Anda di halaman 1dari 37

AIRWAY MANAGEMENT

PADA TRAUMA

agu

PENDAHULUAN

TRAUMA :
- penyebab kematian utama usia 1-36 th
- 3 penyebab kematian setelah penyakit
kanker(Edward,1995)

jantung dan

Penyebab Trauma maxillofacial : kecelakaan


lalulintas,perkelahian/kekerasan,kecelakaan kerja

Trauma pada daerah maxillofacial perlu perhatian khusus


karena terdapat sistem penglihatan,penciuman,
pendengaran, pernapasan dan pencernaan

Penatalaksanaan pasien trauma meliputi


penilaian secara cepat dan terapi yang
mendukung kehidupan (life support)

Tidak adekuatnya hantaran darah dan


oksigenasi ke otak dan organ vital lain
merupakan pembunuh tercepat.

Memastikan patensi jalan napas dan


oksigenasi adekuat adalah prioritas utama
pada pasien trauma

Pasien cedera yang mengancam jiwa diperlukan


(Edward,1995)
1. Kontrol jalan napas
2. Ventilasi adekuat
3. Monitoring KU
4. Jalur IV
5. Resusitasi cairan dan stabilisasi jantung
6. Pemeriksaan lab
7. Pemeriksaan neurologi
8. Pasang kateter
9. Pemeriksaan Rontgent
10. Pisahkan dengan pasien cedera cervical
11. Pasang NGT

Initial asessment

Penilaian awal meliputi primary,secondary


dan tertier survey
Primary survey dilakukan dalam 2-5 menit
meliputi Airway, Breathing, Circulation,
Dissability dan Exposure
Jika ABC terganggu harus dilakukan
resusitasi awal secara cepat.Pada kondisi
kritis resusitasi dan assesment dilakukan
simultan dengan monitoring,jalur IV,
resusitasi cairan dan dissability organ

Tujuan secondary survey adalah


mengidentifikasi semua kelainan sistemik
dan menilai keberhasilan terapi

AIRWAY

Penilaian patensi jalan napas adalah prioritas,


pada pasien sadar dan kooperatif penilaian
mudah dilakukan
Pada pasien dengan kesadaran terganggu:
- pembersihan jalan napas
- pemasangan penahan lidah
- ventilasi dengan mask

Airway Management

Berbagai alat dan keahlian penting untuk


management airway meliputi :
1.Basic airway managent
* pemberian O2 (partial atau NRM)
* bebaskan jalan napas dengan triple
manuver
* pembersihan jalan napas dari bekuan
darah, muntahan atau benda asing lain

2. Airway management lanjut


* Bag-valve devices dengan sungkup
* Direct glottic visualization dan oral
intubation
* Alternatif lain yakni nasal transiluminasi
( atau lighted stylet ) dan intubating
laryngeal mask airway dan
oesophagotracheal airway ( combitube )

3. Surgical airway
* Cricothiroidectomy ( open atau percutaneus
dengan dilator )
* Translaringeal jet insuflation
* Tracheostomy

BASIC AIRWAY MANAGEMENT

Membuka jalan napas pada pasien trauma


- mencegah pergerakan vertebra cervical
untuk menghindari trauma pada
medula
spinalis
- metode paling aman : manuver chin lift dan
jaw thrust ( hindari head tilt )

Penggunaan collar semi rigid adalah praktek


standar untuk immobilisasi kepala leher

Oral airway secara mekanik menggeser lidah


kedepan
patensi pharings terjaga

Ukuran oral airway yang salah akan


memperburuk obstruksi

AIRWAY MANAGEMENT
LANJUT (NON SURGICAL)

Pemberian O2 dg face mask atau bag valve


mask ventilation, jika perlu dengan VTP
disertai cricoid pressure untuk mencegah
aspirasi dan insuflasi lambung

Intubasi diperlukan setelah intervensi dasar


respirasi belum adekuat

Intubasi endotrakhea emergency, pada pasien


trauma dengan :
- obstruksi jalan napas
- hipoventilasi
- hipoksemia berat
- gangguan kognitif berat (GCS<8)
- cardiac arrest
- hemoragic shock berat

Intubasi endotrakeal emergency diperlukan


pada trauma inhalasi yang
diikuti

Obstruksi jalan napas


Gangguan kognitif berat ( GCS < 8 )
Luka bakar ( > 40 % )
Waktu transport yang lama
Impending airway obstruksi
Luka bakar sedang berat
Luka bakar oropharyngeal sedang-berat
Jejas jalan napas sedang-berat yang terlihat
dengan endoscopy

Intubasi tracheal adalah gold standar untuk


mempertahankan jalan napas secara definitif
tapi akan lebih sulit dilakukan pada pasien
trauma
Preoksigenasi inadekuat,Immobilisasi
cervical spine, vomitus debris dan local
edema
Pendekatan airway management yang
direkomendasikan adalah yang dari awal
menerapkan semua pasien trauma sebagai
pasien trauma cervical

Rapid sequence induction adalah tehnik


emergency kontrol jalan napas yang didesign
untuk memaksimumkan keberhasilan intubasi
endotrakeal dengan mengurangi efek samping.

RSI dengan agen induksi sedative ( thiopental,


ketamine, propofol atau ethomidate ) diikuti
pemberian agen neuromuskuler blok aksi cepat
( succinylcholine )

COMBITUBE

LIGHT STYLET

SURGICAL AIRWAY

Surgical airway diperlukan saat intervensi


dasar dan intubasi tidak berhasil

dilakukan secepatnya ( sebelum terjadi


hipoksemia, hiperkarbia atau apnea ).
Cricothiroidotomy dan translaryngeal jet
ventilation aman dan aplicable

TRANSLARYNGEAL JET
VENTILATION

Pertimbangan tehnik ini jika jalan napas


mengalami obstruksi total dan tehnik lain
mengalami kegagalan.

Tehnik ini dilakukan dengan menusukkan


pada membran crycothyroid dengan jarum
catter nomor 14 ( atau introducer central line
) dan dihubungkan dengan oksigen tekanan
sedang ( 50 psi ).

Crico-thyroidotomy

Tehnik ini dilakukan dengan palpasi antara


puncak thyroid dan prominence crycoid.
Kemudian membuat irisan kulit vertikal,
dengan pisau dibuat lubang pada membran
crycothyroid dan dengan pipa endotracheal
ukuran 6 mm lengkung yang sudah dipotong
dimasukkan kedalam lumen trakea

Tracheostomy

untuk penatalaksanaan jalan napas jangka


panjang dan secara ideal hendaknya
dilakukan dikamar operasi dengan
penerangan dan sterilitas optimal.

Airway Management pada


situasi khusus

Cervical Spine Fracture


( CSF )

Tehnik pilihan intubasi emergency pada


pasien dengan potensial cedera cervical
spine adalah direct laryngoscopy dan oral
intubation dengan manual in-line
stabilization, dengan periode pre-oksigenasi,
induksi anestesi intravena, paralisis dan
cricoid pressure.

Cedera Laryngotracheal dan


ruptura tracheobronchial

Severe airway compromise akan perlu


intubasi, sampai emergency tracheostomy
airway harus diperiksa pada pasien sadar,
napas spontan dengan bronkoscopy dan ET
dapat dimasukkan lewat bronkoscopy untuk
mengamankan jalan napas
tracheostomy harus dilakukan dibawah
tempat cedera tracheal ( Shearer, 1993 )

Maxillofacial Trauma

Problem jalan napas terutama terjadi pada


fraktur mandibula. Bilateral fraktur dapat
menyebabkan floating mandibula

Intubasi oral dapat mengamankan patensi


jalan napas, ketamine dosis analgetik( 20-70
mg) intravena, menjaga tonus otot dan
mencegah aspirasi selain dapat digunakan
mengatasi nyeri.

Kesimpulan

Kasus trauma sering dijumpai dalam pratek


klinik.Trauma maxillofacial memerlukan
perhatian khusus terutama mempertahankan
jalan napas

Ahli anestesiologi harus memiliki


kemampuan dan keahlian management jalan
napas pada trauma.

Terima kasih