Anda di halaman 1dari 18

Laboratorium Fisika Dasar

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

TUJUAN
Menentukan resultan vector dari gaya gaya yang bekerja
pada suatu titik.

1.2.

LANDASAN TEORI
Setiap bilangan yang digunakan untuk mendiskripsikan suatu fenomena
fisika secara kuantitatif disebut besaran. Besaran adalah sesuatu yang bisa
di ukur dan hasilnya dinyatakan dengan angka-angka dan diikuti dengan
satuan.
Terdapat 2 macam besaran dalam fisika, yaitu :
-

Besaran pokok Besaran yang ditetapkan secara internasional.


Besaran turunan Besaran yang diturunkan dari besaran pokok.

Selain itu, dikenal juga 2 jenis besaran lainnya, yaitu :


a. Besaran vektor
Besaran vektor adalah besaran yang memiliki nilai dan arah.
Besaran vektor bisa bernilai negatif. Biasanya benda negatif itu
menunjukkan arah yang berlawanan.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari, misalna sebuah yang
mula-mulanya diam di genggam kemudian jatuh ke tanah. Apel itu
jatuh ke tanah karena disebabkan oleh gaya gravitasi bumi, dimana
apel yhang mula-mulanya diam, bergerak ke bawah dengan kecepatan
yang terus bertambah hingga mencapai tanah. Pada kejadian di atas
terdapat nilai dan arah, berupa kecepatan apel tersebut dan arah gerak
apel dari genggaman menuju ke tanah. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa besaran gaya dan besaran cepatan adalah besaran vektor.
Contoh lain dari besaran vektor yaitu : usaha, perpindahan, impuls,
momentum, percepatan.

Besaran Vektor ( M2)


22
Sistem Komputer

Laboratorium Fisika Dasar


`

Besaran vektor dinotasikan dengan huruf dan anak panah


diatasnya atau huruf cetak tebal, sedangkan huruf tanpa cetak tebal
adalah nilai (besar) vektor.
Lambang besaran vektor yaitu anak panah dimana panjang ruas
garis menunjukkan hasil vektor dan anak panah menunjukkan arah
vektor. Vektor yang tidak berada pada sumbu koordinat dapat
diuraikan menjadi komponen penyusunnya.
b. Besaran skalar
Besaran skalar adalah besaran yang hanya memiliki nilai saja
dan tidak memiliki arah. Besaran skalar selalu bernilai positif. Pada
saat anda menghitung panjang suatu balok kayu, maka anda hanya
akan menyebutkan nilai dari panjang dari balok kayu tersebut. Hal
yang sama juga terjadi pada saat anda menghitung berat dari sebuah
apel, maka anda hanya akan menyebutkan nilai dari berat apel tersebut.
Contoh lain dari besaran skalar yang sering kita jumpai dalam
kehidupan sehari-hari antara lain : panjang, waktu, massa, volume,
suhu, usaha, energi potensial, energri listrik, kelajuan, jumlah zat,
tekanan, luas.
Operasi-operasi pada vektor :
1. Penjumlahan vektor, dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu :
a. Metode grafis, seperti metode polygon, segitiga, jajargenjang.
b. Metode analisis, menguraikan vektor-vektor yang ada terhadap
sumbu x dan sumbu y.

Besaran Vektor ( M2)


23
Sistem Komputer

Laboratorium Fisika Dasar


`

Secara polygon

resultannya

Pada prinsipnya, penjumlahan vektornya sama dengan cara


segitiga, tetapi vetor yang dijumlahkan lebih dari satu buah. Sedangkan
cara segitiga hanya dilakukan dan dipakai untuk menjumlahkan 2 vektor.

Secara jajar genjang.

Penjumlahan dua buah vektor dengan cara jajar genjang akan membentuk
sudut sebesar a.

Besaran Vektor ( M2)


24
Sistem Komputer

Laboratorium Fisika Dasar


`

Keterangan :
A, B

= Vektor yang akan dijumlahkan.

= Sudut apit antara 2 buah vektor.

= Resultan kedua buah vektor.

Secara segitiga

Penjumlahan vektor dengan cara segitiga biasanya digunakan


untuk menjumlahkan 2 buah vektor, baik setitik tangkap maupun tidak
setitik tangkap. Syarat penjumlahannya ini adalah panjang dan arah vektor
tidak boleh berubah.
Contohnya :

resultannya

R=

A +
B

Secara analitik

Metode analitik ini dilakukan dengan cara menguraikan vektorvektor yang ada terhadap sumbu x dan sumbu y. Terlebih dahulu kita
ketahui uraian dari vektor tersebut. Uraikan terhadap sumbu x dan y,
barulah dicari nilainya.
Vektor satuan dan perkalian vektor dengan skalar
Suatu vektor dapat dikalikan dengan skalar dan hasilnya adalah
A=sB, yang menunjukkan arah A dan mempunyai besaran sB. Vektor
Besaran Vektor ( M2)
25
Sistem Komputer

Laboratorium Fisika Dasar


`

satuan adalah vektor yang tak berdimensi yang didefenisikan sebagai besar
1 dan menunjukkan kepada suatu arah tertentu. Vektor satuan adalah
vektor yang besarnya sejajar dengan sumbu x positif dan arahnya sejajar
dengan sumbu y positif.
Menentukan vektor resultan dengan metode grafis, mempunyai langkahlangkah penentuan besar dan arah vektornya sebagai berikut :
1. Tetapkan sumbu x positif sebagai acuan menentukan arah. Ingat, sudut
positif di ukur dengan arah berlawanan arah jarum jam, sedangkan
sudut negatif di ukur dengan arah searah jarum jam.
2. Gambarkan setiap vektor yang akan dijumlahkan (bisa dengan
menggambarkan cara jajaran genjang, dengan cara segitiga, atau
dengan cara polygon. Arah vektor digambarkan terhadap sumbu x
yang positif dengan menggunakan busur derajat.
3. Gambar vektor resultan dengan metode segitiga (2 vektor) dan
polygon (lebih dari 2 vektor).
4. Ukurlah panajng resultan dengan mistar, sedangkan arah vektor
resultan diukur terhadap sumbu x positif dengan busur derajat.
5. Tentukan besar dan arah vektor resultan :
a. Besar vektor resultan sama dengan hasil kali panjang vektor
resultan dengan skala panjang.
b. Arah vektor resultan sama dengan sudut yang dibentuk oleh vektor
resultan terhadap sumbu x positif yang telah di ukur dengan busur
derajat.
Menentukan besar dan arah vektor resultan dengan metode grafis,
merupakan salah satu pendekatan. Ketelitian hasil yang diperoleh juga
sangat bergantung pada skala gambar, ketelitian mistar, busur derajat, serta
ketepatan anda dalam menggambar dan membaca skala. Jika ingin
menentukan besar dan arah vektor resultan secara lebih tepat, dapat
digunakan perhitungan matematis (bukan dengan pengukuran).
1. Menentukan vektor resultan segaris kerja
Besaran Vektor ( M2)
26
Sistem Komputer

Laboratorium Fisika Dasar


`

Tinjau perpindahan vektor segaris kerja, untuk vektor-vektor yang


segaris kerja, arahnya dapat dibedakan dengan meberi tanda + atau
tanda -. Operasi penjumlahan dalam berhitung berlaku untuk resultan
dari dua vektor yang berlawanan arah, maupun searah.
2. Menentukan vektor resultan pada segitiga siku-siku
Untuk menentukan vektor di atas, kita tidak bisa menggunakan hukum
berhitung seperti pada dua atau lebih vektor yang segaris. Karena dua
vektor tersebut tidak segaris kerja. Besarnya vektor resultan dapat
ditentukan melalui rumus phytagoras dalam segitiga siku-siku. Untuk
menentukan arah vektor resultan terhadap salah satu komponennya,
kita menggunakan rumus sinus, cosinus, dan tengen pada segitiga.
3. Menentukan vektor resultan dengan rumus cosinus
Untuk menghitung resultan dari dua vektor yang berarah sembarang
yaitu dengan menggunakan rumus cosinus. Rumusnya adalah :
4. Menetukan vektor resultan dengan vektor komponen
Dalam menggambarkan sebuah vektor pasti menggunakan koordiant x
dan y (untuk dua dimensi), koordinat x, y, z (untuk tiga dimensi).
Apabila suatu vektor membentuk sudut terhadap sumbu x positif, pada
bidang koordinat xy, maka bisa digunakan cara penguraian vektor
komponen. Dimana kita uraikan ke dalam sumbu x atau kepada sumbu
y. Kedua komponen vektor tersebut biasanya saling tegak lurus
membentuk sudut 90. Aplikasi vektor dalam kehidupan sehari-hari
banyak kita jumpai di sekeliling kita. Contoh sederhananya adalah
sebuah benda yang jatuh dari tangan anda ke lantai. Dalam hal ini,
yang mempengaruhinya adalah gaya gravitasi yang arahnya menuju
pusat bumi. Hal ini juga menunjukkan benda memiliki berat yang
arahnya menuju pusat bumi. Contoh lainnya adalah mesin derek
palang penyangga. Pada mesin derek palang penyangga menahan
beban dan gaya tarik tali dengan gaya dorong pada palang penyangga.
Contoh laiinnya adalah mesin pemotong rumput.

Besaran Vektor ( M2)


27
Sistem Komputer

Laboratorium Fisika Dasar


`

BAB II
PROSEDUR KERJA
2.1. ALAT DAN BAHAN
1. Meja gaya
Untuk meletakkan busur derajat.
2. Beban
Sebagai pemberat pada percobaan ini.
3. Busur derajat
Untuk mengukur sudut vektor
4. Kertas millimeter
Untuk menggambarkan resultan vektor.
2.2. CARA KERJA
A. Menentukan resultan vector dengan 3 metode
1. Meja gaya disiapkan dan pulley di uji, apakah berjalan lancar atau tidak
2. Beban diberikan pada tempatnya masing masing.
3. Cincin meja gaya dipastikan teerletak ditengah meja dengan menggeser
pulley. Sudut yang terbentuk diukur.
4. Langkah (2) dan (3) diulangi dengan variasi massa.
B. Menentukan resultan vector dari 3, 4, 5, dan 6 vektor.
1. Variasi massa
a. Beban diberikan pada tempatnya masing masing
b. Cincin meja gaya dipastikan terletak di tengah meja dengan menggeser
pulley. Sudut yang terbentuk diukur.
c. Langkah (b) dan (c) diulangi dengan variasi massa.
2. Variasi sudut
a. Sudut masing - masing vector ditentukan.
b. Cincin meja gaya dipastikan terletak di tengah meja dengan
memberikan massa disetiap ujung benang.
c. Langkah (b) dan (c) diulangi dengan variasi sudut vector.
2.3. SKEMA ALAT

Besaran Vektor ( M2)


28
Sistem Komputer

Laboratorium Fisika Dasar


`

Keterangan:
1. Meja gaya
2. Beban
3. Benang

BAB III
DATA DAN PEMBAHASAN

Besaran Vektor ( M2)


29
Sistem Komputer

Laboratorium Fisika Dasar


`

3.1 Jurnal (Terlampir)


3.2 Perhitungan
3.2.1 Menentukan Resultan Vektor dengan 3 Metode
MA = 0,05 kg

FA m.g = 0,05 . 10 = 0,5 N = 2,5 cm

MB = 0,06 kg

FB = m . g = 0,06 . 10 = 0,6 N = 3 cm

MC = 0,07 kg

FC =m.g = 0,07 . 10 = 0,7 N = 3,5 cm

MD = 0,08 kg

FD =m .g = 0,08 . 10 = 0,8 N = 4 cm

A.1.
A.2. Metode Poligon
A.3. Resultan = FA + FB + FC + FD
A.4.
= (0,5 + 0,6 + 0,7 + 0,8) N
A.5.
= 2,6 N = 13 cm
A.6. Metode Analitik
A.7. FAx = FA cos
A.8.
= 0,5 N cos 90
= 0,5 N . 0
=0N
A.11. FBx = FB cos
A.12.
= 0,6 N cos 80

A.9.
A.10.

A.13.
A.14.

= 0,6 N . 0,17
= 0,102 N
A.15. FCx = FC cos
A.16.
= 0,7 N cos 110
0

A.17.
A.18.
A.19.

= 0,7 N . -0,34
= -0,238 N

A.20. FDx = FD cos


Besaran Vektor ( M2)
30
Sistem Komputer

A.21.

= 0,8 N cos 90

A.22.
A.23.

= 0,8 N . 0,17
= 0,136 N

A.24.

A.25.

FAy = FA sin

A.26.
A.27.
A.28.

= 0,5 N . sin 900


= 0,5 N . 1
= 0,5 N
FBy = FB sin

A.29.
A.30.
A.31.
A.32.
A.33.
A.34.
A.35.
A.36.

= 0,6 N . sin 800


= 0,6 N . 0,98
= 0,588 N
FCy = FC sin
= 0,7 N . sin 1100
= 0,7 N . 0,93
= 0,651 N

Laboratorium Fisika Dasar


`

A.37.
A.38.

FDy = FD sin

A.39.
A.40.

= 0,8 N . sin 800

A.41. Fx = FAx+ FBx +FCx +FDx


A.42.

= 0,8 N . 0,98
= 0,784 N

A.48. R

= 0+0,102+(-

( Fx)2 +( Fy )2

0,238)+0,136
A.43.

A.49.

= 0,238-0,238

A.44.

02 +(2,023)2

=0N

A.45. Fy = FAy+ FBy +FCy +FDy


A.46.

0,5+0,588+0,651+0,784
A.47.

A.51.

= 2,02 N

A.53.
A.54.
Metode Jajaran Genjang
A.55.

1. = | A B|

|900 800|

A.56.

A.57.

= 100

A.59.

|0,5| +|0,6| +2 .0,5 . 0,6 cos 10

A.60.

0,25+0,36+0,6 . 0,98

A.61.

0,61+ 0,588

F
F
2
2
A.58. R = ( A) +( B) +2 F A F B cos

A.62. =

1,198

A.63. = 1,09 N
A.64.
Besaran Vektor ( M2)
31
Sistem Komputer

4,09

A.50.

A.52.

= 2,023 N

Laboratorium Fisika Dasar


`

|C D|

2. =

|110 0800|

A.65.

A.66.

= 300

A.67.

F
F
2
2
A.68. R = ( C) +( D) +2 F C F D cos

A.69.

|0,7| +|0,8| +2 .0,7 . 0,8 cos 30

A.70.

0,49+0,64+1,12 . 0,86

A.71.

1,13+ 0,96

A.72. =

2,09

A.73. = 1,44 N
A.74.
A.75.
A.76.

3.2.2 Menentukan Resultan 2 Vektor


MA

0,05 kg
A.77.

MB

MC

FA = m . g = 0,05 . 10 = 0,5 N

= 2,5 cm
=

0,07 kg
A.78.

A.79.

A.80.

FB = m . g = 0,07 . 10 = 0,7 N

= 3,5 cm
=

0,06 kg

A.81.

FC = m . g = 0,06 . 10 = 0,7 N

= 3,5 cm

A.1.Metode Poligon
A.2. Resultan = FA + FB + FC
A.3.
= (0,5 + 0,7 + 0,6) N
A.4.
= 1,8 N
A.2. Metode Analitik
A.5. FAx = FA cos
Besaran Vektor ( M2)
32
Sistem Komputer

A.6.

= 0,5 N cos 0

A.7.

= 0,5 N . 1

Laboratorium Fisika Dasar


`

A.8.

= 0,5 N

A.9. FBx = FB
A.10.

A.21.
A.22.

cos
cos 130

= 0,7 N

= 0,5 N . 0
=0N
A.23. FBy
=
FB

sin

A.11.
A.12.

= 0,7 N . -0,64
= -0,448 N
A.13. FCx = FC cos
A.14.
= 0,6 N cos 90
A.15.
A.16.
A.17.
A.18.

= 0,6 N . 0
=0N

A.19.

= 0,7 N .

sin 1300
A.25.

= 0,7 N .

0,76
A.26.
A.27. FCy

= 0,532 N
=
FC

sin

FAy

FA

sin
A.20.
sin 00

Besaran Vektor ( M2)


33
Sistem Komputer

A.24.

= 0,5 N .

A.28.
sin 900
A.29.
A.30.

= 0,6 N .
= 0,6 N . 1
= 0,6 N

A.31.
A.32. Fx = FAx+ FBx +FCx
A.33.

= 0,5 N+(-0,448 N) +0 N

A.34.

= 0,052 N

A.35. Fy = FAy+ FBy +FCy


A.36.

= 0 N+0,532 N+0,6 N

A.37.

= 1,132 N

A.38. R =

( Fx)2 +( Fy )2

A.39.

(0,052)2+(1,132)2

A.40.

0,0027+1,281

A.41.

1,2837

A.42.

= 1,13 N

A.43.
A.3. Metode Jajaran Genjang

1. = | A B|

|00 1300|

A.44.

A.45.

= 1300

A.47.

F
F
2
2
(
A)
+(
B)
+2 F A F B cos
A.46. R =

|0,5| +|0,7| +2 .0,5 . 0,6 cos 130


2

A.48.

0,25+0,49+2 . 0,5. 0,7 .0,64

A.49.

0,740,448

A.50. =

0,292

A.51. = 0,54 N
A.52.

2. = | A C|

|00 900|

A.53.

A.54.

= 900

A.56.

|0,5| +|0,6| +2 .0,5 . 0,6 cos 90

A.57.

0,25+0,36+2 . 0,5 .0,6 . 0

F
F
2
2
A.55. R = ( A) +( C) +2 F A F C cos

A.58. =

0,61

A.59. = 0,78 N
A.60.
A.61.
A.62.
A.63.
A.64.
A.65.
A.66.
A.67.
A.68.
A.69.
A.70.
A.71.
A.72.
A.73.
A.74.
A.75.
A.76.
A.77.

3.3.

ANALISA
A.78.

Untuk menentukan vektor yang berbeda yang bekerja pada sebuah

benda, dapat dilakukan dengan 3 metode :


1. Metode jajaran genjang
2. Metode polygon
3. Metode analitik
A.79.

Dari praktikum yang dilakukan, ada beberapa hal yang dapat di analisa

:
Pada praktikum pertama disediakan 4 buah sistem vektor dengan massa dan sudut
yang

berbeda

beda

Ma = 50 gr

a=90

Mb = 60 gr

b=80

Mc = 70 gr

c=110

seperti

di

bawah

ini

Md = 80 gr
d = 80
A.80.
Dari data di atas didapatkan perhitungan sebagai betikut :
A. Metode polyon
A.81.
Pada metode ini untuk mencari resultannya, kita cukup menjumlahkan
besar vektor-vektor yang ada. Dari percobaan yang dilakukan, didapatkan
resultannya sebesar 2,6 N. Kita tinggal mengkonversikan besar vektor
dengan persamaan :
A.82.
1N = 5 cm
A.83.
Misalnya, 0,2 N = 1 cm, berarti vektor yang memiliki gaya sebesar 0,2
N memiliki panjang 1 cm.
B. Metode jajaran genjang
A.84.
Pada metode ini, cara unutk menentukan resultannya adalah dengan
menggunakan rumus berikut :
A.85.
A.86.

Dimana cos merupakan nilai dari pengurangan antara 2 buah sudut

pada vektor A dan B. Dimana besar sudutnya ini bernilai mutlak. Pada
percobaan yang dilakukan didapatkan resultan pada vektor A dan B 1,09 N

dengan sudut 10. Sedangkan pada vektor C dan D didapatkan resultannya


sebesar 1,44 N dengan sudut 30. Hasil resultan yang didapatkan untuk
setiap metode berbeda-beda. Hal ini terjadi mungkin karena kesalahan saat
melakukan praktikum dan kurang memperhatikan besar sudutnya. Hal lain
yang menyebabkan ini terjadi adalah salah dalam menggunakan prinsip
angka penting. Dalam mencari titik seimbang dari vektor yang bekerja pada
benda, setiap vektor atau benang memiliki batas untuk masing-masing
tempatnya. Setiap vektor yang bekerjapun memiliki kuadratnya masisngmasing.
A.87.
A.88.
A.89.
A.90.
A.91.
A.92.
A.93.
A.94.
A.95.
A.96.
A.97.
A.98.
A.99.
A.100.
A.101.
A.102.
A.103.

BAB IV

PENUTUP
A.104.
4.1.

KESIMPULAN
A.105.
Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan untuk menentukan
vektor dilakukan dengan 3 metode, yaitu :
1. Metode Polygon
2. Metode Analitik
3. Metode Jajar genjang
A.106.

Pada saat kita menentukan nilai vektor, arah juga akan mempengaruhi

nilai tersebut, karena apabila arahnya berbeda maka vektornya juga akan

berbeda. Kesimpulan lain yang dapat kita ambil adalah bahwa 3 buah vektor
yang telah diset sedemikian rupa dengan panjang dan sudut yang berbeda akan
memiliki resultan dan perbandingan yang sama.
A.107.
4.2.

SARAN
A.108.

Agar hasil yang didapatkan sesuai dengan yang diharapkan, hal-hal

yang harus dilakukan adalah :


a. Memahami dengan baik dasar-dasar mengenai teori yang akan di praktekkan
b. Mengetahui cara menentukan vektor melalui 3 metode tersebut
c. Dalam pembacaan sudut, usahakan kita harus tegak lurus terhadap alat
pembaca sudut (busur)
d. Mengetahui langkah cara kerja sehingga tidak ada langkah yang terlewatkan
e. Lebih teliti dalam segala hal.
A.109.
A.110.
A.111.
A.112.
A.113.
A.114.

JAWABAN PERTANYAAN

A.115.
1. Jelaskan perbedaan antara besaran scalar dan vector ! Berikan contoh !
A.116.
Jawab :
Besaran Skalar : besaran yang memiliki nilai, tetapi tidak memiliki arah.
Contoh: massa, panjang, waktu, kelajuan.
A.117.
Besaran Vektor : besaran yang memiliki nilai, dan arah.
A.118.
Contoh: kecepatan, kelajuan.
A.119.
2. Jelaskan pengertian vector satuan dan besaran vector !
A.120.
Jawab :
Vector Satuan : vector yang besarnya sejajar dengan sumbu x positif dan
vektor satuan nya sejajar dengan sumbu y positif. Besarnya sama dengan
satu satuan, secara matematis dituliskan bahwa panjang setiap vektor
adalah sama.
A.121.
Besaran Vektor : nilai yang didapat dari vector beserta arahnya
berdasarkan resultannya.

A.122.
A.123.
A.124.
A.125.
A.126.
A.127.

A.128.

Anda mungkin juga menyukai