Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
Secara definisi Batuan Reservoir merupakan wadah permukaan yang diisi
dan dijenuhi oleh minyak dan gas bumi yang mana ruangan penyimpanan minyak
dan gas tersebut berada dalam reservoir berupa rongga-rongga atau pori-pori.
Pada hakekatnya, setiap batuan dapat bertindak sebagai batuan reservoir asal
mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan melepaskan minyak bumi. Dalam
hal ini batuan reservoir harus menyandang tiga sifat fisik penting yaitu harus
mempunyai porositas yang memberikan kemampuan untuk menyimpan, kelulusan
fluida untuk mengalir atau permeabilitas dan juga banyaknya fluida reservoir yang
berada dalam batuan itu sendiri atau sering disebut sebagai saturasi. Jadi secara
singkat dapat disebut bahwa batuan reservoir harus berongga-rongga atau berporipori yang berhubungan. Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa posisi batuan
reservoir memiliki peranan yang sangat penting dan vital mengingat batuan
tersebut merupakan target dari operasi pengeboran. Kondisi batuan reservoir itu
sendiri dapat diketahui melalui proses analisa sifat fisik maupun kimia yang
terdapat dalam batuan reservoir tersebut.
Pada umumnya, Analisa Batuan Reservoir merupakan suatu kegiatan yang
dilakukan yang mana memiliki tujuan untuk mendapatkan sifat sifat fisik
maupun kimiawi dari batuan secara umum. Selain itu, analisa ini sendiri dapat
menentukan faktor faktor penting yang ada dalam batuan seperti saturasi,
porositas, permeabilitas, dan lain sebagainya. Jika dilihat secara garis besar maka

dapat dikatakan tujuan dari analisa batuan ini adalah untuk menentukan secara
langsung informasi tentang sifat-sifat fisik batuan yang ditembus selama
pemboran. Studi dari data analisa inti batuan dalam pemboran eksplorasi dapat
digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan dapat diproduksikan hidrokarbon
dari suatu sumur, sedangkan tahap eksploitasi dari suatu reservoir dapat
1

digunakan untuk pegangan melaksanakan well completion dan merupakan suatu


informasi penting untuk melaksanakan proyek secondary dan tertiary recovery.
Selain itu data inti batuan ini juga berguna sebagai bahan pembanding dan
kalibrasi dari metode logging.
Analisa batuan reservoir dilakukan umumnya dengan menggunakan
sebuah media core (contoh sampel batuan) yang mana sampel tersebut harus
mewakili dari kondisi pada reservoir. Analisa dilakukan secara kuantitatif dimana
hasil percobaan yang didapatkan dapat disimpulkan melalui perhitungan data
dimana melalui cara tersebut maka akan didapatkan hasil yang teliti, tidak seperti
analisa kualitatif yang hanya menggunakan keadaan fisik luarnya saja. Analisa
berdasarkan sampel core ini sendiri sering disebut dengan core analysis yang
mana contoh dari batuan tersebut didapatkan biasanya melalui pengambilan
sampel setelah dilakukannya operasi pengeboran uji coba atau wild cat.
Sifat sifat fisik yang dibahas dalam makalah ini meliputi permeabilitas
dan saturasi dimana dari kedua sifat fisik tersebut memiliki peranan yang sangat
penting yang mana memiliki dampak yang besar khususnya dalam bidang dunia
minyak dan gas. Dimana lingkup yang akan dibahas dalam makalah ini jika
dipersempit yakni merupakan hubungan antara permeabilitas relatif dengan

saturasi dalam dunia minyak dan gas. Penjelasan yang tertera pada makalah ini
sendiri lebih mengacu pada informasi yang bersumber secara teoritis yang akan
diimplementasikan terhadap kondisi formasi reservoir secara umum. Kedua sifat
fisik ini sendiri merupakan parameter atau acuan mendasar dalam dunia minyak
dan gas yang mana benefit dari kedua sifat fisik tersebut dapat dirasakan baik
dalam lingkup material maupun lingkup teknis itu sendiri.
Oleh karena itu, dengan dibuatnya makalah dengan judul Hubungan
Permeabilitas Relatif dan Saturasi dalam Dunia Perminyakan diharapkan dan
ditujukan agar para pembaca mampu ataupun dapat mengenali kedua sifat fisik
tersebut secara umum. Selain itu, tujuan lain yakni agar para pembaca dapat
mengerti dampak apa saja yang dapat ditimbulkan dari kedua sifat fisik tersebut
baik dalam lingkup materi maupun teknisnya yang mana memiliki dampak negatif
dan positif. Implementasi konkrit dari pemahaman kedua sifat fisik tersebut yakni
seperti kita menentukan metode apa maupun proses apa yang akan dilakukan
nantinya terhadap reservoir minyak dan gas berdasarkan kondisi reservoir itu
sendiri. Jadi dapat dikatakan bahwa dengan memahami kedua hal tersebut maka
diharapkan bahwa pemahaman itu sendiri mampu meminimalisir hal hal yang
tidak diinginkan terjadi dan mampu menerapkan langkah yang tepat untuk
dilakukan sesuai dengan faktor dan kondisi nyata yang ada.

BAB II
TEORI DASAR
Dalam lingkup hubungan permeabilitas relatif dan saturasi dalam dunia
perminyakan terdapat tiga faktor yang harus dibahas atau dikaji dalam hal ini
yang mana meliputi permebilitas itu sendiri, lalu saturasi dan juga hubungan
antara permeabilitas relatif dan saturasi dalam dunia perminyakan. Dimana hal
hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
2.1 Permeabilitas
Secara definisi, permeabilitas dapat diartikan sebagai kemampuan suatu
batuan untuk mengalirkan fluida melalui pori pori yang saling berhubungan satu
sama lain tanpa merusak partikel pembentuk atau dalam hal ini dapat diartikan
sebagai kerangka batuan. Permeabilitas ini penting untuk mengetahui mudah
tidaknya fluida reservoir untuk mengalir dalam batuan. Penentuan harga atau nilai
dari permeabilitas itu sendiri dapat dihitung berdasarkan perhitungan melalui
rumus hukum darcy yang mana dapat dituliskan sebagai berikut.

Dimana :

Q = Laju alir fluida (cm3/second)


= Viskositas (Centripoise)
L = Panjang (cm)
A = Luas (cm2)
P = Tekanan (atm)

Harga dari permeabilitas pun dapat diklasifikasikan mengacu pada nilai


yang didapatkan melalui perhitungan permeabilitas dengan satuan acuan yakni
mili Darcy (mD) dimana klasifikasi tersebut dapat dilihat melalui tabel 2.1 yang
tertera sebagai berikut ini.
Tabel 2.1
Klasifikasi Harga Permeabilitas
PERMEABILITAS (mD)
05
5 10
10 100
100 - 1000

KETERANGAN
Ketat
Cukup
Baik
Baik Sekali

Berdasarkan segi banyaknya fasa yang terdapat dalam reservoir maka


permeabilitas dapat dibedakan menjadi 3 jenis yakni meliputi permeabilitas
efektif, permeabilitas absolut, dan permeabilitas relatif. Permeabilitas efektif
merupakan kondisi permeabilitas dimana fluida yang ada dalam media porus lebih
dari satu jenis yakni dapat berupa minyak, gas maupun air. Permeabilitas absolut
merupakan kondisi permeabilitas dimana fluida yang ada dalam media porus
hanya ada satu fasa saja. Sedangkan permeabilitas relatif itu sendiri dapat
didefinisikan sebagai harga perbandingan antara harga permeabilitas efektif yang
deibandingkan dengan harga permeabilitas absolut. Jika dinyatakan dalam rumus 6
maka harga dari permeabilitas relatif itu sendiri dapat dituliskan sebagai berikut.

Dimana :

Krw = Permeabilitas relatif air


Kro = Permeabilitas relatif minyak
Krg = Permeabilitas relatif gas

Dari rumus yang tertulis diatas dapat dikatakan bahwa hubungan


permeabilitas relatif dengan permeabilitas absolut berbanding terbalik dan
berbanding lurus terhadap permeabilitas efektif. Sebagai ahli perminyakan
tentunya harga permeabilitas relatif yang tinggi sangat diharapkan dimana dengan
tingginya harga permeabilitas relatif tersebut maka dapat dikategorikan bahwa
suatu batuan memiliki kemampuan mengalirkan fluida yang baik.
2.2 Saturasi
Secara umum saturasi dapat diartikan sebagai besarnya volume fluida yang
menempati rongga atau pori dari suatu batuan. Dalam kondisi reservoir, saturasi
dapat berbentuk 3 jenis yakni saturasi air (Sw), saturasi gas (Sg) dan juga saturasi
minyak (So). Tiap tiap reservoir pastinya memiliki jenis saturasi yang berbeda
beda satu sama lain akan tetapi jika dilihat dari dunia minyak dan gas bahwa
kombinasi saturasi gas dan minyak lebih menguntungkan untuk dilakukannya7
proses produksi ke permukaan.
Secara kuantitatif, saturasi itu sendiri dapat dihitung besar harganya
melalui prinsip perbandingan dengan volume pori yang ada dalam batuan dimana
jika dinyatakan dengan rumus maka dapat dituliskan sebagai berikut.
Sw = (Vw/VP) x 100 %

Sg = (Vg/VP) x 100 %

So = (VoxVP) x 100 %

Dimana :

Vw = Volume air (ml)


Vo = Volume minyak (ml)
Vg = Volume gas (ml)
VP = Volume pori (ml)

Prinsip dari pengertian saturasi itu sendiri dimana banyaknya atau


besarnya volume fluida yang menempati suatu pori batuan dapat dideskripsikan
ke dalam bentuk gambar. Deskripsi tersebut dapat dilihat dari gambar 2.1 berikut.

Gambar 2.1
Deskripsi Prinsip Saturasi

Dalam konteks saturasi dikenal juga adanya istilah Connate Water


Saturation (Swc), Irreducible Water Saturation (Swir), Initial Water Saturation
(Swi), dan juga Residual Oil Saturation (Sor). Connate Water merupakan air yang
terperangkap dalam rongga pori yang tidak memiliki mobilitas dimana tidak ada
pergerakan. Irreducible Water merupakan kondisi dimana saturasi air telah
mencapai titik minimum atau dapat dikatakan residu air. Initial Water merupakan

saturasi air mula mula sebelum produksi dilakukan. Sedangkan Residual Oil
merupakan kondisi saturasi minyak yang telah mencapai titik minimum atau dapat
dikatakan sebagai sisa (residu) minyak. Dari istilah istilah tersebut tentunya
memiliki kaitan yang sangat erat jika dihubungkan terhadap sifat fisik
permeabilitas khususnya permeabilitas relatif.
2.3 Hubungan Permeabilitas Relatif dan Saturasi
Kedua sifat fisik yakni permeabilitas relatif dan saturasi memiliki
hubungan yang sangat penting untuk diketahui dimana memiliki dampak yang
vital khususnya dalam operasi produksi hidrokarbon ke permukaan. Sebagai
penjelas hubungan tersebut jika terjadi pada kondisi batu oil wet rock maka dapat
dilihat pada gambar 2.2 sebagai berikut ini.

Gambar 2.2
Grafik Hubungan Permeabilitas Relatif dan Saturasi
pada Oil Wet Rock
Dari grafik diatas jelas bahwa pada saat penjenuhan air sekitar 20 % maka
minyak memiliki harga permeabilitas relatif yang cukup tinggi kemudian saat
diproduksikan permeabilitas relatif minyak (Kro) cenderung turun dan pada saat
mencapai saturasi air kurang lebih 80% minyak berhenti mengalir dan terdapat
adanya minyak yang tertinggal dinamakan Residual Oil Saturation (Sor).
Sedangkan air mengalami perubahan yang signifikan pada saat saturasinya
melebihi 50%.

10

Sedangkan pada kondisi reservoir yang Water Wet yakni memiliki grafik
yang berbeda dengan grafik pada Oil Wet sebelumnya dimana dapat dilihat pada
gambar 2.3 sebagai berikut.

Gambar 2.3
Grafik Hubungan Permeabilitas Relatif dan Saturasi
pada Water Wet Rock
Dari grafik diatas maka dapat dijelaskan bahwa pada saat saturasi air
berada pada 20% minyak memiliki harga permeabilitas relatif yang tinggi. Seiring
diproduksikan maka harga permeabilitas relatif minyak (Kro) makin turun dan
pada saat saturasi airnya kurang lebih 78% minyak berhenti mengalir.
Permeabilitas air sendiri mulai naik signifikan pada saat saturasi airnya melebihi
60%.

BAB III
PEMBAHASAN
Dalam permasalahan tentang hubungan permeabilitas relatif terhadap
saturasi dalam dunia perminyakan terdapat hubungan yang berarti dimana
memiliki pengaruh yang besar pada bidang produksi minyak maupun gas.
Terdapat dua parameter yang perlu dilihat dalam melihat hubungan ini yaitu

saturasi air dan juga saturasi minyak. Membahas tentang saturasi minyak dimana
sebelum minyak diproduksikan (pada saat saturasi air rendah) memiliki harga
permeabilitas relatif yang tinggi. Seiring berjalannya produksi dan waktu maka
harga permeabilitas relatif dari minyak itu sendiri mengalami penurunan dimana
semakin bertambahnya waktu dan penambahan saturasi air maka minyak itu
sendiri akan berhenti mengalir yang berarti terdapat sisa dari minyak yang tidak
ikut terproduksikan ke permukaan yang sering disebut sebagai Residual Oil
Saturation (Sor).
Sedangkan jika melihat dari sisi saturasi air, cenderung bahwa nilai dari
Initial Water Saturation (Swi) rendah pada saat permeabilitas relatif dari air
tersebut rendah. Pada titik pertemuan dengan fasa minyak maka saturasi air
mengalami kenaikan yang signifikan. Namun dari kenaikan yang ada itu tidak
mempengaruhi terhadap besarnya saturasi dari Connate Water yang mana
merupakan saturasi air yang terperangkap dalam pori atau rongga batuan dimana
tidak memiliki mobilitas atau pergerakan dan juga tidak berhubungan secara
langsung pada sistem yang ada antara minyak dan air. Lain halnya dengan saturasi
dari Irreducible Water yang mana merupakan kondisi saturasi air pada saat titik
minimum saturasi.

11

Kurva permeabilitas relative memang memiliki hubungan dengan saturasi.


Dimana pada awal-awal minyak diproduksikan dan sumur minyak benar-benar
baru pertama kali dibor, saturasi awalnya adalah saturasi water initial atau saturasi
water connate. Setelah diproduksikan, nilai kro atau permeabilitas relative minyak
semakin menurun, dan nilai krw semakin bertambah, karena pori-pori yang diisi

12

minyak tadi selanjutnya diisi oleh air. Sampai pada titik akhir, nilai kro akan
semakin menurun dan sampai titik saturasi oil residu atau sor. Namun hal tersebut
merupakan pernyataan yang diambil dimana faktor faktor pengaruh yang
diimplementasikan yakni hanya saturasi fluida, permeabilitas relatif dan sifat
kebasahan batuan (wettability).
Lazimnya jika pada saat tahap Residual Oil Saturation telah tercapai maka
dalam hal ini perlu dipertimbangkan akankah sisa sisa dari minyak yang masih
berada dalam formasi perlu untuk diproduksikan ke permukaan atau tidak, baik itu
menggunakan prinsip primary recovery, secondary recovery, ataupun dengan
prinsip Enhaced Oil Recovery dimana dalam penentuan hal tersebut perlu
dipertimbangkannya dengan economic limit yang berarti masih layak atau tidak
fluida minyak tersebut untuk diproduksikan. Oleh karena itu, dapat dikatakan
bahwa hubungan antara permeabilitas relatif dan saturasi sangatlah berperan
penting terutama dalam bidang produksi minyak dan gas dimana jika dikaji betul
betul maka akan dapat meminimalisir adanya hal hal negatif yang tidak
diinginkan serta dapat menentukan pemilihan langkah yang tepat untuk diambil.

BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan yang tertera dalam makalah ini, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa :
1. Permeabilitas relatif minyak turun seiring berjalannya produksi dan waktu.
2. So Kro, dimana jika saturasi minyak kecil maka permeabilitas relatifnya juga.

3. Permeabilitas relatif dari air naik cukup signifikan pada saat melewati Cross
Point.
4. Saturasi air (Sw) bertambah apabila Saturasi minyak (So) pada saat
produksikan.
5. Kro > Krw pada saat So > Sw.

DAFTAR PUSTAKA
13

1. Ginting, Mulia dan Syamsul Irham. Tanpa Tahun. Penuntun Praktikum


Analisa Batuan Reservoir. Jakarta : Universitas Trisakti.
2. Http://teknik-perminyakan-indonesia.blogspot.co.id/2015/07/hubunganpermeabilitas-dan-saturasi.html/04/12/2015
3. Http://petrowiki.org/Relative_permeability/04/12/2015
4. Http://id.wikipedia.org/wiki/Batu/04/12/2015

1
4