Anda di halaman 1dari 11

1.

PEMBANGUNAN KOPERASI DAN PERUNDANG-UNDANGAN


Pembangunan

koperasi

dalam

Pembangunan

Jangka

Panjang

Pertama

telah

menunjukkan berbagai keberhasilan yang sangat berarti, baik ditinjau dari jumlah koperasi,
jumlah anggota koperasi, maupun nilai usaha koperasi. Koperasi juga telah terlihat berperan
aktif dalam kegiatan ekonomi rakyat dan sekaligus mulai dapat meningkatkan kesejahteraan
para anggotanya. Keadaan tersebut tercermin, antara lain dari peningkatan jumlah dan ragam
koperasi, jumlah dan ragam dalam bidang koperasi, jumlah simpanan anggota, jumlah modal
usaha, serta jumlah nilai usaha koperasi. Kemajuan pembangunan koperasi ini cukup
menggembirakan karena telah menunjukkan bahwa koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat
dan badan usaha semakin berperan aktif dan terlibat lebih luas dalam berbagai kegiatan
ekonomi serta sekaligus telah meningkatkan kesejahteraan para anggotanya yang pada
umumnya masih terbatas kemampuan ekonominya. Keadaan ini, antara lain merupakan hasil
dari berbagai kebijaksanaan perkoperasian, kebijaksanaan makro dan sekaligus peran
tersebut ditempuh melalui program pembinaan kelembagaan koperasi dan pelatihan magang,
penyuluhan dan penerangan, pembinaan dan konsultasi, serta ditunjang pula dengan berbagai
kegiatan penelitian perkoperasian serta kebijaksanaan makro, baik di bidang fiskal-moneter
maupun sektor riil, berupa perkreditan, substitusi, atau proteksi. Sesuai dengan tahapan
pembangunan nasional dalam Pembangunan Jangka Panjang Pertama, peranan pemerintah
dalam pembangunan koperasi pada masa itu masih besar, terutama ada kegiatan yang
bersifat perintis dan kegiatan perekonomian lainnya yang belum sepenuhnya mampu
dilaksanakan sendiri oleh gerakan koperasi. Kebijaksanaan pembinaan usaha koperasi sejak
Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama, yang diprioritaskan untuk mendukung
keberhasilan program pengadaan pangan nasional melalui Koperasi Unit Desa, didukung
dengan pemberian kredit pengadaan pangan beserta penyediaan jaminan kreditnya yang
kemudian telah memberikan sumbangan besar bagi tercapainya swasembada beras sejak tahun
1984.
Sejalan dengan perkembangan pembangunan nasional yang ditandai oleh kemajuan yang
pesat di berbagai sektor di luar sektor pertanian, bidang usaha koperasi juga turut
berkembang. Dewasa ini, lingkup bidang usaha koperasi mencakup baik usaha pertanian
maupun usaha non-pertanian, seperti industri pangan, penyaluran pupuk, pemasaran kopra,
pemasaran cengkeh, pemasaran susu, pemasaran hasil perikanan, petemakan, pertambangan
1

rakyat, kerajinan rakyat, penyaluran BBM, penyaluran semen, usaha pakaian jadi, usaha
industri logam dan tambang rakyat, pemasaran jasa telekomunikasi, pemasaran jasa
kelistrikan pedesaan, penyaluran kredit candak kulak (KCK), penyaluran kredit tebu rakyat
intensifikasi (TRI) dan lain sebagainya. Sumbangan koperasi secara nasional dalam
pengadaan maupun penyaluran beberapa komoditas penting cukup besar.
Kemudian, gerakan koperasi Indonesia telah memiliki organisasi tunggal, yaitu Dewan
Koperasi Indonesia (Dekopin) yang berfungsi sebagai wadah perjuangan dan pembawaan
aspirasi bagi kepentingan gerakan koperasi. Selain itu, selama PJP I juga telah terbentuk
prasarana penunjang bagi PJP II. Prasarana penunjang tersebut di antaranya adalah Institut
Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) dan Akademi Koperasi (Akop) sebagai lembaga
pendidikan pencetak sarjana dan kader pembangunan koperasi yang ahli di bidang
manajemen koperasi. Pada saat itu, telah berdiri pula Koperasi Jasa Audit (KJA) yang
tersebar di dua puluh provinsi dan berfungsi sebagai pusat pelayanan jasa audit, jasa
bimbingan dan manajemen, serta jasa pelatihan. Di bidang asuransi, gerakan Koperasi juga
telah memiliki Koperasi Asuransi Indonesia (KAI). Di bidang keuangan, telah dibentuk
Perusahaan Umum Pengembangan Keuangan Koperasi (Perum PKK) yang merupakan
penyempurnaan dari Lembaga Jaminan Kredit Koperasi (LJKK) dan berfungsi memberikan
jaminan atas kredit kepada koperasi yang diberikan oleh bank. Selain itu, telah pula dibentuk
Bank Umum Koperasi Indonesia (Bank Bukopin) dan lembaga keuangan lainnya, seperti
Koperasi Pembiayaan Indonesia (KPI), Koperasi Bank Perkreditan Rakyat (KBPR), dan
Koperasi Simpan Pinjam (KSP).
Modal penting lainnya dalam pengembangan koperasi pada Pembangunan Jangka Panjang
Kedua adalah Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian yang
memberikan landasan hukum yang kuat bagi pembangunan koperasi yang selaras dengan
pembangunan di sektor-sektor lainnya dalam upaya membangun koperasi yang maju dan
mandiri. Pada prinsipnya, undang-undang perkoperasian yarig baru memberikan keleluasaan
yang lebih besar kepada gerakan koperasi untuk menentukan arah pengembangan usaha agar
makin sesuai dengan kcbutuhan dan kepentingan para anggota. Di samping itu, pemerintah
tetap memberikan bimbingan, kemudahan, dan perlindungan dalam rangka memandi-rikan
koperasi.

Peran Koperasi
Secara kelembagaan koperasi memiliki ruang gerak yang paling terbatas dibandingkan
lembaga lain di bidang yang sama. Peraturan yang dikeluarkan pemerintah jarang yang bersifat
kondusif bagi perkembangan koperasi.
Koperasi hanya bergerak pada usaha pertokoan atau simpan pinjam saja. Padahal, sebenarnya
ada banyak peluang usaha yang mungkin ditangani koperasi. Namun karena berbagai
keterbatasan itulah koperasi jarang ada yang memanfaatkannya.
Bagi kalangan internal koperasi, terutama pengurus koperasi mereka perlu merespon setiap
kemudahan yang diberikan oleh pemerintah melalui langkah-langkah yang menunjang
terciptanya profesionalitas. Profesionalitas merupakan salah satu hal yang mampu menunjang
terciptanya kemandirian koperasi.
Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendukung profesionalitas pengurus
koperasi.
1. Para pengurus koperasi harus memahami prinsip-prinsip pengelolaan koperasi secara
cermat.
2. Pengurus perlu menetapkan suatu mekanisme kerja yang mampu menunjang kelancaran
usaha koperasi.
3. Perlu membangun hubungan kemitraan yang saling menguntungkan antara koperasi
dengan lembaga ekonomi lainnya, misalnya BUMN, swasta, dan koperasi lainnya untuk
memperkuat usaha yang telah ditekuni.
4. Pengurus koperasi sebaiknya menambah pengetahuan baik yang bersifat teknis, misalnya
keterampilan pembukuan, administrasi keuangan, pemasaran dan kemampuan manajerial.

2. TANTANGAN,

KENDALA

DAN

PELUANG

DALAM

PEMBANGUNAN

KOPERASI
Dengan adanya globalisasi dan perkembangan kemajuan teknologi dan informasi membawa
dampak bagi persaingan dunia usaha. Agar usaha koperasi dapat bertahan maka koperasi harus
dapat menganalisis tantangan, kendala, dan peluang yang ada untuk merumuskan langkahlangkah yang harus ditempuh.
1. Tantangan dalam Pembangunan Koperasi
Tantangan koperasi sebenarnya memiliki ruang gerak dan kesempatan usaha yang luas
terutama dalam hal yang menyangkut kepentingan kehidupan ekonomi rakyat. Namun pada
kenyataannya, koperasi masih menghadapi beberapa hambatan struktural dan sistem untuk dapat
berfungsi dan berperan dalam memperkukuh perekonomian nasional. Dengan demikian yang
menjadi tantangan bagi koperasi adalah mewujudkan koperasi, baik sebagai badan usaha maupun
sebagai gerakan ekonomi rakyat agar mampu berperan secara nyata dalam kegiatan ekonomi
rakyat. Keberadaan beberapa koperasi telah dirasakan peran dan manfaatnya bagi masyarakat,
walaupun derajat dan intensitasnya berbeda. Setidaknya terdapat tiga tingkat bentuk eksistensi
koperasi bagi masyarakat (PSP-IPB, 1999) :
Pertama, koperasi dipandang sebagai lembaga yang menjalankan suatu kegiatan usaha
tertentu, dan kegiatan usaha tersebut diperlukan oleh masyarakat. Kegiatan usaha dimaksud
dapat berupa pelayanan kebutuhan keuangan atau perkreditan, atau kegiatan pemasaran, atau
kegiatan lain. Pada tingkatan ini biasanya koperasi penyediakan pelayanan kegiatan usaha yang
tidak diberikan oleh lembaga usaha lain atau lembaga usaha lain tidak dapat melaksanakannya
akibat adanya hambatan peraturan. Peran koperasi ini juga terjadi jika pelanggan memang tidak
memiliki aksesibilitas pada pelayanan dari bentuk lembaga lain. Hal ini dapat dilihat pada peran
beberapa Koperasi Kredit dalam menyediaan dana yang relatif mudah bagi anggotanya
dibandingkan dengan prosedur yang harus ditempuh untuk memperoleh dana dari bank. Juga
dapat dilihat pada beberapa daerah yang dimana aspek geografis menjadi kendala bagi
masyarakat untuk menikmati pelayanan dari lembaga selain koperasi yang berada di wilayahnya.
4

Kedua, koperasi telah menjadi alternatif bagi lembaga usaha lain. Pada kondisi ini
masyarakat telah merasakan bahwa manfaat dan peran koperasi lebih baik dibandingkan dengan
lembaga lain. Keterlibatan anggota (atau juga bukan anggota) dengan koperasi adalah karena
pertimbangan rasional yang melihat koperasi mampu memberikan pelayanan yang lebih baik.
Koperasi yang telah berada pada kondisi ini dinilai berada pada tingkat yang lebih tinggi dilihat
dari perannya bagi masyarakat. Beberapa KUD untuk beberapa kegiatan usaha tertentu
diidentifikasikan mampu memberi manfaat dan peran yang memang lebih baik dibandingkan
dengan lembaga usaha lain, demikian pula dengan Koperasi Kredit.
Ketiga, koperasi menjadi organisasi yang dimiliki oleh anggotanya. Rasa memilki ini dinilai
telah menjadi faktor utama yang menyebabkan koperasi mampu bertahan pada berbagai kondisi
sulit, yaitu dengan mengandalkan loyalitas anggota dan kesediaan anggota untuk bersama-sama
koperasi menghadapi kesulitan tersebut. Sebagai ilustrasi, saat kondisi perbankan menjadi tidak
menentu dengan tingkat bunga yang sangat tinggi, loyalitas anggota Kopdit membuat anggota
tersebut tidak memindahkan dana yang ada di koperasi ke bank. Pertimbangannya adalah bahwa
keterkaitan dengan Kopdit telah berjalan lama, telah diketahui kemampuannya melayani,
merupakan organisasi milik anggota, dan ketidak-pastian dari dayatarik bunga bank.
Berdasarkan ketiga kondisi diatas, maka wujud peran yang diharapkan sebenarnya adalah agar
koperasi dapat menjadi organisasi milik anggota sekaligus mampu menjadi alternatif yang lebih
baik dibandingkan dengan lembaga lain.
2. Kendala Koperasi
Untuk menjawab tantangan di atas, koperasi harus menyadari adanya kendala yang dihadapi
koperasi. Kendala-kendala tersebut dapat dilihat dari sisi internal dan eksternal koperasi.
a. Kendala Internal
1)

Rendahnya kualitas sumber daya manusia yang tercermin dari kurang berkembangnya

kewirausahaan; lemahnya daya inovasi dan kreativitas; rendahnya disiplin; tidak adanya etos
kerja, dan profesionalisme.
2)

Terbatasnya akses terhadap bahan baku, permodalan, teknologi, informasi, pasar produk,

lokasi usaha, jaringan kerja, dan kemitraan.


5

3)

Rendahnya partisipasi anggota koperasi dalam kegiatan usaha koperasi.

b. Kendala Eksternal
1)

Terbatasnya sarana dan prasarana penunjang dengan persebaran yang kurang merata.

2)

Iklim usaha yang belum sepenuhnya memberikan dukungan terhadap pengembangan

koperasi.
3)

Belum lengkapnya kelembagaan pemberdayaan koperasi.

4)

Belum tegaknya pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang mengatur persaingan

sehat dan adil.


5)

Belum mantapnya pembinaan usaha nasional baik antarsektor dan antargolongan

ekonomi maupun antardaerah. Dalam menghadapi kendala baik internal maupun eksternal,
membutuhkan kerja keras dari pemerintah (instansi terkait, dinas koperasi/departemen teknis,
dan sebagainya) terlebih dari internal koperasi sendiri harus berusaha dengan keras
mengatasi kendala tersebut.

3. Peluang Koperasi
Koperasi dalam kegiatan usahanya di masa mendatang diharapkan mampu memanfaatkan
peluang usaha baru. Berikut ini peluang usaha yang diharapkan:
a) Adanya UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian memberikan peluang bagi koperasi
agar dapat tumbuh dan berkembang agar menjadi lebih kuat dan mandiri. (Lihat pada
lampiran buku ini tentang UU Perkoperasian).
b) Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi menciptakan peluang bagi berkembangnya
usaha koperasi di masa depan.
c) Terbukanya perekonomian dunia memberikan peluang bagi koperasi, yaitu makin
terbukanya pasar internasional bagi hasil produksi koperasi dan makin terbukanya
perekonomian kesempatan kerja sama internasional antara gerakan koperasi di berbagai
bidang.

d) Adanya perubahan struktur perekonomian nasional dari sektor pertanian ke sektor industri
dan jasa menciptakan peluang usaha terutama bidang agrobisnis, agroindustri, kerajinan
industri, dan sebagainya.
e) Kemauan politik yang kuat dari pemerintah dan berkembangnya tuntutan masyarakat
untuk lebih membangun koperasi dalam rangka mewujudkan demokrasi ekonomi yang
berlandaskan pancasila dan UUD 1945
f) Undang Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang sistem Budidaya tanaman mendorong
diversifikasi usaha koperasi.
3. ARAHAN, SASARAN DAN KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN KOPERASI.
1. Arahan GBHN 1993
Pembangunan koperasi sebagai wadah kegiatan ekonomi rakyat diarahkan agar
koperasi makin memiliki kemampuan menjadi badan usaha yang efisien dan menjadi
gerakan ekonomi rakyat yang tangguh dan berakar dalam masyarakat. Koperasi sebagai
badan usaha yang makin mandiri dan andal harus mampu memajukan kesejahteraan
ekonomi anggotanya. Pembangunan koperasi juga diarahkan menjadi gerakan ekonomi
rakyat yang didukung oleh jiwa dan semangat yang tinggi dalam mewujudkan demokrasi
ekonomi berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta menjadi sokoguru
perekonomian nasional yang tangguh. Koperasi di perdesaan perlu dikembangkan mutu
dan kemampuannya, dan perlu makin ditingkatkan peranannya dalam kehidupan ekonomi
di perdesaan.
Pelaksanaan fungsi dan peranan koperasi ditingkatkan melalui upaya peningkatan
semangat kebersamaan dan manajemen yang lebih profesional. Peran aktif masyarakat
dalam menumbuhkem-bangkan koperasi terus ditingkatkan dengan meningkatkan
kesadar-an, kegairahan, dan kemampuan berkoperasi di seluruh lapisan masyarakat
melalui upaya penyuluhan, pendidikan, dan pelatihan. Fungsi dan peranan koperasi juga
menjadi tanggung jawab lembaga gerakan koperasi sebagai wadah perjuangan
kepentingan dan pembawa aspirasi gerakan koperasi, bekerja sama dengan Pemerin-tah
sebagai pembina dan pelindung.
Pengembangan koperasi didukung melalui pemberian kesem-patan berusaha yang
seluas-luasnya di segala sektor kegiatan ekonomi, baik di dalam negeri maupun di luar
negeri, dan pencip-taan iklim usaha yang mendukung dengan kemudahan memperoleh
permodalan. Untuk mengembangkan dan melindungi usaha rakyat yang diselenggarakan
7

dalam wadah koperasi demi kepentingan rakyat, dapat ditetapkan bidang kegiatan
ekonomi yang hanya

boleh diusahakan oleh koperasi. Kegiatan ekonomi di suatu

wilayah yang telah berhasil diusahakan oleh koperasi agar tidak dimasuki oleh badan
usaha lainnya dengan memperhatikan keadaan dan kepentingan ekonomi nasional dalam
rangka pemerataan kesempatan usaha dan kesempatan kerja
2. Sasaran
a. Sasaran PJP II
GBHN 1993 menetapkan bahwa sasaran pembangunan kopera-si dalam PJP II
adalah terwujudnya koperasi sebagai badan usaha dan sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang sehat, tangguh, kuat, dan mandiri serta sebagai sokoguru
perekonomian nasional yang merupakan wadah untuk menggalang kemampuan
ekonomi rakyat di semua kegiatan perekonomian nasional sehingga mampu berperan
utama dalam meningkatkan kondisi ekonomi dan kese-jahteraan rakyat.
b. Sasaran Repelita VI
Sasaran pembangunan bidang ekonomi dalam Repelita VI di antaranya adalah
tertata dan mantapnya kelembagaan dan sistem koperasi agar koperasi makin efisien
serta berperan utama dalam perekonomian rakyat dan berakar dalam masyarakat.
Adapun sasaran pembangunan koperasi dalam Repelita VI adalah koperasi yang
makin maju, makin mandiri dan makin berakar dalam masya-rakat, serta menjadi
badan usaha yang sehat dan mampu berperan di semua bidang usaha, terutama dalam
kehidupan ekonomi rakyat.
Sesuai dengan sasaran tersebut di atas, ditetapkan sasaran operasional
pembangunan koperasi dalam Repelita VI, yaitu makin meningkatnya kualitas
sumber daya manusia koperasi yang berdampak pada makin meningkatnya
kemampuan organisasi dan manajemen koperasi, makin meningkatnya partisipasi
aktif anggota, serta makin meningkatnya pemanfaatan, pengembangan, dan
penguasaan teknologi tepat; makin kukuhnya struktur permodalan koperasi; makin
kukuhnya jaringan usaha koperasi secara horizontal dan vertikal; serta makin
berfungsi dan berperannya lembaga gerakan koperasi. Dengan demikian, diharapkan
daya saing koperasi dan kesejahteraan anggota koperasi makin meningkat
8

pula.Selain sasaran operasional yang bersifat umum tersebut, dite-tapkan sasaran


pengembangan koperasi di perdesaan dan di perko-taan.
Sasaran pengembangan koperasi di pedesaan adalah makin berkembangnya
koperasi

di

perdesaan/KUD

yang

mampu

memberi-kan

kesempatan

dan

menumbuhkan prakarsa masyarakat perdesaan untuk meningkatkan usaha sesuai


dengan kebutuhan mereka serta sekaligus mampu memberikan pelayanan yang
bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan mereka; makin menyebarnya KUD
mandiri di seluruh pelosok tanah air; makin meningkatnya kualitas KUD mandiri
yang telah ada sehingga kemandiriannya makin mantap; makin meningkatnya
kemampuan usaha dan peran koperasi di perdesaan/KUD untuk mendorong
berkembangnya agrobisnis, agroindustri, industri perdesaan, jasa keuangan, dan jasa
lainnya termasuk penyediaan kebutuhan pokok.
3. Kebijaksanaan
Secara umum, kebijaksanaan pembangunan perkoperasian dalam Repelita VI
adalah meningkatkan prakarsa, kemampuan, dan peran serta gerakan koperasi melalui
peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan, pengembangan dan
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan dan
memantapkan kelembagaan, usaha, dan sistem koperasi untuk mewujudkan peran
utamanya di segala bidang kehidupan ekonomi rakyat.
Secara khusus, kebijaksanaan pembangunan koperasi dalam Repelita VI adalah
sebagai berikut.
Pertama, meningkatkan akses dan pangsa pasar, antara lain dengan meningkatkan
keterkaitan usaha, kesempatan usaha dan kepastian usaha, memperluas akses terhadap
informasi usaha, mengadakan pencadangan usaha, membantu penyediaan sarana dan
prasarana usaha yang memadai, serta menyederhanakan perizinan. Upaya ini ditunjang
dengan

menyusun

berbagai

peraturan

perun-dang-undangan

yang

mendukung

pengembangan koperasi, dan menghapuskan peraturan perundang-undangan yang


menghambat perkembangan koperasi, serta mengembangkan sistem pelayanan informasi
pasar, harga, produksi, dan distribusi yang memadai.
Kedua, memperluas akses terhadap sumber permodalan, memperkukuh struktur
permodalan dan meningkatkan kemampuan pemanfaatan modal koperasi, antara lain
dengan meningkatkan jumlah pagu dan jenis pinjaman untuk koperasi; mendorong
9

pemupukan dana internal koperasi; menciptakan berbagai kemu-dahan untuk


memperoleh pembiayaan dan jaminan pembiayaan; mengembangkan sistem perkreditan
yang mendukung dan sesuai dengan kepentingan koperasi pada khususnya dan
perekonomian rakyat pada umumnya; mengembangkan sistem pembiayaan termasuk
lembaga pengelola yang sesuai untuk itu, dalam rangka menyebarkan dan
mendayagunakan sumber dana yang tersedia bagi koperasi dan gerakan koperasi, yaitu
antara lain yang berasal dari penyisihan laba bersih BUMN.
Ketiga, meningkatkan kemampuan organisasi dan manajemen, antara lain dengan
meningkatkan kemampuan kewirausahaan dan profesionalisme anggota, pengurus,
pengawas, dan karyawan koperasi; mendorong koperasi agar benar-benar menerapkan
prinsip koperasi dan kaidah usaha ekonomi; mendorong proses pengembangan karier
karyawan koperasi; mendorong terwujudnya tertib organisasi dan tata hubungan kerja
yang efektif; mendorong berfungsinya perangkat organisasi koperasi; meningkatkan
partisipasi anggota
Keempat, meningkatkan akses terhadap teknologi dan mening-katkan kemampuan
memanfaatkannya, antara lain dengan mening-katkan kegiatan penelitian dan
pengembangan, memanfaatkan hasil penelitian/pengkajian lembaga lain, meningkatkan
kegiatan alih teknologi, memberikan kemudahan untuk melakukan inovasi dan
mendapatkan hak cipta, memberikan kemudahan untuk modernisasi peralatan, serta
mengembangkan dan melindungi teknologi yang telah dikuasai oleh anggota koperasi
secara turun-temurun.
Kelima, mengembangkan kemitraan, antara lain dengan mengembangkan kerja
sama antarkoperasi, baik secara horizontal, vertikal maupun kerja sama internasional;
mendorong koperasi sekunder agar lebih mampu mengkonsolidasi dan memperkukuh
jaringan keterkaitan dengan koperasi primer serta mendorong kemitraan usaha dengan
badan usaha lainnya, baik dalam bentuk kontrak dagang, subkontrak, usaha patungan
maupun bentuk kemitraan lainnya, yang dilandasi oleh prinsip saling membutuhkan,
saling menunjang dan saling menguntungkan.

Kesimpulan
Pembangunan koperasi dalam Pembangunan Jangka Panjang Pertama telah menunjukkan
berbagai keberhasilan yang sangat berarti, baik ditinjau dari jumlah koperasi, jumlah anggota
10

koperasi, maupun nilai usaha koperasi. Dengan adanya globalisasi dan perkembangan kemajuan
teknologi dan informasi membawa dampak bagi persaingan dunia usaha. Agar usaha koperasi
dapat bertahan maka koperasi harus dapat menganalisis tantangan, kendala, dan peluang yang
ada untuk merumuskan langkah-langkah yang harus ditempuh.
Pembangunan koperasi juga diarahkan menjadi gerakan ekonomi rakyat yang didukung oleh
jiwa dan semangat yang tinggi dalam mewujudkan demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945 serta menjadi sokoguru perekonomian nasional yang tangguh.
Koperasi di perdesaan perlu dikembangkan mutu dan kemampuannya, dan perlu makin
ditingkatkan peranannya dalam kehidupan ekonomi di perdesaan. Secara umum, kebijaksanaan
pembangunan perkoperasian dalam Repelita VI adalah meningkatkan prakarsa, kemampuan, dan
peran serta gerakan koperasi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia

11