Anda di halaman 1dari 25

TITRASI POTENSIOMETRI ASAM AMINO

  • A. TUJUAN

    • - Menentukan harga pKa 1 , pKa 2 , dan pI dari glisin dan asam glutamat dengan cara titrasi potensiometri menggunakan titran NaOH dan H 2 SO 4

    • - Membandingkan harga pKa 1 , pKa 2 , dan pI glisin dan asam glutamat yang diperoleh melalui praktik dengan harga pKa 1 , pKa 2 , dan pI glisin dan asam glutamat secara teoritis.

  • B. LANDASAN TEORI

  • Protein adalah makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel hidup dan merupakan 50% atau lebih berat kering sel. Protein ditemukan didalam semua sel dan semua bagian sel. Protein juga amat bervariasi; ratusan jenis yang berbeda dapat ditemukan dalam satu sel. (Lehninger, 1982)

    Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus:

    gugus amina (NH 2 ), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R, dari residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya.

    Gambar Struktur asam α-amino, dengan gugus amina di sebelah kiri dan gugus karboksil di sebelah kanan

    H

    H O H N C C OH R
    H
    O
    H
    N
    C
    C
    OH
    R

    Gambar 1. Struktur asam α-amino

    Asam amino biasanya diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut menjadi empat kelompok. Rantai samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah, basa lemah, hidrofilik jika polar, dan hidrofobik jika nonpolar.

    Suatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode yaitu, pertama

    (potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadap potensial dari suatu aktivitas ion yang diamati, hal ini terutama diterapkan dalam pengukuran pH larutan air. Kedua (titrasi

    langsung), ion dapat dititrasi dan potensialnya

    diukur sebagai fungsi volume titran.

    Potensial

    sel, diukur sehingga dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen. Suatu petensial sel

    galvani bergantung pada aktifitas spesies ion tertentu dalam larutan sel, pengukuran potensial sel menjadi penting dalam banyak analisis kimia.

    Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu

    kurva titrasi. Dalam banyak hal, suatu potensiometer sederhana dapat digunakan, namun jika

    tersangkut elektroda gelas, maka akan digunakan pH meter khusus.

    Karena pH meter ini telah

    menjadi demikian biasa, maka pH meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya tidak diwajibkan.

    Potensiometri merupakan salah satu cara pemeriksaan fisiokimia yang menggunakan peralatan listrik untuk mengukur potensial elektroda indicator. Besarnya potensial elektroda indicator ini bergantung pada kepekatan ion-ion tertentu dalam larutan. Karena itu, dengan memakai persamaan Nerst, kepekatan ion dalam larutan dapat dihitung langsung dari harga potensial yang diukur itu.

    Salah satu pemakaian potensiometri yang paling penting adalah untuk pengukuran pH larutan berair. Untuk pengukuran pH itu diperlukan sebuah sel galvani yang tersusun dari sebuah elektroda indicator (peka terhadap ion hydrogen) dan sebuah elektroda pembanding. Potensial sel ini sebanding dengan pH larutan.

    Pada dasarnya, setiap titrasi (titrasi asam-basa, titrasi kompleksometri, titrasi pengendapan atau titrasi redoks) dapat diikuti secara potensiometri dengan bantuan elektroda indicator dan elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan, mempunyai kenaikan yang tajam disekitar titik kesetaraan.

    Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indicator yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaraan sangat pendek dan tikdak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indicator.

    Harga pK ini diperlukan untuk menentukan perilaku protolit dan untuk memilih keadaan yang terbaik untuk pemeriksaan kimia protolit itu, sesuai dengan azas-asas pemeriksaan. Cara yang lazim dipakai untuk penentuan harga pK tersebut adalah cara potensiometri. Dalam cara potensiometri ini, protolit ditiitrasi dengan asam atau basa yang sesuai kemudian hubungan pH dengan volume pentiter yang ditambahkan ditentukan secara potensiometri dengan bantuan elektroda gelas dan elektroda pembanding .

    • C. ALAT dan BAHAN Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut.

    Nama alat

     

    Jumlah

     

    Nama bahan

    Jumlah

    gelas ukur 50 mL

     

    1 buah

    Asam amino glisin

    800 mg

    Spatula

    1 buah

    Asam

    amino

    800 mg

     

    glutamat

    Gelas

    kimia

    100

    2 buah

     

    Aquades

    500 mL

    mL

    Labu

    Erlenmeyer

    1

    buah

    Larutan H 2 SO 4 2N

    25 mL

    250 mL

    buret

    1 buah

     

    Larutan NaOH 2N

    15 mL

    Klem dan statif

     

    1 buah

     

    QIS

    pH/mV meter

    1

    buah

    B200

    Pipet tetes

     

    1 buah

     

    stirer

    1 buah

    • D. PROSEDUR KERJA

    N

    PROSEDUR KERJA

    HASIL PEGAMATAN

    O

    Titrasi dengan NaOH (Asam Amino Glisin ) 2N

     

    1

    Sebanyak 400 mg asam amino glisin

     

    dilarutkan ke dalam 40 ml aquades, pH aquades dicatat

    Larutan yang dihasilkan bening tak berwarna.

    Larutan yang dihasilkan bening tak berwarna.

    Gambar 2. Glisin ditimbang

    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan NaOH 2N. Volume larutan NaOH dan perubahan pH yang terjadi dicatat. Titrasi dihentikan setelah tercapai pH 12,0

    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan NaOH 2N. Volume larutan NaOH dan perubahan pH yang
    • Titrasi dengan H 2 SO 4 (Glisin) 2N

    Titrasi dengan H SO (Glisin) 2N

    Sebanyak 400 mg asam amino glisin dilarutkan ke dalam 40 ml aquades, pH aquades dicatat

    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan H 2 SO4 2N dengan

    menggunakan pH-meter, buret dan

    volume

    pH

    Volume

    pH

    1

    ml

    8.0

    6 ml

    11.89

    2

    ml

    9.64

    6.3 ml

    11.91

    3

    ml

    11.04

    6.4 ml

    11.94

    3.8 ml

     

    6.5 ml

    11.97

    4

    ml

    6.6 ml

    12.0

    5

    ml

    11.6

    Gambar 2. Pengukuran pH

    volume pH Volume pH 1 ml 8.0 6 ml 11.89 2 ml 9.64 6.3 ml 11.91

    pH awal larutan 7.13 dititrasi sampai pH

    12.

    volume pH Volume pH 1 ml 8.0 6 ml 11.89 2 ml 9.64 6.3 ml 11.91

    Larutan yang dihasilkan bening tak berwarna

    Gambar 4. Massa ditimbang

    Larutan yang dihasilkan bening tak berwarna Gambar 4 . Massa ditimbang

    pH awal larutan 5.30 dititrasi sampai pH

    1.2.

     

    pengaduk magnetik. Penambahan

     

    volume

    pH

    Volume

    pH

    tiap volume larutan H 2 SO4 dan juga

    ml

    • 0.1 2.282

    1.3 ml

     

    1.60

    perubahan pH dicatat.Titrasi

    ml

    • 0.2 0.54

    14 ml

     

    1.54

    diteruskan sampai tercapai pH 1,2

    ml

    • 0.4 2.2

    1.5 ml

     

    1.5

    ml

    • 0.5 2.15

    1.6 ml

     

    1.48

     

    ml

    • 0.6 2.01

    1.7

    ml

    1.40

    ml

    • 0.7 1.95

    1.8

    ml

    1.33

    ml

    • 0.8 1.90

    2.05 ml

    1.28

    ml

    • 0.9 1.82

    2.1 ml

     

    1.23

     

    ml

    • 1.0 1.75

    2.2 ml

     

    1.2

    ml

    • 1.2 1.62

     

    Gambar 1. Struktur asam α-amino

     
     
    pengaduk magnetik. Penambahan volume pH Volume pH tiap volume larutan H SO4 dan juga ml 0.1
     

    Gambar 5. Pengukuran pH

     

    Titrasi Arginin Dengan H 2 SO 4 2N

     
     

    Sebanyak 400 mg asam amino glisin

     

    Larutan yang dihasilkan bening tak berwarna

     

    dilarutkan ke dalam 40 ml aquades, pH aquades dicatat

    dilarutkan ke dalam 40 ml aquades, pH aquades dicatat
       
       
    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan H SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk
    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan H SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk

    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan H 2 SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk magnetik. Penambahan tiap volume larutan H 2 SO4 dan juga perubahan pH dicatat.Titrasi diteruskan sampai tercapai pH 1,2

    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan H SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk

    Gambar 6. Massa ditimbang

    Gambar 6 . Massa ditimbang 0.3 ml 8.69 1.9 ml 0.5 ml 8.34 2.0 ml 1.8
    0.3 ml 8.69 1.9 ml 0.5 ml 8.34 2.0 ml 1.8 ml 1.0 ml 7.05 Volume
    0.3 ml
    8.69
    1.9 ml
    0.5 ml
    8.34
    2.0 ml
    1.8 ml
    1.0 ml
    7.05
    Volume
    pH
    0.1 ml
    9.20
    1.7 ml
    0.2 ml
    8.91
    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan H SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk
    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan H SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk
    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan H SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk
    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan H SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk
    Larutan asam amino tersebut dititrasi dengan larutan H SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk

    pH awal larutan 9.63 dititrasi sampai pH

    1.2

    Volume
    Volume
    Volume

    Gambar 7. Pengukuran pH

    • Titrasi Arginin Dengan NaOH 2N

    Titrasi Arginin Dengan NaOH 2N
    Titrasi Arginin Dengan NaOH 2N
    • Larutan yang dihasilkan bening tak
      berwarna

    Larutan yang dihasilkan bening tak berwarna
    Larutan yang dihasilkan bening tak berwarna
    Larutan yang dihasilkan bening tak berwarna

    Sebanyak 400 mg asam amino arginin dilarutkan ke dalam 40 ml aquades, pH aquades dicatat

    Sebanyak 400 mg asam amino arginin dilarutkan ke dalam 40 ml aquades, pH aquades dicatat Larutan

    Larutan asam amino tersebut dititrasi

    • pH awal larutan 10.24 dititrasi sampai pH

    pH awal larutan 10.24 dititrasi sampai pH
    dengan larutan H SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk magnetik. Penambahan tiap volume larutan

    dengan larutan H 2 SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk magnetik. Penambahan tiap volume larutan NaOH dan juga perubahan pH dicatat.Titrasi

    diteruskan sampai tercapai pH 12

    dengan larutan H SO4 2N dengan menggunakan pH-meter, buret dan pengaduk magnetik. Penambahan tiap volume larutan
    Titrasi Glutamate Dengan H SO 2N

    Titrasi Glutamate Dengan H 2 SO 4 2N

    Pada tempat yang lain, sebanyak 400 mg asam amino yang sama dilarutkan kedalam 40 mL aquades

    Larutan asam amino glutamat tersebut dititrasi dengan larutan H 2 SO4 2N. Penambahan tiap volume larutan H 2 SO4 dan juga perubahan pH dicatat.Titrasi diteruskan sampai tercapai pH 1.2

    Volume

    pH

    0.5

    ml

    11.42

    1.0

    ml

    11.77

    1.5

    ml

    11.88

    2.0

    ml

    12.0

    12

    Volume pH 0.5 ml 11.42 1.0 ml 11.77 1.5 ml 11.88 2.0 ml 12.0 12 Larutan
    Larutan yang dihasilkan bening tak berwarna Gambar 8. Massa ditimbang

    Larutan yang dihasilkan bening tak berwarna

    Gambar 8. Massa ditimbang

    volume

    pH

    volume

    pH

    0.1

    ml

    2.17

    0.6 ml

    1.48

    0.2

    ml

    1.92

    0.7 ml

    1.40

    0.3

    ml

    1.77

    0.8 ml

    1.33

    0.4

    ml

    1.65

    0.9 ml

    1.26

    0.5

    ml

    1.56

    1.0 ml

    1.20

    pH awal larutan 2.36 dititrasi sampai pH

    1.2

         
    Gambar 8 . Pengukuran pH Titrasi Glutamate Dengan NaOH 2N Sebanyak 400 mg asam amino glutamat
     

    Gambar 8. Pengukuran pH

    Titrasi Glutamate Dengan NaOH 2N

     
     

    Sebanyak 400 mg asam amino glutamat dilarutkan ke dalam 40 mL aquades

     

    Larutan yang dihasilkan bening sedikit larut dan terdapat endapan putih

    Larutan yang dihasilkan bening sedikit larut dan terdapat endapan putih
     

    Gambar 9. Massa ditimbang

     

    Larutan asam amino tersebut dititrasi

     

    pH awal larutan 2.97dititrasi sampai pH

     

    dengan larutan NaOH 2N dengan

    12.0

    menggunakan pH-meter, buret dan

    Volume

    pH

    Volume

    pH

    pengaduk magnetik. Penambahan

    0.5

    ml

    4.0

    3.5 ml

    11.5

    tiap volume larutan NaoH dan juga

    1.0

    ml

    4.22

    4.0 ml

    11.7

    perubahan pH dicatat.Titrasi

    1.5

    ml

    7.99

    4.5 ml

    11.81

    diteruskan sampai tercapai pH 12

    2.0

    m

    1.16

    5.0 ml

    11.92

    2.15 ml

    9.7

    5.5 ml

    12.0

     

    3.0

    ml

    10.9

    Gambar 10. Pengukuran pH
    Gambar 10. Pengukuran pH

    PEMBAHASAN

    • A. Analisis Perhitungan

      • 1. Perhitungan % koreksi dari volume koreksi Glisin Titrasi Glisin dengan NaOH

    V koreksi = V titran pada glisin – V titran pada air = 4,7-2,6 = 2,1 mL

    %koreksi= Vtitran pada glisinVtitran padaair ×100 = 6,61,5

    V titran pada glisin

    6,6

    ×100 =77,27

    Titrasi Glisin dengan H 2 SO 4

    V koreksi = V titran pada glisin – V titran pada air = 2,2 – 0,2 = 2 mL

    %koreksi= Vtitran pada glisinVtitran pada air ×100 = 2,20,2

    V titran pada air

    2,2

    ×100 =90,9

    2. Perhitungan pH Glisin secara Teoritis

    Perhitungan pH Glisin ketika Ditambahkan NaOH

    Diketahui :

    mNH 2 CH 2 COOH = 0,4 g

    Mr NH 2 CH 2 COOH = 75 g/mol

    n NH 2 CH 2 COOH =

    mNH 2CH 2COOH = 0.4g

    Mr NH 2CH 2COOH

    g

    • 75 mol

    =0,0053mol=5,3mmol

    nNH 2CH 2COOH = 0,0053mol

    • V 0,04 L

    =0,1325 M

    M

    V

    77,27

    100

    m

    : 5,3 mmol

    b : 5,3 mmol

    s :

    -

    NH 2 CH 2 COOH =

    Pada titrasi, untuk mencapai pH 12 dibutuhkan NaOH 2N sebanyak 6,6 mL,

    NaOH yang digunakan untuk mentitrasi Glisin :

    ×6,6mL=5,099mL

    n NaOH = M ×V=2 M x L=0,005099mol=0,010198mol

    = 10,01 mmol

    Reaksi yang terjadi saat titrasi adalah sebagai berikut:

    + NH 3 CH 2 COO - (aq) + OH - (aq) NH 2 CH 2 COO - (aq) + H 2 O (aq)

    10,01 mmol

    -

    -

    5,3 mmol

    5,3 mmol

    5,3 mmol

    4,71 mmol

    5,3 mmol

    5,3 mmol

    Maka, pH dapat dicari yaitu sebagai berikut:

    [OH - ] =

    4,71

    45,099 =0,104

    pOH = -log 10,4 x 10 -2

    pOH = 2-log 10,4

    pOH = 2-1,017

    pOh=0,983

    pH = 14-0,983 = 13,017

    Dari perhitungan diperoleh pH glisin ketika ditambahkan NaOH (pKa) secara teoritis

    adalah 13,017, sedangkan pH yang terukur di pH meter sebesar 12,0 maka kesalahan

    relatifnya dapat dihitung sebagai berikut :

    %kesalahan= | pH teoritispH praktik | ×100= | 13,01712,0

    pH teoritis

    13,017

    | ×100 =7,81

    3. Perhitungan pH Glisin ketika Ditambahkan H 2 SO 4

    Diketahui :

    mNH 2 CH 2 COOH = 0,4 g

    Mr NH 2 CH 2 COOH = 75 g/mol

    n NH 2 CH 2 COOH =

    mNH 2CH 2COOH = 0,4g

    Mr NH 2CH 2COOH

    g

    • 75 mol

    =0,053mol=5,3mmol

    M NH 2 CH 2 COOH =

    nNH 2CH 2COOH

    • V = ¿53mol 0,04mL =1,325M

    Pada titrasi, untuk mencapai pH 1,2 dibutuhkan H 2 SO 4 2N sebanyak 2,2 mL,

    Volume H 2 SO 4 yang sebenarnya digunakan

    90,9

    • 100 ×2,2mL=1,99mL

    n H 2 SO 4 =

    M ×V=1 M ×0,00199L=0,00199mol=1,99mmol

    Reaksi yang terjadi saat titrasi adalah sebagai berikut:

    + NH 3 CH 2 COO - (aq) + H 2 SO 4(aq) + NH 2 CH 2 COOH (aq) + SO 4

    2-

    (aq)

    m : 5,3 mmol

    b : 5,3 mmol

    s :

    -

    1,99

    5,3 mmol

    -3,31 mmol

    mmol

    -

    -

    5,3 mmol

    5,3 mmol

    5,3 mmol

    5,3 mmol

    Maka, pH dapat dicari yaitu sebagai berikut:

    [H + ] =

    3,31

    41,99

    =−0,079

    pH = log 7,9 x 10 -2

    pH = 2+log 7,9

    pH = 2+0,89

    pH= 2,89

    Dari perhitungan diperoleh pH glisin ketika ditambahkan H 2 SO 4 (pKa) secara

    teoritis adalah 2,89, sedangkan pH yang terukur di pH meter sebesar 1,2 maka

    kesalahan relatifnya dapat dihitung sebagai berikut :

    %kesalahan= | pH teoritispH praktik | ×100= | 2,891,2

    pH teoritis

    2,89 | ×100=58,4

    • 4. Perhitungan % koreksi dari volume koreksi Arginin

    Titrasi Arginin dengan NaOH

    V koreksi = V titran pada arginin – V titran pada air = 2.0 ml-1.5 = 0.5 mL

    %koreksi= Vtitran pada argininVtitran pada air

    V titran pada arginin

    ×100 =

    2.01.5

    1.5

    ×100 =25

    Titrasi arginin dengan H 2 SO 4

    V koreksi = V titran pada glisin – V titran pada air = 2.0 ml- 0.2 ml = 1.8 mL

    %koreksi= Vtitran pada argininVtitran pada air

    V titran pada arginin

    ×100 =

    2.00.2

    2.0

    ×100 =90

    • 5. Perhitungan pH Arginin secara Teoritis

    Perhitungan pH arginin ketika Ditambahkan NaOH

    Diketahui

    mNH 2 C 5 N 3 H 11 COOH = 0,4 g

    Mr NH 2 C 5 N 3 H 11 COOH = 174 g/mol

    n NH 2 CH 2 COOH =

    mNH 2C 5 N 3 H 11COOH = 0,4 g

    Mr NH 2C5 N 3 H 11COOH

    g

    • 174 mol

    =0,00229mol=2.29mmol

    • M NH 2 C 5 N 3 H 11 COOH =

    nNH 2C 5 N 3 H 11COOH = 0,00229mol

    • V 0.04 L

    =0,057 M

    Pada titrasi, untuk mencapai pH 12 dibutuhkan NaOH 2N sebanyak 2.0 mL,

    • V NaOH yang digunakan untuk mentitrasi arginin :

      • 25 ×2.0=0.5

    100

    n NaOH = M ×V=2 M ×0,0005L=0,001mol=1mmol

    Reaksi yang terjadi saat titrasi adalah sebagai berikut:

    + NH 3 CH 2 COO - (aq) + OH - (aq) NH 2 CH 2 COO - (aq) + H 2 O (aq)

    • m :

    2.29

    mmol

    1.0 mmol

    -

    -

    b : 1.0

    mmol

    1.0 mmol

    1.0 mmol

    1.0 mmol

    s :

    1.29 mmol

    - mmol

    1.0 mmol

    1.0 mmol

    Maka, pH dapat dicari yaitu sebagai berikut:

    [OH - ] =

    40.5 1,29 =0,03185

    pOH = -log 3.185x10 -2

    pOH = 2-log 3.185

    pOH = 1.5

    pH = 14-1.5 = 12.5

    Dari perhitungan diperoleh pH arginin ketika ditambahkan NaOH (pKa) secara teoritis

    adalah 12,72, sedangkan pH yang terukur di pH meter sebesar 12,0 maka kesalahan relatifnya

    dapat dihitung sebagai berikut :

    %kesalahan= | pH teoritispH praktik | ×100= | 12,512,0

    pH teoritis

    12,5 | ×100 =4.0

    6. Perhitungan pH Glisin ketika Ditambahkan H 2 SO 4

    Diketahui :

    m

    NH 2 C 5 N 3 H 11 COOH = 0,4 g

    Mr NH 2 C 5 N 3 H 11 COOH = 174 g/mol

    n

    NH 2 C 5 N 3 H 11 COOH

    mNH 2C 5 N 3 H 11COOH = 0,4 g

    Mr NH 2C5 N 3 H 11COOH

    g

    • 174 mol

    =0,00229mol=2.29mmol

    • M NH 2 CH 2 COOH =

    nNH 2CH 2COOH = 0.00229mol

    V

    0,04 mL

    =0,057 M

    =

    Pada titrasi, untuk mencapai pH 1,2 dibutuhkan H 2 SO 4 2N sebanyak 2.0 mL,

    Volume H 2 SO 4 yang sebenarnya digunakan

    90

    100

    ×2.0=1.8mL

    n H 2 SO 4 =

    M ×V=1 M ×0,0018L=0,0018mol=1.8mmol

    Reaksi yang terjadi saat titrasi adalah sebagai berikut:

    + NH 3 CH 2 COO - (aq) + H 2 SO 4(aq) + NH 2 CH 2 COOH (aq) + SO 4

    2-

    (aq)

    m :

    2.29

    mmol

    1.8 mmol

    -

    -

    b :

    1.8

    mmol

    s :

    0.49 mmol

    1.8 mmol

    1.8 mmol

    - mmol

    1.8 mmol

    1.8 mmol

    1.8 mmol

    Maka, pH dapat dicari yaitu sebagai berikut:

    [H + ] =

    0.49

    41.8

    =0,0117

    pH = -log 1.17 x 10 -2

    pH = 2-log 1.17

    pH = 1.93

    Dari perhitungan diperoleh pH arginin ketika ditambahkan H 2 SO 4 (pKa) secara teoritis

    adalah 1,24, sedangkan pH yang terukur di pH meter sebesar 1,2 maka kesalahan relatifnya

    dapat dihitung sebagai berikut :

    %kesalahan= | pH teoritispH praktik | ×100= | 1,931,2

    pH teoritis

    1,93 | ×100 =37.82

    • 7. Perhitungan % koreksi dari volume koreksi asam Glutamat Titrasi Asam Glutamat dengan NaOH V koreksi = V titran pada asam glutamat – V titran pada air = 4,9-2,6 = 2,3 mL

    %koreksi= Vtitran pada asamglutamatVtitran pada air ×100 = 5,51,5

    • V titran padaasam glutamat

    5,5

    ×100=72.72

    Titrasi Asam Glutamat dengan H 2 SO 4

    V koreksi = V titran pada asam glutamat – V titran pada air = 7,3-4,9 = 2,4 mL

    %koreksi= Vtitran pada asamglutamatVtitran pada air ×100 = 1,00,2

    • V titran pada asam glutamat

    1,0

    ×100=80

    • 8. Perhitungan pH asam Gluamat secara Teoritis

    Perhitungan pH Asam Glutamat ketika Ditambahkan NaOH

    Diketahui : m NH 2 CH 2 COOH(CH 2 ) 2 COOH = 0,4 g

    Mr NH 2 CH 2 COOH(CH 2 ) 2 COOH = 147 g/mol

    n

    NH 2 CH 2 COOH(CH 2 ) 2 COOH

    Mr NH 2CH 2COOH (CH 2)2COOH = 0,4 g

    147 g

    mNH 2CH 2COOH (CH 2)2COOH

    • /mol =0,00272mol=2,72mmol

    M

    NH 2 CH 2 COOH(CH 2 ) 2 COOH

    nNH 2CH 2COOH (CH 2)2COOH = 0,00272mol

    • V 0,04 L

    =0,068M

    =

    =

    Pada titrasi, untuk mencapai pH 12 dibutuhkan NaOH 2 N sebanyak 5,5 mL,

    Volume NaOH yang digunakan untuk titrasi Asam Glutamat adalah

    • 72.72 ×5,5=3,99mL

    100

    n NaOH = M ×V=2 M ×0,00399L=0,00798mol=7,98mmol

    Reaksi yang terjadi saat titrasi adalah sebagai berikut:

    + NH 3 CH 2 COO - (aq) + OH - (aq) NH 2 CH 2 COO - (aq) + H 2 O (aq)

    m : 2,72 mmol

    7,98 mmol

    -

    -

    b

    : 2,72 mmol

    2,72 mmol

    2,72 mmol

    2,72 mmol

    s :

    -

    5, 26 mmol

    2,72 mmol

    2,72 mmol

    Maka, pH dapat dicari yaitu sebagai berikut:

    [OH - ] =

    5,26 43,99 =0,119
    5,26
    43,99 =0,119

    pOH = -log 11,9 x 10 -2

    pOH = 2-log 11,9

    pOH = 2 - 1,075

    pOH = 0,924

    pH = 14 - 0,924 = 13,076

    Dari perhitungan diperoleh pH glisin ketika ditambahkan NaOH (pKa) secara teoritis adalah

    13,076, sedangkan pH yang terukur di pH meter sebesar 12,0 maka kesalahan relatifnya dapat

    dihitung sebagai berikut :

    %kesalahan= | pH teoritispH praktik

    pH teoritis

    | ×100

    ¿ | 13,07612,0

    13,076

    | ×100 =8,22

    Diketahui : m NH 2 CH 2 COOH(CH 2 ) 2 COOH = 0,4 g

    Mr NH 2 CH 2 COOH(CH 2 ) 2 COOH = 147 g/mol

    n

    NH 2 CH 2 COOH(CH 2 ) 2 COOH

    Mr NH 2CH 2COOH (CH 2)2COOH = 0,4 g

    147

    mNH 2CH 2COOH (CH 2)2COOH

    g/mol =0,00272mol=2,72mmol

    M

    NH 2 CH 2 COOH(CH 2 ) 2 COOH

    nNH 2CH 2COOH (CH 2)2COOH = 0,00272mol

    • V 0,04mL

    =0,068M

    =

    =

    Pada titrasi, untuk mencapai pH 1,2 dibutuhkan H 2 SO 4 2N sebanyak 1,0 mL,

    Volume H 2 SO 4 yang digunakan sebenarnya adalah

    80

    100 ×1=0,8mL

    n NaOH =

    M ×V=1 M ×0,0008 L=0,0008mol=0,8mmol

    Reaksi yang terjadi saat titrasi adalah sebagai berikut:

    + NH 3 CH 2 COO - (aq) + H 2 SO 4(aq) + NH 2 CH 2 COOH (aq) + SO 4

    2-

    (aq)

    m : 2,72 mmol

    0,8 mmol

    -

    -

    b : 2,72 mmol

    2,72 mmol

    2,72 mmol

    2,72 mmol

    s :

    -

    -1,92 mmol

    2,72 mmol

    2,72 mmol

    Maka, pH dapat dicari yaitu sebagai berikut:

    [H + ] =

    1,92

    40,8

    =−0,047

    pH = log 4,7 x 10 -2

    pH = 2 log 4,7

    pH = 2 + 0,67

    pH = 2,67

    Dari perhitungan diperoleh pH glisin ketika ditambahkan H 2 SO 4 (pKa) secara teoritis

    adalah 0,67, sedangkan pH yang terukur di pH meter sebesar 1,2 maka kesalahan

    relatifnya dapat dihitung sebagai berikut :

    %kesalahan= | pH teoritispH praktik

    pH teoritis

    | ×100

    ¿ | 2,671,2

    2,67

    | ×55,05 =¿

    B. Pembahasan

    Pada percobaan ini digunakan dua jenis titran yaitu NaOH dan H 2 SO 4 , yang digunakan

    untuk menentukan besarnya pKa asam amino glisin, arginin dan asam glutamat. Penggunaan

    asam dan basa sebagai titran didasarkan atas sifat dari asam amino yang memiliki dua konstanta

    disosiasi yang disebabkan karena adanya gugus amino yang bersifat basa, dan gugus karboksil

    yang bersifat asam, yang terikat dalam struktur asam amino. Dalam praktikum ini digunakan

    pula blanko, yaitu aquades yang digunakan sebagai pembanding atau faktor koreksi, yang

    bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak sesungguhnya NaOH dan H 2 SO 4 yang dibutuhkan

    untuk mentitrasi asam amino. Maka dari itu digunakan blanko aquadest, yang mana aquadest ini

    digunakan sebagai pelarut glisin dan asam glutamat, sehingga karena NaOH dan H 2 SO 4 juga

    dibutuhkan untuk titrasi pelarut, maka perlu diperhitungkan banyaknya titran yang digunakan

    untuk titrasi pelarut. Oleh karena itu dibutuhkan perlakuan titrasi terhadap pelarut.

    Dari analisis perhitungan di atas diperoleh

    faktor koreksi atau volume titran yang

    digunakan oleh asam amino adalah sebagai berikut, 1) glisin membutuhkan 77,27% NaOH dari

    titran yang terukur, 2) glisin membutuhkan 90,9% H 2 SO 4 dari titran yang terukur, 3) arginin

    membutuhkan 25% NaOH dari titran yang terukur, 4) arginin membutuhkan 90% H 2 SO 4 dari

    titran yang terukur. 5) asam glutamat membutuhkan 72,72% NaOH dari titran yang terukur, 5)

    asam glutamat membutuhkan 80% H 2 SO 4 dari titran yang terukur. Dari persentase di atas maka

    terbukti bahwa memang benar tidak semua volume titran yang terukur digunakan untuk

    mentitrasi asam amino, tetapi juga digunakan untuk titrasi pelarut di dalam larutan asam amino.

    Dari titrasi yang telah dilakukan maka dapat dibuat kurva hubungan antara pH dengan

    volume titran yang digunakan, adapun kurva adalah sebagai berikut:

    Titrasi Glisin dengan NaOH

     

    14

    12

    1212
    1212

    10

    8

    pH

    6

    4

    2

    0

     

    0

    1

    2

    3

    4

    5

    6

    7

     

    Volume (mL)

     
     

    Grafik 1. Kurva Titrasi Glisin dengan NaOH

     

    Titrasi Glisin dengan H2SO4

     
     

    2,500

    0
    0

    2,000

    1,500

    pH

     

    1,000

    500

     

    0

     

    0

    0.5

    1

    1.5

    2

    2.5

    Volume

    Grafik 2. Kurva Titrasi Glisin dengan H 2 SO 4

    Titrasi Arginin dengan NaOH

     

    14

    12

    0
    0

    10

    8

    pH

    6

    4

    2

    0

    0.4

    0.6

    0.8

    1

    1.2

    1.4

    1.6

    1.8

    2

    2.2

     

    Volume

     

    Grafik 3. Kurva Titrasi Arginin dengan NaOH

     
     

    Titrasi Arginin dengan H2SO4

     
     

    10

    9

    1.22
    1.22

    8

    7

    6

    pH

    5

    4

    3

    2

    1

    0

     

    0

    0.5

    1

    1.5

    2

    2.5

     

    Volume (mL)

     

    Grafik 4. Kurva Titrasi Arginin dengan H 2 SO 4

    Titrasi Asam Glutamat dengan NaOH

    pH

    14 12 12 10 8 6 4 2 0 0 1 2 3 4 5 6
    14
    12
    12
    10
    8
    6
    4
    2
    0
    0
    1
    2
    3
    4
    5
    6

    Volume (mL)

    Grafik 5. Kurva Titrasi Glutamat dengan NaOH

    pH

    Titrasi Asam Glutamat dengan H2SO4 2.5 2 1.5 1.2 1 0.5 0 0 0.2 0.4 0.6
    Titrasi Asam Glutamat dengan H2SO4
    2.5
    2
    1.5
    1.2
    1
    0.5
    0
    0
    0.2
    0.4
    0.6
    0.8
    1
    1.2

    Volume (mL)

    Grafik 6. Kurva Titrasi Glutamat dengan H 2 SO 4

    Dari grafik di atas dapat ditentukan nilai pKa dari glisin, arginin, glutamat dengan cara

    membuat grafik hubungan pH dengan ekivalen titran, yaitu sebagai berikut.

    Dari kurva di atas, diperoleh nilai pKa 1 dan pKa 2 , dengan cara mencari titik di 50 %

    penambahan titran, baik NaOH maupun H 2 SO 4 , diperoleh pKa 1 = 1,644 dan pKa 2 = 9,5.

    Dibandingkan dengan besar pKa secara teoritis, pKa 1 glisin sebesar 2,35 dan pKa 2 sebesar 9,78.

    pKa 1 yang diperoleh dari praktikum memiliki beda yang signifikan dengan pKa 1 teoritis,

    sedangkan pKa 2 tidak berbeda jauh dibandingkan dengan pKa 2 teoritis, hal ini dapat disebabkan

    oleh beberapa faktor, yaitu

    1. Pelarut yang digunakan (aquadest) bersifat asam, yang mana ketika diukur pHnya

    menggunakan pH meter menunjukkan pH sebesar 6,30. pH pelarut yang asam

    kemungkinan mengganggu protonasi dari gugus karboksil dalam glisin, sehingga pKa 1

    yang diperoleh secara praktikum akan di bawah (lebih asam) daripada pKa 1 secara teoritis.

    • 2. Dalam penentuan pKa 1 menggunakan kurva hubungan pH dengan ekivalen volume titran, volume yang digunakan masih tetap volume larutan glisin tanpa memperhitungkan besarnya koreksi volume titran yang digunakan pula oleh pelarut. Walaupun telah diketahui faktor kesalahan volume titran, tetapi di dalam penentuan pKa 1 melalui kurva, faktor kesalahan tersebut tidak dapat dihilangkan. Oleh karena itu faktor kesalahan volume titran

    juga dapat berpengaruhd dalam penentuan pKa menggunakan kurva.

    Setelah pKa 1 dan pKa 2 diketahui, maka harga titik isoelektrik dapat dicari yaitu dengan cara

    menjumlahkan setengah harga pKa 1 dan pKa 2 , besarnya pI glisin secara praktikum adalah

    pI= pK a 1 + pK a 2

    2

    = 1,644+9,5

    • 2 =5,572

    Sedangkan pI secara teoritis adalah

    pI= pK a 1 + pK a 2

    2

    = 2,35+9,78

    • 2 =6,065

    Dari harga-harga pI yang diperoleh di atas, maka harga pI teoritis lebih besar dibandingkan

    dengan pI praktik.

    Penentuan harga pKa dari arginin dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan penentuan pKa

    glisin, yaitu dengan penggunaan kurva hubungan pH dengan ekivalen volume titran.

    Harga pKa 1 dan pKa 2 asam glutamate secara praktik, yaitu sebesar pKa 1 = 1,50 dan pKa 2 =9,87,

    sedangkan harga pKa 1 asam glutamat secara teoritis yaitu 2,10 dan pKa 2 = 9,47. Harga pKa 1 jauh

    di bawah (lebih asam) dibandingkan pKa 1 secara teoritis, sedangkan harga pKa 2 asam glutamat

    yang diperoleh melalui praktik tidak jauh berbeda dengan pKa 2 secara teoritis, adapun faktor-

    faktor yang mempengaruhi penyimpangan tersebut adalah sebagai berikut.

    1. Pelarut yang digunakan (aquadest) bersifat asam, yang mana ketika diukur pHnya

    menggunakan pH meter menunjukkan pH sebesar 5,6. pH pelarut yang asam kemungkinan

    mengganggu protonasi dari gugus karboksil dalam asam glutamat, sehingga pKa 1 yang

    diperoleh secara praktikum akan di bawah (lebih asam) daripada pKa 1 secara teoritis.

    • 2. Dalam penentuan pKa 1 menggunakan kurva hubungan pH dengan ekivalen volume titran, volume yang digunakan masih tetap volume larutan glisin tanpa memperhitungkan besarnya koreksi volume titran yang digunakan pula oleh pelarut. Walaupun telah diketahui faktor kesalahan volume titran, tetapi di dalam penentuan pKa 1 melalui kurva, faktor kesalahan tersebut tidak dapat dihilangkan. Oleh karena itu faktor kesalahan volume titran

    juga dapat berpengaruhd dalam penentuan pKa menggunakan kurva.

    Setelah pKa 1 dan pKa 2 diketahui, maka harga titik isoelektrik dapat dicari yaitu dengan cara

    menjumlahkan setengah harga pKa 1 dan pKa 2 , besarnya pI glisin secara praktikum adalah

    pI= pK a 1 + pK a 2

    2

    = 1,50+10,02

    • 2 =5,76

    Sedangkan pI secara teoritis adalah

    pI= pK a 1 + pK a 2

    2

    = 2,10+9,47

    • 2 =5,785

    Dari harga-harga pI yang diperoleh di atas, maka harga pI teoritis lebih besar dibandingkan

    dengan pI praktik, namun tidak jauh berbeda.

    Penentuan harga pKa dari asam glutamat dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan

    penentuan pKa glisin dan pKa arginin, yaitu dengan penggunaan kurva hubungan pH dengan

    ekivalen volume titran.

    Dari kurva di atas, diperoleh harga pKa 1 dan pKa 2 arginin secara praktik, yaitu sebesar pKa 1 =

    5,2 dan pKa 2 =11,9, sedangkan harga pKa 1 arginin.

    1. Pelarut yang digunakan (aquadest) bersifat asam, pH pelarut yang asam kemungkinan

    mengganggu protonasi dari gugus karboksil dalam asam glutamat, sehingga pKa 1 yang

    diperoleh secara praktikum akan di bawah (lebih asam) daripada pKa 1 secara teoritis.

    2. Dalam penentuan pKa 1 menggunakan kurva hubungan pH dengan ekivalen volume

    titran, volume yang digunakan masih tetap volume larutan arginin tanpa

    memperhitungkan besarnya koreksi volume titran yang digunakan pula oleh pelarut.

    Walaupun telah diketahui faktor kesalahan volume titran, tetapi di dalam penentuan

    pKa 1 melalui kurva, faktor kesalahan tersebut tidak dapat dihilangkan. Oleh karena itu

    faktor kesalahan volume titran juga dapat berpengaruh dalam penentuan pKa

    menggunakan kurva.

    Setelah pKa 1 dan pKa 2 diketahui, maka harga titik isoelektrik dapat dicari yaitu dengan cara

    menjumlahkan setengah harga pKa 1 dan pKa 2 , besarnya pI glisin secara praktikum adalah

    pI= pK a 1 + pK a 2

    2

    = 5,2+11,9

    • 2 =8,55

    Kesimpulan

    • 1. Harga pKa hasil percobaan tidak sama dengan pKa secara teoritis, karena terjadi kesalahan-kesalahan dalam percobaan, baik pada proses pengukuran yang tidak akurat, maupun pencampuran bahan yang tidak tepat.

    • 2. Kesalahan dalam praktikum dapat terlihat dari volume koreksi serta % koreksi.

    • 3. Saat dititrasi dengan NaOH, asam amino akan membentuk struktur asam amino yang bersifat basa. Saat dititrasi dengan H 2 SO 4 , asam amino akan membentuk struktur asam amino kation dalam keadaan asam yang ditunjukkan oleh pH semakin kecil.

    • 4. Pada asam amino, jika ditambahkan dengan larutan asam, maka konsentrasi H + dalam air yang tinggi masuk berikatan dengan gugus –COO - sehingga membentuk –COOH. Tetapi

    jika ditambahkan dengan basa, maka ion OH - yang tinggi mampu mengikat H +.

    Daftar Pustaka

    Khopkar.

    Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik . Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Lehninger, 1982. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta
    Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik . Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Lehninger, 1982. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta
    • 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik.

    Penerbit Universitas Indonesia.

    Jakarta.

    Lehninger, 1982. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Erlangga

    Nurlita, Frieda., Muderawan, I Wayan., Suja, I Wayan. (2002). Buku Ajar Kimia

    Organik II. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.

    Redhana, I Wayan., & Maryam, Siti.(2003). Penuntun Praktikum Biokimia. Singaraja:

    IKIP Negeri Singaraja.

    Redhana, I Wayan., & Maryam, Siti. (2004). Buku Ajar Biokimia (Jilid 1). Singaraja :

    IKIP Negeri Singaraja