Anda di halaman 1dari 4

HmIcracy: Ekstasi Kekerasan ditubuh HmI

Inilah sebuah dunia horor dan neraka yang tanpa Tuhan: tidak ada jalan keselamatan, tidak ada
optimisme, tidak ada wajah kemanusiaan.. tidak ada tempat bagi rasa memaafkan_Julia Kristeva

Di medio 60an akhir hingga 90an akhir, bangsa Indonesia dikelola oleh
sebuah rezim yang bernama Orde Baru. Sebuah rezim yang dikomandoi oleh
Presiden RI pada saat itu, Soeharto. Tiga puluh tahun lebih masyarakat
Indonesia hidup dalam politik Orde Baru. Selama tiga puluh tahun lebih
masyarakat kita disuguhi dengan perkembangan ekonomi yang pesat
dengan semangat pembangunan-ismenya tapi selama itu pula masyarakat
Indonesia hidup dengan cara-cara politik yang penuh dengan kelicikan,
strategi-strategi politik yang sarat kecurangan, serta aksi-aksi politik yang
padat akan ketakutan. Selama tiga puluh tahun lebih pula, masyarakat ini
dipenjara oleh sebuah dunia politik horor, yang bentuk kekuasaannya adalah
totalitarianisme, yang psikologi massanya adalah teror, yang paradigma
pengetahuannya adalah penyeragaman, yang aparat negaranya adalah
horror machine, yang produknya adalah chaos, yang realitas sosialnya
adalah horor.
Politik di era Orde Baru bukan lagi menjadi sebuah wacana yang
didalamnya tercipta semangat demokrasi yang dinamis: dialog yang hidup,
kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan dalam memilih, dan
toleransi terhadap perbedaan. Politik diubahnya menjadi sebuah wacana
yang penuh dengan intrik, intimidasi, kolusi, korupsi, dan kekerasan. Politik
semacam ini telah menghilangkan semangat persatuan, perbedaan, dan
pluralitas; dan melahirkan semangat ketakutan.
Sistem politik Orde Baru telah membuat sistem yang paradigma
pengetahuannya adalah penyeragaman. Mulai dari pakaian, pikiran, hingga
kata. Penyeragaman diberbagai sisi kehidupan menjadikan penguasa tidak
saja memegang sebuah kekuasaan tunggal, akan tetapi kekuasaan tunggal
absolut yang kemudian menjalankan sistem pemerintahannya dengan
sistem kuasa remote control ala Michel Foucault. Sistem kuasa remote
control adalah sebuah sistem kuasa yang memiliki kemampuan mengontrol
secara absolut selama memegang kekuasaan. Seluruh rakyat yang berada
dipelosok negeri bagaikan pesakitan yang setiap waktu dikontrol dan diawasi
tubuh, jiwa, ideologi, serta gerak-gerik mereka.
Meminjam konsep mayoritas yang diam Baudrillard dalam buku In
the Shadow of the Silent Majorities, yang bagaikan sebuah sarang laba-laba
menangkap dan memamah biak apa pun yang disuguhkan kepada mereka

oleh siapa saja, termasuk oleh penguasa. Orde Baru telah menghasilkan
manusia-manusia Indonesia sebagai masyarakat yang diam. Masyarakat
yang mengetahui tapi tidak dapat melakukan apa-apa. masyarakat yang
hanya dapat menangkap semua informasi tapi tidak mampu untuk
memantulkan
(mengeluarkan)
informasi
itu
kembali.
Masyarakat
dikondisikan untuk bungkam, untuk bisa.
Orde Baru telah membangun kekuasaan dengan berdasarkan prinsip
kekerasan, metode ketakutan, dan paradigma horor. Dalam upaya
melanggengkan kuasanya, Orde Baru mencitrakan dirinya sebagai yang a
priori selalu benar, sebagai yang paling memahami ideologi, sebagai yang
paling menjalankan konstitusi.
Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) sendiri sebagai sebuah organisasi
mahasiswa yang memiliki peran sebagai organisasi perjuangan dibeberapa
moment-nya justru kehilangan kontrol akan dirinya. HmI kemudian menjadi
sebuah organ yang sering kali mempraktekkan apa yang dilakukan oleh Orde
Baru. HmI kemudian menampilkan sisi paradoksal dari dirinya, menampilkan
perilaku ambivalen dari tingkah lakunya. Mengkritisi mati-matian pola-pola
politik pemerintahan yang dijalankan oleh orde Baru tapi sekaligus
menjalankan apa yang dilakukan oleh Orde Baru untuk mempertahankan
kuasa dan eksistensinya.
Independensi kader Hijau-Hitam dari hari ke hari makin tergerus.
Rasionalitas dan idealitas yang dulu dikumandangkan dengan lantang di
forum-forum pengkaderan meluntur tergerus oleh hal-hal yang lebih berbau
kekuasaan.
Kader-kader HmI kemudian menjadi pengadopsi konsep sistem politik
Orde Baru paling baik. Mampu mempraktekkan dengan baik model-model
politik Orde Baru mulai dari strategi penciptaan rasa takut, penyeragaman,
hingga intimidatif. Belum lekang diingatan kita peristiwa kericuhan di
Pelabuhan Soekarno-Hatta Kota Makassar, dimana ratusan anggota HmI
bentrok dengan anggota kepolisian hanya untuk menaiki kapal secara gratis
agar dapat menghadiri Kongres HmI di Pekanbaru. Belum lagi sederet
peristiwa negatif selama mengikuti Kongres di Pekanbaru. Kader HmI
semacam menderita amnesia ketika berada di forum politik, Nilai Dasar
Perjuangan terlupakan. Didalam konteks kekuasaan politik, kader HmI
kemudian menjadi Machiavellian yang memandang kekuasaan sebagai suatu
yang cenderung dilanggengkan oleh setiap penguasa lewat berbagai cara.
Menciptakan rasa takut dengan menggunakan preman-preman bayaran di

forum politik menjadi hal yang lumrah. Teror, kejahatan, kerusuhan dengan
sengaja diciptakan berdasarkan skenario-skenario tertentu, sehingga muncul
kesan, bahwa semuanya dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu, dalam
rangka menjatuhkan kekuasaan yang ada. Apapun akan dilakukan asal kuasa
didapatkan.
Apa yang dikembangkan oleh kader HmI adalah semacam HmIcracy
(kratia=pemerintah), sebuah sistem pemerintahan HmI dimana berkuasa
menjadi hal yang mengenakkan nan memabukkan (ecstacy). Di HmIcracy,
ketua umumnya adalah seorang bandit, menteri-menterinya adalah preman,
dan para pemikirnya adalah para pencari muka. Sebuah sistem politik
pemerintahan yang hanya menebar berjuta ketakutan di tubuh HmI sendiri.
HmI menjadi organisasi mahasiswa yang tercabik-cabik oleh berbagai
bentuk kekerasan, akibat menyatunya kekuasaan dengan berbagai bentuk
kekerasan itu sendiri. Batas antara kekuasaan dan kekerasan seakan-akan
tidak ada lagi. Kekerasan telah menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri.
Kekerasan pada akhirnya menjadi sebuah budaya, sebuah gaya hidup,
sebuah cara anggota HmI memberi makna pada organisasinya. Ekstasi
kekerasan dan histeria berkepanjangan yang diakibatkannya telah
menggiring pula anggota HmI ke arah apa yang dikatakan Michel Foucault
yaitu kegilaan (madness). Anggota yang sakit jiwa adalah anggota yang
telah dikuasai sepenuhnya oleh hasrat dan libidonya, sehingga tida ada lagi
hukum dan nilai moralitas yang dapat mengendalikan gejolak hasrat dan
hantaman mesin-mesin libido tersebut.
Butuh kerja yang keras untuk mengubah kekuasaan yang telah
menjadi nalar utama yang bekerja dalam tubuh organisasi. Mengembalikan
HmI ke khittahnya sebagai organisasi pengkaderan dan memiliki tujuan yang
mulia adalah tugas setiap anggota HmI. Kerja HmI adalah berjuang demi
yang benar, bukan sekedar kekuasaan an sich. Generasi HmI yang modern
adalah generasi yang turun ke rakyat, memperkuat masyarakat madani
sebagai penyeimbang kekuasaan negara dan pasar. Turunannya adalah
upaya meningkatkan kapasitas warga, sehingga mampu berdaya dalam
mobilitas ekonomi-politik.
Tujuan akhir dari platform ini adalah membangun optimisme di tengah
masyarakat sehingga mereka dapat berdaya dalam memahami bahwa
proses demokratisasi di Indonesia harus terus dikuatkan dan diperdalam.
Sejarah Indonesia telah mencatat bagaimana kondisi sosial-budaya
telah mematangkan identitas HmI sebagai organisasi mahasiswa Islam

terbesar di negeri ini. Segenap kekuatan, jaringan, ide, dan gagasan segar
yang dimiliki oleh setiap anggotanya diharapkan mampu untuk
dimaksimalkan sepenuhnya demi kepentinganrakyat atas nama masa depan
Indonesia yang lebih gemilang. Dengan ini, tujuan masyarakat adil-makmur
yang diridhoi Allah SWT. akan mengejawantah di bumi pertiwi.
Muh. Ilham Dhani Asriawan
(HmI Kom Isipol Unhas Cabang Makassar Timur)