominal sampai batas lintas terbawah, dan
perhatikan kereta diperlambat, kemudian berhenti. Ulangi untuk arah ke atas.
Perhatikan operasi lif tetap normal.

(b)

Kategori-5 (ulang lima tahunan). Pengujian sakelar henti terminal dan saklar henti
pembatas kecepatan darurat. Untuk lif menggunakan kendali statik dengan
kecepatan di atas 150 m/menit, dimana diharuskan dipasang sakelar henti darurat,
atau jika sakelar batas lintas akhir telah dipasang, periksa berikut ini :
(1) alat atau sakelar henti terminal tidak difungsikan
(2) sakelar henti batas lintas normal tidak difungsikan
(3) jalankan kereta dengan kecepatan nominal ke bawah (overtravel) dan kereta
berhenti dan daya listrik ke mesin putus. Diperkenankan motor hidup kembali
secara otomatis dengan syarat saklar-saklar proteksi lainnya tetap aktif.
(4) Pengujian di atas diulang untuk arah ke atas.
(5) Kembalikan sakelarsakelar henti terminal dan batas lintas normal berfungsi
setelah selesai pengujian. Periksa operasi lif secara normal.

Item 2.27

Alat pengencang tali baja (tidak disajikan)

Item 2.28

Governor, sakelar kecepatan lebih dan segel

(a)

Pemeriksaan tanpa daya listrik


(1) Periksa baut pengencang dudukan governor dan pastikan tali bebas tidak
terhalang oleh rahang penjepit atau pengganggu lainnya.
(2) Periksa mekanisme, gigi, pena tumpuan, busing, ungkit, grendel dan
bandulnya, dan alat penggigit tali (rahang), terhadap kemungkinan aus yang
berlebihan dan perhatikan semua bantalan dan bagian permukaan yang mesti
bergesekan tidak boleh kena cat.

74

(3) Angkat bandul (fly balls), dan perhatikan semua bagian yang bergerak
termasuk rahang bebas beroperasi. Periksa pelumasan.
(4) Periksa permukaan penjepit dan rahang.
(5) Di mana governor dilengkapi dengan sakelar pemutus arus (OS switch),
periksa apakah sakelar berfungsi.
(6) Periksa alat-alat penyetel kecepatan lebih (SOS switch) saat governor jatuh
(tripping speed) dan alat penyetel gaya tarik tali, harus disegel.
(b)

Pemeriksaan tahunan (Kategori 1)


Pemeriksaan dengan daya listrik. Sakelar henti kecepatan lebih pada governor
dibuka (tidak difungsikan) dan periksa kereta akan terhenti, dan kembalikan
sakelar ke posisi normal, kereta akan jalan kembali.
Pemeriksaan sakelar henti kecepatan lebih saat governor jatuh (tripped) tidak perlu
dilakukan, kecuali jika ada tanda-tanda rusak pada segel, kemudian jika dilakukan
uji juga, perlu disegel dan pasang label, setelah selesai pengujian.

(c)

Pemeriksaan lima tahunan (Kategori-5)


Tentukan kecepatan tripped sesuai tabel, yang seharusnya telah direkam pada plat
label. Kemudian lakukan kalibrasi governor agar diset pada kecepatan tersebut.
Untuk melaksanakan kalibrasi ikuti tahapan tindakan berikut ini :
(1) Kereta di parkir dilantai teratas kira-kira 0.3 m di bawah permukaan lantai.
Matikan sakelar tenaga listrik.
(2) Tarik atau angkat tali governor ke atas. Gunakan clamp pada tali dan diikat,
ditahan agar tali pada roda kendor. (Hati-hati tali jangan sampai cacat oleh
clamp). Roda governor harus bebas berputar, tidak boleh ada gangguan.
(3) Gunakan mesin bor tangan yang berkecepatan variable, dan dipasang roda
karet (rubber roller) pada ujungnya, untuk memutar roda governor. Kecepatan
mesin bor ditambah sampai terjadi tripped.
(4) Putaran roda diukur kecepatannya dengan memasang tachometer pada
alurnya, untuk memastikan kecepatan saat terjadi tripped.
(5) Penyetelan posisi bandul penegang tali (jika perlu) dilakukan agar tercapai
kecepatan sesuai tabel di mana saat terjadi tripped.
(6) Pengukuran diulang beberapa kali dan diambil rata-rata kecepatan saat
tripped.
(7) Jika dilakukan perubahan penyetelan, maka perlu dipasang segel yang baru.
(8) Sakelar henti kecepatan lebih saat tripped perlu disetel dengan cara yang
sama.
75

Catatan : Jika oleh suatu sebab kecepatan lif dikurangi dari keceaptan nominal, maka
kalibrasi kecepatan lebih harus didasarkan (digunakan) kecepatan nominalnya.
Item 2.29
(a)

(b)

Alat pengaman kereta dan bobot imbang.

Pengujian Kategori - 1 (ulang tahunan)


(1)

Persiapan pengujian meliputi pemeriksaan sepatu (atau roller) luncur, posisi


baji/pasak dari alat pengaman terhadap rel (toleransi 1.6 mm) mekanisme
pengaman bebas bergerak (cukup pelumasan) dan berfungsi baik.

(2)

Sakelarsakelar henti kecepatan lebih di jumper lebih dulu agar tidak


berfungsi.

(3)

Setelah kedapatan alat-alat tersebut aman dan berfungsi, tempatkan kereta di


bagian bawah dari ruang luncur pada posisi kira-kira kereta akan terhenti di
lantai terbawah, agar mudah melakukan pemeriksaan dari pit.

(4)

Jalankan lif turun dengan kecepatan pelan dan lepaskan rahang governor
secara manual. Biarkan kereta turun sampai roda traksi mesin menggelincir
terhadap tali, disebabkan kereta sudah terhenti. Matikan sakelar utama daya
listrik, lepaskan semua jumper.

(5)

Periksa apakah ada bagian-bagian yang patah atau retak atau tidak berfungsi.

(6)

Periksa landas harus tetap datar. Kemiringan maksimal 31 mm arah


kemanapun.

Pengujian Kategori - 5
Tindakan hati-hati
Jangan berdiri langsung didepan sakelar utama sumber daya listrik
ketika melepas dan masukkan sakelar.
Jangan biarkan orang siapapun ikut di dalam kereta saat dilakukan
pengujian.
(1) Pesiapan sebelum pelaksanaan pengujian lakukan seperti pada kategori-1 di
atas (a) (1) dan (a) (2).
(2) Pastikan peredam berisi minyak sampai ke batas normal. Pastikan roda
penegang tali kompensasi diikat ke bawah agar tetap pada tempatnya.
(3) Tempatkan beban uji (test-weight) merata simetris terhadap garis sumbu pada
4 (empat) bagian landas. Beban uji sama dengan kapasitas nominal.

76

(4) Tempatkan kereta cukup tinggi pada posisi tertentu, di mana kereta nantinya
akan berhenti di lantai 1 atau mendekati pit, agar mudah melakukan
pemeriksaan setelah terlaksana pengujian.
(5) Jalankan lif turun sampai mencapai kecepatan nominal dan lepaskan rahang
governor secara manual. Biarkan kereta turun, sampai mesin terhenti atau roda
traksi menggelincir terhadap tali. Matikan sakelar utama daya listrik.
(6) Tindakan berikut sama dengan (a) (5) dan (a) (6)
(c)

Penentuan jarak kemerosotan kereta


Untuk pesawat pengaman jenis B (gradual clamp), kereta akan terhenti pada jarak
tertentu setelah terjadi governor jatuh (tripped).
Pada permukaan rel terdapat bekas goresan akibat pasak menjepit ke rel. Goresan
tersebut makin ke bawah makin nyata karena jepitan pasak makin kuat menekan
sampai kereta terhenti.
Penentuan titik awal mulai pasak menjepit rel dengan menggunakan cahaya lampu
dari berbagai arah sudut pandang. Empat goresan (dari sepasang rel) diperhatikan
kemudian diukur, dan diambil rata-ratanya dari empat goresan.

Item 2.30

Plat penandaan (tidak disajikan)

Item 3

Atap kereta

Item 3.1

Sakelar henti

Periksa sakelar henti yang dipasang pada atap kereta, untuk ke dua arah naik dan turun.
Pastikan sakelar berfungsi dengan semestinya sesuai persyaratan, sebelum pemeriksaan
dari atap kereta dilaksanakan.
Item 3.2

Pencahayaan dan stop kontak

Lampu pencahayaan harus dilindungi agar tidak rusak/pecah jika terbentur oleh orang
yang beraktifitas di atas atap. Sesuai ketentuan yang berlaku, stop kontak harus
terlindung. Periksa dan uji apakah alat tersebut berfungsi.
Item 3.3

Panel operasi

Periksa alat atau panel operasi apakah berfungsi semestinya. Sakelar pemindah harus
terlindung, dipasang pada rangka kereta atas (cross-head chanel) menghadap pintu.
Sakelar lain (operasi inspeksi naik-turun) dari jenis tekan terus-menerus (continous
pressure button).
Item 3.4

Ruang bebas dan ruang aman

Sebelum melaksanakan pemeriksaan, pastikan apakah ruang bebas tersedia. Caranya


hentikan kereta di lantai teratas. Ruang bebas seharusnya cukup untuk orang berdiri di
atas atap. Ukur jarak antara rangka atas dengan bagian bawah alat yang dipasang pada
langit-langit. Ukur tinggi roda kereta (atau alat lain) dan rangka kereta atas. Hitung sisa
jarak apakah memenuhi ketentuan persayaratan ruang aman.

77

Item 3.6

Roda kereta, roda overhead dan penyimpang

(a)

Periksa kondisi roda kereta dan bantalannya apakah cukup pelumasan. Perkirakan
apakah bantalan cukup kuat dudukan dan hubungannya dengan rangka kereta atas.
Pukul dengan palu kecil, suara seharusnya nyaring, pastikan pelindung roda
terpasang (lihat item 2.23).

(b)

Lihat item 2.24 Pemeriksaan di mana mungkin dilakukan dari atas atap kereta.

Item 3.7

Sakelar henti batas lintas normal

Perhatikan jika ruang bebas atas tidak mencukupi, bertindaklah hati-hati. Jalankan kereta
dengan kecepatan inspeksi (45 m/menit maskimal) arah ke atas untuk memeriksa sakelar
henti tersebut di ruang luncur, di overhead dan di pit. Sakelar mekanik (roller) bekerja
oleh tuas yang dipasang pada rangka kereta (antara sakelar dan tuas boleh tukar tempat).
Perhatikan tuas dan sakelar mekanik harus lurus satu sumbu, dan dua-duanya terpasang
kokoh.
Periksa kondisi roller pada sakelar, tidak aus dan dapat berputar jika didorong tuas. Tuas
mendorong roller pada bagian lengkung bidang sisinya. Kesalahan posisi tuas tidak lurus
satu garis sumbu dengan roller, dan kombinasi dengan keausan atau kerusakan roller
menyebabkan kereta melaju melewati lantai terminal atas atau bawah. Kemudian hanya
dapat berhenti oleh sakelar henti batas lintas akhir.
Item 3.8

Sakelar henti batas lintas akhir

Ikuti petunjuk tindakan hati-hati pada item 3.7


(a)

Pemasangan sakelar henti ini sedekat mungkin dengan sakelar henti normal pada
item 3.7 (kira-kira berjarak 100 mm tergantung besarnya kotak sakelar), agar kereta
segera terhenti dan benturan dengan langit-langit atau peralatan pada langit-langit
terhindar, atau mencegah membentur peredam (jika arah ke bawah), dengan
sakelar-sakelar henti batas lintas yang sejenis.

(b)

Periksa pengencangan dan kelurusan garis sumbu (titik pusat roller vertikal satu
garis dengan sisi muka bidang tuas).

Pengujian kategori-1. Jalankan lif dengan kecepatan inspeksi (45 m/menit) ke atas sampai
sakelar dapat dijangkau tangan. Gunakan tongkat kayu, aktifkan sakelar, maka kereta
akan terhenti. Sakelar henti normal perlu di jumper lebih dulu. Jika tuas telah terlanjur
mendorong roller sakelar henti akhir maka perlu di jumper agar kereta dapat bergerak
turun kembali.
Pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian sakelar batas lintas arah ke bawah dapat
dilakukan di pit.

78

Item 3.9

Sakelar henti untuk tali baja, rantai, dan pita yang putus

Periksa masing-masing sakelar henti untuk tali baja, rantai dan pita dengan melepas
kontak dan coba operasikan lif. Kereta seharusnya tidak dapat bergerak. Periksa semua
mekanisme pembuka kontak bebas bergerak jika diaktifkan.
Item 3.10

Alat perata permukaan lantai kereta

Periksa alat perata (leveling) lantai kereta yang terdapat di ruang luncur pada tiap-tiap
lantai perhentian.
Catatan : Jika digunakan sakelar medan induksi, maka vanes harus dipasang secara kokoh dan toleransi
dengan badan sakelar sesuai petunjuk dari pabrik pembuat.

Item 3.11

Plat data pada rangka atap kereta

Periksa dan cocokan semua informasi pada plat data yang terpasang pada rangka atas
kereta (cross head channel). Juga periksa label yang terikat pada tali baja tarik dan tali
baja governor.
Item 3.12

Eksit darurat

Periksa pintu darurat di atap kereta membuka ke luar (ke atas). Pintu berengsel dan dapat
di buka dari dalam kereta maupun dari atas kereta tanpa menggunakan kunci (lihat 1.13).
Catatan : Eksit darurat di atap kereta perlu dilengkapi sakelar henti. Begitu pula eksit darurat pada dinding
samping kereta perlu dilengkapi sakelar henti dan memutus arus selama pintu terbuka.

Item 3.13

Bobot imbang dan peredam

(a)

Periksa batang pengencang dudukan besi-besi bandul apakah dipasang mur dengan
pena cotter (split pin).

(b)

Periksa sepatu luncur (atau roller) apakah dipasang dengan kencang pada rangka
dan bagian-bagian tidak aus berlebihan.

(c)

Periksa roda bobot imbang pada lif dengan sistem pentalian 2 :1 (two to one roping)
apakah pelumasan cukup pada bantalan.

(d)

Di mana dipasang peredam minyak di bagian bawah bobot imbang, periksa baut
pengencangannya pastikan peredam telah cukup terisi minyak.

(e)

Periksa pengikatan tali kompensasi atau rantai pengimbang pada rangka bobot
imbang, apakah cukup kuat.

Item 3.14

Alat pengaman bobot imbang

Periksa semua bagian mekanisme alat pengaman, bebas dapat bergerak tidak berkarat dan
pada titik-titik tumpunya dilumasi. Periksa toleransi rem baji penjepit terhadap rel sesuai
dengan ketentuan.(lihat item 2.29.a).
Item 3.15

Indentifikasi

Periksa tanda-tanda identifikasi (nomor-nomor lif atau huruf alphabet) dipasang pada
rangka yang mudah terlihat dari atap kereta. Nomor lantai harus dipasang atau dicat pada
sisi dalam ruang luncur atau pada pintu lantai. Tinggi huruf/nomor 100 mm.
79

Item 3.16

Konstruksi ruang luncur

Periksa kondisi dinding-dinding ruang luncur juga ruang luncur dari bobot imbang yang
terpisah terhadap kemungkinan bagian yang mudah lepas. Dinding ruang luncur harus
rata. Bagian yang menonjol harus diketrik atau dilindungi. Simak peraturan bangunan
yang berlaku.
Item 3.17

Pengendalian asap masuk ruang luncur

Jika diharuskan oleh peraturan bangunan yang berlaku, maka ruang luncur harus
dilengkapi dengan cara-cara untuk menghindari terkumpulnya asap dan gas panas.
Pastikan ventilasi sesuai dengan peraturan dan bukaan yang diperlukan tidak terhalang.
Item 3.18

Pipa, pengawatan dan saluran

Hanya pipa, pengawatan dan saluran yang ada hubungannya dengan instalasi lif boleh
dipasang di dalam ruang luncur. Periksa pipa plambing untuk springkler terhadap
kemungkinan bocor.
Item 3.19

Jendela, tonjolan lekukan dan sebagainya

(a)

Jika terdapat jendela di ruang luncur, maka periksa apakah terlindung dari dalam
dan luar seperti ketentuan setempat yang berlaku. Periksa jendela ruang luncur 10
lantai atau kurang di atas jalanan umum dan jendela ruang luncur 3 lantai atau
kurang harus terlindung. Tiap-tiap jendela keluar ruang luncur harus bertanda LIF
dengan tinggi huruf 100 mm.

(b)

Semua tonjolan pada ruang luncur yang menghadap bukaan kereta (kecuali pintu
lantai) harus dipasang pelindung secara kokoh. Periksa pelindung ambang, penutup
debu (dust cover) dan plat toe guards atau apron terpasang dengan kokoh (lihat
Item 4.1).

Item 3.20

Ruang bebas dan ruang luncur

Amati ruang bebas (clearances) antara dinding ruang luncur dengan kereta dan bobot
imbang antara kereta dengan bobot imbang (dan plat pelindung/screan protection bobot
imbang), dan antara kereta dengan kereta sebelahnya.
Tabel B.1

Ruang bebas horizontal

No

Ruang bebas antara

1
2
3

Landas dan ambang pintu


Kereta dengan dinding ruang luncur
Ambang landas dan dinding ruang
luncur
Pintu sorong vertikal
Pintu sorong horizontal
Kereta dengan bobot imbang
Kereta yang berjejer

4
5

Maksim Minima
al
l
38 mm 12.7 mm
.
19 mm
190 mm
127 mm
.
.

25.4 mm
51 mm

80

6
7

Item 3.21

Bobot
imbang
dengan
plat
pelindungnya/serve
Bobot imbang dengan dinding ruang
luncur

19 mm

..

19 mm

Ruang luncur jamak

Perhatian : Inspektor harus berhati-hati atas bahaya terbentur dengan kereta


disebelahnya, atau dengan bobot imbang atau tertumbuk di overhead oleh benda yang
menonjol. Amati ruang bebas kereta dalam ruang luncur jamak. Periksa apakah
konstruksi ruang luncur jamak sesuai dengan peraturan bangunan yang berlaku. Ukur
luang lari antara beberapa kereta.
Item 3.22
(a)

Kabel lari dan kotak hubung

Alat pendukung

Kotak hubung di ruang luncur dan dikereta keduanya harus dipasang dengan kokoh dan
tertutup. Periksa pendukung pada titik-titik penyambungan. Dimana bagian baja
digunakan sebagai pendukung, periksa pengencangannya pada dinding ruang luncur atau
pada kereta. Periksa tali baja pendukung kabel lari atas gejala aus atau putus yang
menyebabkan isolasi kawat rusak selama gerakan lari naik-turun, atau menyebabkan
regangan kabel oleh berat sendiri pada sambungan terminal.
(b)

Periksa kabel lari (traveling cables) atas :


(1) Puntiran atau tekukan yang berlebihan
(2) Kerusakan oleh sebab tergores
(3) Saling gulung antara beberapa kabel
(4) Ruang bebas dengan alat-alat di ruang luncur seperti peredam, piston, braket,
gelagar dan sebagainya.

Item 3.23
(a)

Peralatan pintu

Operasi pintu lantai dan pintu kereta


Penguncian dan alat kontak listrik. Tuas pelepas (retiring cam) kunci-kait.
(1)

Periksa motor penggerak pintu dan tuas mekanisme, apakah telah kencang
terpasang dan dilumasi dengan benar. Periksa alat penguncian dan kontak
atau sakelar.

(2)

Periksa tuas pelepas kunci kait, kerja kunci kait, kontak, apakah telah disetel
lurus sumbu dengan roller arm dari kunci kait dan gerakannya cukup
meyakinkan.

(3)

Periksa rantai dan roda sproket dan tali terhadap tegangan dan kemungkinan
aus.

81

(b)

(4)

Motor penggerak yang dilengkapi dengan kendali magnetik harus diuji


apabila pendaratan sampai rata lantai secara otomatis pada zone pendaratan,
kereta harus telah rata lantai sebelum pintu sampai penuh membuka. Kereta
harus telah masuk zona pendaratan sebelum tuas pelepas mulai beroperasi
dan menggerakkan roller arm.

(5)

Periksa plat label pembuatan (product) kunci kontak apakah dari jenis yang
mendapat sertifikat dari yang berwenang dinegeri asalnya.

(6)

Kombinasi kunci mekanik dan kontak listrik ataupun yang terpisah untuk tiap
pintu lantai lif barang dibolehkan dengan syarat-syarat.
a)

Pemeriksaan dengan menarik pintu dari atas kereta secara manual. Jika
pintu dalam kondisi tutup rapat, kunci akan tetap menahan pintu
tertutup.

b).

Jika pintu digerakkan oleh tuas, maka pemeriksaan dilakukan secara


manual dimana kereta dijauhkan dari lantai. Lepaskan kunci dan buka
pintu. Kemudian secara pelan pintu ditutup sampai kontak sambung.
Perhatikan apakah kemudian penguncian akan terjadi.

Penggantung pintu
(1)

Periksa kondisi penggantung pintu, rel lintas roda, untuk memastikan apakah
terpasang dengan kencang dan tidak aus, sehingga pintu tidak keluar dan
relnya dan apakah pelumasan cukup.

(2)

Pintu dengan panil (daun pintu) jamak. Prosedur pemeriksaan sama seperti
diatas, dengan tambahan pemeriksaan kaitan interkoneksi antaranya rantai
penggantung, tali atau bagian lain, atau lengan (batang) penutup dan pena
titik tumpu. Periksa keausan penyebab satu panil lepas hubungan dengan
panil lain, dan penyebab kereta bergerak dengan satu panel masih terbuka.

(3)

Pada pintu buka samping dua panil (two speed door) periksa apakah panil
cepat dan panil pelan dilengkapi dengan cara-cara interkoneksi yang kedua
(sebagai tambahan). Jika digunakan hanya satu kunci kait, maka yakinkan
bahwa kunci tersebut dipasang pada panel yang didorong oleh motor
penggerak (pada panil cepat).

(4)

Pintu sorong horizontal dan pintu ayun tunggal dari lif otomatis harus
dilengkapi dengan penutup pintu otomatis (door closer). Periksa secara
manual dengan membuka pintu kemudian dilepas, pintu akan menutup,
kemudian ditahan setengah jalan, kemudian ditahan lagi saat 50 mm
sebelum menutup. Setelah dilepas, maka pintu harus menutup rapat.

(5)

Periksa bandul (pemberat) pada pintu untuk memastikan dipandu pada


jalurnya atau dilengkapi kotak wadah agar jika tali penggantung putus, maka
bandul tetap ditempatnya.

82

(6)

(c)

Periksa bagian-bagian penggantung pintu dan hubungannya dengan puli dan


pendukung puli. Toleransi excentric roller (retainer) 0.1 mm terhadap rel
lintas dibagian bawahnya.

Serah terima
Pada pengujian serah terima periksa pintu-pintu telah ditempel label dari pabrik,
menyatakan pintu tahan api. Periksa apakah jenis kunci telah lulus ujian
laboratorium dan diberi label dengan sertifikat dari agen yang ditunjuk oleh
instansi yang berwenang dinegeri asalnya.

Item 3.24

Rangka kereta dan tiang tegak (stiles)

Periksa dengan sungguh-sungguh tiang tegak pada daerah dimana dibaut dengan rangka
atas kereta (cross head) yaitu pada plat gusset penguat hubungan. Perhatikan atas
kemungkinan retak. Jika terdapat cat maka cat harus dikerok dulu dan pastikan kondisi.
Biasanya retak dimulai dari luar pada flens dari tiang. Jika reparasi dilakukan dengan
pengelasan harus mendapat sertifikat sesuai ketentuan yang berlaku. Rangka kereta
terbuat dari kayu dan/atau besi tuang tidak dibolehkan.
Item 3.25

Rel pemandu dan kelengkapannya

Ketentuan-ketentuan ini harus dipenuhi


(a)

Periksa kondisi permukaan rel pemandu, terutama pada bagian sambungan untuk
kelurusannya. Jika jenis sepatu luncur digunakan, rel harus dilumasi tetapi tidak
berlebihan dan bersih dari kotoran atau lengketan. Jika digunakan jenis roller maka
rel harus kering dan bersih.

(b)

Periksa semua baut-baut pengencang.

Item 3.26

Tali governor

Tali governor tidak boleh dilumasi karena akan menyebabkan penjepitan rahang governor
lemah saat jatuh (tripped) dan gagal menghentikan tali. Jenis tali baja Tiller tidak boleh
digunakan. Periksa tali sesuai dengan data label, jenis ukuran dan konstruksinya.
Item 3.27

Perangkat pelepas (releasing carrier) governor

Pemeriksaan dari atap kereta. Simak apakah ada bagian-bagian yang berkarat atau kotor
dan apakah ada pegas yang patah. Lihat juga prosedur pelepasan pada item 2.28 (c) 1
dan 2.
Item 3.28
(a)

(b)

Pengikat tali baja tarik dan plat penahan

Simak apakah tali baja sesuai dengan perincian tertera pada data label atau plat
yang dipasang pada rangka atas kereta atau terikat pada tali (rope data tag).
Pastikan pengikatan tali pada kereta dan pada bobot imbang dengan cara
semestinya.
Soket tirus (dilapangan dikenal thimble rod). Periksa kawat-kawat baja yang
ditekuk masuk kedalam soket tirus tidak ada yang patah. Periksa pada ujung soket
dimana tali masuk tidak boleh ada kawat yang patah, atau lepas keluar dari puntiran

83

(c)
(d)

(e)

lilitan ataupun benjol (bulge out). Pembenaman dengan timbel panas (cair) tidak
boleh menyebabkan warna kawat berubah oleh sebab timbel terlalu panas.
Cara pengikatan lain dengan penjepitan soket baji (wedge clamp), periksa apakah
baji duduk dalam pengikatan dengan betul.
Sistem pentalian (roping)
(1)

Pada pentalian 1:1 periksa plat penahan atau pendukung soket dipasang
dibagian bawah flens dari rangka kereta atas atau bobot imbang dimana, baut
atau kelingan tidak boleh tegang. Perhatikan batang soket tidak aus pada titik
dimana batang menembus plat dan periksa pegas fungsinya dan patahan.

(2)

Pada pentalian 2:1, periksa plat penahan atau pendukung soket dipasang
dibagian atas flens dari gelagar pendukung dan tidak nampak lendutan pada
gelagar.

Pada mesin gulung pengikatan tali pada sisi tabung gulung harus dikencangkan
ulang tiap-tiap 12 bulan. Atau 24 bulan jika lokasi mesin dibawah atau disamping
ruang luncur. Paling sedikit masih ada tersisa satu gulungan tali pada tabung saat
kereta ada dibawah dan menekan peredam.

Item 3.29
(a)

Tali baja

Periksa tali baja tarik (atau tali gantung) apakah sesuai dengan ketentuan dalam SNI
03-2190-1999 butir 4.6. Data mengenai tali harus jelas terlihat pada label logam
menempel pada rangka dan/atau diikat pada ujung tali.
(1) Jangan mencoba memeriksa tali yang sedang beroperasi dengan tangan,
walaupun digunakan sarung tangan ataupun kain lap (waste).
(2) Penggantian baru tali baja tarik harus sekaligus satu set. Satu set tali sebaiknya
dipotong dari satu gulungan (reel).
(3) Pemotongan tali tiap-tiap lembar harus sama panjang sehingga diharapkan
akan memperoleh tegangan tali yang seragam agar memperpanjang umur tali.
(5) Jika tali berminyak dan lengket penuh kotoran, maka pemeriksaan hanya dapat
dilakukan jika dibersihkan lebih dulu.

(b)

Prosedur pemeriksaan
Pemeriksaan tidak harus pada sepanjang tali, pilih lokasi tertentu dimana biasa
terdapat patahan kawat.
(1) Tali gantung dengan sistem pentalian 1:1 diperiksa dari atas kereta saat kereta
berhenti dilantai teratas yaitu pada bagian sisi bobot imbang. Sisa bagian tali
lainnya dapat diperiksa dari kamar mesin.
(2) Pada sistem pentalian 2:1, pemeriksaan dari atas kereta mulai dari lantai teratas
dan selama pemeriksaan kereta turun. Tali yang diperiksa ialah pada sisi bobot
imbang dan pada sisi kereta hanya bagian tali yang diikat diujung mati (dead
end hitch).
84

(3) Tali ditandai dengan kapur untuk membatasi bagian-bagian yang belum
diperiksa, dan untuk diperiksa tersendiri dari kamar mesin.
(c)

Kriteria
(1) Pengalaman lapangan berikut ini dianjurkan sebagai panduan untuk memeriksa
dan menilai kondisi tali. Perhatikan terutama dimana bagian-bagian tali
melintas roda traksi saat kereta berada pada lantai-lantai terminal.
a)

Jalankan kereta kebawah dan berhenti pada tiap-tiap jarak 0.6 m atau 0.9
m dan periksa tali pada tiap-tiap hentian. Perhatikan kawat yang patah dan
periksa ulang secara teratur atas penambahan (increasing rate) jumlah
kawat yang patah.

b)

Hitung jumlah kawat yang patah pada gunungan tali dalam sepanjang
satu puntir lilitan (one lay) yaitu kira-kira 13 mm untuk tali berdiameter
12.7 mm (lihat SNI 03-7017-2004 butir A11).

(2) Kejadian patah pada lembah tali yang tidak beraturan, kemungkinan
menunjukkan adanya patahan kawat didalam tali yang tidak terlihat. Hal ini
harus dibedakan dengan patahan kawat pada gunungan tali, dimana dimulai
dengan keausan tali, dan retakan kedua dapat terjadi pada kawat yang
bersinggungan. Biasanya kedua ujung dari patahan terlihat jelas.
(3) Pada tali baja yang dicetak (preformed rope) patahan kawat kurang kentara
karena ujung-ujung patahan kawat tidak lepas dari posisinya.
(d)

Tali baja governor.


(1) Pemeriksaan tali baja governor mengikuti prosedur yang sama dengan tali baja
tarik. Jika tali baja governor telah diganti baru semenjak pemeriksaan teratur,
maka periksa apakah tali yang baru konstruksinya sama ; juga material (bahan)
kawat dan diameter tali harus sama sesuai dengan plat data pada governor. Jika
berbeda, maka perlu dilakukan pengujian (lihat item 2.28). Tali baja jenis
tiller-rope tidak dibolehkan untuk dipakai sebagai tali governor.
(2) Pastikan bahwa tali baja bekas tidak boleh digunakan untuk governor.

Item 4

Luar ruang luncur

Item 4.1

Pelindung landas kereta

Pelindung landas atau plat pelindung kaki (toe guard atau apron) dipasang dibagian
bawah ambang (sill) dari landas kereta selebar bukaan pintu dan tinggi vertikal 0.75 m
minimal. Pemeriksaan dengan cara menempatkan kereta 0,6 m s/d 0,9 m diatas
permukaan lantai pada perhentian mana saja, kemudian pintu lantai dibuka. Pastikan plat
pelindung diskrup kencang pada tempatnya. Dapat juga pemeriksaan dilakukan dipit saat
kereta berhenti dilantai terminal bawah.
Plat pelindung kepala dipasang pada bagian atas pintu lantai selebar pintu, pada lift
barang jika tinggi vertikal bukaan pintu lebih besar dari tinggi kereta.
85

Item 4.2

Pintu lantai

(a) Pintu manual. Tiap-tiap pintu dicoba dibuka secara manual dan periksa semua pintu
termasuk grendel atau kuncinya. Perhatikan atas kemungkinan cacat pada panel
gelas atau cacat pada struktur rangka.
Catatan : Pintu hanya dapat dibuka jika kereta telah tiba dan berhenti dilantai. Jika pintu dapat
terbuka berarti grendel atau kunci tidak sempurna, atau konstruksi pintu sudah oblak
(sagging).

(b) Posisi pintu menutup


Dalam posisi pintu kereta tertutup dan pintu lantai terbuka, maka tutuplah pintu
lantai dari sisi luar pintu secara pelan-pelan, sampai mencapai penutupan penuh dan
nyaris menyebabkan kereta akan bergerak berangkat. Ukurlah jarak sisa pintu yang
masih menganga, dimana pada posisi ini pintu lantai tidak dapat lagi dibuka. Jarak
maksimum yang dibolehkan ialah 9,5 mm dan jarak tersebut berlaku untuk jenis
pintu sorong horizontal, pintu ayun, dan pintu sorong vertikal yang dilengkapi
dengan bandul.
(c) Ruang bebas antara pintu dengan ambang
Periksa apakah terdapat cacat, perubahan bentuk atau keluar dari jalur tapaknya.
Untuk pintu jenis sorong horizontal, perlu dipasang sepatu pemandu dan penahan
dibagian bawahnya dan juga penahan dibagian atasnya (roller) pada panel (daun
pintu). Periksa ruang bebas gerak antara masing-masing panel, antara rangka dan
antara panel dengan ambang tidak lebih dari jarak berikut ini :
Tabel B.2 Ruang bebas antara pintu dengan ambang
Jenis pintu
Soronghorisontal
Sorong-vertikal
Ayun/dorong

Ruang bebas
5 mm
25 mm
5 mm

Catatan
SNI 03.2190-1995
ASMEI 17.1 Safety code
1971
SNI 03.2190-1999

(d) Jarak antara panil dengan rangka


Pintu sorong-horisontal dan sorong-vertikal, dalam keadaan menutup rapat dan
terkunci jika dipaksa buka dengan gaya 150 N pada ujung sisi depan pintu, menjauhi
posisi kunci, maka jarak bukaan (nganga) tidak boleh lebih dari 10 mm (SNI 032190-1999 butir 4,3,2).
Item 4.3

Panil kaca

Periksa jenis kaca yang digunakan pada panil (daun) pintu, harus dari kaca diperkuat
dengan kawat dan terpasang kencang ditempatnya. Periksa ketebalan kaca dan luas
maksimum yang dizinkan.

86

Item 4.4

Kunci kait pintu lantai

Pintu yang dilengkapi dengan kunci kait (interlock) dan pembukaannya secara otomatis,
yaitu pada saat kereta mencapai zona pendaratan, perlu diperiksa. Tempatkan kereta
sedikit diluar zona pendaratan dibawahnya ataupun diatasnya, sehingga alat pembuka
kunci (tuas pelepas pada pintu kereta) tidak dapat melepas kunci kait. Coba pintu lantai
dibuka dengan tangan dari sisi luar pintu. Kenakan gaya 150 N, pintu hanya
diperkenankan terbuka maksimal 10 mm. Periksa operasi penutupan, saat pintu merapat,
tidak memantul kembali mundur. Periksa kelurusan tuas pelepas terhadap roda roller
karet pada kunci kait (pick-up roller) saat kereta berhenti dilantai.
Posisi roller harus dekat/rapat dengan bidang sisi tuas pelepas pada posisi pintu tertutup.
Item 4.5

Akses ke ruang luncur

Periksa plat penutup lubang liang kunci (escutcheons) pembuka pintu untuk keadaan
darurat, apakah masih menempel ditempatnya dengan kencang dan tidak rusak. Kunci
pembuka pintu darurat (emergency unlocking device) harus dipegang oleh petugas
bangunan yang berwenang dan hanya dapat diserahkan kepada orang yang terlatih untuk
digunakan dalam keadaan darurat.
Item 4.6

Daya penutupan pintu lantai

Dimana pintu lantai dan pintu kereta digerakan dengan motor penggerak pintu, maka
periksa apakah :
(a)

keduanya dari jenis yang sama : sorong-horisontal, atau

(b)

keduanya jenis yang sama : sorong-vertikal.

Item 4.7

Urutan operasi kerja pintu

Periksa urutan kerja pintu pada lif barang dengan menggunakan jenis pintu sorongvertikal belah tengah (bi-parting door) dengan tenaga motor, juga pintu kereta
menggunakan tenaga motor tersendiri. Urutan sebagai berikut :
(a)

Pada waktu operasi pembukaan, pintu lantai harus membuka lebih dulu sampai dua
pertiga jalan membuka, kemudian pintu kereta mulai membuka.

(b)

Pada waktu operasi penutupan, pintu kereta menutup lebih dulu sampai dua pertiga
jalan membuka sebelum pintu lantai mulai menutup.

Item 4.8

Dinding ruang luncur

(a)

Jenis ruang luncur dengan dinding pasangan, perlu diperiksa pasangan panel pada
tiap-tiap lantai apakah telah kencang ditempatnya, dan apakah jaringan (anyaman)
kawat perlu dipasang sesuai peraturan setempat.

(b)

Dinding ruang luncur dari tirai kaca (curtain walls) diperkenankan, jika dari jenis
kaca lapis (laminated glass).

87

Item 4.9.

Alat parkir lif.

Periksa apakah alat untuk mengistirahatkan lif dengan kunci kontak bekerja dengan betul.
Pintu tidak dapat dibuka selama lif diistirahatkan (diparkir). Letak kunci kontak tidak
boleh lebih tinggi 2,1 meter dari lantai.
Item 4.10

Pintu darurat ruang luncur ekspress

Periksa apakah pintu-pintu darurat tertutup dan terkunci, dan bebas dari penghalang
permanen didepannya.
Periksa operasi kunci kontak. Lihat butir 7.5.4 SNI 03-6573-2001 pintu darurat dapat
dibuka dengan kunci dari luar dan dapat dibuka dari dalam ruang luncur tanpa kunci, dan
membuka arah keluar. Kunci hanya dapat diperoleh dari petugas bangunan yang
bertanggung jawab dan digunakan oleh orang yang berkompeten.
Periksa apakah tanda bahaya telah terpasang pada tiap-tiap pintu darurat , bertuliskan
BAHAYA, RUANG LUNCUR LIF.
Item 4.11

Ruang luncur terpisah untuk bobot imbang

Periksa tali baja tarik pada bobot imbang dari pintu pemeriksaan yang disediakan pada
bagian atas ruang luncur. Yakinkan pintu darurat tersebut memenuhi persyaratan.
Jalankan kereta jarak-jarak pendek dan waktu-waktu tertentu, dan periksa kondisi tali
tahap demi tahap.
Ketentuan membolehkan pemasangan bobot imbang terpisah dalam ruang luncur
tersendiri, dengan syarat bobot imbang tidak dilengkapi pesawat pengaman.
Item 4.12

Sakelar seleksi untuk daya siaga darurat.

Periksa apakah kunci untuk saklar seleksi tersimpan dilokasi dimana kunci hanya dapat
diperoleh untuk orang-orang tertentu yang diberi wewenang oleh pengelola bangunan.
Item 5
Pit (lekuk dasar)
Tindakan hati-hati
Oleh karena ruangannya sangat terbatas yaitu jarak bagian bawah kereta dengan lantai
pit, maka perhatikan tindakan hati-hati berikut ini:
(a)

Sebelum pelaksanaan pemeriksaan, ikuti tindakan berikut :


(1) Suruh seorang operator yang telah biasa dengan operasi inspeksi lif berada
diatas atap kereta dan menggunakan alat operasi lif yang ada pada kecepatan
inspeksi.
(2) Kereta hanya boleh bergerak jika diperintah oleh Pemeriksa. Operator harus
mengulang seruan perintah dari Pemeriksa sebelum menggerakkan lif.
(3) Untuk mencegah gerakan kereta yang tidak disengaja, segera gunakan sakelar
henti darurat atau pintu tetap dibuka, sampai ada perintah jalan.

88

(4) Lakukan uji operasi dari sakelar henti diatap dan dipit, dan kontak-kontak
pintu.
(6) Lift seharusnya tidak dapat melayani tombol-tombol panggilan lantai.
(b)

Sebelum masuk kedalam pit perhatikan tindakan hati-hati berikut ini :


(1) Matikan sakelar henti pada ruang luncur dekat pintu masuk ke pit.
(2) Buka saklar utama, jika lif digunakan sebagai lif pemadam kebakaran dan jika
lif tersebut membolehkan operasi lif tanpa kunci kait.
(3) Perkirakan dimana kira-kira akan berlindung jika tiba-tiba lif turun melaju ke
pit.
(4) Ukur jarak aman jika kereta menekan penuh peredam (minimal 600 mm).
(5) Jika jarak ruang bebas aman tidak cukup, pasang ganjalan sementara di bawah
kereta (atau diatas piston) untuk memperoleh jarak aman yang diperlukan.

(c)

Saat masuk kedalam pit sakelar henti telah terbuka, dan sakelar boleh sambung
(kontak) kembali jika diperlukan untuk maksud pemeriksaan dengan operasi dari
atap kereta. Yakinkan tidak ada bagian anggota badan yang keluar dari batas
dengan lif disebelahnya.

(d)

Jangan masuk kedalam pit yang berair dan di pit terdapat stop kontak. Air harus
dikeringkan sebelum melakukan pemeriksaan.

(e)

Jika di pit terdapat kotoran atau timbunan (tumpahan) minyak pelumas, atau gemuk
harus dibersihkan dulu sebelum turun masuk kedalam pit.
Item 5.1
Akses, pencahayaan, sakelar henti dan kondisi.
(a)

Periksa apakah pintu akses terpasang dan tertutup dari jenis pintu menutup sendiri,
yang dilengkapi kunci. Pintu dapat dibuka dari dalam tanpa kunci. Jika akses ke pit
melalui lantai terminal terbawah, maka periksa pintu lantai tersebut apakah
dilengkapi dengan kunci darurat pembuka pintu.

(b)

Jika akses ke pit melalui lantai terminal terbawah dan dalamnya pit lebih dari 1.2 m,
maka pit harus dipasang tangga monyet pada dinding pit disamping pintu, mulai
dari ketinggian 0.9 m diatas ambang sampai lantai pit.

(c)

Periksa apakah sakelar henti terpasang di pit dekat dengan pintu dalam jarak
jangkauan tangan. Dua sakelar henti perlu dipasang, jika kedalaman pit melebihi 2.0
m, yaitu satu lagi ada di bawah (jarak jangkauan tangan). Periksa masing-masing
sakelar henti dapat beroperasi dengan cara seorang di dalam kereta atau di atap
kereta mencoba menjalankan lif.

(d)

Sakelar pencahayaan pit harus dalam jarak jangkauan dari lantai terbawah.
Nyalakan lampu dan periksa apakah pencahayaan memenuhi persyaratan dan
apakah lampu dilengkapi pelindung untuk menghindari kemungkinan pecah.

89

(e)

Gunakan cahaya lampu untuk memeriksa kebersihan pit dan adanya air atau barangbarang yang tidak ada hubungan dengan lif. Perhatikan di mana lokasi berlindung
paling aman, jika kereta meluncur ke pit. Periksa apakah stop kontak saluran tenaga
listrik dari jenis ganda.

Item 5. 2

Ruang bebas bawah luang lari dan ruang aman

Jika telah terjadi perubahan seperti umpamanya penggantian peredam baru atau
dudukannya atau pengikatan tali baru, perlu diperiksa (diukur) jarak bebas dan aman
bawah kereta dan luang lari.
Luang lari mungkin lebih pendek dari pada jarak mula-mula terpasang. Hal ini boleh saja
asalkan pada saat kereta atau bobot imbang membentur dan menekan peredam, jarak
ruang bebas atas tidak berkurang dari ketentuan, dan sakelar batas lintas masih berfungsi
memutuskan arus tenaga ke motor lif. Untuk peredam pegas pengurangan jarak ruang
bebas yang menjadi lebih pendek tersebut, tidak boleh lebih dari 25% langkah peredam.
Periksa daerah aman (refuge space) pada dasar pit, harus mengikuti ketentuan. Secara
umum, zona aman minimal tidak kurang dari ukuran berikut ini :
(a)

0.60 m x 1.20 m x tinggi 0.60 m, atau

(b)

0.45 m x 0.91 m x tinggi 1.01 m

Lihat gambar I - 5.2 di bawah ini, jarak-jarak yang perlu diukur ialah:
a = Jarak kereta diatas lantai saat pemeriksaan
b = Jarak antara plat bentur dengan ujung atas piston (plunger)
c

= Jarak antara plat bentur dengan lantai pit.

Maka :
1). Luang lari kereta ialah b-a
2). Jarak bebas bawah kereta ialah c-(b + langkah peredam)
3). Jarak aman bawah ialah c-b

90

Gambar B.2 Ruang bebas bawah luang lari dan ruang aman

91

Item 5.3
(a)

(b)

Peredam minyak. Lakukan pemeriksaan berikut ini :


(1)

Simak baut pengencang peredam dan dudukannya. Pastikan baut-baut semua


kencang.

(2)

Simak tinggi permukaan minyak, untuk memastikan berada diantara batas


minimal dan maksimal.

(3)

Uji piston atas kelonggaran main kekiri dan kanan.

(4)

Periksa piston apakah kotor atau berkarat.

(5)

Periksa plat data.

Peredam pegas atau penyangga.


(1)

(c)

Peredam kereta

Periksa pengencangan penyangga dan pengencang dudukannya.

(2)

Posisinya pemasangannya vertikal dalam satu sumbu dengan plat bentur


kereta dan bobot imbang.

(3)

Pegas didudukan dengan betul dalam tabung pemandu atau pada dudukan
bentuk lain.

(4)

Periksa peredam pegas tidak berubah bentuk, atau menjadi lemah.

(5)

Periksa plat data.

Penyangga masif (bumper)


Periksa penyangga kereta dan bobot imbang untuk memastikan.
(1)

Pemasangannya telah kencang pada plat dudukan.

(2)

Tidak terdapat cacat atau kerusakan

(3)

Vertikal dalam satu sumbu dengan plat bentur kereta atau bobot imbang.

Item 5.4
Sakelar henti batas lintas darurat dan akhir.
Sakelar henti batas lintas akhir sebaiknya dipasang sedekat mungkin dengan lantai
terminal bawah tanpa mengganggu posisi sakelar henti batas lintas normal. Dimana
digunakan peredam pegas, maka sakelar tersebut harus sudah aktif sebelum kereta
membentur peredam pegas.
Pemeriksaan di pit saat kereta parkir dilantai terbawah dan sakelar henti dimatikan.
Gunakan lampu dan periksa kelurusan antara tuas pengungkit dengan roller pada sakelar.
Gagang roller harus bebas bergerak saat didorong oleh tuas dan menyebabkan sakelar
terbuka dengan pasti, dan tidak menyebabkan kerusakan pada sakelar.

92

Item 5.5

Sakelar henti batas lintas normal

Periksa sakelar henti batas lintas normal yang dipasang pada ruang luncur, apakah telah
kencang terpasang dan roller dalam kondisi bagus, dan lurus dengan tuas pengungkit.
Lihat juga item 3.7 pemeriksaan saklar dari atas atap kereta (lihat gambar...)
Item 5.6

Kabel lari (traveling cables)

Periksa kondisi kabel lari dari pit, dan sambungan serta penggantungannya pada kereta. Periksa
bagian yang nampak atas kemungkinan kabel terpuntir, aus atau rusak. Ikuti prosedur pada item
3.22.

Item 5.7

Alat penegang tali governor

Periksa alat penegang tali governor dan pastikan :


(a)

Apakah masih ada luang untuk roda dan rangkanya untuk menjaga ketegangan tali,
dan rangka telah terikat pada ruang luncur.

(b)

Apakah rangka bergerak bebas mengikuti jalur relnya.

(c)

Operasi roda ketika terpuntir tidak nampak nyata keausan pada roda, as dan
bantalan dan pelumasan cukup.

(d)

Apakah pelumasan berlebihan menyebabkan kontaminasi pada tali baja.

Item 5.8

Rantai, tali kompensasi dan roda

Dimana dipasang rantai atau tali kompensasi, pastikan bahwa :


(a)

Cukup luang gerak rangka roda agar tali kompensasi tetap tegang dan saklar henti
dapat bekerja. Tali baja kompensasi harus dijaga tetap duduk pada alurnya pada
roda.

(b)

Rangka harus bebas bergerak pada relnya selama lift beroperasi.

(c)

Kereta harus terhenti jika sakelar yang terpasang pada rangka roda terbuka.
Caranya pada saat kecepatan inspeksi secara manual sakelar diaktifkan.

(d)

Tali atau rantai tergantung dengan kuat pada bagian bawah kereta dan bobot
imbang. Periksa tali dan rantai dari atas atap kereta pada bagian-bagian yang tidak
dapat diperiksa di pit.

(e)

Baut Tie down perlu dipasang pada rangka roda untuk lif berkecepatan 240 m/m
atau lebih. Periksa kondisi baut tie down.

Item 5.9

Rangka kereta dan landas.

Periksa rangka kereta dan landas dari pit dan pastikan semua bagian-bagian terpasang
dengan kencang terutama antara rangka dengan landas dan rangka tidak berubah bentuk.
Periksa plat bentur tidak berubah atau mudah lepas atau sudah terlepas. Jika terdapat
bagian yang retak, maka penyelidikan diteruskan sesuai item 3.24.

93

Periksa plat pelindung kaki (toe guard) dan pengencangannya pada landas. Periksa
bandul pemberat keseimbangan kereta apakah aman terpasang.
Jika digunakan lantai kayu pada landas, periksa proteksi terhadap kebakaran dibagian
bawahnya.
Item 5.10
(a)

Alat pengaman kereta dan pemandu

Rel pemandu baja.


Periksa rel pemandu kereta dan bobot imbang dan pengencangannya untuk
memastikan telah di setel lurus (vertikal) dan tidak aus berlebihan. Pastikan bagianbagian bergerak dari rem pesawat baji alat pengaman mudah bergerak, bersih tidak
berkarat dan toleransi memenuhi ketentuan (lihat item 2.29 (a) toleransi 0.16 mm).
Batang penarik baji (lifting rod) harus lurus dan bebas bergerak tidak berkarat dan
terikat sampai mekanisme ke rahang penjepit governor (item 2.28).

(b)

Rel pemandu kayu.


Lakukan pemeriksaan berikut ini sebagai tambahan pemeriksaan rel pemandu dan
sistem tali governor.
(1) Dari atas atap kereta, periksa kerja bagian alat pengaman, termasuk tuas dan
kaitannya (lever and linkages) untuk memastikan semua pentumpuan (pivotes)
dan skrup ketat, sehingga tidak terjadi kelambatan gerak sampai kerahang
penjepit alat pengaman (safety block).
(2) Dari pit dapat diperiksa rahang penjepit dengan cara menarik tali governor dan
rahang menggigit rel kiri dan kanan, dan gerakan kereta turun akan
menyebabkan gigitan makin dalam.
(2) Jika sakelar alat pengaman (SOS = Safety Operated Switch) dipasang maka
gerakan yang pasak/baji mulai kontak dengan rel, harus cukup menyebabkan
sakelar segeramenjadi aktif.

94

Apendiks-B
ISTILAH TEKNIS dan PENJELASANNYA
1.

Zona pintu (door unlocking zone)


Daerah membentang + 20 cm keatas dan + 20 cm ke bawah dari permukaan lantai
hentian, dimana operasi pembukaan pintu secara darurat dilakukan dengan dapat
menggunakan kunci darurat.
Catatan :
1.
2.

2.

Jika kereta terhenti di zona pintu dan pintu kereta dipaksa buka, maka pintu lantai ikut terbuka,
karena batang ungkit pelepas (retiring cam) sekaligus bekerja membuka kunci kait (interlock).
Zona pintu lantai maksimal 40 cm ke atas dan 40 cm ke bawah dari permukaan lantai. Dalam
hal ini pelat lapis lindung (toe guard) atau apron) harus dipasang dibawah ambang pintu kereta
vertikal kebawah 0.75 m, selebar pintu.

Zona rata lantai (leveling zone)


Daerah jarak terbatas kebawah dan keatas dari permukaan lantai lobi, dimana lif
harus berhenti secara normal.
Catatan : Daerah rata lantai berbeda bagi tiap-tiap jenis kendali gerak atau drive atau speed control.

3.

Langkah (stroke)
Jarak maksimal yang dapat terjadi jika peredam hidrolis ditekan penuh oleh kereta
atau bobot imbang dengan kecepatan saat membentur 115% kecepatan nominal lif.
Dan beban muatan 100% kapasitas.

4.

Plat lapisan lindung atau pelindung kaki (toe guard atau apron)
Plat baja selebar pintu tinggi 0.75 cm dipasang secara vertical pada bagian paling
depan kereta dibawah ambang pintu (sill) ujung bawah ditekuk 600 kedalam ruang
luncur, tujuannya untuk keselamatan, saat kereta berada + 0.4 m diatas muka lantai.
Catatan :

5.

Jika kereta terhenti didaerah pintu 40 cm diatas lantai maka toe guard atau apron dapat
menghindari bahaya terjatuh melalui lubang bukaan 40 cm dibawah kereta, ke dalam
ruang luncur.

Luang lari (runby)


Jarak bebas vertical dihitung dari penyangga/peredam kereta atau bobot imbang
sampai bagian rangka terbawah kereta atau bobot imbang.

6.

Panel operasi kereta (car operating panel, COP)


Rakitan kumpulan tombol-tombol, saklar-saklar, dan sinyal / indicator, dipasang
pada dinding muka kereta, untuk kemudahan penumpang atau mengoperasikan
teknis lif.

7.

Ruang atas (overhead)


Bagian armatur ruang luncur paling atas (disebut juga ruang kepala), di mulai dari
lantai terminal teratas sampai bagian bawah lantai kamar mesin atau atap duct.

95

8.

Ruang aman atas (overhead safe clearance).


Ruang aman bawah (pit safe clearance).
Jarak bebas vertical dimana seorang masih terlindung aman (dengan cara jongkok)
setinggi 60 cm, jika kereta melonjak melewati lantai terminal atas, ruang aman atas
atau jika kereta merosot melewati lantai terminal bawah sampai menekan peredam
(ruang aman bawah).

9.

Ruang luncur ekspres (blind hoistway)


Bagian ruang luncur untuk lintasan ekspress langsung tidak berhenti melewati
beberapa lantai (biasanya minimal 10 lantai).
Catatan : Pada ruang luncur ekspress dipasang pintu-pintu darurat pada jarak-jarak tiap-tiap 3 lantai
(+ 11 m) pada sisi yang sama dengan pintu-pintu lantai hentian lift (permen Nakertrans
No. 03/1999).

10.

Saklar henti darurat (emergency stop switch)


Alat pemutus arus listrik, dipasang didalam kereta dan diatap kereta, juga dipit, jika
diaktifkan maka motor penggerak lift berhenti bersamaan dengan kerjanya rem.
Pada lift hidrolis katup selenoid menutup dan pompa hidrolis berhenti bekerja.

11. Saklar kecepatan lebih (overspeed switch, OS)


Alat pemutus arus listrik, dipasang pada governor, bekerja oleh pelepasan tuas
akibat kerja governor menditek kecepatan lebih tahap pertama.
12. Saklar mekanisme pengaman (safety operated switch, SOS)
Alat pemutus arus listrik dipasang pada mekanisme alat pengaman bekerja oleh
pukulan tuas, akibat berfungsinya pesawat pengaman pada saat terjadi kecepatan
lebih tahap kedua.
13. Saklar batas lintas (terminal limit switch dan final limit switch)
Alat pemutus arus bekerja dengan tuas yaitu jika kereta lepas melewati lantai-lantai
terminal (atas dan bawah).
Catatan : Terminal limit switch terputus lebih dulu baru final limit switch, berjarak + 10 cm satu
dengan yang lain. Posisi kedua-duanya harus disetel mengikuti kriteria dan SNI.

14.

Saklar pelamban (slow down switch)


Alat pemutus arus listrik mengaktifkan fungsi perlambatan kereta saat kereta
menjelang mendekati lantai terminal atas atau terminal bawah.

15. Tahan api (fire resistance)


Suatu derajat ketahanan pintu atau rakitan pesawat terhadap panas selama waktu
tertentu, sebelum itu runtuh terbakar.

96