Anda di halaman 1dari 43

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

LAPORAN KASUS INDIVIDU PENYAKIT TIDAK MENULAR

HIPERTENSI

Disusun Oleh :
Nur Amalina Bt Rosli
C111 11878

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
PUSKESMAS BULUROKENG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Seiring dengan terjadinya transisi epidemiologi saat ini, terjadi perubahan


pola penyakit dari penyakit infeksi menjadi non infeksi (penyakit degeneratif)
seperti penyakit jantung, hipertensi, ginjal dan stroke yang akhir-akhir ini banyak
terjadi di masyarakat. Penyakit-penyakit diatas digolongkan kedalam penyakit
tidak menular yang frekuensi kejadiannya mulai meningkat seiring dengan
perkembangan teknologi, perubahan pola makan, gaya hidup serta kemajuan
ekonomi bangsa.
Penyakit tidak menular (PTM) diperkirakan sebagai penyebab 58 juta
kematian pada tahun 2005 (WHO), dan 80% kematian tersebut terjadi di negaranegara yang berpendapatan rendah dan menengah akibat penyakit jantung dan
pembuluh darah (30%), penyakit pernapasan kronik dan penyakit kronik lainnya
(16%), kanker (13%), cedera (9%), dan diabetes mellitus. PTM seperti hipertensi,
stroke, kanker, diabetes mellitus, penyakit paru kronik obstruktif, dan cedera
terutama di negara berkembang, telah mengalami peningkatan kejadian dengan
cepat yang berdampak pula pada peningkatan angka kematian dan kecacatan
(Depkes RI, 2010).
Hipertensi adalah suatu penyakit yang kronis dimana tekanan darah
meningkat di atas tekanan darah normal. The seventh report of the Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood
Pressure (JNC VII) menyatakan bahwa seseorang dikatakan hipertensi jika
tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih atau tekanan darah diastolic 90
mmhg atau lebih. Hipertensi adalah faktor risiko keempat dari enam faktor risiko
terbesar penyebab penyakit kardiovaskular (PERKI, 2003).

Penderita hipertensi sering tidak menampakkan gejala. Institit nasional


Jantung, Paru, dan Darah memperkirakan separuh orang yang menderita
hipertensi tidak sadar akan kondisinya. Orang yang sudah menyadari hipertensi
pada dirinya hanya melakukan sedikit tindakan untuk mengontrolnya, dimana
hanya 27% pasien hipertensi yang mengontrol tekanan darahnya secara adekuat
(Hahn & Payne, 2003). Pasien baru menyadari kondisinya jika hipertensi sudah
menimbulkan komplikasi pada jantug, penyumbatan pembuluh darah, hingga
pecahnya pembuluh darah di otak yang berakibat kematian. Hal inilah yang
membuat hipertensi dikenal sebagai the silent killer yang berdampak pada
tingginya angka kematianakibat penyakit dan pembuluh darah (Aziza, 2007)
Prevalensi hipertensi terus meningkat sejalan dengan perubahan gaya
hidup seperti merokok, inaktifitas fisik dan stres psikososial. Data World Health
Organization (WHO), tahun 2000 menunjukkan sekitar 972 juta orang atau 26,4%
penduduk diseluruh dunia menderita hipertensi. Sebanyak 333 juta (proporsi
34,26%) berada di negara maju dan 639 juta (65,74%) berada di negara
berkembang termasuk Indonesia (Depkes RI, 2010).
Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan
prevalensi hipertensi di Indonesia mengalami peningkatan dari 96 per 1000
penduduk pada tahun 1995 menjadi 110 per 1000 penduduk pada tahun 2001.
Prevalensi hipertensi pada golongan umur diatas 25 tahun meningkat dari 8 %
pada tahun 1995 menjadi 28 % tahun 2001 (Depkes RI, 2010)
Berdasarkan Riskesdas NTB 2007 dilaporkan bahwa prevalensi hipertensi
di NTB berdarsarkan hasil pengukuran tekanan darah adalah 32,4% dan lebih
tinggi dari angka nasional (26,7%), sementara berdasarkan diagnosis dan atau
riwayat minum obat hipertensi prevalensinya adalah 6,7%. Prevalensi hipertensi
tertinggi menurut diagnosis dan riwayat pengobatan ditemukan di Kabupaten
Lombok Tengah sedangkan terendah di Kota Mataram. Prevalensi hipertensi di
Lombok Barat berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah adalah 32, 3%.
Berdasarkan data mengenai 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Narmada pada

tahun 2013, hipertensi menduduki peringkat ke 4 dengan jumlah 2908 kasus. Hal
inilah yang mendasari penulis dalam mengambil kasus pada laporan ini.
B. Rumusan Masalah
Melihat banyaknya penderita Hipertansi yang terjadi Indonesia dan
kurangnya pemahaman warga di Puskesmas Bulorokeng mengenai penyakit
tersebut, penulis merumuskan masalah yaitu bagaimana memberikan edukasi serta
penatalaksanaan penyakit Hipertensi dengan metode pendekatan keluarga kepada
warga di wilayah Puskesmas Bulurokeng, khususnya Tn. M yang merupakan
salah satu penderita hipertensi di wilayah Puskesmas tersebut.
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuannya adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan laporan kasus ini yaitu penulis mampu
memahami konsep penatalaksanaan penyakit hipertensi dengan metode
pendekatan kedokteran keluarga
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan laporan kasus ini yaitu penulis mampu
menggambarkan, mengetahui, menentukan, memahami, menjelaskan, dan
mendiskripsikan :
a. Pengkajian pada pasien dengan hipertensi.
b. Penentuan diagnosa atau masalah yang muncul pada pasien dengan
hipertensi.
c. Penyusunan penatalaksanaan secara tepat pada pasien dengan
hipertensi dengan metode pendekatan kedokteran keluarga.

d. Implementasi penatalaksanaan pasien hipertensi dengan metode


pendekatan kedokteran keluarga.
e. Evaluasi tindakan yang telah dilakukan pada pasien dengan hipertensi
D. Manfaat Laporan Kasus
1. Manfaat Teoritis
Meningkatkan pengetahuan bagi penulis dan pembaca agar dapat
melakukan pencegahan untuk diri sendiri dan orang disekitarnya agar tidak
terkena DM. Penulisan laporan kasus ini juga berfungsi untuk mengetahui
antara teori dan kasus nyata yang terjadi dilapangan sesuai atau tidak,
karena dalam teori yang sudah ada, kadang-kadang ada hal yang tidak
sesuai dengan kasus yang terjadi, sehingga disusunlah laporan kasus ini.
2. Manfaat Praktisi

Bagi Teman Sejawat


Laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan informasi dan menambah
wacana keilmuan bagi teman sejawat dalam memberikan penatalaksanaan
pada pasien hipertensi.

Bagi Puskesmas
Laporan kasus ini dapat dijadikan salah satu contoh hasil dalam melakukan
penatalaksanaan pada pasien khususnya pasien Hipertensi.

Bagi Institusi Pendidikan


Manfaat praktis bagi instansi akademik yaitu dapat digunakan sebagai
referensi

bagi

institusi

pendidikan

untuk

mengembangkan

ilmu

pengetahuan tentang pentalaksanaan pasien Hipertensi dengan metode


pendekatan kedokteran keluarga.

Bagi Pasien dan Keluarga


Manfaat laporan kasus ini bagi pasien dan keluarga yaitu agar pasien dan
keluarga mengetahui tentang penyakit Hipertensi serta penatalaksanaan
yang benar dan tepat agar pasien mendapat perawatan yang tepat.

Bagi Pembaca
Manfaat penulisan laporan kasus ini yaitu menjadi sumber referensi dan
informasi bagi orang yang membaca laporan kasus ini serta menjadi lebih
mengetahui dan memahami bagaimana cara penatalaksanaan yang benar
dan tepat pada pasien Hipertensi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Sehat
Arti kesehatan secara harfiah adalah sesuatu yang berhubungan dengan
kondisi fisik seseorang yaitu orang dikatakan sehat apabila terbebas dari serangan
penyakit atau sebaliknya dikatakan sakit apabila kondisi fisiknya tidak baik akibat
penyakit menular atau penyakit tidak menular. Kondisi ini dinamakan konsep
sehat-sakit. Sejak tahun 1948 WHO telah mendefinisikan yang dimaksud sehat
sebagai berikut : Health is a state of physical, mental and social well being and
not merely the absence of disease or infirmity. Dikatakan bahwa sehat itu adalah
keadaan fisik, mental dan sosial yang baik, tidak hanya terbebas dari penyakit,
cacat atau kelemahan. Menurut pengertian tersebut definisi sehat mempunyai
makna yang sempurna dan lengkap. Misalnya seseorang yang mengalami sakit
lalu ada bekas luka parut, menurut pengertian WHO belum termasuk kriteria sehat
(Suyono, 2010)
Di Indonesia kriteria sehat ini ditetapkan melalui Undang-undang Nomor
1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan dan telah diperbaharui dengan Undangundang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 1 ayat 1 yang bunyinya :
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Suyono,
2010)
Hendrik L Blum menggambarkan status kesehatan seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai berikut : (Suyono, 2010)

Gambar 1. Konsep status Kesehatan menurut HL. Blum

Ke empat faktor tersebut diatas saling berpengaruh positif satu dengan


yang lain dan tentu saja sangat berpengaruh terhadap status kesehatan seseorang.
Status kesehatan akan tercapai optimal apabila ke empat faktor tersebut positif
mempengaruhi secara optimal pula. Apabila salah satu faktor tidak optimal maka
status kesehatan akan bergeser kearah dibawah optimal. Berikut ini akan
dijelaskan satu per satu ke empat faktor tersebut sebagai berikut : (Suyono, 2010)
1. Faktor Keturunan (Biologi)
Faktor ini lebih mengarah kepada kondisi individu yang berkaitan dengan
asal usul keluarga, ras dan jenis golongan darah. Beberapa penyakit tertentu
disebabkan oleh faktor keturunan antara lain : hemophilia, hypertensi, kelainan
bawaan, albino dll.
2. Faktor Pelayanan Kesehatan
Faktor ini dipengaruhi oleh seberapa jauh pelayanan kesehatan yang
diberikan. Hal ini berhubungan dengan tersedianya sarana dan prasarana
institusi kesehatan antara

lain : Rumah Sakit, Puskesmas, Labkes, Balai

Pengobatan, serta tersedianya fasilitas pada institusi tersebut : tenaga


kesehatan, obat-obatan, alat-alat kesehatan yang kesemuanya tersedia dalam
kondisi baik dan cukup dan siap pakai.
3. Faktor Perilaku

Faktor perilaku berhubungan dengan perilaku individu atau masyarakat,


perilaku petugas kesehatan dan perilaku para pejabat pengelola negeri ini
(Pusat dan Daerah) serta perilaku pelaksana bisnis.

Perilaku individu atau masyarakat yang positif pada kehidupan sehari-hari


misalnya : membuang sampah / kotoran secara baik, minum air masak,

saluran limbah terpelihara, mandi setiap hari secara higienis dll.


Perilaku petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan yang baik
antara lain : ramah, cepat tanggap, disiplin tinggi, terapi yang tepat sesuai
diagnosa, tidak malpraktek pemberian obat yang rasional, dan bekerja

dengan penuh pengabdian.


Perilaku pemerintah Pusat dan Daerah dalam menyikapi suatu
permasalahan kesehatan masyarakat secara tanggap dan penuh kearifan
misalnya : cepat tanggap terhadap adanya penduduk yang gizinya buruk,
adanya wabah penyakit, serta menyediakan sarana dan prasarana
kesehatan dan fasilitas umum ( jalan, parit, TPA, penyediaan air bersih,
jalur hijau, pemukiman sehat) yang didukung dengan peraturan
perundang-undangan yang berhubungan dengan kesehatan dan lingkungan

4.

hidup dan menerapkan sanksi hukum yang tegas bagi pelanggarnya.


Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap status kesehatan,
terlihat dari diagram di atas dengan panah yang lebih besar dibanding faktor
lainnya. Faktor Lingkungan terdiri dari 3 bagian besar :

Lingkungan Fisik
Terdiri dari benda mati yang dapat dilihat, diraba, dirasakan antara lain :
bangunan, jalan, jembatan, kendaraan, gunung, air, tanah. Benda mati yang
dapat dilihat dan dirasakan tapi tidak dapat diraba : api, asap, kabut dll..
Benda mati yang tidak dapat diraba, tidak dapat dilihat namun dapat

dirasakan : udara, angin, gas, bau-bauan, bunyi-bunyian / suara dll.


Lingkungan Biologis
Terdiri dari makhluk hidup yang bergerak, baik yang dapat dilihat maupun
tidak : manusia, hewan, kehidupan akuatik, amoeba, virus, plankton.

Makhluk hidup tidak bergerak : tumbuhan, karang laut, bakteri dll.


Lingkungan Sosial
8

Lingkungan sosial adalah bentuk lain selain fisik dan biologis di atas.
Lingkungan sosial tidak berbentuk secara nyata namun ada dalam
kehidupan di bumi ini. Lingkungan sosial terdiri dari sosio-ekonomi,
sosio-budaya,

adat

istiadat,

agama/kepercayaan,

organisasi

kemasyarakatan dll.
Melalui lingkungan sosial manusia melakukan interaksi dalam
bentuk pengelolaan hubungan dengan alam dan buatannya melalui
pengembangan perangkat nilai, ideologi, sosial dan budaya sehingga dapat
menentukan arah pembangunan lingkungan yang selaras dan sesuai
dengan daya dukung lingkungan yang mana hal ini sering disebut dengan
etika lingkungan.
B. Gambaran penyakit hipertensi di Puskesmas Bulurokeng
Hipertensi merupakan salah satu dari penyakit yang banyak di jumpai di
Puskesmas Narmada. Hipertensi masuk ke dalam 10 besar penyakit terbanyak di
Puskesmas Bulurokeng pada tahun 2015.
Tabel 1. 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Bulurokeng tahun 2015
NO

PENYAKIT

TOTAL

1.

Common cold

1373

2.

ISPA

1119

3.

Pulpitis

682

4.

Batuk

546

5.

Myalgia

537

6.

Dyspepsia

536

7.

Dermatitis

508

8.

Cefalgia

468

9.

Hipertensi

460

10.

Influenza

370

Grafik 1. 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Bulurokeng tahun 2015

1400
1200

1373
1119

1000
800

682
546

600

537

536

508

468

460
370

400
200
0

Common Cold Pulpitis

Myalgia

Dermatitis Hipertensi

C. Konsep Penyakit Hipertensi


Definisi Hipertensi
Hipertensi lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah penyakit tekanan
darah tinggi. Batas tekanan darah yang dapat digunakan sebagai acuan untuk
menentukan normal atau tidaknya tekanan darah adalah tekanan sistolik dan
tekanan diastolic. Berdasarkan JNC VII, seorang dewasa dikatakan mengalami
hipertensi jika tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan diastolic 90 mmHg atau
lebih (PERKI, 2003).
Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi hipertensi yang dipakai saat ini beredoman pada Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment on High Blood
Pressure yang ke 7. Berikut ini adalah tabel tentang klasifikasi hipertensi (PERKI,
2003)
Tabel 2. Klasifikasi Hipertensi menurut JNC VII

10

Kategori Tekanan Darah


Normal
Prehipertensi
Hipertensi grade 1
Hipertensi grade 2

Tekanan Sistolik (mmHg)


< 120
120-139
140-159
>160

Tekanan Diastolik (mmHg)


dan < 80
atau 80-89
atau 90-99
atau > 100

Berdaraskan penyebabnya, hipertensi dpat diklasifikaskan menjadi dua yaitu


hipertensi primer dan hipertensi sekunder Berikut ini adalah pembagian hipertensi
berdasarkan penyebabnya.
a. Hipertensi Primer
Hipertensi primer disebut juga dengan istilah hipertensi esensial atau
idiopatik. Etiologi hipertensi jenis ini adalah multifaktorial yang masingmasing akan saling berinteraksi mengganggu homeostasis secara bersama,
sehingga tekanan darah baik sistolik maupun diastolic akan mengalami
peningkatan (Black & Hawks, 2005). Pada kasus ini terjadi peningkatan kerja
jantung akibat penyempitan pembuluh darah tepi. Hipertensi jenis ini
mempunyai kecendrungan genetic yang dan dipengaruhi oleh faktor kontribus,
seperti obesitas, stress, merokok, dan konsumsi garam berlebih (Sherwood,
2001). Hipertensi jenis ini biasanya diderita oleh 90% sampai 95% psien yang
mengalami peningkatan tekanan darah (Hahn & Payne, 2003).
b. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder disebabkan oleh gangguan sistem lain, misalnya
sistem vaskuler (arteriosklerosis), sistem renal (stenosis arteri renal), sistem
endokrin

(hipertiroidisme)

dan

sistem

neuron

(peningkatan

tekanan

intracranial). Kehamilan juga dapat menyebabkan hipertensi sekunder (Davis,


2004). Kejadian hipertensi sekunder kurang dari 5% pada individu dewasa,
tetapi lebih dari 80% pada anak-anak. Menurut Dirksen, Heitkemper, dan
Lewis (2000) penyebab hipertensi sekunder adalah sebagai berikut: (1)
penyempitan congenital aorta; (2) penyakit ginjal misalnya stenosis arteri
ginjal; (3) gangguan endokrin misalnya sindrom Chusing dan hiperaldosteron;
(4) gangguan neurologi misalnya tumor otak dan cedera kepala; (5) sleep
apnea; (6) pengobatan jenis stimulant simpatetik misalnya kokain, terapi

11

penggantian estrogen, obat kontrasepsi oral, dan obat anti inflamasi non
steroid; (7) kehamilan yang menstimulasi hipertensi.

Faktor Risiko Hipertensi


Black dan Hawks (2005) menyatakan bahwa semua jenis hipertensi
dipengaruhi oleh faktor genetic daan lingkungan. Faktor-faktor ini dapat
diklasifikasikan menjadi faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang
dapat dimodifikasi.
a. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi
Faktor yang tidak dapat dimodifikasi terdiri dari riwayat keluarga
(genetic), umur, jenis kelamin.
- Riwayat Keluarga (Genetik)
Kejadian hipertensi khususnya hipertensi primer sangat dipengaruhi oleh
faktor riwayat keluarga. Faktor genetik ini berkaitan dengan metabolism
pengaturan garam dan renin membrane sel. Menurut Davidson, bila kedua
orang tuanya menderita hipertensi maka sekitar 45% akan turun ke anakanaknya dan bila salah satu orang tuanya yang menderita hipertensi maka
-

sekitar 30% akan turun ke anak-anaknya.


Umur
Risiko hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan umur. Black dan
Hawks (2005) menyatakan bahwa seseorang rentan mengalami hipertensi
pada umur 30-50 tahun, dimana hipertensi yang dialami adalah hipertensi
primer. Tingginya hipertensi seiring dengan bertambahnya umur, disebabkan
oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar, sehingga lumen menjadi
lebih sempit dan dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku, sebagai

akibatnya dalah meningkatnya tekanan darah sistolik.


Jenis Kelamin
Faktor jenis kelamin mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap
kejadian hipertensi. Pria lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan
wanita, dengan rasio sekitar 2,29 untuk peningkatan tekanan dara sistolik.
Pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan
tekanan darah dibandingkan dengan wanita. Namun, setelah memasuki

12

menopause, prevalensi hipertensi pada wanita meningkat. Bahkan setelah


usia 65 tahun, terjadinya hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan
dengan pria yang diakibatkan oleh faktor hormonal. Penelitian di Indonesia
prevalensi yang lebih tinggi terdapat pada wanita.
b. Faktor yang dapat dimodifikasi
Selain dipengaruhi faktor yang tidak dapat dimodifikasi, hipertensi
dipengaruhi faktor yang dapat dimodifkasi. Tingkat kejadian hipertensi dapat
diturunkan dengan mengendalikan faktor ini. Faktor yang dapat dimodifikasi
ini terdiri dari kegemukan (obesitas), stress, konsumsi zat berbahaya, aktivitas
fisik, nutrisi.
Kegemukan (obesitas)
Kegemukan (obesitas) adalah presentase abnormalitas lemak yang
dinyatakan dalam Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index) yaitu perbandingan
antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat dalam meter. Kaitan erat antara
kelebihan berat badan dan kenaikan tekanan darah telah dilaporkan oleh
beberapa studi. Risiko relative untuk menderita hipertensi pada orang-orang
gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang badannya normal.
Sedangkan, pada penderta hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat
badan lebih (overweight).
Stress
Stress mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap tingkat kejadian
hipertensi. Pada penelitian yang dilakukan oleh Jonas (2000) dilaporkan bahwa
seseorang yang mengalami depresi berisiko 1,78 kali menderita hipertensi
dibandingkan dengan yang tidak mengalami depresi. Seseorang yang berada
dalam kondisi stress telah terjadi proses fisiologis dimana sistem saraf simpatis
teraktivasi yang selanjutnya dapat menstimulus pengeluaran hormone adrenalin
dan kortisol. Respon fisiologis ini menyebabkan peningkatan denyut jantung
dan tekanan darah.
Konsumsi Zat Berbahaya
Konsumsi zat berbahaya adalah faktor lain yang mempengaruhi kejadian
hipertensi dan dapat dimodifikasi. Konsumsi zat berbahaya ini meliputi rokok,
konsumsi alkohol berlebih, dan obat-obatan terlarang. Penggunaan substansi ini
secara terus-menerus dapat membuat tekanan darah cenderung tinggi.
13

Nikotin yang dihisap melalui rokok dapat meningkatkan denyut jantung


dan menyebabkan vasokonstriksi perifer, yang akan meningkatkan tekanan
darah arteri pada jangka waktu yang pendek, selama dan setelah merokok.
Nikotin yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel
pembuluh darah ateri, dan mengakibatkan proses aterosklerosis, dan tekanan
darah tinggi.
Alkohol termasuk salah satu substansi berbahay yang jika dikonsumsi
secara berlebihan dapat menimbulkan efek negative bagi tubuh. Konsumsi
alkohol dapat meningkatkan angka kejadian hipertensi, penurunan sensitivitas
tubuh terhadap obat antihipertensi, dan hipertensi yang sulit disembuhkan.
Kopi mengandung kafein yang jika digunakan dalam jumlah adekuar akan
bermanfaat bagi tubuh. Hal ini didukung oleh studi-studi yang dilakukan Mayo
Clinic, Harvard School of Public Health dan institusi-institusi lain yang
mengungkapkan bahwa minum kopi 2-4 cangkir sehari dapat menurunkan
kanker kolon, mengurangi risiko penyakit batuu empedu, dan mencegah sirosis
hati. Akan tetapi, konsumsi kopi yang berlebih yaitu 10 cangkir atau lebih per
hari dapat menyebabkan kecemasan, diare, kelelahan, sulit tidur, pusing, dan
palpitasi jantung.
Aktivitas fisik
Aktivitas fisik aerobic yang adekuat dan teratur akan menjaga fungsi
kardiovaskuler yang baik dan menurunkan berat badan bagi pasien hipertensi
dengan obesitas, serta menurunkan risiko penyakit kardiovaskular yang dapat
meningkatkan mortalitas.
Nutrisi
Nutrisi adalah salah satu faktor yang dapat dimodifikasi untuk
mengendalikan kejadian hipertensi. Pola makan yang tinggi kalori, natrium,
dan lemak, tetapi rendah protein dapat meningkatakn tekanan darah. Diet tinggi
sodium akan menstimulasi pengeluaran hormone natriuretik dan mekanisme
vaspresor dalam sistem saraf pusat, yang akan berkontribusi pada peningkatan
tekanan darah. Penelitian yang dilakukan oleh Sugiharto (2007) menunjukkan
bahwa seseorang yang terbiasa mengkonsumsi makanan asin berisiko
menderita hipertensi 3,95 kali dibandingkan orang yang tidak terbiasa
mengkonsumsi makanan asin.
14

Diet tinggi lemak jenuh juga berakibat pada peningkatan tekanan darah.
Konsumsi lemak jenuh berlebih berakibat pada peningkatan kadar kolesterol
yang merupakan faktor risiko utam aterosklerosis. Aterosklerosis dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah dan penyakit kardiovaskular
misalnya iskemia atau infark miokard.
Manifestasi Klinis Hipertensi
Manifestasi klinis hipertensi antara lain:

Sakit/nyeri kepala
Gelisah
Jantung berdebar-debar
Pusing
Leher kaku
Penglihatan kabur, dan
Rasa sakit di dada.
Keluhan tidak spesifik antara lain tidak nyaman kepala, mudah lelah

Tatalaksana Hipertensi
a. Non-Farmakologis
Peningkatan tekanan darah dapat dikontrol dengan perubahan gaya hidup.
(Depkes RI, 2013)
Tabel 3. Modifikasi Gaya Hidup

Modifikasi
Penurunan berat badan

Rekomendasi
Rerata penurunan TDS
Jaga berat badan ideal (BMI : 5 20 mmHg/10kg

18,5 24,9 kg/m2)


Dietary Approches to Stop Diet kaya buah,
Hypertension (DASH)

sayuran, 8 - 14 mmHg

produk rendah lemak dengan


jumlah lemak total dan lemak

Pembatasan intake natrium

jenuh yang rendah


Kurangi hingga < 100 mmol 2 - 8 mmHg
per hari (2.0 g natrium atau 6
5 g natrium klorida atau 1

Aktivitas fisik

sendook the garam per hari)


Aktivitas fisik aerobic yang 4 - 9 mmHg
15

teratur (mis : jalan cepat) 30


menit seharu, hampir setiap
Pembatasan konsumsi alkohol

hari dalam seminggu.


Laki-laki : dibatasi hingga < 2 2 4 mmHg
kali per hari.
Wanita dan orang yang lebih
kurus : dibatasi hingga < 1 kali
per hari.

b. Farmakologis
Alur tatalaksana hipertensi

16

BAB III
METODOLOGI DAN LOKASI STUDI KASUS
A. Metode Studi Kasus
Studi kasus ini menggunakan desain studi Kohort untuk mempelajari
hubungan antara faktor risiko dan efek (penyakit atau masalah kesehatan), dengan
memilih kelompok studi berdasarkan perbedaan faktor risiko. Kemudian
mengikuti sepanjang periode waktu tertentu untuk melihat berapa banyak subjek
dalam masing-masing kelompok yang mengalami efek penyakit atau masalah
kesehatan untuk melakukan penerapan pelayanan dokter layanan primer secara
paripurna dan holistik terutama tentang penatalaksanaan penderita Hipertensi
dengan pendekatan kedokteran keluarga di Puskesmas Bulurokeng pada tahun
2016.
Cara pengumpulan data dengan melakukan wawancara dan pengamatan
terhadap pasien dan atau keluarganya dengan cara melakukan home visit untuk
mengetahui secara holistik keadaan dari penderita.
B.

Lokasi dan Waktu melakukan Studi Kasus

Lokasi Studi Kasus


Studi kasus bertempat di Puskesmas Bulurokeng Kota Makassar.
Waktu Studi Kasus

17

Studi kasus dilakukan pertama kali saat penderita datang berobat di


puskesmas Bulurokeng pada tanggal 31 Maret 20162016. Selanjutnya dilakukan
home visit untuk mengetahui secara holistik keadaan dari penderita.
C.

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Keadaan Geografis
Secara umum lokasi Puskesmas Bulurokeng terletak di jalan Suka Dg.
Lurang. Berada di Kecamatan Makassar yang terdiri atas 2 kelurahan, yaitu :
1. Kelurahan Bulurokeng
2. Kelurahan Untia
Keadaan Demografis
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Bulurokeng adalah 14547
jiwa, dengan distribusi berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki sebanyak 7564
jiwa dan perempuan sebanyak 6983 jiwa.
Tingkat Pendidikan dan Mata Pencaharian
Tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Bulurokeng
bervariasi mulai dari tingkat Perguruan Tinggi, SLTA, SLTP, tamat SD, tidak
tamat SD, hingga tidak sekolah. Adapun mata pencaharian penduduk sebagian
besar berturut-turut adalah pegawai negeri sipil (PNS), pegawai swasta,
wiraswasta, TNI, petani dan buruh.
Upaya Kesehatan
Puskesmas Bulurokeng sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas
Kesehatan Kota Makassar yang bertanggung jawab terhadap pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas berperan menyelenggarakan upaya
kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap penduduk agar memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

18

Dengan

demikian

Puskesmas

berfungsi

sebagai

pusat

penggerak

pembangunan, berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan


masyarakat serta pelayanan kesehatan strata pertama.
Dengan fungsi tersebut maka upaya kesehatan di Puskesmas Bulurokeng
terbagi atas 2 Upaya Kesehatan yaitu :
1. Upaya Kesehatan Wajib
Promosi Kesehatan
Kesehatan Lingkungan
Kesehatan Ibu dan Anak
Upaya perbaikan gizi masyarakat
Upaya pencegahan & pemberantasan penyakit menular
Upaya Pengobatan
2. Upaya Kesehatan Pengembangan meliputi
Upaya kesehatan Usia Lanjut
Upaya kesehatan Jiwa
Kesehatan Olah raga
Pencegahan & penanggulangan penyakit gigi
Perawatan kesehatan masyarakat
Bina kesehatan tradisional
Bina kesehatan kerja
Secara garis besar ada beberapa macam layanan yang disediakan oleh Puskesmas
Bulurokeng dalam sehari-hari untuk masyarakat meliputi:
1. Layanan Administrasi
2. Poli Umum
3. Poli kesehatan Gigi dan Mulut
4. KIA (kesehatan Ibu dan Anak) dan Imunisasi
5. Layanan Pengobatan
6. Pemeriksaan Laboratorium
Dimana kesemua layanan ini dilaksanakan dalam upaya untuk mewujudkan
masyarakat sehat sesuai dengan visi dan misi Puskesmas Cendrawasih itu sendiri

19

LANTAI 1

LANTAI 2
Gambar 2 . Denah Puskesmas Bulurokeng

D. Visi dan Misi Puskesmas Bulurokeng


Visi Puskesmas Bulurokeng
Dalam menetapkan visinya Puskesmas Bulurokeng berpedoman dan
memperhatikan visi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia yaitu

20

Masyarakat Sehat Mandiri dan Berkeadilan serta Visi Dinas Kesahatan Kota
Makasar yaitu Makssar Sehat Menuju Kota Dunia bahwa sebagai upaya
penjabaran visi Kementrian Kesehatan RI dan Visi Dinas Kesehatan Kota
Masyarakat, maka visi Puskesmas Bulurokeng Terwujudnya Masyarakat sehat
dan mandiri di wilayah Puskesmas Bulurokeng.
Misi Puskesmas Bulurokeng
Demi terwujudnya masyarakat dalam wilayah Puskesmas Bulurokeng
hidup sehat yang merupakan bagian dari tercapainya Makassar Sehat Menuju
Kota Dunia harus ditunjang misi Puskesmas yang dapat diukur serta tidak
dipisahkan Visi Puskesmas.
Berdasarkan hasil tersebut Puskesmas Bulurokeng mempunyai misi sebagai
berikut :

Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu

Meningkatkan peran serta masyarakat dalam perencanaan pembangunan


kesehatan

Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat agar mau dan


mampu menolong dirinya dalam permasalahan kesehatan

Visi dan misi tersebut dilakukan dengan cara melaksanakan :


a). Enam Upaya Kesehatan Wajib, yaitu :
1.

Upaya Promosi Kesehatan

2.

Upaya Kesehatan Lingkungan

3.

Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga


Berencna

4.

Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

5.

Upaya pencegahan dan Pemberantasan Penyakit


Menular

6.

Upaya Pengobatan

b). Tujuh Upaya Kesehatan Pengembangan, yaitu :


1. Upaya kesehatan Usia Lanjut
21

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Upaya kesehatan Jiwa


Kesehatan Olah raga
Pencegahan & penanggulangan penyakit gigi
Perawatan kesehatan masyarakat
Bina kesehatan tradisional
Bina kesehatan kerja

10 Penyakit Utama Untuk Semua Golongan Umur Di Kota Makassar


Berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas
Kesehatan Kota Makassar diperoleh gambaran 10 penyakit utama untuk semua
golongan umur di Kota Makassar sebagai berikut :
1. ISPA
2. Dermatitis atau eksim
3. Batuk
4. Infeksi Saluran napas akut lainnya
5. Hipertensi
6. Demam yang tidak diketahui sebabnya
7. Dyspepsia
8. Infeksi kulit dan jaringan subkutan
9. Sakit kepala
10. Penyakit pulpa jaringan.
Organisasi Puskesmas Cendrawasih
a. Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Dokter Umum
Dokter Gigi
Kesmas
Bidan
Perawat
Sanitarian
Nutrisionis
Perawat Gigi
b. Struktur Organisasi

: 2 Orang
: 1 Orang
: 1 Orang
: 4 Orang
: 7 Orang
: 1 Orang
: 1 Orang
: 1 Orang

Struktur organisasi Puskesmas Bulurokeng berdasarkan Surat Keputusan


Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Nomor 800/1682/SK/IV/2010 tanggal 21
April 2010 terdiri atas:

22

Kepala Puskesmas
Kepala Subag Tata Usaha
Unit Pelayanan Teknis Fungsional Kesehatan
- Unit Kesehatan Masyarakat
- Unit Kesehatan Perorangan
Unit jaringan Pelayanan Puskesmas
- Unit Puskesmas Pembantu
- Unit Puskesmas Keliling
- Unit Bidan Komunikasi/Bidan Penanggung Jawab Keluarahan
-

Alur Pelayanan Puskesmas Bulurokeng


Berikut adalah alur pelayanan rawat jalan di Puskesmas Cendrawasih :

Gambar 4. Bagan alur pelayanan Puskesmas Cendrawasi

BAB IV
PRESENTASI KASUS

23

a.

Identitas Pasien

Nama

: Tn. M

Umur

: 67 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jl Suka Dg Lurang No 3

Suku

: Bugis

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pensiunan PNS

Waktu Pemeriksaan

: 31 Maret 2016

b. Anamnesis
Keluhan Utama
Sakit kepala
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poli Umum Puskesmas Bulurokeng dengan keluhan sakit
kepala sejak 1 hari yang lalu. Sakit kepala terutama dirasakan pada bagian

belakang kepala. Sakit kepala tidak disertai dengan mual dan muntah.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat hipertensi (+) sejak 12 tahun yang lalu. Awalnya pasien rajin
meminum obat hipertensi, namun selama 1 bulan terakhir, pasien tidak

pernah kontrol dan meminum obat. Riwayat kencing manis (-).


Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat hipertensi (+) yaitu tiga orang saudara pasien. Riwayat hipertensi
pada orang tua tidak diketahui. Riwayat kencing manis (+) yaitu istri
pasien.

Pasien

24

Meninggal
Hipertensi

Riwayat Pribadi
Pasien merupakan anak ke empat dari empat bersaudara. Pasien tinggal di
rumah bersama istrinya. Pasien memiliki tiga orang anak, namun mereka
tidak tinggal bersama pasien karena telah memiliki keluarga masing

masing.
Rumah pasien terletak di pinggir jalan. Rumah berukuran 12 x 8 m 2.
Rumah terdiri dari 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 1 ruang
shalat, 1 dapur, dan 1 kamar mandi. Lantai rumah terbuat dari keramik,
dinding rumah berupa tembok, dan atap rumah terbuat dari genteng.
Masing-masing ruangan memiliki jendela, ventilasi, dan pencahayaan

yang cukup.
Sumber air yang dipakai untuk sehari-hari adalah dari air PAM. Sedangkan

untuk minum, pasien menggunakan air galon.


Pasien merupakan seorang pensiunan PNS dan saat ini tidak bekerja.
Pendapatan keluarga berasal dari uang pensiunan tiga juta rupiah per

bulan.
Sejak pensiun, pasien kurang bergerak dan tidak pernah berolahraga.
Pasien makan 3 kali sehari dengan lauk yang beraneka ragam. Riwayat sering

mengkonsumsi ikan asin (+).


Pasien tidak memiliki kebiasaan minum kopi.
Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok.
Kamar Tidur

Denah rumah pasien


Ruang Tamu

Kamar Tidur

Ruang Shalat

Ruang Keluarga

Kamar Tidur

25
Dapur

Kamar Mandi

Ruang tamu

Kamar tidur pasien dan istri

26

Ruang keluarga

Ruang shalat

27

Dapur

28

Kamar mandi

Rumah tampak depan

29

c. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital

HR
TD
RR
Tax

: 88 x/menit, irama teratur, kuat angkat


: 160/100 mmHg
: 20 x/menit
: 36,7C

Status Generalis
Kepala

Ekspresi wajah
Bentuk dan ukuran
Rambut
Edema
Malar rash

Mata

: normal
: normal
: normal
: (-)
: (-)

Telinga

Simetris
Alis
Exophtalmus
Ptosis
Strabismus
Edema palpebra
Konjungtiva
Sklera
Pupil
Kornea
Lensa

: normal
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: anemis (-/-), hiperemis (-/-)
: ikterik (-/-), hiperemis (-/-), pterygium (-/-)
: isokor, bulat, refleks (+/+)
: normal
: normal, katarak (-/-)

Bentuk

: normal
30

Lubang telinga
Nyeri tekan
Pendengaran

Hidung

: normal, secret (-/-)


: (-)
: normal

Simetris, deviasi septum (-)


Perdarahan (-), secret (-)
Penciuman
: normal

Mulut

Simetris
Bibir
Gusi
Lidah
Mukosa

Leher

: sianosis (-)
: hiperemis (-), perdarahan (-)
: glositis (-), atrofi papil lidah (-)
: kering
:

Simetris
Kaku kuduk
: (-)
Scrofuloderma
: (-)
Pembesaran KGB
: (-)
Trakea
: di tengah
JVP
: normal
Pembesaran otot sternokleidomastoideus : (-)
Pembesaran tiroid
: (-)

Thoraks

Cor

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: iktus cordis tidak tampak


: iktus cordis teraba di ICS 5 midklavikula sinistra
: redup
: S1S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo

31

Inspeksi

: bentuk simetris, pergerakan dinding dada simetris,

penggunaan otot bantu nafas (-), pelebaran sela iga (-), frekuensi

pernapasan 20 x/menit.
Palpasi
: pergerakan dinding dada simetris, fremitus raba

dan vocal simetris, provokasi nyeri (-).


Perkusi
: sonor di kedua lapang paru, nyeri ketok (-)
Auskultasi
: vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-).

Abdomen

:
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi

: distensi (-), skar (-).


: bising usus (+) normal
: nyeri tekan (-), pembesaran organ (-)
: timpani

Inguinal-genital-anus
Ekstremitas atas

Akral hangat
Kulit
Deformitas
Sendi
Edema
Sianosis
Kekuatan

Ektremitas bawah

: tidak diperiksa

Akral hangat
Kulit
Deformitas
Sendi
Edema
Sianosis
Kekuatan

: (+/+)
: normal
: (-/-)
: dalam batas normal
: (-/-)
: (-/-)
: normal

:
: (+/+)
: normal
: (-/-)
: dalam batas normal
: (-/-)
: (-/-)
: normal

32

d. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
e. Diagnosis Kerja
Diagnosis kerja pasien ini adalah hipertensi grade II.
f.

Penatalaksanaan
Captopril 2 x 25 mg
g. Prognosis
Bonam
h. Konseling
Konseling yang diberikan pada pasien ini adalah tentang pola hidup sehat
untuk mencegah dan mengontrol hipertensi, seperti :

Gizi seimbang dan pembatasan gula, garam, dan lemak. Asupan garam

maksimal 5 g sehari.
Mempertahankan berat badan dan lingkar pinggang ideal.
Menganjurkan gaya hidup aktif/olahraga teratur
Menganjurkan untuk kontrol rutin di puskesmas
Menjelaskan kepada pasien tentang komplikasi dari penyakit
hipertensi

33

BAB V
PEMBAHASAN
Pada kasus ini, pasien didiagnosis dengn hipertensi grade II. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang
dilakukan saat pasien datang memeriksakan diri ke Puskesmas Bulurokeng.
Berdasarkan hasil anamnesis, pasien datang dengan keluhan sakit kepala yang
mulai dirasakan sejak 1 hari yang lalu. Sakit kepala terutama dirasakan di bagian
belakang kepala. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan tekanan darah pasien adalah
160/100 mmHg. Berdasarkan klasifikasi menurut JNC VII, pasien ini digolongkan
pada hipertensi grade II. Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini adalah
dengan pemberian terapi farmakologis dengan menggunakan obat antihipertensi
yaitu captopril 2 x 25 mg sehari. Selain terapi farmakologis, diberikan juga terapi
34

non farmakologis dengan pemberian konseling tentang diet untuk pasien


hipertensi, gaya hidup aktif, komplikasi hipertensi, dan menganjurkan pasien
kontrol rutin di puskesmas.
Menurut teori H.L. Blum terdapat empat faktor yang mendasari munculnya
suatu penyakit. Faktor tersebut antara lain : faktor biologi, faktor lingkungan,
faktor pelayanan kesehatan, dan faktor perilaku. Mengacu pada teori tersebut,
kejadian hipertensi pada pasien ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Faktor biologi
Faktor biologi pada pasien ini adalah terdapat riwayat hipertensi dalam
keluarga yakni ketiga saudara pasien. Selain itu, terdapat faktor yang lain yaitu
usia pasien 67 tahun.
2. Faktor lingkungan
Rumah pasien terletak di pinggir jalan sehingga menimbulkan suasana yang
tidak kondusif untuk pasien. Pasien tidak memiliki masalah yang dapat
menimbulkan
stress psikis
pada pasien.
Pasien hidup
amankeluarga
bersama istri dan
Terdapat
riwayat
hipertensi
dalam
anak-anaknya.
3. Faktor pelayanan kesehatan
tahun tersedia tensimeter
Pada pelayanan kesehatan Usia
yakni pasien
Puskesmas67Bulurokeng,
untuk mengukur tekanan darah. Selain
itu, terdapat media untuk penyuluhan
GENETIK
tentang penyakit-penyakit tidak menular.
4. Faktor perilaku
JarangFaktor
berolahraga
perilaku merupakan faktor yang dominan dalam proses terjadinya

HIPERTENSI

hipertensi. Pada pasien ini, didapatkan kebiasaan mengkonsumsi ikan asin.

LINGKUNGAN

PERILAKU

Selain itu, kebiasaan tidak berolahraga dan tidak teratur berobat ke Puskesmas
Lingkungan
berperan terhadap
terjadinya
pada pasien. yang tidak kondusif karena be
Sering mengkonsumsi
ikan
asin hipertensi
Tidak teratur berobat ke Puskesmas

PELAYANAN KESEHATAN

Tersedia tensimeter untuk mengukur TD


Tersedia media untuk penyuluhan
35

Nilai Apgar Keluarga.


Apgar keluarga adalah suatu penentu sehat / tidaknya keluarga dikembangkan
oleh Rosen, Geymon, dan Leyton dengan menilai 5 fungsi pokok keluarga /
tingkat kesehatan keluarga yaitu :
TABEL NILAI APGAR
Respons
KRITERIA

Adaptasi

Kemitraan

Pertumbuhan

PERTANYAAN
Apakah pasien puas dengan
keluarga karena masing-masing
anggota
keluarga
sudah
menjalankan
kewajiban
sesuai
dengan seharusnya
Apakah pasien puas dengan
keluarga karena dapat membantu
memberikan
solusi
terhadap
permasalahan yang dihadapi
Apakah pasien puas dengan
kebebasan yang diberikan keluarga
untuk mengembangkan kemampuan
yang pasien miliki

Hampir
selalu

Kadang

36

Hampir
tidak
pernah

Kasih Sayang

Kebersamaan

Apakah pasien puas dengan


kehangatan / kasih sayang yang
diberikan keluarga
Apakah pasien puas dengan waktu
yang disediakan keluarga untuk
menjalin kebersamaan

TOTAL
Skoring : Hampir selalu=2 , kadang-kadang=1 , hampir tidak pernah=0
Total skor
8-10 = fungsi keluarga sehat
4-7 = fungsi keluarga kurang sehat
0-3 = fungsi keluarga sakit
Dari tabel APGAR keluarga diatas total nilai skoringnya adalah 9, ini menunjukan
fungsi keluarga sehat.

SCREEM Keluarga
SCREEM adalah alat yang digunakan untuk menilai sumber daya dalam keluarga.
Aspek
Sosial
Kultural

Religius

Ekonomi
Pendidikan

Kesehatan

Sumber Daya
Pasien dapat berinteraksi dengan baik
dengan tetangga sekitarnya
Pasien dan keluarga tidak mempercayai
mitos-mitos
yang
tidak
jelas
kebenarannya
Pasien dan keluarga mengajarkan moralmoral agama dan menunaikan ibadah
sesuai dengan ajaran agama dengan rajin
dan baik
.

Masalah kesehatan cukup bagus, dekat


dengan akses yankes dan memiliki
jaminan BPJS

Patologi

Pasien sebagai ketua keluarga.


Pendidikan keluarga kurang,
pasien dan suami hanya tamatan
SD.
Kesadaran dari pasien tentang
kondisi kesehatan tidak terlalu
bagus.

Identifikasi Fungsi Keluarga


1. Fungsi Biologis
Pasien menderita hipetensi sementara isteri pasien sehat.
2. Fungsi Afektif
37

Hubungan antara pasien dengan isteri


: baik
Hubungan antara pasien dengan anak-anaknya
: baik
Meskipun sering berbeda pendapat.
3. Fungsi Sosial dan Budaya
Kedudukan pasien di lingkungan tempat tinggalnya biasa saja, pasien ramah dan
selalu menyapa bila bertemu dengan tetangga, dan respon tetanggapun sangat
baik. Pasien tidak sungkan-sungkan untuk berbincang-bincang dengan tetangga.
Pasien tidak percaya terhadap mitos-mitos yang ada di masyarakat.
4. Fungsi Pendidikan
Pendidikan terakhir pasien adalah SD, isteri pasien juga hanya tamatan SD.
5. Fungsi Ekonomi
Penghasilan yang didapatkan oleh keluarga berasal Pasien merupakan seorang
pensiunan PNS dan saat ini tidak bekerja. Pendapatan keluarga berasal dari uang
pensiunan tiga juta rupiah per bulan.
6. Fungsi Religius
Fungsi religius pasien dan keluarganya cukup baik. Pasien dan keluarganya sering
ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.
Identifikasi PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku)
PSP keluarga tentang kesehatan dasar
o Pencegahan penyakit
Pasien dan keluarga pasien rajin membersihkan rumah dan kadang-kadang
menguras bak mandi.
o Gizi keluarga
Untuk pola konsumsi gizi pasien, frekuensi makan rata-rata 3 kali sehari
dengan menu nasi, lauk pauk (telur, daging, tempe, tahu), sayuran, buahbuahan. Pasien sering mengkonsumsi ikan asin,
o Higiene dan sanitasi lingkungan
- Halaman rumah dan jalan cukup bersih karena sering disapu
- Lingkungan dalam rumah cukup bersih
- Kondisi pencahayaan di rumah cukup.
PSP keluarga tentang kesehatan lain
o Penggunaan pelayanan kesehatan
Bila sakit, pasien segera dibawa ke puskesmas.
o Perencanaan dan pemanfaatan fasilitas pembiayaan kesehatan
Pasien menggunakan BPJS
o Hal-hal lain yang berhubungan dengan keadaan kesehatan keluarga dan
anggota keluarga
Pasien terdiagnosis hipertensi pertama kali 12tahun yang lalu.
Pedoman Umum Gizi Seimbang
38

NO
1
2

PUGS
Ya
Keluarga makan beraneka ragam makanan
Ya
Keluarga makan makanan untuk memenuhi
Ya
kecukupan energi
3
Keluarga makan makanan karbohidrat
Ya
setengah dari kebutuhan energi sehari
4
Keluarga membatasi konsumsi lemak dam
minyak seperempat dari kebutuhan energi
sehari
5
Keluarga menggunakan garam beryodium
Ya
6
Keluarga makan makanan sumber zat besi
Ya
7
Ibu memberikan ASI sampai bayi umur 6
bulan
8
Keluarga membiasakan makan pagi
9
Keluarga minum air bersih dan aman yang
Ya
cukup
10
Keluarga melakukan aktivitas fisik dan
olahraga secara teratur
11
Keluarga menghindari minum minuman
Ya
beralkohol
12
Keluarga makan makanan yang aman bagi
kesehatan
13
Keluarga terbiasa membaca label pada
makanan yang dikemas
Kesimpulan
1. Nilai PUGS keluarga <60%
2. Keluarga tidak menerapkan pedoman umum gizi seimbang
Identifikasi Masalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
No.
Kriteria yang dinilai
1.
Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan.
2.
Memberi ASI ekslusif.
3.
4.
5.

Menimbang balita setiap bulan.


Menggunakan air bersih.

Jawaban
Ya
Tidak

Tidak

Tidak

Tidak
Tidak

Tidak

Tidak
Tidak

Skor
1
0

Tidak
Ya
Ya

0
1
1

Ya

Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun.


6.
Menggunakan jamban sehat.

39

7.
8.

Memberantas jentik di rumah sekali seminggu.

Ya
Ya

0
0

Tidak

Ya

Makan buah dan sayur setiap hari.


9.
Melakukan aktivitas fisik setiap hari.
10.
Tidak merokok di dalam rumah.
Total jawaban ya
5
Interpretasi: Total skor adalah 5 yang berarti keluarga Tn. M kurang
menerapkan PHBS dengan baik.
Diagnosis Kesehatan Keluarga
o Bentuk Keluarga
: Keluarga
o Fungsi yang terganggu
: Kesehatan
o Faktor yang mempengaruhi : Pekerjaan, perilaku dan genetik
o Faktor yang dipengaruhi
: Jumlah dan macam asupan gizi yang tersedia
serta kesehatan
o Diagnosis Holistik
:
Laki laki 67 tahun dengan Hipertensi grade 2 dengan fungsi
keluarga yang sehat dan sumber daya keluarga yang kurang dibidang
kesehatan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Hipertensi masih merupakan masalah yang dominan dan masuk dalam 10
besar penyakit di Puskesmas Bulurokeng.
2. Berdasarkan pembahsaan di atas, terdapat beberapa faktor yang
menyebabkan terjadinya hipertensi pada pasien, yaitu : faktor genetik,
faktor perilaku, dan faktor lingkungan.

Saran

40

1. Perlu disusun suatu program yang efektif dan berbasis masyarakat untuk
mengelola penyakit hipertensi.
2. Melakukan kerjasama lintas sector dengan bagian gizi maupun promkes
dalam mengelola penyakit hipertensi.

DAFTAR PUSTAKA

Aziza, L. (2007). Hipertensi : The Sillent Killer. Jakarta : Yayasan Penerbitan


Ikatan Dokter Indonesia
Black, J.M & Hawks, J.H. (2005). Clinical Management for Positive Outcome.
USA : Lippincolt Williams & Willkins
Depkes RI. (2003). Kebijakan dan Strategi Nasional Pencegahan dan
Penanggulangan PTM. Jakarta.
Depkes RI. (2003). Seminar Strategi Pencegahan Penyakit Tidak Menular.
Jakarta : Direktorat Penyehatan Lingkungan
Depkes RI. (2008). Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nusa Tenggara
Barat 2007. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI

41

Depkes

RI.

(2010).

Rencana

Operasional

Promosi

Kesehatan

dalam

Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Jakarta; Kementrian Kesehatan RI


Depkes RI. (2013). Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer. Jakarta.
Hahn, D.B & Payne, W.A. (2003). Focus on Health Sixth Edition. USA : Mc
Graw Hill
PERKI. (2003). Pedoman Tatalaksana Penyakit Kardiovaskular di Indonesia.
Jakarta : Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia
Sherwood, L. (2001). Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC
Sudoyo. (2008). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI
Suyono.

Kesehatan

Lingkungan.

Available

in

http://e-

journal.kopertis4.or.id/file.php?file=karyailmiah&id=742 (15 Agustus 2014)

42