Anda di halaman 1dari 52

KELUARGA BINAAN

Oleh:
Chandra Hanseng

07120070053

Agus Susanto

07120070020

Simon Ganesya Rahardjo

07120080040

Pembimbing:
dr. Shirley Ivonne Moningkey, M. Kes
dr. David Setiawan

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


27 Agustus 20 Oktober 2012
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
PUSKESMAS MAUK
TANGERANG

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya
dalam kehidupan penulis terutama dalam melaksanakan kepaniteraan klinik di Bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat, khususnya dalam pembinaan keluarga serta penyusunan laporan ini
sehingga dapat selesai tepat pada waktunya. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi
tugas kepaniteraan klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran
Universitas Pelita Harapan periode 27 Agustus 20 Oktober 2012.
Dalam kepaniteraan di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat periode ini, penulis
mendapat kesempatan untuk menjalankan kepaniteraan di Puskesmas Mauk. Hal ini dapat
terlaksana berkat kerjasama antara Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan dengan
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang serta Puskesmas Mauk.
Berbekal pengetahuan, pengarahan, serta bimbingan dari dosen (dokter) pembimbing
sebelum dan selama menjalani kepaniteraan ini, penulis mencoba menyusun laporan kasus
kegiatan binaan sebuah keluarga yang di dalamnya terdapat pasien ibu nifas, balita, dan
didalam keluarganya terdapat penyakit kronis. Banyak faktor yang melandasi keberhasilan
maupun kegagalan dalam kegiatan pembinaan keluarga ini, namun penulis mengharapkan
agar laporan ini dapat bermanfaat bagi Puskesmas Mauk pada khususnya dan Dinas
Kesehatan Tangerang pada umumnya sebagai masukan untuk peningkatkan pelayanan
kesehatan bagi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mauk.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih atas bimbingan secara
akademis serta dukungan moral yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan
laporan ini oleh :

Kepala Dinas Kesehatan Tangerang dan segenap staf

Kepala Puskesmas Mauk dan segenap staf

Pimpinan dan segenap staf Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran
Universitas Pelita Harapan

Semua pihak yang telah membantu dan meluangkan waktu, tenaga, juga pikiran, baik
secara langsung maupun tidak langsung sehingga penyusunan laporan ini dapat
selesai tepat pada waktunya, yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.

Penulis berharap penyusunan laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Walaupun penulis telah berusaha menyusun laporan ini sebaik-baiknya, dengan keterbatasan
waktu dan kemampuan, penulis menyadari bahwa laporan ini masih sangat jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat
kesalahan dalam penyusunan laporan keluarga binaan ini, juga selama menjalankan
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Mauk. Penulis juga
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak untuk dapat
menyempurnakannya. Semoga laporan ini dapat bermanfat bagi kita semua.

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Kunjungan kasus merupakan bagian dari kedokteran keluarga, yang bertujuan untuk
melaksanakan kegiatan perawatan penderita, melakukan pendidikan dan nasehat mengenai
kesehatan bagi penderita, keluarga, dan masyarakat sekitarnya, sehingga dapat mengatasi
berbagai masalah kesehatan yang dihadapi.1
Keluarga binaan merupakan salah satu bentuk dari kunjungan kasus dalam kedokteran
keluarga yang bertujuan memberikan pelayanan kedokteran yang memusatkan pelayanan
kepada keluarga sebagai suatu unit, dimana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan
kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien juga tidak boleh organ
tubuh atau jenis penyakit tertentu.
Menurut

WONCA

(World

Organization

of

National

Colleges,

Academies)Classification Committee 1994 yang dimaksud dengan keluarga adalah


sekelompok individu yang hidup bersama baik melalui hubungan darah, persetujuan hukum
dan ataupun adanya tanggung jawab sosial. Menurut UU RI No. 23 tahun 1992, yang
dimaksud dengan keluarga adalah pasangan suami istri dengan anggota keluarga lainnya
yaitu setiap orang yang tinggal serumah baik yang mempunyai hubungan darah maupun
tidak. Menurut UU No. 10 tahun 1992, keluarga adalah keluarga inti, yaitu unit terkecil
dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah
dengan anaknya, atau ibu dengan anaknya. 1,2
Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, ia tidak hanya memandang
penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya
menanti secara pasif tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau keluarganya (IDI
1982). Kunjungan kasus ini bertujuan untuk lebih mengenal kehidupan pasien dan
keluarganya sehingga diharapkan dapat mengetahui segala aspek kehidupan pasien agar dapat
membantu keberhasilan pengobatan, dimana pada kedokteran keluarga melihat secara holistik
atau menyeluruh pada segala aspek yang ada dalam diri pasien. 3
Gizi adalah hasil suatu proses organisme menkonsumsi secara normal melalui proses
pencernaan, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang

tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari
organ-organ, serta menghasilkan energi. 3,5,7
Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh kekurangan asupan energi,
vitamin, protein, dan mikronutrisi dalam jangka waktu yang lama Sampai saat ini Gizi Buruk
merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia. Sekitar 1 Milyar penduduk dunia saat ini
mengalami masalah dalam penyediaan makanan. Sepertiga dari seluruh anak-anak di dunia
(171 juta anak) ada dalam keadaan kurang gizi kronik. 6,7
Benua Asia yang korbannya mencapai 642 juta orang karena di Asia terjadi banyak
kasus seperti status gizi yang sangat rendah, dan pendidikan yang kurang menjadi faktor
utama kelaparan di Asia. 2,6
Di Indonesia, dari 230 juta penduduk di Indonesia, sekitar 10 persen atau 23 juta jiwa
masuk kategori balita. Dari sekitar 23 juta balita, 23 persen di antaranya terdiagnosa
menderita gizi buruk. Sementara menurut data Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) 2010,
sebanyak 17,9 persen balita di Tanah Air masih mengalami gizi kurang atau gizi buruk.3,4,8
Berdasarkan data terakhir dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten, persentase jumlah
penderita gizi buruk ini mengalami peningkatan sebesar 0,09 persen atau 9.378 balita pada
tahun 2011 dibandingkan tahun 2010 sebesar 1,04 persen atau sekitar 8.737 balita gizi buruk
dari 839.857 balita terpantau.2,4
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dari bulan Agustus 2010
penderita gizi buruk sebanyak 2.199 balita. Kemudian meningkat sebanyak 2.396 balita
hingga Januari 2011 .
Berdasarkan hasil Bulan Penimbangan Balita ternyata tahun 2011, terdapat 103 balita
gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk. Angka ini meningkat
dibandingkan dengan tahun 2010 yang berjumlah 88 balita. Pada kesempatan kali ini, kami
melakukan pembinaan terhadap salah satu keluarga yang ada di dalam cakupan wilayah
kerja Puskesmas Mauk, yaitu yang berada di Desa Marga Mulya yang beranggotakan 4
orang, dengan an. AM yang menjadi fokus yaitu seorang penderita gizi buruk dengan
labiopalatoschizis.

I.3.

Tujuan
I.3.1. Tujuan Umum
Program pembinaan keluarga ini bertujuan untuk menjaga bahkan meningkatkan
derajat kesehatan keluarga yang dibina sekaligus menambah wawasan dan
ketrampilan sebagai dokter keluarga.
I.3.2.Tujuan Khusus
1. Meningkatkan berat badan anak gizi buruk agar siap untuk dilakukan operasi bibir
sumbing sekaligus memperbaiki kondisi gizi pasien
2. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara personal, primer, komprehensif, dan
kontinu
3. Mengetahui keadaan pasien serta keluarga yang tinggal dalam satu rumah, baik dari
aspek organobiologic, psiko-edukatif, maupun sosio-budaya.
4. Mengetahui solusi atau langkah alternatif yang dapat dilakukan untuk memecahkan
masalah kesehatan yang dihadapi pasien sehingga dapat meningkatkan kesehatan
secara menyeluruh (biopsikososial)

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1

Identitas Keluarga
2.1.1

Data Keluarga

Nama Pasien

: An. AM

Nama Kepala Keluarga

: Tn. K

Jenis kelamin

: Laki-laki

Tempat/tanggal lahir

: Marga Mulya, 26 Juni 2008

Umur

: 4 tahun 2 bulan

Agama

: Islam

Suku bangsa

: Sunda

Status pernikahan

: belum menikah

Alamat

:Marga Mulya RT 01/ RW 01 Kecamatan Mauk


Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten

Nama ayah

: Tn.S

Nama ibu

: Ny.E

Pekerjaan orang tua

: buruh bangunan

Pendidikan terakhir orang tua : SD

2. 2 Status kesehatan
Alloanamnesa :
Dilakukan 2 kali, yaitu:
1. Pada tanggal 7 September 2012 Pukul 10.00 di rumah pasien
2. Pada tanggal 11 September 2012 pukul 14.00 di rumah pasien
Keluhan utama : sulit makan dan rewel
Keluhan tambahan: tubuh pasien yang sangat kurus dan pendek

2.2.1. Riwayat perjalanan penyakit


An AM memiliki kelainan bibir sumbing yang dideritanya sejak lahir yang
menyebabkannya sulit menerima makanan yang diberikan. An AM juga sering rewel
dan memiliki postur tubuh yang sangat kurus dan pendek. Selain itu An AM juga
kerap kali mengalami sakit batuk dan pilek. Pada tahun 2010 An AM sempat
mengalami batuk dan pilek dan dibawa berobat pertama kali ke Puskesmas
Kecamatan Mauk. Pasien kemudian ditimbang dan diukur tinggi badannya dan
diketahui bahwa pasien masuk dalam kriteria anak dengan status gizi buruk
Sejak tahun 2010 sampai sekarang pasien mendapat MPASI dari Puskesmas
Kecamatan Mauk. Pasien sudah 2 kali dikonsulkan ke spesialis bedah plastik maupun
anak untuk dilakukan operasi bibir sumbing, namun ditolak karena status gizi pasien
yang buruk. Keadaan bibir sumbing pasien membuatnya sulit makan tanpa gangguan.
Perkembangan pasien juga terhambat lantaran pasien hanya bisa berbicara kata demi
kata, bukan kalimat sebagaimana yang seharusnya dapat dilakukan oleh anak seusia
pasien.

2.2.2 Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien selama ini tidak menderita penyakit apapun, namun terkadang terkena
diare dan pilek.

2.2.3. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan
pasien.
2. 2. 4.Riwayat Lingkungan
Di sekitar rumah pasien tidak ada tetangga yang terkena gizi buruk maupun
labiopalatoschizis.

2. 2. 5.Riwayat pemeriksaan Prenatal


Riwayat pemeriksaan prenatal sulit dinilai karena ibu os sudah bercerai dan
sekarang bekerja di luar negeri sebagai TKW. Informasi hanya didapatkan dari
keterangan bapak os. Selama hamil, ibu os rutin memeriksakan kandungannya ke
dukun beranak sudah lebih dari 3 kali. Ibu os tidak minum vitamin selama
kehamilan namun sering minum jamu dan tidak pernah suntik TT. Riwayat
trauma, riwayat tekanan darah tinggi, kencing manis, perdarahan disangkal.
Kesan : pemeliharaan prenatal kurang baik.
II. 2.6. Riwayat Persalinan dan Kehamilan
Bayi laki-laki lahir dari ibu G1 P0 A0, usia ibu saat kehamilan adalah 21
tahun, ibu hamil 40 minggu. Kemudian bayi lahir secara spontan oleh bidan. Bayi
lahir langsung menangis dan berwarna merah. Berat badan bayi saat lahir 2500
gram, panjang badan 53 cm, lingkar kepala dan lingkar dada pasien saat lahir
tidak diketahui.
Kesan : neonatus aterm, vigorous baby dengan labiopalatoschizis.
2. 2. 7. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan anak
a. Riwayat pertumbuhan
Berat badan saat lahir 2500 gram dan panjang badan saat lahir 53 cm.
Berat badan sekarang 6,6 kg dan panjang badan saat ini adalah 72, 9 cm.

b. Riwayat perkembangan
-

Tersenyum

: lupa

(Normal: 2-3 bulan)

Tengkurap

: 6 bulan

(Normal: 6-9 bulan)

Duduk

: 1 tahun

(Normal: 6-9 bulan)

Berdiri

: 1,5 tahun

(Normal: 9-12 bulan)

Berceloteh

: 1,5 tahun

(Normal: 6 bulan)

Saat ini anak berusia 4 tahun 2 bulan

dan terdapat gangguan dalam

perkembangan verbal (belum bisa bicara dengan lancar, hanya kata-kata).


Kesan : pertumbuhan dan perkembangan terganggu.

II. 2. 8. Riwayat Makanan dan Minuman


Os masih meminum susu formula sampai saat ini. Informasi mengenai ASI
ekslusif, MPASI sulit dinilai. Saat ini os makan makanan keluarga 3 kali sehari,
dengan porsi setiap makan hanya 2-3 sendok.
Umur
(bln)

ASI

Buah/

Bubur

Nasi

biskuit

susu

tim

- 2

- 4

- 6

- 8

- 10

10 - 12

Kesan

: Kualitas dan kuantitas makanan kurang baik

2.3 Pemeriksaan Fisik


Pada tanggal 6 September 2012, An. AM datang dengan keluhan utama rewel
dan sulit makan dengan keadaan umum tampak sakit ringan, disertai dengan status
gizi yang buruk
Telah dilakukan pemeriksaan fisik pada tanggal 11 September 2012.
Keadaan Umum

: tampak sakit ringan.

Kesadaran

: compos mentis

Status Generalis

Berat badan

: 6,6 kg

Tinggi badan

: 72,9 cm

Lingkar kepala

: 43 cm

Lingkar lengan atas

: 13 cm

Status gizi

: BB/ TB < -3 SD

Heart rate

: 80 x/menit

Suhu

: 36 0C

Pernapasan

: 24 x/menit

Status Internus
Kepala

: normocephal, ubun-ubun besar sudah menutup, tidak tegang

dan tidak menonjol.


Rambut
: Rambut hitam terdistribusi merata, tidak mudah dicabut,
kulit kepala tidak ada kelainan.
Mata
: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks pupil
(+/+), pupil isokor 3mm.
Telinga
:Bentuk telinga normal, tidak ditemukan adanya kelainan
kongenital, discharge (-/-).
Hidung
:Bentuk hidung normal,tidak ditemukan adanya kelainan
kongenital, sekret (-/-), nafas cuping hidung (-).
Mulut
o Bibir
: Kering (-), bibir sianosis (-), trismus (-), labiopalatoschiziz (+)
o Gusi
: tidak tampak perdarahan
o Tonsil
: T1-T1 tidak hiperemis, kriptus tidak melebar,
o Faring
: Arkus faring simetris, faring hiperemis (-).
Leher
: Leher normal simetris, tidak teraba pembesaran kelenjar

getah bening (KGB)

Thorax
o Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
o Paru-paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: terlihat pulsasi ictus cordis


: Pulsasi ictus cordis tidak melebar, tidak kuat
angkat
: Batas jantung sulit dinilai
: Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
: Gerakan hemithorax dalam keadaan statis dan
dinamis, simetris, tidak terlihat adanya retraksi,
: Vocal Fremitus sama kuat kanan dan kiri
: Sonor pada seluruh lapangan paru
: Suara nafas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen

Genitalia

Inspeksi
: Datar dan simetri
Auskultasi
: Bising usus (+)
Perkusi
: Timpani
Palpasi
: Supel, nyeri tekan (-), hepatosplenomegali (-)
: Jenis kelamin laki-laki, tidak ditemukan adanya
kelainan.
Anus
: Anus (+), tidak ditemukan adanya kelainan kongenital.
Ekstremitas
:Akral dingin (-), akral sianosis (-), edema (-), capillary
refill time <2detik.
Kulit
: sianosis (-), petechie (-)

2.4. Pemeriksaan tambahan


Belum dilakukan pemeriksaan tambahan
2.5. Diagnosis Kerja
Status gizi buruk dengan labiopalatoschizis
2.6. Diagnosis Banding
2.7. Terapi yang telah diberikan

Non farmakologis

Pemberian MPASI rutin setiap bulan.


Edukasi terhadap keluarga agar os dirawat inap di Puskesmas Kecamatan Mauk.
Farmakologis :
multivitamin (calcidol syrup)

Status Tn. K

Nama lengkap

Tn. K

Tempat/Tgl. Lahir

Tangerang, 20 Maret 1942

Usia

70 Tahun

Suku Bangsa

Sunda

Agama

Islam

Pendidikan

Sekolah dasar kelas VI

Pekerjaan

Pengangguran

Status Pernikahan

Menikah

Riwayat Penyakit Sekarang


Keluhan Utama

Keluhan Tambahan

Sakit kepala sudah 1 hari.

Nyeri ulu hati dirasakan sudah sering tapi dibiarkan saja oleh OS.Nyeri ulu hati
sering dirasakan oleh OS terutama pada saat pagi hari dan pada saat OS terlalu letih.Pada
saat nyeri ulu hati dirasakan oleh OS, OS hanya membiarkannya saja dan membawa dirinya
tidur saja.Nyeri ini sangat mengganggu tapi OS tidak mau berobat karena OS takut jika
berobat ke dokter
Mual dirasakan OS sudah 1 hari, mual pada saat sebelum makan dan muncul tibatiba.Terkadang pada saat mual, pasien tidak makan karena kalau dipaksakan makan, pasien
suka muntah dan makanan yang telah dimakan keluar semua.Pada saat mual, OS hanya
mengobatinya dengan teh hangat saja.

Riwayat Penyakit Dahulu


OS mengaku tidak pernah sakit berat sampai di rawat di Rumah Sakit.

Riwayat Penyakit Keturunan


Penyakit diabetes mellitus, hipertensi dan asma disangkal oleh pasien.

Riwayat Sosial
OS mengaku merokok kurang lebih 1-2 batang per hari dan minum kopi hitam 3 kali
sehar

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum

Tampak Sakit Ringan

Kesadaran

Komposmentis

Tanda-tanda Vital
Tekanan darah

110/70 mmHg

Nadi

81 x/menit, reguler dan tegangan cukup

Frekuensi nafas

19 x/menit

Suhu

36,7OC

Kepala

Normocephali

Mata

Konjungtiva Anemis -/-, Sklera Ikterik -/-

Telinga

MAE +/+, serumen -/-, Membran timpani intak +/+

Hidung

Deviasi septum -/-, konka dalam batas normal

Mulut

Mukosa bibir basah, dalam batas normal

Tenggorokan

Faring hiperemis -/Tonsil hiperemis -/-, T1-T1

Uvula tidak berdeviasi


Leher

Kelenjar tiroid tidak teraba

Thorax

I. Simetris saat statis dan dinamis


P. Stem fremitus kanan=kiri
P. Sonor pada kedua lapang paru
A. Pulmo : vesikuler +/+, Rh -/-, Whz -/Cor : BJ I & II normal, Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen

I. Tampak datar
P. NT (+), Hepar tidak teraba, Limpa tidak teraba
P. Timpani
A. Bising usus (+) 4-5 x/menit

Ekstremitas

: Dalam batas normal

Tn. S

Nama lengkap

Tn. S

Tempat/Tgl. Lahir

Tangerang, 1 Februari 1978

Usia

34 Tahun

Suku Bangsa

Sunda

Agama

Islam

Pendidikan

Sekolah dasar kelas IV

Pekerjaan

Buruh lepas

Penghasilan

Tidak menentu

Status Pernikahan :

Bercerai

Riwayat Penyakit Sekarang


Keluhan Utama
Keluhan Tambahan

Nyeri pada persendian di kaki sudah 2 hari.


:

Nyeri ulu hati dirasakan OS serta mual-mual sudah 1 hari.Keluhan ini


dirasakan baru-baru saja.Pada saat OS bekerja di pasar, OS merasakan mualmual secara mendadak.Pada saat mual-mual OS tidak berobat ke puskesmas
maupun dokter, melainkan diobati sendiri dengan makan makanan yang manismanis untuk menghilangkan mualnya.OS juga merasakan nyeri ulu hati, OS
merasakan diatas perut, rasanya nyeri dan hilang timbul.Pada saat nyeri terjadi,
yang OS lakukan hanyalah mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur. Pada
saat OS kelelahan bekerja, keluhan ini sering timbul, namun OS abaikan saja.

Riwayat Penyakit Dahulu


OS mengaku belum pernah dirawat di rumah sakit.
Riwayat Penyakit Keturunan
Dari pengakuan OS, tidak ada.
Riwayat Sosial
OS mempunyai kebiasaan merokok 1 bungkus per hari.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum

Tampak Tidak Sakit

Kesadaran

Komposmentis

Tanda-tanda Vital
Tekanan darah

110/70 mmHg

Nadi

83 x/menit, reguler dan tegangan cukup

Frekuensi nafas

19 x/menit

Suhu

36,6OC

Kepala

Normocephali

Mata

Konjungtiva Anemis -/-, Sklera Ikterik +/+

Telinga

MAE +/+, serumen -/+, Membran timpani intak +/+

Hidung

Deviasi septum -/-, konka dalam batas normal

Mulut

Mukosa bibir basah, dalam batas normal


Karies pada M1 kiri bawah

Tenggorokan

Faring hiperemis -/Tonsil hiperemis -/-, T1-T1


Ovula tidark berdeviasi

Leher

Kelenjar tiroid tidak teraba

Thorax

I. Simetris saat statis dan dinamis


P. Stem fremitus kanan=kiri
P. Sonor pada kedua lapang paru

A. Pulmo : vesikuler +/+, Rh -/-, Whz -/Cor : BJ I & II normal, Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen

I. Tampak datar
P. NT (+), Hepar teraba 3 cm di bawah Arcus Costae
Limpa tidak teraba
P. Timpani
A. Bising usus (+) 4-5 x/menit

Ekstremitas

: Dalam batas normal


Status Ny. E

Biodata
Nama lengkap
: Ny. E
Tempat/ tanggal lahir
: Tangerang / 8 Agustus 1947
Usia
: 65 tahun
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Status (tanggal pernikahan)
: Menikah
Suku Bangsa
: Sunda
Pendidikan terakhir
: SD
Agama
: Islam

II

Anamnesis
a Keluhan Utama
: Sakit sendi lutut kiri
Keluhan Tambahan :
b Riwayat penyakit sekarang
:
Pasien mengeluh sakit sendi pada lutut kiri yang hilang timbul dan
sudah berjalan lebih dari 1 tahun.Pasien melaporkan kekakuan pada
pagi hari sehingga pasien harus merangkak beberapa saat baru bisa
berjalan.Rasa sakit juga terasa lebih ketika beranjak setelah dalam
posisi diam yang lama, seperti duduk atau bersila. Pasien menyangkal
merasakan keluhan yang sama pada lutu kanan dan persendian
lainnya. Pasien menyangkal pernah trauma pada lutut kirinya.Pasien
belum mengkonsumsi obat obatan untuk kondisi lututnya, dan hanya
menggunakan balsem untuk mengurangi rasa sakitnya.
c
d

Riwayat penyakit dahulu :


Riwayat Penyakit Keluarga / keturunan:
Riwayat penyakit DM, Hipertensi, Jantung, keganasan disangkal.

Riwayat Sosial

i Pasien melaporkan tetangga sekitar tidak sedang menderita


penyakit menular seperti, TB paru, DBD, Tifus, dll.
ii Rutinitas sehari hari pasien adalah mengenai urusan rumah
tangga. Pasien sehari hari tidur jam 8 malam bangun jam
5.30. Pasien tidak mengeluhkan adanya kesulitan tidur.
iii Pola makan pasien kurang bervariasi. Pasien dan
sekeluarganya hanya mengkonsumsi nasi, dengan 1 sayur,
dan tempe tahu atau ikan, jarang mengkomsumsi daging.
iv Riwayat konsumsi alkohol, merokok, menggunakan obatobatan terlarang disangkal oleh pasien.
III

Pemeriksaan Fisik.
Keadaan Umum
Kesadaran
BB
:
TTV
TD
:
Suhu :
RR
:
HR
:

: Tampak baik
: Compos Mentis
65 kg
:
100/60
36.80C
20 x / menit
80x / menit

Kepala
:
Mata : konjungtiva anemis -/Telinga
: dalam batas normal
Hidung
: dalam batas normal
Mulut : Karies Tenggorokan : dalam batas normal
Leher
Thorax

: kelenjar tiroid dalam batas normal


:

I. Simetris saat statis dan dinamis


P. Stem fremitus kanan=kiri
P. Sonor pada kedua lapang paru
A. Pulmo : vesikuler +/+, Rh -/-, Whz -/Cor : BJ I & II normal, Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen

I. Tampak datar
P. NT (+), Hepar tidak teraba, Limpa tidak teraba
P. Timpani
A. Bising usus (+) 4-5 x/menit

Ekstremitas

: Dalam batas normal

BAB III
TAHAPAN KELUARGA
3.1 Tahapan Perkembangan Keluarga
Dalam

perkembangannya,

suatu

keluarga

akan

melalui

tahap-tahap

perkembangan. Keluarga menjadi lebih rentan selama transisi dari satu tahap
perkembangan ke tahap selanjutnya. Dengan mengetahui tahapan perkembangan
keluarga, kami dapat membuat hipotesis mengenai masalah-masalah yang
mungkin sedang dialami keluarga ini, sehingga dapat mengatasi masalah
tersebut, bahkan mencegahnya. Menurut Duvall (1977), siklus kehidupan
keluarga dibagi menjadi delapan tahapan: 1
1
2
3

Pasangan yang menikah (tanpa anak).


Keluarga dengan kelahiran anak (anak tertua berusia sampai 30 bulan)
Keluarga dengan anak-anak prasekolah (anak tertua berusia antara 30 bulan-

6 tahun)
Keluarga dengan anak-anak yang bersekolah (anak tertua berusia 6-13

5
6

tahun)
Keluarga dengan anak usia remaja (anak tertua berusia antara 13-20 tahun)
Keluarga dengan anak dewasa muda (semua anak-anaknya telah

7
8

meninggalkan rumah)
Orang tua usia pertengahan (pensiun).
Orang tua memasuki usia lanjut.

Keluarga Tn.S
Keluarga Tn.S memasuki thapan keluarga dengan anak-anak prasekolah.

3.2 Status Ekonomi


Pekerjaan sehari-hari yang dilakukan ayah pasien adalah sebagai buruh lepas. Ibu
pasien bekerja sebagai TKW di Arab Saudi, dan memberikan tunjangan perbulan pada pasien.
Kakek dan nenek pasien tidak aktif bekerja dan menggantungkan pendapatan dari ayah
pasien.
Penghasilan rata-rata :

Tn. S
Ny. E

: Rp 850.000,: Rp
20.000,+
Rp 870.000,Perkiraan pengeluaran untuk kebutuhan keluarga selama sebulan adalah :
Untuk makanan
: Rp 600.000,Untuk listrik
: Rp 50.000,Untuk air minum
: Rp 15.000,Untuk transportasi
: Rp 40.000,+
Total seluruh pengeluaran
: Rp 705.000,-

Pendapatan pengeluaran

: cukup

3.3 Pola berobat pasien dan keluarga


An AM dan keluarganya biasa membeli obat warung atau berobat ke Puskesmas bila
sakit.
3.4 Pola makan sehari-hari
Sehari-hari pasien dan keluarga makan 2-3 kali, dengan nasi, lauk berupa ikan
asin atau tahu-tempe dan sayur berupa kangkung atau bayam
Penilaian pola makanan keluarga: Tidak bervariasi

BAB IV

GENOGRAM

BAB V
KEADAAN RUMAH DAN LINGKUNGAN SEKITAR

5.1 Perumahan
a. Status rumah

: Rumah pribadi
b. Lokasi rumah : Terletak di samping dari jalan. Jalan
menuju rumah dapat dilewati oleh mobil, dan letak
rumah pasien dan tetangga saling berdekatan dan jauh
dengan tempat pembuangan sampah dan ternak ayam

terdapat di dalam rumah.


c. Kondisi bangunan
:
2
Luas bangunan
: 70 m (7m x 10m)
Luas tanah
: 70 m2 (7m x 10m)
Jumlah Ruangan

: 7 ruangan, terdiri

atas 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 2


gudang, 1 dapur, 1 kamar mandi
Dinding rumah
: Terbuat dari tembok
Atap rumah
: Terbuat dari genting
Langit-langit
: Terbuat dari anyaman bambu
Lantai rumah
: Terbuat dari ubin dan semen
Jumlah orang dalam rumah : 4 orang
Jumlah keluarga dalam rumah : 1 keluarga
d. Alat kesejahteraan keluarga di rumah
Di dalam rumah terdapat 1 buah televisi, 1 buah kipas angin, 2 lemari
baju, 1 penanak nasi dan 1 tungku kompor.

5.2 Ventilasi

Ventilasi rumah terdiri dari

Pintu
Jendela
Lubang angin

: 0,8 m x 2 m = 1,6 m2
: 0,5m x 1,5 m = 0,75 m2 x7=5,25 m2
: 0,25 x 0,8 = 0,2 m2

Total ventilasi

: 7,05 m2

Persentase

: 7,05 m2 / 70 m2 x 100% = 10,07 %

Menurut perhitungan, ventilasi rumah yang ideal adalah 15-20% dari luas
lantai rumah, maka ventilasi rumah ini tergolong dalam kriteria kurang.

5.3 Pencahayaan
Pencahayaan rumah kurang karena sinar matahari masuk hanya ke ruang tamu
dan kamar tidur. Sebaliknya gudang maupun dapur tidak mendapatkan cahaya sinar
matahari. Sedangkan pada sore dan malam hari menggunakan lampu listrik.

5.4 Air bersih

Penggunaan air
Jenis air yang dipakai untuk mandi dan mencuci menggunakan air sumur.
untuk minum digunakan air PAM.
Kebiasaan minum
Sumber air minum pasien dari air PAM.

5.5 Pembuangan tinja


jamban berjarak lebih dari 10 meter dari rumah. Jenis jamban yang digunakan
adalah overhung latrine (jamban empang).

5.6 Kamar mandi


Kamar mandi terpisah dari jamban. Lantai kamar mandi terbuat dari semen.

5.7 Pembuangan sampah


Sampah setiap hari dibuang di tempat pembuangan sampah yang berada di
depan rumah pasien. Air kotor bekas cucian langsung dibuang ke saluran
pembuangan.

5.8 Halaman rumah


Di depan rumah pasien terdapat tanah kosong

5.9 Denah rumah

Gambar 1. Denah Rumah keluarga Tn.S

BAB V
MASALAH BIO-PSIKO-SOSIAL DALAM KELUARGA
An.AM
Biologis
An.AM menderita gizi buruk dan labiopalatoschizis sejak lahir. Hal itu menyebabkan
adanya gangguan dalam psikomotor dan kognitif yang tidak sesuai dengan usia.
Psikologis
Pasien merasa malu apabila didekati ataupun apabila saat orang banyak datang.
Sosial
Pasien kurang bergaul dengan teman disekitarnya.
Ny.E
Biologis
Ny.E menderita nyeri sendi, kemungkinan Osteoarthritis. Mata kanannya terdapat
pterigium. Selain itu Ny.E memiliki kurangnya kesadaran serta pengetahuan
mengenai personal hygiene.
Psikologis
Pasien tidak memiliki masalah psikologis.
Sosial

Pasien tidak memiliki masalah sosial.

Tn.K
Biologis
Tn.K menderita gangguan lambung yang cukup lama akibat konsumsi makanan asam.
Selain itu, pasien juga saat ini mengeluh adanya sakit kepala. Mata kiri pasien juga
terdapat katarak imatur. Pasien memiliki kebiasaan merokok 1 bungkus setiap hari.
Pasien juga jarang mengganti baju, seringkali menggunakan baju yang sama untuk
beberapa hari.
Psikologis
Pasien merasa tidak mampu dalam mengurus An. AM.
Sosial
Pasien memiliki kesulitan untuk memperoleh penghasilan tetap.

Tn.S
Biologis
Tn. S saat ini memiliki keluhan pegel-pegel pada sendi. Pasien juga memiliki
kebiasaan merokok 1-2 bungkus per hari.
Psikologis
Tn.S tidak memiliki hubungan yang baik dengan keluarga istrinya. Saat ini, ia juga
kurang termotivasi untuk mencari pekerjaan yang tetap
Sosial

Pasien memiliki kesulitan untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan tetap.

BAB VI
TUJUAN YANG INGIN DICAPAI
Setelah melakukan beberapa kali kunjungan, tujuan yang ingin dicapai dari masing-masing
anggota keluarga adalah:
1. An.AM
a. Meningkatkan status gizi pasien dengan pemberian F-75, F-100 dan PMT agar
dapat memenuhi asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan kalori
b. Mendapatkan perhatian penuh dari keluarga
c. Dapat berinteraksi sosial dengan lebih baik dengan tetangga dan teman
seumuran.
2. Ny.E
a. Pasien mengerti cara memperlambat OA
b. Penyakit dan keluhan dapat teratasi
c. Melakukan PHBS dengan baik
3. Tn.S
a.
b.
c.
d.
e.

Penyakit dan keluhan dapat teratasi


Mengurangi frekuensi merokok
Menjadi individu yang penuh semangat dan kerja keras
Menjalin komunikasi yang baik dengan mertua
Mulai mencari pekerjaan serta penghasilan yang tetap

4. Tn. K
a.
b.
c.
d.
e.

Penyakit dan keluhan dapat teratasi


Mnerapkan pola hidup bersih dan sehat
Menjadi individu yang lebih bersemangat dan mandiri
Mengurangi frekuensi merokok
Memeriksakan diri secara rutin terkait kesehatan matanya

BAB VI
INTERVENSI YANG DILAKUKAN
1. An.AM
a. Memberikan vitamin 1x1 untuk meningkatkan nafsu makan
b. Tatalaksana gizi
i. Memberikan F-75 200cc (3x1) + pemberian makanan tambahan berupa

c.
d.
e.
f.

nasi tim dan buah dalam 2 hari


ii. Memberikan F100 200 cc 4x1 + nasi tim + PMT dan buah-buahan
Mengawasi kepatuhan makan demi mencapai berat badan optimal
Memeantau pertimbangan berat badan
Merencanakan terapi pembedahan labiopalatoschizis
Menganjurkan untuk lebih banyak bermain dan berinteraksi dengan anak
seumuran dan tetangganya

2. Ny.E
a.
b.
c.
d.

Memberikan nasihat untuk memeriksakan kesehatannya ke puskesmas


Memberikan edukasi untuk membuka jendela serta merapikan barang-barang.
Memberi edukasi PHBS kepada pasien
Memotivasi agar terus memberikan pasien makanan yang tepat dengan cara

yang benar.
e. Menyarankan untuk leih berinteraksi dengan tetangga sekitar
3. Tn.S
a. Memeriksakan keluhannya ke puskesmas
b. Memberi edukasi mengenai bahaya merokok serta mengurangi frekuensi
merokok
c. Memotivasi untuk menjalin hubungan baik dengan mertua
d. Memotivasi untuk memiliki pekerjaan yang tetap

4. Tn. K
a. Memeriksakan keluhannya ke puskesmas
b. Memberikan edukasi untuk mencegah gastritis berulang
c. Memberi edukasi mengenai bahaya merokok serta mengurangi frekuensi
merokok
d. Memberi motivasi agar lebih bersemangat dan tidak bergantung pada orang
lain.
e. Memberikan edukasi agar memiliki pola hidup bersih dan sehat.

BAB VII
HASIL PEMBINAAN
Pembinaan yang dilakukan pada binaan yang dilakukan pada
keluarga Tn.K dengan fokus utama masalah gizi buruk dimulai pada
tanggal 7 September 2012 dengan kunjungan secara rutin ke rumah
pasien. Total kunjungan adalah 6 kali. Berikut hasil yang dicapai:

An. AM saat ini mengalami peningkatan berat badan sesuai dengan target
yaitu sekitar 50g/KgBB/minggu dan didapatkan hasil terakhir adalah 7.2 kg. Pasien
juga tetap mendapatkan perawatan yang sesuai dengan prosedur yang ada dan
diharapkan akan mencapai berat badan yang diharapkan sebelum dilakukan operasi

labiopalatoschizis yang diharapkan. Secara psikis, an. AM juga mulai bisa didekati
oleh orang asing dan tidak lagi menjauh di tengah orang banyak.
Tn. K yang merupakan kakek dari pasien mulai datang ke puskesmas
memeriksakan keluhan seperti sakit kepala untuk mendapatkan pengobatan yang
sesuai. Tn.K juga mulai berusaha mengurangi konsumsi makan-makanan yang
bersifat pedas dan asam serta kopi yang memang dapat menyebabkan asam
lambungnya naik. Ia juga mulai mengerti mengenai bahaya rokok dan berusaha
menurunkan frekuensi rokoknya menjadi setengah bungkus per hari. Ia sadar bahwa
ia memiliki tanggung jawab untuk an.AM dan lebih termotivasi untuk merawat.
Kakek juga mulai menjalankan pola hidup yang lebih bersih dengan mengganti
bajunya menjadi 2x sehari setelah sebelumnya memakai baju yang sama selama
beberapa hari.
Tn. S yang merupakan ayah dari An.AM juga berusaha untuk datang ke
puskesmas untuk memeriksakan keluhannya dan mendapatkan pengobatan yang
sesuai. Ia juga merasa bahwa ia seharusnya yang paling bertanggung jawab atas
kesehatan anaknya dan lebih termotivasi untuk mencari pekerjaan tetap. Pasien juga
mengurangi frekuensi merokok menjadi setengah bungkus per hari. Ia juga mulai
berusaha untuk menjalin hubungandengan mertua yang rumahnya tidak terlalu jauh
dari rumah mereka.

Ny. E merupakan nenek dari pasien. Ia mengerti bahwa keluhan nyeri sendi
yang sering dikeluhkannya adalah sebuah penyakit dengan proses degeneratif
sehingga mulai unuk memeriksakan kesehatannya. Ia berperan untuk memberikan
makanan secara teratur pada an.AM sehingga setelah diberikan edukasi dan
penyuluhan PHBS, nenek mulai membersihkan rumah secara teratur, membuka
jendela dan sebisa mungkin memberikan makanan yang tepat dengan cara yang benar.

Kunjungan /

Tanggal

7 September

Kegiatan
Perkenalan dengan Keluarga Binaan

2012
II

11 September

Anamnesis Keluarga Binaan

2012
III

13 September

Pemeriksaan Fisik Keluarga Binaan

2012
IV

15 September
2012

1. Memberikan edukasi kepada Tn.K


mengenai

keluhannya

memberikan

anjuran

dan
untuk

berobat ke puskesmas
2. Memberikan anjuran pada Tn.S
untuk memeriksakan keluhannya
ke puskesmas terdekat
3. Memberikan edukasi pada Ny.E
mengenai keluhan yang selama
ini

mengganggunya

memberikan

dan

saran

mengurangi

agar

progresivitas

penyakitnya
4. Memberikan makanan F-75 pada
An AM serta PMt berupa nasi Tim
dan buah pisang.
5. Mengukur
BB
An.AM

untuk

evaluasi
V

18 September
2012

1. Mengukur BB An.AM
2. Memberikan
F-100
mengajarkan

cara

serta

menyiapkan

makanan tersebut.
3. Memberikan edukasi pada Tn.S
dan

Tn

merokok

mengenai

serta

mengurangi

bahaya

anjuran

frekuensi

untuk
mereka

merokok.
4. Memberikan motivasi pada Tn.S
untuk lebih bersemangat mencari
pekerjaan tetap.
VI

22 September
2012

1. Mengukur BB An.AM
2. Memberikan edukasi
PHBS

pada

seluruh

mengenai
anggota

keluarga
3. Menyarankan

Tn.K

agar

mengganti bajunya sehari 2x


4. Mengajarkan Ny.S mengenai arti
pentingnya kebersihan rumah.
5. Memotivasi
seluruh
anggota
keluarga

agar

bersemangat

dalam mengurus An.AM

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Keluarga binaan kami bertempat tinggal di Marga Mulya RT 01/ RW 01 Kecamatan
Mauk Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten.
Ada beberapa anggota keluarga yang memiliki masalah kesehatan dan kebiasaan
merokok. Upaya yang kami lakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan

mengidentifikasi penyakit dengan model biopsikososial dan memberikan edukasi serta saran
tentang penyakit tersebut dan kebiasaan yang tidak sehat
Berbagai edukasi lain terkait kesehatan pasien, bahaya merokok, serta PHBS juga
diberikan. Selain itu, motivasi untuk berusaha mencari pekerjaan tetap demi meningkatkan
kualitas hidup keluarga.
Pada akhirnya, seluruh anggota keluarga diharapkan dapat tetap menjaga kesehatan
bahkan meningkatkannya dengan menjalankan pola hidup sehat, diantaranya makan makanan
bersih dan bergizi, dan menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan

Saran
a

Terhadap pasien :
1 Diharapkan BB An.AM dapat terus meningkat dengan bertahap agar dapat
dilakukan operasi

untuk memperbaiki kondisi

labiopalatoschizis

yang

dideritanya sejak lahir. An.AM juga diharapkan mempu menjalin hubungan baik
2

dengan teman sebayanya dan berinteraksi dengan siapapun.


Diharapkan Tn.K tetap memeriksakan keluhannya secara teratur, mengurangi
frekuensi merokok dan mengerti akan artinya pola hidup sehat. T.S juga
diarapkan lebih termotivasi untuk mengurus An.AM dan tidak bergantung pada

orang lain.
Diharapkan Tn.S memeriksakan keluhannya secara teratur, mengurangi
frekuensi merokok serta mencari pekerjaan dengan penghasilan tetap. Tn.S juga

diharapkan dapat menjalin komunikasi yang baik dengan mertua.


4 Diharapkan Ny.E memeriksakan keluhannya secara teratur dan mengerti akan
arti pentingnya pola hidup sehat dengan menjaga higienitas pola makan An.AM,
Ny.E juga mampu mencari penghasilan tambahan agar dapat membawa An.AM
diperiksakan ke klinik gizi setiap 2 minggu.
b

Terhadap Dokter Muda Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat


selanjutnya, diharapkan dapat membantu terwujudnya target jangka panjang yang
ada seperti :
1 Pemantauan status gizi An.AM dan evaluasi secara teratur.
2 Pemantauan terhadap kebiasaan merokok Tn.K dan Tn.S.
3 Pemantauan pada kebersihan rumah Tn.S.
4 Pemantauan pada pola hidup sehat keluarga Tn.S.

Terhadap Puskesmas Mauk

Menjalankan program pembinaan keluarga dengan sebelumnya melakukan


pendataan terhadap kondisi kesehatan masyarakat khususnya keluarga yang

memiliki masalah serius dan memerlukan penatalaksanaan jangka panjang.


Sosialisasi program Puskesmas melalui kader-kader menjangkau setiap keluarga
secara personal.

Terhadap Dinas Kesehatan


1 Meningkatkan kuantitas tenaga kesehatan di Puskesmas agar masyarakat lebih
2

terlayani dengan lebih baik.


Memberikan penyuluhan secara luas mengenai pentingnya pola makan yang baik
dan benar untuk meningkatkan pengetahuan gizi pengasuh.

DAFTAR PUSTAKA
1. Almatsier,S.2003.Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta. PT.Gramedia Pustaka Utama.
2. Ariesman,MB. 2009. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : Penerbit
BukuKedokteran EGC
3. Azwar A. 2000 Masalah Gizi Kurang pada Balita dan Upaya Penanggulangannya di
Indonesia, Institut Pertanian Bogor
4. Departemen Kesehatan. 2008. Riset Kesehatan Dasar 2008. Jakarta :Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Republik Indonesia
5. Hardinsyah & D.Martianto. 1992. Gizi Terapan.Bogor : PAU Pangan dan Gizi IPB
6. Moehji S 1988. Pemeliharaan Gizi Bayi dan Anak, Bhatara, Jakarta.
7. Muchtadi D.2002. Gizi Untuk Bayi : ASI, Susu Formula dan Makanan Tambahan.
Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

8. Sajogyo 1994. Peranan Wanita dalam Pembangunan Masyarakat Desa :Rajawali,


Jakarta
9. Sanjur, 1982. Social and cultural perspective in nutrition. New York : Practice Hall
10. Soekirman.2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Jakarta:
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional
11. Subandriyo, VU. 1993. Pola Penyakit dan Kematian. Dalam A. Rustiawan, SM,
Atmojo, VU. Subandriyo, & YH. Effendi. Ilmu kesehatan Masyarakat. Diktat Jurusan
Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
12. Aru W. Sudoyo, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simadibrata K, Siti
Setiati (2010). Ilmu Penyakit Dalam. 2nd ed. Jakarta: InternaPublishing. 2538.

LAMPIRAN

TINJAUAN PUSTAKA
OSTEOARTHRITIS
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan
kerusakan kartilago sendi.Vertebra, panggul, lutut dan pergelangan kaki paling sering terkena
OA. Prevalensi OA lutut radiologis di Indonesia cukup tinggi, yaitu mencapai 15.5% pada
pria, dan 12.7% pada wanita. Pasien OA biasanya mengeluh nyeri pada waktu melakukan
aktivitas atau jika ada pembebanan sendi yang terkena.Pada derajat yang lebih berat, nyeri
dapat dirasakan terus menerus sehingga sangant mengganggu mobilitas pasien.Karena
prevalensi yang cukup tinggi dan sifatnya kronik progresif, OA mempunyai dampak sosio
ekonomik yang besar, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Diperkirakan 1
sampai 2 juta orang lanjut usia di Indonesia menderita cacat karena OA. Pada abad

mendatang tantangan terhadap dampak OA akan lebih besar karena semakin banyaknya
populasi yang berumur tua. 12
Terapi OA pada umumnya simptomatik, misalnya dengan pengendalian faktor-faktor
resiko, latihan, intervensi fisioterapi, dan terapi farmakologis, pada OA fase lanjut sering
diperlukan pembedahan.Untuk mengurangi keluhan nyeri pada OA, biasanya digunakan
analgetika atau obat anti inflamasi non steroid (OAINS).Karena keluhan nyeri pada OA
yang kronik dan progressif, penggunaan OAINS biasanya berlangsung lama, sehingga tidak
jarang menimbulkan masalah.Para ahli berusaha mencari terapi farmakologis yang dapat
memperlambat progresifitas kartilago sendi, bahkan kalau mungkin mencegah timbulnya
kerusakan kartilago.Beberapa obat telah dan sedang dilakukan uji pada binatang maupun uji
klinis pada manusia. Obat obat baru tersebut disebut sebagai chodroprotective agents atau
disease modifying osteoarthritis drugs (DMOADs). 12

GIZI BURUK
Gizi buruk (Malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh
kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses
terjadinya kekurangan gizi manahun. Gizi buruk membawa dampak bukan hanya pada
kehidupan anak-anak yang masih berusia muda, akan tetapi saat ini telah terjadi pada hampir
semua golongan umur. 2,3
Gangguan tumbuh kembang fisik, rendahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit,
tingkat kecerdasan yang kurang dari seharusnya pada umumnya, prestasi kerja dan olahraga
yang menurun adalah salah satu bentuk manifestasi dampak keadaan gizi, yang tidak optimal.
Hingga dapat disimpulkan bahwa gizi buruk membawa dampak yang tidak menguntungkan
terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. 4,5,6

Secara sederhana, status gizi pada anak balita dapat kita ketahui dengan
membandingkan antara berat badan normal menurut umur maupun membandingkan panjang
badan dengan ukuran yang telah ditetapkan atau ukuran standar. Apabila sesuai dengan
standar maka dapat dikatakan bahwa bayyi atau balita tersebut memiliki gizi yang baik
sedangkan jika ukuran tidak sesuai dengan standar maka balita tersebut mengalami penyakit
masalah malnutrisi atau gizi buruk. 6,7,9
Pada fase lanjut, orang yang mengalami gizi buruk akan rentan terhadap infeksi,
terjadinya pengurasan otot, pembengkakan hati, dan mengalami gangguan penyakit lainya
seperti infeksi, peradangan pada kulit seperti dehidrasi, mengalami kelainan organ dan
fungsi-fungsi organ. 10-11

A. STATUS GIZI AN.AM

Gambar 2.Status gizi An.AM (TB/U) dan (BB/U

B. KEADAAN RUMAH KELUARGA TN.S

Gambar 3. Tampak depan

Gambar 4. Tampak samping

Gambar 5. Tampak belakang

Gambar 6. Ruang

tamu

Gambar 7. Atap depan rumah

Gambar 8. Langit-langit dalam rumah

Gambar 9. Tungku pemanas & Tempat penyimpanan kayu

Gambar 10. Sumur

Gambar 11. Tempat penampungan air sumur

Gambar 12. Tempat memasak

Gambar 13.Tungku api

Gambar 14. Bak mandi

Gambar 15. Tempat penampungan air bersih

Gambar 16. Peralatan memasak

Gambar 17. Lemari pakaian

Gambar 18. Barang-barang keluarga Tn.S

Gambar 19. Lukisan dinding

Gambar 20. Jendela kamar

C. DOKUMENTASI KEGIATAN

Gambar 21. Anamnesa keluarga pasien

Gambar 22. Pemeriksaan fisik

Gambar 23. Monitoring makan An. AM

Gambar 24. Pendekatan pada An.AM

Gambar 25. Bermain dengan An.AM

Gambar 26. Persiapan F-100

Gambar 27. Packing PMT

Gambar 28. PMT dan F-100