Anda di halaman 1dari 10

I.

PENDAHULUAN
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada bayi dan anak merupakan masalah

kesehatan masyarakat yang sangat serius karena jumlah penderita banyak dan selalu meningkat
sebagai akibat jumlah ibu usia subur yang menderita penyakit HIV bertambah. Sebagian besar
(>90%) infeksi HIV pada bayi ditularkan oleh ibu terinfeksi HIV.1
Transmisi HIV dari ibu dengan HIV positif ke bayi disebut transmisi vertikal dapat terjadi
melalui plasenta pada waktu hamil (intrauterin), waktu bersalin (intrapartum) dan pasca natal
melalui air susu ibu (ASI). Tidak semua ibu pengidap HIV akan menularkannya kepada bayi
yang dikandungnya. HIV tidak melalui barier plasenta. Transmisi vertikal terjadi sekitar 1540%, sebelum penggunaan obat antiretrovirus. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan insidens
pemberian ASI. Diperkirakan risiko transmisi melalui ASI adalah 15%. Apabila ibu terinfeksi
pada saat menyusui maka risiko tersebut meningkat sampai 25%.2
Di Indonesia, infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan salah satu
penyakit menular yang dapat mempengaruhi kematian ibu dan anak. HIV telah ada di
Indonesia sejak kasus pertama ditemukan tahun 1987. Sampai tahun 2012 kasus HIV dan AIDS
telah dilaporkan oleh 341 dari 497 kabupaten/kota di 33 provinsi. Kementerian Kesehatan
memperkirakan, pada tahun 2016 Indonesia akan mempunyai hampir dua kali jumlah orang
yang hidup dengan HIV dan AIDS dewasa dan anak (812.798 orang) dibandingkan pada tahun
2008 (411.543 orang), bila upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang dilaksanakan tidak
adekuat sampai kurun waktu tersebut.1
Angka penularan vertikal dari ibu ke bayi sangat bervariasi pada berbagai populasi. Tanpa
pencegahan, angka rata-rata penularan HIV dari ibu ke bayi sekitar 14-42%. Angka penularan
vertikal di negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat berkisar antara 15 sampai
20%, sedangkan di negara sedang berkembang angka penularan vertikal adalah 40%. Misalnya
di India, angka penularan vertikal berkisar antara 24 sampai 40%. Akan tetapi, angka penularan
vertikal di Indonesia sampai saat ini belum diketahui dengan jelas.3
Banyak penelitian membuktikan bahwa penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi pada masa
intrauterin dan saat intrapartum. Dengan menggunakan perhitungan model matematika maka
distribusi penularan dari ibu ke bayi diperkirakan sebagian terjadi beberapa hari sebelum
persalinan, dan pada saat plasenta mulai terpisah dari dinding uterus pada waktu melahirkan.
Penularan diperkirakan terjadi karena bayi terpapar oleh darah dan sekresi saluran genital ibu.
Penularan lainnya terjadi pada masa dini kehamilan dan pada saat bayi menetek. Akan tetapi,
peranan dari masing-masing saat penularan masih belum diketahui dengan jelas.3
Dengan majunya ilmu pengetahuan, para ahli berusaha untuk melakukan pencegahan agar
tidak terjadi penularan HIV dari ibu ke bayi dengan berbagai cara yaitu, dengan mencegah
infeksi HIV pada wanita, melakukan konseling dan testing pada seluruh ibu hamil, memberi
Laporan Kasus - Bayi dari Ibu HIV

Page 1

obat profilaksis antiretrovirus kepada ibu dan neonatus, memberikan obat antiretrovirus
kombinasi kepada ibu, menghindari pemberian air susu ibu (ASI) kepada bayi baru lahir,
menghindari prosedur persalinan invasif, dan melakukan persalinan dengan cara bedah caesar
elektif.3
II.

LAPORAN KASUS

Identitas pasien
Nama

: By. Ny. YJ

Umur

: 7 hari

Jenis kelamin : laki-laki


Tanggal lahir : 24 Oktober 2015
Agama

: Kristen Protestan

Alamat

: Desa Ria Raja, Ende

Identitas Orang tua


Ayah
Nama

: Tn. RJ

Umur

: 30 tahun

Pekerjaan

: Pegawai PLN

Agama

: Kristen Protestan

Alamat

: Desa Ria Raja, Ende


Ibu

Nama

: Ny. YJ

Umur

: 27 tahun

Pekerjaan

: Perawat Gigi

Agama

: Kristen Protestan

Alamat

: Desa Ria Raja, Ende

Anamnesis
Riwayat penyakit diberikan oleh : Ibu pasien (alloanamnesis)
Keluhan Utama : Bayi dibawa kontrol ke poli anak dengan riwayat lahir dari ibu positif HIV.
Riwayat Penyakit Sekarang : Tidak ada keluhan.
Riwayat Penyakit Dahulu : Bayi belum pernah mengalami sakit sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga : Ayah dan ibu positif HIV dan menjalani pengobatan secara
teratur. Sebelumnya ayah mengalami demam terus-menerus tanpa sebab yang jelas, sehingga
ketika usia kehamilan ibu menginjak 7 bulan keduanya berinisiatif memeriksakan diri ke RS
Laporan Kasus - Bayi dari Ibu HIV

Page 2

Wirasakti Kupang. Menurut keterangan ibu, kemungkinan terinfeksi karena kebiasaan


suaminya semasa pacaran yang berganti-ganti pasangan seksual. Selanjutnya setelah
memeriksakan diri di RS Wirasakti, kedunya dinyatakan postif terinfeksi HIV dan dirujuk ke
RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang karena ibu dalam keadaan hamil 7 bulan. Ibu
mengatakan hasil tes keluar dalam 2 hari saja. Di RSUD ibu memeriksakan kehamilanya setiap
2 minggu di poli kebidanan dan setiap bulan ayah dan ibu mengambil obat di poli penyakit
dalam. Hingga saat ini ayah dan ibu masih mengonsumsi obat.
Riwayat Lingkungan sekitar : Tidak tahu.
Riwayat Pengobatan :
Sejak diketahui terinfeksi HIV, ibu dan suaminya mendapatkan terapi ARV hingga saat
ini sedangkan bayi sejak lahir sudah diberikan nevirapin single dose dan zidovudin hingga saat
ini. Pada saat lahir bayi juga diberikan vitamin K dan salep mata.
Riwayat Alergi : Tidak mempunyai riwayat alergi.
Riwayat Kehamilan :
G1P1A0, diakui ibu rutin dan teratur dalam melakukan ANC setiap bulan di Puskesms
Ria Raja sampai usia kehamilan 7 bulan dan diikuti dengan ANC tiap 2 minggu di poli
kebidanan RSUD Prof. Dr. W. Johannes Kupang.
Riwayat Persalinan :
Bayi lahir dari ibu dengan riwayat HIV. Lahir secara seksio sesarea di kamar operasi
RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang dengan indikasi ibu postif HIV. Bayi bergerak aktif,
langsung menangis dan tidak biru. BBL 2600gr, A/S = 9/10. Saat lahir bayi tidak dilakukan
IMD, tidak diberikan ASI dan diobservasi di NHCU selama 3 hari. Selanjutnya dipulangkan
dengan obat pulang zidovudin serta orang tua diberikan edukasi untuk memeriksakan bayi pada
umur 18 bulan untuk memastikan apakah bayi terinfeksi atau tidak.
Riwayat Makanan :
Saat ini bayi diberikan susu formula.
Riwayat Imunisasi :
Bayi belum diimunisasi.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : bayi tampak bergerak aktif, menangis kadang-kadang.
TTV : Suhu = 37,0C
RR = 48x/m
HR = 130x/m

Laporan Kasus - Bayi dari Ibu HIV

Page 3

Status Antropometri :
BB = 3000 gram
PB = 50 cm
Status gizi = Gizi Baik
LK = 33 cm
Status LK = Normocephal
Kulit : Tidak pucat, tidak ikterus, tidak sianosis.
Kepala : Ubun-ubun besar belum menutup, datar, ukuran 1 x 1 mm, bentuk kepala bulat,
normocephal, simetris, rambut hitam ikal, tipis, tersebar di seluruh kepala, tidak mudah
tercabut dan tidak ada luka atau tanda trauma.
Wajah : kesan simetris.
Mata : Tidak ada edema, tidak ada sekret, tidak ada tanda-tanda perdarahan.
Hidung : tidak ada rhinorhea, tidak ada sisa sekret, tidak ada deviasi septum, tidak ada, tidak
ada napas cuping hidung, tidak ada tanda-tanda radang dan tidak ada tanda-tanda perdarahan.
Telinga : otorrhea tidak ada, cairan atau pus tidak ada
Mulut : mukosa bibir lembab, warna merah muda.
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.
Thorax
Pulmo :

Inspeksi

ukuran 3-4 mm, pernapasan abdominal-torakal.


Palpasi
: tidak dievaluasi.
Perkusi
: tidak dievaluasi.
Auskultasi
: vesikuler pada kedua lapangan paru, tidak ada ronkhi, tidak ada

: pengembangan dada simetris, tidak terdapat retraksi, papila mammae

wheezing.
Cor :

Inspeksi
Palpasi
Auskultasi

: ictus cordis tidak terlihat


: ictus cordis teraba di ICS 4 linea mid clavicularis sinistra.
: bunyi jantung I-II tunggal, reguler, tidak ada murmur, tidak ada gallop.

Abdomen :

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: perut datar, tidak ada massa, umbilikus dalam batas normal


: supel, datar, hepar dan lien tidak teraba.
: timpani di seluruh abdomen.
: bising usus dalam batas normal.

Turgor kulit : < 2 detik


Laporan Kasus - Bayi dari Ibu HIV

Page 4

Ekstremitas : akral hangat, CRT < 3 detik, tidak ada kelainan bentuk jari tangan dan kaki pada
kedua ekstremitas.
Genitalia : Testis di skrotum, rugae jelas.
Pemeriksaan neurologis :
Refleks Primitif pada bayi

Refleks moro (+)


Refleks rooting-sucking (+)
Refleks babinski (+)
Refleks palmar grasp (+)
Refleks plantar grasp (+)
Refleks tonic neck (+)
Refleks terjun (parachute) (+)

Resume :
Bayi dibawa kontrol ke poli anak dengan riwayat lahir dari ibu positif HIV. Bayi lahir
dari ibu dengan riwayat HIV. Lahir secara seksio sesarea di kamar operasi RSUD Prof. Dr. W.
Z. Johannes Kupang dengan indikasi ibu postif HIV. Bayi bergerak aktif, langsung menangis
dan tidak biru. BBL 2600gr, A/S = 9/10. Saat lahir bayi tidak dilakukan IMD, tidak diberikan
ASI dan observasi di NHCU selama 3 hari. Selanjutnya dipulangkan dengan obat pulang
zidovudin serta orang tua diberikan edukasi untuk memeriksakan bayi untuk memastikan
apakah bayi terinfeksi atau tidak. Pemeriksaan fisik dan neurologis dalam batas normal.
Diagnosa Kerja : Bayi baru lahir dari ibu HIV.
Terapi : Zidovudin 2 x 12 mg selama 6 minggu.

III.

Diskusi
Strategi yang paling tepat untuk mencegah penularan vertikal adalah melarang ibu yang

terinfeksi HIV untuk hamil, dan melakukan terminasi kehamilan bagi ibu terinfeksi HIV. Akan
tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan karena setiap orang pasti menginginkan keturunan.
Kehamilan serta memiliki keturunan adalah hak setiap manusia. Penderita HIV juga memiliki
hak yang sama untuk menikah dan melanjutkan keturunan. Oleh karena itu, agar bayi tidak
terinfeksi HIV maka dilakukan strategi pencegahan.3
Laporan Kasus - Bayi dari Ibu HIV

Page 5

Perhatian utama untuk pengobatan infeksi HIV pada anak saat ini terutama ditujukan
untuk pengobatan profilaksis sejak bayi dalam kandungan. Berbagai protokol pengobatan ibu
HIV (+) pada saat hamil dan persalinan telah berhasil menekan transmisi maternofetal dari 1550% menjadi sekitar 2% yang sangat mengurangi beban baik secara medis maupun secara
ekonomis dan emosional. Selain itu pengobatan profilaksis pada bayi yang lahir dari ibu HIV
(+) memperlihatkan pula kemajuan berarti merupakan pula upaya pencegahan penyakit AIDS
yang selama ini biasanya dalam masa singkat berakhir fatal. Bayi yang terbukti terinfeksi HIV,
dengan atau tanpa kelainan klinis, saat ini telah tersedia berbagai obat anti retrovirus yang
cukup efektif untuk menurunkan jumlah virus (viral load) sampai sehingga dapat memperbaiki
keadaan umum dan kualitas hidup bayi tersebut.4
Telah dikenal beberapa faktor risiko yang dapat mempertinggi angka penularan dari ibu
ke bayi. Faktor risiko tersebut dibagi menjadi faktor ibu, faktor bayi, dan faktor obstetrik.
Untuk mengurangi risiko penularan dari ibu ke bayi maka tata laksana pencegahan infeksi bayi
yang lahir dari ibu terinfeksi HIV sebaiknya dimulai sejak saat bayi di dalam kandungan.
Waktu dan risiko penularan umunya terjadi pada saat hamil, bersalin dan menyusui. Oleh
karena itu strategi pencegahan penularan vertikal dibagi menjadi 3 kelompok untuk
memudahkan tatalaksananya.3
Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari Ibu ke Bayi

Waktu dan Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak

Laporan Kasus - Bayi dari Ibu HIV

Page 6

Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak saat Hamil, Bersalin, dan Menyusui

Diagnosis infeksi HIV bayi baru lahir perlu ditegakkan secepat mungkin sehingga
pemberian

ARV dan terapi tambahan dapat dimulai. Oleh sebab itu perlu dilakukan

pemeriksaan untuk mengetahui apakah bayi sudah terinfeksi HIV atau tidak. Dalam hal ini,
orang tua harus diberikan edukasi untuk memeriksakan anaknya sesuai dengan fasilitas yang
tersedia. Diagnosis dapat dilakukan melalui 2 jenis pemeriksaan yakni, pemeriksaan antibodi
spesifik terhadap HIV dan virologi untuk mengetahui viral load pada bayi. Untuk mendeteksi
IgG yang spesifik terhadap HIV dapat digunakan tes enzyme-linked immunosorbent assay
(ELISA) dan Western blot. Pemeriksaan antibodi spesifik terhadap HIV sedini mungkin dapat
dilakukan pada usia 9-12 bulan karena pada umunya antibodi maternal sudah menurun, namun
jika hasil reaktif maka harus diulang pada usia 18 bulan atau lebih bila bayi tidak mendapatkan
ASI untuk memastikan bayi tidak terinfeksi HIV. Pemeriksaan virologi yakni polymerase chain
reaction (PCR) DNA HIV yang dapat dilakukan pada saat bayi berusia 48 jam, namun menurut
WHO dianjurkan pemeriksaan menggunakan PCR dilakukan pada saat bayi berusia 4-6
minggu. Jika hasil reaktif maka bayi dinyatakan positif HIV, namun jika hasil negatif maka
harus dilakukan pemeriksaan konfirmasi dengan tes antibodi pada saat bayi berusia 18
bulan.3,5
Alur Penegakan Diagnosis HIV pada Bayi5,6

Laporan Kasus - Bayi dari Ibu HIV

Page 7

Strategi Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi


Antenatal
Memberikan ARV
Memperbaiki faktor risiko

Intrapartum
Postnatal
Memberikan ARV
Memberikan ARV
Mengoptimalkan cara Memberikan pengganti ASI
persalinan

(bila keadaan memungkinkan)

Tujuan pemberian ARV pada ibu hamil, di samping untuk mengobati ibu, juga untuk
mengurangi risiko penularan perinatal kepada janin atau neonatus. Ternyata ibu dengan jumlah
virus sedikit di dalam plasma (<1000 salinan RNA/ml), akan menularkan HIV ke bayi hanya
22%, sedangkan ibu dengan jumlah muatan virus banyak menularkan infeksi HIV pada bayi
sebanyak 60%. Jumlah virus dalam plasma ibu masih merupakan faktor prediktor bebas yang
paling kuat terjadinya penularan perinatal.3
Laporan Kasus - Bayi dari Ibu HIV

Page 8

Pada pasien ini, pencegahan telah dilakukan sejak masa antenatal. Hal ini dikarenakan
ibu sudah memeriksakan diri sejak usia kandungan 7 bulan. Selama hamil ibu mengonsumsi
regimen ARV. Menurut keterangan ibu, saat melahirkan ibu juga diberi suntikan obat ARV.
Pada ibu juga dilakukan tindakan bedah sesar yang merupakan salah satu strategi untuk
mencegah transmisi vertikal karena usia kehamilan ibu >36 minggu.5
Setelah lahir, semua bayi yang terpapar HIV harus diberi profilaksis antiretrovirus
untuk mengurangi penularan vertikal. Antivirus profilaksis yang disarankan adalah zidovudin
dan obat ini harus diberikan selama 6 minggu penuh dan semua obat ini harus diberikan
sebelum dipulangkan. Selanjutnya bayi sebaiknya mendapatkan profilaksis kotrimoksasol
untuk mencegah timbulnya penyakit oportunistik yang lain terutama untuk mencegah infeksi
Pneumocystis jiroveci.3,6 Pada pasien ini telah diberikan profilaksis zidovudin dan nevirapin
dosis tunggal. Zidovudin dilanjutkan hingga bayi berusia 6 minggu. Selanjutnya orang tua
diedukasi untuk memeriksakan bayi hingga terbukti tidak terinfeksi HIV.
Bayi seharusnya tetap diberikan imunisasi sesuai jadwal imunisasi dasar. Kecuali bila
timbul tanda-tanda infeksi oportunistik. Beberapa peneliti juga menyatakan bahwa bayi yang
tertular HIV melalui transmisi vertikal masih mempunyai kemampuan untuk memberi respon
imun terhadap vaksinasi sampai umur 1-2 tahun. Namun dianjurkan untuk tidak memberikan
imunisasi dengan vaksin hidup misalnya BCG, polio, campak. Untuk imunisasi polio OPV
(oral polio vaccine) dapat digantikan dengan IPV (inactivated polio vaccine) yang bukan
merupakan vaksin hidup.2 Pada bayi ini belum diberikan imunisasi apapun, oleh karena itu
sebaiknya pada kunjungan pasca persalinan di fasilitas kesehatan dilakukan imunisasi dasar
sesuai jadwal sambil dipantau pemberian profilaksis ARV dan kontrimoksasol serta status
klinis bayi.
Ringkasan
Telah dilaporkan satu pasien laki-laki umur 7 hari dengan diagnosa bayi baru lahir dari
ibu positif HIV. Bayi diberikan pengobatan berupa zidovudin selama 6 minggu dan orang tua
diedukasi untuk memeriksakan bayi segera agar dapat mengetahui sudah terinfeksi HIV atau
tidak.

DAFTAR PUSTAKA

Laporan Kasus - Bayi dari Ibu HIV

Page 9

1. Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA). 2012. p.6.
Available at: http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/94_PMK.pdf
2. Suradi R. Tatalaksana Bayi dari Ibu Pengidap HIV/AIDS. 2003. 4(4). p. 180-185.
Available at: http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/4-4-5.pdf
3. Setiawan IM. Tatalaksana Pencegahan Penularan Vertikal dari Ibu Terinfeksi HIV ke
Bayi yang Dilahirkan. 2009. Majalah Kedokteran Indonesia 59(10). Available at:
http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/690/690
4. Akib AP. Infeksi HIV pada Bayi dan Anak. 2004. Supplement 6(1). Available at:
http://www.healthefoundation.eu/blobs/hiv/Infeksi_HIV_pada_Anak_Nov_14.pdf
5. Pedoman Penerapan Terapi HIV pada Anak. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. 2014. Available at: http://idai.or.id/wp-content/uploads/2015/06/PedomanPenerapan-Terapi-HIV-pada-Anak.pdf
6. Pedoman Tatalaksana Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada Anak di Indonesia.
Departemen Kesehatan RI. 2010.p.3-5.

Laporan Kasus - Bayi dari Ibu HIV

Page 10