Anda di halaman 1dari 7

NAMA

: NAWIRA
AMALIA ASSAGAF
NPM : 0227 13 11 039
KELAS

: AKUNTANSI VI

ELEMEN DAN STRUKTUR TEORI


Untuk mengetahui teori akuntansi, pada dasarnya yang harus dipelajari
terlebih dahulu yaitu kita harus menganalisa dan bisa mengurai unsur-unsur teori
akuntansi itu sendiri. Salah satu upaya untuk itu adalah mengenal elemenelemen

teori

akuntansi.

Teori

akuntansi

keuangan

dibangun

untuk

mengembangkan akuntansi keuangan yang sesuai dan bermanfaat bagi para


pemakainya, struktur teori akuntansi ini dimulai dari perumusan tujuan laporan
keuangan. Baru dari tujuan ini dirumuskan apa itu postulat, konsep, prinsip, dan
akhirnya standar akuntansi yang merupakan pedoman atau teknik penyusunan
laporan keuangan.
Tujuan utama teori akuntansi adalah menyajikan suatu dasar dalam
memprediksi dan menjelaskan perilaku serta kejadian-kejadian akuntansi. Teori
didefinisikan sebagai kumpulan gagasan, definisi, dan dalil yang menyajikan
suatu pandangan sistematis tentang fenomena, dengan menjelaskan hubungan
antar variabel yang ada dan bertujuan untuk menjelaskan serta memprediksi
fenomena tersebut.

A. PEMIKIRAN MENGENAI TEORI


1. Jenis Struktur Teoritis
Unsur-unsur yang terkandung dalam teori adalah konsep, dalil,
dan hipotesis yang saling berhubungan dalam suatu struktur sistematis
yang memungkinkan diberikannya penjelasan dan prediksi. Hubungan
yang sistematis dari hipotesis yang saling berhubungan ini diperoleh
melalui formalisasi suatu teori, yaitu, dengan menggunakan sebuah
sistem bahasa formal yang telah diaksiomasi dan diartikan dengan
tepat. Aksiomasi itu sendiri terdiri atas aturan-aturan transformasi yang
mengindikasikan bagaimana pernyataan-pernyataan dikombinasikan
untuk

mendeduksi

pernyataan-pernyataan

lain

dalam

teori

ini. Tingkatan formalisasi dari suatu teori menghasilkan enam jenis


utama struktur teoritis, yaitu:
a) Teori deduktif lengkap ( deductively complete theories) yang
memiliki sebuah struktur formal yang lengkap dengan
aksioma-aksioma yang dijelaskan secara penuh dna seluruh

langkah-langkah dalam perluasan deduktifnya dinyatakan


dengan lengkap.
b) Teori hierarki(Hierarchical Theories) adalah teori-teori di mana
hukum-hukum

komponennya

disajikan

sebagai

deduksi-

deduksi dari satu kumpulan kecil prinsip-prinsip dasar


c) Prapengandaian
sistematis(Systematic
presuppositions)
meliputi formulasi-formulasi yang mengandaikan sebelumnya
suatu isi dari teori yang lengkap atau lengkap sebagian.
d) Teori kuasi-deduktif (Quasi-Deductive Theories) adalah teori
dengan deduktif kuasi (seolah-olah) karena menggunakan
logika induktif, penggunaan proses deduktif yang tidak
lengkap, atau mengandalkan pada primitive-primitif relatif.
e) Percobaan-percobaan teoretis(Theoretical Attempts) adalah
sistem-sistem yang dapat tanpa modifikasi yang signifikan
pada konsep atau manipulasi, dapat dibuat paling tidak
sebagian menjadi sebuah struktur formal atau sistem verbal
yang bahkan sebagian daripadanya tidak dapat diformalisasi
tanpa modifikasi yang substansial atau konsep-konsep yang
digunakan dan klarifikasi dari hubungan deduktif yang
f)

diusulkan.
Teori yang

saling

berhubungan(Concatenated

Theories)

adalah teori yang hukum-hukum komponennya bekerja dalam


jaringan hubungan sehingga membentuk suatu konfigurasi
atau pola yang dapat diidentifikasi.
2. Fungsi Dan Struktur Teori
Teori dapat diidentifikasikan melalui struktur dan fungsi yang
dijalankannya. Masing-masing fungsi ini menjadi kriteria dalam
evaluasi atas kontribusi yang diberikan oleh teori dalam memenuhi
kebutuhan dan disiplin lainnya. Klasifikasi fungsi menurut John
Harvard dan Sheth Jagdish:
a) Fungsi deskriptif (Descriptive Function) mencakup penggunaan
gagasan atau konsep dan hubungan yang mereka miliki untuk
memberikan penjelasan terbaik atas suatu fenomena dan
kekuatan-kekuatan yang mendasarinya.
b) Fungsi pembatasan (Delimiting Function) mencakup pemilihan
suatu peristiwa favorit yang harus dijelaskan dan memberikan
suatu arti atas abstraksi yang diformulasikan dari tahapan
deskriptif tersebut.

c)

Fungsi

generatif (Generative

Function) adalah

kemampuan

untuk menghasilkan hipotesis yang dapat diuji, yang merupakan


tujuan utama dari suatu teori, atau untuk memberikan prasangka,
pemikiran, dan ide-ide yang menjadi dasar pengembangan suatu
d)

hipotesis.
Fungsi integratif (Integrative Function) adalah kemampuan untuk
menyajikan secara koheren dan konsisten, integrasi dan

berbagai konsep dan hubungan dalam suatu teori.


e) Tingkat abstraksi (Level Of Abstraction) meliputi penyederhanaan
dan generalisasi konsep dan hubungan untuk menghilangkan
fitur-fitur

yang

kurang

relevan

dalam

menjelaskan

suatu

fenomena.
3. Evaluasi Teori
Keberhasilan pengembangan suatu teori bergantung pada
kebenaran yang ia miliki dan sampai sejauh mana ia memiliki
kesesuaian

dengan

kenyataan.

Suatu

teori

dievaluasi

untuk

membuktikan kecukupan dari permasalahan yang dikemukakannya.


Dari 70 kriteria teori-teori yang baik seperti diungkapkan oleh berbagai
literatur S.C. Dodd memilih 24 kriteria evaluasi yang paling relevan
yang disusun dengan urutan yang paling penting: 1)dapat diverifikasi,
2)dapat diprediksi, 3) konsisten, 4) andal, 5)akurat, 6) umum, 7)
utilitas, 8)penting, 9) multi-penerapan, 10)memiliki satu arti, 11)dapat
dikendalikan,

12)dapat

distandarkan,

13)sinergi,

14)kehematan,

15)kesederhanaan, 16)stabilitas, 17)keseringan, 18)kemampuan untuk


diterjemahkan, 19)kelangsungan, 20) ketahanan, 21)pengenalan,
22)kepopuleran, 23)kemanjuran, 24) densitas.
4. Teori Umum Versus Teori Menengah Tentang Akuntansi
Suatu teori didefinisikan sebagai suatu gagasan (konsep),
definisi, dan usulan yang saling bergantung satu sama lain, yang
menyajikan suatu pandangan yang sistematis dari suatu fenomena.
Istilah teori menengah telah diperkenalkan dan didefinisikan oleh
Robert Merton sebagai teori yang berada di antara hipotesis-hipotesis
minor namun sangat banyak dikembangkan selama riset dari hari ke
hari dan usaha-usaha sistematis yang lengkap untuk mengembangkan
suatu teoru yang menyatukan.
Teori akuntansi menengah diakibatkan oleh adanya perbedaanperbedaan yang terjadi dalam cara para peneliti mengartikan baik

pengguna dari data akuntansi maupun lingkungan di mana para


pengguna dan pembuat data akuntansi seharusnya bertingkah laku.

B. PEMIKIRAN MENGENAI KONSEP


1. Hakikat dan Pentingnya Konsep
Konsep secara fundamental adalah sesuatu yang penting, baik
dalam akuntansi maupun dalam ilmu-ilmu yang lain. Konsep adalah
unit-unit utama dari suatu teori, dan pembuatan teori yang baik
mengandung artian pembentukan konsep yang baik. Konsep teoretis
adalah konsep yang memainkan peranan khusus dan terkandung
dalam suatu teori tertentu.
Konsep disposisi mengacu kepada suatu kecenderungan untuk
menunjukkan reaksi-reaksi yang spesifik menurut kondisi-kondisi
tertentu yang dapat ditetapkan.
2. Validitas Konsep
Validasi dari suatu konsep pada kenyataannya penting untuk
penerimaannya sebagai suatu konsep yang bermanfaat yang dapat
dimasukkan ke dalam suatu teori tertentu. Jenis-jenis validitas konsep
yang terdapat dalam literature-literatur menurut Zaltman dan rekanrekannya:
1. Validitas Obsevasional
2. Validitas isi
3. Validitas yang berhubungan dengan kriteria :
a. validitas prediktif
b. validitas konkuren
4. Validitas gagasan :
a. validitas konvergen
b. validitas diskriminan
c. validitas nomologi
5. Validitas sistematik
6. Validitas semantik
7. Validitas pengendalian

C. MENANGANI HIPOTESIS
1) Dari Dalil Ke Hipotesis
Dalil dalam suatu teori menetapkan hubungan antara konsepkonsep dalam teori tersebut. Ditunjukkan oleh sebuah kalimat. Secara
umum ciri-cirinya adalah angka dan tingkat predikat dan tingkat dari
keumuman.
Dalil dapat menjadi hipotesis jika mereka mengacu kepada faktafakta yang tidak berpengalam dan pada waktu yang bersamaan dapat
diperbarui berdasarkan atas pengetahuan yang baru diperoleh.Suatu
hipotesis, oleh karenanya, adalah dalil mengenai suatu hubungan yang

kebenaran atau kesalahannya masih harus ditentukan oleh suatu ujian


empiris.

2) Konfirmasi Ke Hipotesis
Akuntansi memiliki subjek masalah yang jelas dan mencakup
keseragaman dan keteraturan yang menjadi dasar dan kondusif bagi
hubungan empiris, generalisasi otoritatif, konsep-konsep, prinseip,
hukum, dan teori.
Konfirmasi adalah sampai sejauh mana suatu hipotesis mampu
menunjukkan kebenaran secara empiris, yaitu menggambarkan dunia
nyata dengan akurat. Pembuktian kesalahan adalah sampai sejauh
mana suatu hipotesis mampu menunjukkan bahwa ia secara empiris
tidak benar, yaitu gagal untuk menggambarkan dunia nyata dengan
akurat.
Hipotesis yang semata-mata dapat dikonfirmasikan dating dari
pernyataan-pernyataan

eksistensial,

yaitu

pernyataan

yang

mengajukan eksistensi dari beberapa fenomena. Hipotesis yang


semata-mata dapat disanggah dating dari hukum-hukum universal,
yaitu pernyataan-pernyataan yang dapat mengambil bentuk dari
persyaratan-persyaratan generalisasi yang universal.

3) Hakikat Dari Penjelasan


Penjelasan adalah langkah vital dari seluruh jenis pertanyaan
ilmiah. Ernest Nagel menyatakan bahwa tujuan khusus dari suatu
usaha ilmiah adalah untuk memberikan penjelasan yang sistematis
dan didukung secara bertanggung jawab.
Syarat-syarat model-model penjelasan :
1. Persyaratan akan relevansi penjelasan berarti bahwa model
penjelasan harus bagaimanapun caranya menunjukkan bahwa
fenomena yang akan dijelaskan adalah telah diekspektasikan
mengingat kondisi-kondisi yang ada.
2. Persyaratan akan kemampuan untuk diuji berarti bahwa
penjelasan ilmiah harus dapat diuji secara empiris.
Model

fungsional

atau

teleology-penjelasan

menjawab

pertanyaanmengapa atas suatu fenomena dengan mengacu kepada


fungsi-fungsi

tertentu

dari

fenomena

tersebut.

Model

genetik-

penjelasan menjawab pertanyaan mengapa atas suatu fenomena


dengan mengacu kepada suatu kondisi sebelumnya atau suatu urutan
dari kondisi-kondisi sebelumnya. Model pola menjawab pertanyaan

mengapa dengan mencocokkan suatu fenomena ke dalam pola yang


diketahui.
Model

peristiwa-peristiwa

pertanyaanmengapa

dengan

individual

mengacu

menjelaskan

kepada

penjelasan-

penjelasan I dividual sebagai penjelasnya. Model empiris logis


menjawab pertanyaan mengapa dengan tidak mengacu kepada
peristiwa-peristiwa individual namun kepada generalisasi empiris yang
menggolongkan dan secara induktif menggeneralisasi temuan-temuan
yang ada.

4) Hakikat Dari Prediksi


Prediksi dapat dilakukan dengan teknik-teknik ekstrapolasi, yang
memprediksi suatu variabel atas dasar dari variabel itu sendiri, atau
teknik-teknik asosiatif, yang memprediksi suatu variabel atas dasar
dari variabel (-variabel) lain. Kriteria yang dikenal dalam evaluasi suatu
prediksi antara lain adalah kemampuan untuk dapat dikonfirmasi atau
disangkal, ruang lingkup, presisi, akurasi, dan kekuatan.

D. KONTEKS PENEMUAN
Ada empat prosedur yang harus digunakan untuk menghasilkan atau
menemukan generalisasi, hukum atau teori-teori empiris yaitu mimpi, eureka,
pendekatan deduktif, dan pendekatan induktif. Mimpi yang dialami ketika
tidur atau saat berangan-angan menjadi prosedur penemuan yang memiliki
peranan penting dalam penemuan ilmiah. Cara eureka. Pendekatan deduktif
terhadap penyusuna suatu teori apapun dimulai dengan dalil-dalil dasar dan
dilanjutkan untuk menghasilkan kesimpulan logis atas subjek yang
dipermasalahkan.
Langkah yang digunakan untuk menghasilkan suatu pendekatan
deduktif adalah:
1. Menyatakan tujuan dari laporan-laporan keuangan
2. Memilih dalil-dalil akuntansi
3. Menghasilkan prinsip-prinsip akuntansi
4. Mengembangkan teknik-teknik akuntansi
Pendekatan induktif bagi penyusunan suatu teori dimulai dengan
observasi-observasi serta pengukuran dan selanjutnya bergerak ke arah
generalisasi kesimpulan. Tahapan dari pendekatan induktif yaitu:
1. Mencatat seluruh observasi yang dilakukan
2. Menganalisis dan mengklasifikasikan observasi-observasi ini
untuk mendeteksi adanya hubungan yang terus berulang

3. Secara induktif menghasilkan generalisasi dan prinsip-prinsip


akuntansi

dari

observasi-observasi

yang

menggambarkan

hubungan yang terus berulang


4. Menguji generalisasi tersebut.
Meskipun pendekatan deduktif diawali dengan usulan-usulan umum,
formulasi dari usulan-usulan tersebut sering dicapai dengan menggunakan
pemikiran induktif yang dikondisikan oleh pengetahuan dari penulis dan
pengalamannya dari praktik akuntansi.