Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH UTS BIOLOGI MOLEKULAR

APLIKASI DARI DERIVATIF PATI DALAM SISTEM NANODRUG DELIVERY

Oleh:
Kelompok 10
Ananda Santia Citra Dewi

(1406607855)

Fianna Utomo

(1406552894)

Nur Safitrah Setiawati

(1406607741)

Program Studi Teknik Kimia


Departemen Teknik Kimia

Fakultas Teknik, Universitas Indonesia


Depok
April 2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang pemanfaatan turunan karbohidrat
sebagai penghantaran obat nano tepat pada waktunya. Penulisan makalah ini bertujuan untuk
memenuhi tugas untuk Ujian Tengah Semester 4 mata kuliah Biologi Molekuler dan juga
sebagai suatu media pembelajaran mandiri untuk dapat lebih memahami tentang pengaplikasian
turunan karbohidrat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penulisan makalah ini, kami ingin mendapatkan bantuan, dukungan, dan
bimbingan dari berbagai pihak, sehingga pada akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan
baik. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada:
- Ibu Rita Arbianti sebagai dosen mata kuliah Biologi Molekular
- Teman-teman kelompok 10 yang dalam waktu singkat bisa kompak dan saling bantu dalam
penyelesaian tugas ini.
- Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini yang tidak dapat kami
sebutkan satu per satu.
Selanjutnya, kami juga menyadari bahwa baik dari segi sistematika penyusunan maupun
materi yang dipaparkan masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami berharap agar
adanya kritik dan saran yang sekiranya dapat membantu kami untuk perbaikan di masa yang
akan datang. Semoga makalah ini dapat memberikan kebermanfaatan, Amin.

Depok, 6 April 2016

Kelompok 10 ...

ii

DAFTAR ISI

Halaman Cover .............................................................................................................................. i


Kata Pengantar ............................................................................................................................. ii
Daftar Isi ....................................................................................................................................... iii
Daftar Gambar ............................................................................................................................. iv
Daftar Tabel ................................................................................................................................. iv
Pendahuluan ...................................................................................................................................1
A. Latar Belakang .......................................................................................................................1
B. Tujuan Makalah......................................................................................................................2
C. Manfaat Makalah....................................................................................................................2
Isi .....................................................................................................................................................3
A. Nanodrug Delivery ................................................................................................................3
1. Nanopartikel dalam Drug Delivery ....................................................................................3
2. Toksisitas dari Sistem Nanodrug Delivery ........................................................................5
3. Peran Eksipien dalam Nanodrug Delivery ........................................................................6
B. Karbohidrat (Pati) dalam Sistem Nanodrug Delivery ...........................................................7
1. Pati (starch) ........................................................................................................................7
2. Mikropartikel Pati ..............................................................................................................9
2.1. Penggunaan Polyacryl Starch Microparticles pada Vaksin Adjuvant (Penunjang) ....9
2.2. Penunjang (Adjuvants) Mukosa ................................................................................10
2.3. Polyacryl Starch Microparticels ...............................................................................12
3. Mikroenkapsul Pati ...........................................................................................................14
4. Nanopartikel Pati ..............................................................................................................17
Daftar Pustaka .............................................................................................................................20
iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ikatan Glikosidik dari Pati .............................................................................................8


Gambar 2. Struktur Amilosa ............................................................................................................8
Gambar 3. Struktur Amilopektin .....................................................................................................9
Gambar 4. Persiapan dari Mikropartikel Pati dan Konjugasi dari Antigen (sumber dari Niclas
Rydell). CDI, carbonyldiimidazol; TEMED, N,N,N',N'-tetramethylethylenediamine ..................13

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Beberapa Nanopartikel dan Aplikasinya ...........................................................................4


Tabel 2. Preparasi Mikroenkapsul .................................................................................................15
Tabel 3. Preparasi Nanopartikel .....................................................................................................17

iv

1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nanoscience sudah didefinisikan secara bervariasi dari berbagai sumber, buku, jurnal,
dan web, namun satu hal yang sama; semuanya berkaitan dengan studi tentang kontrol
materi pada keadaan atomik dan molekular. Penyelidikan pada tingkat molekular biasanya
berada pada kisaran di bawah 100 nm. Dalam istilah sederhana, nanometer adalah 1 miliar
meter dan sifat material pada tingkat atomik atau subatomik dibedakan secara signifikan dari
sifat material yang sama yang ukurannya lebih besar. Meski sifat nanomaterial yang
dipelajari adalah untuk aplikasi secara fisika, mekanika, electrikal, magnetik, kimia, dan
biologi, namun kini perhatian para peneliti telah diarahkan untuk pengaplikasian
nanomaterial di bidang farmasi, terutama di bidang penghantaran obat. Hal ini dikarenakan
adanya tantangan dalam penggunaan material berukuran besar dalam penghantaran obat,
beberapa diantaranya adalah buruknya bioavailabilitas, stabilitas in vivo, kelarutan,
penyerapan usus, penghantaran yang sustain dan sesuai target ke tempat pengerjaan,
efektivitas terapi, efek samping yang umum, dan fluktuasi konsentrasi plasma obat.
Belakangan ini, beberapa penelitian dalam penghantaran obat nano (nano drug delivery)
telah dirancang untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut melalui pengembangan dan
pembuatan nanostruktur. Ada beberapa laporan bahwa nanostruktur memiliki kemampuan
untuk melindungi obat dari degradasi di dalam sistem gastrointestinal. Teknologi ini
memungkinkan penghantaran obat ke berbagai area tubuh. Teknologi ini juga
memungkinkan penghantaran obat yang sangat tidak larut dalam air dan dapat menyediakan
sarana untuk melakukan jalan memotong (bypass) organ hati, yang dapat mencegah efek
lintas pertama obat. Efek lintas obat ini adalah fenomena metabolisme obat dimana
konsentrasi obat berkurang sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Obat yang hilang karena
proses absorpsi ini dipengaruhi oleh dinding usus dan hati. (Rowland M, 1972) Influence of
route of administration on drug availability. Journal of Pharmaceutical Sciences 61 (1):
7074))
Nanoteknologi meningkatkan bioavailabilitas oral obat karena mekanisme penyerapan
khususnya, seperti endositosis absorptif dan dapat berada dalam sirkulasi darah dalam waktu

2
yang lama, melepaskan obat secara terkendali, menyebabkan kurangnya fluktuasi
konsentrasi plasma, dan meminimalkan efek samping. Telah dilaporkan juga bahwa oleh
karena ukuran dari nanostruktur yang sangat kecil (nanoscale), nanoteknologi bisa
menembus jaringan dan dengan mudah dapat diserah oleh sel, memungkinkan penghantaran
obat yang efisien ke target tempat pengerjaan. Penyerapan dari nanostruktur mencapai 15250 lebih hebat daripada mikropartikel dalam jangkauan 1-10 mikrometer. Nanoteknologi
meningkatkan performa dan penerimaan dari bentuk sediaan (acceptability of dosage forms)
dengan meningkatkan efektivitas, keamanan, kepatuhan pasien, dan juga mengurangi biaya
kesehatan secara besar-besaran. Nanoteknologi juga dapat menambah performa obat yang
tidak bisa lolos fase uji klinik. Nanoteknologi dengan jelas menjanjikan untuk melayani
sebagai pembawa penghantar obat yang terpilih untuk obat konvensional yang lebih
menantang yang digunakan untuk pengobatan penyakit kronis seperti kanker, asma,
hipertensi, HIV, dan diabetes. Meski demikian, keuntungan dari penghantar obat nano
begitu banyak seperti yang dijabarkan di atas, namun tantangan yang harus dihadapi dari
penggunaan teknologi ini adalah dari segi keamanannya.

B. Tujuan Makalah
1.

Mempelajari mengenai nanodrug delivery.

2.

Mempelajari mengenai aplikasi karbohidrat/aplikasi pati pada sistem nanodrug delivery.

3.

Mempelajari mengenai mikropartikel pati, mikrokapsul pati, dan nanopartikel pati.

C. Manfaat Makalah
1.

Menjelaskan mengenai nanodrug delivery dan keamanannya.

2.

Menjelaskan mengenai aplikasi karbohidrat/aplikasi pati pada sistem nanodrug delivery.

3.

Menjelaskan mengenai mikropartikel pati, mikrokapsul pati, dan nanopartikel pati serta
kegunaannya dalam sistem nanodrug delivery.

3
ISI

A. Nanodrug Delivery
1. Nanopartikel dalam Drug Delivery
Perhatian dalam nanoteknologi meningkat secara pesat dalam bidang ilmiah
termasuk penghantaran obat, nanoimaging, dan aplikasi yang berhubungan dengan
medis lainnya. Nanopartikel dapat dibuat dalam banyak bentuk dan ukuran yang
berbeda-beda dengan menggunakan material organik dan inorganik. Nanopartikel
didefinisikan sebagai partikel kurang dari 100nm dalam diameter yang menimbulkan
sifat baru atau meningkatkan size dependent properties dibandingkan dengan partikel
berukuran besar dari bahan yang sama. Hal tersebut menyebabkan obat dapat
ditingkatkan bioavailibilitasnya sehingga proporsional dengan dosis dan juga
mengecilkan ukuran sediaan serta meningkatkan stabilitas obat.
Oleh

karena

penggunaan

nanopartikel

dalam

penghantaran

obat

dan

nanomedicine selalu dibutuhkan untuk pemberian secara parenteral, sehingga pada


penggunaannya, pembawa polimer harus bersifat biokompatibel dan biodegradable.
Keuntungan menggunakan nanopartikel sebagai sistem penghantaran obat
menurut Mohanraj dan Chen, 2006:
Ukuran partikel dan sifat permukaan dari nanopartikel dapat dimanipulasi dengan
mudah untuk mencapai target obat baik secara aktif maupun pasif setelah
pemberian secara parenteral.
Nanopartikel penghantar obat dapat mengontrol dan memperpanjang pelepasan
obat pada saat tranportasi dan pada sisi lokalisasi, mengubah distribusi organ dari
obat, dan berikutnya mempengaruhi klirens dari obat sehingga dapat mencapai
peningkatan efikasi terapetik obat dan mengurangi efek samping.
Pelepasan secara terkontrol dan sifat degradasi partikel dapat diatur sesuai dengan
pemilihan jenis matriks. Drug loading secara relatif tinggi dan obat dapat
dimasukkan ke dalam sistem tanpa reaksi kimia, ini merupakan faktor penting
untuk memelihara aktivitas obat.

4
Mengarahkan obat ke organ target dapat dicapai dengan melekatkan ligan target
pada permukaan partikel atau menggunakan tuntunan magnet.
Sistem dapat diberikan dalam berbagai rute seperti oral, nasal, parenteral,
intraokular, dan lain-lain.
Isu utama dalam pencarian zat pembawa untuk sistem drug delivery berkaitan
dengan topik-topik berikut yang merupakan prasyarat dasar untuk desain material baru.
Topik-topik tersebut adalah pengetahuan tentang:
Penggabungan dan pelepasan obat
Stabilitas formulasi dan umur simpan obat
Biokompatibilitas
Biodistribusi dan targeting
Fungsionalitas
Selain itu, ketika digunakan hanya sebagai pembawa, efek samping yang mungkin
terjadi dari bahan sisa setelah pemberian obat harus dipertimbangkan juga. Pada hal ini,
nanopartikel biodegradable yang optimal adalah nanopartikel biodegradable dengan
umur yang terbatas selama terapi diperlukan. Tabel 1 menunjukkan beberapa
nanopartikel dan aplikasinya dalam ilmu kehidupan.
Tabel 1. Beberapa Nanopartikel dan Aplikasinya
Kelas Partikel

Material

Aplikasi

Material alami atau derivatif

Kitosan

Drug/Gene delivery

Dextran
Gelatin
Aglinat
Liposom
Pati
Dendrimers

Polimer bercabang

Drug delivery

Fullerenes

Carbon based carriers

Photodynamics
Drug delivery

5
Polymer carriers

Asam polilactic

Drug/Gene delivery

Poli(cyano)akrilat
Polyethyleneimine
Blok kopolimer
Polikaprolakton
Ferrofluids

SPIONS

Imaging (MRI)

USPIONS
Quantum dots

Selenida Cd/Zn

Imaging
Diagnosis in vitro

Lain-lain

Nanopartikel silika

Gene delivery

Campuran dari bahanbahan di atas

Tujuan penggunaan nanoparticle entrapment dari obat adalah untuk peningkatan


pengiriman ke atau serapan oleh sel-sel target, dan/atau pengurangan toksisitas dari obat
bebas ke organ non-target. Kedua situasi akan menghasilkan peningkatan indeks
terapeutik dan margin antara dosis menghasilkan keberhasilan terapi (misalnya;
kematian sel tumor). Untuk tujuan-tujuan tersebut, diperlukan nanopartikel yang
berumur panjang dan bersifat target-specific. Kebanyakan senyawa yang telah diteliti
adalah polimer biodegradable yang menghasilkan pelepasan obat setelah degradasi
terjadi.

2. Toksisitas dari Sistem Nanodrug Delivery


Walaupun sistem nanodrug delivery memiliki potensial yang besar dalam dunia
kesehatan, keamanan pemakaian sistem tersebut kepada tubuh manusia merupakan suatu
keprihatinan. Telah dilaporkan bahwa nanopartikel yang lebih kecil menunjukkan
peningkatan toksisitas oleh karena luas permukaannya yang juga meningkat (Guzmn,
Taylor, & Banfield, 2006). Sebagai contoh, studi telah meunjukkan bahwa nanotubes
bersifat toksik terhadap sel tubuh dan menyebabkan granuloma di dalam paru-paru dari

6
hewan percobaan. Nanopartikel dari logam/metal seperti tembaga, kobalt, titanium, dan
silikon, serta oksida mereka telah dilaporkan dapat menyebabkan efek beracun dan
inflamasi pada sel (Guzmn et al., 2006). Sebagai tambahan, nanopartikel titanium
oksida telah ditunjukkan dapat menyebabkan kerusakan pada DNA dan penyimpangan
kromosom. Sementara itu, nanopartikel hydroxyapatite (suatu subtansi yang terkait
dengan komponen mineral dari tulang dan gigi) ditemukan dapat menyebabkan kematian
sel.

3. Peran Eksipien dalam Nanodrug Delivery


The International Pharmaceutical Excipients Council (IPEC) mendefinisikan
eksipien sebagai substansi (selain bahan farmasi aktif dalam bentuk dosis jadi) yang
telah dievaluasi dengan benar untuk keamanannya dan disertakan dalam sistem drug
delivery,

baik

untuk

membantu

pengolahan,

manufaktur,

proteksi,

support,

meningkatkan stabilitas, bioavailabilitas, akseptabilitas pasien, membantu dalam


identifikasi produk, atau meningkatkan atribut lainnya dari keseluruhan keamanan dan
efektivitas dari sistem drug delivery pada saat pemakaian atau penyimpanan. (Robertson,
1999). Eksipien juga dapat didefinisikan sebagai bahan aditif yang digunakan untuk
mengkonversi bahan aktif farmasi menjadi bentuk sediaan farmasi sehingga cocok untuk
diadministrasikan ke pasien. Eksipien sudah tidak mempertahankan konsep awal mereka
sabagai inactive support, oleh karena pengaruh yang mereka miliki dalam aspek
biofarmasi dan teknologi. Fungsionalitas eksipien adalah saat ia setara dengan khasiat
dari bahan aktif. Untuk memberikan produk obat yang stabil, seragam, dan efektif,
sangatlah esensial/penting untuk mengetahui sifat-sifat dari bahan farmasi aktif, baik
bahan farmasi aktif itu sendiri atau saat dikombinasikan dengan bahan-bahan lain sesuai
dengan persaratan dari dosis dan proses yang diterapkan. Hal ini menegaskan pentingnya
eksipien dalam pengembangan bentuk sediaan/dosis obat.
Tujuan utama dari semua sistem drug delivery, termasuk nanodrug delivery,
adalah untuk mengembangkan formulasi yang berguna secara klinis untuk mengobati
penyakit pada pasien (Park, 2007). Aplikasi klinis memerlukan persetujuan dari FDA.
Selama ini, industri farmasi telah bekerja secara lambat dalam memanfaatkan sistem
drug delivery yang baru, terutama jika terdapat eksipien di dalam obat tersebut yang

7
secara umum dianggap tidak aman. Hal ini disebabkan oleh karena studi klinis yang
dibutuhkan untuk mendapatkan persetujuan dari FDA akan suatu entitas kimia baru
merupakan studi klinis yang panjang dan mahal. Sehingga, industri farmasi menolak
untuk menambahkan material belum teruji apapun yang membutuhkan persetujuan FDA.
Untuk mengatasi sikap enggan oleh industri tersebut, ilmuwan perlu untuk mencari cara
untuk menggunakan biomaterial lama, bukan hanya mengembangkan cara sistem drug
delivery yang baru saja. Penggunaan pati (starch) baik asli atau yang sudah dimodifikasi
adalah strategi penting untuk mencapai tujuan ini. Hal ini karena pati bersifat
biokompatibel, tidak beracun, biodegradable, ramah lingkungan, dan murah tidak seperti
produk-produk sintesis. Pati secara umum adalah sumber terbarukan yang tidak
berpolusi dan lebih murah bagi pasokan berkelanjutan produk farmasi.

B. Karbohidrat (Pati) dalam Sistem Nanodrug Delivery


1. Pati (starch)
Pati yang merupakan sumber utama dari karbohidrat adalah tempat penyimpanan
polisakarida yang paling berlimpah di dalam tumbuhan, serta berbentuk butiran di dalam
kloroplas daun hijau dan amiloplas biji-bijian, kacang-kacangan, dan umbi-umbian
(Sajilata, Singhal, & Kulkarni, 2006). Pati adalah polisakarida yang terdiri dari
kumpulan molekul monosakarida atau glukosa (gula) yang tergabung menjadi satu
melalui ikatan glikosidik -D-(1-4) atau -D-(1-6). Pati terdiri dari 2 komponen
strukural utama, yaitu amilosa dan amilopektin.

Gambar 1. Ikatan Glikosidik dari Pati

Amilosa yang merupakan 15-20% dari pati adalah polimer linear yang tersusun
atas glukosa dengan ikatan -D-(1-4). Struktur amilosa dapat linear atau bercabang
dengan derajat polimerisasi sampai 6000 dan memiliki massa molekular 105-106 g/mol.
Rantainya dapat membentuk heliks tunggal atau ganda.

Gambar 2. Struktur Amilosa

Sementara itu, amilopektin adalah molekul bercabang dengan ukuran yang lebih
besar dengan ikatan -D-(1-4) atau -D-(1-6). Massa molekular amilopektin adalh 107109 g/mol. Rata-rata derajat polimerisasinya adalah 2 juta, sehingga membuat
amilopektin menjadi salah satu molekul terbesar di alam. Ciri amilopektin adalah rantai
yang tersusun atas 20-25 glukosa di antara titik-titik cabangnya. Sekitar 70% massa dari

9
granula pati dianggap sebagai amorf dan 30% sisanya dianggap sebagai kristal. Bagian
yang amorf mengandung jumlah utama dari amilosa dan sedikit bagian dari amilopektin.
Bagian kristal terutama terdiri dari amilopektin (Sajilata et al., 2006).

Gambar 3. Struktur Amilopektin

2. Mikropartikel Pati
Penggunaan biodegradable microparticles sebagai dosis yang membentuk
pengaturan pada subsatnsi aktif kini sering dimanfaatkan karena kemampuannya dalam
mengantarkan protein. Pati merupakan salah satu polimer yang cocok untuk produksi
mikropartikel. Pati bersifat biodegradable dan telah lama digunakan sebagai bahan obat
dan pengantar vaksin secara oral dan melalui pencernaan. Sistem bioadesive berdasarkan
polysaccharide microparticles telah secara signifikan meningkatkan sistem absorpsi obat
konvensional dan polipeptida sepanjang mukosa (lapisan lendir) pada saluran nasal
(pernafasan hidung). Salah satu contoh dari pemanfaatan ini adalah penggunaan
mikropartikel pati pada vaksin adjuvant (penunjang).

2.1. Penggunaan

Polyacryl

Starch

Microparticles

pada

Vaksin

Adjuvant

(Penunjang)
Pada bidang penelitian vaksin, penelitian sering dilakukan untuk menemukan
strategi vaksin yang mampu menginduksi imun yang efektif merespon dan
melawan patogen baik pada sistem maupun mucosal levels. Imunisasi parenteral
tidak mengeneralisasi munculnya respon pada imun mucosal dalam bentuk of sIgA. Lebih baik lagi, antigen pada permukaan imun mukosa dipercaya penting

10
dalam kesuksesan induksi respon imun mukosa. Lebih jauh lagi, imunisasi pada
permukaan mukosa dapat menimbulkan respon imun pada beberapa jarak
permukaan mukosa. Penjelasan untuk fenomena adalah sistem imun mukosa pada
umumnya yang mana mengatur hubungan antar sisi induksi dan sisi efektor.
Namun, respon imun pada sisi efektor tidak seragam. Pada umumnya, respon imun
lebih kuat pada sekitar sisi efektor mukosa, atau sisi yang berhubungan dengan
drainase limfoid. Penting untuk mengerti kenakearagaman mukosa pada umumnya
sebelum memutuskan rute imunisasi dalam penelitian formula vaksin yang rasional.
Rute imunisasi melalui oral dan nasal merupakan imunisasi mukosa yang paling
banyak telah diteliti. Sisi lain mukosa seperti yang mencapai trakea, rektal, dan
vagina dapat dipulihkan dalam beberapa kondisi.
Inti dari pembahasan ini merupakan oral delivery dari antigen pada sisi
mukosa. Rute ini menawarkan beberapa keuntungan secara imunologika; mudah
untuk diberikan, harga murah, dan memiliki potensi peningkatan kenyamamnan
pasien. Di sisi lain, rute oral juga memiliki beberapa tantangan; i) lingkungan yang
berlawanan pada usus, ii) Serapan vaksin buruk melalui intestinal epitelium, dan iii)
Imunigenisitas yang buruk pada deliver agen melalui oral. Demikian, oral vaksin
membutuhkan strategi yang daat men-triger respon imun protektif pada ketiadaan
reaksi inflammatory yang tidak diinginkan. Fakta bahawa hanya ada beberapa oral
vaksin komerial pada pasar merupakan cerminan dari kesulitan-kesulitan ini.
Sekarang, pelemahan seluruh vaksin sel oral melawan infeksi bakteri seperti yang
disebabkan oleh S.thypi dan Vibrio Cholerae telah terdaftar. Seluruh sel vaksin,
berhubungan pada safety problems.

2.2. Penunjang (Adjuvants) Mukosa


Mekanisme dari aksi unutk pembantu masih beum dimengerti terlalu jelas,
karena imunisasi sering kali mangaktivasi riam reaksi. Namun akhir-akhir
ini,penelitian immunological dasar , kebutuhan akan sekuritas yang jelas dan dan
vaksin yang efektif, serta penelitian novel adjuvants untuk vaksin mukosa telah
emmipin ketertarikan dalam ilmu teoritikal dan mekanisme akan adjuvants dan

11
vaksin. Kemudian,secara luas adjuvant mukosa sekarang dapat diklasifikasi ke
dalam 2 kategori berdasarkan aksi mereka: imun potentiators dan delivery antigen
Imun potentiators adalah komponen yang secara langsung mengaktifkan sel
imun melalui reseptor spesifik dan atau sitokin pathways. Ini termasuk dalam toksin
based. Toksin based dan immunity sociated adjuvants. Contoh dari kategori ini
adalah toxin cholera (CT) dan E.coli heat-labile enterotoxin (LT) yang mana
merupakan oral adjuvant yang paling berpotensi yang dikenal saat ini. Khususnya,
CT dan LT secara efektif memperoleh respon imun mukosa yang kuat, tetapi juga
sangat meningkatkan sistem imunitas untuk co-administered antigen protein.
Secara

struktural, toxin terdiri atas subunit: Subunit A toxic yang mana

mengaktivasi sistem adenylate cyclase dan subunit nontoxic pentamerij-B (yang


dikenal dengan nama CTB dan LTB) yang bertanggung jawab dalam pengikatan
untuk menghasilkan reseptor monosialoganlioside GM1 pada semua sel nukleat.
Kegunaan toxin pada manusia, bagaimanapun pula, terbatas akan tingkat racunnya.
Dalam rangka untuk mengatasi, secara langsung tempat mutagenesis telah
dihadirkan pada toxin. Generasi CT dan LT mutant yang mana telah mereduksi
tingkat keracunan, tetapi aktivitas adjuvant dalam hewan tetap signifikan saat
diberikan melalui rute nasal, dan pada tingkatan lebih sedikit, melalui rute oral.
Sistem delivery antigen dimaksudkan untuk menempatkan antigen secara spesifik
pada tempat induksi dan menargetkan mereka untuk mengunci sel imun perti
APCs. Polyacryl Starch Microparticels yang akan dipelajari pada bagian ini masuk
dalam kategori tersebut.
ISCOMs (Immunostimulating Complex Moleculs) ssebesar 40nm yang
berstruktur seperti sangkar yang terentuk secara spontan sat bercampur dengan
Quil-A, yang mana cuga memiliki properti immunostimulatory, dengan kolesterol.
Formasi dari struktur ISCOM dan inkoporasi dari antigen utamanya termedikasi
oleh interaksi hidrofobik. Imunisasi oral dengan ISCOMs mengandung model
antigen ovalbumin (OVA) yang menyebakan sistem respon imun mukosa yang
luas. Sebagai tambahan, ISCOMS secara umum dikenal sebagai adjuvant yang
efektif untuk stimulasi cytotoxic T limfosit (CTL),

12
Liposomes merupakan struktur uni dan multi-laminar dari fosfolipid bilayers
yang merapat dan membentuk lintasan. Ukuran liposomes bervariasi dari 50nm
hingga beberapa mikrometer. Antigen hidrofilik tergabung kedalam struktur
liposomal dan antigen amphifilik dapat berasosiasi kedalam bilayer. Liposom
konvensional sensitif terhadap degradasi dalam saluran pencernaan. Mikropartikel
PLG induce kedua sistem dan mukosa humoral respon bersamaan dengan CTL
diperangkap oleh antigen setelah imunisasi oral.

2.3. Polyacryl Starch Microparticels


Poluacryl

Starch

Microparticels

disiapkan

dari

hydrolysed

startch

(maltodextrin) yang mana acrylolated dengan membuat glycidyl acrylate bereasi


dengan starch (pati). This occurs mainly at the primary kelompok hidroksil pada
posisi 6 dari unit glukosa pada karbohidrat dan derajat derivatisasi, yang
didefinisikan sebagai bilangan kelompok acryloyl per residu gluosa. Biasanya
bilangan ini bernilai sekitar 0,13-0,14 untuk polyacryl starch.
Partikel terbentuk dari polimerisasi redikal dari grup acrylic menggunakan
ammonium peroksidisulfat dan N,N,N,N-tetrametiletildiamin (TEMED) sebagai
inisiator dalam emulsi water-in-oil. Ukuran partikel diukur menggunakan laser
diffractometer; Polyacryl Starch berdiameter bilangan distribusi sekitar 2-3
mikrometer.
Antigen secara kovalen terkonjugasi dengan mikropartikel menggunakan
metode carbodiimide bethell. Grup hidroksil bebas pada gula residu teraktivasi
dengan carbonyldiimidazol (CDI) dan bereaksi dengan grup bebas amino pada
antigen. Partikel emiliki struktur dengan porositas tinggi dan antigen konjugasi
kemudian dapat ditemukan sepanjang partikel. Konjugasi antigen menyediakan
proteksi dari degradasi dalam saluran pencernaan dan cross links antara
hidrokarbon yang terbentuk selama preparasi partiel memperlambat degradasi pati
akibat hidrolisis.

13

Gambar 4. Persiapan dari Mikropartikel Pati dan Konjugasi dari Antigen


(sumber dari Niclas Rydell). CDI, carbonyldiimidazol; TEMED, N,N,N',N'tetramethylethylenediamine

Setelah injuksi melaui pembuluh darah, partikel akan terdistribusi sepanjang


sistem reticuloendothelial, dan berakhir di lisosomal vacuomes pada sel Kupffer di
hati. Lebih lanjutnya, mikropartkel starch (pati) memeiliki efek stimulatory yang
lemah pada makrofag, yang mana menstimulasi produksi IL-1 dan H2O2.
Mikropartikel pati memiliki properti adjuvants setelah diteliti pada percobaan oral
pada tikus. Imunisasi oral menggunakan model serum albumin antigen manusia
(HSA) terkonjugasi pada mikropartikel menyebabkan respon sistem imun yang
kuat pada tikus. Respon yang mirip dan proteksi dari infeksi juga tamak pada
konjugasi antigen dari Mycobacterium tuberculosis dan S.enteritidis. Namun,
partikel ini sendiri tidak terimmunogenisasi.

14
3. Mikroenkapsul Pati
Mikroenkapsulasi adalah sebuah proses mengurung suatu zat di dalam sebuah
membran untuk memberntuk mikrokapsul. Proses ini menyediakan sebuah cara yang
sederhana dan biaya yang efektif untuk mengurung material bioaktif di dalam membran
polimerik semipermeabel, yaitu membran semipermeabel yang terbentuk dari polimer
atau makromolekul. Material bioaktif merupakan material yang biasa digunakan untuk
memperbaiki dan merekonstruksi tubuh manusia. Material bioaktif mempunyai
kemampuan untuk terikat secara langsung dengan tulang dan lebih stabil serta lebih
tahan lama sebagai bahan implan.
Baik polimer sintetik/buatan (misalnya polietilen dan nilon) ,semi-sintetik yang
merupakan hasil modifikasi polimer alami dan sintetik, maupun polimer alami,
semuanya telah dimanfaatkan dan diinvestigasi secara ekstensif sebagai persiapan
material untuk mikrokapsul. Meski polimer sintetis menunjukkan stabilitas kimia,
biokompatibiltas (kemampuan suatu bahan untuk menyebabkan timbulnya suatu respon
biologis dalam pemakaiannya dalam tubuh) polimer sintetis yang tidak memuaskan
masih menjadi hambatan bagi mereka untuk menjadi aplikasi klinik yang potensial.
Berbeda dengan polimer alami yang selalu menunjukkan tingkat racun yang sedikit dan
bahkan tidak ada, tingkat imunogenesitas yang rendah, sehingga membentuk
biokompatibilitas yang baik. Polimer alami telah menjadi polimer yang disukai untuk
digunakan dalam sistem mikroenkapsulasi.
Diantara polimer alami, alginat yang merupakan hidrokoloid alami dari rumput
laut coklat, adalah satu dari material yang sering digunakan untuk membentuk
mikroenkapsul; namun, turunan pati sekarang menjadi sorotan untuk membentuk
mikroenkapsul. Dalam waktu singkat, mikrosfer pati nasal bioadesif dengan paruh waktu
yang diperpanjang secara signifikan telah dilaporkan untuk beberapa agen terapeutik,
sebagai contohnya insulin. Bioavailabilitas dari enkapsulasi gentamicin (antibiotik) yang
telah ditingkatkan untuk administrasi parenteral dari besi oksida untuk meningkatkan
kontras dalam pencitraan resonansi magnetis telah dilaporkan. Penjelasan lebih lanjut
dijabarkan dalam Tabel 2.

15
Tabel 2. Preparasi Mikroenkapsul
Judul Studi

Referensi

Ringkasan

1. Sistem multicompartmental Fundueanu,

Mikrosfer

yang cerdas berdasarkan pada Constantin,

responsive panas dan kelompok

mikrosfer pati yang sensitif Ascenzi,

pati

dengan

sifat

dan anion kuat yang berfungsi dengan

panas untuk pelepasan obat Simionescu

baik, dapat mengikat obat secara

yang

elektrostatik

terkontrol

temperatur

(An

oleh (2010)

intelligent

multicompartmental

system

based on thermo sensitive


starch

microspheres

for

temperatur-controlled release
of drug)

2. Studi tentang pati jagung Dimantov,

Penggunaan paling potential dari

dengan tingkat amilosa yang Greenberg,

pati

tinggi sebagai pelapis obat Kesselman,

berkadar

yang

mencegah

terjadinya dan

jagung

dengan

tinggi

yang

amilosa
dilapisi

Shimoni dengan pelapis obat berkualitas

pelepasan bertaraf food grade (20014)

makanan untuk perlindungan inti

dalam

material dari peleburan di lambung

sistem

model

mikroenkapsul (Study of high

dan dari pelepasan di usus kecil.

amylose corn starch as foos


grade enteric coating in a
microencapsule

model

system)

3.

Biodegradasi

berkaitan Larionova,

dengan mikroenkapsul pati Ponchel,


dan

protein

inhibitor

yang

proteinase

Dalam studi ini, serum albumin


yang

dicampur

berisi Duchene, dan mikroenkapsul


untuk Larionova

dengan
dipersiapkan

menggunakan interfasial klorida

16
pemberian

protein

oral (1999)

terephthaloyl.

Mikroenkapsul

(Biodegradable cross-linked

dimuat

oleh

aprotinin

starch/protein microcapsules

dilindungi

containing

proteinase

memasukkan inhibitor protease

inhibitor for oral proteion

dalam fase aqueous selama proses

administration)

pengaitan.

amino

yang
dengan

Mikroenkapsul

bisa

ditingkatkan dengan keberadaan


-amilase.

4.

Catatan

tentang Lin dan Lee Dalam studi ini, zeolit, cellulose

mikroenkapsulasi

protease (1993)

acetate phthalate(CAP), dan pati

pancreas untuk perlindungan

maizena

terhadap pencernaan lambung

sebagai material pelapis untuk

(A

enkapsulasi

note

on

the

microencapsulation
pancreatic
protection

of

protease
against

for
gastric

digestion)

dulunya

digunakan

protease

pancreas,

yang mana diusulkan sebagai cara


untuk

meningkatkan

efisiensi

makanan dan laju pertumbuhan


babi weanling.

5. Efek dari opsonins pada Artursson dan Dalam

studi

ini,

penyerapan

penyerapan makrofage dari Sjoholm

makrofage dari pati-poliakril dan

mikropartikel polyacrylstarch (1986)

mikropartikel

(Effect of opsonins on the

diinvestigasi

microphage

Hasilnya

uptake

of

poliakrilamida
secara

in

menyarankan

vitra.
bahwa

polyacrylstarch

mikropartikel pati-poliakril dengan

microparticles)

cepat difagositosis oleh makrofage


lapis tunggal.

17
4. Nanopartikel Pati
Nanopartikel merupakan partikel solid dan koloidal yang terdiri dari zat
makromolekular yang ukurannya bervariasi dari 10 sampai 1000 nm. Obat dapat terlarut,
terperangkap, teradsorpsi, terikat, dan terenkapsulasi ke dalam matriks nanopartikel.
Matriks tersebut bisa merupakan material yang bersifat biodegradasi seperti polimer atau
protein bioaktif yang melumpuhkan atau agen terapeutik. Beberapa dari studi terkini
dalam bidang ini diberikan penjabarannya dalam Tabel 3.
Tabel 3. Preparasi Nanopartikel
Judul Studi
1.

Referensi

Nanopartikel Santander-Ortega

Ringkasan
Nanopartikel

propel-pati

dilaporkan

dibuat dari novel etal. (2010)

menunjukkan tingkat enkapsulasi yan

turunan pati untuk

tinggi untuk tiga model obat (asam

penghantaran obat

flufenamik, testosterone, dan kafein) yang

transdermal

ditujukan

(Nanoparticles

transdermal.

untuk

penghantaran

obat

made from novel


starch derivatives
for

transdermal

drug delivery)

2.

Penghantaran Jain, Khar, Ahmed, Dalam

insulin

yang and Diwan (2008)

studi

ini,

nanopartikel

pati

mucoadhesive (Nps) untuk penghantaran

efektif

insulin

menggunakan

investigasi yang dilakukan menunjukkan

nanopartikel
sebagai

pati

penbawa

trans-nasal
mucoadesif

yang

potensial
(Effective

insulin

trans-nasal

dipersiapkan

dan

adanya peningkatan (enhanced) gradient


konsentrasi

18
delivery

using

starch
nanoparticles as a
potential

trans-

nasal
mucoadhesive
carrier)

3.

Nanopartikel Yu, Xiao, Tong, Dalam

pati

dialdehid: Chen,

Persiapan
aplikasi

and

Liu dialdehid

dan (2007)
sebagai

pembawa

studi

obat

ini,

nanopartikel

ditunjukkan

untuk

pati

menjadi

efektif untuk pelepasan yang terkontrol


untuk

doxorubicin.

Studi

ini

juga

mendemonstrasikan bahwa nanopartikel

(Dialdehyde

memiliki keseimbangan termal yang baik,

starch

ukuran partikel yang kecil, kadar racun

nanoparticles:

biologis yang rendah, dan secara perlahan

Preparation

and

applications

as

melepaskan obat antikanker.

drug carrier)

4. Persiapan dari Xiao et al. (2006)

Modifikasi

nanotpartikel pati

dikonjugasikan

folat-konjugat dan

nanopartikel pati

untuk mendapatkan

aplikasinya dalam

nanopartikel

folat-konjugat

vektor

PEG/StNP). Studi ini juga menunjukkan

pembawa

folat

pati

dengan
ke

permukaan

(FE-

obat untuk tumor

bahwa

target

pembawa potensial untuk penghantaran

(Preparation

of

folate-conjugated
starch
nanoparticles and

FA-PEG/StNP

PEG

merupakan

obat anti kanker (doxorubicin) tepat pada


target

19
their

application

to tumor targeted
drug
vector)

delivery

20
DAFTAR PUSTAKA

Cerealchemistry.

2016.

Starch

Structure.

[ONLINE]

http://cerealchemistry.aaccnet.org/doi/pdf/10.1094/1891127012.001. Diakses 5 April 2016.


Dimantov, Anna, et.al. 2004. Study of High Amylose Corn Starch as Food Grade Enteric
Coating in A Microcapsule Model System. Innovative Food Science & Emerging
Technologies. Vol. 5: 93-100.
Fundueanu, G, et.al. 2010. An Intelligent Multicompartmental System Based on ThermoSensitive Starch Microspheres for Temperature-Controlled Release of Drugs. [ONLINE]
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20414809. Diakses 7 April 2016.
Jain, Akhlesh Kumar, et.al. 2008. Effective Insulin Delivery Using Starch Nanoparticles as A
Potential Trans-Nasal Mucoadhesive Carrier. European Journal of Pharmaceutics and
Biopharmaceutics. Vol. 69: 426-435.
Jong, Wim H De, dan Paul JA Borm. 2008. Drug delivery and nanoparticles: Applications and
hazards. [ONLINE] http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2527668/. Diakses 7
April 2016.
Larionova, N.V., et.al. 1999. Biodegradable Cross-Linked Starch/Protein Microcapsules
Containing Proteinase Inhibitor for Oral Protein Administration. International Journal of
Pharmaceutics. Vol 189: 171-178.
Rodrigues, Asha, dan Martins Emeje. 2012. Recent Applications of Starch Derivatives in
Nanodrug Delivery. Elsevier: Carbohydrate Polymers. Vol. 87: 987-994.
Rydell, Stertman, and Sjholm. 2005. Starch microparticles as vaccine adjuvant [Online]
https://www.diva-portal.org/smash/get/diva2:165476/FULLTEXT01.pdf. Diakses 6 April
2016.
Santander-Ortega, M.J, et.al. 2010. Nanoparticles Made from Novel Starch Derivatives for
Transdermal Drug Delivery. Journal of Controlled Release. Vol. 141: 85-92.

21
Subaryono. 2010. Modifikasi Alginat dan Pemanfaatan Produknya. Squalen. Vol 5: 1-7.