Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

(PPM)
PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU-IBU PKK KECAMATAN 7 ULU
PALEMBANG TERHADAP MASALAH GIZI DAN KESEHATAN LANSIA
SEBAGAI UPAYA HIDUP SEHAT

OLEH
SALAMAH
13220008

PROGRAM STUDI S1 KEPERWATAN


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS KADER BANGSA PALEMBANG
TAHUN 2016
LEMBAR PENGESAHAN
ARTIKEL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
1

TAHUN ANGGRAN 2016

A. JUDUL KEGIATAN

: Peningkatan pengetahuan ibu-ibu pkk kecamatan 7

ulu palembang terhadap masalah gizi dan


kesehatan lansia sebagai upaya hidup sehat
B. KETUA PELAKSANA
: Salamah,S.Kep . NERS. M,Kes
C. ANGGOTA PELAKSANA : 1. Firda Firdaus ,S.Kep . NERS. M,Kes
2. Nur widya anggriani ,S.Kep . NERS. M,Kes
3.Embarwati ,S.Kep . NERS. M,Kes
D. WAKTU PELAKSANAAN : 6-7 Januari 2016
E. KESIMPULAN DAN SARAN

Palembang, 15 Januari 2016


Pemeriksa
Ketua LPPM Universitas Kader Bangsa

Ache Ardiansyah,MS AMR,SST. M.Kes

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha ESA, yang
memberikan limpahan karunia Nya, sehingga dapat menyelesaikan tugas pengabdian
kepada masyarakat dengan judul PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU-IBU
PKK KECAMATAN 7 ULU PALEMBANG TERHADAP MASALAH GIZI DAN
KESEHATAN LANSIA SEBAGAI UPAYA HIDUP SEHAT
Terlaksana nya kegiatan pada masyarakat ini tidak terlepas dari peran serta
berbagai pihak yang bersedia mengulurkan tangan dan membantu sehingga kegiatan
ini dapat berjalan dengan lancar. Atas terlaksana dan selesai nya kegiatan ini saya
mengucapkan banyak terima kasih yang sedalam-dalam nya atas budi baik dan
bantuan dari bapak/ibu/saudara sekalian yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Tiada gading yang tak retak, dalam laporan pengabdian pada masyarakat ini
masih jauh dari sempurna, untuk itulah saya sangat mengharap kan saran, kritik yang
bersifat membangun untuk sempurnanya. Atas perhatian dan kerjasama yang baik
saya ucapkan banyak terima kasih

Palembang, 15 Januari 2016

PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU-IBU PKK KECAMATAN 7 ULU


PALEMBANG TERHADAP MASALAH GIZI DAN KESEHATAN LANSIA
SEBAGAI UPAYA HIDUP SEHAT
OLEH : .

Abstrak
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam pelatihan ini ialah supaya banyak
ibu-ibu pkk yang dapat mengetahui masalah gizi dan kesehatan lansia sebagai upaya
hidup sehat, salah satu nya yaitu pengembangan pengetahuan ibu-ibu pkk pada
masalah gizi dan kesehatan lansia sebagai upaya hidup sehat. Di akhir dari pelatihan
diharapkan 85 % dari ibu-ibu pkk dapat mengetahui masalah gizi dan apa saja yang
dapat terjadi pada kesehatan lansia sebagai upaya hidup sehat.
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi ceramah, diskusi, dan
praktek. Jumlah peserta ibu-ibu pkk 65 orang, dari 65 orang tersebut merupakan
wakil dari masyarakat 7 ulu dan sebagai nya. Evaluasi yang digunakan pada pelatihan
ini tes tanya jawab.
Ada pun hasil pelatihan ini adalah darri 65 peserta yang mengikuti 95 % dapat
mengetahui dan mengerti tentang gizi dan kesehatan lansia dengan hasil yang baik.
Kata kunci : Masalah gizi dan kesehatan lansia upaya hidup sehat

BAB I
PENDAHULUAN
1. Analisis Situasi
Keberhasilan sumber daya manusia dalam bidang kesehatan akan berdampak
pada

menurunnya

tingkat

kematian

bayi,

menurunnya

fertilitas

serta

meningkatnya usia harapan hidup. Peningkatan usia harapan hidup akan


mengakibatkan bertambahnya keberadaan lansia. Kementrian Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat (2010) melaporkan bahwa Indonesia memasuki era
penduduk berstruktur lanjut usia (aging structured population) karena pada tahun
2000 jumlah penduduk yang berusia diatas 60 tahun sebesar 7,18 persen. Pada
tahun 2010 diperkirakan usia harapan hidup penduduk Indonesia adalah 67,4
tahun dengan jumlah lansia mencapai 23,9 juta jiwa (9,77%) dan diperkirakan
akan menjadi 28 juta lebih pada tahun 2020.
Lanjut usia (lansia) merupakan proses alami yang terjadi pada semua manusia,
baik laki maupun perempuan. Banyak orang yang menikmati masa tua dengan
bahagia, tetapi tidak sedikit orang-orang mengalami sakit dan meninggal dengan
tanpa menikmati masa tua yang bahagia. Setiap orang pasti ingin menikmati masa
tua dengan bahagia, namun keinginan ini tidak dapat semuanya menjadi
kenyataan. Saat ini banyak kaum lansia yang mengalami depresi , stress dan
berpenyakitan dan juga banyak lansia yang dibawa ke panti jompo dan tidak ter
urus oleh keluarganya. Disamping itu ada juga lansia yang harus bekerja keras
untuk memenuhi kehidupannya.
Proses menua hanya dapat diperlambat dengan jalan mengetahui dasar - dasar
menua dari segi biologis, oleh sebab itu sangatlah tepat jika kita harus
menyiapkan diri masing masing agar pada usia tua tetap segar, sehat dan luwes
dalam penampilan.
Proses penuaan dapat diakibatkan oleh 65 % oleh faktor genetik dan 35 %
lainnya disebabkan oleh faktor malnutrisi, radiasi dan faktor lainnya dan proses
ini pasti akan terjadi di setiap manusia.

Masalah gizi pada lansia dapat disebabkan oleh perubahan lingkungan dan
status kesehatan lansia itu sendiri. Secara alamiah, lansia akan mengalami suatu
fase kemunduran (degenerasi) dari fungsi organ-organ tubuh. Sari (2006)
menambahkan dengan semakin bertambahnya usia maka kemampuan indera
penciuman dan pengecapan mulai menurun seiring dengan waktu. Selain itu,
hilangnya sebagian geligi sering menimbulkan lansia tidak nafsu makan dan
menyebabkan berkurangnya asupan makanan pada lansia. Faktor kesehatan yang
berperan dalam masalah gizi adalah naiknya insidensi penyakit degeneratif dan
nondegeneratif yang berakibat pada perubahan asupan makanan, perubahan
absoprsi dan utilisasi zat-zat gizi pada tingkat jaringan serta penggunaan obatobat tertentu yang harus diminum lansia karena penyakit yang sedang diderita
(Muis 2006).
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan
dan kesejahteraan manusia. Keadaan gizi seseorang dikatakan baik, apabila
terdapat keseimbangan dan keserasian antara perkembangan fisik dan mental
orang tersebut. Terdapat kaitan yang sangat erat antara tingkat keadaan gizi
dengan konsumsi makanan ( Winarno, 2000 ).
Makanan bergizi ditentukan oleh komponen gizi yang ada dalam makanan,
diantaranya karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral, kesemuanya ini
sangat diperlukan oleh tubuh dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup
suatu organisme dan juga proses pengolahan yang dilakukan. Makanan ada
kalanya dapat bertahan lama dan ada pula yang bertahan dalam waktu yang relatif
pendek. Ini ditentukan oleh kandungan air yang ada dalam makanan tersebut
( Winarno, 2000).
Guharjo, dkk (1989) menyatakan bahwa keluarga bertanggung jawab dalam
memelihara anggota-anggotanya agar tumbuh dan berkembang secara fisik,
mental, intelektual dan sosial. Hubungan antara makanan dan kesehatan telah
diketahui sejak berabad-abad yang lampau. Mutu makanan yang kurang baik
dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tubuh dan daya tahan tubuh

terhadap penyakit semakin melemah dan pada akhirnya akan terjadi


kecendrungan menjadi sakit.
Sakit atau terjangkitnya suatu penyakit, merupakan keadaan yang tidak
pernah diharapkan oleh manusia termasuk lansia yang merupakan bagian terkecil
dalam komunitas masyarakat. Oleh sebab itu sangat tepatlah jika pengetahuan
akan kesehatan lansia diberikan sebagai bekal pengetahuan yang harus dimiliki
disamping kebutuhan akan suplemen gizi makanan terpenuhi.
Kecamatan 7 Ulu merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kota
Palembang. Kecamatan ini terdiri dari 10 RT dengan jumlah penduduk 2.287
orang atau 901 KK. Dari jumlah ini sebagian besar para ibu rumah tangga yang
ada di kecamatan 7 Ulu berada pada usia 45 tahun ke atas malah ada yang
berumur 73 tahun. Usia ini merupakan usia awal lansia atau pralansia sehingga
sangat tepat untuk diberikan pengetahuan lansia. Rata rata memiliki tingkat
pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) dan malah ada hanya beberapa
tahun di sekolah dasar, sehingga pengetahuan mereka tentang masalah gizi lansia
dan kesehatan lansia relatif rendah. Keadaan ini diperparah lagi karena di
kecamatan 7 Ulu hingga saat ini belum memiliki Posyandu Lansia. Padahal
keberadaan Posyandu Lansia, sangat diperlukan di tengah - tengah warga yang
penduduknya memiliki lansia. Mata pencaharian ibu ibu yang ada pada
kecamatan 7 Ulu ini adalah berwira swasta dengan jalan menjual panganan
matang seperti kue, lauk pauk. Minimnya pengetahuan tentang gizi makanan akan
berdampak pada mutu dari makanan yang dikonsumsi sehari- hari.
Masalah asupan gizi makanan secara umum akan mempengaruhi ketahanan
tubuh dan juga secara simultan akan berpengaruh pada kesehatan lansia secara
keseluruhan. Kesehatan lansia merupakan faktor utama yang mempengaruhi
kehidupan secara nyaman dari lansia itu sendiri.
2. Tinjauan Pustaka
Masalah gizi pada lansia
A. Pengertian
7

Lanjut usia merupakan tahap akhir dalam kehidupan manusia. Manusia yang
memasuki tahap ini ditandai dengan menurunnya kemampuan kerja tubuh akibat
perubahan atau penurunan fungsi organ-organ tubuh (Arisman, 2004). Berdasarkan
WHO (Setianto, 2007) lansia dibagi menjadi tiga golongan yaitu elderly (60-75
tahun), old (76-90 tahun), dan very old (> 90 tahun).
Menurut UU no 13 tahun 1998 pasal 1 ayat 2 tantang Kesejahteraan Lanjut
Usia menyatakan bahwa lanjut usia adalah seorang telah mencapai usia 60 tahun ke
atas. Batas usia lanjut menurut Departemen Kesehatan (2006) dibagi atas:
1. Virilitas (praseneium) : masa persiapan usia lanjut yang menampakkan kematangan
jiwa (55-59 tahun).
2. Usia lanjut dini (senescen) : kelompok mulai memasuki masa usia lanjut dini (60-64
tahun).
3. Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit degeneratif (> 65 tahun).
Kesehatan lansia dipengaruhi oleh proses menua. Proses menua didefinisikan
sebagai perubahan yang terkait waktu, bersifat universal, intrinsik, progresif,
dan detrimental. Keadaan ini menyebabkan kemampuan beradaptasi terhadap
lingkungan atau kemempuan bertahan hidup berkurang. Proses menua setiap individu
dan setiap organ tubuh berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup, lingkungan dan
penyakit degeneratif (Setiati, 2000).
Proses menua terjadi pada berbagai organ seperti komposisi tubuh, otak,
jantung, paru, ginjal dan saluran kemih, gastroentestinal serta muskuloskeletal pada
lansia dijelaskan sebagai berikut:
Komposisi Tubuh
Akibat penuaan pada lansia massa otot berkurang sedangkan massa lemak
bertambah. Massa tubuh yang tidak berlemak berkurang sebanyak 6,3%, sementara
massa lemak meningkat 2% dari berat badan perdekade setalah berusia 30 tahun
(Forbes, dkk,. 1991, dalam Arisman 2004). Jumlah cairan tubuh berkurang dari

sekitar 60% berat badan pada orang muda menjadi 45% dari berat badan wanita
lansia.
Otak
Berat otak pada usia 90 tahun berkurang 10% dibandingkan saat masih muda.
Junlah sel neuron berkurang kira-kira sebanyak 100.000 sel sehari. Pada lansia sehat
sekitar 10% mengalami atrofi otak difus. Kondisi lain yang berubah adalah
melambatnya proses informasi, menurunnya daya ingat jangka pendek, berkurangnya
kemampuan otak untuk membedakan stimulus atau rangsangan yang datang.
Jantung
Denyut jantung berubah akibat proses menua, antara lain berkurangnya
frekuensi jantung, responterhadap stress serta complienceventrikel kiri. Perubahan
pada sistem kardiovaskuler ditandai dengan adanya perubahan anatomi pada jantung
dan pembuluh darah, menurunnya denyut nadi maksimal, meningkatnya tekanan
darah, hipotensi postural, perubahan dalam pemulihan denyut nadi sesudah aktifitas
fisik, menurunnya jumlah darah yang di pompa dalam tiap denyutan, dan perubahan
dalam darah.
Paru
Beberapa kondisi lansia terkait fungsi paru seperti meningkatnya infeksi
saluran nafas atas, berkurangnya luas permukaan paru, berkurangnya elastisitas paru,
perubahan volume paru dan kemungkinan terjadinya penyakit paru obstruktif
menahun yang dapat memperpendek nafas, batuk, lendir yang berlebih, dan
rendahnya toleransi terhadap latihan fisik.
Ginjal dan Saluran Kemih
Meningkatnya usia seseorang sebanding dengan berkurangnya jumlah darah
yang difiltrasi oleh ginjal. Hal ini desebabkan berkurangnya jumlah darah yang
sampai ke ginjal karena gangguan jantung atau ateroskerosis.

Proses menua mengakibatkan kapasitas mengeluarkan air dalam umlah besar


berkurang karena ketidakmampuannya mengeluarkan urin yang encer. Akibatnya
menimbulkan rasa lelah kelemahan non spesifik dan bingung.
Gastrointestinal
Motilitas dan pengososngan lambung menurun seiring meningkatnya usia.
Lapisan lambung akan menipis. Di atas usia 60 tahun sekresi HCL dan pepsin
berkurang akibatnya penyerapan vitamin B12 dan zat besi menurun. Absorbsi
karbohidrat juga menurun, namun absorbsi protein tidak terganggu.
Muskuloskeletal
Komposisi otot berubah sepanjang waktu saat miofibril diganti oleh lemak,
kolagen dan jeringan parut. Aliran darah ke otot berkurang sebanding dengan
meningkatnya usia seseorang yang diikuti oleh berkurangnya jumlah zat-zat gizi dan
energi yang tersedia untuk otot sehingga kekuatan otot berkurang.
Massa tulang berubah setelah berusia 45 tahun, pada wanita kehilangan
sekitar 25% dan pada pria sekitar 12%. Reabsorbsi tulang terjadi lebih besar dari pada
formasi tulang. Sehingga kekuatan dan stabilitas tulang menurun. Selain itu juga
terjadi perubahan degeneratif pada sendi-sendi penyangga tubuh.
Asupan Zat Gizi
Gizi dilihat sebagai salah satu faktor untuk memperbaiki status kognitif.
Banyak penelitian menun jukkan bahwa stress oksidatif dan akumulasi radikal bebas
terlibat dalam patofisiologi penyakit. Radikal bebas yang melampaui batas
bertanggung jawab terhadap peroksidasi lemak berlebihan, hal ini dapat mempercepat
proses degenerasi saraf (Nourhaesmi, F., dkk., 2000 dalam Aisyah, 2009). Beberapa
zat gizi yang berpengaruh terhadap status kognitif antar lain:
Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber utama energi bagi tubuh manusia. Sebagian
karbohidrat di dalam sirkulasi tubuh manusia sebagai glukosa. Sebagai sumber energi
utama glukosa berperan penting dalam aktifitas organ, termasuk sistem saraf pusat
termasuk otak (Almatsier, 2001).

10

Protein
Protein merupakan bagian utama dari sel hidup dan bagian terbesar tubuh
sesudah air. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino (Almatsier, 2001).
Konsenttrasi beberapa asam amino dapat mempengaruhi keberadaan pentingnya
prekursor neurotransmitter di dalam otak.
Lemak
Lemak dibutuhkan sebagai sumber energi, sumber asam lemak esensial, alat
angkut vitamin larut lemak, memelihara suhu tubuh dan sebagai pelumas. WHO
(1990) menganjurkan konsumsi lemak sebanyak 15-30% kebutuhan energi total.
Asupan lemek berlebih dapat menggenggu kesehatan seperti kolesterol (Almatsier,
2001).
Vitamin A
Peanan vitamin A berkaitan dengan dua hal meliputi mengontrol deferensiasi
sel dan kompleks vitamin Amasuk ke dalam nukleus sehingga mempengaruhi DNA
(Almatsier, 2001). Oleh karena vitamin A berhubungan dengan penuaan, terutama
pada penuaan otak, selian itu vitamin A dikenal juga sebagai antioksidan. Hubungan
antara asupan vitamin A dari makanan dengan fungsi kognitif menunjukkan hasil
yang signifikan (La Rue, dkk., 1997 dalam Aisyah 2009).
Vitamin B12
Asupan vitamin B12 berpengaruh pada jaringan saraf karena salah satu fungsi
dari vitamin B12 penting dalam fungsi normal metabolisme jaringan saraf.
Kekurangan vitamin B12 dapat menurunkan kemampuan kognitif. Vitamin B12
merupakan kofaktor dua jenis enzim pada manusia yaitu metionin sintetase dan
metilmalonil-KoA. Reaksi metilmalonil-KoA mutase terjadi dalam mitokondria sel
dan menggunakan deoksiadenosilkobalamin sebagai kofaktor. Reaksi ini mengubah
metilmalonil-KoA menjadi suksinil-KoA. Reksi-reaksi ini diperlukan untuk degradasi
asam propionat dan asam lemak rantai ganjil terutama dalam sistem saraf. Diduga

11

gangguan saraf pada kekurangan vitamin B12 disebabkan gangguan aktivitas enzim
ini (Almatsier, 2001)
Penelitian pada medical Research Councils (MRC) Cognitive Function and
Ageing Study (CFAS) melaporkan bahwa defisiensi vitamin B12 pada lansia
berhubungan dengan fungsi kognitif dan rendahnya nilai kemampuan bahasa dan
ekspresi (McCracken, dkk., 2006 dalam Aisyah, 2009). Pada penelitian ini
menunjukkan status vitamin B12 yang rendah berhubungan dengan lebih cepatnya
penurunan fungsi kognitif (Clarke, dkk., 2007 dalam Aisyah, 2009). Defisiensi
vitamin B12 dalam waktu lama dapat menyebabakan kerusakan sisitem syaraf yang
tidak dapat diperbaiki dan akhirnya dapat menyebabkan kematian sel-sel syaraf.
Vitamin B6
Vitamin B6 berperan dalam bentuk fosforilasi PLP dan PMP sebagai koenzim
terutama dalam transmisi, dekarbboksilasi, dan reaksi lain yang berkaitan dengan
metabolisme protein. Sebagai koenzim fosforilase, PLP membantu pelepasan
gloikogen dari hati dan otot sebagai glukosa-1-fosfat. Pembentukan sfingolopida
yang diperlukan dalam pembentukan lapisan mielin yang menyarungi sel-sel syaraf
yang memerlukan PLP.
Defisisensi vitamin B6 meninbulkan gejala-gejala yang berkaitan dengan
gangguan metabolosme protein seperti lemah, mudah tersinggung dan sukar tidur.
Kekurangan lebih lanjut dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan gangguan
fungsi motorik. Jika defisiensi vitamin B6 terus berlanjut dapat menimbulkan
kerusakan pada sistem syaraf (Almatsier, 2001).
Vitamin C
Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh, sebagai koenzim ataun
kofaktor. Vitamin C atau dikenal juga sebagai asan askorbat adalah bahan yang kuat
kemampuan reduksinya dan mampu bertindak sebagai antioksidan dalam reaksireaksi hidroksilasi (Almatsier, 2001). Selain itu vitamin C berperan memperlambat
berkembangnya gangguan kognitif.
12

Vitamin E
Antioksidan merupakan fungsi utama vitamin E. Komponennya penting
untuk mencegah perusakan otak karena reaksi oksidatif. Oleh karena itu vitamin E
dapat mencegah seseorang dari kemunduran fungsi kognitif yaitu dengan melindungi
kerusakan jaringan saraf dari roses oksidatif (Meydani, M., 2001 dalam Aisyah
2009).
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa asupan vitamin E yang tinggi pada
usia lanjut dikaitkan dengan meningkatnya fungsi imun dan membaiknya status
kognitif pada pasien dengan penyakit Alzheimer (Worthington Roberts dan Williams,
2000 dalam Almatsier, 2011)
Zat Besi
Zat besi atau Fe mempunyai beberapa fungsi esensial di dalam tubuh.
Defisiensi Fe berpengaruh negatif terhadap fungsi otak, terutama fungsi sistem
neurotransmiter. Hal ini menyebabkan kepekaan reseptor saraf dopamin berkurang
dan reseptor tersebut akan hilang. Daya konsentrasi, daya ingat dan kemampuan
belajar terganggu (Almatsier, 2001). Zat besi merupakan kofaktor penting dalam
sintesisneurotransmitter dan myelination. Oleh karena itu Fe memiliki peran penting
pada proses perusakan atau pelemahan fungsi kognitif dan menurunnya kemampuan
kerja.
Seng
Seng berkaitan dengan berbagai aspek metabolisme. Peranan penting seng
sebagai bagian integral enzim DNA polimerasi dan RNA polimerase yang diperlikan
dalam sintesis DNA dan RNA. Kekurangan seng kronis dapat mengganggu sistem
saraf pusat dan fungsi otak yang dihubungkan dengan fungsi Zn dalam struktur enzim
antioksidan (Almatsier, 2001).
Asam Folat
Asam folat berperan dalam pembentukan DNA dan RNA. Kekurangan asam
folat dapat mengganggu metabolisme DNA sehingga dapat mengganggu kerja sel-sel
13

dalam tubuh (Almatsier, 2001). Penelitian di Italia melaporkan bahwa kadar asam
folat rendahberhubungan dengan akan meningkatkan risiko terjadinya demensia dan
alzheimer (Ravaglia, dkk., 2005 dalam Aisyah, 2009). Penelitian ini didukung laporan
lain yang menyatakan bahwa asupan asam folat berhubungan dengan meningkatnya
fungsi kognitif (Ortega, dkk., 1997 dalam Aisyah, 2009).
Pada orang lanjut usia, asam folat berperan mencegah terjadinya kepikunan
serta penurunan memori ingatan pada otak. Penelitian telah membuktikan bahwa
mereka yang mengkonsumsi asam folat setidaknya di usia 50 tahunan selama 3 tahun
mampu mengimbangi mereka yang berusia 40 tahun dalam masalah ingatan pada
sebuah tes di Belanda.
Kadar Homosistein
Homosistein adalah asam amino (bagian terkecil dari protein) yang
merupakan produk antara dalam siklus metionin menjadi sistein. Homosistein
(2 amino 4 mercaptobutanoic acid) merupakan non proteinsulfhydryl amino acid,
yang metabolismenya terletak pada persimpangan antara jalur transsulfurasi dan
remetilasi biosintesis metionin. Homosistein merupakan senyawa antara yang
dihasilkan pada metabolisme metionin, suatu asam amino esensial yang terdapat
dalam beberapa bentuk diplasma. Sulfhidril atau bentuk tereduksi dinamakan
homosistein, dan disulfida atau bentuk teroksidasi dinamakan homosistin. Bentuk
disulfida juga terdapat bersama-sama dengan sistein dan protein yang mengandung
residu sistein reaktif (homosistein yang terikat protein), bentuk ini dinamakan
disulfida campuran. Bentuk teroksidasi merupakan bagian terbesar (98-99%) dalam
plasma sedangkan bentuk tereduksi hanya 1% dari total homosistein dalam plasma.
Asam folat, vitamin B6 dan vitamin B12 diperlukan dalam metablisme
homosistein, sehingga apabila terjadi defisiensi pada salah satu komponen ini maka
homosistein tidak dapat diubah menjadi metionin dan sistein dan dapat mengganggu
metabolisme homosistein.
3. Identifikasi dan Perumusan Masalah

14

Identifikasi Masalah
Berdasarkan analisis situasi di atas, para ibu rumah tangga di kecamatan 7 Ulu
Kota Palembang kurang memahami makna dari makanan yang dikonsumsi dan juga
tentang masalah kesehatan lansia yang sebenarnya dapat dijaga dan dipertahankan ,
dimana kesemuanya ini akan sangat dipengaruhi oleh asupan makanan se hari hari .
Sejalan dengan itu, permasalahan mitra adalah.
a).
Para
ibu
PKK
di
kecamatan

Ulu

Kota

Palembang

kurang memahami makna gizi lansia


Para
ibu
PKK
di
Kecamatan

Ulu

Kota

Palembang

kurang memahami kesehatan lansia


c).
Para
ibu
PKK
di
Kecamatan

Ulu

Kota

Palembang

b).

kurang mengetahui dampak gizi makanan dan kesehatan lansia


Rumusan Masalah
Mengacu pada uraian yang telah dikemukan diatas maka rumusan masalah yang
dapat diambil adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh pelatihan pada ibu-ibu pkk terhadap makna gizi lansia dalam
upaya hidup sehat ?
2. Bagaimana cara meningkatkan pengetahaun

ibu-ibu pkk untuk memahami

kesehatan lansia ?
3. Kenapa ibu-ibu pkk sampai kurang mengetahui dampak gizi makanan dan
kesehatan pada lansia ?

1.3 Tujuan Kegiatan


Secara umum kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan ibu ibu PKK Kecamatan 7 Ulu melalui pelatihan
pengetahuan tentang gizi dan kesehatan lansia. Sedangkan secara spesifik
tujuannya adalah sebagai berikut.
1. Memberikan pengetahuan pada para ibu PKK di Kecamatan 7 Ulu Kota
Palembang tentang makna gizi lansia

15

2. Memberikan pelatihan pada para ibu PKK di Kecamatan 7 Ulu Kota


Palembang tentang kesehatan lansia
3.Memberikan pengetahuan pada para ibu PKK di Kecamatan 7 Ulu Kota
Palembang tentang dampak gizi makanan dan kesehatan lansia
1.4 Manfaat P2M
Hasil kegiatan pengabdian pada masyarakat ini memberikan kontribusi positif
dalam peningkatan pengetahuan ibu ibu PKK Kecamatan 7 Ulu Kota Palembang.
Secara eksplisit mamfaat kegiatan ini adalah sebagai berikut:
1) Ibu - ibu PKK yang terlibat dalam kegiatan ini memperoleh tambahan
wawasan tentang gizi lansia dan kesehatan lansia.
2) Kecamatan 7 Ulu Kota Palembang memperoleh peluang untuk memiliki
sumber daya manusia yang berkualitas.
3) Staf dosen Universitas Kader Bangsa Palembang dapat melaksanakan salah
satu dharma dari tri dharma perguruan tinggi , yaitu Pengabdian Pada
Masyarakat.

BAB II
METODE PELAKSANAAN KEGIATAN

1.

Khalayak Sasaran
Khalayak yang dijadikan sasaran kegiatan ini adalah para ibu-ibu PKK di

Kecamatan 7 Ulu Kota Palembang yang berusia antara 45 tahun s/d 65 tahun.
Keterlibatan mereka dalam kegiatan P2M ini dapat dilihat pada Tabel 2.1

16

Tabel 2.1 Keterlibatan Khalayak Sasaran


Khalayak
Para ibu PKK Kecamatan 7

Kegiatan
Ceramah dan diskusi

Ulu Kota Palembang

tentang gizi lansia

Sasaran
Meningkatkan
pemahaman tentang gizi

Ceramah dan tanya

lansia serta kesehatan pada

jawab ttg kesehatan

lansia serta penyakit yang

lansia

sering diderita pada lansia

Mengkaitkan antara
gizi lansia dan kesehatan
lansia

2. Metode Kegiatan PPM


1) Ceramah dan Diskusi
Kegiatan ceramah dan diskusi dilakukan untuk memberikan pemahaman
peserta tentang gizi lansia dan kesehan lansia. Materi ini akan diberikan oleh staf
dosen Universitas Kader Bangsa yang ahli dalam bidang kesehatan. Materi yang
diberikan memuat berbagai persoalan lansia seperti : Ceramah berupa atau
menyangkut materi apa itu gizi, bagaimana gizi lansia, keperluan energi lansia,
penyakit - penyakit yang sering diderita oleh lansia serta usaha - usaha
menanggulanginya dan juga hubungan antara lansia dan menupause. Ceramah dan
diskusi menyasar pada tujuan kegiatan ini.
2) Praktek
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari ceramah dan diskusi yang secara khusus
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ibu - ibu PKK Kecamatan 7 Ulu Kota
Palembang dalam pengetahuan tentang lansia yang menyangkut masalah gizi dan
kesehatan lansia. Kegiatan ini diisi dengan pelatihan penyusunan menu makanan

17

lansia yang berkualitas. Kegiatan praktek ini dibimbing staf dosen UKB yang ahli
dalam kesehatan.
2.3 Keterkaitan
Kegiatan P2M ini melibatkan instansi Universitas Kader Bangsa dan ibu - ibu
PKK Kecamatan 7 Ulu Kota Palembang. Kedua instansi yang terlibat ini mendapat
keunrungan secara bersama - sama (mutual benefit). 1) Kecamatan 7 Ulu sebagai
tempat pelaksanaan kegiatan akan menyediakan SDM berupa ibu - ibu PKK yang
akan dilatih. Dalam hal ini,Kecamatan 7 Ulu akan memperoleh manfaat dalam hal
peningkatan SDM, terutama dalam hal pengetahuan lansia. 2) Universitas Kader
Bangsa Palembang melalui Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat berperan
menyediakan dana, sehingga mendukung pelaksanaan dharma ketiga dari tri Dharma
Perguruan Tinggi
3. Langkah-langkah Kegiatan PPM
Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dirancang tingkat keberhasilan nya :
A. Persiapan
Pada tahap persiapan ini yang dilakukan adalah membuat proposal dan
observasi di beberapa kecamatan yang memiliki organisasi ibu-ibu pkk. Sambil
menunggu proposal diterima dan tidak nya, setelah pegumuman tahap berikut
nya adalah seminar awal proposal
B. Seminar Proposal
Pada seminar proposal banyak masukan yang diberikan antara lain :
Rancangan evaluasi tidak sekedar post test, target pelatihan yang dihasilkan
berapa, pelatihan yang diberikan untuk usia berapa ? apakah yang dilakukan
untuk meningkatkan pengetahuan, sasaran mohon diperjelas untuk tercapai
nya target penyampain materi.
C. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Peningkatan pengetahuan ibu-ibu pkk dilaksanakan pada tangal 6-7 januari
2016 di kecamatan 7 ulu palembang terhadap masalah gizi dan kesehatan
lansia sebagai upaya hidup sehat
D. Faktor pendukung dan penghambat

18

Faktor pendukung :
1. Tersedianya sumber daya manusia yang mempunyai pengetahuan dan
keterampilan yang berhubugan dengan masalah gizi dan kesehatan lansia
dalam upaya hidup sehat
2. Saling mengisi antara anggota PPM sehingga pelaksanaan dapat berjalan
dengan lancar.
3. Tersedia nya tempat pelatihan sehingga mempermudah dalam pelaksanaan
PPM.
Faktor penghambat :
1. Belum bisa mencangkup perwakilan seluruh provinsi sumatera selatan.
2. Waktu pelatihan yang kurang untuk mencapai suatu pemahaman bukan
dalam waktu yang singkat
3. Kemampuan peserta yang tidak sama sehigga pendekatan nya harus dibeda
kan
4.

Kerangka Pemecahan Masalah

Kerangka berpikir untuk memecahkan masalah kegiatan ini digambarkan seperti


pada Gambar 1. Dari permasalahan yang muncul disusun berbagai alternatif
untuk memecahkan masalah. Selanjutnya dari berbagai alternatif, dipilih
alternatif yang paling mungkin dilaksanakan. Berdasarkan kerangka berpikir
tersebut, maka metode dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut
Permasalahan

Pemecahan Masalah

-Para ibu PKK (pralansia dan lansia)


kurang memahami makna gizi lansia
- Para ibu PKK (pralansia dan
lansia) kurang memahami akan
kesehatan lansia
- Para ibu PKK kurang memahami
keterkaitan antara gizi lansia dan
kesehatan lansia

-Meningkatkan pengetahuan entang gizi


lansia
-Meningkatkan pengetahuan entang
kesehatan lansia Mengajak para ibu rumah
angga (pralasia dan lansia) elalu menjaga gizi
kesehatan ansia
- Menigkatkan kualitas pendidi kan para ibu
PKK tentang gizi dan kesehatan lansia

19

Metode Kegiatan
-Ceramah dan diskusi tentang giz
lansia
-Ceramah dan diskusi tentang
kesehatan lansia
-Tanya jawab hubungan antara gizi
dan kesehatan lansia
-Penyuluhan usaha usaha mengatasi
penyakit pada lansia

Alternatif Pemecahan Masalah


- Meningkatkan pemahaman ibu rumah tangga
(lansia) tentang gizi dan kesehatan lansia melalui
ceramah ,tanya jawab dan diskusi

Gambar 2.1. Bagan Skematis Metode Pemecahan Masalah

5. Rancangan Evaluasi
Untuk mengetahui apakah program yang akan dilaksanakan ini berdampak positif
atau sejauh mana program ini terlaksana, sudah barang tentu dibuat suatu evaluasi
yang meliput :
1) Dilakukan pre tes mengenai pengetahuan tentang gizi lansia dan juga kesehatan
lansia, ini dilakukan sebelum kegiatan dilakukan dan untuk mengetahui seberapa
besar pengetahuan ibu - ibu PKK tentang masalah gizi dan kesehatan lansia.
2) Dilakukan pos tes mengenai gizi lansia dan juga kesehatan lansia, materi yang
diberikan menyangkut apa yang diinformasikan saat ceramah, tanya jawab maupun
diskusi
3) Praktek menyusun menu makan sehari hari dan juga kesehatannya

20

4) Dilakukan survei sebulan setelah dilakukan kegiatan tentang implementasi


program yang telah dilakukan. Selanjutnya dibandingkan antara skor pre tes dan post
tes, sehingga akan dapat dilihat keberhasilan program yang dilakukan.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pelaksanaan Kegiatan


Kegiatan P2M ini dilaksanakan dalam bentuk ceramah dan diskusi terprogram
dan dilanjutkan dengan praktek penentuan menu makan lansia. Rincian kegiatan
dapat diperlihatkan dalam tabel 3.1 di bawah ini. Tabel 3.1 Rincian Kegiatan
Pengabdian Pada Masyarakat
Pertemuan ke
1
2
3
4

Kegiatan
Sosialisasi program dan pre test
Ceramah dan diskusi tentang lansia : pengertian, proses menua
Ceramah dan diskusi : Gizi lansia dan menu lansia
Ceramah dan diskusi : Kesehatan lansia

21

5
6

Ceramah dan diskusi : Lansia dan menupause


Evaluasi
Untuk dapat memahami tentang masalah gizi dan kesehatan lansia, ibu - ibu

PKK di Kecamatan 7 Ulu dalam hal ini bertindak sebagai peserta pengabdian pada
masyarakat..Kegiatan ceramah dan diskusi berjalan lancar dengan suasana kondusif,
ibu - ibu dengan lugasnya berdiskusi sekali - kali disertai dengan guyon sehinggga
suasana benar - benar kondusif. Para seserta yang terdiri dari ibu - ibu yang tergolong
dalam usia pra lansia dan lansia dengan batasan usia antara 45 hingga 60 tahun. Latar
belakang pendidikan yang dimiliki oleh ibu - ibu tersebut adalah bervariasi, ada yang
tamat sekolah dasar, tamat sekolah menengah pertama dan juga tamat sekolah
menengah atas dan tidak ada yang tamat sarjana. Tetapi dari ketiga tamatan tersebut,
yang terbanyak adalah tamatan sekolah menengah pertama.
Hasil pemberian pre test dan dilanjutkan dengan wawancara yang dilakukan
terhadap ibu - ibu PKK pada awal pelatihan yang dilakukan, secara umum
mengindentifikasikan bahwa pengetahuan awal mengenai lansia menyangkut masalah
pengertian apa itu lansia, pengertian gizi dan juga masalah kesehatan yang harus
diperhatikan dan menjadi bahan kajian pada lansia masih relatif kurang. Ada
beberapa orang ibu yang menganggap bahwa lansia adalah suatu penyakit yang
terjadi dan bukan suatu keadaan proses penurunan atau degeneratif, sudah barang
tentu jawaban yang diberikan oleh peserta pelatihan tersebut adalah kurang tepat.
Dimana lansia adalah suatu keadaan atau proses yang pasti akan terjadi pada semua
orang dan bukan merupakan suatu penyakit. Keadaan ini tidak dapat dihindari dan
hanya dapat dihambat dengan cara memperhatikan pola makan yang pada akhirnya
memperhatikan gizi seimbang dan juga pola hidup sehat yang berkualitas. Dari hasil
wawancara terungkap pula bahwa ibu - ibu PKK pada Kecamatan 7 Ulu memiliki
pengetahuan tentang lansia berkisar pada istilah definisi saja.
Tabel 3.2 Hasil Pre test dan Post tes Peningkatan Pengetahuan Gizi dan Kesehatan
Lansia

22

No
1
2
3
4
5
6

Nama
RIYANTI
MINI
YAYUK
YUNI
JUMIYAH
MULYANA

Nilai
6
6
6
8
7
6

Nilai
8
8
8
9
8
9

2. Pembahasan
Lanjut usia adalah manusia yang sudah memasuki usia enam puluh tahun.
Pada keadaan ini diikuti dengan proses menua. Proses menua adalah masalah yang
akan selalui dihadapi oleh semua manusia. Dalam tubuh terjadi perubahan perubahan struktural yang merupakan proses degeneratif. Seperti sel - sel mengecil
atau menciut, jumlah sel berkurang dan terjadi perubahan isi atau komposisi sel dan
juga terjadi kemunduran fungsi organ tubuh manusia.
Sehat adalah keaadaan seseorang yang sehat pribadi seseorang seutuhnya
yang meliputi sehat fisik, sehat mental dan sehat sosial. Ketiga keadan ini tidak dapat
dipisahkan denga lain kata terjadi sinergi yang berkaitan antara satu dengan lainnya.
Hasil kegiatan berupa pelatihan tentang pengetahuan gizi dan kesehatan lansia
pada ibu ibu PKK Kecamatan 7 Ulu Kota Palemnang menunjukkan bahwa
pengetahuan peserta dan keterampilannya dalam menyusun menu gizi seimbang
mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah diberikan ceramah oleh
narasumber yang mumpuni dalam bidangnya, sehingga pada kegiatan tersebut terjadi
diskusi yang sangat menarik. Peningkatan pengetahuan tentang masalah gizi dan
kesehatan lansia menjadi semakin bertambah atau meningkat setelah diberikan
ceramah dan dilanjutkan dengan diskusi. Sebagai indikator yang digunakan sebagai
23

tolak ukur meningkatnya pengetahuan dan pemahaman ibu ibu PKK Kecamatan 7
Ulu adalah telah mampu dalam mendeskripsikan apa gizi lansia, masalah - masalah
kesehatan yang sering terjadi pada lansia dan juga dapat membuat menu yang
seimbang yang dapat dijadikan acuan dalam menyusun menu sehar -i hari yang sudah
barang tentu cocok untuk kaum lansia. Dalam hal ini para lansia dalam
mengkonsumsi makanan sehari - hari adalah kaya akan serat, dimana serat sangat
diperlukan dalam metabolisme tubuh. Komponen makanan yang dihindari dalam
artian tidak banyak dikonsumsi adalah lemak. Lemak merupakan makromolekul yang
dalam proses metabolismenya jika dikonsumsi berlebih akan berdampak pada
penimbulan dalam tubuh dan dampak lebih jauh akan dapat menimbun pada saluran saluran darah sehingga terjadi penyempitan pada saluran darah, proses pemompaan
darah akan terhambat dan akan berdampak pada keadaan hipertensi.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai kesehatan yang baik
adalah rutin melakukan aktivitas berolah raga, olah raga yang tepat dilakukan dengan
berjalan kaki, senam lansia. Semua aktivitas yang dilakukan harus memenuhi konsep
FITT (frequensi, intensity, time dan type)
Penyakit orang lanjut usia berbeda dengan penyakit orang dewasa muda.
Penyakit pada lansia meliputi: Penyakit sistem pernafasan (TBC, Bronkhitis, radang
paru), penyakit. kardiovaskuler dan pembuluh darah seperti PJK, dan stroke, keluhan
lambung, perasaan tidak enak di perut, sembelit, penyakit sistem urogenital misalnya
peradangan kandung kemih, peradangan ginjal, penyakit akibat keganasan kanker,
penyakit gangguan metabolik/ endokrin seperti Diabetes Mellitus, gout, penyakit
persendian dan tulang atau osteoperosis, dan kepikunan.
Masalah yang timbul pada Lansia diantaranya : berkurangnya cairan dalam
jaringan-jaringan tubuh, meningkatnya kadar lemak tubuh, meningkatnya kadar zat
kapur dalam jaringan otak dan pembuluh darah, penurunan zat kapur dalam tulang,
perubahan pada jaringan ikat, menurunnya laju metabolisme basal per satuan berat

24

badan, menurunnya aktivitas hormon, menurunnya aktivitas enzim terutama enzim


pencernaan, terbentuknya pigmen ketuaan pada otot jantung, sel-sel saraf, kulit serta
berkurangnya frekuensi denyut jantung sehingga menyebabkan berkurangnya
peredaran darah dan zat gizi.
Rekomendasi untuk Lanjut usia yang sehat memiliki pola makan yang baik
dengan : meningkatkan serat,memilih makanan padat gizi, minum banyak cairan,
mengurangi lemak, kolesterol, garam, batasi alkohol, hindari nikotin, tetap aktif
secara fisik, mengendalikan stress, melatih otak, tetap bersosialisasi, mencari nilainilai sprituil, memeriksakan kesehatan secara teratur. Persepsi yang benar mengenai
lansia Orang lanjut usia mereka adalah agen perubahan dan mampu memberikan
keuntungan bukan beban masyarakat dan keluarga, mereka merupakan sumberdaya
yang tidak terggantikan dalam hal kaya pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman.
Tanda-tanda Penyakit Alzheimer; sering lupa sesuatu yg bermakna misalnya
nama cucu, terkait dengan kemampuan penurunan memberi alasan dan berhitung,
informasi hilang, tidak dapat diingat dengan petunjuk, tampak acuh, kemunduran
memori untuk semua peristiwa, misalnya informasi baru, lupa telah membuat daftar,
mengganggu aktivitas sosial dan professional. Gejala terkait faktor kepribadian,
depresi, cemas, gagal menggunakan strategi memori. Lupa nama orang dan lupa
menaruh barang merupakan keluhan paling banyak dan dominan sehari-hari.
Muara dari keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini adalah para peserta
pelatihan yang terdiri dari ibu - ibu PKK yang berusia antara 50 hingga 65 tahun
memiliki pengetahuan dan pemahaman yang meningkat tentang lansia setelah
diterangkan tentang apa itu lansia, proses menua, tanda- tanda menua, menu makan
lansia dan juga kesehatan lansia. Hal ini terlihat dari jawaban ibu - ibu PKK yang
bertindak sebagai peserta pada acara wawancara setelah melakukan post tes yang
telah dilakukan. Banyak peserta yang semula tidak tahu tentang pengetahuan tentang

25

gizi dan kesehatan lansia, akhirnya menjadi mengerti tentang lansia yang menyangkut
masalah gizi dan kesehatan.
Kemampuan para peserta dalam memahami tentang gizi dan kesehatan lansia
menjadi lebih meningkat setelah diberikan pelatihan pengetahuan tentang masalah
gizi dan kesehatan lansia. Hal ini terlihat dari kemampuan ibu - ibu PKK Kecamatan
7 Ulu dalam menjawab soal tentang pengetahuan lansia yang diberikan. Hasil yang
dicapai pada post tes menunjukkan adanya peningkatan pencapaian skor dalam
menjawab soal. Pada awal pelatihan ada seorang ibu yang mendapatkan skor 1 karena
hanya mampu menjawab satu buah pertanyaan tetapi saat post tes dilakukan ibu
tersebut telah dapat menjawab 7 soal atau memiliki skor 7,0. Secara umum dapat
dikatakan bahwa jika dibandingkan antara nilai rata rata pre test dan post tes maka
ada peningkatan sebesar 32 % hal ini dapat dihitung dengan jalan membandingkan
antara nilai rata rata pre tes sebesar 6,30 dan hasil post tesr sebesar 8,30.
Persentase kenaikan hasil test yang relatif besar (32 %) ini disebabkan karena
secara umum, tingkat pengetahuan dari ibu - ibu PKK di kecamatan 7 Ulu adalah
tamatan sekolah menengah pertama. Penambahan pengetahuan tidak semuanya
diserap dalam waktu singkat, perlu pemberian pengetahuan ulang lagi agar
pengetahuan tersebut dapat meningkat secara maksimal. Tetapi para ibu - ibu PKK
dengan tekun mendengarkan apa yang diuraikan oleh narasumber dan mencatat hal
hal yang mereka belum pahami.
Disamping itu, respon yang sangat positif terhadap kegiatan ini juga diberikan
oleh peserta yang dalam hal ini ibu - ibu PKK yang tergolong usia pre lansia dan
lansia. Ini terlihat dari pertanyaan yang peserta utarakan saat diskusi. Beberapa
contoh pertanyaan yang mereka lontarkan adalah mengapa menu makanan lansia
yang baik adalah banyak mengandung serat, mengapa makanan yang dimakan tidak
boleh mengandung lemak yang lebih dari 50% dan masih banyak pertanyaan pertanyaan lain sekitar masalah lansia yang dilontarkan saat diskusi. Pertanyaan -

26

pertanyaan ini mengindikasikan bahwa ibu - ibu PKK memahami apa yang diberikan
oleh narasumber mengenai masalah gizi dan kesehatan lansia dan merupakan hal
yang positif yang merupakan pengetahuan tambahan untuk bekal bahwa disaat lansia
mereka hidup dengan berkualitas dan bermanfaat.

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

1. Simpulan
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari hasil kegiatan Pengabdian Kepa
Masyarakat, sebagai berikut.
1. Pemahaman ibu - ibu PKK di Kecamatan 7 Ulu Kota Palembang dapat
meningkat melalui pemberian pengetahuan gizi lansia.
2. Pemahaman ibu -ibu PKK di Kecamatan 7 Ulu Kota Palembang dapat
meningkat melalui pemberian pengetahuan kesehatan lansia.
2 .Saran
Hal yang dapat disarankandari hasil kegiatan ini sebagai berikut:
1) Pemberian pengetahuan tentang lansia perlu dioptimalkan terutama masalah
penyakit yang sering terjadi pada lansia serta usaha yang dapat dilakukan
untuk mengatasinya, sehingga lansia dapat hidup berkualitas

27

2) Perlu pendirian posyandu lansia disetiap kelurahan, sehingga para lansia dapat
konsultasi masalah masalah yang berhubungan denagn lansia.

Daftar Pustaka
Anonim. 1999. Senam Pencegahan Osteoporosis bagi Orang Sehat,
Kelompok Peneliti Osteoporosis FK UI dan RSCM. Jakarta.
Darmojo & Martono. 2006. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).
Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Hartulistiono, 1997, Memperbaiki Pola Makan Mencegah Kanker, Intisari
edisi

Januari-----------------------,

Gizi

Makro,

http://www.gizi.net/kebijakan-

gizi/download/GIZI% 20 MAKRO. doc dikunjungi 19 Mei 2008


Hadywinoto dan Setiabudhi Tony. 1999. Panduan Gerontologi Tinjauan dari
Berbagai Aspek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Press.
Raharjo, 2009 dkk. Buku Ajar Geriatri. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Mary and Christ et all. 1993. Gerontologi Nursing. Pennsyluania: Springhouse
Corporation. .
Nugroho, Wahjudi.2000. Keperawatan Gerontik.Jakarta : EGC
28

Stanley & Beare. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta:
EGC.
Suryadi.

2008.

Model

Perawatan

Lansia.

(Online)

http://www.

facebook.com/topic.php?uid=120642680287&topic=11738. Diakses pada 9 Januari


2011.
WHO. 2008. The World Health Organization Quality Of Life (WHOQOL)BREF.

(Online)

http://www.

who.int/entity/substance_abuse/research_

tools/en/indonesian_whoqol.pdf. Diakses pada 4 Maret 2010.

29