Anda di halaman 1dari 19

FASHAL XI

MACAM SHALAT
BAGIAN: I
SHALAT FARDHU
Pertama: Shalat lima waktu
1. Shalat Fajar: dua rakaat
2. Shalat Zhuhur, empat rakaat
3. Shalat Ashr: empat rakaat
4. Shalat Maghrib: tiga rakaat
5. Shalat Isya: empat rakaat
Kedua : Shalat Jumat
1. Hukumnya
Shalat jumat hukumnya fardhu ain, seperti dalam firman Allah: QS Al Jumah: 9
Juga sabda Rasulullah saw.

Sungguh aku bermaksud untuk menyuruh seseorang shalat bersama kaum


muslimin, kemudian aku membakar rumah orang-orang yang tidak ikut
melaksanakan shalat jumat. HR Ahmad, dan Muslim
Sabda Nabi yang lain:



-




-







.

Kaum itu mau meninggalkan (pekerjaannya) untuk shalat jumat, atau Allah akan
kunci mati hati mereka, kemudian menjadi orang-orang yang lalai. HR Muslim,
An Nasaiy dan Ahmad.
Rasulullah mengancam orang yang meninggalkannya dengan bersabda:


.
Barang siapa yang meninggalkan tiga shalat jumat karena meremehkannya, maka
Allah akan mengunci mati hatinya. HR Ashabussunan dan Al Hakim.
2. Siapa Yang Berkewajiban
- Shalat wajib bagi setiap muslim yang berakal, baligh, muqim (tidak musafir)
dan mampu berjalan.
- Shalat jumat tidak wajib bagi wanita, anak-anak, orang sakit yang
membahayakan kalu ikut jumatan, perawat yang tidak dapat meninggalkan

pasiennya,1 musafir, orang yang dalam ketakutan, orang yang terhalang hujan
lebat, atau gangguan keamanan.2
Ketika orang yang tidak berkewajiban jumat melaksanakannya, maka sah
shalatnya dan tidak berkewajiban shalat zhuhur.

3. Waktu dan Syaratnya


Waktu shalat jumat adalah waktu shalat zhuhur,3 dan syaratnya adalah:
a. Berjamaah, sabda Nabi:

Jumatan adalah kewajiban atas setiap muslim dengan berjamaah. HR Abu


Daud. Dan berjamaah itu adalah tiga orang selain imam. Madzhab Syafiiy
mensyaratkan kehadiran empat puluh orang mukim. Madzhab Maliky
mensyaratkan kehadiran dua belas orang laki-laki selain imam.
b. Madzhab Syafiiy mensyaratkan pelaksanaannya di tempat yang sudah
dibangun (ada bangunan)
c. Madzhab Hanafi mensyaratkan izin imam (kepala negara) untuk
pelaksanaannya
4. Khutbah
- Khutbah jumat hukumnya wajib menurut pendapat mayaoritas ulama.
- Syarat Khutbah: Sebelum shalat, di waktu zhuhur, dihadiri oleh jumlah
minimal shalat jumat, dengan dua khutbah yang dipisah dengan duduk,
berkhutbah dengan berdiri dan dalam keadaan suci (hal ini sunnah menurut
madzhab Hanafi, dan syarat menurut madzhab Syafiiy), antara khutbah dan
shalat tidak terpisah dengan kegiatan lain, tidak disyaratkan dengan berbahasa
Arab,4 dan yang utama adalah berkhutbah dengan bahasa Arab, kemudian
menjelaskan isinya dengan bahasa pendengar. Dalam khutbah harus ada:
hamdalah, shalawat atas Rasulullah, membaca ayat Al Quran, doa untuk
orang-orang beriman dan wasiat taqwa.
5. Adab Jumat, dan hal-hal yang berkaitan dengan hari jumat.
1 Karena sabda Nabi Muhammad saw:
( : )
.
Jumatan adalah kewajiban atas setiap muslim dengan berjamaah, kecuali empat orang yaitu: hamba
sahaya, wanita, anak kecil, orang yang sedang sakit. HR Abu Daud, An Nawawiy berkata: Shahih menurut
syarat Imam Muslim.
2 Karena jawaban Nabi Muhammad saw yang ditanya : : ) (
.
Apa udzur itu? Jawabnya: ketakutan dan sakit. HR. Abu Daud dengan sanad shahih
3 Menurut imam Ahmad bin Hanbal, dari waktu shalat ied/waktu dhuha, seperti dalam hadits Jabir, bahwa
Rasulullah pernah shalat jumat, kemudian kami pergi ke onta kami, mengistirahatkan mereka pada saat
mathari bergeser. HR Ahmad, Muslim, An Nasaiy, dan yang utama dilaksanakan setelah matahari bergeser.
Dan menurut madzhab Malikiy, waktu jum;at itu sampai waktu maghrib.
4 Menurut madzhab Malikiy, khutbah harus berbahasa Arab, dan jika tidak ada orang yang mampu, maka
tidak wajib jumatan.



mandi; sabda Nabi:



jika salah seorang diantaramu menghadiri jumatan hendaklah mandi.
Hadits Muttafaq alaih.
Berpakaian rapi, menggunting kuku, bersiwak, memakai wewangian, dan
berpakaian yang paling bagus.
Memperbanyak doa. Sabda Nabi:

Pada hari jumat itu ada waktu yang jika seorang muslim mendapatkannya
dalam shalat, lalu ia meminta sesuatu kepada Allah, maka pasti Allah akan
berikan. Hadits Muttafaq alaih.
Memperbanyak membaca shalawat Nabi, sabda Nabi:

Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari jumat,


maka perbanyaklah bershalawat keapdaku pada hari itu, karena shalawatmu
ditunjukkan padaku. HR Abu Daud
Membaca surah Al Kahfi. Sabda Nabi:

Barang siapa yang membaca surah Al kahfi pada hari jumat, akan ada nur
yang meneranginya diantara dua jumat. HR Al Hakim, dalam Al Mustadrak,
danberkata: Snadnya shahih
Banyak bersedekah, membaca Al Quran dan beramal shalih

Yang berkaitan dengan shalat dan Khutbah Jumat


- Semakin pagi berangkat ke masjid, berjalan dengan tenang dan khusyu
- Tidak melangkahi pundak orang dan memisah antara kedua orang yang duduk
- Tidak berjalan di depan orang yang shalat
- Berusaha meraih shaf pertama
- Tidak melakukan shalat sunnah setelah imam naik mimbar, berkonsentrasi
menjawab seruan adzan dan mendengarkan khutbah
- Tidak berbiacara sedikitpun. Rasulullah bersabda:

Jika kamu berkata kepada sahabatmu diam pada hari jumat, sewaktu imam
berkhutbah, maka telah sia-sia jumatanmu. HR Al Jamaah
Bahkan diharamkan makan minum dan menulis sewaktu khutbah.
Disunnahka shalat sesukanya sebelum adzan, dan sesudahnya empat rakaat,
sesuai sabda Nabi saw:
Jika salah seorang di antaramu shalat jumat, maka hendaklah shalat empat
rakaat sesudahnya. HR Muslim.

Tidak disunnahkan shalat sesudah adzan kecuali shalat tahiyyatul masjid,


seperti dalam hadits Nabi:
Jika salah seorang di antaramu datang pada hari jumat, ketika imam
berkhutbah maka hendaklah ia rukudua rakaat dengan agak cepat. HR
Muslim

Ketiga : Shalat Janazah


1. Shalat janazah hukumnya fardhu kifayah. Jika ada salah seorang telah
menunaikannya maka gugur kewajiban atas yang lainnya. Dan jika tidak ada
seorangpun yang menunaikan maka berdosa semua
2. Shalat jenazah itu dengan empat kali takbir, satu kali berdiri, tanpa ruku dan
sujud
3. Syaratnya sama dengan syarat shalat lainnya. Ditambah lagi:
a. ada mayitnya.5
b. mayitnya buka syahid di medan perang6
4. Cara shalat janazah adalah sebagai berikut:
a. niat shalat janazah
b. bertakbir dengan mengangkat kedua tangan, lalu membaca surah Al
Fatihah
c. bertakbir kedua dengan mengangkat tangan, lalu membaca shalawat Nabi
(shalawat Ibrahimiyah)
d. bertakbir ketiga dengan mengangkat kedua tangan, lalu berdoa untuk
jenazah, dengan doa-doa matsur (yang bersumber dari Nabi), antara lain:



.



Ya Allah, amunilah ia, syangilah ia, maafkanlah ia, muliakanlah
persinggahannya, lapangkanlah pintu masuknya, mandikan ia dengan air,
salju, dan embun, bersihkan ia dari kesalahan sebagaimana bersihnya kain
putih dari noda, gantikan rumah dengan rumah yang lebih baik dari rumah
dunianya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia) istri/suami
yang lebih baik dari istri/suaminya (di dunia), masukkan ia ke dalam
surga, hindarkan ia dari adzab kubur, dan adzab neraka. HR Muslim
5 Madzhab Syafiiy dan Hanbali memperbolehkan shalat ghaib, seperti shalat Rasulullah atas An Najasyi,
ketika mendengar berita kematiannya. HR. Al Jamaah
6 Sebab jenazah syuhada tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. Dan menurut madzhab Hanafi, syuhada
tidak dimandikan tetapi wajib dishalatkan, meruju kepada Rasulullah yang mensholati syuhada Uhud,
seperti yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Syahid yang dimaksud di sini adalah syahid di medan perang

.



.

Ya Allah, ampunilah yang hidup dan yang mati dari kami, yang hadir dan
yang tidak hadir dari kami, yang besar dan yang kecil dari kami, lelaki dan
wanita kami, Ya Allah, siapapun yang Engkai hidupkan di antara kami,
hidupkanlah ia dalam Islam, dan siapapun yang Engkau matikan di antara
kami, maka matikan ia dalam keadaan beriman. Ya Allah jangan Engkau
halangi kami dari pahalanya, dan jangan Engkau sesatkan kami
sesudahnya. HR Muslim dan empat imam.

e. bertakbir ke empat dengan mengangkat kedua tangan, lalu membaca:


- .


Ya Allah, janganlah Engakau halangi kami dari pahalanya, dan janganlah
Engkau berikan fitnah (ujian) atas kami sesudahnya. HR. At tirmidzi, Abu
Daud kemudian mengucapkan salam.

BAGIAN KEDUA: SHALAT-SHALAT SUNNAH


Pertama: Shalat Witir
Shalat witir hukumnya sunnah muakkadah (ditekankan) menurut jumhurul fuqaha (ahli
fiqh). Wajib menurut madzhab Hanafi. Hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat witir
adalah:
1. Waktunya sesudah shalat isya sehingga terbit fajar. Disunnahka dikerjakan di
akhir malam bagi yang mampu. Seperti hadits Nabi:

:






Jadikanlah akhir shalatmu adalah witir. Muttafaq alaih. Dan sabdanya yang lain:

Sesungguhnya Allah menambahkan shalat atas kalian yaitu shalat witir, maka
kerjakanlah shalat itu antara shalat isya sampai fajar. HR Ahmad.
2. Bilangan rakaatnya: satu, tiga, lima, tujuh, sembilan, atau sebelas rakaat. Tiga
rakaat adalah kesempurnaan minimal, boleh dengan bersambung dengan hanya
sekali salam,7 atau terpisah-pisah salam setiap dua rakaat, kemudian shalat yang
ketiga.
3. Disunnahkan membaca doa qunut di rakaat akhir sebelum ruku (menurut
madzhab Hanafi), sesudah ruku menurut madzhab Hanbali, Syafiiy. Menurut
madzhab Syafiiy, qunut witir hanya ada di separo kedua bulan Ramadhan.
Lafadh qunut itu adalah:

7 Inilah madzhab Hanafi, yang shalat witirnya seperti shalat maghrib.






Ya Allah tunjukilah aku bersama orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk.
Sehatkan aku bersama orang-orang yang telah Engakau beri kesehatan.
Lindungilah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau lindungi.
Berkahilah apa saja yang Engkau beri. Lindungilah aku dari keburukan apa yang
telah Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menetapkan, dan
tidak bisa ditetapkan atasmu. Sesungguhnya tidak akan pernah nista orang yang
telah Engkau lindungi. Engkaulah Rabb kami Maha Pemberi berkah, dan Maha
Tinggi. HR. Ahmad dan Ashabussunan. Atau dengan membaca doa Umar, 8 yang
diriwaytakan dari Abdullah ibn Masud. Doa ini yang lebih afdhal menurut
madzhab Hanafi.
4. Disunnahkan shalat witir dengan berjamaah di bulan Ramadhan, mengikuti
sunnahnya berjamaah shalat tarawih. Diperbolehkan pula shalat witir berjamaah
di luar bulan Ramadhan. Sebagaimana diperbolehkan shalat jamaah untuk shalat
sunnah lainnya yang tidak ditemukan dalil disunnahkan berjamaah untuk
melaksanakannya.
5. Disunnah mengqadha witir, jika sudak lewat waktunya. Jika telah menunaikan
shalat witir di awal malam, kemudian bangun dan shalat sunnah nafilah, maka
tidak usah mengulang shalat witir, karena sabda Nabi:

Tidak ada dua witir dalam satu malam. HR Ahmad dan tiga ulama hadits lain.
6. Disunnahkan bagi orang yang shalat witir untuk mengucapkan sesudah shalat:

(
) .

Maha Suci Yang Maha Kuasa dan Maha Suci.


Kedua : Shalat Rawatib lima waktu

Disunnahkan bagi setiap muslim untuk membiasakan shalat sunnah bersama dengan
shalat lima waktu sebagaimana yang pernah Rasulullah lakukan.


: .

:



. :
: .
.

Dari Rabiah bin Malik Al Aslamiy ra berkata: Rasulullah saw berkata kepadaku:
Mintalah, aku berkata: Aku minta bisa bersamamu di sorga. Tanya Nabi: Apakah
8

:





: )


Ya Allah sesungguhnya kami mohon pertolongan-Mu, meminta petunjuk-Mu, meminta ampunan-Mu,


bertaubat kepada-Mu, beriman dengan-Mu, berserah diri atas-Mu, memuji-Mu dengan seluruh kabaikan,
bersyukur kepada-Mu, tidak mengingkari-Mu. Kami mencabut,meninggalkan orang-orang yang
mendurhakai-Mu, Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembar, dan hanya karena-Mu kami shalat dan
sujur. Hanya kepada-Mu kami berusaha bergegas, kami mengharap rahmat-Mu, kami takut adzab-Mu,
sesungguhnya adzab-Mu atas orang kafir pasti akan mengena.

ada permintaan lain? Aku jawab: Hanya itu. Sabda Nabi: Maka bantulah aku
mencapai keinginanmu dengan banyak bersujud.. HR. Muslim.

Dari Ummul mukminin, Ummu Habibah binti Abu Sufyan ra berkata: Aku mendengar
Rasulullah saw bersabda: Tidak ada seorang hamba muslim yang shalat karena Allah
setiap hari dua belas rakaar sebagai tathawwu (tambahan kebaikan) selain shalat fardhu,
kecuali Allah akan bangunkan untuknya rumah di surga. HR Muslim.
Shalat sunnah rawatib yang menyertai shalat lima waktu itu ialah:
1. Sunnah Fajar, dua rakaat dengan agak cepat, sebelum shalat fardhu, dan bisa
diqadha jika terlewatkan. Seperti dalam hadits Imran bin Hushain, yang
diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim.


.
Aisyah berkata: Rasulullah tidak pernah sangat menjaga amal sunnah melebihi
dua rakaat sebelum fajar.
Rasulullah juga bersabada:

Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dengan segala isinya. HR Muslim,
hukumnya sunnah muakkadah mendekati wajib.
2. Sunnah Zhuhur; yaitu empat rakaat sebelum zhuhur9, dan sua rakaat sesudahnya,
ini sumber yang paling shahih. Bisa juga dengan dua rakaat sebelum dan
sesudahnya10, atau empat rakaat sebelum dan sesudahnya.11
3. Sunnah Ashar, dua rakaat (seperti yang diriwayatkan Abu Daud dari Ali ra) atau
empat rakaat (seperti yang diriwayatkan Abu Daud dan At Tirmidziy dari Ibnu
Umar ra) sebelum shalat fardhu.
4. Sunnah Maghrib; yaitu dua rakaat sesudah shalat fardhu, hukumnya sunnah
muakkadah (seperti riwayat Al Bukhari dan Muslim)
9 Hadits Aisyah ra:
" . " . . .

Bahwa Nabi Muhammad saw shalat di rumahku empat rakaat sebelum zhuhur, kemudian keluar shalat
dengan kaum muslimin, lalu masuk kembali dan shalat dua rakaatHR. Muslim, dikuatkan oleh hadits Al
Bukhariy
10 Inilah standar yang ditekankan dalam sunnah zhuhur, karena hadits Abdullah ibnu Umar:
( :
)
Aku menghafal dari Nabi saw sepuluh rakaat: dua rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua
rakaat sesudah maghrib di rumahnya, dua rakaat sesudah isya di rumahnya, dua rakaat sebelum shubuh. HR
Al Bukhari, dan Ahmad dengan sanad shahih.
11 Karena sabda Rasulullah saw: " "

Barang siapa shalat empat rakaat sebelum zhuhur dan empat rakaat sesudahnya Allah haramkan dagingnya
dari api neraka. HR Lima perawi hadits.

- dua rakaat sebelumnya sunnah bagi yang mau mengamalkannya (seperti riwayat
Asy Syaikhani/Al Bukhari dan Muslim), demikianlah madzhab Syafiiy dan
Hanbali.
5. Sunnah Isya; dua rakaat sesudah shalat fardhu (riwayat Al Bukhari dan Muslim)
- Dua rakaat sebelumnya sunnahbagi yang mau melakukannya, inilah madzhab
Syafiiy. Sedang menurut madzhab Hanafi sunnah Isya itu empat rakaat
sebelumnya dan empat rakaat sesudahnya.
Ketiga : Shalat Sunnah lainnya.
1. Shalat Dhuha; dari Abu Hurairah ra berkata:

Kekasihku (Rasulullah saw) telah berwasiat kepadaku untuk puasa tiga hari setiap
bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum aku tidur. Muttafaq alaih
(12)


Setiap sendi tubuh salah seorang di antaramu setiap apginya dapat bersedekah.
Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah
sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar maruf adalah sedekah, nahi munkar
adalah sedekah, dan cukup dari semua itu dengan dua rakaat di waktu dhuha. HR
Muslim, Abu Daud, Ahmad.
Bilangan rakaatnya mulai dari dua rakaat, empat rakaat, delapan rakaat. Semua ini
memiliki sumber hadist shahih dari Rasulullah saw. Adapula enam belas rakaat
menurut madzhab Hanafi dengan bersumber dari beberapa hadits hasan.
Waktunya mulai matahari setinggi tombak sampai menjelang matahari bergeser
ke barat.
2. Shalat Gerhana Matahari dan Bulan. Dari Abdullah ibnu Abbas ra berkata:




. .
12() :
.

Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah saw, lalu Rasulullah shalat dengan
berdiri lama sepanjang bacaan surah Al Baqarah, lalu ruku lama, lalu bangun dan
beridiri lama tidak selama berdiri pertama, kemudian ruku kembali dengan lama
tidak selama ruku pertama, lalu sujud. Kemudian bangun berdiri lama, tidak
selama yang pertama, kemudian ruku lama tidak selama yang pertama, kemudian
bangun dengan berdiri lama tidak selama yang perama, kemudian ruku lama
tidak selama ruku pertaman, kemudian bangun ruku, kemudian sujud dan ketika
selesai shalat, matahari telah pulih kembali. Lalu berkhitbah di hadapan kaum
muslimin. Muttafaq alaih.
Para ulama telah bersepakat bahwa shalat gerhana itu hukumnya sunnah
muakkadah (ditekankan) bagi semua laki-laki dan wanita, dilakukan dengan
berjamaah. Seperti dalam hadits Al Mughirah bin Syubah ra berkata:




-

: -

Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah saw pada hari wafatnya Ibrahim
(putra Rasulullah pada tahun sepuluh hijriyah) lalu orang-orang berkata: Gerhana
matahari karena wafatanya Ibrahim. Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya
matahari dan bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah, tidak terjadi gerhana
karena kematian seseorang atau kelahirannya. Maka jika kamu melihatnya
berdoalah dan shalatlah sehingga terang kembali. Muttafaq alaih.
Shalat gerhana adalah dua rakaat setiap rakaat dua kali berdiri dan dua ruku
seperti dalam hadits di atas.13 Disunnahkan pula memperpanjang berdiri dan
ruku. Waktunya sejak mulai gerhana matahari atau bulan, sampai selesai.
Khutbah sesudah shalat hukumnya adalah syarat menurut madzhab Syafiiy, dan
sunnah menurut Abu Hanifah dan Imam Malik setelah shalat gerhana matahari
saja. Dengan dua kali khutbah. Membaca istighfar dalam kedua khutbah itu
sebagai pengganti takbir (dalam shalat ied).
Diperbolehkan jahriyah dan sirriyah. Shalat jahriyah lebih shahih seperti yang
dikatakan oleh Imam Al Bukhari. Dan ditekankan untuk dilakukan dengan
jahriyah pada shalat gerhana bulan kaena terjadi di malam hari.

3. Shalat Istikharah. Dari Jabir ra berkata:

:

:
13 Menurut madzhab Hanafi, bahwa shalat gerhana itu hanya dengan satu kali berdiri di setiap rakaat,
sebagaimana shlat sunnah lainnya, karena ada hadits yang meriwayatkannya. Hal ini disetujui oleh
madzhab Maliki dalam shalat gerhana bulan

- -
.







.
.

Rasulullah saw pernah mengajarkan kepada kami istikharah (memilih) dalam
semua urusan sebagaimana mengajarkan bacaan surah dalam Al Quran. Dengan
bersabda: Jika salah seorang di antaramu bimbang atas sesuatu maka hendaklah
ruku dengan dua rakaat, di luar shalat fardhu, kemudian berdoa: Ya Allah,
sesungguhnya aku meminta pilihan dengan ilmu-Mu, dan meminta kemampuan
dengan Kekuasaan-Mu, meminta dari anugerah-Mu yang besar, Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Kuasa dan aku tidak berdaya, Engkau Yang Maha
Mengetahui dan aku tidak mengetahui, Engkaulah Yang Maha Mengetahui yang
tersembunyi. Ya Allah, Engkau yang mengetahui jika urusan ini menyebutkan
urusannya- baik bagiku dalam agama, dunia dan akhir urusanku, maka tetapkan ia
padaku dan mudahkan bagiku, lalu berkahilah aku dengannya. Dan Engkau yang
mengetahui jika urusan ini buruk bagiku, dalam agama, dunia, dan akhir urusanku
maka jauhkan ia dariku, jauhkan aku darinya, tetapkan bagiku apa yang ada, lalu
ridhailah aku. HR Al Jamaah, kecuali Imam Muslim.
4. Shalat Taubat. Dari Abu Bakar ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw
bersabda:

:

Tidak ada seorangpun yang berbuat dosa kemudian ia bangun bersuci, lalu shalat
dua rakaat, kemudian beristighfar kepada Allah pasti Allah akan mengampuninya.
Lalu Rasulullah membaca ayat:

... ...
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa
selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu,
sedang mereka Mengetahui.
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di
dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan
Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. QS. Ali Imran: 135-136

HR. Abu Daud, An Nasaiy, Ibnu Majah, Al Baihaqi, dan At Tirmidziy yang
menilainya hadits hasan.

5. Shalat Istisqa; yaitu shalat untuk minta turun hujan dari Allah karena
paceklik/kekeringan.
Shalat istisqa itu dua rakaat14 tanpa adzan dan iqamat. Dilakukan di luar waktu
yang dilarang shalat. Pada rakaat pertama imam membaca surah Al Fatihah dan
surah Al Ala dengan jahriyah, dan pada rakaat kedua membaca Al fatihah dan Al
Ghasyiyah. Kemudian berkhtbah dengan dua kali khutbah seperti khutbah ied.
Menurut madzhab Hanbali dengan sekali khutbah dan berdoa15. Rasulullah
membalik selendangnya yang semula di kanan ke kiri, dan yang semula di kiri ke
kanan.
Bisa juga dengan doa dalam khutbah jumat, seperti yang Rasulullah lakukan,
dalam riwayat Asy Syaikhani dari Anas ra.


:







... .

:

Bahwa seseorang masuk masjik di hari jumat saat Rasulullah sedang berdiri
khutbah, orang itu berkata: Ya Rasulallah. Harta benda pada hancur dan
perjalanan jadi terputus, maka berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan
pada kami. Lalu Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berdoa: Ya Allah

Bisa juga dengan berdoa saja selain hari jumat, tanpa shalat di masjid atau
lapangan. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Al Baihaqi,
Ibnu Abi Syaibah dan Al Hakim.

6. Qiyamu Ramadhan/shalat tarawih; Rasulullah saw bersabda:

Barang siapa yang qiyamu Ramadhan dengan dengan iman dan mengharap Allah,
maka Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Muttafaq
alaih
Qiyamu Ramadhan disebut tarawih karena mereka beristirahat setelah empat
rakaat shalat.

14 Menurut madzhab Syafiiy, disunnahkan bertakbir dalam shalat itu sebagaimana takbr di shalat ied,
seperti dalam hadits riwayat Ad Daru Quthniy dari Ibnu Abbad, dinilai dhaif seperti yang tercantum dalam
Al Majmu.
15 Di antara doa matsurnya adalah:
: " .



) (
.



.
: . " .

( : ( ) : ) : ( ) :

( :

) ( .

Shalat tarawih hukumnya sunnah muakkadah bagi laki-laki dan wanita di bulan
Ramadhan. Waktunya sesudah shalat isya dan sebelum witir fajar. Tarwih
dilakukan dengan dua rakaat-dua rakaat; sepetti dalam hadits :

Shalat malam itu dua-dau. Muttafaq alaih


Ditekankan delapan rakaat, seperti yang disebut dalam hadits-hadits shahih,16
disunnahkan pula dua puluh rakaat seperti yang dilakukan oleh para shabat dan
khulafaurrasyidin. Demikianlah madzhab Hanafi, Syafi;iy, Hanbali, dan jumhurul
ulama. Disunnahkan dalam berjamaah. (lihat shalat tarawih dalam bab puasa di
buku ini)
7. Qiyamullail, yaitu bangun di tengah malam untuk shalat sunnah. Ia merupakan
taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah yang paling besar. Allah swt telah
memerintahkannya pada Nabi Muhammad saw, denngan ayat:

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai


suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat
kamu ke tempat yang Terpuji. QS. Al Isra: 79

Allah memuji para hamba-Nya:


Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan
ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. (QS. Adz Dzariyat: 17-18)

Waktunya sejak selesai shalat isyasehingga terbit fajar,


utamanya sepetiga malam terakhir, setelah bangun tidur, tidak
ada batasan jumlah rakaat, bisa hanya dengan dua rakaat, atau
sebelas rakaat seperti dalam riwayat Aisyah ra, dan tidak ada
larangan lebih dari itu.
Di antara adabnya, adalah berniat sebelum tidur, memulai shalat
dengan dua rakaat yang ringan (singkat), kemudian shalat
sesuka hantinya. Sebaiknya membangunkan keluarga. Berhenti
shalat ketika ngantuk. Tidak mempersulit diri sendiri artinya
berdiri shalat sesuai dengan kemampuan- berdoa dengan doadao matsur dari Rasulullah saw. 17

16 Di antaranya hadits Aisyah ra;


( ) .
Rasulullah saw tidak pernah lebih dari sebelas rakaat di bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan. Muttafaq
alaih
17 "







" .

8. Shalar Ied (fithri dan adha), hukumnya sunnah Muakkadah (ditekankan),18


Rasulullah saw membiasakannya. Dan secara singkat hukum-hukumnya adalah
sebagai berikut:
- dilakukan dengan dua rakaat berjamaah tanpa adzan dan iqamat, sebelum
khutbah, seperti dalam hadits Jabir





...

Aku menyaksikan shalat ied bersama Rasulullah saw pada hari ied sebelum
khutbah tanpa adzan dan iqamat, kemudia Rasulullah berdiri dengan
didampingi Bilal, lalu memerintahkan bertaqwa kepada Allah, mendorong
taat, dan memberi banyak nasehat.... HR Muslim.
Kaifiyahnya sama seperti shalat biasa, hanya saja pada rakaat pertama
betakbir tujuh kali dengan mengangkat kedua tangan, dan pada rakaat kedua
bertakbir lima kali sebelum membaca surah Al fatihah, seperti dalam hadits:

Takbir dalam shalat iedul fitri adalah tujuh kali di rakaat pertama, dan lima
kali di rakaat kedua, dan membaca (Al Fatihah+ surah lain) sesudahnya dalam
dua rakaat itu. HR At Tirmidziy
Disunnahkan pula memisahkan antara takbir itu denga membaca :

Kemudian imam berkhutbah sesudah shalat dengan dua kali khutbah seperti
khutbah jumat.
Waktunya sejak matahari naik sepenggalah (kira-kira enam meter) pada
waktu iedul fitri dan tiga meter pada iedul adha, sampai matahari bergeser ke
barat.
Shalat ied sah dikerjakan oleh laki-laki, wanita, anak-anak, musafir, atau
mukim. Dan barang siapa yang ketinggalan berjamaah ia shalat munfarid. Dan
menurut madzhab Hanafi, ia shalat empat rakaat tanpa tambahan takbir.
Makruh shalat sunnah sebelumnya dan sesudahnya.19 Karena Rasulullah saw
tidak shalat sebelum dan sesudahnya. Seperti yang diriwayatkan oleh tujuh
ulama hadits.
Disunnahkan bagi setiap muslim untuk mandi, bersiwak, memakai
wewangian, memakai pakaian palign baik, menuju ke tempat shalat dari jalan
yang berbeda dengan jalan pulangnya. Memperbanyak melantunkan takbir,
yang bunyinya:

:
Sebagaimana disunnahkan makan kurma atau yang lainnya sebelum berangkat
shalat iedul fitri.

18 Menurut madzhab Maliki dan Syafi;iy. Madzhab Hanafi menyatakan hukumnya wajib. Madzhab
Hanbali menngatakan hukumnya fardhu kifayah bagi setiap orang yang wajib shalat jumat.
19 Menurut madzhab Syafiiy tidak makruh shalat sunnah sebelum dan sesudahnya ketika matahari sudah
meninggi bagi selain imam.

FASHAL XII
PEMBAHASAN LAIN-LAIN TENTANG SHALAT
Pertama: SHALAT BERJAMAAH
A. Fadhilah dan Hikmahnya


-

:
-


.


Dari Abdullah bin Umar ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda: Shalat berjamaah itu
leih utama dari shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat. Muttafaq alaiah.
1. Fardhu Ain menurut Imam Ahmad bin Hanbal, Al Uzaiy, dan Zhahiriyah.
Berdasarkan hadits imam muslim dari Abu Hurairah ra berkata:


: :




:



:

:

Seorang lelaki buta menemui Rasulullah saw dan berkata: Ya Rasulallah saya
tidak memiliki penuntun yang bisa menuntunku ke masjid ia meminta
keringanan kepada Rasulullah saw, lalu Rasulullah memberinya keringanan.
Kemudian ketika orang itu kembali, Rasulullah memanggilnya dan bertanya:
Apakah kamu masih mendengar panggilan adzan? ia menjawab: Ya. Sabda
Nabi: Kalau begitu, maka penuhilah panggilan itu!.
Perintah untuk memenuhi panggilan itu adalah datang ke masjid shalat berjamaah.
Juga terdapat hadits lain. Dari Abu Hurairah ra bahwasannya Rasulullah saw
bersbda:


.



.
Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat isya dan
shubuh. Jika seandainya mereka mengetahui isinya tentu mereka akan
mendatanginya meskipun dengan merangkak. Dan sesungguhnya aku pernah
merencanakan untuk memerintahkan shalat, lalu aku menyuruh seseorang
mengimaminya, kemudian aku pergi bersama beberapa orang dengan membawa
kayu bakar, mendatangi orang-orang yang tidak dataang shalat berjamaah
kemudian aku bakar rumahnya. Hadits Muttafaq alaih.
2. Fardhu kifayah menurut jumhurul ulama, yang terdiri dari para Ulama pendahulu
madzhab Syafiiy, mayoritas madzhab Hanafi fan Maliki. Merujuk kepada dalil-

dalil di atas yang menjadi dalil ulama yang menyatakannya fardhu ain, dengan
mengalihkan makna wajib ke wajib kifayah.
3. Sunnah Muakkadah menurut imam Abu Hanifah dan dua orang muridnya, Zaid
bin Ali dan Al Muayyid Billah. Dan shah shalat tanpa berjamaah. Dan jika satu
kota meninggalkannya tanpa udzur mereka diperintahkan untuk melaksanakannya
jika mereka mau, jika menolak maka mereka diperangi. Karena berjamaah adalah
salah satu syiar Islam, dan karakterstik agama ini. Dalil untuk menyatakan sunnah
itu antara lain:

()
Shalat jamaah itu lebih utama dari pada shalat sendiri an dengan duapuluh tujuh
derajat.
Jika shalat sendir itu tidak sah, maka ia tidak akan memiliki keutamaan
sedikitpun. Mereka menjawab hadits-hadist di atas sebagai hadits untuk
mengancam, bukan dipraktekkan, seperti yang dilakukan Rasulullah saw.
B. Hukum-hukumnya
1. Sunnahnya berjamaah adalah di masjid. Sehingga menampilkan syiar Islam dan
jumlah umat yang banyak. Dan utamanya bagi wanita shalat di rumahnya,
meskipun tidak dilarang ke masjid, menghadiri shalat berjamaah.
2. Disunnahkan shalat berjamaah itu juga dalam shalat yang diqadha, minimal ada
imam dan makmum
3. Disunnahkan agar wanita terpisah dari laki-laki. Slaha satunya menjadi imam
(menurut madzhab Syafiiy dan Hanbali. Makruh wanita menjadi imam bagi
wanita menurut madzhab Hanafi. Tidak boleh wanita menjadi imam bagi wanita
menurut imam Malik, dan wanita berdiri di tengah shaff.
4. Syarat sahnya laki-laki menjadi imam adalah: Islam, baligh, berkal, mampu
membaca Al Quran, dan bebas dari udzur. 20
5. Orang yang paling berhak menjadi selain tuan rumah atau pejabat adalah: orang
yang paling berilmu, kemudian yang paling banyak hafalan, yang paling wara
(hati-hati dari perbuatan dosa, kemudian yang paling tua usianya.
6. Seorang makmum berdiri di sisi kanan imam, jika lebih dari satu maka berdiri di
belakang imam. Dimulai dari shaf orang dewasa, kemudian shaf anak-anak,
kemudian shaf wanita. Sedangkan jika anak kecil sudah ada di shaf depan maka
tidak boleh ditarik ke belakang. 21
7. Sebaiknya imam memperingan shalat, tidak melebihi standar sunnah dalam
bacaan shalat.
8. Tidak sah orang yang shalat fardhu makmum kepada orang yang shalat sunnah
menurut madzhab Hanafi dan Jumhurul Ulama. Tetapi sah menurut madzhab
imam Syafiiy. Jika ada seorang muslim shalat sunnah kemudian ada orang
makmum di belakangnya untuk shalat fardhu dan tahu bahwa orang yang di
depannya itu shalat sunnah, maka sah shalatnya menurut madzhab Syafiiy dan
tidak sah menurut madzhab Hanafiy.
20 Seperti mengalami penyakit beser kencing.
21 Menurut madzhab Maliki makmum dianggap sah shalatnya meskipun di depan imam

9. Tidak sah seorang shalat fardhu makmum di belakang orang yang shalat fardhu
lainnya, jika makmum mengetahui hal itu. Demikian juga tidak sah orang yang
makmum melaksanaan shalat fardhunya tepat waktu, dengan imam yang
mengqadha shalat fardhu. Tetapi madzhab Syafiiy memperbolehkan semua ini.
10. Makmum wajib mengikuti imam, dan haram mendahuluinya, sedang bersamaan
hukumnya makruh.
11. Makmum diperbolehkan mufaraqah (memisahkan diri) dari imam, yaitu dengan
keluar dari shalatnya imam dan menyempurnakan shalatnya sendiri jika ada
udzur. Seperti yang dilakukan sahabat ketika Muadz yang menjadi imam
membaca surah Al Baqarah dalam shalatnya. (HR. Al Jamaah)
12. Disunnahkan bagi orang yang telah shalat munfarid, untuk mengulangi shalatnya
dengan berjamaah, dan shalat munfaridnya menjadi shalat sunnah
13. Disunnahkan bagi imam, setelah shalat dan salam untuk menengok ke kanan dan
kiri, kemudian berpindah dari tempat shalatnya
14. Makmum diperbolehkan mengikuti imam meskipun di antara keduanya ada sekat,
jika makmum mengetahui pergerakan imam lewat pendengaran atau penglihatan,
dengan syarat shafnya bersambung. Sehingga tidak sah shalat dengan siaran radio
atau televisi
15. Jika seorang imam mengalami sesuatu yang tidak bisa meneruskan shalatnya
maka digantikan orang lain untuk menyempurnakan shalatnya dengan makmum
yang ada.
16. Makruh seorang imam mengimami kaum yang tidak menyukainya.
17. Tidak sah orang yang shalat sendirian di belakang shaf, seharusnya ia menarik
salah satu dari jamaah yang ada di depannya untuk shalat bersamanya. Seperti
dalam hadits Wabishah:

Bahwasannya Rasulullah saw melihat seseorang yang shalat sendirian di belakang


shaf, lalu menyuruhnya untuk mengulang shalat. HR. Al Khamsah, kecuali An
Nasaiy.
Dan sah shalat wanita yang sendirian di belakang shaf pria. Dan tidak boleh
baginya ia berdiri sejajar dengan pria dalam satu shaf.

18. Menghadiri shalat berjamaah menjadi tidak wajib karena hujan, sangat dingin,
ketakutan, tertahan, sakit, atau lanjut usia, atau udzur-udzur lainnya yang
disebutkan oleh para ulama untuk tidak memberatkan bagi kaum muslimin.
Rasulullah saw pernah menyuruh muadzin untuk menyerukan: (

)
Shalatlah di kendaraan kalian masing-masing; ketika malam sangat dingin, di
malam saat turun hujan waktu musafir. HR As Syaikhani. Udzur-udzur yang lain
diqiaskan dengan yang tersebut di atas.
19. Ketika seorang yang masbuq (keduluan imam) di sebagian shalatnya, maka ia
menyempurnakan sisa shalatnya itu setelah salam imam. Ia mengqadha awal
shalatnya dalam hal bacaan, dan akhirnya dalam hal tasyahhud. Misalnya jika
seseorang hanya mendapati rakaat terakhir imam dalam shalat maghrib maka ia

mengqadha dua rakaat, dengan membaca Al Fatihah dan surah lainnya di setiap
rakaat, karena ia mengqadha dua rakaat pertama dan kedua dilihat dari bacaan;
dan duduk di rakaat pertama itu dengan bertasyahhud karena sesungguhnya itu
rakaat kedua baginya, sehingga ia shalat maghrib dengan tiga kali duduk.
20. Seseorang tidak disebut masbuq rakaat dengan imam, kecuali jika mendapati
imamnya telah mengangkat kepala, bangun ruku.
Kedua: SHALAT MUSAFIR
Allah swt berfirman:

>
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu menqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. QS. An Nisa:
101



: :
:


{

} .


Yala bin Umayyah berkata: akubertanya kepada Umar bin Khaththab: Bagaimana
pendapatmu tentang mengqashar shalat, padahal Allah swt berfirman:

>
Jika kamu takut diserang orang-orang kafir... . Dan sekarang hal itu tidak ada. Umar
berkata: Aku heran dari apa yang kau herankan. Lalu aku sampaikan hal itu kepada
Rasulullah saw yang bersabda: Itu adalah shadaqah Allah kepada kalian maka terimalah
shadaqahnya. HR. Al Jamaah.
-

Menurut madzhab Hanafi, mengqashar shalat adalah Azimah (hukum tetap), dan
shalat sempurna hukumnya makruh berbeda dengan sunnah, tetapi tetap sah
shalatnya; dan dua rakaat akhir dianggap sebagai shalat sunnah, dan tasyahhud awal
menjadi wajib, jika ditinggalkan batal shalatnya.
Menurut madzhab Syafiiy; qashar shalat adalah rukhshah (kemudahan), tetapi tidak
dimakruhkan shalat sempurna yang berstatus Azimah, dan itu yang utama, jika
safarnya belum sampai tiga marhalah, dan jika sudah melewatinya maka yang utama
mengqashar shalat.
Para ulama berbeda pendapat tentang jarak safar yang diperbolehkan qashar shalat.
Menurut madzhab Maliki, Syafi;iy, dan Hanbali sejauh kurang lebih 90 km (sembilan
puluh kilo meter).22

22 Jarak safar menurut madzhab Maliki, Syafiiy dan Hanbali adalah empat pos, dan satu pos = empat
farsah, satu farsah=tiga mil, maka kira-kira 90 km. seperti yang dibuktikan oleh Sayyid Ahmad Al Husaini
dalam bukunya Zadul Musafir/Bekal orang bepergian
Sedangkan menurut madzhab Hanafi; jarak safar itu diukur dengan waktu, yaitu tig ahari,
Dalil madzhab Maliki, Syafiiy dan Hanbali, adalah riwayat Imam Malik, bahwa Abdullah bin Abbas
mengqashar shalat dalam perjalanan antara Makkah dan Thaif, jarak ini seperti Makkah dan Asfan, Makkah

Para ulama juga berbeda pendapat tentang lama safar. Empat hari menurut jumhurul
ulama,23 lima belas hari menurut madzhab Hanafiy, jika niat mukim melebihi batas itu
dihitung mukim, dan tidak boleh mengkoshor shalat. Sedang jika ia tidak tahu berapa
lama ia mukim, dan setiap hari menyatakan : BESOK MAU JALAN kemudian ia
terpaksa harus menetap, maka dihitung musafir, mengqoshor shalat meskipun lama di
situ. Demikianlah madzhab Hanafi dan salah satu pendapat madzhab Syafiiy, yang
merupakan amalah mayoritas sahabat. Pendapat lain madzhab Syafiiy jika lebih dari
delapan belas hari dianggap muqim, dan tidak mengqashar apapun keadaannya.
Syarat untuk mengambil rukhshah qashar shalat agar keluar dari tempat tinggalnya,
dan terus mengqashar sampai ia pulang ke negerinya.
Mengqashar shalat empat rakaat menjadi dua rakaat. Orang mukim boleh makmum
kepada musafir, ketika musafir telah salam, yang mukim meneruskan, sebagaimana
msafir yang shalat empat rakaat makmum kepada orang mukim.
Diperbolehkan shalat sunnah di atas kendaraan, kapal, mobil, kereta, atau pesawat.
Dan bagi yang mau shalat harus menghadap kiblat jika mampu. Dan gugur darinya
beberapa rukun shalat dan kewajibannya yang tidak mungkin dilaksanakan, seperti
cukup dengan isyarat membungkuk dengan kepala untuk ruku dan sujud.
Menundukkan kepala ketika sujud lebih rendah daripada rukunya. Hal ini telah
disepakati oleh para ulama fiqh, berdasar hadits Amir bin Rabiah ra berkata:

(








) .

Aku melihat Rasulullah saw di atas kendaraannya bertasbih dengan menundukkan


kepalanya, menghadap ke mana saja, dan hal ini tidak pernah dilakukan di shalat
fardhu. Muttafaq alaih.
D
D
d

C.
dan Jeddah. Imam Malik berkata: itu kira-kira empat pos.
Demikian juga seperti yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari: Bahwa Abdullah bin Umar ra dan
Abdullah ibn Abbas keduanya mengqashar shalat dan ifthar dalam jarak empat pos.
Sedangkan dalil madzhab Hanafiy adalah riwayat Al Bukhari:
Tidak halal bagi wanita beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar sejauh tiga hari kecuali
bersama dengan mahram, dan yang kurang dari tiga hari tidak dianggap safar.
Seperti dalam hadits Yala bin Murah: Bahwasannya Rasulullah saw bersama dengan para sahabat sampai
ke Mudhayyaq, masih di atas kendaraannya, dalam keadaan hujan, tanah becek, datang waktu shalat, lalu
menyuruh muadzdzin mengumandangkan adzan dan iqamat, kemudian Rasulullah maju ke depan dengan
tetap menaiki kendaraannya, di depan para sahabat, lalu shalat bersama mereka menjadi imam- dengan
isyarat membungkuk sujud lebih rendah daripada ruku. HR Ahmad, At Tirmidzi, An Nasaiy, dan Ad Daru
Quthniy.
23 Menurut madzhab Syafiiy jika ia berniat mukim lebih dari tiga hari, ia menjadi orang mukim. Dan
kurang dari empat hari dihitung musafir. Hari bearngkat dan pulang tidak dihitung.