Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Penggunaan matematika dalam kehidupan sangat berguna untuk
meningkatkan pemahaman dan penalaran, serta untuk memecahkan suatu
masalah dan menafsirkan solusi dari permasalahan yang ada. Tanpa
disadari ketika kita mempelajari matematika, kita memiliki ketelitian dan
kecermatan yang sangat baik karena nilai-nilai pada matematika yang
menggunakan nilai yang kompleks sehingga faktor ketelitian sangat
diperlukan untuk menghitung suatu rumusan masalah.
Persamaan diferensial berperan penting dalam kehidupan, sebab
banyak permasalahan pada dunia nyata dapat dimodelkan dengan bentuk
persamaan diferensial. Ada dua jenis persamaan diferensial yang kita
kenal, yaitu persamaan diferensial biasa dan persamaan diferensial parsial.
Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah persamaan diferensial biasa.
Pesamaan diferensial biasa adalah sebuah persamaan yang melibatkan satu
atau lebih turunan dari sebuah unknown function dan hanya memiliki satu
variabel bebas. Solusi dari persamaan diferensial adalah fungsi spesifik
yang memenuhi persamaan. Persamaan dibawah ini merupakan contoh
dari persamaan diferensial biasa yang memiliki solusi. Pada persamaan
dibawah ini, x merupkan variabel bebas dan y merupakan variabel tetap. y
merupakan nama unknown function dari variabel x.

1.2

Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini yaitu sebagai
salah satu syarat untuk memenuhi seluruh praktikum jurusan
Teknik Elektro ITENAS Bandung, antara lainnya:
Mahasiswa dapat menghitung persamaan differensial biasa
dengan menggunakan metode euler, baik secara manual
maupun dengan komputer.

1.3

Sistematis Penulisan
BAB I

: Pendahuluan
Pada bab ini memuat latar belakang, tujuan yang ingin
dicapai, serta sistematis penulisan

BAB II

: Teori Dasar
Dasar teori yang berisi kajian literatur mengenai materi
dasar dan terkait dengan teori-teori metode euler

BAB III

: Landasan Praktikum
Pembahasan tentang langkah-langkah untuk mendapatkan
rumus metode euler

BAB IV

: Penutup
Berisi tentang analisa dan kesimpulan dari praktikum

BAB II
TEORI DASAR

2.1

Metode Euler

Metode Euler adalah salah satu dari metode satu langkah yang paling
sederhana. Di banding dengan beberapa metode lainnya, metode ini paling
kurang teliti. Namun demikian metode ini perlu dipelajari mengingat
kesederhanaannya dan mudah pemahamannya sehingga memudahkan dalam
mempelajari metode lain yang lebih teliti.
Metode Euler dapat diturunkan dari Deret Taylor:
y i 1 y i y i'

x
x 2
y i''
...
1!
2!

Apabila

nilai

kecil, maka suku yang mengandung pangkat lebih tinggi dari 2 adalah sangat
kecil dan dapat diabaikan, sehingga persamaan diatas dapat ditulis menjadi:
yi 1 yi yi' x

Dengan

membandingkan yi' persamaan (8.4) dan persamaan (8.5)

dapat disimpulkan bahwa pada metode Euler, kemiringan = = f (xi , yi),


sehingga persamaan (8.5) dapat ditulis menjadi:
yi 1 yi f ( xi , yi ) x

dengan i = 1, 2, 3, Persamaan (8.6) adalah metode Euler, nilai yi + 1


diprediksi dengan menggunakan kemiringan fungsi (sama dengan turunan
Gambar Metode Euler

pertama) di titik xi untuk diekstrapolasikan secara linier pada jarak sepanjang


pias x. Gambar 8.3, adalah penjelasan secara grafis dari metode Euler.
Kesalahan Metode Euler
Penyelesaian numerik dari persamaan diferensial biasa menyebabkan
terjadinya dua tipe kesalahan, yaitu:

1) Kesalahan pemotongan, yang disebabkan oleh cara penyelesaian yang


digunakan untuk perkiraan nilai y,
2) Kesalahan pembulatan, yang disebabkan oleh keterbatasan jumlah angka
(digit) yang digunakan dalam hitungan.
Kesalahan pemotongan terdiri dari dua bagian. Pertama adalah kesalahan
pemotongan lokal yang terjadi dari pemakaian suatu metode pada satu
langkah. Kedua adalah kesalahan pemotongan menyebar yang ditimbulkan
dari perkiraan yang dihasilkan pada langkah-langkah berikutnya. Gabungan
dari kedua kesalahan tersebut dikenal dengan kesalahan pemotongan global.
Besar dan sifat kesalahan pemotongan pada metode Euler dapat dijelaskan
dari deret Taylor.
Untuk itu dipandang persamaan diferensial berbentuk:
y ' f ( x, y )

y'

dy
dx

dengan , sedang x dan y adalah


variabel bebas dan tak bebas.

Penyelesaian dari persamaan tersebut dapat diperkiraan dengan deret Taylor:


yi 1 yi yi'

x
x 2
x n
yi''
... yin
Rn
1!
2!
n!

Apabila

persamaan (8.7) disubstitusikan ke persamaan (8.8), akan menghasilkan:


yi 1 yi f ( xi , yi )

x
x 2
x 3
f ' ( xi , yi )
f ' ' ( xi , yi )
... Rn
1!
2!
3!

Tabel Hasil hitungan dengan metode Euler


x

y eksak

0,00

1,00000

0,25

2,56055

0,50

3,21875

0,75

3,27930

1,00

3,00000

1,25

2,59180

1,50

2,21875

x = 0,5
y perk
1,00000
5,25000
5,87500
5,12500

t (%)
63,11
95,83
130,99

x = 0,25
y perk
1,00000

t (%)
-

3,12500

22,04

4,17969

29,85

4,49219

36,99

4,34375

44,79

3,96875

53,13

3,55469

60,21

1,75

1,99805

2,00

2,00000

2,25

2,24805

2,50

2,71875

2,75

3,34180

3,00

4,00000

3,25

4,52930

3,50

4,71875

3,75

4,31055

4,00

3,00000

4,50000
4,75000
5,87500
7,12500
7,00000

125,00
74,71
46,88
50,99
133,33

3,24219

62,27

3,12500

56,25

3,25000

44,57

3,61719

33,05

4,17969

25,07

4,84375

21,09

5,46875

20,74

5,86719

24,34

5,80469

34,66

5,00000

66,67

Perbandingan antara persamaan (8.6) dan persamaan (8.9) menunjukkan


bahwa metode Euler hanya memperhitungkan dua suku pertama dari ruas
kanan persamaan (8.9).
Kesalahan

yang

terjadi

dari

metode

Euler

adalah

karena

tidak

memperhitungkan suku-suku terakhir dari persamaan (8.9) yaitu sebesar:

t f ' ( xi , yi )

x 2
x 3
f '' ( xi , yi )
... Rn
2!
3!

dengan

adalah kesalahan pemotongan lokal eksak. Untuk x yang sangat kecil,


kesalahan seperti yang diberikan oleh persamaan (8.10), adalah berkurang
dengan bertambahnya order (order yang lebih tinggi). Dengan demikian suku
yang mengandung pangkat lebih besar dari dua dapat diabaikan, sehingga
persamaan (8.10) menjadi:
a f ' ( xi , yi )

x 2
2!

dengan a adalah perkiraan

kesalahan pemotongan lokal.


2.2Diferensial Parsial

Persamaan Diferensial Parsial adalah suatu persamaan yang melibatkan


fungsi dua peubah atau lebih dan turunan atau diferensialnya. Persamaan
diferensial parsial dijumpai dalam kaitan dengan berbagai masalah fisik dan

geometris. Bila fungsi yang terlibat tergantung pada dua atau lebih peubah
bebas. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hanya sistem fisik yang paling
sederhana yang dapat dimodelkan dengan persamaan diferensial biasa
mekanika fluida dan mekanika padat, transfer panas, teori elektromagnetik dan
berbagai bidang fisika lainnya penuh dengan masalah-masalah yang harus
dimodelkan dengan persamaan differensial parsial.
Umumnya, jika adalah fungsi dua variable dan, andaikan kita misalkan
hanya saja yang berubah-ubah sedangkan dibuat tetap, katakan dengan
konstanta. Baru sesudah itulah kita sebenarnya meninjau fungsi variable
tunggal, yaitu jika mempunyai turunan di, maka kita menamakannya turunan
parsial dari terhadap di dan menyatakannya dengan. Jadi
Error: Reference source not found denganError: Reference source not
found
Menurut definisi turunan, kita mempunyai
Sehingga persamaan
nomor 1 menjadi

Dengan cara serupa, turunan parsial dari terhadap di dinyatakan dengany =(a,y)
diperoleh dengan membuat tetap ( = a ) Error: Reference source not founddan
mencari turunan biasa dari fungsi
Jika

Error:

Reference source not found adalah fungsi dua variable, turunan parsialnya
adalah fungsi Error: Reference source not found dan Error: Reference source
not found yang didefinisikan oleh

BAB III
LANDASAN PRAKTIKUM

3.1 Algoritma
3.1.1 Algoritma Metode Euler

1. Mulai
2. Definisikan fungsi persamaan data
3. Masukan data input
4. Hitung panjang vector x
5. Memproses nilai dari data masukan sesuai rumusan
6. Selesai
3.2 Flowchart
3.2.1 Flowchart Metode Euler

3.3 Listing
Program
3.3.1
Listing
Metode
Euler

#include<stdio.h>
#include<math.h>
float a,b,c,d,e;
float f,g,h,i,j;
float k,l,m,n,o;
float p,q,r,s,t;
float u,v,w;

int pilihan;
main (void)
{
ulang:
printf("Muhammad Iqbal Fathurahmaan\n");
printf("11-2013-083\n");
printf("---------------------------\n");
printf("Masukkan Nilai X : ");
scanf("%f",&a);
printf("Masukkan Nilai Y' : ");
scanf("%f",&b);
printf("Masukkan Nilai h1 : ");
scanf("%f",&c);
printf("Masukkan Nilai h2 : ");
scanf("%f",&d);
printf("Masukkan Nilai h3 : ");
scanf("%f",&e);
f=(((1/3)*b)*a*a*a)-(b*a);
g=b*a;
h=b+f;
i=b-h;

j=b+(f*c);
k=b-j;
l=b+(f*d);
m=b-l;
n=b+(f*e);
o=b-n;
printf("Nilai y1: %g\n",j);
printf("Nilai error y1: %g\n",k);

printf("Nilai y2: %g\n",l);


printf("Nilai error y2: %g\n",m);
printf("Nilai y3: %g\n",n);
printf("Nilai error y3: %g\n",o);
printf("Ingin Masukkan data yang Lain?\n");
printf("[1]ya\n");
printf("[2]tidak\n");
scanf("%d",&pilihan);
if(pilihan==1)
{
goto ulang;
}
}

3.4

Screenshot
DATA PENGAMATAN
Tabel 3.4.1 Data Pengamatan Metode Euler

H
h1 h2

Y aproksimasi
h3

Error

0.5 0.1 0.05

0.5

0.69

0.5 0.1 0.05

0.6

0.5 0.1 0.05

1.5

0.73

0.5 0.1 0.05

0.5 0.1 0.05

3.5 Tugas Akhir


1. Buat grafik (x,y) terhadap (Error: Reference source not found dan error
1,2,3 jelaskan grafiknya

2.

Sebutkan apa

kegunaan metode
euler dalam kehidupan sehari-hari !
a.

menyelesaikan persamaan differensial.

b.

memprediksi nilai tegangan dari nilai arus yang diinginkan.

c.

memprediksi daya dengan parameter tegangan dan arusnya.

d. mengukur kedalaman benda anomaly tanpa harga kerapatan


massa

3.

e.

untuk mengestimasi suatu posisi.

f.

penafsiran perubahaan variable stock dalam interval waktu.

Apa yang dimaksud dengan persamaan diferensial parsial ?

Persamaan diferensial parsial (PDP) adalah persamaan yang di


dalamnya terdapat

suku-suku diferensial

matematika diartikan

parsial,

yang

dalam

sebagai suatu hubungan yang mengaitkan

suatu fungsi yang tidak

diketahui, dimana merupakan fungsi

dari beberapa variabel bebas dengan

turunan-turunannya

melalui variabel-variabel yang dimaksud. PDP.


Fungsinya
menyelesaikan

digunakan

untuk

melakukan

formulasi

dan

permasalahan yang melibatkan fungsi-fungsi yang

tidak diketahui.
4.

Jelaskan perbedaan metode euler dengan diferensial parsial


Metode euler: yang terdiri dari satu variabel bebas saja
Diferensial parsial: yang terdiri dari dua atau lebih variabel bebas

BAB IV
ANALISA DAN KESIMPULAN
4.1

Analisa

Metode Euler adalah salah satu dari metode satu langkah yang
paling sederhana. Metode euler atau disebut juga metode orde pertama,
Misalnya diberikan PDB orde satu,
Error: Reference source not found = dy/dx = f(x,y) dan nilai
awal y(x0) = x0
Persamaan metode Euler yaitu :
yr = yr-1 + h * f(xr-1, yr-1)

Meskipun metode Euler sederhana, tetapi ia mengandung dua


macam galat, yaitu galat pemotong (truncation error) dan galat longgokan
(cumulative error). Galat pemotong dapat langsung ditentukan dari
persamaan berikut:
Ep

1 2 "
h y (t ) 0(h 2 )
2

Galat

pemotongan ini sebanding dengan kuadrat ukuran langkah h sehingga


di sebut juga galat per langkah (error per step) atau galat local.
Semakin kecil nilai h (yang berarti semakin banyak langkah
perhitungan). Nilai pada setiap langkah (yr) dipakai lagi pada langkah
berikutnya. Galat solusi pada langkah ke-r adalah tumpukan galat dari
langkah-langkah sebelumnya. Galat yang terkumpul pada akhir
langkah ke-r ini di sebit galat longgokan (cumulative error). Jika
langkah dimulai dari x0 = a dan berakhir di xn = b maka total galat yang
terkumpul pada solusi akhir (yn) adalah
h2 "
(b a ) "
1/ 2 h y (t ) n y (t )
y (t )h
2
2
r 1
n

Etotal

"

Galat

longgokan total ini sebenarnya adalah


Etotal y (b) sejati y ( xn ) Euler

Perbedaan metode euler dengan diferensial parsial adalah:


Metode euler: yang terdiri dari satu variabel bebas saja
Diferensial parsial: yang terdiri dari dua atau lebih variabel bebas

4.2

Kesimpulan
Dapat

menghitung

persamaan

differensial

biasa

dengan

menggunakan metode euler, baik secara manual maupun


dengan komputer.

Daftar Pustaka

Agus Setiawan, ST, MT, 2006, pengantar Metode Numerik, yogyakata : penerbit
Andy Yogyakarta

Drs. Sahid, M.Sc.

2005, pengantar Komputasi Numerik

dengan Matlab,

yogyakata : penerbit Andy Yogyakarta

Steven C. Chapra, Raymond P. Canale, Metode Numerik Untuk Teknik :


dengan penerapan pada komputer pribadi, Universitas Indonesia, 1991.

Erwin Kreyszig, Advance Engineering Mathematics, 6th Edition, John


Wiley & Sons, Inc, 1988.