Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN

HIDROSEFALUS
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
mata kuliah Keperawatan Anak
Dosen : Hj. Rr. Sri Sedjati, SST

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
PRODI KEPERAWATAN PEKALONGAN
2008

KONSEP DASAR
A. Pengertian
Hidrosefalus

adalah

keadaan

patologis

otak

yang

mengakibatkan

bertambahnya cairan serebrospinalis (CSS) dengan tekanan intracranial yang


meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirkan CSS. Harus
dibedakan dengan pengumpulan cairan lokal tanpa tekanan intracranial yang
meninggi seperti pada kista porensefali atau pelebaran ruangan, sesudah terjadinya
atrofi otak.
B. Anatomi dan Fisiologi
Ruangan CSS mulai terbentuk pada minggu kelima masa embrio, terdiri dari
system ventrikel, sisterna magna pada dasar otak dan ruang subaraknoid yang
meliputi seluruh susunan saraf pusat (SSP). Hubungan antara system ventrikel dan
ruang subaraknoid adalah melalui foramen Magendie di median dan foramen Luschka
di sebelah lateral ventrikel IV.
Aliran CSS yang normal ialah dari ventrikel lateralis melalui foramen Monroi ke
ventrikel III, dari tempat ini melalui saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ke
ventrikel IV dan melalui foramen Luschka dan Magendie ke dalam ruang subaraknoid
melalui sisterna magna.
Penutupan sisterna basalis menyebabkan gangguan kecepatan resorpsi CSS oleh
sistem kapiler.
C. Macam-Macam Hidrosefalus
Terdapat 2 macam Hidrosefalus, yaitu:
1. Hidrosefalus obstruktif
Tekanan CSS yang tinggi disebabkan obstruksi pada salah satu tempat antara
pembentukan CSS oleh pleksus koroidalis dan keluarnya dari ventrikel IV melalui
foramen Luschka dan Magendie
2. Komunikans
Bila tekanan CSS yang meninggi tanpa penyumbatan system ventrikel
D. Etiologi
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu
tempat antara tempat pembentukan CSS dalam system ventrikel dan tempat absorpsi

dalam ruang subaraknoid. Akibat penyumbatan terjadi dilatasi ruangan CSS di


atasnya. Tempat yang sering tersumbat dan terdapat dalam klinik ialah foramen
Monroi, foramen Luschka dan Magendie, sisterna magna dan sisterna basalis. Teoritis
pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan absorpsi yang normal akan
meyebabkan terjadinya hidrosefalus, namun dalam klinik sangat jarang terjadi,
misalnya terlihat pelebaran ventrikel tanpa penyumbatan pada adenomata pleksus
koroidalis. Berkurangnya absorpsi CSS pernah dilaporkan dalam kepustakaan pada
obstruksi kronis aliran vena otak pada trombosius sinus longitudinalis. Contoh lain
ialah terjadinya hidrosefalus setelah operasi koreksi daripada spina bifida dengan
meningokel akibat berkurangnya permukaan untuk absorpsi.
Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi dan anak
ialah:
1; Kelainan bawaan (Kongenital)
disebabkan gangguan perkembangan janin dalam rahim (misalnya Malformasi
aqrnold-Chiari atau infeksi intrauterine
a. Stenosis akuaduktus Sylvii
merupakan penyebab yang terbanyak pada hidrosefalus bayi dan anak (60% 90%). Akuaduktus dapat merupakan saluran buntu sama sekali atau abnormal
lebih sempit dari biasa. Umumnya gejala hidrosefalus terlihat sejak lahir atau
progresif dengan cepat pada bulan-bulan pertama setelah lahir.
b; Spina bifida dan kranium bifida
Hidrosefalus pada kelainan ini biasanya berhubungan dengan sindrom ArnoldChiari akibat tertariknya medula spinalis dengan medula oblongata dan
sereblum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga
terjadi penyumbatan sebagian atau total.
c; Sindrom Dandy-Walker
Merupakan atresia kongenital foramen Luschka dan Magendie dengan akibat
hidrosefalus obstruktif dengan pelebaran sistem ventrikel terutama ventrikel
IV yang dapat sedemikian besarnya hingga merupakan suatu kista yang besar
di daerah fosa posterior.
d; Kista arakroid

Dapat terjadi kongenital tetapi dapat juga timbul akibat trauma sekunder suatu
hematoma.
e; Anomali pembuluh darah
Dalam kepustakaan dilaporkan terjadinya hidosefalus akibat areurismaarterio-vena yang mengenai arteria serebralis posterior dengan vena Galeni
atau sinus transversus akibat obstruksi akuaduktus.
2; Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen sehingga dapat terjadi obliterasi
ruangan subaraknoid. Pelebaran ventrikel pada fase akut meningitis purulenta
terjadi bila aliran CSS terganggu oleh obstruksi mekanik eksudat purulen di
akuaduktus Sylvii atau sisterna basalis. Lebih banyak hidrosefalus terdapat pasca
meningitis. Pembesaran kepala dapat terjadi beberapa minggu sampai beberapa
bulan sesudah sembuh dari meningitisnya. Secara patologis terlihat penebalan
jaringan piamater dan araknoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. Pada
meningitis serosa tuberkulosa, perlekatan meningen terutama terdapat di daerah
basal sekitar sisterna kiasmatika dan interpendunkularis, sedangkan pada
meningitis purulenta lokasinya lebih besar.
3; Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanis yang dapat terjadi disetiap tempat aliran
CSS. Pengobatan dalam hal ini ditujukan kepada penyebabnya dan apabila tumor
tidak mungkin dioperasi, maka dapat dilakukan tindakan paliatif dengan
mengalirkan CSS melalui saluran buatan atau pirau. Pada anak yang terbanyak
menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus Sylvii bagian terakhir
biasanya suatu glioma yang berasal dari sereblum, sedangkan penyumbatan
bagian depan ventrikel III biasanya disebabkan suatu kraniofaringioma.
4; Perdarahan
Telah banyak dibuktikan bahwa perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam
otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal otak,
selain penyumbatan yang terjadi akibat orgisasi dari darah itu sendiri.

E. Patofisiologi
;

Hidrosefalus terjadi karena ada gangguan absorbsi CSF dalam subarachnoid


(communicating hidrosefalus) dan atau adanya obstruksi dalam ventrikel yang
mencegah CSF masuk ke rongga subarachoid karena infeksi, neoplasma,
perdarahan, atau kelainan bentuk perkembangan otak janin (noncomunicating
hidrosefalus)

Cairan terakumulasi dalam ventrikel dan mengakibatkan dilatasi ventrikel dan


penekanan organ-organ yang terdapat dalam otak.

F. Komplikasi
;

Peningkatan tekanan intracranial

Infeksi: septicemia, endokarditis, infeksi luka, nefritis, meningitis, ventrikulitis,


abses otak

Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik

Hematomi subdural, peritonitis, abses abdomen, perforasi organ dalam rongga


abdomen, fistula, hernia, dan ileus

Kematian
Infeksi,neoplasma, perdarahan,
Malformasi perkembangan otak janin
Gangguan absorpsi cairan

obstruksi aliran

Serebrospinal di ruang subarachoid

cairan serebrospinal

(communicating hydrocephalus)

(noncomunicating hydrocephalus)

G. Manifestasi Klinik
Dibedakan menjadi dua, yaitu pada bayi dan masa kanak-kanak:
1; Masa Bayi:
;

Kepala membesar, fontanel anterior menonjol, vena pada kulit kepala dilatasi
dan terlihat jelas pada saat bayi menangis, terdapat bunyi cracked-pot (tanda
Macewen), mata melihat ke bawah (tanda setting-sun), mudah terstimulasi,
lemah, kemampuan makan kurang, perubahan kesadaran, opisthotonus, dan
spatik pada ekstermitas bawah

Pada bayi dengan malformasi Arnold-Chiari, bayi mengalami kesulitan


menelan, bunyi nafas stridor, kesulitan bernafas, apnea, aspirasi, dan tidak ada
refleks muntah

2; Masa Kanak-kanak
;

Sakit kepala, muntah, papil oedema, strabismus, ataxia, mudah terstimulasi,


letargi, aptis, bingung, bicara inkoheren

H; Pemeriksaan Diagnostik
Pada anak yang lebih besar kemungkinan hidrosefalus diduga bila terdapat
gejala dan tanda tekanan intrakranial yang meninggi. Tindakan yang dapat membantu
dalam menegakkan diagnosis ialah transiluminasi kepala, ultrasonografi kepala bila
ubun-ubun besar belum menutup, foto rontgen kepala dan tomografi komuter (CT
scan). Pemeriksaan untuk menentukan lokalisasi penyumbatan ialah dengan
menyuntikkan zat warna PSP ke dalam ventrikel lateralis dan menampung
pengeluarannya dari fungsi lumbal untuk mengetahui penyumbatan ruang
subaraknoid. Sebelum melakukan uji PSP ventikel ini dilakukan dahulu untuk
melengkapi pemeriksaan. Namun dengan adanya pemeriksaan CT scan kepala, uji
PSP ini tidak dikenakan lagi.
I; Penatalaksaan
Pada sebagian penderita pembesaran kepala berhenti sendiri (arrested
hydrocephalus), mungkin oleh rekanalisasi ruang subaraknoid atau kompensasi
pembentukan CSS yang berkurang (Laurence, 1965).
Tindakan bedah belum ada yang memuaskan 100%, kecuali bila penyebabnya ialah
tumor yang masih dapat diangkat.
Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi hidrosefalus, menangani
komplikasi, mengatasi efek hidrosefalus atau gangguan perkembangan.
Ada 3 prinsip pengobatan hidrosefalus:
1; Mengurangi produksi CSS dengan merusak sebagian pleksus koroidalis dengan
tindakan reseksi (pembedahan) atau koagulasi, akan tetapi hasilnya tidak
memuaskan.Obat azetasolamid (Diamox) dikatakan mempunyai khasiat inhibisi
pembentukan CSS

2; Memperbaiki hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorpsi


yakni

menghubungkan

ventrikel

dengan

subaraknoid.

Misalnya

ventrikulosisternostomi Torkildsen pada stenosis akuaduktus. Pada anak hasilnya


kurang memuaskan, karena sudah ada insufisiensi fungsi absorpsi
3; Pengeluaran CSS ke dalam organ ekstrakranial.
a; Drainase ventrikulo-peritoneal
b; Drainase lombo-peritoneal
c; Drainase ventrikulo-pleural
d; Drainase ventrikulo-ureterostomi
e; Drainase ke dalam antrum mastoid
f; Cara yang kini dianggap terbaik yakni mengalirkan CSS ke dalam vena
jugularis dan jantung melalui kateter yang berventil (Holter valve) yang
memungkinkan pengaliran CSS ke satu arah. Keburukan cara ini ialah bahwa
kateter harus diganti sesuai dengan pertumbuhan anak. Hasilnya belum
memuaskan, karena masih sering terjadi infeksi sekunder dari sepsis.
J. Fokus Keperawatan
Pengkajian
Riwayat keperawatan

Kaji adanya pembesaran kepala pada bayi, vena terlihat jelas pada kulit
kepala, bunyi cracked-pot pada perkusi, tanda setting sun, penurunan
kesadaran, opisthotonus, dan spatik pada ekstermitas bawah, tanda
peningkatan tekanan intrakranial (muntah, pusing, papil edema), bingung

Kaji lingkar kepala

Kaji ukuran ubun-ubun, bila menangis ubun-ubun menonjol

Kaji perubahan tanda vital khususnya pernafasn

Kaji pola tidur, perilaku dan interaksi

Diagnosa Keperawatan
1; Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan meningkatnya
volume cairan serebrospinal, meningkatnya tekanan intrakranial
2; Resiko injury berhubungan dengan pemasangan shunt

3; Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan adanya tindakan untuk


mengurangi tekanan intrakranial
4; Resiko infeksi berhubungan dengan efek pemasangan shunt
5; Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi yang mengancam
kehidupan anak
6; Antisipasi berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan anak
Perencanaan
1. Anak akan menunjukkan tidak adanya tanda-tanda komplikasi dan perfusi
jaringan serebral adekuat
2; Anak akan menunjukkan tanda-tanda terpasangnya shunt dengan tepat
3; Anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda injury
4; Anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi
5; dan 6. Orang tua akan menerima anak dan akan mencari bantuan untuk
mengatasi rasa berduka
Implementasi
1. dan 3. Mencegah komplikasi

Mengukur lingkar kepala setiap 8 jam

Memonitor kondisi fontanel

Mengatur posisi anak miring ke arah yang tidak dilakukan tindakan


operasi

Menjaga posisi kepala tetap sejajar dengan tempat tidur untuk


menghindari pengurangan tekanan intrakranial yang tiba-tiba

Mengobservasi dan menilai fungsi neurologis setiap 15 menit hingga


tanda-tanda vital stabil

Melaporkan segera setiap perubahan tingkah laku (misalnya: mudah


terstimulasi, menurunnya tingkat kesadaran) atau perubahan tanda-tanda
vital (meningkatnya tekanan darah, denyut nadi perlahan)

Menilai keadaan balutan terhadap adanya perdarahan dan daerah sekitar


operasi terhadap tanda-tanda kemerahan dan pembengkakan setiap 15
menit hingga tanda vital stabil, selanjutnya setiap 2 jam

Mengganti posisi setiap 2 jam dan jika perlu gunakan matras yang berisi
udara untuk mencegah penekanan yang terlalu lama pada daerah tertentu

2. dan 4. Mencegah terjadinya infeksi dan injury

Melaporkan segera jika terjadi perubahan tanda vital (meningkatnya


temperatur tubuh) atau tingkah laku (mudah terstimulasi, menurunnya
tingkat kesadaran) segera

Memonitor daerah sekitar operasi terhadap adanya tanda-tanda kemerahan


atau pembengkakan

Pertahankan terpasangnya kondisi shunt tetap baik. Jika kondisi shunt


yang tidak baik, maka segera untuk berkolaborasi untuk pengangkatan
atau penggantian shunt

Lakukan pemijitan pada selang shunt untuk menghindari sumbatan pada


awalnya

5. dan 6. Membantu penerimaan orang tua dengan keadaan anak dan dapat
berpartisipasi

Memberikan kesempatan pada orang tua/ anggota keluarga untuk


mengekspresikan perasaan
Menghindarkan dalam memberikan pernyataan yang negatif
Menunjukkan tingkah laku yang menerima keadaan anak (menggendong,
berbicara, memberikan kenyamanan pada anak)
Memberikan dorongan pada orang tua untuk membantu perawatan anak,
ijinkan orang tua melakukan perawatan pada anak dengan optimal
Menjelaskan seluruh tindakan dan pengobatan yang dilakukan
Memberikan dukungan pada tingkah laku orang tua yang positif
Mendiskusikan tingkah laku orang tua yang menunjukkan adanya frustasi
Perencanaan Pemulangan
Ajarkan untuk perawatan dan balutan pemasangan shunt dan jelaskan tandatanda infeksi dan malfungsi dari shunt

Anjurkan untuk melapor ke perawat atau dokter bila ada sumbatan shunt

Jelaskan tentang obat-obatan yang diberikan, efek samping dan kebutuhan


mempertahankan tekanan darah (seperti anti kejang)

Jelaskan pentingnya kontrol ulang

DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer. A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. EGC: Jakarta.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Universitas Indonesia. Buku kuliah 2 Ilmu
Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Universitas Indonesia:
Jakarta.
Suriadi, Rita Yuliani, Asuhan Keperawatan pada Anak edisi I. PT. Fajar Interpratama

Anda mungkin juga menyukai