Anda di halaman 1dari 4

TANTANGAN YANG AKAN DIHADAPI PERUSAHAAN JASA

KONSTRUKSI JIKA MEMASUKI KALIMANTAN TIMUR


Pembangunan di segalah bidang adalah komitmen besar pemerintah di Kalimantan
Timur dan umumnya di seluruh wilayah atau daerah yang masih tertinggal yang sejalan
dengan cita-cita pemerintah pusat melalui program percepatan pembangunan daerah
tertinggal khususnya di wilayah timur Indonesia. Hal inilah yang menjadi dasar untuk
terbukanya lapangan pekerjaan di segalah sektor termasuk sektor konstruksi dan
inprastruktur.jalan serta jembatan.
Seiring dengan pesatnya pembangunan di segalah bidang khususnya di Kalimantan
Timur ini, mendorong banyak perusahaan jasa konstruksi yang membuka pemasaran dan
kantor-kantor cabang di daerah Kalimantan Timur.
Bayangan kelancaran dan keuntungan yang besar juga adalah mimpi semua
perusahan dalam menjalankan usaha pada daerah yang nota bene adalah daerah terkaya di
Indonesia dengan sumber daya alam yang melimpah akan tetapi sumber daya manusianya
masih sangat minim. Namun tidaklah semuda yang kita impikan dalam mencapai semua itu,
dimana terdapat banyak tantangan yang akan kita hadapi antara lain:
1.

Masalah sosial:
Masyarakat Kalimantan Timur pada umumnya sejak era tahun 90an sampai era
sekarang ini, sudah terbiasa dan bahkan trauma dengan perusahaan-perusahaan
besar yang bekerja di Kalimantan Timur dengan dampak yang dirasakan kurang
menguntungkan bagi masyarakat Kalimantan Timur dan bahkan lebih kepada dampak
negative yang mereka rasakan setelah perusahaan-perusahan tersebut meningalkan
daerah-daerah mereka. Dampak negative yang ditinggalkan perusahaan seperti
perusahaan yang bergerak di bidang logging, pertambangan dan perkebunan sangat
dirasakan oleh masyarakat sekitar. Hal inilah yang membuat masyakat Kalimantan
Timur trauma dengan perusahaan dan belum sepenuhnya dapat membedakan antara
perusahaan-perusahaan tersebut dengan perusahaan jasa konstruksi, mereka

memandang dan memperlakukan perusahaan jasa konstruksi sama dengan


perusahaan kayu, pertambangan dan perkebunan, baik dari masyarakat langsung
maupun lewat lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang ada. Mereka belum
sepenuhnya dapat menjadikan perusahaan jasa konstruksi sebagai kawan untuk
menjalankan pembangunan di daerah-daerah mereka.
Perusahaan jasa konstruksi di sini harus mampu menghilangkan rasa trauma
masyarakat dengan cara sosialisasi, bekerja dengan baik dan benar yang dapat
memberi manfaat dan kepuasan bagi masyarakat.
2.

Kondisi alam:
Kondisi geografis daerah Kalimantan Timur pada umumnya adalah daerah yang
berbukit dengan struktur tanah yang rata-rata kurang stabil. Hal ini juga akan menjadi
penghambat pada semua perusahaan jasa konstruksi untuk bekerja terutama pada
pekerjaan kostruksi jalan, dan menuntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam
menciptakan metode-metode kerja yang baru yang sesuai dengan kondisi alam
setempat dimana dengan metode-metode tersebut kemungkinan akan membutuhkan
biaya yang tidak sedikit.

3.

Cuaca:
Kalimantan Timur dengan daerah yang sangat luas dan tingkat pertumbuhan
penduduk yang masih sangat kecil secara otomatis membuat wilayah hutan masih
jauh lebih luas daripada daerah pemukiman penduduk menyebabkan tingkat curah
hujan yang masih sangat tinggi, akan sangat menghambat semua perusahaan jasa
konstruksi dalam pencapaian target waktu penyelesaian sebuah kontrak kerja.

4.

Ketersediaan material alam setempat:


Kondisi tanah di Kalimantan timur pada umumnya adalah tanah liat, tanah berpasir dan
tanah bebatuan mudah, dimana belum mendukung untuk membuat hasil konstruksi
yang baik dan memadai sehingga hampir seluruh kebutuhan material konstruksi yang
baik akan didatangan dari luar Kalimantan timur yang akan membutuhkan biaya serta
resiko kehilangan waktu yang sangat besar.

5.

Sistim pemerintahan:
Dalam menyelesaikan sebuah kontrak pekerjaan, seringkali kontraktor akan tehambat
oleh sistim pemerintahan yang masih kurang baik seperti kurangnya koordinasi dan
kerjasama anatara dinas-dinas terkait yang ada, sehingga kepentingan-kepentingan
antara dinas seringkali tumpang tindih yang menyebabkan terhambatnya kontraktor
dalam mengerjakan pekerjaan tersebut yang akan berdampak pada keterlambatan
pencapain target waktu penyelesaian.

6.

Sistim pendanaan:
Pembangunan inprastruktur terutama pembangunan jalan dan jembatan di Kalimantan
Timur, hampir seluruh pendanaannya bersumber dari dana APBD I atau APBD II,
dengan sistim pendanaan triwulanan.
Dengan sistim pendanaan yang seperti ini, kontraktor akan sering dihadapkan pada
keragu-raguan atas ketersediaan dana yang tidak menentu besarannya dan akan
menyebabkan tidak seimbangnya antara dana yang diterima kontraktor dengan
volume pekerjaan yang telah terlaksana, dimana kontraktor akan lebih banyak
menanggung biaya pekerjaan terlebih dahulu. Dan bagi perusahaan yang tidak
mempunyai kesiapan dana yang besar akan kesulitan dalam menyelesaikan
pekerjaannya tepat waktu.
Hal-hal inilah yang menurut kami menjadi tantangan utama setiap perusahaan jasa
konstruksi jika ingin berpartisipasi dalam pembangunan inprastruktur di Kalimantan Timur,
semoga bisa menjadi pertimbangan lebih awal sebelum mengikuti tender-tender pekerjaan
yang ada di Kalimantan Timur.

Demikianlah akhir dari tulisan kami ini, semoga dapat menambah wawasan dan inspirasi
kita terutama buat diri kami pribadi dan mohon maaf atas segalah kekurangan, saran serta
masukan dari semua pihak adalah inspirasi baru buat kami dan sangat kami butuhkan untuk
perbaikan serta koreksi pada karya-karya kami selanjutnya.

Wassalam, penulis

Lukman