Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Laringitis akut adalah infeksi dan inflamasi akut pada laring dan pita suara yang
berlangsung kurang dari 3 minggu. Dalam beberapa kasus, proses autoimun dapat
bermanifestasi di laring bersamaan dengan inflamasi akut lainnya. Laringitis akut merupakan
bentuk radang tenggorokan yang umumnya akan bermanifestasi sebagai flu atau common
cold. Laringitis akut sering dikaitkan sebagai infeksi sekunder dari rhinofaringitis dan infeksi
tenggorokan lain serta infeksi sinus paranasalis. Penyakit ini ditularkan melalui udara dan
paling sering disebabkan oleh infeksi virus, terutama adenovirus dan virus influenza.
Laringitis dapat dikelompokkan menjadi akut dan kronik. Laringitis akut memiliki onset
mendadak dan biasanya dapat sembuh sendiri, sedangkan gejala laringitis yang lebih dari 3
minggu digolongkan menjadi laringitis kronik. Laringitis akut biasanya terjadi mendadak dan
berlangsung dalam kurun waktu kurang dari 7 hari dan muncul dengan gejala dominan
gangguan pernapasan dan demam.1,2
Prevalensi yang tepat dari laringitis akut tidak dapat ditentukan karena banyak pasien
lebih sering menggunakan tindakan konservatif untuk mengobati keluhan yang mereka alami
atau membeli obat sendiri dibandingkan mencari konsultasi medis. Gejala infeksi saluran
pernapasan bagian atas sering menyertai penyakit ini; dengan demikian, pasien terbiasa
mengelola pengobatan mereka sendiri. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa
penderita laringitis umumnya berusia 18-40 tahun, sedangkan pada anak-anak biasanya
ditemukan pada usia 3 tahun keatas. Penyakit ini pada umunya merupakan kelanjutan dari
rinofaringitis akut (common cold) atau merupakan manifestasi dari radang saluran nafas
bagian atas. Pada anak laringitis akut dapat menimbulkan sumbatan saluran nafas, sedangkan
pada orang dewasa tidak secepat pada anak.2
Laringitis akut merupakan penyakit yang biasanya sembuh sendiri dengan tindakan
konservatif maka angka morbiditas dan mortalitas yang signifikan dari penyakit ini tidak
ditemui. Pasien yang awalnya hanya datang dengan infeksi pada laring dan bukan oleh
trauma/penyalahgunaan vokal biasanya juga dapat berakhir dengan kerusakan pita suara dan
menyebabkan suara parau. Ketidaksempurnaan produksi suara pada pasien dengan laringitis
akut dapat diakibatkan oleh penggunaan kekuatan aduksi yang besar atau tekanan untuk
mengimbangi penutupan yang tidak sempurna dari glottis selama episode laringitis akut.
Ketegangan ini menarik pita suara dan mengakibatkan menurunnya produksi suara yang
akhirnya menunda fonasi normal. Pasien laringitis akut memiliki kecenderungan pita suara

yang terus membuka. Hal ini mengindikasikan bahwa pita suara pasien terbuka lebih lama
dan hanya sedikit waktu pita suara berada dalam posisi tertutup yang berkontribusi pada
pembentukan suara serak dan hembusan napas saat berbicara.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 EMBRIOLOGI, ANATOMI DAN FISIOLOGI LARING


2.1.1 EMBIOROLOGI3
Seluruh sistem pernapasan merupakan hasil
pertumbuhan faring primitif. Pada saat embrio
berusia 3,5 minggu suatu alur yang disebut
laringotrakeal groove tumbuh dalam embrio pada
bagian ventral foregut. Alur ini terletak disebelah
posterior dari eminensia hipobronkial dan terletak
lebih dekat dengan lengkung ke IV daripada
lengkung ke III.
Selama

masa

pertumbuhan

embrional

Gambar 1.
Embriologi Laring

ketika tuba yang single ini menjadi dua struktur, tuba yang asli mula-mula mengalami
obliterasi dengan proliferasi lapisan epitel, kemudian epitel diresopsi, tuba kedua dibentuk
dan tuba pertama mengalami rekanulisasi. Berbagai malformasi dapat terjadi pada kedua tuba
ini, misalnya fistula trakeoesofageal. Pada maturasi lanjut, kedua tuba ini terpisah menjadi
esofagus dan bagian laringotrakeal.
Pembukaan laringotrakeal ini adalah aditus laringeus primitif dan terletak diantara
lengkung IV dan V. Aditus laring pada perkembangan pertama berbentuk celah vertikal yang
kemudian menjadi berbentuk T dengan tumbuhnya hipobrachial eminence yang tampak pada
minggu ke tiga dan kemudian akan tumbuh menjadi epiglotis. Sepasang aritenoid yang
tampak pada minggu ke lima dan pada perkembangan selanjutnya sepasang massa aritenoid
ini akan membentuk tonjolan yang kemudian akan menjadi kartilago kuneiforme dan
kartilago kornikulata. Kedua aritenoid ini dipisahkan oleh incisura interaritenoid yang
kemudian berobliterasi.
Ketika ketiga organ ini tumbuh selama minggu ke 5-10, lumen laring mengalami
obliterasi, baru pada minggu ke sembilan kembali terbentuk lumen yang berbentuk oval.
Kegagalan pembentukan lumen ini akan menyebabkan atresia atau stenosis laring. Plika
vokalis sejati dan plika vokalis palsu terbentuk antara minggu ke 8-9. Otot-otot laring pada
mulanya muncul sebagai suatu sfingter intrinsik yang terletak dalam tunas kartilago tiroid dan
krikoid. Selama perkembangan selanjutnya, sfingter ini terpisah menjadi massa otot-otot
tersendiri. Otot-otot laring pertama yang dikenal adalah interaritenoid, ariepiglotika,
krikoaritenoid posterior dan krikotiroid. Otot-otot laring intrinsik berasal dari mesoderm
lengkung brakial ke enam dan dipersarafi oleh N. Rekuren Laringeus. M. Krikotiroid berasal
dari mesoderm lengkung brakial ke empat dan dipersarafi oleh N. Laringeus Superior.

Kumpulan otot ekstrinsik berasal dari eminensia epikardial dan dipersarafi oleh N.
Hipoglosus.
Tulang hioid akan mengalami penulangan pada enam tempat, dimulai pada saat lahir
dan lengkap setelah dua tahun. Katilago tiroid akan mulai mengalami penulangan pada usia
20 sampai 23 tahun, mulai pada tepi inferior. Kartilago krikoid mulai usia 25 sampai 30 tahun
inkomplit, begitu pula dengan aritenoid.

2.1.2 ANATOMI
Laring merupakan bagian terbawah dari saluran napas bagian atas. yang merupakan
suatu rangkaian tulang rawan yang berbentuk corong dan terletak setinggi vertebra cervicalis
IV VI, dimana pada anak-anak dan wanita letaknya relatif lebih tinggi. Laring terletak
dalam aspek anterior leher, dari bagian anterior ke inferior faring dan superior trakea. Fungsi
utamanya adalah untuk melindungi saluran napas bagian bawah dengan
menutup tiba-tiba pada stimulasi mekanik, sehingga menghentikan
respirasi dan mencegah masuknya benda asing ke dalam saluran napas.
Fungsi lain dari laring meliputi produksi suara (fonasi), batuk, manuver Valsalva, dan kontrol
ventilasi, dan bertindak sebagai organ sensorik.3

Gambar 2.
Lokasi Laring
Batas-batas laring berupa sebelah kranial terdapat Aditus Laringeus yang
berhubungan dengan Hipofaring, di sebelah kaudal dibentuk oleh sisi inferior kartilago
krikoid dan berhubungan dengan trakea, di sebelah posterior dipisahkan dari vertebra
cervicalis oleh otot-otot prevertebral, dinding dan cavum laringofaring serta disebelah
anterior ditutupi oleh fascia, jaringan lemak, dan kulit. Sedangkan di sebelah lateral ditutupi
oleh otot-otot sternokleidomastoideus, infrahyoid dan lobus kelenjar tiroid. Laring berbentuk

piramida triangular terbalik dengan dinding kartilago tiroidea di sebelah atas dan kartilago
krikoidea di sebelah bawahnya. Os Hyoid dihubungkan dengan laring oleh membrana
tiroidea. Tulang ini merupakan tempat melekatnya otot-otot dan ligamentum serta akan
mengalami osifikasi sempurna pada usia dua tahun.3,4
Secara keseluruhan laring dibentuk oleh sejumlah kartilago, yakni kartilago tidak
berpasangan (krikoid, tiroid, epiglotis); tiga pasang kartilago aksesoris yang lebih kecil
(aritenoid, corniculate, cuneiform), ligamentum dan sejumlah otot intrinsik dan ekstrinsik. 3,4

(a)

(b)

(a) Kartilago Laring tampak sagital


(b) Kartilago Laring potongan tampak posterior
Lokasi laring dapat ditentukan dengan
inspeksi dan palpasi dimana didapatkannya
kartilago tiroid dan disebut Prominensia Laring
atau disebut juga Adams apple atau jakun yang
merupakan fusi dari dua lamina rektangular yang
terpisah di posterior dan menyatu di garis tengah
anterior. Prominensia laring ini pada pria dewasa
lebih menonjol kedepan karena sudut yang
dibentuk dua lamina tersebut pada pria lebih
lancip (900) dibandingkan pada wanita (1200).4,5

Gambar 3.
Kartilago
tiroidea

Kartilago tiroidea merupakan kartilago hialin yang membentuk dinding anterior dan
lateral laring. Bagian superior dari kartilago tiroidea terdapat lekukan yang disebut thyroid

notch atau incisura tiroidea, dimana di belakang atas membentuk kornu superior yang
dihubungkan dengan os hioid oleh ligamentum tiroidea lateralis, sedangkan dibagian bawah
membentuk kornu inferior yang berhubungan dengan permukaan posterolateral dari kartilago
krikoidea

dan

membentuk

artikulasio

krikoidea.

Dengan

adanya

artikulasio

ini

memungkinkan kartilago tiroidea dapat terangkat ke atas. Di sebelah dalam perisai kartilago
tiroidea terdapat bagian dalam laring, yaitu: pita suara, ventrikel, otot-otot
dan ligamentum, kartilago aritenoidea, kuneiforme serta kornikulata. 3,4
Pita suara (plica vocalis) adalah dua lembar membrana mukosa tipis yang terletak di
atas ligamentum vocale, dua pita fibrosa yang teregang di antara bagian dalam kartilago
tiroidea di bagian depan dan kartilago
aritenoidea di bagian belakang. Pita suara
palsu (plica ventricularis) adalah dua lipatan
membrana mukosa tepat di atas pita suara
sejati. Bagian ini tidak terlibat dalam
produksi suara.3
Gambar 4. Pita suara
Kartilago krikoidea merupakan kartilago hialin yang berada pada bagian terbawah dari
dinding laring. Bagian anterior dan lateralnya relatif lebih sempit daripada bagian posterior.
Kartilago ini berhubungan dengan kartilago
tiroidea tepatnya dengan kornu inferior melalui
membrana

krikoidea

(konus

elastikus)

dan

melalui artikulasio krikoaritenoidea. Di sebelah


bawah melekat dengan cincin trakea I melalui
Gambar 5. Kartilago krikoidea

ligamentum krikotiroidea. Pada keadaan darurat


dapat dilakukan tindakan trakeostomi emergensi

atau krikotomi atau koniotomi pada konus elastikus. Kartilago krikoidea pada dewasa terletak
setinggi vertebra servikalis VI VII dan pada anak-anak setinggi vertebra servikalis III
IV.3,4
Kartilago aritenoid merupakan kartilago hialin yang terdiri dari sepasang kartilago
berbentuk piramid 3 sisi dengan basis berartikulasi dengan kartilago krikoidea yang disebut
artikulasi krikoaritenoid, sehingga memungkinkan pergerakan ke mediolateral dan gerakan
rotasi. Dasar dari piramid ini membentuk 2 tonjolan yaitu prosesus muskularis yang

merupakan tempat melekatnya m. krikoaritenoidea yang terletak di posterolateral, dan di


bagian anterior terdapat prosesus vokalis tempat melekatnya ujung posterior pita suara.
Pinggir posterosuperior dari konus elastikus melekat ke prosesus vokalis. Ligamentum
vokalis terbentuk dari setiap prosesus vokalis dan berinsersi pada garis tengah kartilago
tiroidea membentuk tiga per lima bagian membranosa atau vibratorius pada pita suara. Tepi
dan permukaan atas dari pita suara ini disebut glotis.3,4,5
Kartilago aritenoidea dapat bergerak ke arah dalam dan luar dengan sumbu sentralnya
tetap, karena ujung posterior pita suara melekat pada prosesus vokalis dari aritenoid maka
gerakan kartilago ini dapat menyebabkan terbuka dan tertutupnya glotis. Kalsifikasi terjadi
pada dekade ke 3 kehidupan.3
Kartilago epiglotis adalah kartilago fibroelastis yang berbentuk seperti bet pingpong
dan membentuk dinding anterior aditus laringeus. Epiglottis ini melekat pada bagian
belakang kartilago tiroidea. Tangkainya disebut petiolus dan dihubungkan oleh ligamentum
tiroepiglotika ke kartilago tiroidea di sebelah atas pita suara. Sedangkan bagian atas menjulur
di belakang korpus hioid ke dalam lumen faring sehingga membatasi basis lidah dan laring.
Kartilago epiglotis mempunyai fungsi sebagai pembatas yang mendorong makanan ke
sebelah menyebelah laring.3
Pada laring juga terdapat kartiloga aksesorius, yakni kartilago kuneiforme dan kartilago
kornikulata. Kartilago kuneiforme atau disebut juga kartilago Wrisberg adalah kartilago
fibroelastis kecil yang terletak di superior dari artikulasio krikoartenoid dan terletak di dalam
plika ariepiglotika. Sedangkan kartilago kornikulata atau disebut juga kartilago Santorini
adalah kartilago fibroelastis, kecil, berpasangan dan terletak di superior dari kartilago
aritenoid.3,5
Otot-otot yang menggerakkan laring terdiri atas dua kelompok, yakni ekstrinsik dan
intrinsik.3
Otot-otot ekstrinsik berfungsi menggerakkan laring secara keseluruhan yang terbagi menjadi:
1. Otot-otot suprahioid / otot-otot elevator laring, yaitu:
- M. Stilohioideus

- M. Milohioideus

- M. Geniohioideus

- M. Digastrikus

- M. Genioglosus

- M. Hioglosus

2. Otot-otot infrahioid / otot-otot depresor laring, yaitu:


- M. Omohioideus
- M. Sternokleidomastoideus

- M. Tirohioideus
Gambar 6. Otot-otot ekstrinsik laring
Kelompok otot-otot depresor dipersarafi oleh ansa hipoglossi C2 dan C3 dan penting
untuk proses menelan (deglutisi) dan pembentukan suara (fonasi).3
Otot-otot intrinsik laring menghubungkan kartilago satu dengan yang lainnya dan
berfungsi menggerakkan struktur yang ada di dalam laring terutama untuk membentuk suara
dan bernapas. Otot-otot pada kelompok ini berpasangan kecuali m. interaritenoideus yang
serabutnya berjalan transversal dan oblik. Fungsi otot ini dalam proses pembentukkan suara,
proses menelan dan bernapas. Bila m. interaritenoideus berkontraksi, maka otot ini akan
bersatu di garis tengah sehingga menyebabkan adduksi pita suara.3
Otot-otot yang termasuk dalam kelompok otot
intrinsik adalah:
1. Otot-otot adduktor yang berfungsi untuk menutup pita
suara.
- Mm. Interaritenoideus transversal dan oblik
- M. Krikotiroideus
- M. Krikotiroideus lateral
Gambar 7. Otot-otot intrinsik
2. Otot abduktor yakni M. Krikoaritenoideus posterior yang berfungsi
untuk membuka pita
laring
suara.
3. Otot-otot tensor yang berfungsi menegangkan pita suara:
- Tensor Internus : M. Tiroaritenoideus dan M. Vokalis
- Tensor Eksternus : M. Krikotiroideus
Pada orang tua, m. tensor internus kehilangan sebagian tonusnya sehingga pita suara
melengkung ke lateral mengakibatkan suara menjadi lemah dan serak.3
Anatomi Laring Bagian Dalam3
Cavum laring dapat dibagi menjadi sebagai berikut:
1. Supraglotis (vestibulum superior), yaitu ruangan diantara permukaan atas pita suara
palsu dan inlet laring.
2. Glotis (pars media), yaitu ruangan yang terletak antara pita suara palsu dengan pita
suara sejati serta membentuk rongga yang disebut ventrikel laring Morgagni.
3. Infraglotis (pars inferior), yaitu ruangan diantara pita suara sejati dengan tepi bawah
kartilago krikoidea.

Beberapa bagian penting dari dalam laring :


1. Aditus Laringeus, yaitu pintu masuk ke dalam laring yang dibentuk di anterior oleh
epiglotis, lateral oleh plika ariepiglotika, posterior oleh ujung kartilago kornikulata
dan tepi atas m. aritenoideus.
2. Rima vestibuli yang merupakan celah antarapita suara palsu.
3. Rima glottis, bagian depan merupakan celah antara pita suara sejati, di belakang
antara prosesus vokalis dan basis kartilago aritenoidea.
4. Vallecula, terdapat diantara permukaan anteriorepiglotis dengan basis lidah, dibentuk
oleh plika glossoepiglotika medial dan lateral.
5. Plika ariepiglotika yang dibentuk oleh tepi atas ligamentum kuadringulare yang
berjalan dari kartilago epiglotika ke kartilago aritenoidea dan kartilago kornikulata.
6. Sinus piriformis (Hipofaring) yang terletak antara plika ariepiglotika dan permukaan
dalam kartilago tiroidea.
7. Incisura interaritenoidea, yakni suatu lekukan atau takik diantara tuberkulum
kornikulatum kanan dan kiri.
8. Vestibulum laring, merupakan ruangan yang dibatasi oleh epiglotis, membrana
kuadringularis, kartilago aritenoid, permukaan atas proc. vokalis kartilago aritenoidea
dan m.interaritenoidea.
9. Plika ventrikularis (pita suara palsu), yaitu pita suara palsu yang bergerak bersamasama dengan kartilago aritenoidea untuk menutup glottis dalam keadaan terpaksa,
merupakan dua lipatan tebal dari selaput lendir dengan jaringan ikat tipis di
tengahnya.
10. Ventrikel laring Morgagni (sinus laringeus), yaitu ruangan antara pita suara palsu dan
sejati. Dekat ujung anterior dari ventrikel terdapat suatu divertikulum yang meluas ke
atas di antara pita suara palsu dan permukaan dalam kartilago tiroidea, dilapisi epitel
berlapis semu bersilia dengan beberapa kelenjar seromukosa yang fungsinya untuk
melicinkan pita suara sejati, disebut appendiks atau sakulus ventrikel laring.
11. Plika vokalis (pita suara sejati), struktur yang terdapat di bagian bawah laring. Tiga
per lima bagian dibentuk oleh ligamentum vokalis dan celahnya disebut
intermembranous portion, dan dua per lima belakang dibentuk oleh prosesus vokalis
dari kartilago aritenoidea dan disebut intercartilagenous portion.

Inervasi3

Laring diinervasi oleh cabang N. Vagus


yaitu Nn. Laringeus Superior dan Nn. Laringeus
Inferior (Nn. Laringeus Rekuren) kiri dan kanan.
1. Nn. Laringeus Superior.
Meninggalkan N. vagus tepat di bawah
ganglion nodosum, melengkung ke depan dan
medial di bawah A. karotis interna dan eksterna
yang kemudian akan bercabang dua, yaitu:
-

Cabang

Interna;

bersifat

sensoris,

mempersarafi vallecula, epiglotis, sinus


pyriformis dan mukosa bagian dalam
-

Gambar 7. Nervus yang


menginervasi laring
laring di atas pita suara sejati.
Cabang Eksterna; bersifat motoris, mempersarafi m. Krikotiroid dan m. Konstriktor

inferior.
2. N. Laringeus Inferior (N. Laringeus Rekuren).
Berjalan dalam lekukan diantara trakea dan esofagus, mencapai laring tepat di belakang
artikulasio krikotiroidea. N. laringeus yang kirimempunyai perjalanan yang panjang dan
dekat dengan aorta sehingga mudah terganggu. Merupakan cabang N. vagus setinggi bagian
proksimal A. subklavia dan berjalan membelok ke atas sepanjang lekukan antara trakea dan
esofagus, selanjutnya akan mencapai laring tepat di belakang artikulasio krikotiroidea dan
memberikan persarafan:
-

Sensoris, mempersarafi daerah sub glotis dan bagian atas trakea


Motoris, mempersarafi semua otot laring kecuali M. Krikotiroidea

Vaskularisasi3
Laring mendapat perdarahan dari cabang A. Tiroidea Superior dan Inferior sebagai A.
Laringeus Superior dan Inferior.
1. Arteri Laringeus Superior
Berjalan bersama ramus interna N. Laringeus Superior menembus membrana tirohioid
menuju ke bawah diantara dinding lateral dan dasar sinus piriformis.
2. Arteri Laringeus Inferior
Berjalan bersama N. Laringeus Inferior masuk ke dalam laring melalui area Killian
Jamieson yaitu celah yang berada di bawah M. Konstriktor Faringeus Inferior, di dalam laring
beranastomose dengan A. Laringeus Superior dan memperdarahi otot-otot dan mukosa laring.
Darah vena dialirkan melalui V. Laringeus Superior dan Inferior ke V. Tiroidea
Superior dan Inferior yang kemudian akan bermuara ke V. Jugularis Interna.

(a)

(b)

(a) Sistem Arteri Laring


(b) Sistem Venosum Laring
Sistem Aliran Limfatik3
Laring mempunyai 3 (tiga) sistem penyaluran
limfe, yaitu:
1. Daerah bagian atas pita suara sejati, pembuluh
limfe berkumpul membentuk saluran yang
menembus membrana tiroidea menuju kelenjar
limfe servikal superior profunda. Limfe ini juga
menuju ke superiordan middle jugular node.
2. Daerah bagian bawah pita suara sejati
bergabung dengan sistem limfe trakea, middle
jugular node, dan inferior jugular node.
3. Bagian anterior laring berhubungan dengan
kedua sistem tersebut dan sistem limfe esofagus. Sistem limfe ini penting sehubungan
dengan metastase karsinoma laring dan menentukan terapinya.
Mukosa laring dibentuk oleh epitel berlapis silindris semu bersilia kecuali pada daerah
pita suara yang terdiri dari epitel berlapis gepeng tak bertanduk. Di antara sel-sel bersilia
terdapat sel goblet. Membrana basalis bersifat elastis, makin menebal di daerah pita suara.
Pada daerah pita suara sejati, serabut elastisnya semakin menebal membentuk ligamentum
tiroaritenoidea. Mukosa laring dihubungkan dengan jaringan dibawahnya oleh jaringan ikat

longgar sebagai lapisan submukosa. Kartilago kornikulata, kuneiforme dan epiglotis


merupakan kartilago hialin. Plika vokalis sendiri tidak mengandung kelenjar. Mukosa laring
berwarna merah muda sedangkan pita suara berwarna keputihan.3
2.1.3 FISIOLOGI3
Laring mempunyai 3 (tiga) fungsi dasar yaitu fonasi, respirasi dan proteksi disamping
beberapa fungsi lainnya seperti terlihat pada uraian berikut:
1. Fungsi Fonasi
Pembentukan suara merupakan fungsi laring yang paling kompleks. Suara dibentuk
karena adanya aliran udara respirasi yang konstan dan adanya interaksi antara udara
dan pita suara. Nada suara dari laring diperkuat oleh adanya tekanan udara
pernapasan subglotik dan vibrasi laring serta adanya ruangan resonansi seperti
rongga mulut, udara dalam paru-paru, trakea, faring, dan hidung. Nada dasar yang
dihasilkan dapat dimodifikasi dengan berbagai cara. Otot intrinsik laring berperan
penting dalam penyesuaian tinggi nada dengan mengubah bentuk dan massa ujung
ujung bebas dan tegangan pita suara sejati. Ada 2 teori yang mengemukakan
bagaimana suara terbentuk :
- Teori Neuromuskular
Teori ini sampai sekarang belum terbukti, diperkirakan bahwa awal dari getaran
plika vokalis adalah saat adanya impuls dari sistem saraf pusat melalui N. Vagus,
untuk mengaktifkan otot-otot laring. Menurut teori ini jumlah impuls yang
dikirimkan ke laring mencerminkan banyaknya/frekuensi getaran plika vokalis.
Analisis secara fisiologi dan audiometri menunjukkan bahwa teori ini tidaklah
benar (suara masih bisa diproduksi pada pasien dengan paralisis plika vokalis
-

bilateral).
Teori Myoelastik Aerodinamik.
Selama ekspirasi aliran udara melewati ruang glotis dan secara tidak langsung
menggetarkan plika vokalis. Akibat kejadian tersebut, otot-otot laring akan
memposisikan plika vokalis (adduksi, dalam berbagai variasi) dan menegangkan
plika vokalis. Selanjutnya, kerja dari otot-otot pernapasan dan tekanan pasif dari
proses pernapasan akan menyebabkan tekanan udara ruang subglotis meningkat,
dan mencapai puncaknya melebihi kekuatan otot sehingga celah glotis terbuka.
Plika vokalis akan membuka dengan arah dari posterior ke anterior. Secara
otomatis bagian posterior dari ruang glotis yang pertama kali membuka dan yang
pertama kali pula kontak kembali pada akhir siklus getaran. Setelah terjadi

pelepasan udara, tekanan udara ruang subglotis akan berkurang dan plika vokalis
akan kembali ke posisi saling mendekat (kekuatan myoelastik plika vokalis
melebihi kekuatan aerodinamik). Kekuatan myoelastik bertambah akibat aliran
udara yang melewati celah sempit menyebabkan tekanan negatif pada dinding
celah (efek Bernoulli). Plika vokalis akan kembali ke posisi semula (adduksi)
sampaitekanan udara ruang subglotis meningkat dan proses seperti di atas akan
terulang kembali.
2. Fungsi Proteksi
Benda asing tidak dapat masuk ke dalam laring dengan adanya reflek otot-otot yang
bersifat

adduksi,

sehingga

rima

glotis tertutup. Pada


Gambar 9.
waktu
menelan,
Fungsi laring
pernapasan berhenti
sejenak

akibat

adanya rangsangan
terhadap
yang

ada

epiglotis,

reseptor
pada
plika

ariepiglotika, plika ventrikularis dan daerah interaritenoid melalui serabut afferen N.


Laringeus Superior. Sebagai jawabannya, sfingter dan epiglotis menutup. Gerakan
laring ke atas dan ke depan menyebabkan celah proksimal laring tertutup oleh dasar
lidah. Struktur ini mengalihkan makanan ke lateral menjauhi aditus dan masuk ke
sinus piriformis lalu ke introitus esofagus.
3. Fungsi Respirasi
Pada waktu inspirasi diafragma bergerak ke bawah untuk memperbesar rongga dada
dan M. Krikoaritenoideus Posterior terangsang sehingga kontraksinya menyebabkan
rima glotis terbuka. Proses ini dipengaruhi oleh tekanan parsial CO2 dan O2 arteri
serta pH darah. Bila pO2 rendah akan menghambat pembukaan rima glotis, sedangkan
bila pCO2 tinggi akan merangsang pembukaan rima glotis. Hiperkapnia dan obstruksi
laring mengakibatkan pembukaan laring secara reflektoris, sedangkan peningkatan
pO2 arterial dan hiperventilasi akan menghambat pembukaan laring. Tekanan parsial
CO2darah dan pH darah berperan dalam mengontrol posisi pita suara.
4. Fungsi Sirkulasi

Pembukaan dan penutupan laring menyebabkan penurunan dan peninggian tekanan


intratorakal yang berpengaruh pada venous return. Perangsangan dinding laring
terutama pada bayi dapat menyebabkan bradikardi, kadang-kadang henti jantung. Hal
ini dapat karena adanya reflek kardiovaskuler dari laring. Reseptor dari reflek ini
adalah baroreseptor yang terdapat di aorta. Impuls dikirim melalui N. Laringeus
Rekurens dan Ramus Komunikans N. Laringeus Superior. Bila serabut ini terangsang
terutama bila laring dilatasi, maka terjadi penurunan denyut jantung.
5. Fungsi Fiksasi
Berhubungan dengan mempertahankan tekanan intratorakal agar tetap tinggi,
misalnya batuk, bersin dan mengedan.
6. Fungsi Menelan
Terdapat 3 (tiga) kejadian yangberhubungan dengan laring pada saat berlangsungnya
proses menelan, yaitu pada waktu menelan faring bagian bawah (M. Konstriktor
Faringeus Superior, M. Palatofaringeus dan M. Stilofaringeus) mengalami kontraksi
sepanjang kartilago krikoidea dan kartilago tiroidea, serta menarik laring ke atas
menuju basis lidah, kemudian makanan terdorong ke bawah dan terjadi pembukaan
faringoesofageal. Laring menutup untuk mencegah makanan atau minuman masuk ke
saluran pernapasan dengan jalan menkontraksikanorifisium dan penutupan laring oleh
epiglotis. Epiglotis menjadi lebih datar membentuk semacam papan penutup aditus
laringeus, sehingga makanan atau minuman terdorong ke lateral menjauhi aditus
laring dan maduk ke sinus piriformis lalu ke hiatus esofagus.
7. Fungsi Batuk
Bentuk plika vokalis palsu memungkinkan laring berfungsi sebagai katup, sehingga
tekanan intratorakal meningkat. Pelepasan tekanan secara mendadak menimbulkan
batuk yang berguna untuk mempertahankan laring dari ekspansi benda asing atau
membersihkan sekret yang merangsang reseptor atau iritasi pada mukosa laring.
8. Fungsi Ekspektonrasi
Dengan adanya benda asing pada laring, maka sekresi kelenjar berusaha
mengeluarkan benda asing tersebut.
9. Fungsi Emosi
Perubahan emosi dapat meneybabkan perubahan fungsi laring, misalnya pada waktu
menangis, kesakitan, menggigit dan ketakutan.

2.2 LARINGITIS AKUT


Definisi

Laringitis merupakan infeksi dan inflamasi akut pada laring dan pita suara yang
berlangsung kurang dari 3 minggu. Dalam beberapa kasus, proses autoimun dapat
bermanifestasi di laring bersamaan dengan inflamasi akut lainnya. Laringitis akut merupakan
bentuk radang tenggorokan yang umumnya akan bermanifestasi sebagai flu atau common
cold. Laringitis akut sering dikaitkan sebagai infeksi sekunder dari rhinofaringitis dan infeksi
tenggorokan lain serta infeksi sinus paranasalis. Penyakit ini ditularkan melalui udara dan
paling sering disebabkan oleh infeksi virus, terutama adenovirus dan virus influenza.1
Etiologi
Laringitis akut dapat disebabkan oleh penyalahgunaan vokal, infeksi bakteri maupun
virus, gangguan pada organ lain, misalnya pada penyakit gastroesophageal reflux disease
(GERD) dan juga dapat disebabkan oleh agen berbahaya eksogen. Pada umumnya laringitis
akut disebabkan oleh infeksi virus influenza (tipe A dan B), parainfluenza (tipe 1,2,3),
rhinovirus dan adenovirus. Penyebab lain adalah Haemofilus influenzae, Branhamella
catarrhalis, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae.
Pada beberapa kasus, proses autoimun juga dapat bermanifestasi di laring. Biasanya laringitis
akut merupakan suatu fase infeksi virus pada saluran napas atas yang dapat sembuh sendiri,
faktor prediposisi dapat berupa rhinitis kronik, penyalahgunaan alkohol, tembakau,
pemakaian suara yang berlebihan, serta tekanan fisik dan psikologis yang tidak semestinya.
Edema mukosa laring merupakan patologi yang paling umum pada penyakit ini.2,6,7
Epidemiologi
Prevalensi yang tepat dari laringitis akut tidak dilaporkan karena banyak pasien sering
menggunakan tindakan konservatif untuk mengobati peradangan mereka daripada mencari
konsultasi medis. Hal ini karena laringitis biasanya akan sembuh sendiri pada 7-10 hari,
meskipun tanpa pengobatan spesifik. Gejala infeksi saluran pernapasan bagian atas sering
menyertai penyakit ini; dengan demikian, pasien terbiasa mengelola pengobatan mereka
sendiri.2
Patofisiologi
Ketika terjadi infeksi dan inflamasi, mukosa laring akan menunjukkan semua tandatanda peradangan akut dan terdapat ekstravasasi cairan. Pada tahap awal infeksi, leukosit
polimorfonuklear akan meningkat, kemudian diikuti limfosit dan sel plasma yang
mendominasi gambaran patologi anatomi. Otot-otot yang mendasari dan bahkan
perikondrium dan sendi krikoaritenoid dapat dipengaruhi oleh proses ini. Area epitel dapat

dihancurkan. Biasanya akan terjadi pemulihan penuh, namun pada beberapa kasus akan
terjadi fibrosis dan terdapat kerusakan permanen mukosa laring yakni hilangnya struktur
aslinya. Hal ini bisa menjadi awal dari radang tenggorokan kronis.8
Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi bakteri umumnya merupakan
infeksi sekunder. Laringitis biasanya disertai rinitis atau nasofaringitis. Awitan infeksi dapat
berkaitan dengan pemajanan terhadap perubahan suhu mendadak, malnutrisi, dan imunitas
yang rendah. Laringitis umum terjadi pada musim dingin dan mudah ditularkan. Ini terjadi
seiring dengan menurunnya daya tahan tubuh dari host serta prevalensi virus yang meningkat.
Laringitis ini biasanya didahului oleh faringitis dan infeksi saluran nafas bagian atas lainnya.
Hal ini akan mengakibatkan iritasi mukosa saluran nafas atas dan merangsang kelenjar mukus
untuk memproduksi mukus secara berlebihan sehingga menyumbat saluran napas. Kondisi
tersebut akan merangsang terjadinya batuk hebat yang bisa menyebabkan iritasi pada laring.
Dan memacu terjadinya inflamasi pada laring tersebut. Inflamasi ini akan menyebabkan
nyeri akibat pengeluaran mediator inflamasi yang jika berlebihan akan merangsang
peningkatan suhu tubuh.1
Peradangan pada laring akan diikuti dengan peradangan pada pita suara yang kemudian
menjadi lebih edematous, sehingga mempengaruhi fungsinya. Tekanan ambang batas untuk
fonasi dapat meningkat, sehingga fonasi normal menjadi sulit dan menimbulkan suara serak.
Afonia terjadi ketika pasien tidak dapat mengatasi tekanan ambang fonasi yang diperlukan
untuk menggerakan pita suara. Membran pita suara biasanya merah dan bengkak. Selain itu
terdapat penebalan yang tidak teratur di sepanjang lipatan pita suara. Beberapa peneliti
meyakini bahwa pita suara tidak menebal, tetapi hanya menegang sehingga tindakan
pengobatan konservatif cukup untuk mengatasi peradangan laring dan mengembalikan pita
suara pada aktivitas getaran normal.2

Gambar 10.
Laringitis

Gejala Klinis
Pada laringitis akut terdapat gejala radang umum, tumor, rubor, kalor, dolor, dan
functio lesia. Gejala infeksi dan inflamasi umum lain seperti demam, malaise, dan gejala
rinofaringitis. Gejala lokal seperti suara parau dimana digambarkan pasien sebagai suara yang
kasar atau suara yang susah keluar atau suara dengan nada lebih rendah dari suara yang biasa/
normal dimana terjadi gangguan getaran serta ketegangan dalam pendekatan membran pita
suara kiri dan kanan sehingga menimbulkan suara menjada parau bahkan sampai tidak
bersuara sama sekali (afoni). Pasien dengan laringitis akut juga dapat mengalami, disfagia,
odinofagi, dispnea, rhinorrhea, dan postnasal drip. Gejala fokal pada pasien biasanya
berlangsung 7-10 hari. Jika gejalanya menetap lebih dari 3 minggu, pemeriksaan harus
dilanjutkan.2,6,8
Keluhan umum pada laringitis akut, diantaranya8:
1. Nyeri tenggorokan seperti nyeri ketika menelan atau berbicara.
2. Gejala radang umum seperti demam dan malaise.
3. Batuk kering yang lama kelamaan disertai dengan dahak kental (coryza).

4. Gejala commmon cold seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulit menelan,
sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk dan demam dengan temperatur
yang tidak mengalami peningkatan dari 38 derajat celsius.
5. Gejala influenza seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulit menelan, sumbatan
hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk, peningkatan suhu yang sangat berarti
yakni lebih dari 38 derajat celsius, dan adanya rasa lemah, lemas yang disertai dengan
nyeri di seluruh tubuh.
6. Sesak nafas dan stridor.
7. Pada pemeriksaan fisik akan tampak mukosa laring yang hiperemis, membengkak
terutama dibagian atas dan bawah pita suara dan juga didapatkan tanda radang akut
dihidung atau sinus paranasal atau paru.
8. Obstruksi jalan napas apabila ada udem laring diikuti udem subglotis yang terjadi dalam
beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak berupa anak menjadi gelisah, air
hunger, sesak semakin bertambah berat, pemeriksaan fisik akan ditemukan retraksi
suprasternal dan epigastrium yang dapat menyebabkan keadaan darurat medik yang
dapat mengancam jiwa anak.
Diagnosa Diferensial9
1.

Laringitis spasmodik (stridulous laryngitis) atau disebut juga spasmodic dysphonia


Merupakan keadaan yang cukup umum terjadi. Penyebab belum dapat ditentukan
dengan pasti, gejala awal dari infeksi virus dan atau demam yang diamati. Kesulitan
bernapas, dengan lebih atau onset kurang tiba-tiba, di malam hari atau di malam dan di
waktu tidur. Gejala sering mereda secara spontan, dan ditingkatkan dengan perubahan
kelembaban udara atau usaha mencari bantuan medis. Riwayat pribadi atau keluarga

2.

atopi atau asosiasi dengan gastroesophageal reflux masih diteliti.


Epiglotitis akut
Umumnya pasien akan datang dengan keluhan demam tinggi >38 derajat celsius, rasa
sakit atau kesulitan dalam menelan saliva

3.

(sialorrhea), tidak adanya suara serak,

kelemahan atau tanda-tanda infeksi sistemik.


Malformasi saluran napas kongenital
Malformasi yang paling sering termasuk laringomalasia, trakeomalasia dan stenosis
subglotis. Episode berulang laringitis pada anak, laringitis yang berlangsung selama lebih
dari lima hari di tahun pertama kehidupan atau laringitis akut pada bayi baru lahir

4.

5.

memiliki asosiasi dengan malformasi saluran napas kongenital.


Benda asing dalam laring
Pasien akan datang dengan riwayat episode awal sesak napas, tersedak, batuk terusmenerus atau sianosis. Sering terjadinya dengan gejala dan onset yang mendadak.
Laringotrakheitis bakteri

Paling sering akibat infeksi sekunder dari virus penyebab URTI (Upper Respiratory
Tract Infection). Terjadi demam tinggi, kemungkinan infeksi sistemik dan biasanya telah
mengalami kegagalan terapi suportif atau konservatif.
6.

Laringitis difteri
Prevalensi terbanyak terutama pada anak dengan vaksinasi yang tidak lengkap terhadap
difteri. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan plak berwarna putih dan udah berdarah

7.

di nasofaring serta gejala infeksi sistemik.


Alergi laryngoedema
Terdapat riwayat penggunaan obat sistemik atau kontak dengan zat, termasuk sediaan
hirup yang mengakibatkan reaksi anafilaksis.

Pemeriksaan Penunjang
Umumnya pemeriksaan laboratorium dan radiografi tidak dibutuhkan, namun apabila
terdapat sekret pada orofaring dapat dilakukan swab orofaring dan dilakukan kultur serta
pemeriksaan gram untuk mengetahui penyebab spesifiknya sehingga pengobatan yang
dilakukan tepat sasaran.2
Pemeriksaan laboratorium akan memberikan gambaran darah normal. Jika disertai
infeksi sekunder, leukosit dapat meningkat. Pada pemeriksaan laringoskopi indirek akan
ditemukan mukosa laring yang sangat sembab, hiperemis dan tanpa membran serta tampak
pembengkakan subglotis yaitu pembengkakan jaringan ikat pada konus elastikus yang akan
tampak dibawah pita suara.8
Pada keadaan tertentu dapat dilakukan pemeriksaan penunjang/tambahan jika ingin
membandingkan dengan diagnosa diferensialnya, misalnya X-ray servikal yang menunjukkan
epiglotis yang normal dan lumen segmen subglotis yang menyempit (steeple sign) merupakan
tanda infeksi virus. Benda asing pada laring akan memberi gambaran radiopak. Selain itu
juga dapat dilakukan

bronkoskopi fleksibel untuk mengetahui ada tidaknya malformasi

saluran napas, namun pemeriksaan ini merupakan kontraindikasi pada laringitis yang
disebabkan oleh virus.9

Terapi
Umumnya penderita penyakit ini tidak perlu masuk rumah sakit, namun ada indikasi
masuk rumah sakit apabila8:
Usia penderita dibawah 3 tahun
Tampak toksik, sianosis, dehidrasi atau exhausted

Diagnosis penderita masih belum jelas


Perawatan dirumah kurang memadai
Pengobatan laringitis akut tergantung pada ada tidaknya infeksi bersamaan pada
saluran pernapasan bagian atas dan tingkat perubahan lokal dalam laring. Pengobatan di
semua kasus terdiri dari tindakan-tindakan suportif seperti mengistirahatkan pita suara (puasa
berbicara), menghindari udara dingin dan lembab, tembakau dan alkohol. Sumbatan akibat
lendir/dahak dapat dibantu dengan pemberian agen mukolitik. Dengan langkah-langkah ini
sebagian besar kasus laringitis virus mereda dalam beberapa hari. Kadang-kadang diperlukan
kodein untuk menekan batuk yang berlangsung terus-menerus.1
Pada laringitis akibat infeksi bakteri, umumnya akan menyebabkan terbentuknya
nanah atau eksudat yang dapat menjadi indikasi pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik
harus spektrum luas apabila tidak dilakukan kultur dan uji sensitivitas sebelumnya. Aplikasi
lokal dengan semprotan dengan agen astringent harus dihindari. Perlu istirahat vokal penuh,
ketidaknyamanan berbicara dapat diatasi dengan semprotan anestesi lokal, namun harus
selalu dibatasi untuk satu atau dua kali pemakaian untuk mencegah iritasi lebih lanjut.
Seorang pasien yang merokok harus berhenti merokok dalam rangka untuk mempercepat
episode laringitis akut. Sebagian besar kasus laringitis akut adalah penyakit yang berlangsung
singkat dan dapat sehingga dengan pengobatan yang memadai serta tindakan suportif dapat
mencegah kerusakan permanen pada mukosa laring yang dapat menjadi awal dari radang
tenggorokan kronis.1
Pada anak-anak, gejala dan tanda-tanda radang tenggorokan akut mungkin jauh lebih
mengkhawatirkan karena lumen laring jauh lebih kecil dan jaringan laring lebih rentan
terhadap edema sehingga dapat menyebabkan kesulitan bernapas.1
Meskipun tingkat isolasi tinggi dari organisme pada nasofaring, sebuah penelitian
double-blind controlled randomyzed pada pasien dengan laringitis akut mengungkapkan
bahwa pemberian penisilin V tidak menguntungkan dalam pengobatan laringitis akut. Studi
ini menemukan bahwa penisilin V tidak menurunkan jumlah bakteri atau meringankan gejala.
Namun, untuk pasien berisiko tinggi dan pasien dengan gejala berat, antibiotik dapat
dipertimbangkan dan antibiotik spesifik hanya digunakan jika telah dilakukan kultur atau
pewarnaan Gram. Penelitian lain oleh Reveiz dan Cardona, dari Cochrane Database of
Systematic, menunjukkan bahwa terapi antibiotik tampaknya tidak efektif untuk laringitis
akut. Pengobatan untuk laringitis yang disebabkan oleh gastroesophageal reflux (GERD)
meliputi modifikasi diet dan gaya hidup serta obat antireflux dan antasida yang menekan
produksi asam, seperti H2-reseptor dan proton pump inhibitor (PPI) agent.9

Langkah-langkah untuk meringankan iritasi dan suara serak pada episode akut
laringitis, diantaranya10,11:
Sering minum air untuk melembabkan tenggorokan
Makan makanan yang lunak
Suara serak atau lemah terkait dengan dingin biasanya akan menghilang setelah 2 sampai
3 hari
Hindari berbicara atau menyanyi terlalu keras
Jika perlu untuk berbicara dalam kelompok besar, gunakan mikrofon atau pengeras suara
Istirahatkan pita suara kapanpun dapat dilakukan dan hindari berbisik atau memaksa

mengeluarkan suara
Hindari merokok dan asap rokok
Batasi alkohol dan kafein
Hindari makan makanan pedas

Prognosis
Prognosis untuk penderita laringitis akut ini umumnya baik dan pemulihannya selama satu
minggu. Namun pada anak khususnya pada usia 1-3 tahun penyakit ini dapat menyebabkan
udem laring dan udem subglotis sehingga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas dan bila
hal ini terjadi dapat dilakukan pemasangan pipa endotrakeal atau trakeostomi.8

BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Laringitis akut merupakan kelainan pada laring yakni peradangan akut pada laring
yang berlangsung kurang dari 3 minggu. Penyakit ini pada orang dewasa merupakan penyakit
yang ringan saja namun tidak bagi penderita anak kurang dari 3 tahun. Hal ini dikarenakan
pada anak dapat menimbulkan udem laring dan subglotis sehingga obstruksi jalan nafas yang

sangat berbahaya dalam waktu beberapa jam saja penderita akan mengalami obstruksi total
jalan nafas sementara itu pada orang dewasa tidak terjadi secepat pada anak. Laringitis akut
ini dapat terjadi dari kelanjutan infeksi saluran nafas seperti influenza atau common cold.
Penyakit ini dapat terjadi karena infeksi virus atau bakteri, gangguan organ lain, perubahan
cuaca, pemakaian suara yang berlebihan, trauma, bahan kimia, merokok dan minum
minuman alkohol dan alergi. Adapun gejala klinis yang sering kita temukan pada laringitis
akut ini adalah suara parau bahkan sampai hilangnya suara atau afoni, sesak napas bahkan
stridor, nyeri tenggorokan, nyeri menelan dan berbicara, gejala common cold, dan pada
pemeriksaan fisik kita akan menemukan mukasa laring yang hiperemis, membengkak
terutama dibagian atas dan bawah pita suara dan juga didapatkan tanda radang akut dihidung
atau sinus paranasal atau paru. Obstruksi jalan nafas akan ditemukan apabila ada udem laring
diikuti udem subglotis yang terjadi dalam beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak
berupa anak menjadi gelisah, air hunger, sesak semakin bertambah berat, dan pada
pemeriksaan fisik akan ditemukan retraksi suprasternal dan epigastrium yang dapat
menyebabkan keadaan darurat medik yang dapat mengancam jiwa anak.
Untuk penatalaksaan dari laringitis akut ini adalah pemberian antibiotik yang adekuat
dan kortikosteroid. Umumnya penderita laringitis akut tidak perlu dirawat dirumah sakit
namun ada indikasi dirawat di rumah sakit apabila penderitanya berumur kurang dari setahun,
tampak toksik, sianosis, dehidrasi atau exhausted, diagnosis penderita masih belum jelas dan
perawatan di rumah kurang memadai.
Prognosis untuk penderita laringitis akut ini umumnya baik dan pemulihannya selama
satu minggu. Namun pada anak khususnya pada usia 1-3 tahun penyakit ini dapat
menyebabkan udem laring dan udem subglotis sehingga dapat menimbulkan obstruksi jalan
nafas dan bila hal ini terjadi dapat dilakukan pemasangan endotrakeal atau trakeostomi.
3.2 PENUTUP

Telah dilaporkan suatu tinjauan pustaka tentang laringitis akut. Laringitis akut dapat
ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang bila perlu.
Berdasarkan tinjauan tersebut telah dibahas mengenai laringitis akut meliputi: epidemiologi,
etiologi, patofisiologi, gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis
banding, penatalaksaan dan prognosis.
Diharapkan tinjauan pustaka ini dapat dijadikan suatu pedoman dalam mengenal dan
mengobati pasien laringitis akut, serta mencegahnya berlanjut menjadi laringitis kronis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Van Den Broek P. Acute and Chronic Laryngitis; Leucoplakia. Available at:
http://famona.sezampro.rs/medifiles/otohns/scott/scott506.pdf
2. Shah
KR.
Acute
Laryngitis
Overview.
2015.

Available

at:

http://emedicine.medscape.com/article/864671-overview
3. Sofyan F. Embriologi, Anatomi, dan Fisiologi Laring. Medan. Bagian Ilmu Penyakit
THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2011.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28894/1
4. Vashishta
R.
Larynx
Anatomy.
2015

Available at:

Available

at:

http://emedicine.medscape.com/article/1949369-overview
5. B. Simpson. Anatomy and Physilogy of The Larynx. Chapter 1, p. 3-8. 2008. Available
at: http://link.springer.com/chapter/1
6. Hermani B, Abdurrachman H, Cahyono A. Kelainan Laring. Dalam: Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Editor: Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Edisi Keenam. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2012
7. Reveiz L, Cardona AF. Antibiotics for Acute Laryngitis in Adults. 2015. Available at:
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/14651858.CD004783.pub5/full
8. Nazmi LK, Rahayu
RP. Laringitis Akut. Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah

Malang.

2014.

Available

at:

https://www.scribd.com/doc/295682273/254180607-laringitis-akut
9. Pitrez PM, Pitrez JL. Acute Upper Respiratory Tract Infection. Journal de Pediatria.
Volume 79, p. S77-S86. 2003. Available at: www.jped.com.br/conteudo/03-79S77/ing.pdf
10. Health Topic on the UHS. Laryngitis. University Health Service, University of
Rochester.

Available

https://www.rochester.edu/uhs/healthtopics/GeneralHealth/files/Laryngitis.pdf
11. Waynesburg University Student Health Services. Laryngitis. Available
https://myconnect.waynesburg.edu/c/document_library.pdf

at:
at: