Anda di halaman 1dari 3

GOD IS DEAD

Oleh: Yohanes Agus Setyono CM

Pengantar
Semua manusia mengharapkan kebahagiaan, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan
dalam hidupnya. Namun idealisme semacam ini ternyata bukan sesuatu yang mudah untuk
diejawantahkan. Bukan karena manusia itu sendiri tidak menghendaki, namun karena sering
kali kehendak manusia itu harus berhadapan dan berbenturan dengan fakta lain yang sama
sekali tidak dikehendakinya, yaitu fakta kejahatan.
Kejahatan hadir di tengah hamparan kehidupan manusia sebagai sebuah fakta yang tak
bisa disangkal dan dihindari.1 Dalam konteks pemahaman dan penghayatan iman agama-agama
kejahatan dilihat sebagai problem teologi karena problem ini sering kali menghantar manusia
kepada pertanyaan-pertanyaan mendasar perihal eksistensi Allah. Allah yang diyakini sebagai
Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Adil, Maha Cinta, Maha Bijaksana seakan-akan, dengan
adanya kejahatan, tidak bisa ditemukan lagi. Akhirnya pada titik tertentu muncullah pelbagai
pertanyaan fundamental yang bernuansa menyangsikan keberadaan Allah. Jalan pikiran yang
tercetus dalam hal ini biasanya seperti berikut: Akejahatan ada, maka Allah tidak ada@.2
Memang, runyamnya fenomena kejahatan sering kali merupakan pemicu lahirnya
persoalan-persoalan yang berkaitan dengan eksistensi Allah. Berkembangnya realitas kejahatan
dan penderitaan, sering kali selalu dibarengi dengan pertanyaan-pertanyaan yang merujuk pada
sikap skeptis akan eksistensi Allah. Allah itu ada atau tidak? Kalau Allah itu ada mengapa Ia
membiarkan bentuk-bentuk kejahatan itu berkembang di bumi ini? Di mana letak
kemahakuasaan Allah? Dan masih banyak lagi persoalan-persoalan yang intinya berusaha
mempertanyakan peranan Allah dalam aneka situasi kejahatan.
Penyangsian eksistensi Allah kiranya tidak hanya terjadi dalam dunia kaum ateis.
Bahkan harus dikedepankan bahwa dalam dunia kita dewasa ini pun aneka pertanyaan yang
bernada skeptis itu juga mengemuka dalam diri kaum agamis; kaum yang mengklaim dirinya
sebagai insan beriman. Sungguh-sungguh ironis!!!

Apa itu Kejahatan?


Louis Leahy, seorang pemikir yang berasal dari Quibec, mendefinisikan kejahatan
sebagai sesuatu yang secara objektif kurang sempurna, yaitu sesuatu yang secara fisik
menyakitkan dan secara moral adalah dosa.3 Pengertian kejahatan yang semacam itu secara
1Bdk. Hipolitus Kewuel, Menguak Problem Kejahatan dan Penderitaan, dalam AFokus,
No.17, tahun VII, Maret 1993", hal. 14

2Bdk. Prof. Dr. Louis Leahy SJ, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, Kanisius, Yogyakarta dan
BPK Gunung Mulia, 1993, hal. 270

3Bdk. Prof. Dr. Louis Leahy, Manusia Di Hadapan Allah 3: Kosmos, Manusia dan Allah,

1
sangat ringkas dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu kejahatan moral dan kejahatan fisik.
Kejahatan fisik adalah kejahatan yang berhubungan dengan dunia material, yaitu kejahatan
yang disebabkan oleh faktor-faktor di luar diri manusia atau ulah manusia yang tidak lahir dari
kehendak bebasnya.4 Misalnya kelaparan, banjir, cacat fisik, dan lain sebagainya. Kejahatan
fisik sering juga disebut dengan penderitaan.
Sedangkan kejahatan moral adalah kejahatan yang dilakukan seserong dengan bebas di
mana pelaku itu sendiri dengan sadar dan bebas memilih untuk melakukan suatu tindakan yang
salah. Dengan demikian kejahatan moral selalu berhubungan dengan kebebasan dan kesadaran
manusia sebagai pelaku yang bebas dan sadar.5 Contoh kejahatan ini adalah sikap tidak adil,
tidak jujur, egois, dan lain sebagainya.

Solusi Teisme (Kaum Beragama) Tidak Memadai


Teisme atau kaum beragama berpendapat bahwa kejahatan itu merupakan kebalikan
yang diperlukan untuk kebaikan yang lebih besar. Kejahatan itu ada supaya kebaikan dapat
secara lebih jelas dilihat oleh manusia.6 Logika semacam ini dalam perkembangannya sulit
untuk diterima, karena kebaikan itu sendiri sebenarnya tidak tidak bisa hanya dipahami sebagai
sesuatu yang bergantung pada kejahatan. Bahwa orang yang menderita akan menjadi lebih kuat
untuk penderitaan atau rasa sakit yang seperti itu kalau penderitaan atau rasa sakit yang sama
muncul lagi, adalah tesis yang bisa diterima. Dapat diterima juga bahwa dalam perspektif
spiritualitas kemalangan akan dapat memurnikan iman seseorang. Meskipun jalan pikiran
semacam ini bisa diterima, harus segera ditegaskan bahwa bagaimana pun jalan pikiran
semacam itu tetaplah merupakan solusi yang sangat fungsional dan sangat berbahaya. Sangat
berbahaya karena dengan demikian teisme atau kaum beragama menggunakan logika yang
akan membenarkan usaha-usaha yang dilakukan dengan cara mengorbankan yang satu untuk
kebaikan yang lain yang lebih tinggi.
Pada perspektif lain kaum beragama juga mengatakan bahwa kejahatan merupakan
hukuman atau kutukan dari Tuhan.7 Tesis itu dapat juga dibenarkan, akan tetapi banyak sekali
dalam peristiwa-peristiwa tertentu kita sangat sulit menerima pernyataan bahwa kejahatan itu
merupakan hukuman dari Allah. Contohnya penderitaan yang menimpa orang yang aleh,
bencana alam yang menimpa semua orang tanpa membedakan yang baik dan yang jahat. Dalam
B.P.K. Gunung Mulia: Jakarta, dan Kanisius: Yogyakarta, 1986, hal. 125

4Bdk. ED. L. Miller, Questiones That Matter, Mc Graw-Hill, Inc. New York, 1987, hal. 357

5Bdk. Julius Runtu, Rasa Berontak Terhadap Kejahatan Sebagai Titik Tolak Suatu Jalan
Menuju Pengakuan Eksistensi Allah, STFT Widya Sasana, Malang, 1993, hal. 14-16

6Bdk. Louis Leahy, Manusia Di Hadapan Allah 3: Kosmos, Manusia dan Allah, Op.Cit.,hal
105

7Bdk. Rom 1:18-32

2
peristiwa-peristiwa alamiah campur tangan Allah tidak bisa dilihat secara mudah. Seperti halnya
jika ada rem sepeda yang aus sehingga sepeda tersebut bisa saja menimpa semua orang, begitu
juga tak peduli apakah orang itu jahat atau baik, kalau dia bekerja tanpa istirahat pasti akan
jatuh sakit. Dalam persoalan-persoalan penderitaan semacam ini campur tangan Allah harus
dilihat dalam perspektif tanggapan manusia atas peristiwa-peristiwa yang mereka alami.

Keberatan Atas Logika Ateisme


Manusia harus menyangkal adanya Allah karena adanya kejahatan di dunia. Kejahatan
merupakan tanda ke-tidak-dapat-nya di damaikan antara kemaha-kuasaan dan kemaha-baikan
Allah dengan adanya kejahatan.8 Allah itu mahakuasa dan mahabaik, mengapa harus ada
kejahatan yang bertolak belakang dengan eksistensi-Nya? Mengapa Allah membiarkan adanya
kejahatan? Allah itu mahakuasa, mengapa tidak menghapus semua bentuk kejahatan? Manusia
saja menolak kejahatan, mengapa Allah tidak? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menuntun
manusia pada kesimpulan bahwa dari pada mempunyai Allah yang membiarkan kejahatan lebih
baik tidak punya Allah sama sekali. Maka dengan adanya kejahatan, seandainya Allah ada sekali
pun, Dia harus ditolak. Apa pun argumennya, kejahatan merupakan bukti bahwa Allah telah
mati.

Penutup
Feuerbach, seorang filsof Jerman, berpendapat bahwa Tuhan itu pada dasarnya adalah
ciptaan manusia. Ketika manusia mengakui bahwa Tuhan itu ada maka Tuhan ada. Dan ketika
manusia mengakui bahwa Tuhan itu tidak ada maka Tuhan juga tidak ada. Dengan beberapa
gagasan di atas, dan itu ditegaskan dengan gagasan yang terakhir ini, BAGAIMANA KITA
HARUS MEMPERTANGGUNG-JAWABKAN IMAN KITA?

8Bdk. Julius Runtu, Op.Cit.,hal 98