Anda di halaman 1dari 2

PATOFISIOLOGI CACING TAMBANG

Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan
giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang
menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita
mengalami kekurangan darah (anemia) akibatnya dapat menurunkan gairah kerja
serta menurunkan produktifitas. Tetapi kekurangan darah (anemia) ini biasanya
tidak dianggap sebagai cacingan karena kekurangan darah bisa terjadi oleh banyak
sebab. (SK MENKES No: 424/MENKES/SK/VI/, 2006:11).
Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan. Dapat
berupa gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare dan
konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi gangguan
penyerapan makanan (malabsorbtion). Keadaan yang serius, bila cacing
menggumpal dalam usus sehingga terjadi penyumbatan pada usus (Ileus
obstructive). Selain itu menurut Effendy yang dikutip Surat Keputusan Menteri
Kesehatan (2006) gangguan juga dapat disebabkan oleh larva yang masuk ke
paru-paru sehingga dapat menyebabkan perdarahan pada dinding alveolus yang
disebut Sindroma Loeffler. (Gandahusada,2003)
Anemia defisiensi besi akibat infeksi cacing tambang menyebabkan
hambatan pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak. Pada wanita yang
mengandung, anemia defisiensi besi menyebabkan peningkatan mortalitas
maternal, gangguan laktasi dan prematuritas. Infeksi cacing tambang pada wanita
hamil dapat menyebabkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Diduga dapat
terjadi transmisi vertikal larva filariform A. duodenale melalui air susu ibu.18)
Pada daerah subsahara Afrika sering terjadi infeksi campuran cacing tambang dan
malaria falsiparum. Diduga infeksi cacing tambang menyebabkan eksaserbasi
anemia akibat malaria falsiparum dan sebaliknya.20) Kebanyakan infeksi cacing
tambang bersifat ringan bahkan asimtomatik. Dalam 7-14 hari setelah infeksi
terjadi ground itch. Pada fase awal, yaitu fase migrasi larva, dapat terjadi nyeri
tenggorokan, demam subfebril, batuk, pneumonia dan pneumonitis. Kelainan
paru-paru biasanya ringan kecuali pada infeksi berat, yaitu bila terdapat lebih dari
200 cacing dewasa. Saat larva tertelan dapat terjadi gatal kerongkongan, suara

serak, mual, dan muntah. Pada fase selanjutnya, saat cacing dewasa berkembang
biak dalam saluran cerna, timbul rasa nyeri perut yang sering tidak khas
(abdominal discomfort). Karena cacing tambang menghisap darah dan
menyebabkan perdarahan kronik, maka dapat terjadi hipoproteinemia yang
bermanifestasi sebagai edema pada wajah, ekstremitas atau perut, bahkan edema
anasarka. Anemia defisiensi besi yang terjadi akibat infeksi cacing tambang selain
memiliki gejala dan tanda umum anemia, juga memiliki manifestasi khas seperti
atrofi papil lidah, telapak tangan berwarna jerami, serta kuku sendok. Juga terjadi
pengurangan kapasitas kerja, bahkan dapat terjadi gagal jantung akiba penyakit
jantung anemia. (Herini,1995)
Penyakit cacing tambang menahun dapat dibagi dalam tiga golongan, yaitu
infeksi ringan, sedang dan berat. Infeksi ringan ditandai dengan kehilangan darah
yang dapat diatasi tanpa gejala, walaupun penderita mempunyai daya tahan yang
menurun terhadap penyakit lain. Infeksi sedang ditandai dengan kehilangan darah
yang tidak dapat dikompensasi dan penderita kekurangan gizi, mempunyai
keluhan pencernaan, anemia, lemah, fisik dan mental kurang baik. Sedangkan
pada infeksi berat dapat menyebabkan keadaan fisik buruk dan payah jantung
dengan segala akibatnya (Gandahusada,2003)
DAFTAR PUSTAKA
Gandahusada S, Ilahude H.D, Pribadi W, Parasitologi Kedokteran.
Edisi ke III.
Jakarta : Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
2003, p.11 17
Hotez PJ, Broker S, Bethony JM, Hookworm infection. N Engl J Med;
2004 :
351(8):799-807
Studi Nematoda Usus Pada Anak Sekolah di SD Rowoboni II Banyubiru
Semarang, 1995, Harini E (diakses 10 Maret 2010) diunduh dari :
http://www.fkm.undip.ac.id