Anda di halaman 1dari 13

EFEK HORMONAL PADA OVULASI DAN PEMIJAHAN IKAN

Oleh :
Nama
NIM
Kelompok
Rombongan
Asisten

:
:
:
:
:

Dini Darmawati
B1J014058
4
I
Iis Islamiyah

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
I.

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Hipofisasi merupakan teknik yang digunakan untuk mempercepat
pemijahan ikan melalui injeksi kelenjar hipofisa. Metode hipofisasi dilakukan
dengan menyuntikkan suspensi kelenjar hipofisa pada tubuh ikan yang akan
dibiakkan. Kelenjar hipofisa terletak di bawah otak sebelah depan. Kelenjar
endokrin

ini terletak di dalam sella tursika, yaitu lekukan dalam tulang

sfenoid.

Kelenjar ini mengandung hormon gonadotropin yang berfungsi

mempercepat ovalusi dan pemijahan. Kelenjar ini paling tidak menghasilkan


tujuh hormon yaitu GH, ACTH, TSH, LTH, FSH, LH, ICSH dan MSH
(Stickney,1979).
Kelenjar hipofisa memiliki peranan yang sangat penting, karena
mensekresikan

hormon

yang

berpengaruh

dalam

pertumbuhan

dan

perkembangbiakan. Hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisa ialah hormone


gonadotropin yang berfungsi dalam pematangan gonad dan mengontrol
ekskresi hormon yang dihasilkan oleh gonad. Kerusakan dalam pengambilan
kelenjar ini dapat mengakibatkan hormon menjadi tidak

berfungsi lagi.

(Soetomo, 1987).
Teknik

hipofisasi

juga memiliki

kekurangan

dan

kelebihan.

Kekurangan dari teknik ini ialah tidak dapat menjamin keberhasilan suatu
penijahan. Hal ini disebabkan, pemijahan dipengaruhi oleh banyak faktor,
misalnya ketentuan atau ikan belum siap dan belum matang kelamin.
Keuntungan dari teknik hipofisa ini ialah ikan dapat menghasilkan keturunan
yang lebih cepat dan banyak. Namun demikian, masih belum lepas dari
berbagai masalah yang dihadapi seperti dosis dan sumber kelenjar hipofisa.
Oleh karena itu, sebelum melakukan penyuntikan harus mengetahui dosis

yang digunakan dalam donor kelenjar hipofisa yang optimum terhadap


tingkat keberhasilan ovolasi dan daya tetes telur (Sumantadinata, 1988).

I.2. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk merangsag ikan untuk ovulasi dan
memijah dengan induksi kelenjar hipofisa.

II.

II.1.

MATERI DAN CARA KERJA

Materi
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Ikan Mas

(Cyprinus carpio) sebagai ikan donor, Ikan Nilem (Osteochilus hasselti)


sebagai ikan resipien, dan aquabidest.
Alat yang digunakan dalam praktikum ialah bak pemeliharaan, pisau
tajam, centrifuge, spuit injeksi, ember plastik, aquarium, dan talenan atau
tempat pemotongan ikan.
II.2.

Cara Kerja

1. Siapkan aat dan bahan yang akan digunakan.


2. Ambil dan letakkan Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada talenan atau tempat
pemotongan ikan.
3. Potong kepala Ikan Mas dengan menggunakan pisau yang tajam tepat di
belakang operculum hingga putus tanpa mematikan ikan tersebut.
4. Selanjutnya pemotongan kedua dilakukan pada kepala tersebut dengan
menghadapkan kepala bagian mulut ke arah atas dan mulai dipotong tepat
dari lubang hidung di atas otak atau bagian atas mata ke arah bawah
sampai putus sehingga tengkorak kepala terbuka dan terlihat organ dalam
kepala.
5. Lihat kelenjar hipofisis yang terletak di bawah otak di dalam sebuah
lekukan. Kelenjar hipofisa tersebut berbentuk bulat, berwarna putih dan
ukurannya sebesar butir kacang hijau.
6. Ambil kelenjar hipofisis tersebut dengan menggunakan pinset kemudian
dicuci dengan akuades pada cawan petri memakai spuit injeksi secara
hati hati.
7. Lumatkan

kelenjar

hipofisis

dengan

menggunakan

mortar

dan

ditambahkan aquabides.
8. Encerkan sesuai dengan jumlah resipien kemudian dilakukan centrifuge
selama 10 menit pada kecepatan 3.500 rpm hingga mendapatkan endapan
dan supernatant.

9. Ekstrak kelenjar tersebut diambil sesuai dengan takaran tiap kelompok


untuk ikan betina dan jantan pada ikan resipien.
10. Ambil dengan spuit lalu suntikkan melalui intra muscular pada ikan
resipien jantan dan betina, untuk ikan betina diberikan 0,5 cc dan ikan
jantan sebanyak 0,3 cc.
11. Masukkan kembali ikan resipien ke dalam bak penampungan dan
ditunggu hingga 10 12 jam.
12. Pasangan ikan diamati setelah 12 jam dan termasuk terjadi atau tidak
terjadi pemijahan kemudian dimasukkan dalam tabel pengamatan.
III.

III.

III.1

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 3.1.1 Rasio Pengamatan Hipofisasi


/

Memijah

Tidak Memijah

1:3

1:2

1:1

Tabel 3.1.2 Dosis Pengamatan Hipofisasi


/

Memijah

Tidak Memijah

2cc

5cc

3.2. Pembahasan
Menurut Gusrina (2008), pemijahan merupakan suatu proses
perkawinan antara ikan jantan dan ikan betina yang mengeluarkan sel telur
dari betina, sel sperma dari jantan dan terjadi di luar tubuh ikan (eksternal).
Teknik pemijahan ikan dapat dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu:
1. Secara alami, yaitu pemijahan ikan tanpa campur tangan manusia
dan terjadi secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan hormon).
2. Pemijahan secara semi buatan, yaitu pemijahan ikan yang terjadi
dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat
kematangan gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di
kolam.
3. Pemijahan ikan secara buatan, yaitu pemijahan ikan yang terjadi
dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat
kematangan gonad serta proses ovulasinya dilakukan secara buatan
dengan teknik stripping atau pengurutan untuk mengambil sel telur
dan sperma ikan. Pemijahan buatan dilakukan di luar media
pemijahan.
Hipofisasi

merupakan

suatu

teknik

induksi

dengan

cara

penyuntikkan untuk memacu terjadinya ovulasi dan pemijahan pada ikan.


Kelenjar hipofisa berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan ikan.
Kelenjar hipofisa dari ikan donor mengandung hormon gonadotropin yang
berpengaruh terhadap gonad yang akan merangsang proses pematangan telur
sehingga mempercepat proses ovulasi dan pada akhirnya merangsang ikanikan resipien untuk memijah (Harjomulla, 1981).
Syarat ikan untuk menjadi ikan donor adalah matang gonad, satu
spesies atau satu famili dengan ikan resipien, sehat dan bobot tubuh ikan
donor harus lebih besar dari ikan resipien. dan perbandingan ikan donor dan
resipien adalah 1,5 : 1. 1,5 kg ikan donor untuk 1 kg ikan resipien. Hipofisa
ikan donor digunakan satuan dosis ikan donor pada ikan resipien adalah 0,5
ml untuk ikan betina dan 0,3 ml untuk ikan jantan. Sedangkan, syarat ikanr
resipien ialah sehat dan bobot tubuhnya lebih kecil dari bobot tubuh ikan
donor (Greene, 1968).

Menurut Susanto (1996), teknik penyuntikan hormon pada ikan


dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu intra muscular (penyuntikan ke dalam
otot), intra peritorial (penyuntikan pada rongga perut), dan intra cranial
(penyuntikan di kepala). Dari ketiga teknik penyuntikkan yang paling umum
dan mudah dilakukan adalah intra muscular. Hal ini dikarenakan pada bagian
ini tidak merusak organ yang penting bagi ikan dalam melakukan proses
metabolisme seperti biasanya dan tingkat keberhasilan lebih tinggi
dibandingkan dengan lainnya.
Menurut Muhammad et al., (2003), teknik penyuntikkan yang
dilakukan secara intra muscular akan dilakukan penyuntikkan pada 5 sisik ke
belakang dan 2 sisik ke bawah bagian sirip punggung ikan. Penyuntikan
hormon ke organ otot (intra muscular) memiliki resiko kerusakan organ kecil
dan penyebaran hormon lebih cepat menyebar ke seluruh tubuh. Namun,
kemungkinan hormone dapat keluar kembali dari tubuh dan dapat
menyebabkan iritasi pada bagian tubuh ikan. Sedangkan, penyuntikan pada
rongga perut (intra peritorial) pelaksanaanya lebih praktis dan tidak terlalu
memperhitungkan volume hormon yang akan disuntikkan. Namun, kerja dan
peyebaran hormon menjadi lebih lambat dan rentan terhadap iritasi dan
implantasi. Penyuntikan hormon di kepala (intra cranial) kelebihannya cepat
dan tepat pada sasaran namun beresiko tinggi terhadap kelangsungan hidup
ikan karena dapat mengenai bagian otak ikan. Beberapa waktu intra-injeksi
peritonial diambil dari Ikan Mas dan diberikan pada pangkal sirip dada. Agar
dapat akses ke pituari bagian atas intramusculer dilakukan pada pangkal sirip
ekor tengkorak yang dibelah dengan menggunakan pisau (More, 2010).
Menurut Hoar (1957), hipofisa terdiri dari dua kelenjar hipofisa yaitu
neuron dan adenohypofisa merupakan bagian terbesar dari kelenjar dan
memiliki tiga ruangan yaitu proximal pars distalis, rostal pars distalis, dan
pars intermedia. Hipofisa terletak pada bagian bawah otak dan menghasilkan
hormon GnRH, ACTH, TSH,FSH, LH, STH, MSH, Prolaktin, Vasopresin,
dan Oksitosin. Umumnya, hormon tersebut berfungsi mengatur pertumbuhan,
perkembangan, metabolisme, reproduksi, tingkah laku, dan homeostatis pada
ikan. Kelenjar hipofisa tersebut disuntikan pada ikan resipien yang disebut
dengan metode hipofisasi.

Menurut Soetomo (1987), mekanisme hipofisasi dimulai saat ada


rangsangan dari syaraf pusat yang diantarkan ke hipotalamus, setelah
sebelumnya diolah lebih dahulu oleh reseptor seperti mata dan sirip.
Hipotalamus kemudian akan mengeluarkan GnRH yang merangsang gonad
untuk menghasilkan hormon gonadotropin yang dibutuhkan dalam proses
pemijahan. Hormon-hormon tersebut akan segera mempengaruhi kerja dari
alat-alat kelamin pada ikan yaitu testis dan ovarium. Testis akan
menghasilkan androgen steroid dan ovarium akan menghasilkan estrogen.
Mekanisme hormon kelamin adalah hormon steroid seperti estrogen, kortisol,
aldosteron dan lain-lain, masuk ke dalam sasaran kemudian merangsang
aktivitas gen maka ikan akan segera memijah.
Setelah diberikan hormon gonadotropin, akan terlihat ikan jantan dan
betina yang telah matang kelamin. Ikan betina matang kelamin dicirikan
dengan perut yang relatif membesar dan lunak bila diraba, dari lubang genital
keluar cairan jernih kekuningan, naluri gerakan lambat, postur tubuh gemuk,
warna tubuh kelabu kekuningan, dan lubang genital berbentuk bulat telur
agak melebar dan membengkak. Sementara ciri ikan jantan yang sudah
matang kelamin yaitu mudah mengeluarkan sperma (milt) jika perutnya diurut
(stripping), naluri gerakkannya lincah, postur tubuh dan perut ramping, warna
tubuh kehijauan dan kadang gelap, lubang urogenital agak menonjol serta
sirip dada kasar dan perutnya keras (Sumantadinata, 1981).
Praktikum efek hormonal pada ovulasi dan pemijahan ikan dengan
menggunakan ikan donor yaitu ikan Mas (Cyprinus carpio) dan ikan Nilem
(Osteochilus hasselti) sebagai ikan resipien. Setelah dilakukan pengamatan,
hasilnya tidak ada ikan yang memijah, baik dengan perbedaan perbandingan
antara jantan dan betina serta dalam perbedaan dosis. Meskipun, telah
dilakukan pengamatan 7 jam setelah diberi ekstrak kelenjar hipofisa dari ikan
donor. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kay (1998) yang menyatakan
bahwa penyuntikan kelenjar hipofisa akan memberikan respon dan
menyebabkan ikan memijah antara 7-11 jam.
Jika terjadi pemijahan, maka ciri ciri air dalam bak penampungan
menjadi keruh, terdapat telur dalam jumlah banyak yang berwarna putih, ikan
betina dan ikan jantan saling berdekatan, terdapat busa busa pada bak
penampungan, dan berbau amis. Menurut Nuraini (2006), keberhasilan suatu

pemijahan buatan untuk menghasilkan benih, tergantung oleh banyak faktor


seperti halnya kematangan kelamin induk jantan dan betina, kualitas
kematangan kelamin yang baik, kesehatan ikan. Selain itu, sangat ditentukan
oleh induk jantan dalam menghasilkan smen baik volume maupun
kualitasnya. Penyediaan semen yang baik volume maupun kualitasnya oleh
induk jantan merupakan hal yang cukup sulit untuk dilakukan.

IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :


1. Teknik hipofisasi dilakukan dengan menyuntikkan kelenjar hipofisa pada
ikan resipien yang akan merangsang ikan untuk melakukan ovulasi dan
pemijahan.
2. Ikan akan memijah 7-11 jam setelah diinduksi dengan kelenjar hipofisis
yang bersumber dari ikan donor.

DAFTAR REFERENSI
Greene, G. H. 1968. Reproduction Control Factor in Cyprin Fish. Brachidonioresio
Droct Fao Word Synaton Warm Pond Fish Culture.
Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Jakarta : Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional.
Harjomulla, 1981. Metode Hipofisasi untuk Merangsang Ovolasi pada Ikan.
Bandung : IPB.
Hoar, W.S. 1957. General and Comparative Physiology Third Edition. New Delhi :
Prentice Hall of India Private Limited.
Kay, I. 1998. Introduction of Animal Physiology. Canada : Bion Scientific Publisher
Ltd.
More, P.R., R.Y. Bhandare., S.E. Shinde., T.S. Pathan and D.L. Sonawane Libyan.
2010. Comparative study of synthetic hormones ovaprim and carp pituary
extract used in induced breeding of indian major carps.university aurangarab,
India. Agriculture Research Center Journal Internation Vol.1 (5): 288-295
Muhammad, H. S. dan Irfan A. 2003. Pengaruh Donor dan Dosis Kelenjar Hipofisa
terhadap Ovulasi dan Daya Tetas Telur Ikan Betok (Anabas testudineus
Bloch). J. Sains & Teknologi. 3 (3): 87-94.
Nuraini dan Sukendi. 2006. Peningkatan volume semen dan kualitas spermatozoa
ikan betutu melalui kombinasi pembentukan hCG dan ekstrak hipofisa ikan
mas. Jurnal Dinamika Pertanian. Volume XXI (2) : 145 150.
Soetomo,M.H.A. 1987. Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo. Jakarta : Sinar Baru.
Stickney, 1979. Kehidupan di Dalam Air. Jakarta : Tira Pustaka.
Sumantadinata, K. 1988. Pengembangbiakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia.
Jakarta : Sastra Budaya.
Susanto, H. 1996. Budidaya Kodok Unggul. Jakarta : Swadaya.