Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Pembinaan bidang hukum harus mampu mengarahkan dan menampung
kebutuhan-kebutuhan hukum, sesuai dengan kesadaran hukum masyarakat
yang sedang berkembang kearah modernisasi menurut tingkat kemajuan
pembangunan di segala bidang, sehingga tercapai ketertiban dan kepastian
hukum sebagai sarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan
pembinaan kesatuan bangsa sekaligus berfungsi sebagai sarana penunjang
perkembangan
modernisasi
dan
pembangunan
menyeluruh.
Dalam rangka memberikan kepastian dan perlindungan hukum, maka
lahirlah UU No. 23 Tahun 1999 tentang Kesehatan yang bertujuan untuk
meningkatkan, mengarahkan dan memberikan dasar bagi pembangunan di
bidang kesehatan. Dengan dikeluarkannya UU No. 23 Tahun 1999 tentang
Kesehatan tersebut diharapkan dapat berfungsi sebagai perangkat hukum
kesehatan yang dinamis, baik bagi dokter maupun penderita dan yang akan
dilakukan secara bertahap. Informasi dalam lingkup medis, ternyata sangat
penting. Meski tidak semua pasien menghendaki penjelasan yang sejelasjelasnya, akurat dan lengkap tahap demi tahap perawatan, tetapi langkah
penjelasan untuk era saat ini justru diharuskan. Bagi pasien yang menolak
penjelasan bisa diminta untu menandatangani surat penolakan penjelasan
perawatan, namun dokter atau dokter gigi tetap memberi kesempatan bila
suatu saat pasien berubah pendapat. Sebab tidak semua kejadian dalam
pengobatan berlangsung exactly just the way we want to. Dunia kedokteran
tidak 2+2=4. Tidak ada kepastian dan garansi dalam dunia kedokteran
karena setiap kasus bagaikan teori permutasi kombinasi. Latar belakang
setiap orang berbeda, derajat pengobatan yang diberikan berbeda, latar
belakang kesehatan berbeda, derajat pengobatan yang diberikan berbeda,
reaksi tubuh terhadap sesuatu juga berbeda. Jadi manalah mungkin seorang
dokter dan dokter gigi yang juga manusia dapat memenuhi dengan
sempurna seluruh kriteria kasus yang ada, sedangkan setiap orang sudah
pasti having their own limit. Oleh karena itu, selain untuk menjaga
kemungkinan terlantar-nya pasien oleh dokter atau dokter gigi yang
mempunyai pasien banyak, atau terlantar-nya dokter atau dokter gigi
karena harus menghadapi tuntutan hanya karena tidak mengkomunikasikan

kemungkinan penyakit maka dibuatlah suatu perjanjian hitam di atas putih


antara dokter denga pasien. Ini disebut sebagai Informed Consent.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu Informed Consent;
2. Untuk mengetahui tujuan dari pelaksanaan Informed Consent;
3. Untuk mengetahui aspek-aspek hukum dari Informed Consent;
4. Untuk mengetahui kedudukan hukum Informed Consent dalam hal
pembuktian di pengadilan

1.3 Rumusan masalah


1. Apa itu Informed Consent?
2. Bagaimanakah tujuan dari pelaksanaan Informed Consent?
3. Bagaimanakah aspek-aspek hukum dari Informed Consent?
4. Bagaimanakah kedudukan hukum Informesd Consent dalam hal
pembuktian di Pengadilan?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Informed Consent
Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang berarti
telah mendapat penjelasan atau keterangan (informasi), dan consent
yang berarti persetujuan atau memberi izin. Jadi informed consent
mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah
mendapat informasi. Dengan demikian informed consent dapat
didefenisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau
keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan
dilakukan terhadap dirinya serta risiko yang berkaitan dengannya.
Menurut D. Veronika Komalawati, SH., informed consent dirumuskan
sebagai suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang
akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh informasi dari
dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong
dirinya disertai informasi mengenai segala risiko yang mungkin terjadi.
Di Indonesia perkembangan informed consent secara yuridis formal,
ditandai dengan munculnya pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
tentang informed consent melalui SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 pada tahun
1988. Kemudian dipertegas lagi dengan PerMenKes No. 585 tahun 1989
tentang Persetujuan Tindakan Medik atau Informed Consent. Hal ini tidak
berarti para dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia tidak mengenal dan
melaksanakan informed consent karena jauh sebelum itu telah ada
kebiasaan pada pelaksanaan operatif, dokter selalu meminta persetujuan
tertulis dari pihak pasien atau keluarganya sebelum tindakan operasi itu
dilakukan.
Pada dasarnya Persetujuan Tindakan Medik berasal dari hak asasi
pasien dalam hubungan dokter pasien yaitu:
1.
Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
2.
Hak untuk mendapatkan informasi
Dari sudut pandang dokter Persetujuan Tindakan Medik ini berkaitan dengan
kewajiban dokter untuk memberikan informasi kepada pasien dan kewajiban
untuk melakukan tindakan medik sesuai dengan standar profesi medik.
Suatu informed consent baru sah diberikan oleh pasien jika memenuhi
minimal 3 (tiga) unsur sebagai berikut :

a. Keterbukaan informasi yang cukup diberikan oleh dokter.


b. Kompetensi pasien dalam memberikan persetujuan.
c. Kesukarelaan (tanpa paksaan atau tekanan) dalam memberikan
persetujuan
Ruang lingkup dan materi informasi yang diberikan tergantung pada
pengetahuan medis pasien saat itu. Jika memungkinkan, pasien juga
diberitahu mengenai tanggung jawab orang lain yang berperan serta dalam
pengobatan pasien. Biasanya, informed consent ini harus meliputi :
1. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai tindakan, terapi dan
penyakitnya
2. Pasien harus diberitahu tentang hasil terapi yang diharapkan dan
seberapa besar kemungkinan keberhasilannya
3. Pasien harus diberitahu mengenai beberapa alternatif yang ada dan
akibat apabila penyakit tida diobati
4. Pasien harus diberitahu mengenai risiko apabila menerima atau menolak
terapi.
Secara umum, bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa
tindakan medis (pasien) kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis
(dokter) untuk melakukan tindakan medis dapat dibedakan menjadi tiga
bentuk, yaitu :
1. Persetujuan Tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang
mengandung risiko besar, sebagaimana ditegaskan dalam PERMENKES No.
585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3 ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88
butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis yang mengandung risiko cukup
besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah sebelumnya
pihak pasien memperoleh informasi adekuat tentang perlunya tindakan
medis serta risiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed
consent);
2. Persetujuan Lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang
bersifat non-invasif dan tidak mengandung risiko tinggi, yang diberikan oleh
pihak pasien;
3. Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya
pasien yang akan disuntik atau diperiksa tekanan darahnya, langsung
menyodorkan lengannya sebagai tanda menyetujui tindakan yang akan
dilakukan terhadap dirinya.
Selain itu, Persetujuan Tindakan Medik (Informed Consent) dapat
diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :
1. Implied Consent, yaitu persetujuan yang dianggap telah diberikan
walaupun tanpa pernyataan resmi, yaitu pada keadaan biasa dan pada
keadaan darurat atau emergency. Pada keadaan gawat darurat yang

mengancam jiwa pasien, tindakan menyelamatkan kehidupan (life saving)


tidak memerlukan Persetujuan Tindakan Medik;
2. Expresed Consent, yaitu Persetujuan Tindakan Medik yang diberikan
secara eksplisit, baik secara lisan (oral) maupun tertulis (written)

2.2 Tujuan pelaksanaan informed consent


Dalam hubungan antara pelaksana (dokter) dengan pengguna jasa
tindakan medis (pasien), maka pelaksanaan informed consent, bertujuan :
1. Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari
segala tindakan medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya, maupun
tindakan pelaksana jasa tindakan medis yang sewenang-wenang, tindakan
malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi pasien dan standar profesi
medis, serta penyalahgunaan alat canggih yang memerlukan biaya tinggi
atau over utilization yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan
medisnya;
2. Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis
dari tuntutan-tuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta akibat tindakan
medis yang tak terduga dan bersifat negatif, misalnya terhadap risk of
treatment yang tak mungkin dihindarkan walaupun dokter telah bertindak
hati-hati dan teliti serta sesuai dengan standar profesi medik.
Sepanjang hal itu terjadi dalam batas-batas tertentu, maka tidak
dapat dipersalahkan, kecuali jika melakukan kesalahan besar karena
kelalaian (negligence) atau karena ketidaktahuan (ignorancy) yang
sebenarnya tidak akan dilakukan demikian oleh teman sejawat lainnya.
Perlunya dimintakan informed consent dari pasien karena informed
consent mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :
1. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia
2. Promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri
3. Untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati
pasien
4. Menghindari penipuan dan misleading oleh dokter
5. Mendorong diambil keputusan yang lebih rasional
6. Mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan
7. Sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan
kesehatan.
Pada prinsipnya informed consent diberikan di setiap pengobatan oleh
dokter. Akan tetapi, urgensi dari penerapan informed consent sangat terasa
dalam kasus-kasus sebagai berikut :
1. Dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pembedahan/operasi

2. Dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pengobatan yang memakai


teknologi baru yang sepenuhnya belum dipahami efek sampingnya
3. Dalam kasus-kasus yang memakai terapi atau obat yang kemungkinan
banyak efek samping, seperti terapi dengan sinar laser, dll.
4. Dalam kasus-kasus penolakan oleh klien
5. Dalam kasus-kasus dimana di samping mengobati, dokter juga
melakukan riset dan eksperimen dengan berobjekan pasien.

2.3

Aspek-aspek informed consent


Dalam hubungan hukum, pelaksana dan pengguna jasa tindakan medis
(dokter, dan pasien) bertindak sebagai subyek hukum yakni orang yang
mempunyai hak dan kewajiban, sedangkan jasa tindakan medis sebagai
obyek hukum yakni sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi orang
sebagai subyek hukum, dan akan terjadi perbuatan hukum yaitu perbuatan
yang akibatnya diatur oleh hukum, baik yang dilakukan satu pihak saja
maupun oleh dua pihak.
Dalam masalah informed consent dokter sebagai pelaksana jasa
tindakan medis, disamping terikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran
Indonesia) bagi dokter, juga tetap tidak melepaskan diri dari ketentuanketentuan hukum perdata, hukum pidana maupun hukum administrasi
sepanjang hal itu diterapkan.
Pada pelaksanaan tindakan medis, masalah etik dan hukum perdata,
tolak ukur yang digunakan adalah kesalahan kecil (culpa levis), sehingga
jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan pasien,
maka sudah dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum. Hal
ini disebabkan pada hukum perdata secara umum berlaku adagium barang
siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi. Sedangkan pada
masalah hukum pidana, tolok ukur yang dipergunakan adalah kesalahan
berat (culpa lata). Oleh karena itu adanya kesalahan kecil (ringan) pada
pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk
menjatuhkan sanksi pidana.
Dalam Aspek Hukum Perdata, suatu tindakan medis yang dilakukan oleh
pelaksana jasa tindakan medis (dokter) tanpa adanya persetujuan dari
pihak pengguna jasa tindakan medis (pasien), sedangkan pasien dalam
keadaan sadar penuh dan mampu memberikan persetujuan, maka dokter
sebagai pelaksana tindakan medis dapat dipersalahkan dan digugat telah
melakukan suatu perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad)
berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH
Perdata). Hal ini karena pasien mempunyai hak atas tubuhnya, sehingga
dokter harus menghormatinya.

Selanjutnya Aspek Hukum Pidana, informed consent mutlak harus


dipenuhi dengan adanya Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP) tentang Penganiayaan. Suatu tindakan invasive (misalnya
pembedahan, tindakan radiology invasive) yang dilakukan pelaksana jasa
tindakan medis tanpa adanya izin dari pihak pasien, maka pelaksana jasa
tindakan medis dapat dituntut telah melakukan tindak pidana penganiayaan
yaitu telah melakukan pelanggaran terhadap Pasal 351 KUHP.
Sedangkan Aspek Hukum Administrasi, izin praktek yang dikeluarkan
pihak Depkes harus dimiliki oleh setiap dokter yang berpraktek. Sehingga
apapun tindakan medis yang dilakukan oleh dokter dapat dilaksanakan dan
sah menurut hukum. Seperti halnya informed consent yang dikeluarkan oleh
dokter merupakan salah satu bentuk tindakan yang dilakukan oleh dokter
sebagai pelaksana jasa tindakan medis.
Sebagai salah satu pelaksana jasa tindakan medis dokter harus
menyadari bahwa informed consent benar-benar dapat menjamin
terlaksananya hubungan hukum antara pihak pasien dengan dokter, atas
dasar saling memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak yang
seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan. Masih banyak seluk beluk dari
informed consent ini sifatnya relative, misalnya tidak mudah untuk
menentukan apakah suatu inforamsi sudah atau belum cukup diberikan oleh
dokter. Hal tersebut sulit untuk ditetapkan secara pasti dan dasar teoritisyuridisnya juga belum mantap, sehingga diperlukan pengkajian yang lebih
mendalam lagi terhadap masalah hukum yang berkenaan dengan informed
consent ini.

2.4

Kedudukan Hukum Informed Consent Dalam Hal Pembuktian


Di Pengadilan
Informed Consent merupakan surat yang menyatakan bahwa pasien
diberitahu perihal penyakit yang dideritanya, kerugian maupun keuntungan
dari alternatif perawatan dan pengobatan yang akan diberikan, penjelasan
mengenai biaya yang harus dibayar dan pilihan-pilihan lain yang
memungkinkan untuk mengatasi penyakitnya.
Sebagai suatu bentuk persetujuan tindakan medis, informed consent
mempunyai kekuatan hukum, dimana surat yang ditandatangani dengan
kesadaran sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun bisa dijadikan bukti di
dalam mengajukan gugatan di pengadilan. Informed consent in merupakan
salah satu pencegahan diri dari tindakan malpraktek dan tuntutan
malpraktek.
Untuk menjaga keamanan dan keaslian Persetujuan Tindakan Medis
diperlukan saksi dari pihak keluarga maupun dari rumah sakit. Mengenai
jumlahnya tidak ada pedoman khusus, namun biasanya ada 2 orang, yaitu

satu mewakili pasien dan satu mewakili rumah sakit. Tetapi hal ini tidak
mutlak, dapat saja dua-duanya dari pihak keluarga ataupun dari rumah
sakit.
Di dalam hal pembuktian di pengadilan, ada dua pendekatan yang
diadaptasi oleh pengadilan dalam menggambarkan lapangan kewajiban
pengungkapan seorang dokter, standar pengungkapan profesional, standar
pengungkapan umum, atau standar pasien secara layak.
Di bawah standar pengungkapan profesional, tugas dokter untuk membuka
rahasia diatur oleh standar pelaku medis, dilakukan di dalam lingkungan
yang sama atau serupa. Standar pengungkapan ini yang diatur seterusnya
baik oleh undang-undang maupun hukum umum pada mayoritas peraturan
Amerika Serikat menetapkan bahwa seorang dokter harus memberi
informasi sesuai dengan pelayanan kedokteran terkini. Banyak pengadilan
telah menegakkan standar pelaksana medis dalam komunitas yang sama
atau serupa, di bawah lingkungan yang sama atau serupa. Jika seorang
dokter bertugas untuk mengungkapkan suatu fakta dan jika begitu, fakta
apa yang wajib diberitahukan bergantung pada yang biasa dilakukan pada
komunitas setempat.
Standar pengungkapan umum atau standar pasien secara layak, yang
ditetapkan seterusnya oleh undang-undang atau hukum umum dalam
peraturan minoritas yang bermakna, membebankan tugas pada dokter
untuk memberitahu setiap informasi yang akan bergantung pada proses
pembuatan keputusan oleh pasien. Hal ini berbeda-beda sesuai kemampuan
pasien untuk memahaminya. Bahkan dalam pengakuan medis ahli yang
mendukung, seseorang dapat saja melanggar standar pengungkapan yang
seharusnya dalam peraturan ini jika juri berkesimpulan bahwa informasi
spesifik yang tidak diberitahukan akan berpengaruh bermakna terhadap
keputusan pasien apakah akan menjalani terapi tertentu atau tidak. Standar
umum membiarkan juri untuk memutuskan apakah dokter memberikan
informasi yang cukup pada pasien untuk membuat pilihan terhadap
tatalaksana, sedangkan standar profesional membiarkan dokter untuk
menunjukkan apakah ia memberikan informasi yang cukup sesuai standar
pelayanan medis dalam komunitas tersebut. Perkembangan terkini adalah
pengadilan yang mengadaptasi bentuk standar umum.
Sekali telah ditegakkan, baik oleh standar profesional atau umum,
bahwa pasien tidak menerima informasi yang biasanya dibutuhkan untuk
membuat pilihan bijak mengenai apakah akan menolak atau menyetujui
terapi, pengadilan akan memperhatikan materi dari informasi yang kurang
tersebut; yaitu akankah seseorang menolak atau menyetujui jika berada
dalam lingkungan yang sama atau serupa. Dengan kata lain, apakah

kurangnya informasi menyebabkan kecacatan/kerugian yang memang


sudah diduga atau akankah pasien tetap menyetujuinya dalam keadaan
apapun. Tergantung dari peraturan yang terlibat, pengadilan telah
menetapkan satu dari dua standar yaitu standar objektf (juri memutuskan
apakah pasien dalam keadaan serupa akan menolak terapi) atau standar
subyektif (juri memutuskan apakah pasien yang sebenarnya akan menolak
terapi). Kebanyakan peraturan mengikuti standar objektif.
Dalam hal siapa yang bertanggung jawab untuk mendapatkan
informed consent pasien ini, pengadilan telah menempatkan tugas ini pada
dokter yang didatangi pasien pada waktu ada pertanyaan. Pengadilan
umumnya mengenali bahwa dokter, bukan perawat atau paramedis lainnya,
berkemampuan untuk mendiskusikan tata laksana dan penanganannya.
Perawat atau paramedis lainnya mungkin hanya penambah atau pelengkap
informasi spesifik dari dokter dengan informasi umum tergantung situasi
pasien. Dokter, selain dari dokter pertama pasien, memiliki kewajiban yang
independen untuk memberi informasi mengenai risiko, keuntungan, dan
alternatif pilihan yang ditujukan padanya.
Pengadilan sangat jelas dalam opini tertulisnya bahwa tanggung
jawab untuk memperoleh informed consent dari pasien tetap dengan dokter
dan tidak dapat didelegasikan. Dokter dapat mendelegasikan otoritasnya
(wewenangnya) untuk memperoleh informed consent kepada dokter lain
namun tidak dapat mendelegasikan tanggung-jawabnya untuk
mendapatkan informed consent yang tepat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil beberapa


kesimpulan diantaranya :
1. Informed consent merupakan persetujuan yang diberikan oleh
pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai
tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta
risiko yang berkaitan dengannya. Informed consent ini secara
umum dapat berupa persetujuan tertulis, persetujuan lisan dan
persetujuan dengan isyarat. Tetapi dapat diklasifikasikan
menjadi 2, yaitu Implied Consent dan Expresed Consent.
2. Tujuan dari pelaksanaan informed consent ini adalah

memberikan perlindungan pengguna jasa tindakan medis dari


segala tindakan medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya
dan dari tuntutan-tuntutan pihak pasien yang tidak wajar.
3. Aspek hukum dari informed consent meliputi aspek hukum
perdata, aspek hukum pidana maupun aspek hukum
administrasi sepanjang hal itu diterapkan.
4. Informed Consent ini mempunyai kekuatan hukum dalam
pembuktian di pengadilan yang merupakan salah satu
pencegahan diri dari tindakan malpraktek dan tuntutan
malpraktek.

3.2 Saran
1. Diharapkan kepada pasien mengerti akan makna informed
consent sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam
menggunakan surat persetujuan tersebut.
2. Dokter sebagai pelaksana jasa tindakan medis diharapkan
dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya apalagi dalam
membuat suatu persetujuan tindakan medis (informed consent)
kepada pasien ataupun keluarganya.
3. Aspek hukum yang terkait dengan informed consent
diharapkan menimbulkan hubungan hukum yang baik antara
dokter dan pasien. Karena dalam hubungan hukum seseorang
mempunyai hak dan kewajiban satu sama lainnya dalam
melakukan perbuatan hukum.
4. Dengan diakuinya bahwa informed consent mempunyai
kekuatan hukum maka hal ini akan memberikan kemudahan
nantinya dalam pembuktian di pengadilan terhadap kasus-kasus
malpratek kedokteran atau tuntutan-tuntutan lainnya oleh pihak
yang dirugikan.