Anda di halaman 1dari 16

Penggunaan Lipid Sintetik untuk Mempelajari

Hubungan antara Struktur dan Fungsinya


Makalah Biologi Molekuler

Disusun oleh :
Barneus Wanglie Sugianto

(1406607760)

Bima S.

(1406604664)

M. Raihan Fuad

(1406564452)

Ricky

(1406570934)

Departemen Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Depok
2016

Kata Pengantar

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Biologi Molekuler yang berjudul Penggunaan
Lipid Sintetik untuk Mempelajari Hubungan antara Struktur dan Fungsinya. Penulisan makalah
ini dimaksudkan untuk menyelesaikan salah satu tugas UTS mata kuliah kami di semester empat
ini, yaitu mata kuliah Biologi Molekuler.
Selesainya penyusunan makalah ini tidak terlepas berkat bantuan dari berbagai pihak,
terutama kepada Ibu Rita selaku dosen mata kuliah Biologi Molekuler. Oleh karena itu melalui
kesempatan yang sangat berharga ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu pembuatan makalah ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalasnya dengan
yang lebih baik.
Akhir kata tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang sempurna, begitupun dengan
karya tulis ini. Kami menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan
makalah ini. Akhir kata kami, ucapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Depok, April 2016

Penulis

ii

ABSTRAK
Lipid sintetik dan surfaktan yang tidak terdapat pada system biological telah digunakan
dalam beberapa tahun terakhir di dunia sains. Aplikasi dari lipid sintetik yang dianggap paling
penting diantaranya pengantar obat, transfeksi gen, gen pesinyalan dan support untuk struktur lipid
biological. Di dalam makalah ini, kami membahas potensi dari kombinasi sinergi mehodologi
komputasi dan eksperimental untuk mempelajari sifat dari lipid dintetik dan surfaktan yang
tertanam pada membrane lipid dan liposom. Kami focus pada beberapa kasus dimana simulasi
molecular dinamik digunakan untuk mempelajari struktur dan propertis dari senyawa baru di level
atomic.

iii

DAFTAR ISI
Cover. i
Kata Pengantar.. ii
Abstrak.. iii
Daftar Isi iv
BAB I PENDAHULUAN. 1
1.1 Dasar Teori.. 1
1.2 Tujuan & Manfaat 1
BAB II ISI. 2
Pembahasan... 2
BAB III PENUTUP... 10
3.1 Kesimpulan.. 10
3.3 Saran 11
DAFTAR PUSTAKA 12

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Dasar Teori
Lipid adalah molekul biologi yang tidak dapat larut dalam air namun bisa larut dalam senyawa
organic seperti kloroform. Sifat lipid bervariasi setiap organisme, tipe sel, sel organel. Aplikasi
lipid yang paling berkembang adalah farmakologi. Lipid analog bisa digunakan langsung sebagai
obat, seperti lipase atau bakteri lipid A untuk menstimulasi system imun. Saat ini riset paling
penting pada bidang farmaskologi adalah pengantar obat. Tipe lipid sintetik yang paling penting
kegunaan lipid dengan poli etilen glikol, biasanya dikenal dengan PEG lipid. Simulasi molekul
dinamik (MD) sudah dilakukan secara ekstensif untuk meng karakterisasi sifat fisik dari lipid.
Riset dasar adalah bidang lain dalam aplikasi lipid sintetik. Kegunaan yang sering digunakan lipid
sintetik adalah sebagai molekul pesinyalan.lipid terlabel spin digunakan dalam penghitungan
resonansi electron paramagnetic (EPR) untuk menjelaskan struktur bilayer dan dinamik, begitu
juga oksigen mentransport melalui membrandan sifat hifrofobik bilayer. Dalam kasus label spin,
simulasi dapat digunakan untuk mengkalkulasi spectrum EPR dari molekul, menjadi validasi
langsung untuk metodologi simulasi.
Pengeritan akan pentingnya struktur lipid dan perannya bisa dicapai di dalam komperisasi dengan
lipid natural. Modifikasi pada lipid fungsional dapat digunakan untuk mempelajari sifat besar dari
lipid bilayer atau untuk memahami lebih baik tentang interaksi lipid dengan makromolekul protein.
Modifikasi pada fungsi kelompok molekul lipid dapat dilihat sebagai mutagenesis. Surfaktan
sintetik juga mempunyai aplikasi dalam ekstraksi membrane protein, karakterisasi biokimia dan
kristalisasi. Sebagai contoh, kolesterol analog sering duganakan dalam pembelajaran reseptor
protein. Contoh lainnya adalah linolein, surfaktan yang digunakan dalam proses kristalisasi protein
1.2 Tujuan dan Manfaat

Mempelajari berbagai aplikasi lipid sintetik.

Mempelajari sifat dari lipid sintetik

Mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi dari suatu lipid

BAB II
PEMBAHASAN
Lipid sintetik berguna dalam studi mengenai struktur lipid yang bertujuan untuk menghubungkan
struktur tertentu dengan sifat bilayer yang dibentuk oleh lipid dipelajari. Gugus ini dapat
dihilangkan atau diganti dengan gugus lain dengan sifat kimia yang berbeda, seperti muatan yang
berbeda atau kemampuan untuk membentuk ikatan hidrogen. Dalam hal ini, kolestrol dan
sphingolipids telah dipelajari secara ekstensif, baik secara eksperimen dan melalui simulasi MD
(molecular dynamics). Simulasi MD ini merupakan metode komputasional yang menghitung
perilaku sistem molekular terhadap waktu. Simulasi MD terhadap waktu. Simulasi MD digunakan
untuk memeriksa struktur, gerakan dan termodinamika dari molekul biologi dan kelompoknya.
Lipid berbasis gliserol juga telah dipelajari dengan analog sintetik (misalnya, analog sintetik
dengan berbagai ukuran kepala gugus) atau analog dengan kiralitas yang diubah, dan muatan
terbalik yang disintesis.

1. Analog Kolestrol Sintetik


Kolestrol adalah molekul utama yang mengatur sifat fisik dari lipid bilayers dan
mempengaruhi perilaku fase lipid dengan menurunkan suhu transisi fase utama dan
mengurangi nya pada konsentrasi kecil dan sedang. Pada konsentrasi besar, kolestrol
sepenuhnya menghilangkan fase transisi. Pada konsentrasi yang lebih tinggi, kolestrol dengan
lipid lainnya membentuk fase Ld (liquid disordered), dimana pada rentang suhu dan
konsentrasi tertentu, dapat muncul fase Lo (liquid ordered). Chol meningkatkan kekuatan
mekanik bilayer dan menurunkan permeabilitas. Mekanisme molekuler yang mendasari sifat
ini adalah kemampuan untuk meningkatkan urutan ekor lipid dan mengkondensasi bilayer.
Tidak mengherankan, kolesterol memodulasi interaksi antara membran lipid dan protein
membran,
baik integral dan periferal. Konsentrasi kolestrol dalam berbagai jenis membran berbeda secara
signifikan, dari yang terendah dalam membran mitokondria ke level tertinggi dalam membran
sel. Untuk semua alasan ini, kolestrol adalah salah satu molekul yang paling intensif dipelajari,
terutama pentingnya strukturnya. Pada 1970-an, struktur kolestrol ditemukan terdiri dari tiga
unsur struktural yang diperlukan untuk fungsi membrannya: kepala gugus polar kecil 3-OH,
cincin sterol, dan ekor isooktil pendek. Perubahan pada unsur struktur ini biasanya
2

menurunkan kemampuan ordering dan kondensasi sterol. Dalam paragraf selanjutnya, kami
menyediakan contoh-contoh sterol dengan modifikasi sintetik terkait tiga unsur struktur
tersebut.

Figure 1 Struktur dari molekul kolestrol (a) Cholesterol, (b) Dchol, (c) clickable cholesterol, (d) cholesterol with a
3-carbon tail, (e) cholesterol with a 14-carbon tail, (f) cholesteryl succinate, (g) exchangeable cholesterol, (h) DCChol, (i) epicholesterol, (j) cholesteryl phosphatidylcholine, and (k) thio-cholesterol.

Kolesterol enantiomerik (ent-Chol) adalah sintetis kolestrol analog yang tidak ada di alam
di mana pusat semua delapan kiral telah dibalikkan kiralitasnya dibandingkan dengan
kolestrol. Ent-Chol disintesis untuk pertama kalinya pada tahun 2002 oleh Jiang dan Covey
dengan sintesis 23-langkah dan keseluruhan hasil 2,6%. Penelitian yang lebih baru
mendeskripsikan sebuah sintesis 16-langkah, tapi dengan hasil keseluruhan dari 2%. Ent-Chol
ditemukan mempengaruhi sifat bilayer dan monolayer sampai batas yang sama seperti
kolestrol. Secara mengejutkan, di lini sel dengan gangguan biosintesis Chol,ent-Chol mampu
menggantikan kolestrol dan meningkatkankan pertumbuhan sel. Kemampuan dari ent-Chol ini
membuatnya berguna untuk mengenali apakah efek yang diamati dari kolestrol pada fungsi
membran protein hasil dari langsung, interaksi tertentu atau dimediasi melalui sifat membran
3

besar. Sebagai contoh, dua racun bakteri yang dikenal mendestabilisasi membran yang
mengandung kolestrol, streptolysin O dan Vibrio cholerae cytolysin, telah terbukti spesifik
terhadap bilayer dengan kolestrol tapi tidak pada bilayer dengan ent-Chol. Demikian pula,
peptida diketahui mempengaruhi perilaku fase lapisan gandaa lipid yang mengandung
kolestrol namun tidak mempengaruhi lapisan lipid ganda dengan ent-Chol. Selain itu, ent-Chol
tidak mampu mengaktivasi acyl-CoA cholesterol acyltransferase. Akhirnya, transporter jenis
ABC telah terbukti peka terhadap kiralitas sterol. Namun, dalam kasus serotonin reseptor 1 A,
ent-Chol mampu menggantikan kolestrol dan mempertahankan fungsi reseptor.
Sebuah cincin kolestrol asimetris dan memiliki dua permukaan: sebuah permukaan tanpa
substituen dan permukaan dengan dua gugus metil dan gugus hidroksil menghadap ke arah
luar. Karena konfigurasi ini di membran, ditemukan 3 simetri lipat. Sterol pertama di jalur
biosintesis kolestrol, lanosterol, memiliki lima gugus metil terletak di kedua permukaan;
dengan demikian, langkah sintesis dan penghilangan gugus metil membuat sterol secara
bertahap lebih halus. Selanjutnya, kemampuan ordering dan kondensasi sterol sepanjang jalur
biosintesis secara bertahap meningkat, menunjukkan bahwa jalur biosintesis mencerminkan
optimasi yang evolusioner dari sifat sterol. Mengembangkan ide ini, kami merancang sebuah
sterol baru dengan semua gugus metil dihilangkan, 18-19-di-nor-cholesterol (Dchol) (lihat
Gambar 1b.), dan beberapa sterol dengan gugus tunggal metil dihapus, berharap perbaikan
lebih lanjut sifat sterol. Namun, simulasi MD menunjukkan bahwa gugus-gugus metil
merupakan unsur penting yang menjaga orientasi sterol dalam membran, dan penghilangan
tersebut benar-benar mengurangi kemampuan ordering sterol. Meskipun rumit, sintesis Dchol
dibuktikan mungkin. Sintesis memerlukan 18 langkah dari senyawa komersial yang tersedia
dan hasilnya sebesar 3,5%. Studi biofisis menunjukkan sifat kondensasi yang sedikit lebih
rendah dari Dchol dan umumnya lebih lemah mempengaruhi sifat bilayer.
Hanya bagian polar dari molekul kolestrol yaitu gugus 3-hidroksil, yang muncul di
sebagian besar membran-aktif alami sterol (misalnya, jamur khas jenis ergosterol atau tanaman
sterol camposterol). Satu-satunya steroid alami yang ada dalam jumlah yang banyak dalam
membran biologis dengan kepala gugus yang diubah adalah kolesterol sulfat (CS). Efek CS
pada sifat bilayer lebih lemah daripada kolestrol, kemungkinan karena pergeseran lokasi
bagian kutub menuju fase air. Beberapa steroid dengan gugus polar sintetis yang diubah telah
diketahui, tetapi sifat mereka ditemukan berbeda dengan kolestrol. Sebagai contoh, cholesteryl
4

PC (lihat Gambar. 1h) telah ditemukan membentuk bilayer dengan Chol, di-asil-gliserol, dan
ceramide. Selain itu, efek ordering cholesteryl PC di lapisan ganda POPC jauh lebih lemah
dibandingkan dengan kolestrol. Thio-cholesterol (lihat Gambar. 1k), steroid di mana gugus
OH diganti gugus kelompok SH yang sedikit lebih tidak polar, telah terbukti memiliki efek
sedikit lebih lemah pada sifat bilayer. Kami menawarkan dua contoh dari kasus sterol yang
lebih banyak dipelajari dengan kepala gugus yang dimodifikasi: epicholesterol dan cholesteryl
hemisuccinate.
Epicholesterol adalah sebuah bentuk epimer dari kolesterol dengan 3-hirdoksil. Molekul
ini tidak terjadi di dalam. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa efek dari ephicolesterol
pada membran lebih lemah dibandingkan dengan kolesterol biasa. Hasil dari simulasi MD juga
menunjukkan hasil yang sama.
Mekanisme yang digunakan untuk menunjukkan pengurangan kekuatan dari interaksi
sterol-fosfolipid adalah dengan menggunakan pengubahan bagian polar sterol ke fasa cair.
Mekansime ini sejalan dengan sifat transfer spontan yang terjadi di antara liposom dengan
epikolesterol. Hasil studi kalorimetrik memberikan efek dari konsentrasi. Pada konsentrasi
lebih rendah, epikolesterol mempengaruhi tingkah laku interaksi, sedangkan pada konsentrasi
ebih tinggi, efek dari kolesterol yang mempengaruhi. Dengan demikian, epikolesterol tidak
mampu menggantikan kolesterol dalam hal interaksi dengan serotonin 1 A.
Kolesteril hemisukinase (CHS) adalah sejenis deterjen yang sering digunakan untuk
menggantikan kolesterol pada pembelajaran tentang kristalografi dan biokimia dari protein-G.
Pemilihan CHS didasarkan pada tingginya solubilitas sehingga memudahkan penggunannnya
di laboratorium. CHS menstabilkan liposom dan mengurangi ketidakstabilan dari sel dan
model membran. Simulasi MD pada CHS menunjukkan CHS mempengaruhi sifat lipid lebih
buruk dibandingkan kolesterol biasa. Pada kasus unsaturated bilayer, bentuk netral dari CHS
hampir sama efektifnya dengan kolesterol. Akan tetapi, pada keadaan bermuatan, CHS lebih
lemah dibandingkan kolesterol biasa. CHS juga berhasil menunjukkan bahwa ia mampu
mengambang di epermukaan air dibandingkan kolesterol. Hasil semua ini menunjukkan bahwa
CHS tidak sepenuhnya mampu menggantikan kolesterol.
Struktur terakhir dari elemen sterol adalah kolesterol dengan ekor (alkyl tail). Jenis
kolesterol ini memiliki ekor pada ujung akhirnya. Jenis kolesterol ini memiliki efek yang kuat
terkait ordering jika dibandingkan dengan kolesterol biasa. Akan tetapi, efek pada
5

permeabilitas bilayer dan difusi tidak sekuat efek ordering-nya. Studi lebih lanjut masih
dibutuhkan untuk mengupas kolesterol dengan ekor ini.
2. Sphinghomyelin
Sphinghomyelin (SPM) adalah sejenis lipid dengan berbagai manfaat biologis. SPM
memiliki struktur dengan basis spingosin, amino alkohol 18-karbon, dan ikatan trans tak jenuh
pada posisi 4-5. Ekor hidrokarbon terikat dengan menggunakan ikatan amida dan ikatan di
gugus kepala terikatan dengan ikatan ester. SPM berbeda secara signifikan dengan gliserol
berbasi lipid. SPM memiliki grup hidroksil dn amida yang mampu membentuk ikatan hidrogen
sebagai donor. Pada lipid bilayer, grup ini terdeteksi di interfase air-membran. Terdapat variasi
SPM natural yang memudahkan kita untuk mempelajari dan memodifikasi jenis lipid ini.
Hingga sekarang masih sedikit SPM sintetis yang tersedia untuk dipelajari.

Gambar 2 Struktur dari sphingomyelins alami dan sintetik. (a) Sphingomyelin, (b) CPE-Me2, (c) SPM-OMe, (d)
SPM-CH2, (e) sphingomyelin with a double bond shown in green, (f) CPEMe1,(g) SPM-NMe, (h) SPM-NH, (i) SSM,
(j) CPE, (k) SPM-ONMe, dan (l) SPM-S.

Gugus kepala PC terhubung dengan seramida melalui ikatan ester pada semua SPM
natural. Kegunaan dari ikatan ini adalah untuk mempelajari spesies mana yang bisa digantikan
atom oksigennya dengan atom sulfur. Peningkatan stabilitas dari bilayer dan pengurangan
polaritas dari interfase membran-air dipelajari melalui SPM-S. Hasil berlawanan diperoleh
untuk SPM-NH dan SPM-CH2; stabilitas membran berkurang dan polaritas interfase
meningkat. Ketika interaksi antara SPM dan analognya serta kolesterol dipelajari, semua lipi
membentuk domain kolesterol yang banyak. Akan tetapi, pada SPM-NH dan SPM-CH2,
stabilitas yang lebih rendah terdeteksi untuk setiap domain yang terbentuk.
PC relatif merupakan gugus yang besar, hal ini dikarenakan adanya gugus kolin yang tebal.
Manfaat penting dari ukuran besar gugus ini dipelajari dengan SPM analog. Pada analog, gugus
kolin digantikan dengan atom hidrogen. Hasil observasi dengan kalorimetrik menunjukkan
dengan meningkatkan hidrogen, temperatur dari main-phase transition berkurang. Interaksi
antara SPM dengan analog nya serta kolestero juga dipengaruhi dengan keberadaan gugus
metil. Afinitas sterol lebih tinggi pada spesies dengan jumlah metil yang banyak. Selebihnya,
simulasi MD menunjukkan bahwa interaksi polar meningkat antara kolesterol dan lipid pada
spesies dengan jumlah metil yang banyak. Hasil ini disetujuin dengan sebutan model payung.
Pada mekanisme ini, gugus PC bertingkah sebagai payung yang melindungi bagian hidrofobik
dari kolestrol. Jenis lipid lain adalah seramida. Seramida diketahui memiliki sifat kondensasi
dan model payung juga diperkirakan menjadi salah satu mekanisme yang terjadi di seramida.
Sehingga, kita dapat menyimpulkan bahwa seramida mirip dengan kolesterol, kecuali dalam
hal ukuran.
Fosfatidiserin adalah gugus kepala dari gliserol berbasi lipid yang umumnya bermuatan
negatif. Jenis gugus ini tidak terdapat pada spingolipid. Sehingga sintesis antara spingolipid
dengan fosfatdiserin (SSM) dilakukan. Hasil dari sintesis dengan kolestrol kemudian diamati.
SSM memmiliki domain kolestrol yang sedikit lebih efektif dibandingkan SPM.
SPM memiliki 2 buah ikatan hidrogen (OH dan NH) yang terdapat pada interfase
membran-air. Fungsi dari grup ini dipelajari dengan menggunakan tiga sintetik analog: SPMOme, SPM-Nme, dan SPM-Onme. Pada satu analog, dua buah ikatan hidrogen dimetilasi
sedangkan pada dua lainnya, salah satu dari ikatan hidrogen dimetilasi. Kehadiran metil
mendestabilkan fasa jel dan mengurangi temperatur dari main-phase transition. Simulasi MD
menunjukkan bahwa metilasi menjadikan luas permukaan terekspansi dan mengurangi order
7

parameter. Metilasi dari grup OH hampir sepenuhnya menghilangkan domain sterol-rich


sedangkan metilasi dari grup NH tidak menghilangkan domain apa pun meskipun terdapat
ketidakstabilan termal. Afinitas dari kolesterol pada membran hasil dari metilasi analog lebih
rendah dibandingkan dengan SPM. Hasil simulasi MD juga menunjukkan pengurangan
interaksi polar antara kolesterol dan analog termetilasi dengan SPM. Metilasi dari grup OH
tidak menimbulkan efek degradasi pada spingolipid. Akan tetapi, metilasi pada grup NH
mereduksi kecepatan dari degradasi. Terakhir, metilasi dari seluruh grup mampu
menghilangkan seluruh pori-pori membran.
N-cholesteryl sphingomyelin (SPMChol) merupakan sintesis spngolipid dengan ekor
amida tersubtitusi dengan kolesterol karbamat. SPM-Chol mampu membentuk kantung yang
bersifat resistan terhadap Triton X-100. Tidak seperti SPM, SPM-Chol pada campuran dengan
POPC tidak mampu membentuk domain sterol-rich. Mirip dengan PC-cholesteryl, SPM-Chol
terlihat bagus untuk digunakan sebagai pengantar obat (drug delivery) mengingat stabilitas
yang tinggi dan sifat resistansinya.

3. Lipid Zwiterionik Terbalik


Secara alamiah, lipid zwiterionik memiliki gugus fosfat yang melekat ke punggung gliserol
dan sebuah gugus bermuatan positif (etanolamin atau PC) yang melekat pada gugus fosfat.
Karena konfigurasi ini, kelompok bermuatan positif lebih dinamis dan cenderung lebih dalam
fase air. Lipid zwiterionik terbalik, atau lipid dengan urutan gugus bermuatan positif dan
negatif terbalik, tidak ada di alam tetapi telah disintesis sebagai kandidat yang mungkin untuk
digunakan dalam sistem pemberian obat. Namun, penggunaannya agak terbatas sampai
sekarang, tetap memberikan pemahaman tambahan mengenai lipid alami. Dalam semua lipid
sintetik, gugus kolin pertama kali melekat pada punggung gliserol, diikuti oleh gugus
bermuatan - fosfat, metil fosfat, karboksil, sulfonat, atau sulfat (Gambar. 11). Fase perilaku
lipid ini berbeda secara signifikan dari PC; suhu dari fase utama transisi yang sangat tinggi,
yang tidak diinginkan untuk lipid dengan kepala gugus besar. Interaksi antara lipid ini dengan
kation secara signifikan berkurang. Efek ini sangat penting untuk Ca 2+, karena mampu
mendestabilisasi liposom dan menginduksi fusi. Simulasi MD pada PC terbalik (dengan metil
fosfat) dalam perjanjian dengan penelitian eksperimental; interaksi dengan Na +, K+, dan Ca2+
anion berkurang. Selanjutnya, lapisan air pada permukaan antara membran air ditemukan
8

memiliki urutan berbeda dengan PC alami dan profil potensi elektrostatik benar-benar berubah.
Pembalikan gugus ini sangat mempengaruhi hidrasi dari bilayer. Observasi yang paling
penting fokus pada gugus karbonil lipid, yang menarik air di PC alami tetapi hampir
terdehidrasi di lipid yang dibalik lipid. Ini mungkin menjadi alasan untuk suhu yang lebih
tinggi dari fase transisi utama, seperti air dalam gugus karbonil secara signifikan
mempengaruhi urutan bilayer.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan makalah kelompok kami yang membahas mengenai apliasi lipid sintetik, maka
dapat diambil kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:
1. Lipid sintetik digunakaan dalam studi untuk bisa mengenali struktur bilayer yang dibentuk
oleh lipid, dimana gugus yang ada bisa dimodifikasi atau diganti dengan gugus lain
dengan sifat kimia yang berbeda. Dalam hal ini kolesterol dan spinghomyelin (SPM)
merupakan molekul utama yang mengatur sifat lipid bilayers dan telah banyak dipelajari
baik secara eksperimen maupun simulasi MD (molecular dynamics) yang merupakan
metode untuk menghitung perilaku sistem molekular terhadap waktu. Kolesterol dan SPM
juga dipelajari dengan memakai metode analog sintetik.
2. Kolesterol mempunyai sifat meningkatkan kekuatan mekanik dari bilayer dan menurunkan
permeabilitas, hal ini karena kolesterol memodulasi interaksi antara membran lipid dan
protein membran, baik integral dan periferal. Konsentrasi kolesterol sendiri berbeda secara
signifikan dalam berbagai jenis membran dari yang terendah dalam mitrokondria dan
tertinggi dalam membran sel.
3. Struktur kolesterol ada tiga unsur yaitu gugus polar kecil 3-OH, cincin sterol, dan ekor
isooktil pendek. Perubahan atau modifikasi unsur ini akan bisa menurunkan kemampuan
ordering dan kondensasi sterol.
4. Salah satu sintetis kolestrol analog adalah Kolesterol enantiomerik (ent-Chol) dimana 8
kiral pusat dibalikkan kiralitasnya. Ent-Chol ini akan mempengaruhi sifat bilayer dan
monolayer dengan hasil yang sama dengan kolesterol. Bilayer Ent-chol juga lebih mampu
menahan destabilisasi membran yang mengandung kolesterol oleh racun dari bakteri dari
pada bilayer dengan kolesterol.
5. Dari jalur biosinttetis bisa diketahui bahwa gugus metil merupakan unsur penting dari
sterol dalam membran karena penghilangan gugus tersebut akan mengurangi kemampuan
ordering sterol. Unsur lain dari elemen sterol

adalah Epicholesterol, Cholesteryl

hemisuccinae (CHS), dan kolesterol dengan ekor (alkyl tail).


6. SPM adalah sejenis lipid yang mempunyai berbagai manfaat biologis, SPM memiliki group
hidroksil dan membentuk ikatan hisdrogen sebagai donor. SPM-S digunakan untuk
10

mempelajari peningkatan stabilitas bilayer dan pengurangan polaritas dari interfase


membran-air. Hasil berlawanan akan diperolah melalui SPM-NH dan SPM-CH2.
7. Lipid Zwiterionik memiliki gugus fosfat yang melekat pada punggung gliserol dan sebuah
gus bermuatan positif (etanolamin atau PC) yangmelekat pada gugus fosfat.

Lipid

Zwiterionik terbalik (gugus muatan positif dan negatif terbalik) tidak ada dialam dan
kandidat yang mungkin akan digunakan dalam pembuatan obat. Pembalikan gugus ini
sangat mempengaruhi hidrasi dari bilayer.

3.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan diatas, maka kelompok kami ingin memberikan saransaran terhadap pembahasan mengenai studi tentang aplikasi lipid sintetik yang diharapkan dapat
membantu penulisan makalah dimasa depan:

1. Diperlukan eksperimen dan penelitian lebih lanjut mengenai karateristik dari lipid bilayer
dengan menggunakan ekperimen lipid sintetik sehingga hasilnya bisa aplikatif dan bisa
diterapkan dalam kehidupan nyata seperti kedokteran dengan pembuatan obat-obatan
untuk penyakit dan juga untuk industri.
2. Makalah diatas menunjukkan bahwa penelitian mengenai lipid terutama bilayer dan unsur
lainnya yang mempengaruhi, seperti kolesterol dan SPM akan mampu untuk mengetahui
sturktur sel dan membran dalam makhluk hidup sehingga perlu adanya penelitian lanjutan
untuk memastikan unsur sintetik tersebut bisa diaplikasikan didunia nyata.

Demikian penyusunan makalah telah kelompok kami selesaikan, dengan kesadaran bahwa
masih banyak kekurangan di dalamnya. Namun, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat
bagi kelompok kami khususnya dan para pembaca pada umumnya.

11

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2016. Theory of Molecular Dynamics Simulations. [ONLINE] Available at:


http://www.ch.embnet.org/MD_tutorial/pages/MD.Part1.html. [Accessed 08 April 2016]

Kepczynski, Mariusz, 2016. Functionalized lipids and surfactants for specific


applications. Biochimica et Biophysica Acta, BBAMEM-82165, 18

12