Anda di halaman 1dari 4

PeKaOnline 21.08.

2001 05:35
Shalat Berjama'ah: Antara Bangga dan Sombong
oleh Muhammad Aga S

PeKa Online-Yogyakarta, Ada hal yang aneh dalam pergaulan keseharian

masyarakat. Menjadi orang baik merupakan suatu hal yang memalukan. Anda tidak
percaya?!
Sindiran yang sangat populer di kalangan masyarakat umum adalah 'sok alim
lu '. Kata-kata itu bagaikan hantu yang sangat menakutkan bagi sebagian (besar)
manusia Indonesia. Jika kata itu telah keluar maka manusia yang tadinya hendak
shalat cenderung mengurungkan atau menunda shalatnya, yang tadinya tidak mau
menggoda cewek jadi ikut-ikutan menggoda cewek, yang tadinya mau masuk kelas
malah jadi ikut bolos, yang tadinya enggan merokok terpaksa merokok, bahkan
yang tadinya anti minuman keras, eh malah jadi pemabok beneran.
Mungkin terlalu mendramatisir masalah, tetapi bisa juga malah terlalu
mengecilkan masalah yang sebenarnya lebih besar lagi.
Perhatikan pula bagaimana hal-hal kurang baik 'dipromosikan' dengan sangat
senang hati oleh hampir semua lapisan masyarakat. "Mau kemana lu ?". "Biasa
ngambil mangga pak Haji, mumpung dia kagak ada. Lu mau ikutan apa kagak,
mumpung sekarang lagi mateng-matengnya?!". "Eh ke Mall yuk, lumayan cuci
mata daripada bengong di rumah, siapa tahu ketemu cewek cakep".
Promosi-promosi sejenis (bahkan yang lebih buruk lagi) banyak bertebaran di
sekeliling kita. Ada kebanggaan terhadap apa yang telah, sedang dan akan mereka
lakukan. Kebanggaan yang menghasilkan pengikut-pengikut baru karena promosi
yang terus-menerus tersebut.
Mereka dengan bangga mengajak siapapun yang mereka temui sehingga
akhirnya apa yang mereka kerjakan itu menjadi budaya bersama. Mencontek
menjadi sebuah budaya yang 'benar' setelah promosinya berlangsung cukup lama.
Yang 'salah' adalah orang yang tidak mau mencontek. Yang menjadi musuh adalah
para pengawas. Yang menjadi pengkhianat adalah manusia yang mengadu pada
pengawas atau pembuat soal.

Mabuk adalah sesuatu yang biasa saja, tanda manusia yang mau bergaul. Yang
tidak mabuk adalah manusia-manusia kuper yang harusnya hidup di zaman batu.
Itulah hasil sebuah kebanggaan.
Sekarang lihat lah apa yang terjadi dengan shalat jama'ah di masjid-masjid
yang mulia. Subuh shalat dilakukan dalam kondisi 'jihad', imame siji makmume
ahad (imamnya satu dan makmumnya satu). Dzuhur agak lebih baik, di lingkungan
kantor, sekolah atau pasar, mungkin jama'ah bisa satu baris sedangkan yang lain
menyusul sampai menjelang Ashar.
Ashar menurun lagi karena orang-orang sedang dalam perjalanan, atau sedang
istirahat siang, atau sedang nonton film kartun bagi anak-anak dan remaja.
Maghrib, jumlah jama'ah agak melegakan, dua baris ditambah dengan barisan ibuibu yang cukup banyak. Shalat Isya' kembali terjadi penurunan karena banyak film
dan sinetron bagus dalam waktu yang bersamaan, toh waktu shalat masih sangat
panjang.
Sebenarnya ada 'tontonan' menarik dalam prosesi menuju shalat-shalat
berjama'ah di masjid. Kita ambil waktu yang paling mudah untuk dilihat, waktu
shalat dzuhur. Aktivitas kita sedang sibuk-sibuknya, atau minimal sedang
berkumpul dengan banyak orang. Ketika azan berkumandang, ada satu atau dua
manusia dari sekian banyak manusia yang berkumpul mulai gelisah.
Pembicaraannya mulai tidak terkonsentrasi karena mereka sangat terpanggil
oleh suara adzan. Ada kerinduan yang memuncak, keinginan untuk bertemu
dengan Allah SWT. Ada juga perasaan lain, "kan udah dikenal sebagai orang alim
yang selalu shalat tepat waktu maka setiap kali adzan berkumandang harus
bergegas pergi untuk shalat". Dan manusia lain hanya akan menatap kagum, "wah
benar-benar manusia yang baik, shalatnya masih sangat terjaga".
Lalu manusia-manusia alim itu pergi menemui Tuhannya dengan rasa bangga.
Tunggu! Bangga?! Bagi penulis itu bukan bangga melainkan sombong! Manusia
sombong yang tidak mau mengajak manusia lain untuk menjadi lebih baik. Merasa
cukup dirinya saja yang menjadi manusia alim sehingga manusia lain
memandangnya dengan perasaan kagum.

Yah, kadang kita terlalu sombong untuk mengajak orang lain berbuat
kebaikan. Kadang kita merasa lebih baik dari manusia disekitar kita karena kita
berangkat ke masjid ketika adzan sementara manusia-manusia lain tetap tidak
bergeming dari kegiatannya. Atau mungkin itu bukan kita, tapi saya.
Tahukah anda, kesombongan itulah yang menghasilkan shalat Subuh jihad,
Dzuhur sebaris, Ashar lima orang, Maghrib dua baris, dan Isya' sebaris setengah.
Tak ada promosi!. Padahal promosi memiliki andil besar dalam menjadikan mallmall penuh dengan pengunjung, tabloid-tabloid porno habis terjual, dan minuman
memabukkan laku keras.
Promosi dengan kebanggaan!. Sangat sederhana sekali, hanya dengan
mengajak temannya atau siapapun yang ada disekitarnya maka minuman keras
tiba-tiba menjadi minuman resmi remaja kampung A dan pak Haji menjadi musuh
bersama para remaja di kampung itu.
Sebagian manusia memang tidak memiliki kesombongan ini. Tetapi bukan
berarti dia memiliki kebanggaan. Yang dimilikinya adalah perasaan malu atau
minder. Hal ini dapat dengan mudah ditemukan dalam masyarakat.
Mungkin kita ingat dengan dialog-dialog semacam ini, "Mau kemana lu ?",
"Ah enggak gue mau ke belakang bentar", padahal dia akan shalat. Selesai shalat
muncul pertanyaan lagi, "Gile lu lama banget di belakangnya! ngapain aja?!", "Yah
biasalah perut gue agak mules nih" atau hanya tersenyum tipis saja.
Cukup banyak orang yang menutupi perbuatan-perbuatan baiknya, entah itu
untuk sebuah keikhlashan ataupun karena memang malu saja. Hasilnya hampir
mirip dengan kesombongan di atas. Tak ada promosi!.
Penulis teringat dengan teguran sepupu yang masih duduk dibangku TK, "Lho
Udo (kakak lelaki dalam bahasa Lampung) kok masih disini sih?! Kan udah adzan.
Ayo berangkat ke masjid, adek ikut ya!".
Terlepas dari apa motivasi yang membuatnya mengatakan hal tersebut, namun
yang jelas dia berani untuk menyatakan kebaikan dan mengingatkan bahkan
mengajak, sesuatu yang saat ini sudah menjadi kebiasaan yang langka. Dia terbiasa
diberitahu bahwa jika ada adzan berarti sudah tiba waktu untuk shalat. Dia terbiasa
melihat (saya dan) kakaknya pergi ke masjid (terutama karena orang tuanya

mendorong untuk itu) sehingga dia tahu standar baik dan buruk mengenai shalat.
Itulah yang dia sampaikan dengan sangat lugas. Dia berpromosi!.
Penulis berpendapat, jika ingin masjid-masjid menjadi ramai, semarak, dan
masyarakat sadar Islam maka salah satu caranya adalah dengan mengembalikan
shalat-shalat berjama'ah kepada salah satu fungsi asalnya, yaitu fungsi syi'ar. Kita
diperintahkan untuk shalat berjama'ah di masjid awal waktu adalah untuk
memperlihatkan kekuatan dan kebesaran Islam, selain fungsi meningkatkan
ukhuwwah dan fungsi-fungsi lainnya. Ketika terlihat begitu banyak orang bergerak
menuju masjid-masjid yang mulia, maka orang akan tertarik untuk ikut serta. Ada
muatan da'wah terselubung yang sangat indah dan kuat.
Salah satu cara termudah adalah dengan memperbaiki kualitas prosesi
sebelum shalat, dari sombong (atau minder) menuju bangga dengan mendirikan
shalat. Jika kebanggaan telah ada maka tidak akan malu untuk menjawab: "Gue
mo' shalat, elu-elu pade mau ikut kagak, atau udah pengen gue shalatin ^-^ (ini
lambang kaomoji dari tersenyum)", ketika ditanya "Mau kemane lu ?".
Lebih dari itu harus ada keberanian mengajak orang lain tanpa harus ditanya,
begitu terdengar adzan kita berkata: "Interupsi Bapak Ketua Sidang, waktu shalat
telah tiba sebaiknya kita shalat terlebih dahulu" atau minimal "Maaf, saya izin
dahulu karena harus shalat". Dengan demikian akan banyak orang yang juga
tertarik untuk mengerjakan shalat. Sehingga suatu saat ketika mungkin ada salah
satu muslim Indonesia dikatakan "ah sok alim lu" maka dengan tenang dia bisa
menjawab: "Bagus itu, daripada elu sok kafir".
Dengan demikian mudah-mudahan suatu saat kita (atau anak cucu kita) bisa
melihat fenomena masjid-masjid yang selalu tak mampu menampung jumlah
jama'ah dalam setiap rangkaian shalat yang berlangsung di masjid itu. Semoga! .
(jos)

penulis adalah manajer tim nasyid Justice Voice, Yogyakarta